PERANCANGAN LANSKAP KOMPLEKS METROPOLITAN JAKARTA
5.3 Building and Construction Authority Green Mark
5.4.4 Tahap pengembangan desain ( design development )
5.4.4.3 Zona rute 2
Pada tahap pengembangan desain, zona rute 2 mencakup area link selatan, reserved parking selatan, drop off selatan World Trade Center 1, dan area kafetaria Wisma Metropolitan 2. Area link selatan tersebut menghubungkan pintu masuk selatan dengan area drop off selatan World Trade Center 1 dan teras kafe Wisma Metropolitan 2 (Gambar 64 dan 65).
Gambar 64 Site Plan Zona Rute 2 Tahap Pengembangan Desain (Sumber: PT Sheils Flynn Asia)
Link selatan tersebut mengakomodir akses user untuk masuk dan keluar kawasan Kompleks Metropolitan dari Jalan Bek Murad. Berbeda halnya dengan link utara, selain diperuntukkan bagi pejalan kaki, link selatan juga dapat diakses oleh pengguna kendaraan. Hal tersebut untuk mengakomodir user yang membawa kendaraan melalui Jalan Prof. Dr. Satrio di sebelah barat Kompleks Metropolitan.
Pada tahapan desain konsep sebelumnya, jalur masuk pejalan kaki berada di sebelah timur jalur masuk kendaraan. Jalur pejalan kaki tersebut menghubungkan sisi selatan tapak dengan area teras kafe Wisma Metropolitan 2 dan drop off selatan World Trade Center 1. Pada tahap pengembangan desain, jalur masuk tersebut dipindahkan ke sebelah barat jalur masuk kendaraan tersebut (Gambar 66).
98
Gambar 66 Ilustrasi 3 Dimensi Pintu Masuk Selatan Pejalan Kaki (Sumber: PT Sheils Flynn Asia, Digambar oleh: Rizki Ariesetya MG)
Pada kondisi eksisting, terdapat area lapangan tenis di sebelah barat jalur masuk kendaraan. Pemindahan jalur masuk pejalan kaki tersebut berdampak pada pengurangan area lapangan tenis dari dua lapangan menjadi satu lapangan tenis. Selain itu dilakukan pula pelebaran jalur masuk kendaraan. Sebelumnya hanya terdapat 2 jalur, pada tahap pengembangan desain dibuat menjadi 3 jalur dengan jalur paling timur menjadi akses keluar kendaraan dari kawasan Kompleks Metropolitan (Gambar 67).
Gambar 67 Ilustrasi 3 Dimensi Pintu Masuk Selatan Kendaraan (Sumber: PT Sheils Flynn Asia, Digambar oleh: Rizki Ariesetya MG)
Pengurangan area lapangan tenis yang dilakukan didasarkan pada rendahnya intensitas penggunaan lapangan tenis tersebut. Maka PT Sheils Flynn
lapangan tenis. Pembuatan jalur masuk tersebut dianggap lebih memiliki nilai fungsional yang lebih tinggi dibandingkan dengan mempertahankan satu area lapangan tenis di selatan tapak tersebut.
Sesuai dengan yang diungkapkan Hakim dan Utomo (2002), salah satu yang menjadi faktor kenyamanan dalam pergerakan horizontal pada manusia adalah perubahan arah yang lebih mudah. Dalam tahap sebelumnya, link selatan ini menggunakan pola sirkulasi dengan adanya patahan arah sebesar 50° setelah crossover (lihat kembali Gambar 41 dan 42). Perubahan arah tersebut dapat mengakibatkan penumpukan user terutama saat waktu sibuk, seperti di waktu istirahat.
Hal yang sama diungkapkan oleh Simonds (2006), untuk menciptakan pergerakan yang yang relatif cepat, pola sirkulasi lebih baik menggunakan bentuk yang efisien dan langsung mengarahkan user ke tujuan. Pembuatan link selatan pada tahap ini dimaksudkan untuk membuat jalur yang lebih efisien dan menghindari terjadinya penumpukan user dengan meminimalisir perubahan arah yang drastis.
Pada zona rute 2 ini terdapat pula area lapangan parkir pesanan (reserved parking) yang terletak di arah timur dan utara jalur masuk kendaraan. Pada kondisi eksisting, area ini memang merupakan area lapangan parkir. Akan tetapi penataannya tidak baik dan memiliki sirkulasi yang membingungkan, sehingga kurang memberikan aksesibilitas yang baik bagi user (lihat kembali Gambar 13).
