• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan dan Telaah terhadap Dokumen Lap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Tinjauan dan Telaah terhadap Dokumen Lap"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

Judul Tugas

: Tinjauan dan Telaah terhadap Dokumen

Laporan Dampak Perubahan Iklim untuk

Malang Raya dengan Mengacu Pada Pedoman

Perencanaan Regional Untuk Adaptasi dan

Mitigasi Perubahan Iklim

Nama Mahasiswa : Raymond Valiant

No. Induk Mahasiswa : 137040100111018

Mata Kuliah : Perubahan Iklim dan Mitigasi Bencana (PTT8104)

Pengampu : Ir. Didik Suprayogo, M.Sc., Ph.D

Program : Program Pascasarjana Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Minat : Doktoral Manajemen Sumberdaya Lahan

Ringkasan

Makalah ini disusun untuk meninjau dan menelaah dampak perubahan iklim pada sektor keairan dan pertanian, dengan mengambil analisis dari dokumen laporan yang disusun Abdurahman et al (2012) dan Ruminta dan Handoko (2012) untuk kawasan Malang Raya Provinsi Jawa Timur. Sebagai landasan tinjauan maupun telaah dipergunakan pedoman perencanaan regional dari Schwarz et al (2011) dalam «Climate Change Handbook for Regional Water Planning» yang diterbitkan Badan Lingkungan Hidup Amerika Serikat (United States of America Environmental Protection Agency disingkat EPA). Kedua dokumen laporan ini memiliki persamaan dalam aspek skala perencanaan dan penanganan dampak perubahan iklim. Dari hasil analisis diketahui kawasan Malang Raya dapat mengalami perubahan curah hujan dan suhu udara, yang apabila menimbulkan ancaman berupa kekurangan air, penurunan produktifitas sektor pertanian atau peningkatan kejadian banjir tiba-tiba (flash flood). Berbagai ancaman ini bila dikombinasikan dengan kerentanan dari aspek non-keikliman akan menghasilkan risiko. Penanganan dampak perubahan iklim di sektor keairan dan pertanian, disimpulkan merupakan pengelolaan risiko, yang dapat memakai perencanaan skala regional untuk penanganannya. Walaupun demikian, untuk menangani risiko ini perlu disusun penataan ruang yang lebih peka pada kerentanan. Dalam penataan ruang yang peka kerentanan maka kegiatan mitigasi dan adaptasi terhadap ancaman akibat perubahan iklim di lingkup Malang Raya khususnya DAS Brantas dapat lebih tepat ditangani.

(2)

Daftar Isi

Ringkasan ... 1

 

I.

 

Ringkasan Buku Pedoman ... 3

 

1.1

 

Judul, Penyusun dan Konsep Buku Pedoman ... 3

 

1.2

 

Tujuan Tinjauan dan Telaah serta Cara Pembahasan ... 4

 

1.3

 

Susunan Buku Pedoman ... 5

 

1.3

 

Tinjauan Umum Kelebihan dan Kekurangan ... 6

 

II.

 

Sintesis Persoalan Sumberdaya Alam di DAS Brantas ... 8

 

2.1

 

Gambaran Umum ... 8

 

2.3

 

Permasalahan Sumberdaya di DAS Brantas ... 9

 

2.3.1

 

Perubahan Tata Ruang dan Degradasi Lahan ... 9

 

2.3.2

 

Persaingan (Kompetisi) Air Permukaan ... 11

 

2.3

 

Dokumen Dampak Perubahan Iklim di DAS Brantas ... 12

 

2.4

 

Dampak Perubahan Iklim pada Sektor Keairan ... 12

 

2.4.1

 

Metode Analisis Dampak pada Sektor Keairan ... 13

 

2.4.2

 

Ancaman Bahaya pada Sektor Keairan ... 13

 

2.4.3

 

Kerentanan pada Sektor Keairan ... 18

 

2.4.4

 

Analisis Risiko Perubahan Iklim di Sektor Keairan ... 22

 

2.5

 

Dampak Perubahan Iklim pada Sektor Pertanian ... 24

 

2.5.1

 

Metode Analisis Dampak pada Sektor Pertanian ... 24

 

2.5.2

 

Ancaman Bahaya pada Sektor Pertanian ... 25

 

2.5.3

 

Kerentanan pada Sektor Pertanian ... 28

 

2.5.4

 

Analisis Risiko Perubahan Iklim di Sektor Pertanian ... 29

 

III.

 

Sintesis Buku Pedoman dengan Dokumen Pelaporan ... 30

 

3.1

 

Relevansi Buku Pedoman dengan Dokumen Laporan ... 30

 

3.2

 

Praktek Baik (Good Practices) di DAS Brantas ... 31

 

3.2.1

 

Mitigasi Perubahan Iklim di DAS Brantas ... 31

 

3.2.2

 

Adaptasi Perubahan Iklim di DAS Brantas ... 32

 

3.3

 

Rekomendasi Kegiatan Baru ... 34

 

3.3.1

 

Persoalan dalam Kegiatan Mitigasi dan Adaptasi ... 34

 

3.3.2

 

Beberapa Perbaikan dalam Kegiatan Mitigasi dan Adaptasi ... 35

 

IV.

 

Penutup ... 38

 

(3)

I.

Ringkasan Buku Pedoman

1.1 Judul, Penyusun dan Konsep Buku Pedoman

Buku pedoman untuk perencanaan regional di sektor keairan dalam kerangka penanganan dampak perubahan iklim ditulis Schwarz et al (2011) dengan judul «Climate Change Handbook for Regional Water Planning». Pedoman ini diterbitkan Badan Lingkungan Hidup Amerika Serikat (United States of America Environmental Protection Agency disingkat EPA) Kawasan 9, Jawatan Pengairan Negara Bagian Kalifornia, Korps Rekayasawan Angkatan Darat Amerika Serikat (United States Army Corps of Engineers) Divisi Pasifik Selatan dan Yayasan Kelestarian Sumberdaya (Resources Legacy Fund), Amerika Serikat.

Penggunaan buku ini diarahkan untuk memenuhi Rencana Pengelolaan Sumberdaya Air Terpadu Negara Bagian Kalifornia (California Integrated Regional Water Management Plan disingkat IRWMP) namun tidak menutup kemungkinan penggunaannya di wilayah lain, jika dikehendaki memasukkan aspek perubahan iklim dalam perencanaan dan pengelolaan sumberdaya air.

Buku pedoman ini berisi penjelasan mengenai upaya: (a) menyesuaikan diri terhadap dampak dari perubahan iklim atau yang disebut adaptasi, dan (b) pengendalian faktor-faktor pendorong perubahan iklim atau mitigasi. Beberapa metode dan teknologi dari kedua upaya tersebut di atas dijelaskan dan diulas dalam pedoman ini dengan mengaitkannya kepada pengelolaan sumberdaya air secara terpadu. Buku ini juga memberi panduan cara menelaah kerentanan suatu daerah aliran sungai (DAS) terhadap dampak-dampak yang ditimbulkan perubahan iklim, yang dilengkapi penjelasan mengenai metode menyusun prioritas kerentanan dan strategi penanganannya.

Secara konsep, buku pedoman ini berangkat dari sejumlah teori dan metode penanganan dampak perubahan iklim yang telah diteliti dan disimpulkan oleh para ahli. Secara penyajian, buku ini juga menggunakan pendekatan yang telah dikembangkan dan diterapkan, khususnya dalam perencanaan untuk pengelolaan sumberdaya air pada tingkat DAS. Hanya saja, untuk memperjelas cara-cara menerapkan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim pada tingkat DAS diberikan contoh-contoh yang menarik, di mana pengetahuan terkini dan metode termutakhir – termasuk di dalamnya prinsip ketidakpastian – diujicoba di luar tujuan akademis-keilmiahan.

Oleh karena metode dan analisis dalam menangani perubahan iklim beserta dampaknya senantiasa berkembang, maka di dalam pedoman ini ditekankan juga, perencanaan dalam pengelolaan sumberdaya air harus senantiasa kembali kepada prinsip-prinsip dasarnya (sebagai landasan memilih suatu rencana atau langkah tertentu). Keputusan dalam pengelolaan sumberdaya air – baik dalam upaya adaptasi maupun mitigasi terhadap perubahan iklim – dapat mengambil pengalaman dari beberapa contoh di dalam pedoman ini. Buku pedoman ini memang memberikan sejumlah contoh yang dapat dipilih oleh pengambil keputusan yang bekerja di bidang pengelolaan sumberdaya air, baik pada tingkat lokal maupun regional.

(4)

1. Meningkatnya potensi kejadian di masa depan di mana perubahan iklim berdampak pada penyediaan kuantitas, pengendalian kualitas air, pengendalian banjir atau sasaran pengelolaan lainnya. Pengetahuan akan peningkatan risiko ini akan membantu para perencana dan pengambil keputusan untuk memperkecil dampak yang ditimbulkan perubahan iklim. Sebagai misal, kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim dapat diantisipasi pada kawasan yang mudah tergenang dengan melakukan pemulihan (restorasi) kawasan lahan basah (wetlands). Pemulihan ini diharapkan dapat memperkecil risiko yang semakin meningkat.

2. Berkembangnya ketidakpastian dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan dalam jangka panjang, di mana beberapa peristiwa yang berisiko kecil atau tidak penting di masa kini dapat berubah menjadi peristiwa dengan risiko besar atau penting di masa depan akibat perubahan iklim. Dalam keadaan seperti ini, para perencana dan pengambil keputusan harus menemukan strategi yang tepat untuk menghitung manfaat masa kini dan cara mengurangi kerentanan dari manfaat itu di masa depan (no-regrets strategies). Sebagai misal, perbaikan terhadap dataran banjir (flood-plain) di masa kini akan memberi manfaat di masa depan – jika risiko banjir semakin meningkat akibat perubahan iklim.

