• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS AKHIR SEMESTER ETIKA KONSELING ONL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "TUGAS AKHIR SEMESTER ETIKA KONSELING ONL"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR SEMESTER ETIKA KONSELING ONLINE

Untuk memenuhi tugas

mata kuliah Pengembangan Profesi Konselor

DosenPengampu Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd., Kons.

Oleh :

CHRISMASTUTI 0105513029

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING

FAKULTAS PROGRAM PASCA SARJANA

(2)

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Konseling merupakan sarana bagi klien untuk membantu menyelesaikan memecahkan masalah serta mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Dalam perkembangannya konseling selalu menyelarasakan dengan perkembangan zaman terutama dengan perkembangan tekhnologi, dimana pada awalnya konseling hanya dilakukan dengan face to face antara konselor dengan klien namun pada saat ini konseling dapat dilaksanakan dan dilakukan melalui berbagai macam media yang memungkinkan untuk dilaksanakannya konseling jarak jauh.

Perkembangan yang pesat dan penggunaan internet untuk menghantarkan informasi dan komunikasi telah menghasilkan bentuk-bentuk konseling baru, salah satunya adalah konseling jarak jauh yang dibantu teknologi, yang dapat diperbaharui dengan mudah dalam kaitannya dengan evolusi teknologi dan praktiknya. Dengan kemajuan tekhnologi tersebut diharapkan dapat mempermudah akses Bimbingan Konseling dengan tanpa merubah konteks dari bimbingan dan konseling itu sendiri. Alat – alat atau media dalam era globalisasi ini sangat beragam dan mutakhir seperti telepon seluler, internet, komputer bahkan media sosial yang sekarang semakin banyak berkembang dan mudah diakses melalui smartphones, semua media tersebut akan mempermudah akses antara konselor dengan klien dalam proses pemberian bantuan.

Dengan semakin berkembangnya tekhnologi tersebut diharapkan seorang konselor dapat menguasai ketrampilan dalam pelayanan konseling online karena jika tidak maka kondisi bimbingan konseling akan kian terpuruk karena konselor dianggap gagap tekhnologi dan tidak berkembang atau ketinggalan zaman. Oleh karena itu konselor harus mampu untuk mengikuti serta terlatih dalam penggunaan dan penerapan konseling melalui media tekhnologi.

(3)

makalah ini akan dibahas tentang isu-isu etika dalam konseling online, kelebihan dan kelemahan dari pelaksanaan layanan konseling online.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa isu – isu etika dalam konseling online ?

2. Apa saja kelemahan dan kelebihan dari layanan konseling online ?

C. TUJUAN MAKALAH

1. Mengetahui isu – isu etika dalam konseling online

2. Mengetahui kelemahan dan kelebihan dari layanan konseling online

II. PEMBAHASAN

(4)

Dalam Glading ( 2012 : 66 ) Menurut Kitchener Etik meliputi “membuat keputusan yang bersifat moral tentang manusia dan interaksi mereka dalam masyarakat”. Etik secara umum didefinisikan sebagai ilmu filsafat mengenai tingkah laku manusia dan pengambilan keputusan moral ( Van Hoose & Kottler, 1985,p.3). Etik bersifat normatif dan berfokus pada prinsip – prinsip dan standard yang mengatur hubungan antara individu seperti hubungan antara konselor dan klien.

The Oxford University ( Hornby et al.,1971 ) mendefinisikan “Etic” as “science of morals, rules of conduct, “ethical” as “of morals or moral question” yang berarti bahwa Etik adalah sama dengan ilmu moral dan aturan prilaku. Dengan demikian etika berkaitan dengan prinsip-prinsip perilaku yang tepat , benar, dan adil di antara manusia. ( Ron Kraus.,2010,p.89 ) .

Untuk menghadapi masalah etik, konselor mengembangkan kode etik profesional dan standard tingkah laku berdasarkan nilai – nilai yang telah disetujui bersama ( Hansen et.al, 1994,p.362 dalam Gladding, 2012 : 68 ). Jadi seorang konselor yang profesional harus betul – betul memahami dan dapat mengaplikasikan layanan konselingnya sesuai dengan kode etik yang sudah disusun oleh sebuah organisasi profesional, di Indonesia kode etik untuk konselor disusun oleh ABKIN.

