• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hak Kepemilikan Dan Penguasaan Atas Tanah Di Wilayah Pulau Batam (Studi : Di Pulau Sekikir Dan Pulau Bulat)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Hak Kepemilikan Dan Penguasaan Atas Tanah Di Wilayah Pulau Batam (Studi : Di Pulau Sekikir Dan Pulau Bulat)"

Copied!
160
0
0

Teks penuh

(1)

HAK KEPEMILIKAN DAN PENGUASAAN ATAS

TANAH DI WILAYAH PULAU BATAM

(STUDI : DI PULAU SEKIKIR DAN PULAU BULAT)

TESIS

Oleh

JULIANI LIBERTINA NASUTION

087011144/M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

▸ Baca selengkapnya: wilayah tropik, subtropik, dan kutub merupakan perwilayahan yang didasarkan atas keadaan alamiah berdasarkan

(2)

HAK KEPEMILIKAN DAN PENGUASAAN ATAS

TANAH DI WILAYAH PULAU BATAM

(STUDI : DI PULAU SEKIKIR DAN PULAU BULAT)

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan dalam Program Studi Kenotariatan

pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh

JULIANI LIBERTINA NASUTION

087011144/M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

Judul Tesis : HAK KEPEMILIKAN DAN PENGUASAAN ATAS TANAH DI WILAYAH PULAU BATAM (STUDI : DI PULAU SEKIKIR DAN PULAU BULAT)

Nama Mahasiswa : Juliani Libertina Nasution Nomor Pokok : 087011144

Program Studi : Kenotariatan

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) Ketua

(Prof. Sanwani Nasution, SH) (Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum) Anggota Anggota

Ketua Program Studi, Dekan

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) (Prof. Dr. Runtung, SH, MHum)

(4)

ABSTRAK

Pembukaan tanah di suatu tempat termasuk di suatu pulau merupakan awal dari lahirnya kepemilikan tanah bagi individu, yang menurut hukum adat harus dikuasai secara terus menerus. Penguasaan tanah merupakan unsur utama lahirnya hak atas tanah. Bukti pemilikan dan penguasaan atas tanah secara tertulis disebut sebagai alas hak. Sekalipun telah ada penguasaan fisik dan ada alas hak, namun pemilikan tanah yang berada pada suatu pulau tidak serta merta memberikan hak sepenuhnya kepada penghuni, sebab keberadaan suatu pulau tidak saja untuk kepentingan pribadi penghuninya, tetapi ada aspek politik dan pertahanan keamanan. Untuk itu perlu diteliti aspek kepemilikan, penguasaan dan penggunaan tanah tersebut di suatu pulau.

Untuk mengkaji hal tersebut dilakukan penelitian bersifat deskriptif kualitatif, dengan metode pendekatan yuridis normatif dan dianalisis dengan kenyataan di lapangan, dengan mengambil sumber data dari data sekunder.

Dari hasil temuan penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Pola kepemilikan dan penguasaan atas tanah di wilayah Pulau Batam khususnya di Pulau Sekikir dan Pulau Bulat didasarkan pada penguasaan fisik oleh penduduk dan diakui oleh aparat pemerintah daerah yang didukung oleh alas hak yang diterbitkan oleh aparat kelurahan, Namun kepemilikan tanah oleh masyarakat belum dapat disertipikatkan karena terbentur dengan aturan pengelolaan Pulau Batam yang diberikan Hak Pengelolaan kepada Otorita Batam, juga belum adanya ketentuan khusus yang mengatur penetapan hak atas tanah yang berada di pulau-pulau kecil.

2. Pelaksanaan penggunaan tanah di wilayah Pulau Batam terdapat dualisme, yakni dilakukan oleh Otorita Batam berdasarkan pemberian Hak Pengelolaan dan juga dilakukan oleh Pemerintah Kota Batam, pada kenyataannya penggunaan tanah tersebut belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan RTRW Kota Batam baik oleh Pemerintah Daerah maupun oleh warga masyarakat.

3. Perlindungan hukum terhadap kepemilikan rakyat atas tanah di Pulau Batam hanya secara minimal, yakni dengan cara menolak permohonan pendaftaran Hak Pengelolaan apabila masih ada penguasaan rakyat di atasnya. Seharusnya dilakukan secara maksimal dengan melakukan pendaftaran atas tanah milik rakyat.

Terhadap hal tersebut di atas, maka disarankan agar aspek pemilikan dan penguasaan tanah menjadi pertimbangan dalam pemberian hak atas tanah di Pulau Batam dan dapat disertipikatkan tanah milik rakyat tersebut atau diberikan hak atas tanah di atas Hak Pengelolaan.

(5)

ABSTRACT

Land opening in one place including in one island is the beginning of the land ownership for someone, which based on customary law must be informed to customary people and must be given a special mark. Land ownership are the main elements of the birth of land rights. Written land ownership which explains legal relationship between the land and its owner called land title. Eventhough there are control over land and land title as ownership evidence, however land ownership in one island is not automatically given to people who live there, but there are other aspects, such as political aspect and security aspect. Therefore it is important to investigate ownership aspect, land control and land use in one island. Based on those things, it is needed to study about the implementation of land management, land ownership, land control and land use of one island.

Descriptive-Qualitative research is used to study this research, with normative law approaching method which based on regulations and analyzed based on fact on the field by taking secondary data sources.

Based on research, it is conklused that :

1. Land ownership and Land Control on islands located in Batam Island especially in Sekikir Island and Bulat Island based on physical control by people and admitted by the local government and supported by written ownership rights enacted by village apparatus (aparat kelurahan). However, land ownership of the people could not be certificated because it is collided by management regulation of Batam island stipulated by President, by the handover of Rights of Management to Batam Authority Government over Batam Island and surrounding areas.

2. There are dualism of the implementation over land use over islands in Batam area, done by Batam Authority based on Rights of Management to plan land use, and done by Batam Local Government. In fact, that land use has not been fully implemented on field based on regional spatial planning of Batam (Local Government Regulation No. 20 Year 2001 jo. No. 2 Year 2004) either by Local Government or by people. 3. Law protection of people’s land ownership in Batam Island is minimum, by refusing

application of rights of management registration if there is occupation by people. It should be done maximally by implementing land registration of people’s land, because by registrating people’s land, land registration to reach legal protection for land owner.

Based on those things abovementioned, it is suggested that ownership aspect and land control become consideration on land issues in Batam Island and people’s land could be certificated or could be given Rights of Management. Land use aspect should be implemented based on Regional Spatial Planning of Batam City and confirmed through decree and certificate.

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa atas petunjuk-Nya,

Penulis dapat menyelesaikan tugas akhir berupa Tesis dalam menjalani proses

perkuliahan pada Magister Kenotariatan Fakultas Hukum USU Medan. Tesis ini

berjudul “Hak Kepemilikan dan Penguasaan Tanah di Wilayah Kepulauan Batam

(Studi di Pulau Sekikir dan Pulau Bulat) ditulis sebagai salah satu persyaratan dalam

rangka memperoleh gelar Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas

Sumatera Utara Medan.

Dalam rangka penulisan Tesis ini, banyak pihak telah memberikan bantuan,

dorongan semangat dan masukan serta sumbang saran, sehingga Penulis dapat

menyelesaikan dengan tuntas. Untuk itu pada tempatnya diucapkan terima kasih

khususnya disampaikan kepada Bapak Dosen Pembimbing yakni Prof. Dr.

Muhammad Yamin, SH, MS, CN, Prof. Sanwani Nasution, SH, Dr. T. Keizerina Devi

A, SH, CN, M.Hum yang telah bersedia memeriksa, menelaah, memberikan koreksi

dan petunjuk serta saran untuk kesempurnaan Tesis ini.

Demikian juga diucapkan terima kasih kepada Bapak-Bapak Dosen Penguji

yang telah memberikan masukan, koreksi yang kontruktif dalam penyempurnaan

Tesis ini sejak kolokium, seminar hasil hingga ujian meja hijau.

Tidak lupa diucapkan terima kasih khusus kepada keluarga Penulis, suami dan

anak-anak tercinta, orang tua dan mertua tersayang, dan Saudara-Saudaraku yang

terhormat yang telah sedia berkorban dan setia selalu mendampingi Penulis serta

tidak lelah memberikan dorongan semangat, ikhlas berdoa dan merelakan waktu yang

seharusnya dapat berkumpul dengan keluarga tetapi terpaksa tersita dengan kesibukan

Penulis menuntut ilmu dan menyelesaikan Tesis ini.

Dalam penulisan Tesis ini, Penulis menyadari akan keterbatasan kemampuan

untuk menghasilkan karya yang sempurna, untuk itu dengan kerendahan hati Penulis

mengharapkan kritikan dan masukan yang positif demi kesempurnaan Tesis ini.

