• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Independensi Auditor Eksternal Pengaruhnya Terhadap Kualitas Audit (Survei pada lima kantor akuntan publik di Wilayah Bandung)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Independensi Auditor Eksternal Pengaruhnya Terhadap Kualitas Audit (Survei pada lima kantor akuntan publik di Wilayah Bandung)"

Copied!
145
0
0

Teks penuh

(1)

The Analysis Of External Auditor Independency’s

Influence Toward Quality Of Audit

( Survey On The Five Public Accounting Firm In The Region Bandung )

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Ujian Sidang Guna memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Program Studi Akuntansi

Oleh:

GEMI QUANTADORA

21105078

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA

BANDUNG

(2)

iv

Bandung)" under the guidance of Prof. Dr. Hj. Umi Narimawati, Dra. SE, M. Si

In discharging its duties, an auditor has a right to get access to information needed, to the senior audit should provide greater opportunities to interact with junior audit staff or leaders who will in the audits. There are several ways that can be taken by the auditor in obtaining information from audits, among others, observing the work process, requesting explanations, requesting demonstrations, review documents, cross checking, searching for evidence and conducted surveys. The purpose of this study is to determine the independence of external auditors, to determine audit quality and independence of external auditors to analyze the impacts on audit quality.

The method used is descriptive and verification with qualitative and quantitative approaches. The unit of analysis in this study is the external auditor independence and audit quality in the five public accounting firm in the area of Bandung. Which use the same sample with a population of 30 external auditors. To determine the effect of external auditor independence on audit quality will be tested statistically using correlation analysis, regression analysis, coefficient determination and to test the hypothesis used was t test using SPSS 12.0 for tool windows.

The results qualitatively show that the independence of external auditors has been quite good as well as quality audit, and research results in quantitative analysis shows the influence of external auditor independence on audit quality by 55.4% and the remaining 44.6% described other variables outside influence the independence of external auditors on audit quality as a partner, audit manager, audit senior and junior audit.

(3)

iii

Bandung)” dibawah bimbingan Prof. Dr. Hj. Umi Narimawati, Dra. SE, M.Si Dalam menjalankan fungsinya, seorang auditor mempunyai hak untuk mendapatkan akses informasi yang dibutuhkan, untuk itu audit senior harus memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada audit junior dalam berinteraksi dengan staf atau pimpinan yang akan di audit tersebut. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh auditor dalam mendapatkan informasi dari audit, antara lain, mengamati proses kerja, meminta penjelasan, meminta peragaan, menelaah dokumen, memeriksa silang, mencari bukti-bukti dan melakukan survey. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui independensi auditor eksternal, untuk mengetahui kualitas audit dan untuk menganalisis independensi auditor eksternal Pengaruhnya terhadap kualitas audit.

Metode yang digunakan adalah deskriptif dan verifikatif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Unit analisis dalam penelitian ini adalah independensi auditor eksternal dan kualitas audit di lima Kantor Akuntan Publik di Wilayah Bandung. Sampel yang di gunakan sama dengan populasi sebesar 30 auditor eksternal. Untuk mengetahui independensi auditor eksternal pengaruhnya terhadap kualitas audit maka dilakukan pengujian statistik menggunakan analisis korelasi, analisis regresi, koefisien determinasi dan untuk menguji hipotesis maka yang digunakan adalah uji t dengan menggunakan alat bantu SPPS 12.0 for windows.

Hasil penelitian secara kualitatif menunjukan bahwa independensi auditor eksternal sudah cukup baik begitu pula dengan kualitas audit, dan hasil penelitian secara kuantitatif menunjukan besarnya analisis independensi auditor eksternal pengaruhnya terhadap kualitas audit sebesar 55,4% dan sisanya sebesar 44,6% dijelaskan variabel lain di luar independensi auditor eksternal pengaruhnya terhadap kualitas audit seperti partner, manajer audit, audit senior dan audit junior.

(4)

The Analysis Of External Auditor Independency Influence’s To Quality Of Audit (Survey On The Five Public Accounting Firms In The Region Bandung)

Disusun Oleh:

Gemi Quantadora 2.11.05.078

(e-mail: [email protected])

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA

ABSTRACT

In discharging its duties, an auditor has a right to get access to information needed, to the senior audit should provide greater opportunities to interact with junior audit staff or leaders who will in the audits. There are several ways that can be taken by the auditor in obtaining information from audits, among others, observing the work process, requesting explanations, requesting demonstrations, review documents, cross checking, searching for evidence and conducted surveys. The purpose of this study is to determine the independence of external auditors, to determine audit quality and independence of external auditors to analyze the impacts on audit quality.

The method used is descriptive and verification with qualitative and quantitative approaches. The unit of analysis in this study is the external auditor independence and audit quality in the five public accounting firm in the area of Bandung. Which use the same sample with a population of 30 external auditors. To determine the effect of external auditor independence on audit quality will be tested statistically using correlation analysis, regression analysis, coefficient determination and to test the hypothesis used was t test using SPSS 12.0 for tool windows.

The results qualitatively show that the independence of external auditors has been quite good as well as quality audit, and research results in quantitative analysis shows the influence of external auditor independence on audit quality by 55.4% and the remaining 44.6% described other variables outside influence the independence of external auditors on audit quality as a partner, audit manager, audit senior and junior audit.

(5)

diberikannya berkualitas dan dapat dipercaya, karena profesi ini memiliki peran penting dalam

memberikan informasi yang dapat dipercaya, diandalkan dan memenuhi kualitas akuntan publik

dalam dunia usaha yang semakin kompetitif. Dalam menjalankan tugas pemeriksaan, para

akuntan publik akan selalu berhadapan dengan individu-individu maupun kelompok dalam

organisasi atau instansi yang diperiksa serta dihadapkan dengan berbagai masalah yang cukup

rumit baik yang bersifat teknis, mungkin lebih mudah dipecahkan bila mendasarkan diri pada

program-program dan prosedur-prosedur pemeriksaan yang ditetapkan sebelumnya. Namun

untuk permasalahan yang bersifat non teknis, mungkin akan sulit dipecahkan karena

menyangkut masalah-masalah yang berkaitan dengan sikap, mental, emosi, faktor psikologis,

moral, karakter dan lain-lain. Ketentuan untuk mengatur sikap dan moral tersebut adalah dengan

menerapkan etika profesi, sehingga apabila etika ini dilaksanakan dengan baik maka diharapkan

pelaksanaan audit dapat berjalan dengan baik.

Akuntan publik merupakan suatu profesi yang berlandaskan kepercayaan masyarakat dan

dibayar oleh klien, akan tetapi dalam pelaksanaannya harus professional. Adapun yang

dimaksud dengan professional adalah bertanggung jawab untuk berprilaku yang lebih baik dari

sekedar memenuhi tanggung jawab yang dibebankan kepadanya serta memenuhi

undang-undang dan peraturan. Sikap profesi akuntan tercermin dalam kompetensinya, independensinya

dan integritas moralnya. Independen auditing telah menjadi suatu masalah kepentingan umum

dalam aktivitas keuangan di zaman modern, dimana tiap individu atau golongan atau pihak

tertentu selain pemilik perusahaan harus merasa puas dengan ketelitian atau (accuracy),

kejelasan dan ketidakraguan daripada laporan keuangan dan laporan akuntan sebagai hasil

pemeriksaan.

Golongan yang berkepentingan diluar pemilik perusahaan akan mempercayai opini yang

diberikan oleh orang yang dianggap kompeten ( mampu dan berwenang), meimiliki indepedensi

dan integritas moral yang tinggi. Sekarang bila opini akuntan dianggap tidak bisa dipercaya,

sudah hampir dapat diduga bahwa akan ada pihak tertentu yang merasa dirugikan dan bahkan

(6)

memiliki posisi yang strategis sebagai pihak ketiga dalam lingkungan perusahaan klien yakni

ketika akuntan publik mengemban tugas dan tanggung jawab dari manajemen (agen) untuk

mengaudit laporan keuangan perusahaan yang dikelolanya. Dalam hal ini manajemen ingin

supaya kinerjanya terlihat selalu dimata pihak eksternal perusahaan terutama pemilik prinsipal.

Akan tetapi disisi lain, pemilik prinsipal menginginkan supaya auditor melaporkan dengan

sejujurnya keadaan yang ada pada perusahaan yang telah di biayainya.

Dalam konteks skandal kecurangan, memunculkan pertanyaan apakah trik-trik rekayasa

tersebut mampu terdeteksi oleh akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan tersebut atau

sebenarnya telah terdeteksi namun auditor justru ikut mengamankan praktik kejahatan tersebut.

