PEN EN TUAN UM UR M ELI H AT D ARI PEROBAH AN BEN TUK SYM OH YSI S PUBI S
M I STAR RI TON GA
Ba gia n I lm u Ke dok t e r a n Ke ha k im a n Fa k u lt a s Ke dok t e r a n
Un iv e r sit a s Sum a t e r a Ut a r a
PEN D AH ULUAN
Akhir- akhir ini t erlihat peningkat an kw alit as kej ahat an dim ana pelakunya sering berusaha m enyem bunyikan korbannya yang bert uj uan unt uk m enghilangkan j ej ak sert a barang bukt i agar pelaku dan korbannya t idak dikenal lagi, dengan dem ikian sering korban dit em ukan sudah t inggal t ulang belulang. Maka salah sat u yang kit a harapkan unt uk ident ifikasi dari t ulang belulang ini adalah m enent ukan prakiraan um um korban dengan m elihat bent uk dari sym physis ossis pubisnya. Sepert i kit a ket ahui ident ifikasi ini pent ing sekali bagi keluarga korban dan penyidik sehubungan dengan akt e kem at ian, warisan, asuransi, perkara pidana, perkara perdat a dan perkara lainnya. Unt uk it ulah perlu dipelaj ari t ent ang perubahan-perubahan pada Sym phisis Pubis yang salah sat u m erupakan indikat or penent uan um ur yang baik m enurut bebrapa m et ode. Nam un m asing- m asing m et ode m asih m em punyai kelem ahan- kelem ahan t ert ent u.
Apapun m et ode- m et ode yang dim asuk adalah sebagai berikut : 1. Met ode Todd ( 1920- 1921)
2. Met ode Mckern- St ewart / Gilbert - Mckern 3. Met ode Snow
4. Met ode Hanihara – Suzuki MRA 5. Met ode Hanihara – Suzuki QMI
Ad. 1 . M e t ode Todd:
Tood m engat akan bahwa perubahan sim fisis pubis m erupakan indicat or um ur yang baik. Krit eria ysng di kem ukakannya ini t idak m em bedakan j enis kelam in sert a ras, dan t epat t erut am a pada yang beusia ant ara 20- 40 t ahun.
Sim fisis pubis berbent uk oval dengan sum bu panj ang t egak ( superior-inferior) . I a m em iliki 5 gam baran ut am a, yait u :
- Perm ukaan bat as vent al ( luar ) at au ram part
- Babat as Dorsal ( dalam ) at au plat o
- Ekst rem it as inferior
- Tonj olan m elint ang ( ridging ) , om bak ( billow ing ) dan nodulus ossifkasi.
Berdasarkan penilit ian at as kerangks m anusia 18- 50 t ahun, Todd m em bagi um ur dalam 10 fase sebagai berikut :
a. Fase paska adolosen pert am a ( um ur 18- 19 t ahun )
b. Fase pasca adolesen kedua ( um ur 20- 21 t ahun)
Perm ukaan sinfisis m asih kasar dengan t onj olan m elint ang dan cekungan diant aranya, t et api cekungan m ulai berkurang idekat bat as dorsal karwena t erisi oleh t ulang yang t ekst urnya halus. Form asi ini m ulai m enyam arkan ekst rem it as inferior dari t onj olan horizont al. Nodulus ossifikasi ( epifiseal) m ungkin bersat u dengan perm ukaan sim fisis bagian at as, bat as t epidrsal m ulai t erbent uk, t idak ada bat as ekt rem it as, baian depan sam ar- sam ar t erhadap lereng vent ral ( vent ral bevel) .
c. Fase pasca adolosen ket iga ( um ur 22- 24 t ahun)
Perm ukaan sim fisis m enunj ukan oblit erasi progressif t onj olan dan cekung. Terbent uk plat o dorsal, t erdapat nodulus ossifikasi, t epi dorsal bert ahap m akin j alas, t idak dij um pi pem bat san ekst rem it as.
d. Fase keem pat ( um ur 25- 26)
Peningkat an keras daerah lerng vent ral, berhubungandngan hilangnya t onj olan dan cekungan, bat as t epi dorsal sem purna akibat t erbent uknya plat o dorsal, t erdapat pem bat asan ekt rem it as.
