• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh aksi jual-beli asing kurs SBI, inflasi PDB dan indeks harga seng terhadap pndeks harga saham gabungan di bursa efek Indonesia dengan modelgarch

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh aksi jual-beli asing kurs SBI, inflasi PDB dan indeks harga seng terhadap pndeks harga saham gabungan di bursa efek Indonesia dengan modelgarch"

Copied!
153
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH AKSI JUAL-BELI ASING, KURS, SBI, INFLASI, PDB DAN INDEKS HANG SENG TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN DI BURSA EFEK INDONESIA DENGAN MODEL GARCH

Disusun oleh:

Khodijah Nurbaeti

NIM: 106081002338

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

PENGARUH AKSI JUAL-BELI ASING, KURS SBI, INFLASI, PDB, DAN INDEKS HANG SENG TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN DI BURSA EFEK INDONESIA DENGAN MODEL GARCH

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Untuk Memenuhi Syarat-Syarat

Untuk Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh:

KHODIJAH NURBAETI NIM:106081002338

Di bawah Bimbingan

Pembimbing I PembimbingII

Prof. Dr. Ahmad Rodoni Titi Dewi Warninda, SE., M.Si NIP. 19690203 200112 1 003 NIP. 19731221 200501 2 002

JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(3)

PENGARUH AKSI JUAL-BELI ASING, KURS SBI, INFLASI, PDB, DAN INDEKS HANG SENG TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN DI BURSA EFEK INDONESIA DENGAN MODEL GARCH

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Untuk

Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh:

KHODIJAH NURBAETI 106081002338

Di bawah Bimbingan

Pembimbing I Pembimbing II

Prof.Dr.Ahmad Rodoni Titi Dewi Warninda, SE., M.Si NIP.19690203 200112 1 003 NIP.19731221 200501 2 002

Penguji Ahli I Penguji Ahli II

Herni Ali, SE., MM Arief Mufraini, Lc., M.Si Nip. 19770122 200312 1 001

Penguji Proposal

Indoyama Nasaruddin, SE., M.AB Nip. 19741127 200112 1 002

JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

(4)

Hari ini pada tanggal 18 Bulan Maret Tahun Dua Ribu Sepuluh telah dilakukan Ujian Komprehensif atas nama KHODIJAH NURBAETI NIM: 1060801002338 dengan judul Skripsi ”PENGARUH JUAL BELI ASING, KURS, SBI,

INFLASI, PDB, DAN INDEKS HANGSENG TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN DI BURSA EFEK INDONESIA DENGAN MODEL GARCH”. Memperhatikan dan menguji kemampuan masiswa tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 11 Mei 2010

Tim Penguji Komprehensif

Indoyama Nasaruddin, SE., M.AB Hemmmy Fauzan, SE.,MM Ketua Sekretaris

(5)

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda-tangan dibawah ini:

Nama Mahasiswa : Khodijah Nurbaeti

NIM : 106081002338

Jurusan : Manajemen

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri yang merupakan hasil penelitian, pengolahan dan analisis saya sendiri serta bukan merupakan replikasi maupun saduran dari hasil karya atau hasil penelitian orang lain.

Apabila terbukti skripsi ini plagiat atau replikasi maka skripsi dianggap gugur dan harus melakukan penelitian ulang untuk menyusun skripsi baru dan kelulusan serta gelarnya dibatalkan.

Demikian pernyataan ini dibuat dengan segala akibat yang timbul dikemudian hari menjadi tanggung jawab saya.

Jakarta, Mei 2010

(6)

i

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Khodijah Nurbaeti

Tempat/Tanggal Lahir : Bekasi, 13 Maret 1988

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Jl. Raya Sunan Gunung Jati, Desa Cibogo Kaum

RT 004 RW 001 No.41, Kecamatan Cibarusah,

Bekasi. Kode pos: 17343

Nomor Telepon : 02198533041

Pendidikan :

2006-2010 Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta

Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, Jurusan Manajemen

2003-2006 SMA Islam YASPIA Cibarusah

2000-2003 MTS YASPIA Cibarusah

(7)

ii ABSTRACT

The research analyze the influence between net foreign fund variable, a rate exchange, SBI, inflation, Gross Domestic Product (GDP) and Hang Seng index toward IHSG and to know how big it influence.With using Time Series data on 2006-2008 period. The method that is used is GARCH.

The researcher looking for the most proper model by process Trial and Error. The analysis result point out TARCH(0,1) model is the most proper one. As a whole that the sixth of variable (net foreign fund, exchange rate, SBI, inflation, Gross Domestic Product, and Hang Seng index) have influence significant. Model TARCH (0,1) is model the most proper one show a result with value R2 highest

94,8% it’s means variety of variable net foreign fund, exchange rate, SBI,

Inflation, Gross Domestic Product and Hang Seng index explains variety variable IHSG 94,8% with value AIC (Akaike Info Criterion) and SIC (Schwarz Info Criterion) is lowest each 12,52 and 12,96 (SIC).

(8)

iii

ABSTRAK

Penelitian ini menganalisis pengaruh antara variabel aksi jual-beli asing, kurs, SBI, inflasi, Produk Domestik Bruto (PDB), dan indeks Hang Seng terhadap IHSG dan mengetahui berapa besar pengaruhnya. Dengan menggunakan data Time Series periode 2006-2008. Metode yang digunakan adalah model GARCH. Untuk menghasilkan model yang paling layak maka dilakukan proses trial

dan error. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model TARCH (0,1) yang paling layak. Hasil ini ditunjukkan bahwa ke-enam variabel (aksi jual-beli asing, kurs, SBI, inflasi, PDB, indeks Hang Seng) memiliki pengaruh yang signifikan. Model TARCH (0,1) adalah model yang paling layak ditunjukkan dengan nilai R2 yang paling tinggi sebesar 94,8% yang berarti variasi variabel aksi jual-beli asing, kurs, SBI, inflasi, PDB dan indeks Hang Seng dalam menjelaskan variasi variabel IHSG sebesar 94,8% dengan nilai AIC (Akaike Info Criterion) dan SIC (Schwarz Info Criterion) yang paling rendah masing-masing sebesar 12,52 (AIC) dan 12,96 (SIC).

(9)

iv

Alhamdulillah, Puji dan Syukur atas rahmat dan karunia kekuatan yang diberikan Allah SWT, hingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

”Pengauh Aksi Jual-Beli Asing, Kurs, SBI, Inflasi, PDB Dan Indeks Hang Seng Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan Di Bursa Efek Indonesia Dengan Model GARCH”. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, karena terbatasnya kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang penulis miliki. Namun demikian penulis berharap semoga skripsi ini dapat mencapai tujuan dan sasaran serta bermanfaat bagi para pembaca.

Dalam kesempatan ini penulis ingin memberikan penghormatan dan rasa terima kasih yang sedalam–dalamnya kepada semua pihak yang membantu dalam penyusunan Skripsi ini dan juga membimbing penulis selama menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini. Terutama kepada:

1. ALLAH SWT atas segala nikmat dan karunianya.

2. Ibu tercinta Neneng Rosih (ALM) terima kasih telah melahirkan penulis ke dunia yang indah ini, meskipun penulis tidak pernah melihat dan merasakan limpahan kasih sayangnya sejak penulis dilahirkan ke dunia yang indah ini, semoga engkau ditempatkan ditempat terbaik di sisi ALLAH SWT.

3. Kedua orang tua, aap dan umi tercinta yang memberikan dukungan, kepercayaan dan doa, semoga Allah SWT memberikan kesehatan dan kebahagiaan serta kemuliaan kepada mereka, dan semoga penulis dapat membahagiakan keduanya, amin Ya Robbal ’Alamin.

(10)

v

memberikan kesehatan, panjang umur, dan kebahagiaan serta kemuliaan kepadanya, dan semoga penulis dapat membahagiakannya, Amin Ya Robbal

’Alamin.

5. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

6. Bapak Prof. Dr. Ahmad Rodoni selaku Pembantu Dekan Bid. Akademik FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus pembimbing I yang telah banyak memberikan saran, petunjuk, ilmu pengetahuan, dan meluangkan waktunya hingga terselesaikannya skripsi ini.

7. Ibu Titi Dewi Warninda, SE., M.Si selaku pembimbing II terima kasih atas bimbingan, motivasi dan arahan yang diberikan kepada penulis hingga terselesaikan skripsi ini.

8. Bapak Indoyama Nasaruddin, SE., MAB selaku Ketua Jurusan Manajemen FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

9. Seluruh dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah membantu dan memberikan ilmunya kepada penulis selama belajar di bangku kuliah.

