• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komunikasi Penyuluhan Dan Tingkat Adopsi KB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Komunikasi Penyuluhan Dan Tingkat Adopsi KB"

Copied!
183
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

KOMUNIKASI PENYULUHAN DAN TINGKAT ADOPSI KB

( Studi Korelasional Tentang Hubungan Komunikasi Penyuluhan Program Keluarga Berencana (KB) oleh Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) terhadap Tingkat Adopsi KB pada Masyarakat di Desa Nagasaribu 1 Kec. Lintong Nihuta Kab. Humbang

Hasundutan)

DISUSUN OLEH: TETTY SUSANTY SINAGA

070904020

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

ABSTRAKSI

Penelitian ini berjudul Komunikasi Penyuluhan Dan Tingkat Adopsi KB (Studi Korelasional Tentang Hubungan Komunikasi Penyuluhan Program keluarga Berencana (KB) oleh Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) terhadap Tingkat Adopsi KB pada Masyarakat di Desa Nagasaribu 1 Kec. Lintong Nihuta Kab. Humbang Hasundutan.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional yang bertujuan mencari hubungan antara variabel yang satu dengan variabel lainnya. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis table tunggal dan uji hipotesis dengan melalui rumus Koefisien Korelasi Tata Jenjang (Rank Order) oleh Spearman. Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini adalah accidental sampling, yaitu memilih siapa saja yang kebetulan dijumpai untuk dijadikan sampel.

Populasi dalam penelitian ini adalah pasangan usia subur (PUS) di Desa Nagasaribu I Kec. Lintong Nihuta Kab. Humbang Hasundutan yang tidak terdaftar sebagai akseptor KB termasuk PUS yang ikut dalam acara penyuluhan tentang program KB pada tanggal 7 September 2010. Untuk menentukan jumlah sampel digunakan rumus Total Sampling, dimana sampel diambil secara keseluruhan sebanyak 105 orang.

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini melalui dua cara yaitu Penelitian Kepustakaan dan Penelitian Lapangan.

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa tabel tunggal, analisa tabel silang dan uji hipotesis mealui rumus Koefisien Korelasi Tata Jenjang (Rank Order) oleh Spearman, dengan menggunakan SPSS versi 18.0 dan didukung denga menggunakan skala Guilford. Untuk mengetahui tingkat signifikasi pengaruh variabel X terhadap variabel Y serta mengetahui besar kekuatan pengaruh variabel X terhadap variabel Y masih menggunakan SPSS versi 18.0.

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang

telah memberikan rahmat dan kasih karuniaNya sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini, dan berkat semangat dan bimbingan dari Tuhan Yesus

Kristus yang telah membuat saya dapat menjadi mahasiswa yang lebih baik lagi

dalam iman dan pendidikan saya.

Penulisan skripsi yang berjudul “Hubungan Komunikasi Penyuluhan

Program Keluarga Berencana (KB) oleh PLKB terhadap tingkat Adopsi KB pada

Masyarakat di Desa Nagasaribu 1 Kec. Lintong Nihuta Kab Humbang

Hasundutan”, ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu persyaratan yang harus

dilengkapi dalam memperoleh gelar sarjana sosial pada Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik di Universitas Sumatera Utara. Dalam menyelesaikan skripsi ini,

penulis tidak mengerjakannya dengan begitu saja, melainkan merupakan hasil

pelajaran yang penulis terima selama mengikuti perkuliahan di Departemen Ilmu

Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Sumatera Utara.

Terimakasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu

penulis sejak awal hingga akhir penyusunan skripsi ini. Secara khusus,

terimakasih kepada kedua orangtua dan keluarga penulis, Ayahanda Houtman

sinaga, Ibunda Esther D. sitohang serta adik-adik tercinta, Diana sinaga, Diva

sinaga, Igor sinaga dan Reyner F. sinaga yang telah banyak memberikan

(4)

sehingga penulis dapat menjalani dan menyelesaikan pendidikan di Perguruan

Tinggi Negeri dengan hasil yang baik dan memuaskan.

Dengan segala kerendahan hati, tidak lupa pula penulis mengucapkan

terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Drs. Badaruddin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

2. Ibu Dra. Fatmawardi Lubis, M.A selaku Ketua Departemen Ilmu

Komunikasi pada periode 2011-2016, atas segala bantuan yang berguna

dan bermanfaat bagi penulis.

3. Ibu Dra. Dayana, M.Si selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak

memberikan masukan, arahan, dan bimbingan dalam pengerjaan skripsi ini

dan sekaligus selaku Dosen Wali selama mengikuti perkuliahan dari awal

hingga akhir perkuliahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Sumatera Utara.

4. Buat staf laboratorium dan Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU,

Kak Hanim, Kak Puan, Kak Maya, Kak Icut, dan Kak Ros yang telah

membantu segala sesuatu yang berkaitan dengan jalannya pendidikan

penulis.

5. Seluruh dosen dan staf pengajar Departemen Ilmu Komunikasi pada

khususnya dan FISIP USU pada umumnya, yang telah mendidik,

membimbing, dan membantu penulis selama masa perkuliahan.

6. Ibu Poluna selaku Kepala Kantor KB Kabupaten Humbang Hasundutan,

(5)

Petugas Lapangan KB (PLKB) Kec. Lintong Nihuta serta Camat Lintong

Nihuta yang meluangkan waktu untuk membantu memberikan data-data

yang dibutuhkan oleh peneliti sebagai bentuk kerjasama dan dukungan

kepada penulis.

7. Kepada semua sahabat-sahabat penulis, Surya Sihombing (yang selalu

memberi bantuan dan perhatian yang besar), Grace Pakpahan (yang selalu

memberi semangat dan dukungan), Andrye, Vinesa simatupang, Fazario,

Kiky nigrum, Ayu sartika, kak Lykke, Rio Pardamean, Fanisa dan segenap

mahasiswa Komunikasi Stambuk 2007.

8. Kepada Bang Ria Lesmana sebagai teman dekat sekaligus pembimbing

kepribadian (hehe..) penulis selama kuliah di FISIP USU yang selalu

memberi bantuan pemikiran dan keperdulian kepada penulis.

9. Sahabat penulis yang jauh Bang Hanry simanjuntak, Bang Andre

Manullang, Bang Janter Manik, Ricky Marpaung, Trys Marpaung yang

selalu memberi perhatian dan semangat dalam menempuh pendidikan

kepada penulis.

10.Dan kepada semuanya yang telah mendukung penulis dalam penyelesaian

(6)

Penulis menyadari bahwa skripsi ini belum mencapai titik

kesempurnaannya karena adanya kekurangan atau apapun. Penulis

mengaharapkan kepada para pembaca untuk dapat memberikan kritikan dan saran

yang dapat mendukung kesempurnaan skripsi ini sehingga penulis dan para

pembaca dapat menjadikan skripsi ini sebuah pengetahuan yang dapat dipahami

oleh banyak pihak.

Penulis

(7)

DAFTAR ISI

ABSTRAKSI ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR... xii

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah ... 1

I.2. Perumusan Masalah ... 6

I.3. Pembatasan Masalah ... 6

I.4. Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 7

I.5. Kerangka Teori... ... 8

I.5.1. Komunikasi dan Komunikasi Penyuluhan... 8

I.5.2. Penyuluh sebagai Agen Perubahan... 12

I.5.3. Teori Difusi Inovasi... 14

I.5.4. Program Keluarga Berencana…... 16

I.6. Kerangka Konsep ... 17

I.7. Model Teoritis ... 18

(8)

I.9. Defenisi Operasional ... 20

I.10. Hipotesis ... 28

BAB II URAIAN TEORITIS II.1. Komunikasi dan Komunikasi Penyuluhan... 29

II.1.1. Komunikasi ... 29

II.1.2. Komunikasi Penyuluhan ... 32

II.2. Penyuluh Sebagai Agen Perubahan... 40

II.2.1. Pengertian Penyuluh sebagai Agen Perubahan... 40

II.2.2. Kompetensi Komunikasi yg diperlukan Agen Perubaha... 40

II.2.3. Kualifikasi Dasar Agen Perubahan... 41

II.2.4. Peranan Utama Agen Perubahan……… 41

II.2.5. Tugas-tugas Agen Perubahan... 42

II.3. Teori Difusi dan Adopsi Inovasi... 43

II.3.1. Teori Difusi Inovasi... 43

II.3.2. Teori Adopsi Inovasi... 45

II.4. Keluarga Berencana ... . 46

II.4.1. Pengertian Keluarga Berencana... . 46

II.4.2. Tujuan Keluarga Berencana... 47

II.4.3. Sasaran Program KB ... 49

II.4.4. Akseptor Keluarga Berencana ... 50

(9)

II.4.6. Kontrasepsi ... 57

BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1. Metodologi Penelitian ... 60

III.1.1. Metode Penelitian ... 60

III.1.2. Lokasi Penelitian ... 60

III.1.3. Populasi dan Sampel ... 60

III.1.4. Teknik Pengumpulan Data ... 61

III.1.4.1 Penelitian Kepustakaan ... 61

III.1.4.2 Penelitian Lapangan ... 61

III.1.5. Teknik Analisis Data... 62

III.1.5.1 Analisis Tabel Tunggal ... 63

III.1.5.2 Analisis Tabel Silang ... 63

III.1.5.3 Uji Hipotesis... 63

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1. Deskripsi Lokasi Penelitian………... 67