Menurut Herlihy dan Corey ( 2006a,dalam Corey,Corey & Callanan, 2011 ,p. 8 ) menyatakan bahwa kode etik memenuhi tiga tujuan :

(5)

practices, the questions raised help to clarify their positions on dilemmas that do not have simple or absolute answers”.

Jadi dalam kode etik harus memenuhi tiga tujuan yaitu : 1. Mendidik profesional tentang berprilaku etis

Membaca dan merenungkan standar dapat membantu para praktisi memperluas kesadaran mereka dan menjelaskan nilai-nilai mereka dalam menghadapi tantangan pekerjaan mereka. 2. Standar etika menyediakan mekanisme untuk akuntabilitas

profesional

Praktisi wajib tidak hanya untuk memonitor perilaku mereka sendiri , tetapi juga untuk mendorong perilaku etis di rekan-rekan mereka . Salah satu cara terbaik bagi para praktisi untuk menjaga kesejahteraan klien atau siswa mereka dan untuk melindungi diri dari malpraktek adalah untuk berlatih dalam semangat kode etik.

3. Kode etik berfungsi sebagai katalis untuk meningkatkan praktek praktisi harus menafsirkan dan menerapkan kode dalam praktek mereka sendiri , pertanyaan - pertanyaan yang diajukan dapat membantu untuk memperjelas posisi mereka pada suatu dilema permasalahan yang tidak memiliki jawaban sederhana atau terhadap integritas sebuah profesi dan melindungi klien terhadap konselor yang kurang kompeten ( Vacc, Juhnke & Nielsen, 2011, dalam Gladding, 2011 : 69 ). Jadi bukan saja konselor yang memiliki pedoman untuk melakukan pelayanannya akan tetapi klien juga dapat menggunakan kode etik tersebut sebagai standard dan petunjuk dalam mengevaluasi konselornya apabila melakukan tretment dan layanan yang kurang jelas.

(6)

Penggunaan komputer dan tekhnologi dalam konseling adalah bidang lain yang berpotensi menimbulkan permasalahan etik. Dengan lebih dari 300 website yang sekarang dijalankan oleh konselor individu ( Ainsworth, 2002 ), kemungkinan terjadi pelanggaran akan informasi klien ketika komputer digunakan untuk mentransmisikan informasi antar konselor profesional. ( Glading,2012 : 79 ).

Courtland Lee, mantan presiden ACA telah menekankan, bahwa konseling melalui internet, harus dilakukan dengan cara yang etis sebagaimana yang dilakukan dalam bentuk layanan konseling lainnya (Lee: 1998 dalam Shaw & Shaw: 2006). Dengan semakin menjamurnya tekhnologi internet di masyarakat saat ini sangat memungkinkan untuk dilaksanakan konseling secara online, konseling online menunjukkan manfaat tersebut sebagai ketersediaan layanan kepada klien yang (a) berada dalam geografis daerah terpencil , (b) secara fisik dinonaktifkan atau serius sakit dan tidak bisa meninggalkan rumah ( Sussman , 1998), (c) akan biasanya tidak mencari konseling tradisional ( Alleman , 2002;Grohol , 2001; Morrissey , 1997) , dan ( d ) akan merasa lebih nyaman mengekspresikan diri dalam format tertulis ( Grohol , 1999b , 2001; ISMHO , 2000). (Shaw & Shaw: 2006).

(7)

profesional harus mengembangkan standar untuk layanan ini. ( Corey,Corey & & Callanan, 2011,p.180 ).

Konselor yang melakukan layanan konseling secara online dibidang konseling diantaranya adalah ACA ( 2005 A.12.a ) tentang Penerapan Tekhnologi, Kode Etik dari American Mental Health Counselor Association (AMHCA, 2000) meliputi pedoman untuk konseling online internet bahwa isu-isu yang berkaitan dengan kerahasiaan alamat, klien dan identifikasi konselor, pembebasan klien, membangun hubungan konseling online, kompetensi, dan pertimbangan hukum. APA (2002) menyatakan bahwa etika psikolog yang menawarkan layanan melalui transmisi elektronik menginformasikan klien / pasien dari risiko terhadap privasi dan batas-batas kerahasiaan. Sedangkan di Indonesia Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia belum mengeluarkan kebijakan tentang standarisasi mengenai layanan konseling melalui internet secara khusus bagi layanan bimbingan konseling di Indonesia.

