BAB II PENGATURAN MENGENAI PERLINDUNGAN KONSUMEN DI INDONESIA
PENGATURAN MENGENAI PERLINDUNGAN KONSUMEN
B. Pengaturan Penyelenggaraan Telekomunikasi Menurut Peraturan Perundang-Undangan Yang Berlaku di Indonesia
2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999
Kehadiran Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 dapat diartikan sebagai cara baru dalam konsepsi penyelenggaraan Telekomunikasi di Indonesia. Dengan disahkan/ ditetapkan undang-undang nomor 36 tahun 1999 tersebut telah dibuka pintu gerbang untuk penyelenggaraan telekomunikasi oleh penyelenggara. Oleh karena itu posisi-posisi menuju liberalisasi penyelenggaraan jasa telekomunikasi menuju kompetisi bisnis telekomunikasi, baik dalam lingkup nasional maupun Internasional dicanangkan pada saat undang-undang nomor 36 tahun 1999. Jasa telekomunikasi adalah jasa yang disediakan oleh badan penyelenggara atau badan lain bagi masyarakat untuk itu melalui telekomunikasi.
Undang-undang nomor 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi memuat berbagai ketentuan, yang antara lain adalah ketentuan umum, tujuan dan asas penyelenggaraan Telekomunikasi, pembinaan Telekomunikasi, penyelenggaraan Telekomunikasi, dan ketentuan yang berkaitan dengan penyelenggaraan Telekomunikasi.
Dalam Ketentuan Umum Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 ditentukan bahan yang dimaksud dengan :
31
a. Telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman dan atau penerimaan dari hasil informasi dalam bentuk tanda-tanda, isyarat, tulisan, gambar, suara dan bunyi melalui sistem kawat, optik, radio, atau sistem elektromagnetik lainnya;46
b. Penyelenggaraan Telekomunikasi adalah kegiatan penyediaan dan pelayanan sarana dan atau fasilitas Telekomunikasi sehingga memungkinkan terselenggaranya Telekomunikasi;47
c. Penyelenggaraan jaringan telekomunikasi adalah kegiatan penyediaan dan atau pelayanan jasa telekomunikasi yang memungkinkan terselenggaranya telekomunikasi;48
d. Penyelenggaraan jasa telekomunikasi adalah kegiatan penyediaan dan atau pelayanan jasa telekomunikasi yang memungkinkan terselenggaranya telekomunikasi;49
e. Penyelenggaraan telekomunikasi khusus adalah penyelenggaraan telekomunikasi yang sifat, peruntukan, dan pengoperasiannya khusus;50 f. Penyelenggara telekomunikasi adalah perseorangan, koperasi, Badan Usaha
Milik Daerah (BUMD), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), badan usaha swasta, instansi pemerintah, dan instansi pertahanan keamanan negara51
46 Pasal 1 angka 1 UU NO. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
47 Pasal 1 angka 12 UU NO. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
48 Ibid
49 Ibid
50 Ibid
51 Ibid
g. Pemakai adalah perseorangan, badan hukum, instansi pemerintah yang menggunakan jaringan telekomunikasi dan atau jasa telekomunikasi yang tidak berdasarkan kontrak;52
h. Pelanggan adalah perseorangan, badan hukum, instansi pemerintah yang menggunakan jaringan telekomunikasi dan atau jasa telekomunikasi berdasarkan kontrak;53
Asas penyelenggaraan telekomunikasi menurut undang-undang nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi diselenggarakan berdasarkan beberapa asas54:
a. Asas manfaat berarti bahwa pembangunan telekomunikasi khususnya penyelenggaraan telekomunikasi akan lebih berdaya guna dan berhasil guna baik sebagai infrastruktur pembangunan, sarana penyelenggaraan pemerintahan, sarana pendidikan, sarana perhubungan maupun sebagai komoditas ekonomi yang dapat lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat lahir dan batin.55
b. Asas adil dan merata adalah bahwa penyelenggaraan telekomunikasi memberikan kesempatan dan perlakuan yang sama kepada semua pihak yang memenuhi syarat dan hasil-hasilnya dinikmati oleh masyarakat secara adil dan merata.56
52 Ibid
53 Ibid
54 Edmon makarim, Pengantar hukum telematika(Rajagrafindo:jakarta,2005)hlm.114
55 Penjelasan pasal 2 Undang-Undang Telekomunikasi
56Ibid
33
c. Asas kepastian hukum berarti bahwa pembangunan telekomunikasi khususnya penyelenggaraan telekomunikasi harus didasarkan kepada peraturan perundang-undangan yang menjamin kepastian hukum dan memberikan perlindungan hukum baik bagi investor, penyelenggara telekomunikasi, maupun kepada pengguna telekomunikasi.57
