• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN LANSKAP KOMPLEKS METROPOLITAN JAKARTA

5.3 Building and Construction Authority Green Mark

5.4.4 Tahap pengembangan desain ( design development )

5.4.4.4 Zona lapangan parkir

Zona yang terakhir pada penataan lanskap kawasan Kompleks Metropolitan, yaitu zona lapangan parkir. Zona ini terdiri dari area lapangan parkir utara dan selatan. Kedua area lapangan parkir tersebut merupakan area eksisting kawasan Kompleks Metropolitan yang diperbaiki dan ditata ulang oleh PT Sheils Flynn Asia.

Pada tahap desain konsep sebelumnya, kedua area lapangan parkir ini mengalami perubahan layout yang cukup signifikan dari kondisi eksisting. Seperti yang terdapat pada Gambar 33 sebelumnya, layout parkir ditata ulang, sehingga memiliki sudut yang sama pada setiap island. Sedangkan pada kondisi eksisting (lihat kembali Gambar 13) layout parkir tidak memiliki sudut yang sama, sehingga terdapat ketidakteraturan pola atau ritme island.

Pada awalnya, tim desain PT Sheils Flynn Asia melakukan perubahan layout pada area lapangan parkir untuk membentuk suatu irama yang baik pada island lapangan parkir tersebut. Selain itu juga perubahan layout akan memberikan ruang parkir yang lebih banyak daripada kondisi eksisting sebelumnya. Dengan demikian perubahan itu tidak hanya memberikan dampak yang baik secara desain tetapi juga memberikan keuntungan secara ekonomi.

Pada kondisi eksisting saat ini ruang parkir di area lapangan parkir utara mencapai 420 ruang dan 440 ruang pada area lapangan parkir selatan, sehingga

diubah pada tahap desain konsep, ruang parkir di area lapangan parkir utara dapat mencapai 446 ruang dan 454 ruang pada area lapangan parkir selatan. Dengan demikian total ruang parkir dengan layout tersebut mencapai 900 ruang parkir (Tabel 7).

Tabel 7 Data Ruang Parkir tiap Tahap

Zona Eksisting Desain Konsep Pengembangan Desain Penerimaan 42 42 42 Rute 2 125 115 115 Parkir Utara 420 446 420 Parkir Selatan 440 454 430 Total 1027 1057 1007

Berdasarkan masukan dari klien pada saat presentasi tahap desain konsep, perubahan layout pada area tersebut akan dapat menghabiskan biaya yang cukup besar. Meskipun perubahan tersebut dapat memberikan ruang parkir yang lebih banyak, tapi biaya yang harus dikeluarkan untuk merombaknya pun tidak sedikit. Selain itu, klien berpendapat bahwa penambahan ruang parkir dinilai tidak begitu penting dan mendesak. Hal tersebut dikarenakan pada area bangunan World Trade Center 2 sedang dibangun ruang parkir baru yang dirancang oleh Aedas Pte Ltd.

Pertimbangan dan masukan tersebut diaplikasikan oleh PT Sheils Flynn Asia pada desain area parkir di tahap pengembangan. Pada tahap pengembangan desain, layout area parkir mengacu berdasarkan layout eksisting. Dengan demikian desain yang telah dibuat pada tahap desain konsep mengalami perubahan, akan tetapi tetap sesuai dengan konsep yang telah diterapkan sebelumnya (Gambar 79 - 81).

Menurut Harris dan Dines (1998), terdapat beberapa standar acuan dalam desain area parkir. Hal tersebut didasarkan pada beberapa variabel, seperti sudut parkir, koridor jalan, dan lebar raung parkir. Standar desain area parkir menurut Harris dan Dines dapat dilihat pada Tabel 8 dan Gambar 82.

