• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Pola Pengasuhan Anak Berbasis Keluarga Di Save Our Soul ( Sos ) Children’s Villages Desa Taruna Jakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Implementasi Pola Pengasuhan Anak Berbasis Keluarga Di Save Our Soul ( Sos ) Children’s Villages Desa Taruna Jakarta"

Copied!
154
0
0

Teks penuh

(1)

DESA TARUNA JAKARTA

(Studi Kasus Keluarga Dampingan Save Our Soul (SOS) Di Desa

Tegallangkap, Bogor)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Sosial (S. Sos)

Oleh:

ACHMAD KAMAL FIRDAUS

NIM: 1110054100023

PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) JAKARTA

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)

i

Implementasi Pola Pengasuhan Anak Berbasis Keluarga di Save Our Soul (SOS) Children’s Village Desa Taruna Jakarta (Studi Kasus Keluarga Dampingan Save Our Soul (SOS) di Desa Tegallangkap Bogor)

SOS Children’s Village Desa Taruna Jakarta merupakan lembaga yang

menerapkan pengasuhan berbasis keluarga dimana anak diasuh oleh orang tua kandung sendiri, SOS CV – FSP Bogor hanya memberikan pemahaman dan penguatan keluarga karena banyak keluarga yang tidak memliki pengetahuan tentang pengasuhan dan mempunyai pemikiran-pemikiran yang tidak dapat membuat keluarga tersebut maju. Selain itu ada nya santunan yang diberikan oleh SOS CV – FSP Bogor berupa Bantuan Sarana Pendidikan atau BSP yang diberikan kepada keluarga dampingan untuk meringankan beban keluarga dampingan tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa implementasi pola

pengasuhan anak berbasis keluarga di SOS Children’s Village Desa Taruna Jakarta

(studi kasus keluarga dampingan SOS di Desa Tegallangkap Bogor).

Adapun metode yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini dengan pendekatan kualitatif, tehnik pengumpulan data dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan tujuh informan, dimana informan utama terdiri dari tiga informan, orang tua, anak yang mendapatkan bantuan, anak yang tidak mendapatkan bantuan dan empat informan satu edukater SOS CV – FSP Bogor, relawan, tetangga, dan teman bermain serta kesimpulan akhir menggunakan triangulasi.

SOS Children’s Village Desa Taruna Jakarta didirikan untuk mewujudkan gagasan Ibu Tien Soeharto yang menjadi pelindung pada Yayasan SOS Children’s Village Desa Taruna Jakarta. Berdirinya SOS Children’s Village merupakan hasil

kerja sama antara Karya Bhakti Ria Pembangunan dengan Yayasan SOS

Children’s Village. SOS Children’ Village mempunyai dua tipe program yang

berbeda, diantaranya : (a) Lingkungan Keluarga Pengganti (Family-Based Care) (b) Program Penguatan Keluarga (Family-Strenghening Programme).

(6)

ii

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Rasa syukur yang teramat dalam dipersembahkan kepada Allah SWT atas rahmat serta karunia-Nya saya masih bisa diberi kekuatan untuk menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan curahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabat dan kepada umatnya hingga akhir zaman.

Skripsi ini diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar sarjana sosial (S.Sos). Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini sulit untuk dapat terwujud tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dan membimbing penyusunan skripsi ini, diantaranya:

1. Dr. Arif Subhan, MA. selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi. 2. Suparto, M. Ed, Ph.D selaku Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas

Dakwah dan Ilmu Komunikasi.

3. Dr. Roudhonah, MA. selaku Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi.

4. Dr. Suhaimi, M. Si. selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi.

(7)

iii

6. Nurhayati Nurbus, M. Si. selaku Dosen pembimbing skripsi yang telah tulus ikhlas membantu meluangkan waktu, tenaga pikiran dan dengan sabar membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 7. Ferry Harianto, SH selaku ketua Diretur FSP Bogor yang telah banyak

membantu dalam penelitian di Tegallangkap Bogor.

8. Martin Trianto, S. Kom selaku ketua Educater FSP Bogor yang telah banyak membantu dan membimbing dalam penelitian di Tegallangkap Bogor.

9. Para relawan FSP Bogor yang telah banyak membantu dalam penelitian di Tegallangkap Bogor.

10.Para pengurus FSP Bogor yang telah membantu dalam penelitian di Tegallangkap Bogor.

11.Kedua Orang Tua tercinta H. Abdullah dan Hj. Suamiati serta kakak-kakakku Ana Auliawati dan Achmad Lutfhi Irfansyah serta kakak iparku yang telah banyak memberikan semangat dan motivasi untuk saya, dan atas doanya kepada Allah SWT dan kasih sayangnya.

12.Kepada Fajar Wahyu Utami S. Ikom yang selalu memberikan motivasi, semangat, doa setiap harinya untuk menyelesaikan skripsi ini.

(8)

iv

15.Serta seluruh pihak yang telah membantu secara moril maupun materil sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan .

Penulis senantiasa memanjatkan doa untuk kalian semua teman-teman dari Kesejahteraan Sosial semoga kelak kita dapat kembali dipertemukan dengan kesuksesan yang telah kita raih, Aamiin. Penulis menyadari terdapat berbagai kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Namun penulis berharap semoga hasil yang disajikan dapat bermanfaat.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Jakarta, 18 Agustus 2015

(9)

v

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 10

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 11

D. Metodologi Penelitian ... 12

E. Tinjauan Pustaka ... 17

F. Sistematika Penulisan ... 18

BAB II LANDASAN TEORI A. Keluarga dan Anak. ... 20

1. Definisi Keluarga ... 20

2. Fungsi Keluarga ... 21

3. Peranan Keluarga ... 24

4. Definisi Anak ... 26

5. Periode Perkembangan Anak ... 29

B. Pengasuhan ... 31

1. Definisi Pengasuhan ... 31

(10)

vi

6. Pola Pengasuhan Menurut SOS CV-FSP Bogor.. 43

C. Pendidikan ... 44

1. Definisi Pendidikan ... 44

2. Tujuan Pendidikan ... 46

3. Pendidikan Menurut SOS CV-FSP Bogor ... 46

BAB III GAMBARAN UMUM LEMBAGA A. Sejarah Singkat Lembaga ... 48

B. Profil Lembaga ... 49

C. Visi SOS Children’s Village ... 51

D. Misi SOS Children’s Village... 52

E. Program Lembaga... 53

F. Sasaran Utama SOS CV – FSP Bogor... 54

G. Sruktur Lembaga SOS CV – FSP Bogor... 54

H. Gambaran Umum Desa Tegallangkap... 55

BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS DATA A. Informan Penelitian... ... 57

1. Data Informan Utama ... 57

2. Data Informan Pendukung... 58

B. Pola Pengasuhan Anak Dampingan SOS ... 60

C. Faktor Pendorong dan Penghambat. ... 75

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 88

B. Saran ... 90

DAFTAR PUSTAKA ... 91

(11)

vii

(12)

viii

1. Surat Bimbingan Skripsi 2. Surat Izin Penelitian

3. Surat Keterangan Penelitian dari SOS Children’s Village 4. Pedoman Observasi

5. Transkrip Observasi 6. Pedoman Wawancara 7. Transkrip Wawancara

8. Kuitansi Bantuan Sarana Pendidikan Keluarga Dampingan SOS

Children’s Village

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Anak merupakan penting untuk masa depan bangsa yang harus dilindungi oleh berbagai pihak, baik dari lingkup terkecil keluarga, masyarakat, maupun negara. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.1 Perlindungan ini harus dilakukan karena anak sebagai asset penting suatu negara memerlukan pembekalan yang cukup untuk mengarungi hidupnya saat dewasa kelak. Karena awal pembangunan dari suatu bangsa, pada dasarnya bersumber pada seorang anak. Jika anak tersebut telah memiliki pembekalan yang cukup saat dia masih kecil, baik pembekalan jasmani, rohani, dan sosial niscaya saat dia besar nanti, dia akan menjadi tulang punggung suatu negara dalam kemajuan pembangunan nasional maupun pembangunan sosial.

Dalam Undang-undang No. 23 tahun 2002 Pasal 1 Ayat 2 tentang

Perlindungan Anak yaitu: “Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk

menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.

