BAB III METODE PENELITIAN
3.7. Uji Validitas dan Reliabilitas
Pengujian validitas dalam penelitian ini dengan mengambil sampel 30 (tiga puluh) pegawai yang tidak termasuk dalam sampel penelitian di Direktorat Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Medan. Menurut Sugiono (2007) Valid berarti instrumen yang digunakan untuk mendapatkan data dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Untuk menguji validitas alat ukur, terlebih dahulu dicari harga korelasi antara bagian-bagian dari alat ukur secara keseluruhan dengan cara mengkorelasikan setiap butir alat ukur dengan skor total yang merupakan jumlah tiap skor butir.
Distribusi (Tabel t) untuk α = 0,05 dan derajat kebebasan (dk = n-2). Kaedah keputusan: jika t hitung > t tabel berarti valid dan sebaliknya jika t hitung < t tabel
Antara 0,8 – 1,000 Sangat tinggi
berarti tidak valid. Jika instrumen itu valid, maka dilihat kriteria penafsiran mengurai indeks korelasinya sebagai berikut:
Antara 0,6 – 0,799 Tinggi
Antara 0,4 – 0,599 Cukup tinggi
Antara 0,2 – 0,399 Rendah
Ghozali (2005) menyatakan bahwa untuk mengukur validitas dapat dilakukan dengan cara :
1. Melakukan korelasi antar skor butir pertanyaan dengan total skor konstruk atau variabel. Dalam hal ini melakukan korelasi masing-masing skor butir pertanyaan dengan total skor butir pertanyaannya. Uji signifikansi dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan r tabel untuk degree of freedom (df) = 2. Untuk menguji masing-masing indikator valid atau tidak, dilihat dari tampilan Ouput Cronbach Alpha pada kolom Correlated Item Total Correlation.
Analisis faktor konfirmatori digunakan untuk menguji apakah suatu konstruk mempunyai undimensionalitas atau apakah indikator-indikator yang digunakan dapat mengkonfirmasikan sebuah konstruk atau variabel. Hasil pengujian validitas instrumen variabel dapat dilihat pada Tabel 3.4 yang terdapat pada kolom Pearson Correlation diketahui bahwa pada kolom Pearson Correlation, merupakan koreksi antara skor item dengan total skor item yang dapat digunakan untuk menguji validitas instrumen. Korelasi skor item/ pertanyaan pertama terhadap skor total adalah 0.508. Korelasi skor pertanyaan kedua dengan skor total adalah 0.429. Dari hasil Pearson Correlation diketahui tidak ada nilai yang negatif, maka dapat disimpulkan semua butir pertanyaan tersebut valid.
Tabel. 3.4 Hasil Uji Validitas Rotasi Pekerjaan
No Butir Pertanyaan Pearson
Correlation
Sig. (1-tailed)
Keterangan
1 Rotasi pekerjaan dapat meningkatkan pengetahuan saya dalam menyelesaikan pekerjaan
0.002 0.508 Valid
2 Saya mempunyai pengetahuan atas ruang lingkup serta keterkaitan tugas-tugas jabatan saya dengan jabatan-jabatan lain
0.009 0.429 Valid
3 Perputaran pekerjaan dapat meningkatkan kemampuan saya dalam melaksanakan pekerjaan
0.000 0.741 Valid
4 Saya mempunyai kemampuan melaksanakan tugas yang sangat mendesak walau menggunakan peralatan manual
0.001 0.549 Valid
5 Perpindahan kerja yang saya alami dapat menambah keterampilan saya
0.000 0.617 Valid
6 Saya mempunyai keterampilan melaksanakan tugas yang menggunakan peralatan praktis/teknologi baru
0.005 0.467 Valid
7 Perpindahan yang saya alami mampu meningkatkan mutu proses penyelesaian pekerjaan saya
0.000 0.579 Valid
8 Rotasi pekerjaan memampukan saya memiliki teknik untuk meningkatkan penyelesaian tugas lebih cepat
0.004 0.471 Valid
9 Perpindahan kerja menambah kemampuan saya didalam menganalisis karakteristik pekerjaan
0.001 0.527 Valid
10 Job rotasi memberikan keberhasilan untuk menganalisis jenis pekerjaan
0.000 0.763 Valid
11 Saya mampu menganalisis penempatan pegawai baru
0.008 0.433 Valid
12 Job rotasi membantu menganalisis kebutuhan pegawai
0.000 0.653 Valid
13 Saya selalu meningkatkan ketelitian saya dalam pemeriksaan pekerjaan
0.002 0.520 Valid
14 Saya selalu berusaha mengerjakan tugas sesuai tata aturan yang berlaku
0.010 0.423 Valid
15 Rotasi pekerjaaan memberikan saya banyak informasi
0.002 0.520 Valid
16 Rotasi kerja memberikan saya informasi untuk menyelesaikan pekerjaan
0.004 0.481 Valid
17 Saya bersedia menerima jabatan baru untuk yang lebih tinggi
0.000 0.587 Valid
18 Saya bersedia untuk melibatkan diri sepenuhnya dalam tugas-tugas jabatan dengan menerima resiko atas pelaksanaan tugas jabatan tersebut
0.000 0.599 Valid
Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas Motivasi Kerja No Butir Pertanyaan Pearson
Correlation Sig. (1-tailed)
Keterangan
1
Saya bertanggung jawab atas pengembangan
serta evaluasi diri secara terus menerus .001
.
