PROBLEMATIKA PENDAFTARAN TANAH WAKAF
DI KOTA MEDAN
SKRIPSI
Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh :
NIM : 070200383
MELISA CHAIRANI
DEPARTEMEN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA Program Kekhususan Hukum Agraria
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
PROBLEMATIKA PENDAFTARAN TANAH WAKAF
DI KOTA MEDAN
SKRIPSI
Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh :
NIM : 070 200 383
MELISA CHAIRANI
DEPARTEMEN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA Program Kekhususan: Hukum Agraria
Disetujui Oleh:
Ketua Dep. Hukum Administrasi Negara Ketua PK. Hk. Agraria
(Surianingsih, SH, M. Hum) (Prof. Dr. Mhd. Yamin, SH.MS,CN NIP: NIP: 1961 12 31 1987 03 10 23
)
PEMBIMBING I PEMBIMBING II
(Prof.DR.H.Mhd. Yamin Lubis ,SH.MS.CN) NIP: NIP:
(Zaidar,SH,M.Hum)
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
ABSTRAK
Wakaf merupakan salah satu ibadah yang mempunyai dimensi sosial di dalam agama Islam. Dalam pelaksanaan wakaf, Pembuatan Akta Ikrar Wakaf mempunyai arti yang sangat penting, karena dengan dibuatnya Akta Ikrar Wakaf, maka perwakafan tersebut akan terbukti otentik dalam akta dan dapat melindungi serta menjamin kesinambungan, kelestarian dan kelanggengan eksistensi wakaf itu sendiri, yang dapat dipergunakan dalam berbagai persoalan. Namun pada kenyataannya masih terdapat pelaksanaan wakaf yang dilakukan hanya memenuhi syarat sahnya wakaf menurut hukum Islam tanpa Pembuatan Akta Ikrar Wakaf.
Metode pendekatan yang digunakan adalah deskriptif analitis. Data sekunder diperoleh dengan studi kepustakaan (library research) dengan mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan permasalahan dalam skripsi ini dan juga melakukan penelitian (field research) dengan melakukan wawancara dengan pihak yang berwenang di Kantor Pertanahan Kota Medan dan Nadzir.
Proses mekanisme pelaksanaan perwakafan tanah di kota Medan menurut Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 secara materil baru terjadi setelah melewati prosedural pembuatan akta ikrar wakaf di hadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) dan para saksi serta Nadzir. Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) ex-officio Kepala Kantor Urusan Agama setempat yang dituangkan ke dalam Akta Ikrar Wakaf (AIW) atau Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf (APAIW), namun secara formil prosedural kepemilikan tanah wakaf lahir setelah diterbitkannya sertipikat tanah wakaf oleh Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia, dalam hal ini kantor pertanahan.
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan
rahmat dan karunia-Nya telah memberikan kesehatan, kekuatan dan ketekunan
pada penulis sehingga mampu dan berhasil menyelesaikan skripsi ini.
Skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana
Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Dalam penulisan
skripsi ini penulis menyadari terdapatnya kekurangan, namun demikian dengan
berlapang dada penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun dari
semua pihak yang menaruh perhatian terhadap skripsi ini.
Demi terwujudnya penyelesaian dan penyusunan skripsi ini, penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
dengan ikhlas dalam memberikan bantuan untuk memperoleh bahan-bahan yang
diperlukan dalam penulisan skripsi ini.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH.M.Hum, sebagai Dekan Fakultas Hukum
USU Medan
2. Bapak M. Husni, SH, MH, sebagai Pembantu Dekan III FH. USU Medan
3. Bapak Prof. Dr. Tan Kamello, SH.MS, sebagai Pelaksana Ketua Departemen
Hukum Keperdataan
4. Bapak Prof.Dr.H. Mhd. Yamin Lubis, SH.MS.CN sekaligus sebagai
Pembimbing I yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing
dan mengarahkan pembuatan skripsi.
5. Ibu Zaidar, SH, M.Hum, sebagai Pembimbing II yang telah bersedia
meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan pembuatan
skripsi
6. Seluruh staf pengajar Fakultas Hukum USU yang dengan penuh dedikasi
menuntun dan membimbing penulis selama mengikuti perkuliahan sampai
7. Terima kasih yang sebesar-besarnya dari penulis kepada orang tua tercinta
ayahanda dan Ibunda yang telah memberikan sangat banyak dukungan moril,
materil, dan kasih sayang mereka yang tak pernah putus sampai sekarang dan
selamanya.
Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
tidak mungkin disebutkan satu persatu dalam kesempatan ini, hanya Allah SWT
yang dapat membalas budi baik semuanya.
Semoga ilmu yang penulis telah peroleh selama ini dapat bermakna dan
berkah bagi penulis dalam hal penulis ingin menggapai cita-cita.
Medan, Juni 2011 Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iv
BAB I : P E N D A H U L U A N ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7
D. Keaslian Penelitian ... 8
E. Tinjauan Pustaka ... 8
F. Metode Penelitian ... 21
G. Sistematika Penulisan ... 23
BAB II : PERKEMBANGAN PERWAKAFAN TANAH DI KOTA MEDAN ... 24
A. Tinjauan Tentang Pendaftaran Tanah ... 24
1. Pengertian Pendaftaran Tanah ... 25
2. Lembaga Pendaftaran Tanah ... 25
3. Azas-Azas Pendaftaran Tanah ... 25
4. Tujuan Pendaftaran Tanah ... 26
5. Sertipikasi Pendaftaran Tanah ... 27
B. Perkembangan Pendaftaran Tanah Wakaf di Kota Medan . 29 1. Objek, Sifat, Tujuan Serta Syarat-Syarat Perwakafan Tanah ... 29
2. Tatacara Perwakafan Tanah... 38
4. Aspek Hukum Pendaftaran Tanah Wakaf ... 49
BAB III : KENDALA-KENDALA YANG DIHADAPI NADZIR
DALAM PENDAFTARAN TANAH WAKAF ... 56
A. Kendala Yang Dihadapi Nadzir Dalam Pendaftaran Tanah
Wakaf ... 56
B. Peran Nadzir Sebagai Penerima Wakaf Dalam Proses
Terjadinya Perwakafan ... 60
C. Tanggung Jawab Nadzir ... 63
BAB IV :
UPAYA PEMERINTAH KOTA MEDAN DALAM
MENGATASI PROBLEMATIKA PENDAFTARAN
TANAH WAKAF ... 66
A. Upaya Pemerintah Kota Medan Dalam Mengatasi
Problematika Pendaftaran Tanah Wakaf ... 66
B. Peranan Kantor Pertanahan Kota Medan Dalam
Mengatasi Permasalahan Pendaftaran Tanah Wakaf ... 76
BAB V ... :
KESIMPULAN DAN SARAN ... 81
A. Kesimpulan ... 81
B. Saran ... 82
ABSTRAK
Wakaf merupakan salah satu ibadah yang mempunyai dimensi sosial di dalam agama Islam. Dalam pelaksanaan wakaf, Pembuatan Akta Ikrar Wakaf mempunyai arti yang sangat penting, karena dengan dibuatnya Akta Ikrar Wakaf, maka perwakafan tersebut akan terbukti otentik dalam akta dan dapat melindungi serta menjamin kesinambungan, kelestarian dan kelanggengan eksistensi wakaf itu sendiri, yang dapat dipergunakan dalam berbagai persoalan. Namun pada kenyataannya masih terdapat pelaksanaan wakaf yang dilakukan hanya memenuhi syarat sahnya wakaf menurut hukum Islam tanpa Pembuatan Akta Ikrar Wakaf.
Metode pendekatan yang digunakan adalah deskriptif analitis. Data sekunder diperoleh dengan studi kepustakaan (library research) dengan mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan permasalahan dalam skripsi ini dan juga melakukan penelitian (field research) dengan melakukan wawancara dengan pihak yang berwenang di Kantor Pertanahan Kota Medan dan Nadzir.
Proses mekanisme pelaksanaan perwakafan tanah di kota Medan menurut Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 secara materil baru terjadi setelah melewati prosedural pembuatan akta ikrar wakaf di hadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) dan para saksi serta Nadzir. Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) ex-officio Kepala Kantor Urusan Agama setempat yang dituangkan ke dalam Akta Ikrar Wakaf (AIW) atau Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf (APAIW), namun secara formil prosedural kepemilikan tanah wakaf lahir setelah diterbitkannya sertipikat tanah wakaf oleh Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia, dalam hal ini kantor pertanahan.
berkompeten dalam menangani perwakafan tanah. Wawancara dilakukan
untuk mengungkap data mengenai hambatan-hambatan yang terjadi dalam
pelaksanaan pendaftaran tanah wakaf.
G. Sistematika Penulisan
Sebagaimana layaknya suatu karya ilmiah seseuai dengan penulisan
skripsi di Universitas Sumatera Utara fakultas Hukum Departemen Hukum
Administrasi Negara Program Kekhususan Agraria, maka sistematika penulisan
skripsi ini terdiri dari 5 bab yang dibagi dalam sub-bab sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini terdiri dari Latar Belakang, Rumusan Masalah, Manfaat dan
Tujuan Penelitian, Keaslian Penulisan, Tinjauan Pustaka, Metode
Penelitian dan Sistematika penulisan.
