• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN HIDUP ROHANI PARA USIA LANJUT

5. Visi hidup yang lebih lengkap

Hidup jaman sekarang dikuasai oleh sikap buru-buru, cepat-cepat, resah

dan gelisah. Orang jaman sekarang kurang memiliki visi hidup yang lengkap,

berbeda dengan orang jaman dahulu. Orang jaman dahulu memiliki visi hidup

yang lengkap. Mereka tidak melupakan arti, makna, tujuan panggilan, martabat

dan tujuan akhir dalam perjalanan hidupnya. Di samping itu usia lanjut juga

merupakan usia yang mencintai hidup sederhana dan daya kontempalasi yang

tinggi. Usia lanjut merupakan usia yang memiliki nilai-nilai afektif, moral,

religius menjadikan sumber daya yang sangat diperlukan demi

memupukkembangkan keselarasan masyarakat, keharmonisan keluarga, dan

bertanggung jawab, memiliki iman akan Allah, persahabatan, sikap tidak

memihak pada kekuasaan, pertimbangan, kebijaksanaan, kesabaran, dan

keyakinan batin yang mendalam akan perlunya menghormati alam ciptaan dan

memupuk kedamaian. Visi inilah yang dipegang oleh para usia lanjut untuk tetap

diusahakan dan diperkembangkan demi menjaga keutuhan, kematangan,

sehingga tidak muncul kembali penyesalan yang berkepanjangan (Dewan

Kepausan untuk Kaum Awam, 2002: 22).

Nilai-nilai afektif, moral, religius menjadi bagian dari hidup para suster

SFD usia lanjut. Penting juga kiranya tetap memiliki sikap hidup sederhana dan

daya kontemplasi yang tinggi sebagai perwujudan dalam tugas perutusan yang

telah tercantum dalam konstitusi bahwa para suster usia lanjut lebih banyak

berdoa bagi anggota persaudaraan SFD.

D. Undangan Menghayati Panggilan Iman Secara Baru

Gereja sangat peduli dengan para usia lanjut. Hal itu terungkap dalam

pernyataan Yohanes Paulus II (1999: 8) dalam suratnya kepada umat usia lanjut,

yang bunyinya:

“Saya hanya ingin menyatakan betapa saya dekat secara rohani dengan kalian sebagai orang yang telah semakin dalam memahami tahap hidup ini bersama dengan berlalunya tahun-tahun hidupnya dan oleh karenanya merasa perlu membangun hubungan yang lebih erat dengan orang-orang lain yang seusia. Sebab dengan demikian, kita dapat merenungkan bersama hal-hal yang sama yang kita alami. Saya meletakkan hal itu semua di hadapan pandangan Allah yang meliputi kita dengan cinta kasih-Nya dan yang menolong serta menuntun kita dengan penyelenggaraan Ilahi-Nya”.

Dalam menghayati iman yang baru, orang harus mencari dasarnya

oleh Yohanes Paulus II bagaimana orang dapat menghayati iman yang baru dan

apa-apa saja yang perlu diperhatikan dalam mengarah kepada hal itu.

1. Gambaran orang tua menurut Kitab Suci

Kitab Suci Perjanjian Lama menceritakan beberapa tokoh yang sudah

usia lanjut terpilih untuk melaksanakan perintah Allah, misalnya: Abraham

dengan rendah hati melakukan apa yang disampaikan dengan kekuatan yang

dijanjikan Allah kepadanya. Adapun janji Allah kepada Abraham bahwa: “Aku

akan menjadikan engkau bangsa yang besar, dan memberkati engkau, serta

membuat namamu masyur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan

memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang

yang mengutuk engkau dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat

berkat” (bdk. Kej. 12: 2-3). Seperti Sarai isteri Abraham yang setiamendampingi

perjalanan hidup Abraham. Sarai dalam masa tuanya penuh pengharapan

menyaksikan bahwa tubuhnya semakin tua, tetapi dalam batas-batas usia lanjut

tetap mengalami anugerah Tuhan yang luar biasa dengan memperbaiki

kekurangan manusia (Yohanes Paulus II, 1999: 14).

