UNIVERSITAS INDONESIA
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI PT. SINAR SOSRO KPB TAMBUN
JL. DIPONEGORO KM 39 DESA JATIMULIA BEKASI
PERIODE 7 – 31 JANUARI 2013
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
NETI TRIWINANTI, S.Farm.
1206313406
ANGKATAN LXXVI
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
DEPOK
JANUARI 2013
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI PT. SINAR SOSRO PABRIK TAMBUN
JL. DIPONEGORO KM 39 DESA JATIMULIA BEKASI
PERIODE 7 – 31 JANUARI 2013
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker
NETI TRIWINANTI, S.Farm.
1206313406
ANGKATAN LXXVI
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
DEPOK
JANUARI 2013
Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia, nikmat, dan kasih sayangNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT. Sinar Sosro KPB Tambun periode 7-31 Januari 2013. Laporan ini merupakan hasil dari Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT. Sinar Sosro KPB Tambun dan disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Profesi Apoteker di Fakultas Farmasi, Universitas Indonesia.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak, masa Praktek kerja dan Laporan Praktek Kerja ini sulit untuk diselesaikan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:
1. Ibu Ima Farchaturrachmah selaku Vice General Manager PT. Sinar Sosro KPB Tambun.
2. Prof. Dr. Yahdiana Harahap, MS., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia.
3. Dr. Harmita, Apt., selaku Ketua Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Indonesia.
4. Bapak Nur Efendi, selaku Personalia and General Manager PT. Sinar Sosro KPB Tambun.
5. Bapak Elly Novianto, selaku Quality Control Manager PT. Sinar Sosro KPB Tambun.
6. Ibu Etyk Rochana, selaku Supervisor Quality Control PT. Sinar Sosro KPB Tambun, atas bimbingan, bantuan, dan ilmunya selama penulis melaksanakan Praktek Kerja Profesi Apoteker.
7. Dr. Herman Suryadi, MS., Apt., atas bantuan, bimbingan, dan kesabarannya selama membimbing penulis dalam pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker.
telah diberikan.
9. Orang tua dan keluarga penulis, atas dukungan moral dan material selama penulis melaksanakan Praktek Kerja Profesi Apoteker.
10.Seluruh staf dan karyawan PT. Sinar Sosro KPB Tambun, khususnya staf Laboratorium Quality Control, atas waktu, bimbingan, ilmu pengetahuan, dan keterampilan yang telah diajarkan.
11.Seluruh staf pengajar dan karyawan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia yang telah membantu kelancaran perkuliahan dan praktek kerja serta penyusunan laporan praktek kerja ini.
12.Teman-teman seperjuangan di PT. Sinar Sosro KPB Tambun serta seluruh rekan Apoteker Universitas Indonesia angkatan LXXVI.
13.Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan semangat dalam pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna perbaikan di masa mendatang.
Penulis berharap semoga pengetahuan dan pengalaman yang ditulis dalam Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT. Sinar Sosro KPB Tambun ini bisa bermanfaat bagi rekan sejawat serta seluruh pihak yang membutuhkan.
Penulis 2013
vi
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv DAFTAR ISI ... vi DAFTAR GAMBAR ... ix DAFTAR TABEL ... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi 1. PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan Praktek Kerja Profesi Apoteker ... 2
2. TINJAUAN UMUM ... 3
2.1 Tanaman Teh (Camellia sinensis) ... 3
2.2 Sejarah dan Perkembangan PT. Sinar Sosro ... 7
2.3 Visi, Misi, dan Kebijakan PT. Sinar Sosro KPB Tambun ... 10
2.3.1 Visi ... 10
2.3.2 Misi ... 10
2.3.3 Kebijakan ... 11
2.4 Struktur Organisasi dan Job Description... 11
2.4.1 Departemen Personalia ... 11
2.4.2 Departemen Accounting ... 12
2.4.3 Departemen Produksi ... 12
2.4.4 Departemen Quality Control ... 12
2.4.5 Non Departemen ... 12
2.5 Tenaga dan Jam Kerja di PT. Sinar Sosro ... 12
2.5.1 Jam Kerja Non Shift ... 13
2.5.2 Jam Kerja Shift ... 13
2.6 Pengenalan Produk PT. Sinar Sosro KPB Tambun ... 14
2.6.1 Teh Botol Sosro ... 14
2.6.2 Fruit Tea Sosro ... 15
2.6.3 S-Tee ... 16
2.6.4 TEBS ... 17
2.6.5 Happy Jus ... 17
2.6.6 Country Choice ... 18
2.7 Kesejahteraan Karyawan ... 19
2.8 Cara Pembuatan yang Baik untuk Makanan ... 19
2.8.1 Lokasi ... 19
2.8.2 Bangunan ... 20
vii
2.8.7 Produk Akhir ... 25
2.8.8 Laboratorium ... 25
2.8.9 Karyawan ... 26
2.8.10 Wadah dan Pembungkus ... 27
2.8.11 Label ... 27
2.8.12 Penyimpanan ... 27
2.8.13 Pemeliharaan ... 28
3. TINJAUAN KHUSUS PENGAWASAN MUTU (QUALITY CONTROL ... 29
3.1. Pengawasan Mutu Sebelum Proses Produksi ... 29
3.1.1 Pengawasan Mutu Incoming Material ... 29
3.1.2 Analisis Fisika Kimia ... 37
3.2. Pengawasa Mutu Selama Proses Produksi ... 43
3.2.1 Pemasakan ... 43
3.2.2 Pengisian dan Pengemasan ... 45
3.3. Pengawasan Mutu Setelah Proses Produksi ... 46
3.3.1 Analisis Mikrobiologi ... 46
3.3.2 Gudang Penyimpanan Dibawah Standar ... 47
3.3.3 Pengolahan Limbah ... 47
4. PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN ... 49
4.1. Pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker ... 49
4.2.Pembahasan ... 51
4.2.1 PT. Sinar Sosro KPB Tambun ... 51
4.2.2 Departemen Quality Control PT. Sinar Sosro KPB Tambun ... 55
4.2.3 Pengawasan Incoming material ... 60
4.2.4 Pengujian Kadar CO2, Kadar Gula, Uji Kebocoran Tutup, Uji Torsi ... 61
4.2.5 Uji Organoleptik Produk ... 62
4.2.6 Proses Produksi di Kitchen ... 62
4.2.7 Water and Waste Treatment ... 63
4.2.8 Gudang bahan Tambahan Pangan dan Lingkungan kerja PT. Sinar Sosro ... 67
4.2.9 Sistem Pergudangan Barang Jadi dan Cold Storage ... 69
4.2.10 Pengawasan Lini Botol PET untuk Produk TSE ... 70
4.2.11 Pengawasan Proses di Lini Tetra ... 71
4.2.12 Pengawasan Proses di Lini Kaleng dan Repacking ... 72
viii
ix
Gambar 2.1. Perubahan kemasan produk Teh Botol Sosro ... 8
Gambar 2.2. Aneka Variasi Produk Teh Botol Sosro ... 15
Gambar 2.3. Aneka Variasi Produk Fruit Tea ... 15
Gambar 2.4. Prosuk S-tee ... 16
Gambar 2.5. Variasi Produk Tebs ... 17
Gambar 2.6. Aneka Variasi Produk Happy Jus ... 18
x
Tabel 2.1. Pebedaan Teh Hijau dengan Teh Hitam ... 5
Tabel 3.1. Standar pada Pengujian Teh Kering ... 34
Tabel 4.1. Daftar kegiatan PKPA di PT. Sinar Sosro KPB Tambun ... 49
Tabel 4.2. Persyaratan suhu dan kelembapan ruangan ... 52
xi
Lampiran 1 Denah PT. Sinar Sosro KPB Tambun ... 77
Lampiran 2 Struktur Organisasi di PT. Sinar Sosro ... 78
Lampiran 3 Bagan Pengolahan Unit Water Treatment ... 79
Lampiran 4 Bagan Pengolahan Unit filler Kemasan Tetra ... 80
Lampiran 5 Bagan Unit Pergudangan ... 81
Lampiran 6 Bagan Pengolahan Limbah Cair ... 82
Lampiran 7 Contoh Laporan Unit Kitchen ... 83
Lampiran 8 Daftar Perusahaan salam Grup Rekso ... 84
Lampiran 9 Critical Control Point ... 85
1.1.Latar Belakang
Teh merupakan minuman yang paling umum dikonsumsi setelah air putih. Tradisi minum teh untuk menjaga kesehatan ini telah berlangsung sejak lama. Tanaman teh (Camellia sinensis) dipercaya sebagai obat yang poten untuk meningkatkan kesehatan, memperpanjang usia, menjaga konsentrasi dan ketajaman pikiran, serta mengatasi berbagai penyakit ringan, mulai dari gangguan pencernaan hingga demam. Para pakar kesehatan pun sepakat bahwa mengkonsumsi teh mendatangkan banyak manfaat. Semua jenis teh: teh putih, hijau, oolong, dan hitam sangat bermanfaat walaupun riset menunjukkan bahwa beberapa tipe mungkin mempunyai level kandungan polifenol tertentu yang lebih tinggi. Sebagai contoh, kadar katekin pada teh hijau lebih tinggi dibandingkan pada teh hitam, walaupun teh hitam mengandung teaflavin dan teh hijau tidak. Idealnya, seseorang mengkonsumsi berbagai varietas teh untuk mendapatkan manfaat unik dari setiap tipe (Ito En Inc, 2012).
