PERANCANGAN LANSKAP KOMPLEKS METROPOLITAN JAKARTA
5.3 Building and Construction Authority Green Mark
5.4.4 Tahap pengembangan desain ( design development )
5.4.4.5 Zona World Trade Center 2 (proyek A126)
Zona ini merupakan proyek terpisah dari proyek penataan lanskap kawasan Kompleks Metropolitan, akan tetapi tetap merupakan bagian dari kawasan kompleks tersebut. Pada proyek ini PT Sheils Flynn Asia bertugas mendesain lanskap area luar bangunan World Trade Center (WTC) 2.
Selain itu, PT Jakarta Land sebagai klien juga mengajukan bangunan World Trade Center 2 ini untuk memperoleh sertifikat BCA (Building and Construction Authority) Green Mark. Oleh karena itu, lanskap area luar bangunan World Trade Center 2 menjadi suatu perhatian khusus dalam pencapaian sertifikat tersebut (lihat kembali Tabel 5).
Lanskap area luar bangunan WTC 2 berada pada atap basemant, sehingga lanskapnya termasuk ke dalam kategori roof garden (taman atap). Secara umum desain yang diterapkan oleh tim PT Sheils Flynn Asia pada proyek ini ialah untuk mengakomodir kebutuhan user pada ruang terbuka di area perkantoran. Selain itu juga dengan memperhatikan pemilihan vegetasi untuk tercapainya sertifikat BCA Green Mark. Site Plan zona World Trade Center dapat dilihat pada Gambar 89.
Secara umum, lanskap pada zona ini didesain dengan menyesuaikan karakter bangunan WTC 2 yang dirancang oleh Aedas Pte Ltd. Karakter formal sangat terasa pada area ini dengan perwujudan elemen garis dan bentuk-bentuk geometris, seperti partere dan planter.
Secara keseluruhan, area World Trade Center 2 memiliki karakter yang berbeda dengan bangunan lain di Kompleks Metropolitan. Hal tersebut dikarenakan sebagai bangunan baru maka WTC 2 memiliki gaya yang moderen, elegan, dan mewah, selain itu terdapatnya sertifikasi BCA Green Mark pada bangunan ini juga menjadi salah satu faktor yang membedakannya dengan bangunan lain. Oleh karena itu PT Sheils Flynn Asia sebagai perancang lanskap perlu menyesuaikan lanskap luar bangunan dengan bangunan WTC 2 itu sendiri.
Area Drop off
Pada area entrance yang terletak di sebelah barat tapak, terdapat ramp yang menghubungkan jalan lingkar WTC 1 dengan drop off WTC 2. Di depan area drop off terdapat island dengan water feature dan artwork atau sculpture di atasnya. Island tersebut berfungsi sebagai pengatur sirkulasi kendaraan yang melalui area drop off. Di utara tapak terdapat jalur menuju parkir basemant dan jalur keluar ke arah lapangan parkir utara.
Material yang digunakan pada permukaan area drop off ialah granit abu (impala africa) dengan berbagai tipe, diantaranya slabs, setts, dan cobbles. Material ini dipilih untuk menyesuaikan karakter bangunan WTC 2 yang berkarakter mewah dan elegan. Oleh karena itu material granit yang berkesan mewah, elegan, dan kuat digunakan pada hampir keseluruhan area luar bangunan World Trade Center 2 ini.
Vegetasi yang digunakan pada area drop off merupakan ground cover atau tanaman penutup tanah dan semak. Hal tersebut dimaksudkan untuk membuka pandangan user pada area ini. Dengan demikian pandangan user ke arah bangunan WTC 2 tidak terhalang oleh pohon. Di bagian utara didesain partere Ilex crenata dan Serissa foetida dengan pola yang kaku untuk menciptakan kesan formal. Pada atap dinding pembatas diusulkan tanaman rambat Bauhinia cockiana untuk memberikan struktur visual pada dinding..
Sementara itu di bagian luar tapak ditempatkan beberapa pohon sebagai penghubung area lanskap WTC 2 dengan permukaan tanah di sekelilingnya yang berada pada ketinggian 3 meter di bawah area lanskap WTC 2 ini. Selain itu pohon-pohon tersebut juga berfungsi sebagai screen area luar tapak. Pohon tersebut, diantaranya Podocarpus nerifolius dan Palem Sabal palmetto. Contoh hard dan soft material pada area drop off terdapat pada Gambar 90 dan 91. Ilustrasi desain pada area drop off World Trade Center 2 dapat dilihat pada Gambar 92 - 94.
