• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

G. Wilayah Pemasaran CV. Wacon

Wilayah pemasaran CV. Wacon adalah berorientasi produklokal.

Produksi paving lokal atau yang dijual didalam negri sendiri pertahun sebanyak 80 % CV. Wacon untuk persaingan dalam pemasaranya selalu menjaga pelayanan yang baik dan dengan cepat memperkenalkan produksi pada konsumen.

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Penilaian dan Sistem Pencatatan Persediaan

Penilaian atas persediaan sangat penting artinya, karena penilaian persediaan mempunyai tujuan untuk menetapkan secara layak beberapa nilai persediaan yang harus disajikan secara wajar dalam neraca dan laporan laba rugi perusahaan.

Penilaian persediaan dimaksudkan untuk mengalokasikan biaya produksi pada persediaan yang ada dengan tepat, sehingga dapat ditentukan biaya produksi secara total dan perunit, yang akhirnya dapat diketahui harga pokoknya dan keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan.

Didalam menjalankan kegiatan pembukuannya CV. Wacon menilai persediaannya dengan metode FIFO dengan alasan metode FIFO ini logis dan sistematis, barang bergerak secara terus-menerus serta arus barang dapat diawasi dengan baik.

Menurut metode ini bahwa harga barang yang sudah terjual dinilai menurut harga pembelian barang yang terdahulu masuk.Dengan demikian persediaan akhir dinilai menurut harga pembelian barang yang terakhir masuk.Penggunaan metode FIFO ini pada waktu harga bahan baku naik akan menunjukkan laba yang lebih besar, sebaliknya pada waktu harga

47

bahan baku turun laba menjadi kecil, sehingga pada waktu inflasi maupun deflasi menyebabkan nilai persediaan dalam neraca kelihatan wajar, karena dinilai berdasarkan harga beli sedangkan dalam laporan laba rugi akan terlihat tidak wajar.

Dalam pencatatan persediaan CV. Wacon menggunakan sistem pencatatan pada bagian inventori countrol secara terus menerus atau perpetual method, agar setiap saat dapat diketahui berapa persediaan

yang ada. Dan juga melakukan sistem pencatatan periodik untuk penyesuaian persediaan fisik bahan baku dengan data stock jurnal harian pemakaian bahan baku.

a. Titik Pemesanan Kembali( Reorder Point ).

Order point atau pemesanan kembali dimana persediaan telah

mencapai batas minimum yang telah ditentukan, sehingg pemesanan harus dilakukan kembali untuk menambah persediaan. Order point dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :

1. Selang waktu yang diperlukan untuk pengiriman barang pesanan 2. Tingkat pemakaian persedian

3. Persediaan pengaman.

Sebelum kegiatan pembelian bahan dilaksanakan, manajemen harus dapat membuat perkiraan pemakaian bahan baku yang akan dipergunakan dalam proses produksi suatu perusahaan pada suatu periode. Jumlah bahan baku yang akan dibeli oleh perusahaan dapat

dihitung dengan cara jumlah kebutuhan bahan baku untuk proses produksi, ditambah dengan rencana persediaan akhir dari bahan baku tersebut kemudian dikurangi dengan persediaan awal yang telah ada di dalam perusahaan

Perkiraan pemakain bahan baku dapat dirumuskan :

Permintaan Per Hari ( D ) 8000 Palet

= = = 6 Hari

Jumlah Hari Kerja 1333,333 Palet

b. Waktu tunggu( lead time )

Waktu tunggu adalah merupakan tenggang waktu yang diperlukan atau yang terjadi antara saat pemesanan bahan baku dilaksanakan dengan datangnya bahan baku yang dipesan tersebut. Hal ini sangat erat kaitannya dengan penentuan saat pemesanan kembali (reorder point).

Dengan diketahui waktu tunggu yang tepat, maka perusahaan akan dapat memberi pada saat yang tepat pula sehingga resiko penumpukan persediaan dapat ditekan seminimal mungkin

CV. Wacon pelaksanan waktu tunggu dibuat mulai dari stock laporan harian, pembuatan formulir permintaan barang. Sampai dengan penerimaan bahan baku yang tidak memerlukan waktu yang lama.