e. Fase kelim a ( um ur 27- 30 t ahun)
Sedikit at au t idak ada perubahan pada perm ukan sim fisis dan plat o dorsal, kecuali dij um pai adanya usaha sporaik dan prem au pm bet ukan t anggul vent ral ( vent ral ram part ) , ekst rem it as bw ah pert i t epi dorsal, baasnya m akin bert am bah j elas, pem bent ukan ekst rem it as at as at au t anpa bawah int ervensi nodulus t ulang ( epifiseal) .
f. Fase keenam ( um ur 39- 44 t ahun)
Bat as ekst rem it as m akin j elas, perkem bangan dan penyem purnaan t anggul vent ral t erdapat gam baran granular pada perm ukaan sim fisis dan bagian vent ral pubis t idak dij um pai bibir ( lipping) pada t epi sim fisis.
g. Fase ket uj uh ( um ur 35- 39 t ahun)
Perubahan pada perm ukaan sim fisis dan bagian vent ral pubis akibat berkurangnya akt ivit as, t erj adi pert um buhan t ulang pada pelt qakan t endon dan ligam en t erut am a t endon gracilis dan ligam en sakrot uberosum .
h. Fase kedelapan ( 39- 44 t ahun)
Perm ukaan sim fesis um um nya halus dan inakt if, perm ukaan vent ral j uga inakt if, bat as oval sem purna at au ham pir sem purna, ekst rem it as sangat j elas, t idak dij um pai bingkai ( rim ) yang j ela pada perm ukaan sim fisis, t idak dij um pai bibir yang j elas baik pada t epi vent ral m aupun dorsal.
i. Fase kesem bilan ( um ur 45- 50 t ahun)
Perm ukaan sim fisis m enunj ukan lebih kurang bingkai yang j elas, t epi dorsal sm uanya berbibir, t epi vent ral berbibir t idak t erat ur.
j . Fase kesepuluh ( um ur 50 t ahun keat as)
Ad. 2 . M e t ode M ck e r n da n St e w a r t ( 1 9 5 7 )
Unt uk m em udahkan penelit ian, m aka m ackern dan St ewat m engusulkan skoing dengan cara m em ecah kom ponen perm ukaan siisis dalam t iga bagian yang m asiang- m asiang t eriridari 5 st adium . Dengan cara ini ianggap bahwah kolerasinya lebih t inggi, lebih m udah, sert a lbih akurat dari m et ode Todd, karena m enghilangkan bias subj ekt if dalam int erprest asi. Bahan pem eriksaanya adalah 450 t ulang korban perang yang berusia 17- 50 t ahun. Walaupun pada awalnya rum us ini diperunt ukkan pria dan w anit a, t et api karena penyim pangan pada wanit a lerbih bnak, m aka rum us ini dipakai hanya unt uk pria. Unuk w anit a dipakai rum us Gilbert dan Mckern
Adapun rum us Mckern dan St ewart adalah sebagai berik ut :
- Kom ponen I . Plat o dorsal 0. t epidorsal t idak ada
1. Pem bent ukan t epi sedikit , m ula- m ula pada bagian sepert iga bat as dorsal. 2. Tepi dorsal m eluas sepanj ang bat as dorsal.
3. pengisian cekungan dan pengisian t onj olan m em bent uk perm ukaan plat o pada sepert iga t engah paruhan dorsal.
4. Plat o m asih m enunj ukan om bakan ( illow ing ) yang m eluas m eliput i ham pir seluruh paruhan dorsal.
5. Om bakan m enghilang sem purna dan perm ukaanr paruhan dorsal m enj adi m enj adi rat a dan agak bergranulasi ringan.
- Kom onen I I . Tanggul vent ral
0. Lereng vent ral ( vent ral beveling ) t idak ada.
1. lereng vent ral hanya ada pada ekst rem it as suerior bat a vent ral. 2. Lereng m eluas ke bawah sebat as vent ral.
3. Tanggul vent ral ( ram part ) m ulai t erbent uk dengan adanya penonj olan t ulang pada sat u at au kedua ekst rem it as.
4. Tanggul m eluas t et api m asih t erdapat celah gap yang j elas sepanj ang bat as vent ral, paling j elas didua pert iga at as.
