BAB IV HASIL PENELITIAN
2. Wujud Bahasa Nonverbal Proksemik
(1) Data tuturan 10
Data tuturan verbal: “Nih. nih pegang ini. Jadi sekarang Captain Amerika.”
Wujud bahasa nonverbal: Ekspresi wajah penutur tersenyum, penutur dan mitra tutur saling berdekatan dengan penutur menyentuh lengan mitra tutur.
Tokoh: Subjek penelitian pada data tuturan (10) yaitu Bopak Castello yang berasal dari Sragen, Jawa Tengah dan Komeng berasal dari Betawi.
Konteks: Data tuturan (10) ini diunggah pada tanggal tanggal 2 Mei 2020 dengan judul “Bopak Bikin Komeng Kesetrum.” Suasana tuturan terjadi ketika bermain peran untuk menghibur para penonton. Konteks ini termaksud konteks situasional karena tempat dan lingkungan di studio tepat untuk melakukan syuting acara. Penutur berperan sebagai tukang servis barang elektronik dan mita tuturnya sebagai pelanggan yang ingin membetulkan barang elektroniknya
(2) Data tuturan 25
Data tuturan verbal: “Sorry bro, sorry bro.”
Wujud bahasa nonverbal: Ekspresi wajah penutur sedih. Penutur dan mitra tutur juga saling memeluk satu sama lain. Tokoh: Subjek penelitian pada data tuturan (25) yaitu Bopak Castello yang berasal dari Sragen, Jawa Tengah dan Andre Taulany yang berasal dari Ambon.
Konteks: Data tuturan (25) ini diunggah pada tanggal tanggal 6 Mei 2020 dengan judul “Masih Gak Kapok Ya Ini Bopak – Ini Ramadhan.” Suasana tuturan terjadi keduanya sedang menghibur penonton. Konteks ini termaksud konteks PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
65
situasional dan konteks budaya. Konteks situasional karena tempat dan lingkungan di studio tepat untuk melakukan syuting acara. Konteks budaya karena keduanya dari latar belakang suku yang berbeda. Penutur Andre Taulany sedang memberikan semangat kepada mitra tutur Bopak karena kekalahannya dalam lomba ‘gombalan.’
(3) Data tuturan 32
Data tuturan verbal: “Dalam hitungan ketiga anda tidak takut pada apapun.”
Wujud bahasa nonverbal: Ekspresi wajah penutur tertawa. Penutur sule mengelus-elus pundak Andre, sedangkan Andre tertidur pada dada Sule.
Tokoh: Subjek penelitian pada data tuturan (32) yaitu Sule yang berasaldari Sunda dan Andre Taulany yang berasal dari Ambon.
Konteks: Data tuturan (32) ini diunggah pada tanggal tanggal 11 Mei 2020 dengan judul “Ngakunya Ahli Hipnotis, Baru Datang Romi Rapia Kena Hipnotis Sule – Ini Ramadhan” Suasana tuturan santai dan menghibur. Konteks ini termaksud konteks situasional dan konteks budaya. Konteks situasional karena tempat dan lingkungan di studio tepat untuk melakukan syuting acara. Konteks budaya karena keduanya dari latar belakang suku yang berbeda. Penutur Sule sedang berpura-pura menghipnotis mitra tutur Andre, yang kemudian tertidur pada dada Sule
(4) Data tuturan 45
Data tuturan verbal: “Ayo kita jalan-jalan keliling pasar ya, pegangan.”
Wujud bahasa nonverbal: Ekspresi wajah penutur tertawa. Posisi mitra tutur memegang pinggang mitra tutur.
Tokoh: Subjek penelitian pada data tuturan (45) bernama Prilly Latuconsina yang berprofesi sebagai aktris dan presenter. Beliau kelahiran di Tanggerang yang memiliki suku Ambon dan Sunda.
