• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Prosedur Analisis Kinerja Bundaran

2.2.2 Ukuran Kinerja Bundaran

Kinerja merupakan suatu ukuran kuantitatif mengenai kondisi operasional dari fasilitas lalu lintas. Metode dan prosedur yang diuraikan dalam manual ini mempunyai dasar empiris. Alasannya adalah bahwa perilaku lalu lintas pada bagian jalinan dalam hal aturan memberi jalan, disiplin lajur dan antri tidak memungkinkan penggunaan suatu model yang berdasarkan pada pengambilan celah.Ukuran kinerja umum dalam analisis operasional pada bundaran yang dapat diperkirakan berdasarkan aturan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI)1997 adalah:

Gambar 2. 3 Geometrik Bundaran Sumber : Dep. PU, 1997

10 A. Volume

Dalam manual, nilai arus lalu lintas (Q) mencerminkan komposisi lalu lintas, dengan menyatakan arus dalam satuan mobil penumpang (smp).

Semua nilai arus lalu lintas (per arah dan total) diubah menjadi satuan mobil penumpang (smp) dengan menggunakan ekuivalen mobil penumpang (emp) yang diturunkan secara empiris tipe kendaraan berikut (Dep.PU, 1997) :

1. Kendaraan berat/Heavy Vehicle (HV), kendaraan bermotor dengan jarak as lebih dari 3,50 m biasanya beroda lebih dari 4 (termasuk bis, truk 2 as, truk 3 as, dan truk kombinasi sesuai sistem klasifikasi Bina Marga).

2. Kendaraan ringan/Light Vehicle (LV), kendaraan bermotor 2 as beroda 4 dengan jarak as 2,0 – 3,0 m (termasuk mobil penumpang, opelet, mikrobis, pick up dan truk kecil sesuai sistem klasifikasi Bina Marga).

3. Sepeda motor/Motor Cycle (MC), kendaraan bermotor beroda 2 atau 3 (termasuk sepeda motor dan kendaraan beroda 3 sesuai sistem klasifikasi Bina Marga).

4. Kendaraan tak bermotor/Unmotorized (UM), kendaraan beroda yang menggunakan tenaga manusia atau hewan (termasuk sepeda, becak, kereta kuda dan kereta dorong sesuai sistem klasifikasi Bina Marga).

Q = QHv ∙ empHv + QLv x empLv + QMc ∙ empMc (2.1) Keterangan :

Q = Arus lalu lintas (smp/jam)

QHv = Arus lalu lintas kendaraan berat (kendaraan/jam) QLv = Arus lalu lintas kendaraan ringan (kendaraan/jam) QMc = Arus lalu lintas sepeda motor (kendaraan/jam) empLv = Ekivalensi mobil penumpang kendaraan ringan empHv = Ekivalensi mobil penumpang kendaraan berat empMc = Ekivalensi mobil penumpang sepeda motor

Ekivalensi mobil penumpang (emp) untuk masing-masing tipe kendaraan tergantung pada tipe jalan dan arus lalu lintas total yang dinyatakan dalam kendaraan/jam. Pengaruh kendaraan tak bermotor

11 Gambar 2. 4 Bagian jalinan bundaran

Sumber : Dep. PU, 1997

dimasukan sebagai kejadian terpisah dalam faktor penyesuaian hambatan samping.

B. Perhitungan Kapasitas

Hal-hal yang diperlukan dalam perhitungan kapasitas jalan pada bundaran dengan bundaran adalah sebagai berikut :

1. Kapasitas Dasar (Co)

Rumus umum untuk menghitung kapasitas dasar adalah :

Co = 135xWw1,3x (1+We/Ww)1,5x (1-Pw/3)0.5x (1+Ww/Lw)-1,8 .... (2.1) Dimana

Ww = Lebar jalinan (m) We = Lebar masuk (m) Lw = Panjang jalinan (m)

Pw = Weaving = Arus menjalin (Qw)/ Arus total (Qt) Lebar Rata-rata Pendekat :

We = (W1+W2)/2 ... (2.2) Dimana

W1 = Lebar pendekat masuk ke 1 (m) W2 = Lebar pendekat masuk ke 2 (m)

