NAMA : SAFILA VAULINA MAGFIRANI
STAMBUK : G 401 14 016
A. KEUNGGULAN BAHASA LISAN
[1] Berlangsung cepat. Terlebih, jika pemilik lisan adalah orang yang terbiasa berbicara cepat. Jika dibandingkan dengan bahasa tulisan, lisan lebih cepat mengeluarkan kata dengan
mudahnya.
[2] Sering berlangsung tanpa alat bantu. Ini merupakan keunggulan yang menjadikannya berlangsung lebih cepat dibanding tulisan.
[3] Kesalahan dapat langsung diperbaiki. Dan pendengar tak perlu menunggu waktu lama untuk mendengar ralatan pemilik lisan. Bahkan, pendengar relatif memiliki kesempatan untuk menegurnya atau memperbaikinya. Hal ini tak terjadi pada tulisan, setidaknya dengan waktu yang singkat.
[4] Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka. Keduanya memperkaya arti, makna, maksud dan tujuan. Selain memperkaya, keduanya bisa memperkuat dan membuat pendengar lebih yakin akan kandungan isi yang dilisankan, entah yakin untuk mempercayai, atau mendustai.
B. KELEMAHAN BAHASA LISAN
[1] Tidak mempunyai bukti otentik. Meskipun asalnya hal ini relatif, namun kabar-kabar lewat lisan mayoritasnya takkan disematkan bukti-bukti otentik yang menguatkan kebenaran yang tersampaikan. Penguatan dan pemantapan biasanya mengandalkan kalimat-kalimat penguat (yang juga hasil dari lisan), nada suara yang meninggi, atau bahasa tubuh.
[2] Dasar hukumnya lemah. Terlebih jika yang berbicara adalah orang yang kurang dipercaya, atau bukan pakar tema pembicaraan, atau gagal menyampaikan disebabkan ketidakmantapan nada, salah pemilihan kata atau kalimat, bahasa tubuh yang tidak meyakinkan atau lainnya. Juga, bahasa lisan lebih instan dan seringkali tidak didasari pemikiran atau pemilihan yang lebih matang dibanding bahasa tulisan.
[3] Sulit disajikan secara matang dan bersih. Karena bertaburnya selipan-selipan yang mengotori, seperti 'eeeh', atau 'anu', atau 'apa', atau 'hmm' dan semacamnya.
membuktikan manipulasi atau -halusnya- perubahan tersebut dengan bukti otentik, kecuali jika direkam.
C. KEUNGGULAN BAHASA TULISAN
[1] Mempunyai bukti otentik. Karena penulis diberi kesempatan menuliskan sumber data atau kabar sehingga pembaca lebih legawa untuk percaya dan bisa merujuk langsung pada
sumbernya kemudian -jika hendak melakukannya untuk memastikan-.
[2] Dasar hukum yang kuat. Karena itulah, ulama Ahli Hadits lebih mengutamakan Hifdz atau Dhabth dalam kitab dibandingkan hafalan lisan. Hukumnya lebih kuat. Sebabnya adalah tulisan lebih terjaga dibanding lisan. Hafalan atau simpanan di otak bisa terkena cacat dan berubah, sedangkan simpanan di kertas, resiko tercacatkannya atau berubahnya lebih rendah.
[3] Dapat disajikan lebih matang atau bersih. Hal ini disebabkan penulisnya memiliki waktu dan kesempatan untuk memilah kalimat yang lebih baik atau terbaik. Juga, normalnya penghindaran selipan tak penting seperti 'eeeh' atau 'hmm' terlakukan dengan baik.
[4] Lebih sulit dimanipulasi. Ini jika sudah tersebar.
D. KELEMAHAN BAHASA TULISAN
[1] Berlangsung lambat. Penulis tentunya membutuhkan waktu untuk berfikir, menimbang untuk memilih kata yang tepat atau lebih baik, menulisnya atau kadang menghapus dan menulis ulang.
[2] Selalu memakai alat bantu. Tidak ada jemari yang sudah menjadi alat tulis dan mengeluarkan tinta. Mengetik pun adalah sebuah perbuatan menulis dengan alat bantu (yakni: keyboard dan semacamnya) untuk mewujudkan sebuah tulisan.
[3] Kesalahan tidak dapat langsung diperbaiki. Tidak langsung diperbaiki melainkan harus melakukan gerakan penghapusan, seperti menghapus dengan penghapus, atau menekan tombol tertentu. Berbeda dengan bicara, yang seketika langsung dapat diralat dan diperbaiki.
FUNGSI DAN KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA Berdasarkan UUD
1945 bab XV pasal 36
FUNGSI DAN KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA Berdasarkan UUD 1945 bab XV pasal 36
Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi atau bahasa Negara
Pada posisi ini bahasa Indonesia mempunyai dasar Yuridis Konstitusional, yakni dalam kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi atau bahasa Negara berfungsi sebagai :
1). Bahasa resmi Negara :
Dimana dalam kehidupan bangsa republic Indonesia harus digunakan bahasa resmi Negara yakni bahasa Indonesia. Bahasa ini digunakan secara resmi baik oleh pemerintahan Negara maupun oleh para penduduknya.
2). Bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan:
Dalam dunia pendidikan bangsa Indonesia harus digunakan bahasa Indonesia agar generasi selanjutnya dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam
kehidupannya.
3). Bahasa resmi dalam perhubungan tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan :
Pemerintahan Indonesia menggunakan bahasa yang baik sesuai dengan kaedah yang berlaku dan yang ditetapkan.
4). Bahasa resmi dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu dan teknologi: Setiap perkembangan yang terjadi di Indonesia akan menggunakan bahasa Indonesia, dimana bahasa Indonesia menjadi bahasa yang dapat dimengerti oleh setiap penduduknya.
Dalam kehidupan sehari-hari di pemerintahan bangsa Indonesia digunakan bahasa baku Indonesia.
Bahasa Indonesia yang baku ialah bahasa Indonesia yang digunakan orang orang terdidik dan yang dipakai sebagai tolak bandingan penggunaan bahasa yang dianggap benar. Ragam bahasa Indonesia yang baku ini biasanya ditandai oleh adanya sifat kemantapan dinamis dan ciri kecendekiaan. Yang dimaksud dengan kemantapan dinamis ini ialah bahwa bahasa tersebut selalu mengikuti kaidah atau aturan yang tetap dan mantap namun terbuka untuk menerima perubahan yang bersistem. Ciri kecendekiaan bahasa baku dapat dilihat dari kemampuannya dalam mengungkapkan proses pemikiran yang rumit di berbagai bidang kehidupan dan ilmu pengemhuan.
Bahasa Indonesia baku dipakai dalam :
1. komunikasi resmi, seperti dalam surat-menyurat resmi, peraturan pengumuman instansi resmi atau undang-undang;
2. Tulisan ilmiah, seperti laporan penelitian, makalah, skripsi, disertasi dan buku-buku ilmu pengetahuan.