Analisis Karakteristik Torsi-Putaran Pada Motor Sinkron Tiga Phasa

54  15 

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR

ANALISIS KARAKTERISTIK TORSI-PUTARAN PADA

MOTOR SINKRON TIGA PHASA

(Aplikasi Pada Laboratorium Konversi Energi Listrik FT-USU)

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan

pendidikan sarjana (S-1) pada Departemen Teknik Elektro

Oleh :

ERY BRENDY GINTING

(030402039)

DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

ABSTRAK

Motor sinkron (motor arus bolak-balik) adalah suatu mesin yang berfungsi

mengubah energi listrik arus bolak-baik (AC) menjadi energi gerak atau mekanik

berupa putaran rotor. Motor arus bolak-balik terdiri dari dua bagian yaitu bagian

yang diam (stator) dan bagian yang bergerak (rotor).

Jika dibandingkan antara motor induksi dan motor sinkron, terdapat

perbedaan yang sangat prinsipil pada karakteristik berbeban pada kedua jenis

motor ini. Pada motor induksi, penambahan beban akan menyebabkan kecepatan

putar motor akan berkurang. Berkurangnya kecepatan mengurangi GGL lawan

sehingga tambahan arus akan ditarik dari sumber untuk menggerakkan beban

yang bertambah agar kecepatan putar kembali seperti semula.

Pada motor sinkron, hal ini tidak terjadi karena ketika masih bekerja maka

rotor motor sinkron akan selalu terikat atau terkopel secara magnetis dengan

medan putar dan dipaksa untuk turut berputar dengan kecepatan sinkronnya.

Dengan demikian, penambahan beban tidak berpengaruh terhadap putaran motor.

Namun jika penambahan beban melebihi batas kekuatan kopel rotor dan medan

putar stator maka rotor motor akan berhenti bekerja.

Dalam tugas akhir ini akan dibuktikan perubahan beban pada motor

sinkron tiga phasa tidak akan mempengaruhi putaran rotornya selama rotor masih

(3)

KATA PENGANTAR

Segala Puji Syukur Kepada Bapa di Surga atas Cinta Kasih, Anugrah dan

Berkat yang tak terbatas bagi penulis sehingga bisa menyelesaikan Tugas Akhir

ini. Adapun tujuan penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk memenuhi syarat

kurikulum Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera

Utara dalam menyelesaikan program studi Strata Satu (S-1).

Selama masa kuliah sampai penyusunan TugasAkhir ini, penulis banyak

memperoleh bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala

ketulusan dan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Kedua Orang Tua Penulis, Radium Ginting dan Wardani Kacaribu, Kakak

Penulis (Erim Nisa Br. Ginting, ST), Adik Penulis (Wiro Lija Ginting dan

Ruth Erlikasna Br. Ginting) atas segala kesabaran, dukungan dan

doa-doanya.

2. Elisa Marcelina Sinulingga (Tambaten Pusuhku) atas Doa dan

Dukungannya.

3. Bapak Ir. Djendanari Sembiring selaku Dosen Pembimbing Penulis yang

telah banyak membantu penulis Tugas Akhir ini.

4. Bapak Ir. Natsir Amin, MM selaku Dosen Wali Penulis yang telah banyak

membimbing dan membantu selama masa kuliah sampai penyusunan

(4)

5. Bapak Prof. DR. Ir. Usman Baafai, selaku Ketua Departemen Teknik

Elektro Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

6. Bapak Drs. Hasdari Helmi, MT, selaku Sekretaris Departemen Teknik

Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

7. Bapak Ir. Mutafrind Lubis, selaku Kepala Laboratorium Konversi Energi

Listrik FT USU.

8. Seluruh keluarga (Pak Tengah, Pak Uda, Bik Tua, Bik Tengah, Bik Uda)

yang ada di Medan dan di Jakarta, terkhusus buat Pak Tengah dan Nande

Tengah di Simpang Simalingkar, Medan atas segala dukungan dan

bantuan terhadap penulis mulai sejak kuliah sampai penyususnan Tugas

Akhir ini

9. Marlen Siagian (TE’03) dan Henry Siregar (TE’03) atas segala inspirasi

dan dukungan yang kalian berikan mulai dari penyusunan Tugas Akhir ini

sampai selesai.

10.Ronal (TE’04/Asisten Laboratorium Konversi) atas segala bantuannya.

11.Teman-teman di ”Apartemen Kudus Gang Bersma Indah” (Nando TE’04,

Ranto TE’04, Leo TE’04, Nando Harianja) atas segala dukungan dan

semangat yang diberikan kepada Penulis.

12.Seluruh rekan-rekan Teknik Elektro’03 yang tak dapat disbutkan satu per

satu.

13.Seluruh rekaan-rekan pengurus IMTE Periode 2007

14.Teman-teman di KMK St. Yoseph, Eng Fakultas Teknik USU atas segala

(5)

15.Teman-teman di KMK St. Albertus Magnus USU dan teman-teman

TIMKOOR ke XIV (K’Mewi, Tika, Lala).

16.Teman-teman di IMKA Pande Kaliaga Fakultas Teknik USU

17.Kelurga Ir. E. Ginting yang telah mempercayakan Penulis mengajar

Putra-Putrinya (Billy, Uun, Rio) selama 3 tahun serta dukungan moril dan

materil.

Penulis sangat menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih banyak

kekurangannya. Untuk itu, dengan penuh kerendahan hati, Penulis mengharapkan

saran dan kritik dari Pembaca untuk melengkapi Tugas Akhir ini.

Akhirnya saya berharap agar Tugas Akhir ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, 1 Desember 2007

(6)

DAFTAR ISI

Abstrak...i

Kata Pengantar...ii

Daftar Isi...v

Daftar Gambar...viii

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang...1

I.2. Tujuan Penulisan...2

I.3. Manfaat Penulisan...2

I.4. Batasan Masalah...2

I.5. Metodologi Penelitian...3

I.6. Sistematika Penulisan...3

BAB II MOTOR SINKRON TIGA PHASA II.1. Umum...6

II.2. Konstruksi Motor Sinkron Tiga Phasa...6

II.3. Rangkaian Ekivalen...9

II.4. Prinsip Kerja...12

II.5. Metode Menjalankan Motor Sinkron...17

II.5.1. Starting Motor Sinkron Dengan Penggerak Mula...18

II.5.2. Starting Motor Sinkron Dengan Mereduksi Frekwensi...18

(7)