Inilah yang patut dicontoh sebagaimana dalam akhir-akhir masa tuanya

Abraham rela melepaskan apa yang telah diperjuangkan selama ini misalnya:

tempat tinggal, orang-orang yang ada di sekitarnya, maupun kehidupannya.

Kesetiaan Abraham kepada Allah ditunjukkannya melalui ketaatannya

melaksanakan perintah Bapa untuk pergi dari tempat tinggal asalnya ke tempat

yang ditunjukkan Bapa kepadanya. Tidak diragukan lagi kesetiaannya sehingga

dan disembah. Seperti Sarai isterinya yang hingga dalam usia tuanya tetap setia

kepada Abraham menemani seluruh perjalanan suaminya, hingga Abraham dan

Sarai dianugerahkan anak dalam masa tuanya. Itulah tanda kemurahan hati Allah

kepada Abraham dan Sarai.

Tokoh Musa yang diutus untuk membawa bangsa pilihan Allah untuk

keluar dari Tanah Mesir dari perbudakan Bangsa Mesir. Allah mempercayakan

kepadanya perutusan memimpin umat yang terpilih keluar dari Mesir. Musa

melaksanakan tindakan-tindakan Allah yang agung demi umat Israel. Tokoh

berikutnya yaitu Tobit yang berani memutuskan untuk setia mematuhi hukum

Allah, yakni membantu rakyat yang miskin dan sabar menanggung kebutaan,

sampai malaikat Allah campur tangan untuk meluruskan situasi (bdk. Tob. 3:

16-17). Dalam 2 Makabe 6: 18-31, dikisahkan Eleazar yang mati menjadi martir

untuk memberi kesaksian akan jiwa besar dan keteguhan yang luar biasa

(Yohanes Paulus II, 1999: 15).

Usia tua tidak menutup kemungkinan untuk tetap berguna bagi orang

banyak seperti yang dialami oleh Musa dalam menuntun Bangsa Israel keluar

dari perbudakan Mesir. Menuntut tanggung jawab yang besar, namun Musa

percaya bahwa Allah ikut campur tangan dalam segala gerak dan langkah yang

dijalani oleh Musa sehingga dia kuat dalam tugas dan perutusannya. Demikian

juga tokoh Tobit yang dalam perutusan dimampukan untuk memiliki rahmat

kesabaran dan peduli pada orang-orang yang lemah, miskin dan tak berdaya.

Tokoh dari Kitab Perjanjian Lama yaitu Eleazar yang dengan semangat

menjadi martir. Itulah konsekuensi dari ketaatan kepada Allah demi kecintaan

mereka kepada Allah.

Tokoh-tokoh Perjanjian Baru juga menggambarkan pribadi usia lanjut,

seperti Elisabet dan Zakaria yang sudah menikah menjadi orang tua Yohanes

Pembaptis. Kendati usia lanjut, kerahiman Tuhan menyentuh hati mereka.

Kelahiran Yohanes Pembaptis untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Elisabet

dan Zakaria tidak mudah menerima peristiwa tersebut melainkan mereka

berkata: ”Aku sudah tua, dan isteriku sudah lanjut umurnya” (bdk. Luk. 1: 18),

namun ketika Elisabet mengunjungi Maria saudarinya maka dipenuhi dengan

Roh Kudus serta berseru: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan

diberkatilah buah rahimmu” (bdk. Luk. 1: 42). Ketika Yohanes Pembaptis lahir,

Zakaria melambungkan pujian “Benedictus”, maka disaksikanlah pasangan yang

istimewa, yang dipenuhi dengan semangat doa yang mendalam (Yohanes Paulus

II, 1999: 15).

Pribadi Zakaria dan Elisabet yang pada mulanya tidak yakin akan

tindakan Tuhan, namun karena ketekunannya didalam doa kepada Tuhan maka

ia dianugerahkan begitu istimewa dari kehadiran Yohanes Pembaptis dalam

keluarga mereka sebagai orang yang mempersiapkan kehadiran Tuhan di tengah

dunia.