1

(14)

Di dalam Undang-undang tersebut telah diatur tentang hak anak, pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara untuk memberikan perlindungan pada anak. Tetapi dalam hal ini tidak semua anak di Indonesia mendapatkan perlindungan yang layak, sehingga anak kurang memiliki pembekalan yang cukup selama dia berproses dewasa. Ada saja permasalahan-permasalahan anak yang membuat seorang anak menjadi tidak bisa tumbuh dengan jasmani dan rohani yang sehat. Ada contoh kasus di Indonesia yang mencatat tentang permasalahan anak. Contoh kasus di Jawa Barat, Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat mencatat ada sekitar 851.433 anak yang memiliki masalah sosial. Anak bermasalah sosial di antaranya adalah anak yatim, piatu, dan yatim piatu, anak terlantar, anak yang tidak mampu melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, anak cacat, anak jalanan, serta anak yang bermasalah dengan hukum. Usia anak yang paling rentan terkena masalah sosial adalah 15-18 tahun. Anak pada usia tersebut banyak yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Akibatnya mereka menjadi anak-anak yang sangat rentan dengan permasalahan sosial.

Dalam hal ini, anak terlantar merupakan salah satu permasalahan sosial anak yang sampai saat ini masih belum bisa terpecahkan. Secara teoritis, penelantaran adalah sebuah tindakan baik disengaja maupun tidak disengaja yang membiarkan anak tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya seperti sandang, pangan, dan papan.2 Seorang anak dikatakan terlantar, tidak hanya karena ia sudah tidak memiliki salah satu orang tua atau kedua orang tuanya, tetapi juga dapat diartikan ketika hak-hak anak untuk tumbuh dan berkembang secara wajar, untuk

2

(15)

memperoleh pendidikan yang layak, dan untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai, tidak terpenuhi karena kelalaian, ketidakmengertian orang tua, ketidakmampuan atau kesengajaan. Seorang anak yang kelahirannya tidak dikehendaki, misalnya mereka umumnya rawan untuk ditelantarkan atau bahkan diperlakukan salah.3

Agar anak kelak dapat berpartisipasi penuh dalam pembangunan, maka kebutuhan mereka akan kesejahteraan harus terpenuhi dengan baik. Di sinilah sesungguhnya peran keluarga, lingkungan, dunia pendidikan, dan lebih khusus lagi peran orang tua sangat besar dalam mengembangkan kecerdasan anak.4 Dalam hal ini orang tuanya lah yang pertama dan utama berkewajiban untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagi si anak dalam memenuhi kebutuhan yang bersifat fisik seperti penyediaan kebutuhan sandang, pangan dan papan serta pengembangan kecerdasan yang dimiliki anak. Selain itu juga pemenuhan kebutuhan rohani berupa pemberian kasih sayang dan perhatian yang tulus serta perlindungan yang akan menimbulkan rasa aman dan dikasihi. Dalam hal ini perasaan aman muncul bagi seseorang anak tergantung sepenuhnya pada kasih sayang dan pengasuhan yang terutama sekali diperlukan oleh anak sebagai jaminan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Selain pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani seperti yang telah disebutkan, terdapat kebutuhan yang tidak kalah pentingnya yaitu kebutuhan sosial. Kebutuhan sosial adalah penanaman nilai-nilai yang berlaku dalam keluarga dan masyarakat sesuai dengan yang diharapkan.

3

Ibid, h. 213.

4

Akhmad Muhaimin Azzet, Mengembangkan Kecerdasan Sosial bagi Anak

(16)

Dalam keadaan keluarga normal semua kebutuhan bisa dipenuhi oleh keluarganya, namun tidak setiap keluarga dapat berfungsi dengan baik. Keluarga yang hubungan suami istrinya tidak harmonis, keluarga yang suami atau istri atau keduanya meninggal akan menimbulkan masalah bagi si anak. Begitu pula kemiskinan yang menyebabkan keluarga tidak mampu menyediakan kebutuhan-kebutuhan anak, oleh karena itu pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi terganggu. Ketidak mampuan orang tua atau keluarga menjalankankan fungsinya menyebabkan apa yang disebut sebagai masalah keterlantaran, yang bahkan sering diiringi dengan masalah-masalah penyimpangan tingkah laku.

Perkembangan diri anak sangat dipengaruhi pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Baik pada orang tua yang bekerja maupun orang tua yang tak bekerja akan memberi pengaruh secara bermakna terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.

Permasalahan anak yang saat ini cukup memprihatinkan dan perlu mendapatkan perhatian. Jika ditelusuri penyebab keterlantaran anak dalam hal pengasuhan dan pendidikan adalah disebabkan karena keluarga yang mengalami disfungsi, dimana salah satu atau kedua orang tua dari anak tidak dapat berfungsi dengan baik dikarenakan berbagai faktor yang tidak mendukung.

(17)

terlantar baik secara rohani, jasmani, dan sosial.5 Begitu juga jika anak sudah tidak memiliki orang tua (anak yatim piatu), maka anak tersebut dapat dipastikan tidak akan menjadi anak yang sejahtera, bahkan menjadi terlantar jika tidak ada yang bertanggung jawab untuk memnuhi kebutuhan hiupnya, baik kebutuhan jasmani, rohani, maupun sosial.

Anak-anak yatim piatu dan anak terlantar sebagai dua permasalahan sosial anak, membutuhkan orang-orang atau Lembaga (panti atau yayasan) yang mapan sebagai tempat untuk berlindung dan berkembang menjadi anak-anak yang kemudian hari akan memimpin negara. Hal ini sesuai dengan Elizabethan Poor Law yang dikeluarkan pada tahun 1601 men cakup tiga kelompok penerima bantuan6:

1. Orang-orang miskin yang kondisi fisiknya masih kuat (the able-bodied poor).

2. Orang-orang miskin yang kondisi fisiknya buruk (the impotent poor). 3. Anak-anak yang masih bergantung pada orang yang lebih mapan

(Dependent Children).

Dari ketiga kelompok bantuan tersebut, jelas sekali bahwa anak-anak terlantar termasuk di dalam kelompok tiga, yaitu kelompok anak-anak yang masih bergantung pada orang yang lebih mapan (Dependent Children). Dalam hal ini, orang-orang atau Lembaga (panti atau yayasan) yang telah mapan memegang

5

Ahmad Kamil, M.Fauzan, Hukum perlindungan dan Pengangkatan Anak di Indonesia,

Jakarta : PT Rajagrafindo Persada, 2008, h.49-50.

6

(18)

peranan penting untuk membantu anak-anak terlantar maupun anak yatim piatu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pada dasarnya pengasuhan dan perlindungan anak yang terbaik ialah anak yang diasuh dan dibesarkan bersama orangtua. Setiap anak berhak untuk diasuh oleh orangtua nya sendiri, kecuali jika ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukan bahwa pemisahan ini adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir (UU Perlindungan Anak Pasal 14). Alasan pemisahan anak dikarenakan orangtua tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar anak mereka.

Pengasuhan anak dalam keluarga yang harmonis merupakan salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama pada masa-masa kritis, yaitu usia 0-8 tahun. Kehilangan pola pengasuhan yang baik, misalnya perceraian, kehilangan orang tua, baik untuk sementara maupun selamanya, bencana alam, dan berbagai hal yang bersifat traumatis lainnya sangat mempengaruhi kualitas kesehatan fisik, emosi, mental, dan spiritual anak. Untuk itulah, diperlukan pihak-pihak yang peduli selain keluarga untuk memberikan pengasuhan yang terbaik untuk anak dan fokus terhadap kepentingan anak-anak, khususnya anak-anak terlantar dan anak yatim piatu.

(19)

oleh pemerintah maupun elemen masyarakat, salah satunya hadirnya profesi pekerja sosial dimaksudkan untuk membantu memecahkan permasalahan anak yang terjadi. Pekerja sosial merupakan sebuah profesi yang mengedepankan perubahan sosial, berfokus pada pemecahan masalah pada hubungan antar manusia, pemberdayaan, dan kesetaraan manusia untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.7 Kemudian melalui pendirian panti asuhan. Di Indonesia, saat ini Panti Sosial merupakan alternatif terakhir dalam menangani permasalahan anak terlantar. Dengan adanya Panti Sosial, anak terlantar bisa mendapatkan pelayanan-pelayanan sosial berupa pelayanan-pelayanan pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya.

Lembaga atau Panti Asuhan muncul sebagai salah satu institusi yang menangani anak terlantar dan termasuk dalam kelompok pelayanan pengganti. Digantikannya fungsi keluarga oleh panti asuhan apabila anak memang sudah tidak mempunyai orang tua lagi atau pun orang tua tidak dapat berfungsi dengan wajar.