Jika yang terjadi adalah auditor tidak mampu mendeteksi trik rekayasa laporan keuangan, maka

yang menjadi inti permasalahan adalah KAP belum menerapkan prinsip etika profesi akuntan

yaitu independensi dan kehati-hatian professional, karena ada hal yang tertinggal dalam

pemeriksaan dan menyebabkan hasil audit yang kurang berkualitas, oleh karena itu

mengakibatkan penyajian informasi yang salah kepada para pengguna informasi keuangan PT

Kimia Farma. Kemampuan untuk menemukan kecurangan dari laporan keuangan ditentukan

oleh Independensi auditor. Seperti pernyataan diatas pihak KAP dikenakan sanksi yaitu denda

100 juta rupiah, denda ini diperlukan dan ditujukan agar tidak ada KAP yang melakukan

(material misstatement) atau salah saji material yang bisa membuat para pengguna informasi

keuangan mengalami kerugian atas informasi yang salah secara material jadi kepercayaan

masyarakat akan menurun jika terdapat bukti bahwa independensi sikap auditor ternyata

berkurang, bahkan kepercayaan masyarakat dapat juga menurun disebabkan oleh keadaan yang

oleh mereka yang berpikiran sehat (reasonable) dianggap dapat mempengaruhi sikap

independen dalam senyatanya tersebut. Untuk dapat diakui pihak lain sebagai akuntan yang

independen harus bebas dari setiap kewajiban terhadap kliennya dan tidak mempunyai suatu

kepentingan dengan kliennya, apakah itu manajemen perusahaan atau pemilik perusahaan. Dan

diharapkan kejadian seperti ini tidak terjadi lagi dan diharapkan para auditor independen dapat

(7)

Publik (KAP) yaitu Kantor Akuntan Publik xxx wilayah Bandung. Salah satu kesalahan yang

terjadi yaitu kesalahan menjurnal dan perbedaan persepsi antara auditor dan klien suatu

perusahaan. Auditor senior yang bertugas untuk melaksanakan audit atas laporan keuangan

terkadang masih ada yang melakukan kesalahan, penyebab terjadinya kesalahan tersebut yaitu

kurangnya pengalaman. Pengalaman sangat penting bagi auditor dalam melakukan audit

walaupun auditor tersebut memiliki pendidikan formal yang tinggi. Semakin lama hubungan

auditor dengan klien juga dapat menyebabkan auditor tidak mampu menemukan kesalahan yang

material dalam mengaudit sehinnga auditor salah dalam memberikan opininya Dengan adanya

kesalahan tersebut maka audit yang dihasilkan tidak berkualitas karena kurangnya keahlian

auditor yang merupakan bagian dari standar umum. (Sumber: Auditor di Kantor Akuntan Publik

xxx).

Akuntan publik dalam melaksanakan pemeriksaan harus berdasarkan SPAP yang

ditentukan oleh IAI, yang berupa pernyataan standar auditing (PSA) dan pernyataan standar

atestasi (PSAT). Standar tersebut mengharuskan auditor merencanakan dan melaksanakan audit

guna memperoleh keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan bebas dari kesalahan.

Dalam laporan audit bentuk baku, tanggung jawab auditor terletak pada pernyataan pendapat

atas laporan keuangan berdasarkan audit yang telah dilaksanakan auditor. Profesi akuntan

publik merupakan profesi kepercayaan masyarakat. Dari profesi akuntan publik, masyarakat

mengharapkan penilaian yang bebas dan tidak memihak terhadap informasi yang disajikan oleh

manajemen perusahaan dalam laporan keuangan. Profesi akuntan publik bertanggung jawab

untuk menaikkan tingkat kendala laporan keuangan perusahaan, sehingga masyarakat

memperoleh informasi keuangan yang andal sebagai dasar pengambilan keputusan guna

menunjang profesionalisme dan independensinya sebagai akuntan publik, maka auditor dalam

melaksanakan tugas auditnya harus berpedoman pada standar audit yang ditetapkan oleh Ikatan

Akuntan Indonesia (IAI), yakni standar umum, standar pekerjaan lapangan dan standar

pelaporan dimana standar umum merupakan cerminan kualitas pribadi yang harus dimiliki oleh

seorang auditor yang mengharuskan auditor untuk memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang

(8)

2. KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS

Independensi auditor merupakan suatu hal penting yang sudah sejak lama menjadi

pembicaraan baik di kalangan praktisi, pembuat kebijakan ataupun para akademisi. Hal ini

dikarenakan pendapat yang diberikan oleh auditor berkaitan dengan kepentingan banyak pihak.

Namun demikian pendapat yang diberikan oleh auditor terhadap laporan keuangan suatu

perusahaan tidak akan mempunyai nilai apabila auditor tersebut dianggap tidak memiliki

independensi oleh para pengguna laporan keuangan. Berkaitan dengan independensi, AICPA

memberikan prinsip-prinsip sebaga panduan:

1. Auditor dan perusahaan tidak boleh tergantung dalam hal keuangan terhadap klien.

2. Auditor dan perusahaan seharusnya tidak terlibat dalam konflik kepentingan yang akar

mengganggu objektifitas berkenaan dengan cara-cara yang mempengaruhi laporan keuangan.

3. Auditor dan perusahaan seharusnya tidak memiliki hubungan dengan klien yang akan

mengganggu objektifitas auditor.

Independensi merupakan standar umum nomor dua dari tiga standar auditing yang

ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang menyatakan bahwa dalam semua hal yang

berhubungan dengan penugasan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh

auditor. Keberadaan akuntan publik sebagai suatu profesi tidak dapat dipisahkan dari

karakteristik independensinya. Akuntan publik selalu dianggap orang yang harus independen.

Tanpa adanya independensi, akuntan publik tidak berarti apa-apa. Masyarakat tidak percaya akan

hasil auditan akuntan publik sehingga masyarakat tidak akan meminta jasa pengauditan dari

akuntan publik. Masyarakat akan meminta pihak lain yang dianggap independen untuk

menggantikan fungsi akuntan publik. Atau dengan kata lain, keberadaan akuntan publik

ditentukan oleh independensinya

(9)

Independence infact (independensi senyatanya) Auditor benar-benar tidak mempunyai kepentingan ekonomis dalam perusahaan yang dilihat dari keadaan yang sebenarnya, misalnya apakah ia sebagai direksi, komisaris, persero, atau mempunyai hubungan keluarga dengan pihak itu semua. 2. independence in appearance (independensi dalam penampilan) Kebebasan yang dituntut bukan saja dari fakta yang ada, tetapi juga harus bebas dari kepentingan yang kelihatannya cenderung dimilikanya dalam perusahaan tersebut 3. Independence in competence (independensi dari keahlian atau kompetensinya) Independensi dari sudut keahlian berhubungan erat dengan kompetensi atau kemampuan auditor dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugasnya.

kualitas audit di atas maka dapat disimpulkan bahwa kualitas audit merupakan segala

kemungkinan (probability) dimana auditor pada saat mengaudit laporan keuangan klien dapat

menemukan pelanggaran yang terjadi dalam system akuntansi klien dan melaporkannya dalam

laporan keuangan auditan, dimana dalam melaksanakan tugasnya tersebut auditor berpedoman

pada standar auditing dan kode etik akuntan publik yang relevan 1. Kualitas Jasa, 2. Hubungan

antara Auditor dengan Klien dn 3. Objektivitas.

Berdasarkan uraian diatas, penulis menuangkan kerangka pemikirannya dalam bentuk

(10)

Berdasarkan uraian pada kerangka pemikiran diatas maka hipotesis penelitian ini adalah

bahwa Independensi Auditor eksternal Pengaruhnya terhadap Kualitas Audit. Independen Auditor Eksternal

Pengaruhnya Terhadap Kualitas Audit

Independensi Auditor Eksternal

Kualitas Audit

1. Independence infact

2. Independence in Apperance

3. Independence in competence

1. Kualitas Jasa audit

2. Hubungan dengan Klien

(11)

permasalahan yang terjadi.

Untuk meneliti bagaimana analisis independensi auditor eksternal pengaruhnya terhadap

kualitas audit, ada dua operasionalisasi variabel dalam penelitian ini. Variabel, konsep variabel,

indikator, dan skala pengukuran yang digunakan baik untuk variabel X maupun variabel Y dalam

penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Variabel Konsep Variabel Indikator Ukuran Skala No

kuesioner

(12)

Kutip Ida

Untuk menunjang hasil penelitian, maka penulis melakukan pengumpulan data yang

diperlukan dengan cara sebagai berikut:

1. Observasi, yaitu peneliti mendatangi dan mengamati obyek yang akan diteliti yaitu Kantor

Akuntan Publik. sehingga peneliti memperoleh beberapa informasi dan data yang

dibutuhkan.