2. Kapasitas Nyata (C)

Rumus untuk menghitung kapasitas nyata adalah :

C= C0 x FCS x FRSU (smp/jam)... (2.3) Dimana :

C = Kapasitas Nyata (smp/jam ) C0 = Kapasitas Dasar ( smp/jam )

12 FCS = Faktor Penyesuaian Ukuran Kota

FRSU = Faktor Penyesuaian Lingkungan Jalan, Hambatan samping dan rasio kendaraan tak bermotor

3. Faktor Penyesuaian Ukuran Kota (FCS)

Tabel 2. 5 Faktor penyesuaian ukuran kota (FCS)

Ukuran Kota Penduduk (Juta Jiwa) FCS

Sangat Kecil < 0,1 0 , 82

4. Faktor Penyesuaian Tipe Lingkungan Jalan, Hambatan Samping dan Rasio Kendaran Tak Bermotor

Tabel 2. 6 Faktor Penyesuaian Hambatan Samping

Kelas tipe lingkungan

jalan RE

Kelas hambatan samping

Rasio kendaraan tak bermotor

0,00 0,05 0,10 0,15 0,20 ≥0,25

Menurut (Dep. PU, 1997) Tabel 2.6 disusun berdasarkan anggapan bahwa pengaruh kendaraan tak bermotor terhadap kapasitas adalah sama seperti kendaraan ringan, yaitu empum = 1,0. Persamaan berikut dapat digunakan jika pemakai mempunyai bukti bahwa empum ≠ 1,0 yang mungkin merupakan keadaan jika kendaraan tak bermotor tersebut terutama berupa sepeda.

FRSU (pum lapangan) = FRSU (pum=0) x (1-pum x empum) ... (2.4) D. Derajat Kejenuhan (DS)

13 Derajat kejenuhan bundaran didefinisikan sebagai derajat kejenuhan bagian jalinan yang tertinggi atau arus total dibagi dengan kapasitas bundaran.

Dapat dirumuskan :

DS = Q/C ... (2.5) Dimana :

Q = Arus total (smp/jam) C = Kapasitas (smp/jam)

E. Tundaan (delay) terdiri atas :

a. Tundaan Lalu Lintas (DT) sebagai akibat dari interaksi lalu lintas dengan gerakan yang lain dalam jalinan.

Untuk DS ≤ 0 , 6

DT = 2+2,68982 X DS – (1-DS) x 2 ... (2.6) Untuk DS > 0,6

DT = (1/(0,59186 – 0,52525 x DS) – (1-DS) x 2)) ... (2.7) b. Tundaan Geometrik (GD) sebagai akibat dari perlambatan dan

percepatan lalu lintas, dihitung dengan rumus :

DT = (1-DS) x 4+DS x 4 ... (2.8)

Gambar 2. 5 Tundaan Vs Derajat Kejenuhan Sumber : Dep. PU, 1997

c. Tundaan Lalu Lintas Bundaran (DTR)

Didefinisikan sebagai tundaan rata-rata per kendaraan yang masuk ke dalam bundaran. Dapat dirumuskan :

DTR = ∑ (Qi x Dti)/ Qmax ... (2.9) Dimana :

DTR = Tundaan lalu lintas bundaran (det/smp )

14 Qi = Total kendaraan memasuki jalinan (smp/jam )

Qmax = Total kendaraan memasuki bundaran (smp/jam ) Dti = Tundaan lalu lintas pada bagian jalinan (det/smp) d. Tundaan Bundaran (DR)

Definisikan sebagai tundaan lalu lintas rata-rata per kendaraan yang masuk ke dalam bundaran ditambah dengan tundaan geometrik.

Dapat dirumuskan :

DR = DTR + DG ... (2.10) Dimana :

DTR = Tundaan lalu lintas bundaran (det/smp )

DG = Tundaan geometrik pada bagian jalinan (det/smp) F. Peluang antrian bagian jalinan (OP%)

Peluang antrian dihitung dari hubungan empiris antara peluang antrian dan derajat kejenuhan seperti terlihat pada Gambar 2.6 .Variabel masukan Derajat Kejenuhan didapat dari Formulir RWEAV-II.

