• Tidak ada hasil yang ditemukan

REPRESENTASI UNSUR-UNSUR MULTIKULTURALISME

5.1 Unsur Bahasa

Bahasa merupakan salah satu unsur budaya yang mampu menunjukkan latar belakang penuturnya terutama latar belakang etnik. Sebagai bagian dari sebuah budaya, bahasa merupakan mediasi pikiran, perasaan, dan perbuatan yang mencerminkan latar belakang budaya penuturnya.

Hubungan antara bahasa dan budaya dapat dilihat dalam tiga perspektif, yakni (1) bahasa sebagai bagian dari budaya, (2) bahasa sebagai indeks budaya, dan (3) bahasa sebagai simbol budaya (Fishman dalam Yadnya, 2003: 2). Berdasarkan tiga perspektif hubungan bahasa dan budaya tersebut, dapat dilihat dalam trilogi novel Sembalun Rinjani dengan jelas sebagai bagian dari multikultur. Berbaurnya etnik yang berbeda dengan identitas bahasanya masing-masing mengakibatkan terjadinya komunikasi multilingual dalam novel. Situasi kebahasaan seperti ini menjadikan setiap tokoh berbeda etnik saling memahami serta meningkatkan sikap toleransi.

Bahasa sebagai bagian dari budaya merupakan sebuah pengejawantahan perilaku penuturnya. Bahasa mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya.

Bahasa menguasai cara berpikir dan bertindak manusia13 . Hal ini menjadikan setiap orang yang ingin terlibat atau memasuki daerah dengan kebudayaan baru harus menguasai bahasa karena dengan menguasai (paham) bahasa setempat barulah dapat berpartisipasi dan berinteraksi dengan baik. Gusti Ngurah Darsana sebagai seorang pegawai BRI yang bertugas berpidah-pindah daerah memiliki kesadaran yang besar tentang arti penting untuk memahami bahasa tempat ia bertugas.

Karena sebagai pegawai bank yang bertugas di daerah, interaksi dengan penduduk lokal tidak dapat dihindari. Untuk itulah saat mendapat tugas di Lombok ia mulai belajar adat serta bahasa Sasak.

Kedatangan Gusti Ngurah Darsana ke Lombok disambut baik keluarga Pan Kobar yang tidak lain adalah bekas pelayan setia Gusti Biang Suci, ibu kandung Gusti Ngurah Darsana.

Keluarga Pan Kobar merupakan etnik Bali yang menetap di Lombok serta telah masuk dalam

13 Hal ini merupakan hipotesis dua ahli linguistik Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf (hipotesis Sapir-Whorf), Chaer, hal. 70.

komunitas warga Bali yang terikat Banjar Adat14 Jeruk Manis. Gusti Ngurah Darsana belajar menjalani kehidupan barunya di Lombok, belajar adat budaya dan bahasa Sasak dari keluarga Pan Kobar. Selain belajar dari keluarga Pan Kobar, Gusti Ngurah Darsana juga dibantu teman-teman sekantornya yang kebetulan cukup banyak berasal dari Bali.

Gusti Ngurah Darsana semakin mahir berbahasa Sasak setelah menikah dengan Lale Dumilah. Setelah menikah Lale Dumilah berganti nama menjadi Ratna Dumilah. Komunikasi dengan bahasa Sasak yang dilakukan oleh Gusti Ngurah Darsana terlihat saat ia menawarkan sate kepada mertuanya. “Silak sida cicipin bejulu, biar ndik ketemuk laun,” aturne Gusti Ngurah ring matuanne (Suryak Suung Mangmung, 162).15 Bahasa Sasak yang digunakan oleh Gusti Ngurah Darsana terlihat cukup baik. Ia mempelajari bahasa Sasak untuk lebih bisa masuk dalam kultur Sasak. Digunakannya bahasa Sasak bukan oleh penutur aslinya menguatkan kesan bahwa bahasa daerah tidak hanya menjadi milik etnik itu. Bahasa daerah dapat dipelajari oleh etnik lain guna kepentingan komunikasi yang lebih baik. Di samping itu, merupakan salah satu bagian penerimaan multikuturalisme dari sisi bahasa.

Hal serupa juga dilakukan Ratna Dumilah ketika baru saja pindah dari Lombok ke Atambua. Setelah menikah dengan Ratna Dumilah, Gusti Ngurah Darsana mendapat tugas sebagai kepala Cabang BRI di Atambua. Keadaan ini membuat Ratna Dumilah harus belajar bahasa serta adat daerah setempat, lebih-lebih suaminya adalah seorang pimpinan bank.

Keinginannya untuk belajar bahasa serta adat setempat disampaikan kepada Bu David istri sopir yang bertugas di kantor BRI Atambua. “Matur suksma ibu-ibu, tiang kari malajah cara driki.

