• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Hasil

1. Variabilitas Parameter Biologi secara Spasial dan

Secara spasial dan temporal didapatkan 47 genera dari 4 (empat) kelas fitoplankton yang terdiri atas 26 genera dari kelas Bacillariophyceae, 8 genera dari kelas Chlorophyceae, 7 genera dari kelas Cyanophyceae, dan 6 genera dari kelas Dinophyceae. Pada musim kemarau didapatkan 47 genera dari 4 (empat) kelas fitoplankton yang terdiri atas 26 genera kelas Bacillariophyceae, 8 genera kelas Chlorophyceae, 7 genera kelas Cyanophyceae, dan 6 genera kelas Dinophyceae. Sementara itu, pada musim hujan diperoleh 26 genera dari 4 (empat) kelas fitoplankton yang terdiri atas 16 genera kelas Bacillariophyceae, 3 genera kelas Chlorophyceae, 3 genera kelas Cyanophyceae, dan 4 genera kelas Dinophyceae (Lampiran 18, 19, 20, 21, 22, dan 23).

Kelimpahan fitoplankton yang didapatkan selama penelitian memiliki nilai yang berbeda antara setiap stasiun dan waktu pengamatan, dengan nilai yang berkisar antara 177.143-20.122.143 sel.L-1 (Tabel 4). Kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun 6 dan terendah di stasiun 5.

Tabel 4. Kelimpahan fitoplankton (sel.L-1) di perairan Teluk Jakarta selama penelitian Stasiun Waktu Pengamatan Rata- rata Agustus 2009 September 2009 November 2009 Januari 2010 Maret 2010 Mei 2010 1 1.171.000 1.901.000 2.095.000 1.297.143 9.016.429 8.270.000 3.958.429 2 595.000 344.000 3.045.000 1.840.714 188.571 303.571 1.052.809 3 5.652.000 1.374.000 13.301.429 1.427.143 2.610.000 1.930.000 4.382.429 4 1.196.000 519.000 3.842.857 1.455.000 1.559.286 1.608.571 1.696.786 5 3.089.000 439.000 5.748.571 1.281.429 192.143 177.143 1.821.214 6 5.040.000 2.513.000 20.122.143 1.180.000 11.600.000 12.212.143 8.777.881 7 1.072.000 576.000 3.727.143 610.000 1.680.000 1.602.143 1.544.548 8 1.740.000 818.000 6.852.143 1.072.143 4.530.000 3.790.714 3.133.833 9 5.240.000 1.677.000 4.277.857 478.571 3.133.571 3.125.714 2.988.786 Rata-rata 2.755.000 1.129.000 7.001.349 1.182.460 3.834.444 3.668.889

Sementara itu, rata-rata kelimpahan komunitas fitoplankton secara spasial dan temporal di perairan Teluk Jakarta selama penelitian diperlihatkan pada Gambar 4.

Gambar 4. Rata-rata kelimpahan fitoplankton pada setiap stasiun (atas) dan waktu pengamatan (bawah). Standar deviasi bars dihitung dari 6 data (atas) dan dari 9 data (bawah).

Secara umum didapatkan bahwa kelimpahan fitoplankton pada lokasi-lokasi yang lebih jauh dari pantai memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan lokasi yang lebih dekat dari pantai. Hasil yang diperoleh tersebut sejalan dengan

0 2000000 4000000 6000000 8000000 10000000 12000000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Ra ta -ra ta K elim pa ha n F it o pla nk to n (s el. L -1) Stasiun Dinophyceae Cyanophyceae Chlorophyceae Bacillariophyceae 0 2000000 4000000 6000000 8000000 10000000 12000000 Agustus 2009 September 2009 November 2009 Januari 2010 Maret 2010 Mei 2010 Ra ta -ra ta K elim pa ha n F it o pla nk to n (s el. L -1) Waktu Pengamatan Dinophyceae Cyanophyceae Chlorophyceae Bacillariophyceae

