• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Diri dalam Iklan A Mild

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Konsep Diri dalam Iklan A Mild"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEP DIRI DALAM IKLAN ROKOK A MILD

SKRIPSI

FACHRIAL DANIEL 070904011

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

(2)

KONSEP DIRI DALAM IKLAN ROKOK A MILD

(Analisis Semiotika Tentang Konsep Diri dalam Iklan Rokok A Mild Versi “Cowok Blur” Go Ahead 2011)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Program Strata 1 (S1) Pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas

Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Diajukan Oleh: FACHRIAL DANIEL

070904011

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika di kemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya

bersedia diperoses sesuai hukum yang berlaku.

Nama : Fachrial Daniel NIM : 070904011

(4)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh:

Nama : Fachrial Daniel

NIM : 070904011

Judul Skripsi : KONSEP DIRI DALAM IKLAN ROKOK A MILD

(Studi Analisis Semiotika Tentang Konsep Diri dalam Iklan

Rokok A Mild Versi “Cowok Blur”Go Ahead 2011)

Medan, 8 Oktober 2012

Pembimbing Ketua Departemen

(Dra. Yovita Sabarina Sitepu, S.Sos, M.Si) (

NIP: 198011072006042002 NIP: 196208281987012001 Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A)

Dekan

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara

(5)

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan

di bawah ini :

Nama : Fachrial Daniel

NIM : 070904011

Departemen : Ilmu Komunikasi

Fakultas : Ilmu Soial dan Ilmu Politik

Universitas : Sumatera Utara

Jenis Karya : Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan

kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royaliti Non Eksklusif (Non eksclusive Royality- Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :

“Konsep diri dalam iklan A Mild (Studi Analisis Semiotika Tentang Konsep diri

dalam Iklan Rokok A Mild Versi “ cowok blur” Go Ahead 2011”

Beserta perangkat yang ada ( jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royaliti Non

ekslusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan,

mengalihmedia/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya

selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai

pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Medan

Pada Tanggal : 8 Oktober 2012

(6)

ABSTRAK

Penelitian ini menggunakan analisis semiotika Roland Barthes, untuk mengetahui makna konsep diri dalam iklan A mild versi “cowok blur” Go Ahead 2011. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran konsep diri dalam iklan A mild versi “cowok blur” Go Ahead 2011 di masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis semiotika dengan menggunakan analisis Roland Barthes. Dalam penelitian ini di analisis adalah pada penanda dan petanda, gambar, tanda dan simbol, mitos yang terdapat didalamnya, desain dari iklan komposisi warna, teknik pengambilan gambar serta sasaran iklan rokok tersebut. Teknik pengumpulan data menggunakan pengamatan langsung dengan sumber yang relevan dan di dukung dengan penelitian kepustakaan. Hasil dari penelitian ini membuktikan gambaran konsep diri yang terjadi dalam iklan A Mild versi “ cowok blur” Go Ahead 2011 mempunyai banyak makna yang nyata, bahwa rokok merupakan barang yang sangat mempengaruhi konsep diri anak muda di zaman modern dan menjadi sebuah gaya hidup perkotaan, namun di balik itu semua, iklan rokok hanya semat-mata menjual produk rokoknya dengan iklan yang menarik dan mengesampingkan kesehatan anak muda sebagai pembeli utama rokok A mild.

(7)

ABSTRACT

The research uses Roland Barthes semiotic analysis, to figure out the significance of self concept in A Mild advertising version “ cowok blur” Go Ahead 2011. The purpose of this research is to determine how the image of self. Concept in A Mild advertising version “cowok blur” Go Ahead 2011 to the society. The research method used is semiotic analysis by using analysis of Roland Barthes. Analysed in this study are the signifier and signified, images, signs and symbols, myths contained there in, the design of the ad, color composition, shooting technique and cigarette advertising goals. Data collection technique using direct observation with relevant sources and supported by literature research. The results of this study demonstrate the concept of self. Image that occurs advertising. A Mild version “cowok blur” Go Ahead 2011 contains significance, that cigarettes are goods which influence the self. Concept of young people in modern times and has became an urban lifestyle, but behind it all. Cigarette ads merely selling cigarette products with compelling ads and overside the health of young people as a major buyer of A Mild cigarettes.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis kepada Allah SWT karena atas berkat dan karuniaNya

peneliti dapat menyelesaikan Karya Ilmiah (Skripsi) ini tepat pada waktunya.

Skripsi yang berjudul “Konsep Diri dalam Iklan A Mild” (Studi Analisis Semiotika Konsep diri dalam iIklan A Mild versi “Cowok blur” Go Ahead 2011) ini disusun untuk melengkapi seluruh kegiatan akademik yang sudah peneliti

laksanakan sekaligus sebagai salah satu persyaratan yang harus dipenuhi untuk

memperoleh gelar Sarjana Ilmu komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik di Universitas Sumatera Utara.

Dalam penyusunan skripsi ini, yang tentunya merupakan sebuah proses

dan hasil dari rangkaian proses akademik selama menjalani pendidikan di

Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU dan juga dari data yang berkaitan baik

yang ditemukan melalui perpustakaan, internet, buku-buku literatur, dan

penelitian.

Selanjutnya, dalam menyelesaikan skripsi ini peneliti memperoleh banyak

bantuan, bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak. Untuk itu perkenankanlah

peneliti menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang

setinggi-tingginya kepada :

1. Kedua orang tua tercinta, Ayahnda Ir. Julian dan Ibunda Komaria S.Psi,

Serta kedua adikku tercinta Roes Reza Dermawan dan Shafira Asyifa

Ramadina yang selalu dan tak henti-hentinya memberikan dukungan dan

selalu mendoakan sehingga peneliti mampu menghadapi semua proses

akademik dan merasakan kasih sayang yang tak terhinggga.

2. Bapak Prof. Dr. Drs. Badaruddin, M. Si, selaku Dekan FISIP Universitas

Sumatera Utara.

3. Ibu Dra. Fatma Wardy Lubis, MA selaku Ketua Departemen Ilmu

Komunikasi FISIP USU.

4. Ibu Dra. Dayana, M. Si, Selaku Sekertaris Departemen Ilmu Komunikasi

(9)

5. Ibu Dra. Yovita Sabarani Sitepu, S.Sos, M.Si, selaku dosen pembimbing

yang tak hanya membimbing peneliti selama mengerjakan skripsi, tetapi

juga dengan kesabaran yang tulus menunggu dan memberikan motivasi

yang luar biasa dalam mengerjakan skripsi peneliti yang lama selesainya.

6. Bapak Drs. Haris Wijaya, S. Sos, M. Comm, selaku dosen yang banyak

memberikan saran dan kritik, agar peneliti harus terus bersemangat dan

sukses.

7. Seluruh dosen dan staf pengajar yang telah mendidik dan membimbing

penulis selama menjadi mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi FISIP

USU.

8. Seluruh keluarga Besar penulis terutama Keluarga Djamil dari Ayahanda

dan Keluarga Almizan dari Ibunda yang selalu mendukung dan

memotivasi dan mengiringi peneliti dari kecil hingga dewasa seperti

sekarang ini dan berkah selalu melimpahi keluarga kita, menjadi sukses

kedepannya.

9. Om edy dan om kuku yang selalu memberikan motivasi yang luar biasa,

bu de diah, bu ida, pak de rifin, om war,om mur, wak nuar, kakak

sepupuku tia, kak risa, abang sepupuku caca dan kiki yang selalu

menemani, mendukung, dan membantu penulis selama perkuliahan.

10.Keluarga Besar Bapak Drs. H. Bukhari, SE dan Ibu Dra. Hj. Selvita Lubis,

SE. Anak-anaknya bang Wawan, Kak ami, dek Ella, dek Icha dan

terutama kekasihku yang tercinta Savitri yang selalu mendoakan dan

mendukung setiap gerak langkah kebahagian menjadi lebih baik, terima

kasih atas motivasinya yang sangat berarti. Semoga cita-cita kita

terlaksanakan, langgeng terus bersama. Amin ya Allah.

11.Sahabat-sahabat penulis: Mulya, Iqbal, Dery, Icha, Ade, Arief, Reza, Ali,

Kakek, Kum Kum, Suci, Allez, Said, Firman, Inggit, Perdana, Angga,

Anggi, Dino, Romi, Bang arif, bang Tommy, bang Hendra, terutama

kakek kenalan dari PMDK, teman satu kekuatan, satu visi yang telah

banyak membantu peneliti dalam bertukar pikiran dan melakukan ide

kreatif dan gila, Amin. Semoga persahabatan kita tak akan lekang oleh

(10)

12.Keluarga Besar Ginga Firme Capoeira Brasil, Jakarta dan Medan, Mestre

Marcao, Mestre Esqilo, Professor Mola, Keluarga Besar Pereirra, Mae

Madalena, Pai Luis, Kak Miva, Grace, Nina, Lulu, Junior dan egi serta

bang Julius, bang Dicky, bang Dabu, Graha, anak-anak GFC USU dan

SMK n 1 Medan pak Cipta dan bang edy. Terima kasih atas dukungan

doanya.

