• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penentuan Umur Melihat Dari Perobahan Bentuk symohysis Pubis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Penentuan Umur Melihat Dari Perobahan Bentuk symohysis Pubis"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PEN EN TUAN UM UR M ELI H AT D ARI PEROBAH AN BEN TUK SYM OH YSI S PUBI S

M I STAR RI TON GA

Ba gia n I lm u Ke dok t e r a n Ke ha k im a n Fa k u lt a s Ke dok t e r a n

Un iv e r sit a s Sum a t e r a Ut a r a

PEN D AH ULUAN

Akhir- akhir ini t erlihat peningkat an kw alit as kej ahat an dim ana pelakunya sering berusaha m enyem bunyikan korbannya yang bert uj uan unt uk m enghilangkan j ej ak sert a barang bukt i agar pelaku dan korbannya t idak dikenal lagi, dengan dem ikian sering korban dit em ukan sudah t inggal t ulang belulang. Maka salah sat u yang kit a harapkan unt uk ident ifikasi dari t ulang belulang ini adalah m enent ukan prakiraan um um korban dengan m elihat bent uk dari sym physis ossis pubisnya. Sepert i kit a ket ahui ident ifikasi ini pent ing sekali bagi keluarga korban dan penyidik sehubungan dengan akt e kem at ian, warisan, asuransi, perkara pidana, perkara perdat a dan perkara lainnya. Unt uk it ulah perlu dipelaj ari t ent ang perubahan-perubahan pada Sym phisis Pubis yang salah sat u m erupakan indikat or penent uan um ur yang baik m enurut bebrapa m et ode. Nam un m asing- m asing m et ode m asih m em punyai kelem ahan- kelem ahan t ert ent u.

Apapun m et ode- m et ode yang dim asuk adalah sebagai berikut : 1. Met ode Todd ( 1920- 1921)

2. Met ode Mckern- St ewart / Gilbert - Mckern 3. Met ode Snow

4. Met ode Hanihara – Suzuki MRA 5. Met ode Hanihara – Suzuki QMI

Ad. 1 . M e t ode Todd:

Tood m engat akan bahwa perubahan sim fisis pubis m erupakan indicat or um ur yang baik. Krit eria ysng di kem ukakannya ini t idak m em bedakan j enis kelam in sert a ras, dan t epat t erut am a pada yang beusia ant ara 20- 40 t ahun.

Sim fisis pubis berbent uk oval dengan sum bu panj ang t egak ( superior-inferior) . I a m em iliki 5 gam baran ut am a, yait u :

- Perm ukaan bat as vent al ( luar ) at au ram part

- Babat as Dorsal ( dalam ) at au plat o

- Ekst rem it as inferior

- Tonj olan m elint ang ( ridging ) , om bak ( billow ing ) dan nodulus ossifkasi.

Berdasarkan penilit ian at as kerangks m anusia 18- 50 t ahun, Todd m em bagi um ur dalam 10 fase sebagai berikut :

a. Fase paska adolosen pert am a ( um ur 18- 19 t ahun )

(2)

b. Fase pasca adolesen kedua ( um ur 20- 21 t ahun)

Perm ukaan sinfisis m asih kasar dengan t onj olan m elint ang dan cekungan diant aranya, t et api cekungan m ulai berkurang idekat bat as dorsal karwena t erisi oleh t ulang yang t ekst urnya halus. Form asi ini m ulai m enyam arkan ekst rem it as inferior dari t onj olan horizont al. Nodulus ossifikasi ( epifiseal) m ungkin bersat u dengan perm ukaan sim fisis bagian at as, bat as t epidrsal m ulai t erbent uk, t idak ada bat as ekt rem it as, baian depan sam ar- sam ar t erhadap lereng vent ral ( vent ral bevel) .

c. Fase pasca adolosen ket iga ( um ur 22- 24 t ahun)

