BAB III METODE PENELITIAN
3.3 Variabel Penelitian
3.3.4 Variabel Independen
mengidentifikasi keagresifan perencanaan pajak perusahaan yang dilakukan menggunakan perbedaan tetap maupun perbedaan temporer (Chen et al. 2010) dengan rumus sebagai berikut.
ETR = Beban Pajak Penghasilan Pendapatan sebelum pajak
3.3.4 Variabel Independen
Variabel independen merupakan variabel bebas atau variabel yang mempengaruhi variabel dependen.Variabel independen dalam penelitian ini adalahLeverage, Intensitas Aset Tetap, Ukuran Perusahaan, Koneksi Politik, dan Profitabilitas.
3.3.4.1 Leverage
Leverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar aktiva yang dimiliki perusahaan yang berasal dari utang atau modal sehingga dapat diketahui posisi perusahaan dan kewajibannya. Perusahaan yang memiliki kriteria baik memiliki komposisi modal yang lebih besar dari hutang. Rasio leverage adalah mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan hutang, Fahmi dan Irfan (2012). Penggunaan hutang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan, karena perusahaan yang termasuk dalam kategori extreme leverage (utang extreme) yaitu perusahaan yang terjebak dalam tingkat hutang yang tinggi dan sulit untuk melepaskan beban hutang tersebut. Menurut Syamsudin (2009) leverage biasanya digunakan untuk menggambarkan kemampuan perusahaan untuk pengguna aktiva atau dana yang mempunyai beban tetap untuk memperbesar tingkat penghasilan bagi pemilik perusahaan. Variabel leverage menggunakan rasio Debt to Asset, yaitu perbandingan total kewajiban (hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang)
34
dengan total aset yang dimiliki perusahaan pada akhir tahun, Gibson (2001) dalam Agustia (2013).
Rumus Debt to Asset sebagai berikut:
πΏππ£πππππ =Total Hutang πππ‘ππ π΄π ππ‘
3.3.4.2 Intensitas Aset Tetap
Intensitas aset tetap perusahaan menggambarkan banyaknya investasi perusahaan terhadap aset tetap perusahaan. Size atau ukuran perusahaan merupakan tingkat ukuran besar kecilnya suatu perusahaan. Intensitas Aset Tetap menunjukkan proporsi aset tetap di dalam perusahaan dibandingkan dengan total aset yang dimiliki. Intensitas Aset Tetap diperoleh dengan membandingkan total aset tetap dan total asset (Darmadi, 2013). Intensitas aset tetap adalah gambaran besarnya aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan. Intensitas aset tetap dalam penelitian ini dapat dihitung dengan cara total aset tetap yang dimiliki perusahaan dibandingkan dengan total aset perusahaan (Noor et al., 2010 dalam Dharma dan Agus, 2015).
πΌππ‘πππ ππ‘ππ π΄π ππ‘ πππ‘ππ =πππ‘ππ π΄π ππ‘ πππ‘ππ
πππ‘ππ π΄π ππ‘ π₯100%
3.3.4.3 Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan menurut Riyanto (2008:313) dalam Ida Ayu Rosa Dewinta dan Putu Ery Setiawan (2016) adalah besar kecilnya perusahaan dilihat dari besarnya nilai ekuitas, nilai penjualan maupun nilai aset. Ukuran perusahaan ditunjukkan melalui log total aset, karena dinilai bahwa ukuran ini memiliki tingkat kestabilan yang lebih dibandingkan proksi-proksi yang lainnya dan
35
berkesinambungan antar periode (Yogiyanto 2007:282). Menurut Widiastuti (2002) dalam Rahmawati (2012:187), ukuran perusahaan perusahaan menunjukkan seberapa perusahaan untuk tetap eksis dan mampu bersaing di dalam dunia usaha.