5. Tanggul sudah sem purna.
- Kom ponen I I I . Bingkai sim fisis
0. Bingkai sim fisis ( sym physial rim ) t idak ada.
1. sebagian bigkai dorsal ada, biasanya diuj ung superior t epi dorsal, bent uknya bulat dn m eninggi keat as perm ukaan sim fisis.
2. Bingkai dorsal sem purna dan bingkai vent ral m ulai t erbnt uk. Tidak dij um pai t em pat awal pem bent ukan.
3. Bingkai sim fisis sem purna. Perm ukaan sifisis t erut up oleh gam bar brbut ir yang halus dan irreguler at au naik t urunnya gam barannya.
4. Bingkai m ulai hancur. Perm ukaan m enj adi halus dan dat ar dan t idak lagi m em bulat t et api m enj adi t aj am . Terdapat nya adanya bibir ( lipping ) pada t epi vent ral.
5. Bingkai m akin hancur ( t erut am a sepanj ng t epii vent ral at as ) , dant erj adi erosi perm ukaan sim isis . Terj adi j uga disint egrasi dan osifikasi idak m enent u sepanj ang bngkai vent ral.
Dengan m elihat st iap kom ponen t erdir i dar i 5 st adium m aka t ent u disangka bahwa kem ungkinan variasi skor adalah 5x5x5 sam a dengan 125 em ungkinan saj a. Sehingga kalau diket em ukan kem ungkinan yang lain dari 21 kem ungkinan ini, hrus diperiksa ulang, karena past i ada yang skorsingnya salah.
Adapun kem ungkinan t adi adalah sebagai berikut :
000 100 200 210 300 310 320 330
410 420 430 431 441 442 541 542 543 552 553 554 555
Unt uk m endapat kan um ur yang dicari dipakai daft ar bikut ini, yait u berdasarkan skor t ot al sebagai berikut :
Penent uan um ur berdasarkan skor t ot al pada pria :
Sk or N Ra n ge Ra t a - r a t a SD
0 7 17 17,3 0,49
1- 2 76 17- 20 19 0,79
3 43 18- 21 19,8 0,85
4- 5 51 18- 23 20,8 1,13
6- 7 26 20- 24 22,4 0,99
8- 9 36 22- 28 24,1 1,93
10 19 23- 28 26,1 1,87
11- 13 56 23- 39 29,2 3,33
14 31 29+ 35,8 3,89
15 4 36+ 41,0 6,22
TOTAL 349
( Modifkasi kegiat an dari t abl Mckern dan St ewart 1957 )
M e t ode Gilbe r t da n M ck e r n ( 1 9 3 7 )
Met ode ini dikem bangkan oleh Gilbert dan Mckern berdasarkan pem bagian kom ponen dan st adium yang sam a sepert i Mckern dan St ewart , t et api m enggunakan baha dari kerangka wanit a. Dasar pem isahan rum us unuk w anit a dan pria adalah karena peubahan perm ukaan sim fisis pada wanit a berbeda dibandingkan pria, karena gam baran sim fisis wanit a um um nya t am pak sepuluh t ahun lebih t ua dari um ur sebenarnya. Jadi wanit a yang berum ur 25 t ahun gam baran sim fisisnya sam a dengan pria yang berum ur 35 t ahun. Perbedaan lainya adalah t anggul ( ram part ) , pada pria t anggul vent ral m erupakan penonj olan t ulang sepanj ang paruhan vent ral. Sebaliknya pada wanit a bingki sim fisis j ust ru m em isahkan bagian dorsal dan vent ral pubis. Pada pria, kedua paruhan dipisahkan oleh gari yang im aj iner , sdangkan pada w anit a t anggul vent ral ( paruhan) m em bent uk lereng kebawah dari paruhan dorsal.
Secara lengkap crit eria Glibert dan Mckern unuk w anit a adalah sebagai berikut :
- Kom ponen I : Paruhan Dorsal.
0. Tonj olan dan cekungan sangat j elas, ckungan berom bak, t epi dorsal t idak j elas.
1. t onolan m ulai rat a, cek ungan m ulai t irisi dan t epi dorsal y ang rat a m ulai t erbent uk pada paruhan sepert iga t engah.