2. Kuesioner, yaitu peneliti memberikan angket yang berisi beberapa pertanyaan yang tertkait

dengan Independensi Auditor Eksternal pengaruhnya terhadap Kualitas Audit kepada

responden yaitu terdiri dari partner, manajer audit, audit senior dan audit junior sehingga peneliti dapat melakukan analisis dari jawaban yang telah diberikan.

3. Wawancara, yaitu peneliti melakukan tanya jawab dengan pihak-pihak yang terkait yaitu

(13)

Populasi yang diambil oleh peneliti kali ini adalah pada Lima Kantor Akuntan Publik di

wilayah Bandung., karena jumlah populasinya sedikit (terbatas) sehinnga peneliti tidak

menggunakan sampel melainkan menggunakan teknik populasi atau sensus. Berikut adalah lima

Kantor Akuntan Publik di wilayah Bandung:

No Nama Kantor Akuntan Publik Jumlah

1 KAP. ROEBIANDINI & REKAN 6 auditor

2 KAP. DR. LA MIDJAN & REKAN 6 auditor

3 KAP. DRS. GUNAWAN SUDRADJAT 6 auditor

4 KAP. AF. RACHMAN & SOETJIPTO 6 auditor

5 KAP. SANUSI, SUPARDI & SOEGIHARTO 6 auditor

JUMLAH 30 auditor

Metode Analisis

1. Analisis Kualitatif 2. Analisis Kuantitatif

Analisis Regresi Linier Sederhana Analisis Korelasi (Pearson) Koefisien Determinasi

Rancangan Pengujian Hipotesis

1. Menentukan Hipotesis

Ho: ρ = 0 : Independensi Auditor Eksternal tidak berpengaruh terhadap Kualitas Audit.

Ha: ρ≠ 0 : Independensi Auditor Eksternal berpengaruh terhadap Kualitas Audit

2. Penetpan Tingkat signifikan

α = 0,05 dengan df = n - 2 =30 - 2 = 28 3. Uji Hipotesis

(14)

Hasil penelitian dan pembahasan tentang Independensi Auidtor Eksternal, adalah:

No Indikator Skor

Aktual

Skor

Ideal % Kategori

1 Kebebasan dalam memberikan

pendapatnya tanpa pengaruh dari pihak lain

99 150 66,0% Cukup

2 Bebas dari tekanan untuk melaporkan hal-hal signifikan dalam laporan audit

101 150 67,3% Cukup

3 Tidak memiliki hubungan keluarga dengan direksi, komisaris perusahaan

102 150 68,0% Cukup

Independence infact 302 450 67,1% Cukup

4 Bebas dari kepentingan pribadi yang menghambat verifikasi audit

106 150 70,7% Baik

5 Auditor eksternal mendapat kepercayaan pihak lain terhadap sikap independensi

101 150 67,3% Cukup

6 Auditor ekternal mendengarkan pandangan pihak lain

105 150 70,0% Baik

Independence in Appearence 312 450 69,3% Baik

7 Pemeriksaan berdasarkan kebijakan dan prosedur

99 150 66,0% Baik

8 Pegawai dengan latar belakang

pendidikan atau telah dilatih dari berbagai disiplin ilmu

95 150 63,3% Cukup

9 Pertimbangan berbagai tenaga yang diperlakukan untuk melaksanakan audit

100 150 66,7% Cukup

Independence in Competence 294 450 65,3% Cukup

Total 908 1350 67,3% Cukup

Berdasarkan persentase total skor tanggapan responden pada tabel maka dapat disimpulkan bahwa

independensi auditor eksternal pada lima Kantor Akuntan Publik di wilayah Bandung cukup. Hal ini tidak

terlepas dari independensi auditor eksternal yang cukup dalam kenyataannya, independensi dalam

(15)

dengan usaha untuk mendapatkan klien

2 Melaksanakan pelaporan dengan bukti-bukti pelaporan klien

104 150 69,3% Baik

3 Merencanakan materialitas atas laporan keuangan berdasarkan standar auditing yang berlaku

103 150 68,7% Baik

Kualitas jasa audit 310 450 68,9% Baik

4 Auditor ekternal mementingkan kepentingan masyarakat

98 150 65,3% Cukup

5 Pelaporan tentang adanya pelanggaran kepada klien

108 150 72,0% Baik

6 Membicarakan permasalahan bersama-sama dengan klien

101 150 67,3% Cukup

Hubungan Auditor Dengan Klien 307 450 68,2% Baik

7 Auditor eksternal yang bersikap objektif 97 150 64,7% Cukup

8 Auditor bertindak secara independen walaupun adanya intimidasi

95 150 63,3% Cukup

9 Anggota menjaga objektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan

100 150 66,7% Cukup

Objektivitas 292 450 64,9% Cukup

Total 909 1350 67,3% Cukup

Berdasarkan persentase total skor tanggapan responden pada tabel maka dapat disimpulkan

bahwa kualitas audit pada lima Kantor Akuntan Publik di wilayah Bandung sudah cukup.

Artinya kualitas audit yang dihasilkan kelima Kantor Akuntan Publik di wilayah Bandung sudah

cukup. Hal ini tidak terlepas dari kualitas jasa audit yang dihasilkan baik serta hubungan auditor

(16)

Dengan menggunakan rumus : Y = a + bX

Hasil output dari pengolahan data menggunakan program SPSS versi 12.0 for Windows adalah sebagai berikut:

Hasil Analisis Regresi

Nilai konstanta (a) sebesar 4,594 menunjukkan nilai rata-rata kualitas audit pada lima

Kantor Akuntan Publik di wilayah Bandung apabila auditor eksternal tidak independen.

Kemudian nilai koefisien regressi (b) sebesar 0,783 menunjukkan peningkatan kualitas audit

pada lima Kantor Akuntan Publik di wilayah Bandung apabila independensi auditor eksternal

ditingkatkan sebesar satu satuan.

Dari hasil perhitungan tersebut dapat dilihat bahwa koefisien regresi memiliki tanda positif,

artinya semakin tinggi independensi auditor eksternal diduga akan berpengaruh terhadap kualitas

audit pada lima Kantor Akuntan Publik di wilayah Bandung. Sebaliknya, semakin rendah

independensi auditor eksternal diduga akan menurunkan kualitas audit pada lima Kantor

Akuntan Publik di wilayah Bandung.

2. Analisis Korelasi (person)

Dengan menggunakan rumus :

Coe fficientsa

(17)

Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat dilihat bahwa besar hubungan antar variabel

independensi auditor eksternal dengan kualitas audit yang dihitung dengan koefisien korelasi

adalah 0,744. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan yang erat/kuat antara independensi

auditor eksternal dengan kualitas audit pada lima Kantor Akuntan Publik di wilayah Bandung.

Arah hubungan positif menunjukkan bahwa semakin tinggi independensi auditor eksternal akan

membuat kualitas audit semakin tinggi. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah independensi

auditor eksternal akan membuat kualitas audit makin rendah.

3. Koefisien Determinasi

Dengan menggunakan rumus : KD = r2 x 100%

Hasil output dari pengolahan data menggunakan program SPSS versi 12.0 for Windows adalah sebagai berikut:

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai R-square adalah sebesar 0,554, nilai ini

dikenal dengan koefisien determinasi (KD).

KD = 0,554 x 100% = 55,4%

(18)

kontribusi atau pengaruh sebesar 55,4% terhadap kualitas audit pada lima Kantor Akuntan

Publik di wilayah Bandung. Sedangkan sisanya yaitu sebesar 44,6% dijelaskan variabel lain di

luar variabel independensi auditor eksternal, seperti partner, manager, auditor senior, audit junior

dan pihak-pihak lain.

5. KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai peranan dari independensi auditor

eksternal dalam menunjang kualitas audit pada lima Kantor Akuntan Publik di wilayah Kota

Bandung, maka pada bagian akhir dari penelitian ini, penulis menarik kesimpulan, sekaligus

memberikan saran sebagai berikut.

1. Independensi auditor eksternal pada lima Kantor Akuntan Publik di wilayah Bandung sudah

cukup. Hal ini tidak terlepas dari independensi auditor eksternal dalam kenyataannya cukup,

independensi dalam penampilan baik dan independensi dalam kompetensi cukup.

