• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM PRAJA MANGKUNEGARAN

B. Kondisi Geografis Praja Mangkunegaran

1. Wilayah Praja Mangkunegaran Pada Masa Mangkunegara

Wilayah Mangkunegaran terletak di tanah Swapraja, yang dahulu merupakan bagian dari kerajaan Mataram bersama-sama dengan Kasunanan Surakarta, Kasultanan dan Pakualaman Yogyakarta.19 Mangkunegaran merupakan sebuah kerajaan kecil yang terletak di Karesidenan Surakarta.Praja Mangkunegaran menempati wilayah bagian utara dan timur Karesidenan Surakarta. Secara keseluruhan luas wilayah Mangkunegaran adalah kurang lebih 2.815,14 km². Perbandingan luas wilayah dari keempat Swapraja di Jawa Tengah itu dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:

Tabel II.

Perbandingan Luas Wilayah Swapraja

No Nama Swapraja Luas Wilayah

1 2 3 4 Kasunanan Surakarta Kasultanan Yogyakarta Pura Mangkunegaran Pura Paku Alaman

3.237.50 Km² 3.049.81 Km² 2.815.14 Km² 122.50 Km²

Sumber: T.H. M. Metz, 1939. “Mangkoe-nagaran: Analyse van een Javaanasch

Vorstendom”.Terjemahan: R. Tg. Muhammad Husodo Pringgokusumo, 1987. “Mangkunegaran: Analisis Sebuah Kerajaan Di Jawa”. Mangkunegaran: Reksa Pustaka, halaman 15.

Berdasarkan tabel II di atas, ibukota Mangkunegaran tidak terlalu luas jika dibandingkan dengan Kasunanan Surakarta. Ibukota Mangkunegaran hanya

19

Darsiti Soeratman,1989. Kehidupan Dunia Kraton Surakarta 1830 – 1939. Yogyakarta: Taman Siswa. halaman. 1.

seperlima dari Karesidenan Surakarta, sedangkan empat perlimanya merupakan ibukota Kasunanan Surakarta.20 Di Karesidenan Yogyakarta, sebagian besar wilayahnya milik Kasultanan Yogyakarta hanya sebuah wilayah kecil yang terletak disebelah barat daya dan sebuah enclave disekitar istananya merupakan wilayah Paku Alaman.21 Jika dibandingkan dengan wilayah Paku Alaman, wilayah Mangkunegaran lebih luas. Apabila dilihat dari kesuburan tanahnya, Praja Mangkunegaran memiliki tingkat kesuburan tanah yang buruk.

Wilayah Mangkunegaran meliputi lereng barat dan selatan Gunung Lawu, dan meluas sampai daerah hulu Sungai Bengawan Solo menuju Gunung Kidul. Bagian selatan dari wilayah Mangkunegaran ini membentang pada bagian timur Gunung Lawu yang tandus hingga Samudra Hindia.22 Di sebelah barat laut wilayah Praja Mangkunegaran membentang dari dataran rendah Bengawan Solo sampai pada ujung kaki gunung Merapi dan Merbabu yang keduanya memiliki tanah yang sangat subur.

Istana atau Pura Mangkunegaran dikelilingi oleh bangunan tembok seluas ± 10.000 m², terletak di sebelah barat laut Keraton Surakarta. Di dalamnya terdapat halaman untuk tempat latihan Legiun (pamedan) dan sebuah kompleks yang terdiri dari bangunan yang menarik dan terpelihara dengan baik berupa kantor, pendopo untuk pertemuan umum, dan tempat kediaman Pangeran beserta

20

Darsiti Soeratman, Op.cit., halaman 2.

21

G.D Larson, 1990. Masa Menjelang Revolusi, Kraton dan Kehidupan Politik di Surakarta 1912-1942. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. halaman 1.

22

Wasino,1996. “Politik Etis dan Modernisasi Pendidikan di Mangkunegaran

(1900-1945)”. Laporan Penelitian Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Semarang. halaman 30.

31

keluarganya. Di luar kompleks adalah perkampungan dan rumah-rumah pegawai termasuk anggota Legiun.23

Letak antara keraton Surakarta, Istana Mangkunegaran, rumah Residen, dan kepatihan tidak berjauhan. Benteng Vastenburg dibangun berdekatan dengan keraton dan rumah Residen. Jarak antara Keraton dan Istana Mangkunegaran tidak berjauhan keduanya hanya dibatasi dengan jalan raya Slamet Riyadi (sekarang) dan jalan kereta api pada waktu itu. Praja Mangkunegaran terletak di sebelah utara jalan kereta api dan Kasunanan Surakarta terletak di sebelah selatannya.24 Perkembangan suatu wilayah biasanya mencakup unsur-unsur seperti keluasan, kepadatan, heterogenitas, sosial, pasar, fungsi administratif, sumber kehidupan, dan unsur budaya yang membedakan kelompok sosial yang lain. Karakteristik wilayah dapat dilihat dari komunikasi yang cepat, transportasi yang efisien, persedian fasilitas sanitasi yang memadai, juga tingkat pendidikan dan aktivitas ekonomi yang berjalan baik dan lancar.

