ABSTRAK
PENGARUH BUDGETARY GOAL CHARACTERISTICS TERHADAP KINERJA MANAJERIAL PADA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH (SKPD) PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA SE-PROVINSI
LAMPUNG
Oleh
AYU JUFIKA MUTIASARI
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh komponen budgetary goal characteristics yang terdiri dari partisipasi penyusunan anggaran, kejelasan tujuan anggaran, evaluasi anggaran, umpan balik anggaran, dan kesulitan tujuan anggaran terhadap kinerja manajerial pada SKPD. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster sampling untuk mengelompokan karakteristik kabupaten/kota yang akan dijadikan sampel dan diperoleh empat kabupaten dan satu kota, kemudian peneliti menggunakan probability multistage sampling dan mendapatkan 25 SKPD yang menjadi sampel. Data primer diperoleh dari penyebaran kuesioner dengan responden pejabat eselon III dan IV sebanyak 163 responden. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji analisis linear berganda dan data diolah menggunakan software SPSS versi 21 for windows.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel partisipasi penyusunan anggaran, umpan balik anggaran, dan kesulitan tujuan anggaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja manajerial pada SKPD. Sedangkan, variabel kejelasan tujuan anggaran dan evaluasi anggaran tidak berpengaruh terhadap kinerja manajerial pada SKPD.
ABSTRACT
THE INFLUENCE OF BUDGETARY GOAL CHARACTERISTICS ON MANAGERIAL PERFORMANCE OF SKPD IN REGENCY/CITY
GOVERNMENT OF LAMPUNG PROVINCE
By
AYU JUFIKA MUTIASARI
This study aims to examine the influence of components of budgetary goal characteristics which consist of budgetary participation, budget goal clarity, budgetary evaluation, budgetary feedback, and budget goal difficulty on managerial performance of SKPD. Sampling method used cluster sampling to
categorize regency/city’s characteristic and it obtained four regencies and one city, then the researchers used probability multistage sampling and it obtained 25 SKPDs which became the samples. The primary data was obtained from distributing questionnaires with 163 respondents as echelon officials of III and IV. Multiple linear regresion was used to test the hypothesis and data was tested by SPSS version 21 for windows.
The result indicates that budget participation, budgetary feedback, and budget goal difficulty have positive and significant influence over managerial performance of SKPD. However, budget goal clarity and budgetary evaluation have not influence over managerial performance of SKPD.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandarlampung pada tanggal 03 Juli 1992
dengan nama Ayu Jufika Mutiasari yang merupakan anak kedua dari
dua bersaudara dan putri dari Bapak Nabhan, S.H. dan Ibu Dra.
Yenni AR. Penulis memiliki seorang saudara perempuan yang
bernama Dini Pradipta Nursari, S.E.
Penulis menyelesaikan pendidikan kanak-kanak di TK Al-Azhar Way Halim tahun
1998, kemudian dilanjutkan dengan pendidikan dasar di SD Al-Azhar 1
Bandarlampung dan lulus pada tahun 2004. Selanjutnya, penulis menempuh
pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 4 Bandarlampung yang diselesaikan
pada tahun 2007, kemudian penulis melanjutkan pendidikan tingkat atas di SMA
Negeri 3 Bandarlampung hingga lulus pada tahun 2010.
Penulis terdaftar sebagai mahasiswi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Lampung melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri
(SNMPTN) pada tahun 2010. Selama menjadi mahasiswi, penulis aktif dalam
organisasi UKMF Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Universitas Lampung
sebagai Kepala Biro Kesekretariatan periode 2011-2012 dan Kepala Bidang III
PERSEMBAHAN
Dengan mengucap syukur atas nama Allah SWT.
Skripsi ini kupersembahkan kepada:
Kedua Orang Tuaku tercinta, Nabhan, S.H., dan Dra. Yenni AR, Kakakku, Dini Pradipta N., S.E., dan Seluruh Keluarga Besarku
Terima kasih atas cinta kasih, dukungan, bimbingan, dan pengertiannya selama ini
serta do’a yang selalu menyertai setiap langkah hidupku
Orang Terdekatku, Sahabat-Sahabat Terbaikku, dan Teman-Teman Seangkatan dan Seperjuangan
Yang selalu menemani, mendoakan, dan memberikan motivasi
Serta
MOTO
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, maka apabila kamu telah
selesai (dari suatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang
lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”
(Q.S Al Insyirah 94:6-8)
“Waktu itu bagaikan sebilah pedang, kalau engkau tidak memanfaatkannya, maka
ia akan memotongmu”
(Ali bin Abu Thalib)
“Hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti”
(Dewa 19)
“Pengetahuan diperoleh dengan belajar, kepercayaan dengan keraguan, keahlian
dengan berlatih, dan cinta dengan mencintai”
(Thomas Szasz)
“Underestimate someone and that person will beat you”
SANWACANA
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi dengan judul “Pengaruh Budgetary Goal Characteristics terhadap Kinerja Manajerial pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Kabupaten/Kota se-Provinsi Lampung”.
Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari dukungan, bimbingan, bantuan, dan kerja
sama semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaiannya. Untuk itu
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Satria Bangsawan, S.E., M.Si., selaku Dekan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung;
2. Bapak Dr. Einde Evana, S.E., M.Si.,Akt., selaku Ketua Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung;
3. Bapak Sudrajat, S.E., M.Acc., Akt., selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi
4. Bapak Saring Suhendro, S.E., M.Si., Akt., selaku Dosen Pembimbing
Utama yang telah meluangkan waktu untuk memberi saran, kritik,
bimbingan, dan nasihatnya dalam menyelesaikan skripsi ini;
5. Ibu Reni Oktavia, S.E., M.Si., selaku Dosen Pembimbing Kedua yang
telah banyak membantu dalam memberikan masukan, bimbingan,
perhatian, kesabaran, dan kesediaan meluangkan waktu selama proses
penyelesaian skripsi ini;
6. Ibu Dr. Ratna Septiyanti, S.E., M.Si., Akt. selaku Dosen Penguji Utama
yang telah memberikan masukan dan saran diberikan;
7. Ibu Liza Alvia, S.E., M.Sc., Akt., selaku Dosen Pembimbing Akademik;
8. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan ilmu
dan pengetahuan yang bermanfaat selama penulis menyelesaikan
pendidikan di Universitas Lampung;
9. Bapak Sobari, Mas Yana, Mas Leman, Mbak Sri, Mpok, dan Mas Yono
serta Seluruh Staf dan Karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Lampung, khususnya atas bantuannya selama penulis bergabung bersama
civitas akademika Universitas Lampung;
10.Kedua Orang Tuaku, Ayahanda Nabhan, S.H., dan Ibunda Dra. Yenni AR
sebagai motivator terbesar dalam menyelesaikan pendidikanku;
11.Kakakku, Dini Pradipta N., S.E. yang telah banyak memberi masukan dan
dukungan selama ini;
12.Sahabat-sahabat terbaikku, N. Wanda, Ira Puspita, Diasti R., Hani Fitria
A., Mona V., Rosani M., A. Iqbal Z., Prima A.K., Afrian A., dan Hana
waktu, perhatian, pengertian, dan dukungan yang telah diberikan selama
ini serta Adistia R.P. terima kasih untuk masih tetap dan selalu menjadi
sahabatku dengan segala cerita dan nasihat yang diberikan dari TK hingga
sekarang dan seterusnya. Sukses untuk kita semua.
13.Orang terdekatku, Kartono Dermadi yang selalu memberikan motivasi,
kesabaran, selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan, menemani,
menghibur, selalu menjadi penyemangat, dan memberikan kasih sayang.
Thanks for coming and being a part of my life;
14.Sahabat-sahabatku tersayang, Ira P., Adiati Ameici, Devy Wira B., Nurul
A., Dila Mutiara S., Alfudiafarrah, dan Irvia M. yang telah hadir dan
menemani di masa perkuliahan sehingga menjadi lebih menyenangkan.