Lead Time = ( L ) = 1 Hari

c. Perhitungan Persediaan Pengaman( Safety Stock )

Kekurangan bahan baku ( Stock Out ) akan berakibat fatal bagi perusahaan yang akhirnya dapat menggaggu kelancaran proses produksi dan kelebihan bahan baku juga dapat menimbulkan biaya operasional yang lebih besar yang akan menyebabkan perusahaan akan mengalami kerugian. Dan hal tersebut dapat dihindari dengan salah satunya adalah dengan diadakannya persediaan penyelamat ( safety stock ).

Prsediaan penyelamat untuk bahan baku CV. Wacon harus ditentukan agar jumlahnya tidak terlalu besar ataupun terlalu sedikit, sehingga carryng cost dan ordering cost dapat ditekan seminimum mungkin atau persediaan dalam jumlah yang optimum.

CV. Wacon untuk menaggulangi adanya keadaan kehabisan atau kekurangan bahan baku dalam perusahaan atau keterlambatan datangnya bahan baku yang dipesan sehigga proses produksi dapat berjalan tanpa gangguan. Persediaan pengaman dengan diselenggarakan dalam suatu jumlah tertentu, dimana jumlah ini akan merupakan suatu jumlah tetap didalam suatu periode yang telah ditentukan selama 6 hari kerja

Safety Stock = ( S ) = Hari Kerja x Unit perhari

= 6 hari x 2100 palet = 12600 palet

Perkiraan Pemakaian

NO Pemakaian bahan baku perhari ( D )

Lead Time ( L )

Safety Stock ( S )

Tabel 5.1

Berdasarkan perkiraan pemakaian bahan baku, waktu tunggu (lead time), dan persediaan pengaman dapat disimpulkan pemesanan kembali terhadap bahan baku adalah sebanyak :

R = D L + S = 39.417 (1) + 12.600

= 52.016 Palet

Jadi, kapan saja persediaan mencapai 52.016 Palet, pesanan akan dilakukan sebesar EOQ yang ditentukan.

d. Penetapan Jumlah Pemesanan Bahan Baku yang Ekonomis

Penetapan jumlah bahan baku yang ekonomis merupakan suatu kebijakan perusahaan yang sangat vital bagi kelangsungan produksi perusahaan dan berarti berpengaruh terhadap kelangsungan hidup perusahaan.

Dari ramalan produksi dan penjualan untuk tahun-tahun mendatang akan meningkat terus dan tentunya hal ini akan membawa pada suatu konsekuensi penggunaan bahan baku yang meningkat pula. Untuk

keperluan tersebut maka perusahaan harus menyediakan bahan baku yang dibutuhkan untuk keperluan proses produksinya.

Proses pengadaan bahan baku ini berkaitan dengan pembelian bahan baku, yang artinya berhubungan dengan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan bahan baku. Mengingat hal tersebut maka apabila perusahaan memesan bahan baku dalam jumlah yang sedikit, maka biaya pemesanan akan menjadi sangat tinggi. Dan apabila bahan baku dipesan dalam jumlah yang besar, maka akan menyebabkan biaya penyimpanan yang besar. Oleh karena itu diperlukan perhitungan agar jumlah bahan baku yang dipesan mempunyai biaya pemesanan dan biaya penyimpanan yang seminimal mungkin. Jumlah pemesanan bahan baku dengan biaya yang paling minim/sedikit itulah yang disebut dengan jumlah pesanan ekonomis atau economic order quantity (EOQ).

Didalam usaha untuk mengetahui jumlah pemesanan yang ekonomis bagi pengadaan persediaan bahan baku pada CV .Wacon, maka berikut ini penulis mencoba menganalisis apakah besarnya pesanan yang dilakukan oleh perusahaan ini sudah ekonomis dan efisien. Untuk melaksanakannya, penulis menggunakan rumus EOQ.

Yaitu jumlah ordering costs dan carrying costs adalah yang paling minimum selama satu tahun.