Panti Asuhan sebagai pengganti orang tua atau keluarga diharapkan semaksimal mungkin memberikan pelayanan dan pengasuhan yang mendukung pemenuhan hak anak agar tercapainya kesejahteraan anak. Pelayanan yang harus diberikan oleh sebuah Panti Asuhan anak adalah pelayanan pengasuhan di Panti tersebut yang menciptakan suasana kehidupan dalam suatu keluarga. Hal ini akan memungkinkan terpenuhinya kebutuhan dasarnya, yang pada akhirnya memungkinkan anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara wajar, baik itu

7

Majalah Perlindungan Anak: Anak Kami, Perkembangan Program Perlindungan Anak

(20)

jasmani, rohani dan sosialnya. Dengan melaksanakan pengasuhan berbasis keluarga, diharapkan anak-anak terlantar yang menjadi anak asuh di panti tersebut dapat terpenuhi kebutuhan dasarnya. Namun ada kalanya di dalam perjalanan pemberian pelayanan sosial, pelayanan yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh anak asuh tersebut. Hal ini terjadi karena belum adanya panduan-panduan yang memastikan bahwa panti asuhan bisa memberikan kualitas pelayanan dengan baik.8

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Departemen Sosial, Save the Children dan Unicef tentang “Kualitas Pengasuhan di Panti Sosial Anak di

Indonesia pada tahun 2007”, mayoritas panti asuhan di Indonesia memberikan

pelayanan sosial dengan lebih mengedepankan dukungan terhadap pendidikan anak asuh tanpa terlalu memperhatikan pola pengasuhannya. Padahal anak asuh juga membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan dukungan psikoksosial bagi mereka dengan memperhatikan tumbuh kembang anak.9

Tetapi kenyataannya adalah, menurut Tata Sudrajat (seorang peneliti dari Save the Children), banyak panti asuhan yang memperlakukan anak asuh secara kolektif dalam pemberian pelayanan sosial, bukan secara individual dikarenakan tidak ada pekerja sosial yang mempunyai peran secara individual kepada anak.10 Ini yang membuat anak asuh tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya, karena sebenarnya kebutuhan dasar anak berbeda-beda.

8

Tim Peneliti Departemen Sosial RI, Save the Children, dan Unicef, DVD “ Seseorang

yang Berguna: Kualitas Pengasuhan di Panti Sosial Asuhan Anak di Indonesia”.

9

Ibid, h. 5.

10Ibid

(21)

Dari penelitian tersebut juga didapat hasil bahwa, mayoritas panti asuhan tidak melakukan asesmen terhadap kondisi keluarga anak asuh sebelum anak tersebut dimasukkan ke dalam panti asuhan, sehingga tidak diketahui apakah anak tersebut memang membutuhkan panti asuhan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya atau tidak, dan juga tidak diketahui apakah keluarganya masih mampu atau tidak untuk mengasuh anak tersebut.11

Dalam pengasuhan, anak-anak harus mendapatkan kasih sayang, layaknya orang tua yang menyayangi anaknya, oleh karena itu diperlukan pengasuh yang menggantikan peran orang tua untuk melakukan pengasuhan secara eksklusif. Penggunaan pola pengasuhan yang baik pada anak diharapkan mampu menjadikan mereka SDM yang berkualitas nantinya, dan dapat membangun bangsa kedepannya.

Salah satu Panti Asuhan anak yaitu SOS Children’s Villages Desa Taruna

Jakarta. SOS Children’s Villages Desa Taruna Jakarta adalah sebuah organisasi

independen non-pemerintah yang berkarya bagi anak-anak dengan pola pengasuhan anak jangka panjang berbasis keluarga. bertujuan untuk membantu, mengasuh, dan mengupayakan masa depan yang cerah bagi anak-anak yatim piatu, anak terlantar yang kurang beruntung. Anak-anak yang dibantu merupakan berbagai macam latar belakang, suku, agama, dan ras. Mereka mendapatkan kasih sayang di dalam sebuah keluarga dengan standar kehidupan yang layak agar kelak dapat tumbuh menjadi sosok anak yang mandiri.

11 Ibid

(22)

Mengingat sasaran utama pelayanan SOS Children’s Villages Desa Taruna Jakarta adalah anak-anak dan keluarga yang tidak mampu, maka perkembangan fisik maupun emosional anak tergantung sepenuhnya pada cara ibu pengasuh merawat anak-anaknya, serta sikap ibu pengasuh dalam membina hubungan atau membentuk ikatan emosional dengan anak-anak asuhnya. Sehingga diantara mereka dapat terjalin hubungan bagaikan ibu kandung dengan anak-anaknya sendiri. Lalu bagi keluarga yang tidak mampu akan mendapatkan bantuan serta dampingan keluarga yang rentan terhadap pengasuhan, pendidikan, dan kesehatan.

Dengan demikian berdasarkan uraian di atas, maka penulis merasa tertarik

dan ingin mengetahui lebih jauh usaha pelayanan di SOS Children’s Villages

Desa Taruna Jakarta ini, karena pelayanannya sangat berbeda dengan pelayanan di Yayasan atau Panti Asuhan lainnya, yaitu dengan menerapkan sistem pengasuhan berbasis keluarga. Untuk itu, penulis tertarik untuk meneliti sebuah penulisan skripsi dengan judul “Implementasi Pola Pengasuhan Anak Berbasis Keluarga

Di SOS Children’s Villages Desa Taruna Jakarta (Studi Kasus Keluarga

Dampingan SOS di Desa Tegallangkap, Bogor)”.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah

Mengingat terbatasnya waktu, dana dan demi terfokusnya pikiran maka peneliti membatasi masalah pada pola pengasuhan di keluarga

dampingan SOS Children’s Villages untuk membantu keluarga dan anak asuh

(23)

2. Perumusan Masalah

Agar perumusan masalah lebih terarah dan terfokus, Maka penulis membuat rumusan masalah secara garis besar, yaitu:

a. Bagaimana pola pengasuhan anak dalam keluarga dampingan SOS di Desa Tegallangkap, Bogor?

b. Apa saja faktor pendorong & penghambat pada pola pengasuhan anak dalam keluarga dampingan SOS di Desa Tegallangkap, Bogor?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keluarga

dampingan SOS Children’s Villages:

a. Untuk mengetahui pelaksanaan pola pengasuhan anak dalam keluarga dampingan SOS di Desa Tegallangkap, Bogor.

b. Untuk mengetahui faktor pendorong & penghambat yang ditemui saat pelaksanaan pengasuhan dalam keluarga dampingan SOS di Desa Tegallangkap, Bogor.

D. Manfaat Penelitian a. Secara Praktis

Diharapkan dari penelitian ini dapat bermanfaat bagi para pembaca umumnya dan bagi peneliti khususnya serta para calon pekerja sosial agar mendapatkan gambaran umum tentang implementasi pola pengasuhan anak

berbasis keluarga di SOS Children’s Villages Desa Taruna Jakarta (Studi

(24)

b. Secara Akademis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pengetahuan bagi para mahasiswa Kesejahteraan Sosial dan rujukan dalam penelitian berikutnya yang berkaitan dengan implementasi pola pengasuhan anak

berbasis keluarga di SOS Children’s Villages Desa Taruna Jakarta (Studi

Kasus Keluarga Dampingan SOS di Desa Tegallangkap, Bogor).

E. Metodologi Penelitian 1. Metode

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.12

Kriteria data dalam penelitian kualitatif adalah data yang pasti, yaitu data yang sebenarnya terjadi sebagaimana adanya, bukan data yang sekedar terlihat, terucap, tetapi data yang mengandung makna dibalik yang terlihat dan terucap tersebut.13 Oleh karena itu, pengumpulan data dilakukan secara triangulasi yang menggunakan berbagai sumber dan berbagai teknik pengumpulan data secara simultan agar memperoleh data yang pasti.14

12

Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2009), h.1.

13

Ibid, h. 2.

14

(25)

2. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau penghubungan dengan variabel yang lain.15 Jenis penelitian ini menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati guna mendapat data-data yang diperlukan. Data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata karena adanya penerapan metode kualitatif. Laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut.16

3. Sumber Data

Sumber data yang penulis gunakan pada penelitian ini terbagi menjadi 2 (dua) sumber data yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder yang akan dijelaskan sebagai berikut:

a. Data Primer yaitu berupa data yang diperoleh dari sasaran penelitian atau partisipan. Data primer yang penulis maksud adalah pengamatan yang bersifat partisipatoris, artinya penulis melihat langsung proses kegiatan pengasuhan dan melakukan wawancara.

b. Data Sekunder yaitu berupa catatan atau dokumen yang diambil dari berbagai literatur, buku-buku, internet atau tulisan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, seperti brosur, arsip, dan lain-lain.

