• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

6. Wisata buru

Jenis ini banyak dilakukan di negara yang memang memiliki daerah atau hutan tempat berburu yang dibenarkan oleh pemerintah dan digalakkan oleh berbagai agen atau biro perjalanan. Wisata buru ini diatur dalam bentuk safari buru ke daerah atau hutan yang telah ditetapkan oleh pemerintah negara yang bersangkutan, seperti negara di Afrika untuk berburu gajah, singa dan lainnya.

7. Wisata ziarah

Jenis wisata ini dikaitkan dengan agama, sejarah, adat istiadat dan kepercayaan umat atau kelompok dalam masyarakat. Wisata ziarah banyak dilakukan oleh perorangan atau rombongan ke tempat-tempat suci, ke makam-makam orang besar atau pemimpin yang diagungkan, ke bukit atau gunung yang dianggap keramat, tempat pemakaman tokoh atau pemimpin sebagai manusia ajaib penuh legenda. Wisata ziarah ini banyak dihubungkan dengan niat atau hasrat sang wisatawan untuk memperoleh restu, kekuatan batin, keteguhan iman dan tidak jarang pula untuk tujuan memperoleh berkah dan kekayaan melimpah. Dalam hubungan ini, orang-orang Katolik misalnya melakukan wisata ziarah ke istana Vatikan di Roma, umat Budha ke tempat suci agama Budha di India, Nepal, Tibet dan sebagainya. Di Indonesia sendiri misalnya Candi Borobudur, Pura Besakih di Bali, Makam Wali Songo, Makam Bung Karno di Blitar dan sebagainya.

Sesungguhnya daftar jenis-jenis wisata lain dapat saja ditambahkan di sini, tergantung kepada kondisi dan situasi perkembangan dunia kepariwisataan di suatu daerah atau negera yang memang mendambakan industri pariwisatanya dapat menjadi berkembang. Pada hakikatnya semua ini tergantung kepada selera atau daya kreativitas para ahli profesional yang berkecimpung dalam bisnis industri pariwisata ini. Makin kreatif dan banyak gagasan-gagasan yang dimiliki oleh mereka yang mendedikasikan hidup mereka bagi perkembangan dunia kepariwisataan di dunia ini, makin bertambah pula bentuk dan jenis wisata yang dapat diciptakan bagi kemajuan industri ini, karena industri pariwisata pada hakikatnya kalau ditangani dengan kesungguhan hati mempunyai prospektif dan kemungkinan sangat luas, seluas cakrawala pemikiran manusia yang melahirkan gagasan-gagasan baru dari waktu ke waktu. Termasuk gagasan-gagasan untuk menciptakan bentuk dan jenis wisata baru tentunya.

2.2.4. Topologi Wisatawan

Menurut Plog (1972) tipologi wisatawan sebagai berikut:

1. Allocentris, yaitu wisatawan hanya ingin mengunjungi tempat-tempat yang

belum diketahui, bersifat petualangan, dan mau memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh masyarakat lokal.

2. Psycocentris, yaitu wisatawan yang hanya ingin mengunjungi daerah tujuan

wisata sudah mempunyai fasilitas dengan standar yang sama dengan di negaranya.

3. Mid-Centris, yaitu terletak diantara tipologi Allocentris dan Psycocentris

Menurut Pitana (2005), tipologi wisatawan perlu diketahui untuk tujuan perencanaan, termasuk dalam pengembangan kepariwisataan, tipologi yang lebih sesuai adalah tipologi berdasarkan atas kebutuhan riil wisatawan sehingga pengelola dalam melakukan pengembangan obyek wisata sesuai dengan segmentasi wisatawan. Pada umumnya kelompok wisatawan yang datang ke Indonesia terdiri dari kelompok wisatawan psikosentris (Psycocentris). Kelompok ini sangat peka pada keadaan yang dipandang tidak aman dan sangsi akan keselamatan dirinya, sehingga wisatawan tersebut enggan datang atau membatalkan kunjungannya yang sudah dijadualkan (Darsoprayitno, 2001). Berdasarkan hal inilah, teori di atas ditulis kembali dengan harapan untuk mengingatkan kembali bahwa wisatawan yang datang ke Indonesia dari kelompok Psycocentris sehingga siapapun yang menjadi pengelola obyek wisata di Indonesia dapat memperhatikan karakteristik di atas, termasuk juga pengelola Kebun Raya Eka Karya, Bali.