538 Valid
2
Saya bersedia menerima beban tanggung jawab
yang lebih besar dari yang saya emban saat ini .010 .425 Valid
3
Motivasi kerja dapat meningkatkan prestasi kerja karena penempatan yang sesuai dengan latar pendidikan saya
.000 .680 Valid
4
Saya yakin promosi kerja dilakukan berdasarkan
prestasi kerja saya .003 .498 Valid
5
Atasan mengakui keberhasilan saya dalam
penyelesaian tugas sehari-hari .000 .632 Valid
6
Saya merasa perlu menyelesaikan laporan sebelum jatuh tempo dengan harapan akan mendapat hasil yang lebih baik
.000 .798 Valid
7 Motivasi kerja lebih meningkatkan kemajuan
kinerja saya .000 .689 Valid
8 Saya mampu menunjukkan kinerja saya yang
lebih baik dari yang sebelumnya .000 .693 Valid
9 Saya bersedia kerja lembur untuk mendapatkan gaji tambahan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan dasar
.009 .428 Valid
10 Saya bersedia bekerja keras untuk
mengharapkan tambahan pendapatan yang lebih memadai
.000 .578 Valid
11 Saya selalu giat bekerja dengan kondisi kerja
yang nyaman .000 .711 Valid
12 Saya semangat melaksanakan tugas didukung
dengan peralatan yang lengkap .000 .681 Valid
13 Jaminan keselamatan kerja menambah semangat
saya dalam bekerja .001 .562 Valid
14 Saya sering memanfaatkan fasilitas PT. ASKES
yang memberi pelayanan keselamatan pegawai .008 .436 Valid 15 Saya berusaha menjalin hubungan kerja yang
harmonis antara sesama pegawai .000 .670 Valid 16 Saya bersedia menjalin hubungan kerja dengan
pihak lain dalam rangka menyelesaikan tugas- tugas sesuai dengan aturannya
.000 .591 Valid
Sumber: Hasil Penelitian, 2012 (Data Diolah)
Pada data Tabel 3.5 diketahui bahwa pada kolom Pearson Correlation, merupakan koreksi antara skor item dengan total skor item yang dapat digunakan
terhadap skor total adalah 0.538. Korelasi skor pertanyaan kedua dengan skortotal adalah 0.425. Dari hasil Pearson Correlation diketahui tidak ada nilai yang negatif, maka dapat disimpulkan semua butir pertanyaan tersebut valid.