Always wish us for the best, be healthy, be wealthy, and be happy !;
15.Teman-teman seperjuangan akuntansi 2010, A. Iqbal Z., Dianti W.,
Elychia R.P., Arlenti P., Egha I.P., Meyriski A., Devriyansyah I., Frilly
S.R., Susanto A., Eka N.S., Surya P.T., Wella P., Citra P., Deni R., Tiya
M., Ivonna N.H., Iga A., Ni Wayan E., Syarif H., Andriani R.H., Ira D.,
Rossy T.A., Dwi, Yesi S., F. Jeni O., Marlina S., Jane, Oksano P., Novia,
E.S. Pratiwi, , S. Teja P., Satria, Maria Ansela H., Ben, dan semua
teman-teman yang tidak mampu saya sebutkan satu persatu. Terima kasih atas
kebersamaannya selama ini, merupakan suatu kebanggaan bertemu dengan
kalian semua, dan sukses buat kita kedepannya;
16.Keluarga besar UKMF Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) sebagai
tempat belajar berorganisasi, bertanggung jawab, bekerja keras, bekerja
telah memberikan pengalaman yang sangat berarti. Terima kasih
rekan-rekan kepengurusan periode 2011-2012 (Kak Hadi, Kak Ratih, Kak Putri,
Kak Danepo, Sela, Kak Dhytha, Nurul, Aji, Kak Jalal, Satria, Nova) dan
rekan-rekan di kepengurusan periode 2012-2013 (Anas, Dianti, Nova,
Sela, Dani, Nurul, Dias, Cinta, Echa, Ginan, Bowo, Enyeng, Kartono,
Zahara, Deri, Gita);
17.Kak Nana, Kak Ria, Kak Ones, Kak Ben, Kak Aan, Kak Dane, Kak Ferdi,
dan kakak tingkatku lainnya serta adik-adik tingkatku, terima kasih untuk
semua bantuan selama menjalani perkuliahan sampai pada penyelesaian
skripsi ini.
18.Para responden di Pemerintah Kabupaten/Kota Provinsi Lampung yang
menjadi sampel penelitian, terima kasih atas partisipasinya.
19.Serta kepada semua pihak yang namanya tidak dapat disebutkan satu
persatu, penulis mengucapkan terima kasih atas semua bantuan yang telah
diberikan.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi
penulis, pembaca, dan pihak-pihak lainnya.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Bandarlampung, 04 September 2014
Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Batasan Masalah ... 6
1.4 Tujuan Penelitian ... 6
1.5 Manfaat Penelitian ... 7
1.5.1 Manfaat Teoretis ... 7
1.5.2 Manfaat Praktis Masalah ... 7
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1 Landasan Teori ... 8
2.1.1 Goal Setting Theory ... 8
2.1.2 Anggaran ... 9
2.1.3 Budgetary Goal Characteristics ... 10
2.1.3.1 Partisipasi Penyusunan Anggaran ... 11
2.1.3.2 Kejelasan Tujuan Anggaran ... 12
2.1.3.3 Evaluasi Anggaran ... 13
2.1.3.5 Kesulitan Tujuan Anggaran ... 15
2.1.3.6 Kinerja Manajerial pada SKPD ... 16
2.2 Penelitian Terdahulu ... 17
2.3 Model Penelitian ... 19
2.4 Pengembangan Hipotesis ... 20
2.4.1 Pengaruh Partisipasi Penyusunan Anggaran terhadap Kinerja Manajerial pada SKPD ... 20
2.4.2 Pengaruh Kejelasan Tujuan Anggaran terhadap Kinerja Manajerial pada SKPD ... 21
2.4.3 Pengaruh Evaluasi Anggaran terhadap Kinerja Manajerial pada SKPD ... 22
2.4.4 Pengaruh Umpan Balik Anggaran terhadap Kinerja Manajerial pada SKPD ... 23
2.4.5 Pengaruh Kesulitan Tujuan Anggaran terhadap Kinerja Manajerial pada SKPD ... 24
BAB III. METODE PENELITIAN 3.1 Populasi dan Sampel ... 25
3.2 Data Penelitian ... 27
3.2.1 Jenis dan Sumber Data ... 27
3.2.2 Teknik Pengumpulan Data ... 28
3.3 Operasional Variabel Penelitian ... 28
3.4 Metode Analisis Data ... 32
3.4.1 Statistik Deskritif ... 32
3.4.2 Uji Kualitas Data ... 33
3.4.3 Uji Asumsi Klasik ... 34
3.5 Pengujian Hipotesis ... 35
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Data ... 38
4.2 Profil Responden ... 39
4.4 Hasil Pengujian Kualitas Data ... 42
4.4.1 Hasil Uji Validitas ... 42
4.4.2 Hasil Uji Reliabilitas ... 45
4.5 Hasil Pengujian Asumsi Klasik ... 45
4.5.1 Hasil Uji Normalitas ... 45
4.5.2 Hasil Uji Multikoliniearitas ... 47
4.5.3 Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 48
4.6 Hasil Pengujian Hipotesis ... 48
4.6.1 Hasil Uji Koefisien Determinasi ... 49
4.6.2 Hasil Uji Kelayakan Model ... 50
4.6.3 Hasil Uji Hipotesis ... 50
4.7 Pembahasan ... 52
4.7.1 Pengaruh Partisipasi Penyusunan Anggaran terhadap Kinerja Manajerial pada SKPD ... 52
4.7.2 Pengaruh Kejelasan Tujuan Anggaran terhadap Kinerja Manajerial pada SKPD ... 54
4.7.3 Pengaruh Evaluasi Anggaran terhadap Kinerja Manajerial pada SKPD ... 56
4.7.4 Pengaruh Umpan Balik Anggaran terhadap Kinerja Manajerial pada SKPD ... 59
4.7.5 Pengaruh Kesulitan Tujuan Anggaran terhadap Kinerja Manajerial pada SKPD ... 61
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 63
5.2 Keterbatasan Penelitian ... 64
5.3 Saran ... 65
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel ... 31
Tabel 4.1 Tingkat Pengembalian Kuesioner ... 39
Tabel 4.2 Profil Responden ... 40
Tabel 4.3 Hasil Analisis Deskriptif ... 41
Tabel 4.4 KMO and Bartlett’s test ... 43
Tabel 4.5 Analisis Faktor ... 44
Tabel 4.6 Hasil Uji Validitas ... 45
Tabel 4.7 Hasil Uji Reliabilitas ... 45
Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas ... 46
Tabel 4.9 Hasil Uji Multikolinearitas ... 47
Tabel 4.10 Hasil Uji Koefisien Determinasi ... 49
Tabel 4.11 Hasil Uji Kelayakan Model ... 50
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Kuesioner
Lampiran 2. Administrasi Penelitian
Lampiran 3. Profil Responden
Lampiran 4. Tabulasi Jawaban Responden
Lampiran 5. Hasil Uji Statistik Deskriptif dan Uji Kualitas Data
Lampiran 6. Hasil Uji Asumsi Klasik
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1 Hasil Uji Normalitas – Grafik Normal P-Plot ... 46
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Menurut Bastian (2006:163) anggaran mengungkapkan apa yang akan dilakukan
di masa mendatang. Anggaran menjadi alat manajerial yang umum digunakan
karena sebagai salah satu elemen penting dalam perencanaan keuangan
perusahaan dan juga sebagai alat pengendalian, koordinasi, evaluasi kinerja, serta
motivasi dalam pencapaian tujuan perusahaan. Melalui anggaran, atasan dapat
melakukan evaluasi kinerja dengan membandingkan tujuan yang telah
dianggarkan dan kinerja aktual serta menentukan imbalan atau hukuman dari hasil
pencapaian kinerja bawahannya. Oleh karenanya, anggaran dapat memotivasi
individu dalam bekerja sehingga dapat meningkatkan sikap dan kinerja
manajerial.
Penganggaran seharusnya diawali dengan penetapan tujuan, target, dan kebijakan.
Pengetahuan mengenai tujuan anggaran akan memberikan kesamaan persepsi
antara berbagai pihak tentang apa yang akan dicapai. Hal ini sangat penting bagi
kesuksesan anggaran. Dalam proses penyusunan anggaran penting adanya
keterlibatan berbagai pihak yang berperan dalam mempersiapkan dan memberikan
2
(1975) penyusunan anggaran secara partisipatif diharapkan akan meningkat
kinerja manajerial, dimana ketika suatu tujuan dirancang dan secara partisipatif
disetujui maka karyawan akan menginternalisasi tujuan yang ditetapkan, dan
memiliki rasa tanggung jawab pribadi untuk mencapainya karena mereka ikut
terlibat dalam penyusunan anggaran.
Tidak hanya partisipasi dalam penyusunan anggaran yang dapat meningkatkan
kinerja manajerial. Dalam perencanaan anggaran terdapat beberapa karakteristik
tujuan anggaran (budgetary goal characteristics). Menurut Kenis (1979), variasi dalam penyusunan anggaran manajer tingkat atas seperti yang direfleksikan dalam
budgetary goal characteristics memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja dari manajer tingkat bawah. Agar pelaksanaan anggaran dapat berjalan
secara efektif, penyusunan anggaran dan penerapannya harus memperhatikan lima
komponen budgetary goal characteristics, yaitu partisipasi penyusunan anggaran, kejelasan tujuan anggaran, evaluasi anggaran, umpan balik anggaran, dan
kesulitan tujuan anggaran.