Gambar 2. 6 Peluang Antrian Vs Derajat Kejenuhan Sumber : Dep. PU, 1997

15

BAB III

METODE STUDI

15

BAB III METODE STUDI

3.1 Kerangka Studi

Langkah-langkah studi yang dilaksanakan dapat dilihat pada Gambar 3.1 dibawah ini :

Gambar 3.1 di atas merupakan langkah-langkah untuk melakukan survei.

Dari kerangka studi dapat diketahui bahwa segala hal yang bersangkutan tentang pelaksanaan survei harus dilakukan sesuai dan berpedoman pada Gambar 3.1.

Tinjauan Pustaka Studi Pendahuluan

Identifikasi Masalah

Tujuan Penelitian

Pengumpulan Data

Data Primer : 1. Survei Geometrik

2. Survei Volume Lalu Lintas

Analisis

Simpulan dan Saran

Data Sekunder : 1. Peta Lokasi

2. Jumlah Penduduk

Gambar 3. 1 Kerangka Studi

16 Melalui survei dari kerangka studi tersebut dapat diperoleh data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari survei di lapangan yaitu berupa survei geometrik jalan dan survei volume lalu lintas. Data sekunder dapat diperoleh dari Badan Pusat Statistik berupa jumlah penduduk di Kota Denpasar, untuk peta lokasi dapat diperoleh di Aplikasi Google Maps.

Setelah mengikuti langkah-langkah pada Gambar 3.1 didapat data-data melalui survei geometrik dan survei volume lalu lintas. Data yang telah di dapat kemudian di analisis sehingga didapatkan hasil yang akan menunjukkan kondisi bundaran tersebut. Setelah memperoleh data hasil analisis dapat di simpulkan apakah bundaran tersebut masih termasuk dalam kategori layak atau tidak. Dari penarikan kesimpulan tentang kelayakan jalan tersebut selanjutnya dilakukan pemberian saran guna memberikan referensi untuk pembenahan bundaran lebih lanjut. Setelah seluruh langkah-langkah selesai akan didapat hasil dan apabila diperlukan akan dilakukan pengkajian lanjutan.

3.2 Studi Pendahuluan dan Tinjauan Pustaka

Studi pendahuluan dilakukan untuk memperoleh data-data awal pada kondisi saat ini, dimana dalam studi ini akan diketahui kondisi lapangan yang sebenarnya. Untuk menentukan parameter data yang akan disurvei dan menentukan metode yang akan digunakan untuk mengumpulkan data. Adapun parameter-parameter yang menyangkut bundaran tersebut adalah data geometrik, fluktuasi arus lalu lintas dan kapasitas bundaran. Parameter tersebut sangat diperlukan dalam menganalisis kinerja dari bundaran. Berdasarkan pengamatan langsung yang dilakukan di lapangan bundaran renon layak untuk dijadikan objek Studi .

Berdasarkan pengamatan langsung dilapangan dapat diketahui bahwa terdapat tiga hal yang menjadikan bundaran renon ini cukup layak untuk dijadikan objek Studi . Volume lalu lintas yang cukup padat, dari pengamatan langsung dilapangan volume jam terpadat menurut masyarakat sekitar yaitu mulai pukul 16.00 – 18.00 Wita. Bundaran Renon merupakan salah satu akses menuju kawasan tujuan pergerakan sehingga kondisi lalu lintasnya padat. Saat jam-jam puncak kerap terjadi antraian hal ini menunjukkan tundaan yang terjadi cukup besar. Dari tiga hal tersebut dapat disimpulkan bahwa bundaran renon memiliki volume yang cukup padat dan layak untuk dijadikan objek Studi .

Tinjauan pustaka dilakukan guna untuk mengumpulkan literatur yang akan digunakan yang berkaitan dengan bundaran. Literatur yang dimaksud seperti Studi -studi serupa yang membahas tentang bundaran, maupun referensi yang diambil dari buku- buku yang membahas tentang bundaran. Literatur tersebut pastinya akan sangat membantu dalam melakukan studi ini, selain itu dapat digunakan

17 sebagai parameter pembanding. Dengan adanya parameter pembanding akan sangat membantu proses studi ini, karena dapat memberikan gambaran sehingga dapat memberi wawasan yang lebih luas. Untuk studi ini penulis mengambil referensi dari (Dep. PU, 1997).

