Meningkatan Hasil Belajar Bermain Musik Ansambel Melalui Metode
Tutor Sebaya Kelas VIID SMP Negeri 14 Purworejo
Tahun Pelajaran 2012/2013
Skripsi
Disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana PendidikanProgram Studi
Pendidikan Seni Musik
Oleh
Nama : SUNARDI NIM :250 191 2021
JURUSAN PENDIDKAN SENI DRAMA, TARI, DAN MUSIK FAKULTAS BAHASA DAN SENI
MOTTO
Motto :
1. Sebaik-baik manusia adalah ia dapat memberi manfaat bagi orang lain.
2. Mempunyai uang adalah baik, tetapi lebih baik lagi mempunyai hal-hal yang tidak didapat dengan uang ( H. Agus Salim)
3. Tiada seseorang yang menutupi (cacat) seseorang didunia, melainkan kelak dihari kiamat Alloh pasti akan menutupi cacatnya.( Al- Quran)
PERSEMBAHAN
Persembahan
Dengan penuh rasa syukur kepada
Alloh SWT, atas segala karuniaNya,
skripsi ini saya persembahkan untuk:
1. Kedua orang tuaku (Bp Sastro Rejo
dan ibu Boniyem) yang telah
mencurahkan segenap kasih
sayangnya.
2. Istri dan anaku tersayang(
Susmiyati) yang telah memberi
motivasi untuk terus maju.
3. Rekan-rekan seperjuangan yang
telah memberi sport untuk terus
Puji syukur kehadirat Alloh yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahnya sehingga sekripsi yang berjudul Meningkatan Hasil Belajar Bermain
Musik Ansambel Melalui Metode Tutor Sebaya Kelas VIID SMP Negeri 14
Purworejo Tahun Pelajaran 2012/2013dapat selesai.
Dalam penulisan sekripsi ini ini tidak sedikit bantuan yang saya terima
dari pihak lain, baik berupa moril maupun materiil. Oleh karena itu saya ingin
menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Fatkhur Rokhman, M.Hum, Rektor UNNES yang telah
memberi kesempatan untuk dapat menempuh studi di Universitas Negeri
Semarang.
2. Bapak Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni
yang telah memberikan izin penulis dalam melakukan penelitian.
3. Bapak Joko Wiyoso, S.Kar, M. Hum. Ketua Jurusan Pendidikan Sendratasik
FBS UNNES yang telah memberikan kemudahan dalam penyusunan skripsi
ini.
4. Bapak Dr. Udi Utomo, M. Si. Dosen pembimbing pertama, ibu Dra. Siti
Aesiyah, M.Pd. yang telah meluangkan waktu dengan sunguh-sungguh, sabar,
dan teliti dalam membimbing, mengarahkan dan mengoreksi serta
memberikan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Bapak Drs. Umbar Setyo Rahayu, M.M Kepala Sekolah SMP Negeri 14
Purworejo yang telah memberikan izin dalam penelitian ini.
Semoga semua bantuan tersebut mendapat balasan yang lebih baik dari
Alloh SWT, dan penulis berharap semoga hasil penelitian ini dapat
berguna bagi perkembangan dan kemajuan dalam dunia pendidikan
kususnya mapel Seni Budaya, Amin.
Semarang, Juli 2013
Penulis
Sunardi, 2013. “Meningkatan Hasil Belajar Bermain Musik Ansambel Melalui Metode Tutor Sebaya Kelas VIID SMP Negeri 14 Purworejo Tahun Pelajaran 2012/2013”, Skripsi, Jurusan Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing 1 Dr. Udi Utomo, M.Si, dan pembimbing 2 Dra. Siti Aesiyah, M.Pd.
Dalam pembelajaran praktik ansambel musik, pengelolaan kelas secara tepat sangat diperlukan. Berdasarkan pengalaman peneliti, pembelajaran secara klasikal belum membuahkan hasil yang maksimal. Oleh karena itu, sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam bermain musik ansambel melalui penelitian ini peneliti akan mencoba menerapkan metode Tutor sebaya.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas, yang dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Proses pelaksanaan, penelitian ini dibagi menjadi 3 siklus, setiap siklus mencakup 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, unjuk kerja, angket dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Metode tutor sebaya mampu meningkatkan hasil belajar bermain recorder. (2) Metode tutor sebaya mampu meningkatkan hasil belajar bermain pianika.(3) Metode tutor sebaya mampu mengefektifkan waktu pertemuan di dalam kelas dibandingkan dengan metode klasikal.
3.1Setting dan Subyek Penelitian...24
3.2Jenis Data dan Cara Pengambilannya...24
3.3Pendekatan Penelitian...24
3.4Metode Penelitian...25
3.5Teknik Analisa Data...26
BAB 4 HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum dan Letak Penelitian...30
4.1.1Letak Geografis dan Lokasi...30
4.1.2 Sarana dan Prasarana Sekolah...31
4.1.3 Kondisi Siswa SMP Negeri 14Purworejo...31
4.1.4 Kondisi Pengajar SMP Negeri 14 Purworejo...31
4.2 Diskriptif Kondisi Awal...33
4.3 Diskriptif Hasil Belajar Siklus 1...40
4.4 Diskriptif Hasil Belajar Siklus 2...50
4.5 Diskriptif Hasil Belajar Siklus 3...60
BAB 5 PENUTUP 5.1 Simpulan...69
5.2 Saran...69
DAFTAR PUSTAKA...70
DAFTAR LAMPIRAN
1. Lampiran Surat Ijin Penelitian...71
2. Lampiran Surat Keterangan Melakukan Penelitian...72
3. Lampiran Pelaksanaan bimbingan...73
4. Lampiran1. Instrumen Lembar Penelitian Kondisi Awal ...74
5. Lampiran2. Instrumen Penelitian Siklus 1...76
6. Lampiran3. Instrumen Penelitian Siklus 2...78
7. Lampiran4 Instrumen Penilaian Siklus 3...80
8. Lampiran5. RPP Kondisi Awal...82
9. Lampiran6 RPP Siklus1...79
10.Lampiran RPP Siklus2...95
1. Gambar1: Alat Musi Recorder...11
2. Gambar2: Alat Musik Pianika...12
3. Gambar3: Alat Musik Gitar...13
4. Gambar4: Alat Musik Rebana...14
5. Gambar5: Tampak Depan SMP Negeri 14 Purworejo...30
6. Gambar6: Histogram Perolehan Nilai Kondisi Awal...38
7. Gambar7: Histogram Perolehan Nilai ...39
8. Gambar8: Histogram Perolehan Nilai Slkus 1...46
9. Gambar9: Histogram Pengelompokan Nilai Siklus 1...48
10.Gambar10: Histogram Nilai Siklus 2...53
11.Gambar11: Histogram Kelompok Nilai Siklus 2...56
12.Gambar11: Histogram Kelompok Nilai Siklus 3...65
13.Gambar11: Histogram Nilai Siklus 3...67
DAFTAR TABEL
1. Tabel 1: Prasarana gedung SMP Negeri 14 Purworejo...31
2. Tabel 2: Jumlah Siswa SMP Negeri 14 Purworejo...32
3. Tabel 3: Pendidik di SMP Negeri 14 Purworejo...32
4. Tabel 4: Nilai Ulangan kondisi awal...33
5. Tabel 5: Nilai ulangan dan ketuntasan kondisi awal...34
6. Tabel 6: Hasil penilaian pianika kondisi awal...35
7. Tabel 7: Hasil penilaian recorder kondisi awal...36
8. Tabel 8: Prosentase kondisi awal...37
9. Tabel 9: Rincian kondisi awal...38
10.Tabel 10: Nilai ulangan siklus 1...41
11.Tabel 11: Nilai siklus 1...42
12.Tabel 12: Nilai ulangan pianika siklus 1...43
13.Tabel 13: Nilai ulangan recorder siklus 1...43
14.Tabel 14: Prosentase nilai siklus 1...44
15.Tabel 15: Nilai Hasil belajar siklus 2...44
16.Tabel 16: Nilai hasil belajar pianika siklus 2...45
17.Tabel 17: Frekwensi Nilai kualitatif siklus 1...46
18.Tabel 18: Frekwensi nilai Hasil belajar siklus 1...47
19.Tabel 19: Aktifitas siswa dalam KBM kondisi awal...49
20.Tabel 20: Diskriptif Komparatif kondisi awal...49
21.Tabel 21: Refleksi siklus 1...50
22.Tabel 25: Nilai ulangan siklus 2...51
23.Tabel 26: Nilai ulangan siklus 2 keseluruhan...52
24.Tabel 27:Refleksi siklus 2...53
25.Tabel 28: Hasil penilaian alat musik pianika...54
26.Tabel 29: Hasil penilaian alat musik recorder...54
27.Tabel 30: Prosentase siklus 2...56
28.Tabel 31: Frekuensi hasil belajar siklus 2...57
29.Tabel 30: Diskriptif komparatif Prosentase siklus 2...58
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pembelajaran seni musik adalah pembelajaran seni budaya yang berusaha
menggali serta mengembangkan potensi estetika peserta didik serta
mempengaruhi siswa agar mempunyai nilai estetika sehingga dapat memperhalus
budi pekerti, karena dalam seni terdapat unsur- unsur keindahan, keteraturan,
kedisiplinan dan dinamika. Melalui pendekatan ”belajar dengan seni,”” belajar
melalui seni ”, dan ” belajar tentang seni’, pembelajaran seni musik diberikan
karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap perkembangan
peserta didik berupa pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan
berekspresi / berkreasi. pembelajaran seni musik diharapkan mampu memberikan
pemahaman, pengetahuan, pengalaman juga kemampuan berkarya seni agar siswa
bisa berapresiasi terhadap budaya sendiri dan bisa menghargai orang lain yang
pada akhirnya mereka bisa berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Keberlangsungan pembelajaran seni budaya juga sudah
dioptimalkan dengan melayani kebutuhan hakiki berkesenian sesuai bakat dan
minat siswa dengan menerapkan model pembelajaran Tutor Sebaya sehingga
terwujud kelas seni musik, seni rupa, dan seni tari pada jam pelajaran yang
bersamaan sekaligus.
