• Tidak ada hasil yang ditemukan

Water and Waste Treatment

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 74-78)

4. PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

4.2. Pembahasan

4.2.7 Water and Waste Treatment

Air yang digunakan untuk proses produksi di PT. Sinar Sosro KPB Tambun diperoleh dari tiga sumur artesis dalam yang dipompa oleh pompa bertekanan tinggi (High Pressure Pump). Sumur ini memiliki kedalaman 50-60 meter dengan kapasitas 18 – 25 m3/jam.

Air tanah dari sumur ini masih mengandung senyawa pencemar, garam mineral, ion logam, mikroorganisme dan sebagainya sehingga perlu dilakukan penghilangan beberapa komponen tersebut agar memenuhi standar mutu air minum. Air ini tidak hanya digunakan sebagai bahan baku produksi, tetapi juga untuk proses-proses lain seperti media heat exchanger, rinsing, CIP (Cleaning In Place) dan sebagainya.

Air yang berasal dari sumur dialirkan ke reservoir. Kapasitas reservoir ini mencapai 80 m3. Dasar bak penampung berbentuk cekungan yang berfungsi untuk menampung kotoran yang mengendap. Pengurasan reservoir dilakukan minimal satu tahun sekali. Air dialirkan menuju sand filter melalui pompa high pressure dengan tekanan 5 bar dan debit air 30 m3/ jam. Pompa high pressure pada reservoir berjumlah tiga buah dan dioperasikan secara bergantian. Pompa ini mempunyai tekanan maksimal 16 bar. Penggunaan tekanan harus dikontrol agar pompa tidak rusak. Dari reservoir, air dialirkan ke Potablok.

Potablok merupakan tangki pengendapan kotoran yang terbawa dari reservoir. Kapasitas tangki ini adalah 30 m3 dan flow rate 25.000 L/ jam dengan konstruksi miring pada kisi-kisi bagian dalamnya. Konstruksi miring ini bertujuan untuk mengendapkan kotoran. Pembersihan atau pengurasan potablok dilakukan minimal satu tahun sekali.

Tangki potablok juga disebut sebagai tangki klorinasi karena pada bagian ini ditambahkan klorin dengan perbandingan 1:4. Klorin ini berfungsi untuk mengendapkan kotoran yang terbawa dari reservoir, menghilangkan bau, menurunkan jumlah mikroba awal, dan mengikat mineral seperti Fe, Mn, dan Cl. Di dalam potablok terdapat pengadukan otomatis (agitasi). Dari potablik ini air dialirkan ke sand filter.

Tangki sand filter di unit pengolahan air berjumlah dua buah yang dioperasikan secara bergantian. Volume total kedua tangki ini berturut-turut adalah 3.500 dan 3.900 liter dengankapasitas 25 m3 per jam. Media filter yang digunakan adalah pasir kuarsa yang berfungsi untuk mengikat mineral Fe dan mengendapkan flok yang belum sempat diendapkan pada reservoir.Pasir kuarsa bisa mengalami kejenuhan apabila telah digunakan dalam jangka waktu yang lama. Tanda-tanda kejenuhan pada pasir kuarsa antara lain:

 Selisih tekanan air yang masuk dan keluar sand filter lebih dari 1 bar.

 Kadar Fe yang keluar dari sand filter melebihi batas standar. Hal ini dapat diuji dengan penambahan Fe-An. Jika air berubah warna menjadi ungu berarti kadar Fe nya tinggi.

Penanganan yang dapat dilakukan apabila pasir kuarsa telah jenuh:

 Back Wash

Back wash atau pencucian balik berfungsi untuk menghilangkan kotoran berukuran besar yang terdapat pada pasir kuarsa. Proses ini dilakukan dengan cara mengalirkan air dari pipa bagian bawah tangki dan dikeluarkan melalui pipa atas tangki. Proses ini dilakukan selama 60 menit hingga air yang keluar dari tangki kembali jernih.