Teh memiliki sejumlah manfaat yang dapat menguntungkan bagi kesehatan tubuh, diantaranya memperkuat gigi, mencegah karies gigi, mencegah tekanan darah tinggi, sebagai antioksidan, menangkal kolesterol, dan mencegah pertumbuhan sel kanker (Arif, Hartoyo, 2004).
Seiring dengan meningkatnya minat terhadap minuman teh, pada tahun 1974 berdirilah PT. Sinar Sosro sebagai pelopor perusahaan minuman teh siap minum yang pertama di Indonesia. Hingga saat ini PT. Sinar Sosro telah menghasilkan berbagai macam produk seperti Teh Botol Sosro, Fruit Tea Sosro, Sosro Joy Tea Green, dan teh celup Sosro. Selain itu, perusahaan ini juga melakukan diversifikasi produk seperti Happy Jus, Country Choice, Tebs, dan Air minum Prim-a (PT. Sinar Sosro, 2008).
Masyarakat sebagai konsumen perlu dilindungi keselamatan serta kesehatannya terhadap produksi dan peredaran makanan yang tidak memenuhi syarat, sehingga pemerintah mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
23/MENKES/ SK/ I/ 1978 mengenai Pedoman Cara Produksi yang Baik untuk Makanan. Pengeluaran SK ini juga didasarkan atas pertimbangan bahwa cara produksi yang baik untuk makanan merupakan salah satu faktor yang penting untuk memenuhi standar mutu atau persyaratan yang ditetapkan untuk makanan (Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 23/MENKES/ SK/ I/ 1978).
Pengolahan makanan dengan cara yang tidak baik dapat menurunkan kualitas produk karena produk tersebut dapat tercemar oleh bahan-bahan yang berbahaya bagi tubuh. Bahan-bahan tersebut dapat berupa bahan kimia beracun seperti residu pestisida, logam berbahaya, racun yang secara alami terdapat dalam bahan pangan. Selain itu, bahan-bahan pencemar dapat berupa cemaran fisik dan cemaran mikroba. Cemaran fisik meliputi pecahan gelas, pecahan lampu, pecahan logam, paku, potongan kawat, kerikil, dan benda asing lainnya, sedangkan cemaran mikroba meliputi cemaran mikroba penyebab penyakit, virus, dan parasit penyebab keracunan yang berasal dari udara, tanah, air dan tempat-tempat lain yang kotor.
Apoteker sebagai salah satu tenaga kesehatan mempunyai peranan penting dalam pengawasan dan pemastian mutu produk makanan, sehingga dinilai perlu mengetahui dan memahami semua rangkaian proses produksinya. Oleh karena itu, program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi, Universitas Indonesia bekerja sama dengan PT. Sinar Sosro Pabrik Tambun melakukan kerja sama dalam penyelenggaraan PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) yang dilaksanakan pada tanggal 7 Januari hingga 31 Januari 2013.
1.2.Tujuan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Praktek Kerja Profesi Apoteker ini mempunyai tujuan sebagai berikut: 1.2.1. Memberi kesempatan kepada mahasiswa calon apoteker untuk
memperoleh pengetahuan dan pengalaman mengenai penerapan Cara Produksi Makanan yang Baik di PT. Sinar Sosro Pabrik Tambun.
1.2.2. Menjalin hubungan baik antara perguruan tinggi dengan masyarakat di dunia industri sehingga tercipta kemitraan yang baik.
2.1.Tanaman Teh (Camellia sinensis)
Teh (Camellia sinensis) merupakan tanaman evergreen yang berasal dari Cina, kemudian menyebar ke India, Jepang, Eropa dan Rusia. Pada umumnya, tanaman ini tumbuh di daerah tropis dengan ketinggian antara 200-2000 meter diatas permukaan laut, suhu 140-250 Celcius. Ketinggian tanaman teh dapat mencapai 9 meter untuk Teh Cina dan Teh Jawa, serta 12-20 meter untuk tanaman teh Assamica. Hingga saat ini, di seluruh dunia terdapat sekitar 1500 jenis teh yang berasal dari 25 negara.
Tanaman teh berbentuk pohon, tingginya bisa mencapai belasan meter. Namun tanaman teh di perkebunan dipertahankan tingginya sekitar 90-120 cm yang dipangkas secara berkala untuk memudahkan pemetikan. Menurut Nazarudin dan Paimin (1993), taksonomi tanaman teh adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermathophyta Sub divisio : Angiospermae Class : Dicotyledonae Ordo : Guttiferales Famili : Tehaceae Genus : Camellia
Spesies : Camellia sinensis
Teh dari jenis Camellia sinensis mempunyai dua varietas teh yaitu: 1. Camellia sinensis varietas sinensis L
Teh dengan varietas ini berasal dari daerah antara Tibet dan Tiongkok sebelah selatan. Teh yang pertama di tanam orang Indonesia adalah jenis Teha sinensis atau teh jawa. Sejak tahun 1878 Teha sinensis terdesak oleh Teha assamica yang bijinya didatangkan dari India.
2. Camellia sinensis varietas Assamica masters
Teh varietas ini batangnya lebih tinggi dan lebih besar daripada Teha sinensis. Jika dibiarkan, teh ini dapat tumbuh mencapai 12-20 meter. Daunnya lebar, berbangun lanset dengan ujung yang meruncing. Warnanya hijau tua dan hijau dengan hasil yang banyak dan kualitasnya juga baik.
Untuk mempermudah pemetikan daun-daun teh, maka pohon teh selalu dijaga pertumbuhannya dengan cara pemangkasan sehingga ketinggiannya tidak lebih dari 1 meter. Dengan ketinggian ini, maka sangatlah mudah untuk memetik pucuk-pucuk daun muda yang baik (PT. Sinar Sosro, 2008).
Komponen kimia dari daun teh diantaranya adalah polifenol (katekin dan flavonoid), alkaloid (kafein, teobromin, teofilin, dll), minyak atsiri, polisakaridam asam amino, lipid, vitamin (seperti vitamin C), elemen anorganik (seperti alumunium, florin, dan mangan), dan sebagainya. Namun, polifenol merupakan komponen utama yang bertanggung jawab terhadap manfaat kesehatan dari teh. Flavonoid mempunyai efek antioksidan, antiinflamasi, antialergi, dan antimikroba. Teh hijau mengandung enam senyawa katekin primer yaitu: katekin, gallokatekin, epikatekin, epigallokatekin, epikatekin gallat, dan epigallokatekin gallat (EGCG) yang kemudian diketahui sebagai komponen paling aktif. Kandungan polifenol teh hijau yaitu 30%-40% sedangkan teh hitam 3%-10%.
Struktur kimia polifenol pada teh hijau mempunyai gugus hidroksil aktif yang dapat mengakhiri reaksi rantai dari radikal bebas yang dapat mengakibatkan perubahan patologi pada tubuh manusia jika tidak dicegah. Polifenol teh dapat meningkatkan aktivitas glutation peroksidase dan superoksida dismutase, serta meningkatkan laju scavenging jauh lebih kuat dibandingkan vitamin C dan E. Mekanisme antikarsinogenik melibatkan baik fungsi sel imun maupun inhibisi pertumbuhan tumor (Sharangi, 2009).
Teh dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok, yaitu: 1. Teh Hijau
Teh hijau dihasilkan dari daun teh tanpa proses fermentasi jika dibandingkan dengan teh oolong yang terfermentasi sebagian dan teh hitam yang terfermentasi secara keseluruhan (Sharangi, 2009). Teh hijau mengalami proses
pengeringan dan penguapan daun yang sedikit lebih lama dibandingkan teh putih (PT. Sinar Sosro, 2008). Teh hijau kaya akan komponen yang bermanfaat dan menimbulkan efek positif pada manusia. Perbedaan antara teh hijau dan teh hitam dapat dilihat pada tabel 2.1 (Sharangi, 2009).
Tabel 2.1. Perbedaan Teh Hijau dengan Teh Hitam.
Faktor Teh Hijau Teh Hitam
Proses Singkat, tanpa fermentasi Fermentasi lebih lama
Warna Hijau atau kuning Merah atau hitam
Rasa Manis setelah rasa pahit Rasa berbeda beda Antioksidan
Pada umumnya lebih tinggi polifenol
Lebih banyak
mengandung flavonoid
Kafein Sedikit Banyak
Kualitas Baik saat segar
Bergantung tempat produksi
Manfaat untuk kesehatan
Secara umum lebih baik dari teh hitam, mengiritasi lambung kosong
Sistem kardiovaskular
2. Teh Putih
Tunas dan daun muda tanaman teh dikumpulkan segera sebelum tunas mekar seutuhnya. Daun ini kemudian di-steam dan dikeringkan dengan proses yang minimum. Oleh karena itu, teh putih mempunyai level kandungan antioksidan tertinggi dan level kafein terendah dibandingkan dengan teh lainnya (Sharangi, 2009).
Teh ini disebut teh putih karena ketika pemetikan, kuncup daunnya masih ditutupi semacam rambut putih yang halus. Teh putih dikenal sebagai dewa dewinya teh karena diambil dari kuncup daun terbaik setiap pohonnya (PT. Sinar Sosro, 2008).
3. Teh Hitam
Teh hitam berjumlah sekitar 72% dari produksi teh total dunia. Sementara sebagian besar antioksidan EGCG teroksidasi selama proses fermentasi, teh hitam mempertahankan antioksidan polifenol dalam jumlah tinggi, seperti flavonoid. Antioksidan ini membantu membersihkan toksin dalam tubuh (Sharangi, 2009).