Tabel 5.2

JUMLAH KEBUTUHAN DAN HARGA BAHAN BAKU TAHUN 2012

JUMLAH BIAYA PEMBELIAN BAHAN BAKU TAHUN 2012

No Jenis Bahan Baku

Per Order (Rp) Setahun (Rp) Biaya Pembiayaan

EOQ:

Keterangan :

RU = jumlah kebutuhan bahan dalam satuan (unit) pertahun.

CU = harga bahan perunit.

CO = biaya pemesanan (ordering costs) per order.

CC = biaya penyimpanan (carrying costs) yang dinyatakan sebagai suatu presentasi dari persediaan rata-rata.

1. Pembelian Semen batu yang akan digiling sehingga menjadi abu batu Yang Ekonomis Pada Tahun 2012 adalah

EOQ= .

. %

= √250

= 62 Untuk Setiap Pemesanan

Frekuensi Pembelian = 625 = 10 Kali 62

= 4.531.250 + 4.531.250 = Rp 9.062.500

2. Pembelian Bahan Baku Abu Batu Yang Ekonomis Pada Tahun 2012 adalah :

= 2 6.510 683.550 683.550 5%

= √26.040

= 651 Untuk Setiap Pemesanan

Frekuensi Pembelian = 6.510 = 10 Kali 651

Biaya pembelian : 10 x 683.550 = 6.835.500

TC = CC Q + C O RU 2 Q

TC = 341.775 ( 651) + 683.550 (6.510 )

2 651

= 6.835.500 + 6.835.500

= Rp 13.671.000

3. Pembelian Bahan Baku Pasir Yang Ekonomis Pada Tahun 2012

EOQ = . .

. %

= √86.400 = 216 Untuk Setiap Pemesanan

Frekuensi Pembelian = 2.160 = 10 Kali 216

Biaya pembelian : 10 x 100.800 = 1.008.000 TC = CC Q + C O RU

2 Q

TC = 5.040 (216) + 100.800 (2.160 ) 2 216

= 1.008.000 + 1.008.000

= Rp 2.016.000

4. Pembelian Bahan Baku Split Yang Ekonomis Pada Tahun 2012 adalah :

EOQ = .

.440 5%

= √11.520

= 28 Untuk Setiap Pemesanan

Frekuensi Pembelian = 288 = 10 Kali 28

Biaya pembelian = 10 x 307.440 = 3.074.400

TC = CC Q + C O RU 2 Q

TC = 15.372 (28) +307.440 (288) 2 28

= 3.074.400 + 3.074.400

= Rp 6.148.800

5. Pembelian Bahan Baku Screning yang ekonomis pada tahun 2012 adalah:

EOQ = .

. %

= √1.440

= 3 Untuk Setiap Pemesanan

Frekuensi Pembelian = 36 = 12 kali 3

Biaya pembelian = 12 x 500.400 = 6.004.800

TC = 2 + CO

TC = 25,020 (3)

2 + 500.400 (36)

3

= 6.004.800 + 6.004.800

= Rp 12.009.600

Tabel 5.4

HUBUNGAN ANTARA EOQ DENGAN FREKUENSI PEMBELIAN SERTA ORDERING COST DAN CARRYNG COST BAHAN BAKU TAHUN 2012

NO Jenis

DATA PERSEDIAAN SERTA BIAYA ORDERING COST DAN CARRYNGCOST BAHAN BAKU SEBELUM PENGUNAAN EOQ PADA

TAHUN 2012

Penentuan jumlah pesanan yang ekonomis (EOQ), yaitu memperkecil biaya-biaya pemesanan (ordering cost) dan biaya-biaya penyimpanan (carrying costs).Dalam usaha ini berhadapan dengan dua sifat biaya yang berlawanan. Sifat biaya yang pertama adalah menekankan agar jumlah pemesanan sangat kecil sehingga carrying costs menjadi kecil.Akan tetapi sebaliknya ordering costs menjadi sangat besar selama satu tahun.

Berdasarkan uraian diatas, maka jumlah pesanan ekonomis (EOQ) terletak antara dua pembatasan yang berlawanan tersebut. Dimana jumlah ordering costs adalah sama dengan jumlah carrying costs atau jumlah ordering costs dan jumlah carrying costs adalah yang paling minimum selama satu tahun. Jadi “EOQ” adalah besarnya pesanan yang memiliki jumlah ordering costs dan carrying costs yang paling minimal.