II.6. Pengaruh Kenaikan Beban Dengan Eksitasi Konstan...20

II.7. Pengaruh Perubahan Eksitasi Pada Faktor Daya...22

BAB III KARAKTERISTIK TORSI-PUTARAN PADA MOTOR SINKRON TIGA PHASA III.1. Umum...25

III.2. Pengaruh Perubahan Beban Pada Motor Sinkron ...25

III.3. Kurva Karakteristik Torsi-Putaran Pada Motor Sinkron...28

BAB IV ANALISIS KARAKTERSITIK TORSI-PUTARAN PADA MOTOR SINKRON TIGA PHASA IV.1. Umum...31

IV.2. Peralatan Yang Digunakan...31

IV.3. Percobaan Motor Sinkron Tiga Phasa...33

IV.3.1. Percobaan Beban Nol...33

IV.3.1.1. Rangakaian Percobaan...33

IV.3.1.2. Prosedur Percobaan...34

IV.3.1.3. Data Hasi Percobaan...34

IV.3.1.4. Analisa Hasil Percobaan...34

IV.3.2. Percobaan Berbeban...35

IV.3.2.1. Rangkaian Percobaan...35

IV.3.2.2. Prosedur Percobaan………....35

IV.3.2.3. Data Hasil Percobaan……….36

(8)

BAB V PENUTUP

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Stator...8

Gambar 2.2. Rotor...9

Gambar 2.3. Rangkaian ekivalen motor sinkron tiga phasa...10

Gambar 2.4. Rangkaian ekivalen motor sinkron per phasanya...11

Gambar 2.5. Diagram fasor yang disederhanakan dengan Ra diabaikan...11

Gambar 2.6.a Kumparan a-a, b-b……….13

Gambar 2.6.b Distribusi ia, ib, ic sebagai fungsi waktu……….13

Gambar 2.6.c Arah fluks secara vektoris saat t1...13

Gambar 2.6.d Arah fluks secara vektoris saat t2...13

Gambar 2.6.e Arah fluks secara vektoris saat t3...14

Gambar 2.6.f Arah fluks secara vektoris saat t4...14

Gambar 2.7. Diagram fasor motor sinkron...15

Gambar 2.8. Diagram medan magnet motor sinkron...16

Gambar 2.9. Diagram fasor operasi motor dengan faktor daya leading...21

Gambar 2.10. Pengaruh bertambahnya beban pada operasi motor sinkron...21

Gambar 2.11. Kurva V motor sinkron...23

Gambar 2.12.a Diagram fasor motor sinkron dengan faktor daya lagging...24

Gambar 2.12.b Diagram fasor motor sinkron dengan faktor daya satu...24

Gambar 2.12.c Diagram fasor motor sinkron dengan faktor daya leading...24

Gambar 3.1. Diagram fasor motor sinkron tanpa beban...26

(10)

Gambar 3.3. Diagram fasor motor sinkron saat dibebani...26

Gambar 3.4. Karakteristik Torsi-Putaran Motor Sinkron...28

Gambar 4.1. Rangkaian Pengujian Beban Nol...33

Gambar 4.2 Rangkaian pengujian Berbeban...35

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG

Motor arus bolak-balik (motor AC) adalah suatu mesin yang berfungsi untuk

mengubah energi listrik arus bolak-balik menjadi energi gerak atau energi

mekanik berupa putaran rotor. Salah satu jenis motor arus bolak-balik adalah

motor sinkron/serempak tiga phasa. Dikatakan motor sinkron tiga phasa karena

motor ini beroperasi pada sumber tegangan tiga phasa. Dan dikatakan motor

sinkron karena putaran medan stator (medan putar) dan putaran rotor

serempak/sinkron.

Motor sinkron pada pengoperasiannya tidak dapat melakukan start awal (self

starting), oleh karena itu motor sinkron tiga phasa membutuhkan penggerak mula

(prime mover) untuk memutar medan pada stator sampai pada kecepatan putar

medan putar stator.

Pada motor sinkron, perubahan beban tidak mempengaruhi kecepatan putar

motor karena ketika motor masih bekerja maka rotor akan selalu terikat atau

terkopel secara magnetis dengan medan putar dan dipaksa untuk berputar dengan

kecepatan sinkronnya. Karena demikian, motor sinkron biasanya digunakan pada

sistem operasi yang membutuhkan kecepatan konstan dengan beban yang

berubah-ubah. Contohnya Rolling Mills, Mesin Penghancur (Crusher), Pulp

(12)

Maka analisis karakteristik Torsi-Putaran pada motor sinkron tiga phasa perlu

dilakukan untuk menunjukkan bahwa motor sinkron tiga phasa adalah pilihan

yang tepat untuk sistem operasi yang membutuhkan kecepatan yang konstan

dengan beban yang berubah-ubah.

1.2.TUJUAN PENULISAN

Tugas akhir ini bertujuan untuk menganalisa karakteristik berbeban dari

motor sinkron tiga phasa berupa karakteristik torsi-putaran.

1.3.MANFAAT PENULISAN

Manfaat penulisan tugas akhir ini adalah :

1. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi penulis tentang motor sinkron

tiga phasa dan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai refrensi dalam

memilih sebuah motor yang sesuai dengan karakteristik beban yang ada.

2. Memberikan informasi secara umum kepada pembaca tentang motor

sinkron tiga phasa.

3.

1.4.BATASAN MASALAH

Untuk menjaga agar pembahasan materi dalam tugas akhir ini lebih terarah

dan maksimal, maka penulis membuat suatu batasan masalah sebagai berikut :

1. Karakteristik motor sinkron tiga phasa yang akan dibahas adalah

karakteristik torsi-putaran

2. Analisa perhitungan berdasarkan peralatan yang tersedia pada

(13)

3. Beban yang digunakan pada percobaan pembebanan motor sinkron tiga

phasa ini adalah generator sinkron yang dibebani dengan beban yang

berubah-ubah

4. Tidak membahas mengenai pengaturan kecepatan motor sinkron

5. Tidak membahas rugi-rugi motor sinkron tiga phasa

1.5.METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini adalah :

1. Studi Literatur

Berupa studi kepustakaan dan kajian dari berbagai sumber pustaka yang

relevan mendukung dalam penulisan tugas akhir ini

2. Studi Laboratorium

Melakukan percobaan di laboratorium untuk mendapatkan data-data yang

diperlukan

3. Studi Bimbingan

Dalam hal ini penulis melakukan diskusi tentang topik tugas akhir ini

dengan dosen pembimbing yang telah ditunjuk oleh pihak Departemen

Teknik Elektro USU, dengan dosen-dosen bidang Konversi Energi Listrik,

asisten Laboratorium Konversi Energi Listrik dan teman-teman sesama

mahasiswa.

1.6.SISTEMATIKA PENULISAN

Untuk memudahkan pemahaman terhadap Tugas Akhir ini, maka penulis

(14)

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan latar belakang penulisan , tujuan penulisan,

pembatasan masalah, metodologi penelitian dan sistematika

penulisan.

BAB II MOTOR SINKRON TIGA PHASA

Bab ini menjelaskan teori umum mengenai motor sinkron,

konstruksi motor sinkron tiga phasa, rangkaian ekivalen, prinsip

kerja, metode menjalankan motor sinkron, pengaruh kenaikan

beban dengan eksitasi konstan dan pengaruh perubahan eksitasi

pada faktor daya.

