• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi siswa terhadap tata ruang perpustakaan sekolah : studi kasus pada perpustakaan labschool kebayoran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Persepsi siswa terhadap tata ruang perpustakaan sekolah : studi kasus pada perpustakaan labschool kebayoran"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan

ILLONA REZKY NIM. 1110025000044

JURUSAN ILMU PERPUSTAKAAN FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

i

Persepsi Siswa Terhadap Tata Ruang Perpustakaan Sekolah Labschool Kebayoran

Penelitian ini membahas tentang bagaimana persepsi siswa terhadap tata ruang perpustakaan Labschool Kebayoran. Penelitian ini bertujuan untuk memahami persepsi siswa terhadap tata ruang perpustakaan sekolah Labschool Kebayoran setelah di renovasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Data diperoleh melalui kuesioner/angket, observasi, dan study pustaka. Kuesioner kemudian diisi oleh responden dan dicari hasilnya. Selanjutnya hasil data yang diperoleh di buat tabulasi untuk mendapatkan gambaran persepsi siswa terhadap tata ruang perpustakaan. Populasi pada penelitian ini adalah siswa SMA Labschool Kebayoran dari kelas X dan XI yang berjumlah 391 Siswa. Sampel yang digunakan menggunakan rumus perhitungan besaran sampel di mana dari jumlah populasi tersebut ditetapkan tingkat kepercayaan sebesar 90% dan tingkat kesalahan pengambilan sampel sebesar 10%. Sehingga jumlah sampel yang diperoleh dari populasi yaitu 80 siswa. Masalah yang ada dalam penelitian ini adalah bagaimana persepsi siswa terhadap tata ruang pada perpustakaan Labschool Kebayoran setelah direnovasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 3,4% siswa mengatakan setuju dengan bentuk ruang perpustakaan Labschool Kebayoran. Sekitar 3,32% siswa mengatakan setuju atas ketepatan penataan ruang perpustakaan tersebut. Selain itu 3,52% siswa mengatakan setuju dengan kenyamanan ruang perpustakaan, 3,38% siswa juga mengatakan setuju untuk kebersihan ruang perpustakaan, serta 3,27% siswa mengatakan setuju bahwa warna pada dinding perpustakaan sekolah menarik. Sehingga dari hasil keseluruhan skor rata-rata persepsi siswa terhadap tata ruang perpustakaan sekolah Labschool Kebayoran adalah 3,01 dimana skor tersebut terdapat pada skala interval 2,52-3,27positif.

Kata Kunci : Persepsi, Tata Ruang, Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan

(6)

ii

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Alhamdulillah puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang

telah memberikan segala nikmat yang sangat luar biasa dan karena berkat rahmatnya

penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudulPersepsi Siswa Terhadap Tata Ruang Perpustakaan Sekolah Studi Kasus : Perpustakaan Labschool Kebayoran” yang diajukan untuk melengkapi persyaratan memperoleh gelar

Sarjana Ilmu Perpustakaan pada Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan

Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam pelaksanaan penulisan skripsi penulis mendapatkan banyak bantuan

dari berbagai pihak yang mendukung baik secara moril, materil, maupun tenaga.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya

kepada:

1. Prof. Dr. Oman Fathurahman, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Adab dan

Humaniora.

(7)

iii

4. Ibu Siti Maryam, M.Hum, selaku dosen pembimbing akademik serta

pembimbing skripsi yang sudah begitu baik dan sabar mencurahkan ilmunya

dan bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing penulis sampai

terselesaikannya skripsi ini.

5. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Ilmu Perpustakaan, yang telah banyak

mengajarkan dan membagi ilmu yang berharga kepada penulis selama

perkuliahan.

6. Keluarga besar Sekolah Labschool Kebayoran, khusunya, Kepala Sekolah

SMA Labschool Kebayoran yang telah memberikan kesempatan kepada

penulis untuk melakukan penelitian di Sekolah Labschool Kebayoran. Bapak

Rachmat selaku pustakawan Perpustakaan Labschool Kebayoran yang telah

memberikan banyak bantuan serta informasi yang penulis butuhkan dan

membantu penulis selama penelitian. Seluruh siswa-siswi SMA Labschool

Kebayoran yang telah menjadi responden kuesioner penelitian penulis.

Terima kasih atas seluruh waktu dan bantuan yang kalian berikan untuk

penelitian ini.

7. Bapak dan Mamah, yang tidak pernah lelah memberikan doa dan dorongan

(8)

iv

9. Untuk uwa, pakdeh, mba ica, mba yuyun, mas agus terimakasih atas

dukungan, masukan, bantuan, serta doa kalian dalam penyelesaian skripsi ini.

10. Seluruh teman-teman di Jurusan Ilmu Perpustakaan angkatan 2010

khususnya Eko Raharjo, Putri Anggraeni, Yeni Nurul Fitriyani, Nuty Inanda

Kusuma, Moh.Rifqi Muzaki, Triyona Febri Guantoro, Ashabul Kahfi, Ari

Herdiana. Serta teman-teman kelas IPI.B lainnya yang tidak bisa penulis

sebutkan satu-satu. Terima kasih untuk doa dan semangat yang kalian berikan

selama proses penyelesaian skripsi ini, terima kasih atas kebersamaan kita

yang telah mengisi kehidupanku selama dikampus.

11. Teman-teman KKN Simfoni 2010 sekaligus keluarga kedua yang sangat

penulis sayangi Putri Anggraini, Yeni Nurul Fitriyani, Nuty Inanda Kusuma,

Irni Febriani, Afini Nur Fitria, Ilham Alkaf, Hendrik Hexa Yoga, Slamet

Wahyudi, Valent Febri Yusra, Sakinah Aulia, Ratu Purnama Sari, Lufita

Amalia, Yulianah, Muhammad Rahimi, Rizwan Januar, Dani Hidayat, Ade

Septiawan dan keluarga besar Kp. Citamiang 2 Pamijahan Bogor. Terima

kasih untuk doa dan semangat yang kalian berikan pada proses penyelesaian

skripsi ini, serta untuk kebersamaan dan suka duka kita selama satu bulan

(9)

v

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh

dari sempurna, untuk itu penulis menerima kritik dan saran yang bersifat

membangun, dengan harapan dapat mencapai hasil yang lebih sempurna dan untuk

pengembangan diri penulis selanjutnya.

Akhir kata penulis hanya dapat memanjatkan doa semoga Allah SWT.

memberikan balasan yang setimpal pada semua pihak atas kebaikan dan bantuannya.

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan menambah

wawasan bagi para pembacanya, khususnya bagi dunia perpustakaan di masa

sekarang dan masa yang akan datang.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Jakarta, 15 Juli 2014

(10)

vi

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR... ii

DAFTAR ISI... vi

DAFTAR TABEL... x

DAFTAR GAMBAR... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 4

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 4

D. Metode Penelitian ... 5

E. Definisi Istilah ... 12

F. Penelitian Sebelumnya ... 13

G. Sistematika Penulisan ... 14

BAB II TINJAUAN LITERATUR A. Perpustakaan Sekolah ... 15

1. Definisi Perpustakaan Sekolah ... 16

2. Tujuan dan Fungsi Perpustakaan Sekolah ... 17

3. Manfaat dan Peran Perpustakaan Sekolah ... 21

(11)

vii

3. Sarana dan Prasarana ... 26

4. Ketenagaan (staf) ... 27

C..Persepsi ... 27

1. Definisi Persepsi ... 27

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi ... 29

3. Skala Pengukuran Persepsi ... 31

D. Tata Ruang Perpustakaan Sekolah... 34

1. Ruang/Gedung Perpustakaan ... 34

2. Perabotan dan Perlengkapan perpsuatakaan... 39

3. Peralatan Perpustakaan ... 42

E..Aspek Penataan Ruang ... 42

1. Aspek Fungsional... 43

2. Aspek Psikologi Pengguna ... 43

3. Aspek Estetika ... 43

(12)

viii

A. Sejarah Perpustakaan Labschool Kebayoran ... 44

B. Visi dan Misi Perpustakaan ... 45

C. Ruang Perpustakaan Labschool Kebayoran... 46

D. Anggota Perpustakaan ... 47

E. Sarana dan Prasarana Perpustakaan ... 48

F. Layanan Perpustakaan ... 49

G. Data Perpustakaan... 50

1. Data Pengunjung ... 50

2. Data peminjaman Koleksi Perpustakaan Labschool Kebayoran ... 50

3. Ketentuan Peminjaman... 50

BAB IV HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN A. Penyebaran Kuesioner ... 51