2.2.5. Ekologi Pariwisata

Menurut Darsoprayitno (2001), ekologi didefinisikan sebagai ilmu mengenai hubungan timbal balik antar unsur hayati dengan tata alam di sekitarnya, hubungan timbal balik ini merupakan irama kehidupan alami yang disebut ekosistem. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa lingkungan hidup manusia dibentuk oleh dua kelompok unsur terdiri dari kelompok nonhayati dan kelompok hayati.

Pada kelompok hayati seperti tumbuhan dan hewan yang belum dibudidayakan oleh manusia sangat tergantung pada tata alam. Dari definisi di atas dapat dikatakan ekologi pariwisata adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antar unsur hayati yang dapat dibudidayakan dan nonhayati yang dapat dikelola untuk kegiatan pariwisata tanpa harus menyimpang dari tata alam yang ada (Pencagaran). Dalam konteks ekologi pariwisata alam dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata dengan menerapkan asas pencagaran sebagai berikut:

1. Benefisiasi; kegiatan kerja meningkatkan manfaat tata lingkungan dengan

teknologi tepat guna, sehingga yang semula tidak bernilai yang menguntungkan, menjadi meningkat nilainya secara sosial, ekonomi, dan budaya.

2. Optimalisasi; usaha mencapai manfaat seoptimal mungkin dengan mencegah

kemungkinan terbuangnya salah satu unsur sumber daya alam dan sekaligus meningkatkan mutunya.

3. Alokasi; suatu usaha yang berkaitan dengan kebijakan pembangunan dalam

menentukan peringkat untuk mengusahakan suatu tata lingkungan sesuai dengan fungsinya, tanpa mengganggu atau merusak tata alamnya.

4. Reklamasi; memanfaatkan kembali bekas atau sisa suatu kegiatan kerja yang

sudah ditinggalkan untuk dimanfaatkan kembali bagi kesejahteraan hidup manusia.

5. Substitusi; suatu usaha mengganti atau mengubah tata lingkungan yang sudah

sekali baru sebagai tiruannya atau lainnya dengan mengacu pada tata lingkungannya

6. Restorasi; mengembalikan fungsi dan kemampuan tata lingkungan alam atau

budayanya yang sudah rusak atau terbengkalai, agar kembali bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia.

7. Integrasi; pemanfaatan tata lingkungan secara terpadu hingga satu dengan

yang lainnya saling menunjang, setidaknya antara perilaku budaya manusia dengan unsur lingkungannya baik bentukan alam, ataupun hasil binaannya.

8. Preservasi; suatu usaha mempertahankan atau mengawetkan runtunan alami

yang ada, sesuai dengan hukum alam yang berlaku hingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

2.2.6. Kajian Ekonomi Pariwisata

A. Aspek Penawaran Pariwisata

Menurut Medlik dalam Ariyanto (2005) ada empat aspek yang harus diperhatikan dalam penawaran pariwisata. Aspek tersebut adalah:

1. Attraction (daya tarik), di mana daerah tujuan wisata dalam menarik

wisatawan hendaknya memiliki daya tarik baik daya tarik berupa alam maupun masyarakat dan budayanya.

2. Accesable (bisa dicapai), hal ini dimaksudkan agar wisata domestik dan

mancanegara dapat dengan mudah dalam pencapaian tujuan ke tempat wisata.

