HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Data
4.3.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik
Tuturan terlihat dari santun tidaknya akan tampak dari wujud tuturannya itu sendiri. Wujud ketidaksantunan suatu tuturan dapat dilihat dari tuturan lisan yang dianalisis menggunakan segi linguistik dan pragamatik. Wujud ketidaksantunan linguistik adalah hasil transkrip dari tuturan lisan yang tidak santun, sedangkan wujud pragmatik adalah keterkaitan antara cara penyampaian tuturan yang tidak santun oleh penutur.
Peneliti menemukan 45 tuturan tidak santun dari ranah agama Budha yang terdapat di Kotamadya Yogyakarta. Tuturan lisan yang diperoleh merupakan hasil transkrip dan hal tersebut yang disebut dengan wujud linguistik. Tuturan lisan yang diperoleh tersebut diklasifikasi dalam lima kategori ketidaksantunan, yaitu melecehkan muka, menghilangkan muka, melanggar norma, menimbulkan konflik, dan mengancam muka sepihak/ kesembroan yang disengaja.
Berikut merupakan wujud ketidaksantunan ditinjau dari aspek pragmatik. Setiap kategori ketidaksantunan memiliki wujud yang berbeda dengan satu sama lain sebagai ciri khas dari masing-masing kategori ketidaksantunan tersebut.
Kategori melecehkan muka terdapat 24 tuturan yang tidak santun. Kategori melecehkan muka merupakan tuturan yang disengaja sehingga membuat mitra tutur merasa tersinggung, kecewa dan malu. Wujud ketidaksantunan pragmatik diperlihatkan dengan posisi penutur mengenai
posisinya dan mitra tutur. Tuturan tersebut pada umumnya disampaikan dengan cara yang sinis, sembrono maupun ketus.
Cuplikan tuturan A1
P : “HPmu kuwi muk geletakno! Lagian gek ngrungoke ceramah seko Bhikhu”
MT : “Sek to, buk penting iki”.
P : “Oalah,ngandani kowe kie koyo ngandani watu”
(Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di Vihara Budha Prabha saat khotbah berlangsung. Penutur perempuan, Ibu berusia 46 tahun. MT perempuan, anak dari MT, berusia 18 tahun. MT sedang asyik menggunakan ponselnya ketika banyak orang sedang mendengarkan khotbah. Penutur merasa kesal dan malu dengan tindakan MT karena tindakanya menarik perhatian orang lain)
Cuplikan tuturan A4
P: “Darimana kamu,bro?”
MT: “Dari Vihara, dong! Biasa absen dulu”
P: “Halah biasane ora taune mangkat wae, dongamu kuwi paling gak
bakal mandi!”
(Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha setelah acara kebaktian selesai. Penutur adalah seorang umat, laki-laki berusia 22 tahun. MT adalah sesama umat berusia 23 tahun. MT baru akan berjalan pulang setelah usai kebaktian di Vihara. Penutur menyapa kepada MT. Penutur membalas sapaan tetapi menggunakan ejekan)
Tuturan A1 dan A4 dapat dijadikan contoh dari wujud pragmatik kategori ketidaksantunan melecehkan muka. Tuturan A1 menunjukan bahwa penutur menyampaikan dengan sinis dan ketus pada mitra tutur. Penutur juga berbicara dengan anaknya. Penutur juga membuat mitra tutur merasa malu karena disampaikan di depan banyak orang. Tuturan tersebut menyinggung mitra tutur.
Untuk tuturan A4 tidak jauh berbeda dengan tuturan A1. Wujud pragmatik dari tuturan ini juga disampaikan dengan cara yang sinis atau ketus.
Penutur merasa iri dengan mitra tutur yang akan berangkat sembayang. Penutur juga mengungkapkan hal yang tidak pantas dalam beribadah. Ini dapat mengakibatkan mitra tutur merasa jengkel dan kecewa atas tuturan mitra tutur.