Pada waktu Maria dan Yusuf mempersembahkan Yesus ke dalam Bait

Allah, dijumpailah tokoh yang berusia tua bernama Simeon. Simeon dalam bayi

Yesus menjumpai Almasih yang hadir ke dunia dan menyerukan pujian “Nunc

dimittis”, sekarang Tuhan, biarlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera

empat tahun berkali-kali mengunjungi Bait Allah dan bergembira memandang

Yesus. Penginjil mengatakan ia mengucap syukur kepada Allah dan berbicara

tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk

Yerusalem. Demikian pula Nikodemus seorang anggota Sanhedrin yang

tersanjung tinggi sudah usia lanjut. Perjumpaan Nikodemus dengan Yesus

secara sembunyi-sembunyi pada waktu malam hari. Nikodemus bertemu dengan

Yesus, Sang Guru Ilahi menyingkapkan bahwa Ia Putera Allah, yang datang

untuk menyelamatkan dunia (bdk. Yoh. 3: 1-21). Kesempatan yang kedua

Nikodemus hadir pada pemakaman Yesus, disebutkan dalam Injil Yohanes 19:

38-40, “Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu

malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak

gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya ”. Walaupun dengan rasa takut namun

ia menunjukkan diri sebagai murid Tuhan yang disalibkan (Yohanes Paulus II,

1999: 15-16).

Di usia tua Simeon penjaga Bait Allah masih menantikan Almasih yang

hadir ke dunia dan penantiannya tidak sia-sia nyata dialaminya ketika Yesus

hadir di dunia menyelamatkan manusia. Lain halnya dengan Nikodemus

walaupun tidak dengan terang-terangan ia tetap menjadi murid Tuhan sampai

pada Yesus disalibkan.

Berikutnya belajar dari Petrus yang dipanggil pada waktu usia lanjut

untuk memberi kesaksian akan imannya melalui kemartiran. Sebagaimana

dikatakan dalam Injil Yohanes 21: 18, “Ketika engkau masih muda, engkau

mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kau kehendaki,

lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kau

kehendaki.” Pernyataan kepada Petrus inilah yang menguatkan para usia lanjut

dengan rendah hati memohon pertolongan ketika mereka sudah mencapai usia

yang sudah tua (Yohanes Paulus II, 1999: 16).

Menurut Kitab Suci masa usia lanjut merupakan masa yang sungguh

menguntungkan dan kesempatan yang berharga, dimana seseorang diantar untuk

masuk hidup dalam pemenuhannya, sesuai dengan rencana Allah bagi setiap

orang. Masa usia lanjut diharapkan untuk mampu menangkap arti hidup serta

mencapai kebijaksanaan hati. Sumber kebijaksanaan itu adalah kedekatan

dengan Tuhan, Ayub 12: 12-13 mengatakan “Konon hikmat ada pada orang yang

tua, dan pengertian ada pada orang yang lanjut umurnya. Tetapi pada Allahlah

hikmat dan kekuatan Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian” dan

sifat bijak orang usia lanjut dengan sifat taat dan takut akan Tuhan, tertulis dalam

Kitab Imamat 19: 32 “Engkau harus bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan

engkau harus menaruh hormat kepada orang yang tua dan engkau harus takut

akan Allahmu; Akulah Tuhan” (Hanna Santoso & Andar Ismail, 2009: 13).

Sebagaimana dikatakan dalam Kitab kebijaksanaan 4: 8-9, “Usia lanjut

ialah terhormat bukan karena waktunya panjang, dan bukan karena tahunnya

berjumlah banyak. Tetapi pengertian orang ialah uban, dan hidup yang tak

bercela merupakan usia lanjut”. Maka usia lanjut merupakan tahap akhir

kematangan manusia dan tanda berkat Allah (Yohanes Paulus II, 1999: 17).

Melihat kembali panggilan hidup para tokoh-tokoh umat Kristiani dalam

Kitab Suci. Ada beberapa unsur pokok yang perlu diperhatikan melihat

tokoh yang diutus Allah telah berusia lanjut. Unsur pokok tersebut antara lain:

ketaatan dan kesetiaan dalam melaksanakan perintah Allah, bertobat atau

membaharui hidup, pengorbanan total, kesabaran, penyerahan atau pasrah diri

akan penyelenggaraan Ilahi, semangat doa yang mendalam, penuh pengharapan

atau penantian, penuh kegembiraan memandang hari depan atau kehidupan

kekal, bersedia rendah hati mengakui kekurangan fisik, penuh kemurahan hati,

mencapai kebijaksanaan hati, serta mampu menangkap arti hidup.