Tabel 5.6

PERBANDINGAN BIAYA ORDERING COST DAN CARRYNG COST BAHAN BAKU SEBELUM DAN SESUDAH PENGUNAAN EOQ

TAHUN 2012

Menurut penulis berdasarkan analisa dengan EOQ untuk bahan baku lebih menguntungkan jika mengunakan formula EOQ, karena terlihat biaya pemesanan dan penyimpanan lebih rendah sehingga efesiensi biaya dapat dicapai dan berarti laba ( profit ) yang dicapai perusahaan akan meningkat pula sebanding dengan hal tersebut.

Pelaksanan persediaan pemesanan bahan baku CV. Wacon mengunakan metode persediaan fluctuation stock yang diadakan untuk

NO Jenis

menghadapi fluktuasi permintaan yang tidak dapat diramalkan agar dapat mengontrol pemakaian persediaan berdasarkan production planning,

untuk menjaga atau memenuhi permintaan konsumen dalam bahan-bahan persediaan tertentu sesuai dengan lot produk dan pembelian dengan cara hand to mouth buying merupakan pembelian berdasarkan kebutuhan pada masa sekarang, dalam jumlah kecil tetapi dalam interval yang sering sebagai usaha untuk mencukupi kebutuhan langsung.

B. Pelaksanaan Pengadaan Persediaan Bahan Baku

Pelaksanaan perencanaan persediaan, masalah yang sering kali dihadapi adalah masalah berapa jumlah bahan baku yang harus dibeli, yang terkadang dapat menimbulkan perbedaan pendapat antara pihak-pihak yang bersangkutan terhadap persediaan bahan baku yaitu antara lain bagian produksi, bagian penjualan, dan bagian keuangan.

Ada beberapa masalah yang timbul seperti bahan baku juga masalah penentuan kapan pembelian tersebut harus dilaksanakan serta kepada supplayer mana pembelian tersebut akan dilakukan. Perbedaan pendapat ini nantinya dapat mempengaruhi perencanaan persediaan bahan baku yang akan menghambat proses produksi dikarenakan waktu perencanaan yang berkepanjangan dalam menghasilkan keputusan yang

akan ditetapkan untuk melakukan perencanaan pembelian persediaan bahan baku.

Penentuan persediaan bahan baku yang harus dibeli, pertama-tama perlu diketahui berapa rencana penjualan yang akan dicapai. Dari rencana penjualan ini bagian produksi akan dapat menyusun rencana produksi yang mencakup data-data mengenai bahan baku pada periode yang bersangkutan. Kebijaksanaan persediaan awal dan persediaan akhir bahan baku, serta mengatur dan menentukan rencana pembelian.

Jadi disini pengadaan persediaan bahan baku diadakan sesuai dengan kebutuhan produksi.

Sebelumnya telah dilaporkan terlebih dahulu dari bagian gudang mengenai jumlah dan jenis persediaanyang harus dilakukan pemesanan kembali. Jumlah yang harus dibeli adalah jumlah bahan baku yang dibutuhkan dikurangi dengan persediaan bahan baku yang masih ada digudang dengan tetap memperhitungkan safety stock dan lead time berdasarkan pemakaian bahan baku perhari.

Pencanaan penjualan yang disusun perusahaan apabila dilakukan dengan baik dan teliti maka akan berpengaruh terhadap rencana produksi yang akan berjalan baik dan akhirnya perencanaan persediaan bahan baku akan mudah dilaksanakan dengan sistem pemesanan ulang (reorder point system), maka bahan baku dipesan

apabila persediaan yang ada telah mencapai suatu titik atau tingkat tertentu.

C. Tujuan Pelaksanaan Pengadaan Persediaan Bahan Baku

Persediaan yang diadakan akan memungkinkan jika produk-produk yang berada pada tempat yang jauh mulai dari sumber bahan mentah sampai dengan barang jadi, antara lain berguna untuk dapat :

1. Menghilangkan resiko keterlambatan barang atau bahan-bahan yang dibutuhkan perusahaan.

2. Menghilangkan resiko dari material yang dipesan tidak sesuai standart dan harus dikembalikan.

3. Untuk menumpuk bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga dapat digunakan apabila bahan tersebut tidak terdapat dalam pasaran.