Teh hitam merupakan daun teh yang mengalami proses fermentasi paling lama sehingga warnanya pekat dan aromanya paling kuat. Teh hitam ini dipercaya memberikan manfaat seperti meningkatkan konsentrasi dan mencegah kantuk (PT. Sinar Sosro, 2008).
4. Teh Oolong
The oolong terfermentasi parsial dan mempunyai karakteristik rasa dan manfaat dari teh hijau dan teh hitam sehingga teh ini disebut juga teh semi fermentasi (PT. Sinar Sosro, 2008; Sharangi, 2009). Teh oolong mengandung antioksidan tinggi yang melindungi sel kulit sehat dan memperlambat proses penuaan. Nama oolong diambil dari nama pria Cina yakni Wu Long atau Oolong. Pria ini menemukan teh Oolong secara tidak sengaja ketika daunt eh yang dipetiknya ditinggalkan demi mengejar seekor kijang. Ketika kembali, teh itu telah terfermentasi. Legenda lain mengatakan bahwa oolong dalam bahasa Cina berarti naga hitam, karena daunnya mirip naga hitam kecil yang tiba tiba terbangun ketika diseduh (PT. Sinar Sosro, 2008).
Seperti halnya teh yang lain, teh oolong juga mempunyai khasiat terhadap kesehatan yang dapat membantu kinerja pencernaan dan mengobati sakit kepala. Bahkan pada penelitian modern terhadap teh oolong menunjukkan bahwa teh ini efektif untuk mengontrol kadar kolesterol dan membantu menurunkan kadar gula (PT. Sinar Sosro, 2008).
5. Teh Pu’Erh
Teh jenis ini berasal dari berbagai macam varietas daun teh yang dapat diambil pada berbagai waktu sepanjang tahun. Proses pembuatan teh ini sama
dengan proses pembuatan teh hitam. Keunikan teh ini adalah penyimpanan yang mencapai 50-100 tahun (Sarangi, 2009).
Teh Pu’Erh biasanya dikompres menjadi berbagai macam bentuk sebelum disimpan. Selama masa penyimpanan, teh Pu’erh dipaparkan pada mikroflora dan bakteri yang memfermentasi teh, hal ini mirip dengan wine atau yoghurt. Teh Pu’erh menghasilkan masakan teh yang gelap dan rendah kafein. Rasa teh ini biasanya berbau tanah dan lembut. Studi menunjukkan bahwa teh ini berguna dalam menurunkan kolesterol (Ito En, Inc, 2012).
2.2.Sejarah dan Perkembangan PT. Sinar Sosro
Sosro merupakan pelopor produk teh siap minum dalam kemasan yang pertama di Indonesia. Nama Sosro diambil dari nama keluarga pendirinya yakni Sosrodjojo (PT. Sinar Sosro, 2008).
Pada tahun 1940, keluarga Sosrodjojo memulai usaha di Slawi, Jawa Tengah. Pada saat memulai bisnis tersebut, produk yang dijualadalah teh kering dengan merk Teh Cap Botol, dimana daerah distribusinya masih seputar wilayah Jawa Tengah. Pada tahun 1953, Keluarga Sosrodjojo mulai memperluas bisnisnya dengan merambah ke Jakarta untuk memperkenalkan produk Teh Cap Botol yang sudah sangat terkenal di Jawa Tengah (PT. Sinar Sosro, 2008).
Perjalanan memperkenalkan produk Teh Cap Botol ini dimulai dengan melakukan strategi Cicip Rasa (product sampling) ke beberapa pasar di Jakarta. Pada awalnya strategi ini dilakukan dengan mendatangi pasar-pasar untuk memperkenalkan Teh Cap Botol dengan cara memasak dan menyeduh teh di tempat. Setelah seduhan tersebut siap, teh dibagikan kepada orang-orang yang ada di pasar. Tetapi cara inikurang berhasil karena teh yang telah diseduh terlalu panas dan proses penyajiannya terlampau lama sehingga pengunjung di pasar yang ingin mencicipinya tidak sabar menunggu (PT. Sinar Sosro, 2008).
Cara kedua dilakukan tanpa penyeduhan langsung di pasar, tetapi teh dimasukkan ke dalam panic besar untuk selanjutnya dibawa ke pasar dengan menggunakan mobil bak terbuka. Cara ini lagi lagi kurang berhasil karena teh yang dibawa sebagian besar tumpah dalam perjalanan dari kantor ke pasar. Akhirnya muncul ide untuk membawa teh yang telah diseduh di kantor dikemas
ke dalam botol yang sudah dibersihkan. Ternyata cara ini cukup efektif dalam menarik minat pengunjung karena praktis dan dapat langsung diminum tanpa menunggu pemasakan teh seperti cara sebelumnya.
Pada tahun 1969 muncul gagasan untuk menjual teh siap minum dalam kemasan botol, dan pada tahun 1974 didirikan PT. Sinar Sosro yang merupakan pabrik teh siap minum dalam kemasan botol pertama di Indonesia dan di dunia. Model botol untuk kemasan Teh Botol Sosro mengalami tiga kali perubahan sebagai mana dapat dilihat pada gambar 2.1.
Sumber: www.sosro.com
Gambar 2.1. Perubahan kemasan produk Teh Botol Sosro
1. Botol Versi 1, yang dikeluarkan pada tahun 1970 dengan merk TEH CAP
BOTOL SOFT DRINK SOSRODJOJO.
2. Botol Versi 2, yang dikeluarkan pada tahun 1972 dengan merk TEH CAP BOTOL (dengan penulisan “CAP” lebih kecil, sehingga orang lebih membaca TEH BOTOL), selain itu penulisan Soft Drink dihilangkan, dan tulisan Teh
Botol diganti dengan warna merah putih yang menggambarkan produk asli Indonesia. Penulisan Sosrodjojo juga disingkat menjadi Sosro dalam logo
bulat merah.
3. Botol Versi 3, yang dikeluarkan pada tahun 1974. Desain botol ini berbeda dari desain sebelumnya karena terdapat perubahan bentuk botol dan penulisan
didirikannya PT. Sinar Sosro yang pertama di daerah Cakung, Jakarta.
Bisnis Sosro sampai saat ini sudah dijalankan oleh tiga generasi Sosrodjojo, yakni:
1. Generasi Pertama (Pendiri Grup Sosro) : Sosrodjojo
2. Generasi Kedua : Soemarsono Sosrodjojo, Soegiharto Sosrodjojo, Soetjipto Sosrodjojo, Surjanto Sosrodjojo.
3. Generasi Ketiga (sejak awal tahun 1990)
Pengembangan bisnis minuman teh selanjutnya dilakukan oleh dua perusahaan:
1. PT. Sinar Sosro, perusahaan yang memproduksi Teh Siap Minum Dalam kemasan. Produk-produknya adalah Teh Botol Sosro, Fruit Tea Sosro, Joy Tea Green Sosro, TEBS, Happy Jus, Country Choice, dan Air Minum Prim-A. 2. PT. Gunung Slamat, perusahaan yang memproduksi Teh Kering Siap Saji.
Produk-produknya adalah teh celup Sosro, Teh Cap Botol, Teh Poci, Teh Terompet, teh Sadel, Teh Sepatu, dan Teh Berko. PT. Gunung Slamat mendapatkan penghargaan sebagai Top Brand Award 2008 untuk kategori teh Celup.
Dasar atau filosofi PT. Sinar Sosro adalah niat baik yang dijabarkan dalam 3K dan RL yaitu:
1. Peduli terhadap Kualitas 2. Peduli terhadap Keamanan 3. Peduli terhadap Kesehatan 4. Ramah Lingkungan
Niat baik tersebut diaplikasikan pada pembuatan produk dengan spesifikasi: tanpa bahan pewarna, tanpa bahan pengawet, dan tanpa bahan pemanis buatan. Bahan baku teh Sosro dipilih hanya dari pucuk daun terpilih dan terbaik yang dipetik dari perkebunan milik sendiri. Pengolahan produk dilakukan dengan menggunakan mesin modern dari Jerman yang dilakukan untuk menghasilkan produk terbaik dengan standar terjaga.
Untuk mendapatkan bahan baku terbaik dengan kualitas unggul, maka keluarga Sosrodjojo memiliki sendiri perkebunan teh yang tersebat di berbagai wilayah di Jawa Barat antara lain:
1. Perkebunan Teh Gunung Satria dan daerah Neglasari di Garut dengan ketinggian 1000 s.d 1250 m dpl dan memiliki luas 455 hektar.
2. Pegunungan Teh daerah Sambawa, Tasikmalaya dengan ketinggian 800 s.d 950 m dpl dan memiliki luas 732 hektar.
3. Perkebunan Teh gunung Rosa, Gunung Manik, dan Gunung Cempaka di Cianjur dengan luas 400 hektar dan ketinggian 1000 s.d 1250 m dpl.
4. Perkebunan Teh daerah Cukul di Pangalengan.
PT. Sinar Sosro saat ini sudah mempunyai beberapa variasi produk minuman siap minum. Karena mendapat dukungan dari sistem distribusi yang canggih, maka produk Sosro berhasil menjangkau konsumen di seluruh pelosok provinsi di Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri.