Konteks: Data tuturan (45) ini diunggah pada tanggal tanggal 18 Mei 2020 dengan judul “Berperan Jadi Tuyul, Bopak Kena Prank Sule DKK - Ini Ramadan.” Suasana tuturan santai dan menghibur. Penutur Andre dan Prilly sedang bermain peran. Suasana tuturan santai dan menghibur. Konteks ini termaksud konteks situasional dan konteks budaya. Konteks situasional karena tempat dan lingkungan di studio tepat untuk melakukan syuting acara. Konteks budaya karena keduanya dari latar belakang suku yang berbeda. Penutur Andre mengajak Prilly untuk keliling pasarmenggunakan sepeda.
66
(5) Data tuturan 48
Data tuturan verbal: “Sini aku lap muka kamu, kasihan keringetan.”
Wujud bahasa nonverbal: Gerakan tangan penutur ke atas dan menyentuh dahi dengan mengelus-elus mitra tutur. Tokoh: Subjek penelitian pada data tuturan (48) yaitu Nunung yang berasal dari Solo dan Andre Taulany yang berasal dari Ambon.
Konteks: Data tuturan (48) ini diunggah pada tanggal tanggal 20 Mei 2020 dengan judul “Gokil Juga nih Band Baru! - Ini Ramadan.” Suasana tuturan santai dan menghibur. Suasana tuturan santai dan menghibur. Konteks ini termaksud konteks situasional dan konteks budaya. Konteks situasional karena tempat dan lingkungan di studio tepat untuk melakukan syuting acara. Konteks budaya karena keduanya dari latar belakang suku yang berbeda. Pada konteks ini penutur Nunung dan mitra tutur Andre sedang bermain peran menjadi sepasang kekasih.
Data tuturan (10) tuturan ini berasal dari seorang pria bernama Komeng, ia
merupakan pengisi acara sekaligus pelawak pada acara Ini Talk Show. Mitra tutur
bernama Bopak merupakan teman sekaligus pengisi acara juga. Penutur dan mitra
tutur sedang bermain peran. Peran penutur (Komeng) menjadi tukang layanan
listrk, sedangkan mitra tutur (Bopak) menjadi pelanggan yang ingin membetulkan
kipas listrik miliknya. Suasana tuturan yang terjadi santai dan menghibur.
Sehingga, semua tuturan yang terjadi lebih ke arah lelucon. Tuturan yang terjadi
bersamaan dengan bahasa nonverbal dan dapat dikategorikan sebagai nonverbal
proksemik. Teori ini sesuai dengan bentuk bahasa nonverbal yang dikemukakan
oleh Sendjaja (1994). Hal ini dapat terlihat dari jarak komunikasi antara penutur
dan mitra tutur, termasuk lokasi penutur itu berbicara. Tuturan verbal yang
terdengar ialah “nih.. nih pegang ini. Jadi sekarang Captain Amerika,” tuturan ini
diucapkan oleh penutur dengan gerakan nonverbal yaitu mendekatkan badannya
ke arah mitra tutur, dibarengi gerakan tangan penutur yang menyuruh mitra tutur PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
67
memegang kipas sambil menyetuh lengannya. Melalui jarak komunikasi,
termasuk wujud bahasa nonverbal proksemik yang dikemukakan oleh Edwartd T.
Hall dalam (Mulyana, 2005) bahwa proksemik merupakan penggunaan ruang
berhubungan erat dengan kemampuan bergaul dengan sesama manusia dan
penentuan keakraban antara diri dengan orang lain. Melalui teori ini, dapat dilihat
penutur dan mitra tuturnya juga menunjukkan keakraban satu sama lain. Jika
dikaitkan dengan teori yang digunakan oleh Edwartd T. Hall dalam (Mulyana,
2005) data tuturan (10) termasuk ke dalam bahasa nonverbal proksemik bagian
jarak intim dengan jarak 0-18 inci (<0,5m). Hal ini dibuktikan penutur dan mitra
tutur saling bersentuhan dan masih masuk ke dalam bagian jarak 0-18 inci.