Perm ukaan sim fisis m enunj ukan oblit erasi progressif t onj olan dan cekung. Terbent uk plat o dorsal, t erdapat nodulus ossifikasi, t epi dorsal bert ahap m akin j alas, t idak dij um pi pem bat san ekst rem it as.

d. Fase keem pat ( um ur 25- 26)

Peningkat an keras daerah lerng vent ral, berhubungandngan hilangnya t onj olan dan cekungan, bat as t epi dorsal sem purna akibat t erbent uknya plat o dorsal, t erdapat pem bat asan ekt rem it as.

e. Fase kelim a ( um ur 27- 30 t ahun)

Sedikit at au t idak ada perubahan pada perm ukan sim fisis dan plat o dorsal, kecuali dij um pai adanya usaha sporaik dan prem au pm bet ukan t anggul vent ral ( vent ral ram part ) , ekst rem it as bw ah pert i t epi dorsal, baasnya m akin bert am bah j elas, pem bent ukan ekst rem it as at as at au t anpa bawah int ervensi nodulus t ulang ( epifiseal) .

f. Fase keenam ( um ur 39- 44 t ahun)

Bat as ekst rem it as m akin j elas, perkem bangan dan penyem purnaan t anggul vent ral t erdapat gam baran granular pada perm ukaan sim fisis dan bagian vent ral pubis t idak dij um pai bibir ( lipping) pada t epi sim fisis.

g. Fase ket uj uh ( um ur 35- 39 t ahun)

Perubahan pada perm ukaan sim fisis dan bagian vent ral pubis akibat berkurangnya akt ivit as, t erj adi pert um buhan t ulang pada pelt qakan t endon dan ligam en t erut am a t endon gracilis dan ligam en sakrot uberosum .

h. Fase kedelapan ( 39- 44 t ahun)

Perm ukaan sim fesis um um nya halus dan inakt if, perm ukaan vent ral j uga inakt if, bat as oval sem purna at au ham pir sem purna, ekst rem it as sangat j elas, t idak dij um pai bingkai ( rim ) yang j ela pada perm ukaan sim fisis, t idak dij um pai bibir yang j elas baik pada t epi vent ral m aupun dorsal.

i. Fase kesem bilan ( um ur 45- 50 t ahun)

Perm ukaan sim fisis m enunj ukan lebih kurang bingkai yang j elas, t epi dorsal sm uanya berbibir, t epi vent ral berbibir t idak t erat ur.

j . Fase kesepuluh ( um ur 50 t ahun keat as)

(3)

Ad. 2 . M e t ode M ck e r n da n St e w a r t ( 1 9 5 7 )

Unt uk m em udahkan penelit ian, m aka m ackern dan St ewat m engusulkan skoing dengan cara m em ecah kom ponen perm ukaan siisis dalam t iga bagian yang m asiang- m asiang t eriridari 5 st adium . Dengan cara ini ianggap bahwah kolerasinya lebih t inggi, lebih m udah, sert a lbih akurat dari m et ode Todd, karena m enghilangkan bias subj ekt if dalam int erprest asi. Bahan pem eriksaanya adalah 450 t ulang korban perang yang berusia 17- 50 t ahun. Walaupun pada awalnya rum us ini diperunt ukkan pria dan w anit a, t et api karena penyim pangan pada wanit a lerbih bnak, m aka rum us ini dipakai hanya unt uk pria. Unuk w anit a dipakai rum us Gilbert dan Mckern

Adapun rum us Mckern dan St ewart adalah sebagai berik ut :

- Kom ponen I . Plat o dorsal 0. t epidorsal t idak ada

1. Pem bent ukan t epi sedikit , m ula- m ula pada bagian sepert iga bat as dorsal. 2. Tepi dorsal m eluas sepanj ang bat as dorsal.

3. pengisian cekungan dan pengisian t onj olan m em bent uk perm ukaan plat o pada sepert iga t engah paruhan dorsal.