Gambar 79 Site Plan Zona Lapangan Parkir Utara dan Selatan Tahap Pengembangan Desain

(Sumber: PT Sheils Flynn Asia)

Tabel 8 Standar Desain Area Parkir (Sumber: Harris dan Dines, 1998) Sudut (x) Lebar (a) Panjang (b) Lebar Koridor

(c) Lebar (d) 90o 2,440 2,590 2,740 5,485 5,485 5,485 8,530 – 9,750 7,620 – 8,840 7,010 – 8,230 - 60o 2,440 2,590 2,740 5,970 5,485 5,180 5,790 5,485 5,180 2,820 2,995 3,175 45o 2,440 2,590 2,740 5,610 5,690 5,815 3,660 3,350 3,350 3,450 3,660 3,885 30o 2,440 2,590 2,740 4,850 5,000 5,130 3,350 3,040 2,740 4,875 5,180 5,485 0o 2,440 2,590 2,740 6,700 6,700 7,010 3,350 3,505 3,660 -

112

113

Gambar 82 Standar Desain Area Parkir (Sumber: Harris dan Dines, 1998)

Berdasarkan acuan tersebut, lapangan parkir utara dan selatan pada kawasan Kompleks Metropolitan ini termasuk ke dalam area parkir dengan sudut parkir 90o. Dengan demikian, bila lebar ruang parkir yang digunakan adalah 2,440 meter, maka panjang ruang parkir sebesar 5,485 meter dan lebar koridor jalan berkisar antara 8,530 – 9,750 meter. Akan tetapi desain yang diterapkan oleh PT Sheils Flynn Asia dalam penataan area parkir tersebut tidak memenuhi standar yang diungkapkan oleh Harris dan Dines tersebut (Gambar 83)

Gambar 83 Dimensi Desain Area Parkir Kompleks Metropolitan (Sumber: PT Sheils Flynn Asia)

Tidak terpenuhinya standar desain area parkir tersebut dikarenakan keterbatasan area yang tersedia. Selain itu juga batasan yang diberikan klien dalam penataan area parkir, yaitu dengan mempertahankan layout eksisting membuat desain yang diterapkan tidak dapat mengikuti seutuhnya standar yang ada. Lebar ruang parkir telah mengacu pada standar menjadi 2,5 meter, akan tetapi panjang ruang hanya tersedia 4,5 meter. Hal tersebut dilakukan untuk memaksimalkan koridor jalan yang merupakan jalur dua arah.

Dalam hal ini untuk tercapainya standar desain area parkir, diperlukan berbagai variasi desain yang terdapat pada standar acuan. Kendala yang ada dalam desain, yaitu sempitnya ruang antar island yang menyebabkan keterbatasan lebar koridor. Berdasarkan standar tersebut, semakin kecil sudut parkir berpengaruh pada semakin kecilnya pula lebar koridor. Dengan demikian pemilihan sudut yang digunakan oleh tim PT Sheils Flynn Asia tidak tepat, karena akan membutuhkan lebar koridor yang besar.

Pencapaian standar dapat dilakukan dengan menggunakan sudut parkir yang lebih kecil, yaitu 60o (Gambar 84). Hal lain yang perlu diperhatikan adalah panjang ruang, yang juga berpengaruh pada lebar koridor. Penggunaan panjang ruang 5,18 meter akan membutuhkan lebar koridor yang paling kecil untuk sudut 60o, yaitu 5,18 meter.

dimaksudkan untuk mempermudah masuk dan keluarnya kendaraan ke ruang parkir. Karena dengan sudut kurang dari 90o, kendaraan hanya dapat masuk dan keluar ruang parkir dari satu arah, berbeda halnya dengan penggunaan sudut 90o seperti yang dibuat oleh tim PT Sheils Flynn Asia.

Sementara itu vegetasi yang digunakan pada area parkir merupakan vegetasi penaung. Pada area parkir utara, diusulkan pohon Mimusoph elengi (tanjung) dan Pithecellobium dulce (asam londo) pada area parkir selatan (Gambar 85 dan 86). Perbedaan vegetasi pada kedua area parkir tersebut dilakukan untuk membuat perbedaan orientasi dan ciri vegetasi tiap area.

