UJI DIAMETER LUBANG CETAK PADA ALAT PEMBUAT
PAKAN IKAN BENTUK PELET
SKRIPSI
Oleh:
LISNAWATI SAGALA 060308022 / Keteknikan Pertanian
PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UJI DIAMETER LUBANG CETAK PADA ALAT PEMBUAT
PAKAN IKAN BENTUK PELET
SKRIPSI
Oleh:
LISNAWATI SAGALA 060308022 / Keteknikan Pertanian
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
Disetujui Oleh: Komisi Pembimbing
Ir. Saipul Bahri Daulay, M.Si Taufik Rizaldi, STP, MP
Ketua Anggota
PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
ABSTRAK
LISNAWATI SAGALA :Uji Diameter Lubang Cetak Pada Alat Pembuat Pakan Ikan Bentuk Pelet, dibimbing oleh Saipul Bahri Daulay sebagai ketua dan Taufik Rizaldi sebagai anggota.
Uji Diameter lubang pada alat pembuat pakan ikan bentuk pelet belum banyak diteliti hingga saat ini. Oleh karena itu, penelitian dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pelet yang dihasilkan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian USU pada April - Mei 2011 menggunakan rancangan acak lengkap non faktorial yaitu (Diameter lubang (2, 3 dan 4 mm). Parameter yang diamati adalah kapasitas olah, kapasitas hasil, dan persentase kerusakan hasil.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa besar diameter memberikan pengaruh dan perbedaan yang sangat nyata terhadap kapasitas olah, kapasitas hasil, dan persentase kerusakan hasil. Hasil terbaik diperoleh pada Diameter 4 mm.
Kata Kunci : Diameter, Pelet, Alat Pembuat Pakan Ikan.
ABSTRACT
LISNAWATI SAGALA: Printed Hole Diameter Test of Fish Pellet Maker, Supervised by Saipul Bahri Daulay and Taufik Rizaldi.
Diameter of hole of fish pellet maker has not much been studied until now. Therefore, research was conducted to enhance the capacity of pellet produced. The research had been conducted at The Agriculture Engineering Laboratory, Faculty of Agriculture USU in April - May2011 using non-factorial completely randomized design (hole diameters of 2, 3, and 4 millimeters). Parameters observed was the capacity, yield capacity, and the percentage of broken pellet.
The results showed that the larger diameter gave a significant effect and different on the capacity, yield capacity, and the percentage of defects. The best result obtained in diameter of 4 millimeters.
RIWAYAT HIDUP
Lisnawati sagala, dilahirkan di Kota Cane pada tanggal 06 Oktober 1986, dari Ayah L. Sagala dan Ibu N. br. Sambo. Penulis merupakan anak ke enam dari enam bersaudara.
Tahun 2006 penulis lulus dari SMU Swasta Hang Tuah Belawan dan pada tahun 2006 lulus seleksi masuk Universitas Sumatera Utara melalui jalur Penerimaan Mahasiswa Pertasi (PMP). Penulis memilih Program Studi Ketknikan Pertanian, Fakultas Pertanian.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul“Uji Diameter Lubang Cetak Pada Alat Pembuat Pakan Ikan Bentuk Pelet”
Pada kesempatan ini penulis menghaturkan pernyataan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis yang telah membesarkan, memelihara, dan mendidik penulis selama ini. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Bapak Ir. Saipul Bahri Daulay, M.Si dan Bapak Taufik Rizaldi, STP, MP selaku ketua dan anggota komisi pembimbing yang telah membimbing dan memberikan berbagai masukan berharga kepada penulis dari mulai menetapkan judul, melakukan penelitian, sampai pada ujian akhir.
Disamping itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua staf pengajar dan pegawai di Program Studi Keteknik Pertanian Departemen Teknologi Pertanian, serta semua rekan mahasiswa yang tak dapat disebutkan satu per satu disini yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat.
Medan, Juli 2011
DAFTAR ISI
Hal
ABSTRAK ... iv
ABSTRACT ... iv
RIWAYATHIDUP ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
PENDAHULUAN ... 1
Latar belakang ... 1
Tujuan penelitian ... 3
Hipotesis penelitian ... 3
Kegunaan penelitian... 3
TINJAUAN PUSTAKA... 4
Usaha Perikanan ... 4
Pakan ikan ... 4
Pelet Ikan ... 5
Mesin pembuat pelet ... 8
Bahan pembuatan makanan ikan ... 10
Elemen mesin ... 11
METODOLOGI PENELITIAN ... 19
Tempat dan waktu ... 19
Bahan dan alat ... 19
Metode penelitian ... 19
Komponen alat ... 20
Pelaksanaan penelitian ... 22
Pembuatan plat cetakan ... 22
Persiapan alat ... 23
Persiapan bahan ... 23
Prosedur penelitian ... 24
Parameter yang diamati ... 24
Kapasitas olah ... 24
Kapasitas Hasil ... 24
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 26
Kapasitas Olah ... 26
Kapasitas Hasil ... 28
Kerusakan Hasil Cetakan ... 30
KESIMPULAN DAN SARAN ... 32
Kesimpulan ... 32
Saran ... 32
DAFTAR PUSTAKA ... 33
DAFTAR TABEL No. Hal
1. Ransum makanan buatan untuk pakan ikan lele ... 8
3.Bentuk pakan buatan untuk ikan ... 10
4. Pengaruh diameter terhadap parameter yang diamati ... 26
5.Pengaruh diameter terhadap kapasitas olah (kg/jam) ... 27
6. Pengaruh diameter terhadap kapasitas hasil (kg/jam) ... 28
DAFTAR GAMBAR
No. Hal
1. Hubungan diameter dengan kapasitas olah ... 27
2. Hubungan diameter dengan kapasitas hasil ... 29
3. Hubungan diameter dengan kerusakan hasil ... 30
DAFTAR LAMPIRAN
No. Hal.
1. Flowchart penelitian ... 35
2. Data Pengamatan Kapasitas Olah (kg/jam ... 36
3. Data Pengamatan Kapasitas Hasil (kg/jam) ... 37
4. Data Pengamatan Kerusakan Hasil (%) ... 38
5. Data Sebelum di Konversi ... 39
6. Data Setelah di Konversi ... 39
7. Hasil Cetakan ... 40
8. Cetakan ... 42
9. Alat pembuat pakan tampak belakang dan depan ... 44
10. Gambar Alat Pencetak Pelet Tampak Atas ... 45
11.Gambar Alat Pembuat Pelet Tampak Samping ... 46
12. Gambar Cetakan 2 mm ... 47
13. Gambar Cetakan 3 mm ... 48
ABSTRAK
LISNAWATI SAGALA :Uji Diameter Lubang Cetak Pada Alat Pembuat Pakan Ikan Bentuk Pelet, dibimbing oleh Saipul Bahri Daulay sebagai ketua dan Taufik Rizaldi sebagai anggota.
