TINJAUAN TEORITIS
D. Unsur-Unsur Komunikasi
Dalam suatu proses komunikasi dibutuhkan sebuah unsur-unsur (komponen) komunikasi, dimana dibutuhkan paling sedikit tiga unsur, artinya bagian-bagian terpenting yang harus ada pada suatu kesatuan atau keseluruhan proses komunikasi. Komunikasi dapat dikatakan efektif atau berhasil apabila diantara komunikator dan komunikan terdapat suatu pengertian yang sama mengenai pesan . unsur komunikasi tidak hanya komunikator, komunikan dan pesan tetapi terdapat unsur-unsur lain yang juga penting dalam proses komunikasi yaitu :
1
2 3
1. Komunikator
Komunikator disebut juga oleh sebagian orang sebagai pengirim pesan, dianggap sebagai pencipta pesan dan menjadi titik mulai proses pengiriman pesan.28
Komunikator yaitu orang yang menyampaikan pesan berfungsi sebagai perekam, yakni orang yang merekam informasi yang kemudian akan disampaikan
kepada orang lain.29 Syarat yang diperlukan
komunikator, diantaranya :30
a. Memiliki kredibilitas yang tinggi bagi
komunikannya
b. Kemampuan berkomunikasi
c. Mempunyai pengetahuan yang luas d. Sikap
e. Memiliki daya tarik, dalam arti memiliki
kemampuan untuk melakukan perubahan sikap atau
perubahan pengetahuan pada diri komunikan.31
Menghadapi komunikan, dibutuhkan sikap empatik terhadap prilaku orang yang tengah
28 Liliweri, Komunikasi Antarpribadi, … 147
29
Onong Uchyana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1999), 59.
30 Onong Uchyana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek,
…, 6.
31
Effendy, Onong Uchyana, Ilmu Komunikasi Teori dan
berkomunikasi. Karena itu perlu diketahui apakah komunikasi berlangsung dalam situasi marah, sedih, bingung atau riang.
2. Pesan
Pesan yaitu sinyal atau kombinasi tanda yang berfungsi sebagai stimulus (pemicu) bagi penerima tanda.32 Agar dapat mengubah sikap dan tingkah laku komunikan, maka pesan harus memiliki inti, didukung oleh lambang dan berusaha mempengaruhi atau mengubah sikap dan tingkah laku komunikannya. Penyampaian pesan dapat dilakukan secara lisan atau melalui media.
3. Media
Media atau saluran yaitu merupakan perangkat yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari
komunikator.33 Media yang dimaksud adalah alat
komunikasi, gaya bicara, gerak anggota tubuh, sentuhan, radio, televisi, surat kabar, buku dan gambar. Media dipilih untuk menghantarkan pesannya agar sampai ke komunikan. Yang perlu diperhatikan adalah pemilihan media yang tepat karena bisa saja sebuah media lebih efisien digunakan untuk maksud tertentu
32 Mufid, Muhamad. 2009. “Etika dan Filsafat
Komunikasi”….56.
33
Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial. Yogyakarta: Andi Yogyakarta), 76.
tetapi untuk maksud yang lain. 4. Komunikan
Komunikan adalah seseorang yang menerima
pesan dari komunikator kemudian komunikan
menganalisis dan menginterpretasikan isi pesan yang
diterimanya.34 Dalam hal ini perlu diperhatikan karena
penerima pesan ini berbeda dalam banyak hal
misalnya, pengalamaannya, kebudayaanya,
pengetahuannya dan usianya. Akan hal itu komunikator tidak bisa menggunakan cara yang sama dalam berkomunikasi kepada anak-anak dan berkomunikasi dengan orang dewasa. Jadi, dalam berkomunikasi siapa pendengarnya perlu dipertimbangkan. Dalam proses komunikasi, utamanya dalam tataran antar pribadi, peran komunikator dan komunikan bersifat dinamis, saling berganti dan menimbulkan komunikasi dua arah.
E. Ibadah
1. Pengertian Ibadah
Secara etimologis diambil dari kata „ abada, ya‟budu, „abdan, fahuwa „aabidun. „Abid, berarti hamba atau budak, yakni seseorang yang tidak memiliki apa-apa, harta dirinya sendiri milik tuannya, sehingga
34
Muhammad Arni, Komunikasi Organisasi. (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 18.
karenanya seluruh aktifitas hidup hamba hanya untuk memperoleh keridhaan tuannya dan menghindarkan murkanya.35
Pengertian ibadah secara terminologi adalah segala perbuatan baik yang disukai dan diridhai oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuaan,
terang-terangan maupun tersembunyi dalam rangka
mengagungkan Allah dan mengharapkan pahalanya.36
Firman Allah SWT dalam QS. Al-Zariyat : 56 yang berbunyi :
ِنوُدُبْعَ يِل َّلَِّإ َسنِْلْٱَو َّنِْلْٱ ُتْقَلَخ اَمَو
Artinya : dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
2. Ruang Lingkup Ibadah
Ruang lingkup ibadah di dalam Islam amat luas sekali. Setiap apa yang dilakukan baik yang bersangkut dengan individu maupun dengan masyarakat adalah ibadah menurut Islam asalkan memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut adalah :
35 Amir Syarifudin. Garis-Garis Besar Fiqih. (Jakarta: Kencana, 2003). 17.
36
Yusuf Al-Qardhawi. Ibadah dalam Islam. (Surabaya: Biru Ilmu, 1988). 37.