Gambar 85 Ilustrasi 3 Dimensi Area Parkir Utara

(Sumber: PT Sheils Flynn Asia, Digambar oleh: Rizki Ariesetya MG)

Gambar 86 Ilustrasi 3 Dimensi Area Parkir Selatan

Sama halnya dengan vegetasi pada gerbang masuk area parkir utara yang telah dijelaskan pada zona rute 1, pada area parkir selatan pun terdapat gerbang masuk yang berada di ujung teras kafe Wisma Metropolitan 2. Pada gerbang masuk ini terdapat bundaran dengan sculpture di bagian tengahnya. Sculpture tersebut menjadi foreground bagi vegetasi entrance sekunder di belakangnya (Gambar 87).

Pembuatan area sculpture tersebut justru menurunkan nilai kesatuan dan keharmonisan desain. Hal tersebut dikarenakan tidak terdapatnya sculpture pada gerbang masuk area parkir utara, sehingga tercipta kesan perbedaan kelas antara kedua area parkir tersebut. Dengan demikian sebaiknya penggunaan sculpture pun dilakukan pada salah satu island di gerbang masuk area parkir utara. Contoh soft material pada zona lapangan parkir terdapat pada Gambar 88.

Gambar 87 Ilustrasi 3 Dimensi Gerbang Masuk Area Parkir Selatan (Sumber: PT Sheils Flynn Asia, Digambar oleh: Rizki Ariesetya MG)

(a) (b)

Gambar 88 Soft Material Zona Lapangan Parkir (a) Mimusoph elengi (Parkir Utara) (b) Pithecellobium dulce (Parkir Selatan)

menjawab beberapa masalah dan tujuan yang akan dicapai pada tahap analisis dan konsep, diantaranya pembentukan ruang yang user friendly, penyederhanaan rute dan sirkulasi, area shared space, dan pembentukan karakter ruang dengan penggunaan perbedaan material.

Pemilihan material telah memperhatikan prinsip-prinsip desain, seperti unity dan balance meskipun terdapat beberapa pemilihan material yang mengurangi nilai-nilai prinsip tersebut. Akan tetapi dalam pemilihan vegetasi, sebagian besar bukan merupakan vegetasi asli/lokal yang tidak sesuai dengan tujuan yang dirumuskan pada tahap konsep. Untuk mencapai tujuan konsep yang ramah lingkungan, seharusnya penggunaan vegetasi sebagian besar merupakan vegetasi asli/lokal yang low maintenance. Data vegetasi terdapat pada Tabel 9.

Tabel 9 Data Desain Vegetasi Kompleks Metropolitan (Sumber: Lestari dan Kencana, 2008; Limin, 2008; Reine dan Trono, 2002)

Nama Tanaman Intensitas

Pemeliharaan Fungsi Asal

Khaya senegalensis Rendah Entrance

primer Indonesia

Roystonea regia Sedang Axis Amerika Tengah

Ravenala

madagascariensis Sedang Entrance Madagaskar

Gardenia carinata Sedang Pengarah,

feature tree China

Plumeria rubra Sedang Pengarah,

aksen Amerika Tengah

Alstonia scholaris Rendah Entrance

sekunder India, China

Carpentaria acuminata Sedang Entrance

sekunder Australia

Areca catechu Sedang Pengarah Asia Tenggara

Brahea edulis Sedang Parkir Mexico

Mimusoph elengi Rendah Parkir India

Phitecellobium dulce Sedang Parkir Amerika Tengah

Pada proyek A125 ini PT Sheils Flynn Asia telah berhasil membentuk beberapa ruang terbuka hijau baru untuk meningkatkan area hijau kawasan Kompleks Metropolitan. Pada kondisi eksisting, area hijau pada batas tapak proyek ini sekitar 6.242 m2 atau 9% dari luas tapak. Sementara itu hasil desain pada tahap pengembangan desain menunjukkan pertambahan ruang terbuka hijau

sekitar 2.476 m2 menjadi 8.718 m2 atau sebesar 15% dari luas tapak proyek A125 yang mencapai 8.719 m2. Dengan demikian desain yang dibuat oleh PT Sheils Flynn Asia pada proyek ini telah meningkatkan ketersedian area hijau kawasan sebesar 6%.

Dokumen terkait