4. Plat o m asih m enunj ukan om bakan ( illow ing ) yang m eluas m eliput i ham pir seluruh paruhan dorsal.

5. Om bakan m enghilang sem purna dan perm ukaanr paruhan dorsal m enj adi m enj adi rat a dan agak bergranulasi ringan.

- Kom onen I I . Tanggul vent ral

0. Lereng vent ral ( vent ral beveling ) t idak ada.

1. lereng vent ral hanya ada pada ekst rem it as suerior bat a vent ral. 2. Lereng m eluas ke bawah sebat as vent ral.

3. Tanggul vent ral ( ram part ) m ulai t erbent uk dengan adanya penonj olan t ulang pada sat u at au kedua ekst rem it as.

4. Tanggul m eluas t et api m asih t erdapat celah gap yang j elas sepanj ang bat as vent ral, paling j elas didua pert iga at as.

5. Tanggul sudah sem purna.

- Kom ponen I I I . Bingkai sim fisis

0. Bingkai sim fisis ( sym physial rim ) t idak ada.

1. sebagian bigkai dorsal ada, biasanya diuj ung superior t epi dorsal, bent uknya bulat dn m eninggi keat as perm ukaan sim fisis.

2. Bingkai dorsal sem purna dan bingkai vent ral m ulai t erbnt uk. Tidak dij um pai t em pat awal pem bent ukan.

3. Bingkai sim fisis sem purna. Perm ukaan sifisis t erut up oleh gam bar brbut ir yang halus dan irreguler at au naik t urunnya gam barannya.

4. Bingkai m ulai hancur. Perm ukaan m enj adi halus dan dat ar dan t idak lagi m em bulat t et api m enj adi t aj am . Terdapat nya adanya bibir ( lipping ) pada t epi vent ral.

5. Bingkai m akin hancur ( t erut am a sepanj ng t epii vent ral at as ) , dant erj adi erosi perm ukaan sim isis . Terj adi j uga disint egrasi dan osifikasi idak m enent u sepanj ang bngkai vent ral.

(4)

Dengan m elihat st iap kom ponen t erdir i dar i 5 st adium m aka t ent u disangka bahwa kem ungkinan variasi skor adalah 5x5x5 sam a dengan 125 em ungkinan saj a. Sehingga kalau diket em ukan kem ungkinan yang lain dari 21 kem ungkinan ini, hrus diperiksa ulang, karena past i ada yang skorsingnya salah.

Adapun kem ungkinan t adi adalah sebagai berikut :

000 100 200 210 300 310 320 330

410 420 430 431 441 442 541 542 543 552 553 554 555

Unt uk m endapat kan um ur yang dicari dipakai daft ar bikut ini, yait u berdasarkan skor t ot al sebagai berikut :

Penent uan um ur berdasarkan skor t ot al pada pria :

Sk or N Ra n ge Ra t a - r a t a SD

0 7 17 17,3 0,49

1- 2 76 17- 20 19 0,79

3 43 18- 21 19,8 0,85

4- 5 51 18- 23 20,8 1,13

6- 7 26 20- 24 22,4 0,99

8- 9 36 22- 28 24,1 1,93

10 19 23- 28 26,1 1,87

11- 13 56 23- 39 29,2 3,33

14 31 29+ 35,8 3,89

15 4 36+ 41,0 6,22

TOTAL 349

( Modifkasi kegiat an dari t abl Mckern dan St ewart 1957 )

M e t ode Gilbe r t da n M ck e r n ( 1 9 3 7 )