B. Unsur-Unsur yang Dinilai... 51

C. Analisa Data... 53

D. Rekapitulasi Hasil Penelitian ... 79

(13)

ix

B. Saran ... 85

DAFTAR PUSTAKA... 86

LAMPIRAN

(14)

x

Tabel 1.1 Jumlah Siswa SMA Labschool Kebayoran ... 07

Tabel 3.2 Sarana dan Prasarana Perpustakaan ... 48

Tabel 4.3 Anggota Perpustakaan... 52

Tabel 4.4 kunjungan siswa ke perpustakaan ... 52

Tabel 4.5 tujuan Siswa Datang ke Perpustakaan... 53

Tabel 4.6 Lokasi Perpustakaan Strategis... 55

Tabel 4.7 Jarak Ruangan kelas Dengan Ruang Perpustakaan... 56

Tabel 4.8 Kesulitan Dalam Mencarai Perpustakaan Sekolah... 56

Tabel 4.9 Bentuk Perpustakaan Labschool Bagus ... 57

Tabel 4.10 Ketepatan Penataan Ruang Perpustakaan ... 58

Tabel 4.11 Kecukupan Luas Ruang Perpustakaan ... 69

Tabel 4.12 Luas Ruang Baca Memadai... 69

Tabel 4.13 Penempatan Antar Koleksi Berbeda ... 60

Tabel 4.14 Kemudahan Dalam Mencari Koleksi ... 61

Tabel 4.15 Ketepatan Letak Ruang Multimedia ... 61

Tabel 4.16 Komputer di Ruang Multimeda Dapat Digunakan ... 62

(15)

xi

Tabel 4.20 Kondisi Kursi Baca Aman... 65

Tabel 4.21 Penataan Rak Buku Sudah Bagus ... 65

Tabel 4.22 Kondisi Rak Buku di Perpustakaan Baik ... 66

Tabel 4.23 Tinggi Rak Buku Terjangkau ... 67

Tabel 4.24 Penataan Rak Majalah Bagus ... 67

Tabel 4.25 Kondisi Rak Majalah Bagus... 68

Tabel 4.26 Ketepatan Dalam Penataan Rak Buku Referensi ... 69

Tabel 4.27 Kondisi Rak Buku Referensi Bagus... 69

Tabel 4.28 Ketepatan Penataan Katalog... 70

Tabel 4.29 Pencahayaan Di Ruang Perpustakaan Terang ... 71

Tabel 4.30 Kenyamanan Suasan Ruang Perpustakaan... 71

Tabel 4.31 Kebersihan Ruang Perpustakaan ... 72

Tabel 4.32 Warna Dinding Peprustakaan Menarik ... 73

Tabel 4.33 Warna Perabotan Ruang Perpustakaan Menarik ... 73

Tabel 4.34 Warna Dinding Ruang Multimedia Menarik ... 74

Tabel 4.35 Ketepatan Penataan Loker Atau Rak Penitipan Tas... 75

(16)

xii

perpustakaan ... 77

Tabel 4.39 Petugas Perpustakaan Mudah Terlihat Oleh Siswa ... 77

Tabel 4.40 Ketepatan Letak Meja Sirkulasi... 78

Tabel 4.41 Rekapitulasi Persepsi ... 79

(17)

xiii Gambar 1 Layout Ruang Perpustakaan

Gambar 2 Pintu Masuk Perpustakaan

Gambar 3 Ruang Dalam Perpustakaan

Gambar 4 Rak Buku

Gambar 5 Rak Buku Referensi

Gambar 6 Bagian Dalem Ruang Multimedia

Gambar 7 Layanan Sirkulasi

Gambar 8 Layanan Referensi

Gambar 9 Ruang Baca

Gambar 10 Private Reading Room

Gambar 11 Katalog

(18)

1

A. Latar Belakang

Pemerintah terus berupaya dalam mewujudkan peningkatan mutu

pendidikan di Indonesia. Salah satunya ialah harus tersedianya sumber belajar

di setiap lembaga pendidikan baik yang diselenggarakan pemerintah ataupun

Masyarakat.

Secara umum perpustakaan mempunyai arti sebagai wadah atau

tempat yang di dalamnya terdapat kegiatan penghimpunan, pengolahan, dan

penyebar luasan (pelayanan) segala macam informasi, baik yang tercetak

maupun yang terekam dalam berbagai media seperti buku, majalah, surat

kabar, film, kaset, tape recorder, video, komputer dan lain-lain. semua koleksi

sumber informasi tersebut disusun berdasarkan sistem tertentu dan

dipergunakan untuk kepentingan belajar melalui kegiatan membaca dan

mencari informasi bagi segenap masyarakat yang membutuhkannya. Adapun

pengertian perpustakaan sekolah, menurut Sulistyo-Basuki adalah

perpustakaan yang berada di sekolah dengan fungsi utama membantu

tercapainya tujuan sekolah serta dikelola oleh sekolah yang bersangkutan.

Seperti yang tertulis pada UU No 20 Th 2003 tentang sistem

(19)

yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat harus

menyediakan sumber belajar.1

Di zaman sekarang ini sudah dapat diakui terselenggaranya

perpustakaan sangatlah berperan dalam membantu masyarakat dalam mencari

informasi yang mereka butuhkan. Selain itu penyelenggaraan perpustakaan

sekolah bukan hanya untuk menyediakan dan menyimpan buku-buku, baik

tercetak maupun tidak tercetak serta bahan pustaka lainnya, Tetapi dengan

penyelenggaraan perpustakaan sekolah mampu membantu murid-murid dalam

menyelesaikan tugas-tugas di sekolah dalam proses belajar-mengajar. Untuk

bisa menyelenggarakan kegiatan di atas tentunya harus mempunyai tempat,

ruang atau gedung. Karena Gedung atau ruang perpustakaan pada setiap

sekolah menjadi sesuatu yang penting karena gedung atau ruang menjadi

tempat berlangsungnya kegiatan tersebut. Seperti yang tertulis dalam pedoman

perpustakaan sekolah IFLA/UNESCO, peran pendidikan yang kuat dari

perpustakaan sekolah harus tercermin dari fasilitas perabotan dan

peralatannya.

Gedung perpustakaan merupakan sarana yang amat penting dalam

penyelenggaraan perpustakaan. Dalam gedung tersebutlah segala aktivitas dan

program perpustakaan dirancang dan diselenggrakan.2 Dalam pembangunan

ruang perpustakaan perlu memperhatikan aspek-aspek dalam penataan sebuah

ruangan perpustakaan. Namun seperti yang kita ketahui, dalam penataan

1

Undang-undang R.I. No: 20 thn 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

www.inherent-dikti.net(diakses pada tanggal 14 April, 2013)

2

(20)

sebuah gedung perpustakaan masih banyak yang tidak memperhatikan

aspek-aspek tersebut. Oleh sebab itu perpaduan peran arsitek, pustakawan dan

pemustaka bisa menjadi solusi dalam perencanaan atau perancangan. Arsitek

menguasai teori arsitektur yang berkaitan dengan material dan

penyelenggaraan desain itu sendiri, sedangkan pustakawan adalah pihak yang

mengerti betul semua aspek dalam perpustakaan dan kaitannya dengan

pemustaka. Konsultasi dan perencanaan bersama dapat membuahkan hasil

yang maksimal untuk perpustakaan tersebut. Selain itu peran pemustaka juga

harus diperhitungkan, seperti pendapat dan keluhan serta semua perasaan yang

mereka harapkan pada perpustakaan yang akan mereka gunakan.

Beberapa sekolah yang ada di Jakarta mendapat kesempatan

melakukan renovasi pada ruang perpustakaan yang salah satunya adalah

Labschhool Kebayoran. Perencanaan desain atau layout ruang dilakukan oleh

pihak sekolah, pustakawan serta donatur sekolah. Hasilnya dapat dilihat

dengan perbedaan desain yang signifikan dengan didukung fasilitas, peralatan

dan perabotnya memberikan pengaruh pemanfaatan oleh pemustakanya.

Melihat dari kondisi perpustakaan sekolah Labschool tersebut.

memotivasi penulis untuk melakukan penelitian, dan menetapkan judul

PERSEPSI SISWA TERHADAP TATA RUANG PERPUSTAKAAN

SEKOLAH : STUDI KASUS PADA PERPUSTAKAAN LABSCHOOL

(21)

B. Pembatasan dan Perumusan masalah 1. Pembatasan Masalah

Untuk memperjelas sasaran yang akan dicapai melalui penelitian

sesuai dengan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penulis

memberikan batasan masalah hanya pada tata ruang perpustakaan.

2. Perumusan Masalah

Berpijak dari latar belakang masalah yang telah dikemukakan

diatas maka dapat dirumuskan masalah penelitian adalah bagaimana

persepsi siswa terhadap tata ruang perpustakaan Labschool Kebayoran?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Penelitian mengenai persepsi siswa terhadap tata ruang

perpustakaan sekolah Labschool Kebayoran ini bertujuan untuk

mengetahui tentang persepsi siswa terhadap tata ruang perpustakaan yang

ada di Labschool Kebayoran.

Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah dapat

menjadi masukan bahkan evaluasi bagi pihak sekolah dan pustakawan

perpustakaan Labschool Kebayoran, agar dapat mengetahui serta berperan

aktif dalam penataan ruang perpustakaan. Sehingga penataan ruang

(22)

D. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Metode merupakan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan suatu

cara kerja (sistematis) untuk memahami suatu subjek atau objek penelitian,

sebagai upaya untuk menemukan jawaban yang dapat dipertanggung

jawabkan secara ilmiah dan termasuk keabsahannya.