BAB II : PROSES PELAKSANAAN PERWAKAFAN TANAH DI KOTA
MEDAN
BAB III : HAMBATAN YANG DIHADAPI NAZHIR DALAM
PENDAFTARAN TANAH WAKAF.
BAB IV : UPAYA PEMERINTAH KOTA MEDAN DALAM MENGATASI
PROBLEMATIKA PENDAFTARAN TANAH WAKAF
BAB II
PERKEMBANGAN PERWAKAFAN TANAH DI KOTA MEDAN
A. Tinjauan Tentang Pendaftaran Tanah
1) Pengertian Pendaftaran Tanah
Pendaftaran tanah dalam bahasa Latin disebut dengan capitastrum, di
Jerman dan Itali disebut dengan nama Catastro, dalam bahasa Perancis disebut
dengan Cadastre, akhirnya oleh Kolonial Belanda di Indonesia disebut dengan
kadastrale atau kadaster. 21 Capitastrum atau kadaster dari segi bahasa adalah
suatu register atau capita atau unit yang diperbuat untuk pajak tanah romawi
yang berarti suatu istilah teknis untuk suatu record (rekaman) yang menunjuk
kepada luas, nilai dan kepemilikan atau pemegang hak atas suatu bidang tanah,
sedang kadaster yang modern bias terjadi atas peta yang ukuran besar dan
daftar-daftar yang berkaitan.22
Pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan Pasal 1 Angka (1) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997
merumuskan pengertian pendaftaran tanah, sebagai berikut :
21
R. Harmanses, Pendaftaran Tanah di Indonesia, Pradnya Paramita, Jakarta, 1996, hal. 14
22
hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebani haknya.23
Menurut Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 bahwa
“Pendaftaran tanah diilaksanakan berdasarkan azas sederhana, aman, terjangkau, 2. Lembaga Pendaftaran Tanah
Keberadaan lembaga pendaftaran tanah Indonesia saat ini yaitu sesuai
dengan tugas pokok dan fungsi Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia
terakhir ditetapkan berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10
Tahun 2006 Tentang Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Tanggal 11
April 2006 yang antara lain menyebutkan bahwa pada tingkat pusat disebut
dengan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia berkedudukan di Jakarta
yang dipimpin oleh seorang kepala.
Pada jajaran tingkat propinsi disebut dengan Kantor Wilayah Badan
Pertanahan Nasional Propinsi yang dipimpin oleh seorang Kepala Kantor Wilayah
sedangkan di daerah kabupaten atau kota disebut dengan kantor pertanahan
kabupaten/kota yang dipimpin oleh seorang kepala kantor pertanahan yang
membawahi tata usaha dan 5 (lima) seksi-seksi sebagaimana diatur di dalam
Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 4 Tahun 2006 Tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional dan
Kantor Pertanahan Tanggal 16 Mei 2006
3. Azas-Azas Pendaftaran Tanah
23
mutaakhir dan terbuka”, namun berdasarkan penjelasannya dapat dipahami
sebagai berikut :
a. Azas sederhana : mengisyaratkan agar peraturan perundangan bidang dan
prosedur pendaftaran tanah di kantor pertanahan mudah dipahami sehingga
masyarakat tidak merasa kesulitan mendaftar kan hak atas tanah.
b. Azas aman : mengisyaratkan agar penelitian data fisik dan yuridis pada
prosedural perolehan hak atas tanah di kantor pertanahan dapat dilaksanakan
dengan teliti dan cermat yang dimungkinkan penggunaan peralatan
komputerisasi teknologi modern agar tercapai tujuan pendaftaran tanah yaitu
kepastian hukum hak atas tanah.
c. Azas terjangkau : mengisyaratkan agar segala biaya perolehan hak atas tanah
di kantor pertanahan dapat disesuaikan dengan kemampuan masyarakat dan
diprioritaskan kepada masyarakat golongan ekonomi lemah.
d. Azas mutakhir : mengisyaratkan agar mewajibkan kepada pemegang hak atas
tanah untuk mendaftarkan atau mencatatkan setiap perobahan data pertanahan
baik fisik maupun yuridis di kantor petanahan secara berkesinambungan.
e. Azas terbuka : mengisyaratkan agar data pendaftaran tanah yang tersedia di
kantor pertanahan dapat diiformasikan kepada pemegang haknya atau kepada
instansi pemerintah karena tugas, pokok dan fungsinya atau kepada pihak lain
yang membutuhkan sesuai ketentuan yang berlaku.
4. Tujuan Pendaftaran Tanah
Tujuan pendaftaran tanah sebagaimana dinyatakan di dalam Pasal 3
a. Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain yang terdaftar, agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan.
b. Untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan termasuk Pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun yang sudah terdaftar.
c. Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan.
Selanjutnya untuk mencapai tujuan pendaftaran tanah tersebut diadakan
rangkaian kegiatan pendaftaran tanah baik untuk pertama kali maupun untuk
pemeliharaan datanya, sebagaimana ditegaskan Pasal 12 Peraturan Pemerintah
Nomor 24 Tahun 1997 dalam ayat :
(1) Kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali meliputi : a. pengumpulan dan pengolahan data fisik.
b. pembuktian hak dan pembukuannya. c. penerbitan sertipikat.
d. penyajian data fisik dan data yuridis. e. penyimpanan daftar umum dan dokumen.
(2) Kegiatan pemeliharaan data pendaftaran tanah meliputi : a. pendaftaran peralihan dan pembebanan hak.
b. pendaftaran perobahan data pendaftaran tanah lainnya”.
5. Sertipikasi Pendaftaran Tanah
Sertipikasi tanah yang dimohon pendaftarannya di kantor pertanahan
diharuskan melampirkan persyaratan sesuai ketentuan berlaku, selanjutnya
diproses melalui suatu prosedural pengumpulan dan pengolahan data fisik yaitu
berupa pengukuran dan pemetaan bidang tanah sehingga terkumpul data mengenai
letak, bentuk dan luas tanah bidang tanah bersangkutan, demikian juga halnya
dengan pengumpulan dan pengolahan data yuridis berupa pemeriksaan dan
penelitian oleh panitia A terhadap alas hak atas tanah bersangkutan sampai
Pasal 1 angka 8 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang
pendaftaran tanah ditetapkan bahwa dalam melaksanakan pendaftaran secara
sistematik Kepala Kantor Pertanahan di bantu oleh Panitia A dibentuk oleh
Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional atau pejabat yang
ditunjuk.
Ajudikasi adalah kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka proses
pendaftaran tanah untuk pertama kali, meliputi pengumpulan dan penetapan
kebenaran data fisik dan data yuridis mengenai satu atau beberapa obyek
pendaftaran tanah untuk keperluan pendaftarannya.
Panitia B yang di dalamnya termasuk juga BPN sebagai Ketua merangkap
anggota melakukan penelitian dan pemeriksaan atas data yang sudah diisi oleh
Pemohon hak disertai juga dengan pendapat serta pertimbangan mengenai tanah
yang diperiksa. Apabila Panitia B dalam pemeriksaan dan penelitiannya
menemukan adanya kekurangan data yuridis, Panitia B memerintahkan kepada
Pemohon untuk melengkapi data tersebut. Setelah selesai kemudian dikembalikan
lagi kepada Panitia B, untuk dilakukan pemeriksaan kembali. Apabila Pemohon
tidak sanggup untuk memenuhi perintah Panitia B, maka proses tidak dapat
dilanjutkan dan permohonan ditolak/dianggap batal.
Setelah data tersebut dinilai lengkap oleh Panitia B, Panitia B elakukan
tinjau lapangan/tinjau lokasi guna proses pengecekan terhadap data fisik yang
dilaporkan oleh si Pemohon dalam formulir tertulisnya. Apabila dalam hasil tinjau
lapangan ditemukan ketidaksesuaian data maka terdapat dua kemungkinan yaitu
perintah untuk memperbaiki data dan penghentian proses/penolakan. Setelah
Panitia B membuat surat ukur/gambar situasi tanah, yang berisi tentang
luas lahan serta batas-batas lahan. Hal ini dilakukan atas dasar tinjau
lokasi yang dilakukan oleh Panitia B.
Persyaratan permohonan sertipikat tanah wakaf di kantor pertanahan
dimaksud harus sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 1 Tahun 2005 sebagaimana yang telah diubah dengan Nomor 6 Tahun
2008 dan terakhir dengan Nomor 1 Tahun 2010 Tentang Standar Prosedur Operasi
Pengaturan dan Pelayanan (SPOPP) di Lingkungan Badan Pertanahan Nasional.
Menurut ketentuan Pasal 39 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006
bahwa jika tanah yang diwakafkan berasal dari hak pakai atau hak guna bangunan
yang berdiri di atas tanah hak pengelolaan maka diperlukan persetujuan tertulis
atau pelepasan hak dari pemegang hak pengelolaan bersangkutan, jika tanah
tersebut merupakan asset Pemerintah, BUMN atau BUMD maka diperlukan
persetujuan tertulis dari pejabat bersangkutan, jika tanah tersebut berasal dari
tanah negara maka diperlukan pelepasan hak dari pejabat pertanahan, jika tanah
yang diwakafkan merupakan sebagian dari tanah yang sudah ada haknya maka
sertipikatnya terlebih dahulu dipecah kemudian dimohon pendaftarannya di kantor
pertanahan atas nama nadzir tanah wakaf untuk kepentingan badan wakaf.
