DOKUMENTASI PENELITIAN
HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.2 Hasil Penelitian
4.2.4 Upaya Perilaku BAB Di Jamban Dan Pemeliharaan Jamban
Tabel 4.10 Distribusi Upaya Perilaku BAB Di Jamban Dan Pemeliharaan Jamban di Desa Pangaribuan Kecamatan Siempat Nempu Hulu Kabupaten Dairi Tahun 2016
No Pertanyaan n %
1 Sudah berapa lama bapak/ibu menggunakan jamban?
<2 tahun 26 34,7
≥2 tahun 49 65,3
2 Apakah bapak/ibu memiliki jamban setelah adanya gerakan STBM
Ya 25 33,3
Tidak 50 66,7
3 Alasan bapak/ibu mendirikan jamban:
karena terpicu dengan gerakan STBM 25 33,3
Karena kemauan diri sendiri tanpa ada dorongan dari
gerakan STBM 50 66,7
4 Dimana bapak/ibu biasa buang air besar sebelum menggunakan jamban? kebun/ladang 41 54,7 Sawah 2 2,7 Sungai 2 2,7 kamar-mandi umum 18 24,0 Menumpang 12 16,0
5 Apa bapak?ibu merasa nyaman saat menggunakan jamban dibanding sebelum memakai
Nyaman 51 68,0
tidak nyaman 24 32,0
6 Apa keuntungan dan kerugian setelah memiliki jamban?
Keuntungan
tidak menumpang di jamban tetangga 13 17,3
bebas dari penyakit seperti diare 24 32,0
lingkungan bersih dan tidak bau 32 42,7
tidak perlu lagi jauh-jauh ketika mau BAB 6 8,0 Kerugian
menimbulkan bau yang tidak sedap 41 54,7
lantainya licin 13 17,3
tidak ada kerugian 21 28,0
7 Seberapa pentingkah kebersihan jamban untuk anda?
tidak penting 27 36,0
Penting 48 64,0
8 Apakah upaya yang dilakukan agar masyarakat desa ini tetap bebas dari buang air besar?
membuat dan menjaga kamar mandi umum 18 24,0
membuat jamban masing-masing 57 76,0
b. Dari Perangkat Desa
tidak ada 10 13,3
memberikan pengarahan untuk membuat jamban di
rumah masing-masing 65 86,7
c. Puskesmas Kilometer 11
tidak ada 2 2,7
Penyuluhan 59 78,7
pemeriksaan jamban di masyarakat 14 18,7
d. Dari Pemerintah Kabupaten Dairi
tidak ada 32 42,7
membuat peraturan daerah 43 57,3
Total 75 100,0
Berdasarkam tabel 4.10 upaya perilaku BAB di jamban dan pemeliharaan jamban dilihat dari 8 pertanyaan yang diberikan kepada responden meliputi waktu memiliki jamban keluarga, pengaruh program STBM, Alasan memiliki jamban keluarga, kebiasaan BAB sebelum memilki jamban, kenyaman saat BAB di jamban, keuntungan dan kerugian memiliki jamban, pentingnya pemeliharaan jamban dan upaya yang dilakukan untuk menjadi desa yang bebas dari buang air besar sembarangan. Waktu memiliki jamban keluarga yang kurang dari 2 tahun sebanyak 26 jamban (34,7%) dan dari yang mendirikan jamban kurang dari 2 tahun ini sebanyak 25 jamban dibangun karena adanya program STBM dan masyarakat terpicu oleh program ini untuk mendirikan jamban. „;kebiasaan BAB masyarakat sebelum memilki jamban lebih banyak BAB di ladang sebanyak 41 KK (54,7%) dan sebnyak 24% BAB di kamar mandi umum. Kenyaman saat BAB di jamban 51 responden (68,0%) menjawab lebih nyaman di jamban dan 24 responden ( 32,0%) tidak nyaman BAB di jamban.
Keuntungan setelah memiliki jamban: tidak menumpang di jamban tetangga (17,3%), bebas dari penyakit seperti diare (32,0%), lingkungan bersih dan tidak bau (42,7%), tidak perlu lagi jauh-jauh ketika mau BAB (8,0%).
Kerugian stelah memiliki jamban: menimbulkan bau yang tidak sedap (54,7%), lantainya licin (17,3%). Pentingnya pemeliharann jamban sebanyak 27 responden (36,0%) menjawab tidak penting dan sebanyak 48 responden (64,0%) menjawab penting untuk pemeliharaan jamban.
Upaya yang dilakukan agar desa pangaribuan bebas dari buang air besar sembarangan dari masyarakat Desa Pangaribuan : membuat dan menjaga kamar mandi umum (24,0%) dan membuat jamban masing-masing (76,0%). Dari Perangkat Desa yaitu memberikan pengarahan untuk membuat jamban di rumah masing-masing (86,7%). Puskesmas Kilometer 11 yaitu penyuluhan (78,7%) dan pemeriksaan jamban di masyarakat (18,7%). Dari Pemerintah Kabupaten Dairi yaitu membuat peraturan daerah (57,3%).