2. Paruhan dorsal m eluas ke vent ral, m akin lebar akibat perat aan yang beranj ut , t api dorsal m eluas ke at as dan kebawah.
3. Paruhan dorsal sangat halus, t epi m ungkin sem pit at au t idak j elas.
4. Paruhan m enj adi sem purna dan ut uh, lebar dan berbut ir halus, t api m ugkin m asih m enunj ukan sisa om bak .
5. Paruhan berlubang- lubang dan irregular akibat penghancuran.
- Kom ponen I I . Tanggul vent ral
0. Tonj olan dan cekungan sangat j elas.Bagian paruhan lainnya m elerang ke at as m enuj u paruhan dorsal
1. berm ula dibagian bawa, cekungan paruhan vent ral m ulai t erisi m em bent uk t anggul yang m elereng dan m eluas, t epi lat eral yang j elas m em bent uk garus m elengkung m eluas sepanj ang sim fisis.
2. pengisiancekungan dan perluasan paruhan berlanj ut baik dari uj ung at s m aupun baw ah, t unggul m eluas dilat eral sepanj ang t epi vent ral.
3. Kira- kira sepert iga paruhan vent ral t erisi oleh t ulang yang berbut ir halus. 4. Terdapat t anggul vent ral yang lebar, sem purna, berbut ir halus
perm ukaannya m ulai dari krist a pubis sam pai dengan rum us inferiol. 5. Tanggul vent ral m ulai hancur, m enunj ukkan lubang0lubang dan barang
kali hilang gam barannya akibat penghancuran.
- Kom ponen I I I . Bingkai sim fisis 0. Bingkai t idak ada.
1. Bingkai m ulai t erbent uk pada sepert iga t engah perm ukaan dorsal.
2. Bingkai m ulai m eluas dari uj ung at as dan bawah sim fisis sam paisepert iga bagian vent ralnya sem purna.
3. Bagian dorsal bingkai sim fisis sem purna . 4. Bingkai sim fisis sem purna.
5. bat as vent raal paruhan dorsal m ungkin hancur sehingga t erdapat celah pada bingkai at au m ungkin j uga m em bulat sehingga t idak ada loagi gar is bat as ant araa paruhaan dorsal dengan t anggul vent ral.
Sk or Tot a l N Ra n ge Ra t a - r a t a SD
0 2 14- 18 16,00 2,00
1 12 13- 24 19,80 2,70
2 13 16- 25 20,15 4,97
3 4 18- 25 21,50 3,36
4- 5 7 22- 29 26,00 5,70
6 8 25- 36 29,52 6,86
7- 8 14 23- 39 32,00 5,54
9 5 22- 40 33,00 9,00
10- 11 11 30- 47 36,00 7,73
12 12 32- 52 39,00 8,54
13 8 44- 54 47,75 7,57
14- 15 7 52- 59 55,71 8,07
Add. 3 . M e t ode Snow ( 1 9 8 3 )
Snow m enyadari bahwa m et ode Mckern dan St ewart unt uk pria dan m et ode Gilbert dam Mckern unt uk wanit a cukup akrat unt uk penent uan um ur , nam un ia m engalam i cara ini m em er lukan w akt u lam a unt uk m encapai w akt u kesim puan. Hal ini m enyulit kan, khususnya pada kej adian kecelakan at au pem bunuhan m asal, saat korban yang harus di periksa j um lahnya banyak. unt uk it u ia m engem bangakn suat u cara perhit ungan dengan m engunakan kom put er. adapun dat a yang digunakan adalah dat a Mckern dan St ewart sert a dat a Gilbert dan Mckern. Rum us um ur m enurut Snow ( 1983 ) :
Pria : Um ur = 17,1648 + 1,4167 X – 0,182 X2 + 0.0126 X3 r2 = 0,997
SD = 0,6591 + 0,0705 X – 0,0023 X2 + 0.0011X3 Wanit a : Um ur = 14,7428 + 2506 X – 0,4784 X2 + 0,0259 X3
r2 = 0,980
SD = 2,09 + 0,27 X r2 = 0,54
Ket erangan : X adalah skor t ot al m enurut Mckern danSt ewart at au m enurut Gilbert dan Mckern
Um ur SD dalam sat uan t ahun.