 Rinsing

Rinsing berfungsi sebagai pembilasan setelah proses back wash. Proses ini dilakukan dengan cara mengalirkan air dari atas pipa kemudian disirkulasikan menuju reservoir. Rinsing dihentikan setelah air yang keluar dari sand filter sudah kembali jernih. Pada umumnya rinsing dilakukan selama 10 menit.

 Scouring

Proses scouring mirip dengan back wash tetapi menggunakan tenaga angin yang bertekanan dari generator sehingga pasir dapat terangkat ke atas. Scouring dilakukan pada setiap akhir produksi. Proses ini dilakukan jika kotoran terikat kuat pada pasir sehingga proses back wash belum mampu menghilangkan kotoran tersebut. Setelah dilakukan scouring, pasir kuarsa akan aktif kembali. Banyaknya pasir kuarsa yang digunakan adalah setinggi ¾ dari dasar tangki untuk mencegah lolosnya pasir saat dilakukan back wash dan scouring.

Setelah melewati Sand Filter, air akan diproses di Carbon filter. Pengolahan ini menggunakan karbon sebagai penyaring yang berfungsi untuk menyerap bau, warna, rasa, dan menurunkan kadar klorin hingga 0. Karbon yang digunakan berasal dari tempurung kelapa. Tanda karbon aktif jenuh adalah banyaknya partikel Fe yang lolos.

Air dalam carbon filter ditampung dalam tangki penyangga air karbon yang berkapasitas 16.000 liter. Air dalam penampungan ini sebagian diolah lebih lanjut pada proses softener, sebagian lainnya digunakan untuk cooling tower, backwash, rinsing, dan CIP.

Karbon aktif yang mengalami kejenuhan perlu di-treatment agar dapat kembali aktif. Proses yang dilakukan adalah back wash, rinsing, dan steaming. Steaming merupakan proses pengaktifan arang aktif menggunakan air oanas. Uap air dari boiler dan air dari sand filter dialirkan secara bersamaan ke dalam tangki dan didiamkan sampai suhu air mencapai 900C. Setelah suhu tersebut tercapai, aliran uap panas dihentikan dan arang direndam dalam air panas tersebut selama 4-8 jam sampai arang kembali aktif.

Selanjutnya air akan diproses pada softener. Tujuannya adalah untuk menghilangkan kesadahan. Tangki softener yang dimiliki oleh PT. Sinar Sosro KPB Tambun berjumlah dua buah dengan kapasitas aliran masing-masing 25.000 L/ jam. Softener berfungsi untuk menghilangkan ion aktif seperti Ca2+, Mg2+, dan CO32-. Ion-ion ini dapat menyebabkan kerak pada ketel uap dan menurunkan efisiensi pemanasan. Proses ini dilakukan dengan menggunakan saringan resin.

Air softener yang standar berwarna biru. Jika tidak sesuai standar, air tersebut berwarna kemerahan (kesadahannya tinggi), yang berarti resin sudah jenuh dan perlu diregenerasi. Regenerasi resin dilakukan dengan perendaman menggunakan larutan garam (NaCl). Semakin banyak resinnya, semakin banyak garam yang dibutuhkan. Sebelum diregenerasi, dilakukan back wash terlebih dahulu dengan air karbon selama 15 menit.

Air yang telah lunak selanjutnya ditampung dalam penyangga air lunak untuk digunakan sebagai bahan baku utama Fruit Tea, sterilisasi, pemasakan, dan pasokan tangki buffer Tebs.

Air baku yang digunakan untuk produk Tebs berbeda dengan air baku yang digunakan untuk produk Fruit Tea. Perbedaan tersebut terlihat dari proses pengolahannya, air baku Tebs diperoleh dari air yang telah dilunakkan yang ditambah dengan klorin 1-3 ppm kemudian melewati proses filtrasi karbon dan proses filtrasi penyanggah untuk menghilangkan klorin dan komponen fisik yang terbawa dari proses sebelumnya.

