• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

C. Uji Pendahuluan

Sebelum melakukan uji efek anti inflamasi ekstrak etanol akar krokot belanda, terlebih dahulu dilakukan uji pendahuluan. Uji pendahuluan ini bertujuan untuk validasi metode yang akan digunakan untuk menguji efek anti inflamasi. Uji pendahuluan yang dilakukan meliputi : rentang waktu pemotongan kaki setelah injeksi karagenin 1%, dan rentang waktu pemberian ekstrak etanol akar krokot belanda.

Data yang diperoleh dari uji pendahuluan dianalisis menggunakan uji kolmogorov-Smirnov untuk menngetahui distribusi data yang diperoleh. Bila data

berdistribusi normal (p>0,05) maka analisis dapat dilanjutkan dengan uji Anova satu arah dengan taraf kepercayaan 95%. Uji Anova satu arah ini untuk melihat ada tidaknya perbedaan data yang dapat dilihat dari nilai probabilitas yang kurang dari 0,05 (p<0,05). Bila nilai probabilitas yang diperoleh kurang dari 0,05 (p<0,05) maka dapat dilanjutkan dengan uji Scheffe untuk mengetahui letak perbedaan bermaknanya.

1. Uji pendahuluan rentang waktu pemotongan kaki setelah injeksi suspensi karagenin 1%

Uji pendahuluan rentang waktu pemotongan kaki setelah injeksi suspensi karagenin 1 % secara subplantar bertujuan untuk mengetahui waktu yang tepat saat karagenin menimbulkan udema yang maksimal pada telapak kaki mencit. Pada tahap ini, kaki kiri mencit disuntik suspensi karagenin 1 % secara subplantar dengan dosis 25 mg/kgBB sedangkan kaki kanan mencit hanya disuntik dengan spuit injeksi tanpa karagenin sebagai faktor koreksi. Setelah rentang waktu tertentu, mencit dikurbankan kemudian kedua kaki dipotong pada sendi torsocrural dan ditimbang. Waktu pemotongan kaki yang digunakan pada uji

pendahuluan ini adalah 1, 2, 3, dan 4 jam. Alasan suspensi karagenin 1% dipilih sebagai zat iritan penginduksi udema pada kaki hewan uji karena udema yang dihasilkan reproduksibel dan tidak menimbulkan kerusakan jaringan. Di samping itu, karagenin juga merupakan salah satu iritan penginduksi udema yang paling banyak digunakan dan dapat digunakan untuk memprediksi efektivitas potensial terapetik dari obat-obat anti inflamasi baik dari golongan steroid maupun dari golongan non steroid.

Data bobot udema yang diperoleh dianalisis dengan uji Kolmogorov-Smirnov untuk mengetahui homogenitas data. Nilai probabilitas yang diperoleh sebesar 0,901 dan karena probabilitasnya lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan distribusi data adalah normal. Analisis dilanjutkan dengan uji Anova satu arah dengan taraf kepercayaan 95 %. Rangkuman hasil analisis Anova satu arah ditampilkan pada tabel I

Tabel I. Rangkuman hasil anova satu arah dengan taraf kepercayaan 95% data bobot udema kaki mencit pada uji pendahuluan rentang waktu pemotongan kaki setelah injeksi suspensi karagenin 1%

Keterangan Df F Probabilitas (p) Bobot udema antar

kelompok perlakuan 3 6,028 0,006

Berdasarkan tabel I dapat diketahui rata-rata bobot udema antara kelompok perlakuan secara statistik memiliki perbedaan karena probabilitas (p) yang terjadi lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,006. Uji Scheffe kemudian dilakukan untuk mengetahui perbedaan tersebut bermakna atau tidak bermakna. Rangkuman hasil uji Scheffe dapat dilihat pada tabel II.