3. Amenities (fasilitas), syarat yang ketiga ini memang menjadi salah satu

syarat Daerah Tujuan Wisata (DTW) di mana wisatawan dapat dengan kerasan tinggal lebih lama di daerah tersebut.

4. Ancillary (lembaga pariwisata). Wisatawan akan semakin sering

mengunjungi dan mencari DTW (Daerah Tujuan Wisata) apabila di daerah tersebut wisatawan dapat merasakan keamanan, (Protection of

Tourism) dan terlindungi baik melaporkan maupun mengajukan suatu

kritik dan saran mengenai keberadaan mereka selaku pengunjung/orang bepergian.

B. Aspek Permintaan Pariwisata

Lebih lanjut Menurut Ariyanto (2005), menjelaskan ada tiga pendekatan yang digunakan untuk menggambarkan permintaan pariwisata, tiga pendekatan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pendekatan ekonomi, pendapat para ekonom mengatakan di mana

permintaan pariwisata menggunakan pendekatan elastisitas permintaan/ pendapatan dalam menggambarkan hubungan antara permintaan dengan tingkat harap ataukah permintaan dengan variabel lainnya.

2. Pendekatan geografi, sedangkan para ahli geografi berpendapat bahwa

untuk menafsirkan permintaan harus berpikir lebih luas dari sekedar penaruh harga, sebagai penentu permintaan karena termasuk yang telah melakukan perjalanan maupun yang karena suatu hal belum mampu melakukan wisata karena suatu alasan tertentu.

3. Pendekatan psikologi, para ahli psikologi berpikir lebih dalam melihat permintaan pariwisata, termasuk interaksi antara kepribadian calon wisatawan, lingkungan dan dorongan dari dalam jiwanya untuk melakukan kepariwisataan.

2.2.7. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan Pariwisata

Menurut Ariyanto (2005), faktor-faktor utama dan faktor lain yang mempengaruhi permintaan pariwisata dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Harga, harga yang tinggi pada suatu daerah tujuan wisata maka akan

memberikan imbas/timbal balik pada wisatawan yang akan bepergian/calon wisata, sehingga permintaan wisatapun akan berkurang begitupula sebaliknya.

2. Pendapatan, apabila pendapatan suatu negara tinggi maka kecenderungan

untuk memilih daerah tujuan wisata sebagai tempat berlibur akan semakin tinggi dan bisa jadi mereka membuat sebuah usaha pada DTW jika dianggap menguntungkan.

3. Sosial Budaya, dengan adanya sosial budaya yang unik dan bercirikan atau

dengan kata lain berbeda dari apa yang ada di negara calon wisata berasal maka, peningkatan permintaan terhadap wisata akan tinggi hal ini akan membuat sebuah keingintahuan dan penggalian pengetahuan sebagai khasanah kekayaan pola pikir budaya mereka.

4. Sospol (Sosial Politik), dampak sosial politik belum terlihat apabila keadaan

berseberangan dengan kenyataan, maka Sospol akan sangat terasa dampak/pengaruhnya dalam terjadinya permintaan.

5. Intensitas Keluarga, banyak/sedikitnya keluarga juga berperan serta dalam

permintaan wisata hal ini dapat diratifikasi bahwa jumlah keluarga yang banyak maka keinginan untuk berlibur dari salah satu keluarga tersebut akan semakin besar, hal ini dapat dilihat dari kepentingan wisata itu sendiri.

6. Harga Barang Substitusi, di samping kelima aspek di atas, harga barang

pengganti juga termasuk dalam aspek permintaan, di mana barang-barang pengganti dimisalkan sebagai pengganti DTW yang dijadikan cadangan dalam berwisata seperti: Bali sebagai tujuan Wisata utama di Indonesia, akibat suatu dan lain hal Bali tidak dapat memberikan kemampuan dalam memenuhi syarat-syarat DTW sehingga secara tidak langsung wisatawan akan mengubah tujuannya ke daerah terdekat seperti Malaysia (Kuala Lumpur dan Singapura).