(7)

1. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum, Selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara beserta seluruh staf atas bantuan, kesempatan dan

fasilitas yang diberikan kepada Penulis menempuh pendidikan dan

menyelesaikannya pada Program Studi Magister Kenotariatan.

2. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, selaku Ketua Program Studi

Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara yang dengan tulus ikhlas dan

tidak lelah memberikan arahan dan bimbingan kepada Penulis.

3. Bapak Prof. Sanwani Nasution, SH, dan Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN,

M.Hum sebagai Dosen pembimbing sekaligus penguji yang telah memberikan

arahan dan koreksi demi penyempurnaan Tesis ini.

4. Para Bapak dan ibu Dosen di lingkungan Program Magister Kenotariatan

Universitas Sumatera Utara yang memberikan ilmu pengetahuan dan bimbingan

kepada Panulis.

5. Pegawai dan Staf pada Fakultas Hukum terutama pada Program Magister

Kenotariatan yang telah memberikan bantuan demi kelancaran semua proses

administrasi dalam penyelesaian studi Penulis.

6. Rekan-rekan Mahasiswa pada Program Magister kenotariatan dan semua pihak

yang turut membantu yang tidak dapat Penulis sebutkan satu persatu yang

memberikan motivasi kepada Penulis.

Akhirnya kepada Tuhan Yang Maha Esa Penulis memohon kiranya diberikan

balasan yang berlipat ganda atas jasa-jasa Bapak Dosen Pembimbing, Dosen Penguji

dan rekan-rekan mahasiswa dan semua pihak yang turut membantu Penulis selama

ini.

Medan, Januari 2011 Hormat Penulis,

(8)

RIWAYAT HIDUP

I. IDENTITAS PRIBADI

Nama : Juliani Libertina Nasution

Tempat/Tgl.Lahir : Gunung Sitoli, Nias/7 Juli 1958

Agama : Kristen

Status : Menikah

II. KELUARGA

Nama Ayah : Drs. J. Nasution (Alm.)

Nama Ibu : Sonta Hutabarat

Nama Suami : Dr. Sori Tua Sarumpaet

Nama Anak : - Irwanda S.

- Tresia S.

- Angela S.

III. PENDIDIKAN

SD CHRISTUS RAJA JAYAPURA

SMP NEGERI JAYA PURA

SMA NEGERI JAYA PURA

S1 UNIVERSITAS BATAM

(9)

DAFTAR ISI

BAB II POLA KEPEMILIKAN DAN PENGUASAAN TANAH PADA PULAU-PULAU DI WILAYAH KEPULAUAN BATAM ... 54

A. Gambaran Lokasi Penelitian ... 54

B. Pengaturan Kepemilikan dan Penguasaan Tanah ... 63

C. Kepemilikan dan Penguasaan Tanah di Pulau Bulat dan Pulau Sekikir ... 80

D. Aturan Pengelolaan Pulau Batam ... 85

BAB III PELAKSANAAN PENGGUNAAN TANAH PADA PULAU-PULAU DI WILAYAH KEPULAUAN BATAM ... 100

A. Pengaturan Tentang Penggunaan Tanah ... 100

B. Pelaksanaan Pengaturan Penggunaan Tanah... 110

(10)

DAN PENGUASAAN TANAH DI PULAU BATAM ... 122

A. Kepemilikan dan Penguasaan Tanah dan Hak Pengelolaan di Pulau Batam ... 122

B. Perlindungan Hukum atas Kepemilikan dan Penguasaan Tanah Masyarakat ... 126

C. Perlindungan Hukum Secara Maksimal ... 134

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 140

A. Kesimpulan ... 140

B. Saran ... 142

(11)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1 : Daftar Surat Tanah Warga Pulau Sekikir... 86

Tabel 2 : Jumlah Sertipikat Hak Pengelolaan Berdasarkan

Tahun Terbit ... 91

Tabel 3 : Data Penggunaan Tanah pada Pulau Sekikir dan Pulau

(12)

Telah diuji pada

Tanggal : 22 Januari 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN Anggota : 1. Prof. Sanwani Nasution, SH

2. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum 3. Dr. Dedi Harianto, SH, MHum

(13)

ABSTRAK

Pembukaan tanah di suatu tempat termasuk di suatu pulau merupakan awal dari lahirnya kepemilikan tanah bagi individu, yang menurut hukum adat harus dikuasai secara terus menerus. Penguasaan tanah merupakan unsur utama lahirnya hak atas tanah. Bukti pemilikan dan penguasaan atas tanah secara tertulis disebut sebagai alas hak. Sekalipun telah ada penguasaan fisik dan ada alas hak, namun pemilikan tanah yang berada pada suatu pulau tidak serta merta memberikan hak sepenuhnya kepada penghuni, sebab keberadaan suatu pulau tidak saja untuk kepentingan pribadi penghuninya, tetapi ada aspek politik dan pertahanan keamanan. Untuk itu perlu diteliti aspek kepemilikan, penguasaan dan penggunaan tanah tersebut di suatu pulau.

Untuk mengkaji hal tersebut dilakukan penelitian bersifat deskriptif kualitatif, dengan metode pendekatan yuridis normatif dan dianalisis dengan kenyataan di lapangan, dengan mengambil sumber data dari data sekunder.

Dari hasil temuan penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Pola kepemilikan dan penguasaan atas tanah di wilayah Pulau Batam khususnya di Pulau Sekikir dan Pulau Bulat didasarkan pada penguasaan fisik oleh penduduk dan diakui oleh aparat pemerintah daerah yang didukung oleh alas hak yang diterbitkan oleh aparat kelurahan, Namun kepemilikan tanah oleh masyarakat belum dapat disertipikatkan karena terbentur dengan aturan pengelolaan Pulau Batam yang diberikan Hak Pengelolaan kepada Otorita Batam, juga belum adanya ketentuan khusus yang mengatur penetapan hak atas tanah yang berada di pulau-pulau kecil.

2. Pelaksanaan penggunaan tanah di wilayah Pulau Batam terdapat dualisme, yakni dilakukan oleh Otorita Batam berdasarkan pemberian Hak Pengelolaan dan juga dilakukan oleh Pemerintah Kota Batam, pada kenyataannya penggunaan tanah tersebut belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan RTRW Kota Batam baik oleh Pemerintah Daerah maupun oleh warga masyarakat.

3. Perlindungan hukum terhadap kepemilikan rakyat atas tanah di Pulau Batam hanya secara minimal, yakni dengan cara menolak permohonan pendaftaran Hak Pengelolaan apabila masih ada penguasaan rakyat di atasnya. Seharusnya dilakukan secara maksimal dengan melakukan pendaftaran atas tanah milik rakyat.

Terhadap hal tersebut di atas, maka disarankan agar aspek pemilikan dan penguasaan tanah menjadi pertimbangan dalam pemberian hak atas tanah di Pulau Batam dan dapat disertipikatkan tanah milik rakyat tersebut atau diberikan hak atas tanah di atas Hak Pengelolaan.

(14)

ABSTRACT

Land opening in one place including in one island is the beginning of the land ownership for someone, which based on customary law must be informed to customary people and must be given a special mark. Land ownership are the main elements of the birth of land rights. Written land ownership which explains legal relationship between the land and its owner called land title. Eventhough there are control over land and land title as ownership evidence, however land ownership in one island is not automatically given to people who live there, but there are other aspects, such as political aspect and security aspect. Therefore it is important to investigate ownership aspect, land control and land use in one island. Based on those things, it is needed to study about the implementation of land management, land ownership, land control and land use of one island.

Descriptive-Qualitative research is used to study this research, with normative law approaching method which based on regulations and analyzed based on fact on the field by taking secondary data sources.

Based on research, it is conklused that :

1. Land ownership and Land Control on islands located in Batam Island especially in Sekikir Island and Bulat Island based on physical control by people and admitted by the local government and supported by written ownership rights enacted by village apparatus (aparat kelurahan). However, land ownership of the people could not be certificated because it is collided by management regulation of Batam island stipulated by President, by the handover of Rights of Management to Batam Authority Government over Batam Island and surrounding areas.

2. There are dualism of the implementation over land use over islands in Batam area, done by Batam Authority based on Rights of Management to plan land use, and done by Batam Local Government. In fact, that land use has not been fully implemented on field based on regional spatial planning of Batam (Local Government Regulation No. 20 Year 2001 jo. No. 2 Year 2004) either by Local Government or by people. 3. Law protection of people’s land ownership in Batam Island is minimum, by refusing

application of rights of management registration if there is occupation by people. It should be done maximally by implementing land registration of people’s land, because by registrating people’s land, land registration to reach legal protection for land owner.