13.Kakak –kakak di Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU,

Kak Anim, Kak Puan, Kak Emil, ,Kak Dhany, Kak nuri bersama kalian

selalu ada canda dan tawa, bertukar pikiran, semoga kita selalu di berikan

nikmat, serta kesuksesan.

14.Kepada Rekan-rekan di Radio USU KOM, Pimpinan Ibu, Dr. Nurbani,

M. Si, kak Windi Siregar, S.Sos beserta staf terima kasih atas

dukungannya.

15.Kepada seluruh Staf Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU yang telah

banyak membantu mengurus administrasi peneliti sejak masa kuliah. Kak

Icut dan kak Maya.

16.Seluruh, sahabat, kerabat dan keluarga besar komunikasi 05, 06, 07 dan 08

yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terimakasih telah menjadi

teman, keluarga yang baik, setiap doa, bantuan dan keikhlasan Allah SWT

akan membalasnya dan hingga kita sukses dunia dan akhirat.

Menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam skripsi ini,

peneliti memohon maaf sebesar-besarnya. Dan Peneliti sangat menerima kritik

dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan dan pendorong peneliti

untuk dapat semakin maju. Peneliti juga berterima kasih atas saran dan kritik yang

diberikan serta kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses

penyelesaian akademik penulis.

Semoga skripsi ini dapat menambah khasanah pengetahuan kita semua.

Amiin.

Medan, Oktober 2012 Peneliti

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ………. ... i

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN …….. ... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... viii

ABSTRAK ... ix

II.1. Paradigma Kajian……….... 6

(12)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN………... 37

III.1. Metode Penelitian………... 37

III.2. Objek Penelitian …………..……….... 38

III.3. Subjek Penelitian ……… 38

III.4. Kerangka Analisis ………..……….. 41

III.5. Teknik Pengumpulan Data ……… 43

III.6. Teknik Analisis Data……….. 43

BAB IV PEMBAHASAN DATA……… 46

IV.1. Hasil Data ……… 46

IV.2. Pembahasan Data……….. 47

IV.2.1. Analisis Scene Pertama ……… 47

IV.2.2. Analisis Scene Kedua ……….. 51

IV.2.3. Analisis Scene Ketiga ………... 54

IV.2.4. Analisis Scene Keempat ………... 55

IV.2.5. Analisis Scene Kelima ………... 57

IV.2.6. Analisis Scene Keenam ………... 59

IV.2.7. Analisis Scene Ketujuh ………... 61

IV.2.8. Analisis Scene Kedelapan ………... 63

IV.2.9. Analisis Scene Kesembilan ………... 67

IV.2.10. Analisis Scene Kesepuluh ………... 71

IV.2.11. Analisis Scene Kesebelas ………... 73

IV.2.12. Analisis Scene Keduabelas ………. 76

IV.3. Konsep Diri dalam Iklan A Mild versi “Cowok Blur” Go Ahead 2011……….. 81

IV.4. Mitos ………... 84

BAB V KESIMPULAN & SARAN………. 87

V.1. Kesimpulan………. 87

V.2. Saran………... 88

(13)

DAFTAR TABEL

NO Judul Halaman

II.6 Teknik Dalam Pengambilan Gambar 27

II.6.1 Teknik Editing dan Gerakan Kamera 28

IV.1 Teknik Dalam Menyuting Gambar 47

IV.2.1 Tanda Scene Pertama 49

IV.2.2 Tanda Scene Kedua 52

IV.2.3 Tanda Scene Ketiga 54

IV.2.4 Tanda Scene Keempat 56

IV.2.5 Tanda Scene Kelima 58

IV.2.6 Tanda Scene Keenam 60

IV.2.7 Tanda Scene Ketujuh 62

IV.2.8 Tanda Scene Kedelapan 65

IV.2.9 Tanda Scene kesembilan 69

IV.2.10 Tanda Scene Kesepuluh 72

IV.2.11 Tanda Scene Kesebelas 74

(14)

DAFTAR GAMBAR

NO Judul Halaman

II.1 Elemen-elemen Makna Saussure 9

II.2 Peta Tanda Roland Barthes 11

II.2.1 Signifikasi Dua Tahap Barthes 13

II.2.2 Hubungan Satu Tanda Lingustik 15

(15)

ABSTRAK

Penelitian ini menggunakan analisis semiotika Roland Barthes, untuk mengetahui makna konsep diri dalam iklan A mild versi “cowok blur” Go Ahead 2011. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran konsep diri dalam iklan A mild versi “cowok blur” Go Ahead 2011 di masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis semiotika dengan menggunakan analisis Roland Barthes. Dalam penelitian ini di analisis adalah pada penanda dan petanda, gambar, tanda dan simbol, mitos yang terdapat didalamnya, desain dari iklan komposisi warna, teknik pengambilan gambar serta sasaran iklan rokok tersebut. Teknik pengumpulan data menggunakan pengamatan langsung dengan sumber yang relevan dan di dukung dengan penelitian kepustakaan. Hasil dari penelitian ini membuktikan gambaran konsep diri yang terjadi dalam iklan A Mild versi “ cowok blur” Go Ahead 2011 mempunyai banyak makna yang nyata, bahwa rokok merupakan barang yang sangat mempengaruhi konsep diri anak muda di zaman modern dan menjadi sebuah gaya hidup perkotaan, namun di balik itu semua, iklan rokok hanya semat-mata menjual produk rokoknya dengan iklan yang menarik dan mengesampingkan kesehatan anak muda sebagai pembeli utama rokok A mild.

(16)

ABSTRACT

The research uses Roland Barthes semiotic analysis, to figure out the significance of self concept in A Mild advertising version “ cowok blur” Go Ahead 2011. The purpose of this research is to determine how the image of self. Concept in A Mild advertising version “cowok blur” Go Ahead 2011 to the society. The research method used is semiotic analysis by using analysis of Roland Barthes. Analysed in this study are the signifier and signified, images, signs and symbols, myths contained there in, the design of the ad, color composition, shooting technique and cigarette advertising goals. Data collection technique using direct observation with relevant sources and supported by literature research. The results of this study demonstrate the concept of self. Image that occurs advertising. A Mild version “cowok blur” Go Ahead 2011 contains significance, that cigarettes are goods which influence the self. Concept of young people in modern times and has became an urban lifestyle, but behind it all. Cigarette ads merely selling cigarette products with compelling ads and overside the health of young people as a major buyer of A Mild cigarettes.

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Konteks Masalah

Televisi merupakan media yang memiliki kekuatan audiovisual, sisi kreasi

dan kekuatan persuasif. Dengan kekuatan tersebut, televisi dapat dengan mudah

mempengaruhi emosi khalayak. Banyak keuntungan yang dapat kita peroleh

dengan adanya televisi, antara lain hiburan dan informasi. Dari sekian banyak

informasi dalam tayangan televisi salah satunya yang sering kita nikmati adalah

iklan. Iklan adalah bentuk komunikasi yang digunakan untuk membujuk audiens

(pemirsa, pembaca atau pendengar) untuk mengambil beberapa tindakan

sehubungan dengan produk, ide atau jasa. Paling umum, hasil yang diinginkan

adalah untuk mengarahkan perilaku konsumen sehubungan dengan suatu

penawaran komersial.

Dalam kehidupannya, manusia membutuhkan informasi, pemenuhan

kebutuhan tersebut salah satunya didapat dari iklan. Setelah melihat dan

mendengar iklan, dalam diri manusia itu tentunya akan terjadi sebuah proses yang

dinamakan proses persepsi. Proses ini dapat dimaknai sebagai proses penerimaan

inderawi dan penafsiran. Informasi yang persuasif dalam proses komunikasi yang

diwakili oleh iklan menunjukkan adanya garis hubungan antara seseorang atau

kelompok orang membutuhkan produk itu, yang mana dalam proses komunikasi

itu juga harus mengandung daya tarik dan menggugah suatu perasaaan tertentu

dengan cara menggunakan teknik persuasi yang bisa menggoda dan bisa

meluluhkan hati konsumennya (Liliweri, 2001: 20).

Pesan yang terdapat dalam iklan di televisi terdiri atas tanda verbal dan

nonverbal. Kemampuan kita dalam membaca bahasa tersebut (tanda verbal dan

nonverbal) merupakan sebuah proses berpikir berdasarkan pengetahuan yang

(18)

Karakter utama bahasa iklan melalui kekuatannya membentuk pengalaman

di dalam kognisi manusia. Oleh karena gempuran iklan yang terus menerus maka

proses penyerapan, penafsiran dan pemahaman pun berjalan sampai tak terbatas

sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan. Materi iklan yang tidak berhubungan

langsung dengan produk yang dipasarkan membuat komunikan bertanya-tanya,

apa maksud iklan ini dan apa arti iklan-iklan tersebut. Penampilan yang "tidak

biasa" untuk model-model iklan di Indonesia dewasa ini salah satu dari sekian

banyak materi iklan yang ada, materi iklan A Mild sungguh sangat variatif dan menggelitik, sebab iklan ini adalah iklan rokok.