Secara keseluruhan buku pedoman ini membawa pembaca untuk memahami hal-hal tersebut dan menggunakan informasi yang dimiliki untuk diterapkan dalam proses perencanaan atau pengambilan keputusan.

1.2 Tujuan Tinjauan dan Telaah serta Cara Pembahasan

Tujuan dari tinjauan dan telaah ini adalah untuk membandingkan metodologi direkomendasikan buku pedoman «Climate Change Handbook for Regional Water Planning» (Scharwz et al, 2011) terhadap analisis mengenai dampak perubahan iklim di kawasan Malang Raya Provinsi Jawa Timur. Analisis mengenai dampak perubahan iklim ini dilaporkan dalam dua dokumen yang disusun Abdurahman et al (2012) dan Ruminta dan Handoko (2012) dan diterbitkan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

Pembahasan dalam tinjauan dan telaah ini akan diurutkan sebagai berikut:

1. Memberi ikhtisar isi dari buku pedoman «Climate Change Handbook for Regional Water Planning» dan menceritakan kerangka berpikir yang dipakai menyusun pedoman.

2. Mengulas secara ringkas kondisi dari DAS Brantas yang menjadi bagian dari kawasan Malang Raya Provinsi Jawa Timur untuk memberikan informasi mengenai keadaan sumberdaya alam di dalam kawasan tersebut.

3. Menyajikan metodologi dan hasil analisis dari buku pedoman yang diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, baik untuk analisis dari dampak perubahan iklim di sektor keairan dan pertanian di kawasan Malang Raya.

(5)

5. Mengidentifikasikan hal-hal yang kurang tepat selama ini, yang terjadi baik pada kawasan Malang Raya, maupun yang direkomendasikan dalam buku pedoman maupun dokumen laporan.

6. Memberikan masukan mengenai hal-hal yang dapat dicuplik dan dimanfaatkan untuk meningkatkan praktik yang lebih baik dalam penanganan dampak lingkungan berupa perubahan iklim.

1.3 Susunan Buku Pedoman

Buku pedoman ini terbagi dalam 7 bagian, dengan sistematika yang bertalian. Ikhtisar dari ke 7 bagian ini adalah sebagai berikut:

Bagian pertama merupakan pengantar yang menyajikan hubungan antara perubahan iklim secara global dengan dampak yang ditimbulkannya pada pengelolaan sumberdaya air di tingkat DAS. Tiga hal penting yang didiskusikan dalam bagian ini adalah: (a) menghubungkan ketersediaan air dan energi di suatu DAS dengan pelepasan gas rumah kaca atau GRK; (b) perkembangan dalam analisis perubahan iklim yang sementara ini berjalan; dan (c) kerangka berpikir dalam upaya memahami maksud adaptasi dan mitigasi dari dampak perubahan iklim dalam hubungannya dengan pengelolaan sumberdaya air terpadu.

Bagian kedua menjelaskan mengenai fenomena perubahan iklim yang terjadi secara global. Mula-mula diuraikan adanya peningkatan suhu udara atmosfer yang menyebabkan berbagai dampak pada keudaraan dan kebumian; kemudian dijelaskan pelepasan GRK yang mengakibatkan perubahan tersebut; selanjutnya dijelaskan upaya dari para ilmiawan memperkirakan dampak dari pelepasan GRK dengan pemodelan (matematis) dari perubahan iklim. Bagian ini diakhiri dengan pembahasan mengenai hubungan antara perubahan iklim dengan ketersediaan sumberdaya air.

Bagian ketiga menguraikan hubungan air dan energi dengan pelepasan GRK. Mula-mula diuraikan perkembangan peraturan terkait upaya pengendalian dan penyesuaian terhadap perubahan iklim. Lingkup peraturan adalah di Negara Bagian Kalifornia dan tingkat Federal dari Amerika Serikat. Selanjutnya diuraikan mengenai registrasi karbon (salahsatu komponen penting GRK), pengukuran pelepasan GRK khususnya karbon, pemantauan dari GRK dan akhirnya, bagaimana menggunakan data pelepasan GRK untuk menyusun rencana pengendalian.

Bagian keempat menjelaskan cara mengaji kerentanan suatu wilayah terhadap perubahan iklim. Mula-mula dijelaskan cara memetakan karakteristik suatu wilayah, kemudian cara mengenali dampak perubahan iklim pada wilayah tersebut. Selanjutnya diperkenalkan cara mengenali indikator-indikator pokok dari suatu kerentanan yang diakibatkan perubahan iklim. Akhirnya bagian ini ditutup dengan cara menyusun prioritas dalam kerentanan pada sektor sumberdaya air.

(6)

kerentanan ekosistem dan keragaman hayati, kenaikan air laut, banjir dan keberlanjutan penyediaan energi baru dan terbarukan.

Bagian keenam memberikan pemahaman lebih jauh mengenai cara mengelola suatu proyek pengendalian dampak perubahan iklim, yang dikaitkan dengan strategi pengelolaan sumberdaya alam lestari dan pengelolaan sumberdaya air terpadu. Pertama-tama dijelaskan mengenai cara merubah prioritas kerentanan yang ada menjadi suatu matriks. Kemudian dijelaskan cara mengevaluasi suatu proyek dengan pendekatan matriks, baik dimulai dari tahap menyusun acuan dasar (baseline) sampai membandingkan skenario dengan atau tanpa kegiatan pengendalian. Selanjutnya dijelaskan strategi penanganan dampak perubahan iklim yang berupa upaya adaptasi dan mitigasi. Termasuk di dalam ikhtiar menurunkan kebutuhan air, meningkatkan efisiensi pemberian air, perbaikan kuantitas dan kualita air, perbaikan pengendalian banjir serta ikhtiar meningkatkan jasa pelayanan lingkungan (stewardship). Bagian yang panjang ini diakhiri dengan penjelasan mengenai cara membuat prioritas kegiatan dalam suatu proyek (project portofolio management) dan sekaligus penanganan ketidakpastian (uncertainity) yang dapat terjadi selama pelaksanaan kegiatan-kegiatan pengendalian dampak perubahan iklim.

Bagian ketujuh adalah bagian terakhir dari buku pedoman ini, menguraikan cara mengelola kegiatan pengendalian dampak perubahan iklim di dalam situasi ketidakpastian (uncertainity). Dalam berhadapan dengan ketidakpastian semacam ini ada dua metode pengelolaan kegiatan yang diperkenalkan, yakni: robust decision model (RDM) dan strategi kegiatan adaptif. Kedua metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, namun keduanya dapat dipergunakan mengambil keputusan ketika harus melaksanakan (proyek) pengendalian dampak perubahan iklim. Selain itu masih ada metode-metode lain yang disinggung serba sekilas di akhir bagian ini.

1.3 Tinjauan Umum Kelebihan dan Kekurangan

Secara umum dapat dikatakan buku ini adalah kompilasi yang relatif lengkap mengenai perubahan iklim dunia dan dampak yang ditimbulkannya pada alam – termasuk dalam hal pengelolaan sumberdaya air permukaan. Selain merupakan kompilasi dari segi penyajian, buku ini benar-benar diharapkan menjadi pedoman bagi para perencana dan pengambil keputusan di bidang sumberdaya air ketika hendak merencanakan atau memutuskan kegiatan pengendalian dampak perubahan iklim di dalam sektor sumberdaya air.

Beberapa kelebihan yang terlihat di buku pedoman ini adalah:

1. Uraian yang jelas dan dilengkapi skema (bagan) untuk menjelaskan secara logis (logical framework) dari proses yang diuraikan pada setiap bagian.

2. Informasi yang dihimpun cukup lengkap dan cara pembahasan yang relatif sederhana bagi pembaca yang telah mengetahui atau memahami persoalan iklim dan sumberdaya air. Pedoman ini disunting dalam Bahasa Inggris yang baik.

3. Penjelasan mengenai hubungan perubahan iklim dengan pengelolaan sumberdaya air terpadu dijelaskan secara memadai.

(7)

metode, pembaca dituntun untuk memahami berbagai tahapan dan kegiatan penting dalam mengelola kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengendalian tersebut.

5. Ada penjelasan metode «baru» untuk menghadapi ketidakpastian (uncertainity) dalam pengendalian dampak perubahan iklim yakni robust decision model (RDM) dan strategi kegiatan adaptif.

Dari sisi kekurangan, tidak banyak hal yang dapat dilihat sebagai kelemahan dari buku pedoman ini. Walaupun demikian ada beberapa catatan kecil:

1. Buku pedoman ini disusun dengan anggapan pembaca telah memiliki pengetahuan dasar mengenai pengelolaan sumberdaya air, baik dari sisi hidrologi, klimatologi dan agrometeorologi. Sehingga beberapa istilah dan pemahaman yang sifatnya mendasar tidak diuraikan secara khusus.

2. Pembaca buku ini dianggap (atau lebih tepat diarahkan kepada mereka yang) memiliki peran atau pengalaman dalam hal perencanaan dan pengambilan keputusan. Konteks dari buku pedoman ini adalah sepenuhnya dalam lingkup Amerika Serikat, khususnya Negara Bagian Kalifornia.

(8)

II.

Sintesis Persoalan Sumberdaya Alam di DAS Brantas

2.1 Gambaran Umum

DAS Brantas dianggap sebagai salah satu sungai penting di Pulau Jawa. Oleh karena memberi sumbangsih yang cukup besar pada pendapatan domestik regional bruto (PDRB) Provinsi Jawa Timur dan investasi yang ditanamkan Pemerintah Republik Indonesia dalam sarana-prasarana pengairan yang nilainya cukup besar, ditetapkan sebagai sungai strategis nasional.

Sungai Brantas mengalir dari mata airnya di kompleks Pegunungan Arjuna-Anjasmara, yang berada pada ketinggian 1.547 meter di atas permukaan laut, menuju ke arah selatan, lalu ke barat dan akhirnya ke timur, searah jarum jam, sepanjang kurang lebih 320 km. Sepanjang alirannya sungai ini melewati sejumlah 14 kabupaten/kota, di mana ujung alirannya berada pada suatu delta yang dibatasi dua cabang anak sungai yakni Sungai Surabaya dan Sungai Porong (Sidoarjo).

