Lampiran I Wawancara Dengan Pemilik Kue Bawang Bu Ani
Responden Terbagi Atas Pertanyaan Jawaban
Pemilik Kue dari mulut kemulut untuk pemasaran, sedangkan modal dalam bentuk uang sebesar 1,5 Juta. 2. Investasi awal Kue
pada awal 2013 Kue Bawang Bu Ani melakukan penambahan
karyawan agar memenuhi
permintaan pasar atas pesanan kue, dan menambah karyawan yang berada di home industryBu Ani baik
bagian border dan bagian penjualan. 4. Ketika tidak terlalu
6. Untuk sekarang dan investasi awal anda sebesar 5 juta berapa kira-kira peningkatan keuangan anda?
mendapat tempat pemasaran yang lebih dikenal oleh masyarakat atas kue Kue Bawang Bu industry yang Kue
Bawang Bu Ani alami (tempat usaha) kendaraan baik sepeda motor,
tabungan dan beberapa surat berharga lainnya dalam bentuk investasi tanah dan rumah.
seiring dengan pengembangan
usaha yang sekarang Kue Bawang Bu Ani jalani, bukan hanya cendera mata yang sekarang Kue Bawang Bu Ani melainkan ada beberapa jenis kue baru yang juga memiliki peluang seperti Pastel Kacang dan Keripik
Keju yang dapat menjadi berbagai rumah tangga dan sekarang investasi Bu Ani kirakan pada tahun 2014 ini meningkat berkisar 8% - 8,5%.
memiliki pada saat awal merintis usaha? memulai usaha Kue Bawang Bu Ani. 2. Tabungan Bu Ani
hanya berkisaran Rp. 3.000.000 sampai dengan Rp. 5.000.000 saja, dan hanya gunakan untuk membeli bahan baku dengan menggunakan
tabungan Ibu Ani. 3. Tabungan yang Ibu
Ani miliki berasal dari uang bulanan yang diberikan suami dan hasil kerja dari karyawan rumah makan keluarga Ibu Ani.
4. Penggajian
dari Bu Ani guna nantinya untuk tabugan mereka ketika sakit,
ditetapkan yang Kue Bawang Bu Ani lihat dari UMR di Indonesia dan tingkat kesulitan kerja karyawan, untuk biaya bahan baku tidak ada pencarian khusus tetapi ketika mereka sakit, kemalangan dan ada keluarga mereka yang pesta,
Ibu Ani memberikan sedikit
kemalangan, kebutuhan anda
apakah banyak seperti Ibu rumah
tangga pada umumnya seperti biaya anak sekolah, cicilan sepeda motor dan biaya kehidupan.
kebutuhan pribadi Kue Bawang Bu Ani maupun rumah tangga dan dapat menumbuh
kembangkan
pegawai dan usaha yang Kue Bawang Bu Ani miliki.
Lampiran 2 Wawancara Dengan Karyawan Kue Bawang Bu Ani
Responden
Terbagi
Atas
Pertanyaan Jawaban
Karyawan Kue investasi apapun baik bentuk tabungan maupun barang berharga, karena sebelum masuk pada Kue Bawang Bu Ani cuman sebagai Ibu rumah tangga.
2. Setelah bergabung dengan Kue Bawang Bu Ani memiliki sedikit uang untuk ditabung ke bank untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak.
Kue Bawang
uang yang simpan di bank dan sepeda motor, tv. barang yang Kue Bawang Bu Ani
sebagian uang dari Kue Bawang Bu Ani
dengan cara menyimpan uang sebagian atau sisi pengeluaran
ditabung? 2. Sebelum
masuk kerja di Kue Bawang dari lima tahun adakah
perubahan penambahan tabungan yang Mbak miliki?
dari Mbak simpan sendiri.
2. Tabungan Bu Ani belum berupa tabungan di Bank masih Bu Ani simpan sendiri.
3. Setelah masuk ke home industri Kue
Bawang Bu Ani memiliki tabungan agar uang tidak mudah terpakai untuk hal-hal yang tidak terlalu penting kebutuhannya.
4. Penambahan
Konsumsi pada saat masih gadis dan belum menikah seperti remaja pada umunya kebutuhan seperti alat rias dan lain-lain yang pemenuhan itu semua Mbak dapat dari membantu orang tua.
2. Setelah Mbak
Mbak pada saat
Ibu rumah tangga
dengan cara menunggu hasil yang
diberikan oleh suami Mbak. makan yang mulai teratur dengan menggunakan
bahan-bahan makanan yang bergizi dengan
sekolah anak yang sangat terbantu.
dengan bekerja pada Kue Bawang Bu Ani dan dapat memnuhi kebutuhan pribadi.
Lampiran 3 Wawancara Dengan Karyawan Kue Bawang Bu Ani, Mbak Indah
Responden
Terbagi
Atas
Pertanyaan Jawaban
Karyawan Kue Ani pernahkan Mbak memiliki investasi?
1. Investasi Mbak ilmu pengetahuan dari Kue Bawang Bu Ani yang sekarang berguna buat Mbak yaitu keahlian Kue Bawang Bu Ani dibidang mengadon dan menggoreng.
2. Setelah Mbak
bergabung pada usaha Kue Bawang Bu Ani banyak investasi yang bertambah salah satunya ilmu mengadon yang ada
Kue Bawang
renyah dan gurih, penghasilan yang Mbak dapat dari bekerja di Kue Bawang Bu Ani buat ke perluasan usaha Kue Bawang, baik mengadon,
menggoreng dan mencetak.
3. Dalam bentuk uang, keahlian dan barang-barang seperti alat
adonan dan gorengan.
4. Ya sekarang Mbak
sudah dapat membuka usaha sendiri di rumah
Mbak yang menambah investasi
tabungan nantinya.
Tabungan
1. Kapan Mbak mengenal
tabungan dan
bekerja, dengan cara menyimpan sendiri di rumah hasil kerja yang Mbak lakukan.
2. Tabungan yang
Mbak miliki dalam bentuk uang, tetapi bukan disimpan di bank melainkan
4. Dan sekarang setelah lebih dari lima tahun adakah dengan orang tua selain itu Bu Ani dapat dengan bekerja membantu usaha keluarga Mbak.
pemenuhan kebutuhan rumah tangga?
yang sekarang sudah banyak dikenal masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Burgin, Burhan. 2010. Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenama Media Group. Buku
Juliadi, Azuar. 2013. Metode Penelitian Deskriptif, untuk Ilmu-Ilmu Bisnis. Medan: M2000.
Jamiko, RD. 2004. Pengantar Bisnis. Jakarta: Erlangga.
Idrus, Muhammad. 2009. Manajemen Pemasaran Sosial. Jakarta: Erlangga. Kotler, Philip. 2009. Manajemen Pemasaran. Edisi 13 Jilid 1. Jakarta: Erlangga. Kriyantono, Rachmat. 2010. Teknik Praktik Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
McHugh, Nickels. 2009. Pengantar Bisnis. Edisi 8 buku 1. Jakarta: Selembang Empat.
Maslow, Nickels Dkk. 2009. Pengantar Bisnis. Jakarta: Selamba Empat.
Panji, Anugera. 2007. Pengantar Bisnis:Pendekatan Bisnis Dalam Era Globalisasi. Bandung: Rineka Cipta.
Putong, Iskandar, Dkk. 2009. Pengantar Ekonomi. Edisi 1 Mitra. Medan: Wancana Medan.
Rusdi. 2009. 1001 Ide Bisnis Efektif dan Menyenangkan. Jogjakarta: Garailmu. Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.
Suyanto, Bagong. 2005. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta: Prenada Persada.
Wahyudi, Dkk. 2002. Keberadaan UMKM Di Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Waluyo, Eko. DWI. 2007. Ekonomi Makro: Edisi Revisi Malang: UMM PRESS.
Web
http://www.makalah dan skripsi. Blogspot. Com/2008/07/teori-konsumsi-html diakses tanggal 05 Januari 2016, pukul 22:17
mempengaruhi-tingkat-konsumsi diakses tanggal 05 Januari 2016 pukul, 23:10
diakses tanggal 13 Desember 2015, pukul 16:22
Nasukha. 2007. Analisis Pelaksana Teori Motivasi Maslow Tahu “LDI” karang Ploso Malang.
Skripsi
Nindya Astari Putri Ningrum. 2012. Analisis Laba Pelanggan (Studi Kasus pada Home Industry ARYANI ART, Tuntang).
Patricia Yovi Anin Dita. 2007. Analisis Sistem Pemenuhuan Bahan Baku pada Home Industry Kripik Pisang (Studi pada Home Industry Warna Sari, Dahlia
dan Devi Kabupaten Lombok Barat).
Tri Lestari. 2006. Upaya Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Melalui Home Industry Kerajinan Batikdi Desa Gladak ANYER Kecamatan Pemakasan
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Bentuk Penelitian
Bentuk yang digunakan oleh penulis di dalam penelitian adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta atau kejadian secara akurat dan sistematis mengenai sifat-sifat informan dan lokasi tertentu (Zuriah,2006:47), sesuai dengan namanya maka studi deskriptif bertujuan untuk mengurangi tentang sifat-sifat (karakteristik) dari suatu keadaan, kebanyakan marketing researchbersifat deskriptif. (Supranto,2001:38) selain itu dapat diartikan juga
Tujuan Analisis deskriptif memberikan gambaran (deskriptif) tentang suatu data seperti rata-rata (mean), jumlah (sum), simpangan baku (standard devration), varians (variance), rentang (range), nilai minimum dan maximum, dan sebagainya. (juliandi,2013)
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada home industry Kue Bawang Bu Ani di Jalan Jendral Sudirman Bunut Kisaran.