Met ode ini dikem bangkan oleh Gilbert dan Mckern berdasarkan pem bagian kom ponen dan st adium yang sam a sepert i Mckern dan St ewart , t et api m enggunakan baha dari kerangka wanit a. Dasar pem isahan rum us unuk w anit a dan pria adalah karena peubahan perm ukaan sim fisis pada wanit a berbeda dibandingkan pria, karena gam baran sim fisis wanit a um um nya t am pak sepuluh t ahun lebih t ua dari um ur sebenarnya. Jadi wanit a yang berum ur 25 t ahun gam baran sim fisisnya sam a dengan pria yang berum ur 35 t ahun. Perbedaan lainya adalah t anggul ( ram part ) , pada pria t anggul vent ral m erupakan penonj olan t ulang sepanj ang paruhan vent ral. Sebaliknya pada wanit a bingki sim fisis j ust ru m em isahkan bagian dorsal dan vent ral pubis. Pada pria, kedua paruhan dipisahkan oleh gari yang im aj iner , sdangkan pada w anit a t anggul vent ral ( paruhan) m em bent uk lereng kebawah dari paruhan dorsal.

(5)

Secara lengkap crit eria Glibert dan Mckern unuk w anit a adalah sebagai berikut :

- Kom ponen I : Paruhan Dorsal.

0. Tonj olan dan cekungan sangat j elas, ckungan berom bak, t epi dorsal t idak j elas.

1. t onolan m ulai rat a, cek ungan m ulai t irisi dan t epi dorsal y ang rat a m ulai t erbent uk pada paruhan sepert iga t engah.

2. Paruhan dorsal m eluas ke vent ral, m akin lebar akibat perat aan yang beranj ut , t api dorsal m eluas ke at as dan kebawah.

3. Paruhan dorsal sangat halus, t epi m ungkin sem pit at au t idak j elas.

4. Paruhan m enj adi sem purna dan ut uh, lebar dan berbut ir halus, t api m ugkin m asih m enunj ukan sisa om bak .

5. Paruhan berlubang- lubang dan irregular akibat penghancuran.

- Kom ponen I I . Tanggul vent ral

0. Tonj olan dan cekungan sangat j elas.Bagian paruhan lainnya m elerang ke at as m enuj u paruhan dorsal

1. berm ula dibagian bawa, cekungan paruhan vent ral m ulai t erisi m em bent uk t anggul yang m elereng dan m eluas, t epi lat eral yang j elas m em bent uk garus m elengkung m eluas sepanj ang sim fisis.

2. pengisiancekungan dan perluasan paruhan berlanj ut baik dari uj ung at s m aupun baw ah, t unggul m eluas dilat eral sepanj ang t epi vent ral.

3. Kira- kira sepert iga paruhan vent ral t erisi oleh t ulang yang berbut ir halus. 4. Terdapat t anggul vent ral yang lebar, sem purna, berbut ir halus

perm ukaannya m ulai dari krist a pubis sam pai dengan rum us inferiol. 5. Tanggul vent ral m ulai hancur, m enunj ukkan lubang0lubang dan barang

kali hilang gam barannya akibat penghancuran.

- Kom ponen I I I . Bingkai sim fisis 0. Bingkai t idak ada.

1. Bingkai m ulai t erbent uk pada sepert iga t engah perm ukaan dorsal.

2. Bingkai m ulai m eluas dari uj ung at as dan bawah sim fisis sam paisepert iga bagian vent ralnya sem purna.

3. Bagian dorsal bingkai sim fisis sem purna . 4. Bingkai sim fisis sem purna.

5. bat as vent raal paruhan dorsal m ungkin hancur sehingga t erdapat celah pada bingkai at au m ungkin j uga m em bulat sehingga t idak ada loagi gar is bat as ant araa paruhaan dorsal dengan t anggul vent ral.