Jenis metode penelitian yang akan dibuat, yaitu penelitian

deskriptif. Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang memberi gambaran

mengenai keadaan tertentu dengan cara mengembangkan konsep dan

menghimpun fakta, tetapi tidak melakukan pengujian hipotesa. Deskripsi

yang diinginkan adalah pendapat pustakawan tentang aspek-aspek dalam

penataan gedung perpustakaan Labschool yang baru, serta persepsi siswa

terhadap tata ruang perpustakaan yang baru.

2. Pendekatan penelitian

Pendekatan penelitian yang dipakai oleh peneliti adalah kuantitatif.

Penelitian yang dimaksudkan untuk memperoleh hasil lapangan dengan

pengukuran terhadap angka yang sesuai dengan gejala-gejala yang ada

(23)

3. Sumber Data

Teknik menganalisis data dalam penelitian ini yaitu menggunakan:

a. Data primer

Data primer adalah data yang diambil langsung, tanpa perantara atau

langsung dari sumbernya.3 Data ini diperoleh langsung dari lapangan

seperti gedung, pustakawan yang berada di perpustakaan dan siswa di

sekolah Labschool kebayoran

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diambil secara tidak langsung dari

sumbernya.4 Data ini bersumber dari kepustakaan, yang terdiri dari

literatur-literatur dan artikel-artikel yang berkaitan dengan masalah

yang ditelit.

c. Dokumentasi

informasi juga bisa diperoleh lewat fakta yang tersimpan dalam bentuk

surat, catatan harian, arsip foto dan sebagainya. Melalui dokumentasi

ini ada beberapa data yang dapat diambil melalui foto-foto yang berada

di perpustakaan Labschool Kebayoran.

4. Populasi dan Sampel

Populasi atau “Universe” adalah keseluruhan elemen yang akan dijelaskan

oleh seorang peneliti di dalam penelitiannya. Dalam penelitian ini yang

menjadi populasi adalah siswa SMA Labschool Kebayoran yang berjumlah

391 Siswa dari kelas X - XI. Sebagaimana tampak dalam tabel di bawah ini

3

Prasetya Irawan,Logika dan Prosedur Penelitian, (Jakarta: STIA-LAN, 1999) hal.86

4

(24)

Tabel 1.1

Jumlah Siswa SMA Labschool Kebayoran

Kelas Total Kelas Jumlah Siswa

X 7 194 orang

XI 7 197 orang

Jumlah 14 391 orang

Sampel adalah wakil dari populasi.5 Teknik pengambilan sampel dalam

penelitian ini menggunakan sampel random, yaitu metode pemilihan

sampel dimana semua anggota populasi mendapat kesempatan yang sama

untuk terpilih menjadi anggota sampel.6 Sampel dalam penelitian ini

dihitung berdasarkan ketentuan besaran sampel atas besaran populasi

dengan menggunakan rumus perhitungan besaran sampel sebagai berikut7:

Keterangan :

n : Jumlah sampel yang dicari N : Jumlah populasi

d : Nilai presisi (persen kelonggaran ketidak telitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat di

toleransi atau diinginkan).

Untuk perhitungan sampel dari jumlah populasi tersebut ditetapkan tingkat

kepercayaan sebesar 90% dan tingakat kesalahan pengambilan sample

sebesar 10%, maka jumlah sampel dari populasi adalah :

5

Prasetya Irawan,Prosedur dan Logika Penelitian,hal. 72-73

6

Prasetya Irawan,Prosedur dan Logika Penelitian,hal. 182

7

Burhan Bungin,Metodologi Penelitian Kuantitatif : komunikasi, ekonomi, dan kebijakan publik serta ilmu-ilmu sosial lainnya,( Jakarta : Kencana, 2008), hal; 105

n = N

(25)

n = 391 391 (0,1) 2 + 1

= 391

4,91

= 79,63 (dibulatkan ke atas) = 80 orang.

Dari hasil perhitungan diatas maka di peroleh sampel yang akan diteliti sebesar

80 siswa. Peneliti akan mengambil sample secara acak terhadap 80 responden

mulai dari kelas X sampai kelas XI.

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini yaitu:

a. Observasi

Metode penelitian yang pengambilan datanya berumpu pada pengamatan

langsung terhadap objek penelitian.8 Observasi bertujuan untuk

mendeskripsikan keadaan yang dipelajari dan aktifitas-aktifitas yang

tengah berlangsung. Kemudian hasil dari hasil observasi tersebut dicatat

menjadi suatu catatan observasi yang berisi deskripsi hal-hal yang diamati

secara lengkap dengan keterangan tanggal dan waktu.

b. Study pustaka

Data-data yang digunakan penulis adalah berasal dari sejumlah buku-buku,

internet, artikel dan dokumen-dokumen lainnya.

c. Angket

Angket merupakan serangkaian atau daftar pertanyaan yang disusun secara

sistematis, kemudian disebarkan untuk diisi oleh responden. Angket

8

(26)

disebut pula dengan metode kuesioner atau dalam bahasa Inggris disebut

questionnaire (pertanyaan).9

6. Teknik Pengolahan Data a. Editing

Setelah seluruh data dari hasil kuesionar dan wawancara terkumpul

kemudian diperiksa apakah ada kekeliruan atau kekurangan dalam

pengisiannya. Kegiatan ini disebut editing yaitu kegiatan yang

dilaksanakan setelah peneliti selesai meghimpun data di lapangan.

b. Prosentase Data

Setelah editing data-data kuesioner yang terkumpul, maka langkah

selanjutnya adalah melakukan perhitungan data-data kuesioner tersebut

dengan menggunakan rumus prosentase berikut :

P= F x 100% N

Keterangan :

P : Angka Persentase untuk setiap kategori F : Frekuensi Jawaban Responden

N : Jumlah Responden.10

Setelah data diperoleh dan dihitung dengan menggunakan rumus

persentase, maka untuk memudahkan penafsiran terhadap nilai persentase

yang telah diolah, data dideskripsikan menggunakan parameter-parameter

sebagai berikut :

Burhan Bungin,Metodologi Penelitian Kuantitatif : komunikasi, ekonomi, dan kebijakan publik serta ilmu-ilmu sosial lainnya,hal.123

10

(27)

76 % - 99% = Hampir Seluruhnya

100 % = Seluruhnya11

c. Menganalisis Data dengan Menggunakan Skala Likert

Data yang telah dihitung prosentasenya kemudian akan dianalisis

dengan menggunakan skala likert. Skala likert paling sering digunakan

untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi responden. Untuk menilai

persepsi yang dinyatakan dengan kuesioner, setiap jawaban akan dinilia

sebagai berikut :

Agar dapat mengetahui penilaian responden terhadap suatu objek,

maka skor yang diperoleh tersebut dijumlahkan kemudian dicari skor

rata-ratanya. Skor rata-rata adalah hasil dari penjumlahan dari skor pada setiap

skala yang dikalikan dengan frekuensinya masing-masing. Kemudian

hasil dari penjumlahan tadi dibagi dengan jumlah sampel atau total

frekuensi. Perhitungan skor rata-rata dapat dituliskan dalam model

matematik sebagai berikut :

Dimana: X = Skor rata-rata

(S4… . S1) =Skor pada skala 4 sampai 1

F = Frekuensi jawaban

11

(28)

N = Jumlah sampel yang diolah atau total

frekuensi

Skala di atas adalah skala ordinal,dimana skala ordinal memiliki

keterbatasan analisa. Yang hanya menyatakan bahwa objek yang diteliti

baik ataupun sangat baik. Agar analisa menjadi luas, maka skala ordinal

dapat diubah menjadi skala interval yaitu untuk menentukan skala-skala

yang mempunyai jarak yang sama antar titik-titik yang berdekatan.

Skala interval diperlukan untuk menempatkan posisi responden

dalam suatu objek penelitian apakah termasuk dalam kriteria sangat puas,

puas, tidak puas, sangat tidak puas. Untuk menentukan skala interval yaitu

dengan cara membagi selisih antar skor tertinggi dengan skor terendah

dengan banyak skala. Dibawah ini adalah rumusan dari skala interval.12

Keterangan

a = jumlah atribut m = skor tertinggi n = skor terendah

b = jumlah skala penilaian yang ingin dibentuk/ diterapkan

Jika skala penilaian yang diterapkan berjumlah 4, dimana skor

terendah adalah satu dan skor tertinggi empat, maka dapat dihitung

sebagai berikut : Skala interval = { 1 (4-1) : 4 } = 0,75

Jadi jarak setiap titik adalah 0,75 sehingga dapat diperoleh

penilaian sebagai berikut :

12

Bilson Simamora, Panduan Riset Prilaku Konsumen (Jakarta: Gramedia, 2004), hal.202

(29)

1. Sangat setuju 3,28–4,03

2. Setuju 2,52–3,27

3. Tidak setuju 1,76–2,51

4. Sangat tidak setuju 1,00–1,75

Pengukuran skala interval pada skor diatas dalam penerapannya

pada analisa data untuk mengartikan persepsi siswa, maka hasil skor

rata-rata dapat dilihat pada skala interval lalu dari skala interval

tersebut dapat diketahui seberapa besar persepsi siswa terhadap

penataan ruangan di perpustakaan Labschool Kebayoran,.