10.Kakak-kakak (Teh a’i, Teh Imas, Teh Adah, Aa Asep) terima kasih atas dukungan moral dan materil serta adik-adik (Dinar, Nina, Rusdi, Aam) terima kasih selalu menjadi adik yang baik.

11.Dede Husban Rijali terima kasih atas segala perhatian, kasih sayang dan dukungan moral maupun materil yang diberikan kepada penulis.

(11)

vi

13.Sahabat sekaligus saudara Syifa terimakasih telah banyak sekali membantu penulis, sahabat-sahabat dikosan Mba duwi, Moel, Emar, Euis, Teh Iwi, Iyom, Kori, Atikoh yang sering menghiasi kehidupan penulis dengan canda tawa serta dukungan moral yang telah diberikan.

14.Pihak-pihak lain yang mohon maaf tidak bisa disebutkan satu per satu dan telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Semoga mereka semua mendapatkan balasan pahala yang berlipat ganda dan selalu dijaga dan dilindungi serta benar-benar menjadi orang yang dikasihi dan disayangi oleh Allah SWT. Tiada balasan apapun yang dapat penulis berikan selain doa.

Penulis sangat menyadari, masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam penulisan skripsi ini, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan agar bisa lebih baik lagi. Akhirnya penulis berharap, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan dapat menambah wawasan bagi semua pihak.

Jakarta, 2010 Khodijah Nurbaeti

(12)

vii

DAFTAR ISI

Halaman

Cover Skripsi

Lembar Pengesahan

Daftar Riwayat Hidup... i

Abstract... ii

Abstrak... iii

Kata Pengantar...………... iv

Daftar Isi... vii

Daftar Tabel... x

Daftar Gambar... xi

Daftar Lampiran………... xii

BAB I: PENDAHULUAN………... 1

A. Latar Belakang Penelitian... 1

B. Perumusan Masalah... 9

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian... 9

BAB II: LANDASAN TEORI... 12

A. Indeks Harga Saham... 12

B. Aliran Dana Asing (net foreign fund)... 17

C. Nilai Tukar Rupiah... ... 20

D. Suku Bunga SBI... 23

(13)

viii

E. Tingkat Inflasi... 24

F. Produk Domestik Bruto... 29

G.Indeks Hang Seng ... 32

H. Penelitian Terdahulu... 34

I. Kerangka Pemikiran.……... 37

J. Hipotesis... 40

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN... 41

A. Ruang Lingkup Penelitian…... 41

B. Metode Penentuan Sampel………... 41

C. Metode Pengumpulan Data... 42

D. Metode Analisis...………... 43

E. Definisi Operasional Variabel... 49

BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN... 54

A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian... 54

1. Perkembangan Pasar Modal di Indonesia... 54

B. Analisis Deskriptif... 55

C. Hasil dan Pembahasan... 72

1. Uji Stasioneritas... 72

2. Uji GARCH... 82

D. Interpretasi... 100

BAB V: IMPLIKASI DAN KESIMPULAN... 105

A. Kesimpulan... 105

(14)

ix

Daftar Pustaka... 107

(15)

x

Daftar Tabel

Nomor Keterangan Halaman

4.1 Variabel Aksi jual-beli Asing 58

4.2 Variabel Kurs 60

4.3 Variabel SBI 62

4.4 Variabel Inflasi 64

4.5 Variabel PDB 66

4.6 Variabel Indeks Hang Seng 68

4.7 Variabel IHSG 70

4.8 Uji GARCH (1,1) 84

4.9 Uji GARCH (1,2) 86

4.10 Uji GARCH (0,1) 88

4.11 Uji GARCH (0,2) 89

4.12 Uji GARCH (0,3) 90

4.13 Uji GARCH (2,1) 92

4.14 Uji TARCH (0,1) 94

4.15 Uji TARCH (1,1) 96

4.16 Uji TARCH (2,1) 98

(16)

xi

Daftar Gambar

Nomor Keterangan Halalaman

2.1 Kerangka Pemikiran 39

4.1 Grafik Variabel Aksi Jual-Beli Asing 59

4.2 Grafik Variabel Kurs 61

4.3 Grafik Variabel SBI 63

4.4. Grafik Variabel Inflasi 65

4.5 Grafik Variabel PDB 67

4.6 Grafik Variabel Indeks Hang Seng 69

(17)

xii

Daftar Lampiran

Nomor Keterangan Halaman

1 Data Mentah Variabel Aliran Dana Asing 111

2 Data Mentah Variabel Kurs 111

3 Data Mentah Variabel SBI 112

4 Data Mentah Variabel Inflasi 112

5 Data Mentah Variabel PDB 113

6 Data Mentah Variabel Indeks Hang Seng 113

7 Data Mentah IHSG 114

8 Uji Unit Root ADF Variabel Aksi 115

Jual-Beli Asing

9 Uji Unit Root ADF Variabel Kurs 116

10 Uji Unit Root ADF Variabel SBI 117

11 Uji Unit Root ADF Variabel Inflasi 118

12 Uji Unit Root ADF Variabel Inflasi Pada 119

Diferensi Tingkat Pertama

13 Uji Unit Root ADF Variabel PDB 120

14 Uji Unit Root ADF Variabel Indeks 121

Hang Seng

15 Uji Unit Root ADF Variabel Indeks 122

Hang Seng Pada Diferensi Tingkat Pertama

16 Uji Unit Root ADF Variabel IHSG 123

(18)

xiii

18 Hasil Uji GARCH (1,2) 125

19 Hasil Uji GARCH (0,1) 126

20 Hasil Uji GARCH (0,2) 127

21 Hasil Uji GARCH (0,3) 128

22 Hasil Uji GARCH (2,1) 129

23 Hasil Uji TARCH (0,1) 130

24 Correlogram Of Standardized Squared 131

25 Histogram-Normality Test 132

24 Hasil Uji TARCH (1,1) 133

25 Hasil Uji TARCH (2,1) 134

(19)

1

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Penelitian

Pasar modal merupakan salah satu bagian dari pasar keuangan (financial

market), disamping pasar uang (money market) yang sangat penting peranannya

bagi pembangunan nasional pada umumnya, khususnya bagi pengembangan dunia

usaha sebagai salah satu alternatif sumber pembiayaan eksternal oleh perusahaan.

Di lain pihak, dari sisi pemodal (investor), pasar modal sebagai salah satu sarana

investasi dapat bermanfaat untuk menyalurkan dananya ke berbagai sektor

produktif dalam rangka meningkatkan nilai tambah terhadap dana yang

dimilikinya. Berdasarkan pengalaman di masa lalu, pasar modal ibarat lazimnya

suatu pasar selalu akan mengalami pasang surut, yang ditunjukkan dengan

tanda-tanda bullish atau bearish, sehingga karenanya dalam hal berinvestasi tiada suatu

investasi tanpa risiko (M. Irsan Nasarudin dkk, 2008).

Keberadaan pasar modal sangat penting peranannya bagi perkembangan

ekonomi suatu negara, termasuk Indonesia sebagai negara berkembang yang

memanfaatkan keberadaan pasar modal sebagai wahana investasi bagi para

investor atau masyarakat dalam rangka menciptakan tingkat pertumbuhan

ekonomi yang relatif tinggi. Tingkat pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi,

dapat memberikan pengaruh positif bagi pemerintah dan juga perusahaan yang

menanamkan dana-nya dipasar modal. Bagi pemerintah, tingkat pertumbuhan

ekonomi yang tinggi dapat membantu pemerintah dalam menyerap tenaga kerja

(20)

2

meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan bagi perusahaan, tingkat

pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, dapat memberikan pengaruh positif atas

ekpektasi para investor untuk menanamkan dana-nya dipasar modal dengan

kondisi ekonomi negara yang semakin kondusif.

Perkembangan pasar modal Indonesia saat ini disebabkan oleh keadaan

perekonomian atau trend global. Hal ini tidak hanya ditunjukkan oleh data yang

bersifat kuantitatif semata seperti meningkatnya volume perdagangan dan nilai

kapitalisasi pasar serta jumlah perusahaan go public, akan tetapi juga peningkatan

kemampuan perusahaan, ketaatan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan pasar

modal, kualitas keterbukaan informasi pasar modal serta diberlakukan standar

internasional dalam kegiatan perdagangan (M.Irsan Nasarudin dkk, 2008:84).

Perkembangan pasar modal di Indonesia yang marak berakhir pada tahun

1997, karena bencana krisis moneter yang terjadi (M.Irsan Nasarudin dkk,

2008:3). Krisis yang melanda Indonesia tentu saja berimbas pada pengembangan

pasar modal Indonesia sebagai salah satu sumber pembiayaan yang banyak

dimanfaatkan oleh perusahaan (M.Irsan Nasarudin dkk, 2008:78).

