BAB III METODE PENELITIAN
3.7 Pengujian Hipotesis
3.7.1 Uji Signifikasi Simultan (Overall Model Fit Test)
Uji overall model fit test digunakan untuk mengetahui apakah semua variabel independen mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Signifikansi yang digunakanadalah 0,05. Jika nilai probabilitas <0,05, maka dapat dikatakan terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Namun, jika nilai signifikan >0,05 maka tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama antara variabel bebas terhadap variabel terikat (Imam Ghozali, S2013).
3.7.2 Uji Signifikan Parameter Individual (Uji Statistik t)
Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara parsial berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel independen. Signifikan yang digunakan sebesar < 0,05, maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat secara parsial. Namun, jika probabilitas nilai t atau signifikansi > 0,05, maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat, Ghozali (2011).
43 BAB IV
ANALISIS HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Penelitian
4.1.1 Hasil Pemilihan Sampel
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa data laporan keuangan yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui website www.idx.co.id. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2015 sampai dengan 2017. Jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 155 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2015 sampai dengan 2017 secara berturu-turut. Sampel yang dipilih dari populasi menggunakan teknik purposive sampling, yaitu proses pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu. Tabel dibawah menyajikan ringkasan pemilihan sampel berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sebagai berikut :
44 Tabel 4.1
Ringkasan Prosedur Pemilihan Sampel
No Keterangan Jumlah
1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI secara berturut-turut selama periode 2015-2017
155
2. Perusahaan manufaktur yang mengalami kerugiaan secara berturut-turut selama periode 2015-2017
(80)
3. Perusahaan manufaktur yang mengalami delisting selama periode 2015-2017
(15)
4. Perusahaan manufaktur yang tidak mempublikasikan laporan keuangan per 31 desember selama periode 2015-2017
(8)
5. Perusahaan yang memperoleh laba bersih selama periode 2015-2017
52
6. Jumlah perusahaan yang digunakan 52
7. Total observasi selama 3 tahun 52 x 3 tahun 156
Jumlah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2015-2017 berjumlah sebanyak 155 perusahaan, sebanyak 15 perusahaan yang mengalami delisting. Perusahaan manufaktur yang tidak mempublikasikan laporan keuangan secara berturut-turut sebanyak 8 perusahaan.
Perusahaan manufaktur yang mengalami kerugian dalam periode 2015-2017 sebanyak 80 perusahaan. Sehingga perusahaan manufaktur yang digunakan sebanyak 52 perusahaan. Sedangkan total data yang dijadikan sebagai sampel
45
penelitian ini adalah sebanyak 156 sampel. Adapun perusahaan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah serbagai berikut :
Tabel 4.2
Daftar Nama Perusahaan
1 ADES Akasha Wira International Tbk
Sektor industri barang konsumen
2 ADMF Adira Wira International Tbk Sektor aneka industri
3 AGII Aneka Gas Industri Tbk Sektor industri dasa & kimia 4 AKPI Argha Karya Prima Industri Sektor industri dasar & kimia 5 AMFG Asahimas Flat Glass Tbk Sektor industri dasar & kimia 6 AMIN Ateliers Mecaniques D’Indonesia Tbk Sektor aneka industri
7 ARNA Arwana Citra Mulia Tbk Sektor industri dasar & kimia 8 ASII Astra International Tbk Sektor ankeha industri
9 AUTO Astra Auto Part Tbk Sektor aneka industri
10 BATA Sepatu Bata Tbk Sektor aneka industri
11 BUDI Budi Starch and Sweetener Tbk Sektor Industri dasar & kimia 12 CEKA Wilmar Cahaya Indonesia Tbk
Sektor industri barang konsumsi
13 CPIN Charoen Pokphand Indonesia Tbk Sektor industri dasar & kimia 14 DLTA Delta Djakarta Tbk
Sektor industri barang konsumsi