a. Amalan yang dikerjakan hendaklah diakui Islam, bersesuaian dengan hukum-hukum syara‟. Adapun amalan-amalan yang diingkari oleh Islam dan ada hubungan dengan yang haram dan maksiat, maka tidak dijadikan sebagai amalan ibadah.
b. Dilakukan dengan niat yang baik bagi tujuan untuk
memelihara kehormatan diri, menyenangkan
keluarga, memberi manfaat kepada umat dan memakmurkan bumi sebagaimana yang dianjurkan oleh Allah.
c. Amalan dibuat dengan seindah-indahnya untuk menepati yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW. d. Ketika membuat amalan tersebut hendaklah sentiasa
menurut hukum-hukum syara‟ dan ketentuan batasnya, tidak menzalimi orang lain, tidak khianat, tidak menipu dan tidak menindas atau merampas hak orang.
e. Tidak melalaikan ibadah-ibadah khusus seperti salat, zakat dan sebagainya dalam melaksanakan ibadah-ibadah umum. Oleh itu ruang lingkup ibadah-ibadah dalam Islam sangat luas. Ia adalah seluas hidup seseorang Muslim dan kesanggupan serta kekuatannya untuk melakukan apa saja amal yang diridhai oleh Allah
dalam jangka waktu tersebut.37 3. Hakikat dan Tujuan Ibadah
Hakikat ibadah menurut Imam Ibnu Taimiyah adalah sebuah terminologi integral yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah baik berupa perbuatan maupun ucapan yang tampak maupun yang tersembunyi. Mengacu kepada pendapat ini dapat difahami bahwa cakupan ibadah sangat luas. Ibadah mencakup semua sektor kehidupan manusia. Dari sini kita harus memahami bahwa setiap aktivitas kita di dunia ini tidak boleh terlepas dari pemahaman kita akan balasan Allah kelak. Sebab sekecil apapun aktivitas itu akan berimplikasi terhadap kehidupan akhirat.38
4. Jenis Ibadah
Ibadah dalam Islam terbagi menjadi dua jenis yang memiliki perbedaan baik dalam hal bentuk dan sifatnya yaitu :
a. Ibadah Mahdhah, artinya penghambaan yang
murni hanya merupakan hubungan antara hamba dengan Allah secara langsung. Ibadah bentuk ini memiliki 4 prinsip:
37 M. Quraisy Syihab. M. Quraisy Syihab Menjawab 1001 Soal
Keislaman Yang Patut Anda Ketahui. (Jakarta: Lentera Hati, 2008). 3.
38
Zakiyah Daradjat. Ilmu Fiqih. (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995). 5.
1) Keberadaannya harus berdasarkan adanya
dalil perintah, baik dari al-Qur‟an
maupun al-Sunnah, jadi merupakan
otoritas wahyu, tidak boleh ditetapkan oleh akal atau logika keberadaannya.
2) Tata caranya harus berpola kepada contoh Rasulullah SAW salah satu tujuan diutus rasul oleh Allah adalah untuk memberi contoh.
3) Bersifat di luar jangkauan akal, artinya ibadah bentuk ini bukan ukuran logika, karena bukan wilayah akal, melainkan wilayah wahyu, akal hanya berfungsi
memahami rahasia di baliknya yang
disebut hikmah tasyri‟. Shalat, adzan,
tilawatul Quran, dan ibadah mahdhah lainnya, keabsahannnya bukan ditentukan
oleh mengerti atau tidak, melainkan
ditentukan apakah sesuai dengan ketentuan syari‟at, atau tidak. Atas dasar ini, maka ditetapkan oleh syarat dan rukun yang ketat. 4) Azasnya adalah ketaaatan dan kepatuhan.
Hamba wajib meyakini bahwa apa yang diperintahkan Allah kepadanya, semata-mata
untuk kepentingan dan kebahagiaan hamba, bukan untuk Allah, dan salah satu misi utama diutus Rasul adalah untuk dipatuhi. 39 Jenis ibadah yang termasuk mahdhah, adalah :
a) Shalat
Sholat berasal dari bahasa arab yang artinnya do‟a. Sedangkan menurut isltilah sholat adalah ibadah yang dimulai dengan bacaan takbiratul ikhrom dan diakhiri dengan mengucap salam dengan syarat dan ketentuan tertentu. Segala perkataan dan perbuatan yang termasuk rukun sholat mempunyai arti dan makna
tertentu yang bertujuan untuk
mendekatkan hamba dengan
Penciptannya. 40
Dalil tujuan pelaksanaan sholat terdapat dalam QS. Ta-Ha 20: Ayat 14 yang tertera sebagai berikut :
َاَو
ِمِق
َةوٰلَّصلا
ْيِرْكِذِل
يِْنَّنِا
اَنَا
ُهّٰللا
يَلَّ
َهٰلِا
يَّلَِّا
اَنَا
ِْنْدُبْعاَف
Artinya : Sesungguhnya aku ini adalah
39 Zakiyah Daradjat. Ilmu Fiqih. (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995). 5.
40
M. Quraisy Syihab. M. Quraisy Syihab Menjawab 1001 Soal
Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.