(6)

Sk or Tot a l N Ra n ge Ra t a - r a t a SD

0 2 14- 18 16,00 2,00

1 12 13- 24 19,80 2,70

2 13 16- 25 20,15 4,97

3 4 18- 25 21,50 3,36

4- 5 7 22- 29 26,00 5,70

6 8 25- 36 29,52 6,86

7- 8 14 23- 39 32,00 5,54

9 5 22- 40 33,00 9,00

10- 11 11 30- 47 36,00 7,73

12 12 32- 52 39,00 8,54

13 8 44- 54 47,75 7,57

14- 15 7 52- 59 55,71 8,07

Add. 3 . M e t ode Snow ( 1 9 8 3 )

Snow m enyadari bahwa m et ode Mckern dan St ewart unt uk pria dan m et ode Gilbert dam Mckern unt uk wanit a cukup akrat unt uk penent uan um ur , nam un ia m engalam i cara ini m em er lukan w akt u lam a unt uk m encapai w akt u kesim puan. Hal ini m enyulit kan, khususnya pada kej adian kecelakan at au pem bunuhan m asal, saat korban yang harus di periksa j um lahnya banyak. unt uk it u ia m engem bangakn suat u cara perhit ungan dengan m engunakan kom put er. adapun dat a yang digunakan adalah dat a Mckern dan St ewart sert a dat a Gilbert dan Mckern. Rum us um ur m enurut Snow ( 1983 ) :

Pria : Um ur = 17,1648 + 1,4167 X – 0,182 X2 + 0.0126 X3 r2 = 0,997

SD = 0,6591 + 0,0705 X – 0,0023 X2 + 0.0011X3 Wanit a : Um ur = 14,7428 + 2506 X – 0,4784 X2 + 0,0259 X3

r2 = 0,980

SD = 2,09 + 0,27 X r2 = 0,54

Ket erangan : X adalah skor t ot al m enurut Mckern danSt ewart at au m enurut Gilbert dan Mckern

Um ur SD dalam sat uan t ahun.

Mula- m ula rum as ini di m asukan dalam kom put er sehingga set iap kali cukup hanya m em askan nilai X dan akan segera keluar um ur dan SD unt uk set iap kasus.

Ad. 4 . M e t ode H a n iha r a da n Suz u k i ( 1 9 7 8 )

Hanihara dan suzuki dalam m engunakan m et ide Todd m engalam i berbagai k esulit an, diant aranya sring kali suat u sim fisis t idak m em enuhi seluruh krit eria fase t ert ent u secara lengkap. Met ode Mckern dan St ew art m aupun Gilber t dan Mckern j uga di rasakan agak sulit , khususnya bila dilakukan oleh yang berpngalam an kurang. Sist em yang di pakai adalah sist em Skoring t erhadap set iap kom ponen dari 7 kom ponen yang diperiksa.

Krit eria skorsing m asing- m asiang kom ponen sim fisis pubis m enru t hanihara dan suzuki lngkapnya hanyalah sbagai berikut :

(7)

V a r ia be l M or fologi Sk or Pe r u ba ha n M or fologis X 1 Tonj olan dan cekungan

horizont al

1 Jelas

X2 t uberkulum pubicum

X3 uj ung baw ah

Secara lengkap perubahan yang t erj adi pada m asing- m asing kom ponen adalah sebagai berikut :

1. Tonj olan dan cekungan horizont al

Tonj olan dan cekungan horizont al ini sangat j elas pada yang berum ur 20 t ahun : t onj olan t inggi dan cekungan t aj am sert a dalam . Pada um ur ant ara 20- 23 t ahun cekungan m enj adi dangkal dan t onj olan relat if t um pul. Pengikisan yang berlanj ut sam pai kira- kira um ur 27 t ahun, set elah um ur 28 t ahun dengan sedikit kekecualian gam bar ini akan hilang seluruhnya perm ukaan sim fisis akan m enj adi dat ar.

2. Tuburkulum pubikum .

Pada t ulang pubis orang yang berum ur dibaw ah 23 t ahun, t uburkulum nya m elekat m elalui t ulang raw an sehingga garis efisial m asih t erlihat . Set elah um ur 24 t ahun t uburkulum akan m enyat u dengan t ulang pada sem ua orang t anpa kecuali.