3.3 Informan
untuk memperoleh informasi, data dan fakta yang agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian.
Informan adalah orang yang diperkirakan menguasai dan memahami data, informasi, ataupun fakta dari suatu objek penelitian. Menurur Bungin (2007:108) dalam wawancara mendalam peran informan tetap menjadi sentral, walaupun kadang informan berganti-ganti. untuk studi kasus, jumlah informan dan individu yang menjadi informan dipilih sesuai tujuan dan kebutuhan penelitian. Orang-orang yang dapat dijadikan informan adalah Orang-orang yang memiliki pengalaman sesuai dengan masalah penelitian, orang-orang dengan peran tertentu dan tentu saja yang mudah diakses (Bogdan,1992:5).
Menurut Suyanto (2005:172), informan penelitian terdiri dari beberapa macam, yaitu: 1). Informan kunci (key informant) yaitu informan yang memiliki informasi pokok yang diperlukan dalam melakukan penelitian. 2). Informan utama merupakan informan yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti. 3). Informan tambahan merupakan informan yang dapat memberikan informasi meskipun tidak terlibat langsung dalam interaksi sosial. Dalam penelitian kualitatif terdapat dua jenis informan yaitu: informan kunci (key informant) dan informan tambahan. Penggunaan keduanya adalah tergantung dari
kebutuhan penelitian untuk memperoleh data yang dibutuhkan pada penelitian. Pada penelitian ini, penelitian menggunakan 3 orang informan untuk mengumpulkan data, dengan rincian sebagai berikut:
1. Pemilik Usaha Kue Bawang Ibu Mariani
3.4 Definisi Konsep
Menurut Singarimbun (1995:33) konsep adalah istilah dan defenisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan kelompok, individu yang menjadi pusat perhatian. Konsep penelitian sangant diperlukan agar tidak dapat menimbulkan kekacauan atau kesalah pahaman yang dapat menghamburkan tujuan penelitian.
Untuk memperjelas penelitian ini, akan dijelaskan beberapa defenisi konsep sebagai berikut:
Home Industry adalah industri yang memproduksi barang atau produk,
selain itu industi ini tergolong industri rumah tangga/industri kecil yang termasuk dalam usaha ini missal nya kue bawang dan kripik kentang, industri ini juga termasuk industri hilir yaitu berorientasi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi. (Usaha Kue Bawang Bu Ani)
Usaha rumahan merupakan trend baru sekaligus solusi diantara sulitnya peluang lapangan kerja yang ada pada saat ini, lalu kenapa di sebut trend baru? karena sekarang kita bisa melihat menjamurnya usaha rumahan yang ada bisa menjadi sukses karena ketekunan dan kerja keras. diakses tanggal 06/01/16 pukul 15:17
Peningkatan diartikan sebagai ekskalasi, kejayaan, kemajuan, kepesatan,
penambahan, pertumbuhan.
Pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan pendapatan haruslah melalui dengan kecepatan setara dengan kecenderungan menabung dikalikan dengan
produktivitas modal dan pertumbuhan investasi haruslah melaju dengan kecepatan yang sama dengan kecenderungan menabung dan produktivitas. (Putong,2009:83)
Rumah tangga yaitu seluruh urusan keluarga untuk hidup bersama, dikerjakan bersama di bawah pimpinan seseorang yang ditetapkan, menurut tradisi. Konstruksi sosial yang menggunakan ideologi gender menetapkan bahwa pimpinan di dalam rumah tangga adalah ayah. Namun, pada beberapa daerah pedesaan di jawa, keputusan-keputusan yang menyangkut hidup anggotanya, ayah selalu mengajak bermusyawarah dengan ibu, serta anak-anak yang di anggap sudah mampu. (Pohan,2012:21)
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Teknik Pengumpulan Data Primer, adalah pengumpulan data yang dilakukan secara langsung pada lokasi penelitian. Data primer diambil dari data Usaha Kue Bawang Bu Ani. Pengumpulan data primer tersebut dapat dilakukan dengan instrumen sebagai berikut:
baik, dan peneliti memiliki bukti telah melakukan wawancara kepada informan atau sumber data, maka diperlukan alat-alat sebagai berikut: 1. Buku catatan: berfungsi sebagai media untuk mencatat semua
percakapan dengan sumber data.
2. Kamera: untuk memotret kalau peneliti sedang melakukan
pembicaraan dengan informan atau sumber data. Dengan adanya foto ini, maka dapat meningkatan keabsahan penelitian ini akan lebih terjamin, karena peneliti betul-betul melakukan pengumpulan data.
b. Observasi yaitu pengumpulan data dengan kegiatan pengamatan
sehingga dapat memberikan data tambahan terhadap hasil wawancara.
2. Teknik Pengumpulan Data Sekunder, adalah pengumpulan data yang dilakukan melalui pengumpulan bahan kepustakaan yang dapat mendukung data primer. Teknik pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan menggunakan data instrument sebagai berikut:
a. Studi dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumen yang ada dilokasi penelitian serta sumber-sumber lain yang mendukung pemecahan permasalahan penelitian.
b. Studi kepustakaan, yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari buku-buku karya ilmiah serta pendapat para ahli yang berkompetensi serta memiliki relevansi dengan masalah biaya produksi.
3.6 Teknik Analisis Data
Menurut kriyantono (2010:196), riset kualitatif adalah riset yang menggunakan cara berpikir induktif, yaitu cara berpikir yang berangkat dari hal-hal yang khusus (fakta empiris) menuju hal-hal-hal-hal yang umum (tataran konsep). Dalam penelitian kualitatif, interprestasi data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara mendalam dilakukan di sepanjang penelitian.
Dalam membahas tentang analisis data dalam penelitian kualitatif, para ahli memiliki pendapat yang berbeda. Penulis menggunakan model analisis interaktif Huberman dan Miles. Huberman dan Miles (Idrus 2009:146) mengajukan model analisis data yang disebutkan sebagai model interaktif ini terdiri dari tiga hal utama yakni:
a. Reduksi data (data reduction). Reduksi data adalah proses menginterperstasikan data atau informasi yang didapat dari catatan lapangan/observasi serta hasil wawancara mendalam terhadap subjek penelitian atau informan.
b. penyajian data (data display). Fase kedua dari analisis data ini adalah
menentukan bagaimana data yang sudah direduksi ituakan disajikan berdasarkan variabel komponen strategi komunikasi.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
4.1.1 Sejarah Umum Home Industry
Home Industry usaha Kue Bawang Bu Ani telah menjadi dunia IbuMariani
sejak tahun 2011 membuka usaha Kue Bawang yang bernama Bu Ani. Dari tangan kreatifnya dan lebih dari 6 orang tenaga terampil yang dilatihnya terlebih dahulu, kini beliau menghasilkan tak hanya Kue Bawang atau kue Pastel Kacang semata, tetapi juga aneka jenis kripik yang mengikuti selera masyarakat Kabupaten Asahan khususnya Kota Kisaran.
Hasil karya kue Ibu Ani telah menyebar ke beberapa rumah makan, kios, mini market dan warung yang berada di Kabupaten Batu Bara, Asahan, dan Labuhan Batu Utara, dengan harga terjangkau menempel di setiapkue-kue Bu Ani. Ini bukti bahwa kue home industry tidak kalah dengan kue-kue yang sudah ada terlebih dahulu yanh telah memiliki nama.
Kue usaha Kue Bawang Bu Ani memilik ciri khas yang menonjol yaitu gurih dan renyah. Setiap bahan adonan kue menghasilkan kue yang gurih dan renyah, karena gurih dan renyah dapat dengan mudah terjual dan memasarkan Kue Bawang Bu Ani. Jenis kue yang beragam menjadi salah satu ciri yang selalu dihadirkan, hingga menjadi terkesan gurih dan renyah.
Tabel 4.1
Macam-Macam Produk Yang Dijual
No. Kue Ukuran Harga
1. Kue Bawang ½ Kg – 1 Kg Rp. 20.000 – Rp. 40.000
2. Kue Pastel Kacang ½ Kg – 1 Kg Rp. 25.000 – Rp 50.000
3. Kripik Kentang ½ Kg – 1 Kg Rp. 20.000 – Rp 40.000
4. Kripik Pisang ½ Kg – 1 Kg Rp. 20.000 – Rp. 40.000
5. Kripik Keju ½ Kg – 1 Kg Rp. 30.000 – Rp. 60.000
6. Kripik Singkong ½ Kg – 1 Kg Rp. 20.000 – Rp 40.000
Sumber : Ibu Mariani (Pemilik usaha)
4.1.2 Deskripsi Lokasi
Letak lokasi menjadi pertimbangan yang penting bagi pembisnis menjalankan usahanya, tidak jarang lokasi menjadi salah satu metode penetapan didalam merencanakan usaha seperti, strategi 5P diantaranya terdiri atas planning, place, promotion, price, product dan lain-lain disini dapat dikatakan lokasi dapat
meningkatkan kemampuan suatu usaha untuk dapat mencapai target atau tujuan yang diinginkan letak dari lokasi di Jendral Sudirman Kelurahan Bunut Kisaran dimana dekat lokasi tersebut tidak jauh dari kantor Bupati Asahan dan pusat kota Kisaran.
daya tarik yang kuat untuk menjadi tempat usaha yang sangat modern dan ramah lingkungan.