Nilai-nilai saham perusahaan merosot drastis akibat krisis yang terjadi pada

tahun 1997. Saat itu, bagi investor dan masyarakat luas, investasi di sektor pasar

modal bukan wahana investasi yang menarik, karena nilai sahamnya turun,

potensi ruginya besar, dan pendapatannya juga turun. Akibatnya, pasar modal

Indonesia mengalami koreksi hebat menyesuaikan diri dengan krisis.

perkembangan pasar modal pada saat krisis menunjukkan adanya penurunan

(21)

3

indeks harga saham turun terus, investor asing berkurang, perusahaan sekuritas

pergi. Sektor riil tidak mampu bertahan, nilai saham perusahaan-perusahaan

terbuka turun drastis (M.Irsan Nasarudin dkk, 2008:3).

Tahun 2004 perekonomian Indonesia belum lagi kembali mencapai tingkat

pertumbuhan seperti pada masa sebelum krisis, tetapi bergerak menuju pemulihan.

Bagi pasar modal keadaan ini sudah jauh lebih baik. Harga dan indeks saham

memang tidak setinggi pada waktu sebelum krisis, tetapi harga saham telah

terkoreksi secara siginifikan (M.Irsan Nasarudin dkk, 2008:5).

Perkembangan tersebut tercermin pada September 2004, IHSG mencapai

820,1 dan sampai Desember 2005 telah mencapai 1162,63. Angka indeks Ini

merupakan peningkatan yang cukup signifikan mengingat IHSG pada tahun 2001,

2002, dan 2003 baru mencapai 392,03, 424,94, dan 679,3. Kemudian sepanjang

periode bulan Januari-Juli 2006, PT. Bursa Efek Indonesia (BEI) terus-menerus

berupaya menciptakan pasar yang semakin likuid, wajar, teratur dan transparan.

Sepanjang periode di atas, bursa telah menunjukkan prestasi yang sangat

menggembirakan. Salah satunya ditunjukkan dengan Indeks Harga Saham

Gabungan (IHSG) BEI yang berhasil mencatat rekor tertinggi pada tanggal 11

Mei 2006 di level 1.553,062 (www.jsx.co.id).

Indeks Harga Saham Gabungan yang terus-menerus mengalami peningkatan

yang semakin pesat ini ditunjukkan dari perkembangan nilai IHSG dan nilai

transaksi. Nilai IHSG mengalami peningkatan hingga 400 persen dari tahun 2000

hingga 2008. Kondisi ini juga diikuti nilai transaksi yang terus semakin

(22)

4

investor atas kondisi ekonomi Indonesia yang semakin kondusif. Namun krisis

ekonomi global mulai pertengahan tahun 2008 telah mendorong jatuhnya nilai

IHSG sebesar 50 persen dalam kurun waktu yang relatif singkat (satu tahun).

Krisis yang berasal dari Amerika Serikat telah meruntuhkan perekonomian di

benua Eropa dan Asia, khususnya negara berkembang. Dimana Indonesia sebagai

negara berkembang mendapat pengaruh yang cukup besar dari krisis finansial

global (Pananda Pasaribu dkk, 2009:1-2).

Indeks harga saham itu sendiri dapat dijadikan barometer kesehatan ekonomi

suatu negara dan sebagai dasar melakukan analisis statistik atas kondisi pasar

terakhir (current market). Sebagaimana diketahui bahwa, saham sebagai bukti

kepemilikan perusahaan merupakan surat berharga atau efek yang diterbitkan oleh

perusahaan yang terdaftar di bursa (go public). Fluktuasi harga saham ditentukan

oleh kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba. Apabila laba yang

diperoleh perusahaan relatif tinggi, maka kemungkinan besar bahwa dividen yang

dibayarkan juga relatif tinggi. Apabila dividen yang dibayarkan relatif tinggi, akan

berpengaruh positif terhadap harga saham di bursa, dan investor akan tertarik

untuk membelinya. Akibatnya permintaan akan saham tersebut menjadi

meningkat, sehingga akhirnya harganya juga akan meningkat. Peningkatan harga

saham ini akan menimbulkan capital gain bagi para pemegangnya (Abdul Halim,

2005:12).

Pasar modal memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia,

dimana nilai Indeks Harga Saham Gabungan dapat menjadi leading indicator

(23)

5

ekspektasi investor atas kondisi fundamental negara maupun global (Pananda

Pasaribu dkk, 2009:2).

Variabel aksi jual-beli asing yang dibahas dalam penelitian ini mengikuti

pergerakan indeks saham yang ditandai dengan optimisme dan pesimisme para

investor. Untuk Indonesia dan beberapa bursa saham yang kapitalisasi pasarnya

relatif kecil, optimisme dan pesimisme para investor saham asing diduga sangat

menentukan pergerakan indeks sahamnya. Optimisme investor asing ini yang

ditandai dengan maraknya aksi beli oleh mereka akan memberikan sentimen

positif. Sedangkan pesimisme investor asing terjadi jika aksi jual mereka melebihi

aksi belinya pada hari atau periode perdagangan tertentu. Adanya aksi jual bersih

dari para investor asing diyakini memberikan sentimen negatif kepada pasar.

Investor asing dipandang memiliki modal besar dan mempunyai analisa

fundamental dan informasi yang lebih baik daripada investor lokal (Budi

Frensidy, 2009:2).

Pergerakan indeks saham di suatu negara juga tidak pernah lepas dari

kondisi perekonomian negara itu sendiri secara makro (Budi Frensidy, 2009:1).

Faktor makro yang digunakan dalam penelitian ini yang di anggap mempengaruhi

indeks saham adalah nilai tukar rupiah terhadap dollar, suku bunga SBI, inflasi,

dan Produk Domestik Bruto. Variabel makro ekonomi sangat berpengaruh

terhadap peluang untuk berbisnis di suatu negara. Negara dengan tingkat

pertumbuhan ekonomi yang tinggi tentu akan lebih menarik investor

dibandingkan dengan negara yang pertumbuhan ekonominya lambat (Budi

(24)

6

110), pertumbuhan ekonomi yang baik secara umum menunjukkan tingkat

perbaikan kesejahteraan masyarakat, dan hal ini biasanya diikuti dengan kegiatan

pasar modal yang bergairah.

Variabel berikutnya yang digunakan dalam penelitian ini adalah Indeks Hang

Seng. Karena era globalisasi dengan batas antar negara yang semakin tidak jelas

membuat indeks bursa saham antar negara saling terkait. Oleh karena itu, Indeks

Harga Saham Gabungan, sangat dipengaruhi indeks Dow Jones dan indeks

regional lainnya (Budi Frensidy, 2009:2). Hal ini merupakan salah satu implikasi

dari bentuk globablisasi dan semakin terintegrasinya pasar modal di seluruh dunia.

Kondisi ini memungkinkan timbulnya pengaruh dari bursa-bursa yang maju

(developed) terhadap bursa yang sedang berkembang (Pananda Pasaribu dkk,

2009:2).

Beberapa penelitian yang telah dilakukan diantaranya oleh Budi Frensidy

(2009) meneliti pengaruh aksi jual-beli asing, kurs dan indeks Hang Seng

terhadap indeks harga saham gabungan di BEJ dengan model GARCH, hasil

penelitian menunjukkan aliran bersih dana asing (NFF) mempengaruhi perubahan

IHSG secara positif dengan koefisien 0,0009γ6 dan signifikan pada α = 1%.

Sementara itu, hubungan antara perubahan kurs dengan perubahan IHSG adalah

negatif dengan koefisien –0,593601 dan koefisien hubungan antara perubahan

indeks Hang Seng dengan perubahan IHSG adalah 0,6128.

Igantius Roni Setyawan (2006) melakukan penelitian mengenai pengaruh net

(25)

7

dengan model model ARCH/GARCH, hasilnya model terbaik untuk memprediksi

arah pergerakan IHSG adalah TARCH plus AR (1) karena memilki R2 yang lebih

tinggi dibanding ARCH-M.

Pananda Pasaribu dkk, (2009) dalam penelitiannya mengenai pengaruh

variabel makro ekonomi terhadap IHSG dengan menggunakan analisis regresi

linier berganda, hasil regresi menunjukkan bahwa sebagian besar faktor domestik

tidak berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Indikator ekonomi domestik

berupa: inflasi, SBI dan kurs tengah. Sedangkan faktor asing dan informasi

mengenai aliran modal mempunyai pengaruh yang cukup signifikan atas

pergerakan IHSG. Indeks regional yang diproksi indeks Hang Seng mempunyai

pengaruh yang sangat signifikan atas pergerakan IHSG, ketika indeks Hang Seng

turun maka IHSG juga akan mempunyai arah yang sama.