BAB III KARAKTERISTIK TORSI-PUTARAN PADA MOTOR

SINKRON TIGA PHASA

Bab ini membahas tentang kurva karakteristik motor sinkron tiga

phasa dan pengaruh kenaikan beban pada motor sinkron tiga phasa.

BAB IV ANALISIS KARAKTERISTIK TORSI-PUTARAN PADA

MOTOR SINKRON TIGA PHASA

Bab ini berisikan tentang jenis komponen dan spesipikasi peralatan

percobaan, rangkaian percoban, prosedur percobaaan, data

(15)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab ini dituliskan tentang hal-hal yang dianggap penting

(16)

BAB II

MOTOR SINKRON TIGA PHASA

II.1. Umum

Motor sinkron tiga phasa adalah motor listrik arus bolak-balik (AC) yang

putaran rotornya serempak/sinkron dengan putaran medan statornya. Sesuai

dengan namanya, motor sinkron tiga phasa beroperasi pada tegangan suplay tiga

phasa yang dihubungkan pada kumparan jangkaran di stator. Selain mendapat

suplai tegangan tiga phasa untuk beroperasi, motor sinkron juga mendapat arus

eksitasi pada kumparan medannya.

Motor sinkron tiga phasa biasanya digunakan sebagai penggerak pada

sistem operasi yang membutuhkan kecepatan konstan dengan beban yang

berubah-ubah. Hal ini disebabkan karena motor sinkron tiga phasa mempunyai

kelebihan pada karakteristik berbeban yang berbeda dengan motor induksi yang

umum digunakan sebagai penggerak pada sistem operasi. Namun motor sinkron

tiga phasa ini juga mempunyai beberapa kekurangan, salah satunya adalah tidak

dapat melakukan start sendiri (self starting).

II.2 Konstruksi Motor Sinkron Tiga Phasa

Pada prinsipnya, konstruksi motor sinkron sama dengan generator sinkron.

Secara umum, konstruksi motor sinkron tiga phasa terdiri dari stator (bagian yang

diam) dan rotor (bagian yang bergerak). Keduanya merupakan rangkaian

(17)

Stator

Secara umum stator terdiri dari kerangka stator, inti stator, belitan dan slot.

1. Rangka Stator

Rangka stator berfungsi sebagai tempat melekatya stamping

jangkar dan kumparan jangkar. Pada rangka stator terdapat lubang

pendingin dimana udara dan gas pendingin disirkulasikan. Rangka stator

biasanya dibuat dari besi campuran baja atau plat baja giling yang

dibentuk sedemikian rupa sehingga diperoleh rangka yang sesuai dengan

kebutuhan.

2. Inti Stator

Inti stator melekat pada rangka stator dimana inti ini terbuat dari

laminasi-laminasi besi khusus atau campuran baja. Hal ini diperbuat untuk

memperkecil rugi arus Eddy. Tiap laminasi diberi isolasi dan diantaranya

dibentuk celah sebagai tepat aliran udara.

3. Slot

Slot adalah tempat konduktor berada yang letaknya pada bagian

dalam sepanjang keliling stator. Bentuk slot ada 3 yaitu Slot Terbuka, Slot

(18)

Gambar 2.1. Stator

Rotor

Sebagai tempat belitan penguat yang membentuk kemagnetan listrik kutub

Utara-Selatan pada inti rotor. Ada 2 macam bentuk rotor, yaitu :

1. Rotor kutub menonjol (Salient Pole Rotor)

Rotor tipe ini mempunyai kutub yang jumlahnya banyak.

Kumparan dibelitkan pada tangkai kutub, dimana kutub-kutub diberi

laminasi untuk mengurangi panas yang ditimbulkan oleh arus Eddy,

kumparan-kumparan medannya terdiri dari bilah tembaga persegi. Kutub

menonjol ditandai dengan rotor berdiameter besar dan panjang sumbunya

pendek.

2. Rotor kutub tak menonjol (Rotor Silinder)

Rotor tipe ini dibuat dari plat baja berbentuk silinder yang

mempunyai sejumlah slot sebagai tempat kumparan. Karena adanya

slot-slot dan juga kumparan medan yang terletak pada rotor maka jumlah kutub

(19)

Rotor ini biasanya berdiameter kecil dan sumbunya sangat panjang.

Konstruksi ini memberikan keseimbangan mekanis yang lebih baik karena

rugi-rugi anginnya lebih kecil dibandingkan rotor kutub menonjol (salient

pole rotor).

Gambar 2.2. Rotor

II.3. Rangkaian Ekivalen

Rangakian ekuivalen motor sinkron adalah sama halnya dengan generator

sinkron, kecuali untuk arah aliran dayanya dimana arah aliran daya pada motor

sinkron terbalik dengan arah daya pada generator sinkron. Karena arah aliran daya

ini terbalik, maka arah arus yang mengalir ke stator motor juga akan terbalik.

Dengan demikian, rangkaian ekivalen motor sinkron adalah sama dengan

rangkaian ekivalen generator sinkron, kecuali bahwa refrensi arah IA dibalik.

Rangkaian ekivalennya diperlihatkan pada gambar (2.3) dan rangkaian per

phasanya diperlihatkan pada gambar (2.4). rangkaian ekivalen tiga phasa biasa

(20)

Karena perubahan arah IA ini, maka persamaan tegangan menurut hukum

kirrchoof untuk rangkaian ekivalennya juga akan berubah. Jadi persamaan hukum

kirrchoof untuk tegangannya untuk rangkaian ekivalen yang baru adalah :

Vph = EA + j.XS.IA + RA. (Volt)...pers.(2.1)

Jadi persamaan ini sama dengan persamaan generator sinkron, kecuali tanda untuk

arusnya adalah terbalik.

f

(21)

A

Gambar 2.4. Rangkaian ekivalen motor sinkron per phasanya

Dari persamaan umum motor sinkron yang dituliskan di dalam persamaan

(2.1) dapat digambarkan diagram fasor motor sinkron seperti ditunjukkan pada

(gambar 2.5) sebagai berikut ;

A

Gambar 2.5. Diagram Fasor Motor Sinkron Dengan Faktor Daya Satu

Keterangan :

EA = Tegangan Jangkar (ggl lawan)

IA = Arus Jangkar

Vph = Tegangan Terminal

XS = Reaktansi Sinkron Motor

(22)

Dalam hal ini motor dianggap beroperasi dengan faktor daya satu (unity).

Namun dalam operasi motor sinkron, motor dapat beroperasi dengan factor daya

mendahului (leading) dan tertinggal (lagging) selain dengan faktor daya satu

(unity).

Diagram fasor motor sinkron dengan factor daya mendahului (leading) dan

tertinggal (lagging) ditunjukkan seperti pada gambar (2.6) dan gambar (2.7).

