• Tidak ada hasil yang ditemukan

REPRESENTASI MULTIKULTURALISME DALAM TRILOGI NOVEL SEMBALUN RINJANI KARYA DJELANTIK SANTHA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "REPRESENTASI MULTIKULTURALISME DALAM TRILOGI NOVEL SEMBALUN RINJANI KARYA DJELANTIK SANTHA"

Copied!
156
0
0

Teks penuh

(1)

REPRESENTASI MULTIKULTURALISME DALAM TRILOGI NOVEL “SEMBALUN RINJANI”

KARYA DJELANTIK SANTHA

Oleh

I GEDE GITA PURNAMA ARSA PUTRA NIM 0990161049

PROGRAM MAGISTER

KONSENTRASI WACANA SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

2012

(2)

REPRESENTASI MULTIKULTURALISME DALAM TRILOGI NOVEL “SEMBALUN RINJANI”

KARYA DJELANTIK SANTHA

Tesis untuk Memperoleh Gelar Magister

pada Program Magister, Program Studi Linguistik (Konsentrasi Wacana Sastra), Program Pascasarjana Universitas Udayana

I Gede Gita Purnama Arsa Putra NIM 0990161049

PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDI LINGUISTIK (KONSENTRASI WACANA SASTRA)

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2012

(3)

UCAPAN TERIMA KASIH

Om Swastiastu

Puji Syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atasa Asung Wara Nugraha-Nya tesis ini dapat diselesaikan. Pada kesempatan ini perkenankan penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, dorongan, serta masukan dalam proses pembuatan tesis ini, di antarana kepada:

1. Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp. P. D. (K), beserta seluruh staf , atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Pascasarjana di Universitas Udayana, khususnya dalam penelitian tesis ini;

2. Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana, Prof Dr. dr. A. A. Raka Sudewi, Sp.

S. (K), atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menjadi mahasiswa Program Pascasarjana pada Program Pascasarjana Universitas Udayana;

3. Ketua Jurusan Konsentrasi Wacana Sastra pada Fakultas Sastra Universitas Udayana, Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M. S., atas segala bantuan saran dan masukan selama proses pembelajaran hingga penulisan tesis;

4. Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., sebagai pembimbing I yang telah dengan sabar memberikan bimbingan, saran, serta masukan yang sangat berarti dalam penulisan tesis ini;

5. Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M. Hum., sebagai pembimbing II yang juga dengan penuh kesabaran membimbing, memberikan motivasi, sehingga tesis ini dapat diselesaikan;

(4)

6. Seluruh staf pegawai akademik Program Pascasarjana Fakultas Sastra Universitas Udayana yang telah banyak memberikan bantuan selama proses pembelajaran hingga penulisan tesis;

7. I Gusti Gede Djelantik Santha yang meski dalam keadaan sakit telah memberikan sambutan hangat, semangat, serta dorongan kepada penulis selama proses penulisan tesis;

8. Orang tua, Komang Budaarsa dan Ni Wayan Supartini (alm) yang telah mencurahkan segalanya kepada penulis. Adik terbaik, Kadek Yogi yang tiada henti memberi motivasi.

Tiada jalan yang dapat dilalui tanpa doa kalian;

9. Dewa Ayu Carma Citrawati atas cinta, doa, dan penuh kesabaran mendampingi penulis selama ini;

10. Rekan-rekan di Program Wacana Sastra sebagai teman diskusi paling baik, tempat berbagi ilmu serta motivasi selama kuliah.

Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa selalu melimpahkan kebahagiaan dan kedamaian bagi semua pihak yang telah membantu penulis selama proses pembelajaran hingga penulisan tesis ini. Akhir kata, penulis menyadari dalam penelitian ini banyak kekurangan, sehingga besar harapan penulis mendapatkansaran serta kritikan yang berguna untuk menyempurnakan tulisan ini nantinya.

Om Santih, Santih, Santih Om

(5)

ABSTRAK

REPRESENTASI MULTIKULTURALISME DALAM TRILOGI NOVEL “SEMBALUN RINJANI”

KARYA DJELANTIK SANTHA

Penelitian terhadap novel Sembalun Rinjani, Gitaning Nusa Alit dan Suryak Suung Mangmung bertujuan untuk mengungkapkan sejauh mana trilogi novel tersebut merepresentasikan multikulturalisme. Jangkauan penelitian terhadap trilogi novel ini meliputi analisis unsur-unsur multikulturalisme yang terepresentasi dalam trilogi novel ini. Selanjutnya adalah menganalisis reaksi tiap-tiap tokoh terhadap multikulturalisme itu sendiri. Analisis terhadap reaksi tiap-tiap tokoh meliputi analisis terhadap tokoh utama yang protagonis dan analisis terhadap tokoh sekunder baik protagonis maupun antagonis. Pandangan dunia pengarang menjadi bagian analisis terakhir yang meliputi dunia mistis dalam masyarakat multikultur dan kedudukan perempuan dalam masyarakat mltikultur. Kesemua proses analisis tersebut menggunakan teori Sosiologi Sastra sebagai pijakan, dibantu dengan teori konflik dan integrasi.

Representasi unsur-unsur multikulturalisme yang terdapat dalam trilogi novel Sembalun Rinjani adalah unsur bahasa, unsur adat dan tradisi, serta unsur religi. Tiap-tiap tokoh dalam trilogi novel Sembalun Rinjani memberikan reaksi yang cukup beragam terhadap multikulturalisme. Tokoh utama berdiri pada posisi mendukung secara penuh keberadaan multikultur. Tokoh sekunder protagonis bersikap sama dengan tokoh utama, mendukung multikulturalisme sebagai ideologi hidup. Tokoh sekunder antagonis hadir sebagai tokoh yang beroposisi dengan tokoh protagonis, mereka menolak keberadaan multkultur dengan tegas.

Pandangan dunia pengarang yang dapat dilihat dari trilogi novel Sembalun Rinjani di antaranya adalah keberadaan dunia mistik dalam masyarakat multikultur dan kedudukan perempuan dalam masyarakat multikultur. Dunia mistik memang cenderung identik dengan tradisionalisme, bahkan identik dengan ketidaklogisan. Kedudukan perempuan dalam masyarakat multikultur digambarkan dengan tokoh perempuan yang bersikap tegas menolak diskriminasi dan tokoh perempuan yang tetap menerima pengkultusan dirinya sebagai mahluk inferior. Tokoh perempuan yang berani hadir sebagai tokoh-tokoh yang telah berhasil berperan tidak hanya di sektor domestik tapi juga disektor publik. Sementara itu, hadir pula tokoh perempuan yang tetap bertahan dalam dominasi kaum laki-laki, dominasi patriarki, yang sejatinya telah merampas sebagian kebebasannya sebagai individu.

Kata kunci: representasi, multikulturalisme, trilogi novel Sembalun Rinjani, dan pandangan dunia

(6)

ABSTRACT

REPRESENTATION OF MULTICULTURALISM IN DJELANTIK SANTHA’S TRILOGY NOVEL

“SEMBALUN RINJANI”

The study in the novels Sembaun Rinjani, Gitaning Nusa Alit, and Suryak Suung Mangmung aims at revealing to what extant the trilogy novel represents multiculturalism. The scope of the study includes the analysis of multicultural elements represented in the trilogy novel. It also aims at analyzing the reactions shown by the characters, toward multiculturalism. The insight provided by the writer, which include the mysticalworld ia a multicultural society and woman’s position in a multicultural society, ia the last part of analysis. All the processes of analysis were doe using the theory of sociology of literature, as the main theory, supported by the theory of conflicts and integration.

The multicultural elements represented in the trilogy novel Sembalun Rinjani include the language elements, the elements of custom and tradition, and the religious elements. Each character in the trilogy novel Sembalun Rinjani reacted differently toward multiculturalism. The main character totally supported multiculturalism as a life ideology, whereas the antagonist secondary characters, who opposed the protagonist character, firmly disagreed with multiculturalism.

The insight into the mystical world in a multicultural society and women’s position ia a multicultural society provide by writer, as far as the trilogy novel Sembalun Rinjani is concerned, was that the mystical world tended to be identical with traditionalism and even illogic. The women’s position in the multicultural society was represented by a fimale character who firmly disagreed with discrimination and another female one who accepted that she was an inferior human being. The successful female characters did not only bravely appear in the domestic sector but also in the public sector. However, there were also several female characters who were still dominated by the males. Such a patriarchal domination eliminated individual freedom.

Keywords: representation, multiculturalism, trilogy novel Sembalun Rinjani, and

the world’s insight.