15 DPNS Duta Pertiwi Nusantara Tbk Sektor industri dasar & kimia 16 DVLA Darya Varia Laboratoria Tbk
Sektor industri barang konsumsi
17 EKAD Ekadharma International Tbk Sektor industri dasar & kimia 18 GGRM Gudang Garam Tbk
Sektor industri barang konsumsi
19 HMSP Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk
Sektor industri barang konsumsi
20 ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
Sektor industri barang konsumsi
21 IGAR Champion Pasific Indonesia Tbk Sektor industri dasar & kimia 22 IMPC Impack Pratama Industri Tbk Sektor industri dasar & kimia 23 INAI Indal Aluminium industri Tbk Sektor industri dasar & kimia 24 INCI Intan Wijaya International Tbk Sektor industri dasar & kimia 25 INDF Indofood Sukses Makmur Tbk
Sektor industri barang konsumsi
26 INDS Indospring Tbk Sektor aneka industri
27 INTP Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Sektor industri dasar & kimia 28 ISSP Steel Pipe Industri of Indonesia Tbk Sektor industri dasar & kimia
46
29 JECC Jembo Cable Company Tbk Sektor aneka industri
30 JPFA Japfa Comfeed Indonesia Tbk Sektor industri dasar & kimia 31 KAEF Kimia Farma (Persero) Tbk Sektor barang konsumsi 32 KBLI KMI Wire and Cable Tbk Sektor aneka industri
33 KDSI Kedawung Setia Industri Tbk Sektor industri dasar & kimia
34 KLBF Kalbe Farma Tbk Sektor barang konsumsi
35 LMSH Lionmesh Prima Tbk Sektor industri dasar & kimia 36 MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk
Sektor industri barang konsumsi
37 MYOR Mayora Indah Tbk
Sektor industri barang konsumsi
38 ROTI Nippon Indosari Corporindo Tbk
Sektor industri barang konsumsi
39 SIDO
Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul Tbk
41 SMGR Semen Gresik Tbk Sektor industri dasar & kimia 42 SMSM Selamat Sempurna Tbk Sektor aneka industri
43 SRSN Indo Acitama Tbk Sektor industri dasar & kimia
44 STAR Star Petrochem Tbk Sektor aneka industri
45 TALF Tunas Alfin Tbk Sektor industri dasar & kimia 46 TCID Mandom Indonesia Tbk
Sektor industri barang konsumsi
47 TOTO Surya Toto Indonesia Tbk Sektor industri dasar & kimia 48 TRIS Trisula International Tbk Sektor aneka industri
49 TSPC Tempo Scan Pacific Tbk
Sektor industri barang konsumsi
50 ULTJ Ultra Jaya Milk Industri Tbk
Sektor industri barang konsumsi
51 WIIM Wismilak Inti Makmur Tbk
Sektor industri barang konsumsi
52 WSBP Waskita Beton Precast Tbk Sektor industri dasar & kimia
4.2 Analisis dan Hasil Penelitian
Hasil analisis dari pengujian yang dilakukan berdasarkan uji asumsi klasik dan uji regresi linear berganda yang dilakukan untuk mengidentifikasi data yang diolah.
47 4.2.1 Statistik Deskriptif
Dalam penelitian ini statistik deskriptif digunakan untuk melihat nilai minimum, maksimum, nilai rata-rata, dan standar deviasi dari masing-masing variabel. Tabel berikut ini adalah statisik deskriptif dari variabel dependen tax avoidance dan variabel independen yaitu leverage, intensitas aset tetap, ukuran perusahaan, koneksi politik dan profitabilitas.
Tabel 4.3
Hasil Statistik Deskriptif Setelah Outlier
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Leverage 146 ,071 2,093 ,40226 ,246661
Intensitas Aset Tetap 146 ,000 6,062 ,36696 ,507199
Ukuran Perusahaan 146 25,62 33,32 28,8696 1,69320
Koneksi Politik 146 0 1 ,32 ,466
Profitabilitas 146 ,000 ,527 ,09132 ,083846
Tax Avoidance 146 ,003 ,884 ,26201 ,111175
Valid N (listwise) 146
Berdasarkan tabel 4.3 tersebut menunjukan bahwa (n) pada setiap variabel yang valid 146, hasil statistik deskriptif mengenai variabel-variabel penelitian sebagai berikut :
1. Tax Avoidance
Tabel 4.3 menjelaskan bahwa jumlah observasi (n) 146, variabel tax avoidance memiliki nilai minimum sebesar 0,003 dimana nilai minimum tersebut merupakan nilai ETR dari Delta Djakarta Tbk Tahun 2015. Untuk nilai maksimum sebesar 0,884 dimana nilai maksimum merupakan dari perusahaan
48
Star Petrochem Tbk tahun 2015. Rata-rata (mean) sebesar 0,26201 serta standar deviasi sebesar 0,111175.