A

Gambar 2.6. Diagram Fasor Motor Sinkron Dengan Faktor Daya Leading

A

(23)

Namun pada kenyataanya, saat motor sinkron dibebani tanpa pengaturan

arus medan, motor sinkron akan beroperasi dengan factor daya tertinggal

(lagging) dan diagram fasornya seperti yang ditunjukkan pada gambar (2.7). Oleh

karena itu, untuk menganalisis motor sinkron digunakan diagram fasor motor

sinkron dengan faktor daya tertinggal (lagging).

Dari diagram fasor motor sinkron didapat daya mekanik (Pmek) motor sinkron

menurut persamaan berikut :

Pmek = EA . IA………...…pers.(2.2)

Untuk motor sinkron tiga phasa maka persamaan daya mekanik (Pmek) menjadi :

Pmek = 3 . EA . IA ……….……pers.(2.3)

Karena tahanan jangkar (RA) motor sinkron biasanya kecil, maka tahanan

jangkar ini biasanya diabaikan. Bila tahanan jangkar (RA) diabaikan (RA<<XS)

maka diagram fasornya menjadi seperti yang ditunjukkan pada gambar (2.8).

A

E

A S I

jX .

ph

V

δ

θ A

I

(24)

Dari diagaram fasor yang ditunjukkan gambar (2.8) diperoleh :

Jika persamaan (2.4) disubstitusikan kepersamaan (2.3), maka dperoleh :

S

II.4. Prinsip Kerja

Pada motor sinkron tiga phasa terdapat 2 sumber tegangan dari luar yaitu

arus bolak-balik (AC) yang dialirkan kebelitan jangkar dan arus searah yang

dialirkan kebelitan medannya. Perputaran rotor diakibatkan karena adanya kopel

magnetik antar medan magnet rotor dan medan putar stator.

Apabila tegangan tiga phasa dihubungkan kekumparan jangkar atau stator

akan menghasilkan arus tiga phasa yang mengalir pada kumparan stator tersebut.

Jika arus tiga phasa (yang berbentuk sinusoidal murni atau saling berbeda sudut

1200 listrik) mengalir pada kumparan stator motor sinkron tiga phasa, maka akan

menghasilkan intensitas medan magnet (HS) yang juga saling berbeda sudut 1200

listrik. Karena kumparan stator mempunyai permeabilitas ( ), maka akan

menghasilkan intensitas medan magnet BS sebesar : BS = .HS

Hal inilah yang disebut dengan medan putar yang timbul pada stator. Timbulnya

(25)

Gambar 2.9.a. Kumparan a-a, b-b, cc

Gambar 2.9.c. Arah fluk secara vektoris saat t1

Gambar 2.9.d. Arah fluk secara vektoris saat t2 Gambar 2.9.b. Distribusi ia, ib, ic

(26)

Saat tegangan tiga phasa dihubungkan ke kumparan a-a, b-b, c-c (gambar

2.9.a) dengan beda phasa masing-masing 1200. Maka akan timbul timbul 3 buah

arus sinusoidal (Ia, Ib, Ic )yang terdistribusi berdasarkan fungsi waktu seperti

terlihat pada gambar (2.9.b). Secara vektoris, pada keadaan t1, t2, t3, t4, arah fluks

resultan yang ditimbulkan oleh kumparan tersebut masing-masing ditunjukkan

seperti pada gambar (2.9.c, 2.9.d, 2.9.e, 2.9.f). Pada saat t1, arah fluks resultannya

sama dengan arah fluks yang dihasilkan kumparan a-a (gambar 2.9.c). Pada saat

t2, arah fluks resultannya sama dengan arah fluks yang dihasilkan kumparan b-b

(gambar 2.9.d). Pada saat t3, arah fluks resultannya sama dengan arah fluks yang

dihasilkan kumparan c-c (gambar 2.9.e). Pada saat t4, arah fluks resultannya

berlawanan arah dengan arah fluks yang dihasilkan kumparan a-a (gambar 2.9.f).

Perubahan arah fluks ini akan terjadi berulang setiap satu periode yang

menyebabkan perputaran medan magnet stator.

Kutub medan rotor yang diberi penguatan arus searah mengakibatkan

mengalir arus penguat If motor dan menghasilkan medan magnet BR. Karena Gambar 2.9.f. Arah fluk secara

vektoris saat t4

(27)

motor sinkron tidak dapat melakukan start sendiri (self starting) maka rotor

diputar dengan suatu penggerak mula sampai pada kecepatan putar rotor sama

dengan kecepatan putar medan stator. Sehingga medan magnet rotor BR akan

mendapat tarikan dari kutub medan putar stator dan akan selalu menempel dan

mengikuti putaran BS dengan kecepatan yang sama atau sinkron. Interaksi antar

kedua medan magnet tersebut akan menghasilkan kopel yang dinyatakan sebagai :

Tind = k.BR x B

Tind = k.BR.BS.Sin …………..………….. pers.(2.6)

Dan hubungannya dengan diagram medan magnetnya adalah sebagai berikut :

δ

net

B

S

B

R

B

(28)

Keterangan :

BS = Medan magnet stator

BR = Medan magnet rotor

Bnet = Resultan medan magnet stator dan rotor

Sehingga didapat : Bnet≈ Vph ; BR≈ EA ; BS≈ j.XS.IA

Karena Bnet = BS + BR

Atau BS = Bnet + BR ... pers.(2.7)

Maka dengan mensubstitusikan pesamaan (2.7) ke persamaan (2.6), maka akan

diperoleh :

Tind = k.BR(Bnet – BR) Sin

Tind = k.BR.Bnet.Sin – k.(BR.BS) Sin BR.BR = 0

Sehingga persamaan kopel induksinya dapat dituliskan :

Tind = k.BR.Bnet.Sin Newton-meter

Dimana : k = Konstanta

BR = Medan magnet rotor

Bnet = Resultan medan magnet rotor dan medan magnet stator

= Sudut kopel

Pada beban nol, sumbu kutub medan berimpit dengan sumbu kutub

kumparan medan ( = 0). Setiap penambahan beban membuat motor rotor

(29)

berputar dengan kecepatan sama lagi (sinkron). Beban maksimum tercapai ketika

sudut kopel ( ) = 900

. Penambahan beban lebih lanjut mengakibatkan hilangnya

kekuatan kopel dan motor disebut kehilangan sinkronisasi.

II.5. Metode Menjalankan Motor Sinkron

Sesuai dengan prinsip kerjanya, motor sinkron tidak dapat melakukan start

sendiri (self starting). Motor sinkron harus diputar terlebih dahulu sampai pada

putaran sinkronnya. Hal ini dilakukan oleh penggerak mula (prime mover).

Biasanya, motor induksi atau motor DC mengambil peranan sebagai penggerak

mula tersebut. Tetapi penggunaan penggerak mula dalam start motor sinkron

sangat tidak praktis. Maka untuk start motor sinkron dilakukan dengan cara lain.