B. Perkembangan Pendaftaran Tanah Wakaf di Kota Medan
3. Objek, Sifat dan Tujuan Wakaf Serta Syarat-Syarat Perwakafan
Tanah
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 membatasi obyek wakaf
hanya pada tanah hak milik saja, tidak mencakup harta lainnya yang dimiliki oleh
wakif. Untuk menjamin kepastian hukum Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun
1977 mengharuskan wakaf dilakukan secara lisan dan tertulis dihadapan pejabat
pembuat akta ikrar wakaf untuk selanjutnya dibuat akta ikrar wakaf. Dengan
mendasarkan akta ikrar wakaf maka tanah hak milik diajukan perubahannya ke
Badan Pertanahan Nasional setelah memenuhi syarat administrasinya untuk
diubah menjadi sertipikat wakaf.
Objek wakaf menurut Pasal 16 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004
tentang Wakaf menyebutkan bahwa
(1) Harta benda wakaf terdiri dari: a. Benda tidak bergerak b. Benda bergerak.
(2) Benda tidak bergerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. Hak atas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik yang sudah maupun yang belum terdaftar.
b. Bangunan atau bagian bangunan yang berdiri di atas tanah sebagaimana dimaksud pada huruf a
c. Tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah
d. Hak milik atas satuan rumah susun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang.undangan yang berlaku
e. Benda tidak bergerak lain sesuai dengan ketentuan syariah dan peraturan perundang.undangan yang berlaku.
(3) Benda bergerak adalah harta benda yang tidak bisa habis karena dikonsumsi, meliputi:
a. Uang
b. Logam mulia c. Surat berharga d. Kendaraan
e. Hak atas kekayaan intelektual f. Hak sewa
Dengan demikian Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf
mengatur wakaf dalam lingkup yang lebih luas, tidak terbatas hanya pada wakaf
tanah milik, juga membagi benda wakaf menjadi benda tidak begerak dan benda
bergerak. Benda tidak bergerak contohnya hak atas tanah, bangunan atau bagian
bangunan, tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah, serta hak milik
atas rumah susun. Sedangkan benda bergerak contohnya adalah uang, logam
mulia, surat berharga, kendaraan, hak atas kekayaan intelektual dan hak sewa.
Dipandang dari sudut waqif, wakaf merupakan kebajikan yang
mengalirkan pahala (ganjaran kebaikan dari Allah SWT) tanpa henti (shadaqaat
jariyah).
Dari segi ini, Nabi Muhammad SAW memberi sugesti yang kuat. Nabi saw menyatakan bahwa hanya tiga kebajikan seseorang yang terus mengalirkan balasan yang baik bagi pelakunya, yaitu harta wakaf, ilmu yang diajarkan dan anak saleh yang mendoakannya. Sugesti nabi ini merupakan dorongan bagi umat untuk menanamkan semangat kedermawanan bagi kepentingan umum. Orang yang mempunyai perhatian perhatian terhadap kepentingan umum dan merelakan sebagian dari hak milik (hartanya) untuk kepentingan umum akan mendapat penghargaan kelanjutan dari Allah SWT. 24
24
M. Yasir Nasution., Op.Cit, hal. 3.
Dipandang dari sudut penggunaanya, wakaf merupakan aset sosial dan
ekonomi yang sangat besar manfaatnya bagi distribusi kekayaan yang lebih adil,
peneguhan ikatan sosial, dan peningkatan kesejahteraan. Oleh sebab itu, dalam
sejarah dijumpai bahwa wakaf tidak hanya digunakan untuk kepentingan ibadah
seperti mesjid tetapi wakaf juga berkembang penggunaannya dalam bentuk
fasilitas sosial dan ekonomi seperti pendidikan, jembatan, rumah sakit, pusat
Dukungan wakaf terhadap pengelolaan lembaga pendidikan adalah
fenomena umum dalam sejarah pendidikan Islam. Ini menunjukkan bahwa
perhatian dan kepedulian terhadap fasilitas umum sebagai aset sosial umat sangat
tinggi di kalangan hartawan dan pengusaha muslim.25
Wakaf merupakan salah satu usaha mewujudkan dan memelihara
hubungan vertical (habln min Allah) dan horizontal (hablun min al-nas). Dalam
fungsinya sebagai ibadah diharapkan akan menjadi bekal bagi kehidupan si wakif
(orang yang berwakaf) di hari kemudian (akhirat).26
a. Untuk kepentingan umum, seperti mendirikan mesjid, sekolah rumah sakit dan amal sosial lainnya.
Menurut HM. Daud Ali dan Habibah Daud disebutkan bahwa tujuan
wakaf harus jelas, misalnya :
b. Untuk menolong fakir miskin dan orang-orang terlantar dengan membangun panti asuhan
c. Untuk keperluan keluarga sendiri walaupun keluarga itu terdiri dari orang-orang yang mampu
d. Tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai ibadah.27
Sedangkan fungsi wakaf menurut Kompilasi Hukum Islam dan
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf menyebutkan bahwa fungsi wakaf
adalah menegakkan manfaat benda wakaf sesuai dengan tujuan wakaf yaitu
melembagakannya untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadat atau keperluan
umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam.
25
Ibid, hal. 3
26
Departemen Agama RI. Bunga Rampai Perwakafan, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Jakarta, 2006, hal.79
27
Berdasarkan ketentuan Pasal 4 dan 5 Undang-undang Nomor 41 Tahun
2004 Tentang Wakaf dijelaskan bahwa wakaf bertujuan untuk memanfaatkan
harta benda wakaf sesuai dengan fungsinya yaitu mewujudkan potensi dan
manfaat ekonomis harta benda wakaf untuk kepentingan ibadah dan memajukan
kesejahteraan umum.
Tujuan wakaf tersebut kelihatan sejalan dengan tujuan nasional
sebagaimana tercermin di dalam semua sila dari Pancasila terutama sila ke lima
yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” yang secara
konstitusional diamanahkan Pasal 33 Ayat 3 Undang Undang Dasar Republik
Indonesia Tahun 1945 bahwa “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung
di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat.”
Perbedaan kedua tujuan tesebut di atas bahwa terhadap pengelolaan harta
benda wakaf ditegaskan secara jelas harus dilaksanakan sesuai dengan
prinsip-prinsip syariah, artinya harus dijalankan dengan cara yang halalan toyyiba (halal
dan baik) menurut ketentuan Al-Quran dan Hadist Nabi Muhammad SAW.
Agar wakaf dapat berfungsi sebagaimana mestinya, maka pelembagaannya
haruslah untuk selama-lamanya. Agar benda itu tetap dapat bermanfaat bagi
peribadatan dan kepentingan umum lainnya. Ia harus dikelola oleh suatu badan
yang bertanggung jawab, baik kepada wakif, masyarakat maupun kepada Allah.
Itulah sebabnya, dalam sistem perwakafan di Indonesia ditentukan pula
kedudukan nadzir yaitu kelompok orang atau badan yang diserahi tugas
Dalam konsep Islam, dikenal istilah jariah artinya mengalir. Maksudnya
sedekah atau wakaf yang dikeluarkan, sepanjang benda wakaf itu dimanfaatkan
untuk kepentingan kebaikan maka selama itu pula si wakif mendapat pahala
secara terus menerus meskipun telah meninggal dunia.
Untuk terjadinya wakaf harus dipenuhi unsur-unsur dan syarat-syarat
wakaf. Unsur wakaf di sini dimaksud adalah rukun wakaf.
Untuk adanya wakaf harus dipenuhi lima unsur, yaitu :
a. Wakif atau orang yang mewakafkan.
1) Berhak berbuat kebaikan.
2) Atas kehendak sendiri.
Berarti orang (dapat juga dilakukan oleh badan hukum) yang berwakaf
haruslah orang yang berhak untuk melakukan sesuatu perbuatan. Dengan kata
lain orang yang cakap bertindak menurut hukum yaitu orang yang dewasa dan
sehat akalnya serta oleh hukum tidak terhalang untuk melakukan perbuatan
hukum. Sedangkan yang dimaksud dengan kehendak sendiri, bahwa seseorang
tidak dapat dipaksa agar ia mewakafkan harta miliknya. Dengan demikian
orang yang dipaksa untuk melakukan wakaf adalah tidak sah, karena tidak
memenuhi syarat.
Pada hakekatnya amalan wakaf adalah tindakan tabarru’ (mendermakan harta benda), karena itu syarat seorang wakif adalah cakap melakukan tindakan tabarru’. Artinya sehat akalnya, dalam keadaan sadar, tidak dalam keadaan terpaksa/dipaksa dan telah mencapai umur baliq (dewasa) Oleh karena itu wakaf orang gila, anak-anak dan orang yang terpaksa/dipaksa adalah tidak sah.28
28
Pasal 215 (2) Kompilasi Hukum Islam dan Pasal 1 ayat (2)
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf disebutkan bahwa wakif adalah
orang atau orang-orang ataupun badan hukum yang mewakafkan benda
miliknya. Syarat-syaratnya dikemukakan dalam pasal 217 KHI, yaitu :
1) Badan-badan hukum Indonesia dan orang atau orang-orang yang telah dewasa dan sehat akalnya serta yang oleh hukum tidak terhalang untuk melakukan perbuatan hukum, atas kehendak sendiri dapat mewakafkan benda miliknya dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2) Dalam hal badan-badan hukum, maka yang bertindak untuk dan atas namanya adalah pengurusnya yang sah menurut hukum (Pasal 3 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf).