Data tuturan (25) tuturan ini berasal dari seorang pria bernama Andre
Taulany, ia merupakan pembawa acara sekaligus pelawak pada acara Ini Talk
Show. Mitra tutur bernama Bopak merupakan teman sekaligus pengisi acara.
Penutur dan mitra tutur sedang bermain adu gombalan. Tujuan dari gombalan ini
untuk merayu dan menghibur bintang tamu. Pada akhirnya penutur (Andre) dipilih
oleh bintang tamu yang menang untuk atas rayuan gombal. Suasana tuturan yang
terjadi santai dan menghibur. Tuturan yang terjadi bersamaan dengan bahasa
nonverbal dan dapat dikategorikan sebagai nonverbal proksemik. Teori ini sesuai
dengan bentuk bahasa nonverbal yang dikemukakan oleh Sendjaja (1994). Hal ini
dapat terlihat dari jarak komunikasi antara penutur dan mitra tutur, termasuk
lokasi penutur itu berbicara. Tuturan verbal yang terdengar ialah “sorry bro, sorry
bro,” tuturan ini diucapkan oleh penutur dengan gerakan nonverbal yaitu
mendekatkan badannya ke arah mitra tutur, dibarengi ekspresi wajah penutur yang PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
68
tersenyum sambil memeluk mitra tutur. Melalui jarak komunikasi, termasuk
wujud bahasa nonverbal proksemik yang dikemukakan oleh Edwartd T. Hall
dalam (Mulyana, 2005) bahwa proksemik merupakan penggunaan ruang
berhubungan erat dengan kemampuan bergaul dengan sesama manusia dan
penentuan keakraban antara diri dengan orang lain. Melalui teori ini, dapat dilihat
penutur dan mitra tuturnya juga menunjukkan keakraban satu sama lain. Jika
dikaitkan dengan teori yang digunakan oleh Edwartd T. Hall dalam (Mulyana,
2005) data tuturan (25) termasuk ke dalam bahasa nonverbal proksemik bagian
jarak intim dengan jarak 0-18 inci (<0,5m). Hal ini dibuktikan penutur dan mitra
tutur saling memeluk dan masih masuk ke dalam bagian jarak 0-18 inci.
Data tuturan (32) tuturan ini berasal dari seorang pria bernama Sule, ia
merupakan pembawa acara. Mitra tutur bernama Andre Taulany merupakan
teman sekaligus pengisi acara. Penutur yang sebagai pembawa acara saat itu
kedatangan mitra tutur (Andre Taulany) yang menyamar menjadi seorang pesulap
dan dapat menghipnotis orang. Mitra tutur dikerjai oleh penutur (Sule) yang
dibalik untuk menghipnotis Andre. Sehingga, suasana tuturan terjadi santai dan
menghibur. Tuturan yang terjadi bersamaan dengan bahasa nonverbal dan dapat
dikategorikan sebagai nonverbal proksemik. Teori ini sesuai dengan bentuk
bahasa nonverbal yang dikemukakan oleh Sendjaja (1994). Hal ini dapat terlihat
dari jarak komunikasi antara penutur dan mitra tutur, termasuk lokasi penutur itu
berbicara. Tuturan verbal yang terdengar ialah “dalam hitungan ketiga anda tidak
takut pada apapun,” tuturan ini diucapkan oleh penutur dengan gerakan
nonverbal yaitu mendekatkan badannya ke arah mitra tutur, dibarengi ekspresi PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
69
wajah penutur yang tertawa dan mitra tutur tertidur pada bagian dada penutur.
Ekspresi wajah penutur juga dapat dikategorikan sebagai wujud bahasa nonverbal.
Melalui jarak komunikasi, termasuk wujud bahasa nonverbal proksemik yang
dikemukakan oleh Edwartd T. Hall dalam (Mulyana, 2005) bahwa proksemik
merupakan penggunaan ruang berhubungan erat dengan kemampuan bergaul
dengan sesama manusia dan penentuan keakraban antara diri dengan orang lain.