7. Harga barang Komplementer, merupakan sebuah barang yang saling

membantu atau dengan kata lain barang komplementer adalah barang yang saling melengkapi, di mana apabila dikaitkan dengan pariwisata barang komplementer ini sebagai obyek wisata yang saling melengkapi dengan obyek wisata lainnya.

Dalam kaitannya dengan faktor-faktor yang menentukan wisatawan untuk membeli atau mengunjungi obyek wisata, ada lima faktor yang menentukan seseorang untuk membeli jasa atau mengunjungi obyek wisata, yaitu: (1) lokasi, (2) fasilitas, (3) citra/image, (4) harga/tarif, (5) pelayanan.

2.2.8. Motivasi Berwisata

Menurut Pitana (2005) menekankan bahwa: motivasi merupakan hal yang

sangat mendasar dalam studi tentang wisatawan dan pariwisata, karena motivasi

merupakan “Trigger” dari proses perjalanan wisata, walau motivasi ini acapkali tidak

disadari secara penuh oleh wisatawan itu sendiri. Pada dasarnya seseorang melakukan perjalanan dimotivasi oleh beberapa hal, motivasi-motivasi tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok besar sebagai berikut:

1. Physical or physiological motivation yaitu motivasi yang bersifat fisik atau

fisologis, antara lain untuk relaksasi, kesehatan, kenyamanan, berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, bersantai dan sebagainya.

2. Cultural motivation yaitu keinginan untuk mengetahui budaya, adat, tradisi

dan kesenian daerah lain. Termasuk juga ketertarikan akan berbagai obyek tinggalan budaya.

3. Social or interpersonal motivation yaitu motivasi yang bersifat sosial, seperti

mengunjungi teman dan keluarga, menemui mitra kerja, melakukan hal-hal yang dianggap mendatangkan gengsi (prestige), melakukan ziarah, pelarian dari situasi yang membosankan dan seterusnya.

4. Fantasy motivation yaitu adanya motivasi bahwa di daerah lain seseorang

akan bisa lepas dari rutinitas keseharian yang menjemukan dan yang memberikan kepuasan psikologis. Menurut Pitana (2005), berpendapat bahwa wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata termotivasi oleh beberapa

faktor yakni: Kebutuan fisiologis, keamanan, sosial, prestise, dan aktualiasi diri.

2.2.9. Faktor-faktor Pendorong dan Penarik

Faktor-faktor pendorong dan penarik untuk berwisata sangatlah penting untuk diketahui oleh siapapun yang berkecimpung dalam industri pariwisata. Dengan adanya faktor pendorong, maka seseorang ingin melakukan perjalanan wisata, tetapi belum jelas mana daerah yang akan dituju. Berbagai faktor pendorong seseorang melakukan perjalanan wisata menurut Pitana (2005), menjelaskan sebagai berikut:

1. Escape. Ingin melepaskan diri dari lingkungan yang dirasakan menjemukan,

atau kejenuhan dari pekerjaan sehari-hari.

2. Relaxtion. Keinginan untuk penyegaran, yang juga berhubungan dengan

motivasi untuk escape di atas.

3. Play. Ingin menikmati kegembiraan, melalui berbagai permainan, yang

merupakan kemunculan kembali sifat kekanak-kanakan, dan melepaskan diri sejenak dari berbagai urusan yang serius.

4. Strengthening family bond. Ingin mempererat hubungan kekerabatan,

khususnya dalam konteks (visiting, friends and relatives). Biasanya wisata ini dilakukan bersama-sama (group tour).

5. Prestige. Ingin menunjukkan gengsi, dengan mengunjungi destinasi yang

menunjukkan kelas dan gaya hidup, yang juga merupakan dorongan untuk meningkatkan status atau social standing.

6. Social interaction. Untuk dapat melakukan interaksi sosial dengan teman

sejawat, atau dengan masyarakat lokal yang dikunjungi.