Dari ketentuan di atas, maka jelaslah bahwa dalam kaitan ini tidak
ada ketentuan yang mengharuskan seorang wakif haruslah seorang
muslim. Oleh sebab itu orang non muslim pun dapat melakukan wakaf.
Sepanjang ia melakukannya sesuai dengan ketentuan ajaran Islam dan
perundang-undangan yang berlaku.
b. Maukuf atau benda yang diwakafkan.
Objek atau benda yang diwakafkan tersebut mempunyai persyaratan
persyaratan tertentu atau dengan kata lain tidak semua benda dapat
diwakafkan. Syarat-syarat harta benda yang diwakafkan yang harus dipenuhi
adalah sebagai berikut :
1) Benda wakaf dapat dimanfaatkan untuk jangka panjang, tidak sekali pakai.
Hal ini bahwa benda wakaf adalah lebih mementingkan manfaat.
2) Hak milik wakif yang jelas batas-batas kepemilikannya. Selain itu benda
wakaf merupakan benda milik yang bebas dari segala pembebanan, ikatan,
3) Benda wakaf itu tidak dapat dimiliki oleh seseorang dan atau dipindahkan
kepemilikannya.
4) Benda wakaf itu tidak dapat diperjual belikan, dihibahkan atau diwariskan.
Dalam pasal 215 ayat (4) KHI disebutkan bahwa benda wakaf adalah
segala benda baik benda bergerak atau tidak bergerak yang memiliki daya
tahan yang tidak hanya sekali pakai dan bernilai menurut ajaran Islam.
Syarat-syarat benda wakaf menurut Kompilasi Hukum Islam harus
merupakan benda milik yang bebas dari segala pembebanan, ikatan sitaan dan
sengketa.
c. Maukuf alaih atau tujuan wakaf.
Seharusnya wakif menentukan tujuan ia mewakafkan harta benda
miliknya. Apakah diwakafkan hartanya itu untuk menolong keluarganya
sendiri, untuk fakir miskin, sabilillah dan lain-lain atau diwakafkannya untuk
kepentingan umum, yang utama adalah wakaf itu diperuntukkan pada
kepentingan umum.
Oleh karena itu tujuan wakaf tidak bisa digunakan untuk kepentingan
maksiat atau membantu, mendukung dan memungkinkan diperuntukkan untuk
tujuan maksiat.
d. Sigat atau ikrar/pernyataan wakaf.
Ikrar adalah pernyataan kehendak dari wakif untuk mewakafkan tanah
miliknya.
Sigat atau pernyataan wakaf harus dinyatakan dengan tegas baik secara
lisan maupun tulisan menggunakan kata ‘aku mewakafkan’ atau ‘aku
menahan’ atau kalimat semakna lainnya. Dengan pernyataan wakif itu, maka
gugurlah hak wakif. Selanjutnya benda itu menjadi milik mutlak Allah yang
karena itu, benda yang telah diikrarkan wakafnya tidak bisa dihibahkan,
diperjualbelikan maupun diwariskan.
Ikrar wakaf adalah tindakan hukum yang bersifat deklaratif (sepihak)
untuk itu tidak diperlukan adanya kabul (penerimaan) dari orang yang
menikmati manfaat wakaf tersebut. Namun demikian, demi tertib hukum dan
administrasi guna menghindarkan penyalahgunaan benda wakaf, pemerintah
mengeluarkan peraturan perundang-undangan yang secara organik mengatur
perwakafan.
e. Nadzir wakaf atau pengelola wakaf.
Nadzir adalah sekelompok orang atau badan hukum yang diserahi
tugas pemeliharaan dan pengurusan benda wakaf.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Nadzir perorangan, adalah : 1) Warga Negara Indonesia.
2) Beragama Islam. 3) Sudah Dewasa.
4) Sehat jasmani dan rohani.
5) Tidak berada di bawah pengampuan.
6) Bertempat tinggal di Kecamatan tanah itu diwakafkan.
Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Nadzir badan hukum adalah :
1) Badan hukum Indonesia, berkedudukan di Indonesia.
2) Mempunyai perwakilan di Kecamatan tempat tanah itu diwakafkan. 3) Sudah disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM dan dimuat dalam
Berita Negara.
4) Jelas tujuan dan usahanya untuk kepentingan peribadatan atau kepentingan umum lainnya sesuai dengan ajaran agama Islam. 29
Nadzir sebagai pihak yang mengelola harta wakaf haruslah didaftarkan
pada Kantor Urusan Agama Kecamatan setempat setelah mendengar saran
dari Camat dan Majelis Ulama Kecamatan untuk mendapatkan pengesahan.
29
Selain syarat-syarat yang melekat pada masing-masing rukun seperti
tersebut di atas, ada beberapa syarat lain yang harus dipenuhi, yaitu :
1) Perwakafan benda itu tidak dibatasi untuk jangka waktu tertentu, tetapi untuk selama-lamanya. Waktu yang dibatasi waktunya misalnya untuk lima tahun saja atau sepuluh tahun saja, hukumnya tidak sah.
2) Tujuan wakaf harus jelas, kecuali apabila wakaf tersebut diserahkan kepada suatu badan hukum yang sudah jelas usaha-usahanya untuk kepentingan kebaikan.
3) Wakaf yang sah wajib dilaksanakan, karena ikrar wakaf berlaku seketika dan untuk selama-lamanya.
4) Pelaksanaan wakaf direalisasikan segera setelah ikrar. Hal ini karena pemilikan telah lepas dari wakif. Karena itu wakaf tidak boleh digantungkan kepada suatu keadaan atau syarat tertentu, misalnya pada kematian seseorang atau suatu kondisi tertentu.
5) Apabila seorang wakif menentukan syarat dalam pelaksanaan pengelolaan benda wakaf, sepanjang tidak bertentangan dengan tujuan wakaf, maka Nadzir perlu memperhatikannya. Tetapi apabila syarat tersebut bertentangan dengan tujuan wakaf semula, seperti mesjid yang jamaahnya terbatas pada golongan tertentu saja, maka nadzir tidak perlu memperhatikannya. 30
4. Tatacara Perwakafan Tanah
Tatacara perwakafan dilakukan berdasarkan ketentuan sebagaimana yang
diatur di dalam Kompilasi Hukum Islam. Untuk melakukan perwakafan tanah
tersebut, wakif membuat pernyataan bahwa tanah yang diwakafkan tersebut
beserta dengan segala tanaman-tanaman yang berada di atasnya adalah tidak ada
silang sengketa dengan pihak siapapun juga baik mengenai hak penguasaanya,
luasnya maupun batas-batasnya dan tidak dengan agunan sebagai jaminan untuk
suatu hutang ataupun diberati oleh beban-beban lainnya dan wakif menjamin tidak
akan menimbulkan persengketaan dikemudian hari, baik itu datangnya dari pihak
sanak keluarganya, famili taupun dengan pihak orang lain.
30
Selanjutnya dalam surat pernyataan penyerahan wakaf tersebut tidak
dalam paksaan atau tekanan dari pihak manapun juga dan atas persetujuan dari
pihak isteri dan tanah wakaf tersebut diwakafkan dengan tujuan untuk
kepentingan umat muslim yaitu untuk digunakan sebagai Musholah serta
menunjang kegiatan-kegiatan keagamaan, seperti sholat berjamaah, pengajian dan
lain-lain yang bersifat keagaamaan. Surat pernyataan penyerahan wakaf atas
sebidang tanah tersebut haruslah diketahui dan ditandatangani oleh Kepala Desa
dimana wakif tersebut tinggal.
Dengan demikian jelaslah bahwa surat pernyataan penyerahan wakaf
sebidang tanah tersebut adalah telah sesuai dan memenuhi syarat-syarat dan
unsur-unsur sebagaimana yang diatur dalam kompilasi hukum Islam dan juga
sesuatu dengan tatacara pernyataan penyerahan penyerahan benda wakaf. Tanah
yang hendak diwakafkan baik seluruhnya atau sebagian harus merupakan tanah
hak milik atau tanah milik dan harus bebas dari beban ikatan, jaminan, sitaan atau
sengketa.
Setelah adanya pernyataan penyerahan tanah wakaf, maka Kepala Desa
mengeluarkan surat keterangan tentang perwakafan tanah milik yang di dalamnya
menerangkan tentang sertifikat tanah, ukuran tanah, letak tanah dan batas-batas
tanah yang diwakafkan tersebut.
Setelah persyaratan tersebut dipenuhi, maka wakif harus mengikrarkan
secara lisan, jelas dan tegas kepada Nadzir yang telah disahkan dihadapan Kepala
Kantor Urusan Agama Kecamatan/Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf yang
Wakif yang akan mewakafkan tanahnya harus datang menghadap kepada
Kepala KUA Kecamatan sebagai Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf dimana harta
tersebut akan diwakafkan untuk melaksanakan ikrar wakaf. Pelaksanaan ikrar
wakaf tersebut dianggap sah, jika dihadiri dan disaksikan oleh
sekurang-kurangnya dua orang saksi.