Uji Diameter lubang pada alat pembuat pakan ikan bentuk pelet belum banyak diteliti hingga saat ini. Oleh karena itu, penelitian dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pelet yang dihasilkan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian USU pada April - Mei 2011 menggunakan rancangan acak lengkap non faktorial yaitu (Diameter lubang (2, 3 dan 4 mm). Parameter yang diamati adalah kapasitas olah, kapasitas hasil, dan persentase kerusakan hasil.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa besar diameter memberikan pengaruh dan perbedaan yang sangat nyata terhadap kapasitas olah, kapasitas hasil, dan persentase kerusakan hasil. Hasil terbaik diperoleh pada Diameter 4 mm.
Kata Kunci : Diameter, Pelet, Alat Pembuat Pakan Ikan.
ABSTRACT
LISNAWATI SAGALA: Printed Hole Diameter Test of Fish Pellet Maker, Supervised by Saipul Bahri Daulay and Taufik Rizaldi.
Diameter of hole of fish pellet maker has not much been studied until now. Therefore, research was conducted to enhance the capacity of pellet produced. The research had been conducted at The Agriculture Engineering Laboratory, Faculty of Agriculture USU in April - May2011 using non-factorial completely randomized design (hole diameters of 2, 3, and 4 millimeters). Parameters observed was the capacity, yield capacity, and the percentage of broken pellet.
The results showed that the larger diameter gave a significant effect and different on the capacity, yield capacity, and the percentage of defects. The best result obtained in diameter of 4 millimeters.
PENDAHULUAN
Latar BelakangDengan kemajuan teknologi dewasa ini dan didukungnya wilayah perairan Indonesia yang luas, meliputi 11,95 juta Ha sungai dan rawa 1,78 juta Ha danau alam, 0,003 Ha danau buatan serta luasnya perairan laut Indonesia, telah memberikan kemudahan bagi masyarakat, khususnya petani budidaya ikan untuk mengembangkan usaha perikanan di Indonesia (Raflie, 2007).
Jenis komoditi budidaya perikanan yang dikembangkan untuk air tawar ataupun air laut sangat bervariasi, mulai dari ikan mas, ikan mujair, ikan nila, ikan lele, ikan kerapu, ikan kakap, serta jenis ikan hias baik di air tawar maupun ikan hias laut dan sebagainya.
Untuk mengembangkan budidaya ikan tersebut, ikan memerlukan pakan. Bagi semua mahkluk hidup, pakan mempunyai peranan yang sangat penting sebagai sumber energi untuk pemeliharaan tubuh, pertumbuhan, dan perkembangbiakan. Selain itu, pakan juga bisa digunakan sebagai pengobatan, reproduksi, perbaikan metabolisme lemak dan lain-lain. Namun pemberian pakan berlebih dapat membuat hewan peliharaan menjadi rentan terhadap penyakit, produktivitasnya pun menurun.
Pakan alami biasanya digunakan dalam bentuk hidup dan agak sulit untuk mengembangkannya, karena memerlukan perlakuan khusus sebelum pakan tersebut diberikan kepada ikan. Pakan buatan adalah pakan yang disiapkan manusia dengan bahan dan komposisi tertentu. Pakan buatan banyak kita jumpai di pasar dalam bentuk pelet (Wikipedia, 2010).
Dengan pesatnya perkembangan budidaya perikanan di Indonesia, membuat kebutuhan pakan tersebut menjadi meningkat. Sehingga apabila hanya mengandalkan pakan alami saja, tidak akan mencukupi kapasitas pakan ikan tersebut. Untuk itu banyak petani budidaya ikan menggunakan pakan buatan, sebagai tambahan untuk pakan ikan.
Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian sebelumnya, dimana telah dirancang dan dibuat alat pencetak pakan ikan mas dan ikan lele bentuk pelet oleh Syahputra (2009) dengan hasil yang didapat yaitu kapasitas efektif alat sebesar 25,85 kg/jam dan persentase kerusakan hasil sebesar 17,14%. Pada alat ini terdapat beberapa kelemahan/kekurangan yaitu jarak ulir dan putaran ulir pencetak yang masih menggunakan rpm yang tetap yaitu 38 dan pelat cetakan dimeter lubang 3 mm sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk melihat performansi alat. Diharapkan hasil yang diperoleh dapat lebih optimal, dengan mencari putaran ulir pencetak pada alat pencetak pakan ikan mas dan ikan lele bentuk pelet yang tepat untuk memperoleh hasil pada pencetakan pelet.
dilanjutkan oleh Gunawan (2011) dimana telah dirancang dan dibuat pulley dengan kecepatan 43 rpm dengan hasil yang diperoleh kapasitas hasil sebesar 22,08 kg/jam dan kerusakan hasil sebesar 40,37%.
Tujuan Penelitian
Menguji Diameter lubang alat pembuat pakan ikan bentuk pelet terhadap kualitas pelet yang dihasilkan.
Hipotesis Penelitian
Adanya pengaruh diameter lubang cetak terhadap kapasitas olah, kapasitas hasil, dan kerusakan hasil.
Kegunaan Penelitian
1. Sebagai syarat untuk melaksanakan ujian sarjana di Program Studi Teknik Pertanian, Departemen Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
TINJAUAN PUSTAKA Usaha Perikanan
Usaha perikanan bukanlah usaha yang hanya sekedar melakukan kegiatan pemeliharaan ikan di kolam, di sungai, di danau, atau di laut, melainkan usaha yang mencakup berbagai aspek organisme (sumber hayati). Usaha perikanan di Indonesia dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Selain perikanan di laut, kita mempunyai perairan di darat berupa danau, sungai, dan rawa. Usaha perikanan dapat dibagi dua jenis, yaitu usaha perikanan darat dan perikanan laut. Usaha perikanan darat disebut juga usaha perikanan air tawar (Evy, 1997).
Pakan Ikan
Berdasarkan macam makanannya, ikan dapat dibedakan menjadi 5 golongan, yaitu :
1. Pemakan tumbuh-tumbuhan 2. Pemakan daging
3. Pemakan segala 4. Pemakan plankton
5. Pemakan hancuran bahan organik (Mudjiman, 1996).
Pakan alami merupakan pakan yang berbentuk hewan-hewan dan tumbuhan kecil yang biasa disebut zooplankton dan fitoplankton. Jenis pakan alami ini berukuran sangat kecil sehingga pakan alami ini lebih cocok diberikan pada benih ikan (Sendjaja dan Riski, 2002).