Ketersediaan fasilitas yang representatif di sekolah tidak serta merta
2
mengembangkan kemampuan apresiasi dan kreatifitas bermain musik.
Beberapa faktor penyebabnya antara lain:
a) perbedaan rentang nilai yang menyolok antara siswa yang skill/ talenta
musikalnya bagus dengan siswa yang kurang cakap;
b) munculnya sikap egois siswa pandai yang merasa tinggi hati dan enggan
berbagi kecakapan dengan temannya yang belum menguasai alat musik
secara baik;
c) rendahnya motivasi berlatih musik bagi sebagian siswa terutama penguasaan
akord-akord lagu disebabkan terbatasnya mendapat bimbingan yang memadai;
d) Keterbatasan daya pemantauan guru kepada siswa dalam penugasan latihan
musik di luar sekolah juga berdampak lambatnya mengasah skill siswa.
Apalagi dalam permainan musik Ansambel yang terbatas pada grup/kelompok
kecil menuntut skill masing-masing pemusik dalam membawakan suatu karya
music. Sementara alokasi waktu tatap muka yang tersedia belum bisa secara
maksimal menghasilkan kualitas pembelajaran yang optimal. Di sisi lain, tak
bisa dipungkiri bahwa teramat jarang ditemukan guru seni yang memiliki multi
talenta dalam kecakapan menguasai permainan seluruh ragam alat musik.
Sehingga praktis guru hanya mampu memberikan dasar-dasar bermain musik
untuk beberapa jenis alat musik tertentu saja.
Berdasarkan paparan adanya kesenjangan untuk tuntutan pembelajaran
bermain musik bersama yang disebabkan masih banyak hambatan belajar oleh
factor eksternal, maka diusulkan solusi yang berkaitan dengan strategi
permasalahan tersebut adalah strategi pembelajaran tutor sebaya. Model
pembelajaran dengan mengandalkan kemampuan teman sebaya sebagai
tutor/pembimbing dalam praktik bermain musik ini dipilih mengingat ada
beberapa siswa yang sudah memiliki kecakapan bermain musik. Hasil yang
diharapkan, siswa dapat belajar bersama, saling menyumbangkan pikiran dan
bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individu maupun
kelompok. Terutama pada materi pembelajaran dengan kompetensi menyajikan
musik bersama dari karya musik Daerah setempat. Pengembangan gagasan
kreatif dalam bentuk Ansambel yang menuntut skill musical seseorang harus bisa
menyesuaikan dengan pemain lain. Siswa harus menjaga atau menciptakan
harmonisasi dari musik yang mereka mainkan. Dengan bermain musik di sebuah
music ansambel, siswa dapat belajar bagaimana menyatukan rasa hati & visi,
melatih kesabaran, keuletan, belajar menghargai ide atau pendapat orang lain,
belajar disiplin, belajar bersosialisasi dan banyak lagi sisi edukasi positif.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian
tujuan pembelajaran pendidikan seni budaya di sekolah Menengah Pertama adalah
agar peserta didik dapat berapresiasi dan berkreasi di bidang seni. Apresiasi
berarti kegiatan mengartikan dan menyadari sepenuhnya seluk beluk karya seni
menjadi sensitif terhadap gejala estetis sehingga mampu menikmati dan menilai
karya karya tersebut secara semestinya. Sedangkan kreasi berarti mampu
mengungkapkan perasaan estetis/ keindahan kedalam bentuk karya seni.
Tujuan pembelajaran seni di kelas 7 semester II adalah Mengekspresikan
4
Menyajikan karya musik daerah setempat secara perorangan maupun kelompok di
depan kelas. Dari penjabaran diatas setiap peserta didik di tuntut untuk dapat
menampilkan hasil karya seni dalam bentuk musik ansambel di depan kelas.
Pembelajaran seni budaya di SMP Negeri 14 Purworejo, selama tahun
pelajaran 2012/ 2013 lebih sering menggunakan metode klasikal, yang dalam
pelaksanaannya metode ini lebih berpusat pada aktifitas guru. Selain aktifitas
metode klasikal juga membutuhkan banyak waktu. Pembelajaran Seni Budaya di
Sekolah Menengah Pertama Negeri 14 Purworejo, setiap kelas hanya tersedia
waktu dua jam perminggu. Dan waktu dua jam tersebut digunakan untuk
menyajikan seni Tari dan seni musik. Sehingga waktu yang tersedia untuk setiap
sub mapel seni budaya sangat terbatas.
Kenyataan di kelas 7D pada pelajaran seni budaya KD Mengekspresikan
diri melalui karya seni musik yang dijabarkan dalam Kompetensi Dasar
Menyajikan karya musik daerah setempat secara perorangan maupun kelompok
tersebut Dari 32 siswa di kelas 7D, baru ada 59% siswa yang telah mencapai
KKM, sedangkan 41% peserta didik yang lain masih mendapat nilai di bawah
KKM. Hal ini terjadi dikarenakan kurangnya latihan dalam bermain musik.
Arikunto (1986:77) Metode tutor sebaya ialah pemanfaatan siswa yang
mempunyai keistimewaan, kepandaian dan kecakapan di dalam kelas untuk
membantu memberi penjelasan, bimbingan dan arahan kepada siswa yang
kepandaiannya agak kurang atau lambat dalam menerima pelajaran yang usianya
hampir sama atau sekelas. Tutor sebaya dalam penelitian ini diambil dari kelas
Winarsih, Dwi Cahyo Triana, Famelia Safitri, Fani Asih Rahmawati, Gefira Citra
Verawati, Muwafikhoh Zamzami, Setyo Aprilianto, dan Tiani Khamidah. Dalam
metode Tutor sebaya ini diharapkan anak yang kurang pandai atau mengalami
kesulitan dalam penguasaan materi dapat di bantu kesulitannya.
Pembelajaran dengan metode Tutor Sebaya, waktu pelaksanaan dapat
berjalanan dengan sangat leluasa. Siswa dapat belajar tidak hanya di dalam kelas,
di luar kelas pun siswa dengan santai dapat belajar sebaik-baiknya, hal ini dapat
dilakukan karena yang membantu mnyampaikan materi berasal dari teman
sejawat. Selain waktu yang tersedia cukup banyak, , dalam pembelajaran Tutor
Sebaya peran guru lebih banyak sebagai pengontrol kondisi kelas, dan pengendali
suasana.
Berdasarkan pengalaman yang dialami oleh Sdr. Erni Ratnaningsih
(Desember 2010) dari muntilan, yang menerapkan pembelajaran Tutor sebaya
pada materi geometri dimensi tiga di SMA 1 Muntilan, bahwa pembelajaran tutor
sebaya memperoleh hasil jauh lebih baik dari pada pembelajaran klasikal. Begitu
pula yang dialami sdr Sabarudin dari SD Karawa Kab. Pinrang pada yang
menyatakan bahwa Pembelajaran tutor sebaya mampu meningkatkan hasil belajar
pada mapel IPS.
2. Identifiksi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti mengidentifikasi masalah
sebagai berikut:
a. Kurang lebih 41% siswa belum tuntas dalam belajar musik ansambel.
6
c. Adanya kesenjangan nilai antara siswa yang tuntas KKM dengan nilai dari
siswa yang belum tuntas KKM.
1.3.Permasalahan
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka permasalahan umum
dalam PTK ini adalah bagaimanakah peningkatkan hasil belajar Bermain Musik
Ansambel di Kelas VIID SMP Negeri 14 Purworejo dengan menggunakan metode
tutor sebaya. Secara khusus permasalahan penelitian dapat dirumuskan sebagai
berikut.
1.3.1 Apakah dengan metode tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar
bermain rekorder pada pembelajaran ansambel di kelas VIID SMP Negeri
14 Purworejo?
1.3.2 Apakah dengan metode tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar
bermain pianika pada pembelajaran ansambel di kelas VIID SMP Negeri
14 Purworejo?
1.3.3 Seberapa banyak kelebihan metode tutor sebaya memiliki kelebihan
dibandingkan dengan metode klasikal dalam pembelajaran.