Ikrar atau lafaz wakaf adalah ucapan dari orang yang berwakaf bahwa dia
mewakafkan untuk kepentingan tertentu. Misalnya saya mewakafkan tanah ini
untuk kepentingan Mesjid. Apabila sudah dilafazkan seperti itu, maka tanah
tersebut hanya dapat dipergunakan untuk kpentingan pembangunan mesjid atau
dengan kata lain peruntukannya tidak dapat dialihkan lagi.
Dengan demikian jelaslah bahwa dalam pembuatan akta wakaf harus
dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Wakif harus membuat surat pernyataan penyerahan wakaf atas sebidang tanah yang dii dalamnya tertulis letak lokasi dan ukuran tanah yang akan diwakafkan tersebut. Di dalam surat pernyataan tersebut dinyatakan bahwa tanah tersebut bebas dari silang sengketa dan disebutkan juga tujuan wakif atas penyerahan wakaf tersebut.
2. Adanya surat keterangan Kepala Desa tentang perwakafan tanah milik. Surat keterangan dari kepala Desa tantang perwakafan tanah adalah untuk lebih mempertegas bahwa tanah tersebut benar tanah wakaf.
3. Adanya sertifikat hak milik atau benda bukti pemilik.
4. Jika benda yang diwakafkan berupa benda tidak bergerak, maka harus disertai surat keterangan dari Kepala Desa yang diperkuat oleh Camat setempat yang menerangkan pemilikan benda tidak bergerak dimaksud. 5. Surat keterangan pendaftaran tanah.
6. Surat izin dari Kepala Badan Pertanahan Nasional.31
Untuk lebih menjamin kapastian hukum tanah yang diwakafkan dan untuk
menghindari hal-hal yang dapat merugikan masyarakat serta mencegah jangan
sampai terjadi penyalahgunaan wakaf, pemerintah mengeluarkan peraturan
31
Abdurrahman, Masalah Perwakafan Tanah Milik Dan Kedudukan Tanah Wakaf Di
Perundang-Undangan yang mengatur perwakafan, seperti Pasal 49
Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 yang menyebutkan bahwa
“Perwakafan tanah milik dilindungi dan diatur dengan Peraturan Pemerintah”.
Sebagaimana pelaksanaan dari pasal tersebut dikeluarkan Peraturan Pemerintah
Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Hak Milik yang dimuat dalam
Lembaran Negara Tahun 1977 Nomor 38 sekarang sudah diganti
denganUndang-Undang Nomor 41 Tahun 2004.
Setelah akta ikrar wakaf dilaksanakan sesuai dengan ketentuan, maka
Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan atas nama Nadzir yang bersangkutan
diharuskan mengajukan permohonan kepada Camat untuk mendaftarkan
perwakafan benda yang bersangkutan guna menjaga keutuhan dan kelestariannya.
Dengan demikian ketentuan tersebut adalah sesuai dengan ketentuan yang
diatur dalam Kompilasi Hukum Islam.
5. Pelaksanaan dan Perkembangan Perwakafan di Kota Medan
Sebelum membahas tentang pelaksanaan dan perkembangan pendaftaran
tanah wakaf di kota Medan, maka terlebih dahulu diuraikan tentang Kantor
Sumber Data : Peraturan Ka.BPN-RI No. 4 Tahun 2006 Tgl. 16 Mei 2006 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kanwil BPN dan Kantor Pertanahan Kota Medan, 2011
Personil pegawai Kantor Pertanahan Kota Medan berjumlah sebanyak 129
orang terdiri dari laki-laki dan perempuan yang saat ini dipimpin Muhammad
Thoriq, M.Kn, M.Si selaku Kepala Kantor Pertanahan Kota Medan membawahi
satu Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan lima Kepala Seksi.
Tanah wakaf di Kota Medan terdiri dari tanah yang digunakan untuk
peribadatan, pendidikan, kuburan dan kepentingan sosial lainnya yang tersebar di
Kepala Kantor Pertanahan
Sub Bagian Tata Usaha
beberapa kecamatan di Kota Medan dengan rincian sebagaimana tabel 2 di bawah
ini.
Tabel 1
Jumlah Tanah Wakaf Di Kota Medan
No Kecamatan Jumlah Tanah
Wakaf
Sumber Data : Kantor Pertanahan Kota Medan Tahun 2011
Menurut Syafruddin Chandra selaku Kordinator Pemeliharaan Data
Yuridis Kantor Pertanahan Kota Medan bahwa pengaturan prosedural pendaftaran
tanah wakaf dengan lainnya tidak ada perbedaan dan memang ada permohonan
yang disebabkan karena alas hak atas tanahnya yang kurang lengkap sedangkan
selebihnya karena sedang dalam proses. 32
Kepemilikan tanah wakaf secara hakikat berawal ketika seseorang telah
mengikrarkan di dalam hatinya, namun secara materil dibuktikan ketika ikrar
wakaf diucapkan kepada nadzir dan dituangkan di dalam akta ikrar wakaf di
hadapan saksi-saksi dan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) kemudian
aktanya ditandatangani, selanjutnya secara formil kepemilikan tanah wakaf lahir
didaftar di kantor pertanahan dan diterbitkan sertipikatnya sehingga dapat
mengikat pihak ketiga karena tanah wakaf sudah terdaftar di kantor pertanahan
yang secara formil dapat dibuktikan melalui penyerahan sertipikat tanah wakaf
oleh kantor pertanahan kepada pemegangnya.33
Namun demikian Negara hanya memberi jaminan kepemilikan tanah
wakaf selama tidak terbukti sebaliknya ketika terjadi sengketa yang disebabkan
berbagai faktor, seperti tidak terpenuhinya syarat administratif ataupun
keperdataan atau juga karena tidak cermatnya pejabat pemerintah dalam
melaksanakan atau menafsirkan peraturan perundangan berlaku.34
Pembuatan Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) dilakukan secara bersama antara
wakif dan nadzir di hadapan dua orang saksi yang datang menghadap PPAIW di
kecamatan tanah itu berada dengan menyerahkan bukti pemilikan tanah berupa
32
Hasil wawancara dengan Syafruddin Chandra Kordinator Pemeliharaan Data Yuridis Kantor Pertanahan Kota Medan tanggal 9 Mei 2011.
33
Hasil wawancara dengan Syafruddin Chandra Kordinator Pemeliharaan Data Yuridis Kantor Pertanahan Kota Medan tanggal 9 Mei 2011
34
sertipikat hak atas tanah atau bukti pemilikan tanah lainnya disertai pernyataan
wakif bahwa tanah tersebut tidak dalam sengketa, perkara, sita atau jaminan
hutang berikut dengan izin-izin yang diwajibkan sesuai peraturan perundangan
dan setelah akta ditandatangani para pihak, saksi-saksi dan PPAIW maka akta
tersebut diberi nomor dan tanggal, kemudian satu rangkap disampaikan kepada
kantor pertanahan setempat untuk di daftar dan diterbitkan sertipikat tanah wakaf.
Demikian ketentuan Pasal 38 dan 39 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun
2006.
Berdasarkan ketentuan Pasal 31 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun
2006, jika wakif sudah meninggal dunia atau tidak diketahui lagi keberadaannya
sedangkan ikrar wakif belum dituang ke dalam bentuk akta ikrar wakaf, maka ahli
waris atau nadzir atau pihak lain dapat melangsungkan Akta Pengganti Akta Ikrar
Wakaf di hadapan PPAIW bersangkutan.35
Karena itu maka diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961
Tentang Pendaftaran Tanah sebagaimana diganti dengan Peraturan Pemerintah
nomor 24 Tahun 1997 yang dilaksanakan dengan Peraturan Menteri Negara Salah satu sertipikat tanah yang diterbitkan kantor pertanahan yaitu
sertipikat tanah wakaf sebagaimana kehendak Pasal 49 Ayat (3) Undang-undang
Pokok Agraria yang berbunyi “Perwakafan tanah milik dilindungi dan diatur
dengan peraturan pemerintah”.
35
Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang
Pelaksanaan Pendaftaran Tanah berikut peraturan pelaksana lainnya.
Selain itu juga telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun
1997 Tentang Pelaksanaan Wakaf sebagaimana telah diganti dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 Tentang Pelaksanaan Wakaf semuanya turut
mengatur persyaratan pendaftaran tanah wakaf di kantor pertanahan, kendati
masih dirasakan belum lengkap, namun setidaknya sudah terbukti ada kemauan
pemerintah dalam memberi jaminan kepastian dan perlindungan hukum atas tanah
wakaf di Indonesia.