Iklan ini mendapat perhatian khusus di masyarakat, karena rokok

merupakan produk sensitif. Hal ini berkaitan dengan adanya peraturan khusus

yang dikenakan pada produk rokok, rokok (dalam bentuk bendanya) tidak di

perkenankan untuk ditampilkan di setiap iklan rokok baik iklan televisi atau pun

media cetak, perusahaan dan pembuat iklan mau tidak mau keluar dari kebiasaan

iklan yang konservatif, dengan menggunakan strategi kreatif tertentu agar iklan

rokok tetap dapat diterima di masyarakat.

Iklan A Mild membuat orang bertanya-tanya dan menjawab sendiri sebatas yang dia tahu dan mengerti dari pembacaan iklan itu. Masyarakat penikmat rokok

saat ini justru senang bermain-main dengan tanda dan makna, nilai utilitas (nilai

guna) rokok tidak terlalu menjadi perhatian penting. Sebuah iklan A Mild ternyata tidak semata-mata mempunyai fungsi untuk mendorong, membujuk kepada

khalayak ramai tentang benda dan jasa yang ditawarkan (rokok A Mild), yang mempunyai "nilai guna sebuah iklan" saja, melainkan iklan ini menghadirkan

sebuah perspektif dari fragmen-fragmen, suara-suara, teks-teks dan kode-kode

(19)

Sebuah teks modern (tampilan iklan A Mild) sebuah produk yang dihasilkan melalui suatu aturan atau kode yang kaku, yang menjadi model yang

tunggal. Sebuah teks modern (iklan A Mild) sebuah produk yang menghasilkan makna tunggal atau pesan pengarang yang dapat membuat sebuah ruang

multidimensional, dalamnya bercampur aduk dan berinteraksi berbagai macam

tulisan, yang tak satupun diantaranya orisinil.

Teks adalah sebuah jaringan kutipan-kutipan yang diambil dari berbagai

pusat kebudayaan yang tak terhitung jumlahnya. Maka ketika membaca teks-teks

(iklan A Mild) dalam suatu dimensi kebangsaan, iklan tersebut mempertunjukan bagaimana suatu teks modern bersikap. Iklan-iklan tersebut tidak berbicara pada

nilai utilitas sebagai suatu iklan yang mengundang masyarakat untuk membeli

produk rokoknya (yang melewati batas-batas bisnisnya) namun telah melebar dan

menembus pada dimensi-dimensi politik, kebangsaan, persatuan dan kesatuan

bangsa.

Dalam penelitian ini iklan yang diangkat adalah iklan “A Mild”. Iklan tersebut adalah A Mild Go Ahead versi “cowok blur “2011, yang selalu mengisi pariwara iklan di televisi pada jam 22.00 WIB. Iklan tersebut menceritakan

tentang seorang pria yang kehilangan kepercayaan diri dalam hidupnya, dalam

iklan tersebut pemeran pria terlihat kabur (blur), menggambarakan dirinya orang yang selalu kesepian dan sulit beradaptasi kepada lingkungan sekitarnya, iklan

tersebut penuh dengan tanda dan simbol yang melukiskan konsep diri pria

tersebut dan kaitannya dengan tokoh lainya, secara tidak langsung berhubungan

dengan rokok A mild.

Iklan A mild versi “cowok blur” Go Ahead 2011 ini, tidak terdengar suara antar pemeran si tokoh pria dengan pemeran lainnya mereka seperti pantomim,

diiringi oleh backsound yang terdengar aneh dan ada beberapa tempat yang didatangi oleh peran Pria itu yang kesemua tempat itu menggambarkan

kesendirian si pria, lalu pada akhir iklan ada seorang wanita yang merasakan

kehadiran si pria tersebut, melihat si pria dengan pandangan mata telanjang

(20)

jelas, si wanita merasakan adanya ketertarikan kepada pria tersebut, kemudian

salah seorang teman si pria dan menemaninya hingga rasa kesendirian si pria

berakhir dan sia pria merasa bahagia karena si pria menjadi nyata kembali.

dalam Rakhmat, 2005:105). Banyak faktor yang mempengaruhi konsep diri

manusia dari sisi internal maupun eksternal, dalam kehidupan manusia bisa

terjebak sendiri dengan perilakunya. Manusia cenderung memberikan penilaian

terhadap apa yang dipersepsikannya atas penilaian itu menimbulkan kepuasan

diri. Bila kepuasan diri yang rendah akan menimbulkan harga diri (self esteem) yang rendah pula dan akan mengembangkan ketidakpercayaan yang mendasar

pada dirinya.

Sebaliknya bagi individu yang memiliki kepuasan diri yang tinggi,

kesadaran dirinya lebih realistis, sehinggga lebih memungkinkan individu yang

bersangkutan untuk melupakan keadaan dirinya dan memfokuskan energi serta

perhatiannya keluar diri. Agar manusia senantiasa dapat melakukan segala

aktivitas dan tidak terpaku pada kegiatan yang harus senantiasa dilakukan setiap

hari, maka manusia selalu mencari hal yang baru agar dirinya dapat diperhatikan

dan diakui setiap orang yang berada di lingkungannya.

Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika untuk menganalisis

tanda dan kode yang terdapat dalam iklan rokok A mild. Peneliti memilih iklan tersebut karena rokok A mild dapat mewakili segmentasi kehidupan jiwa anak-anak muda zaman sekarang yang penuh dengan trend dan teknologi yang baru, membongkar makna pada (mitos) iklan tersebut, memaknainya dengan konsep

diri tokoh pria mengapa dia kabur (blur) terlihat tidak nyata oleh orang-orang yang di sekelilingnya. Peneliti melihat iklan A mild tersebut bertemakan kesendirian, kehampan jiwa seorang pria, sangat menarik nantinya kita perhatikan

bagaimana makna, tanda-tanda serta mitos yang terdapat dalam iklan rokok

(21)

I.2 Fokus Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan

permasalahan sebagai berikut: “bagaimanakah makna konsep diri dalam iklan A mild Go ahead versi “cowok blur” 2011?”

I.3 Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran konsep diri dalam

iklan A mild versi “cowok blur” Go ahead 2011.

2 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna termasuk hal-hal

yang tersembunyi di balik iklan A mild Go ahead versi “cowok blur” 2011.

I.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Secara akademis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya

khasanah penelitian serta menambah bahan referensi dan sumber

bacaan di lingkungan FISIP USU khususnya Departemen Ilmu

Komunikasi.

2. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapakan dapat menjadi masukan

bagi perkembangan ilmu komunikasi, khususnya mengenai studi

analisis semiotika.

3. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi

masyarakat untuk menambah pengetahuan mengenai gambaran konsep

(22)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

II.1 Paradigma Kajian

Paradigma merupakan suatu kepercayaan atau prinsip dasar yang ada

dalam diri seseorang tentang pandangan dunia dan membentuk cara pandang

terhadap dunia, penelitian pada hakikatnya merupakan suatu upaya untuk

menemukan kebenaran atau untuk lebih membenarkan kebenaran. Usaha untuk

mengejar kebenaran yang dilakukan oleh para filusuf, peneliti, maupun oleh para

praktisi melalui model-model tertentu. Model itu disebut dengan paradigma,

(Moleong, 2010: 49).

Paradigma sangat penting dalam mempengaruhi teori, analisisi maupun

tindak perilaku seseorang. Secara tegas dikatakan bahwa tidak ada suatu

pandangan atau teori yang bersifat netral dan objektif, melainkan salah satu di

antaranya sangat bergantung pada paradigma yang digunakan. Karena menurut

Kuhn (1970) paradigma menetukan apa yang tidak kita pilih, tidak kita inginkan,

tidak ingin kita lihat, dan tidak ingin kita ketahui.

Paradigma mempengaruhi pandangan seseorang apa yang baik dan buruk,

suka atau tidak suka. Oleh karena itu, jika ada dua orang yang melihat sebuah

realitas sosial yang sama atau membaca lembaran tulisan buku yang sama, akan

menghasilkan pandangan, penilaian, sikap dan perilaku yang berbeda pula.

Perbedaan itu terjadi karena perbedaan paradigma yang dimiliki, yang secara

otomatis mempengaruhi presepsi dan tindak komunikasi seseorang.