hasil penelitian Bernardez et al. (2010) di bagian barat Galicia Ria yang menemukan bahwa kelimpahan fitoplankton (Diatom) lebih tinggi pada lokasi yang lebih dekat ke pantai dibandingkan dengan yang lebih jauh dari pantai dengan kelimpahan masing-masing adalah stasiun luar (outer) : 4,8 X 106 sel.L-1, stasiun tengah (middle) : 4,7 X 106 sel.L-1, dan stasiun dalam (inner) : 10,5 X 106 sel.L-1. Hasil tersebut dapat juga dilihat pada kelimpahan total tahunan fitoplankton (Lampiran 18, 19, 20, 21, 22, dan 23). Hal ini disebabkan oleh beban yang diterima oleh Teluk Jakarta, akibat pesatnya perkembangan industri dan kepadatan jumlah penduduk yang besar dengan berbagai kegiatannya di daratan yang berakibat pada meningkatnya kandungan nutrien pada perairan ini, terutama pada lokasi-lokasi yang lebih dekat ke pantai. Nutrien-nutrien yang masuk ke perairan ini selanjutnya dimanfaatkan oleh fitoplankton untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Berdasarkan fakta tersebut, maka dapat dikatakan bahwa sungai-sungai yang mengalirkan airnya ke dalam Teluk Jakarta memberikan dampak yang sangat besar terhadap kelimpahan dan struktur komunitas fitoplankton pada perairan ini.

Hasil analisis varians berdasarkan lokasi penelitian didapatkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata (p < 0,05) kelimpahan komunitas fitoplankton antara setiap stasiun. Dari uji lanjut Tukey diperoleh bahwa terdapat perbedaan kelimpahan fitoplankton antara stasiun 6 dengan stasiun 8, 9, 2, 5, 4, dan 7. Tidak mudah untuk menjelaskan kondisi yang berlaku umum tentang penyebaran fitoplankton secara horizontal di laut (Parsons et al. 1984). Hal ini disebabkan oleh perbedaan kondisi ekologi pada bagian-bagian laut yang berbeda, seperti di daerah pantai dan estuaria, serta pesisir pantai dan laut lepas. Ada kecenderungan persebaran fitoplankton bersifat lebih mengelompok di daerah neritik dibandingkan dengan di oseanik (lepas pantai). Kecenderungan pengelompokan fitoplankton secara horizontal berhubungan dengan variasi parameter fisika, kimia, dan biologi (salinitas, turbulensi, dan pemangsaan). Keragaman distribusi horizontal ini lebih nampak pada lokasi dekat pantai, estuari, dan teluk dibandingkan dengan di laut terbuka. Umumnya fitoplankton di laut terbuka kurang melimpah dan distribusinya lebih merata dibandingkan

dengan fitoplankton di dekat pantai (Lorenzen 1971; Venrick 1972, diacu dalam

Levinton 1982).

Sementara itu, secara temporal ditemukan bahwa kelimpahan fitoplankton pada musim kemarau (Agustus 2009, September 2009, dan November 2009) lebih tinggi dibandingkan dengan musim hujan (Januari 2010, Maret 2010, dan Mei 2010). Pada periode pengamatan musim kemarau didapatkan kelimpahan fitoplankton yang mencapai nilai tinggi, dengan kisaran antara 344.000- 20.122.143 sel.L-1. Kelimpahan yang diperoleh di perairan Teluk Jakarta tersebut termasuk dalam kategori tinggi bila dibandingkan dengan penelitian Tambaru et al. (2008) di perairan Maros yang memperoleh kisaran nilai kelimpahan fitoplankton sebesar 4.661-8.261 sel.L-1, serta penelitian Alianto (2011) di perairan Teluk Banten yang mendapatkan kelimpahan fitoplankton sebesar 131.568 sel.L-1. Berdasarkan waktu pengamatan didapatkan bahwa kelimpahan tertinggi ditemukan pada pengamatan bulan November 2009 dengan rata-rata kelimpahan sebesar 7.001.349 sel.L-1 dan terendah pada pengamatan bulan September 2009 dengan rata-rata kelimpahan adalah 1.129.000 sel.L-1. Tingginya kelimpahan fitoplankton yang ditemukan pada bulan November 2009 kemungkinan terjadi karena pada bulan November sudah mulai turun hujan dan hujan yang cukup deras mampu membawa zat hara dari daratan dalam jumlah banyak ke perairan, sehingga memicu fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang secara melimpah. Kemungkinan lain karena pada bulan November sudah merupakan musim peralihan yaitu angin pada bulan ini cukup besar sehingga menyebabkan terjadinya proses pengadukan massa air dan menyebabkan naiknya zat hara ke permukaan laut sehingga merangsang reproduksi fitoplankton yang melimpah.