Wilayah administrasi merupakan wilayah yang menjadi pusat kegiatan dalam mengatur pemerintahan. Pembagian wilayah administrasi Praja Mangkunegaran mengalami beberapa perubahan, hal ini dilakukan untuk mempermudah dalam pengelolaan wilayah tersebut untuk kemajuan dan kemakmuran Praja Mangkunegaran. Pada masa pemerintahan Mangkunegoro III perubahan terjadi untuk pertama kalinya, pada tahun 1847 Praja Mangkunegaran dibagi atas tiga daerah Onderregentschap, yaitu: Wonogiri (meliputi Laroh, Hanggabayan, dan Keduwang), Karanganyar (meliputi Sukawati, Matesih, dan

23

Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 1999. Sejarah Kerajaan Tradisional Surakarta. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia. halaman 10.

24

Haribaya), dan Malangjiwan.25 Di tahun 1875, perubahan kembali dilakukan untuk yang kedua kalinya, yaitu dengan penghapusan Onderregentschap

Malangjiwan dan kemudian dibentuk Onderregentschap Baturetno yang wilayahnya meliputi tanah Wiraka dan Sembuyan. Dengan demikian pada masa pemerintahan Mangkunegoro IV, Praja Mangkunegaran dibagi menjadi tiga wilayah admistrasi yaitu: Wonogiri, Karanganyar, dan Baturetno.26

Perubahan pembagian wilayah dilakukan lagi pada tahun 1891 masa pemerintahan Mangkunegoro V. Onderregentschap Baturetno dihapuskan dan wilayahnya digabungkan dengan Onderregentschap Wonogiri.27 Pada tahun 1903 di bawah pemerintahan Mangkunegoro VI terjadi perubahan wilayah yang keempat kalinya, yaitu dibentuk Onderregentschap Kota Mangkunegaran. Dengan demikian daerah Praja Mangkunegaran terbagi menjadi tiga wilayah administrasi yaitu: Kota Mangkunegaran, Wonogiri, Karanganyar, dan ditambah Enclave

Ngawen.28

Pada masa awal pemerintahan Mangkunegoro VII wilayah administrasi Praja Mangkunegaran tetap menjadi tiga wilayah, tetapi di tahun 1929 terjadi perubahan wilayah administrasi lagi yang dilakukan dalam rangka penghematan. Hal itu dilakukan oleh Mangkunegoro VII dikarenakan pada saat itu dampak-dampak krisis ekonomi yang terjadi di seluruh penjuru dunia sudah mulai

25

Sutrisno Adiwardoyo, op.cit. halaman 30

26

Daryadi, 2009, “Pembangunan Perkampungan di Kota Mangkunegaran Pada Masa Pemerintahan Mangkunegara VII”, Skripsi Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Sebelas Maret Surakarta. halaman 25.

27

Wasino, 1994. “Kebijaksanaan Pembaharuan Pemerintahan Praja Mangkunegaran (Akhir Abad XIX-Pertengahan Abad XX)”. Tesis Universitas Gajah Mada Yogyakarta. halaman 54

28

Daerah Onderregentschap disebut daerah Kabupaten. Rijksblad Mangkunegaran Tahun 1917 No. 331.

33

dirasakan oleh Praja Mangkunegaran. Oleh karena itu Mangkunegoro VII menghapus Kabupaten Kota Mangkunegaran, dan wilayahnya dimasukkan ke wilayah Kabupaten Karanganyar. Perubahan itu tidak berlangsung lama, setahun kemudian diadakan perubahan lagi yaitu penghidupan lagi Kabupaten Kota Mangkunegaran. Bekas daerah Kabupaten Karanganyar menjadi daerah Kabupaten Kota Mangkunegaran.29

Pada tahun 1930 wilayah administrasi Praja Mangkunegaran menjadi dua wilayah yaitu: Kabupaten Kota Mangkunegaran (meliputi Kawedanan Kota Mangkunegaran, Kawedanan Karanganyar, Kawedanan Karang Pandan, Kawedanan Jumapolo) dan Kabupaten Wonogiri (meliputi Kawedanan Wonogiri, Kawedanan Jatisrono, Kawedanan Wuryantoro, Kawedanan Baturetno).

Istana Mangkunegaran sebagai pusat bagi berkembangnya Praja. Daerah yang berada diluar istana dalam perkembangannya secara konsentris harus mengikuti seperti yang ada di pusat yaitu istana. Jadi Praja Mangkunegaran merupakan pola dasar dan kerangka acuan bagi wilayah yang berada jauh di luar istana.

2. Struktur Penduduk di Praja Mangkunegaran Pada Masa

Dokumen terkait