Ada bermacam-macam paradigma dalam mengungkap hakekat realitas

atau ilmu pengetahuan yang berkembang dewasa ini yaitu: positivisme,

postpositivsme, konstruktivisme (constructivism) dan teori kritik (critical theory). Perbedaan paradigma ini bisa dilihat dari cara mereka memandang realitas dan

melakukan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan, di tinjau dari empat dimensi

(23)

II.1.1 Paradigma Konstruktivis

Paradigma Konstruktivis berbasis pada pemikiran umum tentang

teori-teori yang dihasilkan oleh peneliti dan teori-teoritisi aliran konstruktivis. Littlejohn

mengatakan bahwa Paradigma konstruktivis berlandaskan pada ide bahwa realitas

bukanlah bentukan yang objektif, tetapi dikonstruksi melalui proses interaksi

dalam kelompok, masyarakat, dan budaya (Wibowo, 2011: 27).

Paradigma dalam penelitian semiotika banyak mengacu pada paradigma

konstruktivis, meski sejumlah penelitian lainnya menggunakan paradigma kritis

namun paradigma konstruktivis lebih relevan jika digunakan untuk melihat

realitas signifikannya objek yang diteliti,dari paradigma konstruktivis dapat

dijelaskan melalui empat dimensi seperti diutarakan oleh (Hidayat dalam

Wibowo, 2010: 28) sebagai berikut:

1. Ontologis: relativism, relaitas merupakan konstruksi sosial. Kebenaran suatu realitas bersifat relatif, berlaku seseuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial.

2. Epstemologis: transactionalist/subjectivist, pemahaman tentang suatu realitas atau temuan suatu penelitian merupakan produk interaksi antara peneliti dengan yang diteliti.

3. Axiologis: Nilai, etika dan pilihan moral merupakan bagian tak terpisahkan dari suatu penelitian. Peneliti sebagai passionate participant, fasilitator yang menjebatani keragaman subjektivitas pelaku sosial. Tujuan penelitian lebih kepada rekonstruksi realitas sosial secara dialektis antara peneliti dengan pelaku sosial yang diteliti.

4. Metodologis: menekankan empati dan interaksi dialektis antara peneliti denagn responden untuk merekonstruksi realitas yang diteliti, melalui metode-metode kualitatif seperti participant observasion. Kriteria kualitas penelitian authenticity dan revlectivty: sejauh mana temuan merupakan refleksi otentik dari realitas yang di hayati oleh para pelaku sosial.

II.1.2 Semotika

Secara etimologis, istilah semiotika berasal dari kata Yunani

Semeion yang berarti tanda. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai suatu yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya dapat dianggap mewakili

(24)

yang keras meraung-raung menandai adanya kebakaran di sudut kota (Wibowo,

2011: 5).

Secara terminologis, semiotika dapat diidentifikasikan sebagai ilmu yang

mempelajari sederetan luas dari objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh

kebudayaan sebagai tanda. Pada dasarnya, analisis semiotika merupakan sebuah

ikhtiar untuk merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang dipertanyakan lebih

lanjut ketika kita membaca teks atau narasi/ wacana tertentu. Analisisnya bersifat

paradigmatic (Wibowo, 2011: 5)

Konteks semiotik yang paling penting dalam pemikiran Saussure adalah

pandangan mengenai tanda. Saussure meletakkan tanda dalam konteks

komunikasi manusia dengan melakukan pemilihan antara apa yang disebut

signifier (penanda) dan signified (petanda). Signifier adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna (aspek material), yakni apa yang dikatakan dan apa

yang ditulis atau dibaca. Signified adalah gambaran mental, yakni pikiran atau konsep aspek mental dari bahasa. Kedua unsur ini seperti dua sisi dari sekeping

mata uang atau selembar kertas (Wibowo, 2011: 6).

Tanda bahasa dengan demikian menyatukan, bukan hal dengan nama,

melainkan konsep dan gambaran akustis. Saussure menggambarkan tanda yang

terdiri atas signifier dan signified itu sebagai berikut :

Sign

Composed Of

signification

Signifier plus Signified external reality

(physical (mental concept) Of meaning existence

of the sign)

Gambar II.1 Elemen-Elemen Makna Saussure

(25)

Saussure menyebut signifier sebagai bunyi atau coretan bermakna, sedangkan signified adalah gambaran mental atau konsep sesuatu dari signifier. Hubungan antara keberadaan fisik tanda dan konsep mental tersebut dinamakan

signification. Dengan kata lain, signification adalah upaya dalam memberi makna terhadap dunia (Sobur, 2004:125).

II.2 Kajian Pustaka

II.2.1 Analisis Semiologi Roland Barthes

Kancah penelitian semiotika tak bisa begitu saja melepaskan nama Roland

Barthes (1915-1980), ahli semiotika yang mengembangkan kajian yang

sebelumnya punya warna kental dalam strukturalisme semiotika teks. Sebagai

pengikut Saussurean yang berpandangan bahwa sebuah sistem tanda yang

mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu

tertentu. Semiotik, atau dalam istilah Barthes semiologi, pada dasarnya hendak

mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity ) memaknai hal-hal (things). Memaknai (to signify ) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate).

Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi,

dalam hal mana objek-objek itu hendak dikomunikasikan, tetapi juga

mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda. Salah satu wilayah penting yang

dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (The reader ). Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara lugas mengulas apa yang sering

disebutnya sebagai sistem pemaknaan tataran kedua, yang dibangun di atas sistem

lain yang telah ada sebelumnya. Sistem kedua ini oleh Barthes disebut dengan

konotatif, yang di dalam buku Mythologiesnya secara tegas ia bedakan dari

denotatif atau sistem pemaknaan tataran pertama. Demi memperjelas signifikasi

(26)

Gambar II.2. Peta Tanda Roland Barthes

Sumber: (Barthes, 1991: 113)

Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas

penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda

denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Jadi, dalam konsep Barthes, tanda

konotatif tidak sekadar memiliki makna tambahan namun juga mengandung

kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Pada dasarnya, ada

perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta

denotasi dan konotasi yang dipahami oleh Barthes. Di dalam semiotika Barthes

dan para pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama,

sementara konotasi merupakan tingkat kedua (Colbey dan Jansz, 1999 :51).

Dalam hal ini denotasi justru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan

makna. Sebagai reaksi untuk melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif

ini, Barthes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Baginya yang ada

hanyalah konotasi. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa makna harfiah merupakan

sesuatu yang bersifat. Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi

ideologi, yang disebutnya sebagai mitos dan berfungsi untuk mengungkapkan dan

memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu

periode tertentu. Dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda,

dan tanda. Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu

6. CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF)

4. CONOTATIVE SIGNIFIER

(PETANDA KONOTATIF 3. denotative sign

(tanda denotatif)

2. Signified

(Petanda)

1. Signifier

(penanda)

5. CONOTATIVE SIGNIFIED

(27)

rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah

juga suatu sistem pemaknaan tataran kedua. Didalam mitos pula sebuah petanda

dapat memiliki beberapa penanda

Barthes melontarkan konsep tentang konotasi dan denotasi sebagai kunci

dari analisisnya, Barthes menggunakan versi yang jauh lebih sederhana membahas

model ‘glossematic sign’ (tanda-tanda glossematic). Mengabaikan dimensi dari bentuk dan substansi, dan fokus pada makna konotasi. Konotasi adalah istilah

yang digunakan Barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap kedua. Pada level

ini, keseluruhan tanda yang diciptakan dalam denotasi menjadi penanda bagi

babak kedua pemunculan makan. Petanda pada level ini adalah konteks, baik

personal maupun budaya, yang didalamnya pembaca pendengar, atau pengamat

tanda memahami dan menafsirkannya (Barton, 2010 :108). (http://www.scribd.com).

Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu

dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaanya.

Konotasi mempunyai makna yang subjektif atau paling tidak intersubjektif.

Dengan kata lain, konotasi bekerja dalam tingkat intersubjektif sehingga

kehadirannya tidak disadari. Pembaca mudah sekali membaca makna konotatif

sebagai fakta denotatif. Karena itu, salah satu tujuan analisis semiotika adalah

untuk menyediakan metode analisis dan kerangka berpikir dan mengatasi

terjadinya salah baca (misereading) atau salah dalam mengartikan makna suatu tanda (Wibowo, 2011: 174).

Barthes Salah seorang pengikut Saussure. Ia membuat sebuah model

sistematis dalam menganalisis makna dari tanda-tanda. Fokus perhatian Barthes

lebih tertuju kepada gagasan tentang signifikasi dua tahap (two order of signification) seperti terlihat pada gambar berikut:

(28)

First Order Second order

Reality Sign Culture

Form

Content

Gambar II.2.1 Signifikasi Dua Tahap Barthes

Sumber: (Sobur, 2004: 127).