Beberapa peneliti sebelumnya telah menguji pengaruh salah satu, beberapa, atau
keseluruhan komponen dari budgetary goal charcteristics. Dalam penelitian Ritonga (2008) dan Nurkemala (2011) menemukan adanya pengaruh positif dan
signifikan antara partisipasi penyusunan anggaran dan kinerja. Di lain sisi,
Gandasuli dkk. (2009) dan Octavia (2009) menemukan partisipasi penyusunan
anggaran tidak berpengaruh terhadap kinerja manajerial. Kemudian, kejelasan
tujuan anggaran ditemukan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja
pemerintah daerah (Suwandi, 2013). Namun, menurut Handayani (2013)
3
manajerial. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wulandari (2009) dan
Suluh (2013), evaluasi anggaran, umpan balik anggaran, dan tingkat kesulitan
anggaran secara parsial tidak ditemukan mempunyai pengaruh signifikan terhadap
kinerja manajerial. Namun dalam Fahrianta (2001) umpan balik anggaran
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja manajerial melalui dampak
positif signifikan motivasi ekstrinsik. Penelitian yang dilakukan Istiyani (2009),
Laoli (2012), dan Herawansyah dkk. (2013) membuktikan bahwa secara
bersama-sama budgetary goal characteristics berpengaruh terhadap kinerja. Pada
penelitian lainnya, Murthi dan Sujana (2009) dan Kurnia (2009) budgetary goal characteristics tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajerial.
Hasil penelitian mengenai pengaruh kelima komponen budgetary goal characteristics terhadap kinerja manajerial masih menunjukkan
ketidakkonsistenan. Penelitian sebelumnya juga lebih banyak memfokuskan pada
partisipasi penyusunan anggaran dan belum banyak yang melakukan penelitian
dengan menggunakan kelima komponen budgetary goal characteristics tersebut. Hasil penelitian yang tidak konsisten dan masih sedikit yang melakukan penelitian
mengenai hal tersebut mendorong peneliti untuk melakukan penelitian kembali.
Penelitian ini mengacu pada penelitian Istiyani (2009) dan Herawansyah dkk.
(2013). Hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya, yaitu
penelitian ini hanya menguji pengaruh kelima komponen budgetary goal characteristics terhadap kinerja manajerial.
Penelitian mengenai hubungan antara komponen budgetary goal characteristics
dan kinerja manajerial pada organisasi sektor swasta telah banyak dilakukan,
4
(2013). Penelitian dengan topik yang sama namun pada organisasi sektor publik
juga pernah dilakukan beberapa peneliti terdahulu seperti Istiyani (2009) dan
Herawansyah dkk. (2013) yang menunjukkan bahwa budgetary goal characteristics berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja manajerial pemerintah daerah. Penganggaran pada organisasi sektor publik tidak sama
dengan penganggaran pada organisasi sektor swasta. Pada organisasi sektor publik
lebih ditekankan pada konsep penganggaran kinerja, yaitu menekankan pada
orientasi output (keluaran) dan outcome (hasil) yang memiliki konsekuensi pada mekanisme penyusunan anggaran yang lebih partisipatif (Damanik, 2011). Dalam
konteks pemerintahan, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sebagai unit kerja
yang mempunyai kegiatan dalam penyusunan dan pelaksanaan anggaran agar
dalam pelaksanaannya tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Oleh karena itu, penulis tertarik untuk menggunakan organisasi sektor publik
sebagai objek penelitian.
Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul “Pengaruh Budgetary Goal Characteristics terhadap Kinerja
Manajerial pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah
Kabupaten/Kota Se-Provinsi Lampung”.
1.2 Rumusan Masalah
Proses penyusunan anggaran pada dasarnya proses penetapan peran dalam
melaksanakan kegiatan untuk pencapaian tujuan anggaran yang telah ditetapkan.
Peran bawahan dalam penyusunan anggaran sebagai pemberi informasi mengenai
5
dicapai. Berdasarkan goal setting theory, individu yang diberi tujuan yang spesifik, sulit tapi dapat dicapai, dan munculnya feedback, memiliki kinerja yang lebih baik (Rini dkk., 2012). Dengan tujuan anggaran yang jelas akan
memudahkan individu dalam melaksanakan anggaran dan mencapai target
anggaran sehingga dapat memberikan suatu tingkat kepuasan kerja dan
berdampak pada kinerja yang semakin baik.
Demikian juga Kenis (1979) menyatakan penyusunan anggaran dan penerapannya
harus memperhatikan lima komponen budgetary goal characteristics (partisipasi penyusunan anggaran, kejelasan tujuan anggaran, evaluasi anggaran, umpan balik
anggaran, dan kesulitan tujuan anggaran). Terkait dengan hal ini, kinerja aparat
pemerintah dapat dipengaruhi oleh budgetary goal characteristics dan tentunya ikut berdampak pada kinerja anggaran tersebut. Dengan demikian, budgetary goal characteristics dapat berimplikasi pada kinerja manajerial pada SKPD dalam penyusunan dan pelaksanaan anggaran.
Berdasarkan pemaparan di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah partisipasi penyusunan anggaran berpengaruh terhadap kinerja
manajerial pada SKPD?
2. Apakah kejelasan tujuan anggaran berpengaruh terhadap kinerja manajerial
pada SKPD?
3. Apakah evaluasi anggaran berpengaruh terhadap kinerja manajerial pada
6
4. Apakah umpan balik anggaran berpengaruh terhadap kinerja manajerial pada
SKPD?
5. Apakah kesulitan tujuan anggaran berpengaruh terhadap kinerja manajerial ?
pada SKPD
1.3 Batasan Masalah
Untuk memfokuskan penelitian agar masalah yang diteliti memiliki ruang lingkup
dan arah yang jelas, maka batasan masalah yang ditentukan oleh peneliti adalah:
1) Terdapat lima variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu
partisipasi penyusunan anggaran, kejelasan tujuan anggaran, evaluasi
anggaran, umpan balik anggaran, dan kesulitan tujuan anggaran serta satu
variabel dependen, yaitu kinerja manajerial pada SKPD.
2) Penelitian ini dilakukan pada beberapa pemerintah daerah yang dapat
mewakili seluruh Kabupaten/Kota Se-Provinsi Lampung.
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian ini adalah untuk menguji budgetary goal characteristics yang terdiri dari partisipasi penyusunan anggaran, kejelasan tujuan anggaran, evaluasi
anggaran, umpan balik anggaran, dan kesulitan tujuan anggaran berpengaruh
terhadap kinerja manajerial pada SKPD Pemerintah Kabupaten/Kota se-Provinsi
7
1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Teoretis
Penelitian ini dapat menambah wacana bagi ilmu akuntansi sektor publik tentang
bagaimana pengaruh budgetary goal characteristics terhadap kinerja manajerial pada sektor pemerintahan. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi dokumen
akademik yang berguna dan dijadikan informasi tambahan untuk penelitian
sejenis di masa mendatang.
1.5.2 Manfaat Praktis
Penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pemerintah daerah
dalam penyusunan anggaran SKPD yang sesuai ketentuan dalam rangka
meningkatkan kinerja manajerial di SKPD untuk mencapai tujuan anggaran yang
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1 Landasan Teori 2.1.1 Goal Setting Theory
Goal setting theory merupakan bagian dari teori motivasi yang dikemukakan oleh Edwin Locke pada tahun 1978. Teori ini menyatakan bahwa karyawan yang
memiliki komitmen tujuan tinggi akan mempengaruhi kinerja manajerial. Adanya
tujuan individu menentukan seberapa besar usaha yang akan dilakukannya,
semakin tinggi komitmen karyawan terhadap tujuannya akan mendorong
karyawan tersebut untuk melakukan usaha yang lebih keras dalam mencapai
tujuan tersebut. Menurut Locke dan Latham (2002) dalam Lunenburg (2011)
tujuan memiliki pengaruh yang luas pada perilaku karyawan dan kinerja dalam
organisasi dan praktik manajemen.
Goal setting theory berasumsi bahwa ada hubungan langsung antara tujuan yang spesifik dan terukur dengan kinerja. Temuan utama dari goal setting theory adalah bahwa individu yang diberi tujuan yang spesifik dan sulit tapi dapat dicapai
memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan orang-orang yang menerima
tujuan yang mudah dan kurang spesifik atau tidak ada tujuan sama sekali. Pada
9
menerima tujuan yang ditetapkan dan menerima umpan balik yang berkaitan
dengan kinerja (Latham, 2003 dalam Lunenburg, 2011). Selain itu, menurut
Locke dan Latham (2002) sebuah tujuan agar efektif, dibutuhkan ringkasan
umpan balik yang mengungkapkan kemajuan manajer dalam mencapai tujuan.