Sholat menjadi dasar dan
pedoman dari setiap aktifitas kehidupan manusia. Karena sholat adalah amalan yang pertamakali akan dihisap di akhirat kelak. Oleh karena itu sholat merupakan ibadah yang mengatur segala aktifitas baik itu diperintahkan maupun dilarang Tuhan. Aktifitas manusia berhubungan
dengan Allah sebagai Tuhan
penciptannya yang disebut habluminallah sedangkan aktifitas yang berhubungan dengan manusia disebut habluminannas. 41
Tujuan Allah menciptakan kita adalah untuk beribadah dengan amal kebaikan dan menyembah kepadannya. Menyembah disini berarti beribadah dan salah satunnya adalah sholat. Kita hidup didunia ini hanya sementara dan dari kehidupan di dunia inilah penentu
kehidupan kita selanjutnya yaitu
kehidupan akhirat yang merupakan kehidupan kekal selamannya. Amalan perbuatan kita yang akan menentukan kita akan masuk surga ataupun neraka yang menjadi tujuan hidup manusia sesungguhnya.
b) Wudhu
Secara bahasa wudhu berasal dari kata wudho-a. Artinya adalah bersih,
baik, atau murni. Namun, jika
didefinisikan secara Fiqih, Wudhu adalah menggunakan air pada anggota tubuh
tertentu dan dibuka dengan niat.
Pengertian ini dirasa cukup tanpa perlu ditambah apapun atau lebih dipanjangkan lagi. 42
Wudhu adalah bagian dari
bersuci. Bersuci sendiri ada yang dinamakan Mandi, Mensucikan Najis, juga Istinjak. Masing-masing cara bersuci tersebut memiliki penyebab berbeda-beda. Dalam mandi wajib, misalnya, penyebabnya adalah keluar mani atau
karena baru suci dari Haid. Istinjak, misalnya, merupakan cara bersuci dengan objek kelamin dan dubur. Tentu saja, penyebabnya adalah keluarnya sesuatu dari dua hal tersebut.43
c) Mandi wajib
Bagi seorang muslim, mandi wajib
atau mandi junub adalah proses
membersihkan diri dari hadas besar. Cara
menghilangkan hadas besar adalah
dengan mandi wajib, yakni dengan membasuh seluruh tubuh mulai dari
puncak kepala hingga ujung kaki. 44
d) Membaca Al-Qur‟an
e) Puasa, yaitu puasa adalah menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual suami istri dan segala yang membatalkan sejak dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat karena Allah
SWT.45
43
Khalifah Abdul Hakim. Hidup Yang Islam. (Jakarta: Rajawali, 2013). 67
44 Zakiyah Daradjat. Ilmu Fiqih. …7.
45
M. Quraisy Syihab. M. Quraisy Syihab Menjawab 1001 Soal
f) Zakat dan Qurban g) Haji dan umrah
h) Penyelenggaraan jenazah
b. Ibadah Ghairu Mahdhah (tidak murni semata hubungan dengan Allah) yaitu ibadah yang di samping sebagai hubungan hamba dengan Allah juga merupakan hubungan atau interaksi antara hamba dengan makhluk lainnya. 46 Prinsip-prinsip dalam ibadah ini, ada 4 :
a) Keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang. Selama Allah dan Rasul-Nya tidak melarang maka ibadah bentuk ini boleh diselenggarakan. b) Tata laksananya tidak perlu berpola
kepada contoh Rasul, karenanya dalam ibadah bentuk ini tidak dikenal istilah bid‟ah atau jika ada yang menyebutnya,
semua yang tidak dikerjakan
rasul maka bid‟ahnya disebut bid‟ah hasanah, sedangkan dalam ibadah mahdhah disebut bid‟ah dhalalah.
46
M. Quraisy Syihab. M. Quraisy Syihab Menjawab 1001 Soal
c) Bersifat rasional, ibadah bentuk ini baik-buruknya, atau untung-ruginya, manfaat atau madharatnya, dapat ditentukan oleh akal atau logika. Sehingga jika menurut logika sehat, buruk, merugikan, dan madharat, maka tidak boleh dilaksanakan.
d) Azasnya Manfaat, selama itu bermanfaat,
maka boleh dilakukan. 47