E. Definisi Istilah Persepsi :

Persepsi disini adalah bagaimana cara seseorang melihat, memandang

atau mengartikan sesuatu. Seperti bagaimana para siswa melihat

penataan ruang di perpustakaan Labschool Kebayoran.

Tata ruang :

Tata ruang disini adalah segala sesuatu yang berada dalam ruangan

yang dibuat dan diatur sebagai wadah dalam melakukan kegiatan

perpustakaan.

Perpustakaan sekolah :

Perpustakaan yang dikelola serta terdapat di sekolah dengan tujuan

(30)

F. Penelitian Sebelumnya

Topik penelitian tentang desain gedung perpustakaan sebelumnya sudah

dilakukan oleh beberapa peneliti. Salah satunya penelitian yang dilakukan

oleh salah satu siswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yaitu Ika Octaviani

tahun 2011 yang berjudul ”Pandangan Pemustaka Terhadap Gedung

Perpustakaan Dareah Kabupaten Tangerang” penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui pendapat pemustaka terhadap lokasi, bentuk gedung, dan

kenyamanan di perpustakaan Daerah Kabupaten Tangerang serta

pertimbangan apa yang dipilih oleh pihak perpustakaan Daerah Tangerang

dalam pemilihan lokasi perpustakaan nya. sedangkan untuk penelitian kali ini

lebih memfokuskan terhadap tata ruang perpustakaan sekolah Labschool

Kebayoran, selain itu ada aspek yang membedakan dengan penelitian

sebelumnya. Dalam penelitian ini peneliti membahas bagaimana dalam

penataan ruang perpustakaan Labschool Kebayoran, apakah sudah

memperhatikan aspek-aspek penataan ruang dan persepsi siswa terhadap

ruang perpustakaan sekolah yang baru. Selain itu untuk tempat penelitian kali

ini juga berbeda dimana penelitian sebelumnya objek yang diambil pada

perpustakaan daerah. Sedangkan untuk objek penelitian kali ini ialah di

(31)

G. Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN

Bab I berisi tentang Latar Belakang, Perumusan Masalah, Batasan Masalah,

Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Metode Penelitian, penelitian

sebelumnya, definisi istilah, dan Sistematika Penulisan.

BAB II TINJAUAN LITERATUR

Pada bab ini memuat tentang landasan teoritis yang medukung menguatkan

terhadap hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti, dengan

berdasarkan literatur-literatur yang terkait dengan pokok bahasan, meliputi

pengertian perpustakaan sekolah, tujuan, fungsi dan peran perpustakaan

sekolah. Selain itu juga dijelaskan tentang tata ruang perpustakaan serta

aspek-aspek dalam penataan ruang perpustakaan.

BAB III PROFIL PERPUSTAKAAN

Berisi tentang gambaran umum dari Perpustakaan sekolah Labschool

kebayoran, lokasi dan ruang perpustakaan, dan juga keadaan serta jumlah

pengunjung perpustakaan.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Bab ini merupakan hasil dari penelitian dan pembahasan yaitu profil

responden, analisis data yaitu hasil kuesioner yang disebarkan kepada siswa

(32)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bagian bab ini, berisi kesimpulan berdasarkan hasil analisis dan

(33)

BAB II

TINJAUAN LITERATUR

A. Perpustakaan Sekolah

1. Definisi Perpustakaan Sekolah

Secara umum perpustakaan mempunyai arti sebagai suatu tempat

yang di dalamnya terdapat kegiatan penghimpunan, pengolahan, dan

penyebar luasan (pelayanan) segala macam informasi, baik yang tercetak

maupun yang terekam dalam berbagai media seperti buku, majalah, surat

kabar, film, kaset, tape recorder, video, computer dan lain-lain. semua

koleksi sumber informasi tersebut disusun berdasarkan sistem tertentu dan

dipergunakan untuk kepentingan belajar melalui kegiatan membaca dan

mencari informasi bagi segenap masyarakat yang membutuhkannya.

Ada beberapa jenis perpustakaan yang tersebar di masyarakat dan

salah satunya adalah perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah adalah

perpustakaan yang berada pada satuan pendidikan formal di lingkungan

pendidikan dasar dan menengah yang merupakan bagian integral dari

kegiatan sekolah yang bersangkutan, dan merupakan pusat sumber belajar

untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang

bersangkutan.13 Adapaun pengertian sekolah menurut Surachman adalah

perpustakaan yang berada dalam suatu sekolah yang kedudukan dan

tanggung jawabnya ada pada kepala sekolah, yang melayani sivitas

13

Panitia Teknis 01-01 Perpustakaan dan Kepustakawanan, Standar Nasional Indonesia (SNI) Bidang Perpustakaan,(Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 2011), hal. 2

(34)

akademika sekolah yang bersangkutan.14 Sependapat dengan Surachman

menurut Sulistyo Basuki perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang

tergabung pada sebuah sekolah, dikelola sepenuhnya oleh sekolah yang

bersangkutan, dengan tujuan utama membantu sekolah untuk mencapai

tujuan khusus sekolah dan tujuan pendidikan pada umumnya.15

Penyelenggaraan perpustakaan sekolah tersebut mengacu kepada

undang-undang Nomor 2 Tahun 1959 tentang Sistem Pendidikan

Nasional. Dimana pada pasal 35 undang-undang tersebut dikemukakan

bahwa setiap satuan pendidikan sekolah, baik yang diselenggarakan oleh

pemerintah maupun oleh masyarakat, harus menyediakan sumber belajar.

16

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perpustakaan sekolah

ialah perpustakaan yang diselenggarakan oleh sekolah yang kedudukan

dan tanggung jawabnya ada pada kepala sekolah, guna menunjang

program belajar mengajar dan juga sebagai pusat sumber belajar untuk

mendukung tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan.

2. Tujuan dan Fungsi Perpustakaan Sekolah a. Tujuan

Tujuan didirikannya perpustakaan sekolah tidak pernah terlepas

dari tujuan diselenggarakannya pendidikan sekolah secara keseluruhan,

yaitu untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik

14

Arif Surachman,Manajemem Perpustakaan Sekolah, hal.2

15

Sulistyo Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan, (Jakarta : Gramedia Utama), 1991, hal.50

16

(35)

(siswa atau murid), serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti

pendidikan menengah.

Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) tujuan perpustakaan

sekolah adalah menyediakan pusat sumber belajar sehingga dapat

membantu pengembangan dan peningkatan minat baca, literasi

informasi, bakat serta kemampuan peserta didik.17

Sedangkan menurut Yusuf, maka tujuan perpustakaan sekolah

adalah sebagai berikut:

1) Mendorong dan mempercepat proses penguasaan teknik

membaca para siswa.

2) Membantu menulis kreatif bagi para siswa dengan

bimbingan guru dan pustakawan.

3) Menumbuh kembangakn minat dan kebiasaan membaca

para siswa.

4) Menyediakan berbagai macam sumber informasi untuk

kepentingan pelaksanaan kurikulum.

5) Mendorong, menggairahkan, memelihara, dan memberi

semangat membaca dan semangat belajar bagi para siswa.

6) Memperluas, memperdalam, dan memperkaya pengalaman

belajar para siswa dengan membaca buku dan koleksi lain

yang mengandung ilmu pengetahauan dan teknologi, yang

disediakan oleh perpustakaan.

17

(36)

7) Memberikan liburan sehat untuk mengisis waktu senggang

melalui kegiatan membaca, khususnya buku-buku dan

sumber bacaan lain yang bersifat kreatif dan ringan, seperti

fiksi, cerpen, dan lainnya.18

b. Fungsi

Ada beberapa fungsi dari perpustakaan sekolah diantara nya

ialah sebagai berikut :

1) Fungsi Edukatif

Di dalam perpustakaan sekolah disediakan buku-buku baik

buku-buku fiksi ataupun non fiksi. Dengan adnya buku-buku

tersebut tentunya dapat membiasakan murid-murid belajar mandiri

tanpa bimbingan guru, baik secara individual maupun

berkelompok. Fungsi ini erat kaitannya dengan pembentukan

manusia, pembangunan yang berkualitas dimasa yang akan datang.

Selain itu di dalam perpustakaan sekolah tersedia buku-buku yang

sebagian besar pengadaan koleksinya disesuaikan dengan

kurikulum sekolah. Oleh karena itu, dapat terlihat bahwa

perpustakaan sekolah berfungsi mendidik murid-muridnya menjadi

pribadi yang mandiri atau edukatif.

2) Fungsi Informatif

Fungsi ini berkaitan dengan mengupayakan penyediaan

koleksi perpustakaan yang bersifat “memberi tahu” akan hal-hal

18

(37)

yang berhubungan dengan kepentingan para siswa dan guru.

Melalui membaca bebrbagai bahan bacaan yang disediakan

perpustakaan sekolah, para siswa dan guru akan banyak tahu

tentang segala hal yang terjadi didunia ini.

3) Fungsi tanggung jawab administrasi

Fungsi ini tampak pada kegiatan sehari-hari di

perpustakaan sekolah, dimana setiap ada peminjaman dan

pengembalian buku harus dicatat oleh guru atau pustakawan.