Saat ini ada tiga pendekatan utama yang dapat dilakukan untuk men-start

motor sinkron dengan aman, yaitu :

1. Menggunakan penggerak mula (prime mover) untuk memutar motor

sinkron sampai pada kecepatan sinkronnya.

2. Mereduksi putaran dengan mengatur medan stator ke harga yang cukup

rendah sampai rotor berputar

(30)

II.5.1. Starting Motor Sinkron Dengan Penggerak Mula

Pada metode start motor sinkron dengan penggerak mula, motor sinkron

dikopel dengan penggerak mula (prime mover), selanjutnya penggerak mula akan

memutar rotor motor sinkron sampai mencapai putaran sinkronnya. Selanjutnya

motor sinkron tersebut diparalelkan dengan jala-jala dan bekerja sebagai

generator. Setelah hal ini dicapai, penggerak mula dilepas dari poros motor.

Ketika penggerak mula dilepas dari poros motor, poros motor akan berputar

perlahan (putarannya menurun) sehingga medan magnet BR akan tertinggal

dibelakang Bnet dan mesin akan start beraksi sebagai motor. Saat paralelnya sudah

komplit, maka motor sudah dapat dibebani.

II.5.2. Staring Motor Sinkron Dengan Mereduksi Frekwensi

Cepatnya perputaran medan putar stator juga turut menyebabkan motor

sinkron tidak dapat melakukan start sendiri (self starting). Perputaran medan

magnet stator setiap menitnya adalah :

ns = 120f/p

dengan f adalah frekwensi tegangan terminal motor dan p adalah jumlah kutub

motor. Cepatnya perputaran medan magnet stator ini membuat tidak mungkinnya

terjadi interaksi tarik-menarik dan tolak menolak antara kutub medan magnet

stator dengan kutub medan magnet rotor yang diam.

Pada metode start dengan mereduksi frekwensi ini, pada saat start, motor

disuplai dengan frekwensi yang rendah sehingga kecepatan putaran medan putar

(31)

tolak-menolak antara kutub medan magnet stator dan kutub medan magnet rotor.

Setelah terjadi interaksi antara kedua kutub medan magnet tersebut, maka

frekwensi sistem pun dinaikkan secara perlahan sampai pada frekwensi dan

kecepatan sinkron yang diinginkan. Saat ini, pengaturan besar frekwensi yang

disuplai dapat dilakukan dengan menggunakan rectifier-inverter dan

cycloconverter.

II.5.3. Starting Motor Dengan Kumparan Peredam

Pada metode start dengan kumparan peredam, rotor dilengkapi dengan

kumparan peredam atau kumparan sangkar bajing yang ditempatkan pada

permukaan rotor yang dihubung singkat pada kedua ujungnya.

Saat kumparan stator dihubungkan dengan tegangan tiga phasa maka akan

timbul medan putar pada stator. Kemudian medan putar ini akan menginduksikan

ggl kedalam kumparan peredam yang telah terhubung singkat, maka dalam

kumparan peredam akan mengalir arus. Arus ini akan menimbulkan kopel antara

rotor dan stator secara magnetis sehingga rotor pun berputar. Namun kecepatan

putar rotor tidak sama dengan kecepatan sinkronnya. Pada saat ini, motor sinkron

bertindak sebagai motor induksi.

Setelah putaran rotor hampir mencapai kecepatan sinkronnya, maka

kumparan medan penguat yang berada pada rotor dieksitasi dengan sumber DC.

(32)

metode start ini dibutuhkan alat pengaturan sinkronisasi untuk menghindarkan

efek yang dapat merusak motor tersebut.

II.6. Pengaruh Kenaikan Beban Dengan Eksitasi Konstan

Bila beban pada poros motor sinkron bertambah besar maka putaran rotor

akan berkurang (slow down) untuk sesaat. Penambahan beban yang akan

menyebabkan sudut kopel ( ) akan semakin besar pula dan torsi induksi motor

sinkron juga akan bertambah besar. Bertambah besarnya torsi induks i motor

sinkron akan diikuti menurunnya putaran rotor untuk sesaat dan putaran rotor

akan kembali kepada kecepatan sinkronnya setelah beberapa saat tetapi dengan

sudut kopel ( ) yang lebih besar.

Jika diandaikan motor sinkron beroperasi dengan faktor daya leading

sebelum penambahan beban pada porosnya, maka diagram fasornya dapat dilihat

seperti yang ditunjukkan oleh gambar (2.11). Perubahan tegangan jangkar (EA)

hanya dipengaruhi oleh perubahan arus medan (If) motor sinkron. Jika arus medan

(If) bertambah besar maka tegangan jangkar (EA) pun bertambah besar dan

sebaliknya. Pada kondisi ini, arus medan motor sinkron tidak mengalami

perubahan (konstan). Maka tegangan jangkar juga akan konstan (tetap). Selain

(33)

A

E

A A

R

I .

A S

I

jX .

ph

V

Gambar 2.11. Diagram Fasor Operasi Motor Dengan Faktor Daya Leading

Dengan eksitasi konstan yang menyebabkan tegangan jangkar (EA) juga

konstan, penambahan beban pada poros motor akan menyebabkan daya (EA.Sin

dan IA.Cos ) akan bertambah besar. Dengan adanya penambahan beban pada

poros motor dengan eksitasi yang konstan menyebabkan EA akan mengalami

swing down seperti yang ditunjukkan pada gambar (2.12). Akibat EA mengalami

swing down secara bertahap maka kuantitas j.XS.IA juga akan bertambah secara

bertahap. Oleh karena itu, arus jangkar juga akan semakin bertambah besar.

Perubahan ini akan menyebabakan faktor daya (Cos ) akan menjadi lagging.

(34)

II.7. Pengaruh Perubahan Eksitasi Pada Faktor Daya

Pada saat motor sinkron memikul beban mekanis yang konstan,

penambahan arus medan akan menyebabkan bertambah besarnya tegangan

jangkar EA motor (ggl lawan). Tapi kenaikan arus medan (If) dan tegangan

jangkar (EA) tidak mempengaruhi besar daya nyata yang disuplai oleh motor

sinkron dan kecepatan putaran motor. Karena daya yang disuplai motor sinkron

hanya akan berubah bila torsi beban yang dipikul motor berubah.