Hasil analisis varians diperoleh bahwa terdapat perbedaan yang nyata (p < 0,05) antara setiap waktu pengamatan. Dari uji lanjut Tukey dihasilkan bahwa waktu pengamatan yang memiliki kelimpahan fitoplankton yang berbeda adalah pengamatan November 2009 dengan pengamatan bulan Januari 2010, Mei 2010, dan Agustus 2009.

Secara umum, apabila hasil pengamatan fitoplankton di perairan Teluk Jakarta dibandingkan antara musim kemarau dan musim hujan selama penelitian,

maka didapatkan bahwa jumlah genera yang ditemukan pada musim kemarau lebih banyak daripada musim hujan. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan atau faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan komunitas fitoplankton sesuai. Dari keseluruhan genera dan kelas,

Skeletonema dan Chaetoceros serta Bacillariophyceae merupakan genera dan kelas yang berlimpah di seluruh lokasi dan waktu pengamatan. Genera dan kelas ini sering dijumpai dengan kelimpahan yang tinggi di perairan laut Indonesia, kondisi ini merupakan hal yang umum terjadi di perairan laut seperti yang dikemukakan oleh Nybakken (1992) bahwa komposisi fitoplankton di laut didominasi oleh kelompok Bacillariophyceae.

Beberapa penelitian mendukung hasil di atas dan pembuktian bahwa genera dan kelas tersebut memang berlimpah pada perairan laut Indonesia. Hal tersebut dapat ditelaah dari berbagai sumber antara lain adalah penelitian yang dilakukan oleh Awwaluddin et al. (2005) di perairan Teluk Tomini, Yuliana (2006) di perairan Teluk Kao, Yuliana (2008) di perairan Maitara, Andriani (2009) di perairan Bojo, dan Yuliana (2009) di Kepulauan Guraici. Keseluruhan penelitian tersebut berlokasi di perairan Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Sulawesi Selatan. Sedangkan penelitian yang dekat dengan lokasi pengamatan adalah Arinardi et al. (1994) di perairan sekitar Pulau Jawa dan Bali, Sunarto (2002) di Teluk Hurun Lampung, Adnan (2003) di Selat Sunda, Damar (2003) di perairan Teluk Jakarta, Tambaru et al. (2004) di perairan Teluk Hurun Lampung, serta Alianto (2011) di perairan Teluk Banten.

Begitu pula, apabila nilai kelimpahan komunitas fitoplankton dibandingkan antara musim kemarau dan musim hujan didapatkan bahwa kelimpahan fitoplankton lebih tinggi pada musim kemarau dibandingkan dengan musim hujan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya fluktuasi kelimpahan fitoplankton di perairan Teluk Jakarta. Nutrien dan cahaya merupakan faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fitoplankton, pada kondisi nutrien dan cahaya mencukupi maka fitoplankton akan berfluktuasi menuju pada penambahan jumlah spesies. Pada penelitian ini terlihat bahwa kelimpahan fitoplankton tertinggi ditemukan pada musim kemarau dan terendah pada musim hujan. Kelimpahan fitoplankton yang tinggi pada musim kemarau