15

http://ab-fisip-upnyk.com/files/Konsep%20Dasar%20Penelitian.pdf

diakses pada 28 Desember 2014

16

(26)

4. Tempat dan Waktu Penelitian a. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang diambil oleh peneliti dalam mencari informasi dan data-data terkait dengan objek penelitian adalah di FSP – Bogor SOS CV Jakarta di Kampung Tegallangkap Desa Gunung Mulya Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor.

b. Waktu Penelitian

Sedangkan waktu penelitian terhitung mulai bulan November 2014 sampai dengan bulan Mei 2015. Peneliti melakukan riset berupa wawancara, observasi serta studi dokumentasi selama kurang lebih enam bulan.

5. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data adalah suatu cara yang dilakukan seorang peneliti untuk mendapatkan data yang diperlukan. Dengan metode pengumpulan data yang tepat dalam suatu penelitian akan memungkinkan pencapaian pemecahan masalah secara valid dan terpercaya yang akhirnya akan memungkinkan dirumuskan generalisasi yang obyektif.17 Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti yaitu:

a. Observasi atau pengamatan, merupakan sebuah teknik pengumpulan data yang mengharuskan peneliti turun ke lapangan mengamati hal-hal yang berkaitan dengan ruang, tempat, kegiatan, benda-benda, waktu, peristiwa, tujuan, dan perasaan. Metode observasi merupakan cara yang sangat baik untuk mengawasi perilaku subjek penelitian seperti perilaku dalam

17

(27)

lingkungan atau ruang, waktu, dan keadaan tertentu. 18 Dalam hal ini penulis melakukan pengamatan secara langsung di Desa Tegallangkap Bogor yang dilakukan keluarga dan anak dampingan SOS tersebut.

b. Interview atau wawancara, merupakan salah satu teknik untuk mengumpulkan data dan informasi penggunaan metode ini didasarkan pada dua alasan. Pertama, dengan interview atau wawancara, penulis dapat menggali tidak saja apa yang diketahui dan dialami subjek yang diteliti, tetapi apa yang tersembunyi jauh di dalam diri subjek penelitian. Kedua, apa yang ditanyakan kepada informan bisa mencakup hal-hal yang bersifat lintas waktu, yang berkaitan dengan masa lampau, masa kini, dan juga masa mendatang.19 Penulis melakukan wawancara dengan tujuh informan, di antaranya Keluarga yang terdiri dari Ibu, Anak yang dibantu SOS, Anak yang tidak dibantu SOS, Tetangga dan Teman bermain lalu pengurus FSP Bogor, yaitu Edukater dan Relawan FSP Bogor.

Informan Metode yang dilakukan

Jumlah

Educater FSP Bogor

Wawancara 1 Orang

Relawan FSP Bogor

Wawancara 1 Orang

Keluarga Informan

Wawancara 3 Orang

18

M. Djunaidi Ghony & Fauzan Almanshur, Metode Penelitian Kualitatif, h.165.

19

(28)

Tetangga Wawancara 1 Orang Teman Bermain

Bola

Wawancara 1 Orang

c. Dokumentasi, studi Dokumentasi-catatan tertulis yang didapat dari lokasi penelitian.20 Penulis berusaha mengumpulkan, membaca dan mempelajari berbagai macam bentuk data tertulis yang di peroleh dilapangan serta data-data lain yang didapatkan dari buku-buku, brosur dan sumber lain yang berkaitan dengan unsur yang sedang diteliti.

6. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh, selanjutnya penulis melakukan analisa data. Tujuan utama dari analisa data ialah untuk meringkaskan data dalam bentuk yang mudah dipahami dan mudah ditafsirkan, sehingga hubungan antar problem penelitian dapat dipelajari dan diuji.21 Dalam hal ini penulis menganalisa dengan menggunakan analisa deskriptif, yaitu suatu metode dalam penulisan sekolompok manusia, suatu obyek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Peneliti juga menggunakan metode deskriptif, yaitu cara melaporkan data dengan menerangkan, memberi gambaran dan

20

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Jakarta (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1993), h. 234.

21

Moh. Kasiram, Metodologi Penelitian: Refleksi Pengembangan Pemahaman dan

(29)

mengklasifikasikan serta menginterprestasikan data yang terkumpul secara apa adanya kemudian disimpulkan.22

7. Teknik Keabsahan Data

Keabsahan data adalah data yang diperoleh, data yang telah teruji dan valid, dalam hal ini peneliti menulis keabsahan data diujikan lewat diskusi atau sharing terhadap teman sejawat, referensi teori dan melihat realitas sosial serta tentang isu-isu yang sedang berkembang, oleh karena itu peneliti melakukan perbaikan-perbaikan untuk mendapatkan data-data yang relevan. Dan teknik keabsahan data dengan triangulasi sumber, berarti untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama. Sebagai gambaran atas data yang telah dikumpulkan dari sumber yang berbeda sebagai cara perbandingan data yang didapat dari observasi dan wawancara. Penulis melakukan wawancara dari informan yang satu ke informan yang lain, dan melakukan wawancara terhadap hasil dari observasi.23

F. Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka dilakukan penulis guna menghindari unsur kesamaan dengan skripsi lain. Penulis menemukan penelitian yang dilakukan oleh Farihatul

Fajriah (mahasiswa Jurusan Kesejahteraan Sosial) denga judul “Fungsi Keluarga

Pada Pengasuhan Anak Terlantar di Yayasan Sayap Ibu Jakarta”. Penelitian yang

dilakukan oleh Farihatul Fajriah tentang keseluruhan proses pelayanan sosial yang dilakukan oleh yayasan, baik itu lewat pelayanan maupun pola pengasuhannya

22

Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yogyakarta: Andi Offset, 1989), h, 49.

23

(30)

tanpa melihat apakah anak asuh yang berada didalam panti benar-benar terpenuhi kebutuhan dasarnya.

Dalam skripsi ini Fajriah membahas Fungsi Keluarga Pada Anak Terlantar, walaupun sama-sama mengambil tema pengasuhan tetapi berbeda dengan skripsi yang peneliti kaji dalam hal ini. Perbedaannya terletak pada pengasuhan anak yang tinggal di panti dengan yang tinggal di dalam sebuah keluarga kandung yaitu dirumah. Persamaannya hanya teori yang yang dilakukan.

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini, peneliti menggunakan Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) yang diterbitkan oleh CeQDA (Center for Quality Development and Assurance) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai pedoman penulisan skripsi ini.

Untuk mempermudah pembahasan skripsi ini, secara sistematis penulisannya dibagi ke dalam lima bab, yang terdiri dari sub-sub bab. Adapun sistematikanya sebagai berikut :

BAB I Pendahuluan

Latar Belakang Masalah, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metodelogi Penelitian, Tinjauan Pustaka dan Sistematika Penelitian.

(31)

Pengetian Keluarga, Pengertian Anak, Pengertian Pola Pengasuhan, dan Pengertian Pola Pendidikan.

BAB III Gambaran Umum lembaga

Sejarah Singkat Lembaga, Profil Lembaga, Program Lembaga, Visi dan Misi Lembaga, Tujuan Lembaga, Struktur Lembaga, Gambaran Umum Desa Tegallangkap.

BAB IV Temuan dan Analisa Data

Hasil Pelaksanaan Penelitian dan Hasil Analisa Data Keluarga

Dampingan SOS Children’s Villages di Desa Tegallangkap, Bogor.

BAB V Penutup

(32)

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Keluarga dan Anak

1. Definisi Keluarga

Dalam setiap masyarakat akan dijumpai kelompok primer yang penting yang disebut dengan keluarga. Keluarga merupakan ikatan yang sah antara laki-laki dan perempuan yang bedasarkan persetujuan kedua belah pihak yang akan melangsungkan perkawinan bedasarkan peraturan yang ada. Keluarga menurut Undang Undang Nomor 23 tahun 2002 pasal 3 menjelaskan bahwa “Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat, yang terdiri dari suami, istri atau suami, istri dan anak”.