Jika mereka tidak tahu bagaimana kemajuannya, akan sulit bagi mereka untuk
menyesuaikan tingkat atau arah usaha dalam menyesuaikan strategi kinerja untuk
mencocokkan apa yang diperlukan dalam mencapai tujuan. Dalam penetapan
tujuan juga, diperlukan keterlibatan dalam perencanaan untuk mengembangkan
strategi yang akan dilakukan dalam pencapaian tujuan. Adanya partisipasi dalam
penetapan tujuan anggaran akan menciptakan pertukaran informasi yang
memungkinkan pegawai untuk memperoleh pemahaman yang lebih jelas
mengenai tujuan anggaran sehingga nantinya dapat mengurangi ambiguitas dalam
melakukan pekerjaan mereka.
2.1.2 Anggaran
Anggaran merupakan gambaran rencana keuangan dari seluruh kegiatan
organisasi yang akan dilakukan selama periode tertentu. Menurut Mardiasmo
(2009) anggaran merupakan pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak
dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran finansial,
sedangkan penganggaran adalah proses atau metode untuk mempersiapkan suatu
anggaran. Secara teoretis, anggaran juga dapat dikatakan sebagai managerial plan for action untuk memfasilitasi tercapainya tujuan organisasi.
Dalam organisasi sektor publik anggaran menjadi rencana manajerial untuk
10
yaitu sebagai penyedia pelayanan publik yang baik (Halim, 2012). Anggaran
sektor publik merupakan satu kesatuan dari unsur pendapatan daerah, belanja
daerah, dan pembiayaan daerah. Dalam SKPD terdapat Rencana Kerja Anggaran
SKPD (RKA-SKPD) yang memuat rincian anggaran pendapatan, rincian
anggaran belanja tidak langsung SKPD (gaji pokok dan tunjangan pegawai,
tambahan penghasilan, khusus pada SKPD Sekretariat DPRD dianggarkan juga
Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRD), rincian anggaran belanja
langsung menurut program dan kegiatan SKPD (Permendagri No.27 Tahun 2013).
Anggaran tidak hanya sebagai alat perencanaan dan pengendalian, melainkan juga
sebagai alat bagi manajerial SKPD untuk mengkoordinasikan,
mengkomunikasikan, mengevaluasi kinerja, dan memotivasi bawahannya.
Menurut Bastian (2006) anggaran sektor publik mempunyai karakteristik sebagai
berikut: 1) dinyatakan dalam satuan keuangan dan satuan non keuangan, 2)
umumnya mencakup jangka waktu tertentu, 3) berisi komitmen manajemen untuk
mencapai tujuan yang ditetapkan, 4) usulan anggaran ditelaah dan disetujui oleh
pihak yang berwenang lebih tinggi dari penyusun anggaran, dan (5) sekali
disusun, anggaran hanya dapat diubah dalam kondisi tertentu.
2.1.3 Budgetary Goal Characteristics
Penentuan tujuan anggaran penting dilakukan sebagai tahap awal dari proses
penyusunan anggaran suatu organisasi sehingga dalam pelaksanaanya nanti dapat
terarah sesuai dengan tujuan dan hasil yang ingin dicapai. Menurut Kenis (1979)
terdapat lima hal yang diperlukan dalam mencapai tujuan anggaran atau disebut
11
1. Partisipasi penyusunan anggaran (Budgetary Participation). 2. Kejelasan tujuan anggaran (Budget Goal Clarity).
3. Evaluasi anggaran (Budgetary Evaluation). 4. Umpan balik anggaran (Budgetary Feedback). 5. Kesulitan tujuan anggaran (Budget Goal Difficulty).
2.1.3.1Partisipasi Penyusunan Anggaran
Partisipasi penyusunan anggaran merupakan keterlibatan individu dalam suatu
perencanaan anggaran dan memikul tanggung jawab atas keterlibatannya guna
pencapaian tujuan anggaran tersebut. Kenis (1979) menyatakan partisipasi
anggaran mengacu pada tingkat keikutsertaan manajer dalam penyusunan
anggaran dan mempengaruhi tujuan anggaran terhadap pusat pertanggungjawaban
manajer yang bersangkutan. Individu yang berpartisipasi akan terlibat dalam
penentuan tujuan anggaran. Keterlibatan ini akan membantu dalam memahami
tujuan yang akan dicapai oleh anggaran tersebut dan bagaimana akan
mencapainya dengan menggunakan sumber daya yang ada.
Partisipasi anggaran pada konteks pemerintahan dilihat dari seberapa besar
keikutsertaan aparat pemerintah dalam menyusun anggaran dan pelaksanaannya
untuk mencapai target. Bentuk partisipasi dalam penyusunan anggaran berupa
keterlibatan yang meliputi pemberian pendapat, pertimbangan dan usulan dari
bawahan kepada pimpinan dalam mempersiapkan dan merevisi anggaran.
Partisipasi penyusunan anggaran daerah terjadi pada saat pembahasan RAPBD.
Anggaran dibuat oleh eksekutif dalam hal ini kepala daerah melalui usulan dari
12
bersama DPRD menetapkan anggaran yang dibuat sesuai dengan peraturan daerah
yang berlaku.
Keikutsertaan unit kerja dalam penyusunan anggaran dapat memberikan
kesamaan tujuan yang ingin dicapai dan juga guna lebih memahami anggaran
yang diusulkan unit kerjanya sehingga berpengaruh pada tercapainya tujuan pusat
pertanggunjawaban anggaran mereka. Kunci dari kinerja yang efektif adalah
apabila tujuan dari anggaran tercapai dan partisipasi dari bawahan memegang
peranan penting dalam pencapaian tujuan tersebut (Kenis, 1979).
2.1.3.2Kejelasan Tujuan Anggaran
Tujuan adalah apa yang ingin dicapai oleh suatu organisasi di masa mendatang.
Menurut Kenis (1979) kejelasan tujuan anggaran merupakan tingkatan dimana
tujuan anggaran dinyatakan secara spesifik dan jelas dengan maksud agar
anggaran tersebut dapat dimengerti oleh pihak yang bertanggung jawab terhadap
pencapaian tujuan anggaran tersebut. Penetapan tujuan yang spesifik mendorong
individu bekerja lebih efektif sehingga berdampak pada pencapaian kinerja yang
diharapkan.
Penyusunan anggaran pemerintah daerah harus bisa menggambarkan tujuan
anggaran secara jelas, spesifik, dan dimengerti oleh aparat pemerintah yang
bertanggung jawab dalam melaksanakan anggaran tersebut. Kejelasan tujuan
anggaran sangat penting untuk mengarahkan pelaksana anggaran agar bertindak
kepada pencapaian tujuan sehingga tidak menimbulkan keraguan dan
kebingungan untuk merealisasikan tujuan yang telah ditetapkan. Kenis (1979)
13
anggaran akan memberikan reaksi positif yang relatif sangat kuat, yaitu adanya
peningkatan kepuasan kerja, penurunan ketegangan kerja, peningkatan sikap
karyawan terhadap anggaran, kinerja anggaran dan efesiensi biaya pada pelaksana
anggaran secara signifikan.
2.1.3.3Evaluasi Anggaran
Evaluasi merupakan proses pengukuran dan penilaian akan efektifitas strategi
yang digunakan dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Menurut Kenis (1979)
Evaluasi anggaran adalah tindakan yang dilakukan untuk menelusuri kembali
anggaran yang telah dilaksanakan ke departemen yang bersangkutan dan
digunakan sebagai dasar untuk penilaian kinerja departemen. Evaluasi anggaran
menyediakan informasi mengenai tingkat keberhasilan suatu tujuan telah dicapai,
yaitu dengan membandingkan antara anggaran dan realisasinya. Berdasarkan hasil
evaluasi anggaran dapat terlihat apakah terjadi penyimpangan dalam penggunaan
anggaran ataukah tidak dan dari hasil ini dapat ditetapkan sebagai dasar untuk
penilaian kinerja. Penilaian kinerja ini akan digunakan sebagai dasar dalam
memberikan umpan balik. Sehingga dapat dikatakan evaluasi anggaran juga
sebagai salah satu alat pengendalian terhadap kinerja anggaran.
Dalam penelitian Munawar (2006) menemukan bahwa evaluasi anggaran
berpengaruh terhadap kinerja aparat Pemerintah Kabupaten Kupang. Hal ini
menunjukkan bahwa dalam menyiapkan anggaran mereka selalu melakukan
evaluasi kegiatan-kegiatan yang telah diprogramkan dan pada pelaksanaan
anggaran, juga dilakukan evaluasi terhadap kegiatan yang telah dilakukan
14
2006 pasal 92, Kepala SKPD mengevaluasi hasil pelaksanaan program dan
kegiatan dua tahun anggaran sebelumnya sampai dengan semester pertama tahun
anggaran berjalan. Hasil evaluasi akan digunakan sebagai bahan pertimbangan
dalam menyiapkan anggaran untuk kegiatan dan program kerja berikutnya
sehingga kinerja di masa mendatang akan lebih baik.