Ukuran perusahaan harus diukur dari tanggal pendiriannya maupun dari tanggal terdaftar di BEI. Ukuran perusahaan dalam penelitian ini menggunakan umur perusahaan dari tanggal perusahaan terdaftar di BEI (Ulum 2009:203). Ukuran perusahaan diukur dengan total aset yang ada dsalam perusahaan. Semakin besar aktiva maka semakin banyak modal yang ditanam. Log Of Total Assets ini digunakan untuk mengurangi perbedaan signifikan antara ukuran perusahaan yang terlalu besar dengan ukuran perusahaan yang terlalu kecil, maka nilai total asset dibentuk menjadi logaritma natural, konversi kebentuk logaritma natural ini bertujuan untuk membuat data total asset terdistribusi normal. Ukuran perusahaan diukur dengan menggunakan log natural dari total asset :
SIZE = LN Of Total Asset
3.3.4.4 Koneksi Politik
Perusahaan berkoneksi politik ialah perusahaan yang dengan cara-cara tertentu mempunyai ikatan secara politik atau mengusahakan adanya kedekatan dengan politisi atau pemerintah (Purwoto, 2011). Pada penelitian ini, dalam menilai ada tidaknya koneksi politik suatu perusahaan menggunakan proksi ada atau tidaknya kepemilikan langsung oleh pemerintah pada perusahaan. Perusahaan yang dimiliki pemerintah dapat diketahui dengan melihat kepemilikan saham atas perusahaan diatas 50%. Koneksi politik diukur dengan variabel dummy. Variabel dummy adalah variabel buatan atau variabel boneka yang dibuat untuk mengkuantitatifkan data kualitatif dengan memberi kode 0 (nol) atau 1 (satu)
36
(Utama, 2007:97). Variabel koneksi politik diukur dengan memberikan nilai 1 untuk perusahaan yang salah satu pemegang sahamnya adalah pemerintah (BUMN) dan 0 jika tidak ada kepemilikan pemerintah.
3.3.4.5 Profitabilitas
Profitabilitas merupakan salah satu pengukuran bagi kinerja suatu perusahaan. Profitabilitas adalah ukuran kemampuan perusahaan perseorangan atau badan untuk menghasilkan laba dengan memperhatikan modal yang digunakan.
Return On Assets (ROA) adalah rasio profitabilitas yang dapat membandingkan laba bersih dengan total aset pada akhir periode, yang digunakan sebagai indikator kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. ROA digunakan karena dapat memberikan pengukuran yang memadai atas keseluruhan efektifitas perusahaan dan dapat memperhitungkan profitabilitas.Return on Assest adalah perbandingan antara laba bersih dengan total aset pada akhir periode, yang digunakan sebagai indikator kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, dengan menggunakan rumus sebagai berikut. ROA mengukur efektivitas keseluruhan dalam menghasilkan laba melalui aktiva yang tersedia, daya untuk menghasilkan laba dari modal yang di investasikan.
Menghitung ROA dengan menggunakan rumus laba bersih setelah pajak dibagi dengan total aktiva (Halim, 2009 dalam Annisa Fadilla, 2015).
ROA = πΏπππ π΅πππ πβ πππ‘ππ π΄π ππ‘
37 3.4 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Bursa Efek Indonesia (BEI). Ditetapkannya Bursa Efek Indonesia sebagai tempat penelitian dengan mempertimbangkan bahwa Bursa Efek Indonesia merupakan salah satu pusat penjualan yang go public di Indonesia. Waktu penelitian dimulai dari bulan Januari 2019.
3.5 Prosedur Pengambilan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder yaitu data yang tidak dikumpulkan sendiri oleh peneliti misalnya data dari Biro Pusat Statistik, majalah, keterangan-keterangan atau publikasi lainnya. Data penelitian ini berupa laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan manufaktur yang dipublikasikan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI).
Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah laporan tahunan (annual report) selama tahun 2015 sampai 2017 selama periode pengamatan yang dikeluarkan oleh perusahaan sampel. Pada penelitian ini, peneliti mengambil data dari laporan tahunan (annual report) yang dipublikasikan melalui Bursa Efek Indonesia yang dapat diakses melalui www.idx.co.id untuk tahun 2016 dan 2017 sedangkan untuk tahun 2015 diperoleh dari web lama BEI yang dapat diakses melalui www.idx.co.
3.6 Model Penelitian 3.6.1 Analisis Deskriptif
Statistik Deskriptif salah satu pengolahan data dalam penelitian adalah dengan statistik deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan apa adanya dari suatu data. Analisis deskriptif merupakan bidang ilmu pengetahuan
38
statistika yang mempelajari cara penyusunan dan penyajian data yang dikumpulkan dalam suatu penelitian (Suliyanto, 2006:174) dalam Sri Mulyani dkk (2012). Selain itu Analisis statistik deskriptif digunakan untuk memberikan deskripsi atas variabel-variabel penelitian secara statistik. Statistik deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai rata-rata (mean), nilai maksimum, nilai minimum, dan standar deviasi, Ghozali, Imam (2011). Nilai minimum digunakan untuk mengetahui jumlah terkecil data yang bersangkutan. Nilai maksimum digunakan untuk mengetahui jumlah besar data yang bersangkutan. Nilai rata-rata (mean) digunakan untuk mengetahui rata-rata data yang bersangkutan. Standar deviasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar data yang bersangkutan bervariasi dari rata-rata, Ghozali (2011).
3.6.2 Uji Analisis Regresi Linear Berganda
Hipotesis dalam penelitian ini akan diuji dengan menggunakan analisis regresi berganda. Analisis regresi linier berganda bertujuan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih dan juga menunjukkan arah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen, Ghozali (2011).
Apabila probabilitas (sig) Ξ± β€ 0,05 maka hipotesis alternative diterima dan apabila (sig) Ξ± β₯ 0,05 maka hipotesis alternatif di tolak. Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
Y = Ξ± + Ξ²1X1 + Ξ²2X2 + Ξ²3X3 + Ξ²4X4 + Ξ²5X5 + e
Keterangan:
Y = Tax Avoidance Ξ± = Konstanta
39 Ξ² = Koefisien Regresi
X1 = Leverage
X2 = Intensitas Aset Tetap X3 = Ukuran Perusahaan X4 = Koneksi Politik X5 = Profitabilitas e = Standar error
3.6.3 Uji Asumsi Klasik 3.6.3.1 Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah variabel independen yaitu Leverage, Intensitas Aset tetap, Ukuran Perusahaan, Koneksi Politik, dan Profitabilitas mempunyai distribusi normal terhadap variabel dependen yaitu Tax Avoidance. Uji normalitas menggunakan one sample Kolmogorov-smirnov test yang ditentukan berdasarkan taraf signifikansi diatas 0,05 menunjukkan data terdistribusi normal, Ghozali (2011).
3.6.3.2 Uji Multikoliearitas
Uji multikolinearitas dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan signifikan antar variabel independen yang digunakan model regresi bebas multikolinearitas terlihat pada nilai Tolerance Value (TOL) diatas 0,1 atau nilai Variance Inflation Factor (VIF) dibawah 10, Ghozali (2011).
3.6.3.3 Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan pada
40
periode t-1 (sebelumnya), Ghozali (2011). Kriteria apabila tidak terjadi autokorelasi ditentukan dengan nilai Durbin Watson, yaitu dengan cara membandingkan antara nilai DW test dengan nilai pada tabel pada tingkat k (jumlah variabel bebas), n (jumlah sampel), dan tingkat signifikansi yang ada. Jika nilai DW test > du dan DW test < 4 β du maka disimpulkan bahwa model yang diajukan tidak terjadi autokorelasi pada tingkat signifikansi tertentu, Ghozali (2011).
