BAB III METODOLOGI PENELITIAN
F. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Instrumen yang akan digunakan untuk mengumpulkan data menggunakan
instrumen tes prestasi belajar dan angket motivasi belajar peserta didik yang akan
disusun dalam bentuk soal pilihan ganda dengan lima alternatif jawaban.
1. Menyusun kisi-kisi intrumen
Kisi-kisi yang akan dibuat meliputi kisi-kisi pada materi Persamaan
Kuadrat untuk instrumen tes prestasi belajar, sedangkan kisi-kisi motivasi
belajar matematika peserta didik untuk angket motivasi belajar matematika
peserta didik.
2. Menyusun butir-butir soal instrumen
Butir-butir soal instrumen akan disusun berupa soal pilihan ganda
dengan masing-masing terdiri dari lima alternatif jawaban untuk tes prestasi
belajar dan angket motivasi belajar matematika peserta didik
3. Mengadakan uji coba instrumen
Setelah penyusunan instrumen penelitian selesai dilaksanakan,
langkah selanjutnya adalah mengujicobakan instrumen yang telah tersusun
sebelum dikenakan pada sampel penelitian. Tujuan uji coba adalah untuk
lihat apakah instrumen yang telah disusun benar-benar reliabel dan konsisten
atau tidak. Atau dengan kata lain tujuan uji coba adalah untuk mengetahui
apakah instrumen telah disusun memenuhi syarat-syarat instrumen yang baik
atau belum. Syarat-syarat tersebut antara lain:
a. Instrumen Tes Prestasi Belajar Matematika
Instrumen tes prestasi belajar matematika yang disusun berupa tes
pilihan ganda dan terdiri dari 30 butir soal dengan masing-masing butir
1) Validitas Isi
Suatu instrumen dikatakan valid menurut validitas isi apabila
isi instrumen tersebut telah merupakan sampel yang representatif dari
keseluruhan isi hal yang diukur. Validitas tidak dapat ditentukan
dengan mengkorelasikan instrumen dengan suatu kriteria sebab tes itu
adalah kriteria dari suatu kinerja. Agar memiliki validitas isi,
instrumen tes prestasi belajar menurut Budiyono (2003:58) harus
diperhatikan hal-hal berikut ini:
a) Bahan uji (tes) harus merupakan sampel yang representatif untuk
mengukur sampai seberapa jauh tujuan pembelajaran tercapai
ditinjau dari materi yang diajarkan maupun dari sudut proses
belajar.
b) Titik berat bahan yang harus diujikan harus seimbang dengan titik
berat bahan yang telah diajarkan.
c) Tidak diperlukan pengetahuan lain yang tidak atau belum
diajarkan untuk menjawab soal-soal ujian dengan benar.
Untuk menilai apakah suatu instrumen mempunyai validitas isi
yang tinggi atau tidak, biasanya dilakukan melalui experts judgement
atau penelitian yang dilakukan oleh para pakar dan semua kriteria
penelaahan instrumen tes harus disetujui oleh validator dalam hal ini
oleh Dra Endang Sulistyawati sebagai guru inti dan Mamik Dasanti,
2) Uji Konsistensi Internal
Konsistensi internal tiap butir soal dapat dilihat dari korelasi
antara skor tiap butirnya dengan skor totalnya. Tujuan uji konsistensi
internal ini adalah untuk mengetahui apakah instrumen tes telah
konsisten, artinya instrumen tes mempunyai indeks konsisten atau
daya pembeda yang dapat membedakan anak yang pandai dan yang
kurang pandai.
Untuk menghitung konsistensi internal butir ke-i, rumus yang
digunakan adalah rumus korelasi momen produk dari Karl Pearson
sebagai berikut: ) )( ( ) ( ) (
)
(
)
(
2 2 2 2 − − − =Y
Y
X
X
r
n n Y X XY n xy dengan : XYr : indeks konsistensi internal suatu butir tes.
N : banyaknya subyek yang dikenai tes.
X : skor butir soal tertentu.
Y : skor total.
Berdasarkan perhitungan, jika indeks konsistensi internal suatu butir
tes kurang dari 0,3 maka butir tersebut harus dibuang.
(Budiyono, 2003: 65)
3) Uji Reliabilitas
Suatu instrumen disebut reliabel, menurut Budiyono (2003:
waktu yang berbeda maka hasil pengukurannya adalah sama. Atau jika
dilakukan oleh orang yang berbeda tetapi dengan kondisi yang sama,
maka pengukuran dengan instrumen yang sama akan memberi hasil
yang sama pula.
Tes prestasi belajar dalam penelitian ini menggunakan tes
pilihan ganda dengan lima alternatif jawaban, dengan setiap jawaban
benar akan diberi skor 1 dan setiap jawaban salah akan diberi skor 0.