Melalui teori ini, dapat dilihat penutur dan mitra tuturnya juga menunjukkan
keakraban satu sama lain. Jika dikaitkan dengan teori yang digunakan oleh
Edwartd T. Hall dalam (Mulyana, 2005) data tuturan (32) termasuk ke dalam
bahasa nonverbal proksemik bagian jarak intim dengan jarak 0-18 inci (<0,5m).
Hal ini dibuktikan penutur dan mitra tutur saling memeluk dan masih masuk ke
dalam bagian jarak 0-18 inci.
Data tuturan (45) tuturan ini berasal dari seorang pria bernama Andre
Taulany. Mitra tutur bernama Prilly Latuconsina merupakan artis dan menjadi
bintang tamu pada segmen ini. Penutur dan mitra tutur sedang bermain peran
menjadi sepasang kekasih yang sedang berjalan-jalan menggunakan sepeda.
Sehingga, suasana tuturan terjadi santai dan menghibur. Tuturan yang terjadi
bersamaan dengan bahasa nonverbal dan dapat dikategorikan sebagai nonverbal
proksemik. Teori ini sesuai dengan bentuk bahasa nonverbal yang dikemukakan
oleh Sendjaja (1994). Hal ini dapat terlihat dari jarak komunikasi antara penutur
dan mitra tutur, termasuk lokasi penutur itu berbicara. Tuturan verbal yang
terdengar ialah “ayo kita jalan-jalan keliling pasar ya, pegangan,” tuturan ini
diucapkan oleh penutur dengan posisi mitra tutur (Prilly) yang sedang diboncengi PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
70
dengan sepeda sambil memegang pinggang penutur dengan erat. Kemudian,
dibarengi dengan eskpresi wajah mitra tutur yang tertawa. Ekspresi wajah ini juga
masuk dalam kategori wujud bahasa nonverbal. Melalui jarak komunikasi,
termasuk wujud bahasa nonverbal proksemik yang dikemukakan oleh Edwartd T.
Hall dalam (Mulyana, 2005) bahwa proksemik merupakan penggunaan ruang
berhubungan erat dengan kemampuan bergaul dengan sesama manusia dan
penentuan keakraban antara diri dengan orang lain. Melalui teori ini, dapat dilihat
penutur dan mitra tuturnya juga menunjukkan keakraban satu sama lain. Jika
dikaitkan dengan teori yang digunakan oleh Edwartd T. Hall dalam (Mulyana,
2005) data tuturan (45) termasuk ke dalam bahasa nonverbal proksemik bagian
jarak intim dengan jarak 0-18 inci (<0,5m). Hal ini dibuktikan penutur dan mitra
tutur yang naik sepeda secara bersamaan dan masih masuk ke dalam bagian jarak
0-18 inci.
Data tuturan (48) tuturan ini berasal dari seorang wanita bernama Nunung.
Penutur merupakan pengisi acara sekaligus pelawak pada acara ini. Penutur dan
mitra tutur (Andre Taulany) sedang bermain peran menjadi sepasang kekasih.
Penutur sedang menghampiri mitra tutur yang sedang latihan bernyanyi bersama
bandnya. Sehingga, suasana tuturan terjadi santai dan menghibur. Tuturan yang
terjadi bersamaan dengan bahasa nonverbal dan dapat dikategorikan sebagai
nonverbal proksemik. Teori ini sesuai dengan bentuk bahasa nonverbal yang
dikemukakan oleh Sendjaja (1994). Hal ini dapat terlihat dari jarak komunikasi
antara penutur dan mitra tutur, termasuk lokasi penutur itu berbicara. Tuturan verbal yang terdengar ialah “Sini aku lap muka kamu, kasihan keringetan,”
71
tuturan ini diucapkan oleh penutur (Nunung) dengan gerakan nonverbal kinesik
tangan yang sedang mengelap keringat mitra tuturnya (Andre) dengan dekat.