tersebut disebabkan oleh konsentrasi nutrien dan cahaya yang cukup dan sesuai dalam mendukung pertumbuhan fitoplankton secara maksimal. Pada penelitian ini juga ditemukan bahwa pada musim hujan, kelimpahan komunitas fitoplankton rendah, meskipun kandungan nutrien tinggi. Hal ini terkait dengan intensitas cahaya, pada musim hujan intensitas cahaya di perairan ini relatif lebih rendah dibandingkan dengan musim kemarau sehingga fitoplankton tidak dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal. Intensitas cahaya yang cukup untuk tetap tumbuhnya fitoplankton dengan laju pertumbuhan yang sedang adalah sebesar 46.33 mol foton m-1s-1 (Koch et al. 2004). Selain itu, kelimpahan yang rendah pada musim hujan disebabkan oleh kekeruhan perairan yang lebih tinggi dibandingkan pada musim kemarau. Kekeruhan perairan yang tinggi tersebut mengakibatkan cahaya yang masuk ke kolom perairan lebih rendah sehingga aktivitas fitoplankton tidak berlangsung secara maksimal. Nilai kekeruhan pada musim kemarau pada lokasi penelitian memiliki kisaran antara 1,50-10,60 NTU, pada musim hujan berkisar antara 2,00-18,50 NTU.

Komposisi fitoplankton yang ditemukan selama penelitian terdiri atas 4 kelas yaitu Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, dan Dinophyceae. Pada Gambar 5 dapat dilihat bahwa kelas Bacillariophyceae merupakan kelas yang paling banyak ditemukan pada semua waktu pengamatan, dengan persentase di atas 50% dari total kelimpahan fitoplankton. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Mochizuki et al. (2002) bahwa komposisi seperti ini umumnya terdapat di perairan laut yang secara berurutan lebih didominasi oleh Bacillariophyceae, Cyanophyceae, dan Dinophyceae. Selama penelitian, kelas Bacillariophyceae yang mendominasi kelas yang lain dengan persentase total sebesar 66% dan paling rendah adalah kelas Chlorophyceae dengan persentase sebesar 7% dari total kelimpahan fitoplankton di perairan Teluk Jakarta (Gambar 5). Fakta seperti itu juga ditemukan oleh Alianto (2011) di perairan Teluk Banten bahwa Bacillariophyceae memberikan konstribusi sekitar 97,68% dan Dinophyceae 2,31% dari total kelimpahan fitoplankton, serta Luis & Kawamura (2004) di Timur Laut Arab menemukan bahwa Bacillariophyceae memberikan konstribusi 86% dan Dinophyceae hanya 6% dari total kelimpahan fitoplankton. Dominannya Bacillariophyceae dibandingkan dengan beberapa kelompok

fitoplankton lainnya merupakan hal yang umum terjadi pada bagian perairan yang mengalami mixing dan perubahan perairan karena pasang surut secara terus menerus (Badylak & Phlips 2004).

Di dalam suatu perairan, pertumbuhan fitoplankton sangat dipengaruhi oleh beberapa parameter fisika-kimia perairan seperti nitrogen (nitrat, nitrit, amonia), ortofosfat, silika, Fe, NIT (nitrogen inorganik terlarut), kecerahan, kecepatan arus, pH, salinitas, dan suhu. Uji korelasi Pearson‟s digunakan untuk menelusuri korelasi antara kelimpahan komunitas fitoplankton dengan parameter fisika-kimia

tersebut. Dari uji korelasi Pearson‟s didapatkan bahwa pada taraf kepercayaan p

< 0,05 nitrat, nitrit, amonia, ortofosfat, silika, NIT, dan pH berkorelasi positif dengan fitoplankton. Sedangkan Fe, kecerahan, arus, suhu, dan salinitas

berkorelasi negatif. Hasil uji korelasi Pearson‟s tersebut selengkapnya disajikan

pada Tabel 5.

Gambar 5. Rata-rata dan persentase kelimpahan fitoplankton pada setiap waktu pengamatan. Bacillario phyceae 65% Chlorophyceae 4% Cyanophyceae 11% Dinophyceae 20% Agustus 2009 Bacillario phyceae 68% Chlorophyceae 6% Cyanophyceae 6% Dinophyceae 20% September 2009 Bacillario phyceae 68% Chlorophyceae 8% Cyanophyceae 12% Dinophyceae 12% November 2009 Bacillario phyceae 70% Chlorophyceae 6% Cyanophyceae 10% Dinophyceae 14% Januari 2010 Bacillario phyceae 66% Chlorophyceae 7% Cyanophyceae 6% Dinophyceae 21% Maret 2010 Bacillario phyceae 58% Chlorophyceae 12% Cyanophyceae 6% Dinophyceae 24% Mei 2010

