UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PROGRAM STUDI DIPLOMA III MANAJEMEN KEUANGAN
TATA CARA PENGADAAN BARANG/JASA PADA PT PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN II MEDAN
TUGAS AKHIR
Diajukan Oleh :
CHRISTINA IMANUELLA SIHALOHO
112101201
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan
Pendidikan Pada Program Diploma III
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PROGRAM STUDI DIPLOMA III MANAJEMEN KEUANGAN
LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR
NAMA : CHRISTINA IMANUELLA SIHALOHO
NIM : 112101201
PROGRAM STUDI : DIPLOMA III MANAJEMEN KEUANGAN
JUDUL : TATA CARA PENGADAAN BARANG/JASA PADA
PT PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN II MEDAN.
Tanggal, JULI 2014 Dosen Pembimbing
Fadli, SE, M.Si
NIP. 19810628 200604 1 005
Tanggal, JULI 2014 Ketua Program Studi
Diploma III Manajemen Keuangan
Dr. Yeni Absah, SE, M.Si NIP. 19741123 200012 2 001
Tanggal, JULI 2014 Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa karena atas rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas
akhir ini dengan judul “Tata Cara Pengadaan Barang/Jasa Pada PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan II Medan”.
Penulisan tugas akhir ini merupakan salah satu syarat dalam
menyelesaikan pendidikan serta mencapai gelar ahlimadya pada Program Studi
Diploma III Manajemen Keuangan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini masih jauh dari kesempurnaan,
baik isi maupun dalam penyajiannya, hal ini disebabkan masih terbatasnya
pengetahuan dan kemampuan dari penulis. Penulis dapat menyelesaikan tugas
akhir ini berkat bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak.
Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu
penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini, terutama kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Azhar maksum, M.Ec. Ac, Ak, CA selaku Dekan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dr. Yeni Absah, SE, M.Si selaku Ketua Program Studi D III
Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera
Utara.
3. Bapak Fadli, SE, M.Si sebagai dosen pembimbing dari penulis yang telah
meluangkan waktu dan pemikiran dalam membimbing penulis dengan
4. Bapak Laurentius Manohara, SH dalam bimbingannya untuk
menyelesaikan tugas akhir ini.
5. Keluarga terbaik yang telah dianugerahkan Tuhan kepada penulis yaitu;
(+) Alm Ayahanda D. Sihaloho tercinta yang belum sempat mewujudkan
cita-citanya untuk melihat penulis wisuda, terimakasih atas kasih sayang
dan doa yang tulus hingga nafas terakhir; Ibunda H. Manik yang tercinta,
atas semangat yang tiada putus-putusnya untuk selalu membantu dan
berdoa untuk penulis; Kakanda Johannes Maranatha Sihaloho, atas kasih
sayangnya kepada penulis; dan Adinda Liberty Imanuella Sihaloho, yang
selalu berdoa untuk kelancaran penulis.
6. Orang terkasih Zackery Randall Bowman, B.A yang selalu setia, berdoa
dan mendukung dalam kelancaran studi penulis.
7. Sahabat-sahabat penulis: Hana Pratiwi Sitohang, Citra Anggreiny
Nainggolan, Cristhin Yenro Sari Debata Raja, Posma Tawarikhe Damanik,
Widya Hartati Sihotang, Enzelia Nelly, Ruth Lia Siahaan, Merlinta
Sembiring, terimakasih telah menjadi teman selama 3 tahun ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat
bagi setiap pembaca dan peneliti lainnya. Tuhan Memberkati.