Permohonan pendaftaran tanah wakaf di kantor pertanahan harus
memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan perundangan bidang
pendaftaran tanah, antara lain berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pertanahan
Nasional Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2010 Tentang Standar Prosedur
Pelayanan Pertanahan (SPPP) di Lingkungan Badan Pertanahan Nasional, dengan
persyaratan :
a. Permohonan
b. Bukti Diri Nadzir
c. Surat Penunjukan Nadzir
d. Pengantar Akta PPAIW
e. Akta Ikrar Wakaf atau Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf
f. Alas Hak Atas Tanah
Tentang biaya pendaftaran tanah wakaf untuk Paitia A di kantor
pertanahan hanya dikenakan biaya 50 % dari biaya standar sedangkan biaya
pendaftarannya dikenakan Rp.0,- demikian ketentuan Peraturan Pemerintah
Nomor 13 Tahun 2010 Tanggal 22 Januari 2010 Tentang Biaya Pelayanan
Pertanahan yang baru saja diberlakukan di seluruh Wilayah Indonesia..
Selanjutnya dijelaskan Syafruddin Chandra dari Kantor Pertanahan Kota
Medan bahwa permohonan harus dibuat oleh nadzir menurut format yang telah
disediakan kantor pertanahan dengan melampirkan fotokopi bukti diri nadzir
berupa Kartu Tanda Penduduk atau bukti lainnya disertai fotokopi surat
penunjukan nadzir dan asli pengantar PPAIW serta asli akta ikrar wakaf, asli bukti
kepemilikan tanah berupa sertipikat hak atau bukti hak lainnya yang telah
mendapat persetujuan pihak berwenang, misalnya terhadap tanah hak guna
bangunan atau hak pakai yang berdiri di atas tanah hak pengelolaan terlebih
dahulu mendapat persetujuan pemegang hak pengelolaan atau jika tanahnya
berasal dari milik badan hukum baik pemerintah ataupun swasta harus disertai
pelepasan haknya.
Selanjutnya dijelaskan beliau bahwa permohonan sertipikat tanah wakaf
belum tentu langsung dapat diterima karena berbagai sebab dengan 3 (tiga)
kemungkinan ; pertama, dikembalikan karena kurang lengkap ; kedua,
ditolak karena persyaratan tidak memenuhi ketentuan peraturan perundangan
berlaku. 36
1) Kegiatan pengukuran
Kebenaran kepemilikan tanah wakaf akan ditentukan oleh kebenaran
persyaratan dan prosedural pendaftaran tanah di kantor pertanahan meliputi
prosedural kegiatan pengumpulan dan pengolahan data fisik dan yuridis yang
hasilnya dituang ke dalam surat ukur dan buku tanah, kemudian salinannya dijilid
menjadi satu sehingga berbentuk sertipikat yang dapat digunakan sebagai alat
bukti kepemilikan tanah termasuk ketika diuji di hadapan hakim pengadilan.
Prosedural pendaftaran tanah wakaf secara umum sama atau tidak ada
perbedaan dengan prosedural pendaftaran tanah lainnya, pengecualian hanya
terjadi pada pelaksanaan proseduralnya yang ditentukan oleh kesesuaian dengan
alat bukti hak yang dijadikan alas hak atas tanah bersangkutan, misalnya perlu
atau tidaknya diumumkan dan lain sebagainya.
Dalam rangka pelaksanaan kegiatan pengumpulan dan pengolahan data
fisik, maka Kantor Pertanahan Kota Medan dalam memberi pelayanannya
membagi menjadi 2 kegiatan, yaitu kegiatan pengukuran dan kegiatan pemetaan
bidang tanah sebagai berikut :
Setelah berkas diterima, maka dibuat surat perintah tugas kepada petugas
ukur untuk melakukan pengukuran dilapangan sesuai dengan batas bidang
tanah yang ditunjuk pemohon serta disaksikan oleh para tetangga berbatasan
36
dengan membubuhkan tandatangan pemohon dan jiran tetangga di kertas kerja
lapangan (veld weerk).
2) Kegiatan pembuatan peta bidang
Setelah kembali dari lapangan petugas ukur melakukan pengolahan data
melalui perhitungan sesuai prinsip pengukuran dan pemetaan secara kadaster
yang dituangkan ke dalam bentuk gambar berupa peta bidang secara digital.
Gambar ini nantinya dijadikan lampiran untuk pembuatan risalah panitia A.
Dalam rangka pelaksanaan kegiatan pengumpulan dan pengolahan data
yuridis maka dibentuk panita A pemeriksaan tanah A atau disebut juga panitia A
yang terdiri dari para kepala seksi ditambah lurah sebagai anggota panitia A yang
diberi tugas untuk melaksanakan kegiatan pemeriksaan dan penelitian berkas
permohonan dan kesesuain dengan di lapangan serta pengumuman dengan
memberi masukan kepada kepala kantor jika ditemukan permasalahan, konflik,
sengketa atau perkara.
Setelah pengumuman atau seluruh anggota panitia A sudah setuju dan
mengabulkan permohonan hak atas tanah, maka semua panitia A membubuhkan
paraf pada ikhhtisar sidang panitia A dan selanjutnya dituangkan dalam satu
risalah dan ditandatangani oleh semua anggota panitia dan disiapkan surat
keputusan haknya untuk ditandatangani kepala kantor pertanahan atau kalau
tanahnya lebih dari 2000 M2 maka dibuat surat pengantar untuk dimohon
penerbitan surat keputusan haknya oleh Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan
Sesudah Surat Keputusan Hak diterbitkan dan BPHTB atau PPh terutang
sudah dibayar, maka pemohon melampirkan semua dokumen alas hak yang asli
kepada prtugas yang ada di loket kantor pertanahan dengan mengisi blanko
permohonan yang telah tersedia di loket tersebut dan dengan membayar biaya
pendaftaran sesuai PP. Nomor 13 Tahun 2010 tanpa ada lagi biaya pemasukan
negara seperti diatur di dalam PP. Nomor 46 Tahun 2002, maka permohonan
pendaftan hak selesai.
Setelah pendaftaran hak masuk di loket dan dikirim ke Subsi Pendaftaran
untuk dicetak sertipikatnya dan diberi nomor hak, dijilid dan diparaf oleh Kepala
Sub Seksi Pendaftaran dan Kepala Seksi Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah serta
ditandatangani oleh Kepala Kantor Pertanahan kemudian dicap dan ditulis nomor
daftar isiannya masing-masing DI. 307 (pelunasan biaya) dan DI. 208
(penyelesaian pekerjaan).
Selanjutnya dapat diketahui bahwa prosedural pendaftaran tanah di kantor
pertanahan ternyata melalui syarat yang cukup banyak, proses yang cukup
panjang, waktu yang cukup lama, hal ini dimaklumi karena menyangkut
kebenaran data fisik dan data yuridis hak seseorang atau badan hukum.
Selain itu prosedural pendaftaran tanah di kantor pertanahan ternyata tidak
membedakan prosedural pendaftaran tanah wakaf.dengan prosedural pendaftaran
hak atas tanah lainnya. Dengan demiikian diharapkan eksistensi tanah wakaf
mengandung nilai secara yuridis, kemanfaatn dan keadilan bagi masyarakat
menuju kesejahteraan dan kemakmuran negara.
Terdaftarnya tanah wakaf di kantor pertanahan di samping sebagai
pelaksanaan nilai ideal Pancasila dan amanah konstitusi Undang Undang Dasar
Republik Indonesia juga undang-undang pokok agraria dan pemenuhan tujuan
pendaftaran tanah dalam memberi jaminan kepastian hukum dan perlindungan
hukum dan tersedia informasi pertanahan serta terselenggara tertib administrasi
pertanahan terutama tarhadap tanah wakaf. Selain itu dengan terdaftarnya tanah
wakaf di kantor pertanahan bagi nadzir atau badan wakaf khususnya dan kaum
Muslimin dan masyarakat Indonesia umumnya, diharapkan berdampak lebih luas
lagi, antara lain aspek yuridis, manfaat dan keadilan.
Dalam kaitannya dengan sistem publikasi pendaftaran tanah di Indonesia
yaitu negatif mengandung unsur positif dan hal ini secara tegas dinyatakan di
dalam penjelasan umum Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang
Pendaftaran Tanah. Namun bagi negara-negara penganut sitem publikasi positif
terhadap sertipikat yang sudah diterbitkan pemerintah tidak dapat digugat lagi
sehingga kepemilikannya menjadi mutlak, kekurangan sistem publikasi negatif
yaitu rentan dengan gugatan, konflik, sengketa atau perkara hak tanah setiap
waktu tanpa batas.
Aspek hukum pendaftaran tanah wakaf meliputi :
a. Aspek kepastian hukum pendaftaran tanah wakaf
Penerbitan sertipikat tanah wakaf di kantor pertanahan antara lain
dimaksudkan juga untuk memenuhi aspek yuridis, dengan kata lain bagi tanah
wakaf yang sudah terdaftar di kantor pertanahan diberikan sertipikat sebagai
Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 yang berbunyi sebagai berikut : “Sertipikat
merupakan surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang
kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat di dalamnya,
sepanjang data fisik dan data yuridis tersebut sesuai dengan data yang ada
dalam surat ukur dan buku tanah hak yang bersangkutan.”
Walaupun kalimat “….sepanjang data fisik dan data yuridis tersebut
sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan buku tanah hak yang
bersangkutan.” tersebut menunjukkan publisitas negatif pendaftaran tanah di
Indonesia dan unsur positif digunakan jika tidak ada permasalahan, gugatan,
konflik, sengketa atau perkara.