2. Kualitas audit pada lima Kantor Akuntan Publik di wilayah Bandung sudah cukup. Hal ini

tidak terlepas dari kualitas jasa audit yang dihasilkan baik serta hubungan antara auditor

dengan klien baik, dan objektivitas yang dihasilkan cukup baik.

3. Independensi auditor eksternal berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit Pada lima

Kantor Akuntan Publik di wilayah Bandung. Independensi auditor eksternal mampu

memberikan kontribusi atau pengaruh sebesar 55,4% dalam upaya meningkatkan kualitas

audit, sedangkan sisanya yaitu sebesar 44,6% dijelaskan variabel lain di luar variabel

independensi auditor eksternal, seperti kompetensi,objektivitas,integritas dan pihak-pihak

lain pada lima kantor akuntan publik di wilayah Bandung, dengan demikian semakin baik

independensi auditor eksternal akan membuat kualitas audit semakin baik atau sebaliknya

semakin rendah independensi auditor eksternal akan membuat kualitas audit makin

(19)

dapat terus menjalankan etika profesi bukan hanya sekedar tuntutan profesi tetapi juga untuk

menjaga dirinya dari kehilangan persepsi independensi dari masyarakat.

2. Kualitas Audit yang sudah cukup diharapkan auditor dapat terus menjalankan tugasnya

sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik yang berlaku umum di Indonesia

3. Agar dapat dipertahankan maka dalam menjalankan tugasnya, seorang auditor tidak boleh

lepas dari Standar Profesional Akuntan Publik yang merupakan pedoman pelaksanaan audit

karena independensi yang cukup akan menghasilkan kualitas yang cukup juga sehingga

diharapkan dapat mempertahankan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap

akuntan publik.

6. DAFTAR PUSTAKA

Abdul Halim.2008. Auditing (dasar-dasar Audit Laporan Keuangan). UUP STIM.

Alvin A. Arens, Randal J. Elder, Mark S. Beasley.2007. Auditing dan Pelayanan Verifikasi. Jakarta : PT. Intermasa.

Arens a. Alvin, Elder j. Randal, Beasley S. Mark. 2003. Auditing dan Pelayanan Verifikasi. Edisi

Kesembilan. Edisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Indeks

Husein Umar. 2005. Metode Penelitian. PT. Gramedia Pusaka : Jakarta

IAI (Ikatan Akuntansi Indonesia) 2001. standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Jakarta :

Salemba Emapat.

Ida Rosnidah. 2008. Pengaruh Etika, Kompetensi, Pengalama Audit dan Risiko Audit dan

Spesialisasi Auditor di Bidang Industri Klien Terhadap Kualitas Audit dan Implikasinya

pada Kepuasan Pengguna Jasa Audit (survei pada Emiten Terdaftar di Bursa Efek

Indonesia.) Disertasi. Bandung: Program Pascasarjana Unpad. http://ejournal.unud.ac.id

(20)

Simamora. 2008 : Pengaruh Kompetensi dan Independensi terhadap Kualitas Audit Dengan

Etika Auditor Sebagai Variabel Moderasi. Universitas Trunojoyo, Bangkalan.

Surkrisno Agoes. 2005. Auditing (Pemeriksaan Akuntan) Oleh Kantor Akuntan Publik, Jakarta :

Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Sugiyono. 2009. “Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D”. Bandung; Alfabeta

Susanti Irawati. 2008. Auditing, Bandung : Gramedia Pustaka.

Umi Narimawati. 2007. Riset Manajemen Sumber Daya Manusia: Aplikasi Contoh dan

Perhitungannya. Jakarta: Agung Media

(www.akuntan.co.id)

(21)

1 1.1 Latar Belakang Penelitian

Dalam perkembangan perekonomian di Indonesia saat ini, bangsa Indonesia

masih mengalami krisis ekonomi. Terjadinya krisis ekonomi ini menyadarkan

masyarakat terutama para pengusaha mengenai pentingnya informasi dalam bisnis.

Akuntansi sebagai alat yang menyediakan informasi keuangan bagi para pengambil

keputusan bisnis harus dapat memberikan tanggapan akan adanya dinamika dalam

dunia usaha agar dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan. Untuk mendapatkan

informasi keuangan yang akurat, maka setiap perusahaan harus melakukan

pemeriksaan laporan keuangan, baik yang dilakukan oleh auditor internal maupun

auditor eksternal.

Seperti kita ketahui, pimpinan perusahaan lazimnya melaporkan

pertanggungjawabannya berupa laporan keuangan, yang dimana hasil dari laporan

keuangan itu dipergunakan oleh pemegang saham, penanam modal atau calon

penanam modal, para kreditur, instansi pemerintah. Akan tetapi laporan keuangan

yang dibuat oleh manajemen ini akan dapat lebih dipercaya masyarakat bila disertai

dengan pendapat yang dilakukan oleh orang yang independen sebagai hasil

pemeriksaan yang dilakukan secara objektif dan ahli dibidangnya, karena laporan

keuangan ini merupakan informasi penting bagi para investor dan kreditur untuk

(22)

Dengan demikian terdapat dua keinginan dan kepentingan yang bertolak

belakang, dimana pihak manajemen perusahaan ingin menyampaikan informasi

mengenai pertanggungjawaban pengelolaan dana yang berasal dari pihak luar. Selain

itu pihak luar perusahaan juga ingin memperoleh informasi yang akurat dari

manajemen perusahaan mengenai pertanggungjawaban dana mereka yang

diinvestasikan. Dengan adanya dua kepentingan yang bertolak belakang

menyebabkan berkembangnya profesi akuntan publik yang bekerja secara

independen.

Dalam hal ini akuntan publik harus dapat menunjukan bahwa kulitas audit

yang diberikannya berkualitas dan dapat dipercaya, karena profesi ini memiliki peran

penting dalam memberikan informasi yang dapat dipercaya, diandalkan dan

memenuhi kualitas akuntan publik dalam dunia usaha yang semakin kompetitif.

Dalam menjalankan tugas pemeriksaan, para akuntan publik akan selalu berhadapan

dengan individu-individu maupun kelompok dalam organisasi atau instansi yang

diperiksa serta dihadapkan dengan berbagai masalah yang cukup rumit baik yang

bersifat teknis, mungkin lebih mudah dipecahkan bila mendasarkan diri pada

program-program dan prosedur-prosedur pemeriksaan yang ditetapkan sebelumnya.

Namun untuk permasalahan yang bersifat non teknis, mungkin akan sulit dipecahkan

karena menyangkut masalah-masalah yang berkaitan dengan sikap, mental, emosi,

faktor psikologis, moral, karakter dan lain-lain. Ketentuan untuk mengatur sikap dan

(23)

dilaksanakan dengan baik maka diharapkan pelaksanaan audit dapat berjalan dengan

baik.

Akuntan publik merupakan suatu profesi yang berlandaskan kepercayaan

masyarakat dan dibayar oleh klien, akan tetapi dalam pelaksanaannya harus

professional. Adapun yang dimaksud dengan professional adalah bertanggung jawab

untuk berprilaku yang lebih baik dari sekedar memenuhi tanggung jawab yang

dibebankan kepadanya serta memenuhi undang-undang dan peraturan. Sikap profesi

akuntan tercermin dalam kompetensinya, independensinya dan integritas moralnya.

Independen auditing telah menjadi suatu masalah kepentingan umum dalam aktivitas

keuangan di zaman modern, dimana tiap individu atau golongan atau pihak tertentu

selain pemilik perusahaan harus merasa puas dengan ketelitian atau (accuracy),

kejelasan dan ketidakraguan daripada laporan keuangan dan laporan akuntan sebagai

hasil pemeriksaan.

Golongan yang berkepentingan diluar pemilik perusahaan akan mempercayai

opini yang diberikan oleh orang yang dianggap kompeten ( mampu dan berwenang),

meimiliki indepedensi dan integritas moral yang tinggi. Sekarang bila opini akuntan

dianggap tidak bisa dipercaya, sudah hampir dapat diduga bahwa akan ada pihak

tertentu yang merasa dirugikan dan bahkan mungkin akan menuntut auditor yang

bersangkutan. Auditor bertanggung jawab atas pernyataan pendapatnya terhadap

laporan keuangan yang diperiksanya. Laporan keuangan itu sendiri merupakan

(24)

Akuntan publik atau auditor independen dalam tugasnya mengaudit

perusahaan klien memiliki posisi yang strategis sebagai pihak ketiga dalam

lingkungan perusahaan klien yakni ketika akuntan publik mengemban tugas dan

tanggung jawab dari manajemen (agen) untuk mengaudit laporan keuangan

perusahaan yang dikelolanya. Dalam hal ini manajemen ingin supaya kinerjanya

terlihat selalu dimata pihak eksternal perusahaan terutama pemilik prinsipal. Akan

tetapi disisi lain, pemilik prinsipal menginginkan supaya auditor melaporkan dengan

sejujurnya keadaan yang ada pada perusahaan yang telah di biayainya.