Keluarga adalah lingkungan dimana beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah dan bersatu. Keluarga didefinisikan sebagai sekumpulan orang yang tinggal dalam satu rumah yang masih mempunyai hubungan kekerabatan atau hubungan darah karena perkawinan, kelahiran, adopsi dan lain sebagainya.

Pengertian keluarga menurut Abu Ahmadi adalah :

a. Sigmund Freud, keluarga itu terbentuk karena adanya perkawinan pria

dan wanita.

b. Adler, keluarga itu dibangun berdasarkan pada hasrat atau nafsu

berkuasa.

c. Durkheim berpendapat bahwa keluarga adalah lembaga sosial sebagai

(33)

d. Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa keluarga adalah kumpulan

beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai gabungan yang hakiki, esensial, enak dan berkehendak bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk memuliakan masing-masing anggotanya.”24

Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah kumpulan orang yang terdiri dari suami, isteri dan anak-anak yang biasanya tinggal dalam satu rumah yang sama (disebut keluarga inti) yang secara resmi terbentuk oleh adanya hubungan perkawinan serta keseluruhan anggotanya harus menjalankan fungsi keluarga bersama-sama agar tercipta suatu keadaan yang sejahtera dan harmonis di dalamnya.

Anggota keluarga terdiri dari suami, istri atau orang tua (ayah dan ibu) serta anak. Ikatan dalam keluarga tersebut didasarkan kepada cinta kasih sayang antara suami istri yang melahirkan anak-anak. Oleh karena itu hubungan pendidikan dalam keluarga adalah didasarkan atas adanya hubungan kodrati antara orang tua dan anak.25

2. Fungsi Keluarga

Pada dasarnya keluarga memiliki fungsi-fungsi pokok yakni fungsi yang sulit dirubah dan digantikan orang lain. Hakekat dan tingkat pelaksanaan fungsi-fungsi tentu berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain, sedang fungsi-fungsi lain atau fungsi-fungsi sosial bersifat relatif dan mudah mengalami perubahan.

24

Abu Ahmadi, Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal 95.

25

(34)

Fungsi pokok keluarga menurut ST. Vembriarto, mempunyai 7 fungsi yang ada hubungannya dengan kehidupan si anak; yaitu:26

a. Fungsi Biologik

Keluarga merupakan tempat lahir dan tumbuh kembang anak sehingga merupakan dasar kelangsungan hidup masyarakat. Namun seiring dengan perkembangan zaman, fungsi ini berubah karena sekarang kebanyakan keluarga cenderung memiliki anak yang sedikit hal ini dipengaruhi oleh faktor–faktor, perubahan tempat tinggal dari desa ke kota, makin sulit fasilitas perumahan, banyak anak dipandang sebagai hambatan untuk mencapai sukses material keluarga, banyak anak dipandang sebagai hambatan untuk mencapai kemesraaan keluarga, meningkatnya taraf pendidikan wanita mengakibatkan berkurangnya fertilitanya, berubah dorongan dari agama agar keluarga memiliki banyak anak, semakin banyak orang tua bekerja di luar rumah dan makin meluas pengetahuan dan penggunaan alat kontrasepsi.

b. Fungsi Afeksi

Dalam keluarga terjadi hubungan sosial yang penuh dengan kemesraan dan afeksi yang tumbuh akibat hubungan cinta kasih atas dasar perkawinan. Dari hubungan ini terjalinlah hubungan yang didasari kasih sayang, persaudaran, persahabatan, persamaan pandangan mengenai nilai–nilai yang merupakan faktor penting dalam perkembangan pribadi anak, dalam menghadapi perkembangan zaman. Suasana kasih sayang ini tidak terdapat pada institusi lain.

26

(35)

c. Fungsi Sosialisasi

Peran keluarga adalah dalam membentuk kepribadian anak melalui interaksi sosial dalam keluarga. Anak–anak mempelajari pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita–cita dan nilai–nilai dalam masyarakat melalui keluarga dalam perkembangan pribadinya.

d. Fungsi Pendidikan

Keluarga sejak dahulu merupakan institusi pendidikan. Dahulu keluarga merupakan satu-satunya institusi untuk mempersiapkan anak agar dapat hidup secara sosial dan ekonomi di masyarakat. Sekarangpun keluarga dikenal sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan utama dalam mengembangkan dasar kepribadian anak.

e. Fungsi Rekreasi

Pada saat ini kesibukan keluarga semakin padat dan tuntutantuntutan hidup yang semakin meningkat sehingga membuat anggota keluarga menghabiskan waktu diluar rumah seperti bekerja dan belajar di luar daerah. Fungsi keluarga sebagi rekreasi kini bergeser, keluarga bukan merupakan medan rekreasi bagi anggota-anggotanya. Pusat-pusat rekreasi dialihkan diluar keluarga seperti, gedung bioskop, panggung sirkus, lapangan olah raga, kebun binatang, taman-taman, klub malam yang dipandang lebih bervariasi.

f. Fungsi Keagamaan

(36)

Proses sekulerisasi dalam masyarakat dan merosotnya pengaruh institusi agama menimbulkan kemunduran fungsi keagamaan keluarga. Dengan demikian kewajiban orang tua dalam memberi teladan dan melibatkan anak dalam iklim keagamaan dalam kehidupan keluarga sehingga anak-anak memilki pegangan yang teguh agar tidak terpengaruh akan arus zaman yang tidak menentu dan tidak baik bagi kehidupan.

g. Fungsi Perlindungan

Fungsi perlindungan dalam keluarga ialah untuk menjaga dan memelihara anak dan anggota keluarga baik dari dalam maupun dari luar kehidupan keluarga, perlindungan secara mental dan moral, disamping perlindungan yang bersifat fisik bagi kelanjutan hidup orang-orang yang ada dalam keluarga. Seiring perkembangan zaman yang modern dan serba lengkap, perlindungan secara fisik maupun sosial kini dapat diserahkan kepada badan-badan sosial, perusahaan asuransi dan lain sebagainya.

Dari fungsi yang dipaparkan, bahwa setiap fungsi yang ada didalam keluarga memegang peranan penting dan saling berkaitan satu dengan yang lain. Betapa besar tanggung jawab orang tua terhadap anak, dimana keluarga merupakan tempat belajar bagi seorang individu dalam mengembangkan dan membentuk diri dalam fungsi sosialnya.

3. Peranan Keluarga

(37)

memiliki peran utama dalam mengurus urusan tangga sedangkan ayah mempunyai peran dalam hal mencari penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga.

Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, “Kepala Keluarga adalah orang yang bertanggung jawab dalam suatu keluarga”. Sesuai dengan fungsi serta tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga, menurut Ngalim Purwanto menyatakan, bahwa peranan orangtua dibagi menjadi dua peranan ibu dan peranan ayah. Peranan ibu dalam pendidikan anak-anaknya adalah sebagai berikut:27

a. Sumber dan pemberi rasa kasih sayang. b. Pengasuh dan pemelihara.

c. Tempat mencurahkan isi hati.

d. Pengatur kehidupan dalam rumah tangga. e. Pembimbing hubungan pribadi

f. Pendidik dalam segi-segi emosional.

Tanpa adanya pendiskriminasian tugas dan tanggung jawab ayah dan ibu dalam keluarga, namun apabila ditinjau fungsi dan tugas sebagai ayah, yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto yang menyatakan, bahwa peranan ayah dalam pendidikan anak-anaknya yang lebih dominan adalah sebagai berikut:28

a. Sumber kekuasaan didalam keluarga.

27

Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2007), h. 91.

28

(38)

b. Penghubung intern keluarga dengan masyarakat atau dunia luar. c. Pemberi perasaan aman bagi seluruh anggota keluarga.

d. Pelindung terhadap ancaman dari luar.

e. Hakim atau yang mengadili jika terjadi perselisihan.

Dari penjelasan diatas maka dapat diambil kesimpulan beberapa peran ayah dan ibu dalam keluarga, adalah sebagai berikut:

a) Peranan Ayah: Ayah sebagai suami dan ayah untu anak-anak, memiliki peran sebagai pencari nafkah dalam keluarga, pendidik dan pelindung serta pemberi rasa aman bagi keluarga, sebagai kepala keluarga, serta melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.

b) Peranan Ibu: Ibu sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya serta pelindung dan melaksanakan peranan sosial sebagai anggota masyarakat, selain itu ibu berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.