Bertambahnya nilai tegangan jangkar (EA) akan menyebabkan arus

jangkar (IA) akan semakin kecil sampai arus minimumnya dan selanjutnya akan

bertambah besar. Pada saat sebelum EA bertambah besar, arus jangkar (IA) adalah

lagging dan motor merupakan beban induktif. Saat arus medan yang diberikan

pada motor semakin besar yang menyebabkan tegangan jangkar juga semakin

besar, arus jangkar akan menjadi leading. Pada kondisi ini motor merupakan

beban kapasitif yang dapat menyuplai daya reaktif (Q) ke sistem. Hubungan arus

medan (If) dan arus jangkar (IA) pada kondisi ini diperlihatkan pada plot If vs IA

(35)

Gambar 2.13. Kurva V motor sinkron

Untuk masing-masing kurva pada gambar (2.13), arus jangkar minimum

terjadi saat faktor daya sama dengan 1, yakni ketika hanya daya nyata yang

disuplai ke motor. Pada kurva yang sama dititk yang lain, ada daya reaktif yang

disuplai oleh motor. Untuk arus medan yang lebih kecil dari harga minimum IA

yang diberikan, arus jangkar akan lagging dan mengkomsumsi daya reaktif (Q).

Untuk arus medan lebih besar dari arus minimum IA yang diberikan, arus jangkar

akan leading dan mensuplai daya reaktif ke sistem seperti halnya kapasitor.

Perubahan arus medan pada motor sinkron akan mempengaruhi faktor

daya motor sinkron. Perubahan ini membuat motor sinkron dapat berada pada 3

kondisi operasi berdasarkan faktor dayanya, yaitu :

1. Saat motor sinkron mengalami pengurangan arus medan maka motor akan

beroperasi dengan faktor daya lagging. Diagram fasor untuk kondisi ini

(36)

E

V

r

Gambar 2.14.a. Diagram fasor motor sinkron dengan faktor daya lagging

2. Saat motor sinkron mengalami pengaturan arus medan yang menyebabkan

arus jangkar bernilai minimum maka motor beroperasi dengan faktor daya

sama dengan 1. Diagram fasor untuk kondisi ini diperlihatkan pada

gambar (2.14.b).

Gambar 2.14.b. Diagram fasor motor sinkron dengan faktor daya satu

3. Saat motor sinkron mengalami penambahan arus medan maka motor akan

beroperasi dengan faktor daya leading. Diagram fasor untuk kondisi ini

diperlihatkan pada gambar (2.14.c)

E

V

r

(37)

BAB III

KARAKTERISTIK TORSI-PUTARAN PADA

MOTOR SINKRON TIGA PHASA

III.1. Umum

Karakteristik yang umum dari suatu motor sinkron adalah karakteristik

torsi. Karakteristik dari suatu motor layak diketahui, karena karakteristik dari

suatu motor akan mencerminkan performansi (unjuk kerja) dari motor listrik

tersebut selam kondisi operasinya. Dalam tugas akhir ini akan dibahas

karakteristik berbeban dari motor sinkron tiga phasa yaitu karakteristik

torsi-putaran. Untuk mengetahui karakteristik motor sinkron tiga phasa dilakukan

pengujian pembebanan terhadap motor sinkron tiga phasa di Laboratorium. Dan

data hasil hasil pengujian yang didapat akan dianalisis untuk mengetahui

karakteristik dan mendapatkan grafik karakteristik berbeban motor sinkron tiga

phasa.

III.2. Pengaruh Perubahan Beban Pada Motor Sinkron

Pada motor induksi dan DC, penambahan beban akan menyebabkan

kecepatan motor berkurang. Pada motor sinkron, hal ini tidak terjadi. Karena rotor

terikat secara magnetik dengan medan putar dan harus terus berputar pada

kecepatan sinkron untuk semua beban.

Pada keadaan tanpa beban, posisi relatif kutub stator dan kutub medan DC

(38)

beban ditambahkan pada motor sinkron maka akan terjadi pergeseran posisi relatif

antara kutub stator dengan kutub rotor dan membentuk sudut kopel ( ). Saat ini

nilai tidak lagi sebesar 00. Namun tidak terjadi perubahan kecepatan motor.

Yang ada hanyalah pergeseran posisi relatif kutub stator dan kutub medan DC dan

motor tetap berputar pada kecepatan sinkronnya.

(39)

Diagram fasor dalam gambar (3.1) menyatakan kondisi motor sinkron

tanpa beban, ggl lawan EA besarnya sama dengan dan berlawanan arah dengan

tegangan Vph. Dalam gambar (3.2), penambahan beban menyebabkan EA

tertinggal dibelakang posisi EA tanpa beban sebesar . Tegangan yang dikenakan

dan tegangan lawan tidak lagi tepat berlawanan arah. Resultannya adalah

tegangan Vr seperti yang ditunjukkan oleh gambar (3.2). Tegangan resultan Vr

menyebabkan arus I mengalir dalam lilitan stator. Arus I tertinggal Vr dengan

sudut hampir 900 disebabkan indukt ansi lilitan stator yang tinggi. Jadi masukan

daya pada motor adalah 3Vph.I.Cos , adalah sudut antara tegangan Vph dan arus

stator I.

Penambahan beban lebih lanjut menyebabkan sudut kopel semakin besar

dan selanjutnya memperbesar nilai Vr dan I seperti yang ditunnjukkan pada

gambar (3.3). Jadi motor sinkron dapat mencatu bertambahnya beban mekanis,

bukan dengan menurunkan kecepatan sinkronnya tetapi dengan pergeseran relatif

rotor dan medan magnet putar. Pada gambar (3.2) dan gambar (3.3), bahwa untuk

beban yang bertambah dengan nilai EA konstan, sudut fasa bertambah dan

arahnya tertinggal.

Namun jika beban motor sinkron yang ditambahkan terlalu besar dan

melebihi batas kekuatan kopel motor sinkron tersebut, rotor tidak sinkron lagi dan

(40)

III.3. Kurva Karakteristik Torsi-Putaran Pada Motor Sinkron

Motor sinkron biasanya dihubungkan dengan suatu sistem daya yang

besar. Hal ini dimaksudkan agar tegangan terminal dan frekwensi sistem akan

selalu konstan. Kecepatan putaran motor terkunci pada frekwensi elektrik yang

disuplai, maka kecepatan motor juga akan tetap konstan. Karakteristik Kurva

Torsi-Putaran diperlihatkan pada gambar (3.4). Kecepatan steadystate motor

adalah konstan dari beban nol sampai torsi maksimum motor.

ind

T

pullout

T

rated

T

sync

n

n

m

Gambar 3.4. Karakteristik Torsi-Putaran Motor Sinkron

Seiring dengan bertambahnya beban mekanis pada motor sinkron maka

torsi beban pun akan semakin bertambah pula. Untuk mempertahankan kondisi

putaran motor yang tetap, maka kenaikan torsi beban harus diimbangi oleh

(41)

Persamaan torsi pada motor sinkron adalah :

Dengan mensubstitusikan persamaan (2.3) ke persamaan (3.1), maka didapat :

S

Setiap penambahan beban, torsi beban motor akan bertambah karena

dipengaruhi oleh bertambahnya nilai Sin . Namun kecepatan sinkron motor tetap.