Sejak tahap desain konsep, pola sirkulasi pada area lapangan parkir ini mulai diperbaiki. Hal yang paling diperhatikan adalah pola parkir yang berada di sebelah timur jalur masuk kendaraan. Pada kondisi eksisting, pola sirkulasi memanjang dari barat – timur, tanpa adanya pintu masuk yang jelas ke dalam area tersebut. Sementara itu pada tahap desain, pola tersebut dirubah dengan bentuk memanjang dari utara – selatan, dengan satu pintu masuk lapangan parkir yang berada di utara (Gambar 68).
Menurut Harris dan Dines (1998), pola sirkulasi dengan pola memanjang tersebut termasuk ke dalam bentuk linier. Dengan pola sirkulasi berbentuk linier, maka alur sirkulasi akan lebih jelas dan terarah. Sebetulnya kondisi eksisting saat
ini sudah menggunakan bentuk linier, akan tetapi tidak jelasnya jalur masuk dan keluar area lapangan parkir membuat pola sirkulasi menjadi tidak terarah. Hal tersebut akan menyulitkan pengendara kendaraan dalam mencari ruang parkir yang kosong.
Gambar 68 Ilustrasi 3 Dimensi Reserved Parking Selatan (Sumber: PT Sheils Flynn Asia, Digambar oleh: Rizki Ariesetya MG)
Penempatan pintu masuk pada utara bagian lapangan parkir membuat alur sirkulasi menjadi terkonsentrasi di area tersebut. Dengan demikian pengendara yang akan parkir di area ini akan masuk dan keluar lapangan parkir melalui pintu yang sama. Di dalam area parkir pun, pengendara tidak akan kesulitan dalam mencari ruang parkir karena sirkulasi akan membentuk putaran yang mengelilingi area lapangan parkir tersebut.
Hardscape
Sama halnya dengan link utara, penggunaan material perkerasan pada link selatan pun menggunakan material floor hardener. Demikian pula dengan area drop off dan teras kafe Wisma Metropolitan 2 digunakan material andesit sebagai material perkerasan. Hal yang membedakan antara kedua link ini adalah penggunaan elemen kanopi pada link selatan.
Pada tahapan ini PT Jakarta Land memutuskan untuk menyerahkan desain dan struktur kanopi di seluruh area kawasan Kompleks Metropolitan kepada Aedas Pte Ltd sebagai konsultan arsitektur. Hal itu dilakukan untuk menciptakan kesatuan (unity) dan keharmonisan dalam desain struktur yang ada di area
(covered walkway) tetap menjadi bagian dari tugas PT Sheils Flynn Asia.
Aedas Pte Ltd sebagai konsultan arsitektur yang merancang bangunan World Trade Center 2 juga membuat berbagai elemen struktur yang menunjang bangunan World Trade Center 2 tersebut, seperti struktur area masuk kawasan World Trade Center 2 (Gambar 69). Oleh karena itu untuk mempertahankan dan menyelaraskan konsep yang telah dibuat, maka kanopi di area Kompleks Metropolitan diserahkan pula kepada Aedas Pte Ltd.
Gambar 69 Ilustrasi 3 Dimensi Struktur Area Masuk World Trade Center 2 (Sumber: Aedas Pte Ltd)
Jalur pejalan kaki pada link selatan ini dilengkapi dengan kanopi dimulai dari pintu masuk pejalan kaki hingga area drop off World Trade Center 1. Penggunaan elemen kanopi pada link selatan ini dimaksudkan untuk memecahkan dominasi bangunan tinggi yang berada pada zona rute 2, yaitu bangunan World Trade Center 1 dan Bangunan Pusat Energi (Energy House). Hal tersebut yang mendasari tidak digunakannya elemen kanopi pada link utara.
Menurut Booth (1983), bangunan tinggi yang berada di sekeliling manusia dengan rasio perbandingan jarak dan tinggi kurang dari 1 akan menyebabkan kesan tertutup dan tidak nyaman (Gambar 70). Oleh karena itu perlu adanya elemen yang mengurangi dominasi bangunan tinggi tersebut untuk mengurangi kesan tertutup. Selain itu, elemen kanopi juga dapat memberikan nilai visual dan
estetika selain juga dapat menciptakan iklim mikro yang nyaman bagi user yang berjalan di bawahnya (Gambar 71).