Tabel 5. Hasil uji korelasi Pearson‟s antara kelimpahan fitoplankton dengan parameter fisika-kimia perairan di Teluk Jakarta

No Parameter Fisika-Kimia Nilai Korelasi Pearson’s

1 Nitrat 0,284 2 Nitrit 0,297 3 Amonia 0,282 4 Ortofosfat 0,287 5 Silika 0,572 6 NIT 0,148 7 pH 0,178 8 Fe - 0,432 9 Kecerahan - 0,095 10 Arus - 0,178 11 Suhu - 0,093 12 Salinitas - 0,048

Keterangan : pada taraf kepercayaan p < 0,05

b. Biomassa (Klorofil-a) Fitoplankton

Secara spasial dan temporal konsentrasi klorofil-a di perairan Teluk Jakarta memiliki kisaran antara 0,0134-2,6045 mg.m-3 (Gambar 6). Secara umum, pada penelitian ini ditemukan bahwa konsentrasi klorofil-a lebih tinggi pada lokasi- lokasi yang dekat dari pantai (stasiun 1, 2, dan 3) dibandingkan dengan lokasi- lokasi yang jauh dari pantai. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Valiela (1984) bahwa sebaran konsentrasi klorofil-a lebih tinggi pada perairan pantai dan pesisir, serta rendah di perairan lepas pantai. Keadaan ini disebabkan oleh tingginya konsentrasi nutrien yang dihasilkan melalui proses terangkatnya nutrien dari lapisan dalam ke lapisan permukaan, serta adanya proses sirkulasi massa air yang memungkinkan terangkutnya sejumlah nutrien dari tempat lain (Hatta 2002).

Secara spasial didapatkan kandungan klorofil-a tertinggi pada stasiun 3 dan terendah pada stasiun 7. Tingginya konsentrasi klorofil-a pada stasiun 3 atau lokasi dekat pantai sebagai akibat dari tingginya suplai nutrien yang berasal dari daratan melalui limpasan air sungai atau sebagai akibat adanya pengaruh run off

dari daratan. Selain itu, disebabkan pula oleh proses pengadukan massa air yang sampai dasar perairan sehingga memperkaya dan menyuburkan perairan tersebut. Sebaliknya konsentrasi klorofil-a cenderung rendah di daerah lepas pantai, sebagaimana yang terjadi pada stasiun 7. Berdasarkan hasil analisis varians

didapatkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (p < 0,05) konsentrasi klorofil-a antara setiap stasiun.

Gambar 6. Konsentrasi klorofil-a pada masing-masing stasiun dan waktu pengamatan.

Secara temporal didapatkan bahwa konsentrasi klorofil-a tertinggi pada pengamatan November 2009 dan terendah pada pengamatan September 2009. Hasil analisis varians menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata (p < 0,05) konsentrasi klorofil-a antara waktu pengamatan. Dari uji lanjut tukey didapatkan bahwa kandungan klorofil-a berbeda antara pengamatan November 2009 dengan pengamatan Maret 2010, Mei 2010, Agustus 2009, Januari 2010, dan September 2009.

Fluktuasi naik turunnya kandungan klorofil-a sangat dipengaruhi oleh kelimpahan fitoplankton. Hal ini terjadi karena klorofil-a merupakan pigmen yang terdapat dalam sel fitoplankton. Oleh karena itu, distribusi klorofil-a sangat erat kaitannya dengan distribusi kelimpahan fitoplankton sehingga sebaran klorofil-a cenderung mengikuti pola sebaran kelimpahan fitoplankton. Distribusi klorofil-a secara spasial dan temporal sangat sesuai dengan kelimpahan komunitas fitoplankton, penambahan atau penurunan klorofil-a sejalan dengan penambahan atau penurunan kelimpahan fitoplankton. Hal ini membuktikan bahwa klorofil-a merupakan pigmen yang paling dominan terdapat pada fitoplankton (Parsons et al.