4. Mempertahankan stabilitas operasi perusahaan atau menjamin kelancaran proses produksi.

5. Mencapai pengunaan optimalisasi mesin

6. Memberikan pelayanan (servis) kepada langganan dengan baik atas tersediaanya barang jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Perencanan adalah merupakan salah satu fungsi manajemen perusahaan yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan usaha.

Pimpinan perusahaan menentukan usaha-usaha dalam perencanaan

untuk mencapai tujuan perusahaan dengan mempertimbangkan masalah-masalah yang mungkin timbul di masa yang akan datang.

D. Prosedur permintaan kebutuhan barang

Prosedur permintaan barang kebutuhan akan produksi dapat dijelaskan sebagai berikut : pertama-tama bagian yang memerlukan suatu jenis barang dapat memintanya kebagian gudang. Apabila barang yang diminta tidak tersedia di gudang maka bagian gudang memberikan informasi tentang laporan harian stock dan pemakaian bahan baku kepada PPIC dan kemudian kebagian pembelian untuk mengadakan pembelian. Setelah menerima permintaan pembelian dari gudang, bagian pembelian segera menghubungi rekanan dan mengadakan pemesanan.

Bila barang sudah datang, bagian gudang yang akan menerimanya setelah diteliti dan dicek sebelumnya apakah sudah sesuai dengan yang dipesan.

Awal mula permintaan barang datang dari bagian pemasaran dengan memberikan informasi tentang keadaan pasar dan konsumen dengan memberikan masukan tentang perkembangan terhadap inovasi produk dan selera konsumen kemudian dilanjutkan kebagian penjualan serta dilakukan estimasi penjualan dengan membuat data production planning kebutuhan akan produk untuk satu tahun kedepan yang berbentuk data artikel yang akan diproses sesuai dengan kebutuhan dan faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam membuat production

planning diantaranya batch size, buffer stock (persediaan cadangan), jumlah stock produk yang ada di gudang, serta rata-rata penjualan (average seling out) Selanjutnya production planning artikel diterjemahkan oleh PPIC terhadap kebutuhan akan persentasi pemakaian bahan baku dari data estimasi penjualan dengan melihat formula pemakaian untuk masing-masing artikel, setelah diketahui persentasi pemakaian dengan melihat jumlah stock sebelumya dan tetap menjaga safety stock kemudian dilanjutkan dengan dibuatkannya formulir permintaan barang (FPB) yang dikirimkan kebagian pembelian . FPB dari PPIC diterima oleh bagian pembelian yaitu purchasing manager dengan membuat PO (purchaseOrder) terhadap supplier

Beberapa tahap yang dilakukan untuk mengadakan persediaan bahan baku oleh bagian pembelian perusahaan :

1. Menerima daftar permintaan.

Daftar permintaan dapat dibuat dan diajukan oleh bagian yang memerlukan bahan. Daftar permintaan pembelian memuat keterangan tentang bahan apa yang akan dibeli serta berapa jumlah bahan tersebut, dengan memperhatikan safety stock dan mempertimbangkan lead time

2. Meneliti daftar pembelian

Tidak semua barang langsung diproses menjadi pembelian barang.Daftar permintaan pembelian menjadi pembelian bahan

adalah merupakan pembelian yang benar-benar diperlukan dalam perusahaan tersebut.

3. Mengadakan pemilihan supplier.

Pada umumnya perusahaan akan memilih supplier yang dapat memenuhi beberapa persyaratan yang diajukan oleh perusahaan.

Pelayanan penjualan dari masing-masing supplier, ketepatan waktu pengiriman bahan, harga yang cukup bersaing serta kualitas bahan yag dijual merupakan beberapa faktor dasar pertimbangan di dalam penyusunan urutan supplier yang akan digunakan oleh perusahaan.

4. memasukan order.