Dalam konteks skandal kecurangan, memunculkan pertanyaan apakah trik-trik

rekayasa tersebut mampu terdeteksi oleh akuntan publik yang mengaudit laporan

keuangan tersebut atau sebenarnya telah terdeteksi namun auditor justru ikut

mengamankan praktik kejahatan tersebut. Jika yang terjadi adalah auditor tidak

mampu mendeteksi trik rekayasa laporan keuangan, maka yang menjadi inti

permasalahan adalah KAP belum menerapkan prinsip etika profesi akuntan yaitu

independensi dan kehati-hatian professional, karena ada hal yang tertinggal dalam

pemeriksaan dan menyebabkan hasil audit yang kurang berkualitas, oleh karena itu

mengakibatkan penyajian informasi yang salah kepada para pengguna informasi

keuangan PT Kimia Farma. Kemampuan untuk menemukan kecurangan dari laporan

keuangan ditentukan oleh Independensi auditor. Seperti pernyataan diatas pihak KAP

dikenakan sanksi yaitu denda 100 juta rupiah, denda ini diperlukan dan ditujukan agar

tidak ada KAP yang melakukan (material misstatement) atau salah saji material yang

(25)

yang salah secara material jadi kepercayaan masyarakat akan menurun jika terdapat

bukti bahwa independensi sikap auditor ternyata berkurang, bahkan kepercayaan

masyarakat dapat juga menurun disebabkan oleh keadaan yang oleh mereka yang

berpikiran sehat (reasonable) dianggap dapat mempengaruhi sikap independen dalam

senyatanya tersebut. Untuk dapat diakui pihak lain sebagai akuntan yang independen

harus bebas dari setiap kewajiban terhadap kliennya dan tidak mempunyai suatu

kepentingan dengan kliennya, apakah itu manajemen perusahaan atau pemilik

perusahaan.Dan diharapkan kejadian seperti ini tidak terjadi lagi dan diharapkan para

auditor independen dapat lebih hati-hati dan lebih teliti lagi dalam mengadakan

pemeriksaan terhadap perusahaan yang diauditnya dan tetap menjaga prinsip-prinsip

dan kode etik profesi akuntan independen. (sumber: chian-vicasson.blogspot.com)

Selain itu, terdapat fenomena khusus yang pernah terjadi pada salah satu

Kantor Akuntan Publik (KAP) yaitu Kantor Akuntan Publik xxx wilayah Bandung.

Salah satu kesalahan yang terjadi yaitu kesalahan menjurnal dan perbedaan persepsi

antara auditor dan klien suatu perusahaan. Auditor senior yang bertugas untuk

melaksanakan audit atas laporan keuangan terkadang masih ada yang melakukan

kesalahan, penyebab terjadinya kesalahan tersebut yaitu kurangnya pengalaman.

Pengalaman sangat penting bagi auditor dalam melakukan audit walaupun auditor

tersebut memiliki pendidikan formal yang tinggi. Semakin lama hubungan auditor

dengan klien juga dapat menyebabkan auditor tidak mampu menemukan kesalahan

yang material dalam mengaudit sehinnga auditor salah dalam memberikan opininya

(26)

karena kurangnya keahlian auditor yang merupakan bagian dari standar umum.

(Sumber: Auditor di Kantor Akuntan Publik xxx).

Akuntan publik dalam melaksanakan pemeriksaan harus berdasarkan SPAP

yang ditentukan oleh IAI, yang berupa pernyataan standar auditing (PSA) dan

pernyataan standar atestasi (PSAT). Standar tersebut mengharuskan auditor

merencanakan dan melaksanakan audit guna memperoleh keyakinan yang memadai

bahwa laporan keuangan bebas dari kesalahan. Dalam laporan audit bentuk baku,

tanggung jawab auditor terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan

berdasarkan audit yang telah dilaksanakan auditor. Profesi akuntan publik merupakan

profesi kepercayaan masyarakat. Dari profesi akuntan publik, masyarakat

mengharapkan penilaian yang bebas dan tidak memihak terhadap informasi yang

disajikan oleh manajemen perusahaan dalam laporan keuangan. Profesi akuntan

publik bertanggung jawab untuk menaikkan tingkat kendala laporan keuangan

perusahaan, sehingga masyarakat memperoleh informasi keuangan yang andal

sebagai dasar pengambilan keputusan guna menunjang profesionalisme dan

independensinya sebagai akuntan publik, maka auditor dalam melaksanakan tugas

auditnya harus berpedoman pada standar audit yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan

Indonesia (IAI), yakni standar umum, standar pekerjaan lapangan dan standar

pelaporan dimana standar umum merupakan cerminan kualitas pribadi yang harus

dimiliki oleh seorang auditor yang mengharuskan auditor untuk memiliki keahlian

dan pelatihan teknis yang cukup dalam melaksanakan prosedur audit. Sedangkan

(27)

pengumpulan data dan kegiatan lainnya yang dilaksanakan selama melakukan audit

serta mewajibkan auditor untuk menyusun suatu laporan atas laporan keuangan yang

diauditnya secara keseluruhan.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik meneliti masalah tersebut sebagai

topik menyusun skripsi dengan judul :

“ ANALISIS INDEPENDENSI AUDITOR EKSTERNAL PENGARUHNYA

TERHADAP KUALITAS AUDIT “(Survey Pada Lima Kantor Akuntan Publik

di Wilayah Bandung )”

1.2 IDENTIFIKASI DAN RUMUSAN MASALAH

1.2.1 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis

mengidentifikasi masalah di dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Belum semua auditor eksternal pada Kantor Akuntan Publik memiliki sikap yang

independen.

2. Masih banyak auditor eksternal yang melakukan keslahan menjurnal dan

perbedaan persepsi antara auditor maka audit yang dihasilkan tidak berkualitas

3. Auditor eksternal harus bersifat independen sehingga menghasilkan audit yang

(28)

1.2.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dikemukakan diatas, penulis

merumuskan masalah-masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana Independensi Auditor Eksternal pada Kantor Akuntan Publik di

Wilayah Bandung.

2. Bagaimana kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Wilayah Bandung.

3. Seberapa besar Independensi Auditor Eksternal berpengaruh terhadap Kualitas

Audit pada Kantor Akuntan Publik di Wilayah Bandung.

1.3 MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN

1.3.1 Maksud Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh, mengolah dan

menganalisis data mengenai pengaruh Independensi Auditor Esternal serta untuk

lebih memahami dan mengerti pelaksanaan kualitas audit dan untuk memperoleh

gambaran perbandingan antara teori dengan pelaksanaannya di lapangan.

1.3.2 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui Independensi Auditor Eksternal pada Kantor Akuntan Publik di

Wilayah Bandung

2. Untuk mengetahui Kualitas Audit pada Kantor Akuntan Publik di Wilayah

(29)

3. Untuk menguji pengaruh Independensi Auditor Eksternal terhadap Kualitas Audit

di Wilayah Bandung

1.4 KEGUNAAN PENELITIAN

1.4.1 Kegunaan Akademis

Penelitian atas analisis pengaruh independensi auditor eksternal terhadap

kualitas audit di bandung diharapkan dapat berguna bagi semua pihak yang

berkepentingan dan disamping itu, penelitian itu dapat memberikan manfaat :

1. Bagi Pengembangan Ilmu Akuntansi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan

referensi analisis independensi auditor eksternal pengaruhnya terhadap kualitas

audit

2. Bagi Peneliti Lain, diharapkan dapat menjadi bahan referensi bagi penelitian lain

yang ingin mengkaji di bidang yang sama.

3. Bagi Peneliti, penelitian ini dijadikan sebagai uji kemampuan dalam menerapkan

teori-teori yang diperoleh di perkuliahan terkait dengan independensi auditor

eksternal dan kualitas audit di kantor akuntan publik.

1.4.2 Kegunaan Praktis

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi :

1. Bagi Kantor Akuntan Publik, dapat memberikan informasi tentang

bagaimana Independensi Auditor Eksternal yang dapat di gunakan sebagai

(30)

2. Bagi Auditor, memberikan informasi tentang pemahaman independensi

auditor eksternal dan kualitas audit sehingga dalam prakteknya dapat lebih

meningkatkan independensi auditor eksternal.