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 K lo ro fil -a ( m g .m -3) Stasiun Agustus 2009 September 2009 November 2009 Januari 2010 Maret 2010 Mei 2010

1984). Pada pengamatan bulan November 2009 didapatkan kelimpahan fitoplankton dan konsentrasi klorofil-a yang tertinggi, sebaliknya pada pengamatan bulan September 2009 keduanya didapatkan nilai yang rendah. Begitu pula, pada musim kemarau terlihat bahwa klorofil-a dan kelimpahan fitoplankton memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengamatan musim hujan. Uji korelasi Pearson‟s (Lampiran 17) memperlihatkan adanya

keselarasan tersebut (Pearson‟s = 0,613), dari korelasi ini terdapat keeratan

hubungan yang sangat kuat pada taraf kepercayaan p < 0,05. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Djumanto et al. (2009) di perairan Bawean yang menemukan bahwa biomassa yang tinggi tidak diikuti oleh kelimpahan individu yang tinggi.

Sebaran dan tinggi rendahnya konsentrasi klorofil-a sangat terkait dengan kondisi oseanografi suatu perairan. Menurut Hatta (2002), beberapa parameter fisika-kimia yang mengontrol dan mempengaruhi sebaran klorofil-a adalah intensitas cahaya dan nutrien terutama nitrat, fosfat, dan silika. Oleh karena itu, dilakukan pengujian berdasarkan korelasi Pearson‟s antara klorofil-a dengan nutrien jenis N (nitrat, nitrit, dan amonia), ortofosfat, silika, Fe, NIT, kecepatan arus, salinitas, kekeruhan, suhu, dan pH. Dari hasil uji tersebut ditemukan bahwa silika, pH, nitrit, amonia, ortofosfat, NIT, salinitas dan kekeruhan berkorelasi positif dengan klorofil-a. Sedangkan nitrat, arus, suhu, dan Fe berkorelasi negatif.

Hasil uji korelasi Pearon‟s selengkapnya disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Hasil uji korelasi Pearson‟s antara klorofil-a dengan parameter fisika-kimia perairan di Teluk Jakarta

No Parameter Fisika-Kimia Nilai Korelasi Pearson’s

1 Silika 0,265 2 pH 0,317 3 Nitrit 0,155 4 Amonia 0,107 5 Ortofosfat 0,107 6 NIT 0,163 7 Salinitas 0,153 8 Kekeruhan 0,074 9 Nitrat -0,194 10 Arus -0,071 11 Suhu -0,207 12 Fe -0,566

c. Kista Dinophyceae

Apabila kondisi perairan tidak menguntungkan, maka fitoplankton terutama kelompok Dinoflagellata akan membentuk fase seksual dalam bentuk kista. Kista yang berada di kolom perairan tersebut akan terakumulasi ke dasar perairan, laju akumulasi sangat bergantung pada kondisi perairan. Keberadaan kista Dinophyceae pada sedimen terkait erat dengan peristiwa atau kejadian yang terjadi pada waktu sebelumnya.

Komposisi jenis kista Dinophyceae yang didapatkan selama penelitian terdiri atas 8 genus yaitu Alexandrium, Diplopsalis, Gymnodinium, Gyrodinium, Gonyaulax, Noctiluca, Protoperidinium, dan Scrippsiella. Jenis-jenis yang ditemukan tersebut hampir sama antara setiap stasiun dan waktu pengamatan, genus yang memiliki kelimpahan tertinggi selama penelitian adalah genus

Alexandrium dan terendah yaitu genus Diplopsalis.

Secara spasial dan temporal kista Dinophyceae memiliki kelimpahan yang berbeda, dengan kisaran antara 51-8.081 kista.cm-3, kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun 7 dan terendah pada stasiun 3 (Gambar 7).

Gambar 7. Kelimpahan kista Dinophyceae pada setiap stasiun dan waktu pengamatan.