Tabel 3.6 Hasil Uji Validitas Kinerja Pegawai
NO Butir Pertanyaan Pearson
Correlation
Sig. (1-tailed)
Keterangan
1
Saya mampu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
0.000 0.591 Valid
2
Saya dapat menyerahkan laporan tepat waktu
0.000 0.718 Valid
3
Saya mampu menyelesaikan pekerjaan sesuai
standard kerja 0.000 0.698 Valid
4 Saya berusaha melakukan yang terbaik dalam
menyelesaikan masalah dalam suatu pekerjaan 0.000 0.594 Valid 5 Saya bersedia mengerjakan tugas yang berat karena
jenis pekerjaan sesuai dengan minat saya 0.000 0.711 Valid 6 Saya sangat berminat bekerja secara inovatif melalui
gagasan-gagasan baru yang dapat meningkatkan kinerja
0.000 0.640 Valid
7
Saya selalu mengembangkan ide kreatif didalam
menyelesaikan pekerjaan saya 0.004 0.476 Valid
8
Atasan sering meminta ide kreatif saya untuk
penyelesaian pekerjaan yang sulit 0.000 0.626 Valid 9
Saya mampu menyelesaikan pekerjaan dengan waktu
yang lebih singkat 0.000 0.591 Valid
10
Saya mampu mengerjakan tugas tambahan yang
diberikan atasan 0.000 0.735 Valid
11
Saya menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang
ditentukan 0.000 0.710 Valid
12
Saya mampu mempergunakan waktu untuk
penyelesaian pekerjaan 0.000 0.594 Valid
13
Saya selalu hadir sesuai tata tertib yang ada
0.000 0.720 Valid
14
Saya berusaha hadir setiap ada rapat bulanan
0.000 0.613 Valid
15
Saya bersedia memberikan pelayanan diluar jam
kerja saya 0.000 0.622 Valid
16
Saya memberikan pelayanan sesuai standard kerja
yang ditentukan 0.001 0.555 Valid
Sumber: Hasil Penelitian, 2012 (Data Diolah)
Pada data Tabel 3.6 diketahui bahwa pada kolom Pearson Correlation, merupakan koreksi antara skor item dengan total skor item yang dapat digunakan untuk menguji validitas instrumen. Korelasi skor item/ pertanyaan pertama terhadap skor total adalah 0.591. Korelasi skor pertanyaan kedua dengan skortotal
adalah 0.718. Dari hasil Pearson Correlation diketahui tidak ada nilai yang negatif, maka dapat disimpulkan semua butir pertanyaan tersebut valid.
3.7.2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas dilakukan untuk mendapatkan tingkat ketepatan (keterandalan) alat pengumpul data (instrumen) yang digunakan
Ghozali (2005) menyatakan bahwa pengukuran reliabilitas dapat dilakukan dengan dua cara :
2. Repeated Measure atau pengukuran ulang dilakukan dengan cara memberikan kuesioner yang sama pada waktu yang berbeda, dan kemudian dilihat apakah responden tetap konsisten dengan jawabannya.
3. One Shot atau pengukuran sekali saja dilakukan dengan cara hanya sekali saja kuesioner diberikan kepada responden dan hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur korelasi antar jawaban pertanyaan
Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan rumus Koefisien Alpha (α) dari Cronbach (Umar, 2003) sebagai berikut:
−∑ − = 22 11 1 1 i b k k r σ σ Di mana: r11
k = banyak butir pertanyaan = realiabilitas instrumen
2 i
2 b
σ
∑ = jumlah varian butir
Jumlah varian butir dicari terlebih dahulu dengan cara mencari nilai varian tiap butir, kemudian dijumlahkan. Rumus varian yang digunakan adalah sebagai berikut: n n X X 2 2 ) (∑ ∑ = σ Di mana: n = jumlah responden
x = nilai skor yang dipilih (total nilai nomor-nomor butir)
Cronbach alpha yang baik adalah yang makin mendekati 1, menurut Santoso (2002) reliabilitas yang kurang dari 0,6 adalah kurang baik, sedangkan 0,7 dapat diterima dan reliabilitas dengan Cronbach alpha 0,8 atau diatasnya adalah baik.
Reliabilitas sebenarnya adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban dari responden terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Jawaban responden terhadap pertanyaan dikatakan reliabel jika masing-masing pertanyaan dijawab secara konsisten.
Pengujian dilakukan dengan cara mencobakan instrumen sekali saja, kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan teknik tertentu, dalam hal ini
teknik yang digunakan adalah teknik Cronbach Alpha (á). Suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,60. (Ghozali, 2005).
Tabel 3.7. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Variabel
Variabel Alpha
Cronbach.s
N of Item Keterangan
Rotasi Pekerjaan 0.744 19 Reliabel
MotivasiKerja 0.751 17 Reliabel
Kinerja Pegawai 0.756 17 Reliabel
Sumber: Hasil Penelitian, 2012 (Data Diolah)
3.8. Metode Analisis Data
3.8.1. Model Analisis Data Regresi Linear Berganda
Metode analisis data dalam penelitian ini adalah model Regresi Linier Berganda yang digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Adapun model persamaannya sebagai berikut :
Y = a+ b1X1+ b2X2
Dimana : Y = Kinerja pegawai +e
a = bilangan konstan
b1, b2
X
= koefisien regresi variabel independen
1
X
= Rotasi Pekerjaan
2
e = Variabel yang tidak diteliti = Motivasi Kerja
Pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen diuji dengan tingkat kepercayaan (confidence interval) 95 % atau α = 5 %.