3.3 Identifikasi Masalah dan Tujuan Studi

Merumuskan identifikasi masalah dan tujuan studi merupakan langkah awal yang harus dilakukan. Pentingnya merumuskan identifikasi masalah yaitu supaya memberikan gambaran yang jelas mengapa perlu dilakukannya studi di lokasi tersebut. Masalah-masalah yang ada harus dapat memberikan alasan yang kuat kepada surveyor untuk melakukan studi di lokasi tersebut. Dari pengidentifikasian masalah tersebut maka akan memberikan alasan untuk tujuan Studi nya. Sehingga setelah dilakukannya identifikasi masalah dan telah mengetahui tujuan Studi nya maka studi dapat dijalankan.

Identifikasi masalah dilakukan untuk merumuskan masalah yang terdapat pada lokasi Studi . Melalui identifikasi masalah akan didapat gambaran mengenai kondisi lokasi yang akan diteliti. Lokasi yang dipilih pada studi ini adalah Bundaran Hang Tuah-Hayam Wuruk. Pemilihan Bundaran Hang Tuah-Hayam Wuruk dikarenakan pada lokasi tersebut kerap ditemui permasalahan. Kemacetan pada budaran tersebut merupakan salah satu masalah yang sering terjadi, terutama pada jam- jam puncak akibat meningkatnya aktivitas masyarakat. Maka diadakannya studi ini agar mengetahui kapasitas dari bundaran tersebut.

Tujuan studi penting untuk diketahui sebelum mulai melakukan Studi . Tujuan studi dapat memberikan gambaran mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan agar dapat mencapai tujuan dari studi ini. Tujuan dari studi ini sudah dicantumkan pada Bab I. Dimana Tujuan dari studi ini adalah untuk menyajikan gambar denah Bundaran Hang Tuah-Hayam Wuruk dan juga untuk menganalisis kinerja bundaran tersebut. Adapun landasan teori yang diperlukan mengenai studi ini telah dicantumkan dalam tinjauan pustaka pada Bab II.

3.4 Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara yang dilakukan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan Studi . Pengumpulan data lalu lintas bermaksud untuk mendapatkan informasi mengenai karakteristik lalu lintas, yang digunakan untuk kegiatan perencanaan lalu lintas meliputi geometrik dan volume lalu lintas. Pengumpulan data lalu lintas ini didapat dengan langsung terjun kelapangan. Data yang diperoleh dari survei tersebut nantinya akan di analisis sehingga akan mendapatkan hasil Studi .

Data yang diperlukan yaitu data geometrik meliputi nama jalan dari setiap

18 pendekat, lebar jalan pada setiap pendekat, lebar bahu jalan, lebar trotoar, jumlah jalur dan jumlah lanjur. Survei volume lalu lintas bertujuan untuk mencatat setiap kendaraan yang melewati suatu garis tertentu. Dimana volume lalu lintas adalah jumlah kendaraan yang melalui suatu bundaran pada periode waktu tertentu. Dari hasil survei ini akan digunakan dalam menghitung kapasitas bundaran tersebut.

Sehingga dari data tersebut akan dapat diketahui bagaimana kinerja bundaran renon.

Data yang diperoleh dari survei dapat digolongkan menjadi dua jenis. Data yang didapat yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan. Pada bundaran data langsung yang diperoleh yaitu berupa survei geometrik dan survei volume lalu lintas dan perhitungan langsung. Data Sekunder adalah data yang diperoleh dengan mencari pada sumber-sumber lain seperti Peta Jaringan Jalan dapat dicari di Peta Google Maps dan data jumlah penduduk dapat dicari di Badan Pusat Statistik.

3.4.1 Data Primer

Data primer adalah data yang didapat langsung dari lapangan melalui kegiatan survei. Dalam pengumpulan data primer dilakukan berbagai macam survei yaitu:

1. Survei geometrik bundaran bertujuan untuk mengetahui nama jalan dari setiap pendekat, lebar jalan pada setiap pendekat, lebar bahu jalan, lebar trotoar, jumlah jalur dan jumlah lajur.