Tingginya kelimpahan kista Dinophyceae pada stasiun 7 disebabkan oleh parameter lingkungan yang mempengaruhi keberadaan kista berada pada kondisi

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 K is ta Dino ph y ce a e (k is ta .cm -3) Stasiun

Agustus 2009 September 2009 November 2009

yang sesuai. Parameter lingkungan tersebut diantaranya adalah suhu, salinitas, arus, pH, dan kedalaman. Kisaran masing-masing parameter itu adalah suhu : 26,50-29,90oC, salinitas : 30,00-33,00, arus : 12,85-30,51 cm.det-1, dan pH : 7,41- 8,41. Diantara parameter-parameter tersebut, arus yang memberikan korelasi paling besar dan positif terhadap keberadaan kista Dinophyceae selama penelitian. Arus merupakan faktor fisik yang mempengaruhi keberadaan dan distribusi kista terutama dalam proses penenggelaman di dasar perairan. Rata-rata kecepatan arus pada stasiun 7 adalah 21,24 cm.detik-1. Sementara itu, kelimpahan kista terendah terdapat pada stasiun 3, rata-rata arus yang diperoleh pada stasiun ini adalah 12,32 cm.detik-1. Hal tersebut diperkuat oleh analisis korelasi antara keberadaan kista dinophyceae dengan arus yang mempunyai korelasi yang positif (Pearson‟s = 0,233). Hasil analisis varians secara spasial didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata (p > 0,05) kista Dinophyceae antara setiap stasiun. Hal ini berarti bahwa kista Dinophyceae memiliki kelimpahan yang sama, meskipun berbeda secara deskriptif.

Sementara itu, secara temporal diperoleh bahwa kelimpahan kista Dinophyceae tertinggi pada pengamatan bulan November 2009 dan terendah pada pengamatan bulan Agustus 2009. Dari hasil analisis varians didapatkan perbedaan yang sangat nyata (p < 0,05) kista Dinophyceae antara waktu pengamatan. Uji lanjut Tukey menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kelimpahan kista antara pengamatan November 2009 dengan pengamatan Januari 2010, September 2009, Maret 2010, Mei 2010, dan Agustus 2009. Kelimpahan kista Dinophyceae pada pengamatan November lebih tinggi dibandingkan dengan pengamatan Januari, September, Maret, Mei, dan Agustus. Begitu pula, antara pengamatan Januari 2010 berbeda dengan pengamatan Agustus 2009. Kelimpahan kista Dinophyceae pada bulan Januari lebih tinggi dari pengamatan Agustus.

Keberadaan dan kelimpahan kista Dinophyceae di suatu perairan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berupa faktor alam maupun faktor yang berhubungan dengan aktivitas manusia (antropogenik). Oleh karena itu, dilakukan analisis korelasi antara kista Dinophyceae dengan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi keberadaan kista Dinophyceae tersebut dalam

suatu perairan. Hasil analisis korelasi antara kista Dinophyceae dengan faktor- faktor lingkungan menunjukkan bahwa terjadi korelasi positif antara kista Dinophyceae dengan arus, salinitas, kedalaman, dan pH. Hal ini berarti bahwa arus, salinitas, kedalaman, dan pH secara signifikan mempengaruhi keberadaan kista Dinophyceae di lokasi penelitian. Sedangkan korelasi negatif terjadi antara kista Dinophyceae dengan suhu, kecerahan, ortofosfat, dan nitrat. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun Dinophyceae bersifat fototaksis positif, akan tetapi karena sudah mati maka suhu, kecerahan, dan nutrien tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kelimpahan kista Dinophyceae. Hasil analisis korelasi

Pearson‟s antara kista Dinophyceae dengan faktor-faktor lingkungan

selengkapnya tertera pada Tabel 7.

Tabel 7. Hasil uji korelasi Pearson‟s antara kista Dinophyceae dengan parameter fisika-kimia perairan di Teluk Jakarta

No Parameter Fisika-Kimia Nilai Korelasi Pearson’s

1 Arus 0,233 2 Salinitas 0,201 3 Kedalaman 0,181 4 pH 0,048 5 Suhu -0,233 6 Kecerahan -0,101 7 Ortofosfat -0,072 8 Nitrat -0,284

Keterangan : pada taraf kepercayaan p < 0,05

2. Konsentrasi Nutrien secara Spasial dan Temporal