Based on those things abovementioned, it is suggested that ownership aspect and land control become consideration on land issues in Batam Island and people’s land could be certificated or could be given Rights of Management. Land use aspect should be implemented based on Regional Spatial Planning of Batam City and confirmed through decree and certificate.

(15)

B A B I

P E N D A H U L U A N

A. Latar Belakang Permasalahan

Negara Indonesia disebut sebagai negara kepulauan, karena berdasarkan data

yang ada, terdapat sekitar 17.508 (tujuh belas ribu lima ratus delapan) buah pulau

besar dan kecil dengan pulau utama yaitu Pulau Kalimantan, Pulau Irian atau Papua,

Pulau Sulawesi, Pulau Sumatera dan Pulau Jawa.

Di samping itu, negara Indonesia wajar disebut negara kepulauan karena

secara gramatikal, kata Indonesia berasal dari Bahasa Yunani, yakni ”Indos” yang

berarti ”India” dan ”Nesos” yang berarti ”Pulau”. Berdasarkan asal kata tersebut,

Indonesia bermakna Kepulauan India atau kepulauan yang berada di wilayah India.

Selain dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia juga tercatat

sebagai negara dengan garis pantai terpanjang nomor dua setelah Kanada.1

Gugusan pulau-pulau yang ada di Indonesia ada yang ditempati dan ada yang

tidak ditempati oleh manusia, bahkan masih banyak yang belum diberi nama.

Pulau-pulau yang ditempati oleh manusia umumnya adalah Pulau-pulau-Pulau-pulau yang besar,

sedangkan pulau-pulau yang tidak ditempati biasanya pulau-pulau kecil yang tidak

tersedia sumber daya alam untuk mendukung kelangsungan kehidupan manusia di

dalam pulau tersebut, seperti ketersediaan bahan kebutuhan pokok manusia.

1

(16)

Apabila pulau-pulau tersebut dihuni oleh manusia, maka manusia

membutuhkan bidang-bidang tanah yang merupakan bagian-bagian kecil dari pulau

tersebut baik untuk membangun rumah tempat tinggalnya (perumahan) maupun untuk

tempat berusaha mencari nafkah sehari-hari berupa lahan pertanian/perladangan

(non-perumahan).

Manusia yang menghuni pulau-pulau tersebut semula melakukan pembukaan

tanah baik sendiri maupun berkelompok, selanjutnya diusahai dengan bertani atau

berladang.

Pembukaan tanah di suatu tempat tertentu termasuk di suatu pulau merupakan

awal dari lahirnya kepemilikan tanah bagi individu atau kelompok, yang menurut

hukum adat pembukaan tanah tersebut haruslah diberitahukan kepada persekutuan

hukum dan diberi tanda tertentu.2

Selanjutnya tanah yang dibuka tersebut dijadikan sebagai tempat berusaha dan

atau di atasnya dibangun tempat tinggal yang dikuasai oleh masing-masing orang

sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya, selanjutnya penguasaan tanah tersebut

berlangsung secara terus menerus dan bahkan turun temurun.

Penguasaan tanah yang dilakukan secara terus-menerus menimbulkan

hubungan nyata manusia dengan tanah, sehingga dapat dikatakan bahwa hubungan

2

(17)

dan tindakan pengolahan nyata atas tanah adalah unsur utama lahirnya hak atas

tanah.3

Berdasarkan penguasaan dan tindakan pengolahan nyata atas tanah secara

berkesinambungan tersebut, penghuni di pulau-pulau dimaksud mempunyai

hubungan hukum dengan tanah yang ditempati dan diusahakannya, kemudian

hubungan hukum tersebut diakui oleh penguasa adat setempat atau pemerintah

lokal/daerah yang bersangkutan yang ditandai dengan pengakuan secara tertulis

maupun secara lisan.

Pengakuan secara tertulis dapat berbentuk surat pernyataan atau surat

keterangan atau surat keputusan dari pejabat yang berwenang yang menyatakan

bahwa yang bersangkutan benar menguasai dan mengusahakan bidang tanah tertentu

dan tidak ada pihak lain yang mempermasalahkannya.

Bukti penguasaan atas tanah secara tertulis yang menerangkan adanya

hubungan hukum antara tanah dengan yang mempunyai tanah disebut sebagai alas

hak.4

Apabila sudah ada alas hak, maka tanah yang dikuasai tersebut telah

membenarkan kepunyaan dari yang menguasainya dan kata ”kepunyaan” secara

keperdataan dapat juga dikatakan sebagai ”milik”.

3 Ibid

. halaman 613 Mhd. Yamin Lubis dan Abd. Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah,

(Bandung : Mandar Maju, 2008), halaman 234

4

(18)

Masyarakat juga merumuskan milik sebagai suatu hak dan hak milik itu

merupakan suatu klaim yang dapat dipaksakan oleh masyarakat atau negara, oleh

adat, kesepakatan dan hukum. Para ahli juga selalu menganggap milik sebagai suatu

hak yang berarti klaim yang dapat dipaksakan, ancaman paksaan untuk menjamin

suatu hak yang dipandang bersifat asasi, karena milik itu perlu merealisasikan alam

fundamental manusia, oleh karena itu milik adalah sesuatu hak alamiah.5

Akan tetapi sekalipun telah ada alas hak atau penguasaan secara fisik dan

pengolahan nyata atas tanah atau juga bahkan telah disebut sebagai kepunyaan atau

kepemilikan atas tanah, maka pemilikan atau penguasaan atas tanah yang berada pada

suatu pulau, tidak serta merta memberikan hak dan keleluasaan kepada penghuninya

untuk menguasai sepenuhnya, sebab keberadaan suatu pulau tidak saja untuk

kepentingan pribadi penghuninya dan masyarakat setempat, tetapi ada aspek-aspek

lain yang melingkupinya, seperti aspek politik dan pertahanan keamanan.

Oleh karena itu keberadaan suatu pulau mempunyai arti yang strategis,

karena di atasnya ada kepentingan ekonomi orang-perorang dan masyarakat setempat

dan juga ada kepentingan politik dan keamanan dari negara/pemerintah.

Adanya berbagai kepentingan yang diletakkan di atas suatu pulau tersebut,

tentunya diperlukan pengaturan yang memberikan jaminan kepastian hukum terhadap

penguasaan dan penggunaan tanahnya sehingga kepentingan para pihak tersebut

5

(19)

tidak saling berbenturan dan saling meniadakan dan tujuan pemanfaatan pulau baik

secara ekonomi, sosial maupun secara politik dapat tercapai.

Pengaturan terhadap penguasaan dan penggunaan tanah yang ada di

pulau-pulau mengacu kepada pengaturan penguasaan dan penggunaan tanah di atas

permukaan bumi pada pada umumnya, yakni untuk kepentingan pemerintah maupun

kepentingan rakyat.

Dalam hal ini kepentingan rakyat berkaitan dengan hak-hak yang dapat

dikuasai dan dimiliki atau dapat diberikan oleh Negara kepada rakyatnya atas obyek

tanah tertentu yang berada di atas suatu pulau.

Menyangkut hak-hak rakyat tersebut, konstitusi Negara menjamin adanya

hak-hak dasar rakyat, tidak hanya terhadap hak-hak atas tanah tetapi juga terhadap

hak-hak dasar lainnya yang memang diemban oleh rakyat dan wajib dilindungi oleh

negara.

Hak-hak dasar merupakan kondisi dasar yang harus ada dan tersedia dalam

kehidupan, baik yang sifatnya individual maupun kolektif. Hak-hak dasar yang lahir

oleh karena proses kesejahteraan dan proses perjalanan bangsa selama ini yang

mewujud dalam banyak hal, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan,

rasa aman, rasa nyaman, kebebasan, keadilan dan dalam berbagai bentuk lainnya.

Hampir semua hal yang berkaitan dengan hak-hak dasar rakyat langsung atau

tidak langsung berkaitan dengan persoalan pertanahan. Hak-hak dasar rakyat yang

mewujud dalam bentuk keadilan, misalnya seperti tidak berkaitan dengan pertanahan,

(20)

sumber utama ekonomi dan bahkan politik, maka pengaturan penataan, penguasaan

dan pemilikannya menjadi indikator penting dari keadilan.6

Menyangkut masalah pertanahan yang disebut sebagai sumber-sumber utama

kesejahteraan dan menjadi indikator penting dari keadilan dikonstatir dalam Pasal 33

ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa “bumi, air dan

kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan

untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

Penggunaan bumi, air dan kekayaan alam untuk sebesar-besar kemakmuran

rakyat tersebut menunjukkan bahwa tujuan pemanfaatannya semata-mata untuk

mensejahterakan rakyat sekaligus dengan memperhatikan aspek keadilan yang

ditunjukkan dari kata "sebesar-besarnya", artinya hasil dari penggunaan dan

pemanfaatan bumi, air dan kekayaan alam tersebut bukan untuk perseorangan atau

kelompok tertentu tetapi untuk rakyat banyak.