Setiap murid yang datang ke perpustakaan tidak dikenankan

membawa tas, Kemudian tidak lupa untuk menunjukan kartu

anggota perpustakaan atau kartu pelajar, tidak boleh berisik saat

berada di dalam perpustakaan serta tidak boleh mengganggu

temannya yang sedang belajar. Jika dalam peminjaman buku ada

murid yang telat mengembalikan buku sesuai jangka waktu yang

ditetapkan murid tersebut diberikan sanksi/denda, dan apabila ada

murid yang menghilangkan buku pinjamannya harus

menggantinya. Semua ini selain akan mendidik murid-murid ke

arah tanggung jawab, juga membiasakan murid-murid bersikap dan

bertindak administratif.

4) Fungsi riset

Sebagaimana telah dijelaskan seblumnya, bahswa di dalam

perpustakaan tersedia banyak bahan pustaka. Adanya bahan

(38)

melakukan riset, yaitu mengumpulkan data atau keterangan yang

diperlukan.

5) Fungsi rekreasi

Adanya perpustakaan sekolah dapat berfungsi rekreasi.

Rekreasi disini bukan berarti bahwa secara fisik pergi mengunjungi

tempat-tempat tertentu, tetapi secara psikologinya. Dimaksudkan

bahwa dengan disediakannya koleksi yang bersifat ringan seperti

surat kabar, novel, komik, majalah umum, dan sebagainya dapat

menghibur pembacanya.19

3. Manfaat dan Peran Perpustakaan Sekolah

Menurut Bafadal, manfaat perpustakaan sekolah, baik yang

diselenggarakan di sekolah dasar ataupun di sekolah menengah adalah

sebagai berikut :

a. Perpustakaan sekolah dapat menimbulkan kecintaan murid-murid

terhadap membaca.

b. Perpustakaan sekolah dapat memperkaya pengalaman belajar

murid.

c. Perpustakaan sekolah dapat menanamkan kebiasaan belajar

mandiri yang akhirnya murid-murid mampu belajar mandiri.

d. Perpustakaan sekolah dapat mempercepat proses penguasaan

teknik membaca.

19

(39)

e. Pepustakaan sekolah dapat membantu perkembangan kecakapan

berbahasa.

f. Perpustakaan sekolah dapat melatih murid-murid kearah tanggung

jawab.

g. Perpustakaan sekolah dapat membantu guru-guru menemukan

sumber-sumber belajar.

h. Perpustakaan sekolah dapat memperlancar murid-murid dalam

menyelesaikan tugas-tugas sekolah.

i. Perpustakaan sekolah dapat membantu murid-murid, guru-guru,

dan anggota staf sekolah dalam mengikuti perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi.20

Berdasarkan uraian diatas, secara umum perpustakaan sekolah

harus berperan dalam hal-hal sebagai berikut :

a) Sarana yang menyediakan sumber-sumber dan media pembelajaran

yang dapat digunakan oleh guru dan murid dalam proses belajar

mengajar (Learning teaching Support).

b) Sarana yang dapat membimbing para siswa dalam memilih, dan

menggunakan sumber-sumber informasi yang sesuai untuk

keperluan proses pembelajaran secara mandiri (information skill).

c) Sarana pengembangan dan peningkatan kebiasaan membaca di

kalangan siswa (reading promotion).

20

(40)

d) Sarana pembinaan kemampuan dan sikap, baik yang bersifat fisik,

intelektual, sosial, da moral keagamaan dalam rangka

mempersiapkan para siswa untuk hidup di masyarakat.21

B. Unsur-Unsur Perpustakaan Sekolah

Untuk mendukung dan menyelenggarakan tujuan tersebut,

perpustakaan sekolah harus didukung dengan unsur-unsur yang

membangun sebuah perpustakaan sekolah yang akan mewujudkan tujuan

dan fungsi tersebut dengan optimal.

1. Layanan Perpustakaan

Layanan perpustakaan sekolah bertujuan untuk menyajikan

informasi guna kepentingan peningkatan pelaksana proses belajar

mengajar dan rekreasi bagi semua warga sekolah dengan

mempergunakan bahan pustaka.

Menurut Standar Nasional Perpustakaan, perpustakaan sekolah

menyediakan layanan kepada pemustaka sekurang-kurangnya enam

jam per hari kerja dan sekolah diharapkan memiliki program wajib

kunjung perpustakaan sekurang-kurangnya satu jam pelajaran.22

Perpustakaan sekolah juga menyediakan berbagai jenis

layanan. beberapa jenis layanan perpustakaan yang paling umum

menurut Darmono adalah:

21

Rizal Saiful-Haq, dkk., Perpustakaan dan Pendidikan: Pemetaan peran serta perpustakaan dalam proses belajar mengajar,hal. 13

22

(41)

a Layanan peminjaman bahan pustaka (layanan sirkulasi).

Layanan ini adalah layanan kepada pemustaka berupa peminjaman

dan pengembalian bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan.

keberhasilan suatu perpustakaan salah satunya diukur sampai

seberapa jauh layanan sirkulasi dapat memenuhi kebutuhan

pemustaka.

b Layanan refernsi

Layanan referensi diberikan oleh perpustakaan untuk

koleksi-koleksi khusus seperti kamus, ensiklopedi, almanak, direktori,

buku tahunan, yang berisi informasi teknis dan singkat. Koleksi ini

tidak boleh dibawa pulang oleh pemustaka dan hanya untuk dibaca

di tempat.

c Layanan ruang baca

Layanan ini adalah layanan yang diberikan oleh perpustakaan

berupa tempat untuk melakukan kegiatan membaca di

perpustakaan. Layanan ini untuk mengatisipasi pemustaka yang

tidak ingin meminjam untuk dibawa pulang, tetapi mereka cukup

memanfaatkannya di perpustakaan.23

2. Koleksi Perpustakaan

Koleksi peprustakaan sekolah terdiri dari bahan pustaka yang

menjadi bahan pokok dan penunjang kurikulum sekolah yang

bersangkutan, sesuai dengan jenis dan jenjangnya.

23

(42)

Menurut Standar Nasional Perpustakaan (SNP), bahwa

perpustakaan harus memperkaya koleksi dan menyediakan bahan

perpustakaan dalam berbagai bentuk media atau format

sekurang-kurangnya:

a Buku teks pelajaran. Jumlah buku teks pelajaran ini adalah 1

eksemplar per mata pelajaran per peserta didik.

b Buku panduan pendidikan. Jumlah buku panduan pendidik adalah

1eksemplar per mata pelajaran per guru bidang studi.

c Buku pengayaan. Perbandingan untuk buku pengayaan ini terdiri

dari 60% non-fiksi dan 40% fiksi, dengan ketentuan bila 1-6

rombongan belajar jumlah buku sebanyak 1.000 judul, 7-12

rombongan belajar jumlah buku 1.500 judul, dan 13-24 rombongan

belajar jumlah buku 2.000 judul.

d Perpustakaan minimal berlangganan satu judul majalah dan satu

judul surat kabar.

e Bahan perpustakaan referensi sekurang-kurangnya meliputi kamus

Bahasa Indonesia, Kamus Bahasa Inggris-Indonesia, Kamus

Bahasa Indonesia-Inggris, Kamus bahasa daerah, ensiklopedi, buku

statistik daerah, buku telepon, peraturan perundang-undangan,

atlas, peta, biografi tokoh dan kitab suci.24

24

(43)

3. Sarana dan Prasarana

Menurut Bafadal ada beberapa asas atau pedoman yang perlu

diperhatikan pada waktu mendirikan gedung perpustakaan sekolah, atau

dalam memilih salah satu ruang untuk kepentingan perpustakaan sekolah,

yaitu:

a Gedung atau ruang perpustakaan sekolah berdekatan dengan

kelas-kelas yang ada, karena fungsi utama perpustakaan sekolah adalah

sebagai sumber belajar. keberadaannya berhubungan langsung

dengan proses belajar mengajar di kelas.

b Gedung perpustakaan sekolah sebaiknya tidak jauh dari tempat

parkir. Asas ini perlu dipertimbangkan khususnya pada

sekolah-sekolah yang luas dan melayani pengunjung pada sore hari.

c Gedung atau ruang perpustakaan sekolah sebaiknya jauh dari

kebisingan yang sekiranya mengganggu ketenangan siswa-siswa

yang sedang belajar di perpustakaan sekolah.

d Gedung atau ruang perpustakaan sekolah harus aman, baik dari

bahaya kebakaran, kebanjiran, ataupun dari pencurian.

e Gedung atau ruang perpustakaan sekolah sebaiknya ditempatkan

dilokasi yang kemungkinannya mudah diperluas pada masa yang

akan datang.25

25

(44)

4. Ketenagaan (Staff)

Tenaga pada sebuah perpustakaan sekolah terdiri dari

pustakawan dan tenaga pembantu. Pustakaan pada suatu sekolah dapat

seorang guru pustakawan atau serang pustakawan sekolah.

