BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Variabel Penelitian
Suharsini Arikanto (1997: 89) mendefinisikan Variabel sebagai “gejala yang bervariasi “. Gejala adalah objek penelitian, sehingga yang dijadikan titik penelitian adalah variabel. Variabel penelitian memegang peranan penting dalam setiap penelitian, karena dengan adanya variabel maka akan mempermudahuntuk mengamati objek yang kita teliti.
31
Penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu:
1. Pengaruh Pendidikan Agama Islam sebagai variabel bebas (Independent variable) dengan simbol (X).
2. Pembentukan akhlak siswa sebagai Variabel terikat (Dependent Variable) dengan simbol (Y).
D. Defenisi Operasional Variabel
Untuk memudahkan pemahaman kita, maka dianggap perlu menjelaskan beberapa variabel yang terkait dengan judul ini, sebagai berikut:
1. Pendidikan Agama Islam adalah sebuah mata pelajaran yang wajib diajarkan kepada peserta didik, yang berlandaskan ajaran Islam dan dilakukan dengan kesadaran untuk mengembangkan potensi anak menuju perkembangan yang maksimal, sehingga terbentuk kepribadian yang memiliki nilai-nilai Islam.
2. Pembentukan akhlak pada siswa khususnya di SMA Muhammadiyah Lempangang adalah bagaimana membimbing dan memperbaiki sifat-sifat tersebut yang tidak sesuai dengan norma-norma ajaran agama Islam.
Jadi, defenisi operasional dari judul skripsi ini adalah bahwa pengaruh pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diajarkan di SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa dalam memberikan
bimbingan dan memperbaiki sifat-sifat yang tidak sesuai dengan norma-norma agama Islam tersebut.
E. Populasi dan Sampel
Penentuan jumlah populasi suatu penelitian merupakan salah satu langkah yang penting, karena dalam populasi diharapkan akan diperoleh sejumlah data yang berguna bagi pemecahan masalah.
Suatu penelitian dibenarkan untuk meneliti sesuatu yang menjadi pusat perhatian untuk memperoleh data yang dipergunakan, dapat juga meneliti sebagian kelompok representatif dari jumlah kelompok yang menjadi perhatian. Hal pertama disebut penelitian populasi dan yang kedua disebut penelitian sampel.
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek di dalam kelompok yang akan diteliti apakah populasi berupa barang atau orang. Margono (2004: 118) mengemukakan bahwa Populasi adalah keseluruhan data yang menjadi perhatian peneliti dalam suatu lingkup dan waktu yang dia tentukan.
Menurutnya populasi berhubungan dengan datanya, bukan manusianya.
Jika manusia memberikan suatu data, maka banyaknya populasi sama dengan banyaknya data.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru dan siswa SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa tahun ajaran 2014- 2015 sebanyak 127 orang terdiri dari kelas X 24 orang, kelas XI 34 orang dan kelas XII 52 orang dan guru 19 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di tabel berikut:
TABEL I
Keadaan Populasi Penelitian pada SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa
No Populasi
Jenis kelamin
Jumlah Laki-laki Perempuan
1 Siswa kelas X 10 14 24
2 Siswa kelas XI 21 13 34
3 Siswa kelas XII 43 7 50
4 Guru 7 12 19
Jumlah 81 46 127
Sumber data: Kantor SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa Tahun 2014
2. Sampel
Sampel merupakan sebagian dari populasi yang diambil untuk menjadi sumber data mewakili dari seluruh populasi tersebut. Suharsini Arikunto (1996: 119), berpendapat bahwa sampel adalah bagian dari populasi (mewakili dari yang diteliti). Sampel juga adalah bagian dari jumlah dan karekteristik yang dimiliki oleh populasi. Pada dasarnya penentuan sampel dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi atau
keterangan-keterangan yang kaitannya dengan masalah yang diteliti dengan cara meneliti sebagian populasi yang telah dipilih yang bisa dianggap dapat mewakili semua populasi yang ada.
Berdasarkan pendapat di atas maka untuk menentukan sampel dalam penelitian ini digunakan adalah 20 % dari jumlah populasi, hal ini berdasarkan teori bahwa:
“Populasiyang objeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga menjadi penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subjeknya lebih besar dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25 % atau lebih“ (Suharsimi Arikunto,1996: 120).