Selanjutnya kebijakan di bidang pengelolaan bumi, air, ruang angkasa dan

kekayaan alam yang terkandung di dalamnya (sumber daya agraria) diatur dalam

Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria

atau disebut juga dengan Undang-undang Pokok Agraria (UUPA).

Kemudian aturan tersebut ditindaklanjuti dengan peraturan pelaksanaan dalam

berbagai peraturan perundang-undangan yang bersifat organik, baik dalam bentuk

6

(21)

undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan presiden, keputusan presiden,

peraturan menteri, keputusan menteri dan lain-lain.

Pasal 2 UUPA mengatur bahwa “bumi, air dan ruang angkasa termasuk

kekayaan alam yang terkandung di dalamnya pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh

negara”. Pengertian bumi meliputi permukaan bumi, termasuk pula tubuh bumi di

bawahnya serta yang berada di atasnya, pengertian air adalah perairan pedalaman

maupun laut wilayah Indonesia, sedang pengertian ruang angkasa adalah ruang di

atas bumi dan di atas perairan.7

Lingkup permukaan bumi tersebut meliputi tanah yang ada di seluruh

Indonesia sesuai dengan konsep kesatuan seluruh wilayah Indonesia sebagai kesatuan

tanah air dari seluruh rakyat Indonesia, maksudnya tanah tidak semata-mata hak dari

pemiliknya tetapi juga merupakan hak bersama rakyat Indonesia yang merupakan

semacam hubungan hak ulayat Bangsa Indonesia.8

Kemudian Pasal 4 UUPA menentukan bahwa atas dasar hak menguasai dari

negara sebagaimana ditentukan dalam Pasal 2 ditentukan adanya macam-macam hak

atas tanah yang dapat diberikan kepada perorangan maupun badan hukum (subyek

hak).

Hak-hak atas tanah tersebut memberi wewenang untuk mempergunakan tanah

yang bersangkutan sekedar diperlukan untuk kepentingan yang langsung

7

Pasal 1 ayat (4), (5) dan (6) UUPA.

8

(22)

berhubungan dengan penggunaan tanah itu dan dalam batas-batas menurut ketentuan

peraturan perundangan. Dengan kata lain mengalokasikan kekuasaan hak atas tanah

oleh negara kepada orang atau badan hukum yang dilakukan secara terukur supaya

dapat digunakan bagi kelangsungan hidup setiap orang secara bersama-sama.9

Oleh karena itu secara konsepsional, seluruh permukaan bumi (tanah) yang

ada di seluruh wilayah Indonesia, sejatinya dapat dimiliki dan diberikan hak-hak atas

tanah kepada setiap warga negara Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan yang berlaku, termasuk yang berada di kepulauan atau

merupakan pulau atau juga pulau-pulau kecil yang ada di seantero nusantara.

Namun dalam tataran operasionalnya, hak-hak atas tanah tidak dapat

diberikan untuk seluruh permukaan bumi di seluruh Indonesia, karena sejak tahun

1967 terjadi perceraian beberapa sektor dari yang semula diatur dalam UUPA, yakni

ketika diterbitkan beberapa undang-undang yang bersifat sektoral.

Undang-undang sektoral tersebut seperti Undang-undang Nomor 5 tahun 1967

tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (telah diubah dengan Undang-Undang

Nomor 41 tahun 1999), Undang-Undang Nomor 11 tahun 1967 tentang

Ketentuan-ketentuan Pertambangan (telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 22 tahun 2001

tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi), Undang-undang Nomor 11 Tahun

1974 tentang Pengairan (telah diubah dengan Undang Undang Nomor 7 tahun 2004),

Undang-Undang Nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang (telah diubah dengan

(23)

Undang Undang Nomor 26 tahun 2007) yang diharapkan sebagai suatu

undang-undang yang akan disinkronkan seluruh kegiatan yang berkaitan dengan bumi, air dan

ruang udara.10

Saat ini telah diterbitkan pula Undang Undang Nomor 27 tahun 2007 tentang

Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil, yang obyeknya juga tanah yang

ada di pulau dan pesisir dan dalam pengelolaannya dilakukan oleh Kementerian

Kelautan dan Perikanan, tanpa menyebut keterlibatan instansi Badan Pertanahan

Nasional.

Dengan adanya undang-undang yang bersifat sektoral tersebut, maka

kewenangan untuk memberikan hak-hak atas tanah dibatasi hanya sepanjang tidak

mencakup lingkungan atau kawasan atau bidang-bidang tanah yang diatur oleh

undang-undang dimaksud.

Di samping itu sebagaimana diatur dalam Pasal 14 UUPA bahwa terdapat

pengaturan penguasaan dan penggunaan tanah untuk kawasan tertentu berdasarkan

rencana umum mengenai persediaan, peruntukan dan penggunaannya, baik yang

disusun perencanaannya oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah untuk :

1. keperluan negara;

2. keperluan peribadatan dan keperluan-keperluan suci lainnya;

3. keperluan pusat-pusat kehidupan masyarakat, sosial, kebudayaan dan lain-lain

kesejahteraan;

10

(24)

4. keperluan memperkembangkan produksi pertanian, peternakan dan perikanan serta

sejalan dengan itu; dan

5. keperluan memperkembangkan industri, transmigrasi dan pertambangan.

Perencanaan yang bermaksud menyediakan tanah untuk berbagai keperluan

tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku diatur dalam Rencana Umum Tata

Ruang (RUTR) yang dibuat secara hierarki mulai dari tingkat Nasional, Provinsi,

sampai Kabupaten/Kota sebagaimana ditentukan dalam Pasal 14 Undang Undang

Nomor 24 tahun 1992 jo Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Kemudian secara khusus yang mengenai bidang-bidang tanah telah ada

pengaturan penataannya dalam Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2004 tentang

Penatagunaan Tanah, yang juga ada menyinggung tentang pengaturan pulau-pulau

kecil.

Pulau-pulau tersebut yang merupakan ruang daratan merupakan kawasan

penting dalam penguasaan dan penggunaan tanahnya karena selain dapat

dimanfaatkan untuk tempat melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhan pangan

seperti usaha pertanian, peternakan, perikanan/tambak, industri dan pertambangan,

sumber energi, tempat penelitian dan percobaan, kawasan pariwisata juga dapat

difungsikan untuk kepentingan yang lebih tinggi, antara lain menyangkut masalah

lingkungan hidup, pertahanan dan keamanan atau kepentingan masyarakat setempat

khususnya nelayan dan pekebun.

Sedang di sisi lain, kawasan pulau-pulau tersebut juga tidak tertutup

(25)

hilang karena naiknya permukaan laut disebabkan pemanasan global atau karena

gempa bumi (tsunami) atau sebaliknya dapat saja bertambah luas karena munculnya

tanah timbul akibat gelombang laut. Selain itu, kawasan pulau-pulau tersebut juga

dapat diperluas dengan cara ditimbun (reklamasi) untuk kepentingan tertentu.

Bahkan belakangan ini muncul kecenderungan "pengkaplingan" dan

penjualan pulau-pulau oleh sekelompok orang, seperti kasus jual beli pulau Bidadari

di Nusa Tenggara Timur yang dijual oleh Haji Yusuf, penduduk setempat kepada

pihak warga negara asing (Ernest Lewandowski, Warga Negara Inggiris) pada tahun

2006 lalu. Penjualan pulau tersebut mendapat reaksi beragam dari berbagai kalangan,

termasuk Menteri Dalam Negeri saat itu M. Ma’ruf yang menyatakan pembelian

Pulau Bidadari oleh warga Inggiris tersebut menyalahi prosedur karena dilakukan di

bawah tangan, padahal izin yang diberikan adalah untuk investasi.11

Terjadinya jual beli pulau Bidadari tersebut menimbulkan persoalan

tersendiri, apalagi dijual kepada orang asing, sebab dapat berpotensi menimbulkan

ancaman keamanan dalam konteks kenegaraan, juga jelas-jelas menyalahi aturan

yang berlaku sebagaimana diatur dalam Pasal 9 UUPA yang melarang orang asing

mempunyai hubungan yang sepenuhnya dengan tanah yang ada di Indonesia.

Mengingat urgennya fungsi dan manfaat pulau-pulau yang sebagian dapat

dimanfaatkan sebagai tempat melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhan manusia

namun sekaligus pemanfaatan yang tidak terencana dapat merusak ekosistem

11

(26)

sehingga perlu perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup di sekitarnya, maka

berdasarkan Pasal 15 Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2004 ditentukan bahwa

penggunaan dan pemanfaatan tanah pada pulau-pulau kecil dan bidang-bidang tanah

yang berada di sempadan pantai, sempadan danau, waduk dan atau sempadan sungai,

harus memperhatikan kepentingan umum dan keterbatasan daya dukung,

pembangunan yang berkelanjutan, keterkaitan ekosistem, keanekaragaman hayati

serta kelestarian fungsi lingkungan.