Melalui jarak komunikasi, termasuk wujud bahasa nonverbal proksemik didukung
teori yang dikemukakan oleh Edwartd T. Hall dalam (Mulyana, 2005) bahwa
proksemik merupakan penggunaan ruang berhubungan erat dengan kemampuan
bergaul dengan sesama manusia dan penentuan keakraban antara diri dengan
orang lain. Melalui teori ini, dapat dilihat penutur dan mitra tuturnya juga
menunjukkan keakraban satu sama lain. Jika dikaitkan dengan teori yang
digunakan oleh Edwartd T. Hall dalam (Mulyana, 2005) data tuturan (48)
termasuk ke dalam bahasa nonverbal proksemik bagian jarak intim dengan jarak
0-18 inci (<0,5m). Hal ini dibuktikan penutur dan mitra tutur yang naik sepeda
secara bersamaan dan masih masuk ke dalam bagian jarak 0-18 inci.
b Jarak pribadi (personal), 18 inci – 4 kaki
(6) Data tuturan 6
Data tuturan verbal: “Maksudnya truk gandengan itu yang ada.”
Wujud bahasa nonverbal: dua Gerakan tangan penutur menunjukkan sebuah isyarat dan jarak komunikasi antara penutur dan mitra tutur.
Tokoh: Subjek penelitian pada data tuturan (6) bernama dengan suku campuran Sunda dan
Betawi dan Sule berasal dari Sunda.
Konteks: Data tuturan (6) ini diunggah pada tanggal tanggal 1 Mei 2020 dengan judul “Yah Kan, Bopak Komeng Nangis! Ini Ramadhan.” Suasana tuturan santai dan menghibur. Konteks ini termaksud konteks situasional karena tempat dan lingkungan di studio tepat untuk melakukan syuting acara. Pada konteks ini, kedua penutur sedang bermain peran menjadi seorang tukang tambal ban.
(7) Data tuturan 19
Data tuturan verbal: Sule: “Opi lo bawa masalah apalagi sih Pi?
Opi Kumis: “Saya sih gak pernah deh, PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
72
soalnya kuping saya rapi. Gak mungkin saya bawa masalah tuh ga mungkin.” Wujud bahasa nonverbal: Gerakan tangan penutur Opi Kumis menunjuk- nunjuk ke arah depan. Penutur dan mitra tuturnya menunjukkan keakraban masing- masing sehingga jaraknya antara satu setengah kaki.
Tokoh: Subjek penelitian pada data tuturan (19) yaitu Sule yang berasal dari Sunda dan Opi Kumis yang berasal dari Betawi.
Konteks: Data tuturan (19) ini diunggah pada tanggal tanggal 5 Mei 2020 dengan judul “Beliin Mobil Buat Suami Mpok Alpa Diomelin - Ini Ramadan.” Suasana tuturan santai dan menghibur. Konteks ini termaksud konteks situasional dan konteks budaya. Konteks situasional karena tempat dan lingkungan di studio tepat untuk melakukan syuting acara. Konteks budaya karena keduanya dari latar belakang suku yang berbeda. Pada konteks ini, penutur Opi Kumis sedang menjelaskan mengenai kedatangan Haji Bolot karena Haji Bolot muncul pada segmen tersebut dengan atribut dan pakaian seperti ingin memancing ikan.
(8) Data tuturan 31
Data tuturan verbal: “Perkenalkan nama saya Chintia.”
Wujud bahasa nonverbal: Ekspresi wajah kedua penutur tersenyum, jarak saat berbicara tidak terlalu berdekatan, sekitar empat kaki.
Konteks: Data tuturan (31) ini diunggah pada tanggal tanggal 11 Mei 2020 dengan judul “Sule & Seli, Bakat yang Aduhai dan Terngakak – Ini Ramadhan.” Suasana tuturan santai dan menghibur. Konteks ini termaksud konteks situasional karena tempat dan lingkungan di studio tepat untuk melakukan syuting acara. Pada konteks ini, penutur Andre Taulany yang sedang menjadi pembawa acara dan segmen ini meminta mitra tuturnya untuk memperkenalkan diri.