Gambar 1 – DAS Brantas di Provinsi Jawa Timur

Luas DAS Brantas seluruhnya sekitar 12.000 km2 atau ¼ luas Provinsi Jawa

Timur. Secara topografis, bentuk DAS-nya memanjang namun karena sungai utama ini mengalir searah jarum jam maka terlihat seperti trapesium. Secara umum, DAS Brantas terbagi dalam 3 bagian, yakni: DAS Brantas Hulu, DAS Brantas Tengah, dan DAS Brantas Hilir. Masing-masing memiliki karakteristik geologi, topografi, pedologi dan sosial ekonomi masyarakat yang berbeda.

Curah hujan rerata di Wilayah Sungai Brantas diketahui kurang lebih sebesar 2.000 mm per-tahun. Sebagai hasil dari hujan tersebut maka potensi air permukaan di WS Brantas sekitar 12,45 miliar meter-kubik.

Pengembangan prasarana sumberdaya air di Wilayah Sungai Brantas telah dilakukan sejak tahun 1961 berlandaskan prinsip: satu sungai, satu rencana terpadu, satu manajemen terkoordinasi. Pengembangan sumberdaya air di Wilayah Sungai Brantas dilaksanakan berdasarkan sejumlahrencana induk (master plan) yang disusun secara bertahap dan ditinjau kembali secara berkala untuk disesuaikan dengan program nasional dan perkembangan kebutuhan sumberdaya air di wilayah sungai Brantas.

Bend. Sutami Bend. Selorejo Bend. Bening

Bend. Wonorejo

Bend. Sengguruh Bend.

Wlingi Bend. Lodoyo

Bend. Lahor

Gunung Wilis

Gunung Semeru Gunung Arjuna

Gunung Kelud

Gunung Kawi

SURABAYA

MALANG KEDIRI

(9)

Gambar 2 – Infrastruktur pengairan yang dibangun di DAS Brantas untuk layanan air

Berdasarkan rencana induk, berbagai infrastruktur pengairan telah dibangun. Pertama-tama, ada sejumlah bendungan di ruas hulu sungai ini yang berfungsi untuk menampung banjir, menyimpan air dan membangkitkan energi listrik, yakni: Bendungan Sengguruh, Sutami, Lahor, Wlingi, Selorejo, Bening dan Wonorejo.

Kemudian, pada ruas tengah Sungai Brantas dibangun berbagai bendung yang berfungsi sebagai pengatur alokasi air dan pengambil air permukaan untuk irigasi maupun pengguna lainnya. Beberapa bendung yang telah dibangun adalah Bendung Gerak Lodoyo, Mrican, Lengkong Baru, Segawe, Tiudan, serta Bendung Karet Menturus dan Jatimlerek.

Terakhir, pada ruas hilir dari Sungai Brantas dibangun sejumlah bendung yang berfungsi mengendalikan elevasi dasar sungai, mengatur pelepasan debit pada saat terjadi banjir dan menahan intrusi air laut, yakni Bendung Karet Gubeng, Bendung Gerak Lengkong Baru dan Gunungsari serta Pintu Air Mlirip, Jagir dan Wonokromo.

2.3 Permasalahan Sumberdaya di DAS Brantas 2.3.1 Perubahan Tata Ruang dan Degradasi Lahan

Perubahan tata guna lahan telah diketahui terjadi di DAS Brantas sejak lama dan bersumber dari kegiatan manusia (PU, 2005). Ketersediaan sumberdaya lahan dan air yang memadai untuk kegiatan pertanian dan meningkatnya populasi di DAS Brantas menyebabkan perubahan yang meluas. Beberapa analisis terhadap DAS Brantas Hulu telah menunjukkan timbulnya perubahan tata guna lahan yang mendorong ke arah degradasi lahan (BPDAS, 2003a; 2003b; 2003c; dan Valiant, 2007).

(10)

Oleh karena aspek geologi dan litologi (bebatuan permukaan) ini, maka DAS Brantas memiliki corak pedologis yang unik, karena proses erosi dan disposisi lapukan vulkanik menyiptakan cluster tanah dengan berbagai keragaman kesuburan. Lahan di DAS Brantas secara umum dinilai subur, meski curah hujan rerata di kawasan timur Pulau Jawa tidak sebesar kawasan lain di barat dan tengah pulau ini.

Berbagai sumber telah meneliti kekritisan dan degradasi lahan di DAS Brantas Hulu. BPDAS (2003a, 2003b dan 2003c) menghitung tingkat erosi teoritik di DAS Brantas Hulu telah mencapai 2,9 mm tahun-¹. PU (2005) laju erosi teoritik

dihitung sebesar 2,8 mm tahun-1 atau setara 4,49 juta m3 tahun-1. Sedangkan Valiant (2007) menggunakan data satelit ASTER (2005) menghitung tingkat erosi teoritik di Brantas mencapai 2,8 mm tahun-1.

Laju erosi ini mengindikasikan adanya degradasi lahan secara sistematis, di mana hutan dan lahan yang semula tertutup vegetasi dibuka untuk berbagai keperluan. Sebagai contoh dapat dilihat hasil kajian PU (2005) pada Sub-DAS Sumber-Brantas (luas 182 km2) yakni bagian paling hulu DAS Brantas: luas hutan tersisa 42,41 km2 (23%), semak 29,67 km2 (16%), lahan rumput 1,66 km2 (1%), sawah 24,72 km2 (14%), pemukiman 20,95 km2 (12%) dan lain-lain seperti kebun/ladang 62,59 km2 (34%).

Memperhatikan laju erosi, semakin dapat dipahami perubahan kondisi tutupan lahan merupakan fenomena kolektif pendorong degradasi lahan pada berbagai bagian DAS. Salah satu indikator dari perubahan tata guna lahan adalah luas tutupan hutan di DAS Brantas Hulu seperti terlampir pada

Tabel 1, di mana tampak perubahan luasan hutan. Oleh karena berbagai kegiatan masyarakat, terjadi perubahan tata guna lahan, sehingga luasan hutan di DAS Brantas Hulu, turun dari 25,9% menjadi 11,6% saja.

Tabel 1 - Data luasan hutan di DAS Brantas Hulu

Tahun Luas

km2 %

1941 530 25,9

1951 398 19,4

1994 256 12,4

2005 242 11,8

Catatan: penurunan drastik dari luasan hutan di DAS Brantas Hulu disebabkan letusan Gunung Kelud pada 31 Agustus 1951

Sumber: Nippon Koei (1961) dan PU (2005)

Sejauh ini cukup banyak kegiatan pelestarian tanah dan air yang telah dilakukan di lingkup DAS Brantas Hulu. Pola pengelolaan terpadu telah disusun dan dievaluasi berkali-kali, salahsatunya oleh BPDAS (2011) yang menunjukkan berbagai perubahan biofisik di DAS Brantas secara umum beserta upaya penanggulangannya.

(11)

2.3.2 Persaingan (Kompetisi) Air Permukaan

Neraca air di WS Brantas menunjukkan bahwa dari potensi air permukaan sebesar 12,45 miliar meter-kubik per-tahun tersebut sekitar 59% atau 7,39 miliar meter-kubikkembali mengalir ke laut. Hal ini terkait dengan kondisi alami wilayah sungai dan kemampuan tampung infrastruktur yang telah dibangun. Sehingga air yang diketahui termanfaatkan di dalam daerah aliran sungai adalah sebesar 3,33 miliar meter-kubik. Dari air sebesar itu, sekitar 2,77 miliar meter-kubik diserap oleh sektor pertanian, 350 juta meter-kubik terpakai untuk keperluan domestik dan 158 juta meter-kubik per-tahun untuk keperluan industri sedangkan selebihnya sebagai aliran pemeliharaan di sungai.

Oleh karena kelengkapan infrastruktur pengairan di WS Brantas, maka berkembanglah para pengguna air pokok di luar pertanian, yakni mencakup 8 pembangkit energi listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas terpasang setara 280,62 mW, 144 industri yang berizin aktif dan 28 titik pengambilan air baku untuk keperluan domestik yang berizin.

Perusahaan Umum Jasa Tirta I (PJT-I) merupakan BUMN yang bertindak sebagai operator penyediaan layanan air baku di Indonesia dengan wilayah kerja di DAS Brantas dan DAS Bengawan Solo. DAS Brantas menikmati layanan air baku yang baik oleh karena tersedia cukup prasarana-sarana pengairan yang mendukung pertumbuhan di pertanian tanaman pangan, sektor energi, air bersih dan air baku untuk keperluan industri. Walaupun demikian, ketersediaan air baku untuk berbagai keperluan di bagian hilir yang mencakup satuan wilayah pengembangan (SWP) Gerbangkertosusi sudah menunjukkan keadaan krisis baik dalam aspek kuantitas maupun kualitas air baku.

Kondisi kuantitas air di DAS Kali Brantas dipengaruhi oleh proses alokasi air yang melibatkan pengoperasian sejumlah besar bangunan prasarana pengairan, sedangkan kualitas air dipengaruhi oleh aktifitas manusia yang menimbulkan dampak pencemaran pada badan-badan air permukaan. Tanpa upaya pengendalian pemakaian (demand management) maupun pengendalian pasokan (supply management) maka kuantitas air di DAS Kali Brantas akan berada dalam keadaan kritis, karena secara teoritis kebutuhan air telah melampaui ketersediaan air dari sumber-sumber yang ada. Berdasarkan perhitungan imbangan air (neraca) untuk satuan wilayah pengembangan (SWP) Gresik, Jombang, Mojokerto, Surabaya dan Sidoarjo (Gerbangkertosusi) yang merupakan wilayah sebelah hilir dari DAS Kali Brantas diperoleh kenyataan ketersediaan imbangan air aktual sudah mencapai tingkat defisit (Subijanto et al, 2013).