Kemudian bagian dari pulau-pulau tersebut terdapat sempadan pantai, karena

itu berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2008 ditentukan bahwa

kawasan/ sempadan pantai dikategorikan sebagai kawasan lindung atau kawasan

perlindungan setempat.12

Semula oleh UUPA tidak ada diatur mengenai pulau-pulau dan sempadan

pantai tersebut apakah dapat diberikan hak-hak atas tanah, selanjutnya berdasarkan

Pasal 60 Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak

Guna Bangunan dan Hak Pakai dinyatakan bahwa pemberian Hak Guna Usaha, Hak

Guna Bangunan dan Hak Pakai13 atas sebidang tanah yang seluruhnya merupakan

12

Lihat juga Penjelasan Pasal 4 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah yang menegaskan bahwa sempadan pantai dikategorikan sebagai kawasan lindung/kawasan perlindungan setempat.

13

(27)

pulau atau berbatasan dengan pantai akan diatur tersendiri dengan Peraturan

Pemerintah.

Ketentuan tersebut kemudian ditindak lanjuti dengan Surat Edaran Menteri

Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 500-1197 Tanggal 3 Juni

1997, antara lain dinyatakan bahwa :

“Permohonan hak atas tanah yang seluruhnya merupakan pulau atau berbatasan

dengan pantai untuk tidak dilayani sampai dikeluarkannya Peraturan Pemerintah yang

mengatur hal tersebut.”

Selanjutnya berdasarkan Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala Badan

Pertanahan Nasional Nomor 500-1698 Tanggal 14 Juli 1997 antara lain dinyatakan

bahwa :

“Permohonan ijin lokasi dan permohonan hak atas tanah yang berbatasan dengan

pantai masih dimungkinkan diproses yang dilakukan secara hati-hati dan selektif dan

permohonan yang diajukan setelah tanggal 3 Juli 1997 agar dilaporkan kepada

Menteri untuk mendapat petunjuk pelaksanaan lebih lanjut.”

Ketentuan yang lebih tegas diatur dalam Pasal 11 ayat (1) Peraturan

Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah yang mengatur

bahwa terhadap tanah dalam kawasan lindung yang belum ada haknya dapat

diberikan hak atas tanah, kecuali pada kawasan hutan.

(28)

Akan tetapi sebagaimana diatur dalam Pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor

16 Tahun 2004 penggunaan dan pemanfaatan tanah di kawasan lindung atau kawasan

budidaya harus sesuai dengan fungsi kawasan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah

dan tidak boleh mengganggu fungsi alam, tidak mengubah benteng alam dan

ekosistem alami.

Dalam hal ini pemilikan dan penguasaan atas tanah menjadi faktor penting

untuk dapat memanfaatkan dan menggunakan tanahnya, namun dalam penggunaan

tanah tersebut ada aturan yang membatasi kewenangan dari yang menguasai tanah

tersebut.

AP Parlindungan menyatakan, “dikuasai” dan “dipergunakan” harus

dibedakan, dalam arti bahwa dipergunakan itu sebagai tujuan daripada dikuasai dan

kedua kata tersebut tidak ada sangkut pautnya dalam hubungan sebab akibat.14

Sekalipun dinyatakan bahwa dipergunakan sebagai tujuan daripada dikuasai,

namun pengertian tersebut berbeda antara konsepsi yang dianut oleh Pemerintah

melalui peraturan perundangan dengan pengertian yang dianut oleh masyarakat,

dalam hal ini masyarakat memandang bahwa apabila sebidang tanah dikuasainya

maka penggunaannya juga sesuai dengan kepentingannya.

Hal ini dapat dimengerti karena sejak dahulu terdapat perbedaan antara

perasaan hukum rakyat dan kesadaran hukum penguasa atas tanah. Perselisihan

14

(29)

mengenai tanah antara rakyat dan pemerintah secara umum telah terjadi karena

pandangan yang berbeda mengenai konsep hak atas tanah.15

Dalam kaitan ini, peraturan perundang-undangan memandang

diperkenankannya diberikan hak atas tanah pada suatu pulau termasuk pada kawasan

pantainya dengan ketentuan penggunaannya harus disesuaikan dengan fungsi

kawasan yakni sebagai kawasan lindung, sungguhpun pengaturan untuk pemberian

hak atas tanah pada suatu pulau masih menunggu aturan pelaksanaannya. Sedang

masyarakat beranggapan bahwa penguasaan atas tanah berkaitan erat dengan

penggunaannya, menguasai tanah berarti dapat menggunakannya juga.

Kemudian perkembangan terakhir, telah diterbitkan Undang-Undang Nomor

27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil yang

diundangkan pada tanggal 17 Juli 2007.

Pengaturan tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil

tersebut terdapat ketentuan adanya perizinan dengan bentuk Hak Pengusahaan

Perairan Pesisir (HP-3) yang diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan

(KKP), sementara dalam hal pengelolaan tanah di kawasan pantai dan juga di

pulau-pulau kecil dapat juga diberikan hak atas tanah oleh Instansi Badan Pertanahan

Nasional.

15

(30)

Sungguhpun menurut pendapat Bomer Pasaribu, anggota Komisi IV DPR-RI

dinyatakan HP-3 hanya terbatas pada permukaan laut dan kolam air sampai dengan

permukaan dasar laut, HP-3 tidak menyangkut hak atas tanahnya.16

Berdasarkan hal-hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian mengenai pola

pemilikan, penguasaan dan penggunaan tanah pada suatu pulau dan perlindungan

hukum atas pemilikan tanahnya, dengan tetap mempedomani peraturan

perundang-undangan yang berlaku, khususnya yang terdapat di Kepulauan Batam dengan studi

di Pulau Sekikir dan Pulau Bulat, Kelurahan Pulau Setokok, Kecamatan Bulang, Kota

Batam.

Pemilihan lokasi penelitian di Kepulauan Batam dimaksud didasarkan pada

pertimbangan bahwa Kepulauan Batam yang merupakan salah satu daerah yang

menjadi bagian dari Provinsi Kepulauan Riau.

Provinsi Kepulauan Riau sendiri berdiri sejak tahun 2002 tercatat sebagai

provinsi ke-33 di Indonesia dengan dasar pembentukannya Undang Undang Nomor

25 tahun 2002, yang terdiri dari 6 (enam) daerah otonom, yakni Kabupaten Karimun,

Kabupaten Bintan, Kabupaten Lingga, Kabupaten Natuna, Kota Batam dan Kota

Tanjung Pinang.

Kota Batam terdiri dari beberapa pulau, di antaranya pulau yang relatif besar

adalah Pulau Batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang, sehingga tepat dikatakan

dengan sebutan kepulauan Batam, luas wilayah Pulau Batam saja sekitar 415 (empat

16

(31)

ratus lima belas) km2 namun apabila disebutkan Kepulauan Batam luasnya mencapai

715 (tujuh ratus lima belas) km2.17

Pemilihan lokasi penelitian tersebut juga dikaitkan dengan adanya pemilikan,

penguasaan dan penggunaan tanah di pulau-pulau yang ada di kawasan tersebut yang

pengaturannya dilaksanakan oleh satu badan khusus yang diberi nama Otorita Batam,

di samping ada juga Pemerintahan otonom yaitu Pemerintah Kota Batam yang juga

diberikan kewenangan oleh undang-undang untuk melakukan pengaturan di bidang

pertanahan.

Sementara secara faktual penguasaan tanah di tempat tersebut dilakukan

oleh berbagai pihak baik oleh instansi pemerintah maupun oleh masyarakat setempat

dengan penggunaan tanah untuk berbagai kegiatan seperti untuk pemukiman

penduduk, pelabuhan dengan segala sarana dan prasarananya, usaha industri dengan

infrastukturnya, usaha perikanan dan kelautan, usaha pariwisata dan usaha

lain-lainnya, sehingga perlu diteliti lebih lanjut bagaimana pola pemilikan tanah dan

penggunaan tanahnya serta perlindungan hukum atas pemilikan tanah di Pulau

Batam, khususnya di Pulau Sekikir dan Pulau Bulat.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka dapat dirumuskan

permasalahan sebagai berikut :

17

(32)

1. Bagaimanakah pola kepemilikan dan penguasaan tanah pada pulau-pulau di

wilayah Kepulauan Batam?

2. Bagaimanakah pelaksanaan penggunaan tanah pada pulau-pulau di wilayah

Kepulauan Batam ?