Jadi setiap terjadi penambahan beban sampai dibawah batas kekuatan kopel

tertinggi rotor dan medan putar stator, kecepatan akan tetap. Sehingga kurva

karakteristik Torsi-Putaran pada motor sinkron tiga phasa dapat dilihat seperti

pada gambar (3.4)

Torsi maksimum atau pull out torque terjadi saat = 900. Dan torsi

normalnya akan lebih kecil dari harga tersebut. Kenyataannya, torsi maksimum

dapat mencapai tiga kali dari pull out torque pada mesin. Ketika torsi pada poros

(42)

kesinkronannya terhadap medan magnet stator. Akibatnya rotor akan start dengan

slip dibelakangnya. Sebagai akibatnya, rotor akan berputar perlahan dan medan

magnet stator akan semakin naik dan ini terus berulang sampai dicapai arah dari

torsi induksi pada rotor berbalik. Rugi-rugi sinkronisasi setelah terjadinya torsi

lebih besar dari torsi maksimum dikenal sebagai slipping pole. Torsi maksimum

atau pull out torque dinyatakan oleh persamaan :

Nm

Persamaan ini mengindikasikan bahwa arus medan terbesar (dalam hal ini

EA, menghasilkan torsi maksimum motor). Oleh karena itu, keuntungan stabilitas

(43)

BAB IV

ANALISIS KARAKTERISTIK TORSI-PUTARAN

PADA MOTOR SINKRON TIGA PHASA

IV.1. Umum

Percobaan pengukuran karakteristik berbeban motor sinkron tiga phasa

dilakukan dengan menggunakan pengereman phony brake untuk mendapatkan

karakteristik beban yang diinginkan. Percobaan ini dilakukan untuk mendapatkan

nilai torsi motor dari sinkron tiga phasa. Kemudian data hasil pengukuran

dianalisis untuk mendapatkan grafik karakteristik berbeban dari motor sinkron

tiga phasa.

Untuk mendapatkan nilai rugi-rugi inti, rugi-rugi gesek dan angin

dilakukan pengujian beban nol terhadap motor sinkron tiga phasa. Dalam hal ini,

rugi-rugi gesek dan angin dianggap kecil sehingga rugi-rugi inti dan rugi-rugi

gesek dan angin dapat dianggap sebagai rugi-rugi yang diperoleh pada pengujian

beban nol dari motor sinkron tiga phasa.

IV.2. Peralatan Yang Digunakan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Motor sinkron tiga phasa

Tipe : 72SA

P = 5 KW

Cos = 0,8

(44)

Belitan = Y (wye)

Tegangan terminal = 400 Volt

Arus = 9 Amp

Kelas Isolasi

• Stator = E

• Rotor = E

Tegangan Eksitasi = 44 Volt DC

Arus eksitasi = 5,7 Amp

Frekwensi = 50 Hz

N = 1500 rpm

2. Motor Induksi Tiga Phasa (sebagai penggerak mula saat start)

Tipe : VZ 132M4

P = 7,5 KW

Cos = 0,82

Jumlah Kutub = 4

IP = 44

Kelas rotor = D (rotor sangkar)

Belitan = Y / ∆

Tegangan = 380 / 220 Volt

Arus = 16,5 / 28,5 Amp

3. Multimeter LCR

4. Amperemeter Tipe 4539-A

5. Portable Polyphase Wattmeter Tipe 2042

(45)

7. 2 Unit Power Suplai AC

8. 1 Unit Power Suplai DC

9. 1 Unit Phony Brake

IV.3. Pengujian Motor Sinkron Tiga Phasa

Untuk mendapatkan rugi-rugi pada motor sinkron dan mendapatkan

karakteristik berbeban dari motor sinkron tiga phasa dilakukan pengujian berikut :

IV.3.1. Pengujian Beban Nol

IV.3.1.1. Rangkaian Pengujian

P

(46)

IV.3.1.2. Prosedur Pengujian

1. Susun dan rangkailah peralatan sesuai dengan gambar 4.1 di atas

2. Switch S1 dan S2 dalam posisi terbuka dan sumber tegangan dalam

keadaan minimum

3. Putar rotor dengan penggerak mula sampai kecepatan sinkronnya

4. Nyalakan PTDC dengan menutup S1 untuk kumparan medan dan atur

PTDC

5. Atur V2 dengan mengatur autotrafo sehingga diperoleh V1 = V2

6. Tutup switch S2 dan matikan penggerak mula

7. Catatlah penunjukan A, A1, V2, n dan Wattmeter (P0)

8. Pengujian selesai.

IV.3.1.3. Hasil Pengujian

V1 (volt) VL (volt) Ia (amp) If (amp) Putaran (rpm) P0 (watt)

100 105 1,67 0,5 1400 15

IV.3.1.4. Analisa Hasil Pengujian

Rugi-rugi inti dan rugi-rugi gesek dan angin rotor motor sinkron dalam

pengujian motor sinkron tiga phasa ini dianggap rugi-rugi pada pengujian beban

nol dari motor sinkron tiga phasa. Pada pengujian beban nol motor sinkron tiga

(47)

IV.3.2. Pengujian Berbeban

Pada pengujian berbeban dari motor sinkron tiga phasa, alat pengereman

Phony Brake digunakan sebagai beban motor sinkron tiga phasa yang diuji dalam

pengujian ini.

IV.3.2.1. Rangkaian Pengujian

P

Gambar 4.2. Rangakaian Pengujian Berbeban

IV.3.2.2. Prosedur Pengujian

1. Susun dan rangkailah peralatan sesuai dengan gambar 4.2 di atas

2. Switch S1 dan S2 dalam posisi terbuka dan sumber tegangan dalam

keadaan minimum

3. Putar rotor dengan penggerak mula damapi pada kecepatan sinkronnya

4. Nyalakan PTDC denga menutup S1

(48)

6. Tutup switch S2 dan matikan penggerak mula

7. Bebani motor sinkron dengan pengereman Phony Brake

8. Tambah panjang lengan rem Phony Brake secara bertahap

9. Catat penunjukan A, A1, V2, n, T dan Wattmeter (P0).

10.Ulangi prosedur 8 dan 9 sebanyak 4 kali

11.Pngujian selesai.

IV.3.2.3. Data Hasil Pengujian

Dalam pengujian pembeban ini, percobaan pembebanan dilakukan

sebanyak 4 kali dan dilakukan pengambilan data untuk setiap pengujian.