Ana Octavia (2007) meneliti tentang analisis pengaruh nilai tukar rupiah/US$

dan tingkat suku bunga SBI terhadap IHSG di BEJ dengan menggunakan teknik

analisis regresi linier berganda dengan persamaan kuadrat terkecil (ordinary least

square), hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama ada pengaruh

yang sangat signifikan antara nilai tukar rupiah/US$ dan tingkat suku bunga SBI

terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta periode 2003-2005

dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Sedangkan secara parsial juga terdapat

pengaruh yang sangat signifikan antara nilai tukar rupiah/US$ terhadap Indeks

Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta periode 2003-2005 dengan nilai

(26)

8

Titman dan Warga (1989) dalam Zaenal Arifin (2007:155) menemukan

adanya hubungan yang positif antara return saham dengan tingkat inflasi di masa

yang akan datang dan tingkat bunga. Temuan ini menunjukkan bahwa return

saham telah memprediksi perubahan tingkat harga di masa yang akan datang atau

dengan kata lain naik (turun)-nya harga saham merupakan prediksi tinggi

(rendah)-nya tingkat inflasi dan suku bunga.

Manurung (1996) dalam Pananda Pasaribu dkk, (2008) melakukan penelitian

mengenai pengaruh makro ekonomi dan faktor luar negeri (asing) terhadap

pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan dengan menggunakan metode akar

unit dan kointegrasi. Manurung menemukan bahwa faktor asing memegang

peranan penting dalam pergerakan indeks. Sedangkan PDB dan pengeluaran

pemerintah berpengaruh terhadap IHSG.

Moh.Mansur (2005) melakukan penelitian mengenai pengaruh indeks global

terhadap IHSG di BEI. Hasil yang diperoleh secara individual indeks global yang

didalamnya termasuk indeks Hang Seng, terbukti tidak memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap IHSG di BEI pada tahun 2000-2002.

Berdasarkan uraian penelitian terdahulu maka penulis tertarik untuk meneliti

Pengaruh Aksi Jual-Beli Asing, Kurs, SBI, Inflasi, PDB dan Indeks Hang Seng Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan Di Bursa Efek Indonesia Dengan Model GARCH”.

Penelitian ini berbeda dengan peneitian sebelumnya, periode penelitian

(27)

9

SBI dan PDB, serta data yang digunakan yaitu data bulanan dari 1 Januari-31

Desember sedangkan penelitian sebelumnya hanya menggunakan data dari

3 Januari- 31 Oktober.

A.Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dijelaskan diatas, maka

permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan variabel independen aksi

jual-beli asing, kurs, SBI, inflasi, Produk Domestik Bruto (PDB), indeks Hang

Seng terhadap variabel dependen Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa

Efek Indonesia.

2. Berapa besar pengaruh variabel independen aksi jual-beli asing, kurs, SBI,

inflasi, Produk Domestik Bruto (PDB), indeks Hang Seng terhadap

variabel dependen Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek

Indonesia.

B.Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah, maka tujuan yang

hendak dicapai melalui penelitian ini adalah:

a. Untuk menganalisis pengaruh signifikan variabel aksi jual-beli

asing, kurs, SBI, inflasi, Produk Domestik Bruto (PDB), indeks

Hang Seng terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di

(28)

10

b. Untuk menganalisis berapa besar pengaruh aksi jual-beli asing,

kurs, SBI, inflasi, Produk Domestik Bruto (PDB), indeks Hang

Seng pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa

Efek Indonesia.

2. Manfaat penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang

berkepentingan sebagai berikut:

a. Manfaat bagi pemerintah:

- Bagi pembuat kebijakan yang berusaha untuk menciptakan

pertumbuhan ekonomi yang stabil.

- Sebagai fakta empiris, berfungsi sebagai petunjuk dan pengingat

untuk selalu mengkaji efektivitas setiap kebijakan yang

dilaksanakan.

b. Bagi Akademisi/Peneliti

- Sebagai penambah kepustakaan dibidang ilmu ekonomi makro dan

pasar modal.

- Berguna untuk pengembangan ilmu pengetahuan secara teoritis

sebagaimana yang telah dipelajari di dalam perkuliahan dan

sebagai pengetahuan tentang pasar modal dan investasi.

- Bagi civitas akademika dapat menambah informasi, sumbangan

penelitian bahan kajian dalam penelitian.

(29)

11

- Hasil dari penelitian ini dapat membantu mereka dalam

menentukan apakah akan menjual, membeli, atau menahan saham

yang mereka miliki berkenaan dengan aksi jual-beli asing, kurs,

SBI, inflasi, Produk Domestik Bruto (PDB), dan indeks regional

(dengan proxy indeks Hang Seng) Karena kesalahan dalam

menentukan dan menerapkan strategi perdagangan di pasar modal,

akan berakibat buruk bagi perusahaan atau investor sehingga dapat

mengalami kerugian apabila memang aksi jual-beli asing, kurs,

SBI, inflasi, Produk Domestik Bruto (PDB), dan indeks regional

(dengan proxy indeks Hang Seng) benar-benar berpengaruh

terhadap IHSG.

- Pemahaman menyeluruh tentang hubungan antara pasar saham

sangat penting, karena dapat membantu mereka meramalkan

(30)

12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Indeks Harga Saham

Indeks Harga Saham (IHS) merupakan ringkasan dari pengaruh simultan dan

kompleks dari berbagai macam variabel yang berpengaruh, terutama tentang

kejadian ekonomi. Bahkan saat ini, IHS tidak saja menampung

kejadian-kejadian ekonomi, tetapi juga kejadian-kejadian-kejadian-kejadian sosial, politik, dan keamanan.

Dengan demikian, IHS dapat menjadi barometer kesehatan ekonomi suatu negara

dan sebagai dasar melakukan analisis statistik atas kondisi pasar terakhir (Current

Market) (Abdul Halim, 2005:12). Saham sebagai bukti kepemilikan perusahaan

merupakan surat berharga atau efek yang diterbitkan oleh perusahaan yang

terdaftar di bursa (go public). Fluktuasi harga saham ditentukan oleh kemampuan

perusahaan dalam memperoleh laba. Apabila laba yang diperoleh perusahaan

relatif tinggi, maka kemungkinan besar bahwa dividen yang dibayarkan juga

relatif tinggi. Apabila dividen yang dibayarkan relatif tinggi, akan berpengaruh

positif terhadap harga saham di bursa, dan investor akan tertarik untuk

membelinya.

Akibatnya permintaan akan saham tersebut menjadi meningkat, sehingga

akhirnya harganya juga akan meningkat. Penigkatan harga saham ini akan

menimbulkan capital gain bagi para pemegangnya. Sementara itu, kemampuan

perusahaan dalam memperoleh laba tersebut tidak saja ditentukan oleh

(31)

13

dipengaruhi oleh faktor lain di luar perusahaan, seperti kondisi sosial masyarakat,

politik, dan keamanan. Semuanya itu akan berpengaruh terhadap kemampuan

perusahaan dalam memperoleh laba, yang pada gilirannya akan berpengaruh juga

terhadap fluktuasi harga saham. Karena itu, fenomena ekonomi, sosial, politik,

dan keamanan berperan dalam penentuan kesehatan ekonomi suatu negara (Abdul

Halim, 2005:12).

Agar dapat melakukan investasi di pasar modal dengan baik, maka investor

harus mengetahui Indeks Harga Saham. Di BEI terdapat 6 (enam) jenis indeks,

yaitu (Abdul Halim, 2005:12-14):

1. Indeks Harga Saham Individual (IHSI), menggunakan saham masing-masing

perusahaan, dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Sumber: Abdul Halim (2005)

Dimana:

IHSI = Indeks harga saham individual pada hari ket.

NPt = Nilai pasar pada hari ket, diperoleh dari jumlah

lembar saham yang tercatat di bursa dikalikan

dengan harga pasar per lembar.

ND = Nilai dasar, BEI memberi nilai dasar IHSI 100

ketika saham diluncurkan pada pasar perdana

berubah sesuai dengan perubahan pasar. IHSIt= NPt × 100

(32)

14

2. Indeks Harga Saham Sektoral (IHSS), menggunakan saham

masing-masing sektor usaha. Di BEI indeks sektoral dibagi atas 9 (sembilan)

sektor usaha, yaitu:

a. Sektor usaha primer (Ekstraktif) meliputi:

1) Pertanian

2) Petambangan

b. Sektor usaha sekunder (Manufaktur) meliputi:

1) Industri dasar dan kimia

2) Aneka industri

3) Industri barang konsumsi

c. Sektor usaha tersier (jasa) meliputi:

1) Properti dan real estate

2) Infrastruktur, utilitas, dan transportasi

3) Keuangan

4) Perdagangan, jasa dan investasi

3. Indeks LQ 45 (ILQ 45), menggunakan saham yang terpilih berdasarkan

likuiditas perdagangan saham dan disesuaikan setiap enam bulan sekali

(setiap awal Februari dan Agustus). Dengan demikian saham yang

termasuk dalam indeks tersebut akan selalu berubah.

4. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), menggunakan seluruh saham

yang tercatat dibursa, dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Sumber: Abdul Halim (2005) IHSGt = NPt × 100

(33)

15 Dimana:

IHSGt = Indeks harga saham gabungan pada hari

Ke-t.

NPt = Nilai pasar pada hari ket, diperoleh dari

jumlah lembar saham.

ND = Nilai dasar, BEI memberi nilai dasar IHSG

100 pada tanggal 10 Agustus 1982.

IHSG untuk tanggal 10 Agustus 1982 selalu disesuaikan dengan

kejadian-kejadian seperti: penawaran saham perdana (Initial Public

Offering-IPO), right issue, company listing, delisting, dan konversi.

Rumus untuk mencari nilai dasar yang baru karena adanya

kejadian-kejadian tersebut adalah:

Sumber: Abdul Halim (2005)

Dimana:

NDB = nilai dasar baru

NDL = nilai dasar lama

NPL = nilai pasar lama

NPT = nilai pasar tambahan

5. Indeks Syariah atau Jakarta Islamic Index (JII), menggunakan saham yang

memenuhi kriteria investasi dalam syariat islam. Saham-saham yang

masuk dalam JII adalah emiten yang kegiatan usahanya tidak bertentangan NDB = NPL + NPT × NDL

(34)

16

dengan syariah islam. Usaha-usaha berikut dikeluarkan dalam perhitungan

JII, antara lain:

a. Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi.

b. Usaha lembaga keuangan yang konvensional (mengandung unsur

riba).

c. Usaha memproduksi, mendistribusikan serta memperdagangkan

makanan dan minuman yang tergolong haram.

d. Usaha yang memproduksi, mendistribusikan dan/atau menyediakan

barang-barang atau jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat.

6. Indeks Papan Utama atau Main Board Index (MBI) dan Indeks Papan

Pengembangan atau Development Board Index (DBI).

MBI dibentuk dengan menggunakan saham-saham yang dipilih

berdasarkan kriteria berikut:

a. Perusahaan telah melakukan kegitan operasional dalam usaha

utama (core business) yang sama sekurang-kurangnya selama 36

(tiga puluh enam) bulan terakhir.

b. Laporan Keuangan Auditan perusahaan memperoleh pendapat

Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama 2 (dua) tahun buku

terakhir.

c. Berdasarkan Laporan Keuangan Auditan terakhir, perusahaan

memiliki Aktiva Bersih Berwujud (net tangible assets)

sekurang-kurangnya Rp.100 miliar, dan tidak mengalami kondisi dan atau

(35)

17

mempengaruhi kelangsungan usaha. DBI dibentuk dengan

menggunakan saham peusahaan-perusahaan yang tidak memenuhi

seluruh kriteria di atas.

B. Aliran Dana Asing (Net Foreign Fund)

Ada banyak pengertian tentang investasi. Menurut Frank J. Fabozzi

manajemen investasi adalah proses pengelolaan uang. Smith dan Skousen

mengatakan, ”investing activities: transaction and events the purchase and sale of

scurities (excluding cash equivalents), and, building, equipment. And other asset

not generally held for sale, and the making, and collecting of loans. There are not

classified as operating activities, since the relate only indirectly to the central,

ongoing operations ofentity”. Disisi lain relly dan Brown memberikan pengertian

investasi adalah, “investment is the current commitment of dollar for a period of

time to device future payment that will compensate the investor for (1) the time the

funds are commited, (2) the expected rate of inflation, (3) the uncertainty of the

future payment”. (Irham Fahmi dan Yovi Laviannti Hadi, 2009:4).

Menurut PSAK Nomor 13 dalam Standar Akuntansi keuangan per 1 Oktober

2004 investasi adalah suatu aktiva yang digunakan perusahaan untuk pertumbuhan

kekayaan (accretion of wealth) melalui distribusi hasil investasi (seperti bunga,

royalty, devident, dan uang sewa), untuk apresiasi nilai investasi, atau untuk

manfaat lain bagi perusahaan yang berinvestasi seperti manfaat yang diperoleh

melalui hubungan perdagangan. Persediaan dan aktiva tetap bukan merupakan

(36)

18

Menurut Warsini (2009:1) investasi adalah kegiatan penanaman

modal/penanaman dana yang dilakukan pada saat sekarang (current) dalam

berbagai wujud aktiva untuk memperoleh penghasilan dimasa yang akan datang

(Future).

Pengertian investasi menurut Moeljadi (2006:121) merupakan suatu tindakan

melepaskan arus dana masa datang dengan jumlah yang lebih besar dari dana

yang dilepaskan pada saat investasi awal (initial investment).

Ditinjau dari segi ruang lingkupnya investasi dibedakan menjadi dua yaitu:

1. Investasi pada aktiva nyata (real assets atau real investment) misalnya

untuk pendirian pabrik-pabrik, pendirian hotel/restoran, perkebunan, dan

lain-lain.

2. Investasi pada aktiva keuangan (financial assets atau financial

investment), seperti pembelian surat berharga, baik berupa saham maupun

obligasi (Moeljadi, 2006:121).

Ditinjau dari segi kepastian memperoleh keuntungan, investasi dapat dibagi

menjadi (Moeljadi, 2006:122):

a. Investasi yang bebas risiko (free risk investment) yaitu investasi

yang akan memperoleh keuntungan secara pasti, seperti pembelian

obligasi (investment in bonds).

b. Investasi yang berisiko (risk investment) yaitu investasi yang

ditujukan bagi pembelian saham biasa (investment in real assets).

Sedangkan investasi asing merupakan kegiatan untuk upaya

(37)

19

riil. Sumber daya yang dimaksud adalah sumber daya daerah yang diolah dan di

manfaatkan untuk meningkatkan kemakmuran seluruh rakyat secara adil dan

merata. Modal asing merupakan salah satu persyaratan pertumbuhan ekonomi.

Dimana peningkatan pertumbuhan perekonomian biasanya didorong oleh

masuknya modal asing. Negara-negara sedang berkembang, termasuk Indonesia

biasanya memiliki problem besar berkenaan dengan kelangkaan modal

pembangunan (Thomas Budiman Syah, 2005:16).

Para investor asing ini biasanya bergerak mengikuti optimisme dan

pesimisme mereka terhadap indeks saham. Optimisme investor asing ini yang

ditandai dengan maraknya aksi beli oleh mereka akan memberikan sentimen

positif. Sedangkan pesimisme investor asing terjadi jika aksi jual mereka melebihi

aksi belinya pada hari atau periode perdagangan tertentu. Adanya aksi jual bersih

dari para investor asing diyakini memberikan sentimen negatif kepada pasar.

Investor asing dipandang memiliki modal besar dan mempunyai analisa

fundamental dan informasi yang lebih baik daripada investor lokal (Budi

Frensidy, 2009:2).

Menurut Neal, et.al, 2002 dalam Ignatius Roni Setyawan (2007:2-3) Positive

Feedback Trading adalah tindakan pelaku pasar asing untuk beli saham unggulan

saat winner (bullish) dan jual saham unggulan saat losser (bearish). Indikasi

adanya positive feedback trading dapat dilihat salah satunya dari makin

(38)

20

Biasanya positive feedback trading dari investor asing akan memicu aksi beli

juga oleh investor domestik. Situasi ini akan membuat market index naik. Kondisi

berbeda (negative feedback trading) membuat market index turun.

C. Nilai Tukar Rupiah

Nilai tukar atau kurs (exchange rate) adalah tingkat di mana mata uang

domestik dapat dikonversi menjadi mata uang asing (Bodie, Kane, Marcus, 2006:

175).

Kurs (exchange rate) dua negara adalah tingkat harga yang disepakati

penduduk kedua negara untuk saling melakukan perdagangan (Gregory Mankiw,

2003:123).

Menurut Gugup Kismono (2001:47) nilai tukar atau exchange rate diartikan

mata uang suatu negara apabila ditukarkan dengan mata uang negara lain.

Kurs adalah harga sebuah mata uang dari suatu negara yang

diukur/dinyatakan dalam satuan mata uang lainnya. Kurs memainkan peranan

yang amat penting dalam keputusan-keputusan pembelanjaan, karena kurs

memungkinkan bagi kita untuk menerjemahkan harga-harga dari berbagai negara

ke dalam satu bahasa yang sama (Krugman, 2000:40).