2. Leverage
Tabel 4.3 menjelaskan bahwa jumlah observasi (n) sebesar 146, nilai minimum sebesar 0,071 dimana nilai minimum tersebut merupakan nilai DER dari Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk tahun 2015. Untuk nilai maksimum sebesar 2,093 dimana nilai maksimum tersebut merupakan nilai DER dari Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk tahun 2017. Rata-rata (mean) sebesar 0,40226 serta standar deviasi sebesar 0,246661.
3. Intensitas Aset Tetap
Tabel 4.3 menjelaskan bahwa jumlah observasi (n) sebesar 146, nilai minimum sebesar 0,000 dimana nilai minimum tersebut merupakan nilai aset tetap dari perusahaan Astra International Tbk tahun 2015. Untuk nilai maksimum sebesar 6,062 dimana nilai maksimum tersebut merupakan nilai aset tetap dari perusahaan Budi Strarct and Sweetener Tbk tahun 2016. Rata-rata (mean) sebesar 0,36696 serta deviasi sebesar 0,507199.
4. Ukuran Perusahaan
Tabel 4.3 menjelaskan bahwa jumlah observasi (n) sebesar 146, nilai minimum sebesar 25,62 dimana nilai minimum tersebut merupakan nilai Ln dari Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk tahun 2015. Untuk nilai maksimum sebesar 33,32 dimana nilai maksimum tersebut nilai Ln dari Astra Intenational Tbk tahun 2017. Rata-rata (mean) sebesar 28,8696 serta standar deviasi sebesar 1,69320.
5. Koneksi Politik
49
Tabel 4.3 menjelaskan bahwa observasi (n) sebesar 146, nilai minimum sebesar 0 dari 108 sampel, nilai maksimum sebesar 1 dari 48 sampel. Sedangkan untuk mean sebesar 0,36696 dan nilai standar deviasi sebesar 0,507199.
6. Profitabilitas
Tabel 4.3 menjelaskan bahwa observasi (n) sebesar 146, nilai minimum sebesar 0,000 dari 4 perusahaan yang terdiri dari 5 data sampel perusahaan. Untuk nilai maksimum sebesar 0,527 dimana nilai maksimum merupakan ROA dari tahun 2017. Rata-rata (mean) sebesar 0,26201 serta standar deviasi sebesar 0,083846.
Mean ROA adalah sebesar 0,097292 dengan median sebesar 0,072306.
4.3 Uji Asumsi Klasik
Adapun uji asumsi klasik dalam penelitian ini adalah Uji Normalitas, Uji Multikolinearitas, Uji Heteroskedastistas, dan Uji Autokorelasi
4.3.1 Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji variabel independen yaitu leverage, intensitas aset tetap, ukuran perusahaan, koneksi politik, dan profitabilitas mempunyai distribusi normal terhadap variabel dependen yaitu tax avoidance. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan Kolmogrov-Smirnov test dengan taraf signifikan 0,05. Dasar pengambilan keputusan sig ≥ 0,05 maka dikatakan berdistribusi normal. Adapun tabel hasil non-parametrik Kolmogrov-Smirnov ditunjukan pada tabel 4.4 sebagai berikut :
50 Tabel 4.4
Hasil Uji Normalitas Sebelum Outlier One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Kolmogorov-Smirnov Z 3,806
Asymp. Sig. (2-tailed) ,000 a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Berdasarkan Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa nilai Asymp Sig (2-tailed) sebesar 0,000 yaitu lebih kecil dari nilai α sebesar 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil uji normalitas menunjukan bahwa nilai residual tidak berdistribusi normal.