IV.1.1. Sejarah Singkat Kantor Keluarga Berencana Kabupaten Humbang Hasudutan ... 67

(10)

IV.1.3. Nilai-Nilai Keluarga Berencana Kabupaten

Humbang Hasudutan ………. ... 70

IV.1.4. Tujuan Kantor Keluarga Berencana Kabupaten Humbang Hasudutan ……… 70

IV.1.5. Sejarah Lokasi Kabupaten Humbang Hasudutan ………. 70

IV.1.6. Keadaan Geografis Kabupaten Humbang Hasudutan ….. 75

IV.2. Pelaksanaan Pengumpulan Data………. .. 76

IV.3. Proses Pengolahan Data………... ... 77

IV.4. Analisis Tabel Tunggal………... ... 78

IV.4.1. Karakteristik Responden …. ... 79

IV.4.2. Komunikasi Penyuluhan Program KB oleh PLKB Kecamatan Lintong Nihuta ………... 82

IV.5. Analisis Tabel Silang ………. 147

IV.6. Uji Hipotesis ……….. 153

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.1. Kesimpulan ……….. 158

(11)

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

1. Lembar Catatan Bimbingan Skripsi 2. Kuesioner Penelitian

3. Tabel Spearman Rho 4. Tabel Front Cobol 5. Surat Izin Penelitian 6. Surat Balasan Penelitian

(12)

DAFTAR TABEL

Operasional Variabel Penelitian ... 8

Tabel 1 Usia ... 79

Tabel 2 Pendidikan Terakhir ... 80

Tabel 3 Pekerjaan ... 81

Tabel 4 Tingkat kemampuan PLKB dalam menyampaikan materi penyuluhan Program KB ... 82

Tabel 5 Sikap yang ditampilkan PLKB dalam menyampaikan materi penyuluhan Program KB ... 83

Tabel 6 Tingkat kemampuan PLKB dalam memberikan Penyuluhan bertujuan menambah pengetahuan responden mengenai Program KB ... 84

Tabel 7 Tujuan dari penyuluhan yang diberikan PLKB agar mampu menciptakan sikap responden untuk menggunakan KB ... 85

Tabel 8 PLKB dalam memberikan penyuluhan dapat membantu responden agar mampu untuk menggunakan KB ... 86

Tabel 9 Penilaian responden terhadap PLKB dalam menyampaikan materi penyuluhan Program KB ... 87

(13)

Tabel 11 PLKB Kec. Lintong Nihuta sebagai penyuluh di Desa Nagasaribu 1 memiliki kepribadian yang bersahabat ... 89

Tabel 12 PLKB mampu menyesuaikan dirinya dengan masyarakat Desa Nagasaribu 1 Kec.Lintong Nihuta ... 90

Tabel 13 PLKB mampu menciptakan suasana yang akrab dalam menyampaikan penyuluhan Program KB ... 91

Tabel 14 Penampilan yang ditunjukkan oleh PLKB dalam menyampaikan penyuluhan Program KB ... 92

Tabel 15 Tingkat pemahaman responden terhadap bahasa yang digunakan PLKB dalam menyampaikan penyuluhan Program KB... 93

Tabel 16 Dalam memberikan penyuluhan PLKB mampu menyamakan dirinya dengan lingkungan dimana PLKB memberikan penyuluhan ... 94

Tabel 17 Cara berpakaian yang ditampilkan PLKB dalam menyampaikan penyuluhan Program KB ... 95

Tabel 18 Kepercayaan diri yang dimiliki PLKB dalam menyampaikan

penyuluhan Program KB ... 96

Tabel 19 Kemampuan PLKB sebagai penyuluh dalam menggerakan

Hati responden untuk menggunakan KB ……….97

Tabel 20 PLKB mampu memecahkan persoalan mengenai keragu-raguan

(14)

Tabel 21 PLKB mampu merubah keragu-raguan responden menjadi keputusan tetap untuk memakai KB ………...99

Tabel 22 PLKB mampu menempatkan posisinya sebagai penghubung yang baik antara Kantor KB Humbahas dengan responden untuk memberikan gagasan, ide atau dalam proses pemasangan alat kontrasepsi KB………100

Tabel 23 Menurut responden penyuluhan yang dilakukan secara tatap muka oleh PLKB lebih efek………...101

Tabel 24 Konsultasi mengenai Program KB yang dilakukan melalui diskusi kelompok bermanfaat bagi responden………...102

Tabel 25 PLKB dalam memberikan informasi penyuluhan mampu menempatkan dirinya pada posisi responden………103

Tabel 26 PLKB saat berkomunikasi berbaur akrab dan hangat dengan responden……….. 104

Tabel 27 Responden memahami gambar atau slide yang ditampilkan oleh PLKB saat melakukan penyuluhan Program KB……..105

Tabel 28 PLKB saat melakukan penyuluhan menampilkan gambar yang bermanfaat dalam menambah pengetahuan responden……..106

Tabel 29 Dengan ditampilkannya jenis-jenis kontrasepsi oleh PLKB saat melakukan penyuluhan dapat bermanfaat dalam menambah pengetahuan responden……….107

Tabel 30 Dengan diberikannya buku-buku pegangan tentang Program KB mampu menambah wawasan responden mengenai KB..108

(15)

Tabel 32 Informasi yang disampaikan PLKB saat melakukan

penyuluhan menarik bagi responden……….110

Tabel 33 Tingkat pemahaman informasi yang disampaikan oleh

PLKB ………111

Tabel 34 Bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh PLKB dalam

menyampaikan penyuluhan KB ………112

Tabel 35 Materi penyuluhan KB oleh PLKB memiliki ide yang

menarik untuk disampaikan kepada masyarakat …………...113

Tabel 36 Penyuluhan Program KB di Desa Nagasaribu 1

kec.Lintong Nihuta yang telah dilaksanakan sudah sesuai….114

Tabel 37 Penyuluhan Program KB di desa Nagasaribu

kec.Lintong Nihuta yang telah dilaksanakan

mampu membuat warga tertarik untuk mengikutinya………115

Tabel 38 Penyuluhan Program KB oleh PLKB yang

dilaksanakan di PUSKESDES Nagasaribu 1

Kec Lintong Nihuta sudah sesuai……….116

Tabel 39 Tingkat pengetahuan responden mengenai Program KB ….117

Tabel 40 Tingkat keseringan sumber informasi KB yang responden

(16)

Tabel 41 Tingkat keseringan sumber informasi KB yang responden

peroleh (Radio) ………..119

Tabel 42 Tingkat keseringan sumber informasi KB yang responden

peroleh (Orang Tua) ………..120

Tabel 43 Tingkat keseringan sumber informasi KB yang responden

peroleh (Kegiatan PKK Desa/ Kecamatan) ………...121

Tabel 44 Tingkat keseringan sumber informasi KB yang responden

peroleh (Kegiatan Posyandu) ……….122

Tabel 45 Responden mengetahui fungsi KB yaitu untuk

Menyejahterakan anak ………123

Tabel 46 Responden setuju terhadap fungsi KB sebagai jalan untuk

meningkatkan kesejahteraan anak ………..124

Tabel 47 Responden menyukai Program KB yang

dilaksanakan oleh PLKB ………125

Tabel 48 Responden tertarik untuk mengikuti Program KB ………….126

Tabel 49 Responden mendapat keuntungan dengan mengikuti

penyuluhan Program KB ………127

Tabel 50 Responden mendapat keuntungan untuk merawat diri

sendiri setelah menerapkan Program KB tersebut…………...128

Tabel 51 Dengan menerapkan Program KB tersebut responden

mendapat keuntungan untuk memiliki waktu mengikuti

(17)

Tabel 52 Dengan menerapkan Program KB tersebut responden

mendapat keuntungan untuk memiliki waktu bersama suami.130

Tabel 53 Dengan menerapkan Program KB tersebut responden dapat

lebih menghemat pengeluaran untuk kebutuhan pangan

dan meningkatkan gizi ………131

Tabel 54 Dengan menerapkan program KB tersebut responden

dapat menghemat biaya untuk memenuhi kebutuhan sandang.132

Tabel 55 Dengan menerapkan program KB tersebut dapat

meningkatkan pendidikan keluarga ……….133

Tabel 56 Dengan menerapkan program KB tersebut kesehatan

keluarga responden lebih terjamin ………134

Tabel 57 Program KB yang diberikan dapat dipercayai oleh semua

warga Desa Nagasaribu 1 ………..135

Tabel 58 Program KB yang diberikan PLKB sudah sesuai dengan

kebutuhan warga Desa Nagasaribu 1 ………136

Tabel 59 Pendapat responden terhadap Program KB yang

diberikan PLKB tidak sesuai dengan adat-istiadat Batak

dengan prinsip “ Maranak sapulu onam, marboru sapulu pitu “ ...137

Tabel 60 Pendapat responden terhadap Program KB yang diberikan

PLKB tidak sesuai dengan adat-istiadat Batak dengan

prinsip “ Lebih mengutamakan anak laki-laki sebagai

(18)