3. Apakah ada upaya perlindungan hukum terhadap pemilikan dan penguasaan

tanah di pulau-pulau di wilayah Kepulauan Batam tersebut?.

C. Tujuan Penelitian

Bertitik tolak dari rumusan permasalahan di atas, maka tujuan yang hendak

dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui pola kepemilikan dan penguasaan tanah pada pulau-pulau di

wilayah Kepulauan Batam

2. Untuk mengetahui pelaksanaan penggunaan tanah pada pulau-pulau di wilayah

Kepulauan Batam

3. Untuk menelusuri perlindungan hukum terhadap pemilikan dan penguasaan

tanah di pulau-pulau di wilayah Kepulauan Batam tersebut

D. Manfaat Penelitian

Di samping untuk mengetahui tujuan yang hendak dicapai, penelitian ini juga

diharapkan memberikan manfaat, yaitu :

1. Memberikan gambaran yang jelas tentang pemilikan dan penguasaan tanah pada

suatu pulau di Kepulauan Batam

2. Memberikan informasi dan pendapat yuridis kepada berbagai pihak, baik kepada

(33)

untuk mencari solusi yang dapat mewujudkan tujuan pemilikan, penguasaan dan

penggunaana tanah pada suatu pulau sehingga bermanfaat dalam memenuhi

kebutuhan masyarakat dan kebutuhan pembangunan.

E. Keaslian Penelitian

Setelah dilakukan pengamatan terhadap Tesis dan Disertasi yang ada di

perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, sepanjang yang diketahui

belum ada suatu penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Pasca Sarjana ataupun

orang lain yang membahas tentang Hak Kepemilikan dan Penguasaan Atas Tanah di

Wilayah Kepulauan Batam. Dengan demikian penelitian ini benar-benar asli dan

bukan hasil ciplakan dari penelitian atau penulisan orang lain.

F. Kerangka Teori Dan Konsepsi

Penelitian ini menyangkut kepemilikan atas tanah di Pulau di Wilayah

kepulauan Batam pembahasannya lebih banyak kepada perilaku masyarakat dalam

melakukan pemilikan dan penguasaan tanah dan adanya pengakuan dari Pemerintah

termasuk dalam penataan penggunaannya serta melegalkan haknya, maka kerangka

teori yang diambil tidak lebih dari ketentuan peraturan perundang-undangan sebagai

landasan dalam bertindak bagi masyarakat dan pemerintah.

Akan tetapi dalam pengaturan sesuatu obyek dapat saja telah ada sistem

hukum yang menatanya, namun situasi di lapangan terutama pada lapisan masyarakat

selalu berada pada jalinan hubungan-hubungan yang dapat diprediksi dan tidak

sistematis, masyarakat dengan keinginan dan kebutuhannya terus-menerus bergerak

(34)

Hal demikian terjadi karena dalam masyarakat banyak sekali faktor yang

mempengaruhinya, misalnya kekuatan-kekuatan (kekuasaan) dan saling tarik-menarik

dan berbenturan di dalamnya dan menimbulkan ketidakteraturan, dengan kata lain

hukum dan masyarakat bukan sebagai sesuatu yang sistematis, tetapi penuh dengan

ketidakteraturan, inilah yang disebut dengan teori ketidakteraturan hukum (Theories

of legal disorder) yang dikembangkan oleh Charles Sampford.18

Namun seharusnya peranan hukum dapat menjamin adanya suatu keteraturan

terutama dalam kondisi masyarakat yang sedang membangun, karena keteraturan

tersebut merupakan salah satu tujuan dari masyarakat yang sedang membangun, maka

hukum menjadi suatu alat yang tidak dapat diabaikan dalam proses pembangunan.19

Berdasarkan teori di atas yang dijadikan kerangka berpikir dalam penelitian

ini guna melihat situasi hubungan hukum antara masyarakat dengan tanah dalam hal

ini antara hak kepemilikan atas pulau dikaitkan antara peraturan perundang-undangan

dengan kenyataan di lapangan, termasuk tujuan hukum dalam menciptakan

keteraturan terutama dalam kondisi masyarakat yang sedang membangun.

Kerangka teori itu sendiri menurut M. Solly Lubis disebut sebagai landasan

teori yakni suatu kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, thesis mengenai

sesuatu kasus atau permasalahan (problem) yang dijadikan bahan perbandingan,

18

HR. Otje Salman dan Anton F. Susanto, Teori Hukum, Mengingat, Mengumpulkan dan Membuka Kembali, (Bandung : PT. Rafika Aditama, 2005), halaman 105-108

19

(35)

pegangan teoritis, mungkin disetujui atau tidak disetujui yang dijadikan masukan

dalam membuat kerangka berpikir dalam penulisan.20

Dari pijakan kerangka teori hukum tersebut, maka konsepsi yang

dikembangkan dalam penelitian ini adalah dengan meninjau peraturan

perundang-undangan mengenai obyek yang diteliti dan menggambarkan kenyataannya di

lapangan, yang diuraikan dalam tiga variabel, yakni :

1. pemilikan tanah;

2. penggunaan tanah dan;

3. keberadaan kepulauan dengan segala lingkup aturan dan uraiannya.

Pertama, mengenai Kepemilikan Tanah, ketentuan hukumnya dilihat dari

Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 mengatur bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang

tekandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar

kemakmuran rakyat.

Aturan dasar dalam konstitusi menyangkut pengelolaan sumber daya alam

tersebut termasuk dalam pengertian ”dikuasai oleh Negara” tersebut kemudian

dijabarkan dalam UUPA. Dalam Pasal 2 ayat (1) UUPA ditentukan:

”Atas dasar ketentuan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD dan hal-hal sebagai yang

dimaksud dalam Pasal 1, bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang

terkandung di dalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh negara, sebagai

20

(36)

organisasi seluruh rakyat Indonesia. Kemudian pada ayat (2) diuraikan bahwa hak

menguasai dari negara termaksud dalam ayat 1 pasal ini memberi wewenang untuk :

a. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan

pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa tersebut.

b. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang

dengan bumi, air dan ruang angkasa;

c. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan

perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa”.

Dalam penjelasan UUPA dijelaskan bahwa pengertian ”dikuasai” bukan

berarti ”dimiliki” akan tetapi adalah pengertian yang memberi wewenang kepada

Negara sebagai organisasi kekuasaan dari Bangsa Indonesia untuk melakukan

wewenang sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 ayat (2) UUPA tersebut.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa kekuasaan negara mengenai tanah mencakup

tanah yang sudah dihaki oleh seseorang maupun yang tidak. Kekuasaan negara

mengenai tanah yang sudah dipunyai orang dengan sesuatu hak dibatasi oleh isi dari

hak itu, artinya sampai seberapa Negara memberikan kekuasaan kepada yang

mempunyai untuk menggunakan haknya, sampai disitulah batas kekuasaan negara

tersebut.

Sedangkan kekuasaan negara atas tanah yang tidak dipunyai dengan sesuatu

hak oleh seseorang atau pihak lainnya adalah lebih luas dan penuh, artinya negara

dapat memberikan tanah kepada seseorang atau badan hukum dengan sesuatu hak

(37)

Isi wewenang negara yang bersumber pada hak menguasai sumber daya alam

oleh negara tersebut semata-mata bersifat publik yaitu wewenang untuk mengatur

(wewenang regulasi) dan bukan wewenang untuk menguasai tanah secara fisik dan

menggunakan tanahnya sebagaimana wewenang pemegang hak atas tanah yang

bersifat peribadi.21

Secara teoritis, penyebutan ketentuan konstitusional mengenai Hak Menguasai

dari Negara ini sesungguhnya bersifat deklaratif, artinya dengan atau tanpa

penyebutan ketentuan tersebut setiap negara tetap mempunyai hak menguasai negara.

Namun demikian, ketentuan tersebut tetap penting untuk mengkonfirmasi eksistensi

dari hak menguasai negara tersebut dan menunjukkan sifat hubungan antara negara

dan tanah.22

Sejalan dengan hal tersebut di atas, maka pada Pasal 2 dan 4 UUPA mengatur

bahwa bumi, air dan ruang angkasa termasuk kekayaan alam yang terkandung di

dalamnya pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh negara, dan atas dasar hak

menguasai dari negara tersebut ditentukan adanya macam-macam hak atas tanah yang

dapat diberikan kepada perorangan maupun badan hukum (subyek hak).

Hak-hak atas tanah tersebut memberi wewenang untuk mempergunakan tanah

yang bersangkutan sekedar diperlukan untuk kepentingan yang langsung

21

Muhammad Bakri, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara, Paradigma Baru Untuk Reformasi Agraria, (Yogyakarta : Citra Media, 2007), halaman 5

22

(38)

berhubungan dengan penggunaan tanah itu dan dalam batas-batas menurut ketentuan

peraturan perundangan.