Untuk memenuhi kebutuhan konsumen agar mendapatkan produk terbaik dengan mutu tetap terjaga, maka Sosro melakukan proses sertifikasi produk. Pada saat ini setiap produk Sosro dijamin halal oleh departemen Agama RI dengan standar higienis yang dijamin oleh departemen Kesehatan. Adapun kualitas pengolahan dan produknya tetap terjaga apabila dihasilkan dari lingkungan yang baik. Tanggung jawab sosro kepada lingkungan, dilakukan dengan melalui Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
2.3.Visi, Misi, dan Kebijakan PT. Sinar Sosro KPB Tambun 2.3.1 Visi
“Menjadi perusahaan minuman kelas dunia yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen, kapan saja, dimana saja serta memberikan nilai tambah untuk semua pihak terkait” (Total Indonesian World Class Beverage).
2.3.2 Misi
a. Membangun merek sosro sebagai merek teh yang alami, berkualitas dan unggul.
b. Melahirkan merek & produk minuman baru, baik yang berbasis teh maupun non teh, dan menjadikannya pemimpin pasar dalam kategorinya masing-masing.
c. Membangun dan memimpin jaringan distibusi.
d. Menciptakan dan memelihara komitmen terhadap pertumbuhan jangka panjang, baik dalam volume penjualan maupun penciptaan pelanggan.
e. Membangun sumber daya manusia dan melahirkan pemimpin yang sesuai dengan nilai-nilai utama perusahaan.
f. Memberikan kepuasan kepada para pelanggan. g. Menyumbang devisa negara
2.3.3Kebijakan
PT. Sinar Sosro Pabrik Tambun memiliki kebijakan mutu sebagai berikut: a. Memproduksi minuman yang berkualitas,unggul, dan aman sesuai kebutuhan
dan keinginan pelanggan.
b. Pimpinan dan seluruh karyawan PT. Sinar Sosro secara konsisten menerapkan Sistem Manajemen Mutu dan keamanan pangan melalui pengendalian mutu terpadu di semua lini perusahaan sesuai standar yang diterapkan.
2.4 Struktur Organisasi dan Job Description
Struktur organisasi merupakan gambaran urutan dan keterkaitan dari jabatan-jabatan yang ada dalam suatu perusahaan. Struktur ini berguna sebagai pemersatu kerjasama antara pekerja yang satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan perusahaan. Struktur organisasi PT. Sinar Sosro dapat dilihat pada lampiran.
PT. Sinar Sosro pabrik Tambun memiliki 5 Departemen, dimana setiap departemen mempunyai tugasnya masing-masing. Pembagiannya adalah sebagai berikut:
2.4.1. Departemen Personalia
Departemen Personalia bertugas mengelola sumber daya yang ada untuk mencapai tingkat produktivitas yang tinggi dan mengembangkannya menjadi
tenaga yang handal dan optimal sesuai dengan potensi dan kapasitas peralatan kerja pendukung, dan mengelola pelayanan umum serta infrastuktur.
2.4.2. Departemen Accounting
Departemen Accounting melaksanakan seluruh kegiatan accounting dan keuangan, pelaporan keuangan, mengelola dana pengupahan yang bertujuan untuk menunjang operasional perusahaan secara menyeluruh dan menyempurnakan kebijakan keuangan anggaran produksi, personalia dan umum, serta perusahaan sesuai dengan yang diperlukan, temasuk penyempurnaan sistem dan prosedur operasi.
2.4.3. Departemen Produksi
Departemen produksi bertugas membuat perencanaan produksi dan menghasilkan produk yang sesuai dengan rencana dengan menggunakan sumber daya mannusia, mesin, bahan, yang efisien serta menciptakan peralatan dan lingkungan produk yang bersih. Selain itu, bagian produksi juga mengkoordinir kegiatan bagian operasi perusahaan, mengadakan pemeriksaan terhadap hasil produksi yang dihasilkan sesuai dengan standar yang diterapkan.
2.4.4. Departemen Quality Control
Departemen ini bertugas memastikan bahwa sistem mutu dari produk-produk yang dihasilkan oleh unit produk-produksi agar senantiasa memenuhi standar mutu yang telah diterapkan dengan cara merencanakan dan mengawasi produk.
2.4.5. Non Departemen
Bagian non departemen terdiri dari: Purchasing, Gudang Barang Jadi dan Bisnis Unit Ekpor.
2.5 Tenaga dan Jam Kerja di PT. Sinar Sosro
Dalam pelaksanaan operasinya, perusahaan tidak terlepas dari sistem ketenagakerjaan. Jam kerja yang berlaku di PT. Sosro Pabrik Tambun adalah sebagai berikut:
2.5.1. Jam Kerja Non Shift
Jam kerja non shift dibagi menjadi 3, yaitu jam kerja non shift yang berlaku untuk staff kantor, administrasi produksi, supervisor non shift, manajer departemen, dan resepsionis. Jam kerja ini berlaku pada hari Senin sampai Jumat pukul 08.30-16.30 WIB dengan waktu istirahat 1 jam, serta pada hari Sabtu pukul 08.30-13.30 WIB.
Jam kerja non shift yang berlaku untuk gudang barang jadi, Repacking, dan Gudang karantina adalah setiap hari Senin sampai Jumat pukul 07.00-15.00 dengan waktu istirahat 1 jam. Sedangkan pada hari Sabtu pukul 07.00-12.00 WIB. Jam kerja non shift juga berlaku untuk gudang bahan baku, administrasi Quality Control, workshop, dan GSP, yaitu setiap hari Senin sampai dengan Jumat pukul 08.00-16.00 serta hari Sabtu pukul 08.00-13.00
2.5.2. Jam Kerja Shift
Jam kerja shift dibagi menjadi 3 shift, yang berlaku untuk seluruh karyawan bagian produksi, Quality Control, dan utility. Pada shift 1, hari kerja yang berlaku adalah Senin-Jumat pukul 06.00-14.00 WIB dengan 1 jam waktu istirahat; serta hari Sabtu pukul 06.00-11.00.
Jam kerja Shift 2 adalah Senin-Jumat pukul 14.00-22.00 WIB dengan 1 jam waktu istirahat; serta hari Sabtu pukul 11.00-16.00 WIB. Sementara itu, shift 3 mempunyai jam kerja Senin-Jumat pukul 22.00-06.00 WIB dengan 1 jam istirahat; serta hari sabtu pukul 16.00-20.00 WIB.
Jam kerja satpam dan gudang umum produksi dibagi menjadi tiga shift yaitu shift 1, shift 2, dan shift 3. Shift 1 hari kerja adalah Senin-Minggu pada pukul 07.00-15.00 WIB dengan waktu istirahat 1 jam. Sedangkan hari Sabtu adalah pukul 06.00-11.00 WIB. Jam kerja pada shift 2 adalah Senin-Minggu pukul 15.00-23.00 WIB dengan waktu istirahat 1 jam. Sedangkan pada hari Sabtu adalah pukul 11.00-16.00 WIB.
Hari kerja pada shift 3 adalah pada hari Senin sampai dengan Minggu pada pukul 23.00-07.00 WIB dengan waktu istirahat 1 jam, sedangkan pada hari Sabtu adalah pukul 16.00-21.00 WIB. Khusus untuk kerja satpam diberlakukan system off dan pada hari Jumat jam istirahatnya adalah 11.30 sampai dengan 13.00 WIB.
2.6 Pengenalan Produk PT. Sinar Sosro KPB Tambun
Dalam memenuhi kebutuhan konsumen agar mendapat produk terbaik dengan mutu terjaga, PT. Sinar Sosro melakukan langkah sertifikasi produk. Saat ini setiap produk Sosro dijamin halal oleh Departemen Agama RI dengan standar higienis yang juga terjamin.
Adapun produk yang dihasilkan PT. Sinar Sosro antara lain (PT. Sinar Sosro, 2008):
2.6.1. Teh Botol Sosro
Salah satu produk unggulan PT. Sinar Sosro adalah Teh Botol Sosro kemasan botol beling atau sering disebtu RGB (Returnable Glaa Bottle). Teh Botol Sosro kemasan botol beling merupakan produk teh siap minum yang pertama di Indonesia dan di dunia yang diluncurkan sejak tahun 1974.
Untuk memenuhi kebutuhan pencintanya dimanapun berada, Teh Botol Sosro dengan inovasinya sampai saat ini telah memiliki banyak pilihan kemasan produk, yaitu:
Kemasan botol beling (Returnable Glass Bottle) dengan volume 220 mL.
Kemasan kotak (Tetra Pak) dengan volume 1 liter, 250 mL, 200 mL.
Kemasan pouch dengan volume 150 mL.
Inovasi terbaru dari produk Teh botol Sosro adalah Teh Botol Less Sugar yang telah diluncurkan pada tanggal 20 Agustus 2008. Produk ini tersedia pula dalam kemasan PET volume 500 mL.
PT. Sinar Sosro Pabrik Tambun memproduksi Teh Botol Sosro kemasan kotak (Tetra Pak) volume 200 mL, 250 mL, dan 330 mL, serta Teh Botol Sosro Less Sugar kemasan Tetra Pak 250 mL.
Sumber: www.sosro.com
Gambar 2.2. Aneka Variasi Produk Teh Botol Sosro
2.6.2. Fruit Tea Sosro (PT. Sinar Sosro, 2008)
Sumber: www.sosro.com
Gambar 2.3. Aneka Variasi Produk Fruit Tea
Pada tahun 1997, PT. Sinar Sosro melakukan pengembangan produknya yaitu Fruit Tea Sosro dengan target segmen konsumen usia remaja. Produk ini cukup sukses di pasar sehingga pada tahun 2004 memperoleh Indonesia Best Brand Award sebagai Most Potential Brand In Non-Carbonated Drink Category.