Tabel 4.4
Hasil Uji Normalitas Setelah Outlier
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 146
Normal Parametersa,b Mean -,0442965 Std. Deviation ,11287162
Most Extreme Differences
Absolute ,063 Positive ,063 Negative -,063
Kolmogorov-Smirnov Z ,766
Asymp. Sig. (2-tailed) ,599
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
51
Berdasarkan Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa nilai Asymp Sig (2-tailed) sebesar 0,599 yaitu lebih besar dari nilai α sebesar 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil uji normalitas menunjukan bahwa nilai residual berdistribusi normal setelah dioutlier.
4.3.2 Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas atau independen. Pengujian dilakukan untuk melihat ada tidaknya hubungan linear antar variabel bebas (indeks), dilakukan dengan menggunakan Variance Inflation Factor (VIF) dan Tolerance Value (Ghozali, 2011). Batas dari Tolerance Value > 0,10 atau nilai VIF
< 10
Tabel 4.5
Hasil Uji Multikolinearitas
Berdasarkan tabel 4.5 hasil perhitungan nilai tolerance menunjukkan tidak ada variabel independen yang memiliki nilai tolerance kurang dari 0,10 dan nilai variance inflation factor (VIF) juga menunjukkan hal yang sama yaitu tidak ada
Coefficientsa
Model Collinearity Statistics Tolerance VIF
Koneksi Politik ,943 1,061 Profitabilitas ,970 1,031 a. Dependent Variable: Tax Avoidance
52
variabel independen yang memiliki nilai VIF lebih dari 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.
4.3.3 Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya), masalah autokorelasi diuji dengan Durbin-Waston.
Tabel 4.6
Hasil Uji Autokorelasi Sebelum Cochrane Orcutt
Model Summaryb
a. Predictors: (Constant), Intensitas Aset Tetap, Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Koneksi Politik, Leverage
b. Dependent Variable: Tax Avoidance
Berdasarkan hasil uji Durbin-Waston pada Tabel 4.6 dapat dilihat bahwa nilai Durbin-Waston sebesar 1,741. Berdasarkan jumlah data sebanyak (n) 146 observasi serta 5 variabel independen (k=4) pada tingkat signifikan 5% diperoleh nilai dl = 1,6565 dan du = 1,800. Nilai dw (1,741) < batas atas (du) 1,800 > dan kurang dari 5 – du ( 5 - 1,800) atau 3,200. Jadi, 1,741 < 1,800 sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadi autokorelasi. Sehingga data tersebut tidak lolos uji autokorelasi.
Salah satu cara agar data penelitian tidak terjadi autokorelasi adalah dengan mengatasi uji autokorelasi dengan Cochrane Orcutt.
Cochrane Orcutt ini akan melakukan transformasi lag pada variabel residual yang baru. Lag artinya mengembalikan variabel baru yang merupakan hasil pengurungan nilai dari sampel ke-i – 1. Sampel ke-i artinya sampel yang
53
bersangkutan dan sampel ke-i-1 adalah sampel sebelumnya dari sampel yang bersangkutan (www.statistikian.com).
Tabel 4.6
Hasil Uji Autokorelasi Setelah Cochrane Orcutt
Dari tabel 4.6 hasil Durbin-Waston menunjukkan bahwa nilai DW sebesar 2,051 dengan jumlah sampel n sebesar 146 dan jumlah variabel independen (k) didapatkan nilai dU sebesar 1,800 dan dL sebesar 1,6565. Nilai dU lebih besar dari Durbin-Waston (DW) sebesar 2,051. Jadi dapat disimpulkan tidak ada autokorealsi dalam model regresi yang diprediksikan pada penelitian ini bebas dari masalah autokorelasi.
4.3.4 Uji Heterokedasitas
Uji ini bertujuan untuk menguji model regresi apabila terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan yang lain. Pengujian heterokedasitas dalam penelitian ini dilakukan dengan uji Log. Jika nilai signifikansi variabel independen>0,05 maka terjadi heterokedasitas. Sebalikanya jika nilai signifikansi variabel <0,05 maka terjadi heterokedasitas.
Tabel 4.7
Hasil Uji Heterokedasitas Model Summaryb Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
Durbin-Watson
1 ,316a ,100 ,067 ,10523 2,051
a. Predictors: (Constant), LAG_X5, LAG_X3, LAG_X2, LAG_X4, LAG_X1 b. Dependent Variable: LAG_Y
54
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized
Coefficients
T Sig.