4. Definisi Anak

(39)

Anak sebagai potensi dan generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa, dan oleh karenanya memiliki posisi sangat strategis dalam menjamin kelangsungan eksistensi bangsa di masa depan. Artinya, kondisi anak pada saat ini, sangat menentukan kondisi bangsa di masa depan. Dengan demikian, apabila pada saat ini anak-anak terpenuhi kebutuhannya seperti pengasuhan dan pendidikannya yang didapatkan dari sebuah keluarga, maka anak dapat tumbuh dan berkembang di dalam kasih sayang sebuah keluarga.

Dalam pengertian secara umum, anak merupakan hasil keturunan langsung dari perkawinan antara seorang laki-laki dewasa dan seorang wanita dewasa. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, anak adalah seorang manusia yang masih kecil dan usianya berkisar enam sampai enam belas tahun yang mempunyai ciri-ciri fisik yang masih berkembang dan masih memerlukan dukungan keluarga dan lingkungannya.29 Selain itu terdapat pengertian lain bahwa anak pada hakekatnya adalah seseorang yang berada pada suatu masa perkembangan tertentu dan mempunyai potensi untuk menjadi dewasa.30 Dalam siklus kehidupan, masa anak-anak merupakan fase di mana anak mengalami tumbuh kembang yang menentukan masa depannya. Oleh karena itu penting untuk diperhatikan keberadaannya, karena selain krusial juga pada masa itu, anak membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua atau keluarga sehingga secara mendasar hak dan kebutuhannya dapat terpenuhi secara baik.31

29

Tim Penyusun Kamus, Pusat Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia,

(Jakarta: Balai PustakaDepartemen Pendidikan dan Kebudayaan). h. 35.

30

Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), h. 166.

31

Direktorat Pelayanan Sosial Anak, Pedoman Umum Tanggung Jawab Negara Dalam

(40)

Di dalam keluarga orangtualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan mengarahkan anak untuk menjadi mandiri dan berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dala masyarakat. Mengingat masa anak-anak dan remaja merupakan masa yang penting dalam proses perkembangan fisik, mental dan psikososial, maka pemahaman dan kesempatan yang diberikan orang tua kepada anak dalam mengarahkan perkembangannya amatlah krusial. Oleh karena itu keluarga merupakan pilar utama dan pertama dalam membentuk anak untuk mandiri. Sikap orang tua terutama tercermin pada pola pengasuhannya yang mempunyai sumbangan yang cukup besar dalam perkembangan kepribadian anak. Perkembangan kepribadian dapat dilihat antara lain dari kemandirian dan perilaku anak.32

a. Hak dan Kebutuhan Anak

Menurut Suradi dalam Perlindungan Anak Berbasis Organisasi Lokal

dalam Informasi Kajian Permasalahan Sosial dan Usaha Kesejahteraan Sosial adalah ada empat hak anak yang perlu diberikan agar anak-anak dapat tumbuh kembang secara optimal, yaitu Kelangsungan hidup, Perlindungan, Pengembangan diri, dan Partisipasi.

Selanjutnya berdasarkan hak anak-anak tersebut, kebutuhan anak yang perlu dipenuhi, yaitu Kebutuhan fisik, Kebutuhan belajar, Kebutuhan psikologis, Kebutuhan religious, dan Kebutuhan sosial.33

32

Gunawan, dkk., Masalah Sosial Di Indonesia (Jakarta: Kemensos RI, 2010), h. 134.

33

(41)

5. Periode Perkembangan Anak a. Masa Remaja

Secara umum, yang tergolong remaja adalah mereka yang berada pada usia 13-21 tahun. Ciri lain yang cukup menonjol pada diri remaja ialah sifat revolusioner, pemberontak, progresif yang cenderung ingin mengubah kondisi yang mapan. Apabila sifat ini terarah dengan baik, maka mereka dapat menjadi pemimpin yang baik di masa depan, sebaliknya bila tidak terbimbing dengan baik, mereka cenderung akan merusak tatanan dan nilai-nilai sosial masyarakat.34

Batasan seorang remaja dimulai dari usia 13 sampai dengan usia 21 tahun. Periodisasi remaja terbagi menjadi 3 bagian yakni remaja awal (early adolescence 13-15 tahun), remaja tengah (middle adolescence 16-18 tahun) dan remaja akhir (late adolescence 19-21 tahun).35

Remaja ada diantara anak dan orang dewasa. Oleh karena itu, remaja

seringkali dikenal dengan fase “mencari jati diri” atau fase “topan dan badai”.

Remaja masih belum mampu menguasai dan memfungsikan secara maksimal fungsi fisik maupun psikisnya. Namun, yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa fase remaja merupan fase perkembangan yang tengah berada pada masa amat potensial, baik dilihat dari aspek kognitif, emosi maupun fisik.36

34

Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama (Bandung: PT Refika Aditama, 2007), h. 40.

35

Ibid., h. 8.

36

(42)

b. Aspek-aspek Perkembangan 1) Fisik

Proses perkembangan fisik ditandai dengan perubahan ukuran organ fisik eksternal (tangan, kaki, badan) yang makin membesar, memanjang, melebar atau makin tinggi. sementara itu, perubahan organ internal ditandai dengan makin matangnya sistem syaraf dan jaringan sel-sel yang makin kompleks, sehingga mampu meningkatkan kapasitas fungsi hormon, kelenjar maupun keterampilan motoriknya.

2) Kognitif

Perkembangan kognitif berhubungan dengan meningkatnya kemampuan berfikir (thinking), memecahkan masalah (problem solving), mengambil keputusan (decision making), kecerdasan (intelligence), bakat (aptitude).37

3) Emosi

Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosi yang tinggi. pertumbuhan fisik, terutama organ-organ seksual mempengaruhi berkembangnya emosi atau perasaan-perasaan dan dorongan-dorongan baru yang dialami sebelumnya, seperti perasaan cinta, rindu dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan jenis. Pada usia remaja awal, perkembangan emosi menunjukan sifat yang sensitive dan reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai situasi atau sosial, emosinya bersifat negative dan temperamental (mudah

37

(43)

tersinggung/marah, atau mudah sedih/murung). Sedangkan pada remaja akhir sudah mampu mengendalikan emosinya.38

4) Sosial

Salah satu tugas perkembangan remaja yang tersulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. pemyesuaian sosial ini dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mereaksi secara tepat terhadap realita sosial, situasi dan relasi. Remaja dituntut untuk memiliki kemampuan penyesuaian sosial ini baik dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.39

5) Kesadaran Agama

Menurut Wagner, bahwa banyak remaja menyelidiki agama sebagai suatu sumber dari rangsangan emosional dan intelektual. Para pemuda ingin mempelajari agama berdasarkan pengertian intelektual dan tidak ingin menerimanya begitu saja. Mereka meragukan agama bukan karena ingin menjadi agnostic atau atheis, melainkan karena mereka ingin menerima agama sebagai sesuatu yang bermakna berdasarkan keinginan mereka untuk mandiri dan bebas menentukan keputusan sendiri.40

B. Pengasuhan

1. Definisi Pengasuhan

Pengertian pengasuhan anak secara umum adalah sistem pemeliharaan, pendidikan, perlindungan anak dan harta bendanya hingga dewasa atau mampu berdiri sendiri demi kepentingan terbaik anak sebagai

38

Elfi Yuliani Rochmah, Psikologi Perkembangan (Ponorogo: Teras, 2005), h. 200.

39

Ibid., h. 203.

40

(44)

upaya pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang, kelekatan, keselamatan, kesejahteraan, dan permanensi dari orang tua, atau pihak-pihak lain yang bertanggung jawab terhadap pengasuhan anak.41 Pola pengasuhan menunjukkan sikap atau perilaku orang tua yang berinteraksi dengan anaknya. Cara orang tua menerapkan aturan, mengajarkan nilai/norma, memberikan perhatian dan kasih sayang serta menunjukan sikap dan perilaku yang baik sehingga dapat dijadikan contoh atau teladan bagi anaknya.42

Dalam kaitannya dengan pengasuhan dan pemeliharaan anak, ajaran Islam yang tertulis menurut Al-Quran tercermin dalam firman Allah SWT ysng berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penaganya malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim: 6)43

Dengan demikian mendidik dan membina anak beragama islam adalah merupakan suatu cara yang dikehendaki oleh Allah agar anak-anak

41

Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak, Pedoman Operasional Program Kesejahteraan

Sosial Anak (Jakarta: Kementerian Sosial RI, 2011 ), h. 56.

42

Luluk Asmawati, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Keluarga: Mendidik Dengan

Praktik, (Jakarta: Senyum Media Press, 2009), h.18.