1.4.Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan penilitian ini adalah
untuk:
1.4.1 Mengetahui dan mendiskripsikan dan menganalisa peningkatkan hasil
belajar bermain rekorder pada pembelajaran ansambel di kelas VIID SMP
1.3.2 Mengetahui dan mendiskripsikan peningkatkan hasil belajar bermain
pianika pada pembelajaran ansambel di kelas VIID SMP Negeri14
Purworejo melalui metode tutor sebaya.
1.3.3 Mengetahui kelebihan metode tutor sebaya dalam pembelajan, dibanding
dengan metode klasikal.
1.4 Manfaat Penelitian
Berdaarkan latar belakang rumusan masalah dan tujuan penelitian
tersebut, maka penelitian ini penelitian ini diharapkan memberi manfaat :
1.4.1 :Manfaat teoritis, untuk melengkapi khasanah penelitian pendidikan
khususnya tentang Penelitian Tindakan Kelas di SMP Negeri 14
Purworejo.
1.4.2 Manfaat Praktis
1.4.2.1Bagi guru musik untuk menambah wawasan pengetahuan dalam
bidang pendidikan kususnya Penelitian Tindakan Kelas.
1.4.2.2Meningkatkan kemampuan guru dalam menggali berbagai metode
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1. Pengertian Belajar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara Etimologis belajar memiliki
arti “berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”. Definisi ini memiliki
pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian
atau ilmu. Fudyartanto dalam Nanik Suprihyatin (2011:3) memperjelas definisi
mengungkapkan bahwa belajar adalah usaha manusia untuk memenuhi
kebutuhannya mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dipunyai
sebelumnya.
Margon dkk dalam Nanik Suprihyatin( 2011: 4) menyatakan bahwa belajar
adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan
atau pengalaman. "Belajar adalah suatu perubahan perilaku, akibat interaksi
dengan lingkungannya" (Ali Muhammad, 2004:14). Perubahan perilaku dalam
proses belajar terjadi akibat dari interaksi dengan lingkungan. Interaksi biasanya
berlangsung secara sengaja. Dengan demikian belajar dikatakan berhasil apabila
terjadi perubahan dalam diri individu. Sebaliknya apabila tidak terjadi perubahan
dalam diri individu maka belajar tidak dikatakan berhasil.
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai
hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya
Dari beberapa definisi di atas dapat penulis simpulkan bahwa belajar
adalah Usaha manusia dalam memperoleh pengetahuan atau ilmu yang belum
dimiliki dalam untuk meraih perubahan tingkah laku.
2.2. Pengertian Hasil Belajar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahwa yang dimaksud dengan
Hasil belajar adalah “penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang
dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau
angka nilai yang diberikan oleh guru”.
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah
menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004:22). Sedangkan menurut
Horwart Kingsley dalam bukunya Sudjana membagi tiga macam hasil belajar
mengajar : (1). Keterampilan dan kebiasaan, (2). Pengetahuan dan pengarahan,
(3). Sikap dan cita-cita (Sudjana, 2004:22).
Hasil belajar banyak diartikan sebagai seberapa jauh hasil yang telah
dicapai siswa dalam penguasaan tugas-tugas atau materi pelajaran yang diterima
dalam jangka waktu tertentu. Hasil belajar pada umumnya dinyatakan dalam
angka atau huruf sehingga dapat dibandingkan dengan satu kriteria (Prakosa,
1991).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah
kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia
menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan
10
2.2. b. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar.
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor
dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa (Sudjana, 1989:39). Dari
pendapat ini faktor yang dimaksud adalah faktor dalam diri siswa perubahan
kemampuan yang dimilikinya seperti yang dikemukakan oleh Clark (1981:21)
menyatakan bahwa hasil belajar siswa disekolah 70% dipengaruhi oleh
kemampuan siswa dan 30 % dipengaruhi oleh lingkungan. Demikian juga faktor
dari luar diri siswa yakni lingkungan yang paling dominan berupa kualitas
pembelajaran (Sudjana, 2002:39).
Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kamampuan siswa dan kualitas
pengajaran. Kualitas pengajaran yang dimaksud adalah profesional yang dimiliki
oleh guru. Artinya kemampuan dasar guru baik di bidang kognitif (intelektual),
bidang sikap (afektif) dan bidang perilaku (psikomotorik).Dari beberapa pendapat
di atas, maka hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor dari dalam individu
siswa berupa kemampuan personal (internal) dan faktor dari luar diri siswa yakni
lingkungan. Dengan demikian hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau
diperoleh siswa berkat adanya usaha atau fikiran yang mana hal tersebut
dinyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang
terdapat dalam berbagai aspek kehidupa sehingga nampak pada diri indivdu
penggunaan penilaian terhadap sikap, pengetahuan dan kecakapan dasar yang
terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu
2.3. Musik Ansambel
2.3.a. Definisi musik Ansambel.
Ansambel secara umum diartikan sebagai bentuk bermain musik
bersama-sama. Ensemble (Prancis) juga berarti kelompok musik dalam satuan kecil atau permainan bersama dalam satuan kecil alat musik (Banoe, 2003: 133). Dalam
kaitannya dengan kegiatan ansambel musik, sering pula kita gunakan pengelompokan
musik atas dasar fungsi atau perasannya di dalam permainan. Menurut peranan dan
fungsinya alat-alat musik yang digunakan dalam bermain musik ansambel dapat
dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu sebagai berikut :
1.Alat Musik Melodis
Alat musik melodis yaitu alat musik yang berfungsi untuk memainkan rangkaian
susunan nada - nada merupakan melodi lagu. Contoh alat musik melodi yang dapat kita
jumpai dan mudah untuk dipelajari siswa adalah Recorder dan Pianika.
1.1 Alat musik Recorder
Gb.1. Alat musik Recorder
Alat musik recorder dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu: . Recorder
12
bagian kepala, sebagai sumber bunyi dan tempat bidang tiupan, bagian badan, dan bagian
kaki. Tiga hal yang perlu diperhatikan waktu memainkan recorder sopran yaitu (1) sikap
badan tegak, tidak membungkuk. (2) pengaturan yang baik, erat hubungannya dengannya
pengungkapan atau interpretasi. Pernapasan yang baik adalah menggunakan pernapasan
diafrakma. (3) Cara membunyikan recorder, cara yang baik adalah dengan
menyentuhkan ujung lidah dengan lubang tiup dan meniupnya dengan tiupan “tu” bukan
“ hu”.
Pianika
Setyaningsih ( 2007: 65) mengutarakan pianika adalah alat musik bertuts yang
dimainkan dengan cara ditiup. Bilahan-bilahan nadanya (tuts) ada yang berwarna putih
untuk nada- nada natural, dan berwarna hitam untuk nada-nada kromatis. Jumlah tuts
pianika bervareasi ada yang 24, 25, 26, dan 36. Dalam memainkan alat musik pianika,
tangan kiri memegang pianika, dan tangan kanan menekan tuts untuk memainkan melodi
lagu.
2.Alat musik harmonis
Alat musik harmonis yaitu alat musik yang berfungsi untuk mengiringi
perjalanan melodi lagu ( dengan menggunakan akor – akor tertentu ), yang termasuk alat
musik harmonis yang mudah dijumpai dan dapat dimainkan siswa seperti piano
(keyboard), gitar, dan dapat juga terdiri atas tiga unsur pianika yang memainkan
perbedaan nada sehingga membentuk akord.
Gb.3. Alat musik Gitar
3.Alat musik ritmis
Alat musik ritmis yaitu alat musik yang berfungsi sebagai pengatur jalannya
irama musik atau mengatur lagu, contohnya disini kita dapat menggunakan senar drum
atau tamborin, kendang, ketipung, bedug dan lain-lain. Dalam bermain ansambel musik
dibutuhkan kekompakan antar bagian, oleh karena itu sebelum memulai praktek setiap
kelompok bagian akan memiliki satu ketua kelompok yang bertugas mengkoordinasi,
baik itu bagian, melodis, harmonis ataupun ritmis, sedangkan untuk komposisi pemain,
14
kekompakan. Kemampuan seseorang tidak akan berarti bila tidak didukung oleh
kekompakan kelompok.
Gb.4. Alat musik Rebana
Setyaningsih (2007:60) mengatakan ansambel adalah sajian musik yang
hanya terdiri dari permainan alat musik secara bersama-sama. Peralatan music
yang digunakan meliputi:
1. Gitar Melodi, pianika, rekorder yang berfungsi melodis.
2. Gitar rhythm yang berfungsi harmonis yaitu member iringan harmoni.
3. Gitar bass yang juga berfungsi harmonis bass.
4. Keyboard atau organ/piano berfungsi melodis dan sekaligus harmonis
5. Drum yang berfungsi ritmis.
Menurut Agusta Marzall seorang guru musik, bermusik disebuah group
band, beda dengan anak yang bermain soloist atau penyanyi tunggal. karena di
sebuah group, seseorang tidak dapat merasa lebih pandai atau paling tinggi
skill-nya. Sebuah group tidak akan pernah sukses tanpa didukung kekompakan dalam
Jadi dapat disimpulkan hasil belajar musik ansambel ialah penguasaan
pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan dalam pembelajaran musik
ansambel, umumnya dinyatakan dalam angka atau huruf.
b. Gaya Belajar
Gaya belajar adalah cara yang konsisten yang dilakukan seorang murid
dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berpikir, dan
memecahkan soal (Nasution, 2003:94). Berarti setiap siswa dalam menangkap
respon atau stimulus, daya tangkap mereka berbeda-beda maka hal tersebut
menjadi pertimbangan untuk menentukan model pembelajaran yang dapat
mengakomodir semua siswa.
c. Keberhasilan Pembelajaran.