Melalui gambar 3 ini Barthes, seperti dikutip Fiske, menjelaskan:

signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Barthes menyebutnya sebagai

denotasi, yaitu makna paling nyata dari tanda. Konotasi adalah istilah yang

digunakan Barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap kedua. Hal ini

menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau

emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya.

Konotasi mempunyai makna yang subjektif atau paling tidak

intersubjektif. Pemilihan kata-kata kadang merupakan pilihan terhadap konotasi,

misalnya kata “penyuapan” dengan memberi “uang pelicin”. Dengan kata lain,

denotasi adalah apa yang digambarkan terhadap sebuah objek, sedangkan konotasi

adalah bagaimana menggambarkannya. Denotation

Signifier

---

Signified

Connotation

(29)

Charles Morris memudahkan kita memahami ruang lingkup kajian

semiotika yang menaruh perhatian atas ilmu tentang tanda-tanda. Menurutnya,

kajian semiotika yang menaruh perhatian atas ilmu tentang tanda-tanda, kajian

semiotika pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam tiga cabang penyelidikan

(Branches of inquiry) yakni sintaktik, semantik dan pragmatik (Wibowo, 2011: 4).

II.2.1.1 Semantik

Semantik membahas bagaimana tanda berhubungan dengan referennya,

atau apa yang diwakili suatu tanda. Semiotika menggunakan dua dunia, yaitu

dunia benda (world of things) dan dunia tanda yang menjelaskan hubungan keduanya. Prinsip dasar dalam semiotika adalah bahwa representasi selalu

diperantarai atau dimediasi oleh kesadaran interpretasi seorang individu dan setiap

interpretasi atau makna dari suatu tanda akan berubah dari suatu situasi ke situasi

lainnya (Morissan, 2009: 29).

Semantik dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani ‘seme’ (kata benda) yang berarti ‘tanda’ atau ‘lambang’. Kata kerjanya adalah‘semaino’ yang berarti ‘menandai’ atau ‘melambangkan’. Yang dimaksud tanda atau lambang

disini adalah tanda-tanda linguistik (Perancis : signé linguistique). Menurut Ferdinand de Saussure (1966), semiotika dilihat melalui sudut pandang lingustik

yang terdiri dari: 1) Komponen yang menggantikan, yang berwujud bunyi bahasa.

2) Komponen yang diartikan atau makna dari komponen pertama.

Kedua komponen ini adalah tanda atau lambang, dan sedangkan yang

ditandai atau dilambangkan adalah sesuatu yang berada di luar bahasa, atau yang

lazim disebut sebagai referensi acuan atau hal yang ditunjuk. Jadi, Ilmu Semantik

adalah :

a. Ilmu yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan

hal-hal yang ditandainya.

(30)

Semantik mengacu pada makna dari sebuah tanda. Sebagai contoh, dua

jari dipasangkan di belakang kepala seseorang adalah sebuah cara untuk

memanggilnya seorang “setan”(John, 1996 :159). Dalam analisis semantik,

bahasa bersifat unik dan memiliki hubungan yang erat dengan budaya masyarakat

penuturnya. Maka, suatu hasil analisis pada suatu bahasa, tidak dapat digunakan

untuk menganalisis bahasa lain. Contohnya penutur bahasa Inggris yang

menggunakan kata ‘rice’ pada bahasa Inggris yang mewakili nasi, beras, gabah

dan padi. Kata ‘rice’ akan memiliki makna yang berbeda dalam masing-masing

konteks yang berbeda. Dapat bermakna nasi, beras, gabah, atau padi. Tentu saja

penutur bahasa Inggris hanya mengenal ‘rice’ untuk menyebut nasi, beras, gabah, dan padi. Itu dikarenakan mereka tidak memiliki budaya mengolah padi, gabah,

beras dan nasi, seperti bangsa Indonesia.

Kesulitan lain dalam menganalisis makna adalah adanya kenyataan

bahwa tidak selalu penanda dan referennya memiliki hubungan satu lawan satu

yang artinya berbeda, setiap tanda lingustik tidak selalu hanya memiliki satu

makna. Adakalanya, satu tanda lingustik memiliki dua acuan atau lebih, dan

sebaliknya, dua tanda lingustik dapat memiliki satu acuan yang sama.

Hubungan tersebut dapat digambarkan dengan contoh-contoh berikut :

Racun

Bisa

Dapat

Buku

Lembar kertas berjilid

Kitab

Sumber: (Sobur, 2004: 127).

(31)

II.2.1.2 Sintaktik

Sintaktik (syntactics) yaitu studi mengenai hubungan di antara tanda. Dalam hal ini, tanda tidak pernah mewakili dirinya, tanda adalah selalu menjadi

bagian dari sistem tanda yang lebih besar atau kelompok yang diorganisir melalui

cara tertentu. Sistem tanda seperti ini disebut kode (code). Kode dikelola dalam berbagai aturan. Dengan demikian, tanda yang berbeda mengacu atau

menunjukkan benda berbeda dan tanda digunakan bersama-sama melalui

cara-cara yang diperbolehkan (Morissan, 2009:30).

Tanda-tanda tersebut disusun ke dalam sistem dengan tanda lainnya.

Sebagai contoh, seseorang mungkin menyimpan dua buah jarinya di belakang

kepala seseorang, tertawa dan berkata “mengejek Anda!” Hal tersebut adalah

sebuah gerak tubuh, sebuah tanda suara (tertawa), ekspresi wajah dan bahasa

bersatu untuk menciptakan makna. Menurut pandangan semiotika tanda selalu

dipahami dalam hubungannya dengan tanda lainnya.

Dalam situasi pembicaraan biasa tanda-tanda dari berbagai sistem tanda

berfungsi secara bersama-sama, sistem tanda bahasa berdampingan dengan sistem

tanda paralinguistik (getaran suara, intonasi) dan yang lain (gerak, sikap, pancaran

mata, mimik dan jarak). Sintaksis semiotis menganalisis hubungan antar tanda.

Dalam suatu sistem yang sama, sintaksis semiotis tidak dapat membatasi diri

dengan hanya mempelajari hubungan antar tanda, tetapi harus melihat

hubungan-hubungan lain yang pada prinsipnya bekerja sama (Morissan, 2009 :33).

II.2.1.3 Pragmatik

Pragmatik yaitu bidang yang mempelajari bagaimana tanda menghasilkan

perbedaan dalam kehidupan manusia atau dengan kata lain, pragmatik adalah

studi yang mempelajari penggunaan tanda serta efek yang dihasilkan tanda. Aspek

pragmatik dari tanda memiliki peran penting dalam komunikasi, khususnya untuk

(32)

atau perilaku yang dimunculkan oleh sebuah tanda atau sekelompok tanda, seperti

ketika tanda “setan” dianggap sebuah lelucon daripada sebuah penghinaan.

Dari perspektif semiotika, kita harus memiliki pengertian sama, tidak saja

terhadap setiap kata dan tata bahasa yang digunakan, tetapi juga masyarakat dan

kebudayaan yang melatarbelakanginya, agar komunikasi dapat berlangsung

dengan baik. Sistem hubungan diantara tanda harus memungkinkan komunikator

untuk mengacu pada sesuatu yang sama. Kita harus memiliki kesatuan rasa (sense of coherance) terhadap pesan. Jika tidak, maka tidak akan ada pengertian komunikasi. Kita juga harus memastikan bahwa apabila kita menggunakan aturan

tata bahasa, maka mereka yang menerima pesan kita juga harus memiliki

pemahaman yang sama terhadap tata bahasa yang kita gunakan. Dengan

demikian, makna yang kita maksudkan, people can communicate if they share meaning (orang hanya dapat berkomunikasi jika mereka melihat makna yang sama) (Morissan, 2009: 38).

Unsur pragmatik yakni hubungan antara tanda dengan pemakai (user atau

interpreter ), menjadi bagian dari sistem semiotik sehingga juga menjadi salah satu cabang kajiannya karena keberadaan tanda tidak dapat dilepaskan dari

pemakainya. Bahkan lebih luas lagi keberadaan suatu tanda dapat dipahami hanya

dengan mengembalikan tanda itu ke dalam masyarakat pemakainya, kedalam

konteks sosial budaya yang dimiliki. Sehubungan dengan itu Abrams (1981)

mengungkapkan bahwa the focus of semiotic interest is on the under lying system of language,not on the parol. Hal itu sesuai dengan pernyataan bahwa bahasa adalah cermin kepribadian dan budaya bangsa.

II.3 Lima Kode yang Ditinjau Roland Barthes

Dalam bukunya Barthes selalu membuat judul yang aneh dan beberapa

dari bukunya tersebut menjadi rujukan penting untuk studi semiotika, Barthes

berpendapat bahwa sarrasine ini terangkai dalam kode rasionalisasi suatu proses

yang mirip dengan yang terlihat dalam retorika tentang tanda mode (Sobur, 2004:

(33)

II.3.1 Kode Hermenuetik

Kode Hermenuetik sering juga disebut kode teka-teki berkisar pada

harapan pembaca untuk mendapatkan “kebenaran” bagi pertanyaan yang muncul

dalam teks. Kode teka-teki merupakan unsur struktur yang utama dalam narasi

tradisional. Di dalam narasi ada suatu kesinambungan antara pemunculan suatau

peristiwa teka-teki dan penyelesaiannya di dalam cerita.