(7)

DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM... i

PRASYARAT GELAR... ii

UCAPAN TERIMA KASIH... iii

ABSTRAK... v

ABSTRACT... vi

DAFTAR ISI... vii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang……… 1

1.2 Rumusan Masalah……….. 10

1.3 Tujuan Penelitian……… 10

1.3.1 Tujuan Umum……… 10

1.3.2 Tujuan Khusus……… 11

1.4 Manfaat Penelitian………. 11

1.4.1 Manfaat Teoretis……….. 11

1.4.2 Manfaat Praktis……… 12

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN METODE PENELITIAN 2.1 Kajian Pustaka………. 13

2.2 Konsep………. 16

2.2.1 Representasi... 17

2.2.2 Multikulturalisme……….. 20

2.2.3 Trilogi Novel ”Sembalun Rinjani”... 23

2.2.4 Pandangan Dunia... 27

2.3 Landasan Teori………. 30

2.3.1 Teori Sosiologi Sastra ……….. 30

2.3.2 Teori Konflik dan Integrasi ………. 35

2.4 Model Penelitian……….. 39

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian………... 40

(8)

3.2 Jenis dan Sumber Data……… 41

3.3 Instrumen Penelitian……… 41

3.4 Metode dan Teknik Pengumpulan Data……….. 42

3.5 Metode dan Teknik Analisis Data………... 42

3.6 Metode dan Teknik Penyajian Hasil Analisis Data………. 43

BAB IV BIOGRAFI PENGARANG 4.1 Riwayat Hidup Pengarang... 45

4.2 Riwayat Kepengarangan dan Proses Kreatif... 50

BAB V REPRESENTASI UNSUR-UNSUR MULTIKULTUR 5.1 Unsur Bahasa... 60

5.2 Unsur Adat dan Tradisi... 68

5.3 Unsur Religi... 82

BAB VI RESPONS TOKOH TERHADAP MULTIKULTURALISME 6.1 Respons Tokoh Utama terhadap Multikulturalisme... 90

6.2 Respons Tokoh Sekunder terhadap Multikulturalisme... 100

BAB VII PANDANGAN DUNIA PENGARANG 7.1 Dunia Mistik dalam Masyarakat Multikultur... 116

7.2 Kedudukan Perempuan dalam Masyarakat Multikultur... 131

BAB VIII SIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan... 145

8.2 Saran... 148

DAFTAR PUSTAKA

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karya sastra sebagai sebuah kreativitas, baik estetis maupun respons kehidupan sosial, mencoba mengungkapkan perilaku manusia dalam suatu komunitas sosial. Dimensi-dimensi yang dilukiskan merupakan dimensi kehidupan dari sebuah struktur sosial. Dimensi dari struktur sosial yang dimaksud tentu saja struktur sosial masyarakat di mana pengarang memperoleh inspirasinya. Semi (1988: 8) mengungkapkan bahwa karya sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya yang menggunakan bahasa sebagai perantaranya. Karya sastra sebagai struktur bermakna yang mewakili pandangan dunia penulis, bukan sebagai individu, melainkan sebagai wakil golongan masyarakatnya.

Penulis memiliki peran yang sangat penting dalam mengangkat realita-realita sosial yang luput dari pengamatan orang kebanyakan. Karya sastra dapat menjadi sebuah ensiklopedi sosial mini yang memberikan banyak informasi bagi pembaca tentang sebuah struktur dan kehidupan sosial masyarakat tertentu.

Karya-karya fiksi yang merupakan sebuah hasil imajinasi sastrawan tentang komunitas sosial tentu saja bukan semata-mata hasil dari dunia penciptaan yang bersifat khayalan semata, melainkan sebuah karya fiksi lebih dari itu. Hal itu terjadi karena setiap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat merupakan indikator dan menjadi objek penciptaan karya sastra. Realitas sosial dalam hal ini merupakan bahan dasar yang kemudian diolah sedemikian rupa dengan kombinasi imajinasi dan intelektualitas pengarang sehingga menjadi sebuah karya. Karya yang

(10)

dihasilkan tidak hanya bersifat menghibur, tetapi sekaligus juga mendidik. Ratna (2007:389) mengungkapkan bahwa sastra warna lokal memerlukan data khusus dalam bentuk fakta-fakta sosial sesuai dengan semesta yang diacu. Ini menunjukkan bahwa seorang pengarang membutuhkan data yang akurat mengenai fakta-fakta sosial yang diangkat dalam karyanya.

Untuk itu, pengarang memerlukan penelitian atau paling tidak observasi, baik langsung di lapangan maupun melalui penelitian pustaka. Hasil dari proses tersebut merupakan sebuah produk yang tidak hanya sebagai sebuah karya sastra, tetapi juga representasi fakta-fakta sosial.

Ini berarti bahwa ketika seseorang menikmati karya sastra maka secara tidak langsung mereka menikmati refleksi kehidupannya dalam organisasi sosial.

Rekonstruksi terhadap realitas sosial masyarakat Bali menjadi perhatian bagi banyak sastrawan, baik dari Bali sendiri maupun di luar Bali. Hal itu terjadi karena banyak hal yang bisa dibicarakan dari Bali, mulai dari tradisi dan adat, masyarakat Bali yang dekat dengan nuansa mistis sekaligus religious, serta masyarakat Bali yang mulai tergerus arus modernitas. Anwar (2007) dalam artikelnya menyatakan “sebagai kultur, Bali memang khas dan kompleks dibandingkan dengan kultur (etnik) lain di negeri ini. Itulah yang menyebabkan karya-karya sastrawan tentang Pulau Dewata menarik untuk dibicarakan”.

Dinamika kultural Bali dan masyarakatnya terekam dalam karya-karya sastra Bali sendiri, tentunya di samping juga terekam dalam karya sastra nasional, bahkan internasional.1 Sastra Bali sendiri terdiri atas sastra Bali klasik dan sastra Bali modern. Bentuk-bentuk yang hadir dalam sastra Bali modern berupa puisi, cerpen, dan novel. Awal kemunculannya, sastra Bali modern adalah bagian dari implementasi politik etis kolonial Belanda di bidang pendidikan.

1 Novel internasional yang belakangan terkenal adalah Eat, Pray, Love merupakan salah satu novel terbaru yang ikut mengangkat eksotika Pulau Bali. Novel karya penulis Elisabeth Gilbert kemudian difilmkan dengan Julia Robert sebagai pemeran utama. Film ini kemudian semakin mengangkat citra pariwisata Ubud sebagai destinasi pariwisata budaya (culture tourism) ,bahkan kini mulai berkembang citra Bali sebagai pulau cinta (The Island of Love).

(11)

Tahun 1910-an dan 1920-an merupakan tonggak awal munculnya sastra Bali modern, ditandai dengan munculnya cerpen berbahasa Bali yang dimuat dalam buku pelajaran untuk sekolah- sekolah yang didirikan Belanda di Bali (Putra, 2010:16). Cerpen merupakan bentuk awal yang hadir dalam sastra Bali modern.

Beberapa hal menarik dapat dilihat dari kemunculan sastra Bali modern. Bentuk awal kemunculannya berupa cerpen yang dimuat dalam buku pelajaran terbitan pemerintah kolonial dan menjadi bacaan untuk sekolah-sekolah formal masyarakat pribumi. Selain itu, pengarang yang muncul pada awal tonggak sastra Bali modern tidak hanya orang Bali yang kala itu diwakili Guru Made Pasek, tetapi juga orang non-Bali, yaitu Mas Niti Sastro seorang guru yang mengajar di Singaraja. Made Sanggra (dalam Edy, 1991: 26 ) sempat mengungkapkan bahwa sastra Bali modern merupakan peranakan sastra Indonesia modern. Tubuhnya (struktur) merupakan perwujudan sastra Indonesia modern, sedangkan idenya khas Bali. Akan tetapi, pendapat yang diungkapkan Sanggra tidak sepenuhnya tepat karena pada saat itu (1910 - 1920) sastra Barat juga menjadi bacaan bagi peminat sastra (khususnya kaum terpelajar seperti guru). Jadi, bisa saja tubuh (struktur) sastra Bali modern merujuk pada sastra-sastra Barat yang dibawa oleh pemerintah kolonial (atau pedagang asing) ke Indonesia, mengingat saat itu sastra Indonesia juga tengah dalam proses pertumbuhan. Namun, untuk masalah ide dan tema cerita memang benar bahwa sastra Bali modern pada awal kemunculannya menggambarkan sosiokultur masyarakat Bali saat itu.

Novel merupakan salah satu genre yang hadir dalam khazanah sastra Bali modern selain cerpen, hanya jumlah novel yang hadir dalam sastra Bali modern tidak sebanyak cerpen. Novel (roman) pertama yang hadir dalam sastra Bali modern adalah Nemoe Karma pada tahun 1931 oleh Wayan Gobiah. Setelah kehadiran Nemoe Karma, karya sastra Bali modern tak muncul lagi

(12)

sampai akhirnya terbit novel Mlantjaran ka Sasak tahun 1939 karya Gde Srawana. Tahun 1980 hadir novel Sunari karya I Ketut Rida sebagai pemenang I lomba menulis novel berbahasa Bali.

Jika dilihat kurun waktu kehadiran novel karya I Ketut Rida ini, ada jarak 41 tahun dari novel Mlantjaran ka Sasak.

Tahun 1981 hadir novel Tresnane Lebur Ajur Satonden Kembang karya Djelantik Santha.

Novel ini awalnya terbit bersambung di harian Bali Post.2 Sekitar delapan belas tahun kemudian terbit novel Sayong pada tahun 1999 karya I Nyoman Manda dengan. Rentang waktu yang terpaut jauh antara novel satu dengan lainnya menunjukkan bahwa tingkat kreativitas dan produktivitas sastrawan Bali modern dalam menciptakan novel cukup rendah. Namun, memasuki abab ke-21 produktivitas sastrawan Bali modern dalam menciptakan novel mulai menggembirakan karena hampir setiap tahun ada novel yang diterbitkan. Djelantik Santha mengawali dengan novel Sembalun Rinjani (2000) sebagai bagian awal sebuah novel trilogi, lalu disusul Nyoman Manda dengan novel Bunga Gadung Ulung Abancang (2001) yang juga bagian awal sebuah trilogi. Pada tahun-tahun berikutnya hingga tahun 2010, Nyoman Manda dan Djelantik Santha yang paling produktif dalam menciptakan novel berbahasa Bali. Nyoman Manda sejak tahun 2000 - 2010 telah menciptakan sebelas buah novel, dan Djelantik Santha tiga buah novel.