Tabel 3.4.2.3.1
Hipotesis nol Keputusan Jika
Tidak ada autokorelasi Positif
Tolak 0<d< dl
Tidak ada autokorelasi Positif
No decision dl β€ d β€ du
Tidak ada korelasi Negatif
Tolak 4 β d1 < d < 4
Tidak ada korelasi Negatif
No decision 4 β du β€ d β€ 4 β d1
Tidak ada autokorelasi positif atau negatif
Tidak ditolak Du < d < 4 β du
Sumber: Ghozali (2011)
41 3.6.3.4 Uji Heterokedastisitas
Uji Heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain (Ghozali, 2011). Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homokedastisitas, dan jika berbeda disebut heterokedastisitas.
Dalam penelitian ini yang digunakan untuk menguji heterokedastisitas adalah uji park. Uji ini dapat dilakukan dengan meregresi nilai residual residual kuadrat dengan masing-masing variabel independennya, jika nilai signifikan > 0,05 maka tidak terjadi heteroskedastisitas, begitu juga sebaliknya (Ghozali, 2011).
3.6.3.5 Koefisien Determinasi (Adjusted R2)
Menurut Ghozali (2011) koefisien determinasi pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan sebuah model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti variasi variabel dependen yang sangat terbatas, dan nilai yang mendekati 1 (satu) berarti variabel-variabel indpenden sudah dapat memberi semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel independen. Secara umum koefisien determinasi untuk data silang (Crossection) relatif rendah karena adanya variasi yang besar antara masing-masing pengamatan, sedangkan untuk data runtut waktu (Time Series) biasanya mempunyai data koefisien determinasi yang lebih tinggi. Kelemahan mendasar penggunaan determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan kedalam model. Setiap tambahan variabel independen, maka nilai R2 pasti meningkat tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen ataupun tidak, oleh karena itu banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai βadjusted R2β
42
pada saat mengevaluasi model regresi terbaik. Tidak seperti R2, nilai βadjusted R2β
dapat naik atau turun berdasarkan signifikansi variabel independen, Ghozali (2011).
3.7 Pengujian Hipotesis
3.7.1 Uji Signifikasi Simultan (Overall Model Fit Test)
Uji overall model fit test digunakan untuk mengetahui apakah semua variabel independen mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Signifikansi yang digunakanadalah 0,05. Jika nilai probabilitas <0,05, maka dapat dikatakan terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Namun, jika nilai signifikan >0,05 maka tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama antara variabel bebas terhadap variabel terikat (Imam Ghozali, S2013).
3.7.2 Uji Signifikan Parameter Individual (Uji Statistik t)
Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara parsial berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel independen. Signifikan yang digunakan sebesar < 0,05, maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat secara parsial. Namun, jika probabilitas nilai t atau signifikansi > 0,05, maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat, Ghozali (2011).
43 BAB IV
ANALISIS HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Penelitian
4.1.1 Hasil Pemilihan Sampel
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa data laporan keuangan yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui website www.idx.co.id. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2015 sampai dengan 2017. Jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 155 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2015 sampai dengan 2017 secara berturu-turut. Sampel yang dipilih dari populasi menggunakan teknik purposive sampling, yaitu proses pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu. Tabel dibawah menyajikan ringkasan pemilihan sampel berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sebagai berikut :
44 Tabel 4.1
Ringkasan Prosedur Pemilihan Sampel
No Keterangan Jumlah
1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI secara berturut-turut selama periode 2015-2017
155
2. Perusahaan manufaktur yang mengalami kerugiaan secara berturut-turut selama periode 2015-2017
(80)
3. Perusahaan manufaktur yang mengalami delisting selama periode 2015-2017
(15)
4. Perusahaan manufaktur yang tidak mempublikasikan laporan keuangan per 31 desember selama periode 2015-2017
(8)
5. Perusahaan yang memperoleh laba bersih selama periode 2015-2017
52
6. Jumlah perusahaan yang digunakan 52
7. Total observasi selama 3 tahun 52 x 3 tahun 156
Jumlah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2015-2017 berjumlah sebanyak 155 perusahaan, sebanyak 15 perusahaan yang mengalami delisting. Perusahaan manufaktur yang tidak mempublikasikan laporan keuangan secara berturut-turut sebanyak 8 perusahaan.