Fruit Tea Sosro hadir dalam beberapa jenis kemasan yakni:
Kemasan botol beling (Returnable Glass Bottle) dengan ukuran 235 mL
Kemasan kaleng (Can) dengan volume 318 mL
Kemasan botol plastik atau PET (Polyethylene) dengan volume 500 mL dan 300 mL.
Kemasan puch dengan volume 230 mL.
Variasi rasa Fruit Tea Sosro adalah rasa Apel, Blackcurrant, Guava, Strawberry, X-treme, dan Fussion, Freeze, Hot, dan Wow. Produk minuman Fruit Tea yang diproduksi oleh PT. Sinar Sosro adalah kemasan PET volume 500 mL dan 300 mL, dan kemasan Tetra Wedge Aseptic (TWA) dengan volume 200 mL.
PT. Sinar Sosro Pabrik Tambun memproduksi Fruit Tea kemasan Tetra Wedge Aseptic dengan volume 200 mL semua rasa kecuali Hot dan Wow, serta kemasan PET volume 500 mL semua varian rasa kecuali Freeze, Hot, dan Wow. Kemasan PET juga tersedia dalam volume 300 mL dengan varian rasa Hot, Freeze, dan Wow.
2.6.3. S-TEE
Sumber: www.sosro.com
Gambar 2.4. Produk S-tee
Pada tahun 1990-an PT. Sinar Sosro meluncurkan produk teh dalam kemasan botol beling (Returnable Glass Bottle) dengan merk S-TEE dengan volume 318 mL. Produk ini didesain untuk memenuhi kebutuhan konsumen terhadap produk teh dengan hraga terjangkau dan volume lebih banyak (PT. Sinar Sosro, 2008).
Saat ini, S-TEE juga telah tersedia dalam kemasan Tetra Pak dengan volume 330 mL yang diproduksi oleh PT. Sinar Sosro pabrik Tambun.
2.6.4. TEBS
TEBS adalah kategori minuman teh berkarbonasi yang dilaunching pada bulan November 2004 dengan kemasan botol beling (Returnable Glass Bottle) dalam volume 230 mL yang kemudian disusul dengan kemasan kaleng (Can) bervolume 318 mL, dan kemasan PET bervolume 500 mL.
PT. Sinar Sosro telah mendapatkan penghargaan The Best Client dari JC&K Advertising sebagai hasil kerja samanya yang telah terjalin dengan baik dengan pihak agency. Saat ini terdapat dua varian produk TEBS yaitu TEBS regular dan TEBS Maroon (Rasa Rosella). PT. Sinar Sosro Pabrik Tambun memproduksi TEBS regular dalam kemasan PET 500 mL dan 1500 mL, keg 19 Liter, serta kaleng (Can) 330 mL. Sedangkan TEBS Maroon diproduksi dalam kemasan PET 500 dan 1500 mL.
Sumber: www.sosro.com
Gambar 2.5. Variasi produk Tebs
2.6.5. Happy Jus
Untuk kategori minuman jus, PT. Sinar Sosro menghadirkan produk Happy Jus yang dilaunching pada awal tahun 2005. Produk ini lebih banyak diminati oleh anak-anak.
Sumber: www.sosro.com
Gambar 2.6. Aneka variasi produk Happy Jus
Saat ini Happy Jus terdapat dalam dua jenis kemasan genggam (Tetra Pak) volume 200mL dan PET kemasan 300 mL. PT. Sinar Sosro pabrik Tambun memproduksi Happy Jus kemasan genggam dengan varian rasa Apel, Cherry-B, Apel Berry, Jeruk, dan Anggur. Sedangkan kemasan PET menghadirkan varian rasa Apel Berry dan Anggur.
2.6.6. Country Choice
Sumber: www.sosro.com
Gambar 2.7. Aneka variasi produk Country Choice
PT. Sinar Sosro juga menghasilkan produk Country Choice dalam kategori jus pada akhir tahun 2008. Country Choice merupakan real juice kaya manfaat untuk kecukupan gizi dan nutrisi setiap hari dengan cara praktis dan hemat.
2. Kemasan keluarga (Tetra Gemina Aseptic) 1 L 3. Kemasan PET 300 mL
Varian rasa yang tersedia adalah Jambu Biji, Jeruk, Apel, Mangga, Goji Berry, dan Apel Fiber. PT. Sinar Sosro pabrik Tambun memproduksi semua jenis kemasan dan rasa produk ini.
2.7 Kesejahteraan Karyawan
Kesejahteraan karyawan yang dimaksud adalah fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh PT. Sinar Sosro Pabrik Tambun terhadap pekerjanya. Kesejahteraan yang diberikan oleh perusahaan berupa kesejahteraan karyawan, jaminan kesehatan, sarana dan prasarana seperti Kantin, Mushola, Tempat Parkit, Toilet. Selain itu karyawan dibebaskan dari kewajiban kerja dan partisipasi kegiatan di lingkungan perusahaan seperti pemotongan hewan kurban, santunan anak yatim, dan partisipasi kegiatan sosial serta keagamaan kepada masyarakat di lingkungan perusahaan (PT. Sinar Sosro, 2012).
2.8 Cara Pembuatan yang Baik untuk Makanan
Dasar pertimbangan dibuatnya Cara Produksi yang Baik Untuk Makanan adalah keputusan Menteri Kesehatan RI No.23/MenKes/SK/1978, tertanggal 24 Januari 1978 tentang Pedoman Cara Produksi yang Baik Untuk Makanan.
Tujuan Penerapan Cara Produksi yang Baik Untuk Makanan antara lain: 1. Melindungi keselamatan dan kesehatan terhadap produksi dan peredaran
makanan yang tidak memenuhi syarat
2. Sebagai penuntun bagi produsen makanan dan minuman untuk meningkatkan mutu hasil produksinya
Aspek-aspek Cara Produksi yang Baik Untuk Makanan adalah sebagai berikut:
2.8.1 Lokasi
Pabrik harus berada di tempat yang bebas dari pencemaran. Pencemaran tersebut dapat bersumber dari:
a. Daerah persawahan atau rawa, daerah pembuangan kotoran dan sampah, daerah kering dan berdebu, daerah berpenduduk padat, daerah kotor, dan daerah penumpukan barang bekas
b. Perusahaan lain
c. Tempat tinggal atau fasilitas lain yang bersamaan letak dan atau penggunannya dengan bangunan
d. Pekarangan yang tidak terpelihara, timbunan barang yang tidak teratur, tempat penimbunan sampah, tempat bersembunyi atau berkembang biaknya serangga, binatang pengerat dan atau binatang lain
e. Tempat yang memiliki saluran pembuangan air yang buruk, sehingga terdapat genangan air
2.8.2 Bangunan
Bangunan harus dibuat berdasarkan perencanaan yang memenuhi persyaratan teknik dan higiene sesuai dengan jenis makanan dan minuman yang diproduksi, sehingga mudah dibersihkan, mudah dilakukan sanitasi, dan mudah diperlihara.
1. Tata ruang
a. Bangunan unit produksi harus terdiri atas ruangan pokok dan ruangan pelengkap yang letaknya terpisah untuk menghindari pencemaran terhadap makanan atau minuman yang diproduksi.
b. Ruangan pokok harus memiliki luas yang sesuai dengan jenis dan kapasitas produksi, jenis dan ukuran alat produksi, dan jumlah karyawan yang bekerja. Selain itu, ruangan pokok harus mempunyai susunan bagian yang diatur sesuai dengan urutan proses produksi.
c. Ruangan pelengkap harus memiliki luas sesuai dengan jumlah karyawan yang bekerja, dan harus mempunyai susunan bagian yang diatur sesuai dengan urutan proses produksi.
2. Lantai
a. Lantai untuk ruangan pokok harus rapat air, tahan terhadap air, garam, asam, atau basa, dan bahan kimia tertentu, memiliki permukaan yang rata
dan halus, serta pertemuan antara lantai dengan dinding tidak boleh membentuk sudut mati dan harus melengkung serta rapat dengan air. Untuk ruangan pengolahan yang memerlukan pembilasan air, hendaknya mempunyai kelandaian yang cukup ke arah saluran pembuangan dan mempunyai saluran tempat air mengalir atau lubang pembuangan.
b. Untuk lantai ruangan pelengkap harus rapat air, tahan terhadap air, dan memiliki permukaan yang rata dan halus, Ruangan untuk mandi, cuci dan sarana toilet harus mempunyai kelandaian yang cukup ke arah saluran pembuangan.
3. Dinding
a. Dinding ruangan pokok harus memenuhi syarat sekurang-kurangnya 20 cm di bawah dan 20 cm di atas permukaan lantai harus rapat air. Pada permukaan bagian dalam dinding harus halus, rata, berwarna terang, tahan lama, tidak mudah mengelupas, mudah dibersihkan dan sekurang-kurangnya setinggi 2 m dari lantai harus rapat air, tahan terhadap air, garam, basa atau bahan kimia lainnya. Selain itu, pertemuan antara dinding dengan dinding dan antara dinding dengan lantai tidak boleh membentuk sudut mati dan harus melengkung serta rapat air.
b. Dinding ruangan pelengkap pokok harus memenuhi syarat sekrang-kurangnya 20 cm di bawah dan 20 cm di atas permukaan lantai harus rapat air. Pada permukaan bagian dalam dinding harus halus, rata, berwarna terang, tahan lama, tidak mudah mengelupas, dan mudah dibersihkan. Ruangan untuk mandi, cuci dan sarana toilet selain harus memenuhi syarta untuk dinding ruangan pelengkap, sekurang-kurangnya setinggi 2 m dari lantai harus rapat air.