(9) Data tuturan 40
Data tuturan verbal: “Hallo, aku mesti pangginya Nata, Wil, atau Lona?”
Wujud bahasa nonverbal: Gerakan tangan penutur dilipatkan ke arah depan dada. Jarak antara penutur dan mitra tutur sekitar empat kaki.
Tokoh: Subjek penelitian pada data tuturan (40) yaitu Sule yang berasal dari Sunda.
Konteks: Data tuturan (40) ini diunggah pada tanggal tanggal 17 Mei 2020 dengan judul “Ada Gajah Masuk Studio, Rusuh Lagi - Ini Ramadan.” Suasana tuturan santai dan menghibur. Konteks ini termaksud konteks situasional karena tempat dan lingkungan di studio tepat untuk melakukan syuting acara. Pada
73
konteks ini, penutur Sule sebagai pembawa acara sedang menyapa bintang tamu disegmen tersebut.
Data tuturan (6) ini berasal dari Sule yang sedang bermain peran menjadi
tukang tambal ban. Penutur sedang bermain peran bersama mitra tuturnya yaitu
Komeng. Suasana tuturan terjadi santai dan menghibur. Tuturan yang terjadi
bersamaan dengan bahasa nonverbal dan dapat dikategorikan sebagai nonverbal
proksemik. Teori ini sesuai dengan bentuk bahasa nonverbal yang dikemukakan
oleh Sendjaja (1994). Hal ini dapat terlihat dari jarak komunikasi antara penutur
dan mitra tutur, termasuk lokasi penutur itu berbicara. Tuturan verbal yang terdengar ialah “maksudnya truk gandengan itu yang ada,” tuturan ini diucapkan
oleh penutur Sule bersamaan dengan gerakan tangan yang menunjukkan isyarat
sebuah truk gandeng. Dari gerakan tangan tersebut dapat dikategorikan sebagai
wujud bahasa nonverbal. Melalui jarak komunikasi, termasuk wujud bahasa
nonverbal proksemik didukung oleh teori yang dikemukakan oleh Edwartd T. Hall
dalam (Mulyana, 2005) bahwa proksemik merupakan penggunaan ruang
berhubungan erat dengan kemampuan bergaul dengan sesama manusia dan
penentuan keakraban antara diri dengan orang lain. Melalui teori ini, dapat dilihat
penutur dan mitra tuturnya juga menunjukkan keakraban satu sama lain. Jika
dikaitkan dengan teori yang digunakan oleh Edwartd T. Hall dalam (Mulyana,
2005) data tuturan (6) termasuk ke dalam bahasa nonverbal proksemik bagian
jarak personal dengan jarak 18 inci – 4 kaki. Hal ini dibuktikan penutur dan mitra
tutur yang sedang berbicara dengan jarak 18 inci – 4 kaki.