Tabel 61 Tingkat kesukaran pemahaman terhadap Program KB dari

PLKB……….139

Tabel 62 Tingkat kesukaran proses pemasangan alat KB ………140

Tabel 63 Minat responden untuk memahami lebih dalam mengenai

Program KB ………..141

Tabel 64 Responden membutuhkan bukti dari pengguna KB

sebelum memutuskan untuk menggunakan KB tersebut ………..142

Tabel 65 Keputusan yang diambil responden setelah menerima

penyuluhan Program KB, apakah responden langsung

menerapkan salah satu alat kontrasepsi yang diperkenalkan

oleh PLKB ………143

Tabel 66 Dengan adanya keputusan yang dibuat responden sesuai

pernyataan diatas, responden masih memerlukan informasi

dari orang lain ………...144

Tabel 67 Responden mendapat informasi yang mendukung lainnya

mengenai Program KB untuk menggunakan KB tersebut ……...145

Tabel 68 Keputusan yang diberikan responden terhadap Program KB

(19)

Tabel 69 Penampilan yang ditunjukkan oleh PLKB dalam menyampaikan penyuluhan Program KB, sehingga responden berminat untuk memahami lebih dalam mengenai Program KB tersebut ……….148

Tabel 70 Pemahaman bahasa yang digunakan PLKB dalam

menyampaikan penyuluhan Program KB sehingga responden

menyukai Program KB ………..150

Tabel 71 Responden mengerti informasi yang diberikan PLKB saat melakukan penyuluhan, sehingga Program KB dari PLKB

tidak sukar untuk dipahami ………...152

(20)

DAFTAR GAMBAR

(21)

ABSTRAKSI

Penelitian ini berjudul Komunikasi Penyuluhan Dan Tingkat Adopsi KB (Studi Korelasional Tentang Hubungan Komunikasi Penyuluhan Program keluarga Berencana (KB) oleh Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) terhadap Tingkat Adopsi KB pada Masyarakat di Desa Nagasaribu 1 Kec. Lintong Nihuta Kab. Humbang Hasundutan.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional yang bertujuan mencari hubungan antara variabel yang satu dengan variabel lainnya. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis table tunggal dan uji hipotesis dengan melalui rumus Koefisien Korelasi Tata Jenjang (Rank Order) oleh Spearman. Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini adalah accidental sampling, yaitu memilih siapa saja yang kebetulan dijumpai untuk dijadikan sampel.

Populasi dalam penelitian ini adalah pasangan usia subur (PUS) di Desa Nagasaribu I Kec. Lintong Nihuta Kab. Humbang Hasundutan yang tidak terdaftar sebagai akseptor KB termasuk PUS yang ikut dalam acara penyuluhan tentang program KB pada tanggal 7 September 2010. Untuk menentukan jumlah sampel digunakan rumus Total Sampling, dimana sampel diambil secara keseluruhan sebanyak 105 orang.

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini melalui dua cara yaitu Penelitian Kepustakaan dan Penelitian Lapangan.

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa tabel tunggal, analisa tabel silang dan uji hipotesis mealui rumus Koefisien Korelasi Tata Jenjang (Rank Order) oleh Spearman, dengan menggunakan SPSS versi 18.0 dan didukung denga menggunakan skala Guilford. Untuk mengetahui tingkat signifikasi pengaruh variabel X terhadap variabel Y serta mengetahui besar kekuatan pengaruh variabel X terhadap variabel Y masih menggunakan SPSS versi 18.0.

(22)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

Pada dasarnya kesejahteraan hidup tidak dapat diperoleh tanpa adanya

pembangunan manusia itu sendiri. Pada bulan September tahun 2000, masyarakat

Internasional memiliki komitmen bersama untuk mempercepat pembangunan

manusia yang dikenal dikenal dengan Millenium Development Goals (MDGs)

yang memiliki tujuan:

1. Penghapusan kemiskinan dan kelaparan (eradicating extreme poverty

and hunger).

2. Mencapai pendidikan dasar yang universal (achieving iniversal basic

education).

3. Mempromosikan kesehatan gender dan pemberdayaan perempuan

(promoting gender equality and empowering women)

4. Mengurangi jumlah kematian anak (reducing child mortality).

5. Meningkatkan kesehatan ibu (improving maternal mortality ).

6. Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lain (Combating HIV/AIDS,

malaria and other deseases).

7. Menjamin kelestarian lingkungan hidup (ensuring environmental

sustainability).

8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan (developing a

(23)

Adapun salah satu upaya yang harus diperhatikan untuk mencapai tujuan

pertama MDGs yakni penghapusan kemiskinan dan kelaparan adalah mengurangi

jumlah penduduk. Jumlah penduduk merupakan masalah yang serius tidak hanya

bagi negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia tetapi juga bagi

negara-negara maju. Masalah kependudukan dewasa ini sudah menjadi masalah

yang besar bagi dunia secara keseluruhan karena menyangkut banyak segi

terutama pada aspek jumlah dan kualitas. Jumlah penduduk yang besar

merupakan potensi pembangunan yang besar tetapi juga harus disadari bahwa

hanya dengan jumlah yang besar saja, bukanlah jaminan bagi berhasilnya

pembangunan.

Firman (2001:32) menyebutkan beberapa masalah kependudukan di

Indonesia antara lain: 1) Pertambahan penduduk yang cepat, 2) Penyebaran

penduduk yang tidak merata dan 3) Kualitas penduduk yang masih rendah.

Pertambahan jumlah penduduk tanpa control dapat menimbulkan problema sosial

dan ekonomi dengan segala akibatnya. Problema tersebut antara lain adalah

semakin besarnya kebutuhan akan fasilitas pendidikan, kesehatan, perumahan dan

sebagainya. Hal ini tentu saja merupakan masalah yang rumit bagi pemerintah

Indonesia dalam pembangunan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat guna

mewujudkan keluarga bahagia dan sejahtera.

Tingkat pertambahan penduduk yang terus meningkat tanpa diimbangi

dengan aspek-aspek kehidupan lainnya merupakan penghalang dalam usaha

mencapai kesejahteraan hidup dan juga akan menimbulkan dampak negatif

(24)

Dalam mengatasi masalah ini pemerintah Indonesia telah berupaya dalam

memasyarakatkan program keluarga berencana kepada seluruh lapisan masyarakat

dan pemerintah telah melakukan berbagai kebijakan diantaranya melalui

pendidikan, baik pendidikan formal maupun nonformal. Melalui pendidikan

nonformal dilakukan berbagai bentuk kegiatan antara lain langsung kepada

masyarakat, melalui media massa, penataran-penataran dan lain-lain. Sedangkan

pelaksanaan program harus dilalui secara konseptual, sehingga lebih mampu

menganjurkan atau memotivasi masyarakat untuk melaksanakan Keluarga

Berencana secara mandiri.

Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor. 52 Tahun 2009

Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, dalam

paragraf 2 mengenai Keluarga Berencana dinyatakan bahwa :

Untuk mewujudkan pembangunan keluarga sejahtera, pemerintah Indonesia telah

menetapkan kebijaksanaan upaya penyelenggaraan Keluarga Berencana.

Kebijaksaan tersebut dilakukan dengan upaya peningkatan keterpaduan dan peran

serta masyarakat, pembinaan keluarga dan pengaturan kelahiran dengan

memperhatikan nilai-nilai agama, keselarasan, dan keseimbangan, antara jumlah

penduduk dengan daya dukung dan daya tamping lingkungan, kondisi

perkembangan sosial ekonomi dan sosial budaya, serta tata nilai yang hidup dalam

masyarakat.

Dalam pasal tersebut jelas terlihat bahwa pemerintah Indonesia telah

menetapkan kebijaksaan dalam upaya penyelenggaraan Keluarga Berencana dan

upaya yang dimaksud dengan penyelenggaraan Keluarga Berencana adalah upaya

(25)

Walaupun Pemerintah Indonesia telah berusaha untuk mensukseskan

program Keluarga Berencana, namun masih banyak dijumpai Pasangan Usia

Subur (PUS) yang tidak memperdulikan pelaksaan program Keluarga Berencana

yang sesuai dengan harapan Pemerintah Indonesia.

Salah satu cara yang dianggap efektif untuk mensukseskan program KB

adalah dengan melakukan komunikasi penyuluhan. Proses penyuluhan dapat

berhasil jika pesan disampaikan dengan proses komunikasi yang jelas sehingga

bagi kedua pihak yaitu komunikator dan komunikan memiliki pemahaman yang

sama. Cara-cara yang ditempuh dalam melakukan komunikasi penyuluhan

umumnya memerlukan persiapan yang matang dalam menggunakan berbagai

metode dan teknik berkomunikasi.

Adapun komunikasi penyuluhan dan pelayanan KB pada setiap desa di

Kabupaten Humbang Hasundutan diterapkan secara rutin sekali dalam setahun

oleh Petugas Kantor KB Kab Humbahas untuk setiap desa. Namun, pada saat

penyuluhan yang berperan sebagai komunikator adalah Petugas Lapangan KB

kecamatan yang berjumlah dua orang untuk setiap desa. Selain pada saat

penyuluhan, PLKB juga memberikan pengetahuan tentang KB pada saat kegiatan

Posyandu dilakukan.