4. Atap dan Langit-langit
a. Atap pada ruangan pokok harus terbuat dari bahan yang tahan lama, tahan terhadap air, dan tidak bocor. Langit-langit pada ruangan pokok harus dibuat dari bahan yang tidak mudah melepaskan bagian-bagiannya, tidak terdapat lubang dan tidak retak, tahan lama dan mudah dibersihkan, mempunyai tinggi dari lantai sekurang-kurangnya 3 m, memiliki permukaan dalam yang rata, berwarna terang, dan tidak mudah
mengelupas. Untuk tempat pengolahan yang menimbulkan atau menggunakan uap air harus rapat air .
b. Atap pada ruangan pelengkap harus terbuat dari bahan yang tahan lama, tahan terhadap air, dan tidak bocor. Langit-langit pada ruangan pelengkap harus dibuat dari bahan yang tidak mudah melepaskan bagian-bagiannya, tidak terdapat lubang dan tidak retak, tahan lama dan mudah dibersihkan, mempunyai tinggi dari lantai sekurang-kurangnya 3 m, memiliki permukaan dalam yang rata dan berwarna terang.
5. Pintu
a. Ruangan pokok harus memiliki pintu yang terbuat dari bahan yang tahan lama, memiliki permukaan yang rata, halus, berwarna terang dan mudah dibersihkan, dapat ditutup dengan baik, serta membuka keluar.
b. Pintu ruangan pelengkap harus terbuat dari bahan yang tahan lama, memiliki permukaan yang rata, halus, berwarna terang dan mudah dibersihkan, serta dapat ditutup dengan baik.
6. Jendela
Jendela yang digunakan harus memenuhi syarat terbuat dari bahan yang tahan lama, permukaan yang rata, halus, berwarna terang dan mudah dibersihkan, sekurang-kurangnya setinggi 1 m dari lantai, dan memiliki luas yang sesuai dengan besarnya bangunan.
7. Penerangan
Permukaan kerja dalam ruangan pokok dan ruangan pelengkap harus memiliki penerangan yang sesuai dengan keperluan dan persyaratan kesehatan. 8. Ventilasi
Ventilasi dan pengatur suhu ruangan pokok dan ruangan pelengkap, baik secara alami maupun buatan, harus memenuhi syarat, yaitu:
a. Cukup menjamin peredaran udara dengan baik dan dapat menghilangkan uap, gas, asap, bau, debu, dan panas yang dapat merugikan kesehatan
b. Dapat mengatur suhu yang diperlukan
d. Lubang ventilasi harus dilengkapi dengan alat yang dapat mencegah masuknya serangga dan mengurangi masuknya kotoran ke dalam ruangan serta mudah dibersihkan.
2.8.3 Fasilitas Sanitasi
Bangunan harus dilengkapi dengan fasilitas sanitasi yang dibuat berdasarkan perencanaan yang memenuhi persyaratan teknik dan higiene.
1. Sarana penyediaan air
Bangunan harus dilengkapi dengan sarana penyediaan air yang pada pokoknya terdiri dari sumber air, perpipaan pembawa, tempat persediaan air, dan perpipaan pembagi. Sarana penyediaan air harus dapat menyediakan air yang cukup bersih sesuai dengan kebutuhan produksi pada khususnya dan kebutuhan perusahaan pada umumnya. Pemasangan dan bahan sarana penyediaan air harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Sarana pembuangan
Bangunan harus dilengkapi dengan sarana pembuangan yang pada pokoknya terdiri dari saluran dan tempat pembuangan sampah, tempat buangan padat, sarana pengolahan buangan, dan sarana pembuangan buangan yang terolah. Sarana pembuangan harus dapat mengolah dan membuang buangan padat, cair, dan atau gas yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Pemasangan dan bahan sarana pembuangan harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Sarana toliet
Persyaratan untuk sarana toilet ialah sebagai berikut:
a. Memiliki letak yang tidak terbuka langsung ke ruang proses pengolahan b. Dilengkapi dengan bak cuci tangan
c. Diberi tanda pemberitahuan, bahwa setiap karyawan harus mencuci tangan dengan sabun atau deterjen sesudah menggunakan toilet
4. Sarana cuci tangan
Persyaratan untuk sarana cuci tangan antara lain: a. Ditempatkan di tempat-tempat yang diperlukan
b. Dilengkapi dengan air mengalir yang tidak boleh dipakai berulang kali, dengan sabun atau detergen, handuk atau alat lain untuk mengeringkan tangan dan tempat sampah yang bertutup
c. Disediakan dalam jumlah yang cukup sesuai dengan jumlah karyawan
2.8.4 Alat Produksi
Alat dan perlengkapan yang dipergunakan untuk memproduksi makanan harus dibuat berdasarkan perencanaan yang memenuhi persyaratan teknik dan higiene, serta memenuhi syarat lain, yaitu sebagai berikut:
a. Sesuai dengan jenis produksi
b. Permukaan yang berhubungan dengan makanan atau minuman harus halus, tidak berlubang atau bercelah, tidak mengelupas, tidak menyerap air dan tidak berkarat
c. Tidak mencemari hasil produksi dengan jasad renik, unsur, atau fragmen logam yang lepas, minyak pelumas, bahan bakar, dan lain-lain
d. Mudah dibersihkan
2.8.5 Bahan
Bahan baku, bahan tambahan, dan bahan penolong yang digunakan untuk memproduksi makanan dan atau minuman tidak boleh merugikan kesehatan dan harus memenuhi standar mutu yang ditetapkan, dan sebelum digunakan harus dilakukan pemeriksaan secara organoleptik, fisika, kimia, mikrobiologi, dan atau biologi. Bahan tambahan yang persyaratannya belum ditetapkan oleh menteri hanya boleh digunakan dengan ijin khusus menteri.
2.8.6 Proses Pengolahan
1. Formula dasar
a. Jenis bahan yang digunakan (bahan baku, bahan tambahan, dan bahan penolong) serta persyaratan mutunya
b. Jumlah bahan untuk satu kali pengolahan c. Tahap-tahap proses pengolahan
d. Langkah-langkah yang perlu diperhatikan selama proses pengolahan e. Jumlah hasil yang diperoleh untuk satu kali pengolahan
f. Uraian mengenai wadah, label, serta cara pewadahan dan pembungkusan g. Cara pemeriksaan bahan, produk antara dan produk akhir
h. Hal lain yang dianggap perlu 2. Protokol Pembuatan
Untuk setiap satuan pengolahan harus ada instruksi tertulis dalam bentuk protokol pembuatan yang menyebutkan:
a. Nama makanan
b. Tanggal pembuatan dan nomor kode c. Jenis dan jumlah bahan yang digunakan
d. Tahap-tahap pengolahan dan hal-hal yang harus diperhatikan selama proses pengolahan
e. Jumlah hasil pengolahan f. Hal lain yang dianggap perlu
2.8.7 Produk Akhir
Produk akhir tidak boleh merugikan kesehatan dan harus memenuhi standar mutu yang ditetapkan, dan sebelum diedarkan harus dilakukan pemeriksaan secara organoleptik, fisika, kimia, mikrobiologi, dan atau biologi. Produk akhir yang persyaratannya belum ditetapkan oleh menteri persyaratannya ditentukan sendiri oleh pabrik yang bersangkutan.
2.8.8 Laboratorium
Perusahaan yang memproduksi jenis makanan atau minuman tertentu yang ditetapkan oleh menteri, harus memiliki laboratorium untuk melakukan pemeriksaan terhadap bahan baku, bahan tambahan, dan bahan penolong yang digunakan, serta produk akhir. Pemeriksaan yang dilakukan harus ada protokol
yang menyebutkan nama makanan, tanggal pembuatan, tanggal pengambilan contoh, jumlah contoh yang diambil, kode produksi, jenis pemeriksaan yang dilakukan, kesimpulan pemeriksaan, nama pemeriksa, dan hal lain yang dianggap perlu.
2.8.9 Karyawan
Karyawan yang bekerja di perusahaan harus memenuhi syarat: a. Memiliki kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan pekerjannya
b. Bebas dari luka, penyakit kulit, atau hal lain yang diduga dapat mengakibatkan pencemaran terhadap hasil produksi
c. Diteliti dan diawasi kesehatannya secara berkala
d. Mengenakan pakaian kerja, termasuk sarung tangan, tutup kepala, dan sepatu yang sesuai
e. Mencuci tangan di bak cuci tangan sebelum melakukan pekerjaan
f. Menahan diri untuk tidak makan, minum, merokok, meludah atau melakukan pekerjaan yang dapat mengakibatkan pencemaran terhadap produk makanan dan minuman, serta tidak merugikan karyawan lain
Perusahaan yang memproduksi makanan dan minuman harus menunjuk dan menetapkan penanggung jawab untuk bidang produksi dan pengawasan mutu yang memiliki kualifikasi sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya, serta diharapkan penanggung jawab bidang produksi tidak merangkap sebagai penanggung jawab pengawasan mutu.