2. Survei Volume Lalu Lintas bertujuan untuk mencatat setiap kendaraan yang melewati suatu garis tertentu. Dimana volume lalu lintas adalah jumlah kendaraan yang melalui suatu bundaran pada periode waktu tertentu. Survei ini dilakukan untuk mengetahui kapasitas bundaran.

1. Survei Geometrik Bundaran

Data geometrik bundaran dikumpulkan berdasarkan pengamatan langsung dilapangan. Data geometrik yang dicatat sebagaimana terlampir pada Lampiran B.1. Adapun peralatan yang dibutuhkan adalah:

1. Alat tulis untuk mencatat hasil pengukuran.

2. Rol meter untuk mengukur lebar jalan, lebar bahu jalan dan lebar trotoar.

Jumlah surveyor untuk mengukur geometrik bundaran adalah 7 orang, adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan pengumpulan data yaitu:

1. Surveyor 1 dan surveyor 2 mengukur lebar jalan, lebar bahu dan lebar trotoar pada pendekat A,B,C dan D

2. Surveyor 3, surveyor 4 dan surveyor 5 mengukur luas dari bundaran renon

19 3. Surveyor 6 dan surveyor 7 mengukur pulau pada pendekat A, B, C

dan median yang berada di pendekat A.

2. Survei Volume Lalu Lintas

Survei volume lalu lintas adalah pengukuran jumlah kendaraan yang melewati suatu lokasi dalam satuan waktu pada setiap periode yang dipilih.

Jumlah surveyor sebanyak 7 orang dan ditempatkan pada empat pos dimana pada pendekat A terdapat 2 surveyor, pendekat B terdapat 2 surveyor, pendekat C terdapat 2 surveyor dan pendekat D terdapat 1 surveyor. Tujuan dari survai volume lalu lintas adalah :

1. Untuk ukuran kuantitatif arus lalu lintas di dalam menentukan kinerja suatu bundaran.

2. Untuk mengetahui kecenderungan pola dan arah pergerakan lalu lintas.

3. Sebagai dasar desain perkerasan, desain geometrik dan perhitungan kapasitas jalan berdasarkan klaifikasi kendaraan.

4. Sebagai dasar perencanaan pembagian arah berdasarkan distribusi volume lali lintas.

5. Untuk mendesain simpang, sinyal lalu lintas dan kanalisasi.

Gambar 3. 2 Survei Volume pada Bundaran Hang Tuah-Hayam Wuruk

20 Dalam melakukan survai volume lalu lintas, guna mendapatkan data yang dapat mewakili kondisi yang ada, maka dalam menentukan waktu survei harus dihindari kondisi-kondisi berikut yaitu :

1. Kondisi khusus seperti liburan, adanya pertunjukan, pemogokan karyawan angkutan umum, adanya pawai kendaraan dalam rangka suatu acara tertentu dan lain-lain yang melewati lokasi survai.

2. Cuaca yang tidak normal seperti adanya hujan yang sangat lebat, banjir dan lain-lain.

3. Adanya perbaikan jalan didekat lokasi yang akan disurvai.

Data volume lalu lintas pada studi ini dilakukan dengan cara manual count, yaitu perhitungan lalu lintas dengan cara manual yang sederhana dengan menghitung jumlah kendaraan dari tiap pendekat berdasarkan jenis dan arah pergerakan. Perhitungan kapasitas pada Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997 menggunakan volume lalu lintas dari tiga jenis kendaraan yaitu kendaraan ringan (Light Vehicle/LV), kendaraan berat (Heavy Vehicle/HV), dan sepeda motor (Motor Cycle/MC). Peralatan yang digunakan yaitu alat hitung manual, alat ukur waktu dengan menggunakan stop watch, alat tulis dan blanko survai.

Waktu yang digunakan dalam survai volume lalu lintas adalah hari kerja yaitu selasa, rabu atau kamis karena pada studi awal dapat diketahui secara visual bahwa pada hari ini volume kendaraan yang melewati bundaran ini lebih banyak dari hari-hari yang lain. Periode waktu survai dilaksanakan selama 3 (tiga) jam, yaitu :

1. Waktu survei sore hari antara jam 16.00-19.00 wita. Waktu ini diambil sebagai waktu survei sore karena sebagian besar aktivitas dilakukan pada kisaran jam tersebut, misalnya saat pulang kekantor, pulang sekolah dan lain-lain.