B Std. Error Beta
1
(Constant) -4,475 3,359 -1,332 ,190
LG_X1 -,188 ,186 -,177 -1,013 ,317
LG_X2 -,032 ,061 -,089 -,527 ,601
LG_X3 2,576 2,270 ,212 1,135 ,263
LG_X5 ,055 ,138 ,063 ,399 ,692
a. Dependent Variable: LG_Y
Berdasarkan tabel 4.7 hasil uji Ln 10 menunujukkan bahwa variabel independen Leverage, Intensitas Aset Tetap, Ukuran Perusahaan, Koneksi Politik dan Profitabilitas terhadap Tax Avoidance menunjukkan hasil lebih besar dari tingkat signifikan 0,05 artinya dapat disimpulkan model regresi tidak mengandung adanya heterokedastisitas dan dapat memenuhi asumsi klasik.
4.3.5 Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (𝑎𝑑𝑗𝑢𝑠𝑡𝑒𝑑 𝑅2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi independen. Nilai koefisien adalah antara nol dan satu. Nilai 𝑅2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.
55 Tabel 4.8
Hasil Uji Koefisien Determinasi
Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
Durbin-Watson
1 ,330a ,109 ,077 ,106789 1,741
a. Predictors: (Constant), Intensitas Aset Tetap, Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Koneksi Politik, Leverage
b. Dependent Variable: Tax Avoidance
Dari tabel 4.8 dapat dilihat koefisien 𝑎𝑑𝑗𝑢𝑠𝑡𝑒𝑑 𝑅 𝑠𝑞𝑢𝑎𝑟𝑒 yang dihasilkan oleh variabel-variabel independen sebesar 0,077 yang artinya 7,7% variabel dependen yaitu tax avoidance dijelaskan oleh variabel independen leverage, intensitas aset tetap, ukuran perusahaan, koneksi politik dan profitabilitas, sedangkan sisanya 92,3% dijelaskan oleh variabel lain diluar variabel independen yang digunakan.
4.4 Analisis Regresi Linear Berganda
Analisis regresi linear berganda merupakan analisis yang digunakan untuk membuktikan hipotesis penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda. Variabel pada penelitian ini adalah Leverage, Intensitas Aset Tetap, Ukuran Perusahaan, Koneksi Politik dan Profitabilitas terhadap Tax Avoidance. berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan program SPSS versi 20 diperoleh data sebagai berikut :
56 Tabel 4.9
Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized
Coefficients
a. Dependent Variable: Unstandardized Residual
Berdasarkan tabel 4.9 maka dibuat persamaan regresi linier berganda sebagai berikut :
𝐘 = −𝟎, 𝟔𝟔𝟓 − 𝟎, 𝟎𝟕𝟕𝐗𝟏+ 𝟎, 𝟎𝟎𝟗𝐗𝟐+ 𝟎, 𝟎𝟐𝟐𝐗𝟑+ 𝟎, 𝟎𝟐𝟖𝐗𝟒− 𝟎, 𝟎𝟔𝟒𝐗𝟓
Berdasarkan persamaan regresi diatas dapat diketahui bahwa pengaruh masing-masing variabel diinterprestasikan sebagai berikut :
1. Nilai Konstanta -0,665 artinya variabel independen yaitu Leverage, Intensitas Aset Tetap, Ukuran Perusahaan, Koneksi Politik, dan Profitabilitas diasumsikan 0, maka tax avoidance akan turun atau berkurang sebesar 0,435.
2. Nilai koefisien regresi Leverage bernilai negatif sebesar 0,077. Jika leverage naik 1 satuan, maka tax avoidance akan turun sebesar 0,077 dengan asumsi variabel lain konstan. Nilai koefisien yang bersifat negatif menunjukan adanya pengaruh yang berlawanan diantara tax avoidance dengan leverage.
57
3. Nilai koefisien regresi Intensitas Aset Tetap bernilai positif sebesar 0,009.
Variabel intensitas aset tetap tidak mengalami kenaikan 1 satuan dikarenakan variabel intensitas aset tetap tidak berpengaruh terhadap tax avoidance.