1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian 1.5.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kantor Akuntan Publik di Wilayah

Bandung. Dalam penelitian ini dilakukan survei terhadap akuntan publik

Kantor Akuntan Publik yang dilihat berdasarkan tingkat jabatan,

pendidikan dan pengalaman.

Tabel 1.1

Daftar Kantor Akuntan Publik

No Nama Kantor Akuntan Publik Alamat

1 KAP. ROEBIANDINI & REKAN Jl. Raden Patah No. 7, Bandung -40132

2 KAP. DR. LA MIDJAN & REKAN Jl. IR. H. Juanda No. 207, Bandung -

40135

3 KAP. DRS. GUNAWAN SUDRADJAT Komplek Taman Golf Arcamanik Endah

Jl. Golf Timur III No. 1 Bandung 40293

4 KAP. Arifin, Halid & Rekan Jl. Buah Batu No. 87 Bandung 40264

5 KAP. DRS. Moch. Zainuddin Jl. Holis Pesona Taman burung Blok C-7

(31)

1.5.2 Waktu Penelitian

Waktu penelitian dimulai dari bulan Februari 2010 sampai dengan Juli

2010.Adapun waktu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh penulis berdasarkan

pada tabel berikut.

Tabel 1.2

Pelaksanaan Penelitian

Di Kantor Akuntan Publik Wilayah Bandung

No Keterangan

Februari Maret April Mei Juni Juli

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Survey Awal

2 Pengajuan Judul

Penelitian

3 Penelitian

Lapangan

4 Penyusunan dan

bimbingan UP

5 Pelaksanaan

siding UP

6 Penyusunan dan

bimbingan Skripsi

7 Pelaksanaan

(32)

12 2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Auditing

Pada umumnya audit merupakan kegiatan pemeriksaan terhadap suatu

kesatuan ekonomi yang dilakukan seseorang atau kelompok yang independen dan

bertujuan untuk mengevaluasi atau mengukur lembaga/perusahaan dalam

melaksanakan tugas atau pekerjaan dengan kriteria yang telah ditentukan, untuk

kemudian mengkomunikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

2.1.1.1 Pengertian Auditing

Audit adalah suatu proses yang sistematis tentang akumulasi dan evaluasi

terhadap bukti tentang informasi yang ada dalam suatu perusahaan tertentu.

sebagimana didefinisikan oleh Susanti Irawati (2008:1):

“Audit adalah suatu proses yang dalam mengumpulkan dan mengevaluasi

bukti-bukti audit mengenai kegiatan ekonomi yang dicerminkan dari

informasi keuangan suatu perusahaan tertentu

Begitupun definisi audit yang dinyatakan oleh Mulyadi (2009:9) adalah

sebagai berikut :

“Secara umum auditing adalah suatu proses sitematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegitan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang

(33)

Seorang auditor harus mempunyai kemampuan memahami kriteria yang

digunakan serta mampu menetukan sejumlah bahan bukti yang diperlukan untuk

mendukung kesimpulan yang akan diambilnya. Auditor harus objektif dan

mempunyai sikap mental independen. Sekalipun auditor seorang ahli, tetapi

apabila dia tidak mempunyai sikap independen dalam pengumpulan informasi,

maka informasi yang digunakan untuk mengmabil keputusan dianggap bias.

Tahap terakhir setelah selesai melakukan audit adalah penyusunan laporan audit

yang merupakan alat penyampaian informasi kepada pemakai laporan.

Dari definisi audit secara umum tersebut memiliki unsur penting yang

diuraian Mulyadi (2009:9) yaitu antara lain sebagai berikut:

1. Suatu Proses Sistematik

Auditing merupakan suatu proses yang sistematik, yaitu berupa suatu rangkaian

langkah atau prosedur yang logis, berangka dan terorganisasi. Auditing

dilaksanakan dengan suatu urutan langkah yang direncanakan, terorganisir dan

bertujuan.

2. Untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif

Proses sistematik itu ditujukan untuk memperoleh bukti yang mendasari

pernyataan yang dibuat oleh individu atau badan usaha, serta untuk

mengevaluasi tanpa memihak atau prasangka terhadap bukti-bukti tersebut.

3. Pernyataan mengenai kegiatan dan kejadian ekonomi

Yang dimaksud dengan pernyataan mengenai kegiatan dan kejadian ekonomi

disini adalah hasil proses akuntansi. Akuntansi merupakan proses

(34)

dinyatakan dalam satuan uang. Proses akuntansi ini menghasilkan suatu

pernyataan yang disajikan dalam laporan keuangan, yang umumnya terdiri dari

empat laporan keuangan pokok: neraca, laporan laba/rugi, laporan perubahan

ekuitasdan laporan arus kas. Laporan keuangan dapat pula berupa laporan

biaya pusat pertanggung jawaban tertentu dalam perusahaan

4. Menetapkan tingkat kesesuaian

Pengumpulan bukti mengenai pernyataan dan evaluasi terhadap hasil

pengumpulan bukti tersebut dimaksudkan untuk menetapkan kesesuaian

pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan.

5. Kriteria yang ditetapkan

Kriteria atau standar yang digunakan sebagai dasar untuk menilai pernyataan

dapat berupa:

a. Peraturan yang ditetapkan oleh suatu badan legislatif

b. Anggaran atau ukuran prestasi lain yang ditetapkan oleh manajemen

c. Prinsip akuntansi yang berterima umum di Indonesia (generally accepted

accounting principles) 6. Penyampaian hasil

Penyampaian hasil auditing sering disebut dengan atestasi (attestation).

Penyampaian hasil ini dilakukan secara tertulis dalam bentuk laporan audit

(35)

7. Pemakai yang berkepentingan

Dalam dunia bisnis pemakai yang berkepentingan terhadap laporan audit

adalah para pemakai informasi keuangan, calon investor dan kreditur,

organisasi buruh, dan kantor pelayanan pajak.

2.1.1.2 Tujuan Audit

Menurut Abdul Halim (2008:147) tujuan audit adalah sebagai berikut :

“Untuk menyatakan pendapat atas kewajaran dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha serta arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi

yang berlaku umum”.

Menurut Alvin A. Arens, Randal J. Elder, Mark S. Beasly (2007:218) yang

diterjemahkan oleh Tim Dejacarta menyatakan terdapat dua tujuan spesifik audit,

yaitu :

1. Tujuan umum berkait saldo a. Eksistensi

Tujuan ini menyangkut apakah angka-angka dimasukkan dalam laporan keuangan memang seharusnya dimasukkan.

b. Kelengkapan

Tujuan ini menyangkut apakah semua angka-angka yang seharusnya dimasukkan memang diikut sertakan secara lengkap.

c. Akurasi

Tujuan akurasi mengacu ke jumlah yang dimasukkan dengan jumlah yang benar.

d. Klasifikasi

Klasifikasi digunakkan untuk menunjukkan apakah setiap pos dalam daftar klien telah dimasukkan dalam akun yang benar.

e. Pisah Batas

(36)

f. Kecocokan Rincian

Tujuannya adalah untuk meyakinkan bahwa rincian dalam daftar memang dibuat dengan akurat, dijumlahkan secara benar dan sesuai dengan buku besar.

g. Nilai Realisasi

Tujuan ini berkaitan dengan apakah suatu saldo akun telah dikurangi untuk penurunan dari biaya historis menjadi realisasi.

h. Hak dan Kewajiban

Tujuan ini merupakan cara akuntan publik memenuhi asersi mengenai hak dan kewajiban.

i. Penyajian dan Pengungkapan

Untuk mencapai tujuan penyajian, akuntan publik melakukan pengujian untuk menyakinkan bahwa semua akun neraca dan laporan laba rugi serta informasi yang berkaitan telah disajikan dengan benar dalam laporan keuangan.

2. Tujuan audit umum berkait transaksi a. Eksistensi

Tujuan ini berkaitan apakah transaksi yang dicatat secara aktual memang terjadi.

b. Kelengkapan

Tujuan ini menyangkut apakah seluruh transaksi yang seharusnya ada dalam jurnal secara aktual telah dimasukkan.

c. Akurasi

Tujuan ini menyangkut keakuratan informasi untuk transaksi akuntansi.

d. Klasifikasi

Transaksi yang dicantumkan dalam jurnal diklasifikasikan dengan tepat

e. Saat Pencatatan

Kesalahan saat pencatatan jika transaksi tidak dicatat pada tanggal transaksi terjadi.

f. Posting Pengikhtisaran

Transaksi yang tercatat secara tepat dimasukkan dalam berkas induk dan di ikhtisarkan dengan benar.