Adapun jumlah sampel yang akan diteliti adalah sebagai berikut: 127 x 20 % = 25,4 dibulatkan menjadi 25 reponden. Kemudian disebut sebagai informan utama. Penarikan sampel dilakukan dengan cara acak Random sampling. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut ini:
TABEL II
Keadaan Sampel Penelitian pada SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa
No Sampel
Jenis kelamin
Jumlah Laki-laki Perempuan
1 Siswa kelas X 1 3 4
2 Siswa kelas XI 4 2 6
3 Siswa kelas XII 8 2 10
4 Guru 1 3 5
Jumlah 15 10 25
Sumber data: Kantor SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa Tahun 2014
F. Instrumen Penelitian
Instrument penelitian yang dimaksud dalam penelitian ini adalah alat bantu yang dipakai melaksanakan penelitian untuk mengetahui pengaruh pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan akhlak siswa yaitu:
1. Pedoman Observasi
Observasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mengamati dan melihat langsung roses pembelajaran bidang studi Pendidikan Agama Islam pada SMA Muhammadiyah Lempangang. Peneliti mengamati objek secara seksama dengan melibatkan diri langsung di lokasi penelitian tersebut.
2. Pedoman Angket
Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan dalam penelitian untuk memperoleh data dan informasi dari responden, hal ini dimaksud untuk memperoleh data-data kongkrit yang berkaitan dengan masalah-masalah yang dibahas di dalam penelitian.
3. Pedoman Wawancara
Wawancara adalah bentuk komunikasi antara orang, melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari orang lain denganmengajukan pertanyaan berdasarkan tujuan tertentu.
Wawancara yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melakukan tanya jawab atau percakapan dengan informan untuk
memperoleh data yang diperlukan, baik dengan menggunakan daftar pertanyaan ataupun percakapan bebas yang berhubungan dengan permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya.
4. Catatan Dokumentasi
Dokumentasi adalah ditujukan untuk untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, film dokumenter dan data yang relevan dengan penelitian (Ridwan, 2008: 71).
G. Teknik Pengumpulan Data
Rancangan atau teknik pengumpulan data sangat membantu dalam menentukan pokok masalah yang hendak diteliti, serta diselesaikan dalam pembahasan karya ilmiah. Demikian pula unsur-unsur lainnya yang terkait dalam penelitian yang digunakan.
Dalam penelitian ini, prosedur dan rancangan penelitian yakni Field Reserch (penelitian lapangan) yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan
melakukan penelitian langsung di lapangan tentang obyek yang akan diteliti untuk memperoleh data yang konkrit yang ada hubungannya dengan masalah yang ada dalam penelitian.
H. Teknik Analisis Data
Hasil penelitian ini akan dianalisis dengan cara deskriptif kualitatif dan dipadukan dengan deskriptif kuantitatif. Adapun rumus yang digunakan adalah presentatif yaitu pengolahan data berdasarkan persentase yang telah diperoleh dan instrumen dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
F
P = --- x 100 N
Keterangan:
P = Angka persentase
F = Frekuensi yang sedang dicari persentasenya N= Jumlah frekuensi/ banyaknya individu.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Kondisi Objektif Lokasi Penelitian
Pada pembahasan ini, peneliti akan menguraikan tentang hasil penelitian, namun sebelum terlalu jauh menguraikannya, maka peneliti terlebih dahulu mengemukakan kondisi obyektif lokasi penelitian sebagai berikut:
1. Sejarah Berdirinya
SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa didirikan pada tanggal 17 juli 2009. Sebagai salah satu amal usaha Muhammadiyah dibidang pendidikan, Madrasah ini mejadi sekolah alternatif bagi masyarakat untuk menimba ilmu termasuk agama Islam, sehingga siswa yang bersekolah disini cukup banyak, hal ini karena masyarakat kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa pemeluk agama Islam yang taat.
Pada perkembangannya, SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa mengalami kemajuan yang cukup pesat, hal ini dapat dilihat dari jumlah siswa dari tahun ke tahun. Begitu juga dengan prestasi siswa baik dalam bidang pelajaran maupun ekstrakurikuler.