7. Romance. Keinginan untuk bertemu dengan orang-orang yang bisa

memberikan suasana romantis atau untuk memenuhi kebutuhan seksual. 8. Educational opportunity. Keinginan untuk melihat suatu yang baru,

mempelajari orang lain dan/atau daerah lain atau mengetahui kebudayaan etnis lain. Ini merupakan pendorong dominan dalam pariwisata.

9. Self-fulfilment. Keinginan untuk menemukan diri sendiri, karena diri sendiri

biasanya bisa ditemukan pada saat kita menemukan daerah atau orang yang baru.

10.Wish-fulfilment. Keinginan untuk merealisasikan mimpi-mimpi, yang lama

dicita-citakan, sampai mengorbankan diri dalam bentuk penghematan, agar bisa melakukan perjalanan. Hal ini juga sangat jelas dalam perjalanan wisata religius, sebagai bagian dari keinginan atau dorongan yang kuat dari dalam diri.

2.3. Obyek Wisata

2.3.1. Obyek Wisata Alam

Obyek wisata alam adalah sumber daya alam yang berpotensi dan berdaya tarik bagi wisatawan serta yang ditujukan untuk pembinaan cinta alam, baik dalam kegiatan alam maupun setelah pembudidayaan (Suwantoro, 1997) contohnya goa, danau, gunung dan pantai.

2.3.2. Pengembangan Obyek Wisata

Suatu obyek wisata tidak akan bisa menarik pengunjung apabila potensi dari obyek wisata tersebut tidak dikembangkan. Pengembangan obyek wisata adalah suatu usaha untuk dapat meningkatkan pendapatan ekonomi nasional di bidang pariwisata sebagai suatu industri penghasil devisa (Yoeti, 1985).

2.3.3. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pengembangan Obyek Wisata

Menurut Yoeti (2008) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan obyek wisata. Hal-hal tersebut adalah:

1. Obyek wisata itu harus ada apa yang disebut sebagai “something to see”.

Artinya di tempat tersebut harus mempunyai daya tarik khusus yang berbeda dengan apa yang dimiliki tempat lain.

2. Obyek wisata itu harus mempunyai apa yang disebut “something to do”.

Artinya di tempat tersebut selain banyak yang dilihat dan disaksikan harus pula ada kegiatan lain yang dapat dilakukan.

3. Obyek wisata itu harus ada yang disebut sebagai “something to buy”. Artinya

di tempat tersebut harus terdapat fasilitas belanja (shopping) terutama

souvenir sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang.

2.3.4. Prasarana dan Sarana

Adapun hal-hal yang dapat menunjang pengembangan suatu obyek wisata adalah prasarana dan sarananya.

1. Prasarana

Prasarana adalah semua fasilitas yang dapat memungkinkan proses perekonomian berjalan dengan lancar sedemikian rupa, sehingga dapat memudahkan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhannya.

Prasarana Perekonomian (Economic Infrastructure), yang dibagi atas:

a) Pengangkutan (Transportasi)

Yang dimaksud dengan pengangkutan di sini adalah pengangkutan yang dapat membawa para wisatawan dari negeri di mana ia biasanya tinggal, ke tempat atau negara yang rnerupakan daerah tujuan wisata, seperti pesawat udara untuk jarak jauh, kapal laut, kereta api, bus, taxi dan kendaraan lainnya.

b) Prasarana Komunikasi (Communication Infrasturcture)

Termasuk ke dalam kelompok ini diantaranya ialah telepon, telegraf, radio dan TV, surat kabar dan pelayanan kantor pos.

c) Prasarana yang langsung melayani wisatawan

Termasuk di dalam kelompok ini adalah guide lokal yang memberikan pelayanan informasi tentang obyek wisata tersebut kepada para wisatawan.

2. Sarana

Sarana adalah semua bentuk perusahaan yang dapat memberikan pelayanan pada wisatawan, tetapi hidup dan kehidupannya tidak selamanya tergantung pada wisatawan.