Berdasarkan informasi terakhir dari Rekapitulasi Hasil Pendataan

Keluarga Tingkat Kecamatan Tahun 2010 yang diperoleh dari PLKB (Petugas

Lapangan Keluarga Berencana) / Pengelola KB di Kecamatan Lintong Nihuta

menunjukkan bahwa jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) yang ada didesa

Nagasaribu 1 terdapat 162 pasangan dengan perincian kelompok umur 30-49

(26)

pasangan dan tidak ada pasangan usia subur dibawah umur 20 tahun. Namun,

pada jumlah pasangan usia subur tersebut terdapat sebanyak 57 pasangan yang

menjadi peserta KB sehingga terdapat sebanyak 105 pasangan yang bukan peserta

KB. Dan pasangan ini akan menjadi sasaran komunikasi penyuluhan program KB

pada bulan Maret 2011.

Sebagai tambahan informasi, pada tanggal 7 September 2010 telah

dilaksanakan komunikasi penyuluhan program KB di Desa Nagasaribu 1 dengan

jumlah peserta yang hadir sebanyak 32 orang dan sebanyak 21 orang diantaranya

telah menjadi akseptor KB. Sebelas orang yang tidak menjadi akseptor

memberikan alasan bahwa mereka tidak menjadi akseptor KB karena dalam

keadaan hamil, ada juga yang ingin segera memiliki anak, dan latar belakang

kurangnya pendidikan. Sebelas orang ini juga termasuk kedalam 105 pasangan

yang menjadi sasaran peserta komunikasi penyuluhan tahun ini.

Alasan peneliti memilih Kabupaten Humbang Hasundutan sebagai lokasi

penelitian karena kabupaten tersebut merupakan hasil pemekaran dari kabupaten

Tapanuli Utara, sehingga setiap desa masih memerlukan pembenahan terutama

pada bidang kesehatan keluarga.

Hal itulah yang membuat peneliti tertarik untuk meneliti sejauhmana

komunikasi penyuluhan program keluarga berencana oleh Petugas Lapangan

Keluarga Berencana Kec. Lintong Nihuta berpengaruh terhadap tingkat adopsi

(27)

1.2. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan diatas maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut: “Bagaimana hubungan antara

komunikasi penyuluhan yang dilakukan oleh Petugas Lapangan Keluarga

Berencana (PLKB) terhadap tingkat adopsi KB masyarakat di Desa Nagasaribu 1

Kec. Lintong Nihuta Kab. Humbang Hasundutan”

1.3. PEMBATASAN MASALAH

Untuk menghindari ruang lingkup yang terlalu luas yang dapat mengaburkan

penelitian, maka ditetapkan batasan masalah sebagai berikut:

1. Penelitian terbatas pada kegiatan yang dilakukan oleh Petugas Lapangan

Keluarga Berencana (PLKB) Kec. Lintong Nihuta.

2. Kegiatan dimaksudkan dalam penelitian ini adalah “penyuluhan tentang

program keluarga berencana di Desa Nagasaribu 1 Kecamatan Lintong

Nihuta Kabupaten Humbang Hasundutan.

3. Obyek Penelitian adalah Pasangan Usia Subur (PUS) di Desa Nagasaribu

1 yang tidak terdaftar sebagai akseptor KB termasuk PUS yang ikut dalam

acara penyuluhan tentang Program Keluarga Berencana pada tanggal 7

September 2010.

(28)

1.4. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

1.4.1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui pelaksanaan komunikasi penyuluhan Program

Keluarga Berencana yang dilakukan oleh Petugas Lapangan Keluarga

Berencana (PLKB) Kecamatan Lintong Nihuta.

b. Untuk mengetahui tingkat adopsi KB masyarakat di Desa Nagasaribu

1 Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Humbang Hasundutan.

c. Untuk mengetahui hubungan antara kegiatan penyuluhan tentang

program keluarga berencana terhadap tingkat adopsi KB pada

masyarakat Desa Nagasaribu 1 Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten

Humbang Hasundutan.

1.4.2. Manfaat Penelitian

a. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya

khasanah penelitian di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU

khususnya mengenai komunikasi penyuluhan.

b. Secara praktis, hasil Penelitian ini diharapkan mampu menjadi

sumbangan pikiran dan kontribusi kepada Petugas Lapangan

Keluarga Berencana (PLKB) atau pihak-pihak yang memberikan

perhatian terhadap pengetahuan yang berhubungan dengan

(29)

c. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan

dan menambah pengetahuan peneliti mengenai ilmu komunikasi

khususnya komunikasi penyuluhan.

1.5. KERANGKA TEORI

Teori menurut Kerlinger merupakan himpunan konstruk (konsep), defenisi dan proposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan

menjabarkan relasi dimana variabel untuk menjelaskan dan meramalkan gejala

tersebut (Rakhmat, 2004:6).

Setiap penelitian memerlukan teori sebagai landasan kerangka berpikir

untuk mendukung pemecahan suatu masalah secara sistematis. Untuk itu perlu

disususn kerangka teori yang akan memuat pokok-pokok pikiran yang

menggambarkan dari sudut mana masalah penelitian akan dibahas (Nawawi),

1995:40). Dengan adanya kerangka teori, peneliti akan memiliki landasan dalam

menemukan tujuan arah penelitiannya. Adapun teori-teori yang dianggap relevan

dalam penelitian ini adalah : Komunikasi dan Komunikasi Penyuluhan, Penyuluh

sebagai Agen Perubahan, Teori Difusi Inovasi, Program Keluarga Berencana.

1.5.1 Komunikasi dan Komunikasi Penyuluhan a. Komunikasi

Kata komunikasi atau communication dalam bahasa inggris berasal dari

kata latin communis yang berarti “sama”, communico, communication, atau

communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). Komunikasi

menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara

(30)

Everett M. Rogers mendefenisikan komunikasi adalah proses dimana

suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud

untuk mengubah tingkah laku mereka (Cangara, 2006:19).

Wilbur Schramm (dalam Effendy, 1992:32-33) dalam karyanya “How Communication Works” mengatakan the condition of success in communication diringkas sebagai berikut:

a) Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian sasaran yang dimaksud.

b) Pesan harus menggunakan tanda-tanda yang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama dapat dimengerti.

c) Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi pihak komunikan, dan menyarankan suatu cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut.

d) Pesan harus menyarankan suatu cara untuk memperoleh kebutuhan tadi yang layak bagi situasi kelompok tempat komunikan berada pada saat ia digerakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki.

b. Komunikasi Penyuluhan

Pada hakikatnya penyuluhan adalah suatu kegiatan komunikasi. Proses

yang dialami mereka yang disuluh sejak mengetahui, memahami, meminati, dan

kemudian menerapkannya dalam kehidupan yang nyata adalah suatu proses

komunikator yang baik untuk tercapainya hasil penyuluhan yang baik. Seperti

mana suatu komunikasi baru berhasil bila kedua belah pihak sama-sama siap

untuk itu, demikian pula dengan penyuluhan, suatu perencanaan yang matang dan

bukan dilakukan secara asal-asalan saja. Persiapan dan perencanaan inilah yang

hendak dipenuhi dengan menyusun lebih dahulu suatu desain komunikasi

penyuluhan.

Penyuluhan merupakan proses komunikasi sebab, pengertian komunikasi

itu sendiri adalah sebuah proses dimana seseorang individu (komunikator)

menyampaikan lambang-lambang tertentu, biasanya berbentuk verbal untuk

(31)

penyuluhan, banyak faktor yang mesti diperhatiakn oleh penyuluh. Seorang

penyuluh harus terampil mengolah media pendukung. Media komunikasi yang

mutlak digunakan dalam kegiatan penyuluhan adalah: media massa, baik cetak

maupun elektronik, pendekatan dalam bentuk komunikasi kelompok, dan

komunikasi antar pribadi (Nasution, 1990:10).

Melihat bentuk dan tujuannya, maka penyuluhan merupakan wujud

konkrit dari apa yang sekarang dikenal dengan sebutan komunikasi serbaguna.

Suatu bidang yang berkembang pesat sejak penghujung dekade 60-an. Dalam arti

luas, komunikasi pembangunan meliputi peran dan fungsi komunikasi sebagai

suatu aktivitas penukaran pesan secara timbal balik antar semua pihak yang

terlibat dalam usaha pembangunan, terutama antara masyarakat dengan

pemerintah, sejak dari proses perencanaan, kemudian pelaksanaan, dan penilaian

terhadap hasil pencapaian penyuluhan. Sedangakan dalam arti sempit, komunikasi

penyuluhan yang berasal dari pihak yang memprakarsai dan ditujukan dapat

memahami, menerima, dan berpartisipasi dalam melaksanakan gagasan-gagasan

yang disampaikan tersebut (Nasution, 1990:10).

Dalam melekukan penyuluhan, faktor penyampaian hal-hal yang

disuluhkan adalah amat penting. Karena itu, penyuluhan menuntut

dipersiapkannya lebih dahulu suatu desain, yang secara terperinci dan spesifik

menggambarkan hal-hal pokok berikut ini:

1) Masalah yang dihadapi 2) Siapa yang akan disuluh

3) Apa tujuan (objectivities) yang hendak dicapai dari setiap kegiatan penyuluhan.