Sebelum air tersebut digunakan untuk bahan baku minuman Tebs, air tersebut harus melewati mesin dengan sinar ultra violet (UV) sehingga air yang digunakan benar-benar sesuai dengan standar mutu perusahaan. Proses penyinaran dengan mesin UV dimaksudkan untuk mendestruksi sel-sel bakteri yang terdapat dalam air sehingga air yang dihasilkan menjadi steril.

4.2.7.2. Waste Treatment (Pengolahan Limbah Cair)

Limbah cair berupa air dan minyak dikumpulkan menjadi satu melalui satu saluran khusus. Limbah ini akan disaring pada bar screen sehingga cairan dan limbah kasar yang terbawa dapat terpisah. Limbah kasar yang biasa terbawa antara lain botol, straw, atau sobekan kemasan.

Limbah cair kemudian dialirkan melalui Grease trap untuk memisahkan minyak. Grease trap dibuat dengan volume tertentu sehingga air yang mengalir diperlambat untuk memberikan kesempatan minyak yang terkandung dalam limbah memisahkan diri dari air. Limbah minyak akan dibuang secara terpisah pada tempat pembuangan khusus minyak.

Limbah cair kemudian akan dialirkan ke bak Equalisasi melalui Pump pit. Di dalam Pump pit terdapat satu buah pompa transfer. Pompa transfer tersebut dilengkapi dengan Water Level Control (WLC). Bila tinggi limbah cair dalam bak pump pit lebih rendah dari level minimum maka pompa akan berhenti secara otomatis dan jika lebih tinggi atau dalam pump pit telah mencapai level maksimum maka pompa akan bekerja lagi. Agar sensor WLC optimal maka harus dibersihkan seminggu sekali. Jika sensor WLC tidak bekerja dapat mengakibatkan banjir pada pump pit atau kering. Apabila suhu limbah cair di pump pit tinggi maka limbah cair tersebut harus diturunkan suhunya terlebih dahulu dengan cara mengalirkannya ke menara pendingin kemudian dialirkan ke bak ekualisasi.

Menara pendingin ini berfungsi untuk mendinginkan suhu limbah cair secara alamiah. Pendinginan dilakukan menggunakan exhaust fan yang berfungsi untuk menghisap udara panas dari air yang dijatuhkan melalui sirip – sirip cooling tower sehingga air yang jatuh berbentuk butiran kecil. Limbah cair yang telah didinginkan akan mengalir ke bak equalisasi untuk memperoleh perlakuan biologi.

Dari bak Pump pit limbah cair dialirkan ke bak Equalisasi. Pada bak ini dilakukan equalisasi terhadap pH dan temperatur. Disini juga terdapat motor-aerator yang berfungsi untuk menghomogenisasi dan meningkatkan kandungan Oksigen pada limbah cair. Setelah melalui bak Equalisasi, limbah cair dialirkan ke bak Aerasi.

Pengolahan limbah cair pada PT. Sinar Sosro KPB Tambun menggunakan prinsip lumpur aktif dengan memanfaatkan bakteri aerob. Oleh karena itu, proses aerasi sangatlah penting karena dapat meningkatkan kandungan oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri pengurai. Pada bak Aerasi, limbah ditambah dengan pupuk Urea dan TSP untuk mempercepat penguraian oleh mikroorganisme. Pada bak aerasi air di bagian atas bak akan memisah dan mengalir ke Tube Settler.

Tube settler merupakan suatu wadah dengan konstruksi mirip sarang lebah dan miring hingga ke dasar. Bagian ini berfungsi untuk memisahkan air dengan lumpur. Lumpur akan mengendap dan terkumpul pada Sludge Collector. Sebagian dari lumpur ini akan dikembalikan ke bak aerasi, dan sebagian yang lain akan dibuang. Jika lumpur telah menumpuk maka akan dipres menjadi balok dan siap untuk dibuang. Air limbah yang telah diolah akan dialirkan ke kolam berisi ikan Nila dan ikan Mas. Kedua jenis ikan ini dijadikan indikator apakah air hasil pengolahan limbah ini sudah netral dan bisa dibuang ke saluran air.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 74-78)

Dokumen terkait