II.3.2 Kode semik

Kode semik sering juga disebut kode konotatif banyak menawarkan

banyak sisi. Dalam proses pembacaan, pembaca menyusun tema suatu teks. Ia

melihat bahwa konotasi kata atau frase yang mirip. Jika kita melihat suatu

kumpulan suatu konotasi, kita menemukan suatu tema di dalam cerita. Jika

sejumlah konoyasi melekat pada suatu nama tertentu kita dapat mengenali suatu

tokoh dengan atribut tertentu.

II.3.3 kode simbolik

Kode simbolik merupakan aspek pengkodeaan fiksi yang paling khas

bersifat struktural atau tepatnya menurut konsep barthes, pasca kultural di dasari

gagasan bahwa makan berasal dari beberapa oposisi biner atau pembedaan baik

dari tahap bunyi menjadi fenom dalam proses produksi wicara, maupun pada taraf

psikoseksual yang melalui proses, dalam suatu teks verbal, perlawanan yang

bersifat simbolik ini dapat dikodekan melalui istilah-istilah retoris seperti

antitesis, yang merupakan simbol istimewa dalam sistem simbol barthes.

II.3.4 kode Proaretik

Kode Proaretik sering juga di sebut kode tindakan di anggapnya sebagai

perlengkapan utama teks yang dibaca setiap orang, artinya semua teks yang

bersifat naratif, barthes menerapkan beberapa prisnsip seleksi, kita mengenal kode

lakuaan karena kita memahaminya. Pada kebanyakan fiksi, kita selalu

(34)

II.3.5 Kode Gnomik

Kode Gnomik sering juga di sebut kode kultural banyak jumlahnya. Kode

ini merupakan acuan teks ke benda-benda yang sudah diketahui dan dikodifikasi

oleh budaya, menurut barthes, relaisme tradisional didefinisi oleh acuan teks ke

apa yang sudah diketahui, rumusan suatu budaya atau subbudaya adalah hal-hal

kecil yang telah di kodifikasi yang di atasnya para penulis bertumpu. Bukan hanya

untuk membangun sistem klarifikasi unsur-unsur narasi yang sangat formal,

namun lebih banyak untuk menunjukkan bahwa tindakan yang paling masuk akal,

rincian yang paling meyakinkan, atau teka-teki yang paling menarik, merupakan

produk buatan dan bukan tiruan dari yang nyata (Sobur, 2004: 65-67).

II.4 Iklan

Dalam peradaban manusia, tulisan pertama yang terkait dengan iklan

adalah tanda-tanda yang ditampilkan di atas pintu toko kota-kota kuno di Timur

Tengah. Sejak tahun 3000 Sebelum Masehi orang-orang Babilonia menggunakan

tanda seperti itu untuk mengiklankan toko mereka. Orang-orang Yunani dan

Romawi Kuno juga menggantungkan tanda-tanda tersebut di luar toko mereka.

Ketika orang sudah mulai bisa membaca, para pedagang di zaman itu menatahkan

simbol-simbol yang bisa dikenal pada batu, tanah liat atau kayu untuk

menampilkan tanda-tanda yang ingin mereka tunjukan. Bahkan sebenarnya,

sepanjang sejarah iklan poster dan gambar di pasar dan kuil merupakan media

populer yang dipakai untuk menyebarkan informasi dan untuk mempromosikan

barter serta penjualan barang dan jasa (Danesi, 2010: 225).

Diawal tahun 1920-an, semakin banyaknya penggunaan listrik

menghasilkan kemungkinan semakin besar dalam memapankan iklan di dalam

cakrawala sosial melalui penggunaan media elektronik baru. Munculnya radio dan

televisi telah menghasilkan perpaduan iklan dalam bentuk komersial disertai

sebuah narasi mini atau jingle musik yang berkisar pada suatu barang atau jasa dan kegunaannya. Komersial segera menjadi satu bentuk iklan yang sangat

persuasif, karena secara serentak bisa mencapai massa konsumen potensial, baik

(35)

dalam menciptakan persepi tentang produk sebagai yang terjalin sangat erat

dengan gaya dan isi komersial yang dipakai untuk mempromosikannya. Belum

lama berselang, internet bergerak maju dalam melengkapi dan menambahi

bentuk-bentuk iklan baik yang tercetak maupun komersial (radio dan televisi).

Meskipun demikian, teks iklan tidak pernah berubah secara drastis dari

sejak dibentuk oleh media tradisional. Seperti di dalam komersial televisi, para

pemasang iklan di internet menggunakan gambar, audio dan berbagai teknik

visual untuk meningkatkan efektivitas pesan yang akan mereka sampaikan. Pada

akhirnya iklan menjadi salah satu bentuk diskursus sosial yang paling tersebar dan

menyeluruh yang pernah dibuat manusia. Seperti yang pernah disinggung

McLuhan (1964), dalam hal ini medium sudah menjadi pesan. Sekarang bahkan

sudah ada situs seperti AdCritic.com yang menampilkan iklan sebagai iklan itu

sendiri, sehingga para pengakses situs itu bisa melihatnya hanya dari segi

estetiknya saja (Sobur, 2004:114).

Pada abad ke-20, iklan berevolusi menjadi sebentuk diskursus sosial

persuasif yang terutama diarahkan untuk mempengaruhi bagaimana kita

memahami pembelian dan konsumsi barang-barang. Diskursus iklan berkisar dari

pernyataan sederhana di bagian terklasifikasi pada suratkabar dan majalah sampai

iklan gaya hidup majalah yang canggih serta komersial televisi dan internet. Oleh

sebab itu, iklan telah menjadi diskursus istimewa yang telah menggantikan

bentuk-bentuk diskursus lebih tradisional seperti khotbah, pidato politik,

peribahasa, kata-kata bijak dan sebagainya (Danesi, 2010: 235).

Dalam proses periklanan terjadi proses yang berkaitan dengan disiplin

psikologi; mulai dari tahap penyebaran informasi sebagai proses awal, hingga ke

tahap menggerakkan konsumen untuk membeli atau menggunakan jasa adalah

suatu proses psikologi. Iklan dapat dikatakan berhasil apabila mampu

menggerakkan konsumen untuk pertama kali saat melihat penampilan iklan

tersebut; rangsangan visual dari penampilan iklan langsung mendapat perhatian

dari pemerhati. Proses berikut adalah hadirnya penilaian akhir terhadap isi atau

(36)

manusia sebagai ‘satuan-satuan berulang’ yang bisa diklasifikasikan kedalam

berbagai ‘kelompok selera’, ‘kelompok gaya hidup’ atau ‘pangsa pasar’ yang bisa

dikelola dan dimanipulasi mengikuti hukum statistik (Danesi, 2010: 265).

Untuk mengkaji iklan dalam perspektif semiotika, kita bisa mengkajinya

lewat sistem tanda dalam iklan. Iklan menggunakan sistem tanda yang terdiri atas

lambang, baik yang verbal maupun yang berupa ikon. Iklan juga menggunakan

tiruan indeks, terutama dalam iklan radio, televisi dan film (Sobur, 2004:116).

Fenomena-fenomena sosial-budaya seperti fashion, makanan, furni-tur, arsitektur,

pariwisata, mobil, barang-barang konsumer, seni, desain dan iklan dapat dipahami

berdasarkan model bahasa (Piliang, 2003: 27). Menurut rancangan semiotik

apabila keseluruhan praktek sosial dapat dianggap sebagai fenomena bahasa,

maka semuanya juga dapat dianggap sebagai "tanda-tanda" (signs). Dalam semiotika Saussurean 'tanda' merupakan dua bidang yang tak dapatdipisahkan,

yaitu bidang penanda (signifier) atau bentuk dan bidang petanda (signified) atau makna. Menurut semiotika Saussurean tanda harus mengikuti model kaitan

struktural antara penanda dan petanda yang bersifat stabil dan pasti

Objek iklan adalah hal yang diiklankan. Dalam iklan produk atau jasa,

produk atau jasa itulah objeknya. Yang penting dalam menelaah iklan adalah

penafsiran kelompok sasaran dalam proses interpretan. Jadi, sebuah kata seperti

eksekutif meskipun dasarnya mengacu pada manajer menengah, tetapi selanjutnya manager menengah ini ditafsirkan sebagai “suatu tingkat keadaan ekonomi

tertentu“ yang juga kemudian dapat ditafsirkan sebagai “gaya hidup tertentu”

yang selanjutnya dapat ditafsirkan sebagai “kemewahan”dan seterusnya.