(12)

Pengendalian kualitas air baku merupakan salah satu tantangan besar di DAS Kali Brantas yang secara faktual dihuni oleh lebih dari 16 juta penduduk (2012) dan menyumbangkan hampir 60% pendapatan domestik bruto untuk Provinsi Jawa Timur. Dinamika sosial dan ekonomi menjadi kendala dalam pengendalian limbah dari sumber industri maupun domestik. Akibatnya, kualitas air di Kali Brantas menjadi salahsatu persoalan bagi PDAM yang melayani air bersih dengan mengambil air baku dari sumber permukaan.

2.3 Dokumen Dampak Perubahan Iklim di DAS Brantas

Dokumen yang terkait dengan dampak perubahan iklim di DAS Brantas masih terbatas jumlahnya. Sebagai kawasan yang memiliki kerapatan penduduk yang tinggi dan sebagian besar sumberdaya alamnya (air, lahan dan biota) berada dalam tekanan akibat pertumbuhan sosial-ekonomi, DAS Brantas belum memiliki dokumen-dokumen yang bersifat menyatu (terintegrasi) dalam kerangka mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Sejauh ini, terdapat beberapa dokumen yang berdiri sendiri – terpisah secara sektoral – yang diterbitkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (2010) dan Kementerian Kehutanan (2012) mengenai pengelolaan sumberdaya alam di DAS Brantas. Dokumen yang diterbitkan Kementerian Pekerjaan Umum, berupa rencana pengelolaan DAS Brantas, secara lengkap membahas persoalan sumberdaya air, khususnya air permukaan. Dokumen yang diterbitkan Kementerian Kehutanan, berupa rencana tindakan pengelolaan DAS Brantas, secara rinci membahas rehabilitasi lahan dan hutan. Kedua dokumen ini tidak membahas secara umum ataupun khusus mengenai dampak perubahan iklim.

Selain kedua dokumen di atas, terdapat dokumen yang membicarakan dampak perubahan iklim beserta dengan upaya mitigasi dan adaptasi yang diterbitkan Kementerian Lingkungan Hidup (2012) namun terbatas pada wilayah DAS Brantas Hulu ditambah sejumlah Sub DAS di Pantai Selatan Jawa – yang secara keseluruhan disebut sebagai kawasan Malang Raya (mencakup Kota Batu, Kabupaten dan Kota Malang). Dokumen ini terdiri dari dua buah laporan yang masing-masing membahas persoalan aspek ketersediaan air dan sektor pertanian.

Laporan pertama berjudul Climate Risk and Adaptation Assessment for the Water Sector - Greater Malang (Abdurahman et al, 2012) membahas upaya adaptasi dan mitigasi pada ketersediaan air permukaan, sedangkan laporan kedua berjudul Climate Risk and Adaptation Assessment for the Agriculture Sector – Greater Malang (Ruminta & Handoko, 2012) menelaah upaya pada sektor pertanian.

2.4 Dampak Perubahan Iklim pada Sektor Keairan

Dampak perubahan iklim pada ketersediaan air permukaan dibahas dengan cukup baik dan lengkap dalam laporan Abdurahman et al (2012).

(13)

2.4.1 Metode Analisis Dampak pada Sektor Keairan

Setelah memberikan gambaran dari lokasi analisis, selanjutnya laporan ini membangun kerangka pikir dari analisis. Pertama-tama, dampak perubahan iklim dalam laporan ini disampaikan terlebih dulu beberapa anggapan yang mendasari analisis, baik yang berupa penggerak keikliman maupun non-keikliman.

Penggerak keikliman mencakup perubahan suhu udara yang berpengaruh pada curah hujan dan penguapan. Skenario perubahan yang dipergunakan adalah AR-4 dari International Panel on Climate Change (IPCC). Adapun penggerak non-keikliman adalah penambahan penduduk, perubahan tata guna lahan, kebutuhan air, ketersediaan sumber air dan perkembangan kesejahteraan.

Analisis di dalam dokumen ini menekankan pengetahuan akan dua aspek perubahan iklim pada tingkat regional yakni: (a) ancaman bahaya (hazard) yang timbul dan (b) kerentanan (vulnerability) yang dapat terjadi. Ancaman bahaya (hazard) untuk kawasan Malang Raya diidentifikasikan sebagai: kekeringan dan banjir; sedangkan kerentanan (vulnerability) adalah pada: kekurangan air, kerusakan akibat banjir dan tanah longsor.

Selanjutnya, setelah ancaman bahaya (hazard) dan kerentanan (vulnerability) ini diketahui maka disusunlah kerangka analisis untuk mengetahui risiko (risk) yang timbul pada sektor keairan.

Risiko dimodelkan sebagai fungsi perkalian dari ancaman bahaya dan kerentanan yang dipengaruhi oleh derajat paparan (exposure), kepekaan (sensitivity) dan kapasitas adaptasi (adaptive capacity). Secara matematika, model ini ditulis sebagai fungsi dari:

�=�� ,�,�� (1)

Di mana:

R : risiko (risk)

H : ancaman bahaya (hazard) V : kerentanan (vulnerability) E : derajat paparan (exposure) S : kepekaan (sensitivity)

AC : kapasitas adaptasi (adaptive capacity)

Analisis terhadap risiko pada sektor sumberdaya air disajikan secara spasial menggunakan fasilitas geomatika (geographical information system).

Berdasarkan hasil analisis yang ditampilkan dalam bentuk grafis dari fasilitas geomatika maka selanjutnya dilakukan perumusan kebijakan dan strategi. Rumusan kebijakan dan strategi ini mencakup beberapa isu kunci yang berkaitan dengan cara mengurangi risiko akibat perubahan iklim dan pilihan aktifitas yang bersifat adaptif terhadap risiko yang timbul.

2.4.2 Ancaman Bahaya pada Sektor Keairan

Secara umum, dampak dari perubahan iklim untuk kawasan Malang Raya diidentifikasikan sebagai perubahan curah hujan dan temperatur ambien.

(14)

analisis hidrologi untuk mengetahui neraca air dan memodelkan peristiwa banjir.

A. Kekurangan Air (Kekeringan)

Analisis hidrologi dilakukan untuk mengetahui neraca air, dengan persamaan sederhana:

�=�! +∆��+��� (2)

Di mana:

P : curah hujan; Ea : evapotranspirasi;

ΔGS : air yang meresap ke tanah (ground surcharge atau infiltration);

TRO : limpasan permukaan (total run-off).

Berdasarkan analisis ini dapat diperoleh gambaran tentang potensi air pada periode waktu tertentu. Berdasarkan potensi air ini dapat diketahui keadaan di mana berpeluang terjadi kekurangan air yang mempengaruhi pengambilan air untuk keperluan pertanian, domestik dan industri. Limpasan permukaan (TRO) dianggap sebagai sumber air bagi keperluan pertanian, domestik dan industri tersebut.

Ancaman bahaya kekeringan dapat berasal dari pengaruh perubahan iklim, yakni berkurangnya curah hujan atau berubahnya distribusi curah hujan; atau dari perubahan tata guna lahan yang mengakibatkan peresapan air berkurang dan penguapan air (evaporasi) dari permukaan tanah membesar.

Berdasarkan analisis secara spasial, lebih lanjut ditentukan ancaman bahaya untuk kekurangan air pada wilayah Malang Raya. Pendekatan yang digunakan adalah dengan membandingkan kebutuhan air terhadap ketersediaan limpasan permukaan, yang dinyatakan dengan persamaan:

���= !"#!!"

!!" (3)

Di mana:

WHZ : indikator ancaman kekeringan;

DWA : pengurangan aliran permukaan terhadap kondisi hidrologi dalam keadaan normal (Q-baseline);

WD : kebutuhan air bagi keperluan pertanian, domestik dan industri; Qb : Q-baseline atau debit pada kondisi normal (berdasarkan baseline

tahun 1990-2010).

Berdasarkan perbandingan ini maka untuk tiap Sub-DAS di dalam wilayah Malang Raya dapat dipetakan ancaman kekurangan air secara grafis dari fasilitas geomatika. Skenario yang dipergunakan adalah membandingkan keadaan di mana tidak terjadi dan terjadi perubahan tata guna lahan pada kawasan Malang Raya.

Perhitungan menunjukkan bahwa untuk rentang analisis tahun 1961-2100, perubahan iklim menyebabkan penurunan limpasan permukaan sebesar 0,48 mm tahun-1 untuk keadaan tanpa perubahan tata guna lahan dan sebesar 2,80 mm tahun-1 untuk kondisi dengan perubahan tata guna lahan.

(15)

kebutuhan masyarakat dan peningkatan evapotranspirasi. Sementara itu, dari sisi lain, penurunan limpasan permukaan ini juga dipengaruhi secara spasial oleh tata ruang di dalam masing-masing Sub DAS yang ditinjau. Sub DAS yang memiliki ancaman kekeringan terbesar adalah yang berpenduduk relatif tinggi dan mengalami perubahan tata ruang yang signifikan.

Gambar 3 – Simulasi terhadap ancaman bahaya kekeringan untuk tahun dasar 2010

Gambar 4 – Simulasi terhadap ancaman bahaya kekeringan untuk perkiraan tahun 2030

B. Debit Tinggi (Banjir)

Pemodelan peristiwa banjir dilakukan untuk mengetahui bagaimana debit tinggi akibat limpasan permukaan ini dapat terjadi, baik dari segi curah hujan yang menjadi penyebab, besaran air yang melimpas dan distribusi debit tersebut terhadap waktu. Persamaan yang dipergunakan:

�=�××� (4)

Di mana:

Q : debit puncak banjir (m3 detik-1);

c : koefesien limpasan yang bergantung pada kondisi tutupan lahan; i : intensitas hujan (mm jam-1);

A : luas daerah tangkapan air (m2).