Dengan kata lain mengalokasikan kekuasaan hak atas tanah oleh negara

kepada orang atau badan hukum yang dilakukan secara terukur supaya dapat

digunakan bagi kelangsungan hidup setiap orang secara bersama-sama.23

Dari ketentuan yang terdapat dalam UUPA dapat dilihat bahwa Negara

memberikan hak-hak atas tanah kepada perorangan atau badan hukum (subyek hak),

bahkan menjamin, mengakui, melindungi hak-hak tersebut untuk dimanfaatkan dalam

rangka mensejahterakan kehidupannya dan tidak boleh diambil alih secara

sewenang-wenang oleh siapapun.

Akan tetapi Negara tidak hanya memberikan begitu saja hak-hak atas tanah

tersebut kepada subyek hak untuk dimanfaatkan dalam rangka mensejahterakan

kehidupannya, tetapi Negara juga memberikan jaminan kepastian hukum terhadap

hak-hak atas tanah tersebut melalui pendaftaran tanah. Kegiatan pendaftaran tanah

menurut Pasal 19 ayat (2) meliputi :

1. Pengukuran, perpetaan dan pembukuan tanah;

2. Pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak atas tanahnya;

3. Pemberian surat-surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang

kuat.

23

(39)

Kegiatan pendaftaran tanah baik untuk pendaftaran pertama kali maupun

untuk pendaftaran yang berkelanjutan berupa pendaftaran peralihan haknya, baru

dapat dilakukan apabila subyek hak dapat membuktikan adanya hubungan hubungan

baik yang bersifat keperdataan (perorangan) maupun bersifat publik (tanah yang

dikuasai oleh instansi Pemerintah atau tanah hak ulayat masyarakat hukum adat)

antara subyek hak dengan tanahnya.24

Hubungan hukum tersebut dapat dibuktikan dengan cara menguasai secara

fisik tanah yang bersangkutan dan atau mempunyai bukti yuridis atas penguasaan

tanahnya

Bukti yuridis atas penguasaan tanah tersebut dapat saja dalam bentuk

keputusan dari pejabat di masa lalu yang berwenang memberikan hak penguasaan

kepada subyek hak untuk menguasai tanah dimaksud dan dapat juga dalam bentuk

akta otentik yang diterbitkan oleh pejabat umum yang menunjukkan tanah tersebut

diperolehnya akibat adanya perbuatan hukum berupa perjanjian

pemindahan/peralihan hak atau dapat juga melalui pembukaan tanah menurut sistem

hukum adat.

Bila dikatakan perolehan hak atas tanah, maka tersirat adanya perbuatan

hukum yang dilakukan oleh subyek hak, hal ini sejalan dengan pengertian perolehan

hak atas tanah dan atau bangunan yang dikembangkan oleh Pasal 1 angka 2

24 Hak Ulayat

(40)

Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Tanah dan atau Bangunan

(BPHTB) yakni perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya

hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan, seperti jual beli,

tukar-menukar, hibah, wasiat, hibah wasiat, pewarisan dan lain-lain, yang

pemindahan haknya dilakukan dengan pembuatan akta menurut cara yang diatur

undang-undang.

Namun perolehan hak atas tanah juga termasuk dalam hal perbuatan hukum

orang untuk mendapatkan tanah dengan melakukan penguasaan tanah secara fisik

berupa penggarapan atau pembukaan tanah.

Bahkan lahirnya pemilikan tanah bagi individu menurut sistem hukum adat

umumnya diawali dengan pembukaan tanah yang diberitahukan kepada persekutuan

hukum dan diberikan tanda bahwa tanah itu telah digarap.25

Dari pembukaan tanah tersebut apabila terus dikuasai dan diusahakan secara

terus menerus dan mendapat persetujuan pemerintahan desa/persekutuan adat akan

melahirkan hak wenang pilih lalu menjadi hak menarik hasil, selanjutnya jika dari

upaya penguasaan dan pengusahaan tanah tersebut telah beberapa kali panen dan

tetap mengolah tanahnya secara tidak terputus lalu diperolehnya hak milik atas

tanah.26

25

Mukhtar Wahid, Op.cit, halaman 5925 Mukhtar Wahid, Op.cit, halaman 59

26

(41)

Oleh karena itu penguasaan dan pengusahaan atas tanah merupakan hal

penting dalam mengatur lalu lintas hukum di bidang pertanahan. Penguasaan tersebut

dapat juga sebagai permulaan adanya hak, bahkan ada yang menyebut penguasaan

tanah tersebut sudah merupakan suatu ”hak”. Kata ”penguasaan” menunjukkan

adanya suatu hubungan antara tanah dengan yang mempunyainya.27

Hubungan hukum tersebut berupa hubungan nyata manusia dengan tanah,

sebab tanpa hubungan nyata tersebut maka tidak akan lahir suatu hak apapun atas

tanah.28 Artinya ada sesuatu hal yang mengikat antara orang dengan tanah tersebut,

ikatan tersebut ditunjukkan dengan suatu tanda bahwa tanah tersebut telah dikuasai

dan dimilikinya. Tanda tersebut bisa berbentuk fisik maupun bisa berbentuk bukti

tertulis.

Menurut Boedi Harsono, hubungan penguasaan dapat dipergunakan dalam arti

yuridis maupun fisik.29 Penguasaan dalam arti yuridis maksudnya hubungan tersebut

ditunjukkan dengan adanya alas hak dari penguasaan tanahnya, apabila telah ada alas

hak, maka hubungan tanah dengan obyek tanahnya sendiri telah dilandasi dengan

suatu hak.

Sedangkan penguasaan tanah dalam arti fisik menunjukkan adanya hubungan

langsung antara tanah dengan yang empunya tanah tersebut, misalnya didiami dengan

27

Badan Pertanahan Nasional, Hak Hak Atas Tanah Dalam Hukum Tanah Nasional, (Jakarta, 2002), halaman 18

28

Mukhtar Wahid, op.cit., halaman 61

29

(42)

mendirikan rumah tinggal atau ditanami dengan tanaman produktif untuk tanah

pertanian.

Penguasaan tanah dapat menjadi pertanda adanya pemilikan dan hal tersebut

juga dapat merupakan permulaan adanya atau diberikannya hak atas tanah, dengan

perkataan lain penguasaan tanah secara fisik merupakan salah satu faktor utama

dalam rangka pemberian hak atas tanahnya, sungguhpun penguasaan tanah dapat saja

dilakukan oleh orang yang tidak berhak atau hanya sebagai penyewa.

Berdasarkan ketentuan Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997

tentang Pendaftaran Tanah, dapat dijelaskan bahwa sekalipun tidak ada alat-alat bukti

penguasaan secara yuridis, namun apabila dalam kenyataan bidang tanah tersebut

telah dikuasai secara fisik secara terus menerus selama 20 tahun dengan itikat baik,

maka dapat dilegitimasi penetapan/pemberian haknya kepada yang bersangkutan

dengan memberikan alat bukti tertulis.

Penguasaan tanah tersebut dapat dikatakan lengkap untuk disebut sebagai

pemilikan tanah apabila didukung oleh bukti tertulis berupa surat-surat tanah yang

diterbitkan oleh pejabat yang berwenang.

Jadi faktor penguasaan secara fisik tersebut masih harus diikuti dengan

syarat-syarat tertentu sehingga dapat dikatakan sebagai pemilikan atau permulaan adanya

hak yakni dilakukan secara terus menerus, dengan jangka waktu tertentu dan

dilakukan dengan itikat baik, sebaiknya dilengkapi dengan bukti tertulis, baru

(43)

Unsur jangka waktu tersebut ditentukan secara limitatif yakni minimal 20 (dua

puluh) tahun, namun unsur itikat baik tidak ada dijelaskan pengertiannya. Hal itu

dimengerti karena itikat baik itu sendiri tidak ada pengertian yang diterima secara

universal, hanya saja pengertian itikat baik memiliki dua dimensi, pertama dimensi

subyektif yang berarti mengarah kepada makna kejujuran, sedang dimensi kedua

dimensi obyektif yang berarti kerasionalan dan kepatutan atau keadilan.30

Terhadap pemilikan dan penguasaan tanah yang dibuktikan dengan alat bukti

secara tertulis dapat disebut juga alas hak. Alas hak diartikan sebagai bukti pemilikan

atau penguasaan atas tanah secara yuridis dapat berupa alat-alat bukti yang

menetapkan atau menerangkan adanya hubungan hukum antara tanah dengan yang

mempunyai tanah, dapat juga berupa riwayat pemilikan tanah yang pernah diterbitkan

oleh pejabat pemerintah sebelumnya maupun bukti pengakuan dari pejabat yang

berwenang.