Adapun Visi dan Misi dari Kue Bawang Bu Ani adalah menjadi home industry yang terus menjaga rasa, pengembangan aneka kue dan mau bersaing
secara sehat, serta bermanfaat bagi masyarakat home industry sekitar, dimana maksud dan tujuan dari visi Kue Bawang Bu Ani adalah bagaimana peranan serta untuk menjadi suatu usaha bisnis lain dalam menjalankan usaha untuk saling memberi keuntungan, antara pelaku home industry masyarakat sekitar dalam memperoleh pendapatan maupun menjadi penambahan pengetahuan bagi masyarakat sekitar home industri agar nantinya masyarakat sekitar dapat membangun usaha yang lebih baik dan mandiri.
Ibu Ani memiliki beberapa karyawan yang di sebut orang atau individu yang mampu melakukan pekerjaan membuat kue, dimana mereka berasal dari ibu rumah tangga yang ingin memiliki pekerjaan sampingan dengan mengharapkan keahlian dalam membuat kue serta menambah pemasukan bagi keluarga atau pendapatan dalam rumah tangganya sendiri,disini karyawan dari Ibu Ani sendiri berjumlah 5 orang yang sampai sekarang masih aktif di sekitaran Kabupaten Asahan beberapan berada pada lokasi, Sidomukti, Pulo Bandring dan Bunut Barat.
Adapun struktur dari Home Industry Kue Bawang Bu Ani sendiri antara lain sebagai berikut:
Gambar 4.1
Struktur Organisasi Home Industry Kue Bawang Bu Ani
Sumber: Hasil Wawancara (2016)
Adapun penjelasan struktur diatas dan Deskripsi tugas fungsi bidang masing-masing sebagai berikut:
Struktur Home Industry
Kue Bawang Bu Ani
Pemilik
Mariani
Sekretaris Ria Agustriani
Bagian Penjualan Sugiarto
Bagian Adonan &Goreng
Karyawan Karyawan Karyawan
Deskripsi Tugas
Kepala Perusahaan Sekaligus Pemilik Perusahaan
1. Pemegang otoritas terpenting di dalam memasarkan dan penetapan harga pada konsumen yang nantinya kue akan dipasarkan.
2. Kepala perusahaan ini juga merupakan otoritas tertinggi didalam resolusi
penting memutuskan dan menyarankan untuk kemudian menjadi kebijakan resmi home industry Kue Bawang Bu Ani.
3. Kepala sekaligus pemilik memiliki kekuasaan untuk memilih dan memberhentikan karyawan serta pekerja.
4. Menentukan jumlah kompensasi para karyawan dengan berpedoman pada
evaluasi karyawan di dalam bekerja.
Kepala Bagian Sekretaris
1. Melakukan pengawasan terhadap kebijakan Kepala Perusahaan dan memberikan nasihat/masukan kepada Kepala Perusahaan guna mengambil kebijakan yang tepat.
2. Merancang anggaran belanja kue yang nantinya penentuan dari kuesi barang berikutnya.
3. Bertindak sewaktu-waktu untuk kepentingan sebagai pengganti Kepala Perusahaan.
Bagian Penjualan
2. Memastikan jumlah barang mulai di pesan segera dikerjakan hingga penyelesaiaan pesanan dipenuhi.
Bagian Adonan dan Goreng
1. Mulai dari mempersiapkan bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan adonan
dengan takaran yang sudah ditentukan tanpa adanya pengurangan pada resepnya.
2. Menjaga agar adonan tersebut tetap ringan, sehingga gorengan menjadi renyah dan gurih.
Karyawan
1. Mengambil bahan dari Kue Bawang Bu Ani dan berupaya atas bahan baku yang ingin dijadikan kue.
2. Memastikan kue yang nanti diselesaikan tepat waktu dan meminta kejelasan dari barang yang ingin disiapkan.
4.2 Pengujian Data
4.2.1 Karakteristik Informan
a. Jenis Kelamin
Pada penelitian ini, peneliti memilih 2 orang informan yang berjenis kelamin perempuan (99,99%). Informan tersebut terdiri dari 1 orang pemilik Bu Ani dan 2 orang karyawan Kue Bawang Bu Ani.
Tabel 4.2 Jenis Kelamin Informan
No. Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Persentase (%)
1. Perempuan 3 orang 99,99
b. Tingkat Pendidikan
Informan penelitian memiliki tingkat pendidikan SMA/ SMK sebanyak 3 orang (100%).Hal ini menunjukkan bahwa dalam manajemen usaha Kue Bawang Bu Ani semua karyawannya adalah tamatan SMA/ SMK.
Tabel 4.3 Tingkat Pendidikan Informan
No. Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)
1. SMA/ SMK 3 orang 100
Sumber: Hasil Wawancara (2016)
c. Usia
Informan penelitian seluruhnya memiliki rentang usia diatas 20 tahun. Informan yang berusia 37 dan 23 tahun hanya dua orang (66,67%) yakni Mbak Ria dan Indah selaku karyawan Kue Bawang Bu Ani. Informan yang berusia dibawah 40 tahun sebanyak 1 orang (66,67%). Informan terbagi atas 1 orang pemilik Home Industri Kue Bawang Bu Ani dan 2 orang karyawan.
Tabel 4.4 Usia Informan
No. Usia (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)
1. 40-60 tahun 1 orang 33,33
2. <40 2 orang 66,67
Sumber: Hasil Wawancara (2016)
4.2.2 Informan Penelitian
Informan dalam penelitian ini terdiri dari 2 orang.Sebagai tambahan informasi mengenai informan, peneliti melampirkan data mengenai informan.
Tabel 4.5 Usia Informan
No. Nama Usia
Jenis
Kelamin
1.
Sumber: Hasil Wawancara, data diolah peneliti (2016)
Pemaparan dari Hasil Wawancara yang diungkapakan Ibu Mariani dan
Karyawan Kue Bawang Bu Ani
Keterangan dari ketiga responden akan di utarakan respoden atas jawaban wawancara sebagai berikut:
1. Pemaparan lebih lanjut atas wawancara Pemilik Kue Bawang Ibu Mariani
Usaha Ibu Mariani adalah usaha rumahan, beberapa pertanyaan yang saya ajukan pada Kue Bawang Bu Ani di jawab dengan senang hati oleh beliau Home Industry berdiri sejak tahun 2011 oleh Ibu Ani sendiri, pada saat itu
pengadonan dan penggorengan dilakukan dengan cara tradisional bedanya dengan usaha kue lainnya, maka dari pengadonan yang digunakan takaran kue yang sesuai yang akan dibuat dengan kreasi bentuk yang dibuat berbeda dengan usaha kue lainnya.
untuk pertama kali beliau memasarkan melalui keluarga yang memiliki pasar sendiri seperti, dirumah makan dan kios kecil dimana dari situ konsumen mulai mengetahui ciri khas rasa, renyah dan gurih dari aneka Kue Bawang Bu Ani, setelah itu beliau dipercaya sebagai salah satu pemasok kue, yang menjadikan kue-kue beliau sebagai salah satu bentuk cendra mata dikalangan masyarakat baik dari karyawan biasa sampai kalangan yang tinggi. Kue yang bisa terjual rata-rata sekitar 4 - 6 aneka kue tiap minggunya, belum termasuk pesanan yang datang tidak menentu. Beliau tidak dapat menghitung berapa penjualan beliau perhari atau perbulan karena beliau hanya mengikuti permintaan pasar, kue yang siap untuk dijual biasanya berkisaran 6 aneka kue perbulan, biasanya kue yang paling diminati pengunjung seperti kue bawang, kripik kentang dan kue pastel kacang. Bahan baku kue yang beliau pakai sama dengan bahan baku kue pada umumnya, tetapi disini beliau lebih mengutamakan kerenyahan dan gurih agar permintaan konsumen meningkat dan memuaskan hati pemesan kue.