4) Pengembangan pesan

5) Metode atau saluran yang digunakan

(32)

Komunikasi penyuluhan lebih tepat dimasukkan ke dalam kelompok

definisi secara paradimatis, karena proses komunikasi dalam penyuluhan selalu

dikaitkan dengan tujuan untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku,

pengetahuan dan keterampilan sasaran komunikasi, baik secara langsung atau

tidak langsung sehingga sasaran komunikasi akan berubah menuju kearah lebih

baik dengan cara mengikuti saran, gagasan, atau inovasi yang diajarkan (Setiana,

2005:18)

Berikut adalah faktor pendukung efektivitas penyuluhan (Setiana, 2005:48-56):

a. Metode Penyuluhan, berdasarkan pendekatan sasaran metode ini dibagi atas tiga yakni:

1) Pendekatan Perorangan

Dalam metode ini, penyuluh berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan sasarannya secara perorangan seperti kunjungan ke rumah, lokasi, atau lahan usaha tani, hubungan telepon dan lain sebagainya. Namun pendekatan ini dinilai kurang efektif karena memakan banyak waktu.

2) Pendekatan Kelompok

Dalam pendekatan kelompok banyak manfaat yang dapat diambil, disamping dari transfer teknologi informasi juga terjadinya tukar pendapat dan pengalaman antar sasaran penyuluhan dalam kelompok yang bersangkutan. Metode pendekatan kelompok lebih menguntungkan karena adanya umpan balik dan interaksi kelompok yang memberi kesempatan bertukar pengalaman maupun pengaruh terhadap perilaku dan norma para anggotanya.

3) Pendekatan Massal

Metode yang menjangkau sasaran dengan jumlah yang cukup banyak dan dapat mempercepat proses perubahan, tetapi jarang dapat mewujudkan perubahan dalam perilaku. Hal ini disebabkan karena pemberi dan penerima pesan cenderung mengalami proses selektif saat menggunakan media massa sehingga pesan yang disampaikan mengalami distorsi.

b. Media Penyuluhan

(33)

(slide, film, film-strip, video, movie-film) dan lambing grafika (grafik batang dan garis, diagram, skema, peta).

c. Materi Penyuluhan

Materi penyuluhan adalah segala sesuatu yang disampaikan dalam kegiatan penyuluhan berupa informasi-informasi atau pesan. Pesan merupakan seperangakat symbol verbal dan nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud. Selanjutnya Lasswell (Mulyana, 2005:63) mengatakan pesan mempunyai tiga komponen yaitu makna (gagasan, ide, dan nilai), symbol yang digunakan (bahasa atau kata-kata) dan bentuk pesan (verbal dan nonverbal). Materi dalam penyuluhan adalah yang sesuai dengan kebutuhan sasaran dan dapat memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh sasaran penyuluhan. d. Waktu dan Tempat Penyuluhan

Dalam penyuluhan, waktu dan tempat yang tepat harus sesuai situasi dan kondisi masyarakat sasaran penting dan saling berkaitan dalam mencapai tujuan penyuluhan. Kapan dan dimana dilaksanakn penyuluhan harus terkesan tidak menggangu dan merugikan sasaran.

1.5.2. Penyuluh sebagai Agen Perubahan

Usaha-usaha pembangunan suatu masyarakat selalu ditandai oleh adanya

sejumlah orang yang mempelopori, menggerakkan, dan menyebarluaskan proses

perubahan tersebut. Orang-orang itu, dalam pustakaan ilmu-ilmu sosial dikenal

dengan sebutan Agent Of Change (Agen Perubahan). Pada penelitian ini yang

menjadi agen perubahan adalah Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB)

Kec. Lintong Nihuta. Menurut Havelock, agen perubahan adalah orang yang

membantu pelaksanaan perubahan sosial. Selanjutnya menurut Rogers dan

Shoemaker agen perubahan merupakan tugas profesional yang memengaruhi

suatu putusaan pada inovasi menurut arah yang diinginkannya. Para agen

perubahan ini dipandang sebagai mata rantai komunikasi antara dua atau lebih

(34)

Untuk mencapai komunikasi yang mengena, seorang komunikator selain

mengenal dirinya sendiri, ia juga harus memiliki kepercayaan (credibility), daya

tarik (attractive), dan kekuatan (power) (Cangara, 2000: 95-100).

a) Kepercayaan (Credibility)

Kredibilitas adalah seperangkat persepsi tentang

kelebihan-kelebihan yang dimiliki sumber sehingga diterima atau diikuti oleh

khalayak (penerima). James McCroskey menjelaskan bahwa

kredibilitas seorang komunikator dapat bersumber dari kompetensi

(competence), sikap (character), tujuan (intention), kepribadian

(personality), dan dinamika (dynamism).

Kompetensi ialah penguasaan yang dimiliki komunikator pada

masalah yang dibahasnya. Sikap menunjukkan pribadi komunikator

apakah ia tegar atau toleran dalam prinsip. Tujuan menunjukkan

apakah hal-hal yang disampaikan itu punya maksud yang baik atau

tidak. Kepribadian menunjukkan apakah pembicaraan memiliki pribadi

yang hangat dan bersahabat, sedangkan dinamika menunjukkan apakah

hal yang disaampaikan itu menarik atau sebaliknya justru

membosankan.

b) Daya Tarik (Attractive)

Daya tarik adalah saalah satu faktor yang harus dimiliki oleh

seorang komunikator selain kredibilitas. Faktor daya tarik

(attractiveness) banyak menentukan berhasil tidaknya komunikasi.

Pendengar atau pembaca bisa saja mengikuti pandangan seorang

(35)

(similarity), dikenal baik (familiarity), disukai (liking), dan fisiknya

(physic).

c) Kekuatan (Power)

Kekuatan ialah kepercayaan diri yang harus dimiliki seorang

komunikator jika ia ingin memengaruhi orang lain.

I.5.3. Teori Difusi Inovasi

Difusi adalah sebuah proses dimana inovasi dikomunikasikan melalui

saluran tertentu kepada seluruh anggota sistem sosial. Difusi inovasi merupakan

bagian khusus yang dari proses komunikasi yang ada disebabkan informasi yang

dipertukarkan adalah inovasi. Teori difusi inovasi adalah sebuah model yang

menggambarkan aktivitas pertukaran informasi baru yang berlangsung dengan

tujuan terjadinya proses adopsi inovasi dalam diri khalayak (Purba, 2006: 57).

Teori difusi inovasi dikembangkan oleh Everett M. Rogers. Rogers

mendefinisikan difusi sebagai proses dimana suatu inovasi dikomunikasikan

melalui saluran tertentu dalam jangka waktu tertentu di antara para anggota suatu

sistem sosial. Difusi adalah suatu komunikasi jenis khusus yang yang berkaitan

dengan penyebaran pesan-pesan sebagai ide baru. Sedangkan komunikasi

didefinisikan sebagai proses dimana para pelakunya menciptakan informasi dan

saling bertukar informasi untuk mencapai pengertian bersama. Di dalam pesan itu

terdapat ketermasaan (newness) yang memberikan ciri khusus kepada difusi yang

menyangkut ketidakpastian (uncertainty). Derajat ketidakpastian seseorang akan

(36)

Proses penyebarserapan inovasi terdiri dari 4 unsur utama, yaitu: (1) suatu

inovasi, (2) yang dikomunikasikan melalui saluran tertentu, (3) dalam jangka

waktu tertentu, (4) diantara para anggota suatu sistem sosial. Dalam pandangan

masyarakat yang menjadi klien dalam penyebarserapan suatu inovasi, ada lima

atribut yang menandai setiap inovasi, yaitu:

1. Keuntungan-keuntungan relatif. Apakah cara-cara atau gagasan baru ini

memberikan keuntungan relative bagi mereka yang kelak menerimanya?

2. Keserasian. Apakah inovasi yang hendak didifusikan itu serasi dengan

nila-nilai, sistem kepercayaan, gagasan yang lebih dahulu diperkenalkan?

Begitu pula, apakah inovasi yang dimaksud itu serasi dengan kebutuhan,

selera, adat-istiadat, dan karakteristik penting lainnya dari masyarakat

yang bersangkutan?

3. Kerumitan. Apakah inovasi tersebut rumit? Pada umumnya masyarakat

tidak atau kurang berminat pada hal-hal yang rumit; karena selain sukar

dipahami, juga cenderung dirasa sebagai beban.

4. Dapat dicobakan. Suatu inovasi akan lebih cepat diterima bila dapat

dicobakan lebih dahulu dalam ukuran (skala) kecil sebelum orang

terlanjur menerima secara keseluruhan.

5. Dapat dilihat. Bila suatu inovasi dapat dilihat langsung buktinya, maka

orang akan lebih mudah untuk menerimanya, ketimbang yang berupa

gagasan-gagasan atau ide yang abstrak. (Nasution 1990: 15-17)

Everett M. Rogers dan Floyd Shoemaker memperkenalkan sebuah formula

baru dalam proses adopsi inovasi. Teori adopsi tersebut diformulasikan menjadi 4

(37)

1. Pengetahuan: mengetahui adanya inovasi dan memiliki pengertian

bagaimana inovasi tersebut berfungsi.

2. Persuasi: menentukan sikap suka atau tidak suka terhadap inovasi

tersebut.

3. Keputusan: terlibat dalam kegiatan yang membawa seseorang pada

situasi memilih apakah menerima atau menolak.