(8)

penggunaan bantuan teknologi dalam layanan, (3) ketepatan standard – standard dalam praktik ini yang bisa di katagorikan yaitu mengenai (a) Hubungan dalam Konseling Internet, (b) Kerahasiaan dalam Konseling Internet, (c) Aspek Hukum, Lisensi dan Sertifikasi. (Gibson & Mitchell, 2011 : 807 – 809). Penjelasan untuk masing – masing aspek tersebut adalah sebagai berikut : dengan pelayanan konseling melalui internet yang diberikan oleh konselor tersebut. Keadaan, ketentuan dan persyaratan yang harus diinformasikan kepada konseli. ( Nabilah, 2010 ).

(9)

identitas yang lebih jelas lagi tentang klien juga sangat dibutuhkan untuk menjalin hubungan konseling online untuk menghindari adanya pemalsuan data dan informasi dari kliennya serta dimungkinkan adanya situasi darurat yang dimungkinkan terjadi pada saat dilakukannya sesi konseling.

b. Kerahasiaan dalam Konseling Internet

Profesional kesehatan mental memiliki tanggungjawab etis untuk melindungi klien dari pengungkapan yang tidak sah dari informasi yang diberikan dalam hubungan terapeutik ( Corey et al . , 1998) .

Kerahasiaan dan batas-batasnya adalah isu-isu penting untuk dipahami bagi orang yang mempertimbangkan berbagai tindakan bantuan . Secara umum, terapis profesional harus ketat menjaga kerahasiaan. Bahkan, terapis diwajibkan oleh hukum, profesional peraturan, dan kode etik untuk menjaga kerahasiaan klien mereka ( Krauss, 2010 : 98 ).

Konselor perlu untuk menjelaskan pada klien tentang keterbatasan penyimpanan data tentang komunikasi dan informasi yang dilakukan melalui online internet sehingga diperlukan metode – metode penyandian dan hal tersebut perlu untuk disampaikan dan diinformasikan kepada klien, mempertimbangkan banyaknya “hacker” yang dapat menembus situs yang aman dan bahkan yang terenskripsi sekalipun dengan menggunakan kode – kode. Oleh karena itu konselor online tidak bisa benar-benar menjamin kerahasiaan klien melalui Internet ( Rahav , 1994 dalam Shaw & Shaw, 2006) , dan mereka harus menyatakan ini di situs Web mereka.

c. Hukum, Lisensi dan Sertifikasi dalam konseling online

(10)

1. Primer kredensial menunjukkan gelar yang diperoleh dari

Tidak terdapatnya batasan geografi memberi kesempatan konseli dan konselor yang berasal dari berbagai wilayah, bahkan negara terlibat dalam proses terapeutik. Jika dilihat dari sisi hukum, tentu saja hal ini akan mengundang permasalahan – permasalahan terkait dengan wilayah praktek dan lisensi konselor, untuk itulah dalam hal ini terdapat etika layanan konseling melalui internet diatur mengenai aspek hukum, lisensi dan sertifikasi bagi konselor yang memberikan layanannya secara online melalui internet. ( Nabilah,2010 ).

(11)

(2000; Corey,Corey & & Callanan, 2011,p.185) menyatakan bahwa masalah yang paling mendesak tentang perilaku kesehatan jarak jauh atau konseling internet adalah hukum bagi praktisi kesehatan mental yang dilisensikan dalam satu negara untuk membantu klien yang berada di negara lainnya yang dilakukan melalui telefon atau internet. Di beberapa negara , lisensi kesehatan mental profesional tidak bisa memberikan konseling online di negara-negara di mana mereka tidak berlisensi. Riemersma dan Leslie ( 1999 ) menulis bahwa terapis yang memilih untuk menawarkan layanan profesional melalui melakukan konseling secara online penting untuk mengkaji kode – kode etik di wilayah mana yurisdiksi konselor internet dan klien internet berada. Karena variabilitas luas ini melekat dalam yurisdiksi konselor online, pedoman etika oleh asosiasi nasional menjadi lebih penting karena pedoman terus berfungsi lintas negara.