Penafsiran yang bertahap itu merupakan segi penting dalam iklan. Proses seperti

itu disebut semiosis (Hoed, 2004 : 97).

Pada saat ini budaya terbuat dari makna antara konsumen dan pasar. hal

ini digambarkan dalam tanda-tanda dan simbol yang dikodekan dalam benda

sehari-hari. Semiotika adalah studi tentang tanda dan bagaimana suatu tanda itu

ditafsirkan. Periklanan memiliki tanda-tanda tersembunyi dan arti dalam nama

(37)

adalah untuk mempelajari dan menginterpretasikan pesan yang disampaikan

dalam iklan . Logo dan iklan dapat ditafsirkan pada dua tingkatan yang dikenal

sebagai tingkat permukaan dan tingkat yang mendasarinya. Tingkat permukaan

menggunakan tanda-tanda kreatif untuk membuat gambar atau kepribadian untuk

suatu produk mereka. Tanda-tanda ini dapat berupa gambar, kata, font, warna atau slogan. Sedangkan tingkat mendasarinya terdiri dari makna tersembunyi (Berger,

2000 : 28).

Kombinasi gambar, kata, warna, dan slogan harus ditafsirkan oleh

penonton atau konsumen. Kunci untuk analisis iklan adalah penanda dan yang

ditandakan.

Saat ini banyak produk-produk menerapkan konsep semiotika dalam

pertarungan pasar, semiotika tampaknya telah menjadi tren dalam dunia

periklanan, kini hampir semua produk kita dapat menemui semiotika seperti yang

terdapat pada iklan rokok, produk perawatan kulit dan tubuh,

produk-produk yang menerapkan semiotika didominasi oleh rokok dan perawatan wanita.

Inilah ranah tektualitas berupa tanda dan makna yang masih menjadi misteri

menunggu untuk dipecahkan dan dibedah.

Penanda adalah obyek dan Petanda adalah konsep mental. Sebuah

produk terdiri dari penanda dan yang ditandakan.Penanda adalah warna , nama

merek, desain logo, dan teknologi. Petanda memiliki dua makna denotatif dan satu

lagi bisa berupa sebagai konotatif. Makna denotatif adalah makna dari produk.

Makna denotatif sebuah televisi akan menjadi bahwa itu adalah definisi yang

sebenarnya. Makna konotatif adalah makna produk dalam dan tersembunyi.

Sebuah makna konotatif dari televisi memerlukan penafsiran untuk dipecahkan.

II.5 Komposisi Warna

Warna memegang peranan penting dalam sebuah iklan, yakni untuk

mempertegas dan memperkuat kesan atau tujuan iklan tersebut. Warna juga

mempunyai fungsi untuk memperkuat aspek identitas menurut pakar Psikologi, J.

Linschoeten dan Mansyur (dalam Kasali, 1992 : 87) warna itu bukanlah suatu

(38)

memegang peranan penting dalam penilaian estetis dan turut menentukan suka

tidaknya kita terhadap berbagai benda.

Bagi yang ingin mendesain sebuah gambar visual periklanan tidak terlepas

dari artistik, desain, warna serta tema dari gambar yang ingin di buat. Dibawah ini

dipaparkan potensi karakter warna yang mampu memberikan kesan pada

seseorang, yang akan dideskripsikan sebagaimana yang diungkapkan Barker

(1954) (dalam Mulyana, 2005: 48).

1.

Merah melambangkan kesan energi, kekuatan, hasrat, erotisme,

keberanian, simbol dari api, pencapaian tujuan, darah, resiko, ketenaran,

cinta, perjuangan, perhatian, perang, bahaya, kecepatan, panas, kekerasan.

Warna ini dapat menyampaikan kecenderungan untuk menampilkan

gambar dan teks secara lebih besar dan dekat. warna merah dapat

mengganggu apabila digunakan pada ukuran yang besar. Merah cocok

untuk tema yang menunjukkan keberanian seseorang. energi misal mobil,

kendaraan bermotor, olahraga dan permainan. Merah

2. Putih Putih

3.

menunjukkan kedamaian, Permohonan maaf, pencapaian diri,

spiritualitas, kedewaan, keperawanan atau kesucian, kesederhanaan,

kesempurnaan, kebersihan, cahaya, tak bersalah, keamanan, persatuan.

Warna putih sangat bagus untuk menampilkan atau menekankan warna

lain serta memberi kesan kesederhanaan dan kebersihan.

Hitam melambangkan perlindungan, pengusiran, sesuatu yang negatif,

mengikat, kekuatan, formalitas, misteri, kekayaan, ketakutan, kejahatan,

ketidak bahagiaan, perasaan yang dalam, kesedihan, kemarahan, sesuatu

yang melanggar (underground), modern music, harga diri, anti kemapanan. Sangat tepat untuk menambahkan kesan misteri. latar

(39)

Sangat bagus untuk menampilkan karya seni atau fotografi karena

membantu penekanan pada warna-warna lain.

4.

Biru memberikan kesan Komunikasi, Peruntungan yang baik,

kebijakan, perlindungan, inspirasi spiritual, tenang, kelembutan, dinamis,

air, laut, kreativitas, cinta, kedamaian, kepercayaan, loyalitas, kepandaian,

panutan, kekuatan dari dalam, kesedihan, kestabilan, kepercayaan diri,

kesadaran, pesan, ide, berbagi, idealisme, persahabatan dan harmoni, kasih

sayang. Warna ini memberi kesan tenang dan menekankan keinginan. Biru

tidak meminta mata untuk memperhatikan. Obyek dan gambar biru pada

dasarnya dapat menciptakan perasaan yang dingin dan tenang. Warna Biru

juga dapat menampilkan kekuatan teknologi, kebersihan, udara, air dan

kedalaman laut. Selain itu, jika digabungkan dengan warna merah dan

kuning dapat memberikan kesan kepercayaan dan kesehatan. Biru

5.

Hijau menunjukkan warna bumi, penyembuhan fisik, kelimpahan,

keajaiban,tanaman dan pohon, kesuburan, pertumbuhan, muda, kesuksesan

materi, pembaharuan, daya tahan, keseimbangan, ketergantungan dan

persahabatan. Dapat digunakan untuk relaksasi, menetralisir mata,

memenangkan pikiran, merangsang kreatifitas. Hijau

6.

Kuning merujuk pada matahari, ingatan, imajinasi logis, energi sosial,

kerjasama, kebahagiaan, kegembiraan, kehangatan, loyalitas, tekanan

mental, persepsi, pemahaman, kebijaksanaan, penghianatan, kecemburuan,

penipuan, kelemahan, penakut, aksi, idealisme, optimisme, imajinasi,

harapan, musim panas, filosofi, ketidakpastian,resah dan curiga. Warna

kuning merangsang aktivitas mental dan menarik perhatian, Sangat efektif

digunakan pada blogsite yang menekankan pada perasaan bahagia dan kekanakan.

(40)

7. Merah Muda

Merah Muda menunjukkan simbol kasih sayang dan cinta,

persahabatan, feminin, kepercayaan, niat baik, pengobatan emosi, damai,

perasaan yang halus, perasaan yang manis dan indah.

8. Ungu

Ungu menunjukkan pengaruh, pandangan ketiga, kekuatan spiritual,

pengetahuan yang tersembunyi, aspirasi yang tinggi, kebangsawanan,

upacara, misteri, pencerahan, telepati, empati, arogan, intuisi, kepercayaan

yang dalam, ambisi, magic atau keajaiban, harga diri. 9. Oranye

Oranye menunjukkan kehangatan, antusiasme, persahabatan,

pencapaian bisnis, karier, kesuksesan, kesehatan pikiran, keadilan, daya

tahan, kegembiraan, gerak cepat, sesuatu yang tumbuh, ketertarikan,

independensi. Pada Blog dapat meningkatkan aktifitas mental. Disamping

itu warna Orange memberi kesan yang kuat pada elemen yang dianggap

penting.

10.Coklat

Coklat menunjukkan Persahabatan, kejadian yang khusus, bumi,

pemikiran yang materialis, reliabilitas, kedamaian, produktivitas, praktis,

kerja keras. Warna coklat sangat tidak menarik apabila digunakan tanpa

tambahan gambar dan ornamen tertentu, coklat harus didukung ornament

lain agar menarik.

11.Abu-Abu

Abu-abu mencerminkan keamanan, kepandaian, tenang dan serius,

kesederhanaan, kedewasaaan, konservatif, praktis, kesedihan, bosan,

profesional, kualitas, diam, tenang.