2.1.3.4Umpan Balik Anggaran
Umpan balik anggaran merupakan hasil yang diperoleh dari pencapaian tujuan
anggaran yang telah dilakukan mengenai kinerja individu. Umpan balik
dimaksudkan untuk memberitahu karyawan mengenai keberhasilan atau
kegagalannya dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Kenis (1979)
menyatakan bahwa umpan balik menunjukkan tingkatan dimana tujuan anggaran
telah dicapai dan sebagai variabel penting yang memberikan motivasi kepada
manajer. Umpan balik dapat dijadikan sebagai motivasi bagi karyawan untuk
bekerja lebih giat dan menghasilkan prestasi kerja. Bagi individu, umpan balik
merupakan pengakuan atas prestasi dan kemampuan kerjanya, tanpa pengakuan
akan menyebabkan ketidakpuasan.
Dalam konteks pemerintahan, umpan balik anggaran yang diperoleh, yaitu dengan
melihat pencapaian tujuan anggaran yang telah ditetapkan. Ketika suatu kinerja
dikatakan baik dan tujuan berhasil dicapai, pegawai akan diberikan feedback yang positif berupa reward. Hal ini mendorong kepuasan kerja dan peningkatan kinerja bagi pegawai. Sedangkan ketika kinerja dikatakan kurang baik atau tujuan gagal
15
pengaruh yang positif terhadap kinerja. Mereka akan menganggap hal tersebut
sebagai tantangan untuk bekerja lebih baik lagi dan mengejar tujuan yang lebih
tinggi. Tanpa umpan balik sulit bagi para pegawai untuk memperbaiki atau
meningkatkan prestasinya, sebab mereka tidak tahu tingkat pencapaian hasil
kerjanya.
2.1.3.5Kesulitan Tujuan Anggaran
Kenis (1979) mengemukakan bahwa kesulitan tujuan anggaran mempunyai
rentang tujuan dari sangat longgar dan mudah dicapai sampai sangat ketat dan
sulit dicapai. Tujuan anggaran yang terlalu ketat dan sulit dicapai akan
memberikan ketegangan kerja tinggi, mengurangi motivasi, dan penolakan
terhadap tujuan akibatnya kinerja anggaran menurun jika dibandingkan dengan
memiliki tujuan anggaran ketat tetapi dapat dicapai. Locke (1968) juga
menyatakan bahwa sulitnya sasaran tugas mengakibatkan rendahnya kinerja
dibandingkan sasaran yang dapat dicapai. Sedangkan tujuan yang sanggat longgar
dan mudah dicapai gagal untuk memberikan suatu tantangan dan memiliki sedikit
motivasi. Pelaksana anggaran akan cenderung untuk bekerja tidak pada
kemampuan maksimumnya untuk mencapai tujuan. Sehingga tujuan yang ketat
tetapi dapat dicapai merupakan tingkat kesulitan tujuan anggaran yang tepat.
Anthony dan Govindajaran (1995) dalam Laoli (2012) menyatakan bahwa
anggaran yang ideal adalah anggaran yang ketat namun dapat mencapainya.
Dalam penyusunan anggaran yang bersifat partisipatif, individu yang terlibat akan
memberikan usulan mengenai tujuan anggaran yang akan dicapai, tentunya usulan
tersebut akan memperhatikan tingkat kesulitan dalam pencapaiannya. Sehingga
16
anggaran yang sudah ditetapkan dan mencapai tujuan anggaran tersebut.
2.1.4 Kinerja Manajerial pada SKPD
Kinerja merupakan tingkat keberhasilan yang telah dicapai oleh individu atau
sekelompok orang dalam suatu organisasi dari melaksanakan tugas dan tanggung
jawab mereka dalam menjalankan kegiatan organisasi guna mencapai tujuan yang
telah ditentukan. Menurut Bastian (2006) kinerja adalah gambaran mengenai
tingkat pencapaian mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan visi organisasi yang
tertuang dalam perumusan strategic planning suatu organisasi. Pada sektor
pemerintahan, kinerja merupakan prestasi yang dicapai oleh pegawai atau instansi
pemerintah dalam melaksanakan pelayanan kepada masyarakat.
Weihrich dan Koontz (2005) dalam Afrida (2013) mendefenisikan kinerja
manajerial sebagai kinerja manajer dalam mengerti dan memahami fungsi manajer
dalam mencapai tujuan kinerjanya, yang diukur dari bagaimana manajer tersebut
menjalankan aktivitas manajerialnya seperti planning, organizing, staffing, leading, dan controlling. Menurut Mahoney et.al (1963) yang dimaksud kinerja manajerial merupakan kinerja para individu anggota organisasi yang
melaksanakan kegiatan manajerial. Kinerja manajerial dalam penelitian ini adalah
kinerja pejabat struktural SKPD. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
merupakan pusat pertanggungjawaban yang dipimpin oleh kepala satuan kerja dan
bertanggung jawab atas entitasnya. Kinerja manajerial SKPD merupakan
pengukur untuk mengetahui tingkat keberhasilan pejabat struktural SKPD dalam
melaksanakan kegiatan-kegiatan manajerial yang mencakup perencanaan,
17
pengawasan dalam pencapaian tujuan organisasi, yaitu dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat.
Pada dasarnya kinerja yang dicapai oleh suatu organisasi adalah prestasi dari
anggota organisasi itu sendiri. Ketika pejabat struktural SKPD memiliki kinerja
yang baik, maka dengan sendirinya hal tersebut mencerminkan baiknya kinerja
SKPD tersebut. Sehingga penilaian kinerja merupakan penilaian atas perilaku
individu dalam melaksanakan perannya di dalam organisasi. Variabel kinerja
manajerial diukur dengan menggunakan instrumen self rating yang dikembangkan oleh Mahoney et.al (1965) dimana setiap responden diminta untuk mengukur kinerja sendiri ke dalam delapan dimensi, yaitu perencanaan, investigasi,
pengkoordinasian, evaluasi, pengawasan, pemilihan staf, negosiasi, dan
perwakilan, serta satu dimensi pengukuran kinerja secara keseluruhan.
Menurut Damanik (2011), kinerja dikatakan efektif apabila tujuan anggaran
tercapai dan bawahan mendapat kesempatan terlibat atau berpartisipasi dalam
proses penyusunan anggaran serta memotivasi bawahan mengidentifikasi dan
melakukan negosiasi dengan atasan mengenai target anggaran, menerima
kesepakatan anggaran dan melaksanakannya sehingga dapat menghindarkan
dampak negatif anggaran yaitu faktor kriteria kinerja, sistem penghargaan, dan
konflik. Pengukuran kinerja manajerial SKPD dilakukan untuk menilai seberapa
baik pegawai SKPD tersebut melakukan tugas pokok dan fungsi manajemen yang
dilimpahkan kepadanya selama periode tertentu.
2.2 Penelitian Terdahulu
18
terdahulu mengenai budgetary goal characteristics dan kinerja manajerial. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan antara lain oleh Kurnia (2004)
mengenai Pengaruh Budgetary Goal Characteristics terhadap Kinerja Manajerial dengan Budaya Paternalistik dan Komitmen Organisasi sebagai Moderating
Variabel (Studi Empiris pada Perguruan Tinggi Swasta Kopertis Wilayah III)
hasil yang diperoleh budgetary goal characteristics tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja manajerial serta budaya paternalistic dan
komitmen organisasi bukan merupakan kesesuaian terbaik dan tidak mampu
bertindak sebagai variabel moderating.
Murthi dan Sujana (2008) meneliti tentang Pengaruh Budgetary Goal
Characteristics terhadap Kinerja Manajerial pada Rumah Sakit Pemerintah di Kota Denpasar hasilnya budgetary goal characteristics tidak berpengaruh terhadap kinerja manajerial pada rumah sakit pemerintah di kota Denpasar.
Budaya paternalistik mampu memperlemah pengaruh budgetary goal
characteristics terhadap kinerja manajerial dan komitmen organisasi tidak mampu memperkuat pengaruh budgetary goal characteristics terhadap kinerja manajerial.
Menurut Rahmawati (2008) dalam penelitiannya mengenai Analisis Pengaruh
Budgetary Goal Characteristic dengan Kinerja Manajerial, Kepuasan Kerja, dan Komitmen Organisasi mendapatkan hasil bahwa budgetary goal characteristics
mempengaruhi kinerja manajerial dan kepuasan kerja serta komitmen organisasi
hanya memoderasi hubungan budgetary goal characteristics dan kinerja
manajerial. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur di Jabodetabek.
19
Aparat Pemerintah Daerah pada Pemerintah Kabupaten Temanggung. Hanya
evaluasi anggaran yang secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap kinerja aparat Pemerintah Kabupaten Temanggung. Namun kelima
komponen karakteristik tujuan anggaran secara bersama-sama berpengaruh positif
dan signifikan terhadap kinerja aparat Pemda Kabupaten Temanggung.