Medan, Juli 2014
Penulis
DAFTAR ISI
F. Rencana Kegiatan Institusi ... 14
BAB III PEMBAHASAN ... 15
A. Pengadaan Elektronik (E-procuremet) ... 15
A.1 Kebutuhan Sistem E-procurement ... 17
A.2 Perangkat Sistem E-procurement ... 18
a.Perangkat Utama Sistem E-procurement ... 18
b.Perangkat Pendukung Sistem E-procurement……… ... 24
A.3 Manfaat E-procurement ... 27
B. Tata Cara Pengadaan Barang/Jasa ... 27
B.1 Penetapan Pengadaan 1 ... 27
B.2 Penetapan Pengadaan 2 ... 30
B.3 Sistem Pengadaan Barang/Jasa Pemborongan ... 32
a. Pelelangan Umum dengan Pra-kualifikasi ... 32
b. Pelelangan Umum dengan Pasca-kualifikasi ... 33
B.4 Sistem Pengadaan Jasa Konsultansi ... 37
B.5 Metode Penyampaian Dokumen Penawaran ... 38
a. Pemasukan Penawaran ... 44
b. Pembukaan Penawaran ... 45
B.6 Penetapan Pemenang Pengadaan ... 45
B.7 Sanggahan ... 46
1. Tata Cara Sanggahan... 46
2. Jawaban Atas Sanggahan ... 47
B.8 Kontrak Pengadaan Barang Jasa ... 48
1. Berdasarkan Bentuk Harga/Imbalannya ... 48
2. Berdasarkan Waktu Kontrak ... 49
B.9 Peta Penyedia Barang Jasa PT PLN ... 49
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ... 50
A. Kesimpulan ... 50
B. Saran………... 50
DAFTAR TABEL
Halaman
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.1 Struktur Organisasi Pada PT PLN (Persero)
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengadaan barang/jasa merupakan salah satu proses untuk
mengadakan barang/jasa tertentu pada suatu proyek untuk mendukung
kemaksimalan kinerja suatu instansi tertentu. Pengadaan barang/jasa yang
dilakukan bersifat umum dari pengadaan barang seperti pengadaan mobil
dinas, pengadaan alat tulis kantor, dan pengadaan tanah pada suatu instansi
hingga pengadaan jasa seperti jasa konsultan.
PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan II Medan sebagai salah
satu Badan Usaha Milik Negara senantiasa dituntut untuk ikut andil dalam
mendukung dan memajukan kesejahteraan umum. Dimana pada dasarnya
segala instansi milik pemerintah diharuskan mengemban kewajiban yang
semata-mata untuk kesejahteraan rakyat. PT PLN (Persero) Unit Induk
Pembangunan II Medan sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara
mempunyai kewajiban menyediakan kebutuhan rakyat dalam tugasnya
sebagai salah satu Perusahaan Listrik Negara yaitu untuk menyalurkan energi
listrik melalui pembangunan infrastruktur seperti pembangunan Gardu Induk
(GI) untuk penyaluran energi listrik kepada masyarakat. Di sisi lain, instansi
pemerintah ini juga memerlukan barang/jasa itu dalam tugasnya untuk
memaksimalkan kinerja dalam tujuannya menyejahterakan orang banyak.
Pengadaan Barang/Jasa oleh instansi pemerintah seperti PT PLN (Persero)
Sehingga dikatakan belanja instansi pemerintah merupakan pembeli yang
terbesar (the largest buyer) di suatu Negara. Dalam kaitan ini pemerintah
mempunyai tanggung jawab agar kebijakan dalam bidang pengadaan mampu
mendukung tujuan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan rakyat dengan
menetapkan instrumen-instrumen dalam rangka mencapai tujuan tersebut.