Perusahaan manufaktur yang mengalami kerugian dalam periode 2015-2017 sebanyak 80 perusahaan. Sehingga perusahaan manufaktur yang digunakan sebanyak 52 perusahaan. Sedangkan total data yang dijadikan sebagai sampel
45
penelitian ini adalah sebanyak 156 sampel. Adapun perusahaan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah serbagai berikut :
Tabel 4.2
Daftar Nama Perusahaan
1 ADES Akasha Wira International Tbk
Sektor industri barang konsumen
2 ADMF Adira Wira International Tbk Sektor aneka industri
3 AGII Aneka Gas Industri Tbk Sektor industri dasa & kimia 4 AKPI Argha Karya Prima Industri Sektor industri dasar & kimia 5 AMFG Asahimas Flat Glass Tbk Sektor industri dasar & kimia 6 AMIN Ateliers Mecaniques DβIndonesia Tbk Sektor aneka industri
7 ARNA Arwana Citra Mulia Tbk Sektor industri dasar & kimia 8 ASII Astra International Tbk Sektor ankeha industri
9 AUTO Astra Auto Part Tbk Sektor aneka industri
10 BATA Sepatu Bata Tbk Sektor aneka industri
11 BUDI Budi Starch and Sweetener Tbk Sektor Industri dasar & kimia 12 CEKA Wilmar Cahaya Indonesia Tbk
Sektor industri barang konsumsi
13 CPIN Charoen Pokphand Indonesia Tbk Sektor industri dasar & kimia 14 DLTA Delta Djakarta Tbk
Sektor industri barang konsumsi
15 DPNS Duta Pertiwi Nusantara Tbk Sektor industri dasar & kimia 16 DVLA Darya Varia Laboratoria Tbk
Sektor industri barang konsumsi
17 EKAD Ekadharma International Tbk Sektor industri dasar & kimia 18 GGRM Gudang Garam Tbk
Sektor industri barang konsumsi
19 HMSP Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk
Sektor industri barang konsumsi
20 ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
Sektor industri barang konsumsi
21 IGAR Champion Pasific Indonesia Tbk Sektor industri dasar & kimia 22 IMPC Impack Pratama Industri Tbk Sektor industri dasar & kimia 23 INAI Indal Aluminium industri Tbk Sektor industri dasar & kimia 24 INCI Intan Wijaya International Tbk Sektor industri dasar & kimia 25 INDF Indofood Sukses Makmur Tbk
Sektor industri barang konsumsi
26 INDS Indospring Tbk Sektor aneka industri
27 INTP Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Sektor industri dasar & kimia 28 ISSP Steel Pipe Industri of Indonesia Tbk Sektor industri dasar & kimia
46
29 JECC Jembo Cable Company Tbk Sektor aneka industri
30 JPFA Japfa Comfeed Indonesia Tbk Sektor industri dasar & kimia 31 KAEF Kimia Farma (Persero) Tbk Sektor barang konsumsi 32 KBLI KMI Wire and Cable Tbk Sektor aneka industri
33 KDSI Kedawung Setia Industri Tbk Sektor industri dasar & kimia
34 KLBF Kalbe Farma Tbk Sektor barang konsumsi
35 LMSH Lionmesh Prima Tbk Sektor industri dasar & kimia 36 MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk
Sektor industri barang konsumsi
37 MYOR Mayora Indah Tbk
Sektor industri barang konsumsi
38 ROTI Nippon Indosari Corporindo Tbk
Sektor industri barang konsumsi
39 SIDO
Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul Tbk
41 SMGR Semen Gresik Tbk Sektor industri dasar & kimia 42 SMSM Selamat Sempurna Tbk Sektor aneka industri
43 SRSN Indo Acitama Tbk Sektor industri dasar & kimia
44 STAR Star Petrochem Tbk Sektor aneka industri
45 TALF Tunas Alfin Tbk Sektor industri dasar & kimia 46 TCID Mandom Indonesia Tbk
Sektor industri barang konsumsi
47 TOTO Surya Toto Indonesia Tbk Sektor industri dasar & kimia 48 TRIS Trisula International Tbk Sektor aneka industri
49 TSPC Tempo Scan Pacific Tbk
Sektor industri barang konsumsi
50 ULTJ Ultra Jaya Milk Industri Tbk
Sektor industri barang konsumsi
51 WIIM Wismilak Inti Makmur Tbk
Sektor industri barang konsumsi
52 WSBP Waskita Beton Precast Tbk Sektor industri dasar & kimia
4.2 Analisis dan Hasil Penelitian
Hasil analisis dari pengujian yang dilakukan berdasarkan uji asumsi klasik dan uji regresi linear berganda yang dilakukan untuk mengidentifikasi data yang diolah.