Ada beberapa syarat pakan alami untuk ikan lele dumbo, yaitu harus lebih kecil dari bukaan mulut ikan, mudah dicerna, mudah ditangkap, serta mudah dan murah untuk mengulturkannya atau menumbuhkannya (Prihartono dkk, 2000).
Pelet Ikan
Pelet adalah bentuk makanan buatan yang terdiri dari beberapa macam bahan yang kita ramu dan kita jadikan adonan, kemudian kita cetak sehingga
bentuknya merupakan batangan kecil-kecil seperti bentuk obat nyamuk bakar. Panjangnya biasanya berkisar 1-2 cm. Jadi pelet tidak berupa tepung, tidak berupa butiran, dan juga tidak berupa larutan (Mudjiman, 1996).
Bahan baku untuk pembuatan pakan buatan harus memenuhi beberapa persyaratan berikut:
1. Mempunyai nilai gizi tinggi 2. Mudah diperoleh
3. Tidak mengandung racun 4. Harganya relatif murah
5. Tidak merupakan makanan pokok manusia sehingga tidak merupakan saingan (Mudjiman, 2009).
pakan ikan yang akan dibuat. Pakan ikan yang akan dibuat dengan mudah dapat dilakukan dengan alat-alat yang sederhana. Oleh karena itu, untuk memperoleh keuntungan yang lebih banyak dalam suatu usaha perikanan, petani ikan sebaiknya dapat membuat pakan ikan yang diperlukan dalam memelihara ikan. Selain itu, pakan ikan yang dibuat sendiri kandungan gizinya (kadar protein) sesuai dengan kebutuhan ikan yang akan memakannya (Gusrina, 2000).
Kita dapat membuat pakan ikan jika memiliki pengetahuan tentang jenis bahan baku yang akan digunakan dalam kandungan zat gizinya, mengetahui tentang formulasi/ramuan pakan ikan yang akan dibuat sesuai dengan kadar protein pakan ikan.
1. Alat-alat yang akan digunakan tersedia.
2. Bahan-bahan yang dibutuhkan tersedia.
3. Mengetahui proses pembuatan.
(Gusrina, 2000).
matahari. Pelet yang baik memiliki kandungan air dibawah 10% dan tidak mudah hancur (Agung, 2007).
Semakin besar ikan yang dibudidayakan, maka akan semakin besar pula jumlah makanan yang harus dikonsumsi oleh ikan tersebut. Selain itu, kadar protein yang diberikan untuk pembesaran ikan dewasa juga perlu diperhatikan. Adapun ramuan pakan ikan dalam proses pembesaran dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Ramuan Makanan Buatan Untuk Pakan Ikan Lele
Sumber : Hernowo dan Suyanto (2008). Mesin Pembuat Pelet
Cetakan pelet adalah salah satu mesin paket pelet yang berfungsi untuk memproduksi dan mencetak pelet atau pakan ikan dengan kapasitas produksi mencapai hingga 200 kg/jam. Mesin cetak pelet sangat efektif untuk menghasilkan pakan ternak dengan bentuk yang simetris (Anonimous, 2011).
Banyak jenis mesin yang dapat digunakan, mulai mesin sederhana hingga mesin yang biasa digunakan pada industri pakan. Mesin pencetakan sederhana bisa merupakan hasil modifikasi gillingan daging yang diberi penggerak berupa motor listrik atau motor bakar.Perbedaan mendasar antara mesin pencetak pelet sederhana dan mesin pencetak pelet yang digunakan di industri pakan terletak pada sistem kerja mesin tersebut. Sistem kerja mesin cetak sederhana adalah dengan mendorong bahan pakan campuran didalam sebuah tabung besi atau baja dengan menggunakan ulir (screw) menuju cetakan (die) berupa pelat berbentuk lingkaran dengan lubang-lubang berdiameter 2-3 mm, sehingga pakan akan keluar dari cetakan tersebut dalam bentuk pelet.
Agar usaha pembesaran ikan dapat terus berjalan, maka diperlukan suatu upaya pembuatan pakan sendiri yang dapat dilakukan oleh petani ikan dengan teknologi yang sederhana dengan biaya yang murah. Dengan demikian petani ikan dapat mengurangi biaya produksi, sehingga pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan petani ikan (Sutjatmiko dkk.,2000).
Alat Pembuat Pakan Ikan Bentuk Pelet berfungsi mencetak pakan ikan bentuk pelet dengan mekanisme menggunakan dorongan yang dihasillkan oleh ulir. Alat ini mempunyai dimensi (p x l x t) 800 x 650 x 600 mm terbuat dari bahan rangka plat besi. Penggerak elektromotor yang digunakan mempunyai tenaga 1 Hp berjenis satu fase, konsumsi listrik 220 V, dengan putaran sebesar 1480 rpm. Lubang plat cetakan berukuran 10x3 mm
(Syahputra, 2009).
Alat pencetak pelet berbentuk silinder, pada bagian dalamnya terdapat ulir pengepres pelet. Ulir pengepres ini mendorong bahan adonan kearah ujung silinder dan menekan plat berlubang sebagai pencetak pelet. Lubang plat menggerakkan poros pencetak sesuai ukuran pelet yang dikehendaki. Pelet keluar dari lubang setakan dan akan dipotong oleh pisau (Satriyo dkk, 2008).
Pelet dapat dibuat dalam beragam bentuk, seperti batang, bulat, atau gilik(bulat memanjang). Ukuran panjang dan diameter disesuikan dengan ukuran ikan yang akan diberi makan. Ragam ukuran pelet tersabut dibuat dengan mengatur lubang-lubang dengan alat pencetaknya.panjang pelet diatur dengan penyetelan alat pemotongnya. Pelet dapat diberi pada ikan-ikan dalam fase pertumbuhan atau dewasa (Mudjiman., 2009).
Betuk remah atau butiran, dan tepung sebenarnya berasal dari pelet yang digiling atau diayak dengan mata ayakan tertentu dangan bentuk yang diinginkan. Ukuran pelet berkisar antara 3-3,5 mm, sedangkan remah berkisar antara 1-2 mm. kekerasan pelet tergantung pada cara pembuataan, jenis bahan baku, jenis perekat, dan jumlah perekatnya (Mudjiman, 2009).
Tabel 2. Bentuk Pakan Buatan Untuk Ikan
No Umur ikan Bentuk Pakan Sumber : (Mudjiman, 2009).