“Pustakawan sekolah adalah tenaga kependidikan berkualifikasi serta professional yang bertanggung jawab atas perencanaan dan pengelolaan perpustakaan sekolah, didukung oleh tenaga yang mencukupi, bekerja sama dengan semua anggota komunikasi sekolah dan berhubungan dengan perpustakaan umum dan lain-lainnya.”26

Yang dimaksut guru pustakawan ialah seorang guru yang selain

bertugas mengajar juga mengelola peprustakaan. Sedangkan tenaga

pembantu adalah tenaga pustakawan pembantu dan tenaga

administrasi. Tenaga pustakawan pada perpustakaan sekolah harus

bekerjasama dengan administrator dan guru agar dapat

mengembangkan kebijakan manajemen koleksi bersama.

C. Persepsi

1) Definisi persepsi

Dalam arti sempit persepsi (perception) ialah penglihatan,

bagaimana cara seseorang melihat sesuatu. Sedangkan dalam arti luas

persepsi ialah pandangan atau pengertian, yaitu bagaimana seseorang

memandang atau mengartikan sesuatu. Menurut Sarlito Wirawan Sarwono

persepsi ialah kemampuan untuk membeda-bedakan, mengelompokan,

memfokuskan dan sebagainya itu disebut sebagai kemampuan untuk

26

(45)

mengorganisasikan pengamatan.27 Sedangkan menurut Wiji Suwarno

Persepsi pada hakekatnya adalah proses kognitif yang dialami setiap orang

ketika berusaha memahami informasi yang diterimanya. Oleh karena itu

persepsi dapat di definisikan sebagai suatu proses membuat penilaian atau

membangun kesan mengenai berbagai macam hal yang terdapat didalam

lapangan penginderaan seseorang.28

Manusia menangkap atau menerima gejala diluar dirinya yang

kemudian dijadikan sebuah pengalaman adalah dengan melalui panca

indera, yaitu penglihatan, pendengaran, pengecapan, penciuman, dan

perasa. Proses penerimaan ini dikenal dengan sebutan penginderaan

(sensation). Penginderaan ini mengakibatkan manusia mulai memberikan

penilaian baik atau buruk, enak atau tidak enak.

Rangsang-rangsang yang diterima inilah yang menyebabkan

manusia mempunyai suatu pengertian terhadap lingkungan. Proses

diterimanya rangsangan berupa objek, kualitas hubungan antar gejala,

maupun peristiwa sampai rangsangan itu disadari dan dimengerti

dinamakan dengan persepsi.

Menurut Pareek dalam buku Psikologi Umum persepsi adalah

sebagai proses menerima, menyeleksi, mengorganisasikan, menguji dan

memberikan reaksi kepada rangsangan panca indera atau data. Rakhmat

menyatakan bahwa persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa,

atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi

27

Sarlito Wirawan Saworno, Pengantar Umum Psikologi, ( Jakarta : Bulan Bintang), 1976, hal.39

28

(46)

dan menafsirkan pesan. Bagi Atkinston, persepsi adalah proses saat kita

mengorganisasikan dan menafsirkan pola stimulus dalam lingkungan.29

Persepsi disebut sebagai inti komunikasi, karena jika persepsi kita

tidak akurat, kita tidak mungkin berkomunikasi dengan efektif. Persepsilah

yang menentukan kita memilih suatu pesan atau mengabaikan pesan yang

lain. Dari definisi para psikologi diatas, dapat disimpulkan bahwa persepsi

ialah suatu pembentukan dan suatu penilaian untuk membangun kesan atas

apa yang telah seseorang terima dari rangsangan-rangsangan melalui lima

panca indera yang manusia miliki kemudian pemikiran tersebut

direalisasikan dalam bentuk tindakan.

2) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi

Proses persepsi meliputi suatu interaksi yang sulit dari kegiatan

pengidentifikasian, penyusunan, dan penganalisaan. Walaupun persepsi

sangat tergantung pada penginderaan data, proses kognitif memungkinkan

untuk bisa menyaring, menyederhanakan, atau mengubah secara sempurna

data tersebut. Selanjutnya akan terjadi proses pengolahan informasi dan

persepsi pada diri kita. Meskipun beberapa individu memandang pada satu

benda yang sama, mereka dapat mempersepsikannya berbeda-beda. Tidak

semua infrormasi yang kita dapat tadi akan mendapat perhatian yang sama,

tetapi ada titik tekan untuk memberikan perhatian pada suatu informasi

tertentu yang dapat memberikan rangsang.

29

(47)

Proses ini disebut sebagai pembentukan kesan, karena yang

muncul pada diri kita adalah kesan terhadap seseorang yang kita kenal tadi

baik mengenal watak, sikap, maupun penampilannya. Informasi yang

mendapat perhatian dikategorisasi dan dihubung-hubungkan sehingga

membentuk kerangka kognitif. Dan yang mempengaruhi hal-hal itu adalah

sebagai berikut :

1. Stereotip, yaitu pandangan terhadap ciri-ciri tingkah laku dari

sekelompok masyarakat tertentu. Steorotip ini akan berpengaruh

terhadap kesan pertama.

2. Persepsi diri, yaitu pandangan terhadap diri sendiri yang dapat

mempengaruhi pembentukan kesan pertama,

3. Situasi dan kondisi, yaitu pandangan terhadap seseorang yang

dipengaruhi oleh situasi atau kondisi tertentu.

4. Ciri yang ada pada diri orang lain, yitu daya tarik fisik seseorang

yang dapat menimbulkan penilaian khusus pada saat pertama kali

bertemu.

Semua pandangan dari berbagai karakter ini akan mempengaruhi

reseptor (alat indera) manusia melalui saraf-saraf sensoris yang

kemudian di proses, dan hasil akhir proses persepsi yaitu berupa

tanggapan dan perilaku. Bila dikaitkan dengan persepsi siswa terhadap

ruangan perpustakaanya, maka faktor lingkungan adalah salah satu

(48)

3) Skala Pengukuran Persepsi

Para ahli sosiologi membedakan dua tipe skala pengukuran menurut

gejala sosial yang diukur, yaitu :

a. Skala pengukuran untuk mengukur perilaku susial dan

kepribadian. Termasuk tipe ini adalah : skala sikap, skala

moral, test karakter, skala partisipasi sosial.

b. Skala pengukuran untuk mengukur berbagai aspek budaya lain

dan lingkungan sosial. Termasuk ini adalah : skala mengukur

status sosial ekonomi, lembaga-lembaga swadaya masyarkat

(sosial), kemasyarakatan, kondisi rumah tangga, dan lain

sebagainya.

Dari tipe-tipe skala pengukuran diatas, yang akan penulis bahas

hanyalah sakala untuk mengukur sikap. Karena penelitian yang diambil

oleh peneliti yakni tentang “persepsi”.

4) Skala Sikap

Bentuk-bentuk skala sikap yang perlu diketahui dan sering

digunakan dalam penelitian ada 5 yaitu skala likert, skala guttman,

skala simantict defferential, rating scale, dan skala thurstone.30

1. Skala Likert

Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan

persepsi seseorang atau kelompok tentang kejadian atau gejala

sosial. Skala likert memiliki dua bentuk pernyataan, yaitu:

30

(49)

pernyataan positif dan negatif. Pernyataan positif diberi skor

5,4,3,2, dan 1. Sedangkan untuk permyataan negatif diberi skor

1,2,3,4, dan 5.

Dengan menggunakan skala likert, maka variabel yang

akan diukur dijabarkan dari variabel menjadi dimensi, dari dimensi

dijabarkan menjadi indikator, dan dari indikator dijadikan

sub-indikator yang dapat diukur. Akhirnya sub-sub-indikator dapat

dijadikan tolak ukur untuk membuat suatu pertanyaan/pernyataan

yang perlu dijawab oleh responden.

2. Skala Guttman

Skala Guttman merupakan skala kumulatif. Jika seseorang

menyisahkan pertanyaan yang berbobot lebih berat, ia akan

mengiyakan pertanyaan yang kurang berbobot lainnya. Jadi, Skala

Guttman ialah skala yang digunakan untuk jawaban yang bersifat

jelas (tegas) dan konsisten. Misalnya : yakin-tidak yakin, ya-tidak,

benar-salah, positif-negatif, pernah-belum pernah, setuju-tidak

setuju, dan lain sebagainya.

Perbedaan Skala Guttman dengan Skala likert ialah jika

Skala Likert terdapat jarak (interval): 3,4,5,6, atau 7 yaitu dari

sangat benar (SB) sampai dengan sangat tidak benar (STB),

sedangkan pada Skala Guttman hanya dua interval yaitu : Benar

(50)

3. Skala Differensial Semantik

Skala ini digunakan untuk mengukur sikap tidak dalam

bentuk pilihan ganda atau chekclist, tetapi tersusun dari sebuah

garis kontinum di mana nilai yang sangat negative terletak

disebelah kiri sedangkan nilai yang sangat positif terletak di

sebelah kanan atau juga dapat di definisikan skala ini selalu

menunjukan keadaan yang bertentangan, misalnya: kosong-penuh,

jelek-baik, bodoh-cerdas dan sebagainya.