Type of exchange –rate systems (Mc.Connell & L.Brue, 2005:381):

1 A flexible-or floating- exchange rate systems: through which demand and

supply determine exchange rates and in which no government intervention

(39)

21

2 A fixed-exchange rate systems: trough which government determine

exchange rates and make necessary adjustment in their economies to

maintain those rates.

Menurut Mankiw (2003:123) Dalam literatur ekonomi nilai tukar mata uang

suatu negara dapat dibedakan menjadi dua, yaitu nilai tukar nominal dan nilai

tukar riil. Nilai tukar nominal merupakan harga relatif mata uang dua negara.

Misalnya, jika kurs antara dolar AS dan yen Jepang adalah 120 yen per dolar,

maka anda bisa menukar 1 dolar untuk 120 yen di pasar uang.

Sedangkan nilai tukar riil merupakan harga relatif dari barang-barang di

antara dua negara. Nilai tukar riil menyatakan tingkat di mana kita bisa

memperdagangkan barang-barang dari suatu negara untuk barang-barang dari

negara lain (Mankiw, 2003:125).

Kurs Riil = Kurs Nominal × Rasio Tingkat Harga

ε = e × (P/P*)

Kurs riil diantara kedua negara dihitung dari kurs nominal dan tingkat harga

di kedua negara. Jika kurs riil tinggi, barang-barang luar negeri relatif lebih

murah, dan barang-barang domestik relatif lebih mahal. Jika kurs riil rendah,

barang-barang luar negeri relatif lebih mahal, dan barang-barang domestik relatif

lebih murah.

Menurut Hady Hamdy (2008:44). Kurs mata uang suatu negara dapat

mengalami devaluasi dan revaluasi. Devaluasi adalah naiknya nilai tukar mata

(40)

22

didefinisikan sebagai suatu tindakan pemerintah untuk menurunkan nilai mata

uang asingnya terhadap nilai mata uang asing yang bertujuan untuk:

a Mendorong ekspor dan membatasi impor.

b Mendorong penggunaan produksi dalam negeri.

c Dengan BOP yang equilibrium, diharapkan kurs valas dapat menjadi

relatif stabil.

Revaluasi adalah turunnya nilai tukar mata uang negara-negara lain apabila

dipertukarkan dengan mata uang domestik. Dengan kata lain, nilai tukar mata

uang domestik menguat terhadap mata uang asing. Revaluasi diartikan sebagai

suatu tindakan pemerintah untuk menaikkan nilai mata uangnya terhadap mata

uang asing yang dilakukan karena perekonomiannya sudah mencukupi atau

mendekati full employed atau terjadi kecenderungan inflasi. Kebijakan ini dalam

jangka pendek bertujuan untuk mengurangi agregat demand dan inflasi (Hady

Hamdy, 2008:45).

Risiko nilai kurs merupakan risiko yang timbul akibat pengaruh perubahan

nilai tukar mata uang domestik dengan mata uang negara lain (asing). Perusahaan

yang menggunakan mata uang asing dalam menjelaskan aktivitas operasional dan

investasi akan menghadapi risiko nilai tukar (kurs). Perubahan nilai tukar yang

tidak diantisipasi oleh perusahaan akan berpengaruh pada nilai perusahaan

(41)

23

D. Suku Bunga SBI

Tingkat bunga adalah harga yang menghubungkan harga masa kini dan harga

masa depan, serta merupakan variabel paling penting diantara variabel-variabel

makro ekonomi (Mankiw, 2003:86).

Tingkat bunga merupakan harga yang harus dibayar oleh peminjam untuk

memperoleh dana dari pemberi pinjaman untuk jangka waktu yang disepakati.

Tingkat bunga mengirim isyarat harga kepada peminjam, pemberi pinjaman,

penabung dan investor. Jika tingkat bunga naik, maka lebih besar volume

tabungan dan merangsang peminjam dana. Sebaliknya, jika tingkat bunga

menurun cenderung menurunkan aliran tabungan dan akibatnya mengurangi

kegiatan pemberian pinjaman. Tingkat bunga yang tinggi cenderung mengurangi

volume peminjaman dan investasi modal (Herman Darmawi, 2006:181).

Sertifikat Bank Indonesia adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank

Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek (1-3 Bulan) dengan

sistem diskonto/bunga. SBI merupakan salah satu mekanisme yang digunakan

oleh Bank Indonesia untuk mengontrol kestabilan nilai rupiah. Dengan menjual

SBI, Bank Indonesia dapat menyerap kelebihan uang primer yang beredar.

Tingkat suku bunga yang berlaku pada setiap penjualan SBI ditentukan oleh

mekanisme pasar berdasarkan sistem lelang. Sejak awal Juli 2005, BI

menggunakan mekanisme ”BI rate” (suku bunga BI) yaitu BI mengumumkan

target suku bunga SBI yang diinginkan BI untuk pelelangan pada masa periode

tertentu. BI rate ini kemudian yang digunakan sebagai acuan para pelaku pasar

(42)

24

1. Hubungan tingkat bunga dengan risiko investasi

Seseorang dalam melakukan investasi cenderung untuk menghindar dari

kemungkinan menanggung risiko, tetapi tidak ada seorang pun yang terbebas dari

risiko (Kamaruddin, 2004:4).

Timbulnya risiko investasi bersumber dari beberapa faktor. Faktor-faktor

tersebut dapat terjadi bersamaan atau hanya muncul dari salah satu saja. Risiko

tingkat bunga merupakan salah satu sumber risiko investasi, terutama jika terjadi

kenaikan (Kamaruddin, 2004:4).

Risiko tingkat bunga, biasanya diukur atas pengaruhnya terhadap nilai

sekarang investasi. Rumus nilai sekarang:

Sumber: Kamaruddin (2004)

Dimana: Pt-1 = nilai sekarang saham/obligasi.

Pt = nilai penjualan akhir periode.

Ct = arus kas masuk (seperti bunga).

r = tingkat bunga pasar.

Rumus ini memberikan gambaran, jika r (tingkat bunga) meningkat, nilai

(investasi) sekarang menurun, dan sebaliknya jika tejadi penurunan tingkat bunga,

nilai (investasi) sekarang meningkat (Kamaruddin, 2004:5).

E. Tingkat Inflasi

Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum

dan terus-menerus. Kenaikan harga dari satu barang/dua barang saja tidak disebut Pt-1 = Pt +Ct

(43)

25

inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada (atau mengakibatkan

kenaikan) sebagian besar dari harga-harga barang-barang lain. Syarat adanya

kecenderungan menaik terus menerus juga karena: musiman, menjelang hari-hari

besar, atau yang terjadi sekali saja (dan tidak mempunyai pengaruh lanjutan) tidak

disebut inflasi. Kenaikan harga semacam itu tidak dianggap sebagai masalah atau

penyakit ekonomi dan tidak memerlukan kebijaksanaan khusus untuk

menanggulanginya (Boediono, 2001:155).

Inflasi adalah tingkat kenaikan harga barang-barang secara umum. Inflasi

yang tinggi sering dikaitkan dengan perekonomian “terlalu panas“ (overheated),

yaitu perekonomian di mana permintaan atas barang dan jasa melampaui kapasitas

produksinya, yang akan mendorong kenaikkan harga. Sebagian besar pemerintah

menginginkan perjalanan yang baik di dalam kebijakan ekonominya. Mereka

berharap dapat mendorong perekonomian yang cukup kuat untuk berproduksi

mendekati kapasitas penuhnya, tetapi tidak sampai menciptakan tekanan

inflasioner (Bodie, Kane, Marcus, 2006:178).

Inflation is the rate of charge in prices (Dornbursch, et.al, 2004:38). Inflation

is the a rise in the general level of prices (Mc.Connell & L.Brue, 2005:141).

Inflation is a continual rise in the price level (Colander,2006:529).

Inflation, in contrast, is a measure of how fast the average price level is

changing over time. Rate of inflation the annual percentage rate of change in the

(44)

26

Menurut Prathama Rahardja dan Mandala Manurung (2005:184-187) ada

empat indikator ekonomi makro yang digunakan untuk mengetahui laju inflasi

selama satu periode tertentu.

1. Indeks Harga Konsumen (IHK).

Angka indeks yang menunjukkan tingkat harga barang dan jasa

yang harus dibeli oleh konsumen dalam satu periode tertentu. Angka IHK

diperoleh dengan menghitung harga-harga barang dan jasa utama yang

dikonsumsi masyarakat dalam satu periode tertentu.