Area teras kafe Wisma Metropolitan 2 pada umumnya sama dengan teras kafe Wisma Metropolitan 1 pada zona rute 1 yang telah dibahas sebelumnya (Gambar 72). Perbedaan terletak pada pengaplikasian dalam menghubungkan perbedaan level ketinggian permukaan (ground level). Zona rute 2 dan juga lapangan parkir selatan memiliki level ketinggian permukaan yang lebih rendah dari zona entrance dengan selisih sekitar 1 meter. Dengan demikian diperlukan penerapan yang berbeda dalam hal desain pada area ini.
Gambar 70 Rasio Jarak dan Tinggi Bangunan Kurang dari 1 Memberi Kesan Tertutup dan Tidak Nyaman (Sumber: Booth, 1983)
Gambar 71 Ilustrasi 3 Dimensi Covered Walkway Mengurangi Kesan Tertutup dan Tidak Nyaman dari Bangunan Tinggi di Sekelilingnya
(Sumber: PT Sheils Flynn Asia, Digambar oleh: Rizki Ariesetya MG)
Menurut Booth (1983), terdapat dua cara dalam menghubungkan dua permukaan perkerasan yang memiliki perbedaan level ketinggian, yaitu ramp dan tangga. Dalam hal ini perbedaan level ketinggian tersebut digunakan pula oleh
yang menghubungkan link selatan dan lapangan parkir selatan dengan area entrance (Gambar 73).
Gambar 72 Ilustrasi 3 Dimensi Area Teras Kafe Wisma Metropolitan 2 (Sumber: PT Sheils Flynn Asia, Digambar oleh: Rizki Ariesetya MG)
Gambar 73 Ilustrasi 3 Dimensi Ramp dan Tangga Area Teras Kafe Wisma Metropolitan 2
(Sumber: PT Sheils Flynn Asia, Digambar oleh: Rizki Ariesetya MG)
Sementara itu di dalam area teras kafe dibuat tangga untuk menghubungkan perbedaan level ketinggian tersebut. Tangga tersebut menghubungkan ramp dan area entrance dengan area teras kafe yang memiliki level ketinggian lebih rendah. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penggunaan tangga dalam mengatasi perbedaan level ketinggian lebih efisien
karena memiliki jarak horizontal yang lebih pendek. Dengan demikian untuk menghubungkan perbedaan level permukaan yang digunakan hanya untuk pejalan kaki, penggunaan tangga akan lebih ideal.
Menurut Harris dan Dines (1998), ramp berada pada posisi ideal bila memiliki rasio kemiringan 1:12 atau 8,33 %. Pada kemiringan tersebut, pejalan kaki tidak akan merasa kelelahan dan kendaraan pun tidak mengalami kesulitan dalam menanjaki ramp tersebut. Lebih jauh lagi Booth menjelaskan bahwa ramp membutuhkan jarak horizontal yang lebih panjang untuk mengakomodir perubahan level ketinggian tersebut (Gambar 74).
Gambar 74 Perbandingan Jarak Horizontal Tangga dan Ramp (Sumber: Booth, 1983)
Softscape
Sementara itu dalam penataan vegetasi pada zona rute 2 mengalami perubahan yang cukup signifikan dari tahap desain konsep sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan terjadinya perubahan layout link selatan, sehingga vegetasi pada zona ini yang merupakan vegetasi pengarah link tersebut ikut mengalami perubahan.
Pada area entrance, seperti halnya entrance pada zona lainnya, pada zona rute 2 pun ditempatkan pohon Khaya senegalensis sebagai pohon entrance primer. Dengan penempatan pohon Khaya senegalensis pada semua area entrance, maka tercipta kesatuan dan keharmonisan desain dari pengulangan elemen pohon tersebut (lihat kembali Gambar 67).
ini ditempatkan pohon Alstonia scholaris yang menjadi pohon entrance sekunder (Gambar 75). Akan tetapi terdapat hal yang dapat mengurangi nilai kesatuan yang akan dicapai pada desain ini, yaitu tidak terdapatnya pohon palem yang mendampingi Alstonia scholaris sebagai pohon entrance sekunder. Pada pintu masuk area lapangan parkir utara dan selatan, terdapat kedua pohon tersebut yang digunakan sebagai pohon entrance sekunder dari arah Wisma Metropolitan 1 dan 2. Akan tetapi penerapan desain tersebut tidak dilakukan pada area ini.