Analisis dilakukan dengan menentukan terlebih dulu kondisi ekstrim (debit tinggi) pada periode waktu perbandingan (baseline) sebagai pembanding dari debit-debit tinggi pada keadaan telah terjadi perubahan iklim. Sebagai periode waktu perbandingan di ambil data dari 1990-2010.

(16)

hujan hasil perkiraan ini kemudian dimasukkan dalam persamaan rasional di atas dengan memperkirakan terlebih dulu koefesien limpasan permukaan berdasarkan kondisi tutupan lahan pada daerah tangkapan air. Selanjutnya dari persamaan itu dapat dihitung debit yang akan terjadi.

Perhitungan ini dilakukan untuk setiap Sub-DAS dalam kawasan Malang Raya. Proses analisis ancaman bahaya dilakukan dengan menggunakan dua skenario kondisi: dasar (baseline) dan perkiraan. Pada kondisi dasar dilakukan perkiraan luasan genangan/banjir berdasarkan simulasi menggunakan curah hujan ekstrim harian dan bulanan yang terekam dari data hidrologi yang dimiliki; sedangkan pada kondisi perkiraan dilakukan simulasi yang serupa namun dengan mengubah curah hujan sesuai kenaikan yang diperkirakan dalam model iklim global (scenario AR4 dari IPCC). Hasil analisis disajikan pada Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2 – Hasil analisis terhadap potensi luas wilayah yang terancam bahaya banjir

Tingkat Ancaman

Kabupaten Malang Kota Malang Kota Batu Dasar Pekiraan Dasar Perkiraan Dasar Perkiraan

km-2 km-2 km-2 km-2 km-2 km-2

Sangat Rendah 4.101,87 18.317,75 34,94 2,00 180,14 154,49

Rendah 439,02 787,49 37,65 9,54 2,33 7,43

Sedang 143,14 268,66 15,65 8,68 16,09 0,40

Tinggi 30,32 213,06 15,77 11,26 0,02 27,16

Sangat Tinggi 4,52 261,15 5,96 78,32 6,65

Untuk tiap Sub-DAS di dalam wilayah Malang Raya hasil analisis tersebut dapat dipetakan secara grafis dengan fasilitas geomatika, sehingga diperoleh peta ancaman bahaya banjir untuk kawasan Malang Raya. Memperhatikan peta hasil analisis pada Gambar 5 dapat dilihat bahwa ancaman bahaya meningkat pada Sub-DAS yang memiliki kerapatan penduduk yang lebih tinggi dan perubahan tata ruang yang besar.

Gambar 5 – Hasil analisis berupa peta ancaman bahaya banjir kawasan Malang Raya

C. Tanah Longsor

(17)

Dalam analisis diambil anggapan kelongsoran suatu bidang tanah terjadi karena stabilitas dari lereng tanah tersebut berubah akibat kenaikan muka air tanah. Kenaikan muka air tanah ini terjadi karena infiltrasi hujan. Seiring dengan kenaikan ini akan terjadi perubahan tekanan tanah pasif (dan tekanan tanah aktif bila ada pembebanan) yang bersama-sama tekanan hidrostatik akan menimbulkan perubahan pada sifat mekanika tanah. Menurut Terzaghi, bila kekuatan ikat antar butiran tanah tidak dapat mempertahankan sifat semula tanah di baah tekanan maka kekuatan tanah akan hilang, sehingga terjadilah kelongsoran (keruntuhan).

Model untuk menghitung kenaikan muka air tanah ini menggunakan Cumulative Rainfall Departure (CRD).

Perhitungan ini dilakukan untuk setiap Sub-DAS dalam kawasan Malang Raya. Proses analisis ancaman bahaya dilakukan dengan menggunakan dua skenario kondisi: pengamatan dan perkiraan. Untuk kondisi pengamatan dilakukan analisis berdasarkan keadaan tahun 1980-2011 dan pada kondisi perkiraan dilakukan simulasi untuk tahun 2012-2030. Curah hujan yang dipergunakan untuk menghitung kenaikan air tanah mempergunakan hasil pengamatan selama periode pengamatan (baseline) 1980-2011 dan untuk perkiraan (simulasi) 2012-2030, data tersebut dimodelkan dengan skenario AR4 dari IPCC.

Tabel 3 – Perbandingan perkiraan dengan pengamatan dari ancaman tanah longsor

Tingkatan Bahaya

Luas Longsoran

Perkiraan Pengamatan

m-2 m-2

Sangat Rendah 450.950.000 387.390.000 Rendah 2.024.290.000 1.903.650.000

Sedang 100.550.000 284.750.000

Tinggi 11.550.000 7.960.000

Sangat Tinggi 1.290.000 4.880.00

Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 3 di atas, dapat dilihat ada perubahan luas ancaman tanah longsor pada berbagai kriteria. Untuk kriteria tinggi dan rendah, luas ancaman tanah longsor bertambah; sementara untuk kriteria kriteria sangat tinggi, sedang dan sangat rendah justru cenderung turun. Dapat dikenali bahwa perubahan luas tanah dengan kriteria ancaman bahaya ini disebabkan tidak meratanya perubahan tinggi muka air tanah yang menjadi salah satu komponen utama kelongsoran.

(18)

Gambar 6 – Gambaran ketinggian muka air tanah untuk bulan Nopember

Gambar 7 – Gambaran perkiraan ancaman bahaya tanah longsor pada bulan Nopember

2.4.3 Kerentanan pada Sektor Keairan

Kerentanan akibat perubahan iklim untuk kawasan Malang Raya mencakup tiga aspek: kekurangan air akibat kekeringan, debit tinggi (banjir) yang disebabkan curah hujan berlebih dan kelongsoran tanah akibat perubahan sifat mekanika tanah. Kerentanan akibat perubahan iklim ini berlatarbelakang penggerak non-keikliman yakni: penambahan penduduk, perubahan tata guna lahan, kebutuhan air, ketersediaan sumber air dan perkembangan kesejahteraan.

A. Kekurangan Air (Kekeringan)

Kerentanan terhadap kekurangan air merupakan kombinasi dari 3 komponen dan 3 indikator. Analisis dilakukan dengan nisabh pembobotan sebagaimana dijelaskan dalam Tabel 4 berikut ini.

Tabel 4 – Matriks kerentanan di bidang penyediaan air

Komponen Indikator Sub Indikator Nisbah

Tingkat paparan Kebutuhan air Kebutuhan air penduduk (domestik)

0,50 Kebutuhan air untuk non-domestik

Kepekaan Sumberdaya air Prasarana penyediaan air, air dalam kemasan, air tanah yang dipompa, sumur, mata air, danau, waduk, penampungan air hujan dan sumber lainnya

0.32

Kemampuan adaptasi

Kesejahteraan masyarakat

Pendapatan masyarakat

(19)

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap kebutuhan air, ketersediaan sumber-sumber air dan kondisi kesejahteraan masyarakat menggunakan perangkat geomatika maka dapat disajikan peta kerentanan terhadap kekurangan air sebagaimana Gambar 8 dan Gambar 9 berikut ini.

Gambar 8 – Peta kerentanan terhadap kekurangan air pada 2010 (baseline)

Gambar 9 – Peta perkiraan kerentanan terhadap kekurangan air pada 2030

Perkembangan kerentanan yang tinggi dari kondisi dasar (2010) dalam hal kekurangan air pada 2030 diperkirakan akan dialami sejumlah kawasan, seperti: Kecamatan Pujon, Lawang, Dampit, Ampelgading dan Jabung (Kabupaten Malang); serta Kecamatan Batu dan Bumiaji (Kota Batu).

B. Debit Tinggi (Banjir)

Kerentanan terhadap kekurangan air merupakan kombinasi dari 3 komponen dan 3 indikator. Analisis dilakukan dengan nisbah pembobotan sebagaimana dijelaskan dalam Tabel 4 berikut ini.

Tabel 5 – Matriks kerentanan di bidang debit tinggi (banjir)

Komponen Indikator Sub Indikator Nisbah

Tingkat paparan Kepadatan populasi Populasi dan pertumbuhan

populasi per-satuan kecamatan 0,53 Tata guna lahan di satuan

kecamatan 0,23

Kepekaan Infrastruktur public Jalan 0,18

Kemampuan adaptasi

Kesejahteraan masyarakat

Pendapatan masyarakat

(20)

dasar (baseline). Selanjutnya skenario perubahan tata guna lahan dan perubahan curah hujan dipergunakan menghitung perkembangan kerentanan, dengan memperhatikan matriks pembobotan di atas. Hasil analisis ini kemudian diolah secara spasial untuk menyajikan representasi dari derajat ancaman pada masing-masing Sub DAS yang ditinjau.

Gambar 10 – Peta kerentanan terhadap debit tinggi (banjir) pada 2010 (baseline)

Gambar 11 – Peta perkiraan kerentanan terhadap debit tinggi (banjir) pada 2030

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap kepadatan masyarakat, ketersediaan ketersediaan infrastruktur publik dan kondisi kesejahteraan masyarakat menggunakan perangkat geomatika maka dapat disajikan peta kerentanan terhadap debit tinggi (banjir) sebagaimana Gambar 10 dan Gambar 11 di atas.

Perkembangan kerentanan yang tinggi dari kondisi dasar (2010) dalam hal debit tinggi (banjir) pada 2030 diperkirakan akan dialami sejumlah kawasan, seperti: Kota Malang, sebagian Kecamatan Singosari dan Lawang (Kabupaten Malang). Pertumbuhan kerentanan juga tampak di Kecamatan Donomulyo, Bantur dan Sumbermanjing di Kabupaten Malang.

C. Kelongsoran

Kerentanan terhadap kekurangan air merupakan kombinasi dari 3 komponen dan 3 indikator. Analisis dilakukan dengan nisbah pembobotan sebagaimana dijelaskan dalam Tabel 6 berikut ini. Dari tabel ini tampak bahwa nisbah dibuat tidak berbeda jauh dari kerentanan terhadap debit tinggi (banjir).