(a) (b) (c) Gambar 90 Hard Material Area Drop Off WTC 2
(a) Granite Slabs (b) Granite Long Setts
(c) Granite Cobbles
(a) (b) (c)
(d) (e)
Gambar 91 Soft Material Area Drop Off WTC 2 (a) Podocarpus nerifolius
(b) Sabal palmento (c) Syzygium oleana
(d) Ilex crenata (e) Serissa foetida
123
Sementara itu desain di bagian podium lebih difungsikan pada kegiatan relaksasi. Dalam desainnya, PT Sheils Flynn Asia menyediakan tempat yang nyaman bagi user untuk beristirahat, bersantai, dan beralaksasi pada area lanskap tersebut. Terdapat beberapa elemen yang mendukung kegiatan user untuk memanfaatkan lanskap podium ini, seperti bench, pohon peneduh, planter, tanaman climber, dan lain-lain.
Tempat duduk pada area podium didesain dengan bentukan organik menyerupai ombak yang juga berfungsi sebagai planter. Hal tersebut dilakukan untuk memecah kesan monoton dari partere Buxus carissa pada area podium dengan tetap memperhatikan komposisi keseimbangan desain bench tersebut.
Pohon Diospyros buxifolia ditanam berjajar di sepanjang podium. Pohon tersebut ditanam di tempat duduk/bench yang berbentuk ombak. Dengan demikian akan tercipta kesan teduh dan nyaman bagi user yang berada di area lanskap podium ini. Selain ditanam pada tempat duduk, pohon tersebut juga ditempatkan pada planter berbentuk kotak dengan tinggi 0,65 meter. Dengan tinggi ini, pandangan user yang duduk maupun berdiri tidak akan terganggu seperti yang telah dijelaskan pada desain planter di zona rute 1.
Bench dan planter tersebut diposisikan berada pada kolom struktur bangunan, yaitu basemant yang berada di bawahnya. Hal tersebut dilakukan untuk memfokuskan beban bench dan planter pada kolom yang secara struktur lebih kuat. Dengan demikian lanskap yang termasuk ke dalam kategori roof garden ini tidak membahayakan struktur bangunan. Selain itu tebal dari media tanam di kedua elemen tersebut hanya 1 meter, hal tersebut didasarkan pada perhitungan konsultan struktur yang mengizinkan media tanam pohon maksimal 1 meter dan semak 0,3 meter (Gambar 95).
Osmundson (1999) juga menyatakan bahwa penempatan pohon pada lanskap roof garden harus memperhatikan distribusi berat yang dihasilkan, berat tersebut sebaiknya terdistribusikan pada kolom (Gambar 96). Lebih jauh lagi Osmundson menyatakan bahwa tebal media tanam pada roof garden sekitar 76,2 cm atau lebih untuk pohon dan 15 – 61 cm untuk semak. Dengan demikian
penerapan desain yang dilakukan oleh PT Sheils Flynn Asia telah sesuai dengan referensi tersebut.
Gambar 95 Penempatan Planter dan Bench pada Struktur Kolom (Sumber: PT Sheils Flynn Asia, Digambar oleh: Rizki Ariesetya MG)
Gambar 96 Penempatan Elemen Pohon Roof Garden (Sumber: Osmundson, 1999)
Di sisi bangunan World Trade Center 2, dibuat plaza yang mengelilingi bangunan tersebut. Selain sebagai akses user untuk menuju taman, plaza tersebut juga berfungsi sebagai koridor untuk jalur kendaraan pemadam kebakaran untuk mengantisipasi situasi berbahaya seperti yang telah dijelaskan pada bagian analisis sebelumnya.
warna. Warna yang digunakan ialah abu (nero impala) dan putih (star white) yang disusun secara acak (Gambar 97). Hal tersebut dilakukan untuk menciptakan variasi pola yang berpengaruh pada nilai visual dan estetika, sehingga dapat memecah suasana monoton. Contoh soft material pada area podium barat terdapat pada Gambar 98. Ilustrasi desain pada area podium barat dapat dilihat pada Gambar 99 – 102.