3.8.2. Uji Hipotesis
3.8.2.1 Uji Simultan ( Uji F)
Uji statistik F dilakukan untuk menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan sebagai model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Pengujian hipotesis secara serempak dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
H0 : b1 : b2 = 0 (Rotasi pekerjaan dan motivasi kerja secara serempak tidak berpengaruh terhadap kinerja pegawai di Direktorat Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Medan)
H1 : b1: b2 ≠ 0 (Rotasi pekerjaan dan motivasi kerja secara serempak berpengaruh terhadap kinerja pegawai di Direktorat Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Medan)
Untuk menguji apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak digunakan statistik F (uji F). Jika F hitung < F tabel maka H0 diterima dan H1 ditolak, sedangkan jika F hitung > F tabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima.
3.8.2.2 Uji Parsial ( Uji t)
Pengujian hipotesis secara parsial dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : H0 : b1 = 0 (Rotasi Pekerjaan secara parsial tidak berpengaruh terhadap kinerja pegawai di Politeknik Kesehatan di Direktorat Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Medan).
H1 : b1 ≠ 0 (Rotasi pekerjaan secara parsial berpengaruh terhadap kinerja pegawai di Direktorat Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Medan)
H0 : b2 = 0 (Motivasi kerja secara parsial tidak berpengaruh terhadap kinerja pegawai di Direktorat Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Medan)
H1 : b2 ≠ 0 (Motivasi Kerja secara parsial berpengaruh terhadap kinerja pegawai di Direktorat Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Medan)
Untuk menguji hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak digunakan statistik t (uji t). Apabila nilai t hitung > t tabel maka H0 yang menyatakan b = 0 ditolak, maka H1 (hipotesis alternatif) diterima yang menyatakan bahwa variabel independen secara individual berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Pengujian-pengujian diatas dilakukan dengan menggunakan software Statistical Package for Social Science (SPSS) dengan versi 17.0.
3.9. Pengujian Asumsi Klasik 3.9.1. Uji Normalitas
Salah satu cara untuk melihat normalitas residual adalah dengan melihat grafik normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal, dan ploting data residual akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribusi data residual normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya.
Uji normalitas dengan grafik dapat menyesatkan kalau tidak hati-hati secara visual kelihatan normal, padahal secara statistik bisa sebaliknya. Oleh sebab itu dianjurkan disamping uji grafik dilengkapi dengan uji statistik. Salah satu uji statistik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas residual adalah uji statistik non-parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S).
3.9.2. Uji Multikolonieritas
Ghozali (2005) Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (variabel indepenen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel- variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol.
Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritas didalam model regresi adalah sebagai berikut:
1. Nilai R² yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel-variabel independen banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen.
2. Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen. Jika antar variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya diatas 0,90), maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolonieritas.
3. Multikolonieritas dapat juga dilihat dari (1) nilai Tolerance, dan (2) Variance Inflation Factor (VIF). Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainya. Jadi nilai Tolerance yang rendah sama dengan VIF tinggi (karenaVIF=1/Tolrance). Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolonieritas adalah nilai Tolerance < 0,10 atau sama dengan nilai VIF > 10.
3.9.3. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas yang dapat dilakukan dengan melihat Grafik Plot dan Uji Glejser yang dilakukan dengan meregresikan nilai absolut residual yang diperoleh dari model regresi sebagai vaeiabel dependent terhadap semua variabel independent dalam model regresi. Apabila nilai koefisien regresi dari masing- masing variabel bebas dalam model regresi ini tidak signifikan secara statistik
maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas (Sumodiningrat, 2001). Variabel independent signifikan dibawah 5% secara statistik maka diindikasikan terjadinya heteroskedastisitas. Jika probabilitas signifikannya diatas tingkat kepercayaan 5 % maka model regresi ini tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2005)
Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dalam model regresi menurut Ghozali (2005) adalah dengan melihat grafik antara nilai prediksi variabel terikat yaitu ZPRED dengan SRESID. Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu antara lain dengan cara melihat grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Yprediksi – Y sesungguhnya) yang telah di studentized. Dasar analisisnya adalah 1. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu yang
teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit) maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.