Tabel 6 – Matriks kerentanan di bidang tanah longsor

(21)

Komponen Indikator Sub Indikator Nisbah

Tingkat paparan Kepadatan populasi Populasi dan pertumbuhan

populasi per-satuan kecamatan 0,54 Tata guna lahan di satuan

kecamatan 0,22

Kepekaan Infrastruktur public Jalan 0,18

Kemampuan adaptasi

Kesejahteraan masyarakat

Pendapatan masyarakat

0.06 Kerentanan terhadap tanah longsor dianalisis dengan data hidrologi (2000-2010) sebagai pertimbangan historis terhadap kenaikan muka air tanah dan berbagai laporan kelongsoran, yang selanjutnya dirangkum sebagai kondisi dasar (baseline). Selanjutnya skenario perubahan tata guna lahan dan perubahan curah hujan dipergunakan menghitung perkembangan kerentanan, dengan memperhatikan matriks pembobotan di atas. Hasil analisis ini kemudian diolah secara spasial untuk menyajikan representasi dari derajat ancaman pada masing-masing Sub DAS yang ditinjau.

Gambar 12 – Peta kerentanan terhadap tanah longsor pada 2010 (baseline)

Gambar 13 – Peta perkiraan kerentanan terhadap tanah longsor pada 2030

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap kepadatan masyarakat, ketersediaan ketersediaan infrastruktur publik dan kondisi kesejahteraan masyarakat menggunakan perangkat geomatika maka dapat disajikan peta kerentanan terhadap tanah longsor sebagaimana Gambar 12 dan Gambar 13.

(22)

kerentanan juga tampak di Kecamatan Pujon, Donomulyo, Bantur dan Sumbermanjing di Kabupaten Malang.

2.4.4 Analisis Risiko Perubahan Iklim di Sektor Keairan

Hasil analisis secara menyeluruh dengan menggunakan persamaan: risiko sebagai fungsi perkalian dari ancaman bahaya dan kerentanan yang dipengaruhi oleh derajat paparan (exposure), kepekaan (sensitivity) dan kapasitas adaptasi (adaptive capacity), akhirnya dirangkum Abdurahman et al (2012) sebagai berikut.

1. Risiko kekurangan air sebagai fungsi perkalian dari ancaman bahaya dan kerentanan menunjukkan hasil pada skala olahan tematik dengan ketelitian grid 100 x 100 m sebagaimana Gambar 14 dan Gambar 15 berikut ini. Tampak dari analisis secara spasial bahwa perkembangan dari kekurangan air diperkirakan terjadi sejumlah besar kawasan di Malang Raya dengan derajat risiko yang juga bertambah.

Gambar 14 – Peta kerentanan terhadap kekurangan air pada 2010 (baseline)

Gambar 15 – Peta perkiraan kerentanan terhadap kekurangan air pada 2030

2. Adapun risiko debit tinggi (banjir) secara lebih spesifik dianalisis pada satuan Sub-DAS. Rangkuman dari analisis risiko tersebut diberikan pada Tabel 7 berikut ini.

Tabel 7 – Rekapitulasi luasan menurut tingkatan risiko terhadap kdebit tinggi (banjir)

Risiko

Kabupaten Malang Kota Malang Kota Batu Dasar Pekiraan Dasar Perkiraan Dasar Perkiraan

km-2 km-2 km-2 km-2 km-2 km-2

(23)

Risiko

Kabupaten Malang Kota Malang Kota Batu Dasar Pekiraan Dasar Perkiraan Dasar Perkiraan

km-2 km-2 km-2 km-2 km-2 km-2

Rendah 177,58 347,08 3,14 3,80 11,68 7,75

Sedang 97,15 104,59 4,03 1,30 1,59 2,71

Tinggi 66,90 228,36 25,55 9,00 3,32 0,00

Sangat Tinggi 7,71 233,31 20,53 89,48 0,01 24,14 Dari tabel tampak perkiraan dari tingkat risiko debit tinggi (banjir) meningkat secara signifikan baik untuk Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu. Khususnya untuk risiko sangat tinggi tampak adanya kenaikan luasan dari kondisi dasar (baseline) sebagai dampak dari perubahan iklim di masa mendatang.

3. Sedangkan untuk risiko terhadap tanah longsor, analisis dilakukan dengan menyimulasikan data curah hujan (untuk tiap-tiap bulan) agar diketahui perubahan tinggi muka air. Hasil simulasi ini lalu dikombinasikan dengan perubahan tata guna lahan dan kondisi batuan permukaan bumi (litologi) untuk memperoleh peta risiko melalui rekayasa perangkat geomatika.

Kondisi dasar merupakan hasil simulasi muka air tanah pada kondisi curah hujan yang diambil pada September 1990 (Gambar 16) dan merupakan kondisi dasar (baseline) yang bertindak sebagai pembanding.

Gambar 16 – Peta risiko tanah longsor berdasarkan simulasi muka air tanah dengan data curah hujan September 1990

(24)

Simulasi muka air tanah yang sama dilakukan dengan data curah hujan bulan September namun dengan memasukkan aspek perubahan curah hujan (sebagai akibat perubahan iklim) dan perubahan tata guna lahan, sebagai gambaran perkiraan risiko tanah longsor di kemudian waktu pada bulan bersangkutan (Gambar 17).

2.5 Dampak Perubahan Iklim pada Sektor Pertanian

Dampak perubahan iklim pada ketersediaan air permukaan dibahas dengan cukup baik dan lengkap dalam laporan Ruminta dan Handoko (2012).

Laporan ini juga diawali dengan deskripsi ringkas mengenai kawasan Malang Raya yang mencakup Kota Batu, Malang dan Kabupaten Malang. Secara geografi dan hidro-morfologi, Malang Raya terdiri atas 12 Sub DAS, yakni: Konto, Brantas Hulu, Bango, Amprong, Metro, Lesti dan Lahor (yang seluruhnya masuk ke DAS Brantas) serta Glidik, Panguluran, Barek, Kondang Merak dan Donowari (masuk ke DAS di Pantai Selatan Jawa). Dalam deskripsi diberikan penjelasan ringkas dari segi geografi, hidrologi dan sosial-perekonomian.

2.5.1 Metode Analisis Dampak pada Sektor Pertanian

Baik Abdurahman et al (2013) maka Ruminta dan Handoko (2012) memakai metode analisis yang sama untuk menilai dampak perubahan iklim di kawasan Malang Raya.

Laporan ini mula-mula memberikan gambaran dari lokasi analisis, selanjutnya membangun kerangka pikir dari analisis. Fokus utama dari laporan ini adalah dampak perubahan iklim pada sektor pertanian, yang untuk kawasan Malang Raya cukup dominan, seluruhnya mendekati 47% dari tata guna lahan yang ada (baik pertanian lahan basah maupun kering).

Tabel 8 – Tata guna lahan di kawasan Malang Raya

No Tata Guna Lahan Luas Proporsi

Ha %

1 Pertanian lahan basah 53.356 16

2 Pertanian lahan kering 102.927 31

3 Perkebunan 19.578 6

4 Hutan 8.196 3

5 Tanah non-pertanian 71.646 22

6 Sungai, danau, pemukiman 72,917 22

Jumlah 328.620 100

Dampak perubahan iklim ditenggarai terjadi pada beberapa sektor utama yang mempengaruhi pertanian, seperti: ketersediaan air, banjir dan perubahan tutupan lahan yang mendorong proses pelepasan karbon serta erosi. Laporan dari Kementerian Pertanian (2010) dicuplik yang menyebutkan luas lahan pertanian yang terganggu oleh banjir mencapai rata-rata 271.381 ha tahun-1 dengan luas puso mencapai 79.846 ha tahun-1; sedangkan lahan pertanian yang terganggu kekeringan mencapai rata-rata 303.641 ha tahun-1 dengan luas puso 58.489 ha tahun-1.

(25)

fenomena ini akan semakin kuat dan berpengaruh di kawasan sekitar khatulistiwa.

Penggerak keikliman mencakup perubahan suhu udara yang berpengaruh pada curah hujan dan penguapan. Skenario perubahan yang dipergunakan adalah AR-4 dari International Panel on Climate Change (IPCC). Adapun penggerak non-keikliman adalah penambahan penduduk, perubahan tata guna lahan, kebutuhan air, ketersediaan sumber air dan perkembangan kesejahteraan.

Analisis di dalam dokumen ini menekankan pengetahuan akan dua aspek perubahan iklim pada tingkat regional yakni: (a) ancaman bahaya (hazard) yang timbul dan (b) kerentanan (vulnerability) yang dapat terjadi. Ancaman bahaya (hazard) maupun kerentanan untuk pertanian di kawasan Malang Raya diidentifikasikan sebagai: kekeringan dan banjir.

2.5.2 Ancaman Bahaya pada Sektor Pertanian

Beberapa ancaman pada sektor pertanian yang ditengarai dalam dokumen ini, yakni:

1. Semakin tinggi intensitas curah hujan dengan peluang kejadian hujan yang semakin sporadis menyebabkan lahan pertanian terendam genangan air dan dapat menggagalkan panen pada lahan pertanian basah. Curah hujan di kawasan Malang Raya umumnya terpusat pada sejumlah bulan dalam setahun, sehingga pada lahan pertanian kering terjadi ancaman kekeringan akibat tidak tersebarnya curah hujan sesuai musimnya.

2. Perubahan awal dan akhir musim hujan menyebabkan proses pertanian terganggu variabilitas iklim yang ada. Pada kawasan pertanian lahan kering seperti di Kecamatan Donomulyo, Bantur, Gedangan, Sumbermanjing, Pagak, Ampelgading dan Poncokusumo di Kabupaten Malang, perubahan awal dan akhir musim hujan ditenggarai menyebabkan penurunan panen.