4. Konfirmasi: mencari penguat bagi keputusan yang telah diambil

sebelumnya. Jika informasi yang diperoleh bertentangan maka

seseorang dapat merubah keputusan tersebut (Purba, 2006: 57-58).

1.5.4. Program Keluarga Berencana

Program Keluarga Berencana merupakan bagian program pembangunan

nasional di Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan

anak dalam mewujudkan keluarga bahagia dan sejahtera dengan tata pengaturan

kelahiran dan juga pengendalian laju pertumbuhan penduduk sehingga tidak

melampaui kemampuan produksi hasil pembangunan.

Program Keluarga Berencana bukan hanya menjadi tanggung jawab

pemerintah saja namun juga merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat

Indonesia untuk mensukseskan Program Keluarga Berencana demi tercapai tujuan

dari Keluarga Berencana itu sendiri.

Untuk itu perlu kita ketahui bahwa Keluarga Berencana tidak hanya untuk

membatasi jumlah anak melainkan membantu kesejahteraan anak karena dengan

keluarga kecil akan terbuka kesempatan yang lebih besar bagi orang tua untuk

(38)

pendidikan yang diperoleh anak. Jadi jelas bahwa Keluarga Berencana

mengandung suatu gagasan yang lebih luas sehingga membina keluarga yang

sejahtera khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan anak.

Menurut Undang-undang Nomor 4 tahun 1979 tentang kesejahteraan anak,

pengertian anak adalah: “ Seorang yang belum mencapai usia 21 tahun dan belum

menikah”. Batasan usia ini ditinjau dari segi psikologis dan sosialis. Selanjutnya

oleh Fanggidae (2000:98), bahwa “Kesejahteraan anak adalah sebagai tata hidup

dan penghidupan anak yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangannya

dengan wajar, baik secara rohani, jasmani maupun sosial”.

1.6 Kerangka Konsep

Teori-teori yang dijadikan sebagai landasan pemikiran harus dapat

mengasilkan beberapa konsep yang disebut dengan kerangka konsep. Konsep

adalah penggambaran secara tepat fenomena yang hendak diteliti, yakni istilah

dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian,

keadaan kelompok atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial

(Singarimbun, 1995:33). Adapun kerangka konsep yang dikemukakan dalam

penelitian ini adalah:

1. Variabel Bebas (X)

Variabel bebas adalah variabel yang diduga sebagai penyebab pendahulu

dari variabel lainnya (Kriyantono, 2008:21). Variabel bebas dalam penelitian ini

(39)

2. Variabel Terikat (Y)

Variabel Terikat adalah variabel yang diduga sebagai akibat atau yang

dipengaruhi oleh variabel yang mendahuluinya (Kriyantono, 2008:21). Variabel

terikat dalam penelitian ini adalah tingkat adopsi masyarakat.

3. Karakterisitik Responden

Karakteristik responden perlu disajikan untuk mengetahui latar belakang

responden.

1.7 Model Teoritis

Model teoritis merupakan paradigma yang mentransformasikan

permasalahan-permasalahan terkait satu dengan lainnnya. Variabel-variabel yang

dikelompokkan dalam kerangka konsep akan dibentuk menjadi suatu model

teoritis sebagai berikut:

Gambar 1 Model Teoritis

1.8 Operasional Variabel

Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep yang telah diuraikan di

atas, maka dapat dibuat operasional variabelnya untuk membentuk kesatuan dan

kesesuaian dalam penelitian. Adapun operasional variabel dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut : Variabel X

Komunikasi Penyuluhan

(40)

Tabel 1

Operasional Variabel

Variabel Teoritis Variabel Operasional 1. Variabel Bebas (X)

Komunikasi

5. Pemberi pemecahan persoalan 6. Pembantu proses perubahan 7. Penghubung

b. Metode Penyuluhan

1. Pendekatan Perorangan : - Dialog langsung, - Kemampuan empati,

-Menciptakan suasana homophily. 2. Pendekatan Kelompok :

- Diskusi kelompok c. Media Penyuluhan

1. Gambar atau slide

2. Alat dan obat kontrasepsi 3. Brosur

4. Buku-buku tentang Program KB Nasional

d. Materi Penyuluhan

1. Pesan (verbal dan nonverbal) 2. Makna (gagasan atau ide) 3. Simbol yang digunakan (bahasa

atau kata-kata)

e. Waktu dan Tempat Penyuluhan 1. Waktu

2. Tempat 2. Variabel Terikat (Y)

(41)

1.9 Defenisi Operasional

Defenisi operasional merupakan penjabaran lebih lanjut tentang konsep

yang telah dikelompokkan dalam kerangka konsep. Definisi operasional adalah

suatu petunjuk pelaksanaan mengenai cara-cara untuk mengukur

variabel-variabel. Dengan kata lain, definisi operasional adalah suatu informasi ilmiah

yang sangat membantu peneliti lain yang ingin menggunakan variabel yang sama

(Singarimbun, 1995:46).

Definisi operasional dari variabel-variabel dalam penelitian ini adalah:

1. Variabel Bebas (Komunikasi Penyuluhan), meliputi: a) Penyuluh,

Penyuluh adalah agen perubahan atau orang-orang yang

menyebarserapkan inovasi ke tengah-tengah masyarakat. Seorang penyuluh

memiliki kriteria yang terdiri dari:

1. Kredibilitas

Kredibilitas ialah seperangkat persepsi tentang kelebihan-kelebihan

yang dimiliki oleh Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB)

Lintong Nihuta sebagai komunikator sehingga diterima atau diikuti

oleh khalayak. Kredibilitas seorang komunikator berasal dari yaitu : 3. Kerumitan

4. Dapat dicoba 5. Dapat dilihat c. Keputusan

d. Konfirmasi Karakteristik Responden a. Usia

b. Pendidikan Terakhir c. Pekerjaan

(42)

• Kompetensi adalah Suatu penguasaan yang dimiliki

komunikator pada masalah yang dibahasnya. Kompetensi yang

dimiliki oleh Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB)

Kec. Lintong Nihuta ialah karakteristik yang mendasar yang

dapat menggambarkan kemampuan mereka untuk

melaksanakan suatu peran seperti latar belakang pendidikan,

pengalaman dan keahlian.

• Sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan dari

seorang komunikator. Dimana dalam hal ini PLKB Kec.

Lintong Nihuta menunjukkan pribadi mereka kepada

masyarakat, apakah seorang PLKB bersikap tegar atau toleran

dalam prinsip.

• Tujuan adalah menunjukkan apakah hal-hal yang disampaikan

itu punya maksud yang baik atau tidak. Dalam hal ini PLKB

Kec. Lintong Nihuta memiliki sesuatu tujuan yang ingin

dicapai dari pelaksanaan penyuluhan KB yaitu agar sasaran

ikut serta menjadi akseptor KB.

• Kepribadian adalah menunjukkan apakah pembicara memiliki

pribadi yang hangat dan bersahabat. Dimana PLKB sebagai

komunikator dalam penyuluhan Program KB tampil dan

menimbulkan kesan bagi masyarakat .

• Dinamika adalah kekuatan yang dimiliki oleh seorang

komunikator dalam menunjukkan apakah hal yang disampaikan

(43)

Lintong Nihuta memiliki kekuatan untuk menyampaikan

penyuluhan sehingga menimbulkan perubahan dalam tata hidup

masyarakat yang bersangkutan.

2. Daya Tarik

Daya Tarik adalah sesuatu hal yang memberi nilai lebih dan

ketertarikan kepada komunikator yaitu Petugas Lapangan Keluarga

Berencana (PLKB) Lintong Nihuta. Daya tarik dapat berupa

kesamaan, keakraban/ dikenal baik, disukai, dan fisiknya.

• Kesamaan adalah ketertarikan pada komunikator karena adanya

kesamaan/keserupaan demografis seperti bahasa, agama, suku,

daerah asal dan sebagainya. PLKB Kec. Lintong Nihuta

sebagai penyuluh memiliki penyatuan perasaan yang serupa

dan sependapat dengan masyarakat atas informasi yang

diberikan.

• Keakraban/ dikenal baik adalah hubungan yang terjalin secara

emosional dan fisik antara komunikator dengan komunikan.

Dimana PLKB Kec. Lintong Nihuta sebagai penyuluh sudah

lama dikenal masyarakat yang diberikan penyuluhan.

• Disukai adalah suatu perasaan ketertarikan terhadap informasi,

fisik dan gaya yang ditimbulkan oleh komunikan. PLKB Kec.

Lintong Nihuta sebagai seorang penyuluh disenangi dan

disukai oleh masyarakat.

• Fisik adalah tampilan secara visual yang ditampikan oleh

(44)

dapat diterima dengan baik apabila memiliki tampilan fisik

yang baik dan menarik dihadapan khalayak masyarakat.