Tabel II. Rata-rata bobot udema kaki mencit akibat injeksi suspensi karagenin 1% pada rentang waktu tertentu, beserta hasil uji Scheffe

Hasil uji Scheffe pemberian karagenin 1 % pada rentang waktu tertentu

Selang Waktu

X ± SE

(g) 1 jam 2 jam 3 jam 4 jam

1 jam 0,0432 ± 0,0047 - tb bb tb

2 jam 0,0697 ± 0,0104 tb - tb tb

3 jam 0,0866 ± 0,0073 bb tb - tb

4 jam 0,0631 ± 0,0054 tb tb tb -

Keterangan :

tb : Berbeda tidak bermakna bb : Berbeda bermakna

x : Rata-rata bobot udema kaki mencit SE : Standar Error

Dari hasil uji Scheffe, diketahui bahwa antara kelompok jam pertama, kedua dan keempat menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05). Perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05) juga terjadi antara kelompok jam kedua, ketiga, dan keempat. Perbedaan yang bermakna (p<0,05) diperoleh antara kelompok jam pertama dan ketiga. Perbedaan yang bermakna terjadi karena bobot udema kelompok jam ketiga jauh lebih besar bila dibandingkan dengan bobot udema kelompok jam pertama.

Kenaikan bobot udema pada jam pertama belum optimal bila dibandingkan dengan jam ketiga. Bobot udema jam ketiga tidak berbeda bermakna dengan jam keempat, namun bobot udema pada jam keempat mengalami penurunan bila dibandingkan dengan jam ketiga, hal ini dimungkinkan karena sistem proteksi tubuh telah bekerja untuk mengembalikan keadaan tubuhnya seperti semula. Pada jam ketiga, bobot udema yang dihasilkan telah optimal yang ditandai dengan paling tingginya bobot udema yang terbentuk. Pada jam ketiga diasumsikan bahwa karagenin telah memberikan efek yang maksimal. Oleh karena itu, dalam uji selanjutnya pemotongan kaki mencit dilakukan pada jam ketiga setelah injeksi suspensi karagenin 1 %.

Hasil uji pendahuluan rata-rata bobot udema pada waktu pemotongan kaki mencit dapat dilihat pada lampiran 7, sedangkan grafik dapat dilihat pada gambar 6. Dari grafik tersebut dapat dilihat lebih jelas perbedaan rata-rata bobot udema dari setiap waktu pemotongan kaki mencit pada uji pendahuluan ini

0

0.02

0.04

0.06

0.08

0.1

0 1 2 3 4

rentang waktu (jam)

ra ta -r a ta bo bot u de m ( g ra m )

Gambar 9. Grafik rata-rata bobot udema kaki mencit hasil uji pendahuluan rentang waktu pemotongan kaki setelah injeksi suspensi karagenin 1%

2. Uji pendahuluan waktu pemberian ekstrak etanol akar krokot belanda

Uji pendahuluan ini bertujuan untuk mengetahui rentang waktu pemberian ekstrak etanol akar krokot belanda sebelum injeksi suspensi karagenin yang dapat menimbulkan efek anti inflamasi.

Pada uji ini, mencit dibagi menjadi empat kelompok (masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor) berdasarkan rentang waktu pemberian ekstrak etanol akar krokot belanda yaitu 15, 30, 45, dan 60 menit secara per oral sebelum injeksi karagenin . Dosis yang diberikan adalah 5000 mg/kg BB dengan konsentrasi 15%. Dosis ini merupakan dosis maksimal ekstrak etanol akar krokot belanda yang dapat diberikan pada mencit.