3. Musim hujan pada saat-saat tertentu dipengaruhi oleh fenomena iklim El-Niño yang menyebabkan panjang musim berkurang secara signifikan. Makin pendeknya musim hujan menyebabkan masa pembibitan dan penanaman pada lahan basah maupun lahan kering akan berkurang. Akibatnya, petani cenderung memilih komoditi pertanian dengan usia pertumbuhan yang pendek, seperti palawija, seperti yang ditelaah terjadi di Kecamatan Donomulyo, Bantur, Gedangan, Sumbermanjing dan Poncokusumo di Kabupaten Malang.

4. Perubahan tata ruang menyebabkan lahan pertanian teknis yang dilayani air irigasi semakin berkurang oleh karena dirubah menjadi lahan non-pertanian (untuk pemukiman dan lain sebagainya). Hal ini menyebabkan infrastruktur pengairan yang telah disediakan untuk menjamin air irigasi menjadi kurang bermanfaat bagi sektor pertanian. Hal ini diamati terjadi pada Kecamatan Kedungkandang, Sukun, Blimbing dan Lowokwaru di Kota Malang, serta Kecamatan Junrejo dan Bumiaji di Kota Batu.

(26)

Gambar 18 – Kerangka berpikir untuk analisis terhadap ancaman bahaya perubahan iklim pada sektor pertanian

A. Penurunan Produktifitas

Secara umum, produksi dari suatu produk tanaman merupakan hasil perkalian dari produktifitas (Y) dengan luas tanam (A):

=�� (5)

Di mana:

G : produksi pertanian (ton);

Y : produktifitas pertanian (ton ha-1); A : luas tanam (ha).

Perubahan iklim dapat mengancam sektor pertanian dalam bentuk penurunan produktifitas (Y). Penurunan produktifitas itu sendiri dapat dinyatakan dalam fungsi matematika:

∆�! =��� ∆�!!,∆�!!,∆�!! (6)

Di mana:

ΔYp1 : penurunan produktifitas akibat perubahan evapotranspirasi tanaman

(ton ha-1);

ΔYp2 : penurunan produktifitas akibat perubahan usia tanam (ton ha-1); ΔYp3 : penurunan produktifitas akibat kekeringan.

Adapun penurunan produktifitas akibat perubahan evapotranspirasi (ΔYp1)

dapat ditulis sebagai:

∆�!!=�!× �!"−�!"! (7) Di mana:

Y0 : produktifitas sebelum terjadi perubahan iklim (ton);

Q10O : hasil bagi (quotient) suhu udara rerata sebelum terjadi perubahan

iklim;

Q10 : hasil bagi (quotient) suhu udara rerata setelah perubahan iklim.

(27)

∆�!!=�!×

!!!!!

!!!! (8)

Di mana:

Y0 : produktifitas sebelum terjadi perubahan iklim (ton);

T0 : suhu udara awal (°C);

T : suhu udara setelah perubahan iklim (°C); Tb : suhu basal tanaman (°C).

Selain dari kenaikan suhu udara akibat perubahan iklim, dampak lain yang dirasakan sektor pertanian adalah perubahan curah hujan. Perubahan curah hujan ini dapat dianggap berupa penurunan yang berpeluang menimbulkan kekeringan. Sehingga penurunan produktifitas akibat kekeringan (ΔYp3) dapat

ditulis:

∆�!!=�×∆� (9)

Di mana:

k : parameter karakter penurunan produktifitas (ton ha-1 mm-1);

ΔP : perubahan curah hujan (mm musim-1).

B. Penurunan Luas Panen

Perubahan iklim akan mempengaruhi luas panen karena perubahan evapotranspirasi akan menyebabkan kebutuhan air meningkat. Dengan menganggap bahwa luas lahan yang dapat diberi air irigasi berbanding terbalik dengan kenaikan nilai evapotranspirasi maka potensi penurunan luas lahan pertanian beririgasi akibat perubahan iklim adalah:

∆�!!=�!× 1−

!"! !"!!

(10)

Di mana:

ΔAP1 : potensi penurunan luas lahan pertanian beririgasi akibat

meningkatnya evapotranspirasi (ha); A0 : luas lahan irigasi awal (ha);

ETP : evapotranspirasi potensial setelah terjadi kenaikan suhu udara (mm

bulan-1);

ETP0 : evapotranspirasi potensial sebelum terjadi kenaikan suhu udara

(mm bulan-1).

Adapun penurunan luas pertanian akibat menurunnya curah hujan sebagai akibat perubahan iklim dapat didekati dengan persamaan:

∆�!!=�×∆� (11)

Di mana:

ΔAP2 : potensi penurunan luas lahan pertanian akibat penurunan curah

hujan (ha);

c : parameter yang menjadi karakter penurunan luas tanam (ha mm-1);

ΔP : perubahan curah hujan selama masa bercocoktanam (mm).

C. Penurunan Produksi

Dampak dari perubahan iklim pada produksi padi dengan menggunakan lahan yang diairi secara teknis, dinyatakan dalam penurunan panen (ΔYa). Penurunan

(28)

dengan peningkatan kebutuhan air tanaman (ΔAP1) namun tidak berhubungan

secara langsung dengan curah hujan (ΔAp2). Penurunan produksi padi dari

lahan yang diairi secara teknis (irigasi) akibat kenaikan suhu udara dan penurunan curah hujan dinyatakan dengan persamaan:

∆�

!=∆�!!×�!"+∆�!!×�!" (12)

Di mana:

ΔG1 : penurunan produksi padi (ton);

ΔYa1 : penurunan produktifitas padi pada lahan beririgasi (ton ha-1);

A01 : luas lahan yang dilayani irigasi (ha);

ΔAP1 : penurunan luas lahan pertanian karena kenaikan suhu udara (ha);

Y01 : produktifitas padi pada lahan yang diairi sebelum terjadi kenaikan

suhu udara (ton ha-1).

Sebaliknya, penurunan produksi padi dari lahan pertanian tadah hujan (rainfed) lebih diakibatkan perubahan luas tanam karena penurunan curah hujan (ΔAP2)

dibandingkan perubahan serupa akibat perubahan suhu udara (ΔAP1).

Sehingga, persamaan untuk menyatakan penurunan produksi padi dari lahan tadah hujan adalah:

∆�

!=∆�!!×�!"+∆�!!×�!" (13)

Di mana:

ΔG2 : penurunan produksi padi (ton);

ΔYa2 : penurunan produktifitas padi pada lahan tadah hujan (ton ha-1);

AO2 : luas lahan tadah hujan (ha);

ΔAP2 : penurunan luas lahan pertanian oleh karena perubahan curah hujan

(ha);

YO2 : produktifitas padi pada lahan tadah hujan sebelum terjadi

perubahan curah hujan (ton ha-1).

2.5.3 Kerentanan pada Sektor Pertanian

Kerentanan sektor pertanian terhadap perubahan iklim dimodelkan sebagai fungsi dari derajat paparan (exposure) dikalikan kepekaan (sensitivity) terhadap kapasitas adaptasi (adaptive capacity). Kerangka pikir dari kerentanan terhadap pemodelan ini dapat digambarkan secara skematis sebagaimana Gambar 19 berikut.

(29)

Secara matematika, skema ini dapat ditulis sebagai fungsi dari:

= !,!

!" (14)

Di mana:

V : kerentanan (vulnerability) E : derajat paparan (exposure) S : kepekaan (sensitivity)

AC : kapasitas adaptasi (adaptive capacity)

Analisis kerentanan pada sektor pertanian disajikan secara spasial menggunakan fasilitas geomatika (geographical information system).

2.5.4 Analisis Risiko Perubahan Iklim di Sektor Pertanian

Dalam sektor pertanian konsep risiko dapat dipahami sebagai kemungkinan terjadinya kerugian yang dinyatakan dalam penurunan produksi komoditi tertentu yang membahayakan (contohnya: komoditi pangan). Ancama bahaya semacam ini akan menjadi risiko jika dikalikan dengan kerentanan yang mengancam sektor pertanian itu sendiri.

Persamaan untuk menggambarkan konsep ini dapat dinyatakan sebagai berikut:

�=�� (15)

Di mana:

R : risiko

H : ancaman bahaya (hazard) V : kerentanan (vulnerability)

Kerangka pikir dari risiko ini dapat digambarkan secara skematis sebagaimana Gambar 19 berikut.

Gambar 20 – Skema dari analisis risiko

(30)

III.

Sintesis Buku Pedoman dengan Dokumen Pelaporan

Kekuatan buku pedoman «Climate Change Handbook for Regional Water Planning» adalah membawa persoalan perubahan iklim dari skala yang lebih tinggi (global) ke suatu pemahaman dan penerapan pada skala lebih rendah (tingkat regional). Perubahan skala yang disebut down-scaling ini membantu bagi para birokrasi, teknokrat dan praktisi di bidang sumberdaya air untuk secara langsung memahami hubungan antara perubahan iklim dengan praktik pengelolaan sumberdaya air yang dilakukan.

Contoh yang diberikan cukup banyak dan bukunya tersusun dengan baik. Banyak metode analisis yang diberikan.

3.1 Relevansi Buku Pedoman dengan Dokumen Laporan

Bila dihubungkan dengan dokumen laporan dari Abdurahman et al (2012) dan Ruminta dan Handoko (2012) maka terdapat sejumlah relevansi yang dapat diulas sebagai berikut:

1. Buku pedoman «Climate Change Handbook for Regional Water Planning» memberi penekanan bahwa segala analisis yang berhubungan upaya mengkonstruksikan kegiatan untuk adaptasi dan mitigasi bencana akibat perubahan iklim harus berangkat dari analisis sektor yang memadai, dengan melibatkan data serta metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan. Penekanan ini sudah terjawab dalam dokumen laporan yang disusun Abdurahman et al (2012) dan Ruminta dan Handoko (2012) yang mana membangun kerangka berpikir atas aspek ancaman bahaya serta kerentanan, untuk menghitung dan menyajikan secara spasial berbagai risiko yang menyertai perubahan iklim pada sektor keairan dan pertanian.