Kue Bawang Bu Ani pertama kali menghasilkan sekitar 2 - 3 aneka kue perbulan dengan mencoba tiap hari kue-kue yang baru agar menjadi perbandingan mana yang disukai pembeli, pemasaran yang beliau lakukan dari mulut-kemulut, tetapi menurut Kue Bawang Bu Ani pemasaran yang paling sesuai kepada pembeli agar setidaknya tahu akan karya yang Kue Bawang Bu Ani produksi adalah dengan cara mengikuti undangan pameran-pameran yang dapat kami ikuti baik yang diselenggarakan dari Pemerintahan maupun dari Organisasi yang lain.
bahwa ada ancaman pada para pelaku usaha rumahan yang sama dengan Bu Ani, yang nantinya akan mempengaruhi penjualan Kue Bawang Bu Ani. Bagi Ibu Ani orang yang bisa melakukan usaha untuk membantu keluarganya didalam kesulitan ekonomi sekarang itu jauh lebih baik dibandingkan menjadi tenaga kerja yang menyulitkan Negara dengan pekerjaan yang dilakukannya, Ibu Ani mengambil tenaga kerja yang mau bekerja dan menekuni dunia Home Industri, apabila mereka belum mempunyai dasar untuk mengolah adonan kue, Bu Ani akan memberikan karyawan yang sudah bekerja sebelumnya di usaha Kue Bawang Bu Ani agar dapat melatih karyawan yang baru, yang nantinya kue yang akan mereka hasilkan dapat membantu pendapatan rumah tangga karyawan. Kalau ditanya mengapa Kue Bawang Bu Ani memilih karyawan berasal dari kaum perempuan karena perempuan menurut Ibu Ani yang memiliki jiwa dagang dan cara mengolah kue yang tinggi terhadap pengembangan dan keuletan dalam bekerja hanya Kue Bawang Bu Ani dapat dari sosok perempuan.
dengan membayar lebih atau dengan melakukan usaha yang lebih juga, menurut Ibu Ani harga yang Kue Bawang Bu Ani tawarkan dengan kualitas produk yang Ibu Ani buat.
Mengenai semua produk yang Kue Bawang Bu Ani hasilkan sudah didaftarkan sebagai hasil karya Kue Bawang Bu Ani yang sudah mendapat izin usaha sejak tahun 2011 di Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan. Harapan Ibu Ani mengenai kebijakan pemerintah didalam membantu usaha-usaha kecil dapat digalakkan mengikuti perkembangan zaman dimana pasar sedang membutuhkan tempat usaha dimana produk kue dapat dipasarkan dengan lebih baik, seperti yang dilakukan sekarang memabantu kami dalam menjalankan usaha dengan pengikut sertaan usaha home industry kami kepameran-pameran yang ada sekarang dan Kue Bawang Bu Ani berharap banyak home industry yang lebih mengenal kata pembudidayaan masyarakat agar menjadi suatu wadah yang baik didalam memperbaiki ekonomi kecil seperti keluarga.
2. Pemaparan lebih lanjut atas wawancara pada KaryawanBu Ani, Mbak Ria
Responden kedua adalah seorang yang bekerja langsung pada home industry Kue Bawang Bu Ani ialah Mbak Ria mengawali pekerjaannya pada
didalam membuat suatu kue pesanan dengan pola yang baru, baru didiskusikan oleh Kue Bawang Bu Ani sendiri dengan para karyawannya.
Didalam pemasaran Mbak Ria sendiri kurang mengerti mengenai pemasaran mereka, dimana Mbak Ria hanya berfikir apabila kue yang Mbak Ria kerjakan selesai dan tepat waktu maka Mbak Ria akan mendapatkan upah yang setimpal dengan kue yang Mbak Ria hasilkan, biasanya Mbak Ria dapat menghasilkan bermacam kue dalam satu minggunya, apabila kue yang dikerjakan memiliki kesukaran didalam pengerjaan kue sendiri dapat memakan waktu yang lama tergantung pesanan kue.
3. Pemaparan wawancara lebih lanjut diungkapkan oleh KaryawanBu Ani,
Mbak Indah
Responden yang ketiga ini adalah Mbak Indah yang berstatus belum menikah pada karyawan Kue Bawang Bu Ani, Mbak Indah menyatakan bahwa Mbak Ika mulai masuk ke usaha rumahan Kue Bawang Bu Ani sejak 2011, Mbak Indah mulai mengenal usaha rumahan Kue Bawang Bu Ani karena Mbak Indah juga salah satu tetangga yang tidak jauh dari rumah Kue Bawang Bu Ani, setelah Mbak Indah masuk ke usaha rumhan Kue Bawang Bu Ani, Mbak Indah mulai berpikir membuka usaha sampingan seperti usaha rumahan Kue Bawang Bu Ani dari itu Mbak Indah wujudkan dengan seiring pekerjaan Mbak Indah di usaha rumahan Kue Bawang Bu Ani juga meneriman pesanan Kue Bawang dan Kue lainnya.
Penetapan harga kue yang Mbak Indah hasilkan biasanya menurut tingkat kesulitan kue dan ukuran kue, pemesanan dilakukan pada bagian penjualan dengan memberikan kejelasan atas kue yang ingin dipesan, ukuran dan jumlah kue yang ingin dipesan, maka kami akan mengkonfirmasinya kembali kepada pemesan mengenai penetapan harga dan kesiapan kue seluruhnya. Biasanya Bu Ani dapat menghasilkan barang 4 – 6 aneka kue per minggunya.
Pendapatan Mbak Indah bertambah seiring dengan hasil kue yang Mbak Indah hasilkan di usaha rumahan Kue Bawang Bu Ani, sejak Mbak Indah masuk ke usaha Kue Bawang Ani, Mbak Indah dapat membantu keuangan keluarga Mbak Indah dan seiring dengan itu pengetahuan Mbak Indah bertambah dengan berjalannya waktu Mbak Indah mengetahui cara-cara baru didalam membuat kue, selain itu usaha rumahanKue Bawang Bu Ani setau Mbak Indah tidak memiliki Jamsostek tetapi mereka memiliki kepekaan terhadap karyawan seperti membantu karyawan ketika sakit dan ketika mengadakan pesta jadi kami merasa diperhatikan.
4.3 Analisa Data
1. Pemaparan hasil wawancara dengan Teori yang ada dilakukan pada Kue
Bawang Bu Ani
Dari hasil wawancara dan observasi yang dilakukan di usaha Kue Bawang Bu Ani, modal yang dari awal hanya memiliki investasi kepercayaan diri serta keahlian yang dibawa dari orang tua membuat Ibu Ani menjadi orang yang cukup berpengaruh atas kehidupan karyawannya, bahwa usaha rumahan tersebut berkaitan dengan pendapatan Abraham Maslow (1908) dan teori ekskalasi yaitu peningkatan atau penambahan kekayaan baik aset maupun barang berharga yang memiliki harga ketika dijual kembali, selain itu tetapi berperan juga dalam mengenai peningkatan pendapatan masyarakat sekitar, berperan juga dalam meningkatkan kebutuhan rumah tangga dan penambahan aset-aset, seperti yang dilakukan Ibu Ani yang sudah membuka usahanya sampai sekarang dan mendapatkan penambahan-penambahan baik bentuk barang maupun aset seperti tenaga kerja maupun penambahan mesin untuk keperluan produksi. Selain itu, hasil dari Kue Bawang Bu Ani juga tercantum dalam daftar izin Dinas Kesehata Kabupaten Asahan dengan nomor P_IRT.No.2061 20 8011 40 tahun 2011,
berkala dengan cara ini juga Kue Bawang Bu Ani dikenal oleh kalangan pemerintahan atas pemesanan buah tangan (souvenir) dari sini pendapatan Kue Bawang Bu Ani mulai meningkatkan perubahan yang baik, peningkatan pendapatan yang mengalami perubahan baik juga beriringan dengan pemahaman pendapat Milton Friedmen (1980) yang berpendapat dari pendapatan juga bergantung pada karayawan, hal mana kekayaan ini dapat dai penyisihan ini juga yang dilakukan Kue Bawang Bu Ani sampai saat ini Bu Ani dapat mengembangkan usahanya dan dapat menghidupi karyawan yang dibantunya, dengan menambah bahan-bahan dan alat-alat produksi yang baru, serta mencari tenaga kerja yang tepat pada bidang masing-masing dan memperluas jaringan hingga ke Luar Kabupaten dan Provinsi, penambahan aset-aset Kue Bawang Bu Ani memasuki kategori investasi seperti keadaan penambahan aset-aset ini juga beriringan dengan pendapat yang diberikan katakan Teori Masbah Klasik dari Milton Friedman dan Franco Modiglini (1980)yang berisikan kekayaan ini juga
kebutuhan pribadi maupun untuk kegiatan usaha. Apa yang sekarang memenuhi kebutuhan dari defenisi konsumsi juga seiring dengan teori konsumsi dari Franco Modiglini (1980) dan John Maynard Keynes(1990) ketika pendapatan kita
meningkat (tingkat pendapatan) meningkat menggambarkan konsumsi juga meningkat seiring tabungan yang juga meningkat.
(Kesimpulan dari hasil analisis wawancara penelitian dan kesamaan dalam teori yang ada terhadap Ibu Mariani Pemilik Kue Bawang Bu Ani)
2. Keterkaitan hasil wawancara dengan Teori yang dilakukan pada kue bawang
Bu Ani
Perubahan tingkat konsumsi dipengaruhi oleh pendapatan Mbak Ria meningkatkan pembelian atas barang-barang dan jasa yang sebenarnya.
Tidak sesuai dengan kemampuannya tidak seharusnya dilakukan mengingat ada kebutuhan yang mendasar yang setiap bulan harus dikeluarkan. Mengingat nilai pengeluaran yang pasti seperti kebutuhan sekolah dengan ini Mbak Ria mengutarakan nantinya apabila mengambil kebijakan untuk menjadi pemodal, pengrajin sendiri guna mencukupi kebutuhan keluarga akan kesulitan dalam memasarkan kue yang dikatakan Mbak Ria pada saat wawancara berlangsung.