43

(45)

kita dapat terjaga dari siksa neraka. Cara menjaga diri dari api neraka adalah dengan jalan taat mengerjakan perintah-perintah Allah.

Pada dasarnya pengasuhan anak merupakan kegiatan dimana anak dibimbing, dibina, dirawat, dilindungi dan dipenuhinya kebutuhan dasar anak yang dilakukan oleh orang tuanya maupun keluarga, namun pada saat ini banyak orang tua maupun keluarga tidak dapat memberikan pengasuhan kepada anak mereka. Kondisi orang tua atau pun keluarga yang tidak mampu untuk memberikan kebutuhan dasar dalam mengasuh anak mereka.

Pengasuhan atau mengasuh adalah menjaga dan memelihara anak kecil, membimbing agar bisa mandiri. Pengasuhan anak dapat dilakukan di dalam atau di luar panti sosial, perorangan yang ingin berpartisipasi dapat melalui lembaga-lembaga tersebut. Pengasuhan tersebut melalui bimbingan, pemeliharan, perawatan, dan pendidikan secara berkesinambungan, serta dengan memberikan bantuan biaya atau fasilitas lain untuk menjamin tumbuh kembang anak secara optimal, baik fisik, mental, spiritual maupun sosial, tanpa mempengaruhi agama yang dianut anak.44

Dari penjelasan di atas, maka pola asuh orang tua adalah suatu keseluruhan interaksi antara orang tua dengan anak, di mana orang tua bermaksud menstimulasi anaknya dengan mengubah tingkah laku,

44

(46)

pengetahuan serta nilai-nilai yang dianggap paling tepat oleh orang tua, agar anak dapat mandiri, tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal.45

2. Ruang Lingkup Pengasuhan

Karen menyatakan bahwa kualitas pengasuhan yang baik adalah kemampuan orang tua untuk memonitor segala aktivitas anak, Prinsip pengasuhan tidak menekankan pada siapa (pelaku) namun lebih menekankan pada aktifitas dari perkembangan dan pendidikan anak.46 Oleh karenanya pengasuhan meliputi pengasuhan fisik, pengasuhan mental dan pengasuhan sosial.

Mengacu pada pernyataan di atas, maka ruang lingkup pengasuhan anak meliputi:

a. Pengasuhan fisik

Pengasuhan fisik mencakup semua aktifitas yang bertujuan agar anak dapat bertahan hidup dengan baik dengan menyediakan kebutuhan dasarnya seperti makan, minum, kehangatan, kebersihan, ketenangan waktu tidur, dan kepuasan ketika membuang sisa metabolisme dalam tubuhnya.

Pengasuh di panti asuhan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa memenuhi kebutuhan fisik dari anak asuh, sebagaimana yang kita ketahui untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan dari anak

45

http://www.kajianpustaka.com/2013/04/pola-asuh-orang-tua.html diakses pada 17 Agustus 2015

46

(47)

asuh, maka kebutuhan fisik, sebagai kebutuhan dasar manusia untuk berlangsung hidup harus terpenuhi dengan baik.

Sebagaimana keterangan Maslom yaitu “Jika kebutuhan fisiologis yang merupakan kebutuhan dasar manusia tidak terpenuhi maka individu tidak akan bergerak untuk meraih kebutuhan yang lebih tinggi”.47

Jadi agar kemampuan atau potensi-potensi dasar pada manusia tersebut dapat berkembang dengan maksimal maka kebutuhan dasar manusia juga harus terpenuhi dengan baik sebelum memenuhi kebutuhan yang lainya.

b. Pengasuhan mental

Pengasuhan mental adalah pengasuhan yang berhubungan dengan jiwa anak, mencakup pendampingan ketika anak mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan seperti merasa terasing dari teman-temannya, takut, atau mengalami trauma. Pengasuhan mental ini juga mencakup pengasuhan agar anak merasa dihargai sebagai seorang individu, mengetahui rasa dicintai, serta memperoleh kesempatan untuk menentukan pilihan dan untuk mengetahui resikonya.

c. Pengasuhan sosial

Pada dasarnya manusia adalah individu-individu yang mempunyai kecenderungan untuk bermasyarakat. Oleh sebab itu pengasuhan sosial anak ini sangat penting untuk diberikan kepada anak-anak agar nantinya dapat bersosialisasi dengan mayarakat dengan baik.48

47

Sriyanti, Lilik, dkk, Teori-Teori Belajar, (Salatiga: STAIN Salatiga Press, 2009), h. 120.

48

(48)

Pengasuhan sosial bertujuan agar anak tidak merasa terasing dari lingkungan sosialnya yang akan berpengaruh terhadap perkembangan anak pada masa-masa selanjutnya. Pengasuhan sosial ini menjadi sangat penting karena hubungan sosial yang dibangun dalam pengasuhan akan membentuk sudut pandang terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya.

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pola Pengasuhan

Dalam pola pengasuhan sendiri terdapat banyak faktor yang mempengaruhi serta melatarbelakangi orangtua dalam menerapkan pola pengasuhan pada anak-anaknya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pola pengasuhan orang tua adalah :49

a. Latar belakang pola pengasuhan orangtua, yaitu para orang tua belajar dari metode pola pengasuhan yang pernah didapat dari orang tua mereka sendiri.

b. Tingkat pendidikan orangtua,

Orangtua yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi berbeda pola pengasuhannya dengan orang tua yang hanya memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah.

c. Status ekonomi serta pekerjaan orang tua,

Orangtua yang cenderung sibuk dalam urusan pekerjaannya terkadang menjadi kurang memperhatikan keadaan anak-anaknya. Keadaan ini

mengakibatkan fungsi atau peran menjadi “orangtua” diserahkan kepada

49

(49)

pembantu, yang pada akhirnya pola pengasuhan yang diterapkanpun sesuai dengan pengsuhan yang diterapkan oleh pembantu.

Menurut Soekanto dalam bukunya secara garis besar menyebutkan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi dalam pengasuhan seseorang yaitu faktor eksternal serta faktor internal. Faktor eksternal adalah lingkungan sosial dan lingkungan fisik serta lingkungan kerja orang tua, sedangkan faktor internal adalah model pola pengasuhan yang pernah didapat sebelumnya. Secara lebih lanjut pembahasan faktor-faktor yang ikut berpengaruh dalam pola pengasuhan orangtua adalah :50

a. Lingkungan sosial dan fisik tempat dimana keluarga itu tinggal

Pola pengasuhan orangtua turut dipengaruhi oleh tempat dimana keluarga itu tinggal. Apabila suatu keluarga tinggal di lingkungan yang otoritas penduduknya berpendidikan rendah serta tingkat sopan santun yang rendah, maka anak dapat dengan mudah juga menjadi ikut terpengaruh. b. Model pola pengasuhan yang didapat oleh orang tua sebelumnya

Kebanyakan dari orang tua menerapkan pola pengasuhan kepada anak berdasarkan pola pengasuhan yang mereka dapatkan sebelumnya. Hal ini diperkuat apabila mereka memandang pola asuh yang mereka dapatkan dipandang berhasil.

c. Lingkungan kerja orangtua

Orangtua yang terlalu sibuk bekerja cenderung menyerahkan pengasuhan anak mereka orang-orang terdekat atau bahkan baby sitter. Oleh karena

50

Soerjono Soekanto, Sosiologi Keluarga, Tentang Ikhwal Keluarga, Remaja dan Anak,

(50)

itu pola pengasuhan yang didapat oleh anak juga sesuai dengan orang yang mengasuh anak tersebut .

Menurut Santrock menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pola pengasuhan antara lain :51

a. Penurunan metode pola pengasuhan yang didapat sebelumnya.

Orangtua menerapkan pola pengasuhan kepada anak berdasarkan pola pengasuhan yang pernah didapat sebelumnya.

b. Perubahan budaya, yaitu dalam hal nilai, norma serta adat istiadat antara dulu dan sekarang.

Sekarang ini banyak ibu yang bekerja di luar rumah sebagai wanita karir untuk menambah pengasilan dalam keluarga maupun sebagai suatu bentuk kepuasan. Hal ini pada akhirnya menyebabkan urusan pengasuhan anak diserahkan kepada orang lain, yang pada akhirnya mengakibatkan pengasuhan tidak sesuai dengan harapa orangtua.