Keberhasilan suatu pembelajaran dapat ditentukan dengan 2 kriteria:
1.3.1. Kriteria keberhasilan pembelajaran ditinjau dari sudut proses yang
menekankan pada bentuk pengajaran yang harus merupakan interaksi
dinamis sehingga siswa sebagai subyek belajar mampu mengembangkan
potensinya melalui belajar.
1.3.2. Kriteria keberhasilan pembelajaran ditinjau dari sudut hasil penguasaan
siswa baik dari kualitas maupun kuantitas (Nasution,2003:56)
Dari kriteria keberhasilan pembelajaran tersebut, model pembelajaran
yang efektif menyenangkan dan bermanfaat sangat dibutuhkan untuk
proses pembelajaran. Selaras dengan program KTSP tersebut, sekolah
perlu mencari strategi kesuksesan bagi lembaganya, dan guru punya
16
Daya Manusianya dengan mencari model pembelajaran yang menarik dan
tercapai keberhasilan pembelajaran.
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi Hasil belajar Musik Ansambel
1) Tenaga pendidik yang profesional
Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Pendidik adalah
tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong
belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai
dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
Professional berasal dari kata profesi yang mempunyai makna menunjuk
pada suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab, dan
kesetiaan pada pekerjaan itu. Dapat disimpulkan bahwa pendidik yang
professional yaitu pendidik yang memiliki keahlian, tanggung jawab, dan
kesetiaan pada pekerjaan.
2) Sarana pendidikan yang lengkap
Sarana pendidikan merupakan hal yang penting dalam berlangsungnya
proses pembelajaran. Yang dimaksud dengan sarana pendidikan yaitu seperti
papan tulis, kursi, meja, ruang kelas dan lain sebagainya. Lengkap atau tidaknya
sarana pendidikan di suatu sekolah akan membawa dampak bagi prestasi siswa.
Hal itu disebabkan karena proses pembelajaran yang terjadi dipengaruhi oleh
ketersediaan sarana, apabila sarana pendidikan sangat menunjang maka sangat
memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang optimal.
Suasana belajar yang tenang akan membuat peserta didik merasa nyaman.
Rasa nyaman bukan hanya karena ruangan yang sejuk melainkan bagaimana
setiap peserta didik merasakan bahwa ia ada di lingkungan yang dapat dipercaya,
dapat diandalkan, seperti yang mereka dapatkan di lingkungan keluarganya. Para
ahli meyakini bahwa ada keterkaitan erat antara perasaan nyaman, diterima, dan
dicintai dengan kemampuan belajar.
Para ahli neurologi menyatakan bahwa apabila rasa nyaman ini sudah
diperoleh anak, maka otak anak akan mengeluarkan zat ephineprine yang
membuat anak merasa senang, rileks, dan zat tersebut mendorong syaraf bagian
kortek siap untuk menerima pembelajaran. Lingkungan yang tenang dan nyaman
dapat mempengaruhi proses pembelajaran agar menjadi lebih optimal
Tujuan belajar yang utama adalah bahwa apa yang dipelajari itu berguna di
kemudian hari, yakni membantu kita untuk dapat belajar terus dengan cara yang
lebih mudah. Hal ini dikenal sebagai transfer belajar (Nasution, 2003:3).
Dari beberapa pengertian di atas bisa disimpulkan bahwa pembelajaran
adalah proses belajar yang berguna di kemudian hari yang dibimbing oleh
pengajar dengan menggunakan aturan yang ada dalam kegiatan belajar mengajar
(KBM).
2.4.Metode Tutor Sebaya
Kuswaya Wihardit dalam Aria Djalil (1997:3.38) menuliskan bahwa
“pengertian tutor sebaya adalah seorang siswa pandai yang membantu belajar
siswa lainnya dalam tingkat kelas yang sama”. Hisyam Zaini dalam Amin Suyitno
18
mengajarkan kepada orang lain. Oleh karena itu, pemilihan model pembelajaran
tutor sebaya sebagai strategi pembelajaran akan sangat membantu siswa di dalam
mengajarkan materi kepada teman-temannya.”
Menurut Miller (1989) dalam Aria Djalil ( 1997:3.34) berpendapat bahwa
“Setiap saat murid memerlukan bantuan dari murid lainnya, dan murid dapat
belajar dari murid lainnya.” Jan Collingwood (1991:19) dalam Aria Djalil
(1997:3.34) juga berpendapat bahwa “Anak memperoleh pengetahuan dan
keterampilan karena dia bergaul dengan teman lainnya.” Untuk memudahkan dan
memperlancar proses belajar mengajar secara klasikal, guru dapat memanfaatkan
pengajaran tutor sebaya. Sebagaimana dikemukakan oleh Putranti (2007: 1)
bahwa:
Kelebihan tutor sebaya dalam pendidikan yaitu dalam penerapan tutor
sebaya, anak-anak diajar untuk mandiri, dewasa dan punya rasa setia kawan yang
tinggi. Artinya dalam penerapan tutor sebaya itu, anak yang dianggap pintar bisa
mengajari atau menjadi tutor temannya yang kurang pandai atau ketinggalan. Di
sini peran guru hanya sebagai fasilitator atau pembimbing saja.
Dengan demikian, proses pembelajaran seni musik dapat terbantu dengan
adanya pengajaran oleh tutor sebaya. Pada setiap kelompok siswa yang
memainkan alat musik tertentu (misal: drum), guru menunjuk salah seorang siswa
yang dianggap paling menguasai permainan drum untuk melatih sesuai dengan
partitur musik yang diberikan guru, atau menjadikan tutor sebaya bagi
teman-temannya satu kelompok. Sehingga, pada saat berlangsungnya pembelajaran tutor
demikian seterusnya. Setiap pengajaran tutor sebaya hendaknya dilakukan dalam
ruangan yang berbeda-beda agar tidak mengganggu kosentrasi kelompok lainnya.
Dengan pengajaran tutor sebaya, maka proses pembelajaran musik di sekolah
dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Pembagian kelompok berdasarkan alat
musik diatur sedemikian rupa agar komposisi musik dapat dimainkan secara
balance atau seimbang. Agar model pembelajaran seni musik dengan model tutor sebaya mencapai tingkat keberhasilan yang diharapkan, peneliti merumuskan
langkah-langkah pembelajaran meliputi:
a. Merencanakan tujuan pembelajaran yang jelas dan mudah dicapai.
b. Menjelaskan tujuan itu kepada seluruh siswa (kelas). Misalnya: agar
pelajaran praktik bermain musik bersama dalam bentuk band dapat mudah
dipahami.
c. Mendelegasikan kewenangan beberapa siswa yang ditunjuk sebagai tutor.
Menyiapkan ruangan dan sumber belajar serta fasilitas peralatan
belajar yang memadai.
d. Menggunakan cara yang praktis dan mudah dipahami.
e. Memusatkan kegiatan tutorial pada keterampilan yang akan
dilakukan tutor.
f. Memberikan arahan singkat mengenai pembelajaran yang akan
dilakukan tutor.
g. Melakukan pemantauan terhadap proses belajar yang terjadi melalui
tutor sebaya.
20
Tutor sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari
pengalamannya. Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan
diperoleh atas tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka
belajar dengan “tutor sebaya”, peserta didik juga mengembangkan kemampuan
yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang
dipelajari dengan cara yang bermakna. Penjelasan tutor sebaya kepada temannya
lebih memungkinkan berhasil dibandingkan guru. Peserta didik melihat masalah
dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa dan mereka menggunakan
bahasa yang lebih akrab. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitif.
Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik yang bekerja
bersama.
Tutor dikatakan berhasil jika dapat menjelaskan dan yang dijelaskan dapat
membuktikan bahwa dia telah mengerti atau memahami dengan cara hasil
pekerjaannya. Manfaat peran tutor sebaya :
1). Memberi pengaruh positif, baik dalam pendidikan dan sosial pada guru, dan
tutor sebaya.
2). Merupakan cara praktis untuk membantu belajar siswa secara individu .
3). Pencapaian kemampuan dengan bantuan tutor sebaya hasilnya bisa menjadi di
luar dugaan (lebih baik).
4). Jumlah waktu yang dibutuhkan peserta didik akan meningkat karena bisa di
luar sekolah
5). Tutor sebaya memiliki tanggung jawab kepada pembelajar agar mampu
siswa yang kurang sehingga sama-sama memiliki minat belajar yang tinggi.
Pada intinya bahwa penggunaan metode tutor sebaya dalam pembelajaran
dapat meningkatkan prestasi belajar dan mutu pendidikan yang merupakan
salah satu variasi pembelajaran di samping metode pembelajaran yang lain.