Bahan Pembuatan Makanan Ikan
Ada pun bahan pembuatan makanan ikan adalah sebagai berikut : 1. Tepung Ikan
difermentasikan lebih dahulu menjadi bekasem. Ikan-ikan rucah (tidak bernilai ekonomis penting) dan sisa-sisa hasil pengolahan biasanya merupakan bahan baku yang penting untuk pembuatan tepung ikan.
2. Tepung Darah
Salah satu limbah dari rumah pemotongan hewan adalah darah. Darah segar yang sudah beku tapi masih mentah itu mula-mula kita masak lebih dulu. Setelah itu baru kita keringkan dan kita giling menjadi tepunga lalu di ayat dengan dengan ukuran ayatan 20 mesh.
3. Tepung Terigu
Tepung terigu berasal dari biji gandum. Disamping sebagai sumber energi, tepung terigu juga berguna sebagai bahan perekat. Penggunaannya antara lain untuk membuat makanan burayak udang.
4. Vitamin dan Mineral
Untuk menghindari gangguan kurang vitamin, karena kadar vitamin bahan memang rendah atau mengalami kerusakan, maka kit adapat menggunakan vitamin tambahan yang sudah diramu dan disiapkan sedemikian rupa, sehingga kita tinggal menakarnya saja sesuai dengan kebutuhan. Macam-macam merk dagang yang dapat kita jumpai dipasaran antara lain adalah Aquamix, Rajamix U, Pfizer Premix A, Pfizer Premix B, Top Mix, Rhodiamix 273, dan lain-lain.
Elemen Mesin Motor Listrik
Mesin-mesin yang dinamakan motor listrik dirancang untuk mengubah energi listrik menjadi energi mekanis, untuk menggerakkan berbagai peralatan, mesin-mesin dalam industri, pengangkutan dan lain-lain. Pada dasarnya motor listrik digunakan untuk menggerakkan elemen-elemen mesin, seperti pulley, poros, dan sudu pelempar (Pratomo, 1983).
Motor listrik mempunyai keuntungan sebagai berikut: 1. Dapat dihidupkan hanya dengan memutar saklar. 2. Suara dan getaran tidak menjadi gangguan.
3. Udara tidak ada yang dihisap, juga tidak ada gas buang, oleh karena itu tidak perlu mengukur polusi lingkungannya atau membuat ventilasi.
Di lain pihak motor listrik mempunyai kekurangan sebagai berikut:
1. Motor listrik membutuhkan sumber daya, kabelnya harus dapat dihubungkan langsung dengan stop k0ontak, dengan demikian tempat penggunaannya sangat terbatas panjang kabel.
2. Kalau dipergunakan baterai sebagai sumber daya, maka beratnya akan menjadi besar.
3. Secara umum biaya listrik lebih tinggi dari harga bahan bakar minyak. (Soenarta dan Furuhama, 2002).
1. Motor 1 fase
Disebut motor satu fase karena untuk menghasilkan tenaga mekanik, pada motor tersebut dimasukkan tegangan satu fase. Didalam praktek yang sering digunakan adalah motor satu fase dengan lilitan dua fase. Dikatakan demikian karena didalam motor satu lilitan statornya terdiri dari dua jenis lilitan, yaitu lilitan pokok dan lilitan bantu. Kedua jenis lilitan tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga walaupun arus yang mengalir adalah arus/tegangan satu fase tetapi akan mengakibatkan arus yang mengalir pada lilitan mempunyai perbedaan fase.
2. Motor 3 fase
Disebut motor 3 fase karena untuk menghasilkan tenaga mekanik tegangan yang dimasukkan pada rotor tersebut adalah tegangan 3 fase.
Poros
Poros pada umumnya berfungsi untuk memindahkan daya dan putaran. Bentuk dari poros adalah silinder baik pejal maupun berongga. Namun ukuran diameternya tidak selalu sama. Biasanya dalam permesinan, poros dibuat bertangga/step agar bantalan, roda gigi maupun pulley mempunyai kedudukan dan penahan agar dapat diperoleh ketelitian mekanisme (Stolk dan Kross, 1993).
Menurut pembebanannya, poros untuk meneruskan daya diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Poros Transmisi
Poros ini mendapat beban puntir dan lentur. Daya ditransmisikan kepada poros ini melalui kopling, roda gigi, puli sabuk, rantai dll.
Poros yang pendek, seperti poros utama mesin perkakas, dimana beban utamanya berupa puntiran. Syarat yang harus dipenuhi poros ini adalah deformasinya harus kecil dan bentuk serta ukurannya harus teliti.
3. Gandar (axle)
Poros ini dipasang diantara roda-roda kereta api, dimana tidak mendapat beban puntir dan tidak berputar. Gandar ini hanya mendapat beban lentur, kecuali jika digerakkan oleh penggerak mula dimana akan mengalami beban puntir juga.
4. Poros (shaft)
Poros yang ikut berputar untuk memindahkan daya dari mesin ke mekanisme yang digerakkan. Poros ini mendapat beban puntir murni dan lentur.
5. Poros Luwes
Poros yang berfungsi untuk memindahkan daya dari dua mekanisme, dimana perputaran poros membentuk sudut dengan poros lainnya. Daya yang dipindahkan kecil.
(Achmad, 1999). Bantalan
Bantalan adalah elemen mesin yang berfungsi sebagai penumpu poros yang berbeban dan berputar. Dengan adanya bantalan, maka putaran dan gerakan bolak-balik suatu poros berlangsung secara halus, aman, dan tahan lama. Bantalan berguna untuk menumpu poros dan memberi kemungkinan poros dapat berputar dengan leluasa (dengan gesekan yang sekecil mungkin). Berbagai macam bantalan, pada prinsipnya bantalan dapat digolongkan menjadi:
2. Bantalan gelinding (bantalan peluru dan bantalan rol). 3. Bantalan dengan beban radial.
4. Bantalan dengan beban aksial.
5. Bantalan dengan beban campuran (aksial-radial). (Daryanto, 1984).
Berdasarkan gerakan bantalan terhadap poros, bantalan terdiri atas bantalan luncur dan bantalan gelinding. Pada bantalan luncur terjadi gesekan antara poros dan bantalan, karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan perantaraan lapisan pelumas. Pada bantalan gelinding terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan bagian yang diam melalui elemen gelinding seperti bola (peluru). Berdasarkan arah beban terhadap poros, bantalan terdiri atas bantalan radial yang arah bebannya tegak lurus sumbu poros, beban aksial yang arah bebannya sejajar dengan sumbu poros dan bantalan gelinding khusus yang arah bebannya sejajar dan tegak lurus sumbu poros
(Sularso dan Suga, 2004). Sproket
Sproket merupakan transmisi yang terdiri dari roda gigi dan rantai. Roda Gigi
langsung antara roda gigi yang satu dengan roda gigi yang lain. Pada sistem ini pun tidak mungkin terjadi slip karena masing-masing roda gigi saling berhubungan secara langsung (Smith and Wilkes, 1990).