Berdasarkan kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa setiap aktivitas audit

yang dilakukan selalu memiliki tujuan audit. Hal itu dilakukan untuk mengetahui

target yang harus dicapai oleh auditor dalam menjalankan tugasnya. Target

tersebut dapat dikatakan sukses apabila semua tujuan yang diarahkan berjalan

(37)

2.1.1.3 PelaksanaannAudit

Dalam menjalankan tugasnya, seorang auditor harus mengunjungi unit

kerja yang akan diaudit. Dalam menjalankan fungsinya, seorang auditor

mempunyai hak untuk mendapatkan akses informasi yang dibutuhkan. Untuk itu

maka pimpinan unit harus memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada auditor

dalam berinteraksi dengan staf atau pimpinan unit tersebut. Ada beberapa cara

yang dapat ditempuh auditor dalam mendapatkan informasi dari auditee, antara lain:

1. Mengamati Proses Kerja.

Dalam hal ini, auditor dapat memulai tugasnya dengan mengamati atau

melakukan observasi secara langsung proses kerja dalam perspektif manajemen

mutu. Melalui pengamatan ini, auditor dapat mengumpulkan data/informasi

dan mendeteksi apakah terdapat gejala adanya penyimpangan atau kesenjangan

(diskrepansi).

2. Meminta Penjelasan

Auditor dapat menggali informasi dengan cara meminta penjelasan dari unit

kerja yang dikunjungi (auditee). Untuk mendapatkan informasi yang banyak,

maka teknik bertanya auditor sebaiknya menggunakan

pertanyaan terbuka.

3. Meminta Peragaan

Dalam kasus tertentu, auditor dapat meminta auditee memperagakan suatu

(38)

membandingkan dengan ketentuan atau persyaratan yang telah diatur dalam

Buku Pedoman Simintas.

4. Menelaah Dokumen Simintas

Melalui proses telaah dokumen, auditor dapat mencatat berbagai informasi

signifikan untuk ditanyakan kepada auditee.

5. Memeriksa Silang

Dalam proses audit, auditor diperbolehkan mengumpulkan data/informasi dari

unit-unit lain yang berkaitan. Misalnya untuk mengaudit Fakultas dalam

penyiapan dan koreksi soal ujian, seorang auditor boleh memeriksa silang ke

Pusat Pengujian.

6. Mencari Bukti-bukti

Dalam proses audit, tujuan auditor adalah mencari informasi/data dan

bukti-bukti objektif. Bukti objektif dapat berupa catatan, dokumen, atau kondisi

faktual yang dapat dianalisis dan dibuktikan kebenarannya. Misalnya auditor

menemukan suatu diskrepansi atau penyimpangan, maka auditor perlu mencari

bukti-bukti yang dapat mendukung untuk menguji kebenaran temuan tersebut.

7. Melakukan Survei

Apabila dimungkinkan, seorang auditor boleh menggunakan seperangkat

angket survei untuk mengecek hal-hal tertentu, misalnya tingkat kepuasan

(39)

2.1.1.4 Jenis-jenis Audit

Akuntan Publik melaksanakan tiga tipe audit utama : audit atas laporan

keuangan, audit operasional dan audit kepatuhan. Dua jenis jasa audit yang

terakhir sering kali dinamakan sebagai audit aktivitas, walaupun kedua jenis audit

tersebut sangat mirip dengan jasa assurance dan jasa atestasi.

Menurut Rahayu dan Suhayati (2010 : 4)jenis audit terditi dari 3 macam, yaitu :

1. Audit Laporan Keuangan

Audit laporan keuangan bertujuan untuk menentukan apakah laporan keuangan telah disajikan wajar, sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu. 2. Audit Operasional

Perkembangan bisnis membuat pemegang saham sudah tidak dapat mengikuti semua kegiatan operasi perusahaannya sehari-hari, sehingga mereka membutuhkan auditor manajemen yang profesional untuk membantu mereka dalam mengendalikan operasional perusahaan.

3. Audit Kepatuhan

Audit Kepatuhan bertujuan untuk menentukan apakah auditee (yang diperiksa) telah mengikuti kebijakan, prosedur, dan peraturan yang telah ditentukan pihak yang otoritasnya lebih tinggi.

Berdasarkan uraian di atas bahwa jenis-jenis audit merupakan kegiatan

yang dilakukan oleh bagian audit. Kriteria yang ditetapkan dari setiap jenis audit

memiliki ciri khas sendiri, seperti : (1) audit atas laporan keuangan berdasarkan

prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum, (2) audit kepatuhan berdasarkan

kebijakan manajemen, hukum, peraturan, atau persyaratan lain pihak ketiga dan

(3) audit operasional berdasarkan penetapan tujuan misalnya, yang dilakukan oleh

manajemen atau pihak yang berwenang.

Sedangkan Mulyadi (2009:28) mengemukakan orang atau sekelompok

orang yang melaksanakan audit dapat dikelompokan menjadi 3 golongan antara

(40)

1. Auditor independen

Auditor independen adalah auditor profesional yang menyediakan jasanya

kepada masyarakat umum, terutama dalam bidang atas laporan keuangan yang

dibuat oleh kliennya. Audit tersebut terutama ditujukan untuk memenuhi

kebutuhan para pemakai informasi keuangan seperti : kreditur, investor, dan

instansi pemerintahan (terutama instansi pajak).

2. Auditor Pemerintah

Auditor pemerintah adalah auditor profesional yang bekerja di instansi

pemerintah yang tugas pokoknya melakukan audit atas pertanggung jawaban

keuangan yang disajikan oleh unit-unit organisasi atau entitas pemerintahan

atau pertanggung jawaban keuangan yang ditujukan kepada pemerintah.

3. Auditor Intern

Auditor intern adalah auditor yang bekerja dalam perusahaan (perusahaan

negara maupun perusahaan swasta) yang tugas pokoknya adalah menetukan

apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh manajemen puncak telah

dipatuhi, menentukan baik atau tidaknya penjagaan terhadap kekayaan

organisasi, menetukan efisiensi dan efektifitas prosedur kegiatan organisasi,

serta menentukan keandalan informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian

organisasi.

Pada dasarnya layanan yang diberikan oleh para auditor disetiap cabang

auditing diatas adalah sama, kini setiap cabang telah terpisah dan mempunyai

(41)

2.1.1.5 Jenis-jenis Auditor

Jenis-jenis auditor ada empat, yaitu :

1. Auditor Eksternal / Akuntan Publik / Auditor Independen

Auditor yang melakukan fungsi pengauditan atas laporan keuangan yang

diterbitkan oleh perusahaan. Praktik akuntan publik harus dilakukan melalui

suatu Kantor Akuntan Publik.

2. Auditor Pemerintah

Auditor yang bertugas melakukan audit atas keuangan pada instans-instansi

pemerintah.

3. Auditor Internal

Auditor yng bekerja pada suatu perusahaan dan berstatus sebagai pegawai

perusahaan tersebut bertugas membantu manajemen perusahaan tempat

dimana ia bekerja.

4. Auditor Pendidik

Auditor yang bekerja sebagai pendidik.

2.1.1.6 Standar Auditing

Standar Profesional Akuntan Publik merupakan standar auditing yang

menjadi criteria atau pedoman kerja minimum yang memiliki hukum bagi para

auditor dalam menjalankan tanggungjawab profesionalnya. SPAP merupakan

kodifikasi pernyataan standar auditing, standar atestasi, dan standar jasa akuntansi

yang telah diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia-Komite Norma Pemeriksaan

(42)

2.1.1.7 Independensi auditor

Independensi auditor merupakan suatu hal penting yang sudah sejak lama

menjadi pembicaraan baik di kalangan praktisi, pembuat kebijakan ataupun para

akademisi. Hal ini dikarenakan pendapat yang diberikan oleh auditor berkaitan

dengan kepentingan banyak pihak. Namun demikian pendapat yang diberikan

oleh auditor terhadap laporan keuangan suatu perusahaan tidak akan mempunyai

nilai apabila auditor tersebut dianggap tidak memiliki independensi oleh para

pengguna laporan keuangan. Berkaitan dengan independensi, AICPA memberikan

prinsip-prinsip sebaga panduan:

1. Auditor dan perusahaan tidak boleh tergantung dalam hal keuangan terhadap

klien.

2. Auditor dan perusahaan seharusnya tidak terlibat dalam konflik kepentingan

yang akar mengganggu objektifitas berkenaan dengan cara-cara yang

mempengaruhi laporan keuangan.

3. Auditor dan perusahaan seharusnya tidak memiliki hubungan dengan klien

yang akan mengganggu objektifitas auditor.