4. Nilai koefisien regresi Ukuran Perusahaan bernilai postif sebesar 0,022. Jika ukuran perusahaan naik 1 satuan, maka tax avoidance akan naik sebesar 0,022 dengan asumsi variabel lain konstan. Nilai koefisien yang bersifat berpengaruh menunjukan adanya pengaruh yang berlawanan diantara tax avoidance dengan ukuran perusahaan.
5. Nilai koefisien regresi koneksi politik bernilai positif sebesar 0,028.
Variabel koneksi politik tidak mengalami kenaikan 1 satuan dikarenakan variabel koneksi politik tidak berpengaruh terhadap tax avoidance.
6. Nilai koefisien regresi Intensitas Aset Tetap bernilai positif sebesar 0,009.
Variabel intensitas aset tetap tidak mengalami kenaikan 1 satuan dikarenakan variabel intensitas aset tetap tidak berpengaruh terhadap tax avoidance.
7. Nilai koefisien regresi profotabilitas bernilai negatif sebesar 0,064. Variabel intensitas aset tetap tidak mengalami penurunan 1 satuan dikarenakan variabel intensitas aset tetap tidak berpengaruh terhadap tax avoidance.
58 4.5 Uji Hipotesis
Pada penelitian ini akan diuji pengaruh Leverage, Intensitas Aset Tetap, Ukuran Perusahaan, Koneksi Politik dan Profitabilitas terhadap Tax Avoidance.
baik secara simultan maupun parsial. Dengan menggunakan program SPSS versi 20 diperoleh data sebagai berikut:
4.5.1 Uji Signifikansi Simultan (Overall Model Fit Test)
Uji statistik F adalah pengujian untuk menguji secara fit variabel X terhadap Y. Signifikan F < α (0,05) maka variabel X berpengaruh secara fit terhadap variabel Y. Namun sebaliknya, jika > α (0,05) maka tidak terdapat pengaruh fit pada variabel X terhadap Y.
Tabel 4.10
Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji Overall Model Fit)
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1
Regression ,251 5 ,050 4,398 ,001b
Residual 1,597 140 ,011
Total 1,847 145
a. Dependent Variable: Unstandardized Residual
b. Predictors: (Constant), Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Intensitas Aset Tetap, Koneksi Politik, Leverage
Dari tabel 4.9 hasil pengujian hipotesis diketahui bahwa nilai signifikansi sebesar 0,001 atau dengan kata lain lebih kecil dari profitabilitas (p-Value) sebesar 0,05. Berdasarkan hasil uji F tersebut, maka dapat dikatakan bahwa model persamaan regresi yang digunakan dalam penelitian ini dalam kondisi fit dan layak untuk diinterprestasikan.
59 4.5.2 Uji Regresi Parsial/uji t
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen.
Pengujian dilakukan dengan menggunakan tingkat signifikansi 0,05 (α=5%). Jika t hitung < (0,05) maka tidak terdapat pengaruh secara parsial variabel X terhadap Y.
Tabel 4.11
Hasil Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized
Coefficients
T Sig.
B Std. Error Beta
1
(Constant) -,665 ,154 -4,322 ,000
Leverage -,077 ,037 -,168 -2,060 ,041
Intensitas Aset Tetap ,009 ,018 ,042 ,526 ,600
Ukuran Perusahaan ,022 ,005 ,335 4,109 ,000
Koneksi Politik ,028 ,020 ,117 1,443 ,151
Profitabilitas -,064 ,107 -,047 -,592 ,555
a. Dependent Variable: Unstandardized Residual
Berdasarkan hasil analisis uji t pada tabel 4.10 maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
Hasil Uji Hipotesis 1 : Leverage berpengaruh terhadap Tax Avoidance
Variabel Leverage (X1) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,041 atau lebih kecil dari 0,05. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa hipotesis pertama (H1) diterima sehingga dapat dikatakan bahwa leverage berpengaruh terhadap tax avoidance.
Hasil Uji Hipotesis 2 : Intensitas Aset Tetap tidak berpengaruh terhadap Tax Avoidance
60
Variabel Intensitas Aset Tetap (X2) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,600 atau lebih besar dari 0,05. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa hipotesis kedua (H2) ditolak sehingga dapat dikatakan bahwa Intensitas Aset Tetap tidak berpengaruh terhadap Tax Avoidance.