Data tuturan (19) ini berasal dari Opi Kumis yang sedang bermain peran
menjadi seorang hansip yang mendampingi Pak RT (Haji Bolot). Opi Kumis PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
74
sedang memberikan penjelasan kepada Sule (mitra tutur) tentang kesalahan atribut
pakaian Haji Bolot yang tidak mendengarnya. Suasana tuturan terjadi santai dan
menghibur. Tuturan yang terjadi bersamaan dengan bahasa nonverbal dan dapat
dikategorikan sebagai nonverbal proksemik. Teori ini sesuai dengan bentuk
bahasa nonverbal yang dikemukakan oleh Sendjaja (1994). Hal ini dapat terlihat
dari jarak komunikasi antara penutur dan mitra tutur, termasuk lokasi penutur itu
berbicara. Tuturan verbal yang terdengar ialah “saya sih gak pernah deh, soalnya
kuping saya rapi. Gak mungkin saya bawa masalah tuh ga mungkin,” tuturan ini
diucapkan oleh penutur Opi Kumis bersamaan dengan gerakan tangan yang
menunjuk-nunjuk ke arah bawah. Dari gerakan tangan tersebut dapat dikategorikan
sebagai wujud bahasa nonverbal. Melalui jarak komunikasi, termasuk wujud
bahasa nonverbal proksemik didukung oleh teori yang dikemukakan oleh Edwartd
T. Hall dalam (Mulyana, 2005) bahwa proksemik merupakan penggunaan ruang
berhubungan erat dengan kemampuan bergaul dengan sesama manusia dan
penentuan keakraban antara diri dengan orang lain. Melalui teori ini, dapat dilihat
penutur dan mitra tuturnya juga menunjukkan keakraban satu sama lain. Jika
dikaitkan dengan teori yang digunakan oleh Edwartd T. Hall dalam (Mulyana,
2005) data tuturan (19) termasuk ke dalam bahasa nonverbal proksemik bagian
jarak personal dengan jarak 18 inci – 4 kaki. Hal ini dibuktikan penutur dan mitra
tutur yang sedang berbicara dengan jarak 18 inci – 4 kaki.
Data tuturan (31) ini berasal dari seorang wanita yang datang sebagai
bintang tamu pada acara Ini Talk Show. Penutur sedang memperkenalkan dirinya
kepada mitra tutur. Suasana tuturan terjadi santai dan menghibur. Tuturan yang PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
75
terjadi bersamaan dengan bahasa nonverbal dan dapat dikategorikan sebagai
nonverbal proksemik. Teori ini sesuai dengan bentuk bahasa nonverbal yang
dikemukakan oleh Sendjaja (1994). Hal ini dapat terlihat dari jarak komunikasi
antara penutur dan mitra tutur, termasuk lokasi penutur itu berbicara. Tuturan verbal yang terdengar ialah “perkenalkan nama saya Chintia,” tuturan ini
diucapkan oleh penutur Chintia bersamaan dengan ekspresi wajah yang
tersenyum. Dari ekspresi wajah tersebut dapat dikategorikan sebagai wujud
bahasa nonverbal.
Melalui jarak komunikasi, termasuk wujud bahasa nonverbal proksemik
didukung oleh teori yang dikemukakan oleh Edwartd T. Hall dalam (Mulyana,
2005) bahwa proksemik merupakan penggunaan ruang berhubungan erat dengan
kemampuan bergaul dengan sesama manusia dan penentuan keakraban antara diri
dengan orang lain. Melalui teori ini, dapat dilihat penutur dan mitra tuturnya mulai
menunjukkan keakraban satu sama lain. Jika dikaitkan dengan teori yang
digunakan oleh Edwartd T. Hall dalam (Mulyana, 2005) data tuturan (31)
termasuk dalam bahasa nonverbal proksemik bagian jarak personal dengan jarak
18 inci – 4 kaki. Hal ini dibuktikan penutur dan mitra tutur yang sedang berbicara
dengan jarak 18 inci – 4 kaki.
Data tuturan (40) ini berasal dari Sule sebagai pembawa acara yang sedang
mewawancarai salah satu bintang tamunya untuk memperkenalkan diri. Suasana
tuturan terjadi santai dan menghibur. Tuturan yang terjadi bersamaan dengan
bahasa nonverbal dan dapat dikategorikan sebagai nonverbal proksemik. Teori ini
sesuai dengan bentuk bahasa nonverbal yang dikemukakan oleh Sendjaja (1994). PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
76
Hal ini dapat terlihat dari jarak komunikasi antara penutur dan mitra tutur,
termasuk lokasi penutur itu berbicara. Tuturan verbal yang terdengar ialah “hallo,
aku mesti pangginya Nata, Wil, atau Lona?” Tuturan ini diucapkan oleh penutur
Sule bersamaan dengan kinesik gerakan tangannya yang dilipatkan ke arah depan
dada. Dari kinesik gerakan tangan tersebut dapat dikategorikan sebagai wujud