Djelantik Santha merupakan salah satu sastrawan Bali yang tertarik berkarya dalam bidang sastra Bali modern. Ia adalah salah satu dari beberapa sastrawan senior sastra Bali modern dan berhasil lolos dari seleksi alam yang ketat. Djelantik Santha tidak hanya menulis dengan bahasa Bali, tetapi ada beberapa karyanya ditulis dalam bahasa Indonesia. Karya-karya

2 Setelah dimuat bersambung oleh Bali Post novel ini dicetak dalam bentuk buku. Sayang dalam buku tidak tercantum nama penerbit. Menurut Djelantik Santha karyanya telah dibajak, karena buku tersebut terbit tanpa persetujuannya. Novel ini akan diterbitkan secara resmi oleh Pustaka Ekspresi Tabanan akhir 2012. Komunikasi terakhir dengan pengarang 5 Januari 2012.

(13)

beliau telah banyak dipublikasikan di harian Bali Post, majalah Buratwangi, majalah Canang Sari, dan majalah Satua.

Konsistensi Djelantik Santha bergelut dalam bidang sastra Bali modern memang patut dibanggakan meski dengan kondisi fisiknya yang terbatas (lumpuh dan sakit-sakitan). Bahkan, ia menjadi salah satu sastrawan terkemuka sastra Bali modern. Setiap karyanya selalu menjadi bagian penting sejarah perkembangan sastra Bali modern. Meski bukan yang pertama menulis karya sastra Bali modern, produktivitas dan kreativitasnya dalam berkarya telah banyak mendapat pengakuan publik. Pada tahun 1979 salah satu karyanya yang berjudul Gamia Gamana mendapat juara II mengarang cerpen dalam pesta kesenian Bali. Lalu pada tahun 2001 beliau mendapat penghargaan cakepan dari majalah Sarad atas dedikasinya pada sastra Bali modern.

Tahun 2002 novel ciptaannya yang berjudul Sembalun Rinjani (2000) mendapatkan penghargaan Sastra Rancage. Terakhir pada tahun 2003 novel beliau yang berjudul Di Bawah Letusan Gunung Agung (berbahasa Indonesia) menjadi pemenang harapan II dalam lomba penulisan novel yang diselenggarakan oleh Bali Post. Novel Sembalun Rinjani merupakan bagian pertama dari rangkaian trilogi novel karya beliau. Trilogi novel tersebut terdiri atas novel Sembalun Rijani (2000), novel Gita Ning Nusa Alit (2002), dan novel Suryak Suwung Mangmung (2005).

Kelahiran tiga novel yang alur ceritanya berangkai ini memang memerlukan waktu yang cukup panjang. Jarak novel pertama dengan kedua adalah dua tahun, sedangkan novel ketiga berjarak tiga tahun dari novel kedua. Multikultur hadir sebagai isu yang mendasar dalam trilogi novel karya Djelantik Santha. Ini bukan pertama kalinya Djelantik Santha memasukkan unsur multikultur dalam karya novelnya karena dalam novel pertamanya, yaitu Tresnane Labur Ajur Satonden Kembang (1981) juga terdapat unsur multikultur. Akan tetapi intensitasnya tidak

(14)

sebanyak trilogi novel ini. Novel Tresnane Lebur Ajur Satonden Kembang juga menghadirkan tokoh dari luar etnik Bali.

Usaha Djelantik Santha menghadirkan unsur multikultur dalam trilogi novel ini ditunjukkan melalui tokoh serta latar dalam novel. Tokoh serta seting hadir dengan nuansa yang penuh dengan keberagaman. Tokoh tak hanya hadir dari etnik Bali, tetapi juga dari etnik Sasak, Dayak, Tionghoa dan Timor. Tokoh utama berasal dari etnik Bali yaitu Gusti Ngurah Darsana dan Lale Dumilah dari etnik Sasak.

Pengarang dalam trilogi novelnya menggambarkan multikultur dengan jalan menyatukan beberapa tokoh dalam sebuah ikatan perkawinan. Perkawinan endogami menjadi salah satu pilihan menyatukan perbedaan dalam sebuah keharmonisan. Berawal dari hubungan pertemanan, persahabatan, lalu mengarah pada hubungan asmara dan berlanjut dengan perkawinan. Etnik Bali dengan Lombok yang diwakili oleh tokoh utama Gusti Ngurah Darsana dan Lale Dumilah, etnik Bali dengan Dayak yang diwakili oleh Gusti Ngurah Anantha Bhuwana dengan Diah Rengsi Pitaloka, Bali dengan Timor yang diwakili oleh Dokter Agung Krishna dan Meina Victoria.

Perkawinan endogami menjadi salah satu jalan untuk semakin mengukuhkan dimensi multikultur meskipun awalnya muncul konflik dalam proses perkawinan antaretnik tersebut akibat berbenturan dengan tradisi serta kepercayaan. Walaupun demikian, semua terselesaikan dengan baik. Perbedaan tradisi dan kepercayaan tak lagi menjadi penghalang. Integrasi menjadi akhir yang baik dalam salah satu proses multikultur tersebut.

Selain munculnya tokoh dengan latar belakang etnik yang berbeda seperti etnik Bali, Sasak, Timor, Dayak dan Tionghoa, terlihat juga tradisi-tradisi beberapa etnik tersebut. Tokoh dan tradisi yang beragam berbaur dalam keselarasan pada sebuah komunitas sosial. Di antara tokoh tidak ada kecanggungan untuk mencoba atau masuk ke tradisi dari tokoh dengan etnik

(15)

yang berbeda. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa persinggungan antaretnik kadang kala memunculkan konflik. Konflik sosial dalam novel tidak hanya terjadi di tingkat individu, tetapi juga terjadi dalam tataran masyarakat tradisi. Konflik dalam tataran individu, baik fisiologi maupun psikologi, membawa dampak positif serta negatif bagi tokoh itu sendiri dan masyarakat tradisi tempat tokoh itu berada. Namun, konflik-konflik ini kemudian menjadi benih persatuan dan kebersamaan yang lebih baik antaretnik melalui proses integrasi sosial.

Sebagai bagian dari multikultur, hadirnya etnik-etnik yang berbeda dan terintegrasi dalam satu setting yang sama merupakan sebuah usaha yang sangat baik dari pengarang. Djelantik Santha mencoba untuk menunjukkan pada pembaca betapa kita harus menyikapi dengan arif multikultur yang dianugerahkan Tuhan pada Indonesia di tengah merosotnya rasa persatuan bangsa ini. Meskipun muncul konflik dalam persinggungan antaretnik, sikap saling menghargai dan toleransi menjadikan segala sesuatunya lebih baik.

Munculnya beragam etnik dalam trilogi novel karya Djelantik Santha ini secara langsung akan membawa tradisi, religi, serta bahasa masing-masing. Tradisi yang dibawa oleh setiap etnik menunjukkan kekhasan mereka masing-masing. Sering kali tradisi dari tiap etnik terintegrasi dalam satu setting yang sama. Tradisi di sini di antaranya kuliner dan kebiasaan sehari-hari.

Masakan khas, baik dari Bali, Lombok, maupun Timor sering kali muncul dalam satu momen secara bersama-sama sehingga tiap tokoh dari etnik yang berbeda memiliki kesempatan mencicipi masakan dari etnik lainnya. Begitu pula dengan kebiasaan-kebiasaan tertentu, misalnya magibung. Magibung merupakan salah satu tradisi masyarakat Bali, yaitu makan bersama-sama dalam satu sela (kelompok). Meski bukan tradisinya, tokoh dari luar etnik Bali tak canggung-canggung ikut mencoba magibung. Inilah awal sebuah toleransi yang positif antar- etnik yang dicoba ditunjukkan oleh pengarang kepada pembaca. Pemahaman lintas budaya,

(16)

sebuah cross cultural understanding sangat diperlukan dalam sebuah masyarakat besar yang multietnik dan multibudaya.

Bahasa adalah hal lain yang menarik dari unsur multikultur trilogi novel ini. Sebagai novel sastra Bali modern tentunya pengarang menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa utama.

Namun, di antara bahasa Bali yang digunakan terselip juga bahasa Sasak dan Timor. Bahasa sebagai bagian dari sebuah kebudayaan membawa identitas etnis pemakainya. Dalam novel ini pengarang menciptakan sebuah novel sastra Bali, tetapi dengan tidak menghilangkan etnisitas yang dimiliki oleh tiap-tiap tokoh melalui bahasanya. Dengan demikian, konsep multikultur yang diusung pengarang benar-benar terasa.