(a) (b) Gambar 97 Hard Material Area Podium
(a) Granit nero impala (b) Granit star white
(a) (b)
Gambar 98 Soft Material Area Podium Barat WTC 2 (a) Diospyros buxifolia
129 Gambar 99 Ilustrasi 3 Dimensi Area Podium Barat 1 (Sumber: PT Sheils Flynn Asia, Digambar oleh: Rizki Ariesetya MG)
130 Gambar 100 Ilustrasi 3 Dimensi Area Podium Barat 2 (Sumber: PT Sheils Flynn Asia, Digambar oleh: Rizki Ariesetya MG)
Area podium selatan dan timur
Pada bagian podium selatan terdapat bangunan pelayanan kelistrikan yang diusulkan oleh PT Skemanusa Consultana Teknik sebagai MEP Engineer proyek A126. Masifnya bangunan tersebut disiasati oleh tim PT Sheils Flynn Asia dengan menempatkan tanaman rambat di atas bangunan tersebut, yaitu Bauhinia cockiana. Hal tersebut dilakukan untuk mereduksi kesan masif yang ditimbulkan dan memberi struktur visual pada bangunan tersebut.
Di bagian area entrance selatan ditempatkan Alstonia scholaris dan Terminalia mantaly. Pemilihan kedua pohon tersebut pada area entrance tidak tepat. Area entrance ini merupakan area entrance ke dalam kawasan kompleks. Dengan demikian pemilihan pohon yang sesuai seharusnya adalah Khaya senegalensis yang merupakan pohon entrance primer. Sedangkan Alstonia scholaris merupakan pohon entrance sekunder.
Selain itu di luar area podium selatan tersebut juga diusulkan beberapa pohon sebagai pembatas dan screen pandangan, yaitu Calistemon viminalis, Eucalyptus deglupta, dan palem Sabal palmetto. Ilustrasi desain podium selatan dapat dilihat pada Gambar 103.
Di area podium timur terdapat beberapa saluran pembuangan udara yang berada di lantai. Di antara saluran pembuangan tersebut ditanam groundcover, yaitu Osmoxylon lineare untuk mencegah user melewati area tersebut. Sama halnya dengan area luar podium selatan, di bagian luar podium timur diusulkan pula beberapa pohon sebagai pembatas dan screen, yaitu Salix babylonica, Eucalyptus deglupta, dan palem Sabal palmetto.Ilustrasi desain area podium timur dapat dilihat pada Gambar 104. Contoh soft material pada area podium selatan dan timur terdapat pada Gambar 105.
134 Gambar 103 Ilustrasi 3 Dimensi Area Podium Selatan (Sumber: PT Sheils Flynn Asia, Digambar oleh: Rizki Ariesetya MG)
135 Gambar 104 Ilustrasi 3 Dimensi Area Podium Timur (Sumber: PT Sheils Flynn Asia, Digambar oleh: Rizki Ariesetya MG)
(a) (b) (c)
(d) (e) (f)
(g) (h)
Gambar 105 Soft Material Area Podium Selatan dan Timur WTC 2 (a) Alstonia scholaris
(b) Terminalia mantaly (c) Eucalyptus deglupta
(d) Salix babylonica (e) Calistemon viminalis
(f) Sabal palmetto (g) Osmoxylon lineare (h) Bauhinia cockiana
Perhitungan BCA Green Mark
Berdasarkan desain yang telah diusulkan tersebut, kemudian PT Sheils Flynn Asia melakukan perhitungan awal untuk melihat perkiraan perolehan poin sertifikat BCA Green Mark dari segi lanskap. Seperti yang telah dijelaskan pada subbab Building and Construction Authority Green Mark sebelumnya, terdapat dua kategori penilaian dalam bidang lanskap, yaitu sistem irigasi dan penghijauan. Dalam kategori sistem irigasi terdapat tiga penilaian, yaitu tidak menggunakan air konsumsi dalam irigasi, penggunaan sistem irigasi otomatis, dan penggunaan tanaman toleran panas dengan sedikit pengairan dengan masing-masing alokasi 1 poin. Sementara itu dalam kategori penghijauan/green provision juga terdapat tiga penilaian, yaitu penggunaan pupuk kompos, restorasi /mempertahankan pohon pada tapak dengan masing-masing alokasi 1 poin dan green plot ratio dengan alokasi maksimum 6 poin (lihat kembali Tabel 6).