2.8.10 Wadah dan Pembungkus
Wadah dan pembungkus yang digunakan untuk makanan dan minuman harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Dapat melindungi dan mempertahankan mutu isinya terhadap pengaruh dari luar
b. Tidak berpengaruh terhadap isi
c. Dibuat dari bahan yang tidak melepaskan bagian atau unsur yang dapat mengganggu kesehatan atau mempengaruhi mutu makanan
e. Tahan terhadap perlakuan selama pengolahan, pengangkutan, dan peredaran f. Tidak boleh merugikan atau membahayakan konsumen
Sebelum digunakan, wadah harus dibersihkan dan dilakukan sanitasi, serta steril bagi jenis produk yang diisi secara aseptik.
2.8.11 Label
Label makanan harus memenuhi ketentuan yang disebutkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan tentang Label dan Periklanan Makanan, yang dibuat dengan ukuran, kombinasi warna, dan atau bentuk yang berbeda untuk jenis makanan, agar mudah dibedakan.
2.8.12 Penyimpanan
Bahan baku, bahan tambahan, bahan penolong, dan produk akhir harus disimpan terpisah dalam masing-masing ruangan yang bersih, bebas serangga, binatang pengerat, dan atau binatang lain, cukup penerangan, memiliki peredaran udara yang baik, dan pada suhu yang sesuai. Selain itu, bahan baku, bahan tambahan, bahan penolong, dan produk akhir harus ditandai dan ditempatkan sedemikian rupa, serta disimpan dengan sistem kartu.
Bahan berbahaya seperti insektisida, rodentisida, desinfektan, dan bahan yang mudah meledak harus disimpan dalam ruangan tersendiri dan diawasi sedemikian rupa, sehingga tidak membahayakan atau mencemari bahan baku, bahan tambahan, bahan penolong, dan produk akhir.
Wadah dan pembungkus yang akan digunakan harus disimpan secara rapi di tempat yang bersih dan terlindung dari pencemaran. Label harus disimpan dengan baik dan diatur sedemikian rupa untuk menghindari kesalahan dalam penggunaan.
Alat dan perlengkapan produksi, yang telah dibersihkan dan dilakukan sanitasi, yang belum digunakan harus disimpan sedemikian rupa, agar terlindung dari debu atau pencemaran lain.
2.8.13 Pemeliharaan
Bangunan dan bagian-bagiannya harus dipelihara dan disanitasi secara berkala, supaya selalu dalam keadaan bersih dan berfungsi dengan baik. Pihak pabrik harus melakukan usaha pencegahan masuknya serangga, binatang pengerat, unggas, dan binatang lain ke dalam bangunan. Pembasmian jasad renik, serangga, dan binatang pengerat dengan menggunakan desinfektan, insektisida, atau rodentisida harus dilakukan dengan hati-hati, agar tidak mengganggu kesehatan manusia dan tidak mencemari bahan baku, bahan tambahan, bahan penolong, dan produk akhir.
Buangan padat harus dikumpulkan untuk dikubur, dibakar, atau diolah, sehingga aman bagi lingkungan. Buangan air harus diolah dahulu sebelum dialirkan keluar pabrik. Sedangkan buangan gas harus diatur atau diolah sedemikian rupa, supaya aman bagi lingkungan dan tidak mengganggu kesehatan karyawan.
Alat dan perlengkapan yang digunakan untuk memproduksi makanan yang berhubungan langsung dengan makanan, harus dibersihkan dan disanitasi secara teratur supaya tidak mencemari produk akhir, sedangkan alat dan perlengkapan yang digunakan untuk memproduksi makanan yang tidak berhubungan langsung dengan makanan harus selalu dalam keadaan bersih. Alat pengangkutan dan alat pemindahan barang dalam bangunan unit produksi harus dalam keadaan bersih dan tidak boleh merusak barang yang diangkut atau dipindahkan, baik bahan baku, bahan tambahan, bahan penolong yang digunakan maupun produk akhir. Alat pengangkutan untuk mengedarkan produk akhir harus bersih, dapat melindungi produk, baik fisik maupun mutunya, sampai ke tempat tujuan.
PENGAWASAN MUTU (QUALITY CONTROL)
Bagian Quality Control atau pengawasan mutu PT. Sinar Sosro pabrik Tambun berdasarkan prosesnya terbagi menjadi tiga yaitu: pengawasan mutu sebelum produksi, pengawasan mutu selama produksi, dan pengawasan mutu setelah produksi. Berdasarkan tugasnya, bagian pengawasan mutu PT. Sinar Sosro pabrik Tambun dibagi menjadi enam sub bagian yang memiliki tugas lebih spesifik, yaitu: bagian pemeriksaan bahan awal (bahan baku dan bahan pengemas yang masuk ke dalam gudang) atau yang sering disebut dengan Incoming material, bagian analisis kimia, bagian analisis mikrobiologi, bagian pemeriksaan produk selama proses produksi (field inspection), bagian gudang barang yang tidak memenuhi standar (Below Standard/ BS), dan bagian pengolahan limbah (Waste Water Treatment).
3.1.Pengawasan Mutu Sebelum Proses Produksi
Pengawasan mutu sebelum proses produksi dilakukan oleh bagian pemeriksaan bahan baku dan bahan pengemas yang masuk ke dalam gudang (incoming material), bagian analisis kimia, dan bagian analisis mikrobiologi.
Tujuan pengawasan mutu sebelum proses produksi adalah menjamin mutu bahan serta sarana dan prasarana yang digunakan dalam proses produksi produk PT. Sinar Sosro Pabrik Tambun.
3.1.1. Pengawasan Mutu Incoming Material
Incoming material adalah bahan baku dan bahan pengemas yang masuk ke gudang. Pengawasan ini dilakukan untuk semua bahan baku, bahan pengemas, dan bahan pembantu lainnya yang digunakan dalam proses produksi. Bagian ini berperan penting pada awal keputusan apakah suatu bahan yang akan digunakan untuk proses produksi layak atau tidak untuk digunakan, diterima atau ditolak
(released atau rejected) untuk digunakan. Bahan-bahan yang ditolak akan dikembalikan pada perusahaan pemasok (supplier).
Bahan baku yang digunakan adalah teh, gula pasir, konsentrat buah untuk produk Fruit Tea, dan konsentrat jus buah untuk Country Choice dan Happy Jus. Sedangkan bahan tambahan pangan (BTP) yang digunakan adalah asam sitrat, natrium sitrat, asam askorbat, natrium benzoat. Vitamin, pectin, pewarna makanan, dan perasa makanan.
Bahan pengemas berupa kertas dan strip, kaleng dan tutup, botol plastik, dan tutup, karton, sedotan, dan sejenisnya. Sedangkan untuk bahan pembantu lainnya adalah bahan-bahan untuk proses pembersihan dan sanitasi, solar, bahan kimia pemanas dan pendingin tangki, garam, bahan kimia regenerasi, dan bahan kimia lain yang digunakan untuk menunjang proses produksi. Pengawasan yang dilakukan di bagian Incoming Material berupa pengawasan mutu bahan baku, bahan pengemas, dan bahan pembantu lainnya yang dipakai pada proses produksi produk PT. Sinar Sosro Pabrik Tambun.
3.1.1.1. Pemeriksaan Mutu Bahan Baku a. Gula Pasir
Sebelum dilakukan pengambilan sampel, karung gula yang baru datang diperiksa dan dipastikan terlebih dahulu bahwa karung tidak bocor dan tidak lembab (basah). Pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil sejumlah 10% dari total karung secara acak. Bagian bahan yang diperiksa adalah bagian atas, tengah, dan bawah. Setelah pengambilan sampel, harus diperhatikan bahwa bekas tusukan sudah rapi kembali dan tertutup.
Pemeriksaan yang dilakukan terhadap bahan baku berupa gula pasir adalah pemeriksaan kotoran, pemeriksaan butiran atau ukuran kristal, pemeriksaan kadar kemanisan gula, pemeriksaan warna, nilai pH dan kesadahan. Pemeriksaan kotoran dilakukan dengan melihat penampilan fisik gula secara organoleptik mengenai jenis atau banyaknya kotoran fisik yang terkandung dalam gula. Gula ini harus bersih dan mengandung kotoran yang seminimal mungkin atau bahkan tidak mengandung kotoran sama sekali. Pemeriksaan secara organoleptik juga dilakukan untuk memeriksa ukuran kristal (butiran gula). Kadar kemanisan gula
diukur dengan menggunakan refraktometer dan standarnya adalah 9,00Brix (0,092 kg Sukrosa/L). Pemeriksaan warna juga dilakukan secara organoleptik. Warna yang baik adalah putih bersih. Nilai pH ditentukan dengan menggunakan pH meter yang telah dikalibrasi terlebih dahulu sebelum dipakai. Persyaratan standar untuk pH gula yaitu perbedaan dengan pelarut maksimal 0,2. Nilai kesadahan diperoleh dengan cara mengurangkan kesadahan larutan gula dengan kesadahan pelarut yang digunakan. Persyaratan standar adalah perbedaan kesadahan larutan dan pelarut ≤ 20 dH.
b. Pemeriksaan Teh Kering
Pembuatan reagen dalam pengujian teh kering dilakukan sebelum analisis dimulai. Larutan yang disiapkan adalah larutan indigo carmin, larutan gelatin, larutan NaCl jenuh, larutan NaCl asam, dan larutan KMnO4 0,1 N.