3. Keterkaitan hasil wawancara dengan Teori yang dilakukan pada Karyawan
Bu Ani, Mbak Indah
Mbak Indah adalah salah satu dari dua karyawan yang Kue Bawang Bu Ani ambil untuk menjadi informan penelitian Mbak Indah adalah seorang gadis yang belum memiliki kehidupan berumah tangga pada saat ini, Mbak Indah bekerja pada Kue Bawang Bu Ani dimulai sekitar tahun 2011 dari hasil wawancara dapat disimpulkan bagaimana perjalanan pendapatan Mbak Indah dari sebelum masuk ke Bu Ani hingga sekarang kesimpulan dari hasil wawancara adalah Mbak Indah masuk ke Kue Bawang Bu Ani memiliki penghasilan dari pekerjaannya membantu usaha keluarga. Mbak Indah tamatan dari sekolah kejuruan yang menjadikannya seperti sekarang yang menjadi karyawan Kue Bawang Bu Ani. Hal ini juga diutarakan Bill Drayton dalam Buku Mc Graw-Hill
(2009) bagaimana individu mengkombinasikan antara keluarga yang dimiliki
Bawang Bu Ani juga membuka usaha pembuatan keripik dirumahnya sendiri, beberapa tahun dijalani oleh Mbak Indah, lebih dari 3 tahun. Mbak Indah mendapatkan modal yang cukup untuk membeli bahan dan alat pembuatan kue untuk melengkapi usaha keripiknya dengan menambah kompor gas dan wajan dan beberapa alat dan bahan untuk meningkatan ini searah dengan dikatakan Abraham Maslow (1908) peningkatan atau penambahan kekayaan baik asset
maupun barang berharga yang memiliki nilai atau manfaat lebih peningkatan ini juga berimbang dengan penambahan modal baik penghasilan yang didapat melalui Kue Bawang Bu Ani maupu usaha jahitannya penambahan ini juga sependapat dengan teori Milton Friedmen (1980) pendapatan permanen konsumsi yang relatif tetap yang dipertahankan sepanjang hidup dengan kata lain penambahan pengembangan usaha yang didapat modal dari hasil bekerja pada Kue Bawang Bu Ani dan pengetahuan yang lebih mendalam dari penelitian yang diberikan oleh usaha Kue Bawang Bu Ani mengenai cara mencetak bentuk keripik pisang dan singkong memantapkan Mbak Indah mempunyai harapan lebih dalam menjalankan usahanya dan ketika investasi seperti kehidupan yang layak serta pemasukan yang tetap dapat disimpulkan bahwa pemenuhan kebutuhan baik pribdai maupun usaha Mbak Indah terpenuhi.
4.4 Hubungan Teori Yang Ada Dengan Hasil Wawancara
kerja, namun lemah dalam menyumbang nilai tambah. Hubungan teori Mudrajad Kuncoro mengenai home industry mengenai pada penelitian Kue Bawang Bu Ani dimana didalam penelitian Kue Bawang Bu Ani jelas ingin diungkap bagaimana home industry dalam mengurangi pengangguran dan menambah nilai tambah para
pelaku home industry yang berkaitan langsung dengan kegiatan home industry karena setelah mereka masuk keluar dari home industry yang dulunya mereka menjadi tenaga kerja home industry tersebut mereka mendapat pembekalan cara membangun usaha yang mandiri dan memiliki ketrampilan yang nantinya dapat dikembangkan.
BAB V
PENUTUP
5.1Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan analisis penelitian mengenai home industry dalam peningkatan pendapatan maka dapat disimpulkan bahwa.
1. Usaha Kue Bawang Bu Ani sangat berperan penting dalam memberikan kontribusi peningkatan pendapatan bagi karyawan Kue Bawang Bu Ani. 2. Berdasarkan fakta dan sejarah perusahaan yang terkenal tidak terlepas dari
usaha kecil mereka terdahulu dan home industry Kue Bawang Bu Ani memiliki peluang besar menjadi perusahaan yang besar (terkenal) yang ada pada saat ini.
3. Home industry berperan besar dalam peningkatan dengan pemerataan pendapatn masyarakat, karena home industry tidak sulit untuk mengawali usaha cukup dengan tenaga kerja hanya beberapa orang (individu) dan modal investasi yang tidak terlalu besar bahkan dibilang kecil.
5.2 Saran
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka penulis memberikan saran sebagai berikut:
1. Regulasi terhadap home industry perlu disosialisasikan kepada masyarakat guna memperluas akses masyarakat untuk menuju membuka mata maupun pikiran mereka memulai usaha baru untuk kehidupan mereka.
2. Perlu pelatihan keterampilan dalam mengembangkan kemampuan masyarakat yang nantinya akan menjadi modal awal bagi pelaku home industry.
BAB II
KERANGKA TEORI
2.1 Home Industry
2.1.1 Pengertian Home Industry
Istilah Home industry atau usaha di rumah adalah tempat tinggal yang merangkap tempat usaha, baik itu berupa usaha jasa, kantor hingga perdagangan. Semula pelaku home industry yang memiliki desain ini adalah kalangan enterpreneur dan profesional, yang sekarang mulai meluas pada kalangan umum,
untuk memiliki lokasi yang strategis untuk tempat berkembangnya usaha jenis rumahan ini tidak terlepas dari berkembangnya virus enterpreneur/kewirausahaan yang berperan membuka pola pikir ke depan masyarakat bahwa rumah bukan hanya sebagai tempat tinggal namun dapat digunakan juga sebagai tempat mencari penghasilan. (Alkim,2005:3)
Menurut Mudrajad Kuncoro, Industri Kecil dan Rumah Tangga (IKRT) memiliki peranan yang cukup besar dalam sector manufaktur dilihat dari sisi jumlah unit usaha dan daya serapnya terhadap tenaga kerja, namun lemah dalam menyumbang nilai tambah (Jamiko,2004:62)
Menurut Masyhuri (2008), setidaknya ada empat hal yang bisa memberikan kesenangan di samping profit dengan menjalankan bisnis rumahan, anatara lain:
berarti. Namun, yang perlu anda ingat adalah bahwa keadaan keluarga tetap tidak dapat ditukar dengan capaian materi yang tinggi. Meskipun anda termasuk seorang yang kaya raya secara finansial, namun apabila kehidupan keluarga anda tidaklah harmonis, maka hal itu tentunya dapat memberikan dampak negatif bagi bisnis yang anda rintis. Oleh karena itu, jadikan usaha dalam rumah juga sebagai jalan bagi anda untuk tetap memupuk kebahagiaan, sehingga anda tetap semagat dalam menjalankan usaha. Seseorang yang memiliki daya pikir yang sehat tentu akan mampu menunjukkan tanggung jawabnya di dalam keluarga, sekaligus dalam posisinya sebagai pelaku bisnis. Dengan membuka usaha di dalam rumah, anda memiliki peluang untuk menyinergikan dua tanggung jawab ini secara seimbang dan menyenangkan. Sungguh merupakan satu pilihan yang tepat apabila anda mencoba membangun bisnis dari rumah anda sendiri. Selain anda tidak membutuhkan modal yang besar, efektivitas dalam bekerja juga dapat ditentukan dengan baik. Semua anggota keluarga dapat menjadi penasihat yang tidak hanya dapat menghantarkan anda meraih keuntungan secara materi, namun juga dapat mempererat hubungan kasih sayang anda dalam membina kehidupan keluarga.
bagi anda dibandingkan bisnis di luar karena anda dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
c. Sebelumnya pernahkah anda berpikir untuk mendapatkan penghasilan yang tidak terbatas? dan hal itu hanya bisa dilakukan jika anda benar-benar telah mewujudkan kegiatan bisnis dirumah. Namun, anda jangan berpikir bahwa yang dimaksud dengan penghasilan tetap adalah terbatas pada uang dan materi lainnya. Coba anda renungkan tentang masa depan anda. Kelak anda akan menjadi tua dan keinginan anda hanyalah menikmati sisa umur dengan tenang, tanpa terbebani oleh masalah finansial dan semacamnya. Nah, dengan membangun usaha rumahan, anda sebenarnya menanam asset yang cukup besar yang menjamin masa depan agar tetap bahagia. Aset itu adalah aset pengalaman dan inspirasi bagi anak-cucu anda. Bukankah hal itu merupakan aset yang sangat berharga untuk menjamin masa depan anda kelak? bila anda bekerja kepada orang lain, anda hanya dapat menerima gaji tetap. Tentu saja gaji tetap belim tentu cukup untuk kebutuhan operasional rumah tangga anda. Anda pun akan terlalu lelah jika di luar jam kerja berniat mencari pekerjaan sampingan.
congkak, atau bahkan lupa daratan. Anda tetap akan menjadi diri sendiri yang dulu, yang welcome kepada siapa pun. Memang harus kita sadari bahwa sesungguhnya kehidupan nyata yang dihadapi adalah pendidikan bagi anda. Dengan semua itu, anda bisa belajar, baik belajar bisnis maupun belajar kearifan dari kenyataan sosial. Meskipun demikian, mengembangkan bisnis di rumah tentu tetap membutuhkan profesionalisme tersendiri agar dalam perjalanannya dapat memberikan keuntungan sebagaimana yang diinginkan. Diperlukan keterampilan-keterampilan khusus dan kreatif untuk membuka usaha yang dapat dikerjakan di rumah.