Peristiwa-peristiwa yang digambarkan Djelantik Santha dalam trilogi novel ini menyiratkan bahwa setiap tokoh yang menerima stimulus akan melakukan respons, baik secara individu maupun organisasi sosial. Respons terhadap stimulus tersebut menunjukkan bagaimana manusia seharusnya tidak pasif terhadap perubahan, tetapi berusaha berinteraksi dengan semua masalah yang dihadapi. Stimulus yang dihadirkan pengarang tidak hanya dari satu setting yang sama. Hadirnya setting yang berbeda, baik dari waktu, tempat, situasi, maupun budaya memungkinkan hadirnya stimulus yang beragam pula. Inilah implikasi dari multikuturalisme yang dihadirkan pengarang dalam karyanya. Hal ini menunjukkan bahwa sastrawan menyajikan sebuah peristiwa sebagai bahan perenungan dan sebagai bahan pembelajaran. Jadi, pesan yang disampaikan selalu berkaitan dengan berbagai aspek kemanusiaan.

Penelitian ini mengungkap dimensi multikulturalisme yang terkandung dalam trilogi novel karya Djelantik Santha. Multikulturalisme sempat mengalami penolakan sehingga memicu konflik serta multikultural sebagai sebuah paham yang berhasil menyatukan perbedaan.

O‟Sullivan menyebutkan bahwa multikultur lebih menekankan pada aspek kualitatif hubungan

(17)

antaretnik dan budaya (Putra, 2008: 121). Studi terhadap multikultur tidak menekankan bahwa satu kelompok berbeda dengan kelompok lainnya, tidak juga menekankan pada eksotika atau keunikan tradisi tiap-tiap kelompok, tetapi lebih mengarah pada interaksi antarkelompok yang berbeda. Kualitas hubungan antaretnik dalam berinteraksi di tengah keberagaman tradisi menjadi prioritas dalam studi multikultur. Oleh karena itu, yang menjadi fokus dalam penelitian adalah kualitas dari multikulturalisme itu sendiri, sejauh mana multikulturalisme mempengaruhi kehidupan individu di dalam masyarakat sosial yang heterogen. Intensitas persinggungan antaretnik yang tinggi dalam masyarakat multikultur memang memungkinkan terjadinya konflik. Namun, trilogi novel ini tidak memperlihatkan konflik yang kuat sebagai dampak dari multikulturalisme. Berbeda dengan novel Tresnané Lebur Ajur Satonden Kembang yang mengandung konflik yang kuat, trilogi novel ini justru memperlihatkan konflik yang datar, kurang tajam, sehingga muncul kesan yang biasa saja dari sisi konflik. Meski demikian, konflik dalam trilogi novel ini tetap mempengaruhi posisi multikulturalisme sebagai isu mendasar yang menjiwai trilogi novel ini.

Pandangan dunia pengarang terhadap multikulturalisme yang terintegrasi dalam trilogi novel ini juga menjadi bagian yang diungkapkan dalam penelitian ini. Pandangan dunia sebagai akumulasi menyeluruh gagasan-gagasan, aspirasi, serta perasaan-perasaan masyarakat sosial yang berhasil ditangkap oleh pengarang, kemudian dituangkan dalam karyanya. Melalui pandangan dunia pengarang akan terungkap ideologi yang melatarbelakangi pengarang dalam menciptakan trilogi novel ini.

Totalitas berkarya yang dilakoni pengarang juga menjadi bagian yang menarik untuk diungkapkan. Djelantik Santha sebagai orang Bali yang bergelut dalam bidang sastra betul-betul bekerja secara serius untuk menggali potensi kearifan lokal tanah kelahirannya. Bali sebagai

(18)

kampungnya dunia menjadi bahan inspirasi yang tak kunjung kering ketika diekspresikan dalam karya sastra. Pengalaman Djelantik Santha mengelilingi Nusantara dan bertemu berbagai etnik saat aktif bertugas sebagai pegawai bank menjadikannya sosok yang plural, arif menyikapi perbedaan meskipun terkadang muncul kecanggungan dalam melakukan perubahan dan bersifat ambivalen dalam menyampaikan pesan pada karyanya. Kiprahnya dalam berkarya di bidang sastra Bali khususnya sastra Bali modern merupakan sesuatu yang patut mendapat perhatian, di tengah kondisi fisiknya yang kian melemah.

1.2 Rumusan Masalah

Pada penelitian kali ini terdapat dua buah masalah yang dirumuskan sebagai berikut.

1. Bagaimanakah representasi multikulturalisme yang terdapat dalam trilogi novel Sembalun Rinjani karya Djelantik Santha?

2. Bagaimanakah respons tokoh trilogi novel Sembalun Rinjani terhadap multikulturalisme?

3. Bagaimanakah pandangan dunia pengarang terhadap multikulturalisme dalam trilogi novel Sembalun Rinjani?

1.3 Tujuan

Tujuan penelitian ini dibedakan menjadi dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

Kedua tujuan tersebut diuraikan sebagai berikut.

1.3.1 Tujuan Umum

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran bahwa karya-karya sastra dengan muatan lokalitas mampu menyuguhkan kehidupan masyarakat yang hidup dalam

(19)

lingkungan heterogen dalam menghadapi perkembangan zaman. Memahami karya sastra dengan nuansa sosial yang heterogen memberikan kenikmatan tersendiri serta memberikan pengetahuan secara umum tentang kehidupan sosial dan budaya masyarakat tertentu. Lebih-lebih karya tersebut dapat memberikan sumbangan positif bagi peningkatan kepekaan pembaca terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas. Di samping itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap khazanah penelitian sastra dan penelitian sosial budaya pada umumnya.

1.3.2 Tujuan Khusus

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis dari segi sosiologi sastra trilogi novel Sembalun Rinjani karya Djelantik Santha. Sosiologi sastra akan mengungkap representasi multikultur, respons tokoh serta pandangan dunia pengarang yang terkandung dalam ketiga novel tersebut.

1.4 Manfaat

Manfaat penelitian ini diharapkan agar dapat memberi sumbangan keilmuan dan praktis.

Manfaat pertama adalah manfaat yang bersifat teoretis dan manfaat kedua bersifat praktis yang dijabarkan sebagai berikut.

1.4.1 Manfaat Teoretis

Penelitian ini nantinya diharapkan agar dapat menjadi referensi bagi penelitian sejenis pada masa mendatang. Artinya, penelitian ini bisa memberikan gambaran tentang masyarakat multikultur. Peristiwa persinggungan antaretnik yang menghiasi novel ini menunjukkan betapa

(20)

perkembangan zaman menjadikan masyarakat semakin heterogen dengan kulturnya masing- masing. Interaksi sosial masyarakat yang heterogen itu terepresentasikan dengan baik dalam dunia fiksi naratif. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan memberikan pemahaman terhadap karya sastra di bidang kajian wacana naratif.

1.4.2 Manfaat Praktis

Secara praktis penelitian ini diharapkan agar bermanfaat bagi masyarakat dalam memahami serta menyikapi betul makna sebuah multikultur. Nantinya diharapkan masyarakat mampu menghubungkan kenyataan dalam dunia fiksi dengan realitas yang ada dalam lingkungan sosialnya. Pemahaman serta penyikapan yang baik terhadap multikultural akan menjadi semacam cermin bagi masyarakat agar ketika menghadapi konflik dapat bersikap arif dan bijaksana sehingga tercipta integrasi sosial. Terciptanya integrasi sosial yang harmonis pada masyarakat multikultur akan berujung pada sebuah kesatuan, solidaritas, serta kebersamaan dalam keberagaman.

Konstelasi dan sikap-sikap tokoh ketika menghadapi konflik dalam trilogi novel Sembalun Rinjani karya Djelantik Santha dapat menjadi referensi sebagai bahan renungan ketika menghadapi konflik terutama yang bersinggungan dengan masalah SARA. Sumbangan untuk dunia pendidikan formal penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai media belajar bagi para pelajar untuk mengembangkan, memahami karya sastra tidak hanya sekadar untuk menghibur, tetapi juga memberikan pembelajaran yang mengarah pada ranah afektif.

(21)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN

2.1 Kajian Pustaka

Kajian terhadap karya-karya Djelantik Santha telah banyak dilakukan oleh peneliti sastra.

Apresiasi terhadap karya-karya Djelantik Santha lebih banyak ditemukan dalam bentuk penelitian sastra. Karya-karya Djelantik Santha yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas menjadikannya sebagai karya sastra yang menarik untuk dijadikan objek penelitian.

Nilai-nilai kemanusiaan yang terdapat dalam kehidupan sosial masyarakat menjadi bahan dasar penciptaan sebagian besar karya-karya Djelantik Santha. Sehubungan dengan itu, penelitian yang paling tepat dilakukan terhadap karya-karyanya adalah penelitian sosiologi sastra. Hal itu dikatakan tepat karena dengan sosiologi sastra semua aspek sosial yang terkandung dalam setiap karya sastra dapat dibedah dengan sedalam-dalamnya.

Novel karya Djelantik Santha, Sembalun Rinjani, Gita Ning Nusa Alit, dan Suryak Suwung Mangmung, sebelumnya tidak pernah diteliti secara bersamaan sebagai sebuah kesatuan novel trilogi. Hanya sebelumnya tiap-tiap bagian novel trilogi secara terpisah telah diteliti dengan kajian sosiologi sastra. Made Dwi Budajayanti menggunakan karya Djelantik Santha, yaitu novel Sembalun Rinjani (2007) sebagai objek penelitiannya. Penelitian Budajayanti mengungkapkan aspek sosial yang terkandung dalam novel Sembalun Rinjani, di antaranya aspek agama, aspek pendidikan, dan aspek kemasyarakatan.