Pengadaan merupakan bentuk implementasi penyelenggaraan Negara
dibidang anggaran. Sistem pengadaan dibuat dalam rangka memudahkan
untuk melakukan belanja anggaran dengan lebih efisien, efektif, dan
ekonomis. Salah satu aspek penting dalam Pengadaan Barang/Jasa di
lingkungan PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan II Medan adalah
dalam hal pertanggung jawaban keuangan. Selama ini pengadaan barang/jasa
dilakukan secara langsung (konvensional) yaitu dengan mempertemukan
pihak-pihak yang terkait seperti penyedia barang/jasa dan pengguna
barang/jasa. Proses yang di lakukan secara fisik ini memiliki kelebihan dan
kelemahan. Kelebihan yang didapat misalnya para pengguna dan penyedia
barang/jasa ini dapat secara langsung bertemu dan melakukan tahap-tahap
pengadaan secara bersama-sama. Kelemahan dari tahap-tahap pelaksanaan
pengadaan barang/jasa konvensional ini dinilai banyak merugikan seperti
mudahnya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Untuk itu, saat ini dikenal
pengadaan elektronik yang disebut dengan e-procurement. Dengan
e-procurement diharapkan masyarakat dapat menyampaikan pendapat mengenai
pengadaan barang/jasa pada suatu instansi pemerintah. PT PLN (Persero) Unit
Induk Pembangunan II Medan sebagai salah satu instansi pemerintah telah
Adapun situs pengadaan elektronik milik PT PLN (Persero) Unit Induk
Pembangunan II Medan ini yang dapat diakses nasional adalah
meningkatkan efisiensi, efektifitas kinerja dan transparansi.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya,
maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana cara penerapan e-procurement pada PT PLN (Persero) Unit
Induk Pembangunan II Medan dan apa manfaatnya?
2. Bagaimana tata cara dan tahap pelaksanaan pengadaan barang/jasa pada
PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan II Medan?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui peranan dan manfaat dari penerapan e-procurement
pada PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan II Medan.
2. Untuk mengetahui prosedur tata cara pengadaan barang/jasa pada PT PLN
(Persero) Unit Induk Pembangunan II Medan.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan melalui penelitian ini adalah:
1. Bagi Penulis
Penelitian ini dapat memperluas wawasan penulis mengenai tata cara
pengadaan barang/jasa pada salah satu Badan Usaha Milik Negara yaitu
PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan II Medan dan sekaligus
2. Bagi Instansi Terkait
Sebagai informasi mengenai ulasan tata cara pengadaan barang/jasa pada
perusahaannya.
3. Bagi Pihak Lain
Sebagai referensi atau bahan perbandingan bagi peneliti lain dalam
melakukan penelitian objek maupun masalah yang sama pada masa yang
BAB II
PROFIL INSTITUSI
A. Sejarah Ringkas PT PLN Unit Induk Pembangunan II Medan
Listrik mulai dikenal di Indonesia pada akhir abad ke-19 yaitu pada
masa Pemerintahan Hindia Belanda. Pada saat itu penyediaan tenaga listrik di
Indonesia dikelola oleh beberapa perusahaan, salah satunya adalah OGEM
(Overzeese Gase dan Electritiest Maathappy) yang merupakan Perusahaan
Listrik swasta Belanda yang berpusat di negara Belanda, sedangkan di
Indonesia berpusat di Batavia atau dikenal Jakarta pada saat ini.
Sejarah kelistrikan di Indonesia dimulai pada tahun 1893 di daerah
Batavia atau Jakarta sekarang. Tiga puluh tahun kemudian (1923) listrik mulai
ada di Medan. Sentralnya dibangun di pertapakan kantor PLN cabang Medan
yang sekarang di jalan Listrik No 12 Medan, dibangun oleh OGEM
(Overzeese Gase dan Electritiest Maathappy), yaitu salah satu perusahaan
swasta Belanda. Kemudian menyusul pembangunan listrik di Tanjung Pura
dan Pangkalan Brandan 1924, Tebing Tinggi 1927, Sibolga 1928, Berastagi
1928, Tarutung 1929, Tanjung Balai 1931, Labuhan Bilik 1936, dan Tanjung
Tiram 1937.