Data Hasil Pengujian I

N0 Pertambahan Panjang

Lengan Rem (cm)

Ia

(Amp)

Tsh

(N.m)

Putaran (rpm)

1 0,5 1,88 0,129 1400

2 1,0 1,94 0,132 1400

3 1,5 2,20 0,134 1400

4 2,0 2,40 0,137 1400

5 2,5 2,52 0,140 1400

(49)

Data Hasil Pengujian II

N0 Pertambahan Panjang

Lengan Rem (cm)

Data Hasil Pengujian III

N0 Pertambahan Panjang

(50)

Data Hasil Pengujian IV

N0 Pertambahan Panjang

Lengan Rem (cm)

Dari keempat kali pengambilan data pengujian diperoleh data rata-rata hasil

pengujian sebagai berikut :

N0 Pertambahan Panjang

(51)

IV.3.2.4. Analisa Hasil Pengujian Dan Grafik

Dari data hasil pengujian pembebanan motor sinkron, nilai Torsi induksi

(Tind ) setiap terjadi penambahan beban pada motor sinkron tiga phasa dapat dicari

dengan rumus :

Hasil perhitungan Tind dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

No. Penambahan Panjang

(52)

Dari hasil pengujian diatas dapat dibuat kedalam kurva karakteristik berbeban

seperti pada gambar dibawah ini :

Karakteristik Torsi-Putaran

0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25

0 500 1000 1500

Putaran (rpm)

T

o

rs

i I

n

d

u

k

s

i (

N

.m

)

(53)

BAB V

PENUTUP

V.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa dan uraian pada bab-bab sebelumnya, maka dapat

diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Setiap penambahan beban pada motor sinkron tiga phasa akan

menyebabkan bertambahnya besar nilai Torsi Induksi pada motor sinkron

tiga phasa.

2. Dari grafik karakteristik Torsi-Putaran motor sinkron tiga phasa dapat

dilihat bahwa untuk setiap penambahan beban sampai pada batas kekuatan

kopel motor sinkron, motor akan tetap berputar pada kecepatan konstan.

3. Pada motor sinkron yang diujikan dalam pengujian ini, motor sinkron akan

(54)

DAFTAR PUSTAKA

1. Chapman S J, Electric Machinery Fundamental, Mc Graw-Hill Book

Company, 1985

2. Cogdell J. R, Foundation of Electrical Engineering, Pretience Hall, New

Jersey, 1990

3. Eugene C. Lister, Mesin dan Rangkaian Listrik, Edisi Keenam, Penerbit

Erlangga, Jakarta, 1993

4. Firgerald Charles Kingslay JR, Mesin-Mesin Listrik, Edisi Keenam,

Penerbit Erlangga, Jakarta, 1993

5. Guru, Bhag S & Huseyin R. Hiziroglu, Electric Machinery And

Transformers, Hartcourt Brace Jovanovich, 1988

6. Langsdorf, Alexander S, Theory of Alternatinf Current Machinery, TATA

Mc Graw-Hill Publishing Company, New Delhi, 1974

7. Richardson, V. Donal & Arthur Caisse, Rotating Electric Machinery And

Transformers Technology, Fourt Edition, Prentice Hall, New Jersey, 1997

8. Thearaja B. L, A Teks-Book of Electrical Technology, Nurja Construction

& Development, New Delhi, 1989

9. Wijaya, Mochtar, Dasar-Dasar Mesin Listrik, Penerbit Djambatan,

Jakarta, 2001

10.Zuhal, Dasar Teknik Tenaga Listrik Dan Elektronika Daya, Edisi Ke-5,

Figur

Gambar 4.3. Grafik karakteristik Torsi-Putaran.................................................40
Gambar 4 3 Grafik karakteristik Torsi Putaran 40 . View in document p.10
Gambar 2.1. Stator
Gambar 2 1 Stator . View in document p.18
Gambar 2.2. Rotor
Gambar 2 2 Rotor . View in document p.19
Gambar 2.3. Rangkaian ekivalen motor sinkron 3 phasa
Gambar 2 3 Rangkaian ekivalen motor sinkron 3 phasa . View in document p.20
Gambar 2.4. Rangkaian ekivalen motor sinkron per phasanya
Gambar 2 4 Rangkaian ekivalen motor sinkron per phasanya . View in document p.21
Gambar 2.5. Diagram Fasor Motor Sinkron Dengan Faktor Daya Satu
Gambar 2 5 Diagram Fasor Motor Sinkron Dengan Faktor Daya Satu . View in document p.21
Gambar 2.7. Diagaram Fasor Motor Sinkron Dengan Faktor Daya Lagging
Gambar 2 7 Diagaram Fasor Motor Sinkron Dengan Faktor Daya Lagging . View in document p.22
Gambar 2.6. Diagram Fasor Motor Sinkron Dengan Faktor Daya Leading
Gambar 2 6 Diagram Fasor Motor Sinkron Dengan Faktor Daya Leading . View in document p.22
Gambar 2.8. Diagram Fasor Yang Disederhanakan Dengan RA Diabaikan
Gambar 2 8 Diagram Fasor Yang Disederhanakan Dengan RA Diabaikan . View in document p.23
Gambar 2.9.a. Kumparan a-a, b-b, cc
Gambar 2 9 a Kumparan a a b b cc . View in document p.25
Gambar 2.9.e. Arah fluk secara vektoris saat t
Gambar 2 9 e Arah fluk secara vektoris saat t. View in document p.26
Gambar 2.10. Diagram medan magnet motor sinkron
Gambar 2 10 Diagram medan magnet motor sinkron . View in document p.27
Gambar 2.11. Diagram Fasor Operasi Motor Dengan Faktor Daya Leading
Gambar 2 11 Diagram Fasor Operasi Motor Dengan Faktor Daya Leading . View in document p.33
Gambar 2.12. Pengaruh bertambahnya beban pada operasi motor sinkron
Gambar 2 12 Pengaruh bertambahnya beban pada operasi motor sinkron . View in document p.33
Gambar 2.13. Kurva V motor sinkron
Gambar 2 13 Kurva V motor sinkron . View in document p.35
Gambar 2.14.a. Diagram fasor motor sinkron dengan faktor daya lagging
Gambar 2 14 a Diagram fasor motor sinkron dengan faktor daya lagging . View in document p.36
Gambar 2.14.c. Diagram fasor motor sinkron dengan faktor daya leading
Gambar 2 14 c Diagram fasor motor sinkron dengan faktor daya leading . View in document p.36
gambar (2.14.b).
gambar (2.14.b). . View in document p.36
Gambar  (3.1)
Gambar 3 1 . View in document p.38
gambar (3.3). Jadi motor sinkron dapat mencatu bertambahnya beban mekanis,
Jadi motor sinkron dapat mencatu bertambahnya beban mekanis . View in document p.39
Gambar 3.4. Karakteristik Torsi-Putaran Motor Sinkron
Gambar 3 4 Karakteristik Torsi Putaran Motor Sinkron . View in document p.40
Gambar 4.1. Rangkaian Percobaan Beban Nol
Gambar 4 1 Rangkaian Percobaan Beban Nol . View in document p.45
Gambar 4.2. Rangakaian Pengujian Berbeban
Gambar 4 2 Rangakaian Pengujian Berbeban. View in document p.47
Gambar 4.3. Grafik Karakteristik Torsi-Putaran
Gambar 4 3 Grafik Karakteristik Torsi Putaran . View in document p.52

Referensi

Memperbarui...