Oleh karena itu ketika terjadi sengketa, konflik atau perkara hak atas
tanah yang sudah terdaftar di kantor pertanahan baik terjadi di pengadilan
ataupun di luar pengadilan, maka kantor pertanahan selalu melakukan
pembelaan terhadap sertipikat yang dihasilkannya, sebab karena itu pihak
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia mulai dari pusat sampai ke
daerah mempunyai satu Deputi, Bidang dan Seksi Sengketa, Konflik dan
Perkara yang tupoksinya khusus menangani permasalahan pertanahan.
Keadaan demikian menunjukan bahwa pemerintah serius dalam
melaksanakan tugasnya dengan berusaha sekuat tenaga mengupayakan
pemberian jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum terhadap
produk yang dihasilkannya berupa sertipikat sebagai surat tanda bukti hak.
Namun jika hakim pengadilan memutuskan dan menetapkan
sudah tidak sesuai lagi dengan data yang ada di kantor pertanahan, keadaan ini
disebut publikasi negatif pendaftaran tanah, namun sepanjang tidak ada
sengketa, konflik atau perkara, maka hak atas tanah tersebut wajib diakui dan
dihormati oleh setiap orang sehingga setiap orang tidak boleh semena-mena
terhadap hak dan kepentingan pemegangnya, keadaani ini disebut publikasi
positif.
Syafruddin Chandra dari Kantor Pertanahan Kota Medan agar setiap
orang mengetahui persyaratan dan prosedural pendaftaran tanah wakaf di
kantor pertanahan, karena cukup signifikan pengaruhnya terhadap
kepemilikan tanah wakaf, bukan tidak mungkin terjadi kesalahan persyaratan
atau proseduralnya mengakibatkan sertipikat tanah wakaf yang diterbitkan
kantor pertanahan melemah sebagai alat bukti atau ketika diuji di hadapan
hakim pengadilan.37
b. Aspek keadilan pendaftaran tanah wakaf
Dengan demikian dapat diketahui bahwa dengan terdaftarnya tanah
wakaf di kantor pertanahan mempunyai aspek yuridis berupa jaminan
kepastian dan perlindungan hukum dari negara.
Aspek keadilan pendaftaran tanah wakaf tidak membedakan suku
agama bahkan bangsa dalam berwakaf dan menikmati prodiktufitas wakaf,
juga dirasakan manfaatnya oleh yang merasa membutuhkan tanah wakaf
37
seperti petani atau pedagang miskin yang tidak mempunyai lahan tempat
berusaha.
Walaupun pengelolaan wakaf dibatasi hanya berdasarkan syariat Islam
namun bukan berarti mengesampingkan makna keadilan hakiki, bahkan
eksistensi tanah wakaf yang sejalan dengan prinsip Undang-undang Pokok
Agraria dan Undang Undang Dasar Republik Indonsia serta falsafah Negara
Republik Indonesia yang terkandung di dalam nilai-nilai Pancasila.
Aspek keadilan pendaftaran tanah tidak membedakan antara satu sama
lain tentang tanah wakaf baik diwakafkan oleh orang kaya atau miskin,
laki-laki atau perempuan bahkan tidak mebedakan asal atau kewarganegaraan
wakifnya sepanjang obyeknya diperoleh sah secara hukum tanpa konflik,
sengketa atau perkara. Bahkan dengan terdaftarnya tanah wakaf di kantor
pertanahan akan memberi rasa keadilan tidak saja bagi pengelola tanah wakaf
juga bagi masyarakat yang menikmati hasil tanah wakaf, seperti masjid,
sekolah dan sarana serta prasarana umum lainnya.
Selanjutnya boleh jadi direnungkan bahwa sebenarnya keadilan
merupakan keseimbangan hak dan kewajiban yang berkembang di dalam
kehidupan masyarakat bangsa dan negara. Menurut Solly Lubis bahwa
lahirnya nilai keadilan disebabkan adanya hak dan kewajiban bagi setiap
warga negara, selanjutnya berkembang menjadi nilai keadilan dalam
masyarakat bangsa, akhirnya menjadi keadilan bagi seluruh rakyat
Indonesia.38
38
c. Aspek kemanfaatan pendaftaran tanah wakaf
Selanjutnya terhadap pendaftaran tanah wakaf di Indonesia telah
dibuat Keputusan Bersama antara Menteri Agama Republik Indonesia dengan
Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor : 422 Tahun
2004 - Nomor : 3/SKB/BPN-RI/2004 Tentang Sertipikasi Tanah Wakaf.
Keputusan Bersama tersebut dimaksudkan selain untuk memberi prioritas
penyelesaian sertipikat tanah wakaf di kantor pertanahan juga dimaksudkan
untuk mendata dan menginventarisir serta memasang tanda batas tanah wakaf.
Terdaftarnya tanah wakaf di kantor pertanahan melalui perolehan
sertipikat tanah wakaf yang diperoleh sesuai prosedural yang sah dan benar di
samping untuk tujuan tertibnya administrasi pertanahan juga dimaksudkan
supaya tersedia informasi data tanah wakaf yang mutaakhir (up to date).
Terdaftaranya tanah wakaf di kantor pertanahan diharapkan juga
bermanfaat bagi masyarakat melalui pemasangan plang merk tanah wakaf di
atas tanah wakaf supaya diketahui oleh semua orang bahwa di lokasi tersebut
terdapat tanah wakaf sekaligus menunjukan perbatasan tanah wakaf dengan
tanah tetangganya dalam rangka memenuhi azas contradictiore delimatatie
pendaftaran tanah.39
Terbitnya sertipikat tanah wakaf diharapkan memberi jalan dalam
berproduksi, misalnya menciptakan lapangan kerja bidang ; pertanian,
perkebunan, perindustrian, angkutan, perdagangan, perumahan, flat, rumah Tanda batas dimaksud dapat dibuat dari beton atau besi
atau lebih baik lagi jika dibuat pagar tembok keliling secara permanen.
39
susun, strata title, pertokoan, plaza, pasar tradisional, pangkas, salon, olahraga
sepak bola, futsal, basket, badminton atau jasa eksport dan import dan masih
banyak usaha-usaha lain yang sah menurut Syariat Islam sehingga secara
langsung memperkuat ekonomi rakyat dan surplus bagi negara sehingga
diharapkan turut mengentaskan kemiskinan di Indonesia.
Selain itu, pemegang sertipikat tanah wakaf juga akan merasa
memperoleh jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum serta
memperoleh rasa aman dan nyaman terutama bagi pengelola tanah wakaf
sehingga akan leluasa memanfaatkan tanah wakaf baik untuk kegiatan ibadah
agama, sosial maupun aktivitas produktifitas lainnya tanpa merasa mendapat
BAB III
KENDALA-KENDALA YANG DIHADAPI NADZIR DALAM
PENDAFTARAN TANAH WAKAF
A. Kendala Yang Dihadapi Nadzir Dalam Pendaftaran TanahWakaf
Masalah tanah wakaf di Indonesia bukanlah merupakan permasalahan
baru, tetapi secara embrional telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka atau
dengan kata lain sejak masuknya Islam ke Indonesia. Hal ini dapat dimengerti
karena memang sebenarnya masalah wakaf ini merupakan bagian dari ajaran
agama Islam.40
Adapun hambatan-hambatan atau kendala yang dihadapi nadzir dalam
pendaftaran tanah wakaf adalah :41
b. Berkas Permohonan yang tidak lengkap.
c. Proses penyelesaiannya dirasa memakan waktu yang lama
dan adanya sengketa.
d. Tanah wakaf yang diwakafkan oleh wakif ada dalam proses
sengketa antara sesama ahli waris.
e. Tanah wakaf ada yang berada di pinggir sungai (jalur
hijau). Dalam hal seperti ini berkas sertifikasi tidak jadi dilanjutkan ke Kantor
Pertanahan, karena kalaupun dilanjutkan akan ditolak. Untuk
mengamankannya, maka hanya dibuatkan akta ikrar wakaf (AIW), sedangkan
40
Universitas Islam Riau, Kesimpulan Hasil Seminar Wakaf Tanah Dalam Sistem Hukum Nasional Indonesia, UIR Press, Pekan Baru, 1991, hal.99
41
tanah tersebut hanya boleh dipakai dengan Hak Guna Bangunan. Tidak boleh
diperjualbelikan atau dipindahtangankan.
f. Tanah berstatus HGB milik pemerintah, ini juga tidak bisa
disertifikasi, sebab tanah dimaksud meskipun di atasnya dibangun masjid atau
langgar namun tidak bisa disertifikasi. Tanah hanya bisa digunakan dengan
status HGB masyarakat setempat, dan bila pemerintah memerlukan maka
tanah akan diambil tanpa tukar guling. Selain itu juga ada tanah yang berstatus
hak pakai, dalam arti yang diwakafkan hanya pemanfaatannya, bukan
tanahnya.
g. Hilangnya surat-menyurat tanah milik wakif, sehingga sulit
untuk ditindaklanjuti prosesnya.
h. Kurangnya kesadaran dari wakif dan nadzir untuk
menyertifikasi tanah wakaf, sehingga proses sertifikasi tidak diperhatikan,
yang mana batas-batas tanah wakaf pun tidak begitu jelas, sementara
masyarakat sekitar juga kurang mengetahui secara persis.
i. Adanya kendala dari Kantor Pertanahan sendiri berupa
kurangnya perhatian dan minimnya petugas dibandingkan banyaknya berkas
yang harus diselesaikan. Kadang-kadang ada yang sampai kehilangan berkas.