Pada masa penjajahan Jepang, perusahaan listrik berada ditangan
Jepang dengan mendatangkan tenaga ahli dari Jepang, tetapi Jepang hanya
mengambil alih pengelolaan listrik milik swasta Belanda tanpa mengadakan
penambahan mesin dan perluasan jaringan. Daerah kerjanya dibagi menjadi
Sejak proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945
dikumandangkan, maka kesatuan aksi karyawan listrik di seluruh penjuru
tanah air mengambil alih Perusahaan Listrik swasta Belanda dari tangan
tentara Jepang. Pengambilalihan itu selesai bulan oktober 1945 dan
diserahkan pada pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini Departemen
Pekerjaan Umum. Mengenang peristiwa ambil alih itu maka tanggal 27
Oktober ditetapkan sebagai Hari Listrik Nasional. Sejak tahun 1955 di Medan
berdiri perusahaan listrik distribusi cabang Sumatera Utara yang dikepalai
oleh R. Sukarno.
Dengan dikeluarkannya UU No. 58 tahun 1958 tentang Nasionalisasi,
nama OGEM (Overzeese Gase dan Electritiest Maathappy)
dinasionalisasikan pada tanggal 31 Januari 1958 dengan nama PGLN
(Perusahaan Gas dan Listrik Negara) tahun 1959 dirubah menjadi Perum
Listrik Negara Distrik Cabang Sumatera Utara yang kemudian dirubah lagi
menjadi Exploitasi I tahun 1961 sesuai dengan PP No. 67 tahun 1961.
Dengan dikeluarkannya keputusan Direksi PLN No. 09/DIR/PLN/1966
kemudian PLN Exploitasi I Sumatera Utara menjadi Exploitasi II dan pada
tahun 1966 di Sumatera Utara dibentuk PLN pembangunan yang berada
dibawah pengawasan PLN Exploitasi II.
Pada tahun 1966 PLN mengalami perubahan lagi dari Perusahaan
Negara menjadi PERUM sesuai dengan UU No. 9/Tahun1969, untuk
menanggulangi dan mengimbangi peningkatan permintaan akan kebutuhan
tenaga listrik oleh masyarakat di Sumatera Utara, maka Perusahaan Umum
dengan terbitnya peraturan Menteri PUTL No. 13/PRT/75 tanggal 8
September 1975 maka diadakan reorganisasi pada PLN Exploitasi II
Sumatera Utara pada tahun 1975 dan begitu juga dengan pembangunan
dirubah menjadi PLN Proyek Induk Pembangkit dan Jaringan Sumatera Utara
dan Aceh pada tahun yang sama.
Kemudian pada tahun 1994 terjadi perubahan nama dari Perusahaan
Umum Listrik Negara Proyek Induk Pembangkit dan Jaringan Sumatera
Utara menjadi PT PLN (Persero) Proyek Induk Pembangkit dan Jaringan
Sumatera Utara dan Aceh dengan surat keputusan Direksi PT PLN (Persero)
No. 058.K/024/DIR/1994, kemudian 2006 menjadi PT PLN (Persero) Proyek
Induk Pembangkit & Jaringan Sumatera Utara, Aceh & Riau berdasarkan
keputusan Direksi PT PLN (Persero) No. 032.K/DIR/2006. Kemudian di
tahun 2013 berubah kembali menjadi PT PLN (Persero) Unit Induk
Pembangunan II berdasarkan keputusan Direksi PT PLN (Persero) No.
166.K/DIR/2013.
B. Visi, Misi dan Motto PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan II
PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan II adalah unit usaha PLN
yang bergerak dalam Bidang Pembangunan Gardu Induk (GI) dan Jaringan
Transmisi (TL) di wilayah Sumatera Utara, Aceh, Riau, dan Sumatera Barat
berkomitmen untuk memenuhi keinginan dan memenuhi persyaratan
pelanggan dan stakeholder melalui TEPAT KWH (Tepat Kualitas, Waktu dan
Hemat Biaya) dan melakukan peningkatan yang berkelanjutan.