Mula- m ula rum as ini di m asukan dalam kom put er sehingga set iap kali cukup hanya m em askan nilai X dan akan segera keluar um ur dan SD unt uk set iap kasus.
Ad. 4 . M e t ode H a n iha r a da n Suz u k i ( 1 9 7 8 )
Hanihara dan suzuki dalam m engunakan m et ide Todd m engalam i berbagai k esulit an, diant aranya sring kali suat u sim fisis t idak m em enuhi seluruh krit eria fase t ert ent u secara lengkap. Met ode Mckern dan St ew art m aupun Gilber t dan Mckern j uga di rasakan agak sulit , khususnya bila dilakukan oleh yang berpngalam an kurang. Sist em yang di pakai adalah sist em Skoring t erhadap set iap kom ponen dari 7 kom ponen yang diperiksa.
Krit eria skorsing m asing- m asiang kom ponen sim fisis pubis m enru t hanihara dan suzuki lngkapnya hanyalah sbagai berikut :
V a r ia be l M or fologi Sk or Pe r u ba ha n M or fologis X 1 Tonj olan dan cekungan
horizont al
1 Jelas
X2 t uberkulum pubicum
X3 uj ung baw ah
Secara lengkap perubahan yang t erj adi pada m asing- m asing kom ponen adalah sebagai berikut :
1. Tonj olan dan cekungan horizont al
Tonj olan dan cekungan horizont al ini sangat j elas pada yang berum ur 20 t ahun : t onj olan t inggi dan cekungan t aj am sert a dalam . Pada um ur ant ara 20- 23 t ahun cekungan m enj adi dangkal dan t onj olan relat if t um pul. Pengikisan yang berlanj ut sam pai kira- kira um ur 27 t ahun, set elah um ur 28 t ahun dengan sedikit kekecualian gam bar ini akan hilang seluruhnya perm ukaan sim fisis akan m enj adi dat ar.
2. Tuburkulum pubikum .
Pada t ulang pubis orang yang berum ur dibaw ah 23 t ahun, t uburkulum nya m elekat m elalui t ulang raw an sehingga garis efisial m asih t erlihat . Set elah um ur 24 t ahun t uburkulum akan m enyat u dengan t ulang pada sem ua orang t anpa kecuali.
3. Uj ung baw ah
Sebelum um u 22 dan 23 t ahun, uj ung bawah perm ukaan sim fisis t ak dapat dibedakan dari uj ung at as rum us pubis inferior. Pad um ur 23- 30 t ahun, bagian bawah perm ukaan sim fisis di bat asi oleh t onj olan sem pet dan set elah 30 t ahun, t onj olan it u m elebar dan banyak kasus bent uknya m enj adi segit iga m enonj ol. 4. Tepi dorsal
sam pai dengan um ur 19 t ahun, t idak t erdapat t onj olan pada bat as dorsal pada perm ukaan sim fisis. Pada sekit ar 20 t ahun suat u t onj olan sam ar- sam ar m uncul pada bat as dorsal perm ukaan. orang yang lebih t ua dari 27 t ahun m enunj ukkan pem bent ukan t onj olan yang ham pir sem purna m eskipun m asih sem pit pada seluruh panj ang t epi dorsal. Pada separuh kasus set elah 33 at au 34 t ahun, t api hal ini sangat bervariasi.
5. Nodulus osifikasi superior.
Pem bent ukan nodulus t erj adi pada perm ukaan pubis bagian at as selam a wakt u yang t erbat as. Tak dit em ukannya nodulus bisa berart i um urnya dibawah 20 t ahun diat as 27 t ahun. I a j elas t erlihat pada um ur 21- 27 t ahun.
6. Lereng vent ral.
7. Bingkai sim fisis
Pada orang yang lebih t ua, perm ukaan sim fisis kadang- kadang dibat asi oleh bingkai yang relat if lebar dan t um pul. Hal ini dapat dij um pai pada orang yang berum ur diat as 30 t ahun dan frekuensinya m eningkat set elah um ur 34 t ahun, m eskipun variasinya j uga besar. karenanya bila dij um pai bingkai yang j elas secara am an dapat dikat akan bahwa um ur 35 an at au lebih, t et api individu t anpa bingkai m ungkin t idak selalu m udah.