(22)

Kadek Apriliana Mandasari dalam kajian sosiologi sastra terhadap novel Gita Ning Nusa Alit (2008) mengungkapkan aspek-aspek sosial yang terkandung dalam novel tersebut. Aspek sosial yang dominan dibicarakan dalam kajian Mandasari adalah aspek agama. Dalam hal ini Mandasari terfokus pada konsep-konsep agama Hindu yang terdapat dalam novel Gita Ning Nusa Alit. Konsep-konsep dasar agama Hindu yang terangkum dalam Tattwa, Etika, dan Upacara pada novel ini diungkap dengan cukup baik. Meskipun demikian, penelitian Mandasari secara kuantitas lebih banyak membicarakan struktur intrinsik novel dibandingkan dengan struktur ekstrinsik.

Ni Nyoman Apriani melakukan penelitian terhadap bagian akhir novel trilogi karya Djelantik Santha, yaitu Novel Suryak Suwung Mangmung (2009). Penelitian yang menggunakan pendekatan sosiologi sastra ini mengungkapkan aspek-aspek sosial terutama aspek agama dan aspek kemasyarakatan. Aspek keagamaan yang diungkapkan dalam penelitian Apriani sama dengan yang diungkapkan dalam penelitian Mandasari, yaitu Tattwa, Etika, dan Upacara.

Sebaliknya, aspek kemasyarakatan yang diungkapkan dalam penelitian Apriani adalah tradisi magibung. Tradisi magibung merupakan tradisi makan bersama dalam masyarakat Bali.

Magibung dilakukan dengan membentuk kelompok-kelompok makan yang disebut dengan sela.

Pada penelitian itu, Apriani memang mengungkapkan magibung sebagai bagian aspek kemasyarakatan yang terdapat dalam novel Suryak Suwung Mangmung. Namun, ia tidak secara konkret menjelaskan bagian mana dalam novel yang berhubungan dengan tradisi tersebut.

Penelitian yang dilakukan Budajayanti, Mandasari, dan Apriani terhadap tiap-tiap bagian dari novel trilogi Sembalun Rinjani memang dilakukan dengan pendekatan sosiologi sastra, hanya di antara ketiga penelitian tersebut tidak satu pun mengungkapkan multikultur. Multikultur menjadi prioritas pembahasan dalam penelitian ini, tentu saja dengan tidak melupakan

(23)

pandangan dunia pegarang sebagai bagian penting sebuah karya sastra. Multikultural di sini tidak hanya dipahami sebagai sebuah paham atau ideologi semata, tetapi juga multikultur sebagai sebuah realitas dari proses bermasyarakat yang harus disikapi dengan bijak. Kuantitas tidak menjadi prioritas dalam hubungan multikultur, tetapi kualitas interaksi antartokoh dengan latar belakang etnik serta tradisilah yang menjadi prioritas pembahasan. Multikultur tidak hanya melihat seberapa banyak etnik serta tradisi yang berinteraksi dalam sebuah komunitas sosial, tetapi seberapa jauh kualitas hubungan antaretnik dengan tradisinya masing-masing.

Jumlah objek penelitian ini juga berbeda dengan penelitian sebelumnya. Jika pada penelitian sebelumnya tiap-tiap bagian novel diteliti secara terpisah oleh orang yang berbeda, maka pada penelitian ini ketiga bagian dari trilogi novel Sembalun Rinjani dibahas bersama- sama. Mengkaji seluruh bagian trilogi novel Sembalun Rinjani merupakan hal yang mutlak dilakukan guna memperoleh pemahaman yang menyeluruh mengenai isi yang terkandung dalam novel.

Putra dalam buku Tonggak Baru Sastra Bali Modern memberikan sedikit pandangannya tentang dua novel dari trilogi ini, yaitu novel Sembalun Rinjani dan Gitaning Nusa Alit. Putra (2010:194) menyebutkan bahwa kedua novel menawarkan tema segar dalam jagat sastra Bali modern karena novel ini tidak hanya mempertemukan, tetapi juga menyatukan hubungan dua etnik (Bali dan Lombok) dalam sebuah kisah percintaan, persahabatan, bahkan persaudaraan.

Putra melihat konflik dalam kedua novel ini kurang kuat sehingga tegangan yang dihasilkan dari novel ini pun kurang. Sayangnya novel ketiga tidak dibicarakan oleh Putra sehingga keutuhan tema kurang didapatkan dalam ulasannya. Kurangnya informasi mengenai terbitnya novel ketiga menyebabkan Putra dalam tulisannya menyatakan bahwa novel ketiga belum terbit, sejatinya

(24)

novel ketiga telah diterbitkan Balai Bahasa Denpasar pada tahun 2007, sekitar setahun dari tahun terbitnya buku Darma Putra.

Selain dari sisi sastranya, karya prosa fiksi Djelantik Santha juga diminati oleh peneliti bahasa. Bahasa yang digunakan oleh Djelantik Santha merupakan bahasa Bali yang tergolong dalam bahasa Bali yang baik dan benar sesuai dengan anggah ungguhing basa yang terdapat dalam bahasa Bali. Salah satu yang mengkaji karya Djelantik Santha dari sudut ilmu bahasa adalah I Wayan Muliarta. Penelitian unsur linguistik yang dilakukan Muliarta memfokuskan pada kata majemuk yang terdapat dalam novel-novel karya Djelantik Santha. Penelitian yang berjudul Kata Majemuk Bahasa Bali dalam Novel-novel Djelantik Santha (2009) ini menunjukkan kualitas bahasa Bali yang digunakan Djelantik Santha sangat baik. Djelantik Santha sebagai pengarang besar selalu berusaha memenuhi kaidah-kaidah penggunaan anggah ungguhing basa bahasa Bali dalam setiap karyanya. Penggunaan bahasa yang tepat dan baku dalam sebuah karya sastra akan menjadi nilai tambah tersendiri bagi karya tersebut. Selain meningkatkan unsur estetikanya, bahasa yang tepat dan baku juga akan membantu menjaga keutuhan unsur-unsur bahasa yang digunakan pengarangnya (khususnya bahasa daerah). Kadang kala pengarang melupakan unsur ketatabahasaan (unsur linguistik) dalam berkarya. Hal ini dimungkinkan dengan adanya licentia poetica yang membebaskan pengarang melakukan penyimpangan-penyimpangan dari aturan baku yang ada.

2.2 Konsep

Konsep merupakan hasil abstraksi dan sintesis teori yang dikaitkan dengan masalah penelitian yang dihadapi untuk menjawab dan memecahlan masalah penelitian (Buku Pedoman

(25)

Penulisan Usulan Penelitian, Tesis, dan Disertasi Program Pascasarjana Universitas Udayana, 2003:11).

Berdasarkan pengertian di atas, penelitian ini menggunakan konsep representasi, multikultur, dan pandangan dunia.

2.2.1 Representasi

Representasi merupakan perbuatan mewakili (penggambaran) terhadap suatu objek (KBBI, 1989:744). Representasi merekonstruksi serta menampilkan berbagai fakta sebuah objek sehingga eksplorasi makna dapat dilakukan dengan maksimal (Ratna, 2005: 612). Jika dikaitkan dengan bidang sastra, maka representasi dalam karya sastra merupakan penggambaran karya sastra terhadap suatu fenomena sosial. Penggambaran ini tentu saja melalui pengarang sebagai kreator. Representasi dalam sastra muncul sehubungan dengan adanya pandangan atau keyakinan bahwa karya sastra sebetulnya hanyalah merupakan cermin, gambaran, bayangan, atau tiruan kenyataan. Dalam konteks ini karya sastra dipandang sebagai penggambaran yang melambangkan kenyataan (mimesis) (Teeuw, 1984:220).

Plato mengungkapkan bahwa seni (sastra) melalui mimesis melakukan penggambaran melalui ide pendekatan sehingga apa yang dihasilkan tidak sama persis dengan kenyataan. Seni hanya dapat menggambarkan dan membayangkan hal-hal dalam kenyataan, seni berdiri di bawah kenyataan itu sendiri (Teeuw, 1984: 220). Aristoteles juga mengungkapkan bahwa seni melalui mimesis melakukan proses representasi fakta-fakta sosial. Proses representasi yang terjadi dalam seni tidak semata-mata meniru kenyataan seperti pantulan gambar cermin, tetapi melibatkan renungan yang kompleks atas kenyataan alam. Dalam pandangan Aristoteles, seni bekerja seperti sejarah, yakni menghadirkan peristiwa atau kenyataan faktual dan khusus. Di samping itu, seni

(26)

juga harus mampu menunjukkan ciri-ciri general dan universalnya yang berlaku untuk zaman kapan pun (Teeuw, 1984: 222). Karya sastra sebagai bagian dari seni mengambil bahan dari masyarakat, bahan yang dimaksud adalah fakta-fakta sosial. Fakta-fakta sosial yang ada dengan sendirinya dipersiapkan dan dikondisikan oleh masyarakat, eksistensinya selalu dipertimbangkan dalam antarhubungannya dengan fakta sosial yang lain, yang juga telah dikondisikan secara sosial (Ratna, 2003: 36).

Menurut Sumardjo (2000: 467) representasi adalah (1) penggambaran yang melambangkan atau mengacu kepada kenyataan eksternal, (2) pengungkapan ciri-ciri umum yang universal dari alam manusia, (3) penggambaran karakteristik general dari alam manusia yang dilihat secara subyektif oleh senimannya, (4) penghadiran bentuk-bentuk ideal yang berada di balik kenyataan alam semesta yang dikemukakan lewat pandangan mistis-filosofis seniman.