d. Asas kepercayaan pada diri sendiri, dilaksanakan dengan memanfaatkan secara maksimal potensi sumber daya nasional secara efisiensi serta penguasaan teknologi telekomunikasi, sehingga dapat meningkatkan kemandirian dan mengurangi ketergatungan sebagai suatu bangsa dalam menghadapi persaingan global.58
e. Asas kemitraan mengandung makna bahwa penyelenggaraan telekomunikasi harusdapat mengembangkan iklim yang harmonis, timbal balik, dan sinergi dalam penyelenggaraan telekomunikasi.59
f. Asas keamanan dimaksudkan agar penyelengaraan telekomunikasi selalu memperhatikan faktor keamanan dalam perencanaan, pembangunan dan pengoperasiannya.60
g. Asas etika dimaksudkan agar dalam penyelenggaraan telekomunikasi senantiasa dialndasi oleh semangat profesionalisme, kejujuran, kesusilaan dan keterbukaan.61
Selanjutnya Undang-Undang telekomunikasi menyebutkan tujuan dalam penyelenggaraan telekomunikasi, yakni untuk mendukung kesatuan dan persatuan bangsa, meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata, mendukung kehidupan ekonomi dan kegiatan pemerintahan serta meningkatkan hubungan antarbangsa.62 Tujuan penyelenggaraan telekomunikasi dalam ketentuan ini dapat dicapai, antara lain, melalui reformasi telekomunikasi untuk meningkatkan kinerja penyelenggaraan telekomunikasi dalam rangka menghadapi globalisasi, mempersiapkan sektor telekomunikasi memasuki persaingan usaha yang sehat dan profesional dengan regulasi yang transparan, serta membuka lebih banyak kesempatan berusaha bagi pengusaha kecil dan menengah.63
Dalam melaksanakan tugasnya, penyelenggara Telekomunikasi memiliki hak dan kewajiban berdasarkan kewenangannya sebagai pihak yang ditunjuk oleh pemerintah untuk menyelenggarakan Telekomunikasi.
a. Hak penyelenggara Telekomunikasi
Penyelenggara Telekomunikasi dapat menggunakan haknya, diatur dalam Pasal 12 ayat (1), dan Pasal 13 Undang-Undang Telekomunikasi, selama menjalankan kewenangannya dalam menyelenggarakan Telekomunikasi, antara lain:
61 Ibid
62 Op.cit,Edmon Makarim,hlm.115
63 Ibid.,hlm.116
35
1. Dapat memanfaatkan atau melintasi tanah Negara dan/atau bangunan yang dimiliki atau dikuasai oleh pemerintah.64
2. Dapat memanfaatkan atau melintasi tanah dan/atau bangunan milik perorangan untuk tujuan pembangunan, pengoperasian, atau pemeliharaan jaringan Telekomunikasi setelah terjadi persetujuan antara para pihak.65
Namun hak-hak penyelenggara Telekomunikasi ini baru dapat dilaksanakan apabila sudah mendapatkan persetujuan dari instansi pemerintah yang bertanggung jawab dengan tetap memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku.66
b. Kewajiban Penyelenggara Telekomunikasi
Dalam menjalankan kewenangannya, penyelenggara Telekomunikasi mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi, yang diatur dalam Pasal 15 ayat (2), Pasal 16 ayat (1), Pasal 17, dan Pasal 19 Undang-Undang Telekomunikasi, yaitu :
1. Memberikan ganti rugi kepada konsumen yang dirugikan haknya akibat penyelenggaraan Telekomunikasi, kecuali apabila penyelenggara Telekomunikasi dapat membuktikan bahwa kerugian tersebut bukan akibat kesalahan dan/atau kelalaiannya,67
64 Pasal 12 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi
65 Pasal 13 Undang-Undang Nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi
66 Pasal 12 ayat (3) Undang-Undang Nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi
67 Pasal 15 ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
2. Memberikan kontribusi dalam pelayanan universal dalam bentuk penyediaan sarana dan prasarana Telekomunikasi dan/atau kompensasi lain,68
3. Memberikan perlakuan yang sama dan pelayanan yang sebaik-baiknya bagi semua pengguna,69
4. Peningkatan efisiensi dalam penyelenggaraan telekomunikasi,70
5. Pemenuhan standar pelayanan serta penyediaan sarana dan prasarana,71 6. Menjamin kebebasan penggunanya memilih jaringan telekomunikasi lain
untukpemenuhan kebutuhan telekomunikasi.72
Pelaksanaan hak dan kewajiban penyelenggara Telekomunikasi ini harus dilakukan dengan berdasarkan pada prinsip yang diatur dalam Pasal 25 ayat (3) Undang-Undang Telekomunikasi, yaitu :73