3. Uj ung baw ah

Sebelum um u 22 dan 23 t ahun, uj ung bawah perm ukaan sim fisis t ak dapat dibedakan dari uj ung at as rum us pubis inferior. Pad um ur 23- 30 t ahun, bagian bawah perm ukaan sim fisis di bat asi oleh t onj olan sem pet dan set elah 30 t ahun, t onj olan it u m elebar dan banyak kasus bent uknya m enj adi segit iga m enonj ol. 4. Tepi dorsal

sam pai dengan um ur 19 t ahun, t idak t erdapat t onj olan pada bat as dorsal pada perm ukaan sim fisis. Pada sekit ar 20 t ahun suat u t onj olan sam ar- sam ar m uncul pada bat as dorsal perm ukaan. orang yang lebih t ua dari 27 t ahun m enunj ukkan pem bent ukan t onj olan yang ham pir sem purna m eskipun m asih sem pit pada seluruh panj ang t epi dorsal. Pada separuh kasus set elah 33 at au 34 t ahun, t api hal ini sangat bervariasi.

5. Nodulus osifikasi superior.

Pem bent ukan nodulus t erj adi pada perm ukaan pubis bagian at as selam a wakt u yang t erbat as. Tak dit em ukannya nodulus bisa berart i um urnya dibawah 20 t ahun diat as 27 t ahun. I a j elas t erlihat pada um ur 21- 27 t ahun.

6. Lereng vent ral.

(8)

7. Bingkai sim fisis

Pada orang yang lebih t ua, perm ukaan sim fisis kadang- kadang dibat asi oleh bingkai yang relat if lebar dan t um pul. Hal ini dapat dij um pai pada orang yang berum ur diat as 30 t ahun dan frekuensinya m eningkat set elah um ur 34 t ahun, m eskipun variasinya j uga besar. karenanya bila dij um pai bingkai yang j elas secara am an dapat dikat akan bahwa um ur 35 an at au lebih, t et api individu t anpa bingkai m ungkin t idak selalu m udah.

Unt uk m enggunakan cara hanihara dan suzuki dalam penent uan um ur kerangka dapat digunakan 2 cara yait u : MRA ( Mult iple Regresision Analisys ) dan QM ( Quant ificat ion Theory Mode 131 I Analysis ) .

Cara MRA :

Pada cara ini dilakukan penghit ungan um ur dengan cara m em asukkan skor m asing-m asing koasing-m ponen kedalaasing-m persaasing-m aan sbb :

Um ur : 10,14 + 1,40 X2 + 0,48 + 2,11 + 1,91 X4 + 0,27 X5 + 1,45 X6 + 0,14 X7

Cara QMI

Pada cara ini set iap pada m asing- m asing kom ponen digant i dengan suat u nilai norm al yang t elah dit ent ukan. Um ur didapat kan dengan cara m enj um lahkan sem ua nilai norm al dari nilai skor X1 – X7

Adapun nilai norm al yang dim aksud adalah sebagai berik ut :

V a r ia be l Sk or N ila i N or m a l Koe fisie n Kor e la si X1 1

2 3

118,08 0,25

X2 1 0,00 0,11

X3 1 0,00 0,49

X4 1 0,00 0,37

X5 1 0,00 0,23

X6 1 0,00 0,34

(9)

St andart error unt uk kedua cara ini dibagi dalam 3 kelom pok um ur yait u sepert i yang t am pak pada gam bar di bawah ini :

Kel. Um ur N SE MRA SE QMI

18 - 25 26 2.1960 1.9055

26 - 30 17 2.1791 1.9109

31 - 38 27 2.7408 2.78832

Berdasarkan perhit ungan dari hanihara dan Suzuki ini, didapat kan bahwa cara QMI m em iliki k eunggulan dalam m endapat kan um ur yang sedekat - dekat nya dengan um ur sesungguhnya.