39
Selain itu, alumni SMA Muhammadiyah Lempangang juga mampu bersaing masuk di perguruan tinggi di Makassar, sehingga mereka mempromosikan kepada adik-adik mereka untuk sekolah di SMA Muhammadiyah Lempangang ini.
2. Keadaan Guru
Guru dan siswa merupakan faktor yang paling penting dalam sebuah lembaga pendidikan formal termasuk SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa. Guru dan siswa merupakan faktor yang mempengaruhi berdirinya sekolah, tanpa kedua hal tersebut maka sekolah tidak dapat berdiri sebagaimana mestinya. Disisi lain, guru memegang peranan paling penting dalam perkembangan suatu sekolah, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Guru yang jumlahnya banyak dan mempunyai kualitas yang bermutu akan mampu meningkatkan kualitas outputnya, begitu pula sebaliknya.
Guru sebagai seorang pendidik harus menanamkan pengetahuan pada siswa melalui proses belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar tersebut, peserta didik mengalami perubahan menuju ke tingkat kedewasaan.
Dengan demikian, guru sebagai penentu dalam proses pendidikan terhadap pembentukan atau pertumbuhan dan perkembangan yang dialami oleh peserta didik. Tanpa bimbingan guru, maka peserta didik tidak akan
mengalami perubahan dengan baik, sehingga potensi yang dimilikinya tidak akan dapat berkembang.
Dalam proses belajar mengajar, seorang guru mempunyai tugas memberi motivasi, membimbing dan memberi fasilitas belajar kepada anak didik untuk mencapai tujuan pembelajaran, karena itu guru mempunyai tanggung jawab terhadap proses perkembangan anak didiknya. Guru bukan semata-mata sebagai pengajar tetapi juga sebagai pendidik yang mampu memberikan pengarahan dan tuntunan kepada anak didik. Oleh karena itu, guru diharapkan memiliki aktivitas dan kreativitas yang dapat meningkatkan keberhasilan pembelajaran anak didik.
Guru merupakan salah satu komponen dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam berusaha membentuk sumber daya manusia yang potensial dibidang pembangunan, khususnya dalam pembangunan agama dan pembangunan manusia seutuhnya, yakni utuh jasmani dan rohani, manusia yang berguna dalam pembangunan bangsa dan negara. Dengan demikian guru atau profesi guru bukan pekerjaan ringan, melainkan tanggung jawab yang berat membangun manusia yang terdidik.
Pengarahan dan pengajaran seorang guru terhadap anak didiknya merupakan tumpuan perhatian dan usaha pembinaan dan pendidikan atau pengajaran yang diberikan selanjutnya sedikit demi sedikit dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang guru atau guru akan mampu memenuhi tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik dan pengajar.
SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa sekarang ini dipimpin oleh Bapak Drs. Asrul Arifin, K, S.Pd. yang mempunyai tenaga pendidik/ guru sebanyak 19 orang dimana terdiri dari 7 orang laki-laki dan 12 orang perempuan. Untuk mengatahui data guru dapat dilihat pada tabel berikut:
TABEL III
Data Guru SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa Tahun Pelajaran 2014/ 2015
No Nama Jabatan/ Guru Status
1
Drs. Asrul Arifin Karim, S.Pd.
Syamsu Alam, SE
14 Sumber Data: Kantor SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng
Kabupaten Gowa Tahun 2014/ 2015
3. Keadaan Siswa
Siswa merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam proses belajar mengajar, karena siswa menjadi obyek pendidikan dan pengajaran. Tujuan dari pendidikan dan pengajaran adalah merubah anak didik ke arah kematangan kepribadian.
Siswa adalah salah satu syarat mutlak berkembangnya lembaga pendidikan, dimana siswa merupakan suatu komponen yang sangat menentukan kelanjutan dari lembaga pendidikan ataupun dalam usaha menarik minat masyarakat, juga tergantung adanya jumlah siswa yang hadir di sekolah tersebut.