Dalam hal penggolongan roda gigi dibedakan atas tiga keadaan sesuai dengan kedudukan yang diambil poros yang satu terhadap yang lain, yaitu:
1. Poros sejajar satu sama lain (roda gigi silindrik) 2. Poros saling memotong (roda gigi kerucut) 3. Poros saling menyilang (poros gigi sekrup) (Stolk dan Kross, 1981).
Roda gigi merupakan komponen/alat untuk menghubungkan satu poros ke poros yang yang lain dengan jumlah putaran dan arah sumbu yang berbeda, dengan jumlah putaran yang sama diperbesar atau diperkecil (Daryanto,1984).
Rantai
Rantai dipakai dalam hubungan antar roda gigi dari satu poros ke poros lain, yakni untuk mendapatkan putaran yang sama dalam jarak poros yang agak jauh, dimana diperlukan kekuatan poros. Keuntungannya adalah:
1. Mampu meneruskan daya yang besar karena kekuatannya besar 2. Tidak memerlukan tegangan awal
(Daryanto,1984).
Rantai dapat diterapkan dalam keadaan yang sangat bermacam-macam. Rantai ini sangat cocok untuk jarak sumbu besar antara poros roda dan kalau poros roda tidak boleh berputar satu sama lain. Rantai tidak dapat slip, karena itu rantai tidak memerlukan tegangan awal, sehingga poros dan blok bantalan tidak mengalami beban ekstra (Stolk dan Kross, 1981).
Pulley
Pulley merupakan komponen mesin yang paling banyak dipakai untuk mesin industri, mesin perkakas, maupun dalam bidang otomotif. Ada beberapa tipe pulley yaitu:
1. Pulley tipe V
2. Pulley timming
3. Pulley variable (pulley V bisa di setting besar kecil).
4. Pulley round (alur U).
5. Loss Pulley biasa sebagai adjustment).
Sudut alur dalam satu jenis pulley biasanya berbeda-beda. Semakin kecil
pulley maka semakin kecil/pendek area contact line, untuk itu agar daya cengkeram
belt lebih kuat/tidak selip maka sudut alur diperkecil
(Anonimous, 2009).
Pulley sabuk dibuat dari besi cor atau dari baja. Pulley kayu tidak banyak lagi
Untuk menghitung kecepatan atau ukuran roda transmisi, putaran transmisi penggerak dilakukan diameternya adalah sama dengan putaran roda transmisi yang digerakkan dikalikan dengan diameternya.
SD( penggerak) = SD(yangdigerakkan) ...(1)
Dimana S adalah kecepatan putar pulley (rpm) dan D adalah diameter pulley (mm) (Smith and Wilkes, 1990).
V-Belt
Sabuk/belt berfungsi untuk memindahkan putaran dari satu poros ke poros lainnya, baik putaran tersebut pada kecepatan putaran yang sama maupun putarannya dinaikkan atau diperlambat, searah dan kebalikannya. Sabuk V terbuat dari karet dan mempunyai penampang trapesium. Sabuk V dibelitkan di sekeliling alur pulley yang berbentuk V pula. Transmisi sabuk yang bekerja atas dasar gesekan belitan mempunyai keuntungan karena murah harganya, sederhana konstruksinya dan mudah untuk mendapatkan perbandingan putaran yang diinginkan. Transmisi tersebut telah digunakan dalam semua bidang industri, misalnya mesin-mesin pabrik, otomobil, mesin pertanian, alat kedokteran, mesin kantor dan alat-alat listrik. Kekurangan yang terjadi pada sabuk ini adalah terjadinya slip antara sabuk dan pulley sehingga tidak digunakan untuk putaran tetap atau perbandingan transmisi yang tetap (Daryanto, 1993).
METODOLOGI PENELITIAN
Tempat dan waktu PenelitianPenelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Keteknikan Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan, pada bulan April sampai Mei 2011.
Bahan dan Alat Penelitian
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian adalah bahan untuk pembuatan plat cetakan yaitu; Plat besi diameter 207 mm dan kuningan. Sedangkan bahan untuk pembuatan adonan pelet yaitu tepung ikan, tepung terigu, tepung beras, tepung jagung, tepung darah, vitamin mineral mix, protein, minyak ikan dan air.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian adalah alat pencetak pelet, Jangka Sorong, mesin pemotong, oksigen, LPG, mesin bubut, mata bor diameter 17 mm untuk lubang as, sedangkan 3 mm, 4 mm, dan 2 mm untuk plat cetakan, mesin gerinda, gergaji besi, kunci pass, kunci inggris, pulpen, pensil, kalkulator, mistar dan
stopwatch.
Metode Penelitian
Faktor diameter lubang alat pencetak :
D1 = 2 mm
D2 = 3 mm
D3 = 4 mm
Ada pun model rancangan yang digunakan yaitu:
Yik = µ + Ti+ εik
Yik = hasil pengamatan dari perlakuan faktor rpm pada taraf ke-i dan pada
ulangan ke-k µ = nilai tengah umum
Ti = pengaruh perlakuan ke-i
εik = pengaruh galat percobaan dari perlakuan rpm pada taraf ke-i dan ulangan
ke-k
Komponen Alat
Alat pencetak pakan ikan bentuk pelet ini, mempunyai beberapa bagian penting, yaitu:
1. Kerangka Alat
Motor listrik adalah sumber penggerak untuk menggerakkan setiap komponen alat pencetak pakan ikan bentuk pelet. Pada alat ini digunakan motor listrik jenis AC satu fasa dengan spesifikasi 1 HP dan kecepatan putaran sebesar 1480 rpm. 3. Poros
Terletak di tengah yang terbuat dari besi as dengan diameter 1 inchi.
4. Bearing / bantalan
Berfungsi sebagai penumpu poros terletak di kerangka alat.
5. Sproket
Sproket merupakan transmisi yang terdiri dari roda gigi dan rantai. Berfungsi
untuk mentransmisikan putaran dari motor listrik dengan perbandingan sesuai dengan kebutuhan. Roda gigi yang digunakan 10 gigi pada poros dan roda gigi 78 gigi digunakan pada poros ulir.