2. Kekayaan para orang tua menurut Kitab Suci

Para usia lanjut menjalani tahun-tahun hidupnya begitu cepat berlalu,

segala macam jerih payah dan derita mereka rasakan, itulah yang menjadi

pengalaman indah dan berharga selama hidupnya, sehingga selayaknya disyukuri

dan tidak merasa jemu akan hal itu. Para usia lanjut telah menempuh perjalanan

yang jauh, (bdk. Keb. 4: 13). Banyak peristiwa hidup tahap demi tahap yang

mengingatkan pada perstiwa biasa dan luar biasa, keadaan yang membahagiakan

dan yang membawa derita. Mereka menyadari bahwa anugerah kehidupan yang

diterima adalah berkat uluran tangan Allah Bapa maha penyelenggara dan

belaskasih yang menjaga dan mengajar sedari kecil hingga sekarang ini

(Yohanes Paulus II, 1999: 7-9).

Banyak hal-hal membangun yang dapat dilihat dari para usia lanjut,

misalnya: bahwa para usia lanjut memiliki kebijaksanaan. Begitu banyak

pengalaman yang harus dilalui membawa mereka pada kesadaran akan makna

hidup, sehingga dapat mengendalikan segala emosi-emosi yang muncul. Maka

hidup dan menghadirkan nasihat-nasihat yang mendalam bagi sesamanya

maupun generasi di bawahnya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Santo Hieronimus “Usia lanjut

memperbesar kebijaksanaan dan membuahkan lebih banyak nasihat yang

matang”. Tuhan memberikan setiap waktu bagi para usia lanjut untuk semakin

beroleh hati yang bijaksana, seperti doa pemazmur yang sering kita dengar

Mazmur 90: 12, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga

kami beroleh hati yang bijaksana” (Yohanes Paulus II, 1999: 14).

Selain kebijaksanaan yang dimiliki oleh para usia lanjut, kekayaan yang

perlu ditimba dari mereka adalah penjaga ingatan bersama. Kehadiran masa

sekarang ditentukan oleh masa lalu, dan masa lalu hidup dekat dengan para usia

lanjut. Apabila para usia lanjut dikesampingkan berarti masa lalu diingkari.

Padahal dalam masa lalu itulah masa sekarang berakar dengan kokoh.

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan, segenap cita-cita dan nilai

bersama yang mendukung dan menuntun hidup dalam masyarakat membuat

mereka penuh pengetahuan dan matang, dengan pengalaman yang matang para

usia lanjut memberikan bimbingan yang berharga kepada kaum muda (Yohanes

Paulus II, 1999: 18-19).

Para usia lanjut tidak kalah semangatnya dengan kaum muda, mereka

juga memiliki semangat muda dan kuat rohnya. Terlihat dari kata-kata yang

diucapkan memberikan ilham, teladan dan sumber penghiburan. Semangat inilah

yang dibutuhkan oleh kaum muda sebagai pendukung menghadapi masa-masa

yang akan datang, pembimbing untuk menjalani jalan-jalan kehidupan (Yohanes

Umat Kristiani menyadari bahwa kehadiran para usia lanjut membawa

segi evangelisasi. Para usia lanjut menumbuhkan dasar iman yang kokoh bagi

anak-anak, cucu, dan keluarga. Dalam kondisi yang sangat terbatas mereka

mampu membesarkan hati orang dengan nasihat yang penuh kasih, doa-doa

batin, atau kesaksian serta kesabaran dalam penderitaan. Roh bekerja dimana Ia

mau, dan Roh mempergunakan sarana-sarana manusiawi yang kelihatannya tidak

berarti di mata dunia. Semakin berkurang kegiatan yang mereka lakukan di dunia

semakin berharga dalam rencana Penyelenggaraan Ilahi yang ajaib (Yohanes

Paulus II, 1999: 20-21).