KESI M PULAN

1. Penent uan um ur korban m erupakan salah sat u t erpent ing dalam hal idebt ifikasi. 2. Penent uan um ur dari perubahan- perubahan yang t erj adi pada sym phisis pubis

m erupakan indicat or um ur yang baik.

3. Met ode Todd t idak m em bedakan j enis kelam in.

4. Mwt ode Mckern Gilbert dan st ewart dipakai hanya pada pria. 5. Met ode pada Gilbert dan Mckern unt uk w anit a.

6. Met ode snow . Rum us unt uk m enghit ung skor- - - - um ur 7. Met ode hanihara dan Suzuki.

Penent uan um ur dengan cara MRA ( Mult iole Regression Analysis) dan QMI ( Quant uficat ion Theory Mede 131 I Analisys) .

8. Perhit ungan dengan cara QMI 131 I lebih m endekat i um ur sesungguhnya dibandingkan dengan cara MRA.

D AFTAR PUSTAKA

At m aj a Dj aj a Surya : Penent uan um ur berdasarkan gam bar fasies sim fisis pubis ; Maj alah Pat ologi I ndonesia, Fakult as Kedokt eran Universit as I ndonesia, 1990.

Cam ps Francis. SVD : Pract ical Forencis Medicine; 2. nd Edit ion, Hut chinson Medical Publicat ion, London, 1971.

Glinka Josef. SVD : Ant ropot m et ri & Ant roposkopi ; Edisi Ket iga, Universit as Airlangga, Surabaya, 1990.

Gonzales Thom as A. MD : Legal Medicine Pat hology And TOXI COLOGY ; second edit ion, Aplet on Cent ury Crft s. I nc, New York, 1954.

Ham dani Nj owit o : I lm u kedokt eran Kehakim an ; Edisi kedua PT. Gram edia Pust aka Ut am a, Jakart a, 1992.

I dries Abdul Mun’m in : Pedom a I lm u Kedokt eran Forensik ; edisi pert am a, PT. Bina Rupa Aksara, Jakart a, 1989.

(10)

Parikh CK Dr. : Asim plified Text Book of Medical Jurispridence & Toxifology ; Medical Publicat on, Bom bay.

Sobt t a J. Prof : At las Anat om i Manusia ; Edisi Sem bilan belas, j ilid 2 penerbit kedokt eran EGC, Jakart a, 1989.

Referensi

Dokumen terkait

Barisan aritmetika bertingkat adalah barisan bilangan yang tidak memiliki beda tetap, tetapi apabila beda itu dijadikan barisan bilangan, demikian seterusnya maka pada suatu saat

kasus HIV/AIDS tertinggi, dengan proporsi 70% dari seluruh kasus baru HIV.. yang terjadi

Sambas Satuan Kerja Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sambas Tahun Anggaran 2015 ke masing-masing email penyedia serta diinformasikan dalam pojok berita

Alor Tahun Anggaran 2016 melalui Surat Penetapan Pemenang Pelelangan Umum Nomor: 318.ULP/POKJA KONST/VI/2015 tanggal 06 Juni 2016 telah menetapkan Pemenang Pelelangan Umum

Pola aktivitas & latihan : kondisi klien yang lemah sehingga harus dipapah, dan dadanya terus berdebar-bedar mengakibatkan pasien tidak bisa malakukan aktivitas

Buku ilustrasi panduan yang dibuat khusus untuk ibu-ibu muda ini, diharapkan dapat membantu mereka dalam memberikan fashion yang tepat dan cepat untuk anak mereka

Abstract: Study on ethnobotany, nutritional composition and DPPH radical scavenging of leafy vegetables of wild Paederia foetida and Erechtites hieracifolia in

Sebagian besar informasi diperoleh dari laporan-laporan kasus terpisah, uji-uji klinik, dan/atau studi-studi farmakokinetik pada subyek sehat dan usia muda yang tidak sedang