Siswa atau anak didik yang dimaksud disini adalah anak yang belum dewasa, yang masih memerlukan bimbingan dan pertolongan dari orang lain
yang telah dewasa guna melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah, sebagai Khalifah di persada bumi, juga sebagai anggota masyarakat, pelajaran, bimbingan, pengalaman dan keterampilan, sehingga dalam hidupnya dimana yang akan datang setelah menyelesaikan studinya diharapkan telah memiiliki bekal hidup yang diperolehnya dari lembaga-lembaga pendidikan yang dilaluinya guna dimanfaatkan, sehingga tumbuh nilai-nilai yang berarti buat dirinya, agama maupun bangsa dan negara.
Siswa yang belajar di sekolah ini berasal dari latar belakang keluarga dan pekerjaan orang tua yang bermacam-macam, dari PNS, pedagang, wiraswasta, petani sampai buruh bangunan. Sementara itu jumlah siswa di SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa seluruhnya sebanyak 108 orang, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
TABEL IV
Data Siswa SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa Tahun Pelajaran 2014/ 2015
No Kelas
Jenis Kelamin
Jumlah Laki-laki Perempuan
1 X 10 14 24
2 XI 21 13 34
3 XII 43 7 50
JUMLAH 74 34 108
Sumber Data: Kantor SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa Tahun 2014/ 2015
Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa jumlah siswa SMA Muhammadiyah Lempangang sebanyak 108 orang. Kelas VII sebanyak 24 orang, kelas VIII sebanyak 34 orang dan kelas IX sebanyak 50 orang.
4. Sarana dan Prasarana
Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah dirumuskan. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang berupa fasilitas yang tidak bergerak, seperti bangunan fisik sekolah yang turut menunjang terciptanya suasana yang baik dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
Sarana pendidikan merupakan faktor penunjang yang dapat memperlancar proses belajar mengajar, fasilitas belajar mengajar yang tersedia dapat mempermudah dalam mencapai tujuan pengajaran secara efisien dan efektif. Apalagi dewasa ini yang seiring dengan perkembangan zaman kita senantiasa dituntut untuk menggunakan fasilitas belajar mengajar yang memadai dalam meningkatkan ilmu pengetahuan serta untuk menunjang proses belajar mengajar dibutuhkan fasilitas-fasilitas yang memadai sehingga dapat menunjang kelancaran dan keberhasilan proses belajar mengajar.
Sarana dan prasarana sangat menunjang proses belajar mengajar.
Dengan kata lain bahwa keberhasilan pengajaran bukanlah semata-mata ditentukan oleh tingkat kemampuan siswa menerima pelajaran dan kepiawaian guru selaku sutradara dalam proses pengajaran, namun ada faktor lain yang tidak bisa diabaikan, yakni fasilitas atau sarana dan prasarana yang ada pada sekolah tersebut.
Fasilitas yang dimiliki SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa belum memadai untuk berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang efektif dan kondusif. Berikut ini gambaran tentang sarana dan prasarana yang ada di SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa:
TABEL V
Data Sarana dan Prasarana
SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa Tahun Ajaran 2014/ 2015
No Sarana dan Prasarana Jumlah Keterangan 1
7 Sumber Data: Kantor SMA Muhammadiyah Lempangang
Dapat disimpulkan bahwa sarana dan prasarana sekolah belum memadai untuk tercapainya kondisi akademik yang ideal sebagai penunjang kuallitas pendidikan. Hal ini disebabkan tidak adanya sarana penunjang pembelajaran, seperti perpustakaan, laboraturium dan lain sebagainya.
B. Bentuk-bentuk akhlak siswa pada SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.
Seperti diketahui, bahwa persaingan hidup yang semakin ketat menyadarkan manusia Indonesia akan pentingnya sebuah pendidikan dan lembaga pendidikan bagi mereka dan generasi penerus mereka agar kelangsungan hidup bangsa dan negara serta jaminan hari tua mereka dapat
terjaga dengan baik. Kebutuhan dan keinginan akan dunia pendidikan dan lembaga pendidikan tersebut telah mempengaruhi minat mereka untuk lebih memperhatikan pendidikan generasi penerus mereka, melalui peningkatan minat mereka untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah yang diyakini mampu memberikan bekal hidup dan bekal persaingan yang lebih baik kepada anak-anak mereka, terutama bekal agama dengan akhlak yang baik.