Gambar 75 Ilustrasi 3 Dimensi Gerbang Masuk Area Reserved Parking Selatan (Sumber: PT Sheils Flynn Asia, Digambar oleh: Rizki Ariesetya MG)
Salah satu hal yang mendasari tidak diterapkannya desain vegetasi tersebut pada area reserved parking selatan ini adalah keterbatasan area tanam. Pada area ini island yang tersedia sebagai area entrance tidak sebesar pada zona lainnya, sehingga vegetasi yang dipilih hanya pohon Alstonia scholaris saja.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pemilihan palem yang mendampingi Alstonia scholaris sebaiknya adalah palem dengan ukuran yang lebih kecil, seperti Cyrtostachis renda (palem merah). Dengan demikian, maka dapat diterapkan pada island dengan area tanam yang lebih sempit. Hal tersebut dikarenakan jarak penanaman antara Alstonia scholaris dengan Cyrtostachis renda dapat lebih dekat dibandingkan dengan Carpentaria acuminata.
Sementara itu pada area parkir diusulkan pohon Brahea edulis yang berfungsi sebagai pengarah parkir. Pemilihan pohon area parkir pada zona rute 2
ini dibedakan dengan lapangan parkir utara dan selatan yang berupa pohon bertajuk bulat. Hal tersebut dikarenakan area parkir ini merupakan area parkir pesanan (reserved parking), sehingga memiliki tingkat eksklusifitas yang lebih tinggi. Oleh karena itu vegatasi pada area ini juga dipilih pada vegetasi yang memiliki daya tarik lebih tinggi secara gengsi, visual, dan estetika.
Vegetasi di sepanjang link selatan diusulkan pada tanaman yang berfungsi sebagai pengarah, yaitu palem Areca catechu. Menurut Lestari dan Kencana (2008), palem Areca catechu merupakan tanaman yang berfungsi sebagai vegetasi pengarah karena bentuk batangnya yang lurus dan tidak bercabang. Palem ini berada di sepanjang sisi kiri dan kanan link selatan yang berkanopi.
Berbeda halnya dengan vegetasi pengarah di link utara yang berupa pohon bertajuk bulat, pada link selatan vegetasi pengarah berupa palem. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya struktur kanopi pada link utara, sehingga digunakan pohon pengarah yang sekaligus dapat menjadi penaung. Sedangkan pada link selatan ini, sudah terdapat struktur kanopi yang berfungsi sebagai penaung bagi pejalan kaki, sehingga diusulkan pohon palem yang berperan sebagai pengarah. Selain itu palem Areca catechu ini juga memiliki tinggi mencapai 25 meter, sehingga dapat pula menjadi pemecah dominasi bangunan tinggi di sekitarnya.
Beberapa pohon yang memiliki corak dan warna juga ditempatkan di area link selatan ini, seperti Plumeria rubra kuning dan Gardenia carinata. Pohon tersebut berfungsi sebagai feature tree yang memberi nilai visual dan estetika.
Pada area drop off selatan, penataan vegetasi merupakan pengulangan dari vegetasi drop off utara, dengan menggunakan pohon Plumeria rubra merah. Pengulangan vegetasi tersebut bertujuan untuk menciptakan keseimbangan (balance) dalam desain. Menurut Ingels (2004), keseimbangan dengan melakukan pencerminan merupakan contoh keseimbangan yang simetris. Desain dengan pola yang simetris tersebut akan menciptakan kesan formal. Dengan demikian kesan formal yang kuat pada zona entrance utama dapat diteruskan ke area drop off World Trade Center 1 (Gambar 76). Contoh soft material yang digunakan pada zona rute 2 dapat dilihat pada Gambar 77. Ilustrasi penataan vegetasi pada zona rute 2 secara keseluruhan dapat dilihat pada Gambar 78.
Gambar 76 Ilustrasi 3 Dimensi Drop off Selatan
(Sumber: PT Sheils Flynn Asia, Digambar oleh: Rizki Ariesetya MG)
(a) (b) (c)
(d) (e)
Gambar 77 Soft Material Zona Rute 2 (a) Alstonia scholaris
(b) Gardenia carinata (c) Areca catechu
(d) Brahea edulis (e) Plumeria rubra
Gambar 78 Ilustrasi 3 Dimensi Vegetasi Zona Rute 2
(Sumber: PT Sheils Flynn Asia, Digambar oleh: Rizki Ariesetya MG)