Para usia lanjut banyak bergerak dalam bidang kerasulan. Banyak Gereja

yang membutuhkan para usia lanjut untuk memberikan dukungan berupa doa

dalam waktu yang lama untuk perkembangan Gereja Semesta. Para usia lanjut

merupakan cikal bakal dari masa sekarang maka dibutuhkan nasihat yang lahir

dari pengalaman dan Gereja diperkaya oleh hidup sehari-hari sebagai saksi Injil

yang hidup di tengah-tengah dunia jaman sekarang (Yohanes Paulus II, 1999:

23).

Tugas kerasulan juga dilaksanakan oleh para suster SFD usia lanjut di

komunitas San Damiano Pati misalnya: membagi komuni bagi orang jompo dan

sakit, mengadakan kunjungan rohani ke rumah umat yang berkekurangan,

mengunjungi umat yang sakit dan mengikuti doa-doa lingkungan.

Usia lanjut tidak dipandang dan dihayati secara pasif sebagai proses

datangnya kemalangan melainkan proses mendekati tujuan kematangan

sepenuhnya dengan penuh harapan. Usia lanjut adalah tahun-tahun yang harus

Penyelenggara dan penuh belas kasih. Usia lanjut adalah masa yang perlu

dipergunakan secara kreatif untuk memperdalam hidup rohani dengan semakin

banyak dan khusyuk berdoa serta berbakti untuk melayani saudara-saudari kita

dalam kasih (Yohanes Paulus II, 1999: 26).

Demi kematangan rohani para suster SFD usia lanjut baiknya tidak

meratapi kondisi fisik dan mental yang rapuh saja, melainkan mengisi masa tua

dengan penuh harapan dan kreatif. Menjalankan kehidupan rohani dengan lebih

mendalam, agar sungguh siap menantikan hari Tuhan yang akan datang.

E. Harapan Gereja terhadap Orang Usia Lanjut

Dalam Gereja ada berbagai generasi yang dipanggil untuk mengambil

bagian dalam rencana Allah yang penuh kasih dengan saling bertukar anugerah

yang dikaruniakan oleh rahmat Roh Kudus untuk memperkaya setiap orang.

Maka usia lanjut membawa kekayaan rohani yang besar yaitu nilai-nilai religius

dan moral bagi jemaat-jemaat Kristiani, keluarga-keluarga dan dunia (Dewan

Kepausan untuk Kaum Awam, 2002: 39).

Para suster usia lanjut yang telah melalui usia yang cukup panjang

banyak mengalami pengalaman rohani, kaya akan nilai religius dan moral yang

dapat dibagikan kepada para suster SFD muda sebagai bekal hidup untuk masa

depan. Nilai religius dan moral yang dimiliki oleh mereka misalnya saja: tekun

menghidupi doa (kontemplasi, meditasi dan hening), rajin beribadat (Perayaan

Ekaristi, Brevir dan devosi), bersikap santun dan rendah hati, penuh kepasrahan

Ciri-ciri religius dari para usia lanjut adalah hidup doa. Hidup doa

dijalankan dengan mengikuti ibadat, perayaan-perayaan liturgis, devosi dan

lain-lain. Doa merupakan sumbangan yang paling berharga yang dapat ditimba oleh

Gereja, dan tetap harus dipupuk dan dikembangkan dalam jemaat maupun

keluarga-keluarga Kristiani. Kegiatan ibadat merupakan hal yang penting bagi

para para usia lanjut mendukung mereka sampai pada nilai-nilai yang mengarah

pada yang transendental. Mereka ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan

menggereja misalnya: prodiakon, lektor, kunjungan keluarga, kunjungan orang

sakit, kunjungan orang yang usia lanjut, perkumpulan doa, perkumpulan

lingkungan, perkumpulan organisasi Gereja dan lain-lain. Para usia lanjut

menyadari bahwa sebelum menginjak masa tua mereka kurang dan bahkan

jarang untuk berpartisipasi dalam kegiatan menggereja, namun dalam usia yang

sudah tua menyadari keberadaan hidup mereka membutuhkan relasi dekat

dengan Tuhan, maka mulai aktif melayani Tuhan dan sesama (Dewan Kepausan

untuk Kaum Awam, 2002: 39).