2.5. Kerangka Berfikir
"Belajar adalah suatu perubahan perilaku, akibat interaksi dengan
lingkungannya" (Ali Muhammad, 204:14). Perubahan perilaku dalam proses
belajar terjadi akibat dari interaksi dengan lingkungan. Interaksi biasanya
berlangsung secara sengaja. Dengan demikian belajar dikatakan berhasil apabila
terjadi perubahan dalam diri individu. Sebaliknya apabila terjadi perubahan dalam
diri individu maka belajar tidak dikatakan berhasil.
Hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat
adanya usaha atau fikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk
penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai
aspek kehidupa sehingga nampak pada diri indivdu penggunaan penilaian
terhadap sikap, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai
aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku
secara kuantitatif
Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kamampuan siswa dan kualitas
pengajaran. Kualitas pengajaran yang dimaksud adalah profesional yang dimiliki
oleh guru. Artinya kemampuan dasar guru baik di bidang kognitif (intelektual),
22
Dengan memperhatikan pengertian tutor sebaya, maka dapat disimpulkan
bahwa metode tutor sebaya ialah pemanfaatan siswa yang mempunyai
keistimewaan, kepandaian dan kecakapan di dalam kelas untuk membantu
memberi penjelasan, bimbingan dan arahan kepada siswa yang kepandaiannya
agak kurang atau lambat dalam menerima pelajaran yang usianya hampir sama
atau sekelas. Untuk menentukan siapa yang akan dijadikan tutor diperlukan
pertimbangan-pertimbangan sendiri, diantaranya adalah sebagai berikut:a)
Memiliki kepandaian lebih unggul daripada siswa lain. b) Memiliki kecakapan
dalam menerima pelajaran yang disampaikan oleh guru. c) Mempunyai kesadaran
untuk membantu teman lain.d). Dapat diterima dan disenangi siswa yang
mendapat program tutor sebaya, sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau
enggan untuk bertanya kepadanya dan rajin.e)Tidak tinggi hati, kejam atau keras
hati terhadap sesama kawan f) Mempunyai daya kreatifitas yang cukup untuk
memberikan bimbingan yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawannya.
Agar pelaksanaan pengajaran tutor sebaya dapat berlangsung secara efektif
dan berhasil, guru perlu memperhatikan pemilihan petugas tutor sebaya dan
pembentukan kelompok. Banyaknya petugas tutor sebaya ditentukan oleh ciri-ciri
yang telah disebutkan di atas dan disesuaikan dengan banyaknya siswa dalam
kelas tersebut dan banyaknya siswa dalam tiap-tiap kelompok yang akan
direncanakan. Petugas itu dipilih sebaik-baiknya sehingga dapat melaksanakan
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat dimungkinkan metode
tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar bermain musik ansambel kelas
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Setting Dan Subyek Penelitian
Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilaksanakan di SMP Negeri 14
Purworejo pada kelas VII D Semester 2 tahun pelajara 2012/ 2013 dengan Standar
Kompetensi (SK) Menyajikan karya musik daerah setempat secara perorangan
maupun kelompok di depan kelas.
Obyek penelitian ini adalah siswa kelas VII D SMP Negeri 14 Purworejo
yang berjumlah 32 siswa yang terbagi menjadi 16 laki-laki dan 16 perempuan
dengan latar belakang bervareasi.
3.2. Jenis Data dan Cara Pengambilannya.
Jenis data yang di dapat adalah data kuantitatif dan kualitatif, yaitu sebagai
berikut.
1. Data hasil belajar diambil dengan cara memberikan tes kepada para siswa
berupa unjuk kerja.
2. Data pelaksanaan pelaksanaan pembelajaran diperoleh dari hasil pengamatan
selama pelaksanaan tindakan tiap siklus dengan metode observasi.
3. Data refleksi guru dan siswa diambil dengan cara pemberian angket kepada
siswa setelah selesai tiap siklus.
3.3. Pendekatan Penelitian
Zaenal Aqib(2005:5) menyatakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas
dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 tahap yaitu
Sesuai dengan fokus penelitian yang telah dikemukakan tersebut maka
penelitian ini dapat dikategorikan dalam peneltian gabungan antara kuantitatif dan
kualitatif. Dalam penelitian lebih mengarah pada penelitian tindakan kelas yang
terbagi dalam tiga siklus.
3.4. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
1. Observasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengadakan
pengamatan langsung terhadap obyek yang diamati. Dalam pelaksanaan
observasi ada beberapa teknik yang bisa digunakan antara lain: observasi
partisipasif, yaitu pengamat ikut aktif dengan kegiatan obyek yang diamati.
Sedangkan observasi non partisipasif adalah pengamat tidak ikut serta dalam
kegiatan yang diselidiki.Dalam kegiatan ini penulis menggunakan observasi
partisipasif, dimana penulis ikut aktif dalam kegiatan yang diamati.
2.Penilaian Unjuk Kerja
Tes unjuk kerja berupa soal berbentuk praktik unjuk kerja yang harus
dikerjakan siswa setiap akhir siklus untuk mengukur kemampuan musik dan
hasil belajar siswa. Tes unjuk kerja dapat dilakukan secara perorangan maupun
kelompok.
3. Kuisioner
Kuisioner merupakan alat pengumpul data dengan menggunakan
pertanyaan-pertanyaan tertulis yang harus dijawab dengan tertulis juga. Jawaban –
26
tertutup tergantung dari jenis data yang akan diungkap. Pada penelitian ini
pertanyaan diberikan setiap akhir tindakan pada tiap siklus, untuk mengetahui
persepsi dan kesan siswa terhadap pelaksanaan tindakan.
4. Dokumentasi
Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data terkait dengan sumber
materi pembelajaran, termasuk program tahunan, program semester, rencana
pelaksanaaan pembelajaran dan kegiatan selama pelaksanaan penelitian tindakan
kelas berlangsung, termasuk dianataranya pengambilan gambar kegiatan selama
proses pembelajaran berlangsung.
3.5. Teknik Analisis Data
Analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi
terhadap proses dan hasil belajar siswa dengan langkah sebagai berikut:
a. Melakukan reduksi, yaitu mengecek dan mencatat kembali data-data yang
telah terkumpul.
b. Melakukan interpretasi, yaitu menafsirkan selanjutnya diwujudkan dalam
bentuk pernyataan.
c. Melakukan inferensi, yaitu menyimpulkan apakah dalam tindakan
pembelajaran ini terjadi peningkatan proses dan hasil belajar siswa atau tidak
berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan bersama observer.
d. Tahap tindak lanjut, yaitu merumuskan langkah-langkah perbaikan untuk
si-klus berikutnya.
disesuaikan dengan tujuan penelitian, kemudian dituangkan dalam bentuk
interpretasi berupa kalimat pernyataan. Menetapkan pedoman peningkatan
kualitas belajar seni musik dengan indikator sebagai berikut:
1) Hasil belajar psikomotorik personal dinyatakan meningkat jika skor postes
siklus I meningkat dari postes siklus II, dengan standar ketuntasan belajar ≥
70 sebagaimana ditentukan dalam KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) mata
pelajaran Seni Budaya di SMP Negeri 14 Purworejo
2) Kemampuan penerapan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sosial
dinyatakan meningkat jika skor postes siklus I meningkat dari skor postes
siklus II, dengan standar ketuntasan belajar ≥ 70 (soal tes berupa kemampuan
menyelesaikan penugasan praktik musik).
3) Aktivitas siswa/proses belajar pada aspek psikomotorik grup (kemampuan
bekerja sama) dan afektif (kemauan menghargai orang lain) dinyatakan
meningkat jika mengalami peningkatan dari siklus ke siklus pada
pembelajaran bermain musik bersama lagu daerah setempat.
3.6. Rencana dan Prosedur penelitian
1. Perencanaan
Penelitian Tindakan Kelas ini direncanakan 3 siklus. Tiap siklus
dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Langkah awal yang
dilakukan sebelum PTK dilaksanakan adalah melaksanakan Pre Test berupa
praktik unjuk kerja kepada siswa untuk melihat kemampuan bermain musik siswa.
Hasil tes siswa dianalisa untuk menentukan tindakan yang tepat dalam mengatasi
28
hasil analisa maka ditetapkan bahwa tindakan yang digunakan untuk mengatasi
rendahnya kemampuan musikal siswa adalah melakukan pembiasaan praktik
latihan bermain musik di akhir pembelajaran. Dengan berpedoman pada refleksi
awal tersebut maka dilaksanakan PTK dengan prosedur (1) perencanaan, (2)
pelaksanaan tindakan, (3) observasi, (4) refleksi dalam setiap siklus.
Untuk melaksanakan pembelajaran dengan tutor sebaya, guru/peneliti
mempersiapkan bahan ajar dan langkah-langkah mengajar sedemikian rupa
sehingga mudah dipahami oleh tutor dan oleh peserta didik.Tahap Perencanaan
Tindakan meliputi:(1) membuat Program, (2) menyiapkan Tutor , (3) menyiapkan
sarana dan prasarana, (4) membuat lembar observasi, (5) membuat alat bantu
mengajar yang diperlukan, (6) membuat alat evaluasi / test unjuk kerja.
2. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tiap tahap adalah melakukan skenario
pembelajaran yang telah dibuat, antara lain:(1) guru melakukan apresiasi,
motivasi untuk untuk mengarahkan siswa memasuki KD yang akan dibahas. (2)
guru menjelaskan tujuan yang akan dibahas. (3) guru menjelaskan materi
pelajaran hari itu dengan menjelaskan lankah kerja yang akan digunakan. (4) guru
membagi kelompok dengan pendampingan tutor yang sudah disiapkan.
3. Pengamatan
Observasi atau pengamatan pada siswa ditekankan pada kerjasama, serta
keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu, aktifitas serta peran
kegiatan belajar mengajar tak jelas pada keaktifan dan partisipasi siswa dalam
melakukan aktifitas yang disampaikan tutor.
4. Refleksi
Pada kondisi awal pembelajaran masih berfokus pada guru sebagai pusat
aktifitas. Keaktifa siswa siswa masih banyak dalam kendali dan peintah guru.
Pada siklus satu satu keaktifan guru mulai berkurang. Aktifitas siswa mulai
dibantu oleh para tutor yang berperan sebagai pendamping. Pembelajaran sudah
banyak melibatkan tutor. Pada siklus 2, peran guru sudah banyak mengalami
pengurangan. Guru hanya memberikan ulasan dan sesekali membantu tutor dalam
penyampaian materi, termasuk mengkondisikan siswa. Pada siklus 3 Guru hanya
memberikan tugas kepada para tutor untuk diajarkan kepeserta didik.
F. Monitoring dan Evaluasi
Dalam pelaksanaan pembelajaran, setiap siklus diamati, untuk mengetahui
apakah setiap tindakan ada perubahan atau belum. Perolehan data pada setiap
siklus diadakan penilaian unjuk kerja berupa bermain musik menggunakan
pianika atau recorder. Penilaian dilakukan sesuai dengan perencanaan yang
terdapat pada RPP.
3.7. Analisa Hasil Refleksi
Data yang dianalisis meliputi hal-hal sebagai berikut.
1. Perubahan yang terjadi pada saat pembelajaran maupun sesudah
pembelajaran
BAB IV
HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN
4.1Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.1.1.Letak Geografis dan Lokasi.
SMP Negeri 14 Purworejo, berada dijalan kebumen, Dlangu, Butuh,
Purworejo.54264 telp.( 0275) 3140897. SMP ini pada awalnya merupakan SMP
swasta dengan nama Putra Bakti. Pada tahun 1982 SMP Putra Bakti mengalami
penegrian dengan nama SMP Negeri Butuh. Seiring dengan perkembangan dan
perubahan waktu diwilayah kecamatan butuh berdiri lagi SMP Unit Gedung Baru,
maka nama SMP Negeri Butuh berubah menjadi SMP Negeri 1 Butuh. Sekitar
tahun 2002 sesuai dengan keputusan Bupati Purworejo, bahwa sekolah lanjutan
pertama dan lanjutan atas diberi nomor sesuai dengan tahun berdirinya, maka
nama SMP Negeri 1 Butuh berubah lagi menjadi SMP Negeri 14 Purworejo
sampai sekarang. Sekolah ini berada dipinggir jalan raya Kebumen-Kutoarjo,
yang merupakan jalur utama baik dari arah Jogja maupun ke Jakarta.
Gb 5. Tampak depan SMP Negeri 14 Purworejo 4.1.2.Sarana dan Prasarana Sekolah
Sekolah Menengah Pertama Negeri 14 Purworejo memiliki gedung
sekolah dan bangunan sebagai berikut:
Tabel 1. Prasarana Gedung SMP Negeri 14 Purworejo
No Jenis Ruang Jumlah Ukuran Kondisi
B CB KB TB
4.1.3.Kondisi Siswa SMP Negeri 14 Purworejo.
Pada awal tahun ajaran 2012/ 2013 jumlah seluruh siswa SMP Negeri 14
Purworejo 570 siswa. Kondisi tersebut tidak berlangsung setabil seiring dengan
mutasi dan lain sebagainya. Pada saat data ini dibuat, kondisi siswa SMP Negeri
32
Tabel 2. Jumlah Siswa SMP Negeri 14 Purworejo th 2012/ 2013
NO Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah
1 7 A 16 16 32
4.1.4.Tenaga Pengajar SMP Negeri 14 Purworejo.
Pada saat ini SMP Negeri 14 Purworejo dipimpin oleh Drs. Umbar Setyo
Rahayu,M.M. Menjabat sejak tahun 2012 sampai sekarang. Jumlah tenaga
pendidik sampai saat ini 39 orang dengan latar belakang sbb:
Tabel 3.Pendidikan pengajar SMP Negeri 14 Purworejo
NO Ijazah Guru Tetap GuruTidak Tetap Jumlah
1 S2 - - 1
2 S1 33 5 38
3 D3 - - -
4 D2/D1 1 - 1
5 Jumlah 34 5 39
4.2.Deskripsi Kondisi Awal
Hasil belajar siswa kelas VIID SMP Negeri 14 Purworejo pada mata
pelajaran Seni Budaya semester genap dengan Standar Kompetensi
Mengekspresikan diri melalui karya seni musik yang dijabarkan dalam
Kompetensi Dasar Menyajikan karya musik daerah setempat secara perorangan
maupun kelompok tahun pelajaran 2012/ 2013 belum memperoleh hasil yang
maksimal. Dalam ulangan harian yang telah dilaksanakan pada tanggal 7 Mei
2013 yang diikuti oleh 32 siswa, 19 siswa mencapai KKM atau sekitar 59%,
dengan nilai rerata 74. Untuk memperjelas tentang tentang hasil belajar pada
kondisi awal ini, maka berikut ini akan kami sajikan tabel hasil belajar siswa pada
ulangan harian tahap awal.
Tabel 4.Nilai Ulangan Harian Kondisi Awal
NO URAIAN NILAI
1 Nilai tertinggi 96
2 Nilai terendah 42
3 Nilai rerata 74
4 Prosentase ketuntasan belajar 59%
Nilai tertinggi 96 diraih oleh dua siswa, yaitu Famelia Safitri dengan
memainkan alat musik pianika, dan Lina Rahmawati dengan memainkan alat
musik pianika. Sedangkan nilai terendah adalah 42 diraih oleh Eko Ari Wibowo
dengan memainkan alat musik recorder.
Adapun perolehan nilai hasil belajar secara lebih jelas pada kondisi awal
34
Dari data diatas masih terdapat 11 anak yang belum tuntas belajar. Secara
lebih rinci hasil penilaian pada kondisi awaldapat di kelompokan menjadi dua
kelompok:
4. Hasil penilaian berdasarkan alat musik yang digunakan.
Berdasarkan alat musik yang digunakan,hasil penilaian dapat
dikelompokan menjadi dua kelompok yaitu:
1) Hasil penilaian kelompok alat musik pianika
Penilaian pada kelompok alat musik pianika terdiri dari 8 siswa yaitu 2
siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan. Dari 8 siswa tersebut hasilnya dapat
dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 6. Hasil penilaian kelompok alat musik pianika
No Nama Nilai Keterangan
1 Dimas Fribriyanto 54 Belum tuntas
2 Fajar Abintoro 71 Tuntas
3 Famelia Safitri 96 Tuntas
4 Gevira Citra Verawati 92 Tuntas
5 Lina Rahmawati 96 Tuntas
6 Muwafiqoh Zamzami 92 Tuntas
7 Sukriyati 71 Tuntas
8 Wahyu Indah Mentari 83 Tuntas
Rerata 81,88
Dari 8 siswa yang memainkan alat musik pianika masih ada satu siswa
yang memperoleh nilai belum mencapai KKM. Sehingga prosentase yang belum
tuntas adalah : 1/ 8 x 100% = 12,5%, sedangkan siswa yang telah mencapai KKM
36
2) Hasil penilaian kelompok alat musik recorder.
Penilaian pada kelompok alat musik recorder terdiri dari 24 siswa yaitu 13
laki-laki, dan 11 siswa perempuan. Dari 24 siswa tersebut hasilya dapat dilihat
pada tabel di bawah ini.
Tabel 7. penilaian kelompok alat musik recorder
No Nama Nilai Keterangan
1 Aditya 71 Tuntas
20 Sugeng Febriyanto 58 Belum tuntas
21 Tiani Khamidah 92 Tuntas
22 Tri Wulandari 83 Tuntas
23 Bukhori Nurul Fakhri 63 Belum tuntas
24 Wahyu Tri Utami 83 Tuntas
Rerata 71,45
Dari 24 siswa yang memainkan alat musik recorder masih ada 10 siswa
tuntas adalah : 10/ 24 x 100% = 41,67%, sedangkan siswa yang telah mencapai
KKM adalah 7/ 8 x 100% = 58,33%.