Berkenaan dengan adanya kendala di atas maka upaya yang dapat
dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut adalah sebagai berikut :
1. Seharusnya tanah yang akan diwakafkan dirundingkan dahulu antar sesama
ahli waris, sehingga tidak menimbulkan persengketaan. Nadzir yang ditawari
waris. Jika semua setuju, baru diterima sebagai harta wakaf, dan bila ada yang
belum setuju, maka harus dilakukan pendekatan lebih dahulu. Namun adanya
sengketa ini bisa juga karena tidak segera dibuatkan sertifikatnya ketika tanah
wakaf itu diwakafkan dahulu.
2. Tanah yang diwakafkan tidak sepenuhnya milik wakif, karena ada yang
berada di jalur hijau, atau tercampur antara hak milik wakif dengan tanah jalur
hijau. Tetapi masalah ini juga timbul karena terjadi erosi sungai dan perluasan
jalan. Mestinya wakif, nadzir, dan pemerintah melakukan koordinasi, berapa
ukuran tanah yang masih milik wakif, dan berapa yang milik Negara (jalur
hijau). Yang dibuatkan sertifikatnya hanya yang murni milik wakif, sedangkan
yang terkena jalur hijau adalah milik pemerintah. Seharusnya pemerintah tidak
boleh mengklaim semuanya berada di jalur hijau.
3. Tanah berstatus HGB. Hal itu terjadi, sebab pemerintah memiliki tanah yang
belum difungsikan, maka oleh masyarakat dibangun tempat ibadah khususnya
langgar untuk masyarakat sekitar. Pemerintah akan mengambilnya jika
diperlukan. Dalam keadaan demikian, sertifikasi memang terkendala, karena
pemerintah sebagai suatu lembaga tidak bisa mewakafkan tanah. Mestinya
pemerintah mengambil kebijakan untuk mewakafkannya, karena harta milik
pemerintah hakikatnya milik rakyat/masyarakat juga. Adapun tanah yang
berstatus hak pakai, di mana yang diwakafkan hanya pemanfaatannya, bukan
tanahnya, hal itu sebenarnya cukup baik. Tetapi alangkah baiknya jika
tanahnya yang sekaligus diwakafkan. Supaya statusnya jelas dan masyarakat
masyarakat kiranya perlu melakukan pendekatan kepada pemilik tanah agar
bisa mewakafkannya, supaya bisa diberikan sertifikasi. Tetapi dalam hal ini,
sekiranya tanah itu memang tidak ingin diwakafkan, masyarakat tidak perlu
memaksakan sebagai harta wakaf. Bagaimana pun wakaf menuntut
keikhlasan.
4. Kurangnya kesadaran wakif dan nadzir akan pentingnya sertifikasi. Hal ini
memerlukan penyuluhan secara kontinyu dari KUA dan instansi terkait.
Sertifikasi tanah wakaf ini tentu penting, sebab banyak kebaikannya bagi
semua pihak. Bagi wakif atau keluarganya akan mendatangkan kepastian
hukum bahkan menimbulkan kebanggaan karena nama wakif disebutkan
dalam sertifikat. Bagi masyarakat pengguna tanah wakaf itu, dalam hal ini
nadzir dan jamaah masjid dan langgar (masyarakat) juga diuntungkan, karena
status tanah menjadi kuat secara hukum agama dan negara, sehingga tidak
dapat diganggu gugat lagi di kemudian hari. Hal sebaliknya tentu dapat terjadi
jika tanah tersebut tidak disertifikasi, karena bisa saja terjadi gugatan di
kemudian hari.
5. Kantor Pertanahan ternyata juga punya andil menambah kendala dalam
sertifikasi tanah wakaf. Sebagai instansi yang memang diberi tugas dalam
urusan sertifikasi, mestinya Kantor Pertanahan penuh perhatian dan proaktif.
Dari kenyataan rendahnya persentasi tanah wakaf yang berhasil
disertifikasi dengan berbagai kendalanya di satu sisi memang menunjukkan bahwa
KUA belum bisa optimal dalam menjalankan tugasnya dalam hal sertifikasi tanah
tugasnya di samping tugas-tugas lainnya seperti pencatatan perkawinan dan
penyelesaian kewarisan.
Namun belum optimalnya pencapaian ini ternyata dipengaruhi oleh
faktor-faktor lain yang kompleks. Jadi masalah ini tidak dapat dibebankan semata kepada
KUA, melainkan di situ juga terkait peranan pemerintah, Kantor Pertanahan,
wakif, dan nadzir. Bisa saja wakif dan nadzir tidak memandang perlu sertifikasi
tersebut, sehingga diabaikan saja. Bisa saja KUA ingin cepat membereskannya,
namun justru Kantor Pertanahan memperlambat dan lebih memprioritaskan
sertifikasi tanah bukan wakaf.
Untuk mengoptimalkan sertifikasi tanah wakaf, maka kendala-kendala
yang disebut di atas harus lebih dahulu dihilangkan dengan membangun
kesadaran dan komitmen semua pihak yang terkait.
Tanpa ada kesadaran dan komitmen, maka usaha-usaha sertifikasi tanah
wakaf tidak akan berhasil optimal. Namun karena KUA yang diberi tugas
menangani hal ini, maka KUA harus pula lebih proaktif, baik dalam sosialisasi
maupun penanganan, sehingga pencapaian sertifikasi tanah wakaf di masa-masa
yang akan datang bisa lebih maksimal daripada yang ada sekarang.
B. Peran Nadzir Sebagai Penerima Wakaf Dalam Proses Terjadinya
Perwakafan.
Wakaf bila diberdayakan dapat menunjang agenda keadilan sosial serta
menyelamatkan nasib puluhan juta rakyat Indonesia yang masih hidup di bawah
Wakaf jika dikelola dengan baik akan dapat menghilangkan
ketergantungan kepada pihak lain. Kontribusi wakaf sebenarnya memiliki peran
yang sangat signifikan dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas
dan kompetitif.
Dalam rangka mengoptimalkan peran wakaf di tengah-tengah kehidupan
masyarakat yang membutuhkan peran kelembagaan secara konkrit, maka yang
paling berperan terhadap berhasilnya tidaknya pemanfaatan harta wakaf adalah di
tangan nadzir.
Dalam Undang-Undang No 41 Tahun 2004 Bagian Ketiga Pasal 6 , Nadzir
merupakan salah satu bagian dari unsur wakaf, baik berupa perseorangan,
organisasi, maupun badan hukum. Nadzir bertugas melakukan pengadministrasian
harta benda wakaf, mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai
dengan tujuan, fungsi dan peruntukannya, mengawasi dan melindungi harta benda
wakaf, dan melaporkan pelaksanaan tugas kepada Badan Wakaf Indonesia..
Dalam melaksanakan tugasnya, nadzir dapat mengelola harta benda wakaf
dengan imbalan dari hasil bersih yang besarnya tidak lebih dari 10 %, dengan
beberapa persyaratan antara lain : Jika nadzir itu perseorangan, maka dia adalah
Warga Negara Indonesia (WNI), Islam, dewasa, amanah, mampu secara jasmani
dan rohani, dan tidak terhalang untuk melakukan perbuatan hukum.
Apabila nadzir itu berbentuk organisasi maka pengurus organisasi tersebut
harus memenuhi syarat sebagai nadzir perseorangan, dan organisasinya bergerak
Demikian juga nadzir yang berbentuk badan hukum, adalah yang dibentuk sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Saat ini sudah saatnya untuk memberdayakan wakaf baik bergerak
maupun tidak bergerak agar dapat meningkatkan kesejahteraan umat Islam pada
khususnya dan masyarakat pada umumnya serta meningkatkan perkembangan
Islam di Indonesia. Pemberdayaan wakaf yang dilakukan oleh nadzir harus sesuai
dengan manajemen organisasi yang baik dan terarah.
Oleh karena itu agar tujuan perwakafan tercapai, peran nadzir sebagai
suatu kesatuan organisasi dapat mengurus dan merawat harta wakaf dengan baik,
maka penting adanya pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab. Untuk
menumbuhkembangkan harta wakaf agar menjadi produktif dan berdayaguna,
maka diperlukan para pengelola yang amanah, jujur, adil, memiliki etos kerja
tinggi dan tentunya profesional, sesuai dengan bidang dan kemampuan
masing-masing.
Dalam pemberdayaan tanah wakaf, nadzir perseorangan, organisasi
maupun badan hukum dapat menerapkan prinsip manajemen dengan menjunjung
tinggi kaidah al maslahah (kepentingan umum) sesuai ajaran Islam, sehingga
tanah wakaf dapat dikelola secara profesional. Secara sederhana, nadzir
merupakan seorang manajer yang perlu melakukan usaha serius dan langkah
terarah dalam mengambil kebijaksanaan berdasarkan program kerja yang telah
disepakati, sehingga kesan asal-asalan yang selama ini menghinggap pada nadzir