Unt uk m enggunakan cara hanihara dan suzuki dalam penent uan um ur kerangka dapat digunakan 2 cara yait u : MRA ( Mult iple Regresision Analisys ) dan QM ( Quant ificat ion Theory Mode 131 I Analysis ) .
Cara MRA :
Pada cara ini dilakukan penghit ungan um ur dengan cara m em asukkan skor m asing-m asing koasing-m ponen kedalaasing-m persaasing-m aan sbb :
Um ur : 10,14 + 1,40 X2 + 0,48 + 2,11 + 1,91 X4 + 0,27 X5 + 1,45 X6 + 0,14 X7
Cara QMI
Pada cara ini set iap pada m asing- m asing kom ponen digant i dengan suat u nilai norm al yang t elah dit ent ukan. Um ur didapat kan dengan cara m enj um lahkan sem ua nilai norm al dari nilai skor X1 – X7
Adapun nilai norm al yang dim aksud adalah sebagai berik ut :
V a r ia be l Sk or N ila i N or m a l Koe fisie n Kor e la si X1 1
2 3
118,08 0,25
X2 1 0,00 0,11
X3 1 0,00 0,49
X4 1 0,00 0,37
X5 1 0,00 0,23
X6 1 0,00 0,34
St andart error unt uk kedua cara ini dibagi dalam 3 kelom pok um ur yait u sepert i yang t am pak pada gam bar di bawah ini :
Kel. Um ur N SE MRA SE QMI
18 - 25 26 2.1960 1.9055
26 - 30 17 2.1791 1.9109
31 - 38 27 2.7408 2.78832
Berdasarkan perhit ungan dari hanihara dan Suzuki ini, didapat kan bahwa cara QMI m em iliki k eunggulan dalam m endapat kan um ur yang sedekat - dekat nya dengan um ur sesungguhnya.
KESI M PULAN
1. Penent uan um ur korban m erupakan salah sat u t erpent ing dalam hal idebt ifikasi. 2. Penent uan um ur dari perubahan- perubahan yang t erj adi pada sym phisis pubis
m erupakan indicat or um ur yang baik.
3. Met ode Todd t idak m em bedakan j enis kelam in.
4. Mwt ode Mckern Gilbert dan st ewart dipakai hanya pada pria. 5. Met ode pada Gilbert dan Mckern unt uk w anit a.
6. Met ode snow . Rum us unt uk m enghit ung skor- - - - um ur 7. Met ode hanihara dan Suzuki.
Penent uan um ur dengan cara MRA ( Mult iole Regression Analysis) dan QMI ( Quant uficat ion Theory Mede 131 I Analisys) .
8. Perhit ungan dengan cara QMI 131 I lebih m endekat i um ur sesungguhnya dibandingkan dengan cara MRA.
D AFTAR PUSTAKA
At m aj a Dj aj a Surya : Penent uan um ur berdasarkan gam bar fasies sim fisis pubis ; Maj alah Pat ologi I ndonesia, Fakult as Kedokt eran Universit as I ndonesia, 1990.
Cam ps Francis. SVD : Pract ical Forencis Medicine; 2. nd Edit ion, Hut chinson Medical Publicat ion, London, 1971.
Glinka Josef. SVD : Ant ropot m et ri & Ant roposkopi ; Edisi Ket iga, Universit as Airlangga, Surabaya, 1990.
Gonzales Thom as A. MD : Legal Medicine Pat hology And TOXI COLOGY ; second edit ion, Aplet on Cent ury Crft s. I nc, New York, 1954.
Ham dani Nj owit o : I lm u kedokt eran Kehakim an ; Edisi kedua PT. Gram edia Pust aka Ut am a, Jakart a, 1992.
I dries Abdul Mun’m in : Pedom a I lm u Kedokt eran Forensik ; edisi pert am a, PT. Bina Rupa Aksara, Jakart a, 1989.
Parikh CK Dr. : Asim plified Text Book of Medical Jurispridence & Toxifology ; Medical Publicat on, Bom bay.
Sobt t a J. Prof : At las Anat om i Manusia ; Edisi Sem bilan belas, j ilid 2 penerbit kedokt eran EGC, Jakart a, 1989.