6. Pulley
Pulley pada alat ini berfungsi sebagai pereduksi putaran yang dikehendaki.
Pulley yang digunakan pada alat ini adalah pulley jenis alur V(V-belt), pulley
berdiamter 3 inchi terdapat pada motor listrik dan pulley berdiameter 15 inchi terdapat pada poros.
7. Plat Cetakan
Plat besi yang berlubang berfungsi sebagai tempat terbentuknya pakan ikan berbentuk pelet. Cetakan yang digunakan mempunyai ukuran 2 mm, 3 mm dan 4 mm semuanya menggunakan kecepatan 38 rpm diletakkan pada motor dan
8. Saluran pemasukan adonan pakan ikan berfungsi sebagai tempat adonan yang akan dibentuk oleh alat.
9. Saluran pengeluaran pelet yang sudah terbentuk, berfungsi sebagai saluran pengeluaran pelet.
Pelaksanaan Penelitian Pembuatan Plat Cetakan
Cara pembuatan plat cetakan pakan ikan bentuk pelet ini, mempunyai beberapa cara yaitu:
1. Disiapkan bahan dan alat yaitu: bahan yang digunakan adalah plat besi dan kuningan, dengan diameter 207 mm dan ketebalan plat 12 mm. Alat yang digunakan antara lainjangka sorong, mesin pemotong, oksigen, LPG, mesin bubut, dan mata bor diameter 41 mm, 17 mm, 2 mm, 3mm dan 4 mm.
2. Diukur plat besi dengan jangka sorong, diameter luar dengan ukurann 207 mm, dan ketebalan plat 12 mm, diameter lubang As dengan ukuran 3,3 mm, diameter lubang skrup pengunci dengan ukuran 17 mm dan jarak lubang pembuat pelet 21 mm.
3. Dipotong untuk diameter ukuran lubang plat cetakan 2 mm, 3 mm dan 4 mm diameter luar dengan ukurann 207 mm, diameter lubang As dengan ukuran 3,3 mm, diameter lubang skrup pengunci dengan ukuran 17 mm, jarak lubang pembuat pelet 21 mm.
5. Dibuat lubang as baru dengan bahan kuningan menggunakan mesin bubut, dengan diameter 3,3 mm dangan ketebalan plat 12 mm untuk plat cetakan 2 mm, 3 mm dan 4 mm semuaya sama.
6. Dibuat lubang skrup dengan mesin bubut, diameter 17 mm sebanyak 4 titik dengan ketebalan plat 12 mm . untuk plat cetakan 2 mm, 3 mm dan 4 mm semuanya sama.
7. Dibuat lubang plat cetakan dengan mengunakan mesin bor untuk ukuran 2 mm, 3 mm dan 4 mm dengan jumlah lubang yang berbeda-beda, untuk diameter lubang 2 mm mengunakan mata bor ukuran 2 mm, untuk 3 mm mengunakan mata bor 3 mm begitu juga dengan diameter 4 mm menggunakan mata bor 4 mm. Dan jumlah lubang plat cetakan masing-masing berbeda, jumlah lubang untuk 2 mm 348 buah, untuk 3 mm 240 buah sedangkan untuk 4 mm jumlahnya sebanyak 168 buah seperti gambar yang dilampirkan.
8. Setelah dibubut dan dibor kemudian seluruh permukaan plat cetakan dihaluskan.
9. Plat cetakan siap digunakan.
Persiapan Alat
1. Dibersihkan alat dari kotoran yang menempel.
4. Diberi minyak gemuk pada bantalan, rantai, dan gear untuk memperlancar kinerja mesin.
5. Dipersiapkan cetakan 2 mm dengan mm jumlah lubang plat cetakan 348, cetakan 3 mm dengan mm jumlah lubang plat cetakan 240, dan Cetakan 4 mm dengan mm jumlah lubang plat cetakan 168.
6. Dinyalakan alat, hal ini dilakukan untuk mempersiapkan alat dalam keadaan dapat dioperasikan dengan baik.
Persiapan Bahan
1. Disiapkan tepung ikan, tepung terigu, tepung beras, tepung jagung, tepung darah, vitamin mineral mix, minyak ikan dan air.
2. Ditimbang semua bahan dengan perbandingan tepung ikan : tepung terigu : tepung beras : tepung jagung : tepung darah : vitamin mineral mix : Protein : minyak ikan sebesar 57% : 10% : 13% : 19% : 5% : 2% : 3%.38%. Ditambah air 30% dari berat bahan.
3. Dimasukkan semua bahan ke dalam wadah.
4. Diaduk sampai bahan tersebut tercampur merata membentuk suatu adonan yang liat.
5. Adonan siap untuk dicetak.
Prosedur Penelitian
Adapun prosedur pengujian alat adalah:
2. Dinyalakan alat pencetak pakan ikan bentuk pelet.
3. Dimasukkan adonan yang akan dibentuk ke dalam saluran pemasukan. 4. Dicatat waktu yang dibutuhkan untuk mencetak pakan ikan bentuk pelet.
5. Dihitung kapasitas cetakan yang dihasilkan, dihitung yang kapasitas olah,kapasitas hasil, dan kerusakan hasil
6. Perlakuan tersebut diulangi sebanyak 3 kali ulangan Parameter Yang Diamati
1. Kapasitas Olah
Pengukuran kapasitas olah dilakukan dengan membagi berat bahan awal terhadap waktu yang dibutuhkan untuk mencetak pelet.
Kapasitas olah =
2. Kapasitas Hasil
Pengukuran kapasitas hasil dilakukan dengan membagi berat pelet yang tercetak terhadap waktu yang dibutuhkan untuk membuat pakan ikan bentuk pelet.
Kapasitas hasil =
3. Kerusakan Hasil (%)
Pengukuran persentase kerusakan hasil dapat ditentukan dengan membagi berat pelet yang rusak (tercetak tidak sempurna, tinggal di alat) dengan berat bahan awal (sebelum dicetak) dikali dengan 100%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Secara umum, perlakuan diameter lubang memberikan pengaruh terhadap kapasitas olah, kapasitas hasil, serta persentase kerusakan bahan. Hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4. Pengaruh diameter terhadap parameter yang diamati
Perlakuan Kapasitas Olah (kg/jam)
Dari tabel 4 di atas dapat dilihat bahwa kapasitas olah tertinggi terdapat pada perlakuan D3 ( 4 mm) yaitu sebesar 44,60 kg/ jam sedangkan yang terendah terdapat
pada perlakuan D1 (2 mm) yaitu sebesar 29.54 kg/jam. Sementara kapasitas hasil
tertinggi terdapat pada perlakuan D3 yaitu sebesar 65,74 kg/jam dan terendah pada
perlakuan D1 yaitusebesar 27,53 kg/ jam. Untuk kerusakan hasil tertinggi terdapat
pada perlakuan D1 yaitu sebesar 58,20 kg/jam dan terendah pada perlakuan D3 yaitu
sebesar 42,04 kg/jam.