Keempat klasifikasi yang diungkapkan oleh Sumardjo menunjukkan bahwa selain bersifat objektif, representasi juga bersifat subyektif. Klasifikasi 1 dan 2 menunjukkan bahwa representasi memiliki sifat yang objektif karena realitas digambarkan berdasarkan apa yang dilihat, dirasakan, dialami langsung oleh seniman (sastrawan). Sebaliknya, klasifikasi 3 dan 4 menunjukkan bahwa representasi bersifat subjektif karena realitas digambarkan secara subjektif melalui struktur mental, struktur nalar senimannya.

Pandangan Sumardjo mengenai representasi jelas menunjukkan bahwa hasil dari proses representasi sangat ditentukan oleh kemampuan interpretasi sastrawan. Taine mengungkapkan tiga konsep yang menentukan kualitas interpretasi sastrawan, yaitu ras, saat, dan lingkungan (millieu). Hubungan timbal balik antara ras, saat, dan lingkungan inilah yang menghasilkan struktur mental yang praktis dan spekulatif. Struktur mental ini menyebabkan timbulnya dunia gagasan yang masih berupa benih, yang selanjutnya oleh pengarang diwujudkan dalam bentuk

(27)

karya sastra (Teeuw, 1984: 19). ‟Ras‟ dalam konsep Taine tentu saja merujuk pada keturunan, perangai, dan bentuk fisik, sedangkan ‟saat‟ merupakan waktu atau periode tertentu (jiwa zaman). Hal ini memberikan gambaran khusus tentang kondisi manusia dalam kurun waktu tertentu. Selanjutnya ‟lingkungan‟ merupakan letak georafis dan iklim. Tentu saja letak geografis dan iklim akan mempengaruhi kondisi masyarakat sosialnya. Kondisi masyarakat sosial inilah yang kemudian direpresentasikan sastrawan dalam karyanya.

Poses representasi yang dilakukan pengarang dalam karyanya menggunakan bahasa sebagai media. Karya sastra memiliki kelebihan dalam menggambarkan kenyataan sosial.

Dengan memanfaatkan kualitas manipulatif medium bahasa, karya sastra mampu menggambarkan sesuatu yang sama dengan cara yang berbeda. Durkheim memandang bahasa sebagai institusi sosial yang terbagi secara kolektif. Bahasa merupakan indikator dari keberadaan realitas sosial sebagai sesuatu yang terlepas dari individu (Faruk, 2010: 49). Melalui bahasa, dunia sosial dikukuhkan dan sekaligus dipelihara. Melalui bahasa pula, dunia sosial yang objektif diinternalisasikan ke dalam kesadaran subjektif para warga dunia sosial ( Berger dan Luckmann dalam Faruk, 2010: 49 - 50).

Representasi sebagai bagian dari karya sastra merupakan sebuah kombinasi antara kekuatan fiktif dan imajinatif. Dua kekuatan ini mampu menangkap secara langsung bangunan dunia sosial yang memang berada di luar dan melampaui dunia pengalaman langsung, objek, serta gerak-gerik. Karya sastra dapat merepresentasikan objek dan gerak-gerik yang berbeda dari objek dan gerak-gerik yang terdapat dalam dunia pengalaman langsung. Akan tetapi, dari segi strukturasi atas objek dan gerak-gerik, sastra dapat merepresentasikan persamaannya melalui strukturasi dalam dunia sosial (Faruk, 2010: 52).

(28)

Representasi dalam dunia sastra tidak hanya sekadar penggambaran fenomena sosial sebuah masyarakat dalam kurun waktu tertentu. Akan tetapi, lebih mengarah kepada penggambaran yang bermakna atas masyarakat dan situasi sosial melalui proses kreatif pengarang. Posisi pengarang dalam proses representasi fenomen sosial dalam karyanya sangat dipengaruhi oleh ras, saat, serta lingkungan yang melatarbelakanginya.

2.2.2 Multikulturalisme

Multikultur secara etimologi berasal dari dua kata, multi ‟banyak/beragam‟ dan kultur /budaya atau kebudayaan‟, yang berarti keberagaman budaya (KBBI, 1989). Budaya yang mesti dipahami di sini bukanlah budaya dalam arti sempit, melainkan mesti dipahami sebagai semua bagian manusia terhadap kehidupannya yang kemudian akan melahirkan banyak wajah, seperti sejarah, pemikiran, budaya verbal, bahasa, dan lain-lain. Multikultur adalah sebuah filosofi yang juga kadang ditafsirkan sebagai ideologi yang menghendaki adanya persatuan dari berbagai kelompok kebudayaan dengan hak dan status sosial yang sama dalam masyarakat modern.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menjadikan multikultur sebagai sarana untuk kerja sama, pengakuan kesederajatan, dan berapresiasi dalam dunia yang kian kompleks dan tidak monokultur lagi (Parekh, 2008: 7).

Akar dari multikultur adalah kebudayaan. Kebudayaan yang beraneka ragam, tetapi dapat hidup berdampingan dalam satu wadah komunitas sosial. Hal ini bisa terjadi karena multikultur merupakan sebuah wahana serta ideologi untuk meningkatkan derajat manusia dan kemanusiannya. Oleh karena itu, kebudayaan harus dilihat dari perspektif fungsinya bagi manusia.

(29)

Sebagai sebuah ideologi, multikulturalisme akan mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individual maupun secara sosial budaya. Dalam multikultur, sebuah masyarakat mempunyai kebudayaan yang berlaku umum pada masyarakat tersebut. Kebudayaan umum tersebut terdiri atas masyarakat-masyarakat yang lebih kecil dengan kebudayaannya sendiri yang membentuk masyarakat yang lebih besar. Satu kelompok masyarakat harus menyesuaikan tradisi, perilaku, kebutuhan-kebutuhan, sumber daya moral, dan psikologi dengan kelompok masyarakat lainnya. Hal ini disebabkan oleh mereka hidup dalam lingkungan heterogen yang terdiri atas beberapa elemen yang berbeda (Parekh, 2008: 232).

Sebuah masyarakat yang heterogen merupakan representasi dari multikulturalisme.

Keberadaan multikultur memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positif multikultur adalah keberanian untuk dapat menerima perbedaan sebagai sebuah modal serta kekuatan untuk persatuan. Menerima perbedaan bukan hanya dengan kompetensi keterampilan, melainkan lebih banyak terkait dengan persepsi dan sikap sesuai dengan realitas kehidupan yang menyeluruh.

Sebaliknya, sisi negatif multikultur adalah munculnya penolakan terhadap yang lain, baik individu maupun kelompok. Hal ini terjadi akibat tidak bisa menerima perbedaan dan perbedaan dianggap menyimpang atau salah. Penafian atau penolakan terhadap yang lain pada hakikatnya adalah pemaksaan keseragaman dan menghilangkan keunikan jati diri yang lain, baik individu maupun kelompok (Astawa, 2005: 58).

Konstruksi sosial hierarkis yang secara tegas melakukan penolakan terhadap multikultur itu membangun pengakuan bahwa seseorang atau kelompok lain unggul atas yang lain serta mengajukan klaim yang melebihi hak-haknya dengan cara merampas hak-hak pihak lain. Astawa (2005:58) lebih jauh menjelaskan bahwa kemajemukan masyarakat lokal seperti itu tidak saja bersifat horizontal (perbedaan etnik, agama, dan sebagainya), tetapi juga sering

(30)

berkecenderungan vertikal. Kecenderungan vertikal ini mengakibatkan terjadinya polarisasi status dan kelas sosial berdasarkan kekayaan atau pekerjaan yang diraihnya. Dalam hal pertama, perkembangan ekonomi pasar membuat beberapa kelompok masyarakat tertentu, khususnya etnik tertentu yang memiliki tradisi dagang naik peringkatnya menjadi masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas. Akibatnya, muncul kecemburuan sosial masyarakat setempat yang mandek perkembangannya (khususnya dalam bidang ekonomi). Sebaliknya, dalam hal kedua, kelompok masyarakat etnik dan agama tertentu yang semula berada di luar mainstream, yaitu berada di pinggiran, mulai masuk ke tengah mainstream. Hal ini juga dapat menimbulkan gesekan primordialistik, apalagi bila ditunggangi kepentingan politik dan ekonomi tertentu, seperti terjadi di Ambon, Poso, dan Aceh.

Guna meminimalisasi terjadinya hal-hal negatif dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia, paradigma hubungan dialog atau pemahaman timbal balik sangat dibutuhkan untuk mengatasi gesekan-gesekan negatif dari suatu problem disintegrasi bangsa. Pemahaman yang mendasar tentang toleransi serta sikap saling menghargai menjadi hal yang sangat penting.