Hasil penilaian berdasarkan pencapaian hasil belajar, dapat dikategorikan dalam 4
kategoi sebagai berikut:
a. Sangat baik : nilai 90 - 100
b. Baik : Nilai 80 - 89
c. Cukup : Nilai 70 - 79
d. Kurang : Nilai Kurang dari 69
Berdasarkan kategori diatas, maka hasil penilaian pada kondisi awal dapat
di jabarkan sebagai berikut:
1. Sangat baik : 8 siswa, dengan rincian 4 rekorder, 4 pianika.
2. Baik : 6 siswa, dengan rincian 5 recorder, 1 pianika.
3. Cukup : 7 siswa, dengan rincian 5 recorder, 2 pianika.
4. Kurang : 11 siswa dengan rincian 10, recorder 1Pianika
Tabel 8.Prosentase nilai pada kondisi awal
No Kategori Prosen
1 Sangat Baik 25%
2 Baik 18,75%
3 Cukup 21,85%
4 Kurang 34,40%
Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa siswa yang mendapat nilai
kategori sangat ada 25persen atau sejumlah 8 siswa. Yang mendapat nilai baik
18,75 persen atau sejumlah 6 siswa. Yang mendapat nilai sedang 21,85 persen
38
siswa. Selain itu perolehan nilai pada kondisi awal juga dapat penulis sajikan
secara keseluruhan dalam tabel di bawah ini.
Tabel 9.Rincian Perolehan Nilai Pada Kondisi Awal
Nilai Kategori Jumlah
Sangat baik Baik Sedang Kurang
42 0 0 0 1 1
46 0 0 0 1 1
50 0 0 0 1 1
54 0 0 0 1 1
58 0 0 0 3 3
62 0 0 0 4 4
66 0 0 4 0 4
75 0 0 3 0 3
83 0 6 0 0 6
88 0 0 0 0 5
92 6 0 0 0 1
96 2 0 0 0 2
100 0 0 0 0 0
Jumlah 8 6 7 11 32
Dari tabel diatas dapat peroleh keterangan bahwa siswa yang memperoleh
kategori nilai sangat bagus ada 8 siswa. Yang mendapat nilai kategori bagus ada 6
siswa. Yang mendapat nilai kategori sedang ada 7 siswa, dan yang mendapat nilai
kategori kurang ada 11 siswa.
Gb 7. Histogram Perolehan nilai hasil belajar
Keterangan: Nilai 1 Siswa yang mendapat nilai 90 sampai 100, Nilai 2 siswa
dengan nilai antara nilai 80 sampai 89, Nilai 3 antara70 sampai 79, Nilai4 Kurang
dari 69 Siswa yang mendapat nilai sangat bagus ada 8 siswa, yang mendapat nilai
bagus ada 6 siswa, yang mendapat nilai cukup ada 7 siswa, dan yang
mendapatnilai kurang ada 11 siswa.
Sebelum penelitian dilaksanakan , guru belum melaksanakan pembelajaran
dengan Tutor Sebaya. Jalannya pembelajaran lebih banyak di dominasi oleh guru,
sedangkan siswa lebih banyak diperlakukan sebagai obyek belajar. Dalam kondisi
awal anak diajak bermain alat musik untuk memainkan sebuah lagu secara
berulang-ulang, baik bersama maupun berkelompok. Penilaian dilaksanakan
40
4.3.Deskripsi Hasil Belajar Siklus Satu
1. Perencanaan
Dalam perencanaan guru membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
( RPP) terlampir.
2. Pelaksanaan Tindakan
a. Pendahuluan
Sebelum melaksanakan kegiatan Pembelajaran ( Satu minggu
sebelumnya), guru melatih 9 anak yang memiliki kelebihan dalam bermain musik
untuk dibimbing menjadi tutor ( waktu diluar jam pelajaran). Diharapkan dengan
cara ini akan terbentuk sistem pembelajaran efektif dan efisien.
b. Kegiatan Inti
Sesuai dengan yang telah direncanakan, dalam siklus pertama ini
pembelajaran dilaksanakan dengan menerapkan pembelajaran Tutor sebaya.
Dalam kegiatan ini guru melakukan langkah-langkah , antara lain:
1) Guru melakukan apresiasi, motivasi untuk untuk mengarahkan siswa
memasuki KD yang akan dibahas.
2) Guru menjelaskan tujuan yang akan dibahas.
3) Guru menjelaskan materi pelajaran hari itu dengan menjelaskan lankah kerja
yang akan digunakan.
4) Guru membagi kelompok dengan pendampingan tutor yang sudah disiapkan.
5) Dalam pembelajaran siklus satu, guru masih ikut campur tangan dalam
pelaksanaan pembelajaran, walaupun hanya mengiringi lagu, dan
c. Hasil Pelaksanaan.
Pada siklus satu, terjadi peningkatan hasil belajar. Pencapaian ketuntasan
belajar sebesar 84 %, dengan nilai tertinggi 100, nilai terendah 62, dan nilai rerata
86,16. Untuk mempermudah dalam memahami hasil pelaksanaan pada siklus ini,
maka berikut ini kami sajikan tabel hasil belajar pada siklus I sbb:
Tabel 12.Nilai Ulangan Harian Pada Siklus I
No Uraian Nilai
1 Nilai teringgi 100
2 Nilai terendah 62
3 Nilai rerata 86,14
4 Prosentase ketuntasan belajar 84 %
Nilai tertinggi pada siklus 1 adalah 100. Nilai ini mengalami peningkatan
sebesar 4,25%. Nilai tersebut diraih oleh Ani Winarsih dengan alat musik
recorder, Dwi Cahyo Triana dengan alat musik recorder, Famelia Safitri dengan
aat musik pianika, Fani Asih Rahmawati dengan alat musik recorder, Gevira Vitra
W dengan alat musik pianika, Lina Rahmawati dengan alat musik pianika, Nurul
Fitriyani dengan alat musik recorder, danTiani Khamidah dengan alat musik
recorder.
Nilai terendah pada siklus 1 adalah 62. Pada siklus 1 mengalami
peningkatan dari 42 menjadi 62 sebesar 47%. Nilai terendah diraih oleh Muhamad
Wildan. Rata-rata nilai secara keseluruhan adalah 86,14 dengan prosentase
42
Tabel 12.Nilai Siklus1 Siswa Kelas 7D SMP Negeri 14 Purworejo Tahun Pelajaran 2012/2013
Secara lebih rinci hasil penilaian pada siklus1 dapat di kelompokan menjadi dua kelompok:
22 Muwafiqoh Zamzami 100 Tuntas
1. Hasil penilaian berdasarkan alat musik yang digunakan.
1). Hasil penilaian kelompok alat musik pianika sbb:
Tabel 13. Hasil penilaian kelompok pianika siklus 1
Dari delapan pemain pianika semua tuntas. Sehinga prosentase ketuntasan
adalah : 8/ 8 x 100% = 100%. Yang mendapat nilai sangat bagus yaitu: Famelia
Safitri, Gevira Citra Verawati, lina Rahmawati dan Wahyu Indah Mentari. Yang
mendapat nilai baik adalah Fajar Abintara dan Sukriyati serta yang mendapat nilai
cukup adalah Dimas Febriyanto.
2).Hasil penilaian kelompok alat musik recorder.
44
Pada tabel diatas menunjukan dari 24 siswa yang praktek alat musik
recorder empat diantaranya belum mengalami lolos KKM, sehingga prosentase
yang belum tuntas : 4/ 24 x 100% = 16,7%. Yang sudah lolos KKm dari 24 siswa
ada 20 siswa, sehingga prosentase lolos KKM adalah 20/24 x 100% = 83,3%.
Hasil penilaian berdasarkan kategori Kualitaif adalah sebagai berikut:
1. Sangat baik : 12 siswa, dengan rincian 7 rekorder, 5 pianika.
2. Baik : 13 siswa, dengan rincian 12 recorder, 1 pianika.
3. Sedang : 3 siswa, dengan rincian 2 recorder, 1 pianika.
4. Kurang : 4 siswa dengan rincian 4, recorder 0 Pianika
Tabel 15. Prosentase nilai pada Siklus 1
NO KATEGORI PERSEN
1 Sangat Baik 37,5%
2 Baik 40,6%
3 Sedang 9,4%
Siswa yang mendapat nilai sangat baik adalah 37% atau 12 siswa. Yang
mendapat nilai baik ada 40% atau berjumlah 13 siswa. Yang mendapat nilai cukup
ada 9,4% atau berjumlah 3 siswa, dan yang mendapat nilai kurang ada 12,5% atau
berjumlah 4 siswa.