B. KELEMAHAN DAN KELEBIHAN DALAM KONSELING ONLINE

(12)

Tabel 1

Setelah melihat perbedaan antara konseling online dan konseling tradisonal yang dilakukan secara langsung atau f2f, maka dapat dilihat kelebihan dan kekurangan dari konseling online.

(13)

pertama harus menunjukkan kelayakan dan kemanjuran melalui pengujian ketat yang lebih khusus.

Riemersma dan Leslie ( 1999) menunjukkan keuntungan bagi konsumen konseling Internet :

 Beberapa konsumen menginginkan singkat , nyaman , dan anonim layanan terapi

 Beberapa klien yang tidak bersedia untuk berpartisipasi dalam terapi tradisional

mungkin bersedia menerima bantuan online

 Untuk penyandang cacat fisik , layanan online yang lebih mudah diakses

 Bentuk konseling cocok untuk pendekatan pemecahan masalah dan menarik bagi banyak konsumen

 Klien yang mengalami kecemasan ketika berbicara face -to-face dengan ahli terapi , atau klien yang sangat pemalu , mungkin merasa lebih nyaman membicarakan masalah mereka melalui komputer

Sampson , Kolodinsky , dan Greeno ( 1997) mengidentifikasi beberapa

manfaat bagi terapis yang memberikan layanan konseling online :

 Akses ke klien di daerah pedesaan

 Memfasilitasi menugaskan , menyelesaikan , dan menilai pekerjaan klien

 Meningkatkan pencatatan

 Memperluas kolam layanan rujukan

 Meningkatkan fleksibilitas dalam penjadwalan

 Meningkatkan pilihan untuk pengawasan dan konfrensi kasus

 Meningkatkan pengumpulan data penelitian

Sedangkan kerugian dari menggunakan layanan konseling online meliputi (a) menjaga kerahasiaan melalui Internet, ( b )

(14)

( c ) kurangnya informasi nonverbal seperti wajah ekspresi , nada suara , dan bahasa tubuh ( Sussman , 1998) , ( d ) bahaya menawarkan layanan online atas negara garis yurisdiksi ; ( e ) kurangnya penelitian manfaat layanan konseling online ( Bloom , 1997) , dan ( f ) kesulitan mengembangkan hubungan terapeutik dengan klien yang tidak pernah melihat face to face ( Bloom , 1998; Morrissey , 1997 dalam Shaw & Shaw, 2006 ).

Corey, Corey & Callanan ( 2011,p.184 ) menyimpulkan bahwa memiliki tekhnologi yang cukup bagus belum tentu bisa diberikan pada semua klien atau untuk setiap klien. Manfaat yang potensial perlu lebih besar dari potensi risiko bagi klien untuk secara etis membenarkan segala bentuk teknologi yang digunakan untuk tujuan konseling. Beberapa kelemahan dari penggunaan konseling online adalah sebagai berikut :

 Diagnosis tidak akurat atau pengobatan tidak efektif dapat diberikan karena

yang berada dalam krisis tidak dapat menerima perhatian segera memadai

 Anonimitas memungkinkan anak-anak untuk menyamar sebagai orang dewasa mencari pengobatan

 Masalah Transferensi dan kontratransferensi adalah sulit untuk memperkirakan alamat

(15)

 Kompleks masalah psikologis jangka panjang tidak mungkin berhasil diobati.

Dalam artikel dari Nabilah ( 2010 ) disajikan kelemahan dan keuntungan antara konseling online dan konseling tradisonal dalam tabel 2 yaitu sebagai berikut :

Shaw dan Shaw ( 2006; Corey,Corey & Callanan,2011, p.184 ) menunjukkan bahwa perdebatan tentang kegunaan online konseling akan berlanjut sampai ada data yang memadai pada efektivitas hasil dari media ini . Mereka berpendapat bahwa informasi dari dokumen persetujuan negara menyatakan bahwa konseling online bukanlah pengganti dari konseling tradisional face-to – face.

(16)

konseling sehingga konselor di Indonesia pada akhirnya juga akan mampu melaksanakan konseling dengan berbasis internet secara profesional dan bermartabat yang dilandaskan pada etika profesi yang ada.

III. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Pada dasarnya etika dalam konseling melalui TI sama dengan etika dalam konseling tatap muka. Kelebihan dan kelemahan dalam konseling dapat menjadi pertimbangan kedua belah pihak, yaitu konselor dan konseli. Karena pelayanan BK melalaui TIK hanyalah sebagai alternative, jika pelayanan BK secara langsung atau tatap muka tidak memungkinkan untuk dilaksanakan.

B. Saran

(17)

Untuk mahasiswa, guru, konselor, siswa, dan lain lain, sekiranya perlu memahami dan mengaplikasikan mengenai perkembangan Teknologi dalam konteks pendidikan ini terutama adanya isu etika konseling online yaitu dengan melihat adanya kelemahan dan kelebihannya.

Sebagai manusia yang hidup dengan berbagai kemajuan zaman serta teknologi yang semakin berkembang, telah menantang kita untuk selalu bersifat proaktif dalam menjawab bentuk peluang yang dilakukan dalam perspektif teknologi. Jauh dari semua itu, kita harus dapat memanfaatkan teknologi sebagai sarana maupun media yang digunakan dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Corey,Gerald.,Schneider.Corey,Marianne & Callanan,Patrick. ( 2011 ). Issues and Ethics In The Helping Professions Eight Edition. Brooks/Cole,Cengage Learning. Belmont,CA,USA.

E.Shaw, Holly., F. Shaw, Sarah. (2006). Critical Ethical Issue in Online Counseling: Assesing Current Practices With an Ethical Intent Checklist. Journal of Counseling and Development: JCD; Winter 84,1; Proquest Education Journal, 41

(18)

L.Gibbson,Robert & H.Mitchell,Marianne.(2011). Bimbingan dan Konseling ( terjemahan edisi ke tujuh ). Pustaka Pelajar.Yogyakarta

Nabilah.( 2010 ) Artikel : Pengembangan Media Layanan Konseling Internet di Perguruan Tinggi ( Studi keterbacaan Media Layanan Konseling Internet di Universitas Negeri Jakarta ). Tidak diterbitkan. Tersedia di https://www.academia.edu/ . di download pada tanggal 22 Desember 2013

Gambar

Tabel 1Setelah  melihat  perbedaan  antara  konseling  online  dan
tabel 2 yaitu sebagai berikut :

Referensi

Dokumen terkait

Penulis pada film “Fajar” berperan sebagai production designer yang memiliki tanggung jawab untuk memvisualisasikan dan merancang konsep yang sudah didiskusikan

Pancasila yang berfungsi sebagai etika politik bangsa Indonesia harus menjadi penyaring dalam proses pengambilan keputusan agar tidak terjadi kesalahan pengambilan kebijakan

Keperawatan merupakan suatu profesi yang sangat menuntut kedisiplinan dan rasa tanggung jawab yang tinggi Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya kepada pasien, perawat dituntut untuk mampu memberikan pelayanan yang memenuhi etika keperawatan, melaksanakan tugas yang profesional, para perawat mampu serta ikhlas memberikan pelayanan yang bermutu berdasarkan keterampilan yang memenuhi standar serta dengan kesadaran bahwa pelayanan yang diberikan merupakan bagian darı upaya kesehatan secara menyeluralı Seorang perawat dalam melakukan Tugasnya selalu penuh dengan banyak resiko, setiap tindakan yang diambil seorang perawat akan mengakibatkan suatu perubahan dalam hidup seorang pasien. Proses keperawatan merupakan suatu jawahan untuk pemecahan masalah dalam keperawatan, karena proses keperawatan merupakan metode ilmiah yang digunakan secara sistematis dan menggunakan konsep dan prinsip ilmiah yang digunakan secara sistematis dalam mencapai diagnosa masalah kesehatan pasien, merumuskan tujuan yang ingin dicapai, menentukan tindakan dan mengevaluasi mutu serta hasil asuhan keperawatan. Pengambilan keputusan yang bena dan sesuai dengan legal ens keperawatan adalah sesuatu yang sangat penting untuk di pelajari oleh seorang calon perawat. Bagaimana seorang perawat harus mengambil keputusan dalam melaksanakan pelayanan, praktek keperawatan, dan bagaimana seorang perawat harus mengambil sikap untuk membela dirinya dalam tameng hukum. semuanya itu akan kami bahas secara rinci dalam makalah kami