2. Indeks Harga Perdagangan Bebas (IHPB).

Jika IHK melihat inflasi dari sisi konsumen, maka IHPB melihat

inflasi dari sisi produsen. Oleh karena itu IHPB sering juga disebut sebagai

indeks harga produsen. IHPB menunjukkan tingkat harga yang diterima

produsen pada berbagai tingkat produksi.

3. Indeks Harga Implisit (IHI).

Untuk mendapatkan gambaran inflasi yang paling mewakili keadaan

sebenarnya, ekonom menggunakan indeks harga implisit (IHI).

Perhitungan inflasi berdasarkan IHI dilakukan dengan menghitung

perubahan angka indeks.

a. Alternatif Dari Indeks Harga Implisit.

Menurut Boediono (2001:156-158) ada berbagai cara untuk

menggolongkan macam inflasi, dan penggolongan mana yang kita

(45)

27

Penggolongan pertama didasarkan atas “parah“ tidaknya

inflasi tersebut, yaitu terdiri dari:

1) Inflasi ringan (di bawah 10% setahun)

2) Inflasi sedang (antara 10-30% setahun)

3) Inflasi berat (antara 30-100% setahun)

4) Hiperinflasi (di atas 100% setahun)

Penggolongan yang kedua adalah atas dasar sebab awal dari

inflasi. Atas dasar ini dibedakan dua macam inflasi, antara lain:

a. Inflasi yang timbul karena permintaan masyarakat akan berbagai

barang terlalu kuat. Inflasi semacam ini disebut demand inflation.

b. Inflasi yang timbul karena kenaikan ongkos produksi. Ini disebut

cost inflation.

Penggolongan yang ketiga adalah berdasarkan asal dari

inflasi, yaitu terdiri dari:

a) Inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestic inflation).

(46)

28

Ada beberapa masalah sosial yang timbul jika terjadi inflasi

(Prathama Rahardja dan Mandala Manurung, 2005:184).

a) Menurunnya Tingkat Kesejahteraan Rakyat

Tingkat kesejahteraan masyarakat, sederhana-nya diukur

dengan tingkat daya beli pendapatan yang diperoleh. Inflasi

menyebabkan daya beli pendapatan makin rendah, khususnya

bagi masyarakat yang berpenghasilan kecil dan tetap.

b) Makin Buruknya Distribusi Pendapatan

Dampak buruk inflasi terhadap tingkat kesejahteraan dapat

dihindari jika pertumbuhan tingkat pendapatan lebih tinggi

dari tingkat inflasi.

c) Terganggunya Stabilitas Ekonomi

Inflasi mengganggu stabilitas ekonomi dengan merusak

perkiraan tentang masa depan para pelaku ekonomi. Inflasi

yang kronis menumbuhkan perkiraan bahwa harga-harga

barang dan jasa akan terus naik. Bagi konsumen perkiraan ini

mendorong pembelian barang dan jasa lebih banyak dari yang

seharusnya atau biasanya. Tujuannya adalah untuk lebih

menghemat pengeluaran konsumsi. Akibatnya, permintaan

barang dan jasa justru dapat meningkat. Bagi produsen

perkiraan akan naiknya harga barang dan jasa mendorong

(47)

29

lebih besar. Akibatnya, kelebihan permintaan membesar dan

mempercepat laju inflasi.

Menurut Tandelilin (2010:342), tingkat inflasi yang tinggi biasanya dikaitkan

dengan kondisi ekonomi yang terlalu panas (overheated). Artinya, kondisi

ekonomi mengalami permintaan atas produk yang melebihi kapasitas penawaran

produknya, sehingga harga-harga cenderung mengalami kenaikan. Inflasi yang

terlalu tinggi juga akan menyebabkan penurunan daya beli uang (purchasing

power of money). Disamping itu, inflasi yang tinggi juga bisa mengurangi tingkat

pendapatan riil yang diperoleh investor dari investasinya. Sebaliknya, jika tingkat

inflasi suatu negara mengalami penurunan, maka hal ini akan menurunkan sinyal

positif bagi investor seiring dengan turunnya risiko daya beli uang dan risiko

penurunan pendapatan.

Laju inflasi dapat diukur dengan rumus sebagai berikut :

IHKt - IHKt-1

X 100%

IHKt-1

F. Produk Domestik Bruto (PDB)

Produk Domestik Bruto adalah ukuran produksi total barang dan jasa di

dalam suatu perekonomian. PDB yang tumbuh dengan cepat menunjukkan

perekonomian yang berkembang dengan peluang yang berlimpah bagi perusahaan

untuk meningkatkan penjualan (Bodie, Kane, Marcus, 2006: 177).

Gross domestic product is the total market value of all final goods and

(48)

30

by either citizen-supplied or foreign-supplied resources employed within the

country (Mc Connel & Brue, 2005:112).

Produk Domestik Bruto (GDP) mengukur pendapatan setiap orang dalam

perekonomian dan pengeluaran total terhadap output barang dan jasa

perekonomian (Mankiw, 2003:16).

Gross Domestic Product is the value of final goods and services produced in

the country within a given period (Dornbusch, dkk, 2004:22). Gross Domestic

Product measure the total value for final use of output produced by an economy,

by both residents and non residents (Todaro, 2009:46).

Menurut Sadono Sukirno (2000:33-34) Produk Domestik Bruto adalah nilai

barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksikan di dalam negara tersebut dalam

satu tahun tertentu. Nilai PDB dapat dicari dengan menggunakan persamaan:

PDB = PNB- PFN dari LN Sumber: Sadono (2000)

Dimana PFN dari LN merupakan pendapatan neto dari luar negeri. PFN dari

LN adalah pendapatan faktor-faktor produksi yang diterima dari luar negeri

dikurangi dengan pendapatan faktor-faktor produksi yang dibayarkan ke luar

negeri.

Gross domestic product (GDP) is the total value of final goods and services

produced for the marketplace during a given year, within the nation’s borders

(49)

31

Menurut Mishkin (2010:21-ββ) “Gross Domestic Product is the market value

of all final goods and services produced in a country during the course of the

year. Gross domestic bruto measured with constant prices is reffered to as real

GDP, the word real indicating that values are in terms of fixed”.

Menurut Tandelilin (2010:342) Produk Domestik Bruto adalah ukuran

produksi barang dan jasa total suatu negara. Pertumbuhan PDB yang cepat

merupakan indikasi terjadinya pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan ekonomi

membaik, maka daya beli masyarakat pun akan meningkat, dan ini merupakan

kesempatan bagi perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan penjualannya.

Dengan meningkatnya penjualan perusahaan, maka kesempatan perusahaan

memperoleh keuntungan juga akan semakin meningkat.

Gross domestic product (GDP) is the most comprehensive measure of a

nation’s total output of good and services. It is the sum of the dollar values of

consumption (C), gross invesment (I), government purchases of goods and

services (G), and net exports (X) produced within a nation during a given year

(Samuelson & Nordhaus, 2005:424).

Menurut Prathama Rahardja dan Mandala Manurung (2005:16-21) ada tiga

cara perhitungan pendapatan nasional, yaitu

a. Perhitungan pendapatan nasional dengan pendekatan produksi diperoleh

dengan cara membagi-bagi perekonomian menjadi beberapa sektor

produksi (industrial origin). Jumlah output masing-masing sektor

merupakan jumlah output seluruh perekonomian. Hanya saja ada

(50)

32

berasal dari output sektor lain. Dengan kata lain jika tidak berhati-hati

akan terjadi perhitungan ganda (double-counting) atau bahkan multiple

counting.

b. Perhitungan pendapatan nasional dengan pendekatan pendapatan diperoleh

dengan cara menjumlahkan nilai total balas jasa atas faktor produksi yang

digunakan dalam proses produksi.

c. Perhitungan pendapatan nasional dengan pendekatan pengeluaran.

Menurut pendekatan ini ada beberapa jenis pengeluaran agregat dalam

suatu perekonomian:

1. Konsumsi Rumah Tangga.

2. Konsumsi Pemerintah.

3. Pengeluaran Investasi.

4. Ekspor Neto.

G. Indeks Hang Seng

Dengan semakin terintegrasinya perekonomian global dan menyatunya pasar

uang beberapa negara dalam wilayah yang berdekatan, ketergantungan ekonomi

suatu negara pada ekonomi dunia juga semakin besar. Demikian juga yang terjadi

dengan pasar modal suatu negara (Budi Frensidy, 2009:5).