3. Kekuatan

Kekuatan adalah kepercayaan diri yang harus dimiliki oleh seorang

komunikator dalam mempengaruhi orang lain. Dimana Petugas Lapangan

Keluarga Berencana (PLKB) Kec. Lintong Nihuta memiliki kepercayaan

diri dengan kemampuannya dalam mempengaruhi masyarakat Desa

Nagasaribu 1 Kec. Lintong Nihuta.

b) Metode Penyuluhan, adalah cara yang digunakan oleh seorang penyuluh dalam memberikan informasi yang terdiri dari:

1. Pendekatan Perorangan adalah pendekatan oleh seorang penyuluh

melalui hubungan secara mendalam atau pribadi dengan jumlah yang

terbatas (KAP). Metode ini dinilai sangat efektif karena dapat secara

langsung memecahkan masalah atas bimbingan penyuluhan, tetapi dari

segi jumlah sasaran yang dicapai metode ini kurang efektif.

a) Dialog Langsung, adalah merupakan suatu cara penyampaian

informasi yang dilakukan oleh komunikator/penyuluh secara

langsung dengan tatap muka kepada komunikan/peserta

penyuluhan. Metode yang dilakukan oleh PLKB Kec. Lintong

Nihuta dengan berdialog atau berkomunikasi secara tatap muka

dengan peserta penyuluhan.

b) Surat – menyurat adalah salah satu metode yang digunakan Kantor

(45)

surat yang berhubungan dengan penyuluhan Program Keluarga

Berencana kepada PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana)

Kecamatan Lintong Nihuta.

c) Kemampuan Empati, adalah kemampuan komunikan untuk

memahami pikiran, perasaan, pengalaman orang lain dengan

menempatkan diri pada posisi, perasaan, tanpa kehilangan identitas

diri, sikap, pribadi, dan kendali reaksi emosi terhadap pengalaman

orang lain. PLKB Kec. Lintong Nihuta mampu untuk

menempatkan dirinya pada posisi para peserta penyuluhan.

d) Menciptakan Suasana Homophily, adalah kemampuan komunikan

untuk membangun suasana yang akrab dan hangat. Dimana

Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Kec. Lintong

Nihuta dapat membaur dengan peserta penyuluhan.

2. Pendekatan Kelompok adalah suatu pendekatan dengan daya jangkau

yang lebih besar sehingga dapat memperkuat dalam pembentukan

sikap secara kelompok. Banyak manfaat yang dapat diambil pada

pedekatan kelompok, karena terjadinya tukar pendapat dan

pengalaman antar sasaran penyuluhan dalam kelompok yang

bersangkutan.

a) Diskusi Kelompok adalah merupakan suatu proses penyuluhan

dimana komunikan/peserta penyuluhan akan mendapatkan suatu

kesempatan untuk menyumbangkan pikiran masing-masing dalam

memecahkan persoalan bersama. Diskusi yang terdiri atas

(46)

Keluarga Berencana Kec. Lintong Nihuta. Dalam hal ini diskusi

kelompok yang dilakukan PLKB dalam penyuluhan terjadi melalui

pertukaran informasi atau pendapat dengan masyarakat/peserta

penyuluhan.

c) Media Penyuluhan adalah alat bantu penyuluhan yang berfungsi sebagai perantara yang dapat dipercaya menghubungkan antara penyuluh dengan

sasaran sehingga pesan atau informasi akan lebih jelas dan nyata. Media

penyuluhan terdiri dari:

1. Gambar atau slide, yaitu media penyuluhan yang mengandung

tampilan pesan-pesan gambar dan tulisan pada penyuluhan.

2. Alat dan obat kontrasepsi, yaitu contoh dari jenis-jenis kontrasepsi

yang asli.

3. Brosur, yaitu selembaran yang informasi yang berisikan informasi

tentang berbagai jenis alat, obat dan metode kontrasepsi.

4. Buku-buku tentang Program KB Nasional yaitu sekumpulan informasi

yang komplit dari berbagai jenis-jenis kontrasepsi.

d) Materi Penyuluhan adalah segala sesuatu yang disampaikan dalam kegiatan penyuluhan berupa informasi – informasi atau pesan. Materi

penyuluhan terdiri dari:

1. Pesan verbal yaitu bentuk informasi atau penjelasan yang disampaikan

kepada peserta penyuluhan melalui bahasa dan tulisan. Pesan verbal

yang disampaikan oleh PLKB Kec. Lintong Nihuta kepada peserta

penyuluhan melalui bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi dan

(47)

2. Pesan non verbal yaitu informasi atau penjelasan yang disampaikan

kepada peserta penyuluhan melalui tindakan atau isyarat anggota tubuh

oleh PLKB Kec. Lintong Nihuta.

3. Makna (gagasan atau ide), yaitu gagasan atau ide dalam penyuluhan

yang disampaikan oleh Petugas Lapangan Keluarga Berencana

(PLKB) Kec. Lintong Nihuta kepada peserta penyuluhan.

4. Simbol yang digunakan (bahasa atau kata-kata), yaitu gaya bahasa,

cara berbicara, pilihan kata yang disampaikan oleh petugas penyuluhan

kepada peserta penyuluhan.

e) Waktu dan Tempat Penyuluhan, terdiri dari:

1. Waktu, adalah saat yang tepat yang dipilih dan ditentukan oleh petugas

penyuluhan untuk melakukan penyuluhan yakni pada bulan Maret

2011.

2. Tempat, yaitu lokasi atau ruangan yang dipilih dan dipersiapkan untuk

melakukan penyuluhan. Tempat penyuluhan ini berlangsung di Pusat

Kesehatan Desa Nagasaribu 1 Kec. Lintong Nihuta.

2. Variabel Terikat (Tingkat Adopsi), meliputi: 1. Pengetahuan

Pengetahuan adalah suatu kondisi dimana seseorang mengetahui

adanya inovasi dan memiliki pengertian bagaimana inovasi tersebut

berfungsi. Dalam hal ini yang dimaksud adalah tingkat pengetahuan

masyarakat Desa Nagasaribu 1 terhadap KB dan fungsinya sebagai

(48)

2. Persuasi

Persuasi adalah dimana seseorang dapat menentukan sikap suka atau

tidak suka terhadap inovasi tersebut dan bila dikaitkan dalam

penelitian ini adalah bagaimana respon atau ketertarikan masyarakat

Desa Nagasaribu 1 terhadap Program KB. Persuasi dalam hal ini

dipengaruhi oleh:

• Keuntungan-keuntungan relative adalah Keuntungan yang

memberikan kemudahan setelah kita menerima penyuluhan dari

komunikan. Dalam hal ini bagaimana Program KB memberikan

keuntungan bagi masyarakat yang kelak menerimanya.

• Keserasian adalah suatu kecocokan terhadap hal yang didifusikan

dengan sejalannya nilai-nilai, sistem kepercayaan, gagasan yang

lebih dahulu diperkenalkan dan sesuai dengan nilai yang sudah

melekat pada khalayak/peserta penyuluhan. Dalam hal ini

bagaimana kesesuaian Program KB yang hendak diterapkan

kepada peserta penyuluhan dengan nilai-nilai dan sistem

kepercayaan masyarakat di Desa Nagasaribu 1. Begitu pula,

apakah program KB serasi dengan kebutuhan, selera, adat-istiadat,

dan karakteristik penting lainnya dari masyarakat Desa Nagasaribu

1 Kec. Lintong Nihuta.

• Kerumitan adalah ketidak pahaman seseorang mengenai suatu hal

yang dapat menimbulkan pertanyaan baru didalam dirinya. Karena

(49)

hal-hal yang rumit; karena selain sukar dipahami, juga cenderung

dirasa sebagai beban.

• Dapat dicoba adalah dimana Program KB dapat dicobakan lebih

dahulu dalam ukuran (skala) kecil sebelum masyarakat terlanjur

menerima secara keseluruhan.

• Dapat dilihat adalah bagaimana Program KB dapat dilihat langsung

buktinya, sebab masyarakat akan lebih mudah untuk menerimanya,

ketimbang yang berupa gagasan-gagasan atau ide yang abstrak.

3. Keputusan adalah tidakan yang diambil oleh seseorang atas

keterlibatan dalam kegiatan yang membawa seseorang pada situasi

memilih apakah menerima atau menolak. Bila dikaitkan dalam

penelitian ini yaitu bagaimana sikap berupa keputusan masyarakat

Desa Nagasaribu 1 terhadap KB, apakah mereka menolak atau

menerima.

4. Konfirmasi adalah mencari tambahan informasi dari narasumber lain

sebagai penguat dalam mengambil keputusan yang telah diambil

sebelumnya. Jika informasi yang diperoleh bertentangan maka

seseorang dapat merubah keputusan tersebut. Dalam penelitian ini,

konfirmasi yang dimaksud adalah usaha yang dilakukan masyarakat

Desa Nagasaribu 1 dalam mencari informasi tambahan mengenai KB

(50)

3. Karakteristik Responden meliputi:

a) Usia adalah usia responden saat mengisi kuesioner

b) Pendidikan Terakhir adalah pendidikan terakhir responden yang pernah

ditempuh oleh responden.

c) Pekerjaan adalah mata pencaharian responden pada saat penelitian

d) Suku adalah identitas budaya responden.

1.10 Hipotesis

Hipotesis adalah sarana penelitian yang penting dan tidak bisa ditinggalkan, karena ia merupakan istrumen kerja dari teori. Sebagai hasil deduksi dari teori

atau proposisi, hipotesis lebih spesifik sifatnya, sehingga lebih siap untuk diuji

secara empiris (Singarimbun, 1995:43). Hipotesis adalah kesimpulan yang masih

belum final, dalam arti masih harus dibuktikan atau diuji kebenarannya (Nawawi

1991:44)

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Ho: Tidak Terdapat Hubungan Antara Komunikasi Penyuluhan Program

Keluarga Berencana dengan adopsi KB pada Masyarakat di Desa

Nagasaribu 1 Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Humbang

Hasundutan.