Kategori ketidaksantunan selanjutnya adalah kategori menghilangkan muka. Kategori menghilangkan muka mengolongkan tuturan yang disengaja dan membuat mitra tutur merasa tersinggung sampai mitra tutur merasa kehilangan muka. Kategori ini terdapat 5 tuturan yang tidak santun. Tuturan tidak santun yang disengaja ditujukan kepada mitra tutur sangat menyinggung perasaannya. Mitra tutur akan merasa tersinggung, bahkan sangat malu akan tuturan yang disampaikan kepadanya. Wujud pragmatik dalam kategori ini dapat dicontohkan B2 dan B3.
Cuplikan tuturan B2
MT: “Wis jan, aku mumet karo tingkahe bojoku dewe, pak. Muk dikon ning Vihara sedelo wae angel banget”
P: “Lha piye toe, pak?
MT : Arep tak jeki sembayang wae alasan akeh banget, puyeng sirahku... P: Mbok jajal dikelitiki barang, nek si gelem mengko, hahaha
(Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di teras Vihara Vidyaloka saat pagi hari, ketika kebaktian akan dimulai. Penutur adalah seorang umat, laki-laki berusia 46 tahun. MT laki-laki, berusia 28 tahun adalah sesama umat. MT mengutarakan cara agar dalam bermeditasi lebih khusyuk pada penutur. MT masih merasa belum fokus benar dalam bermeditasi. Penutur merespon pertanyaan MT dengan menuduh MT yang kurang berkonsentrasi dalam bermeditasi. Penutur juga beranggapan bahwa MT masih memikirkan hal-hal lain yang mengganggu konsentrasi dalam bermeditasi)
Cuplikan tuturan B3
MT: “Sugeng enjang, Bhante”.
P: “Weh kowe, gek wae ngetok kowe”. MT: ”Nggih Banthe, wingi sek wonten kasus” P: ”Kasus opo maneh?”
P : “ Mbasan mlebu bui ping 3, kowe gek ngaku nek duwe Budha,
neng endi wae kowe wingi? Paling wingi-wingi kewan telu kuwi gek teko neng nggonmu kabeh”
MT: “Nggih paling niki,”
*Kewan telu (tiga hewan): symbol dari ajaran pada agama Budha, yakni babi yang berarti bodoh, ayam yang berarti nafsu, dan ular yang berarti kemungkaran/ kejahatan.
(Konteks tuturan : Tuturan terjadi pada waktu acara kebaktian akan belangsung di Vihara Vidyaloka. Penutur merupakan seorang pemuka umat yang berusia 67 tahun sedangkan, MT adalah seorang umat dan narapidana berusia 48 tahun. Penutur menyampaikan pada MT mengenai keberadaannya (tidak pernah kelihatan pada waktu kebaktian). MT menyampaikan alasannya. Penutur memberitahu dengan intonasi yang menyindir MT)
Wujud pragmatik dari tuturan B2, yakni penutur menyampaikan candaan tapi dengan kesan mengejek. Tuturan membuat malu mitra tutur karena disampaikan di banyak orang. Penutur menyampaikan dengan cara yang sinis. Berbeda dengan tuturan B3, penutur menyampaikan di depan banyak orang dan membuat malu mitra tutur. Tuturan secara tidak langsung merendahkan status mitra tutur di depan banyak orang. Tuturan akan menyinggung perasaan mitra tutur.
Kategori ketidaksantunan melanggar norma terdapat empat tuturan yang terdapat dalam ranah ini. Kategori melanggar norma merupakan kategori tuturan yang secara normatif dianggap negatif, karena dianggap melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat (tertentu). Tuturan tersebut diwujudkan dengan cara bertutur secara ketus dan sinis sehingga membuat mitra tutur merasa malu dan merasa direndahkan. Penutur yang merasa tidak bersalah meski telah melanggar kesepakatan yang ada.
Contoh tuturan yang terdapat pada kategori ini adalah tuturan C2 dan C3.
Cuplikan tuturan C2
MT: (datang terlambat pada kebaktian).
“Nyuwun ngapunten, Pak, kulo telat!”
P: Ngopo kowe telat? Udan po? Telat nemen maneh!
(Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di Vihara Vidyaloka pada jam 2 siang. Ketika kebaktian akan dimulai. Penutur laki-laki, pemuka agama berusia 58 tahun. MT laki-laki, seorang pengurus vihara berusia 27 tahun. Terdapat aturan yang telah disepakati bersama mengenai waktu persiapan suatu kebaktian. MT melanggar aturan mengenai waktu persiapan kebaktian. Penutur menanyakan alasan keterlambatandengan sangat kesal)
Cuplikan tuturan C3
MT: Arep menyang kebaktian kok males, bali wae yo?
P: “Wo babine sing nyedul, wong arep ngibadah kok sakpenake wudel dewe”
*Dalam ajaran Budha, babi adalah simbol dari sifat dasar manusia yaitu bodoh
(Konteks tuturan : Tuturan terjadi saat pagi hari akan diadakan kebaktian sembayangan di Vihara. Penutur laki-laki, bapak berusia 49 tahun. MT laki-laki, anak dari penutur, berusia 21 tahun. Penutur dan MT telah sepakat tentang hari dan waktu diadakan kebaktian. Penutur melanggar aturan tersebut, yakni asik menonton televisi dan secara sengaja mengabaikan ibadahnya. Penutur menyuruh MT untuk tidak malas berangkat kebaktian)
Tuturan C2 memperlihatkan kekecewaan penutur pada mitra tutur mengenai keterlambatan mitra tutur dalam mengikuti kebaktian yang telah diadakan. Mitra tutur tidak mengindahkan kesepakatan yang ada yaitu untuk tidak terlambat dalam mengikuti kebaktian. Dalam kondisi ini, mitra tutur sudah meminta maaf mengenai keterlambatannya dalam mengikuti kebaktian, tetapi penutur menanggapi mitra tutur dengan cara yang ketus dan menanyakan
alasan mitra tutur sering terlambat dalam mengikuti kebaktian. Hal ini juga membuat mitra tutur merasa malu.
Hal ini juga tampak pada tuturan C3. Wujud ketidaksantunan yang diperlihatkan adalah tuturan disampaikan dengan cara yang ketus. Tuturan ini juga membuat mitra tutur merasa malu, karena dalam mengikuti kebaktian dalam agama sifatnya adalah wajib. Penutur juga menuduh mitra tutur , sehingga mitra tutur merasa malu dan direndahkan.
Kategori ketidaksantunan menimbulkan konflik merupakan kategori di mana tuturan yang disengaja dan dilakukan secara sembrono hingga tuturan tersebut menimbulkan konflik. Wujud ketidaksantunan yang terdapat dalam kategori ini adalah penutur yang berbicara pada orang yang lebih tua. Tuturan disampaikan dengan cara ketus bahkan dengan nada yang keras. Kategori ini terdapat 2 tuturan yang tidak santun. Tuturan itu yakni tuturan D1 dan D2.
Cuplikan tuturan D1
P: “Kalo ada Puja Bhakti, alangkah baiknya dateng to, mas!”
MT: “Iya. Iya besok wae aku masih banyak urusan” (sambil bermuka
masam)
P: “Aku mung ngandani sing bener, ngono wae serik...”
(Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha ketika sembayangan selesai dilaksanakan. Penutur perempuan, istri berusia 27 tahun. MT laki-laki, berusia 30 suami dari penutur. MT menjemput penutur ketika sembayangan selesai. MT melanggar aturan atau janji yang telah disepakati. Penutur dan MT telah sepakat bahwa penutur dan mitra tutur untuk berangkat Puja Bhakti bersama tapi MT ingkar janji. MT mengetahui bahwa penutur telah melanggar aturannya untuk rajin berangkat Puja Bhakti)
Cuplikan tuturan D2
MT: “Kabeh kuwi kan mengko entuk karma seko tindakane utowo perilakune dewe-dewe, sopo nandur becik mesti enthuk becik”
P: “Gene, kowe iso ngandani awakmu dewe, renungno dewe omonganmu kuwi”
MT: “La, aku kie ngandani kowe gek, malah muk balikno ning aku maneh”
(Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha ketika sembayangan selesai dilaksanakan. Penutur perempuan, istri berusia 27 tahun. MT laki-laki, berusia 30 suami dari penutur. Penutur menjemput MT ketika sembayangan selesai. MT tidak berangkat beribadah dan telah diperingatkan oleh penutur. Penutur mengetahui bahwa MT telah melanggar aturannya. Penutur juga menasehati MT agar hal yang dikatakan oleh MT, harus direnungkan terlebih dahulu oleh MT. Peringatan penutur membuat MT terusik dan menasehati balik penutur) Tuturan D1 wujud ketidaksantunan yang tampak adalah tuturan disampaikan pada lawan tutur yang lebih tua dari penutur. Penutur juga mempergunakan cara ketus dan keras dalam menyatakan tuturannya. Penutur memperingatkan mitra tutur dengan sengaja. Hal ini menyebabkan mitra tutur merasa jengkel atau marah.
Tuturan D2 juga tidak jauh berbeda dengan tuturan D1. Wujud ketidaksantunan tuturan D2 yang diperlihatkan adalah penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Tuturan disampaikan dengan cara ketus. Penutur memperingatkan mitra tutur dengan sengaja. Penutur berbicara dengan suaminya sendiri. Penutur terkesan tidak hormat dengan mitra tutur
Kategori yang terakhir adalah ketidaksantunan mengancam muka sepihak. Tuturan yang ditemukan adalah 10 tuturan. Wujud ketidaksantunan pragmatik ini mengarah pada sikap penutur yang berbicara tanpa memperhatikan keadaan mitra tutur ketika komunikasi sedang dilakukan. Dell Hymes (1978) menyatakan bahwa ketika seorang berkomunikasi hendaknya memerhatikan indikator kesantunan yang diakronimkan dengan istilah SPEAKING. Setting and scene serta paricipants merupakan dua hal yang perlu
diperhatikan pada kategori ketidaksantunan ini. Setting and secene mengacu pada latar terjadinya komunikasi, sedangkan participant mengacu pada orang yang terlibat dalam komunikasi (Pranowo, 2009:100–101). Kategori ini, penutur tidak disengaja sehingga menyinggung mitra tutur, tetapi penutur tidak menyadari bahwa tuturannya sudah menyinggung mitra tutur. Contoh dari tuturan ini ada pada tuturan E1 dan E6.
Cuplikan tuturan E1
MT (sedang berkomunkasi pada penutur mengosipkan seseorang)
P : “Nuwun sewu, Mbak nek omong mbek saya gak opo, tapi nek
karo koncomu utowo wong liyo kok koyo kurang pas lan kuwi urung
mesti bener”
MT (bermuka malu)
(Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Vidyaloka. Penutur laki-laki, pemuka agama 67 tahun, MT perempuan berusia 36 tahun. MT sedang membahas mengenai sesorang yang menjadi perhatiannya. Penutur merasa bergunjing adalah tindakan tidak sopan, maka penutur bermaksud untuk memperingatkan MT)
Cuplikan tuturan E6
MT1: Ojo ngasi omonganmu gawe nyerik lan ngerendahke wong liyo, iku biso dadi petenge bebrayan
P: Kuwi Pak, cakno ngendikane Banthe, nek karo wong liyo sing ngendikanan sing laras tur ngati-ati
MT2: La, malah sing keno aku.
(Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi saat ceramah agama dilakukan di Vihara Buddha Prabha. Penutur perempuan, umat usia 46 tahun, MT1 laki-laki, seorang pemuka agama usia 58 tahun, MT2 laki-laki, umat usia 50 tahun suami dari penutur. Penutur menyuruh MT2 untuk memahami ceramah yang diberikan MT1. MT kebingungan karena merasa dipersalahkan oleh penutur)
Wujud ketidaksantunan yang tampak pada tuturan E1 diutarakan dengan cara ketus walaupun bersifat untuk menasehati mitra tutur. Penutur tidak bermaksud menyinggung perasaan mitra tutur namun pernyataan yang