2.1.2 Karakteristik Home Industry
Menurut Pohan Farida (2012:9) Karakteristik ciri-ciri usaha kecil meliputi beberapa karakteristik antara lain:
1. Dikelolah oleh pemiliknya 2. Usaha dilakukan dirumah
3. Produksi dan pemasaran dilakukan di rumah pemilik usaha 4. Modal terbatas
5. Jumlah tenaga kerja terbatas
6. Berbasis keluarga atau rumahan tangga 7. Lemah dalam pembukuan
8. Sangat diperlukan manajemen pemilik
2.1.3 Jenis-Jenis Usaha
dan jasa, adapun bidang/jenis usaha yang terbuka bagi usaha kecil dibidang industri dan perdagangan adalah:
1. Industri makanan dan minuman olahan yang melalukan pengawetan dengan peroses penggaraman, pemanisan, pengasapan, pengeringan, perebusan, penggorengan dan fermentasi dengan cara-cara tradisional. 2. Industri penyempurnaan barang dari serat alam maupun serat buatan
menjadi benang bermotif/celup dan di ikat dengan menggunakan alat yang digunakanoleh tangan.
3. Industri tekstil meliputi pertenunan, perajutan, pembatikan, dan pembordiran, atau alat yang digerakkan tangan termasuk batik, peci, kopiah.
4. Pengolahan hasil hutan dan kebun golongan non pangan
5. Industri perkakas tangan yang di proses secara manual atau semi mekanik untuk pertukangan dan pemotongan.
6. Industri perkakas tangan untuk pertanian yang diperlukan untuk persiapan lahan, proses produksi, pemanenan, pasca panen dan pengelolahan, kecuali cangkul dan sekop.
7. Industri barang dari tanah liat, baik yang diglasir maupun yang tidak diglasir untuk keperluan rumah tangga.
8. Industri jasa pemeliharaan dan perbaikan yang meliputi otomotif, elektronik dan peralatan rumah tangga yang dikerjakan secara manual atau semi otomatis.
2.1.4 Landasan Hukum Home Industry (usaha kecil)
Menurut Law Trade (dikutip dari Fuady 2008) adapun yang menjadi landasan hukum usaha kecil adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan usaha industri ataupun perdagangan di Indonesia diatur oleh UU No.1 Tahun 1985.
2. Untuk usaha kecil industri diatur oleh UU No.9 Tahun 1995.
3. Bentuk badan Hukum Usaha Industri dan perdagangan diatur dalam UU No.1 Tahun 1985 tentang Perseroan Terbatas.
4. Perizinan usaha kecil dan menengah dan besar khusus industri tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan perdagangan dan tanda daftar industri.
5. Tata cara perizinan usaha perdagangan diatur dalam Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 591/MPR/Kep/99 tentang tata cara pemberian Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP).
2.1.5 Alasan Lain Pertumbuhan Bisnis Berbasis Rumahan
1. Teknologi komputer telah menyeimbangkan lapangan persaingan, memungkinkan bisnis berbasis rumahan untuk terlibat dan bertindak seperti pesaing korporat yang besar. Koneksi internet broadband, personal assistant (PDA), dan teknologi lainnya sedemikian terjangkau, sehingga mendirikan sebuah bisnis menumbuhkan investasi awal yang jauh lebih kecil dibandingkan sebelumnya.
2. Perampingan korporat telah membuat para pekerja menyadari tidak adanya jaminan pekerjaan, dan menyebabkan banyak orang mendirikan ventura mereka sendiri.
3. Sikap sosial telah berubah. Wirausaha sebelum memulai usahanya para pelaku home industry membuat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada pelaku usaha yang lebih dahulu menekuni home industry dan dari jawaban mereka pelaku home industryyang baru dapat menambah informasi dari merek yang sudah menekuni dunia usaha terlebih dahulu. 4. Hukum pajak yang sekarang diberlakukan lebih mempermudah
para pelaku home industrydibandingkan hukum pajak dan peraturan pajak yang dahulu.
2.1.6 Tantangan-Tantangan Dalam Home Industry
Menurut McGraw-Hill (2009) adapun tantangan didalam home
industry sebagai berikut:
ancaman, dengan kata lain perlu dilakukan promosi seperti promosi melalui media sosial maupun media cetak.
2. Mengelolah waktu, karena home industry dilakukan dirumah maka pengelolahan waktu yang baik didalam menjalankan pekerjaan dengan tugas-tugas rumah tangga agar bisa berjalan dengan baik. 3. Memisahkan tugas kerja dan keluarga. Home industry dituntut
untuk berpikir bijak dalam pembagian waktu baik keluarga maupun persoalan usaha walaupun yang dilakukan dirumah dalam menjalankan usahanya.
4. Mematuhi peraturan kota. Pelaku home industrylebih cermat
menyikapi perizinan usaha yang biasanya diikuti dengan keadaan lokasi bisnis yang ingin dibangun.
5. Mengelolah resiko. Wirausahawan berbasis rumahan harus meninjau polis asuransi pemilik rumah mereka karena tidak semua polis mencangkup kliam yang berkaitan dengan bisnis. Beberapa bahkan akan menghanguskan perlindungan jika terdapat bisnis di rumah. (McHugh,2009:198)
2.2 Peningkatan
tangga baik berupa investasi dalam bentuk tabungan dan konsumsi yang mencukupi kebutuhan rumah tangga.
2.3 Pendapatan Rumah Tangga
2.3.1 Pengertian Pendapatan Rumah Tangga
Menurut Afrida (2003:225) Pendapatan rumah tangga adalah penghasilan dari seluruh anggota keluarga yang disambungkan untuk memenuhi kebutuhan bersama ataupun perorangan dalah rumah tangga. Sedangkan menurut Junandar (2004:147) pendapatan rumah tangga adalah pendapatan/penghasilan yang diterima oleh rumah tangga bersangkutan baik yang berasal dari pendapatan kepala rumah tangga maupun pendapatan anggota-anggota rumah tangga.
Berdasarkan defenisi pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pendapatan rumah tangga adalah pendapatan yang diperoleh dari seluruh anggota rumah tangga keluarga baik yang berasal dari kepala keluarga atau seluruh anggota keluarga.
2.3.2 Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Home Industry
Teori menurut Milton Friedmen dan Franco Modiglini (1980) ada beberapa faktor dalam peningkatan pendapatan yaitu:
1. Teori Investasi dari Masbah Klasik 2. Teori Tabungan dari Milton Friedmen 3. Teori Konsumsi dari Franco Modiglini
memiliki pandangan bahwa pendapatan transitoris adalah pendapatan tidak tetap dan tidak dipastikan jumlah di masa yang akan datang.
Teori konsumsi dan Modigliani pada dasarnya dikembangkan oleh 3 orang yaitu Alberto Ando, Ricahrd Brumberg dan Franco Modigliani, akan tetapi yang mendapatkan penghargaan Nobel hanyalah Modigliani karena salah satu teori konsumsinya yang terkenal atau dikenal dengan nama “Hipotesis Daur Hidup” (Life Cycle Hypothesis) yang menyatakan bahwa konsumsi seseorang selain dari
pendapatannya, juga tergantung pada kekayaan, hal mana kekayaan ini didapat dari penyisihan pendapatan yang tidak dikonsumsi, yaitu tabungan dan dari kekayaan warisan/turun-temurun. Tabungan ini bisa saja menjadi investasi sehingga menghasilkan aktiva misalnya tabungan mendapatkan bunga dan pengambilan tabungan untuk investasi.
2.3.3 Investasi
Pada dasarnya investasi didefinisikan sebagai semua pengeluaran pada barang-barang kapital rill. Akan tetapi, dalam bahasa sehari-hari investasi juga mencangkup pembelian aktiva. Secara umum pengeluaran investasi berkaitan dengan pengelolahan sember daya yang ada saat ini untuk diperoleh penggunaan atau manfaat pada saat yang akan datang. (Waluyo,2007:77)
2.3.4 Tabungan
Pengertian tabungan menurut Undang-undang pokok perbankan No. 10 tahun 1998, pasal 1 tabungan di definisikan sebagai simpanan pihak ketiga pada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan menggunakan Cek, Bilyet Giro dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.
(www.library.upnvj.ac.id/pdf/2s1manjeman/201101005/bab2.pdf)
1. Kekayaan yang terkumpul
diakses tanggal 13/12/2015 16:22
Keynes dalam bukunya Kotler (2009) berpendapat bahwa pengeluaran untuk konsumsi dipengaruhi oleh pendapatan. Semakin tinggi pendapatan mengakibatkan semakin tinggi pola tingkat konsumsi tinggi pendapatan, semakin besar pula tabungan karena tabungan merupakan bagian pendapatan yang tidak dikonsumsi.