Teh yang akan diuji dipersiapkan terlebih dahulu dengan cara ekstraksi. Persiapan ekstraksi dilakukan pada teh hitam, teh hijau dan teh hijau dengan aroma melati (SPRR). Ekstraksi teh hitam dilakukan dengan cara menimbang teh hitam sebanyak 6 gram, kemudian diekstrak dengan 2000 ml aquadest menggunakan pemanas bersuhu 92-98°C selama 30 menit dan diaduk terus menerus menggunakan pengaduk bermagnet (magnetic stirer). Bila teh kering telah mengambang, dilakukan pengadukan secara manual. Kemudian ekstrak teh disaring menggunakan kertas saring (hasil ekstrak teh hitam siap untuk dianalisa).
Ekstraksi teh hijau dilakukan dengan cara menimbang masing-masing teh hijau berupa campuran teh hijau murni dan teh hijau dengan aroma melati (Kode teh: GS 007 J2) sebanyak 8 gram dan teh hijau murni (Kode teh: A2Kmn) sebanyak 7 gram, kemudian diekstrak dengan 2000 ml aquadest menggunakan pemanas bersuhu 92-98°C untuk teh hijau campuran dan pemanas bersuhu 80 ± 2°C untuk teh hijau murni selama 30 menit dan diaduk terus menerus menggunakan pengaduk bermagnet (magnetic stirer). Bila teh telah mengambang, maka perlu dilakukan pengadukan secara manual. Saring ekstrak teh menggunakan kertas saring (hasil ekstrak teh hijau siap untuk dianalisa).
Ekstraksi teh hijau dengan aroma melati (SPRR) dilakukan dengan menimbang teh kering yang akan dianalisa sebanyak 12,6 gram. Teh dimasukkan
ke dalam gelas beaker dan ditambah 2000 ml air yang telah mendidih kemudian dipanaskan di atas penangas (hot plate). Suhu air dijaga antara 95 ± 3°C dan ekstraksi dilakukan degnan menghidupkan pengaduk bermagnet (magnetic stirer) selama 30 menit. Ekstrak teh disaring menggunakan saringan kain yang halus (hasil penyaringan tersebut siap untuk dianalisa kadar taninnya).
Pengukuran kadar tanin kemudian dilakukan pada ekstrak teh yang telah disiapkan. Ekstrak teh yang akan dianalisa diambil sebanyak 2 ml, kemudian tambahkan 5 ml indigo carmin dan 150 ml aquadest pada erlenmeyer. Sampel dititrasi dengan 0,05 N KMnO4 sampai warna menjadi hijau muda, kemudian titrasi diteruskan hingga kuning keemasan. Hasil titrasi dicatat (A ml). Ekstraksi teh diambil sebanyak 20 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml, ditambahkan 20 ml NaCl asam, 10 ml gelatin dan kurang lebih 2 gram serbuk kaolin. Larutan tersebut dikocok hingga homogen kemudian didiamkan hingga membentuk endapan. Dilakukan penyarian dengan kertas saring. Filtrat diambil sebanyak 5 ml kemudian tambahkan 5 ml indigo carmin dan 150 ml aquadest. Titrasi dilakukan dengan 0,05 N KMnO4 sampai warna berubah menjadi hijau muda, kemudian titrasi diteruskan hingga kuning keemasan. Hasil titrasi dicatat (B ml). Perhitungan: % = 1000 − 1000 0.1 0,00416 100 12.6 = − 0.1 4.16 1000 2
c. Pemeriksaan Berat Jenis Teh Kering
Berat jenis diperiksa dengan cara menimbang cup atau cangkir plastik dengan timbangan analitik dan dicatat angkanya sebagai “a” gram. Kemudian cup atau cangkir plastik tersebut diisi dengan sampel teh kering yang akan dianalisa berat jenisnya sampai penuh dan rata dengan mulut cup yang digunakan (cup tidak perlu dihentak-hentak dengan tujuan memadatkan teh kering). Kemudian
dilakukan penimbangan cup yang sudah berisi sampel tadi dan dicatat angkanya sebagai “b” gram. Selanjutnya cup tadi dikosongkan dari sampel teh kering sampai bersih lalu cup tersebut diisi dengan air sampai penuh dan rata dengan mulut cup. Volume air di dalam cup tadi diukur dengan menggunakan gelas ukur dan dicatat angka volumenya sebagai “c” gram (apabila memakai cup yang sama, nilai “c” dapat dipakai berulang-ulang). Dan kemudian dihitung angka berat jenis teh kering tersebut dengan menggunakan rumus dibawah ini.
Perhitungan:
= − 1000
d. Pemeriksaan Fisik teh Kering
Pemeriksaan fisik dilakukan secara visual dengan melihat warna, bau, dan bentuk dari teh kering serta dicatat kode produksi dan tanggal kadaluarsanya.
e. Pemeriksaan Kadar Air Teh Kering
Kadar air teh kering diperiksa dengan mengeringkan wadah sampel di dalam oven 105°C selama 2 jam, hingga berat konstan (A gram). Kemudian ditimbang sampel teh kering sebanyak 2 gram (B gram) dan tempatkan dalam wadah sampel. Sampel dikeringkan dalam oven pada suhu 105°C selama 2 jam dan didinginkan dalam desikator, kemudian timbang wadah beserta sampel teh kering hingga diperoleh berat konstan (C gram). Dihitung persentase air berdasarkan perhitungan berat air per berat sampel teh kering.
Perhitungan:
% ! = + − # 100%
Keterangan:
A = berat wadah konstan B = berat sampel teh kering
Tabel 3.1. Standar pada Pengujian Teh Kering
No. Jenis Teh Standar
1 Teh hijau dengan aroma melati (SPRR)
Tanin 850 ± 25 ppm
Kadar air < 8%
Warna cokelat
kehijauan-kehitaman
Bau khas teh
Kenampakan bersih
Tidak ada benda asing
2 Teh hitam
Tannin 350 ± 25 ppm
Kadar air < 10%
Warna kehitaman
Bau khas teh
Kenampakan bersih
Tidak ada benda asing
3
Teh hijau berupa campuran teh hijau murni dan teh hijau dengan aroma melati
(GJ 007 J2)
Tannin 475 ± 25 ppm
Kadar air < 8%
Warna hijau
kekuningan
Bau khas teh
Kenampakan bersih
Tidak ada benda asing
4 Teh hijau murni
Tannin 475 ± 25 ppm
Kadar air < 8%
3.1.1.2. Pengawasan Mutu Bahan Pengemas a. Pemeriksaan karton
Proses pemeriksaan karton dilakukan dengan cara pengukuran dan pemeriksaan visual. Pemeriksaan dengan cara pengukuran dilakukan untuk mengetahui dimensi dari karton baru, sedangkan pemeriksaan secara visual dilakukan untuk memeriksa jenis-jenis cacat yang terdapat pada karton baru sesuai dengan yang tercantum dalam Standar Kualitas Barang yang diterima (Acceptable Quality Levels /AQL).
Pengambilan sampel dilakukan secara acak sebanyak yang ditentukan berdasarkan Standar Kualitas Barang yang diterima (Acceptable Quality Levels
/AQL) yang disepakati oleh supplier karton. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan dimensi karton dan pemeriksaan berat karton.
Pemeriksaan dimensi karton dilakukan dengan melakukan pengukuran bagian dalam karton dengan meteran, meliputi panjang, lebar dan tingginya. Jika dimensi karton tidak memenuhi standar maka dilakukan ulang pengambilan sampel dan diperiksa lagi sesuai dengan prosedur yang berlaku. Penimbangan dilakukan pada semua contoh karton yang diuji dan kemudian dibandingkan dengan standar yang ditentukan.
Pemeriksaan kecacatan karton meliputi cetakan tulisan pada karton (printing), sambungan, warna, potongan, dan tutup (flap) yang kemudian hasil/ data analisis dibandingkan dengan karton standar yang telah disetujui (approved).
b. Pemeriksaan Kaleng dan Tutup
Proses pemeriksaan kaleng dan tutup baru dilakukan dengan cara pengukuran dan pemeriksaan visual. Pemeriksaan dengan cara pengukuran dilakukan untuk mengetahui dimensi dari kaleng dan tutup baru, sedangkan pemeriksaan secara visual dilakukan untuk jenis-jenis cacat yang terdapat pada kaleng dan tutup baru sesuai dengan jenis cacatnya seperti yang tercantum pada Standar Kualitas Barang yang diterima (Acceptable Quality Levels /AQL). Untuk keperluan proses pemeriksaan kaleng dan tutup baru, diperlukan beberapa sampel kaleng dan tutup. Dalam pengambilan sampel kaleng dan tutup dari setiap kedatangan, sampel diambil secara acak (random) dengan jumlah sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Standar Kualitas Barang yang diterima (Acceptable Quality Levels /AQL) yang telah disepakati oleh pabrik pembuat kaleng dan tutup.
Pada incoming material berupa kaleng dilakukan pemeriksaan terhadap berat kaleng, pemeriksaan cetakan warna dibandingkan dengan kaleng standar yang telah disetujui (approved), pemeriksaan ketebalan, dan pemeriksaan dimensi yang terdiri dari: tinggi, diameter luar, lebar bibir, kedalaman dome, dan diameter dasar.
Sedangkan pada tutup dilakukan pemeriksaan terhadap berat tutup dan mengukur dimensi yang terdiri dari: ketebalan material, diameter lingkar luar,