4. Jenis-jenis Pola Asuh

Tujuan utama dari pengasuhan adalah menjadikan anak sebagai individu yang baik. Untuk mencapai tujuan tersebut, para pengasuh menggunakan jenis pengasuh tertentu sebagai dasar untuk memberikan pengasuhan yang baik. Pengasuhan yang baik merupakan sebuah konsep yang kompleks, yang memiliki beberapa dimensi fundamental yang sifatnya universal bagi semua keluarga, tetapi juga mempunyai dimensi unik yang

51

(51)

dipengaruhi oleh tahap perkembangan anak; kesehatan fisik dan mental orangtua; kondisi kehidupan keluarga; tingkat dukungan yang tersedia dalam komunitas; dan akses yang dimiliki keluarga terhadap pelayanan yang ada.52

Jenis pengasuhan sering kali dilakukan sesuai dengan kriteria pengasuh, oleh karena itu pengasuhan yang dilakukan oleh masing-masing pengasuh, ataupun lembaga yang memberikan pelayanan pengasuhan akan berbeda-beda. Menurut D. Baumrind bahwa ada empat jenis pola pengasuhan ini memiliki ciri tersendiri, sebagai berikut:53

a. Pola Asuh Otoriter

Pola asuh otoriter adalah cara mengasuh anak yang dilakukan orang tua dengan menentukan sendiri aturan-aturan dan batasan-batasan yang mutlak harus ditaati oleh anak tanpa konpromi dan memperhitungkan keadaan anak.

Adapun bentuk perwujudan dari pola asuh yang memiliki jenis otoriter biasanya orang tua kurang responsive dengan kebutuhan anak, orang tua lebih menuntut kepatuhan, anak cenderung membuat suasana keluarga atau lingkungan yang teratur dan kaku. Serta anak baisanya merasa kehilangan kebebasan dan kemandirian untuk bertingkah laku karena aturan yang kaku atau ketat.

52

Modul Pelatihan Child Protection Initiative (CPI), Perlindungan Anak dan Good Parenting: Pelatihan Bagi Dosen dan Pelatih yang Bekerja Dengan Anak Pengasuh dan Keluarga

di Indonesia (Bandung, 13-17 Desember: Save The Children, 2010), h. 5.

53

Luluk Asmawati, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Keluarga: Mendidik Dengan

(52)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pola asuh otoriter adalah pola asuh yang ditandai dengan cara mengasuh anak-anaknya dengan aturan-aturan ketat, seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya (orang tua), kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri dibatasi. Anak jarang diajak komunikasi dan diajak ngobrol, berceria-cerita, bertukar pikiran dengan orang tua, orang tua malah menganggap bahwa semua sikapnya yang dilakukan itu dianggap sudah benar sehingga tidak perlu anak dimintai pertimbangan atas semua keputusan yang menyangkut permasalahan anak-anaknya. Pola asuh yang bersifat otoriter ini juga ditandai dengan hukuman-hukuman tersebut sifatnya hukuman badan dan anak juga diatur yang membatasi perilakunya. Perbedaan seperti sangat ketat dan bahkan masih tetap diberlakukan sampai anak tersebut menginjak dewasa.

b. Pola Asuh Permisif

(53)

Adapun tipe orang tua permisif ini didalam membentuk kepribadian anak cenderung memberikan kebebasan anak seperti kebebasan memilih, kebebasan berpendapat dan kebebasan bertingkah laku.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pola asuh permisif adalah salah satu bentuk perlakuan yang dapat diterapkan orang tua pada anak dalam rangka membentuk kepribadian anak dengan cara memberikan pengawasan yang sangat longgar serta memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Orang tua cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka.

c. Pola Asuh Demokratis

Pola asuh demokratis adalah suatu bentuk pola asuh yang memperhatikan dan menghargai kebebasan anak, namun kebebasan itu tidak mutlak dan dengan bimbingan yang penuh pengertian antara orang tua dan anak. Sedangkan pada tipe ini pembentukan kepribadian pada anak cenderung dengan upaya membuat aturan yang ditaati bersama anak, berkomunikasi dengan santun dan terbuka pada anak.54

Sedangkan bila dikaitkan dengan istilah pemimpin, maka pemimpin demokratis adalah pemimpin yang memberikan

54

(54)

penghargaan dan kritik secara objek dan positif. Dengan tindakan-tindakan demikian, pemimpin demokratis itu berpartisipasi ikut serta dengan kegiatan-kegiatan kelompok. Ia bertindak sebagai seorang kawan yang lebih berpengalaman dan turut serta dalam interaksi kelompok dengan peranan sebagai kawan.55 Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, demokrasi diartikan sebagai gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara.56

Oleh karena itu yang dimaksud dengan pola asuh demokratis adalah pola asuh orang tua yang ditandai dengan adanya pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak, anak diberi kesempatan untuk tidak selalu bergantung kepada orang tua. Orang tua sedikit memberi kebebasan kepada anak untuk memilih apa yang terbaik bagi dirinya, anak didengarkan pendapatnya, dilibatkan dalam pembicaraan terutama yang menyangkut dengan kehidupan anak itu sendiri. Anak diberi kesempatan untuk mengembangkan kontrol internalnya sehingga sedikit demi sedikit berlatih untuk bertanggungjawab kepada diri sendiri. Anak dilibatkan dan diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam mengatur hidupnya.

55

Geurngan W.A., Psikologi Sosial, (Bandung: PT. Eresco, 1996), h. 132-133.

56

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar

(55)

5. Pengasuhan Berbasis Keluarga

Pengasuhan berbasis keluarga adalah pengasuhan anak yang tidak tinggal di panti, melainkan tinggal bersama keluarganya di rumah dan pengasuhan itu dilaksanakan oleh pihak-pihak di luar keluarga inti atau kerabat anak.57

Pengasuhan merupakan sejumlah kemampuan interpersonal dan mempunyai tuntutan emosional yang besar. 58 Pelayanan pengasuhan yang dilakukan oleh kebanyakan Panti Asuhan dalam bentuk keluarga asuh atau bentuk cottage. Pelayanan pengasuhan adalah berbagai jenis pelayanan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan anak akan pengasuhan, baik di dalam keluarganya maupun keluarga pengganti.59 Keluarga pengganti yang menggantikan peran keluarga inti untuk memberikan pengasuhan pada anak, terdiri dari keluarga kerabat, keluarga asuh, wali, dan keluarga angkat.60

6. Pola Pengasuhan Menurut SOS CV – FSP Bogor

Menurut SOS CV – FSP Bogor pola asuh merupakan cara orangtua berinteraksi dengan anaknya, meliputi; pemberian aturan, hadiah, hukuman dan pemberian perhatian, serta tanggapan terhadap perilaku anak.61 Dalam hal pengasuhan, FSP Bogor memberikan pelayanan langsung seperti bantuan keringanan identitas anak dan kepemilikan. Dalam hal peningkatan kualitas

57

Peraturan Menteri Sosial RI No. 30 /HUK/2011 Tentang Standar Nasional Pengasuhan Anak Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak, (Jakarta: Kementerian Sosial, 2011), h. 50.

58

Ibid., h. 163.

59

Ibid., h. 15.

60

Ibid., h. 15.

61

(56)

pengasuhan keluarga, FSP Bogor melakukan konseling pada keluarga, pengawasan dan pendampingan, membuat keterampilan, dan mengejarkan menabung sejak dini untuk anak. Semua dilakukan untuk meningkatkan kualitas pengasuhan keluarga terhadap anak.62

Dalam hal ini anak tinggal dalam sebuah keluarga yang memang pengasuhannya alami dari kedua orang tua mereka. Jadi pengasuhan yang diberikan orang tua pada anak biasanya menerapkan gaya pengasuhan anak sesuai dengan yang mereka terima dari orang tua mereka.

C. Pendidikan

1. Definisi Pendidikan

Pendidikan itu adalah pembentukan kepribadian. Kepribadian yang menentukan tingkah laku pada individu dan kebudayaan pada masyarakat. Sedangkan dalam Kamus Besar, pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan : proses, cara, dan perbuatan mendidik.63

Adapun batasan tentang pendidikan yang dibuat oleh para ahli beraneka ragam dan kandungannya pun berbeda dari yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut mungkin karena orientasinya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan atau karena filsafat yang melandasinya.

62

Wawancara dengan Mas Martin pada hari Seasa, 11 November 2014.

63

Gambar

Gambaran Umum Desa Tegallangkap.....................
gambaran penyajian laporan tersebut.16
Gambaran Umum Desa Tegallangkap.
Tabel 1. Profil Informan Utama
+2

Referensi

Dokumen terkait