Penelitian Laoli (2012) tentang Pengaruh Karakteristik Tujuan Anggaran terhadap
Kinerja dengan Sikap Aparat Pemerintah Daerah sebagai Variabel Intervening
pada Pemerintah Kabupaten Nias. Didapat hasil karakteristik tujuan anggaran
(partisipasi anggaran, kejelasan tujuan anggaran, umpan balik anggaran, dan
kesulitan tujuan anggaran) berpengaruh signifikan terhadap kinerja aparat
Pemerintah Kabupaten Nias dan juga karakteristik tujuan anggaran berpengaruh
signifikan terhadap kinerja melalui sikap aparat Pemerintah Kabupaten Nias.
Herawansyah dkk. (2013) meneliti Pengaruh Budgetary Goal Characteristics dan Keadilan Prosedural terhadap Kinerja Manajerial Satuan Kerja Perangkat Daerah
Provinsi Bengkulu, menghasilkan Budgetary Goal Characteristics (BGC) dan keadilan prosedural berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja manajerial
SKPD. Dengan demikian semakin tinggi dan jelasnya Budgetary Goal Characteristics (BGC) serta semakin tinggi tingkat keadilan prosedural maka akan dapat meningkatkan kinerja manajerial SKPD pemerintah Provinsi
Bengkulu.
2.3 Model Penelitian
Berdasarkan penjelasan yang dipaparkan dapat dibuat model konseptual yang
20
H1
H2
H3
H4
H5
yang berkedudukan sebagai variabel independen dan variabel dependen.
Penelitian ini membahas ketergantungan satu variabel dependen yaitu kinerja
manajerial SKPD pada lima variabel independen yang menjelaskan lima
komponen budgetary goal characteristics.
2.4 Pengembangan Hipotesis
2.4.1 Pengaruh Partisipasi Penyusunan Anggaran terhadap Kinerja Manajerial pada SKPD
Partisipasi penyusunan anggaran memungkinkan adanya komunikasi yang
semakin baik antara atasan dan bawahan untuk bertukar informasi dalam
pembuatan anggaran. Individu yang memiliki partisipasi anggaran yang tinggi
akan lebih memahami tujuan anggaran. Karena kinerja akan dinilai berdasarkan
target anggaran yang bisa dicapai, maka mereka akan bersungguh-sungguh dalam
penyusunan anggaran. Dengan menyusun anggaran secara partisipatif diharapkan
kinerja manajerial akan meningkat. Ketika tujuan yang dirancang secara
partisipatif disetujui, maka pegawai akan menginternalisasikan tujuan yang
ditetapkan, dan juga akan memiliki rasa tanggung jawab untuk mencapainya
karena merasa ikut serta terlibat dalam penyusunan (Milani, 1975). Budgetary Goal Characteristics
Partisipasi Penyusunan Anggaran
Kejelasan Tujuan Anggaran
Evaluasi Anggaran
Umpan Balik Anggaran
Kesulitan Tujuan Anggaran
21
Ketika suatu tujuan anggaran SKPD yang dirancang secara partisipatif disetujui,
maka para partisipan tersebut akan memiliki rasa tanggung jawab untuk
mencapainya karena mereka ikut terlibat dalam penyusunannya dengan pemberian
usulan anggaran, sehingga semakin tinggi tingkat partisipasi suatu unit kerja
dalam proses penyusunan anggaran maka kinerja manajerialnya akan semakin
meningkat. Handayani (2013) menemukan bahwa partisipasi penyusunan
anggaran berpengaruh positif secara signifikan terhadap kinerja manajerial SKPD
di Pemerintah Kota Padang. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka hipotesis yang
diajukan sebagai berikut:
H1 : Partisipasi penyusunan anggaran berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial pada SKPD
2.4.2 Pengaruh Kejelasan Tujuan Anggaran terhadap Kinerja Manajerial pada SKPD
Kejelasan tujuan anggaran akan membantu pelaksana anggaran untuk mencapai
kinerja yang diharapkan. Ketika tujuan anggaran tidak jelas, maka akan mengarah
pada ketidakpastian dan kebingungan dalam perealisasian anggaran dan berakibat
pada penurunan kinerja. Tujuan anggaran yang jelas akan memberi tahu pelaksana
anggaran apa yang harus dilaksanakannya dalam mencapai tujuan tersebut.
Dengan begitu kejelasan tujuan anggaran akan mengakibatkan kepuasan kerja
meningkat dan berdampak pada peningkatan kinerja manajerial. Locke (1981)
dalam Badriyah dkk. (2013) juga menemukan bahwa dengan adanya kejelasan
tujuan akan mendorong para individu untuk melakukan yang terbaik dalam kerja
22
meningkatkan kinerja. Untuk itu anggaran daerah harus dapat menggambarkan
tujuan anggaran secara jelas, spesifik, dan dimengerti oleh semua pihak yang
bertanggung jawab terhadap pencapaiannya. Istiyani (2009) menemukan bahwa
Kejelasan tujuan anggaran berpengaruh positif secara signifikan terhadap kinerja
aparat Pemerintah Kabupaten Temanggung. Berdasarkan penjelasan tersebut,
maka hipotesis yang diajukan sebagai berikut:
H2 : Kejelasan tujuan anggaran berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial pada SKPD
2.4.3 Pengaruh Evaluasi Anggaran terhadap Kinerja Manajerial pada SKPD
Evaluasi anggaran dilaksanakan sebagai dasar penilaian kinerja. Diadakannya
evaluasi anggaran untuk mengetahui apakah tujuan anggaran yang sudah
ditetapkan telah berhasil dicapai ataukah belum. Evaluasi anggaran biasanya
dilakukan dengan melihat anggaran yang telah ditetapkan dengan realisasinya
untuk melihat penyimpangan anggaran yang terjadi. Hasil evaluasi anggaran juga
dapat dijadikan pedoman dalam perencanaan anggaran berikutnya karena akan
diketahui kekurangan atau kelemahan dalam pelaksanaan anggaran dari kegiatan
yang telah dilakukan sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama dan kinerja
dapat ditingkatkan. Semakin tinggi tingkat evaluasi yang dilakukan terhadap
pelaksana anggaran dapat memperbaiki kinerja para aparat pemerintah dalam hal
penggunaan anggaran sehingga akan mempertinggi kinerja (Laoli, 2012). Hasil
penelitian Damanik (2011) menunjukkan evaluasi anggaran berpengaruh positif
23
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka hipotesis yang diajukan sebagai berikut:
H3 : Evaluasi anggaran berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial pada SKPD
2.4.4 Pengaruh Umpan Balik Anggaran terhadap Kinerja Manajerial pada SKPD
Setiap individu harus mengetahui hasil dari usahanya untuk mempunyai dasar
menentukan sukses atau gagal kinerjanya. Umpan balik anggaran menunjukkan
tingkat pencapaian tujuan anggaran yang telah tercapai. Tidak adanya umpan
balik akan mengakibatkan ketidakpuasan, yang berakibat pada penurunan kinerja
dan adanya umpan balik dapat mendorong aspirasi yang tinggi untuk pencapaian
lebih lanjut, kepuasan pribadi yang lebih besar, serta meningkatkan kinerja
manajerial. Umpan balik tercapainya tujuan anggaran berupa reward dapat mendorong kepuasan bekerja dan umpan balik berupa hukuman akibat kurang
tercapainya tujuan anggaran dapat mendorong individu untuk bekerja lebih giat
dan memperbaiki kesalahan sehingga tujuan anggaran selanjutnya akan tercapai
dan kinerja manajerial meningkat. Umpan balik anggaran diharapkan dapat
memotivasi untuk meningkatkan kinerja individu yang terlibat di dalamnya.
