BAB II TINJAUAN LITERATUR
F. Usaha Perbaikan Naskah
Untuk memperbaiki koleksi bahan pustaka yang rusak diperlukan suatu usaha atau tindakan perbaikan, usaha tersebut diantaranya sebagai berikut :
1. Menambal dan Menyambung Kertas
Salah satu usaha untuk memperbaiki bahan pustaka yang rusak yaitu menambal dan menyambung kertas. Kegiatan ini bermanfaat untuk mengisi lubang-lubang, dan bagian-bagian yang dihilangkan pada kertas atau menyatukan kembali kertas yang robek akibat bermacam-macam faktor perusak.46 Kerusakan tersebut dapat diperbaiki denganmenambalnya. Ada dua jenis penambalan bahan pustaka diantaranya, yaitu: penambalan kertas karena berlubang dan penambalan kertas karena robek memanjang.
Kertas berlubang yang disebabkan oleh larva kutu buku, jika terlalu parah dapat dilakukan dengan menutup lubang-lubang tersebut dengan bubur kertas. Sedangkan penambalan kertas yang robek memanjang dapat dilakukan dengan cara penambalan menggunakan kertas Jepang (sejenis kertas untuk laminasi), dan penambalan dengan kertas tisu (heat tissuepaper). Menambal dengan kertas Jepang dilakukan jika ada halaman bukuyang robek, baik robeknya lurus maupun tidak lurus. Sedangkanpenambalan dengan kertas tisu
(heat tissue paper), apabila kertas yang diperbaiki mengkilap. Kertas tisu ini tampilannya sudah “nerawang” ada lemnya yang hanya dapat menempel jika dipanasi.47 Kertas tisu (heat tissue paper) ini sudah tidak digunakan lagi, karena mengandung keasaman yang sangat tinggi. Kertas yang umumnya
46
MuhammadinRazak, Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip (Jakarta: Program Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip, 1992), h. 50
47
Martoatmodjo Karmidi, Pelestarian Bahan Pustaka ( Jakarta: Universitas Terbuka, 1999), h.53
sekarang digunakan adalah kertas tisu washi (dari Jepang) atau kertas buatan tangan (handmade paper), dari Indonesia daluang yang kini sudah dapat diproduksi dalam negri.
2. Laminasi
Laminasi adalah suatu kegiatan melapisi bahan pustaka dengan kertas khusus, agar bahan pustaka menjadi lebih awet.48 Proses keasaman terjadi pada kertas dapat dihentikan oleh pelapis kertas yang terdiri dari film oplas kertas cromton atau kertas pelapis lainnya. Pelapis kertas ini menahan polusi debu yang menempel di bahan pustaka, sehingga tidak beroksidasi dengan pollutan.
Biasanya kertas atau dokumen yang dilaminasi adalah kertas yang sudah tua, berwarna kuning, berwarna cokelat, berbau apek, kotor, berdebu.49 Oleh karena itu laminasi sangatlah penting guna melindungi kertas dari kerusakan yang lebih parah. Beberapa jenis laminasi, yaitu teknik laminasi dengan tangan biasa disebut kath palia process, laminasi dengan mesin dengan cara panas, laminasi dengan manual.50 Dalam melaminasi kertas perlu ketelitian dan kehati-hatian yang sangat extra dan tidak boleh sembarangan, harus dipikirkan bagaimana caranya agar kertas tidak menjadi rusak oleh bahan pelapis.