Adapun langkah-langkah dalam melakukan survai volume lalu lintas antara lain:

1. Surveyor 1 dan surveyor 2 di posisikan pada pendekat A. Surveyor 3 dan surveyor 4 di posisikan pada pendekat B. Surveyor 5 dan surveyor 6 diposisikan pada pendekat C dan surveyor 7 di posisikan pada pendekat D.

2. Masing-masing tenaga survai mencatat satu jenis pergerakan dengan tiga jenis kendaraan beserta kendaraan tidak bermotor. Namun untuk pendekat yang padat, satu jenis pererakan dapat di survai oleh 2 orang dimana 1 orang akan mencatat jumlah sepeda motor saja dan yang lagi satu akan mencatat kendaraan ringan, kendaraan berat dan kendaraan tidak bermotor.

21 3. Pencatatan volume lalu lintas untuk hasil survei dari masing-masing

arah dilakukan dengan interval 15 menit selama periode survei.

4. Hasil dari survei volume lalu lintas terdapat pada (Lampiran B).

3.4.2 Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang digunakan untuk mendukung data primer, dimana data sekunder tersebut dari instansi terkait yang berhubungan dengan perlengkapan survei. Data sekunder untuk studi ini merupakan data jumlah penduduk dan peta lokasi. Jumlah penduduk suatu kota mempengaruhi kinerja ruas jalan. Data Sekunder yang digunakan untuk studi ini adalah data Peta Jaringan Bundaran. Data sekunder diperoleh dengan mencari Peta Jaringan Jalan di Peta Google Maps dan Data penduduk Kota Denpasar di dapat dari Badan Pusat Statistik Kota Denpasar

3.5 Analisis Kinerja Bundaran

Dari data yang telah dikumpulkan baik berupa data primer maupun data sekunder, selanjutnya dapat dilakukan analisis kinerja bundaran. Analisis kinerja bundaran pada saat ini dapat dilakukan dengan menggunakan rumus yang terdapat pada BAB II. Melalui analisis kinerja bundaran dilakuakan agar mendapatkan hasil akhir yang berupa volume arus lalu lintas, dan nilai kapasitas bundaran tersebut. Parameter bundaran yang diteliti dalam tugas ini, yaitu volume arus lalu lintas dan kapasitas. Apabila pada bundaran tersebut mengalami permasalahan, sebaiknya menerapkan alternatif apa yang harus dilakukan untuk mengevaluasi kinerja dari bundaran tersebut.

Volume lalu lintas merupakan bagian dari data primer yang diperoleh melalui survei langsung ke lokasi Studi . Survei Volume Lalu Lintas bertujuan untuk mencatat setiap kendaraan yang melewati suatu garis tertentu . Dimana volume lalu lintas adalah jumlah kendaraan yang melalui suatu bundaran pada periode waktu tertentu. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil survei akan diketahui mengenai volume lalu lintas tertinggi terjadi pada interval pukul berapa dalam waktu pengamatan selama 3 jam. Data dari hasil survei ini akan digunakan dalam menghitung kapasitas bundaran tersebut.

Kapasitas jalan adalah kemampuan ruas jalan untuk menampung arus atau volume lalu lintas yang ideal dalam satuan waktu tertentu. Analisis kapasitas diperoleh dari survei volume lalu lintas di lokasi Studi . Volume lalu lintas dinyatakan dalam jumlah kendaraan yang melewati potongan jalan tertentu dalam satu jam atau (kend/jam). Volume lalu lintas juga dapat dinyatakan dengan mempertimbangan berbagai jenis kendaraan yang melalui suatu jalan. Dengan mempertimbangkan jenis kendaraannya digunakan satuan mobil penumpang

22 sebagai satuan kendaraan dalam perhitungan kapasitas maka kapasitas menggunakan satuan satuan mobil penumpang per jam atau (smp)/jam.