Keimanan dan ilmu pengetahuan sebagai hasil dari proses pendidikan merupakan modal utama untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat.
Dalam dunia kerja misalnya, seseorang dituntut memiliki dedikasi, menguasai keterampilan dan professional. Akan tetapi itu semua masih belum sempurna tanpa dilengkapi dengan akhlak yang baik dan keimanan yang kokoh. Sebab ilmu, iman dan akhlak merupakan satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan dalam melahirkan manusia-manusia yang memiliki optimis kejujuran, kedisiplinan dan loyalitas. Ini disebabkan karena dalam proses pendidikan juga bermuara pada upaya pembentukan masyarakat yang berwatak, berakhlak dan beretika melalui proses transfer of values yang terkandung didalamnya.
Akhlak juga adalah nilai yang sangat berharga yang dimiliki seseorang. Bahkan Rasulullah sebagai panutan kita adalah karena
kemuliaan akhlak yang dimilikinya. Oleh karena itu penanaman akhlak sejak dini sangat diperlukan.
Untuk mengetahui bentuk-bentuk akhlak siswa pada SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa, peneliti melakukannya dengan metode angket dan wawancara dengan guru dan siswa yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
Dalam penggunaan metode angket, hasil angket tentang bentuk-bentuk akhlak siswa pada SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa dapat dilihat pada tabel berikut:
TABEL VI
Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Tentang Bentuk-bentuk akhlak siswa pada SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan
Bajeng Kabupaten Gowa
No Kategori Jawaban Jumlah Persentase %
1 Memakai busana muslim 6 28 %
2 Shalat dhuhur berjamaah 9 40 %
3 Disiplin 3 16 %
4 Menjaga kebersihan 3 16 %
Jumlah 21 100
Sumber Data: Hasil angket No. 1
Dari tabel di atas dapat kita ketahui bahwa dari 21 orang responden, responden yang memilih bahwa memakai busaha muslim sebagai
bentuk-bentuk akhlak siswa pada SMA Muhammadiyah Lempangang sebanyak 6 orang atau 28 %, responden yang memilih shalat dhuhur sebanyak 9 orang atau 40 %, responden yang memilih disiplin sebanyak 3 orang atau 16 % dan responden yang memilih menjaga kebersihan sebanyak 3 orang atau 16 %.
Selanjutnya untuk mengetahui bentuk-bentuk akhlak siswa pada SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa, Peneliti mewawancarai Bapak Abdul Hakim, S.Ag (guru PAI) sebagai berikut:
“Seperti diketahui bahwa akhlak ada dua jenis, yaitu akhlak mahmudah atau akhlak terpuji dan akhlak madzmumah atau akhlak tercela. Bentuk-bentuk akhlak yang dilakukan oleh siswa kami bermacam-macam. Bentuk akhlak terpuji contohnya: memakai pakaian yang Islami/ berhijab bagi siswa putri, shalat dhuhur berjamaah hal ini kami wajibkan bagi seluruh siswa. Menjaga kebersihan, kedisiplinan, kejujuran, gotong royong dan menghormati orang lain. Hal ini dibiasakan di lingkungan sekolah kami, sebagai bentuk penanaman dan pembiasaan akhlak terpuji bagi siswa. Selanjutnya bentuk akhlak tercela yang masih terkadang dilakukan siswa antara lain: terlambat masuk sekolah, mencontek, merokok dan masih minimnya kesadaran terhadap kebersihan”. (Senin, 15 Desember 2014).
Peneliti juga mewawancarai Ibu Ernawati, S.Pd.I (Guru Bahasa Arab) sebagai berikut:
“Bentuk-bentuk akhlak pada siswa kami masih relatif baik. siswa kami sampai saat ini belum terindikasi adanya krisis akhlak dengan melakukan hal-hal yang merugikan orang banyak. Hal ini tidak lepas dari kerja keras guru dan segenap yang ada di sekolah dalam memberikan bimbingan dan arahan kepada siswa”. (Senin, 15 Desember 2014).