48Ibid., h. 111 49
Muhammadin Razak, Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip (Jakarta: Program Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip, 1992), h.54
50
Martoatmodjo Karmidi, Pelestarian Bahan Pustaka (Jakarta: Universitas Terbuka, 1999), h. 112
3. Enkapsulasi
Salah satu usaha perbaikan bahan pustaka selain laminasi ialah enkapsulasi.51 Enkapsulasi adalah cara melindungi kertas dari kerusakan yang bersifat fisik. Pada enkapsulasi setiap lembar kertas diapit dengan cara menempatkannya di antara dua lembar plastik yang transparan, sehingga tulisannya tetap dapat dibaca dari luar.52 Jenis-jenis kertas yang akan dienkapsulasi ini adalah kertas lembaran seperti naskah kuno, peta, bahan cetakan atau poster. Peralatan dan bahan yang dibutuhkan dalam proses ini adalah guntung kecil atau besar, alas dari plastic tebal yang dilengkapi dengan garis-garis yang berpotongan tegak lurus untuk mempermudah pekerjaan, sikat halus film plastik polyester, pisau, pemotong (cutter), double sided tape 3M, pemberat, kertas, penyerap bebas asam dan lembaran kaca.53
4. Deasidifikasi
Deasidifikasi adalah kegiatan pelestarian bahan pustaka dengan cara menghentikan proses keasaman yang terdapat pada kertas. Dalam proses pembuatan kertas, ada campuran zat kimia yang apabila zat tersebut terkena udara luar, membuat kertas menjadi asam.54
Proses deasidifikasi ini merupakan cara yang hanya dapat menghilangkan asam yang sudah ada dan melindungi kertas dari kontaminasi asam dari berbagai sumber, deasidifikasi tidak dapat
51
Martoatmodjo Karmidi, Pelestarian Bahan Pustaka (Jakarta: Universitas Terbuka, 1993), h.113
52
Muhammadin Razak, Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip (Jakarta: Program Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip, 1999), h. 56
53Ibid., h. 58
54
Martoatmodjo Karmidi, Pelestarian Bahan Pustaka (Jakarta: Universitas Terbuka, 1999), h. 104
memperkuat kertas yang sudah rapuh.Alat-alat yang disebutkan di atas diperlukan untuk menentukan sifat asam atau basa suatu bahan, dengan memakai ukuran derajat keasaman yang disingkat pH. Asam mempunyai pH antara 0-7 dan basa antara 7-14, pH7 adalah normal atau netral. Kalau pHkertas lebih dari 7, berarti kertas tersebut sudah bersifat asam, jika pH kertas berada antara 4-5, ini menunjukkan kondisi kertas itu sudah parah. Untuk mengetahui derajat keasaman pada suatu kertas, satu titik pada permukaan kertas dibasahi dengan air suling, kemudian pHnya diukur dengan pH meter atau kertas pH. Dalam melakukan deasidifikasi, kita harus hati-hati karena deasidifikasi terlalu besar akan menyebabkan kertas menjadi rusak.55
5. Alih Media/Bentuk
Dalam mengatasi kekurangan tempat atau ruangan di perpustakaan dan juga melestarikan informasi dari buku-buku yang sudah lapuk, maka diperlukan alih bentuk dokumen. Cara perawatan dengan alih bentuk yaitu pada buku-buku yang telah rapuh. Dan buku itu amat berharga, buku itu hanya ada satu kopi, sedangkan dipasaran sudah tidak mungkin didapat seperti Undang-Undang Dasar Naskah asli, buku-buku langka, dan lain-lain yang bernilai sejarah. Maka dengan menyelamatkannya dengan cara alih bentuk.56
Pelestarian koleksi perpustakaan melalui pengalihan ke dalam bentuk mikrofilm ataupun CD bertujuan selain untuk penyelamatan,
55
Muhammadin Razak, Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip (Jakarta: Program Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip, 1992), h. 43
56
Muhamad Djuhro, Pelestarian Bahan Pustaka (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2002), h. 16
pengamatan, juga ternyata dapat menghemat tempat, waktu dan tenaga, menghemat biaya pemeliharaan dan penyebaran, serta mempermudah pencarian kembali.57 Alih bentuk yang terkenal adalah bentuk mikro atau lazim disebut dengan mikrofilm. Mikrofilm ini merupakan bentuk lain dari bahan tercetak seperti buku, majalah atau surat kabar. Bentuk mikro dapat berupa gulungan mikrofilm, mikrofis, aperture card, ultrafis, dan mikroopaque.
6. Penjilidan
Untuk buku-buku yang telah mengalami kerusakan, perlu segera dilakukan penjilidan ulang, agar nilai informasi yang ada didalamnya tidak hilang, sehingga buku yang telah diperbaiki dengan penjilidan ulang tersebut dapat dimanfaatkan kembali oleh pengguna perpustakaan. Pada dasarnya penjilidan merupakan pekerjaan menghimpun menggabungkan lembaran-lembaran yang lepas menjadi satu, yang dilindungi ban atau sampul.58 Agar penjilidan dapat awet terhadap penggunaan yang tinggi di perpustakaan, diperlukan struktur penjilidan yang kokoh dan kuat agar bahan pustaka tidak mudah cepat rusak. Oleh karena itu untuk kepentingan bahan pustaka selain struktur jilidan yang kuat juga diperlukan bahan-bahan jilidan yang berkualitas baik atau permanen.
57Tjetjep S. Surilaga, dkk, “Pelestarian Koleksi Perpustakaan”, Jurnal Perpustakaan Pertanian, Vol II no. 2 (2002): 56
58
Martoadmodjo Karmidi, Pelestarian Bahan Pustaka (Jakarta: Universitas Terbuka, 1993), h. 123