Hasil Uji Hipotesis 3 : Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap Tax Avoidance
Variabel Ukuran Perusahaan (X3) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 atau lebih kecil dari 0,05. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa hipotesis ketiga (H3) diterima sehingga dapat dikatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap tax avoidance.
Hasil Uji Hipotesis 4 : Koneksi Politik tidak berpengaruh terhadap Tax Avoidance
Variabel Koneksi Politik (X4) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,151 atau lebih besar dari 0,05. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa hipotesis keempat (H4) ditolak sehingga dapat dikatakan bahwa Koneksi Politik tidak berpengaruh terhadap Tax Avoidance.
Hasil Uji Hipotesis 5 : Profitabilitas tidak berpengaruh terhadap Tax Avoidance
61
Variabel Profitabilitas (X5) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,555 atau lebih besar dari 0,05. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa hipotesis kelima (H5) ditolak sehingga dapat dikatakan bahwa Intensitas Aset Tetap tidak berpengaruh terhadap Tax Avoidance.
4.6 Pembahasan dan Hasil Penelitian
4.6.1 Pengaruh Leverage terhadap Tax Avoidance
Berdasarkan dari uji t pada tabel 4.11 dapat diketahui bahwa leverage memiliki signifikan sebesar 0,041. Tingkat signifikan tersebut lebih kecil dari tarif signifikan α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa berpengaruh signifikan antara leverage terhadap tax avoidance. Semakin tinggi leverage maka semakin tinggi pula effective tax rate (ETR) atau dapat dikatakan tingkat tax avoidance rendah.
Perusahaan yang berhutang akan memberikan hasil kinerja yang baik dengan dibuktikan dari perolehan laba yang lebih baik dari pada perusahaan yang tidak berhutang (Hartadinata dan Tjaraka, 2013). Perusahaan akan menunjukkan keadaaan laba yang baik agar perusahaan tidak dipandang kurang sehat oleh kreditur karena masih terkait dengan kontrak hutang. Hutang dapat meningkatkan nilai perusahaan, namun apabila penggunaan hutang dengan jumlah yang besar maka akan menimbulkan risiko yang dihadapi perusahaan juga akan besar, sehingga pihak manajemen akan bertindak hati-hati dan tidak mengambil resiko atas hutang tersebut untuk melakukan tindakan tax avoidance.
Tingginya tingkat leverage akan menurunkan tingkat tax avoidance karena semakin tinggi leverage maka perusahaan cenderung meningkatkan laba (Watts dan Zimmerman 1986) dalam . Hasil penelitian ini sebanding dengan penelitian yang
62
dilakukan oleh Mulyani (2014) dan Swingly dan Sukartha (2014) dalam I Made Surya Dharma dan Putu Agus Ardiana (2016) yang menyatakan bahwa leverage berpengaruh terhadap ETR atau semakin tinggi leverage maka akan menurunkan tingkat tax avoidance.
4.6.2 Pengaruh Intensitas Aset Tetap Terhadap Tax Avoidance
Berdasarkan dari uji t pada tabel 4.11 dapat diketahui bahwa leverage memiliki signifikan sebesar 0,600. Tingkat signifikan tersebut lebih besar dari tarif signifikan α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa intensitas aset tetap tidak berpengaruh terhadap effective tax rate (ETR). Hasil penelitian ini tidak sebanding dengan penelitian yang dilakukan oleh Darmadi (2013) yang menyatakan bahwa besarnya kepemilikan aset tetap akan menurunkan tingkat tax avoidance suatu perusahaan.
Dengan tidak adanya pengaruh dari Intensitas Aset Tetap pada tingkat tax avoidance diakibatkan oleh perusahaan dengan tingkat Intensitas Aset Tetap yang tinggi memang menggunakan aset tetap tersebut untuk kepentingan perusahaan.
Aset tetap tidak mampu memengaruhi kecenderungan perusahaan untuk melakukan
Aset tetap tidak mampu memengaruhi kecenderungan perusahaan untuk melakukan