Dari kedua wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa akhlak ada dua jenis, yaitu akhlak mahmudah atau akhlak terpuji dan akhlak madzmumah atau akhlak tercela. Bentuk-bentuk akhlak yang dilakukan oleh siswa kami bermacam-macam. Bentuk akhlak terpuji contohnya:
1. Memakai pakaian yang Islami/ berhijab bagi siswa putri, shalat dhuhur berjamaah hal ini kami wajibkan bagi seluruh siswa.
2. Menjaga kebersihan, kedisiplinan, kejujuran, gotong royong dan menghormati orang lain.
3. Hal ini dibiasakan di lingkungan sekolah kami, sebagai bentuk penanaman dan pembiasaan akhlak terpuji bagi siswa.
4. Selanjutnya bentuk akhlak tercela yang masih terkadang dilakukan siswa antara lain: terlambat masuk sekolah, mencontek, merokok dan masih minimnya kesadaran terhadap kebersihan.
5. Selain itu, kerja keras guru dan segenap yang ada di sekolah dalam memberikan bimbingan dan arahan kepada siswa sangat dibutuhkan.
C. Faktor-faktor yang menjadi kendala dalam pembentukan akhlak siswa di SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa
Setiap usaha selalu saja diperhadapkan dengan kendala. Begitu juga dalam pembentukan akhlak bagi siswa di sekolah. Banyak faktor yang menjadi kendala dalam pembentukan akhlak siswa. Terdapat tiga komponen
yang perlu mendapat perhatian antara lain: faktor keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat. Ketiga komponen tersebut sangat berpengaruh terhadap pembentukan akhlak siswa, sehingga juga dipengaruhi oleh pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah. Ketiga faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berkut:
1. Keluarga adalah lingkungan dimana anak banyak berinteraksi pada tempat tersebut. Sebuah keluarga yang kurang memberikan perhatian, bimbingan dan mengarahkan anak untuk melaksanakan nilai-nilai agama dan akhlak mempengaruhi anak tersebut, sehingga anak mengalami ketidaksadaran dan berakhlak buruk dan tidak terpuji.
2. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal juga turut mempengaruhi pembentukan akhlak siswa, guru yang tidak cakap dan suasana belajar yang tidak kondusif dapat mempengaruhi dan membuat siswa tidak dapat berakhlak dengan baik.
3. Lingkungan masyarakat juga dapat sangat mempengaruhi siswa dalam berakhlak baik. Lingkungan masyarakat yang tidak kondusif, tidak agamais, turut mempengaruhi keengganan bagi siswa untuk beribadah. Selanjutnya lebih mengikuti pergaulan bebas dan berakhlak madzmumah.
Sejalan dengan pemaparan di atas, Peneliti juga mengangkat hasil wawancara dengan Ibu Syahri Mulya (Guru SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa) sebagai berikut:
“Kendala yang dihadapi guru dalam pembentukan akhlak siswa di SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa antara lain: latar belakang orang tua siswa yang beragam, daya serap setiap siswa yang berbeda dan kecenderungan siswa untuk mengikuti gaya hidup masa kini, dengan model-model yang hedonis dan glamour. Siswa jarang yang tertarik dengan sesuatu yang bernuansa religius, sehingga perhatian dari semua pihak sangat dibutuhkan agar kita tidak meninggalkan generasi yang jauh dari agama.” (Senin, 15 Desember 2014).
Begitu juga hasil wawanca kami dengan Ibu Bapak Abdul Hakim, S.Ag yang penulis lakukan untuk mengetahui faktor-faktor kendala yang dihadapi guru dalam menanamkan kesadaran beribadah siswa sebagai berikut:
“Banyak kendala yang dihadapi guru dalam pembentukan akhlak siswa SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa antara lain: banyaknya permainan yang lebih diminati oleh anak, misalnya game. masih ada siswa yang tidak mampu membaca Al-qur’an dengan baik, latar belakang keluarga
“Banyak kendala yang dihadapi guru dalam pembentukan akhlak siswa SMA Muhammadiyah Lempangang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa antara lain: banyaknya permainan yang lebih diminati oleh anak, misalnya game. masih ada siswa yang tidak mampu membaca Al-qur’an dengan baik, latar belakang keluarga