Komunikasi sekali lagi menjadi hal yang memegang peran penting, bisa dengan membuka dialog-dialog yang sehat antarpemuka masyarakat, pemuka agama, dan pemerintah sebagai fasilitator. Kebudayaan secara internal merupakan sesuatu yang majemuk, maka dialog-dialog yang berkesinambungan sangat diperlukan. Di tengah masyarakat yang multikultur akan menjadi sangat riskan jika sedikit saja terjadi miskomunikasi karena cenderung mengarah pada urusan yang fundamental, yaitu SARA. Sering kali muncul konflik horizontal, yakni konflik antarmasyarakat akibat kurangnya komunikasi yang positif. Sesungguhnya konflik sosial merupakan sesuatu yang wajar serta alamiah dalam sebuah komunitas sosial. Akan tetapi, menjadi lain ceritanya ketika konflik sosial yang berkembang di masyarakat mengarah pada

(31)

tindakan anarkis. Anarkisme tentu saja akan membuka peluang yang sangat besar bagi timbulnya disorganisasi sosial yang berujung pada disintegrasi bangsa.

2.2.3 Trilogi Novel ”Sembalun Rinjani”

Novel merupakan salah satu genre dalam karya sastra yang berjenis prosa rekaan. Novel menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa dan latar secara tersusun (Sudjiman, 1986: 53). Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa novel adalah karangan prosa yang mengandung rangkaian cerita kehidupan tokoh dengan lingkungan sekelilingnya serta menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku (Departemen Pendididkan dan Kebudayaan, 1989:618). Pengertian di atas menunjukkan bahwa novel memiliki rangkaian peristiwa serta jalan cerita yang panjang sehingga memberikan ruang yang luas untuk menuturkan lebih detail perjalanan kehidupan tokoh.

Trilogi dalam pengertian di bidang sastra adalah seri karya sastra yang terdiri atas tiga satuan (bagian) yang saling berhubungan dan mengembangkan satu tema utama (KBBI, 1989:961). Umumnya dalam bidang sastra yang menggunakan istilah trilogi adalah novel, sedangkan dalam puisi, cerpen, dan drama jarang digunakan. Sastra Bali modern sendiri tidak banyak mencatat lahirnya novel trilogi. Sejak awal kemunculan hingga saat ini dalam sastra Bali modern hanya terdapat tiga novel trilogi, yaitu trilogi novel Sembalun Rinjani (Djelantik Santha), trilogi novel Bunga Gadung Ulung Abancang (Nyoman Manda), dan trilogi novel Puputan Badung (Nyoman Manda).

Penamaan dalam seri sasrta trilogi biasanya menggunakan judul novel pertama dari seri trilogi tersebut. Trilogi novel yang diciptakan oleh Djelantik Santha sendiri terdiri atas novel Sembalun Rinjani, Gita Ning Nusa Alit, dan Suryak Suwung Mangmung. Itulah sebabnya trilogi

(32)

novel ini disebut trilogi novel Sembalun Rinjani karena judul novel ini merupakan judul novel pertama. Trilogi novel ini menceritakan kisah hidup tokoh utama, yaitu Gusti Ngurah Darsana yang bekerja sebagai pegawai BRI sejak awal bertugas hingga masa pensiun. Isu multikulturalisme dicoba diangkat oleh pengarang dalam trilogi novel ini. Dikatakan demikian karena, baik dari tokoh maupun latar yang dihadirkan dalam trilogi novel ini sarat dengan unsur keberagaman dan heterogenitas sosial budaya Indonesia.

Judul trilogi novel sesungguhnya telah menunjukkan unsur multikultur jika ditelisik lebih mendalam. Judul trilogi novel, yaitu Sembalun Rinjani merupakan nama daerah di Lombok Timur. Sembalun adalah nama desa yang terdapat gunung tertinggi di Lombok, yaitu Gunung Rinjani. Masyarakat Desa Sembalun merupakan masyarakat yang masih menganut tradisi tradisonal Lombok. Masyarakat desa Sembalun yang beragama Islam Wetu Telu hidup berdampingan dengan masyarakat Bali yang hidup secara turun temurun di desa tersebut sejak ekspansi kerajaan Karangasem ke Lombok. Masyarakat etnik Sasak dan Bali di Desa Sembalun sama-sam memiliki keyakinan terhadap keberadaan Dewi Anjani sebagai dewi kesuburan yang berstana di Gunung Rinjani. Setiap menjelang musim panen, masyarakat etnik Sasak dan Bali bersama-sama melakukan persembahan di Gunung Rinjani untuk memohon agar nantinya hasil pertanian mereka melimpah. Kebersamaan ini menjadi salah satu gambaran multikulturalisme yang terepresentasi melalui judul novel pertama.

Keberadaan masyarakat etnik Sasak dan etnik Bali yang hidup harmonis di Desa Sembalun bisa jadi merupakan alasan mengapa pengarang menyatukan dua tokoh utama dalam ikatan cinta di Gunung Rinjani Desa Sembalun. Gusti Ngurah Darsana dan Lale Dumilah adalah dua tokoh utama yang bebeda agama serta suku, Gusti Ngurah Darsana adalah orang Bali yang beragama Hindu, sedangkan Lale Dumilah adalah orang Lombok dengan agama Islam. Mereka

(33)

sepakat memulai menjalin hubungan cinta di Gunung Rinjani. Meskipun perjalanan cinta mereka pada awalnya selalu mendapat hambatan karena perbedaan di antara mereka.

Novel pertama mengisahkan perjalanan tokoh utama, yaitu Gusti Ngurah Darsana dan Lale Dumilah dalam menjalin persahabatan hingga berlanjut ke hubungan asmara. Selanjutnya pada novel kedua yaitu Gita Ning Nusa Alit kedua tokoh utama telah menikah dan memiliki seorang putra. Setelah menikah mereka menetap di Bima karena Gusti Ngurah Darsana mendapat tugas di BRI cabang Bima. Persinggungan antaretnik semakin banyak terjadi pada novel kedua. Gita Ning Nusa Alit yang berarti nyanyian indah di pulau kecil adalah representasi kebahagiaan hubungan antaretnik di sebuah pulau kecil, yaitu Sumbawa. Kebahagian di sini adalah dapat diterimanya hubungan Gusti Ngurah Darsana dan Lale Dumilah oleh keluarga Lale Dumilah. Selain itu, di pulau ini pula lahir putra pertama dari pasangan dua etnik berbeda tersebut yang diberi nama Gusti Ngurah Anantha Buana.

Hubungan indah antaretnik juga semakin terasa ketika Gusti Ngurah Darsana dan Lale Dumilah dapat diterima dengan baik oleh penduduk sekitar. Mereka dihormati sebagai penduduk pendatang, diterima dengan baik sebagai bagian keluarga baru di komunitas penduduk lokal Atambua. Bahkan, rumah dinas Gusti Ngurah Darsana menjadi tempat untuk mengadakan acara- acara kekeluargaan di antara pegawai BRI dengan latar belakang etnik yang berbeda. Semua berkumpul, berbaur dalam suasana kekeluargaan tanpa rasa canggung.

Novel ketiga yang berjudul Suryak Suwung Mangmung mengisahkan masa pensiun tokoh utama, yaitu Gusti Ngurah Darsana. Suryak Suwung Mangmung secara harafiah dapat diartikan teriakan sunyi senyap, namun jika dikaitkan dengan multikulturalisme dapat bermakna kebersamaan yang akhirnya menuju sebuah tujuan yang sama. Suryak berarti teriakan yang dilakukan secara bersama-sama oleh lebih dari satu orang (bersifat kolektif), ini yang menjadi

(34)

simbol heterogenitas dalam masyarakat multikultur. Suung Mangmung berarti suatu keadaan yang sunyi senyap, menyiratkan kesatuan persepsi dan tujuan. Meskipun berbeda namun memiliki satu pandangan sama, memiliki satu persepsi dan tujuan yang sama tentang multikulturalisme, yaitu kehidupan yang bertoleransi dalam mayarakat yang beragam. Jika dikaitkan dengan filsafat kehidupan maka dapat dimaknai sebagai sebuah proses perjalanan kehidupan menuju jenjang yang lebih mulia. Jenjang kehidupan mulai meninggalkan hiruk pikukkehidupan duniawi untuk lebih berfokus pada pendekatan diri dengan sang pencipta. Hal ini bisa dilihat dari kahidupan tokoh utama yang mulai memasuki masa pensiun, kembali ke kampung halaman yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Pada novel ketiga kehidupan tokoh utama lebih banyak bergelut dengan urusan religius, seperti tirtha yatra3, yoga4, dan makakawin5. Namun, sebagai novel dengan multikultur jadi isu mendasar, pada novel ketiga ini pun pengarang kembali memunculkan pernikahan antaretnik. Gusti Ngurah Anantha Buana yang merupakan putra Gusti Ngurah Darsana menikah dengan seorang gadis Dayak bernama Diah Rengsi Pitaloka.

Trilogi novel Sembalun Rinjani mengangkat isu yang sangat sensitif sesungguhnya, isu yang beberapa tahun belakangan ini menjadi perbincangan di masyarakat. Multikultur sebagai sebuah ragam kehidupan bermasyarakat di Indonesia merupakan potensi besar yang harus disadari oleh masyarakat Indonesia sendiri. Pengarang melalui novelnya mencoba memberikan gambaran tentang multikultur yang disikapi secara arif. Hasilnya adalah sebuah keharmonisan dalam kehidupan yang heterogen. Pengarang dalam novelnya juga mencoba memberikan jalan

3 Perjalanan spiritual ke tempat-tempat suci

4 Yoga merupakan cara atau jalan untuk mengendalikan gerak-gerik pikiran untuk menyatukan Sang Jiwa dan Jiwa Yang Mahaagung.