Alas hak secara yuridis ini biasanya dituangkan dalam bentuk tertulis dengan

suatu surat keputusan, surat keterangan, surat pernyataan, surat pengakuan, akta

otentik maupun surat di bawah tangan dan lain-lain.

Berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 dan

Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3

Tahun 1997, alas hak tersebut diberi istilah data yuridis, yakni keterangan mengenai

30

(44)

status hukum bidang tanah, pemegang haknya, dan pihak lain serta beban-beban lain

yang membebaninya.

Secara perdata, dengan adanya hubungan yang mempunyai tanah dengan

tanahnya yang dibuktikan dengan penguasaan fisik secara nyata di lapangan atau ada

alas hak berupa data yuridis berarti telah dilandasi dengan suatu hak, tanah tersebut

sudah berada dalam penguasannya atau telah menjadi miliknya.

Pemilikan atas tanah secara yuridis selalu mengandung kewenangan untuk

menguasai fisik tanahnya, oleh karena pemilikan secara yuridis memberikan alas hak

terhadap adanya hubungan hukum mengenai tanah yang bersangkutan. Apabila

tanahnya sudah dikuasai secara fisik dan sudah ada alas haknya, maka persoalannya

hanya menindaklanjuti alas hak yang melandasi hubungan tersebut menjadi hak atas

tanah yang ditetapkan dan diakui oleh Negara agar hubungan tersebut memperoleh

perlindungan hukum. Proses penetapan dan pengakuan alas hak menjadi hak atas

tanah disebut pendaftaran tanah yang produknya adalah sertipikat tanah.

Oleh karena itu alas hak sebenarnya sudah merupakan suatu legitimasi awal

atau pengakuan atas penguasaan tanah oleh subyek hak yang bersangkutan, namun

idealnya agar penguasaan suatu bidang tanah juga mendapat legitimasi dari Negara,

maka harus dilandasi dengan suatu hak atas tanah yang ditetapkan oleh Negara

(Pemerintah).

AP. Parlindungan menyatakan bahwa alas hak atau dasar penguasaan atas

tanah dapat diterbitkan karena penetapan pemerintah atau ketentuan peraturan

(45)

menimbulkan suatu hak di atas hak tanah lain (misalnya Hak Guna Bangunan di atas

Hak Milik) juga karena ketentuan konversi hak atas tanah.

Sedangkan ketentuan pendakuan maupun karena kadaluarsa memperoleh

suatu hak dengan lembaga uitwijzingprocedure sebagaimana diatur dalam Pasal 548

KUH Perdata tidak dikenal dalam UUPA, sungguhpun pewarisan merupakan juga

salah satu alas hak.

Alas hak itu sendiri adalah bukti penguasaan atas tanah secara yuridis dapat

berupa alat-alat bukti yang menetapkan atau menerangkan adanya hubungan hukum

antara tanah dengan yang mempunyai tanah, dapat berupa riwayat pemilikan tanah

yang pernah diterbitkan oleh pejabat pemerintah sebelumnya maupun bukti

pengakuan dari pejabat yang berwenang. Alas hak secara yuridis ini biasanya

dituangkan dalam bentuk tertulis dengan suatu surat keputusan, surat keterangan,

surat pernyataan, surat pengakuan, akta otentik maupun surat di bawah tangan dan

lain-lain 31

Dinyatakan juga bahwa alas hak32 untuk tanah menurut UUPA adalah bersifat

derivative, artinya berasal dari ketentuan peraturan perundang-undangan dan dari

hak-hak yang ada sebelumnya, seperti hak-hak adat atas tanah dan hak-hak yang

berasal dari hak-hak Barat,33 dengan catatan dilakukan penyesuaian dengan ketentuan

31

AP. Parlindungan, Beberapa Masalah Dalam UUPA, (Bandung : Mandar Maju, 1993), halaman 69-70.

32

Mhd. Yamin Lubis dan Abd. Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah, (Bandung : Mandar Maju, 2008), halaman 237.

33

(46)

yang baru yang dalam Hukum Agraria dikenal dengan istilah konversi. Maksud dari

konversi hak atas tanah tersebut adalah perubahan hak lama atas tanah menjadi hak

baru sebagaimana yang diatur dalam UUPA.34

Sedang menurut AP. Parlindungan, konversi adalah bagaimana pengaturan

dari hak-hak atas tanah yang ada sebelum berlakunya UUPA untuk masuk dalam

system UUPA. 35

Konversi dibagi dalam tiga jenis, yaitu 1) konversi hak yang berasal dari tanah

hak barat yaitu hak eigendom, opstal, erfpacht; 2) konversi hak yang berasal dari

tanah hak Indonesia yaitu terhadap hak erfpach yang altijdurend, hak agrarische

eigendom dan hak gogolan dan 3) konversi hak yang berasal dari tanah bekas

swapraja, yaitu terhadap hak anggaduh, hak grant, hak konsesi dan sewa untuk

perumahan dan kebun besar.36

Jadi secara normatif bukti penguasaan atau pemilikan atas suatu bidang tanah

yang diterbitkan oleh pemerintah sebelumnya (dasar penguasaan/alas hak lama)

masih tetap diakui sebagai dasar penguasaan atas tanah karena diterbitkan oleh

pejabat yang berwenang dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang

berlaku pada masa itu.

34

Ali Ahmad Chomzah, Hukum Agraria, Jilid-I (Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher, 2004), halaman 80.

35

AP. Parlindungan, Konversi Hak-Hak Atas Tanah, (Bandung : Mandar Maju, 1993), halaman 94.

36

(47)

Hak-hak adat maupun hak-hak Barat yang dijadikan sebagai alas hak tersebut

ada yang sudah didaftar pada zaman Hindia Belanda dan ada yang belum didaftar.

Pendaftaran hak atas tanah pada waktu itu hanya pada hak atas tanah yang tunduk

pada KUH Perdata, sungguhpun ada juga orang-orang Bumi Putera yang mempunyai

hak atas tanah yang berstatus hak Barat selain golongan Eropa dan Timur Asing

termasuk golongan China.

Untuk Golongan Bumi Putera umumnya tidak ada suatu hukum pendaftaran

tanah yang bersifat uniform, sungguhpun ada secara sporadis ditemukan beberapa

pendaftaran yang sederhana dan belum sempurna seperti Grant Sultan Deli, Geran

lama, Geran Kejuran, pendaftaran tanah yang terdapat di kepulauan Lingga-Riau, di

daerah Yogyakarta dan Surakarta dan di lain-lain daerah yang sudah berkembang dan

menirukan system pendaftaran kadaster. Sebaliknya juga dikenal pendaftaran tanah

pajak, seperti pipil, girik, petuk, ketitir, letter C yang dilakukan oleh Kantor Pajak di

Pulau Jawa.37

Selain itu ditemukan juga alas hak atas tanah berupa surat-surat yang dibuat

oleh para Notaris atau yang dibuat oleh Camat dengan berbagai ragam bentuk untuk

menciptakan bukti tertulis dari tanah-tanah yang dikuasai oleh warga masyarakat.

Penerbitan bukti-bukti penguasaan tanah tersebut ada yang dibuat di atas

tanah yang belum dikonversi maupun tanah-tanah yang dikuasai oleh Negara dan

kemudian tanah dimaksud diduduki oleh rakyat baik dengan sengaja ataupun diatur

37

Gambar

Tabel 1
Tabel 2
Tabel 3

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana problematika yang terjadi dalam pendaftaran tanah di Kota Batam, upaya pemerintah Kota Batam dalam

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, secara umum pengendalian arus urbanisasi di Pulau Batam oleh Pemerintah Kota Batam telah sesuai dengan

Pengaturan penguasaan tanah pantai dan pengelolaan wilayah pesisir oleh masyarakat di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan

sedangkan di pantai Pulau Bintan kandungan unsur Ba, Nb, Sr, dan Zr paling tinggi di Pulau Bintan dibandingkan Pulau Batam, kandungan unsur tanah jarang di permukaan dasar

4.5 Perancangan Lifestyle Centre berdasarkan konsep Coastal Tourism dan Studi Pola Gang Atas Laut di Pulau Belakang Padang, Batam

sedangkan di pantai Pulau Bintan kandungan unsur Ba, Nb, Sr, dan Zr paling tinggi di Pulau Bintan dibandingkan Pulau Batam, kandungan unsur tanah jarang di permukaan dasar

Oleh karena itu yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana problematika yang terjadi dalam pendaftaran tanah di Kota Batam, upaya pemerintah Kota Batam dalam

Ada sinyalemen bahwa di dalam Permen tersebut terdapat limitasi-internal, antara lain: (a) dikhawatirkan akan semakin menyuburkan private ownership dalam penguasaan wilayah