Setelah perusahaan menentukan rekanan mana yang akan dipilih maka langkah berikutnya memasukan order (PO)

5. Penyimakan order

Setelah order dipesan diberikan pada supplier, perusahaan yang memberikan order ini sangat perlu untuk mengadakan penyimakan terhadap perkembangan pelaksanaan order tersebut dalam upaya untuk mendatangkan bahan baku tepat pada waktunya sehingga perusahaan tidak mengalami kehabisan bahan baku untuk pelaksanaan proses produksi.

6. Penerimaan bahan

Penerimaan bahan dalam jumlah yang sesuai dengan pesanan serta dalam kualitas yang memadai merupakan pertanda selesainya transaksi pembelian tersebut.

E. Prosedur penerimaan barang

Setelah dilaksanakan pemesanan barang, pihak supplayer mengirimkan barang kelokasi pabrik yaitu kebagian gudang, Dasar penerimaan barang digudang. Adalah purches order (PO) dari bagian pembelian yang dapat diketahui atas dasar penerimaan barang. Barang yang diterima diperiksa kelengkapannya yang meliputi PO, namasupplayer, spesifikasi barang, kuantitas dan CertificateOf Analysis dari pabrik.

F. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Persediaan

Berdasarkan yang telah dikemukakan dalam bab-bab terdahulu bahwa perencanan dan pengendalian persediaan bahan baku adalah merupakan suatu faktor yang penting guna menjamin kelancaran dalam proses produksi. Perencanaan dan pengendalian persediaan bahan baku yang diselenggarakan dengan kurang baik akan mengganggu kelancaran proses produksi perusahaan.

Oleh karena itu, dalam hubungan ini penulis akan mencoba menyelidiki hal-hal yang diduga mempengaruhi pembentukan persediaan

bahan baku. Pada sub bab ini akan diuraikan beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan persediaan pada CV. Wacon.

Secara umum faktor-faktor yang diperhatikan dalam pembentukan persediaan bahan baku adalah sebagai berikut :

a. Jumlah Produksi

Adapun mengenai Realisasi perkembangan jumlah produksi pada CV. Wacon dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2013 adalah sebagai berikut :

Tabel 1.7

DATA PRODUKSI DAN PERSEDIAAN CV. WACON

TAHUN 2012-2013

Dari tabel diatas terlihat bahwa produksi CV. Wacon dari tahun 2012-2013 menunjukkan peningkatan. Dengan adanya peningkatan volume produksi berarti pula bahwa pemakaian bahan baku bertambah pula. Peningkatan dalam penggunaan bahan baku akan membawa akibat bahwa perusahaan harus mengadakan persediaan bahan baku

Tahun Jumlah Produksi Persediaan

2012

2013

75.020

97.969

38.210

39.417

yang memadai untuk menjamin kelancaran dalam proses produksi.

Dan hal ini akan berhasil jika dalam perusahaan terdapat sistem pengendalian persediaan bahan baku.

Adanya sistem pengendalian bahan baku tersebut diharapkan bahwa bahan baku yang digunakan dalam proses produksi tidak terjadi kekurangan atau kelebihan bahan baku yang akan menimbulkan biaya-biaya pemborosan. Dengan adanya sistem pengendalian persediaan yang baik maka diharapkan juga dapat menghemat biaya yang timbul dari adanya persediaan tersebut.

b. Analisis korelasi

Analisis korelasi adalah studi yang membahas tentang derajat hubungan atau derajat asosiasi antara variable-variabel tertentu. Analisis korelasi digunakan untuk mengetahui kekuatan hubungan antara dua atau lebih variable terikat. Ukuran yang di pakai untuk mengetahui derajat asosiasi dinamakan koefisien korelasi.

Hasil dari analisis korelasi dapat diadakan pengujian hipotesa. Uji hipotesa merupakan tindak lanjut dari analisis korelasi yang tujuannya untuk menyatakan apakah variabel X (Persediaan) dan variabel Y (Produksi) terdapat hubungan yang erat atau memiliki hubungan nyata (significance) antara variabel persediaan dengan variabel produksi.