Kapasitas Olah
Tabel 5. Pengaruh diameter terhadap kapasitas olah (kg/jam)
Keterangan: notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1%.
Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa perlakuan diameter kapasitas olah memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap perlakuan yang lainnya. Semakin besar diameter pada alat pencetak pelet maka semakin tinggi kapasitas olah. Kapasitas olah tertinggi diperoleh pada perlakuan D3 (mm) yaitu sebesar 44,61
kg/jam dan terendah pada perlakuan D1 yaitu 29,54 kg/jam. Hubungan diameter
lubang terhadap kapasitas olah dapat dilihat pada gambar gerafik 1.
Gerafik 1. Hubungan diameter dengan kapasitas olah (kg/jam).
Dari gerafik 1 menunjukkan bahwa semakin beasar diamater lubang pencetak pelet maka semakin besar kapasitas olah demikian juga sebaliknya. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan diameter lubang dan pengaruh dorongan dimana semakin kecil ukuran diameter lubang maka semakin kecil pula dorongan sehingga waktu yang dibutuhkan alat untuk mengolah bahan akan lebih lama. Demikian juga sebaliknya, semakin besar diameter lubang maka semakin besar pula dorongan sehingga waktu yang dibutuhkan alat untuk mengolah bahan akan lebih cepat dan kapasitas olahnya lebih besar
Kapasitas Hasil
Dari hasil sidik ragam lampiran 3 dapat dilihat bahwa perlakuan diameter memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kapasitas hasil. Hasil pengujian dengan menggunakan analisa Least Significant Range (LSR) memberikan pengaruh terhadap kapasitas hasil untuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Pengaruh diameter terhadap kapasitas hasil (kg/jam)
LSR
Perlakuan Rataan Notas
Jarak 0,05 0,01 0.05 0.01
- D1 27,54 c C
2 2,6502 4,0135 D2 41,21 b B
3 2,7421 4,2203 D3 67,74 a A
Keterangan: notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1%.
Kapasita hasil tertinggi diperoleh pada perlakuan D3 (4 mm) yaitu sebesar 67,74
kg/jam dan terendah pada perlakuan D1 (2 mm) yaitu sebesar 27,54 kg/jam.
Hubungan diameter lubang terhadap kapasitas hasil dapat dilihat pada gerafik 2.
Gerafik 2. Hubungan diameter dengan kapasitas hasil (kg/jam).
Dari gerafik 2 menunjukkan bahwa semakin besar diameter lubang cetakan pelet maka semakin besar kapasitas hasil demikian juga sebaliknya. Hal ini disebabkan diameter lubang yang besar akan menghasilkan dorongan yang besar sehingga bahan yang diolah akan lebih cepat terdorong ke plat cetakan. Sedangkan diameter ukuran yang kecil akan menghasilkan dorongan yang rendah sehingga bahan yang diolah akan lebih lama terdorong ke plat cetakan.
Kerusakan Hasil Cetakan
Dari hasil sidik ragam lampiran 4 dapat dilihat bahwa perlakuan diameter memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kerusakan hasil. Hasil pengujian dengan menggunakan analisa Least Significant Range (LSR) memberikan pengaruh terhadap kerusakan hasil untuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel 7. Pengaruh diameter terhadap kerusakan hasil (%)
Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi
0,05 0,01 0.05 0.01
- D3 42,05 c C
2 2,8879 4,3736 D2 50,00 b B
3 2,9881 4,5990 D1 58,20 a A
Keterangan: notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1%.
Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa perlakuan diameter terhadap kerusakan hasil memberikan pengaruh berbeda sangat nayata terhadap perlakuan yang lainya. Semakin kecil diameter pada alat pencetak pelet maka semakin tinggi kerusakan hasil . kerusakan hasil tertinggi diperoleh pada perlakuan D1 (2 mm) yaitu sebesar 58,20%
dan terendah pada perlakuan D3 (4 mm) yaitu sebesar 42,05%. Hubungan diameter
Gerafik 3. Hubungan diameter dengan kerusakan hasil (%).
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan1. Perbedaan diameter memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kapasitas olah, kapasitas hasil, dan persentase kerusakan hasil.
2. Kapasitas olah tertinggi terdapat pada perlakuan D3 yaitu sebesar 44,60 kg/jam
sedangkan kapasitas olah terendah terdapat pada perlakuan D1 yaitu sebesar 29,54
kg/jam.
3. Kapasitas hasil tertinggi terdapat pada perlakuan D3 yaitu sebesar 65,74 kg/jam
sedangkan kapasitas hasil terendah terdapat pada perlakuan D1 yaitu sebesar 27,53
kg/jam.
4. Kerusakan hasil tertinggi terdapat pada perlakuan D1 yaitu sebesar 58,20 %
sedangkan kerusakan hasil terendah terdapat pada perlakuan D3 yaitu sebesar
42,04 %.
5. Semakin besar diameter lubang maka waktu yang dibutuhkan untuk proses pencetakan akan semakin kecil.
6. Dari hasil penelitian di dapatkan diameter lubang yang optimal adalah diameter D3 (4 mm) karena Kapasitas olah (kg/jam) yang dihasilkan paling sedikit,
Kapasitas hasil (kg/jam) yang paling besar, dan Kerusakan Hasil (%) yang paling sedikit.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Achmad., Z., 1999. Elemen Mesin I. Rafika Aditama, Bandung.
Anonimous., 2009. Gambar Teknik
pulley-type-v.html.
Anonimous., 2011. Pakan Ikan.
[23 Februari., 2011]
Agung., 2007. Panduan Lengkap Budidaya Gurami. AgroMedia Pustaka, Jakarta. Daryanto., 1984. Dasar –Dasar Teknik Mesin. Bina Aksara, Jakarta.
Daryanto., 1993. Dasar –Dasar Teknik Mesin. Rineka Cipta, Jakarta.
Evy, R., 1997. Usaha Perikanan di Indonesia. Mutiara Sumber Widya, Jakarta.