14 Banjar adat adalah kelompok masyarakat yang lebih kecil daripada desa dan menjadi bagian dari desa adat.

Banjar merupakan persekutuan hidup sosial, baik dalam keadaan suka maupun duka (Surpha, 2006:75).

15 “Silakan coba dicicipi dahulu, supaya tahu bagaimana rasanya” kata Gusti Ngurah kepada mertuanya (penulis mengucapkan terima kasih kepada Daniel Ugik karena telah membantu menerjemahkan beberapa kata Sasak dalam novel).

Madak ibu-ibu ten med nelokin tiang meriki, utamane ibu David.” (Gitaning Nusa Alit, 170).16 Keinginan Gusti Ngurah Darsana dan Ratna Dumilah untuk belajar adat terutama bahasa setempat terlihat saat mereka menjadi anggota baru dari sebuah komunitas sosial yang notabene bukan komunitas asli mereka. Sudah seharusnya ketika memasuki lingkungan baru lebih-lebih dengan situasi kultur yang berbeda, adaptasi terutama adaptasi bahasa perlu dilakukan. Setelah mereka mampu berbahasa daerah setempat, mereka akan dengan lebih mudah bersosialisasi dengan lingkungannya. Ketika mereka mulai menggunakan bahasa daerah setempat, secara otomatis mereka akan menjadi masyarakat bahasa daerah tersebut. Masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama (Chaer, 2007: 60 - 61).

Bilingualitas Gusti Ngurah Darsana dan Ratna Dumilah merupakan bilingualitas sejajar, karena meskipun telah mampu berkomunikasi dengan bahasa daerah lain, mereka masih tetap fasih berbicara dengan bahasa daerahnya sendiri.17 Upaya untuk mencoba berbaur dengan lingkungan sosial baru melalui bahasa merupakan langkah yang menunjukkan kesediaan tokoh menerima multikultur sebagai bagian hidupnya. Ketika bumi dipijak maka langit pun mesti dijunjung merupakan prinsip dasar yang ditunjukkan kedua tokoh tersebut saat menjadi anggota baru sebuah komunitas etnik.

Pergaulan antaretnik dalam sebuah masyarakat multikultur seringkali mempertemukan dua bahasa atau lebih dalam sebuah komunikasi. Hal ini dimungkinkan karena tiap-tiap etnik memiliki bahasa sendiri sebagai jati diri etniknya. Menyikapi perbedaan bahasa yang terjadi dalam pergaulan multikultur tersebut, maka sering kali bahasa yang dipakai sebagai komunikasi adalah bahasa yang berkombinasi. Bahasa yang berkombinasi merupakan situasi tindak tutur

16 “Terima kasih ibu-ibu, saya masih belajar cara hidup di sini. Mudah-mudahan ibu-ibu tidak bosan mengunjungi saya, terutama ibu David”.

17 Bilingualitas sejajar merupakan kemampuan berkomunikasi dengan lebih dari satu bahasa secara penuh dan seimbang, kemampuan dan tindak laku tiap-tiap bahasa tersebut terpisah dan bekerja sendiri-sendiri (Nababan, 1991:32).

dengan menggunakan lebih dari satu bahasa atau digunakannya kosakata dari bahasa lain dalam sebuah komunikasi. Komunikasi dengan bahasa yang berkombinasi ini bertujuan untuk menghormati atau sebagai bentuk variasi serta usaha untuk masuk ke kultur lawan bicara.

Akibatnya muncul bahasa yang campur aduk, berkombinasi. Namun, pembicaraan seperti ini cenderung mengarah pada pembicaraan pada situasi santai (nonformal) dan akrab. Istilah untuk keadaan ini dalam linguistik dikenal dengan campur kode (Nababan, 1991: 32).

Campur kode memungkinkan komunikasi terjadi dengan baik di antara dua komunikator atau lebih meskipun dengan latar belakang etnik yang berbeda. Namun, dengan syarat bahwa tiap-tiap komunikator telah paham dengan budaya atau bahasa etnik lainnya18. Keadaan bahasa seperti ini tampak ketika Gusti Ngurah Darsana melakukan kunjungan ke rumah Amaq Gading.

Amaq Gading adalah seorang pengepul sekaligus pedagang hasil pertanian. Untuk memajukan usahanya, ia mengajukan kredit. Gusti Ngurah Darsana sebagai petugas bagian kredit akan mengurus semua persyaratannya. Gusti Ngurah Darsana mengunjungi rumah Amaq Gading untuk melakukan pengecekan semua persyaratan yang harus dipenuhi oleh pemohon kredit.