23

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

22

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Denah Bundaran

Survei Geometrik dilakukan pada Jumat, 22 Februari 2019 berlokasi pada Bundaran Hang Tuah-Hayam Wuruk Denpasar. Survei dilakukan pada sore hari saat cuaca cerah, kendaraan lalu lintas berjalan normal, dan diluar jam puncak agar lebih memudahkan dalam melakukan pengukuran. Lampiran yang digunakan untuk pengukuran dapat dilihat pada Lampiran B1 (Hal. 36) dimana data dicari berupa panjang segmen jalan, tipe daerah, dan tipe jalan. Hasil dari survei geometrik ini berupa pengukuran Bundaran dimana didapat data geometrik sebagaimana telihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4. 1 Denah Bundaran Hang Tuah-Hayam Wuruk

Berdasarkan hasil survei geometrik dapat disajikan denah bundaran seperti pada Gambar 4.1. Adapun pada bundaran tersebut terdapat 3 pulau dengan ukuran pulau pada pendekat A memiliki lebar 16,80 m dengan panjang pulau 24,6 m, pendekat B lebar pulau 16,85 m dengan panjang pulau 23,48 m dan pada pendekat

23 C lebar pulau 20,3 dengan panjang pulau 34,4 m. Pada pendekat A terdapat median dengan lebar 4,57 m, lebar trotoar 1,5 m, lebar W masuk 11,4 m. Pada pendekat B memiliki lebar trotoar 1,3 m dan lebar W masuk 3,3 m. Pada pendekat C memiliki lebar trotoar 1,5 m dan lebar W masuk 4,7 m dan pada pendekat D memiliki lebar trotoar 1,3 m dan lebar W masuk 2,4 m serta memiliki jari-jari bundaran 15,38 m.

Kelengkapan rambu-rambu pada Bundaran Hang Tuah-Hayam Wuruk ini juga sudah cukup lengkap. Ada rambu larangan parkir dan rambu penunjuk jalan.

Lampu penerangan pada segmen ini cukup baik. Sepanjang segmen yang diteliti terlihat bahwa marka jalan pembagi jalur sudah cukup pudar dan marka untuk menentukan bahu jalan juga sudah sangat pudar. Belum ada perbaikan yang memperbaiki kelengkapan rambu-rambu maupun marka jalan pada Bundaran Hang Tuah-Hayam Wuruk ini.

4.2 Volume Lalu Lintas

Survei Volume Lalu Lintas dilakukan pada Kamis, 15 Maret 2019 pada pukul 16.00-19.00 WITA, berlokasi pada Bundaran Hang Tuah-Hayam Wuruk.

Survei dilakukan pada sore hari saat cuaca cerah, kendaraan lalu lintas saat itu cukup padat karena survei dilakukan pada menjelang jam puncak. Lampiran yang digunakan untuk perhitungan volume lalu lintas yang dapat dilihat pada Lampiran B2 (Hal. 37). Dari observasi pendahuluan diketahui bahwa kondisi puncak volume lalu lintas pada bundaran Hang Tuah –Hayam Wuruk terjadi antara pukul 16.00 – 19.00 Wita. Dengan demikian survei voleme lalu lintas dilakukan antara pukul tersebut. Hasil data yang dicatat dalam survei volume lalu lintas, didapatkan volume arus lalu lintas pada Bundaran Hang Tuah-Hayam Wuruk pada masing - masing pendekat simpang dilihat pada Tabel 4.5 sebagai berikut:

Tabel 4. 1 Hasil Survei Volume Lalu lintas Kaki

Simpang Pergerakan Arus Jam Puncak (kend) Total (kend)

24

Total 18496 7092 30 25618

Dari Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa dengan waktu survei 3 jam, didapat total kendaraan yang lewat 25.618 kendaraan yang didominasi oleh sepeda motor sebanyak 18.496 kendaraan. Total kendaraan berat 30 kendaraan, dan total kendaraan ringan 7.092 kendaraan. Volume lalu lintas pada Ruas Jalan Imam

Dari Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa dengan waktu survei 3 jam, didapat total kendaraan yang lewat 25.618 kendaraan yang didominasi oleh sepeda motor sebanyak 18.496 kendaraan. Total kendaraan berat 30 kendaraan, dan total kendaraan ringan 7.092 kendaraan. Volume lalu lintas pada Ruas Jalan Imam

Dokumen terkait