Ha: Terdapat Hubungan antara Komunikasi Penyuluhan Program Keluarga

Berencana dengan tingkat adopsi pada Masyarakat Di Desa Nagasaribu 1

(51)

BAB II

URAIAN TEORITIS

II. I. KOMUNIKASI DAN KOMUNIKASI PENYULUHAN II.I.I. Komunikasi

A. Pengertian Komunikasi

Pengertian komunikasi harus ditinjau dari dua sudut pandang, yaitu

komunikasi dalam pengertian secara umum dan pengertian secara paradigmatis.

1. Pengertian komunikasi secara umum

Pengertian komuniaksi secara umum dapat dilihat dari dua segi:

a. Pengertian komunikasi secara etimologis

Secara etimologis atau menurut asal katanya, istilah komunikasi berasal

dari bahasa Latin communication, dan perkataan ini bersumber pada kata

communist. Arti communist di sini adalah sama, dalam arti kata sama makna,

yaitu sama makna mengenai suatu hal.

Jadi komunikasi berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat

terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang dikomunikasikan. Jelasnya,

jika seseorang mengerti tentang sesuatu yang dinyatakan orang lain kepadanya,

maka komunikasi berlangsung. Dengan lain perkataan, hubungan antara mereka

itu bersifat komunikatif. Sebaliknya jika ia tidak mengerti, komunikasi tidak

berlangsung. Dengan lain perkataan, hubungan antara orang-orang itu tidak

(52)

b. Pengertian komunikasi secara terminologis

Secara terminologis, komunikasi berarti proses penyampaian suatu

pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Dari pengertian itu jelas bahwa

komunikasi melibatkan sejumlah orang, dimana seseorang menyatakan sesuatu

kepada orang lain.

Jadi, yang terlibat dalam komunikasi itu adalah manusia. Karena itu,

komunikasi yang dimaksudkan di sini adalah komunikasi manusia atau dalam

bahasa asing human communication, yang sering pula disebut komunikasi sosial

atau social communication. Komunikasi manusia sebagai singkatan dari

komunikasi antarmanusia dinamakan komunikasi sosial atau komunikasi

kemasyarakatan karena hanya pada manusia-manusia yang bermasyarkat

terjadinya komunikasi. Masyarakat terbentuk dari paling sedikit dua orang yang

saling berhubungan dengan komunikasi sebagai penjalinnya.

2. Pengertian komunikasi secara paradigmatis

Dalam pengertian paradigmatis, komunikasi mengandung tujuan tertentu;

ada yang dilakukan secara lisan, secara tatap muka, atau melalui media, baik

media massa seperti surat kabar, radio, televisi, atau film, maupun media

nonmassa, misalnya surat, telepon, papan pengumuman, poster, spandoek, dan

sebagainya.

Jadi komunikasi dalam pengertian paradigmatis bersifat intensional

(intentional), mengandung tujuan; karena itu harus dilakukan dengan

perencanaan. Sejauh mana kadar perencanaan itu, bergantung kepada pesan yang

(53)

Pengertian komunikasi secara paradigmatis ini banyak dikemukakan oleh

para ahli, tetapi dari sekian banyak defenisi itu dapat disimpulkan secara lengkap

dengan menampilkan maknanya yang hakiki, yaitu: Komunikasi adalah proses

penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu

atau untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan,

maupun tak langsung melalui media (Effendy, 2004: 3-5).

B. Unsur-unsur Komunikasi

Untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat dilaksanakan

secara efektif, maka diperlukan pemahaman tentang unsur komunikasi.

Adapun unsur ataupun elemen yang mendukung terjadinya suatu komunikasi.

(Cangara, 2006:23-26) sebagai berikut:

1. Sumber

Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai pembuat atau pengirim informasi. Sumber sering disebut pengirim, komunikator. (source, sender).

2. Pesan

Pesan yang dimaksud dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara tatap muka atau melalui media komunikasi. Isinya bisa berupa ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat, atau propaganda.

3. Media

Media yang dimaksud disini adalah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Dalam komunikasi massa, media adalah alat yang dapat menghubungkan antara sumber dan penerima yang sifatnya terbuka, dimana setiap orang dapat melihat, membaca, dan mendengarnya.

4. Penerima

(54)

5. Pengaruh

Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Pengaruh ini bisa terjadi pada pengetahuan, sikap, dan tingkah laku seseorang. Karena itu, pengaruh bisa juga diartikan perubahan atau penguatan keyakinan pada pengetahuan, sikap, dan tindakan seseorang sebagai akibat penerimaan pesan.

6. Tanggapan balik

Ada yang beranggapan bahwa umpan balik sebenarnya adalah salah satu bentuk daripada pengaruh yang berasal dari penerima. Tetapi, sebenarnya umpan balik bisa juga berasal dari unsur lain seperti pesan dan media, meski pesan belum sampai pada penerima.

7. Lingkungan

Lingkungan atau situasi adalah faktor-faktor tertentu yang dapat mempengaruhi jalannya komunikasi.

II.I.2. Komunikasi Penyuluhan

A. Pengertian Komunikasi Penyuluhan

Secara harfiah, penyuluhan bersumber dari kata suluh yang berarti obor

atau pun alat untuk menerangi keadaan yang gelap. Dari asal perkataan tersebut,

dapat diartikan bahwa penyuluhan dimaksudkan untuk memberikan penerangan

atau pun penjelasan kepada mereka yang disuluh, agar tidak lagi berada dalam

kegelapan mengenai sesuatu masalah tertentu.

Claar et al. membuat rumusan bahwa penyuluhan merupakan jenis khusus

pendidikan pemecahan masalah (problem solving) yang berorientasi pada

tindakan; yang mengajarkan sesuatu; mendemonstrasikan, dan memotivasi, tapi

tidak melakukan pengaturan (regulating) dan juga tidak melaksanakan program

yang non-edukatif.

Samsudin menyebut penyuluhan sebagai suatu usaha pendidikan

non-formal yang dimaksudkan untuk mengajak orang sadar dan mau melaksanakan

(55)

kehidupan mereka sehari-hari. Penyuluhan juga merupakan suatu kegiatan

mendidikkan sesuatu kepada masyarakat, memberi mereka pengetahuan,

informasi-informasi, dan kemampuan-kemampuan baru agar mereka dapat

membentuk sikap dan berperilaku hidup menurut apa yang seharusnya.

Penyuluhan pada hakekatnya merupakan suatu kegiatan pendidikan

non-formal dalam rangka mengubah masyarakat menuju keadaan yang lebih baik

seperti yang dicita-citakan. Dalam upaya mengubah masyarakat tersebut, terdapat

unsur-unsur seperti: gagasan/ide/konsep yang dididikkan, lembaga/badan/pihak

yang memprakarsai perubahan masyarakat secara keseluruhan, tenaga penyebar

ide/konsep yang dimaksud, dan anggota masyarakat baik secara individu maupun

secara keseluruhan yang menjadi sasaran dari kegiatan penuluhan tersebut.

Dalam melakukan penyuluhan, faktor penyampaian hal-hal yang

disuluhkan adalah amat penting. Karena itu, penyuluhan menuntut

dipersiapkannya lebih dahulu suatu desain, yang secara terperinci dan spesifik

menggambarkan hal-hal pokok berikut ini:

1. Masalah yang dihadapi 2. Siapa yang akan disuluh

3. Apa tujuan (objectivites) yang hendak dicapai dari setiap kegiatan penyuluhan.

4. Pengembangan pesan

5. Metoda atau saluran yang digunakan

Gambar

Gambar 1 Model Teoritis
Tabel 1 Operasional Variabel
Tabel 1 USIA
Tabel 2
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode penyuluhan tentang pembuatan bokashi terhadap tingkat adopsi inovasi masyarakat di Kecamatan Parmaksian Kabupaten

penyuluhan program KB yang baik, di mana komunikasi antara penyuluh dengan. PUS tercipta dengan didukung oleh materi, media, metode, dan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian informasi melalui penyuluhan kepada wanita usia subur 20-35 tahun tentang keluarga berencana dan kontrasepsi hormonal yaitu pil KB

PENGARUH PENYULUHAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA (KB) TERHADAP SIKAP PENERIMAAN ALAT KONTRASEPSI PADA PASANGAN.. USIA

Selanjutnya dari jawaban-jawaban responden juga dapat diketahui bahwa responden sudah memahami dan mau menerapkan informasi yang diperoleh dari penyuluhan yang dilakukakan

Dalam penyuluhan ini pesan atau informasi yang diberikan tentunya seputar fungsi reproduksi dan KB, proses penentuan pesan yang disuluhkan ke masyarakat sesuai

Hal-hal yang perlu dibenahi dalam penyuluhan program KB terutama pada penggunaan kondom dan vasektomi adalah, penambahan PKB pria serta optimalisasi 10 sepuluh langkah

Hasil penelitian mengenai sikap responden ditunjukkan pada Tabel 2 Hasil Pengaruh Sikap Responden Sebelum dan Sesudah Diberikan Video Penyuluhan Tentang Genetalia