4. Rating Scale

Berdasarkan ke-3 skala pengukuran, yaitu Skala Likert,

Skala Guttman, dan Skala Perbedaan Semantik, data yang

diperoleh adalah data kualitatif yang dikuantitatifkan. Sedangkan

Rating Scale adalah data mentah yang didapat berupa angka

kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.

Dalam model Rating Scale responden tidak akan menjawab

dari data kualitatif yang sudah tersedia seperti: ketat-longgar,

sering dilakukan-tidak pernah dilakukan, buruk-baik, dan

sebagainya. Namun dalam rating scale ini akan menjawab salah

satu dari jawaban kuantitif yang sudah disediakan. Dengan

demikian bentuk Rating Scale lebih flexible, tidak hanya terbatas

untuk pengukuran sikap saja, tetapi untuk mengukur persepsi

(51)

5. Skala Thurstone

Skala Thurstone meminta responden untuk memilh

pertanyaan yang ia setujui dari beberapa pertanyaan yang

menyajikan pandangan yang berbeda-beda. Pada umumnya setiap

item mempunyai asosiasi nilai antara 1 sampai 10, tetapi

nilai-nilainya tidak diketahui oleh responden.

Perbedaan antara Skala Thurstone dengan Skala Likert

ialah pada skala Thurstone interval yang panjangnya sama

memiliki intensitas kekuatan yang sama, sedangkan pada Skala

Likert tidak perlu sama.

Dari penjelasan diatas mengenai pengukuran sikap, penulis

memakai untuk yaitu dengan memakai skala likert. Karena skala

likert lebih difkuskan untuk mengukur persepsi, pendapat serta

sikap terhadap seseorang.

D. Tata Ruang Perpustakaan Sekolah 1. Ruang/Gedung Perpustakaan

Gedung atau ruangan perpustakaan adalah bangunan yang

sepenuhnya diperuntukan bagi seluruh aktifitas sebuah perpustakaan.

Disebut gedung apabila merupakan bangunan besar dan permanen,

terpisah dari pergerakan manusia sebagai penggunan perpustakaan, daerah

(52)

layanan yang diberikan oleh perpustakaan.31 Sedangkan menurut Kosam

Rimbarawa yang dimaksut ruang (space) adalah tempat atau bagian

tertentu dalam suatu gedung perpustakaan, dipakai untuk meletakkan suatu

barang atau yang mempunyai fungsi tertentu.32

Dengan demikian ruang perpustakaan dapat diartikan sebagai suatu

tempat yang didalamnya terdapat segala aktifitas sebuah perpustakaan.

Disebut gedung apabila merupakan bangunan besar dan disebut ruangan

apabila suatu tempat berada di dalam satu gedung yang sama namun hanya

memakai bagian ruangan tertentu dalam gedung tersebut untuk digunakan

sebagai perpustakaan.

Untuk perpustakaan sekolah, pada saat ini sebagian diantaranya

telah memiliki gedung tersendiri dengan luas ruangan rata-rata 9x12 m2.

Namun sebagian besar tidak memiliki ruangan khusus untuk

perpustakaan. Oleh karena itu kebanyakan diantaranya menggunakan

ruang kelas yang luasnya rata-rata 7x8 m2. untuk sementara ini, ruangan

yang berukuran 7x8 m2ataupun 9x12 m2masih merupakan ruangan yang

ideal. Namun apabila perpustakaan mengalami perkembangan yang pesat

(koleksi dan pengunjung meningkat), maka ruangan tersebut diatas sudah

barang tentu perlu penyesuaian.33 Senada dengan pendapat diatas Standar

Nasional Indonesia perpustakaan sekolah menyatakan harus menyediakan

31

Aa Kosasih,“Tata Ruang, Perabot Dan Perlengkapan Perpustakaan Sekolah“, Artikel Pustakawan Universitas Negeri Malang UM, (November 2009), hal.3

32

Kosam Rimbarawa, Gedung, Tata Ruang, Perabot & Peralatan Perpustakaan, ( Jakarta : Hakaesar), 2013, hal.15

33

(53)

ruang yang cukup untuk koleksi, staf dan penggunanya. Perpustakaan

menyediakan ruang dengan luas sekurang-kurangnya untuk SD/MI 56M2,

untuk SMP/MTS sekitar 126m2 , dan untuk SMA. MA, SMK dan MAK

sekitar 168m2.34

Ketentuan ruang perpustakaan dapat dilihat dalam Peraturan

Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 24 tahun 2007 mengenai sarana

dan prasarana di sekolah. Ketentuan tersebut antara lain :

a. Ruang perpustakaan berfungsi sebagai tempat kegiatan peserta

didik dan guru memperoleh informasi dari berbagai jenis bahan

pustaka dengan membaca, mengamati, mendengar, dan sekaligus

tempat petugas mengelola perpustakaan.

b. Luas minimum ruang perpustakaan sama dengan luas satu ruang

kelas. Dengan lebar minimum ruang perpustakaan adalah 5 m.

c. Ruang perpustakaan dilengkapi jendela untuk memberi

pencahayaan yang memadai untuk membaca buku.

d. Ruang perpustakaan terletak di bagian sekolah yang mudah

dicapai.

e. Ruang perpustakaan dilengkapi sarana dan prasarana.35

Dalam pembangunan perpustakaan sekolah tidak dapat dipungkiri

bahwa kemegahan atau kemewahan sebuah perpustakaan bisa menjadi

faktor dalam menarik peminat pemustakanya. Namun itu semua bukanlah

34

Panitia Teknis 01-01 Perpustakaan dan Kepustakawanan, Standar Nasional Indonesia (SNI) Bidang Perpustakaan,hal.6

35

(54)

hal yang pertama dan utama dalam pembentukan perpustakaan sekolah.

Karena yang terpenting adalah bagaimana perencanaan dan pembangunan

yang matang sehingga menghasilkan suatu ruangan yang berkualitas tinggi

dan berfungsi secara tepat guna dan berdaya guna. Oleh karena itu ada

beberapa asas atau pedoman yang perlu diperhatikan pada waktu

mendirikan gedung perpustakaan sekolah, atau dalam memilih salah satu

ruang untuk kepentingan perpustakaan sekolah yaitu :

1) Fungsi utama dari perpustakaan adalah sebagai sumber belajar,

untuk itu sebaiknya perpustakaan harus berdekatan dengan

kelas-kelas yang ada.

2) Gedung perpustakaan sekolah sebaiknya jauh dari tempat parkir.

Asas ini perlu dipertimbangkan khususnya pada sekolah-sekolah

yang luas, dan lebih-lebih melayani pengunjung pada sore hari

3) Gedung atau ruang perpustakaan sekolah sebaiknya agar jauh dari

kebisingan yang sekiranya dapat menggangu ketenangan murid

yang sedang belajar.

4) Gedung atau ruang perpustakaan sekolah sebaiknya mudah dicapai

oleh kendaraan yang akan mengangkut buku-buku.

5) Gedung atau ruang perpustakaan sekolah harus aman, baik dari

(55)

6) Gedung atau ruang perpustakaan sekolah sebaiknya ditempatkan

dilokasi yang kemungkinan dapat diperluas pasa masa yang akan

datang.36

Desain atau tata ruang perpustakaan sekolah memainkan peran

utama menyangkut bagaimana perpustakaan melayani sekolah.

Penampilan yang indah, memberikan rasa nyaman memberikan

rangsangan yang kuat bagi komunitas perpustakaan untuk

memanfaatkan waktunya di perpustakaan. Pedoman Perpustakaan

Sekolah IFLA/UNESCO menentukan bahwa perpustakaan sekolah

yang didesain secara tepat hendaknya memiliki delapan karakteristik

yaitu perpustakaan harus didesain sehingga :

1. Menimbulkan rasa aman.

2. Sistem pencahayaannya yang baik.

3. Didesain untuk mengakomodasikan perabotan yang kokoh,

tahan lama dan fungsional, serta memenuhi persyaratan

ruang aktivitas dan pengguna perpustakaan.

4. Didesain untuk menampung persyaratan khusus populasi

sekolah dalam arti cara paling restriktif.

5. Didesain untuk mengakomodasi perubahan pada program

sekolah, program pengajaran, serta perkembangan teknologi

audio, video dan data yang muncul.

36

(56)

6. Didesain untuk memungkinkan penggunaan, pemeliharaan,

peralatan, alat tulis kantor materi.37

2. Perabotan dan Perlengkapan Perpustakaan

Perabotan dan perlengkapan perpustakaan perlu diadakan

sebagai suatu syarat berdirinya perpustakaan. Jumlah dan jenis kedua

peralatan dimaksut dalam suatu perpustakaan, bergantung pada

besarnya perpustakaan yang ada. Untuk perpustakaan sekolah dimana

jumlah koleksinya relative lebih kecil disbanding dengan

perpustakaan-perpustakaan lain, maka banyaknya peralatan dan

perabotan yang dibutuhkannya pun tidak boleh terlalu banyak.

Perabot perpustakaan adalah sarana pendukung atau

perlengkapan perpustakaan sekolah yang digunakan perpustakaan.

Untuk itu agar dapat optimal dibutuhkan perabot di perpustakaan

sebagai berikut.

a. Meja dan kursi sirkulasi.