BAB V PEMBAHASAN 5.1 Karakteristik Responden
Penelitian ini merupakan penelitian yang pertama yang dilaksanakan di Desa Pangaribuan Kecamatan Siempat Nempu Hulu yang merupakan tempat pelaksanaan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) pilar pertama Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) di Kabupaten Dairi. Kecamatan Siempat Nempu Hulu, Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera Utara merupakan salah satu kecamatan yang menjalankan program STBM. Pelaksanaan STBM di Dairi sejak bulan Juli 2014. Pada awal bulan Desember 2014 telah dilaksanakan verifikasi di satu kecamatan siempat Nempu hulu dan dari hasil verifikasi tersebut dinyatakan bahwa Kecamatan Siempat Nempu Hulu sudah 100% bebas dari Buang Air Besar Sembarangan (Kecamatan SBS) (Dinkes Kab.Dairi, 2015)
Hasil penelitian yang dilaksanakan terhadap 75 KK yang dilakukan dengan cara wawancara dan observasi bahwa tingkat pendidikan dari responden paling tinggi tamat SMA (37,1%). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden sudah cukup baik tentu hal ini sangat memudahkan bagi petugas kesehatan, kader, dan kepala desa untuk memberikan penyuluhan dan mengajak berpartisipasi dalam pelaksanaan desa yang bebas buang air besar sembarangan (SBS) karena responden lebih mudah memahami tujuan pelaksanaan Progam STBM tersebut. Masyarakat yang mempunyai pendidikan menengah akan lebih memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang dampak yang akan
tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi pula tingkat pemahaman terhadap suatu masalah. Pendidikan merupakan suatu proses atau kegiatan untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan individu atau masyarakat, dan bertujuan untuk bertahan hidup termasuk memenuhi kebutuhan sandangnya (Azwar, 2007).
Tingkat pendidikan juga dapat menentukan daya nalar seseorang yang lebih baik, sehingga dapat menyerap informasi-informasi dan dapat berfikir secara rasional dalam menanggapi informasi dan masalah yang dapat ditimbulkan dari kebiasaan buang air besar sembarangan. Menurut Widyastuti (2005) yang dikutip dari Elisabeth (2008), orang yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi lebih berorientasi pada tindakan preventif, mengetahui lebih banyak tentang masalah kesehatan dan memiliki status kesehatan yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan pendapat Budiarja (2001) yang dikutip dari Elisabeth (2008), pendidikan yang rendah membuat rendahnya partisipasi di bidang kesehatan. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang dampak yang dapat ditimbulkan dari kebiasaan buang air besar sembarangan menjadikan masyarakat masih melakukan kebiasaan buang air besar sembarangan.
Hasil penelitian juga menunjukkan masyarakat mempunyai aktivitas/pekerjaan sebagai petani (43,9%) dan Pelajar (40,6%). Bekerja sebagai petani bukan merupakan pekerjaan yang memiliki penghasilan yang tetap, akan tetapi kesadaran akan pentingnya untuk memulai hidup sehat dengan meningkatkan sarana sanitasi dasar untuk mengurangi perilaku buang air besar sembarangan telah dimiliki masyarakat Desa Pangaribuan. Semakin tinggi status
pekerjaan ataupun sosial ekonominya maka akan semkain tinggi niat untuk berperilaku buang air besar di jamban dan melakukan pemeliharaan jamban. Menurut teori Maslow (1943) yang dikutip oleh Malayu (2002), jika seseorang yang ingin memiliki kebutuhan rasa aman dan kenyamanan maka akan melakukan berbagai upaya untuk mencapainya, salah satu faktornya adalah kecukupan penghasilan, dan ini hanya diperoleh jika mempunyai suatu pekerjaan yang layak.
Hasil penelitian dari sampel 75 KK yang di teliti memiliki frekuensi BAB yang berbeda-beda dalam seminggu ada yang memiliki frekuensi BAB kurang dari 7 kali (15,2%), dan ada frekuensi BAB perminggu di rata-ratakan ada sebanyak 7 kali (58,1%) dalam seminggu. Frekuensi BAB yang normal tidak sama pada setiap orang. Rata-rata orang BAB satu kali sehari, tapi frekuensi tiga kali sehari atau tiga hari sekali juga masih terbilang normal.
Hasil penelitian jumlah jamban dalam rumah dengan jumlah anggota keluarga juga harus seimbang dimana dari hasil penelitian yang dilakukan jumlah anggota keluarga ada yang 6 sampai 10 orang dengan jumlah jamban di dalam rumah hanya 1 jamban. Tentu hal ini tidak memiliki perbandingan yang baik dan dapat menyebabkan jamban menjadi bau dan sulit untuk dibersihkan.