Menurut Nachrowi dan Usman (2006) dalam Budi Frensidy (2009:5) pasar

modal yang kuat dapat mempengaruhi pasar modal yang lemah. Sebagai salah

satu pasar modal yang sedang berkembang, BEI diduga sangat dipengaruhi indeks

(51)

33

Average (DJIA) dari bursa saham New York, Nikkei 225 (bursa saham Tokyo),

dan Hang Seng (bursa saham Hong Kong). Indeks ketiga bursa itu dapat

digunakan sebagai salah satu variabel independen yang menentukan pergerakan

IHSG.

Indeks Hang Seng atau juga dikenal dengan nama Hang Seng Index (HSI)

merupakan indeks saham utama dari Hong Kong Stock Exchange (HKEX). Hang

Seng Index adalah indeks harga saham di pasar modal Hong Kong yang dihitung

dengan menggunakan metode kapitalisasi pasar tertimbang bebas-disesuaikan.

Indeks ini digunakan untuk memonitor dan mencatat perubahan harian dari

perusahaan-perusahaan terbesar di pasar modal Hong Kong dan merupakan

indikator utama untuk kinerja keseluruhan pasar di Hong Kong. Saat ini Hang

Seng terdiri dari 42 perusahaan dan mewakili sekitar 65% dari kapitalisasi Hong

Kong Stock Exchange) (www.mahadanalearning.com).

Namun demikian, penulis memilih indeks Hang Seng sebagai proxy indeks

regional karena alasan-alasan berikut:

1. Dibandingkan bursa saham di New York-AS dan di Tokyo-Jepang, indeks

Hang Seng lebih dekat secara geografis dengan perbedaan waktu yang

paling sedikit yaitu hanya 1 jam. Bursa saham kita berbeda hingga 12 jam

dengan bursa saham di New York dan 2 jam dengan bursa saham di

Tokyo.

2. Indeks Hang Seng adalah berdasarkan nilai, sama seperti IHSG.

(52)

34

3. Penghitungan indeks Hang Seng adalah menggunakan seluruh populasi,

sama seperti penghitungan IHSG kita. Ini berbeda dengan DJIA dan

Nikkei 225. DJIA dihitung dari sampel sebanyak 30 saham perusahaan

yang menjadi pemimpin pasar di industrinya dan Nikkei 225 dihitung dari

sampel 225 saham di bursa Tokyo.

4. Dilihat dari kapitalisasi pasar per awal Desember 2007, bursa efek kita

dengan kapitalisasi pasar hanya sebesar 278 miliar dolar AS, lebih dekat

dengan bursa saham Hong Kong (Hang Seng) dengan kapitalisasi pasar

2.974 miliar dolar AS. Bursa saham Tokyo berkapitalisasi 4.627 miliar

dolar AS, sedangkan kapitalisasi bursa saham New York sudah mencapai

16.281 miliar dolar AS.

5. Indeks Hang Seng lebih mendekati pergerakan IHSG karena sifat bearish

atau terus turunnya indeks Nikkei selama belasan tahun terakhir sejak

1989. Pada saat itu indeks Nikkei 225 sempat menyentuh indeks

39.000-an, namun kini indeks Nikkei hanya berkisar di angka 16.000-an.

H. Penelitian Terdahulu

Budi Frensidy (2009) dalam penelitiannya mengenai pengaruh aksi jual-beli

asing, kurs dan indeks Hang Seng dengan model GARCH. Hasilnya ditemukan

bahwa aliran bersih dana asing (NFF) mempengaruhi perubahan IHSG secara

positif dengan koefisien 0,0009γ6 dan signifikan pada α = 1%, Sementara itu,

hubungan antara perubahan kurs dengan perubahan IHSG adalah negatif dengan

koefisien –0,593601 dan koefisien hubungan antara perubahan indeks Hang Seng

(53)

35

bebas seperti aliran bersih dana asing, perubahan kurs, dan perubahan indeks

Hang Seng menyumbangkan 56,9% terhadap variasi variabel perubahan IHSG,

cukup signifikan. Semua varabel independen signifikan pada = 1%. Begitu juga

dengan nilai F-stastitik untuk keseluruhan model yang juga signifikan pada α =

1%.

Igantius Roni Setyawan (2006) melakukan penelitian mengenai pengaruh net

Buying (Selling) investor asing dan perubahan kurs terhadap pergerakan IHSG

dengan model ARCH/GARCH, hasilnya model terbaik untuk memprediksi arah

pergerakan IHSG adalah TARCH plus AR (1) karena memilki R2 yang lebih

tinggi dibanding ARCH-M.

Tendi Haruman, Trimanto S Wardoyo dan Rosi rosmayanti (2005) dalam

Muhammad Arief Yusuf (2008) dalam penelitiannya mengenai pengaruh nilai

tukar per dollar AS, tingkat suku bunga SBI, dan inflasi IHK terhadap IHSG di

BEI (periode Juli 2003- Juli 2005), menyimpulkan bahwa hasil analisa statistik

secara simultan terdapat pengaruh antara nilai tukar rupiah per dollar AS, tingkat

suku bunga SBI dan inflasi IHK terhadap IHSG di BEI. Hal ini dapat dibuktikan

karena tingkat signifikansi pada uji F yang dihasilkan secara simultan < Q (0,05)

yaitu sebesar 0,000. Sedangkan hubungannya adalah sebesar 0,396 atau 39,6%.

Sitinjak dan Kurniasari (2003) dalam Ana Octavia (2007) mereka

menyimpulkan bahwa jika kurs (nilai tukar dolar terhadap rupiah) naik satu satuan

berarti akan terjadi penurunan indikator pasar (IHSG) saham sebesar satu satuan.

Terutama sekali pada saat kondisi pasar sedang bearish. Sedangkan pada pasar

(54)

bersama-36

sama berpengaruh positif. Terutama pada indikator pasar uang SBI, signifikan

positif untuk mempengaruhi pasar saham.

Pananda Pasaribu dkk, (2009) dalam penelitiannya mengenai pengaruh

variabel makro ekonomi terhadap IHSG dengan menggunakan analisis regresi

linier berganda, hasil regresi menunjukkan bahwa sebagian besar faktor domestik

tidak berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Indikator ekonomi domestik

berupa: inflasi, SBI dan kurs tengah. Sedangkan faktor asing dan informasi

mengenai aliran modal mempunyai pengaruh yang cukup signifikan atas

pergerakan IHSG. Indeks regional yang diproksi indeks Hang Seng mempunyai

pengaruh yang sangat signifikan atas pergerakan IHSG, ketika indeks Hang Seng

turun maka IHSG juga akan mempunyai arah yang sama.

Ana Octavia (2007) meneliti tentang analisis pengaruh nilai tukar rupiah/US$

dan tingkat suku bunga SBI terhadap IHSG di BEJ dengan menggunakan teknik

analisis regresi linier berganda dengan persamaan kuadrat terkecil (ordinary least

square), hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama ada pengaruh

yang sangat signifikan antara nilai tukar rupiah/US$ dan tingkat suku bunga SBI

terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta periode 2003-2005

dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Sedangkan secara parsial juga terdapat

pengaruh yang sangat signifikan antara nilai tukar rupiah/US$ terhadap Indeks

Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta periode 2003-2005 dengan nilai

signifikansi sebesar 0,000.

Titman dan Warga (1989) dalam Zaenal Arifin (2007:155) menemukan

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Variabel Aksi Jual-Beli Asing (Tabel 4.1 Net Foreign Fund)
Tabel 4.2 Variabel Kurs
Gambar 4.2 Variabel Kurs
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada pembuluh darah abnormal 1 dengan luas daerah penyempitan adalah 128,125 mm2, maka pembuluh darah tersebut akan mengalami perubahan arah aliran darah yang terlihat pada

30 (Revisi 2007) klasifikasi sewa didasarkan pada sejauh mana risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset sewaan berada pada lessor atau lessee, dan pada

‘Abd Allah Nasih ‘Ulwan (2006) dalam bukunya yang begitu terkenal, Tarbiyah al-Awlad fi al-Islam, telah menggariskan tujuh aspek pendidikan yang perlu dilaksanakan oleh setiap pihak

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala berkat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penelitian serta menyusun skripsi ini

Uji lanjut berganda duncan menunjukkan perendaman auksin selama 60 menit memberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkan dengan yang lain pada parameter tinggi tunas

Dari hasil data forecasting yang telah dilakukan pada data kepadatan penduduk kecamatan Sukun dari 10 tahun terakhir pada motede aritmatik dengan hasil pengujian validasi

Memerhatikan cara al-Sa‘di&gt; dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran, dapat disimpulkan bahwa kitab Tafsi&gt;r al-Sa‘di&gt; ditinjau dari segi sumbernya menggunakan dua

Kriteria inklusi dalam penyaringan artikel ini adalah artikel yang berkaitan dengan terapi reminiscence pada lansia dengan depresi , jurnal/artikel yang