2. Berkaitan dengan risiko, buku pedoman «Climate Change Handbook for Regional Water Planning» telah merujuk bahwa fungsi dari ancaman bahaya dan kerentanan merupakan dasar dalam pengambilan keputusan untuk berbagai tindakan adaptasi maupun mitigasi dampak dari perubahan iklim.

(31)

b. Menggunakan cara pembahasan yang sama Rukminta dan Handoko (2012) membahas berbagai bahaya dan kerentanan yang terkait dengan sektor pertanian di kawasan Malang Raya. Meskipun tidak seluruhnya mencakup DAS Brantas yang menjadi titik perhatian dari pembahasan dalam makalah ini, namun secara komprehensif dapat dinilai bahwa mereka berhasil menyusun dokumen laporan yang impresif mengenai variabilitas sektor pertanian akibat perubahan iklim. Pemodelan secara matematika terhadap ancaman bahaya dan kerentanan di sektor pertanian akibat perubahan iklim, cukup memberikan gambaran kuantitatif mengenai apa yang akan dan berpotensi untuk terjadi.

3. Secara menyeluruh, buku pedoman «Climate Change Handbook for Regional Water Planning» dapat dianggap bersesuaian secara kerangka pikir dengan dokumen laporan dari Abdurahman et al (2012) dan Ruminta dan Handoko (2012).

4. Tanggapan kritis terhadap kedua dokumen laporan ini dalam perspektif buku pedoman «Climate Change Handbook for Regional Water Planning» dapat digambarkan sebagai berikut:

a. Metodologi yang dipakai sudah bersesuaian dan uniknya kedua dokumen laporan ini membahas kawasan Malang Raya seperti halnya buku pedoman «Climate Change Handbook for Regional Water Planning» yang mengacu pada kawasan regional di dalam satuan administrasi Negara Bagian Kalifornia. Meski pembahasan dampak iklim sudah dilakukan pada satuan sumberdaya air terkecil yakni Sub-sub DAS di dalam kawasan Malang Raya, namun «potret utuh» yang melihat dampak perubahan kesatuan hidrologi tidak diperoleh. Keterpisahan ini tampaknya dalam hal – misalnya – tidak dibahasnya DAS sebagai kesatuan dengan cengkungan air tanah (CAT) yang sebenarnya berperan cukup besar sebagai recharge zone dari air permukaan di suatu wilayah.

b. Baik Abdurahman et al (2012) maupun Ruminta dan Handoko (2012) telah menunjukkan ancaman bahaya, kerentanan dan akhirnya risiko yang dapat muncul akibat perubahan iklim pada sektor keairan dan pertanian, serta melanjutkan pembahasan sampai pada tataran strategi untuk menangani. Rekomendasi di dalam «Climate Change Handbook for Regional Water Planning» mengharapkan bahwa analisis yang berkembang tidak saja berhenti pada strategi saja, namun lebih maju lagi menunjukkan tindakan struktural dan kelembagaan apa yang dapat ditempuh dalam kerangka pengembangan kewilayahan, sebagai jawaban atas perubahan iklim.

3.2 Praktek Baik (Good Practices) di DAS Brantas 3.2.1 Mitigasi Perubahan Iklim di DAS Brantas

(32)

tidak merusak. Metode ini telah diterapkan di DAS Brantas Hulu secara sistematis dan berdasarkan data BPDAS (2011) diketahui sasaran kegiatan penanaman pohon ini di wilayah DAS Brantas Hulu mencapai 30,96 km2 untuk kawasan hutan dan 127,64 km2 di kawasan berhutan.

Pengendalian degradasi lahan tidak dapat dipisahkan dari pola pengelolaan sumberdaya alam yang dilakukan masyarakat di dalam DAS. Sekitar 38% dari lahan di wilayah DAS Brantas dimanfaatkan untuk keperluan pertanian, baik secara intensif maupun semi-intensif (perladangan). Dengan demikian, pengelolaan sumberdaya lahan – khususnya oleh para petani – memainkan peranan penting.

3.2.2 Adaptasi Perubahan Iklim di DAS Brantas

Beberapa cara beradaptasi terhadap perubahan iklim dalam lingkup di Indonesia, sudah dilakukan baik secara terpisah maupun bersama-sama oleh berbagai pihak, baik yang mewakili unsur pemerintah maupun masyarakat, pada berbagai tingkatan.

A. Penghematan Bahan Bakar Fosil

Penghematan bahan bakar fosil masih merupakan salah satu cara adaptasi yang diupayakan semakin berkembang. Ada beberapa penahapan dalam pengurangan pemakaian bahan bakar fosil, yang dimulai dari penggunaan biomassa kelas rendah berupa kayu bakar/arang, kotoran hewan dan bahan lainnya untuk keperluan memasak, memanaskan diri dan pembangkitan energi lainnya; pengolahan gas metan dari sampah dan limbah biologis; sampai ke penggunaan kombinasi etanol dan minyak nabati untuk menggantikan (seluruh atau sebagian) bahan bakar minyak seperti gasoline dan gasoil. Sumber dari etanol dan minyak nabati berasal dari olahan umbi-umbian, sagu, dan tebu, ataupun kelapa, sawit, jarak (Jatropha ponghomia) dan lain-lain.

B. Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT)

[image:32.595.112.456.567.715.2]

Pemerintah Republik Indonesia (RI) telah menyanangkan perluasan EBT untuk berbagai keperluan pemenuhan energi negeri ini. Peraturan Presiden RI No 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional menyanangkan pada tahun 2025 komposisi pemanfaatan energi di negeri ini akan berubah dengan memperbesar peran EBT menjadi 17% dari seluruh mix-energy (ESDM, 2012).

Tabel 9 - Potensi pembangkitan listrik di DAS Brantas

Nama Lokasi Wilayah Administrasi Potensi Kapasitas

MW

Lesti III Kab. Malang 12,6

Karangkates IV-V Kab. Malang 80,6

Kesamben Kab. Blitar 26,0

Lodagung Kab. Blitar 0,9

Lodoyo II Kab. Blitar 4,5

Wangi Kab. Tulungagung 7,0

Mrican Kab. Kediri 2,7

Mlirip Kab. Sidoarjo 1,0

Menturus Kab. Jombang 1,4

Jatimlerek Kab. Jombang 1,5

(33)

Potensi pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk keperluan pembangkitan listrik sebaliknya sudah cukup berkembang di DAS Brantas. Potensi tenaga air sebagai prime mover untuk membangkitkan listrik cukup besar. Seluruh kapasitas pembangkitan listrik dari tenaga air di DAS Brantas adalah 270,6 M-Watt, namun dengan potensi limpasan permukaan yang besar di sungai-sungai maka masih terdapat potensi tambahan kapasitas sebesar 138,2 M-Watt. Potensi limpasan yang dapat dipergunakan membangkitkan listrik adalah sebagaimana Tabel 9.

Di luar dari potensi pembangkitan listrik dari sumber tenaga air, masih terdapat potensi energi baru dan terbarukan (EBT) di DAS Brantas yang cukup signifikan seperti dari angin, matahari, biomassa dan energi pasang-surut.

Potensi angin di Indonesia untuk membangkitkan listrik cukup baik walau persebaran potensinya tidak merata (Martosaputro, 2012). Daya terpasang dari pembangkit listrik tenaga angin di Indonesia seluruhnya baru sebesar 0,34 M-Watt (PLN, 2012). Untuk DAS Brantas, potensi tenaga angin telah ditinjau beberapa kali (ESDM, 2012); namun belum dilakukan pembangunan pembangkit secara komersial. Musyafa et al (2011) menunjukkan di Provinsi Jawa Timur ada dua lokasi (yakni Kecamatan Sawahan Kabupaten Nganjuk dan pantai timur Kabupaten Sidoarjo) yang memiliki potensi ekonomis sebesar masing-masing 1 M-Watt daya terpasang per-titik.

C. Pemanfaatan Bahan Pangan Setempat

Strategi memanfaatkan bahan pangan setempat bertujuan mengurangi tran

Gambar

Gambar 1 – DAS Brantas di Provinsi Jawa Timur
Gambar 2 – Infrastruktur pengairan yang dibangun di DAS Brantas untuk layanan air
Gambar 3 – Simulasi terhadap ancaman bahaya kekeringan untuk tahun dasar 2010
Gambar 5 – Hasil analisis berupa peta ancaman bahaya banjir kawasan Malang Raya
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini ditujukan untuk memprediksi dampak perubahan iklim terhadap produksi, pasokan, permintaan, dan harga komoditas pertanian utama; bukan hanya pada sub sektor

Makalah ini membahas dampak perubahan iklim terhadap sumberdaya air di Indonesia melalui identifikasi dengan data dan fakta empirik terjadinya tren perubahan curah hujan

Indikator dampak perubahan iklim antara lain peningkatan curah hujan, suhu, kelembapan, intensitas cahaya matahari, angin. Perubahan iklim mempengaruhi sektor

Pada tahun 2012 pertanian di Indonesia masih dihadapkan pada tantangan berat antara lain: (1) dampak perubahan iklim pada sektor pertanian berupa: meningkatnya serangan OPT dan

Pada tahun 2015 pertanian di Indonesia masih dihadapkan pada tantangan berat antara lain: (1) dampak perubahan iklim pada sektor pertanian yang berdampak pada menurunnya

(2011) menyatakan bahwa dampak perubahan iklim global terhadap sektor pertanian dibedakan menjadi: (1) dampak yang bersifat kontinu, berupa kenaikan suhu udara,

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pertanian sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim dengan indikasi level bahaya yang tinggi pada penurunan produksi

Dampak yang terlihat akibat dari perubahan iklim pada sektor tanaman padi adalah menurunnya hasil produksi tanaman padi karena perubahan iklim yang tidak sesuai dengan syarat tumbuh