2.3.4.1 Faktor-faktor lain yang mempengaruhi tingkat tabungan
2. Tingkat bunga
Tingkat bunga dapatlah dipandang sebagai pendapatan yang diperoleh dari melakukan tabungan. Rumah tangga akan berbuat lebih banyak tabungan apabila tingkat bunga tinggi karena lebih banyak bunga yang akan diperoleh.
3. Sikap berhemat
Berbagai masyarakat mempunyai sikap yang berbeda dalam menabung dan berbelanja. Ada masyarakat yang tidak suka belanja berlebih-lebihan dan lebih mementingkan tabungan.
4. Keadaan perekonomian
Dalam perekonomian yang tumbuh dengan teguh dan tidak banyak pengangguran masyarakat berkecenderungan melakukan perbelanjaan yang lebih aktif. Mereka mempunyai kecenderungan berbelanja lebih banyak pada masa kini dan kurang menabung. Tetapi dalam keadaan perekonomian yang lambat berkembangnya, tingkat pengangguran menunjukan tendensi meningkat, dan sikap masyarakat dalam menggunakan uang dan pendapatan makin berhati-hati. (makalahdanskripsi.blogspot.com/2008/07/teori-komsumsi-html) diakses tanggal 05/01/2016 22:17
2.3.5 Konsumsi
Analisis teori konsumsi Keynes bila disimak dari fungsinya memiliki 2 macam sumber konsumsi yaitu konsumsi subsidi (konsumsi otonomi, manakalah tingkat pendaptan=0) dan konsumsi fungsional yaitu konsumsi yang berhubungan dengan tingkat pendapatan nasional.
Bila kita memiliki data bulanan atau tahunan yang berisikan besarnya pendapatan dan konsumsi, maka sebenarnya kita dapat mengetahui dan menyusun suatu fungsi konsumsi, baik dengan cara ekonometrika, atau menggunakan model matematika sederhana.
2.3.5.1 Faktor-faktor Penentu Tingkat Konsumsi
Banyak faktor yang mempengaruhi besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga faktor-faktor tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tiga:
a. Faktor-Faktor Ekonomi
b. Faktor-Faktor Domegrafi (Kependudukan) c. Faktor-Faktor Non-Ekonomi
a. Faktor-Faktor Ekonomi
1. Pendapatan Rumah Tangga (Household income)
ayah masih sangat rendah, biasanya beras yang dipilih untuk konsumsi juga kelas rendah/menengah.
2. Kekayaan Rumah Tangga (househoid Wealth)
Tercakup dalam pengertian kekayaan rumah tangga adalah kekayaan rill (misalnya: rumah, tanah dan mobil) dan financial (deposito berjangka, saham, surat-surat berharga). Kekayaan tersebut dapat meningkatkan konsumsi, karena menambah pendapatan disposibel. Misalnya bunga deposito yang diterima tiap bulan dan deviden yang diterima setiap tahun menambah pendapatan rumah tangga.
3. Jumlah Barang-barang Konsumsi Tahan Lama Dalam Masyarakat Pengeluaran konsumsi masyarakat juga dipengaruhi oleh jumlah barang-barang konsumsi tahan lama (consumers durables). Pengaruhnya terhadap tingkat konsumsi biasa bersifat positif (menambah)ndan negative (mengurangi). Barang-barang tahan lama biasanya harganya mahal, yang untuk memperolehnya dibutuhkan waktu untuk menabung. Apabila membelinya secara tunai, maka sebelumnya membeli harus banyak menabung.
b. Faktor-faktor Demograf
1. Jumlah penduduk
Singapura, tetapi secara absoulet tingkat pengeluaran konsumsi Indonesia lebih besar dari pada penduduk Singapura. Sebab jumlah penduduk Indonesia lima puluh kali lipat penduduk Singapura. 2. Komposisi Penduduk
Komposisi penduduk satu Negara satu Negara dapat dilihat dari berapa klasifikasi diantaranya:
Usia (produktif dan tidak produktif), pendidikan (rendah, menengah, tinggi) dan wilayah tinggal (pedesaan atau perkotaan).
c. Faktor-faktor Non-Ekonomi
Faktor-faktor non-ekonomi yang paling berpengaruh terhadap besarnya konsumsi adalah faktor sosial-budaya masyarakat. Misalnya berubahnya pola kebiasaan makan, perubahan etika dalam tata nilai karena ingin meniru kelompok masyarakat lain yang dianggap lebih hebat. Tidak mengherankan bila ada rumah tangga yang mengeluarkan uang ratusan juta, bahkan miliaran rupiah, hanya untuk membeli rumah idaman. Dalam dunia nyata, sulit memilah-milah faktor apa mempengaruhi apa, sehingga menyebakan terjadinya perubahan/peningkatan konsumsi. Karena itu bisa terjadi dalam kelompok masyarakat yang berpendapat rendah yang memaksakan untuk membeli barang-barang dan jasa yang sebenarnyabtidak sesuai dengan kemampuannya.
2.4 Rumah Tangga
2.4.1 Pengertian Rumah Tangga
Pendapat Keller (2009) dalam buku manajemen pemasaran “rumah tangga tradisional terdiri dari suami, istri, dan anak-anak (dan terkadang kakek-nenek). Rumah tangga juga dapat diartikan sebagai suatu perusahaan yang di pimpin oleh ayah dan bagian keuangan oleh ibu, anak-anak berperan sebagai pelaksana dari kebijakan yang di berikan oleh ayah dan ibu.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) rumah tangga dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Rumah Tangga Biasa (Ordinary Household) adalah seorang atau sekelompok orang yang mendiami sebagian atau seluruh berguna fisik/sensus, dan biasanya tinggal bersama dan makan dari satu dapur. 2. Rumah Tangga Khusus (Special Household) adalah orang yang tinggal
di asrama, panti asuhan, lembaga permasyarakatan, atau rumah tahanan yang pengurusan sehari-harinya dikelolah oleh suatu yayasan atau lembaga serta sekelompok orang yang mondok dengan makan (indekos) dan berjumlah 10 orang atau lebih.
2.4.2 Jenis Komponen Perkiraan Kebutuhan Rumah Tangga
Sebagai dasar untuk memperkirakan kebutuhan manusia, meliputi: 1. Kesehatan, termasuk kondisi demografi
6. Konsumsi dan tata hubungan 7. Pengangkutan
8. Perumahan, termasuk fasilitas-fasilitas rumah 9. Sandang
10. Rekreasi dan liburan 11. Jaminan sosial 12. Kebebasan manusia
(Maslow dalam buku Pengantar Bisnis Nickels Dkk 2009)
2.4.3 Peran dan Fungsi Rumah Tangga
Setia rumah tangga memiliki peran dan fungsi, tetap secara garis besar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Pemenuhan kebutuhan hidup, seperti bekerja untuk memenuhi pangan, sandang, dan papan. Kegiatan belajar untuk anak, penyediaan dan pemeliharaan pangan, sandang, papan serta kegiatan lain yang menyangkut kebutuhan rumah tangga.
2. Administrasi, yaitu kegiatan yang menyangkut catat-mencatat, kegiatan ini meliputi penyediaan dan pengaturan catatan keuangan, kartu dan surat-surat penting yang dibutuhkan untuk urusan anggota rumah tangga (kartu keluarga, surat nikah, ijazah, dan sebagainya)
2.5 Landasan Penelitian Terdahulu
Adapun beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang saya sedang teliti menggenai home industry yang nantinya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan atau acuan dalam membantu penyelesaian skripsi ini, berikut penelitian terdahulu sebagai berikut:
1. Tri Lestari (2006) Penelitian yang berjudul “Upaya Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Melalui Home Industry Kerajinan Batik” di Desa Gladak ANYER Kecamatan Pemakasan Kabupaten Pemakasan. Masalah penelitian Bagaimana upaya peningkatan pendapatan rumah tangga melalui home industry kerajinan batik?. Metode penelitian yang digunakan deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data wawancara, observasi dan pengumpulan data sekunder baik dokumentasi, studi pustaka. Hasil penelitian yang diungkapkan bahwa upaya peningkatan pendapatan rumah tangga yang terpenuhi didalam melaksakan home industry diartikan sebagaimana kita memandang kecukupan suatu rumah
tangga atau pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga tercukupi atau memberikan dampak besar bagi keberlangsungan pendapatan rumah tangga.
bahwa melalui home industry masyarakat tuntut berpikir kreatif dan melakukan usaha mandiri guna menambah pemasukan pendapatan rumah tangga untuk memenuhui kebutuhan hidup seperti sandang pangan dan papan dan selain itu home industry juga dapat memperbaiki pemerataan pendapatan masyarakat yang dibantu oleh home industri sekitar baik yang terlihat langsung maupun tidak langsung.
3. Patricia Yovi Anin Dita (2007) Penelitian yang berjudul “Analisis Sistem Pemenuhuan Bahan Baku pada Home Industry Kripik Pisang” (Studi pada Home Industry Warna Sari, Dahlia dan Devi Kabupaten Lombok Barat).
Masalah penelitian Bagaimana system penemuhan bahan baku pada home industry keripik pisang pada home industry Warna Sari Dahlia dan Devi?.