12.Emas

Emas mencerminkan prestis (kedudukan), kesehatan, keamanan,

kegembiraan, kebijakan, arti, tujuan, pencarian kedalam hati, kekuatan

(41)

II.6 Teknik Pengambilan Gambar

Dalam analisis visual gambar menjadi suatu elemen terpenting yang

menjadikannya bermakna, Ada dua aspek yang difokuskan dalam menganalisis

iklan yakni aspek visual yang berupa ekspresi para tokoh, cara pengambilan gambar dan setting. Kedua aspek audio yang berupa narasi, gaya bahasa dan pilihan kata yang ada pada iklan.

Konsep pengambilan gambar, teknik editing dan pergerakan kamera yang

dijelaskan oleh Asa Berger. Cara pengambilan gambar dalam penelitian ini dapat

berfungsi sebagai penanda. Konsep cara pengambilan gambar, teknik editing dan pergerakan kamera. Gambar menjadi elemen terpenting untuk membentuk suatu

tayangan berdurasi. Teknik pengambilan suatu gambar akan menentukan kualitas

gambar yang dihasilkan apakah memenuhi kriteria menjadi gambar yang layak.

Teknik pengambilan suatu gambar memiliki kode-kode yang memiliki makna

tersendiri. Kode-kode tersebut menginformasikan hampir seluruh aspek tentang

keberadaan kita dan menyediakan konsep yang bermanfaat bagi analisis seni

populer dan media (Berger, 2000: 33).

Beberapa elemen gambar dapat ditemui dalam kode, terutama yang

(42)

PENANDA (SIGNIFIER) MENANDAKAN (SIGNIFIED) PENGAMBILAN GAMBAR

Extreme Long Shot Kesan luas dan keluarbiasaan

Full Shot Hubungan sosial

Big Close Up Emosi, dramatik, moment penting

Close Up Intim atau dekat

Medium Shot Hubungan personal dengan subjek

Long Shot Konteks Perbedaan dengan publik

SUDUT PANDANG (Angle) Pengambilan Gambar:

High Dominasi, Kekuasaan dan otoritas

Eye-Level Kesejajaran, keamanan dan sederajat

Low Didominasi, dikuasai dan kurang

otoritas

TIPE LENSA

Wide Angle Dramatis

Normal Normalitas dan keseharian

Telephoto Tidak personal, Voyeuristik

FOKUS

Selective Focus Meminta perhatian (tertuju pada satu

objek)

Soft Focus Romantis serta nostalgia

Deep Focus Semua unsur adalah penting (melihat

secara keseluruhan objek)

PENCAHAYAAN

High Key Riang dan Cerah

Low Key Suram dan Muram

High Contrast Dramatikal dan teartikal

Low Contrast Realistik serta terkesan seperti

dokumenter PEWARNAAN

Warm (kuning,orange, merah dan abu-abu)

Optimisme, harapan, hasrat dan agitasi

Cool (biru dan hijau) Pesimisme, tidak ada harapan

Black and White (hitam dan Putih) Realisme, aktualisme dan faktual Tabel II.6. Teknik Dalam Pengambilan Gambar

(43)

Penanda Definisi Petanda

Pan down Kamera mengarah ke

bawah

Menunjukkan kekuasaan, kewenangan

Pan up Kamera mengarah ke

atas

Menunjukkan kelemahan, pengecilan

Dolly in Kamera mengarah ke

dalam

Memperlihatkan sebuah observasi, fokus

Fade in/out Image muncul dari gelap

ke terang dan sebaliknya

Permulaan dan akhir cerita

Cut Perpindahan dari gambar

satu ke gambar yang lain

Simultan, kegairahan

Wipe Gambar terhapus dari

layar

“penutupan”kesimpulan

Tabel II.6.1 Teknik Editing dan Gerakan Kamera

Sumber : (Berger 2000: 33)

Menurut Berger, TV merupakan medium “close up” untuk menunjukkan sebuah karakter (Berger, 2000:33). Dalam penerapan semiotik pada televisi

pengetahuan tentang aspek-aspek medium yang berfungsi sebagai tanda. Setiap

angel gambar yang diambil mempunyai makna dan interpretasi tersendiri. Dari cara pengambilan gambar di atas dapat disimpulkan bahwa setiap cara

pengambilan gambar dapat menggambarkan hubungan personal antar tokoh,

ekspresi, emosi, waktu, kejadian dan tempat secara lebih jelas. Dari gambar

tersebut kita juga dapat melihat makna-makna dan ideologi tertentu yang ada

dibalik potongan sebuah adegan.

II.7 Mitologi

Mitos adalah suatu wahana dimana suatu ideologi berwujud. Mitos dapat

berangakai menjadi suatu mitologi yang memainkan peranan penting dalam

kesatuan budaya-budaya. Sedangkan Van Zoest (1991) menegaskan, siapapun

bisa menemukan ideologi dalam teks dengan jalan meneliti konotasi-konotasi

yang terdapat didalamnya.

Dalam pandangan Umar Yunus (1990), mitos tidak dibentuk melalui

penyelidikan, tetapi melalui anggapan berdasarkan observasi kasar yang

(44)

mungkin hidup dalam ‘gosip’ kemudian ia mungkin dibuktikan dengan tindakan

nyata. Sikap kita terhadap sesuatu ditentukan oleh mitos yang ada dalam diri kita.

Mitos menyebabkan kita mempunyai prasangka tertentu terhadap sesuatu yang

dinyatakan dalam mitos.

Sebuah teks, Aart van Zoest tidak pernah lepas dari ideologi dan memiliki

kemampuan untuk memanipulasi pembaca kearah suatu ideologi. Sedangkan

Eriyanto (2001:146) menempatkan ideologi sebagai konsep sentral dalam analisis

wacana yang bersifat kritis. Hal ini menurutnya, karena teks, percakapan dan

lainnya adalah bentuk dari praktik ideologi atau pencerminan dari ideologi

tertentu. Secara etimologis ideologi berasal dari bahasa Greek, terdiri atas kata

idea dan logos, Idea berasal dari kata idein yang berarti melihat, sedangkan kata logia berasal dari kata logos yang berarti kata-kata. Dan arti kata logia berarti

science (pengetahuan) atau teori.

Konsep ideologi juga bisa dikaitkan dengan semiotik. Menurut Teun A

van Dijk, ideologi terutama dimaksudkan untuk mengatur masalah tindakan dan

praktik individu atau anggota suatu kelompok. Ideologi membuat anggota suatu

kelompok akan bertindak dalam situasi yang sama, dapat menghubungkan

masalah mereka dan memberinya kontribusi dalam membentuk solidaritas dari

kohesi di dalam kelompok (Eriyanto 2001:102).

Dalam perspektif ini, ideologi mempunyai beberapa implikasi penting.

Pertama, ideologi secara inharen bersifat sosial, tidak personal atau individual: ia

membutuhkan ’share’ diantara anggota kelompok organisasi atau kreativitas dengan orang lainnya. Hal-hal yang dibagi (sharing) tersebut bagi anggota kelompok digunakan untuk membentuk solidaritas dan kesatuan langkah dalam

bertindak dan bersikap. Misalnya, kelompok tertentu yang mempunyai ideologi

feminis, antirasis dan pro lingkungan akan membawa nilai-nilai itu dalam semua

tindakan mereka.

Kedua, ideologi meskipun bersifat sosial, ia digunakan secara internal di

antara anggota kelompok atau komunitas. Oleh karena itu ideologi tidak hanya

Gambar

Gambar II.1 Elemen-Elemen Makna Saussure
Gambar II.2. Peta Tanda Roland Barthes
Gambar II.2.1 Signifikasi Dua Tahap Barthes
Tabel II.6. Teknik Dalam Pengambilan Gambar
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan penelitian pada iklan rokok A Mild versi Taat Cuma Kalo Ada Yang Liat 

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah iklan rokok star mild versi obsesi sutradara dan versi obsesi selebritis, Unit analisis penelitian ini adalah satuan tertentu

Berdasarkan hasil wawancara dari responden, responden yang menyatakan tidak tertarik dengan iklan sampoerna a mild versi go ahead yang ditayangkan di televisi adalah karena

Hedonisme Dalam Iklan (Studi Semiotika Konstruksi Tanda Hedonisme dalam Iklan Clas Mild Versi Is Today). Iklan Clas Mild versi Is Today bercerita tentang pergaulan beberapa

Penelitian yang berjudul “AnalisisVisual kreatif iklan Televisi (TVC) Sampoerna A Mild Serial Kampanye Go Ahead” ini berusaha untuk mengetahui esensi pesan yang tersirat dari

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa iklan rokok A Mild versi “Gelar” ini mengandung pesan kritik sosial dalam bentuk sindiran, bahwa di tengah kondisi

Pada iklan Sampoerna A Mild edisi Go Ahead versi “danau” penulis menemukan keseimbangan cerita dalam peranannya dari 6 skema aktan, karena dari 6 skema aktan tersebut

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa iklan rokok A Mild versi “Gelar” ini mengandung pesan kritik sosial dalam bentuk sindiran, bahwa di tengah kondisi