Sehingga untuk mengukur reliabilitas dari tes prestasi belajar
menggunakan teknik Kuder-Richardson atau biasa disebut dengan
KR-20, yaitu: 11 r = − − 2 1 1 2 1 t t s q p s n n dengan : 11
r : reliabilitas tes secara keseluruhan
n : banyaknya item
2 t
s : variansi total
1
p : proporsi subyek yang menjawab item dengan benar
1
q : proporsi subyek yang menjawab item dengan salah (q1= 1 -p1)
(Budiyono, 2003: 69)
Instrumen dengan indeks reliabilitasnya lebih dari 0.7 atau
7 , 0
11 >
r saja yang dapat dianggap baik atau dapat digunakan dalam
kaitannya dengan uji reliabilitas.
4) Daya Beda
Dalam menghitung daya beda terlebih dahulu ditetapkan masing- masing 27 % dari kelompok atas yng mempunyai skor tertinggi dan menetapkan pula 27 % dari kelompok bawah yang mempunyai skor rendah. Kemudian baru dimasukkan ke dalam rumus:
( )
( )
( )
( )
R N R n T N T n d = − Keterangan:d = daya pembeda item.
n(T) = banyaknya penjawab item dengan benar dari kelompok atas. N(T) = banyaknya subyek kelompok tinggi.
n(R) = banyaknya penjawab item dengan benar dari kelompok bawah.
N(R) = banyaknya subyek kelompok bawah.
Setelah diperoleh, kemudian diinterpretasikan sebagai berikut : D ≥ 0,40 : Butir sangat memuaskan.
0,30 ≤ D ≤ 0,39 : Butir memerlukan revisi kecil atau tidak sama sekali. 0,20 ≤ D ≤ 0,29 : Butir perlu direvisi.
D ≤ 0,19 : Butir harus disisihkan atau revisi total. Nilai daya beda yang digunakan adalah D ≥ 0,30.
5) Tingkat Kesukaran
Indeks kesukaran didapat dengan menggunakan rumus:
JS B TK =
TK = Indeks kesukaran setiap butir soal.
B = Banyaknya siswa yang menjawab benar setiap butir soal. JS = Banyaknya siswa yang memberi jawaban.
(Suharsimi Arikunto, 1998:208) Setelah diperoleh, kemudian diinterpretasikan sebagai berikut :
0,70 < TK ≤ 1,00 : soal uji terlalu mudah. 0,30 < TK ≤ 0,70 : soal uji sedang. 0,00 < TK ≤ 0,30 : soal uji terlalu sukar.
Dalam penelitian ini soal dianggap baik jika tingkat kesukaran antara 0,30 – 0,70.
b. Instrumen Angket Motivasi Belajar Matematika Peserta Didik
Angket motivasi belajar matematika yang akan digunakan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana motivasi peserta didik dalam mengikuti pelajaran matematika. Jumlah butir soal yang akan digunakan dalam angket sejumlah 30 butir soal yang berisi tentang motivasi belajar matematika peerta didik dengan lima alternatif jawaban yang akan dijawab oleh peserta didik sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
Angket motivasi belajar matematika peserta didik dapat dikatakan baik jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1) Validitas Isi
Angket motivasi belajar peserta didik dapat mempunyai validitas isi jika memenuhi:
a) Butir-butir angket sudah sesuai dengan kis-kisi angket. b) Kesesuaian kalimat dengan Ejaan Yang Disempurnakan.
c) Kalimat pada butir-butir angket merupakan kalimat yang mudah dipahami oleh siswa sebagai responden.
d) Ketepatan dan kejelasan perumusan petunjuk pengisian angket. e) Kalimat pada butir angket tidak menimbulkan makna ganda. f) Butir angket tidak memerlukan pengetahuan yang lain dalam
menjawab.
Untuk menilai apakah suatu instrumen mempunyai validitas isi yang tinggi atau tidak, biasanya dilakukan melalui experts judgement atau penelitian yang dilakukan oleh para pakar dan semua kriteria penelaahan instrumen tes harus disetujui oleh validator dalam hal ini divalidator Dra Sri Hastutiningsih dan Dra Susini sebagai guru inti. 2) Uji Konsistensi Internal
Uji konsistensi internal yang digunakan dalam angket motivasi belajar matematika menggunakan korelasi produk Karl Pearson, sama dengan uji konsistensi internal pada instrumen tes prestasi belajar matematika.
3) Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas yang dilakukan untuk mengetahui apakah butir soal pada angket reliabel atau tidak, dengan menggunakan rumus Alpha. Suharsimi Arikunto (2002: 171) berpendapat bahwa, ”Rumus Alpha digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya bukan 1 dan 0, misalnya angket atau soal bentuk uraian”. Adapun rumus Alpha adalah:
− − = 2 2 11 1 1 t i s s n n r dengan: 11
r = indeks reliabilitas instrumen. n = banyak butir instrumen.
2 i
s = variansi butir ke-i, i = 1,2,...,n.
2 t
s = variansi skor total yang diperoleh subyek uji coba.
(Budiyono, 2003: 70) 4. Tahap Revisi
Instrumen yang telah diujicobakan direvisi dengan menghilangkan atau mengganti butir-butir instrumen yang tidak memenuhi syarat-syarat instrumen yang baik.
5. Penetapan Instrumen
Butir-butir instrumen yang memenuhi syarat-syarat instrumen yang baik ditetapkan sebagai instrumen penelitian.