Iman kepercayaan para usia lanjut sangatlah sederhana, mendalam dan

beragam. Masing-masing orang mempunyai pengalaman hidup yang

berbeda-beda. Pribadi masing-masing orang tua ditentukan oleh kekuatan relatif iman

yang ditanamkan dari dini, sepanjang perjalanan hidup hingga mencapai usia

yang sudah lanjut (Dewan Kepausan untuk Kaum Awam, 2002: 40).

Para suster SFD usia lanjut memiliki keyakinan iman yang sangat

sederhana melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah dalam diri mereka.

dari mereka memiki kekuatan rohani yang berbeda sesuai dengan dasar

penanaman rohani semasa kecil, ketekunan melatih hidup rohani, dan

memelihara hidup rohani yang telah dimiliki sejak awal.

Kehadiran para usia lanjut dalam bentuk pelayanannya membawa misi

Kristiani yaitu mewartakan sekaligus menyebarkan Injil Yesus Kristus ke

seluruh dunia dan menyatakan kepada banyak orang misteri kahadiran-Nya

dalam sejarah untuk selama-lamanya. Mereka adalah saksi yang istimewa yang

baik di hadapan masyarakat, manusia, maupun di hadapan umat Kristiani. Para

usia lanjut memberikan kesaksian bahwa Allah itu setia, dan Allah selalu

menepati janji-Nya kepada bangsa manusia seperti yang dialami oleh mereka

sekarang ini (Dewan Kepausan untuk Kaum Awam, 2002: 42).

Gereja juga merasakan bahwa kehadiran para usia lanjut memiliki nilai

berbagi yaitu saling meneguhkan antar sesama mereka yang mengalami masa

usia tua. Membangkitkan semangat yang selalu dilahirkan kembali ke dalam

hidup yang senantiasa baru dan penuh harapan. Semangat inilah yang ditimba

dari Nikodemus dalam percakapannya dengan Yesus, bahwa kerohanian

seseorang secara terus-menerus mengalami kelahiran kembali tidak usang akan

masa yang tua. Perkataan Yesus kepada Nikodemus dalam Yohanes 3: 6-7, “Apa

yang dilahirkan dari daging, adalah daging dan apa yang dilahirkan oleh Roh,

adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: kamu harus

dilahirkan kembali”. Pernyataan tersebut membukakan diri akan karunia Roh,

sebab manusia jasmani dilahirkan oleh orang tua, tetapi secara rohani dilahirkan

Kehadiran para orang tua yang mengalami kelemahan fisik membawa

semangat bagi kaum muda untuk tetap bertahan dalam kondisi apapun baik

waktu sakit, kesepian, kecewa, putus asa, merasa ditinggalkan, itu semua rahmat

dan kekuatan supaya mempersatukan diri dalam cinta kasih yang lebih besar

dengan kurban Yesus di Salib sehingga mampu ambil bagian dalam rencana

keselamatan Allah Bapa terhadap manusia (Yohanes Paulus II, 1999: 23).

Maka dari beberapa pernyataan di atas mengenai kekayaan para usia

lanjut Gereja sungguh berharap dengan adanya usia lanjut di tengah jaman yang

maju dan berkembang kehadiran mereka sangat dibutuhkan, kendati kondisi fisik

terbatas namun yang perlu diterima dari mereka ialah daya kekuatan rohani yang

menopang serta mambangun hidup Gereja. Melalui semangat doa yang mereka

tekuni menggerakkan antar sesama mereka dan orang muda merasakan daya

kekuatan Ilahi yang merasuki hidup sehari-hari, sehingga relasi dekat dengan

Allah dan sesama semakin nyata dan kabar sukacita Kerajaan Allah dapat

dirasakan oleh umat manusia di seluruh penjuru dunia. Selain itu Gereja

berharap kepada para usia lanjut dengan sumber kebijaksanaan yang dimiliki

mereka dalam perjalanan hidup yang panjang memampukan untuk semangat

dalam berbagi, baik kepada sesama maupun kaum muda untuk senantiasa

memberikan peneguhan, bimbingan dan nasehat sehingga menguatkan dan

mengokohkan kembali iman mereka sendiri dan iman bagi banyak orang

Dokumen terkait