Independensi merupakan standar umum nomor dua dari tiga standar

auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang menyatakan

bahwa dalam semua hal yang berhubungan dengan penugasan, independensi

dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor. Keberadaan akuntan publik

sebagai suatu profesi tidak dapat dipisahkan dari karakteristik independensinya.

Akuntan publik selalu dianggap orang yang harus independen. Tanpa adanya

(43)

akan hasil auditan akuntan publik sehingga masyarakat tidak akan meminta jasa

pengauditan dari akuntan publik. Masyarakat akan meminta pihak lain yang

dianggap independen untuk menggantikan fungsi akuntan publik. Atau dengan

kata lain, keberadaan akuntan publik ditentukan oleh independensinya. Keeratan

hubungan akuntan publik dengan independensi ini dapat ditinjau dari posisi

penting kata independensi dalam berbagai literatur pengauditan. Dalam beberapa

definisi pengauditan yang dikemukakan oleh pakar pengauditan terkandung

makna independensi, baik secara tersurat maupun tersirat. Salah satu diantaranya

adalah definisi menurut Mulyadi (2002) yaitu :

”Independensi adalah sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang objektif tidak memihak dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya”.

Dalam buku Standar Profesi Akuntan Publik 2001 seksi 220 PSA No. 04

alinea 2, dijelaskan bahwa:

”Independensi itu berari tidak mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjannya untuk kepentingan umum (dibedakan dalam hal berpraktik sebagai auditor intern). Dengan demikian, ia tidak di benarkan memihak kepada kepentingan siapapun, sebab bilamana tidak demikian halnya, bagaimana sempurnanya keahlian teknis yang ia miliki, ia akan kehilangan sikap tidak memihak yang justru paling penting untuk mempertahankan kebebasan pendapatnya”.

Dari kedua pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa auditor

yang menegakan independensinya, tidak akan terpengaruh dan tidak dipengaruhi

oleh berbagai kekuatan yang berasal dari luar diri auditor dalam

(44)

Dalam Kode Etik Akuntan Indonesia, Pasal 1 ayat 2 menyatakan bahwa

setiap anggota harus mempertahankan integritas, objektivitas dan independensi

dalam melaksanakan tugasnya. Seorang auditor yang mempertahankan integritas,

akan bertindak jujur dan tegas dalam mempertimbangkan fakta, terlepas dari

kepentingan pribadi. Auditor yang mempertahankan objektivitas, akan bertindak

adil tanpa dipengaruhi tekanan dan permintaan pihak tertentu atau kepentingan

pribadinya. Auditor yang menegakkan independensinya, tidak akan terpengaruh

dan tidak dipengaruhi oleh berbagai kekuatan yang berasal dari luar diri auditor

dalam mempertimbangkan fakta yang dijumpainya dalam pemeriksaan. Di

samping itu dengan adanya kode etik, masyarakat akan dapat menilai sejauh mana

seorang auditor telah bekerja sesuai dengan standar-standar etika yang telah

ditetapkan oleh profesinya.

2.1.1.8 Pentingnya Independensi Auditor

Auditor mengakui kewajiban untuk jujur tidak hanya kepada manajemen

dan pemilik perusahaan, namun juga kepada kreditur dan pihak lain yang

meletakan kepercayaan atas laporan auditor independen, seperti calon-calon

pemilik dan kreditur.

Kepercayaan masyarakat umum atas independensi sikap auditor sangat

penting bagi perkembangan profesi akuntan publik. Kepercayaan masyarakat akan

menurun jika terdapat bukti bahwa sikap independensi auditor ternyata berkurang.

Untuk diakui oleh pihak lain sebagai orang yang independen, ia harus bebas dari

(45)

pemilik perusahaan. Sebagai contoh seorang auditor yang mengaudit perusahaan

dan ia juga menjabat sebagai direktur perusahaan tersebut meskipun ia telah

melakukan keahliannya dengan jujur, namun sulit untuk mengharapkan

masyarakat mempercayainya sebagai seorang yang independen. Masyarakat akan

menduga bahwa kesimpulan dan langkah yang diambil oleh auditor independen

selama auditnya dipengaruhi oleh kedudukan sebagai anggota direksi. Demikian

juga halnya, seorang auditor yang mempunyai kepentingan keuangan yang cukup

besar dalam perusahaan yang di auditnya, mungkin ia benar-benar tidak memihak

dalam menyatakan pendapatnya atas laporang keuangan tersebut. Namun

bagaimanapun juga masyarakat tidak akan percaya, bahwa ia bersikap jujur dan

tidak memihak. Auditor independen tidak hanya berkewajiban mempertahankan

fakta bahwa ia independen, namun ia harus pula menghindari keadaan yang dapat

menyebabkan pihak luar meragukan sikap independennya.

Independensi merupakan salah satu ciri paling penting yang dimiliki oleh

profesi akuntan publik, karena banyak pihak yang menggantungkan kepercayaan

kepada kebenaran laporan keuangan berdasarkan laporan auditor yang dibuat oleh

akuntan publik. Sekalipun akuntan publik ahli, apabila tidak mempunyai sikap

independensi dalam mengumpulkan informasi akan tidak berguna, sebab

informasi yang digunakan untuk mengambil keputusan haruslah tidak biasa.

Akuntan publik harus bersikap independen jika melaksanakan praktik publik.

Praktik publik adalah profesi akuntan publik yang mempengaruhi publik.

Independensi akuntan merupakan persoalan sentral dalam pemenuhan kriteria

(46)

Standar Profesi Akuntan publik mengatur secra khusus mengenai

independensi auditor dalam standar umum kedua (SA.220) yang berbunyi:

“Dalam semua hal yang berhubungan dengan penugasan independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor”.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa independensi sangat penting bagi

profesi akuntan publik (auditor):

1. Merupakan dasar bagi auditor (akuntan publik) untuk merumuskan dan

menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diperiksa. Apabila akuntan

publik tetap memelihara independensi selama melaksanakan pemeriksaan,

maka laporan keuangan yang telah diperiksa tersebut akan menambah

kredibilitasnya dan dapat di andalkan bagi pihak yang berkepentingan.

2. Kerena profesi auditor merupakan profesi yang memegang kepercayaan

masyarakat, kepercayaan masyarakat akan menurun jika terdapat bukti bahwa

independensi auditor ternyata berkurang dalam menilai kewajaran laporan

keuangan yang disajikan manajemen.

2.1.1.9 Peraturan independensi perilaku

Kantor akuntan publik harus berada dalam posisi yang independen untuk

pelaksanaan beberapa jasa yang mereka sediakan tetapi tidak untuk beberapa jasa

lainya. Frasa terakhir dalam peraturan 101, “sebagaimana yang ditentukan oleh badan-badan yang dibentuk oleh Dewan” merupakan cara yang tepat dari AICPA untuk mencantumkan atau tidak mencantumkan persyaratan independensi bagi

Gambar

Tabel 1.2 Pelaksanaan Penelitian
Tabel 2.1
Gambar 2.1 Skema Kerangka Pemikiran
Tabel 3.2
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa Hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh keahlian audit, kompetensi dan independensi terhadap kualitas audit dari Akuntan

Pengaruh Kompetensi, Independensi dan Profesionalisme Terhadap Kualitas Audit Dengan Kecerdasan Emosional Sebagai Variabel Moderasi (Survei pada Kantor Akuntan Publik di

“ANALISIS PENGARUH KOMPETENSI DAN INDEPENDENSI AUDITOR TERHADAP KUALITAS AUDIT DENGAN UKURAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK SEBAGAI VARIABEL MODERATING (Studi Empiris pada Kantor

Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan mengenai pengaruh Integritas dan Independensi terhadap Kinerja Auditor pada Kantor Akuntan Publik di wilayah Bandung, maka

Dalam kode etik akuntan publik disebutkan bahwa independensi adalah sikap yang diharapkan dari seorang akuntan publik untuk tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam

Independensi merupakan suatu sikap mental yang dimiliki auditor untuk tidak memihak dalam melakukan audit (Futri & Juliarsa, 2014). Akuntan publik berkewajiban untuk jujur

Abstrak: P enelitian ini bertujuan untuk menguji Pengaruh Kompetensi dan Independensi Auditor Terhadap Kualitas Audit pada Auditor Kantor Akuntan Publik Palembang. Sampel

108 PENGARUH KOMPETENSI DAN INDEPENDENSI AUDITOR TERHADAP KUALITAS AUDIT (Survei Terhadap Auditor Yang Bekerja Pada Kantor Akuntan Publik.. Di Kota Palembang)