Data yang diperoleh menunjukkan bahwa rata-rata bobot udema pada rentang waktu 15 menit sebesar 0,0393 gram, rentang waktu 30 menit sebesar 0,0397 gram, rentang waktu 45 menit sebesar 0,0466 gram dan rentang waktu 60 menit sebesar 0,0605 gram, terlihat pada tabel IV. Seluruh data kemudian diuji

dengan Kolmogorov Smirnov untuk melihat distribusi data. Hasil menunjukkan nilai p> 0,05 yaitu 0,999 sehingga disimpulkan distribusi datanya normal atau homogen. Analisis kemudian dilanjutkan dengan Anova satu arah dengan taraf kepercayaan 95 %. Rangkuman hasil Anova satu arah dapat dilihat pada tabel III. Tabel III Rangkuman hasil anova satu arah dengan taraf kepercayaan 95% data bobot

udema kaki mencit pada uji pendahuluan rentang waktu pemberian ekstrak etanol akar krokot belanda

Keterangan Df F Probabilitas (p) Bobot udema

antar kelompok perlakuan

3 4,653 0,016

Berdasarkan tabel III dapat diketahui rata-rata bobot udema antara kelompok adalah berbeda karena probabilitas (p) yang terjadi kurang dari 0,05 yaitu 0,016. Uji Scheffe kemudian dilakukan untuk mengetahui perbedaan tersebut bermakna atau tidak bermakna. Rangkuman uji scheffe dapat dilihat pada tabel IV

Tabel IV. Rata-rata bobot udema kaki mencit akibat diinjeksi karagenin 1% pada uji pendahuluan rentang waktu pemberian ekstrak etanol akar krokot belanda

Hasil uji Scheffe pemberian karagenin 1% pada rentang waktu tertentu

Rentang waktu

X ± SE

(g)

15 menit 30 menit 45 menit 60 menit

15 menit 0,0393 ± 0,0046 - tb tb bb

30 menit 0,0397 ± 0,0043 tb - tb bb

45 menit 0,0466 ± 0,0055 tb tb - tb

60 menit 0,0605 ± 0,0039 bb bb tb -

Keterangan :

tb : Berbeda tidak bermakna bb : Berbeda bermakna

X : Rata-rata bobot udema kaki mencit SE : Standar Error

Berdasarkan hasil uji scheffe, kelompok dengan rentang waktu pemberian ekstrak etanol akar krokot belanda 15 menit sebelum penyuntikan karagenin

memiliki perbedaan tidak bermakna dengan kelompok selang waktu 30 dan 45 menit. Dapat dikatakan bila ekstrak etanol akar krokot belanda diberikan 15, 30, dan 45 menit sebelum penyuntikan karagenin, maka penurunan udema yang terjadi dapat dikatakan sama. Kelompok dengan rentang waktu pemberian ekstrak etanol akar krokot belanda 60 menit sebelum penyuntikan karagenin memiliki perbedaan yang bermakna terhadap kelompok rentang waktu pemberian ekstrak etanol akar krokot belanda 15 menit, dan 30 menit, namun berbeda tidak bermakna dengan kelompok rentang waktu 45 menit. Bobot udema pada kelompok rentang waktu 60 menit meningkat secara signifikan, sehingga dapat dikatakan efek anti inflamasi telah menurun dan akibatnya udema yang terbentuk tidak dapat dihambat secara optimal.

Dari hasil tersebut ada tiga data yang dapat dipilih untuk rentang waktu pemberian ekstrak etanol akar krokot belanda yaitu 15, 30, dan 45 menit. Rentang waktu 15 menit dipilih karena memberikan penurunan bobot udema paling besar, serta untuk efisiensi waktu.

Hasil uji pendahuluan rata-rata bobot udema pada rentang waktu pemberian ekstrak etanol akar krokot belanda dapat dilihat pada lampiran 9, sedangkan grafik dapat dilihat pada gambar 7. Dari grafik tersebut dapat dilihat lebih jelas perbedaan rata-rata bobot udema dari setiap waktu pemberian ekstrak etanol akar krokot belanda pada uji pendahuluan ini

0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 0.06 0.07 0 10 20 30 40 50 60 70

rentang waktu (menit)

rata-rata bo bo t u dem (gra m )

Gambar 10. Grafik rata-rata bobot udema kaki mencit hasil uji pendahuluan rentang waktu pemberian ekstrak etanol akar krokot belanda.

Dokumen terkait