“Om Swastiastu Pak Gusti, tiang mitahenang Pak Gusti banak rauh rainane mangkin, santukan sampun tengari. Titiang ngantos saking ituni jumah....”Silak deriki di kamar tamu melinggih Pak Gusti” (Sembalun Rinjani, 72).19

Sambutan yang dilakukan Amaq Gading terhadap Gusti Ngurah Darsana menunjukkan komunikasi campur kode. Hal itu terlihat dari penggunaan bahasa Bali yang diselipi kata-kata bahasa Sasak. Hal ini diterima dengan baik oleh Gusti Ngurah Darsana. Ia mengerti serta memahami maksud yang disampaikan Amaq Gading. Tidak terjadi kekeliruan apalagi salah

18 Campur kode juga memungkinkan terjadinya pembelajaran kebudayaan melalui penggunaan kata-kata asing yang digunakan saat berkomunikasi. Ini terjadi pada tataran leksikal yang dapat juga disebut interferensi leksikal.

19 “Om Swastiastu Pak Gusti, saya kira Pak Gusti tidak akan datang hari ini karena sudah siang. Saya menunggu dari tadi di rumah…..”silakan duduk di kamar tamu Pak Gusti”.

paham dalam komunikasi campur kode tersebut. Meskipun terselip motif ekonomi di balik hubungan baik mereka, hal ini tidak menjadi landasan dasar bagi Amaq Gading untuk mencoba berkomunikasi dengan bahasa Bali dan terselip beberapa kata dari bahasa Sasak.

Peranan campur kode ini berhasil menjadikan komunikasi yang efektif di antara komunikator dengan latar belakang etnik yang berbeda. Komunikasi semacam ini terjadi secara sadar dilakukan oleh Amaq Gading dan Gusti Ngurah Darsana. Di samping itu, merupakan usaha yang baik untuk bisa menerima multilingual dalam kehidupan sehari-hari sebagai efek bawaan dari multikultur. Kesadaran komunikasi campur kode juga dilakukan oleh David dan Alex.

Keduanya adalah sopir di kantor BRI Atambua. Sebagai kepala cabang yang baru di BRI Atambua, Gusti Ngurah Darsana mendapat fasilitas sopir dan mobil dinas. David dan Alex yang mendapatkan atasan baru mencoba melakukan komunikasi campur kode sebagai usaha untuk lebih mengakrabkan diri dengan atasannya. “Ten kenten bu, kitorang sampun med makan apel.

Yen masan apel cara jani hargane murah.” (Gitaning Nusa Alit, 153).20 David dan Alex menjadi wakil etniknya, yaitu etnik Timor yang mencoba belajar untuk berkomunikasi dengan bahasa Bali meskipun tersendat dan masuk kata dari bahasa Timor. Pengalaman David dan Alex sebagai sopir di BRI cukup menjadikan mereka sebagai orang yang sangat sadar akan manfaat komunikasi multilingual. Hal itu dilakukan sebab sebagai sopir kantor yang atasannya selalu berganti-ganti, mereka harus berusaha untuk menyesuaikan diri dengan bahasa atasannya yang berbeda etnik.

Komunikasi campur kode ini terjadi pada situasi yang santai atau informal, yang tidak menuntut formalitas berlebih. hal tersebut terlihat ketika para tokoh sedang berkomunikasi

20 “Tidak Bu, kami sudah bosan makan apel. Kalau sedang musim apel seperti sekarang ini, harganya murah.”

dengan campur kode tidak sedang berada dalam situasi formal (resmi, kantor) meskipun mereka berkomunikasi dalam hubungan keterikatan formal (antara nasabah dan bank, antara sopir dan atasan). Kesadaran akan manfaat campur kode dalam komunikasi multikultur terjadi pada hampir setiap etnik yang berperan dalam trilogi novel, etnik Bali yang diwakili Gusti Ngurah Darsana, etnik Sasak oleh Amaq Gading, serta etnik Timor oleh David dan Alex. Kesadaran ini tidak hanya sekadar sebuah toleransi, tetapi pemahaman yang baik terhadap perbedaan bahasa yang ada di antara mereka. Jika pemahaman multilingual ini hanya dipahami oleh seorang tokoh, tentu wacana multikultur tidak akan terjadi. Namun, kesadaran serta pemahaman terhadap campur kode ini terjadi hampir merata pada setiap tokoh sehingga wacana multikultur terbangun di sektor bahasa. Campur kode dalam masyarakat multikultur tidak begitu saja menghasilkan keharmonisan dalam keragaman, tetapi diperlukan proses serta jiwa besar setiap individu yang terlibat di dalamnya.