Damanik (2011) menemukan bahwa umpan balik anggaran berpengaruh positif
secara signifikan terhadap kinerja manajerial Pemerintah Kota Tebing Tinggi.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka hipotesis yang diajukan sebagai berikut:
24
2.4.5 Pengaruh Kesulitan Tujuan Anggaran terhadap Kinerja Manajerial pada SKPD
Dalam penetapan tujuan anggaran, pihak partisipan akan memperhatikan tingkat
kesulitan dalam mencapai tujuan anggaran tersebut. Tujuan anggaran yang dibuat
dengan tingkat kesulitan tinggi atau terlalu ketat akan menimbulkan ketegangan
kerja tinggi yang membuat para pegawai merasa gagal dan frustasi sebelum
mencapainya sehingga dampaknya tujuan anggaran tidak tercapai dan kinerja
manajerial menurun. Namun jika tujuan anggaran dibuat terlalu longgar dan
mudah untuk dicapai, para pegawai akan merasa kurang termotivasi dan tidak
menimbulkan suatu tantangan dalam melaksanakan tujuan anggaran sehingga
usaha yang diberikan akan kurang maksimal. Tujuan dengan tingkat kesulitan
yang tidak terlalu mudah atau sulit namun masih dapat tercapai akan memotivasi
dan memberi tantangan tersendiri bagi pegawai untuk mencapainya, tetapi jika
tingkat kesulitan tujuan anggaran sudah melampaui batas kemampuan pegawai,
maka akan menurunkan kinerja. Sehingga kesulitan tujuan anggaran yang tepat
kinerja manajerial pada SKPD dapat meningkat dengan tingkat kesulitan yang
ketat dan dapat dicapai. Hasil penelitian Herawansyah dkk. (2013) menunjukkan
hubungan positif dan signifikan antara tingkat kesulitan anggaran dengan kinerja
manajerial SKPD Pemerintah Provinsi Bengkulu. Berdasarkan penjelasan
tersebut, maka hipotesis yang diajukan sebagai berikut:
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah pejabat struktural SKPD yang terlibat pada
proses penyusunan anggaran dan pelaksanaan anggaran di pemerintah
kabupaten/kota se-Provinsi Lampung. Teknik pengambilan sampel untuk
pemerintah kabupaten/kota dilakukan dengan cluster sampling dan untuk SKPD dan responden di masing-masing pemerintah kabupaten/kota dilakukan dengan
teknik multistage sampling. Penggunaan metode ini karena ketidakmungkinan untuk menjangkau populasi yang luas dan biaya yang tinggi
Adapun tahapan pemilihan sampel dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Pemilihan sampel pemerintah kabupaten/kota dilakukan dengan cluster sampling atau secara acak berdasarkan kelompok dengan probabilitas yang sama. Menurut Indriantoro dan Supomo (2002:125) cluster sampling adalah pemilihan sampel secara acak dengan membagi populasi menjadi subpopulasi
yang bersifat heterogen. Sampel kemudian dipilih secara acak dari setiap
subpopulasi untuk diteliti lebih lanjut.
Pemerintah daerah yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah dua
26
satu pemerintah kota dan kelima daerah ini dianggap sudah dapat mewakili
pemerintah kabupaten/kota yang ada se-Provinsi Lampung, yaitu:
a) Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan sebagai pemerintah kabupaten
induk.
b) Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah sebagai pemerintah kabupaten
induk.
c) Pemerintah Kabupaten Pesawaran sebagai pemerintah kabupaten hasil
pemekaran.
d) Pemerintah Kabupaten Pringsewu sebagai pemerintah kabupaten hasil
pemekaran.
e) Pemerintah Kota Bandar Lampung mewakili sebagai pemerintah kota.
2. Sedangkan pemilihan sampel untuk SKPD dan responden di masing-masing
pemerintah kabupaten/kota dilakukan dengan teknik multistage sampling atau secara bertahap. Menurut Indriantoro dan Supomo (2002:126) multistage sampling adalah teknik pemilihan sampel dilakukan secara beberapa tahap dengan menggunakan unit sampling yang lebih kecil pada setiap tahapnya untuk mendapatkan calon responden yang diinginkan dengan probabilitas
yang sama. Penelitian dilakukan pada SKPD karena kegiatan badan atau
dinas secara langsung berhubungan dengan pelayanan kepada masyarakat dan
juga merupakan satuan kerja pemerintah yang menyusun, menggunakan, dan
melaporkan realisasi anggaran atau sebagai pelaksana anggaran dari
pemerintah daerah.
27
a) Dinas Pendapatan Daerah sebagai profit center
b) Dinas Perhubungan sebagai profit center
c) Dinas Pendidikan sebagai cost center
d) Dinas Kesehatan sebagai cost center
e) Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah sebagai administration center
Pemilihan SKPD tersebut dianggap dapat mewakili seluruh SKPD yang ada
pada pemerintah kabupaten/kota yang ada se-Provinsi Lampung yang
digolongkan berdasarkan pusat pertanggungjawabannya.
3. Aparat pemerintah yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah
pejabat struktural SKPD yang terlibat secara langsung dalam proses
penyusunan dan pengusulan anggaran serta pelaksanaan anggaran. Fokus
responden penelitian ini adalah pejabat eselon III dan IV (kepala bidang dan
kepala subbagian/seksi/subbidang) dikarenakan rata-rata pejabat terkait
adalah pejabat level tengah dan bawah yang bertanggung jawab pada
penyusunan anggaran dan pelaksanaan anggaran pada setiap unit kerjanya
pada SKPD.
3.2 Data Penelitian
3.2.1 Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data primer dengan metode survei, yaitu melakukan
penyebaran kuesioner langsung kepada responden. Kuesioner dibuat dalam bentuk
pertanyaan-pertanyaan secara terstruktur dimana responden dibatasi dalam
28
penelitian ini diperoleh langsung dari responden, yaitu pejabat struktural SKPD
pada pemerintah kabupaten/kota se-Provinsi Lampung yang menjadi sampel
dalam penelitian ini.
3.2.2 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode distribusi langsung
(direct distribution method), yaitu mendatangi para responden secara langsung untuk menyerahkan ataupun mengumpulkan kembali kuesioner. Metode ini
bertujuan untuk memperoleh tingkat pengembalian kuesioner yang tinggi.
Pengambilan kembali kuesioner disesuaikan dengan waktu yang telah disepakati
oleh peneliti dengan yang bersangkutan.
3.3 Operasional Variabel Penelitian
Penelitian ini menggunakan lima variabel bebas (independen), yaitu partisipasi penyusunan anggaran, kejelasan tujuan anggaran, evaluasi anggaran, umpan balik
anggaran, dan kesulitan tujuan anggaran yang merupakan komponen dari
budgetary goal characteristics serta satu variabel terikat (dependen), yaitu kinerja manajerial pada SKPD.
1. Variabel Dependen (Terikat)
Variabel dependen berupa kinerja manajerial pada SKPD merupakan
pengukur untuk mengetahui tingkat keberhasilan pejabat sruktural SKPD
melaksanakan kegiatan manajerial meliputi perencanaan, investigasi,
29
et.al (1965) yang dikembangkan oleh Octavia (2009) dan Wulandari (2013). Skala pengukuran yang digunakan adalah skala interval dengan menggunakan
skala likert lima poin dari sangat tidak setuju sampai sangat setuju.
2. Variabel Independen (Bebas)
Variabel independen berupa budgetary goal characteristics yang terdiri dari lima komponen, yaitu:
a. Partisipasi penyusunan anggaran merupakan tingkat pengaruh dan
keterlibatan yang dirasakan oleh individu dalam proses perencanaan
anggaran (Milani, 1975). Instrumen pengukuran terdiri dari enam item
pertanyaan yang diadopsi dari Milani (1975) dan telah dimodifikasi oleh
Octavia (2009) dan Wulandari (2009). Skala pengukuran yang digunakan
adalah skala interval dengan menggunakan skala likert lima poin dari
sangat tidak setuju sampai sangat setuju.
b. Kejelasan tujuan anggaran menggambarkan tingkatan dimana tujuan
anggaran program dan kegiatan SKPD dinyatakan secara spesifik, jelas,
dan dimengerti oleh pihak yang bertanggung jawab terhadap anggaran.
Instrumen pengukuran diadopsi dari Kenis (1979) dan telah dimodifikasi
oleh Syafrial (2009) dan Pratiwi (2012). Skala pengukuran yang
digunakan adalah skala interval dengan menggunakan skala likert lima
poin dari sangat tidak setuju sampai sangat setuju.
c. Evaluasi anggaran merupakan tindakan yang dilakukan untuk melihat
selisih anggaran program dan kegiatan SKPD dengan realisasinya
30
untuk mengevaluasi kinerja bawahan. Instrumen pengukuran diadopsi
dari Kenis (1979) dan telah dimodifikasi oleh Istiyani (2009) dan
Rangkuti (2013). Skala pengukuran yang digunakan adalah skala interval
dengan menggunakan skala likert lima poin dari sangat tidak setuju
sampai sangat setuju.
d. Umpan balik anggaran menunjukkan hasil yang diperoleh dari upaya
SKPD untuk mencapai tujuan anggaran yang telah ditetapkan sebagai
dasar untuk merasakan kesuksesan atau kegagalan.Variabel ini diukur
menggunakan instrumen yang diadopsi dari Kenis (1979) dan telah
dimodifikasi oleh Pratiwi (2012). Skala pengukuran yang digunakan
adalah skala interval dengan menggunakan skala likert lima poin dari
sangat tidak setuju sampai sangat setuju.
e. Kesulitan tujuan anggaran didefinisikan sebagai tingkatan kesulitan
dalam pencapaian tujuan anggaran program dan kegiatan yang
dipersepsikan oleh individu dalam SKPD. Instrumen pengukuran
diadopsi dari Kenis (1979) dan telah dimodifikasi oleh Rangkuti (2013).