5 Menyanyikan nyanyian suci dalam bentuk kakawin

(35)

guna menghadapi masalah yang muncul akibat multikultur tanpa bermaksud untuk menggurui penikmat karyanya.

2.2.4 Pandangan Dunia

Pandangan merupakan sesuatu yang paling penting untuk mengetahui hubungan karya sastra dengan masyarakat sosial karena pandangan dunia yang berhubungan langsung dengan struktur masyarakat. Kondisi struktural masyarakat dapat membuat suatu kelas sosial yang ada dalam posisi tertentu dalam masyarakat membuahkan dan mengembangkan suatu pandangan dunia. Goldmannn (Faruk, 2010: 66) mengungkapkan bahwa pandangan dunia merupakan kumpulan menyeluruh gagasan, aspirasi, serta perasaan yang menghubungkan secara bersama- sama anggota-anggota suatu kelompok sosial tertentu dan yang membedakannya dengan kelompok sosial yang lain. Kumpulan menyeluruh gagasan, aspirasi, serta perasaan dalam sebuah kelas sosial disebut juga dengan struktur global yang bermakna. Suatu pemahaman total yang mencoba menangkap makna dari dunia dengan segala kerumitan dan keutuhannya (Damono, 1984: 40).

Pandangan dunia tidak hanya sebuah gagasan yang abstrak dari suatu kelompok sosial mengenai kehidupan manusia dan dunia tempat manusia itu berada (lingkungannya), tetapi juga bisa merepresentasikan cara atau gaya hidup yang dapat mempersatukan anggota-anggota suatu kelas dalam kelas sosial yang sama dan membedakannya dengan kelas sosial yang lain (Damono, 1984: 41). Hal ini bisa menjadi suatu ciri khas tersendiri bagi sebuah kelas sosial tertentu sehingga menjadikannya terlihat berbeda meskipun terintegrasi dalam lingkungan yang sama dengan kelas sosial yang berbeda.

(36)

Pandangan dunia merupakan pandangan dengan koherensi yang menyeluruh. Pandangan Dunia merupakan perspektif yang koheren dan terpadu mengenai hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Pandangan dunia dibangun dalam perspektif sebuah kelompok masyarakat yang berbeda pada posisi tertentu dalam struktur sosial secara keseluruhan. Di samping itu, juga merupakan respons kelompok masyarakat terhadap lingkungan sosial yang beragam (Faruk, 2010:70 - 71). Ini menyiratkan bahwa pandangan dunia lebih mungkin terjadi pada masyarakat yang multikultur. Hal ini dimungkinkan karena pandangan dunia tidak akan terbangun dalam masyarakat yang homogen, monokultur, serta terisolasi dari kelompok sosial lainnya.

Sebagai sebuah kesadaran intelektual antara subjek kolektif dengan lingkungannya, pandangan dunia tidak terlahir dengan tiba-tiba. Transformasi mentalitas yang lama secara perlahan-lahan dan bertahap diperlukan demi terbangunnya mentalitas yang baru dan teratasinya mentalitas yang lama (Faruk, 2010:67). Transformasi mentalitas yang dimaksud di atas merupakan sebuah penyesuaian norma, gaya hidup, bahkan religiusitas sebuah kelas sosial dengan sesuatu yang baru sebagai akibat dari interaksi dengan kelas sosial lainnya. Hal ini dimungkinkan terjadi dalam sebuah masyarakat yang heterogen dengan pandangan dunia yang berbeda di setiap kelas sosialnya. Masyarakat multikultur cenderung mengalami transformasi mentalitas sebagai bagian sebuah proses adaptasi di tengah interaksi dalam kehidupan sosialnya.

Pandangan dunia terepresntasikan dalam karya sastra melalui pengarang. Goldmannn mengungkapkan bahwa karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner karena dalam usahanya mengekspresikan pandangan dunia, pengarang menciptakan semesta tokoh- tokoh, objek-objek, dan relasi-relasi secara imajiner (dalam Faruk, 2010: 71). Pandangan dunia diaanggap memicu subjek untuk mengarang. Pandangan dunia juga dianggap sebagai salah satu

(37)

ciri keberhasilan suatu karya. Dengan mengetahui pandangan dunia dalam suatu karya, maka akan diketahui kecenderungan suatu masyarakat serta sistem ideologi yang mendasari perilaku sosial sehari-hari (Ratna, 2006: 126). Oleh karena itulah, pengarang yang peka terhadap lingkungan serta situasi sosial di sekitarnya akan dengan mudah mengapresiasikan pandangan dunia sosial ke dalam karyanya.

Goldmann menyebutkan bahwa pandangan dunia menentukan struktur karya sastra. Kaya sastra yang besar adalah karya sastra yang memiliki keterpaduan internal sehingga karya tersebut mengekspresikan kondisi manusia yang universal dan mendasar. Karya sastra yang besar akan mengangkat masalah yang besar pula. Dalam hal ini tentu pengarangnya pun pengarang yang besar karena hanya pribadi yang luar biasa yang mampu mengidentifikasi dirinya dengan kecenderungan-kecenderungan sosial yang penting pada zamannya sehingga ia bisa mencapai ekspresi yang padu tentang kenyataan (Damono, 1984: 42). Setiap pengarang akan memiliki cara yang berbeda dalam mengungkapkan pandangan dunia di dalam karyanya (Ratna, 2006: 126).

Hal itu terjadi karena pengarang sebagai individu sosial dibentuk dan dikondisikan oleh lingkungannya. Sebagai anggota masyarakat, partisipasi pengarang tidak hanya sebatas partisipasi kreatif, tetapi meliputi keseluruhan kehidupan praktis masyarakat sosialnya.

Pandangan dunia yang terepresentasikan dalam karyanya adalah bentuk akumulasi ide serta pengalaman yang diperoleh dari aktivitas praktis dalam lingkungannya. Ratna mengungkapkan bahwa isi karya sastra mengisyaratkan relevansi dunia pengarang dalam struktur naratif, yang secara jelas dapat diidentifikasi melalui eksistensi semesta tokoh dan kejadian. Manifestasi isi dapat menunjukkan kualitas dan kuantitas pengarang dalam bidang kreatif, sekaligus sebagai kualitas transformatif realitas sosial ke dalam realitas imajinatif (2003: 196).

(38)

Melalui kualitas pandangan dunia inilah karya sastra menunjukkan nilai-nilainya, sekaligus memperoleh artinya bagi masyarakat. Fungsi sastra sebagai sarana pendidik akan tercapai dengan baik. Masyarakat dapat belajar dengan membaca, memahami, serta menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra lewat pemahaman terhadap pandangan dunia.

2.3 Landasan Teori

Penelitian ini menggunakan teori sosiologi sastra yang dijadikan teori utama untuk menganalisis tiga prosa karya Djelantik Santha, yaitu Sembalun Rinjani, Gita Ning Nusa Alit, dan Suryak Suwung Mangmung. Sebagai teori utama, sosiologi sastra menjadi teori utama dalam penelitian ini. Teori konflik dan integrasi juga digunakan sebagai teori pembantu dalam proses penelitian. Kedua teori yang digunakan untuk membedah ketiga karya Djelantik Santha diuraikan satu per satu sebagai berikut.

3.3.1 Teori Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra muncul sebagai suatu bentuk dobrakan atas stagnasi yang terjadi pada strukturalisme murni. Strukturalisme klasik atau strukturalisme murni hanya berkiblat pada karya sastra semata, karya sebagai sesuatu yang otonom lepas dari latar belakang sejarah atau lingkungan sosialnya (Teeuw, 1984:152). Karya sastra bukan semata-mata kualitas otonom yang terdiri atas unsur-unsur intrinsik yang berkolerasi saja, tetapi lebih dari itu karya sastra juga merupakan dokumen sosial dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat. Karya sastra sendiri tidak lahir dari sebuah kekosongan. Karya sastra lahir dari kemajemukan dan kompleksitas unsur budaya dalam suatu masyarakat. Untuk itulah sosiologi hadir sebagai ilmu yang mempelajari hubungan karya sastra dan masyarakatnya. Kemajemukan dan kompleksitas

Referensi

Dokumen terkait

Latar sosial menyaran kepada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya sastra fiksi.. Tata cara kehidupan

Menurut Arzia (2011: 62) nilai sosial adalah sebuah konsep abstrak dalam diri manusia pada sebuah masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk,

Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana struktur teks dalam trilogi Negeri 5 Menara, (2) bagaimana pandangan dunia humanisme religius

Mengetahui pandangan dunia pengarang mengenai masalah sosial yang dialami oleh masyarakat Jepang pasca Perang Dunia II dalam novel Saga no Gabai Baachan karya

Nilai moral yang ditampilkan pengarang merupakan refleksi kehidupan masyarakat pada sekitar lingkungan pengarang berada sehingga ada keterkaitan perasaan sosial, kekuatan sosial,

hakikat manusia menurut pandangan islam, maka ia telah berada dalam dimensi kehidupan yang sejahtera baik di dunia maupun di akhirat, sebab dimensi kehidupan

Masalah kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial yang bersifat global. Hampir di seluruh belahan dunia, kita akan menemukan kemiskinan sebagai masalah sosial

Pertama, menemukan pandangan dunia pengarang tentang nilai kesalehan sosial dalam kerangka etika profetik yang dimunculkan dari struktur cerita novel-novel karya Ahmad Tohari.. Kedua,