Meja dan kursi sirkulasi yang memiliki desain khusus, biasanya

disesuaikan dengan aktivitas di sirkulasi dan kebutuhan

perlengkapan untuk mendukung layanan sirkulasi.

b. Meja dan kursi baca

Hal ini sangat dibutuhkan oleh perpustakaan dengan pemilihan

jenis disesuaikan dari luas perpustakaan. Menurut Pawit M.Yusuf

37

(57)

ukuran dari meja dan kursi baca ialah tinggi : 75 cm, lebar : 230

cm, dan tebal dalam 100 cm.38

c. Meja dan kursi kerja

Untuk hal ini tidak begitu banyak dibutuhkan perpustakaan, namun

demikian meja kerja ini sangat penting, karena segala aktivitas

perpustakaan dikendalikan dari meja kerja.

d. Meja atau rak atlas dan kamus yang dapat dimanfaatkan untuk

menempatkan surat kabar yang dilengkapi dengan alat penjepit

(stick).

e. Lemari katalog atau biasa juga disebut kabinet katalog yang

digunakan untuk menyimpan kartu katalog.

f. Lemari multimedia

Digunakan untuk menyimpan koleksi dalam bentuk multimedia

seperti kaset, CD ROM, mikrofilm.

g. Lemari arsip

Digunakan untuk penyimpanan arsip perpustakaan yang berupa

data siswa yang menjadi anggota perpustakaan, data siswa yang

meminjam koleksi perpustakaan dan data koleksi yang dimiliki

oleh perpustakaan sekolah.

38

(58)

h. Laci penitipan tas ataulocker.

Locker ini dapat dimanfaatkan untuk menitipkan tas, jaket, dan

barang yang tidak diperkenankan masuk kedalam ruangan

perpustakaan.

i. Kereta buku.

Biasanya kereta buku dibutuhkan diperpustakaan sekolah yang

besar. Kegunaannya untuk mengangkut buku-buku yang

dikembalikan oleh siswa dari meja sirkulasi ke rak buku.

j. Papan display

Adalah papan yang dapat digunakan untuk memperlihatkan

informasi buku baru.39

Sedangkan menurut Standar Nasional Perpustakaan Sekolah (SNP),

perpustakaan menyediakan sarana sekurang-kurangnya meliputi :

1. Rak buku (5 buah)

2. Rak majalah (1 buah)

3. Rak surat kabar (1 buah)

4. Meja baca (5 buah)

5. Kursi baca (10 buah)

6. Kursi kerja (2 buah)

7. Meja kerja (2 buah)

8. Lemari katalog (1 buah)

9. Papan pengumuman (1 buah)

10. Meja sirkulasi (1 buah)

11. Majalah dinding (1buah)

12. Rak buku referensi (1 buah)

13. Perangkat komputer dan mejanya

Untuk keperluan administrasi (1 buah) 14. Perangkat komputer dan mejanya

Untuk keperluan pemustaka (1 buah)

15. TV (1 buah)

39

(59)

16. Pemutar VCD/DVD (1 buah)

17. Tempat sampah (1 buah)

18. Jam dinding (1 buah).40

3. Peralatan perpustakaan

Peralatan perpustakaan adalah barang-barang yang diperlukan

secara langsung dalam mengerjakan tugas/kegiatan di perpustakaan.

Yang termasuk ke dalam perlengkapan perpustakaan diantaranya yaitu

buku pedoman perpustakaan, buku klasifikasi, kartu katalog buku

induk, kantong buku, label, cap inventaris, cap perpustakaan, bak

sampel, kartu pemesanan, mesin ketik/komputer, ATK dan lain

sebagainya.41

Peralatan sekolah ada yang bersifat habis pakai dan ada pula

yang bersifat tahan lama. Peralatan habis pakai adalah peralatan yang

relatif cepat habis. Sedangkan peralatan yang tahan lama adalah

peralatan yang dapat digunakan terus menerus dalam jangka waktu

yang relatif lama.42

E. Aspek Penataan Ruangan

Agar menghasilkan penataan ruangan perpustakaan yang optimal serta

dapat menunjang kelancaran tugas perpustakaan sebagai lembaga pemberi

jasa, sebaiknya pustakawan perlu memperhatikan beberapa aspek berikut

dalam penataan ruangan perpustakaan.

40 Standar Nasional Perpustakaan (SNP) Bidang Perpustakaan sekolah dan perpustakaan perguruan tinggi,Hal.4

41

Aa Kosasih,“Tata Ruang, Perabot Dan Perlengkapan Perpustakaan Sekolah“, Artikel Pustakawan Universitas Negeri Malang UM, (November 2009), hal.6

42

(60)

a. Aspek fungsional

Penataan ruangan harus mampu mendukung kinerja perpustakaan

secara keseluruhan baik petugas maupun bagi pengunjung

perpustakaan. Sehingga penataan ruangan dapat tercipta secara

optimal.

b. Aspek psikologi pengguna

Psikologis pengguna perlu diperhatikan. Penataan ruangan bisa

mempengaruhi aspek psikologi pengguna perpustakaan. Hal ini

bertujuan agar pengguna perpustakaan merasa nyaman, dan tenang

serta leluasa bergerak di perpustakaan.

c. Aspek estetika

Keindahan penataan ruangan salah satunya bisa melalui penataan

ruang dan perabot yang digunakan. Oleh sebab itu aspek estetika tentu

perlu mendapat perhatian. Penataan ruangan yang indah, bersih, serasi

dan terang bisa membuat kenyamanan pengguna perpustakaan.

d. Aspek keamanan bahan pustaka

Keamanan bahan pustaka harus dijaga dengan baik, agar terhindar dari

kerusakan secara alami dan kerusakan atau kehilangan bahan pustaka

karena faktor manusi. Penataan ruang perpustakaan harus

memperhatikan dua faktor tersebut.43

43

(61)

BAB III

GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN LABSCHOOL KEBAYORAN A. Sejarah Singkat Perpustakaan Labschool Kebayoran

Perpustakaan Labschool Kebayoran berdiri pada tahun 2001

bersamaan dengan terdirinya sekolah Labschool Kebayoran. Pada saat itu

perpustakaan berada di lantai 2 menempati ruang berukuran 1 kelas yang

berkapasitas 10 orang dan memiliki 1 pustakawan yang merangkap

jabatan. Semula perpustakaan Labschool Kebayoran menggunakan sistem

manual untuk penelusuran buku berupa katalog kartu. Seiring dengan

berkembangnya perpustakaan akhirnya pada tahun 2008 perpustakaan

pindah keruangan yang lebih luas, dimana kapasitasnya bertambah hingga

50 orang tetapi letak ruang perpustakaan masih berada di lantai 2. Pada

tahun ini pula perpustakaan merubah sistem yang awalnya memakai sistem

manual menjadi sistem otomasi. Software yang digunakan dalam sistem

otomasi di perpustakaan Labschool Kebayoran ialah software senayan

hingga saat ini.

Pada bulan September-November 2012 ruang perpustakaan

Labschool Kebayoran direnovasi untuk memperluas ruang perpustakaan

dan diresmikan pada hari jum’at tanggal 23 November 2012 oleh Rektor

UNJ. Untuk mendesain ruang perpustakaan, Labschool Kebayoran

mempunyai arsitektur tersendiri dalam pembangunan ruang perpustakaan.

Arsitektur tersebut yaitu Ibu Mita dan Ibu Vida yang merupakan wali

murid siswa Labschool Kebayoran dan sekaligus alumni dari Labschool

Gambar

TABEL 3.2INVENTARIS RUANG PERPUSTAKAAN
Tabel 4.4 menunjukan berapa banyak siswa datang mengunjungi
Tabel 4.5Tujuan siswa datang ke perpustakaan
Tabel 4.6Lokasi Perpustakaan Sekolah Labschool Kebayoran Strategis
+7

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena tata ruang perpustakaan dapat menjelaskan tingkat kunjungan pengguna pada Perpustakaan Umum Kabupaten Asahan sebesar 62,7% dengan berarti bahwa masih terdapat

Penulis sangat bersyukur karena telah menyelesaikan skripsi dengan judul: "Pengaruh Persepsi Tentang Tata Tertib dan Partisipasi dalam Kegiatan OSIS Terhadap Sikap

ruang dan tata produk los tekstil pasar Beringharjo berdasarkan teori persepsi.. Jadwal Penelitian

gedung Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Salatiga, tetapi tata ruang.. dalam penelitian ini meliputi desain, lokasi atau lahan, gedung atau

Pada variable ruangan perpustakaan diketahui skor rata-rata adalah 2,61 , dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepuasan pemustaka terhadap ruang perpustakaan

INFRASTRUKTUR DAN TATA RUANG PADA BADAN PERPUSTAKAAN, ARSIP DAN DOKUMENTASI PROVINSI SUMATERA UTARA..

penafsiran nilai rata-rata persepsi siswa terhadap perpustakaan dalam menunjang proses belajar mengajar SMA Negeri 1 Sinjai Borong. No Indikator Nilai

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan desain tata ruang pada ruang baca di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Umum Daerah Sijunjung dan untuk mengetahui