1. Pemanfaatan sumber daya alam secara efisien;
2. Keserasian sistem dan perangkat telekomunikasi;
3. Peningkatan mutu pelayanan;
4. Persaingan sehat yang tidak saling merugikan.
68 Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
69 Pasal 17 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
70 Ibid
71 Ibid
72 Pasal 19 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
73 Pasal 25 ayat (3) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
37
c. Hak masyarakat
Masyarakat sebagai pelanggan, pemakai, maupun pengguna memiliki hak-hak yang dapat dituntutnya selama ia ikut serta dalam penyelenggaraan Telekomunikasi, diatur dalam Pasal 14, dan Pasal 15 Undang-Undang Telekomunikasi, yaitu :
1. Setiap pengguna Telekomunikasi mempunyai hak yang sama untuk menggunakan jaringan Telekomunikasi dan jasa Telekomunikasi dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku,74
2. Berhak untuk mengajukan tuntutan ganti rugi yang timbul akibat penyelenggaraan telekomunikasi.75
Hak masyarakat sebagai konsumen untuk mengajukan ganti rugi yang diatur dalam Undang Telekomunikasi sama seperti yang terdapat dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen, namun dalam Undang-UndangUndang-Undang Telekomunikasi tidak disebutkan secara tegas pengajuan tuntutan ganti rugi tersebut ditujukan melalui badan peradilan atau di luar pengadilan melalui instansi yang berwenang untuk menyelesaikan sengketa tersebut.
Dalam Undang-undang Nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi ini disebutkan bahwa telekomunikasi dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan
74 Pasal 14 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
75 Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
oleh pemerintah.76 Hal ini didasari atas argumentasi bahwa telekomunikasi merupakan salah satu cabang produksi yang penting dan strategis dalam kehidupan nasional sehingga penguasaannya dilakukan oleh negara yang dalam penyelenggaraannya ditujukan sebesar-besarnya bagi kepentingan dan kemakmuran rakyat. Dengan demikian, pembinaan telekomunikasi diarahkan untuk meningkatkan penyelenggaraan telkomunikasi yang meliputi penetapan kebijakan, pengaturan dan pengendalian.77
Dalam penetapan kebijakan, pengaturan, pengawasan dan pengendalian di bidang telekomunikasi pemerintah melakukannya secara menyeluruh dan terpadu dengan memerhatikan pemikiran dan pandangan yang berekembang dalam masyarakat serta perkembangan global.78
Fungsi penetapan kebijakan antara lain mencakup perumusan mengenai perencanaan dasar strategis dan perencanaan teknis dasar nasional. Sementara itu, fungsi pengaturan mencakup kegiatan yang bersifat umum dan atau teknis operasional yang tercermin dalam peraturan perizinan dan persyaratan dalam penyelenggaraan telekomunikasi. Fungsi pengawasan mencakup pengawasan terhadap penyelenggaraan telekomunikasi, termasuk pengawasan terhadap penguasaan, pengusahaan, pemasukan, perakitan, penggunaan frekuensi dan orbit satelit, serta alat perangkat, sarana dan prasarana telekomunikasi. Sementara itu,
76 Ibid
77 Ibid
78 Pasal 4 ayat 3 Undang-Undang Telekomunikasi
39
Fungsi penetapan kebijakan, pengaturan, pengawasan dan pengendalian dilaksanakan oleh Menteri. Sesuai dengan perkembangan keadaan, fungsi pengaturan, pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan telekomunikasi dapat dilimpahkan kepada suatu badan regulasi.79
Di samping hal-hal yang telah diatur diatas dalam Undang-Undang Telekomunikasi diatur pula mengenai sanksi-sanksi apabila pihak penyelenggara Telekomunikasi tidak dapat atau melanggar ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam Pasal 45, dan Pasal 47 Undang-Undang Telekomunikasi, maka terhadapnya dapat dikenakan sanksi-sanksi yang berupa :
a. Sanksi administrasi yang berupa pencabutan izin usaha,80 b. Sanksi pidana.81