Untuk kategori sistem irigasi, perolehan poin dari lanskap area bangunan luar WTC 2 hanya didapat 1 poin, yaitu dari penilaian penggunaan tanaman toleran panas dengan sedikit pengairan. Sementara itu poin untuk penilaian pertama dan kedua tidak dapat diaplikasikan pada tapak.
Penggunaan air konsumsi dalam irigasi tanaman tetap harus dilakukan dalam proses maintenance nantinya walaupun dalam intensitas yang rendah karena pemilihan tanaman rata-rata merupakan tanaman yang membutuhkan tidak banyak air. Dengan demikian penilaian tidak menggunakan air konsumsi dalam irigasi tidak dapat tercapai.
Demikian pula halnya dalam penilaian kedua, penggunaan sistem irigasi otomatis tidak dapat dilakukan dalam proses maintenance. Selain membutuhkan biaya yang cukup besar pada proses awal, keterbatasan sumberdaya manusia dalam konstruksi dan operasional juga menjadi hambatan dalam implementasi penilaian kedua ini.
Sementara itu dalam penilaian penggunaan vegetasi yang toleran panas dan membutuhkan sedikit pengairan dapat terpenuhi. Secara umum, pemilihan vegetasi pada desain lanskap area bangunan luar WTC 2 ini sebagian besar telah mencapai syarat tersebut (Tabel 10). Sebagian besar tanaman merupakan tanaman yang toleran terhadap panas dan memiliki kebutuhan air yang tidak intensif.
kategori pengairan dan lanskap.
Tabel 10 Data Desain Vegetasi Area World Trade Center 2 (Sumber: Lestari dan Kencana, 2008; Limin, 2008; Reine dan Trono, 2002)
Nama Tanaman Penyinaran Kebutuhan
Air Asal
Pohon Kecil
Diospyros buxifolia Cahaya penuh Sedang Indonesia Eucalyptus deglupta Cahaya penuh Tinggi Papua Nugini,
Sulawesi Terminalia mantaly Cahaya penuh Tinggi Indonesia Pohon Sedang
Alstonia scholaris Cahaya penuh Tinggi India, China Pohon Besar
Calistemon viminalis Cahaya penuh Sedang Australia Podocarpus nerifolius Semi naungan Sedang Papua Nugini,
Kalimantan Salix babylonica Semi naungan Sedang China Palem Kecil
Ptychospermae macarthurii Cahaya penuh Sedang Australia Rhapis excelsa Cahaya penuh Sedang China Palem Besar
Sabal palmetto Cahaya penuh Tinggi Amerika Utara Semak dan Groundcover
Axonopus compressus Cahaya penuh Tinggi Amerika Selatan Bauhinia cockiana Cahaya penuh Tinggi Asia Tenggara Buxus carissa Semi naungan Sedang Philipina Dietes bicolor Cahaya penuh Sedang Afrika Selatan Duranta repens Cahaya penuh Sedang Amerika Selatan Ilex crenata Cahaya penuh Tinggi Amerika Utara Osmoxylon lieare Cahaya penuh Tinggi Asia Tenggara Rhoeo discolor Cahaya penuh Sedang India Serissa foetida Cahaya penuh Sedang China, Jepang Syzyghium oleana Cahaya penuh Sedang Philipina,
Sementara itu dalam kategori grenery provision, poin yang dapat diperoleh sebanyak 5 poin. Dalam proses awal penanaman dan kegiatan maintanence tanaman nantinya akan digunakan pupuk kompos sesuai dengan ketentuan BCA. Hal tersebut selain memperkecil biaya maintanance juga berdampak baik pada lingkungan dengan meminimalisir penggunaan bahan-bahan kimia terhadap lingkungan.
Beberapa pohon eksisting pada tapak di luar kebutuhan struktur bangunan dipertahankan dalam desain ini. Hal tersebut memberikan satu poin tambahan dari penilaian kedua pada kategori greneery provision ini. Untuk kategori ketiga, yaitu perhitungan green plot ratio, lanskap area luar bangunan WTC 2 memperoleh 3 poin dari 6 poin maksimal (Tabel 11).