Contoh Gambar Y

X

Setelah pengujian hipotesa digambarkan secara terperinci, maka dapat dituliskan sebagai berikut :

Hi : β > 0 Artinya memiliki hubungan linier positif antara perencanaan persediaan dan pengendalian bahan baku dengan produksi.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Didalam bagian produksi perusahaan seringkali mengembangkan tujuan yang mungkin tidak sesuai dengan tujuan produksi perusahaan secara keseluruhan. Agar dapat tercapai keselarasan tujuan-tujuan produksi yang ada didalam perusahaan secara keseluruhan, maka diperlukan adanya perencanaan dan pengendalian bahan baku yang baik.

Bab ini merupakan bagian terakhir yang memuat kesimpulan dari seluruh pembahasan yang telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya dan memberikan saran-saran sebagai masukan dan bahan pertimbangan bagi perusahaan.

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari hal-hal yang telah dibahas adalah sebagai berikut :

1. Tujuan dari perencanaan persediaan bahan baku pada dasarnya adalah mengupayakan agar perusahaan dapat mengelolah persediaan bahan baku dengan baik yaitu menjaga agar jangan sampai terjadi kelebihan atau kekurangan bahan baku (stock out) yang dapat mengganggu kelancaran proses produksi.

2. Hasil dari uji hipotesa dengan statistik tabel dengan menunjukan bahwa Ho yang berarti tidak ada pengaruh ditolak berati menerima

71

Hi atau terdapat pengaruh dari perencanaan persediaan dan pengendalian bahan baku dengan produksi.

B. Saran-Saran

Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan selama ini, penulis mencoba untuk memberikan masukan berupa saran-saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi perusahaan dalam menentukan perencanaan dan pengendalian persediaan bahan baku.

Adapun saran-saran yang diberikan oleh penulis adalah sebagai berikut :

1. Perusahaan hendaknya melakukan seleksi yang ketat terhadap supplier terhadap pembelian bahan baku dan bahan penolong, dengan syarat-syarat antara lain: tepat janji, tepat waktu pengiriman barang, kuantitas dan kualitas bahan sesuai dengan pesanan, pelayanan yang baik, mau memberikan penjelasan kepada karyawan tentang sifat barang tersebut.

2. Perusahaan hendaknya melakukan pencatatan dan penilaian persediaan dengan mengunakan komputerisasi secara kontinyu agar persediaan dapat diketahui setiap saat dalam upaya menghindari kekurangan atau kelebihan bahan baku dan menghindari kerusakan atas penumpukan persediaan yang terlalu lama.

3. Karena ada faktor lingkungan ekstern yang mempengaruhi perusahaan dalam membuat perencanaan produksi, perencanaan penjualan dan perencanaan pemakaian bahan baku, maka perusahaan harus terus meramalkan keadaan faktor ekstern tersebut sehingga mampu membuat perencanaan yang efektif dan efisien.

4. Hendaknya struktur perencanaan dan pengendalian secara periodik perlu ditinjau kembali dan dievaluasi oleh auditor internal, untuk dapat menentukan apakah prosedur perencanaan dan pengendalian intern telah ditetapkan secara efektif yang nantinya akan memperbaik kinerja produksi perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

Fathoni Abdurrahmat. 2006, “Organisasi dan Manajemen”, cetakan pertama, Penerbit : Rineka Cipta, Jakarta.

I.A.I . 2005, “Pernyataan Standart Akuntansi keuangan”, Cetakan Ketiga Jakarta : , Salemba.

Malayu. SP Hasibuan. 2005, “ Manajemen : Dasar, Pengertian dan Masalah”, Cetekan Kesembilan , Jakarta : PT. Gunung Agung.

Soemarso SR. 2005, “ Akuntansi Suatu Pengantar Manajemen”, Cetakan Kedelapan Edisi Keempat.

Sofjan Assauri. 2005“ Manajemen Produksi dan Operasi”, Cetakan Kedua belas, Fakultas Ekonomi Indonesia.

Sukanto Rekso Hadiprojo. 2005, “ Manajemen Produksi dan Opersi”, Cetakan Kedua belas Fakultas Ekonomi Indonesi.

Sukanto Rekso Hadiprojo. 2005, “ Manajemen Produksi dan Opersi”, Cetakan Kedua belas Fakultas Ekonomi Indonesi.

Dokumen terkait