Tabel 16. Hasil Belajar keseluruhan pada siklus 1
Nilai Kategori Nilai Jumlah
Sangat baik Baik cukup Kurang
62 0 0 0 2 2
69 0 0 0 2 2
75 0 0 3 0 3
81 0 7 0 0 7
88 0 6 0 0 6
94 3 0 0 0 3
100 9 0 0 0 9
Total 12 13 3 4 32
Tabel diatas menunjukan bahwa yang mendapat nilai 62 ada dua siswa,
dengan kategori nilai kurang. Yang mendapat nilai 69 ada dua siswa, dengan
kategori nilai kurang. Yang mendapat nilai 75 ada tujuhsiswa, dengan kategori
nilai cukup. Yang mendapat nilai 81 ada tujuh siswa, dengan kategori nilai baik.
yang mendapat nilai 88 ada enam siswa, dengan kategori nilai baik. yang
mendapat nilai 94 ada tiga siswa, dengan kategori nilai Sangat baik, dan yang
46
Tabel 17.Frekwensi nilai kwantitaif siklus 1
Nilai Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
V a l i d
62 2 6.2 6.2 6.2
69 2 6.2 6.2 12.5
75 3 9.4 9.4 21.9
81 7 21.9 21.9 43.8
88 6 18.8 18.8 62.5
94 3 9.4 9.4 71.9
100 9 28.1 28.1 100.0
Total 32 100.0 100.0
Siswa yang mendapat nilai 62 adalah 6,2 persen, siswa yang mendapat
nilai 69 adalah 6,2 persen, Siswa yang mendapat nilai 75 ada3 siswa, Siswa yang
mendapat nilai 81 adalah 21,9, persen, Siswa yang mendapat nilai 88 adalah 18,8
persen, Siswa yang mendapat nilai 94 adalah 9,4 persen,dan siswa yang mendapat
nilai 100 adalah 28,1 persen.
Siswa yang mendapat nilai 62 ada 2 siswa, siswa yang mendapat nilai 69 ada 2
siswa, Siswa yang mendapat nilai 75 ada 3 siswa, Siswa yang mendapat nilai 81
adalah 7 siswa, Siswa yang mendapat nilai 88 adalah 6 siswa, Siswa yang
mendapat nilai 94 ada3 siswa,dan siswa yang mendapat nilai 100 adalah 28,1
persen. Prosentase nilai 62 adalah 6,2 persen. Yang mendapat nilai 69 ada 6,2
persen. Yang mendapat nilai 75 ada 9,4 persen. Yang mendapat nilai 81 ada 21,9
persen. Yang mendapat nilai 88 ada 18,8 persen. Yang mendapat nilai 94 ada4 9,
persen. Dan yang mendapat nilai 100 ada 9 siswa.
Tabel 18.Frekwensi Nilai Hasil Belajar kualitatif
Kategori Nilai Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Sangat baik 12 37.5 37.5 37.5
Baik 13 40.6 40.6 78.1
Cukup 3 9.4 9.4 87.5
Kurang 4 12.5 12.5 100.0
Total 32 100.0 100.0
Siswa yang mendapat nilai sangat baik37,5 persen. Siswa yang mendapat
nilai baik 40,6 persen. Siswa yang mendapat nilai sangat cukup 9,4 persen. Dan
48
Gb9.Histogram Siklus 1
Keterangan: Nilai 1 siswa yang mendapat nilai 90 sampai 100, nilai 2 siswa
dengan nilai antara nilai 80 sampai 89, nilai 3 antara70 sampai 79, nilai4 kurang
dari 69. Siswa yang mendapat nilai sangat baik37,5 persen. Siswa yang mendapat
nilai baik 40,6 persen. Siswa yang mendapat nilai sangat cukup 9,4 persen. Dan
yang mendapat nilai kurang 12,5 persen. Meningkatkannya hasil belajar tersebut
mempunyai kaitan erat dengan pelaksanaan proses pembelajaran yang semakin
meningkat. Setelah pelaksanaan pembelajaran dengan metode tutor sebaya maka
secara langsung maupun tidak langsung kegiatan pembelajaran tidak terbatas
hanya pada jam tatap muka saja.
Berdasarkan hasil pengamatan selama siklus I diperoleh data tentang
Tabel 19. Aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran siklus I
No Uraian Jumlah
1 Ragu-ragu dalam bermain 4
2 Mantab dalam bermain 16
3 Kurang serius dan banyak canda 3
4 Penasaran dan ingin selalu mencoba 9
Jumlah 32
Dari 22 siswa ternyata yang masih ragu-ragu dalam bermain musik dengan
bimbingan tutor sebaya ada 4 siswa.
2. Refleksi
Tabel 20.Deskriptif komporatif antara kondisi awal dengan siklus satu
NO URAIAN KONDISI AWAL SIKLUS SATU
1 Tindakan Dalam proses pembelajaran belum menerapkan Tutor
3 Hasil Belajar Nilai ulangan harian Nilai tertinggi : 94
Berdasarkan tabel tersebut, dapat disimpulkan bahwa dengan metode
tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar dalam proses pembelajaran, selain
itu juga metode Tutor sebaya membantu mengembangkan aktivitas dan kreatifitas
siswa.
Peningkatan kwalitas proses mengakibatkan terjadinya peningkatan pada
50
4,2%, dari 96 menjadi 100. Nilai terendah mengalami peningkatan sebesar 47,6%,
dari 42 menjadi 62. Nilai rerata mengalami peningkatan sebesar 21,81%, dari 74
menjadi 86,14, dan pencapaian prosentase ketuntasan belajar juga mengalami
peningkatan sebesar 25%, dari 59% menjadi 84%.
Peningkatan hasil belajar dari kondisi awal ke siklus pertama tersebut
tergolong peningkatan yang cukup tinggi. Namun hal tersebut wajar karena pada
kondisi awal guru banyak menggunakan sistim drill. Untuk mempermudah
memahami tentang hasil refleksi pada siklus pertama, maka berikut ini kami
sajikan dalam bentuk tabel sbb:
Tabel 21.Refleksi siklus satu
No Uraian Refleksi
1 Proses Pembelajaran
Keaktifan siswa meningkat, kreatifitas juga meningkat.
2 Hasil belajar Nilai tertinggi naik 4,2% dari 96 menjadi100 Nilai terendah naik 47,6% dari 42 menjadi 62. Nilai rerata naik 21,81% dari74 menjadi 86,14. Ketuntasan belajar naik 25% dari 59% menjadi 86,14%.
Walaupun pada siklus pertama terjadi peningkatan baik pada proses
pembelajaran maupun hasil belajar siswa, namun pembelajaran dengan Tutor
sebaya masih akan dilanjutkan dengan siklus kedua.
4.4. Deskripsi Hasil Siklus Kedua
1. Perencanaan
Dalam perencanaan guru membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (
2. Pelaksanaan Tindakan
a. Pendahuluan
Sebelum melaksanakan kegiatan, guru melatih 9 anak yang memiliki
kelebihan dalam bermain musik untuk dibimbing menjadi tutor. Diharapkan
dengan cara ini akan terbentuk sistem pembelajaran efektif dan efisien.
b. Kegiatan Inti
Kegiatan inti pada siklus 2 hampir sama dengan siklus pertama, hanya
waktunya yang relatif singkat. Pada siklus ini guru hanya mengenalkan lagu yang
dimainkan oleh para tutor. Pada kegiatan berikutnya siswa ikut bermain bersama
tutor. Kegiatan berikutnya pada pertemuan tersebut para siswa bermain bersama
dengan bimbingan tutor. Satu minggu berikutnya dilakukan penilaian terhadap
hasil kerja siswa.
3. Hasil Pelaksanaan.
Pada siklus dua ada sedikit peningkatan hasil belajar. Pencapaian
ketuntasan belajar sebesar 93 %, dengan nilai tertinggi 100, nilai terendah 69, dan
nilai rerata 87,1. Untuk mempermudah dalam memahami hasil pelaksanaan pada
siklus ini, maka berikut ini kami sajikan tabel hasil belajar pada siklus 2 sbb:
Tabel 25.Nilai Ulangan Pada Siklus 2
No Uraian Nilai
1 Nilai teringgi 100
2 Nilai terendah 69
3 Nilai rerata 87,1
52
Nilai tertinggi adalah 100, diraih oleh 4 siswa yaitu: Dwi Cahyo Triana,
Famelia Safitri, Lina Rahmawati dan Muwafiqoh Zamzami. Sedangkan nilai
terendah dengan angka 69 diraih oleh Ari Setiawan dan Fahkul Karib.
Tabel 26.Nilai Sikluis 2 siswa Kelas 7D SMP Negeri 14 PurworejoTahun Pelajaran 2012/2013
No Nama Siswa Nilai Siklus 2 Keterangan
1 Aditya 88 Tuntas
22 Muwafiqoh Zamzami 100 Tuntas
Dari tabel diatas Nilai tertinggi adalah 100, diraih oleh 4 siswa
yaitu: Dwi Cahyo Triana, Famelia Safitri, Lina Rahmawati dan Muwafiqoh
Zamzami. Sedangkan nilai terendah dengan angka 69 diraih oleh Ari Setiawan
dan Fahkul Karib.
Gb10. Histogram Siklus 2
Yang mendapat nilai kurang dari 70 ada dua siswa, yang mendapat nilai
75 ada empat siswa, yang mendapat nilai delapan puluh satu ada enam siswa,
nilai delapan puluh delapan ada tujuh siswa, nilai sembilan puluh empat ada
sembilan siswa, dan yang nilai seratus ada empat siswa.
Tabel 27. Refleksi Siklus 2
No Uraian Refleksi
1 Proses Pembelajaran
Keaktifan siswa meningkat, kreatifitas juga meningkat.
2 Hasil belajar Nilai tertinggi tetap 100
Nilai terendah naik 11,2% dari 62 menjadi 69. Nilai rerata naik 1,16% dari 86,14 menjadi 87,14.