Keseluruhan vegetasi yang diusulkan pada desain lanskap area luar bangunan WTC 2 didata jumlah dan penutupan lahannya. Untuk rumput, semak, dan groundcover dihitung dari luas area tanam, dengan nilai green area index 1 untuk rumput dan 3 untuk semak dan groundcover. Sementara itu palem dan pohon dikategorikan menjadi beberapa bagian sesuai dengan radius tajuknya. Palem memiliki nilai green area index sebesar 4 dan 6 untuk pohon.
Nilai green area diperoleh dari jumlah hasil perkalian masing-masing luas penutupan tajuk/lahan dengan jumlah tanaman dan green area index. Nilai green area yang diperoleh sebesar 44.988 m2. Setelah itu dihitung nilai perbandingan area hijau dengan luas tapak (green plot ratio). Nilai ini diperoleh dari pembagian hasil green area dengan luas tapak, dan diperoleh hasil perbandingan 2,6.
Berdasarkan nilai green plot ratio yang diperoleh, maka poin yang didapat dari penilaian green plot ratio pada kategori greenery provision sebesar 3 poin (lihat kembai Tabel 6). Dengan demikian poin yang berhasil dikumpulkan pada kategori greenery provision ini sebesar 5 poin dari 8 poin maksimal. Maka total poin yang berhasil dikumpulkan dari bidang lanskap sebesar 6 poin dari 11 poin maksimal.
Tabel 11 Perhitungan Green Plot Ratio (GnPR) Jumlah (A) Canopy Area (B) Radius (C)
Green Area Index (D) Green Area (AxBxC2xD) (m2) Luas Tapak (m2) Rumput (m2) 1484 NA NA 1 1484 17382 Semak (m2) 3246 NA NA 3 9738 Palem Kecil 50 3,14 0,5 4 157 Palem Besar 61 3,14 2,5 4 4788,5 Pohon Kecil 31 3,14 3,5 6 7154,5 Pohon Sedang 1 3,14 5 6 471 Pohon Besar 20 3,14 7,5 6 21195
Total Green Area 44988
Green Plot Ratio (GnPR) 2,6
Poin GnPR (1,5 - < 3) (lihat Tabel 6) 3 Poin
1
Hal tersebut menunjukkan kontribusi PT Sheils Flynn Asia dalam perolehan poin untuk mencapai sertifikat BCA Green Mark sebesar 55%. Berdasarkan kriteria penilaian BCA Green Mark pada Tabel 5, kedua kategori bidang lanskap tersebut termasuk ke dalam persyaratan lainnya. Persyaratan tersebut memiliki nilai minimal yang harus dikumpulkan untuk mendapatkan sertifikat BCA Green Mark sebesar 20 poin dari 74 poin maksimal.
Dengan demikian untuk mencapai syarat minimal tersebut, maka tersisa 14 poin yang harus dikumpulkan oleh tim lain yang tergabung dalam proyek pembangunan World Trade Center 2 ini, seperti arsitek, kontraktor, MEP Engineer, dan lain-lain. Dalam hal ini maka PT Sheils Flynn Asia sebagai konsultan perancang lanskap area luar ruang WTC 2 telah berkontribusi sebesar 30% dari poin minimal yang harus dikumpulkan.
Dilihat dari kontribusi tersebut maka desain yang dibuat PT Sheils Flynn Asia dalam proyek ini telah cukup baik, walaupun poin maksimal di bidang lanskap tidak dapat dicapai tetapi secara keseluruhan desain ini telah memberikan kontribusi yang cukup, yaitu sebesar 30% dari poin keseluruhan.
Sementara itu, pada proyek A126 ini PT Sheils Flynn Asia telah berhasil membentuk ruang terbuka hijau sekitar 4.730 m2. Area hijau tersebut memiliki persentase 29% dari luas area World Trade Center 2 yang mencapai 16.250 m2. Dengan demikian, secara keseluruhan PT Sheils Flynn Asia telah membentuk 13.450 m2 area hijau pada kawasan Kompleks Metropolitan. Hal tersebut memberikan peningkatan ketersediaan area hijau kawasan dari 8% menjadi 17% dari luas kompleks yang mencapai 80.000 m2 (8 ha).