Sarana terbagi atas:

a. Sarana Pokok Kepariwisataan

Yaitu perusahaan yang hidup dan kehidupannya sangat tergantung kepada arus kedatangan orang yang melakukan perjalanan wisata. Termasuk kedalam kelompok ini adalah kantin dan restoran.

b. Sarana Penunjang Kepariwisataan

Yaitu fasilitas yang diperlukan wisatawan yang berfungsi tidak hanya melengkapi sarana pokok dan sarana pelengkap dan agar wisatawan lebih banyak membelanjakan uangnya di tempat yang dikunjunginya tersebut. Yang termasuk dalam sarana penunjang kepariwisataan; souvenir shop dan penjual makanan khas daerah setempat.

2.4. Penelitian terdahulu

Ujang (2007) tentang Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi wisatawan mancanegara yang datang ke Pulau Batam, menjelaskan ada empat faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah wisatawan yang datang pada daerah tujuan yaitu hotel, restoran, traveling dan biaya promosi. Penelitian ini menggunakan hipotesis yang memiliki empat variabel independen dan satu variabel dependen. Dari analisis regresi dapat disimpulkan bahwa empat variabel dependen yang mempengaruhi wisatawan mancanegara datang ke Pulau Batam, hanya dua variabel

yang mempunyai pengaruh signifikan, yaitu variabel hotel dan biaya promosi. Dan dari dua variabel ini yang sangat berpengaruh adalah variabel hotel.

Lubis (2003) tentang analisis beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan pariwisata Kota Medan, menjelaskan ada 4 faktor yang mempengaruhi permintaan pariwisata yaitu jumlah pengeluaran wisatawan, kurs valuta asing, pendapatan per kapita, dan kebijakan pemerintah Indonesia dalam promosi. Hasil yang ditemukan adalah bahwa jumlah pengeluaran, kurs dan pendapatan per kapita berpengaruh terhadap permintaan pariwisata Kota Medan.

Suradnya (2008) tentang Analisis Faktor-faktor daya tarik Wisata Bali dan implikasinya terhadap perencanaan pariwisata daerah Bali, menjelaskan bahwa Berdasarkan hasil-hasil analisis dan pembahasan di atas dapat dibuat beberapa simpulan dan saran-saran kebijakan dalam perencanaan pengembangan pariwisata Bali yakni sebagai berikut. Melalui analisis faktor (factor analysis) berhasil diidentifikasi 8 faktor yang menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara memilih Bali sebagai daerah tujuan wisata untuk dikunjungi, yakni; (1) Harga (price), (2) Budaya (culture), (3) Pantai (beach), (4) Kenyamanan (convenience), (5) Relaksasi (relaxation), (6) Citra (image), (7) Keindahan alam (natural beauty), dan (8) Penduduk setempat (local people). Temuan di atas berimplikasi terhadap perencanaan pariwisata Bali. Semua ini akan bermuara kepada peningkatan kualitas pariwisata Bali dan tetap terjaganya citra (image) Bali sebagai salah satu daerah tujuan wisata dunia. Temuan penting lainnya yang juga berimplikasi terhadap perencanaan pariwisata Bali adalah adanya peningkatan perhatian wisatawan

terhadap harga-harga produk wisata yang ditawarkan sejalan dengan meningkatnya persaingan di antara daerah-daerah dan bahkan dari negara tujuan wisata lainnya.

2.5. Kerangka Pemikiran

Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran Persepsi Wisatawan ke Pulau Samosir

Gambar 2.1 di atas menunjukkan bahwa persepsi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Samosir dilihat dari beberapa tolak ukur yaitu Akomodasi Hotel/Penginapan, Restoran/Rumah Makan, Transportasi, Aksesibilitas, dan Obyek dan Daya Tarik Wisata (ODTW).

Persepsi Wisatawan ke

Dokumen terkait