Metode penelitian yang digunakan deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan pengumpulan data sekunder seperti dokumentasi. Hasil dari penelitian yang diungkapkan bahwa usaha kripik pisang Warna Sari baik, milik Dahlia maupun bahan baku yang sama, proses produksi yang juga sama tetapi didalam pemasokan bahan baku yang tidak pas dengan kondisi yang membuat kripik Ibu Devi lebih tidak tahan lama, karena penumpukan barang digerai sehingga merusak kondisi kripik.
yang diungkapkan bahwa persaingan bisnis yang semakin ketatmenurut perusahaan untuk bekerja lebih efektif dan efisien agar mendapatkan laba yang maksimal. Labamerupakan peran yang sangat penting dalam perolehan laba disuatuperusahaan, oleh karna itu seharusnya perusahaan mampu untuk mempertahankan pelanggan maka kontribusi laba dan setiap pelanggan sangatlah penting.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Dalam kehidupan sehari-hari sudah tidak asing lagi bagi kita dengan penyebutan istilah bisnis atau berbisnis. Bisnis yaitu kegiatan usaha dimana individu atau sekelompok orang sibuk melakukan pekerjaan yang dapat menghasilkan laba atau keuntungan. Keuntungan merupakan target utama dari setiap kegiatan bisnis yang dilakukan semua orang karena, gambaran mengenai bisnis ini lebih sering dikesankan sebagai sebuah usaha bonafit, mewah, dan besar serta hanya bersinggungan konglomerat dan pejabat. Gambaran ini memang tidak keliru karena selama ini para pelaku bisnis memang hanya identik dengan orang-orang dari kalangan demikian. Tetapi, yang perlu digarisbawahi adalah tentang pengertian bisnis itu sendiri sebagai sebuah kegiatan usaha, maka tentu setiap orang memiliki hak yang sama dalam menjalankan sebuah usaha. (Rusdi,2009: 44)
Hampir semua sisi kehidupan pada dasarnya dapat menjadi peluang untuk membangun usaha. Tidak terkecuali dengan rumah. Mungkin, kebanyakan orang beranggapan bahwa rumah tidak lebih dari tempat berteduh dan berkumpul bersama keluarga, belakangan justru sudah bermunculan orang-orang yang mencoba mengembangkan kegiatan bisnis dari rumah yang lazim dikenal sebagai home industry. (Rusdi,2009: 121)
Home industry atau industri rumahan merupakan kegiatan usaha yang
keuntungan bagi para pelakunya. Usaha rumahan dapat dikatakan menyenangkan karena kita bisa melakukan banyak eksperimen tanpa harus dibatasi oleh prosedur-prosedur tertentu sebagaimana biasa diterapkan ketika kita kita bekerja di kantor. Selain itu home industry juga dapat menjanjikan keuntungan yang berlipat karena usaha ini dikelola langsung di tengah kehidupan masyarakat lain yang menjadi sasaran pemasaran, di samping itu, home industry juga identik dengan kegiatan bisnis berbiaya murah. Mengembangkan bisnis di rumah tentu tidak memerlukan modal untuk sewa tempat, dan berbagai urusan lainnya. (Rusdi,2009: 122)
Salah satu trend berwirausaha yang banyak digemari para wirausaha adalah wirausaha mikro kecil berbasis rumahan, tidak semua orang yang memulai sebuah bisnis mempunyai tujuan menumbuhkan menjadi sebuah korporasi raksasa. Beberapa orang tertarik untuk menikmati gaya hidup yang seimbang sembari melakukan pekerjaan yang ingin mereka lakukan. Penulis bisnis Michael LeBoeuf menamakan pemilik bisnis seperti ini sebagai wirausaha mikro (micropreneurs). Sementara wirausaha lainnya berkomitmen pada mencari
pertumbuhan, wirausaha mikro tahu bahwa mereka dapat berbahagia meskipun perusahaan mereka tidak pernah muncul pada daftar bisnis berperingkat teratas. Banyak wirausaha mikro yang merupakan pemilik bisnis berbasis rumahan, lebih dari 20 juta bisnis kecil di Amerika Serikat dijalankan dari rumah pemiliknya. Banyak bisnis berbasis rumahan dimiliki oleh orang yang berusaha mengkombinasikan karier dan keluarga. (Mc Graw Hill,2009:197)
setiap situasi untuk menciptakan nilai guna atau manfaat baru dari suatu barang, jasa, mengadakan inovasi untuk melakukan penganekaragaman nilai guna atau manfaat barang/jasa baru, tetapi juga menemukan sumber-sumber bahan mentah yang baru (yang semula tidak bermanfaat menjadi sangat bermanfaat), menentuka proses produksi baru, dan akhirnya menemukan peluang usaha dan pemasaran yang baru (jamiko,2004:80). Kondisi keberadaan home industry ini diharapkan lebih mampu menghadapi gejolak-gejolak dan dinamika perekonomian. Home industry diharapkan dapat melihat secara tanggap peluang-peluang usaha home industry yang nantinya mengakibatkan tindakan positif pada pendapatan masyarakat pelaku usaha ataupun pelaku bisnis.
Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari aktifitas manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Fokus utama pembahasan dalam ilmu ekonomi adalah hubungan antara keinginan manusia dengan faktor-faktor produksi. Masalah pokok dalam perekonomian timbul kareana adanya scarcity (kelangkaan atau kekurangan) akibat dari ketidakseimbangan antara keinginan masyarakat dan faktor-faktor produksi yang tersedia. Keinginan masyarakat untuk memperoleh dan mengkonsumsi barang dan jasa dapat dibedakan menjadidua, yaitu keinginan yang disertai kemampuan membeli barang/jasa yang diinginkan dan keinginan yang disertai kemampuan membeli. keinginan yang disertai kemampuan membeli dinamakan permintaan efektif. (Panji,2007: 6)
pada tahun 2016 (data dari DISPERINDAG 2016), didalam menjalankan bisnis mandiri dalam memperoleh pendapatan bagi masyarakat tanpa memiliki ketergantungan kepada pemerintah, di saat ini usaha besar sangat sulit menyelamatkan diri mereka dari kehancuran, sebaliknya usaha home industry dapat bertahan di dalam krisis dengan segala keterbatsan.
Saat ini didalam upaya meningkatkan usaha, baik industri bersekala kecil maupun besar. Seharusnya pemerintah peka atau sadar akan adanya UKM (usaha kecil menengah), home industry yang sampai sekarang masih bertahan. Pemerintah seharusnya memegang peranan penting dalam meningkatkan usaha mandiri didalam perekonomian di Indonesia, baik di tinjau dari segi jumlah usaha maupun dari segi penciptaan lapangan kerja.
Berdasarkan yang diuraikan sebelumnya dapat dilihat bagaimana home industry dapat meningkatkan pendapatan pelaku usaha maupun daerah maka disini akan dijelaskan bagaimana pendapatan meningkat yang bisa dilihat melaui peningkatan investasi dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, dalam penelitian ini dirumuskan ke masalah yakni “Bagaimana home industrydalam peningkatan pendapatan rumah tangga pada Usaha Kue Bawang Bu Ani di Kisaran.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memperoleh pemahaman tentang bagaimana home industry dalam peningkatan pendapatan rumah tangga pada usaha rumahan home industry Kue Bawang Bu Ani di Kisaran.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
1. Secara subjektif, sebagai suatau sarana untuk melatih dan mengembangkan kemampuan berfikir ilmiah, sistematis, dan metodologis penulis dalam menyusun berbagai kajian literature untuk menjadikan suatu wacana baru dalam memperkaya khazanah ilmu pengetahuan.
2. Secara praktis, memberikan informasi dan pemahaman kepada masyarakat bahwa pekerjaan bukan hanya diperoleh dengan bekerja di instansi pemerintahaan maupun swasta saja melainkan dapat membuka usaha sendiri untuk meningkatkan ekonomi rumah tangga ke arah yang lebih baik dan menjadikan usaha rumahan tersebut sebagai sumber utama dari pendapatan rumah tangga.
ABSTRAK
HOME INDUSTRY DALAM PENINGKATAN PENDAPATAN RUMAH TANGGA
(Deskriftif Kualitatif Studi pada Usaha Kue Bawang Bu Ani)
Nama : Ayu Rahmawati
NIM : 120907019
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi : Ilmu Administrasi Bisnis
Pembimbing : Muhammad Arifin Nasution, S.Sos,
M.SP
Home industry adalah kegiatan usaha yang dilakukan di lingkungan rumah atau keluarga, usaha ini dapat dikatakan sebagai kegiatan bisnis yang menyenangkan, di samping dapat memberi keuntungan bagi para pelakunya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuka ide-ide baru untuk para usaha kecil yang baru-baru ini membuka usaha mikro kecil seperti home industry dan agar masyarakat mampu membuka peluang pasar yang inovatif dan menguntungkan masyarakat.
Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriftif kualitatif, informan utama Ibu Pemilik dan informan kunci karyawan Usaha Kue Bawang Bu Ani, dan analisis teknik data menggunakan wawancara, pengamatan dan dokumentasi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka hasil yang diperoleh melalui home industry, kita dituntutuntuk berpikir kreatif dan melakukan bisnis untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga, dan untuk keperluan sehari-hari seperti makanan, pakaian, sandang dan papan, home industri juga dapat membantu meningkatkan distribusi pendapatan sekitar, baik terlibat secara langsung maupun tidak langsung.