47 4.2.1 Statistik Deskriptif
Dalam penelitian ini statistik deskriptif digunakan untuk melihat nilai minimum, maksimum, nilai rata-rata, dan standar deviasi dari masing-masing variabel. Tabel berikut ini adalah statisik deskriptif dari variabel dependen tax avoidance dan variabel independen yaitu leverage, intensitas aset tetap, ukuran perusahaan, koneksi politik dan profitabilitas.
Tabel 4.3
Hasil Statistik Deskriptif Setelah Outlier
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Leverage 146 ,071 2,093 ,40226 ,246661
Intensitas Aset Tetap 146 ,000 6,062 ,36696 ,507199
Ukuran Perusahaan 146 25,62 33,32 28,8696 1,69320
Koneksi Politik 146 0 1 ,32 ,466
Profitabilitas 146 ,000 ,527 ,09132 ,083846
Tax Avoidance 146 ,003 ,884 ,26201 ,111175
Valid N (listwise) 146
Berdasarkan tabel 4.3 tersebut menunjukan bahwa (n) pada setiap variabel yang valid 146, hasil statistik deskriptif mengenai variabel-variabel penelitian sebagai berikut :
1. Tax Avoidance
Tabel 4.3 menjelaskan bahwa jumlah observasi (n) 146, variabel tax avoidance memiliki nilai minimum sebesar 0,003 dimana nilai minimum tersebut merupakan nilai ETR dari Delta Djakarta Tbk Tahun 2015. Untuk nilai maksimum sebesar 0,884 dimana nilai maksimum merupakan dari perusahaan
48
Star Petrochem Tbk tahun 2015. Rata-rata (mean) sebesar 0,26201 serta standar deviasi sebesar 0,111175.
2. Leverage
Tabel 4.3 menjelaskan bahwa jumlah observasi (n) sebesar 146, nilai minimum sebesar 0,071 dimana nilai minimum tersebut merupakan nilai DER dari Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk tahun 2015. Untuk nilai maksimum sebesar 2,093 dimana nilai maksimum tersebut merupakan nilai DER dari Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk tahun 2017. Rata-rata (mean) sebesar 0,40226 serta standar deviasi sebesar 0,246661.
3. Intensitas Aset Tetap
Tabel 4.3 menjelaskan bahwa jumlah observasi (n) sebesar 146, nilai minimum sebesar 0,000 dimana nilai minimum tersebut merupakan nilai aset tetap dari perusahaan Astra International Tbk tahun 2015. Untuk nilai maksimum sebesar 6,062 dimana nilai maksimum tersebut merupakan nilai aset tetap dari perusahaan Budi Strarct and Sweetener Tbk tahun 2016. Rata-rata (mean) sebesar 0,36696 serta deviasi sebesar 0,507199.