Gunawan, D., 2011. Uji Rpm Pada Alat Pembuat Pakan Ikan Lele Bentuk Pelet. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Gultom, M., P., 2011. Uji Jarak Ulir Poros Pada Alat Pembuat Pakan Ikan Lele Bentuk Pelet. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Gusrina, 2000. Membuat Pakan Ikan. Balai Pustaka, Jakarta.
Hernowo, A. dan S. R. Suyanto., 2008. Pembenihan dan Pembesaran Lele Dipekarangan, Sawah, dan Longyam. Penebar Swadaya, Jakarta.
Mudjiman, A., 2009. Makanan Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta. Mudjiman, A., 1996. Makanan Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta. Mudjiman, A., 1998. Makanan Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta.
Pratomo, M., 1983. Alat dan Mesin Pertanian. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
Prihartono, R. E., R. Juansyah., A. Usni., 2000. Mengatasi Permasalahan Budi Daya Lele Dumbo. Penebar Swadaya, Jakarta.
Rochdianto. A., 1997. Budidaya Ikan Dijaring Terapung. Penebar Swadaya, Jakarta.
Satriyo, B., A. Nurhasanah, dan M. Hidayat., 2008. Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Situngadung, Legok, Tangerang. http//www.
cabi.net.id. Akses:9 Mei 2010.
Sendjaja, J.T. dan M.H. Riski., 2002. Usaha Pembenihan Gurami. Penebar Swadaya, Jakarta.
Smith, H. P. and L. H. Wilkes., 1990. Mesin dan Peralatan Usaha Tani. Terjemahan Tri Purwadi. UGM Press, Yogyakarta.
Soenarta, N. dan S. Furuhama., 2002. Motor Serbaguna. Pradnya Paramitha, Jakarta.
Stolk, J. Dan Kross., 1981. Elemen Mesin : Elemen Konstruksi Dari Bangunan Mesin. Terjemahan Hendersin dan A. Rahman. Erlangga, Jakarta.
Stolk, J. Dan Kross., 1993. Elemen Mesin : Elemen Konstruksi Dari Bangunan Mesin. Terjemahan Hendersin dan A. Rahman. Erlangga, Jakarta.
Sularso dan K. Suga., 2004. Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin. Pradnya Paramitha, Jakarta.
Sumanto, M. A., 1993. Motor Listrik Arus Bolak-Balik, Motor Induksi, Motor Sinkron. Andi Offset, Jakarta.
Sudjatmiko dkk., 2000. Rancang Bangun Alat Pakan dan Formula Pakan Lele
Dumbo Dalam Upaya Peningkatan Pendapatan Petani Lele Dombu.
Jurnal Penelitian 11:97.
Syahputra, A., 2009. Rancang Bangun Alat Pembuat Pakan Ikan Mas dan Ikan Lele Bentuk Pelet. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Tim Lentera., 2002. Pembesaran Ikan Mas di Kolam Air Deras. Cet. I. AgroMedia Pustaka, Jakarta.
Wikipedia Indonesia., 2010. Pakan.
[14 Mei 2010]
Lampiran 1. Flowchart Penelitian
Selesai Analisis Pengukuran Parameter:
1. Kapasitas Olah 2. Kapasitas Hasil 3. Kerusakan Hasil
Catat Waktu Pencetakan
Memasukkan Bahan Ke Dalam Saluran
Pemasukan Pemasangan Alat
Lampiran 2. Data Pengamatan Kapasitas Olah (kg/jam)
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
D1 61,54 54,61 58,46 174,61 58,20
D2 51,53 47,69 50,77 149,99 50,00
D3 39,23 44,61 42,30 126,14 42,05
Total 152,30 146,91 151,53 450,74
Rataan 50,77 48,97 50,51 50,08
Daftar Analisa Sidik Ragam Kapasitas Olah Sumber
ragam DB JK KT F Hitung F 0,05 F 0,01
Perlakuan 2 84,43 42,22 42462,420 ** 5,14 10,92
Galat 6 0,01 0,001
Total 8 84,44
Ket : KK = 13,22 % tn = tidak nyata * = nyata
Lampiran 3. Data Pengamatan Kapasitas Hasil (kg/jam)
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
D1 27,78 31,38 23,45 82,61 27,54
D2 39,13 40,96 43,53 123,62 41,21
D3 63,20 66,50 73,53 203,23 67,74
Total 130,11 138,84 140,51 409,46
Rataan 43,37 46,28 46,84 45,50
Daftar Analisa Sidik Ragam Kapasitas Hasil Sumber
ragam DB JK KT F Hitung F 0.05 F 0.01
Perlakuan 2 865,74 432,87 246,110 ** 5,14 10,92
Galat 6 10,55 1,76
Total 8 876,297
Ket : KK = 8,84 % tn = tidak nyata * = nyata
Lampiran 4. Data Pengamatan Kerusakan Hasil (%)
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
D1 61,54 54,61 58,46 174,61 58,20
D2 51,53 47,69 50,77 149,99 50,00
D3 39,23 44,61 42,30 126,14 42,05
Total 152,30 146,91 151,53 450,74
Rataan 50,77 48,97 50,51 50,08
Daftar Analisa Sidik Ragam Kerusakan Hasil Sumber
ragam DB JK KT
F
Hitung F 0.05 F 0.01 Perlakuan 2 886,090 443,04 211,64 ** 5,14 10,92
Galat 6 12,560 2,09
Total 8 898,650
Ket : KK = 5,59 % tn = tidak nyata * = nyata
Lampiran 5. Data Sebelum di Konversi Diameter
Ulangan Kapasitas Olah (gr/det)
Lampiran 6. Data Setelah di Konversi Diameter
Lampiran 7. Hasil Cetakan
1. Hasil cetakan pelet diameter 2 mm
3. Hasil cetakan pelet diameter 4 mm
Lampiran 8. Cetakan
Diamater 2 mm, 3 mm dan 4 mm
Gambar Diameter Plat Cetakan 2mm
17 mm
CETAKAN UKURAN DIAMETER : 2 mm
ALAT PENCETAK PAKAN IKAN BENTUK PELET SKALA : 1 : 10
SATUAN : mm
TGL : 1-02-2011
DIGAMBAR : LISNAWATI SAGALA
PRODI : KETEKNIKAN PERTANIAN
DILIHAT : Ir. SAIPUL BAHRI DAULAY,MSi
CETAKAN UKURAN DIAMETER : 4 mm
ALAT PENCETAK PAKAN IKAN BENTUK PELET
SKALA : 1 : 10 SATUAN : mm TGL : 1-02-2011
DIGAMBAR : LISNAWATI SAGALA PRODI : KETEKNIKAN PERTANIAN DILIHAT : Ir. SAIPUL BAHRI DAULAY,MSi