Skala pengukuran yang digunakan adalah skala interval dengan
menggunakan skala likert lima poin dari sangat tidak setuju sampai
31
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Variabel
Penelitian Definisi Operasional Indikator Pengukuran
Skala Pengukuran
Kinerja Manajerial pada SKPD (Y)
Pengukur untuk mengetahui sejauhmana tingkat keberhasilan pegawai SKPD melaksanakan kegiatan-kegiatan manajerial dalam pencapaian tujuan organisasi. 1. Perencanaan 2. Investigasi 3. Koordinasi 4. Evaluasi 5. Pengawasan 6. Staffing 7. Negosiasi 8. Perwakilan
9. Kinerja secara keseluruhan
Interval
Budgetary Goal Characteristics
Partisipasi Penyusunan Anggaran (X1)
Tingkat pengaruh dan keterlibatan yang dirasakan oleh individu dalam proses
perencanaan anggaran (Milani, 1975).
1. Keikutsertaan dalam penyusunan anggaran 2. Kepuasan dalam penyusunan
anggaran
3. Kebutuhan memberikan pendapat
4. Kerelaan dalam memberikan pendapat
5. Besarnya pengaruh terhadap penetapan anggaran akhir 6. Seringnya atasan meminta pendapat atau usulan saat anggaran sedang disusun
Interval
Kejelasan Tujuan Anggaran (X2)
Menggambarkan tingkatan dimana tujuan anggaran program dan kegiatan SKPD
dinyatakan secara spesifik, jelas, dan dimengerti oleh pihak yang bertanggung jawab terhadap anggaran.
1. Mengetahui dengan jelas dan tepat tujuan anggaran 2. Mengetahui dengan jelas
prioritas dari anggaran 3. Perkiraan ketidakjelasan
anggaran dalam bidangnya
Interval
Evaluasi Anggaran (X3)
Menunjukkan sejauh mana selisih anggaran program dan kegiatan SKPD dengan
realisasinya diperiksa oleh pimpinan ke masing-masing bawahan dan digunakan untuk mengevaluasi kinerja bawahan dalam penyusunan dan penggunaan anggaran.
1. Pencapaian efisiensi yang dapat dilakukan responden sebagai pengawas anggaran bidang kerjanya.
2. Sikap dan penilaian pimpinan kepada responden atas penyimpangan anggaran unit kerja yang telah dilakukan. 3. Penjelasan responden kepada
pimpinan mengenai item-item yang menyebabkan
penyimpangan anggaran unit kerja.
Interval
Umpan Balik Anggaran (X4)
Hasil yang diperoleh dari upaya SKPD untuk mencapai tujuan anggaran yang telah ditetapkan sebagai dasar
1. Jumlah perolehan umpan balik mengenai pencapaian tujuan anggaran
2. Adanya umpan balik dan pedoman mengenai
32
untuk merasakan kesuksesan atau kegagalan.
penyimpangan anggaran 3. Respon atasan atas
tercapainya tujuan anggaran yang telah ditetapkan Kesulitan
Tujuan Anggaran (X5)
Tingkatan kesulitan pencapaian tujuan anggaran program dan kegiatan yang
dipersepsikan oleh individu dalam SKPD.
1. Tingkat kesulitan dan usaha responden dalam pencapaian tujuan anggaran.
2. Tingkat keahlian dan pengetahuan yang dimiliki responden dalam pencapaian anggaran.
3. Pendapat responden mengenai tujuan anggaran yang ingin dicapai pada unit kerjanya.
Interval
3.4 Metode Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan program aplikasi
komputer, yaitu program SPSS (Statistical Product and Service Solutions) 21. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
3.4.1 Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran atau deskripsi suatu
data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, dan range, (Ghozali, 2013). Deskripsi mengenai variabel-variabel penelitian (budgetary goal characteristics: partisipasi penyusunan anggaran, kejelasan tujuan anggaran, evaluasi anggaran, umpan balik anggaran, dan
kesulitan tujuan anggaran; dan kinerja manajerial pada SKPD) dijabarkan dalam
tabel statistik deskriptif dan tabel frekuensi. Statistik deskriptif juga memberikan
gambaran umum mengenai demografi responden penelitian meliputi, jenis
kelamin, umur, tingkat pendidikan, jabatan, dan lama pengalaman bekerja di
33
3.4.2 Uji Kualitas Data
Penelitian yang mengukur variabel menggunakan isntrumen dalam bentuk
kuesioner harus dilakukan pengujian kualitas terhadap data yang diperoleh dengan
uji validitas dan realibilitas. Pengujian tersebut bertujuan untuk mengetahui
apakah intrumen yang digunakan valid dan reliabel, karena kebenaran data yang
diolah sangat menentukan kualitas hasil penelitian.
1. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner.
Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk
mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Penelitian ini
menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA) untuk menguji validitas konstruk atau variabel. Untuk dapat melakukan analisis faktor diperlukan nilai
Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy (KMO MSA). Nilai KMO MSA > 0,50 mengindikasikan construct validity dari masing-masing pertanyaan (Ghozali, 2013).
2. Uji Reliabilitas
Uji realibilitas dilakukan untuk mengukur keandalan suatu kuesioner yang
merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan
reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten
atau stabil dari waktu ke waktu. Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel
34
3.4.3 Uji Asumsi Klasik
Pengujian hipotesis dengan analisis regresi dapat dilakukan dengan pertimbangan
tidak adanya pelanggaran terhadap asumsi-asumsi klasik atau asumsi yang
mendasari analisis regresi. Uji asumsi klasik meliputi uji normalitas, uji
heteroskedastisitas, dan uji multikolinieritas.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel
pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Data yang baik dan layak
digunakan dalam penelitian adalah data yang memiliki distribusi normal. Untuk
menguji apakah distribusi data normal atau tidak dapat dilihat melalui normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari data
sesungguhnya dengan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Distribusi
dikatakan normal, jika garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan
mengikuti garis diagonalnya (Ghozali, 2013). Pengujian normalitas data juga
melakukan uji Kolmogorov-Smirnov (Uji K-S) untuk memastikan kehandalan hasil uji normalitas dalam penelitian ini. Jika Asymp Sig > 0,05, maka data itu terdistribusi normal.
2. Uji Multikolinieritas
Menurut Ghozali (2013) uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah
dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Model
regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel bebas. Untuk
35
menganalisis matriks korelasi variabel-variabel bebas, dapat juga dengan melihat
nilai tolerence dan variance infaltion factors (VIF). Nilai tolerence yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF = 1/Tolerence) dan nilai cut off yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinieritas adalah nilai tolerence
≤ 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10. Jika nilai variance inflaton factor (VIF)
< 10 dan nilai tolerence > 0,10, maka model tersebut dapat dikatakan terbebas dari multikolinearitas.
3. Uji Heteroskesdatisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
terjadi perbedaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model
regresi yang baik adalah yang tidak terjadi heteroskedastisitas. Gejala
heteroskedastisitas dapat diuji dengan melihat ada tidaknya pola tertentu yang
tergambar pada grafik scatterplot. Jika titik-titik sebar membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka
mengidentifikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Jika tidak ada pola yang
jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka
tidak terjadi heterokedositas (Ghozali, 2013).
3.4.4 Pengujian Hipotesis
Penelitian ini menggunakan satu variabel dependen dan beberapa variabel
independen, maka untuk menguji hipotesis yang diajukan digunakan alat analisis
36
pengaruh antara satu variabel dengan variabel lain. Adapun persamaan regresinya
adalah:
Y = α + β1X1+ β 2X2+ β 3X3 + β 4X4 + β 5X5+ ε Di mana:
Y = kinerja manajerial pada SKPD
α = konstanta
X1 = partisipasi penyusunan anggaran
X2 = kejelasan tujuan anggaran
X3 = evaluasi anggaran
X4 = umpan balik anggaran
X5 = kesulitan tujuan anggaran β 1 ,..., b5 = koefisien regresi
ε = error
Dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikansi (α) 0,05 atau 5%. Untuk
menguji apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak, maka dilakukan
pengujian terhadap variabel-variabel penelitian dengan menggunakan uji
signifikansi parameter individual (uji statistik t) yang bertujuan untuk mengetahui
apakah variabel-variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen
serta variabel mana yang dominan mempengaruhi variabel dependen. Kriteria
pengujian hipotesis adalah sebagai berikut:
1. Ha diterima, yaitu apabila ρ value < 0.05 atau bila nilai signifikansi kurang
dari nilai alpha 0,05 berarti variabel independen secara individual berpengaruh terhadap variabel dependen.
2. Ha ditolak, yaitu apabila ρ value > 0.05 atau bila nilai signifikansi lebih dari
37
Selanjutnya dilakukan pengujian Koefisien Determinasi (R