Tiap etnik memiliki bahasa masing-masing yang merupakan representasi identitas etniknya sehingga bahasa pun menjadi simbol suatu identitas etnik. Etnisitas terpancar melalui bahasa yang dituturkan pelakunya. Bahasa-bahasa tersebut digunakan dalam komunikasi di lingkungan etniknya, sehingga bahasa tersebut menjadi bahasa khas milik mereka atau disebut juga bahasa daerah. 21 Ketika masyarakat makin heterogen pergaulan antaretnik tidak terhindarkan maka bahasa daerah tersebut mungkin saja digunakan tidak dalam komunikasi dengan satu etnik yang sama. Bahasa daerah mungkin saja diujarkan saat berinteraksi dengan etnik lainnya. Hal ini terlihat ketika Inaq Wira bertemu dengan cucunya Gusti Ayu Kendariyani (Gung Yani) setelah cucunya sempat hilang saat melakukan persembahyangan ke Pura Pasaragung. Saat melakukan persembahyangan ke pura Pasaragung tiba-tiba terjadi kejadian

21 Karena bahasa daerah merupakan sarana komunikasi khas yang jadi milik suatu etnik, maka bahasa berperaan sebagai inventaris dari kebudayaannya masing-masing. Nababan,1991:39.

aneh, yaitu kabut tebal serta angin kencang tiba-tiba datang dan Gung Yani pun menghilang dalam tebalnya kabut. Sehubungan dengan itu, Jro Mangku Pasek, Mangku Nésa, serta warga Banjar Sogra meminjamkan seperangkat gamelan sebagai sarana untuk menemukan Gung Yani.

Gamelan dibunyikan sekeras-kerasnya dan tak berapa lama Gung Yani pun muncul dari balik pohon cemara sambil membawa sangku22 yang berisi tirta23. Kejadian ini membuat semua keluarga Gusti Ngurah Darsana panik, tidak terkecuali mertuanya, Inaq24 Wira.

“Brembé sangkak sida doang jari pangawéan dengan, keni begiq, katemuk lara marak nika?” Aturne Inaq Wira saha ngelut putune kasih-asih. (Suryak Suung Mangmung, 110).25

Bahasa Sasak yang secara spontan diucapkan Inaq Wira saat bertemu kembali dengan cucunya yang sempat hilang menunjukkan bahwa tanpa sadar Inaq Wira memperlihatkan etnisitasnya di tengah komunitas etnik Bali. Etnisitas yang ditunjukkan melalui bahasa seolah-olah mengukuhkan keberadaannya sebagai individu yang berbeda, tetapi namun tetap dapat berinteraksi dengan baik di lingkungannya. Meskipun berada dalam lingkungan yang heterogen, Inaq Wira tetap tak mau kehilangan rasa fanatis terhadap etniknya sendiri, setidaknya melalui bahasa ia menunjukkan eksistensi kedaerahannya. Pada kesempatan lain juga Inaq Wira menggunakan bahasa Sasak.

“Biar té paran belog ngubuh marak nika Tu Biang? Lasingan bagusan lepas, bebas mlai mrika-mriki, dait tekurung. Cobak sida tekurung doang, brembe, masih ndik meléq”

(Suryak Suung Mangmung, 128). 26

Inaq Wira yang berada di lingkungan baru di mana ia menjadi golongan minoritas tidak kehilangan kesempatan untuk menggunakan bahasa daerahnya sebagai sarana komunikasi.

22 Bejana yang terbuat dari logam.

23 Air suci dalam setiap ritual agama Hindu

24 Inaq merupakan panggilan ibu dalam bahasa Sasak.

25 “Kenapa selalu saja menjadi penyebab kesedihan, terkena penyakit, terkena musibah?” Tanya Inaq Wira sambil memeluk cucunya dengan kasih.

26 “Walaupun kita tidak pandai memelihara, bukan begitu Tu Biang? Rasanya lebih baik dilepas, bebas ke sana kemari, tidak dikurung. Coba dikurung saja, tidak mungkin masih hidup.”

Toleransi yang diberikan keluarga besar Gusti Ngurah Darsana sebagai golongan mayoritas menjadikan Inaq Wira merasa nyaman meskipun komunikasi verbal yang dilakukan menggunakan bahasa Sasak. Secara sadar Inaq Wira menggunakan bahasa daerahnya untuk bereaksi atas suatu peristiwa, meskipun ia sedang tidak berada dalam lingkungan sosial bahasa tersebut. Lawan bicara yang tidak sepenuhnya paham, tetapi dapat menerima maksud yang disampaikan Inaq Wira.27 Spontanitas ini bisa jadi merupakan suatu usaha penguatan identitas etnik secara spontan, tanpa disadari dan tentu saja tidak ada maksud untuk bersikap fanatik yang berlebihan. Keberadaan berbagai bahasa daerah sebagai salah satu bagian dari kebudayaan nasional merupakan suatu yang perlu disikapi dengan bijaksana. Tokoh-tokoh dalam novel menunjukkan sikap yang positif terhadap hal tersebut. Ketika menjadi mayoritas tidak selalu harus memonopoli dan saat berada pada posisi minoritas tidak selalu mesti terhegemoni.