4. Ukuran Perusahaan
Tabel 4.3 menjelaskan bahwa jumlah observasi (n) sebesar 146, nilai minimum sebesar 25,62 dimana nilai minimum tersebut merupakan nilai Ln dari Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk tahun 2015. Untuk nilai maksimum sebesar 33,32 dimana nilai maksimum tersebut nilai Ln dari Astra Intenational Tbk tahun 2017. Rata-rata (mean) sebesar 28,8696 serta standar deviasi sebesar 1,69320.
5. Koneksi Politik
49
Tabel 4.3 menjelaskan bahwa observasi (n) sebesar 146, nilai minimum sebesar 0 dari 108 sampel, nilai maksimum sebesar 1 dari 48 sampel. Sedangkan untuk mean sebesar 0,36696 dan nilai standar deviasi sebesar 0,507199.
6. Profitabilitas
Tabel 4.3 menjelaskan bahwa observasi (n) sebesar 146, nilai minimum sebesar 0,000 dari 4 perusahaan yang terdiri dari 5 data sampel perusahaan. Untuk nilai maksimum sebesar 0,527 dimana nilai maksimum merupakan ROA dari tahun 2017. Rata-rata (mean) sebesar 0,26201 serta standar deviasi sebesar 0,083846.
Mean ROA adalah sebesar 0,097292 dengan median sebesar 0,072306.
4.3 Uji Asumsi Klasik
Adapun uji asumsi klasik dalam penelitian ini adalah Uji Normalitas, Uji Multikolinearitas, Uji Heteroskedastistas, dan Uji Autokorelasi
4.3.1 Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji variabel independen yaitu leverage, intensitas aset tetap, ukuran perusahaan, koneksi politik, dan profitabilitas mempunyai distribusi normal terhadap variabel dependen yaitu tax avoidance. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan Kolmogrov-Smirnov test dengan taraf signifikan 0,05. Dasar pengambilan keputusan sig β₯ 0,05 maka dikatakan berdistribusi normal. Adapun tabel hasil non-parametrik Kolmogrov-Smirnov ditunjukan pada tabel 4.4 sebagai berikut :
50 Tabel 4.4
Hasil Uji Normalitas Sebelum Outlier One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Kolmogorov-Smirnov Z 3,806
Asymp. Sig. (2-tailed) ,000 a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Berdasarkan Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa nilai Asymp Sig (2-tailed) sebesar 0,000 yaitu lebih kecil dari nilai Ξ± sebesar 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil uji normalitas menunjukan bahwa nilai residual tidak berdistribusi normal.
Tabel 4.4
Hasil Uji Normalitas Setelah Outlier
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 146
Normal Parametersa,b Mean -,0442965 Std. Deviation ,11287162
Most Extreme Differences
Absolute ,063 Positive ,063 Negative -,063
Kolmogorov-Smirnov Z ,766
Asymp. Sig. (2-tailed) ,599
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
51
Berdasarkan Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa nilai Asymp Sig (2-tailed) sebesar 0,599 yaitu lebih besar dari nilai Ξ± sebesar 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil uji normalitas menunjukan bahwa nilai residual berdistribusi normal setelah dioutlier.
4.3.2 Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas atau independen. Pengujian dilakukan untuk melihat ada tidaknya hubungan linear antar variabel bebas (indeks), dilakukan dengan menggunakan Variance Inflation Factor (VIF) dan Tolerance Value (Ghozali, 2011). Batas dari Tolerance Value > 0,10 atau nilai VIF
< 10
Tabel 4.5
Hasil Uji Multikolinearitas
Berdasarkan tabel 4.5 hasil perhitungan nilai tolerance menunjukkan tidak ada variabel independen yang memiliki nilai tolerance kurang dari 0,10 dan nilai variance inflation factor (VIF) juga menunjukkan hal yang sama yaitu tidak ada
Coefficientsa
Model Collinearity Statistics Tolerance VIF
Koneksi Politik ,943 1,061 Profitabilitas ,970 1,031 a. Dependent Variable: Tax Avoidance
52
variabel independen yang memiliki nilai VIF lebih dari 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.
variabel independen yang memiliki nilai VIF lebih dari 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.