Visi:
Misi :
Melakukan pengendalian konstruksi dan pengelolaan kegiatan pembangunan
jaringan serta melaksanakan administrasi konstruksi dengan bertindak sebagai
wakil pemilik (owner), untuk menghasilkan jaringan yang berkualitas dan siap
dioperasikan melalui proses pelaksanaan pembangunan yang efisien, tepat
waktu dan menghasilkan standar produk/prototipe.
Motto :
BMW (Biaya, Mutu, Waktu)
Tepat Biaya, Mutu dan Waktu.
C. Struktur Organisasi
Susunan Organisasi PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan II
Medan sebagai berikut :
Gambar 1.1 Susunan Organisasi PT PLN (Persero) UIP II.
Sumber : PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan II Medan 2014.
D. Uraian Tugas 1. General Manager
Bertanggung jawab dan memastikan terselenggaranya pengelolaan
kegiatan pembangunan jaringan tenaga listrik sesuai yang tercantum dalam
Investasi (AI), serta bertanggung jawab terhadap biaya, jadwal, dan mutu
sesuai target kinerja Unit Induk Pembangunan yang ditetapkan oleh Direksi
dengan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia, serta memastikan
bahwa semua program pembangunan yang dilaksanakan oleh Unit Induk
Pembangunan telah diketahui oleh Direksi, dengan tugas pokok meliputi:
a. Mengembangkan strategi dan kebijakan pokok untuk peningkatan kerja
Unit Induk Pembangunan;
b. Memastikan kelancaran koordinasi dan Service Level Agreement (SLA)
dengan pihak supervisi konstruksi dan supervisi desain;
c. Menetapkan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) Unit Induk
Pembangunan;
d. Mengelola dan mengendalikan kegiatan pembangunan dan bertindak
sebagai wakil pemilik (owner);
e. Menetapkan sistem manajemen kinerja dan sistem manajemen mutu
Unit Induk Pembangunan serta pengendaliannya;
f. Mengembangkan hubungan kerja sama dengan pihak lain untuk
kelancaran dan keberhasilan penyelesaian pembangunan;
g. Mengembangkan dan memelihara kompetensi organisasi dan
kompetensi anggota organisasi Unit Induk Pembangunan.
2. Bidang Perencanaan
Bertanggung jawab atas tersedianya perencanaan kerja atas
pelaksanaan kegiatan perencanaan umum dan lingkungan hidup serta
perencanaan konstruksi pembangunan penetapan kebijakan manajemen
a. Menyusun Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Unit Induk
Pembangunan Tahunan;
b. Mengelola kegiatan survey dan soil investigation;
c. Menyiapkan analisis dampak lingkungan dan pengelolaan lingkungan
hidup serta perijinan yang terkait dengan fasilitas proyek dan
pertanahan;
d. Merencanakan, memonitor, mengevaluasi kegiatan pembebasan tanah;
e. Melaksanakan perencanaan pembangunan yang sinergi dengan
koordinasi bersama pihak supervisi konstruksi dan supervisi desain
antara lain Approval Drawing dan Spesifikasi;
f. Mengkoordinir persiapan dan pelaksanaan kegiatan pengadaan termasuk
menyiapkan dokumen pelelangan;
g. Merencanakan dan mengelola implementasi Sistem Teknologi
Informasi.
3. Bidang Operasi Konstruksi
Bertanggung jawab dan memastikan terlaksananya pekerjaan
konstruksi pembangunan, konsolidasi Unit Pelaksanaan Konstruksi sesuai
dengan jadwal, biaya, dan kualitas pekerja melalui pemantauan hasil kerja
untuk pencapaian target kinerja Unit Induk Pembangunan, dengan tugas
pokok meliputi:
a. Mengkoordinasikan secara keseluruhan pengendalian pembangunan
agar pelaksanaan pembangunan dapat dilaksanakan secara tepat waktu
biaya dan mutu;
ketiga terkait dengan kelancaran pelaksanaan pembangunan;
c. Mengkoordinasi kegiatan pelaksanaan administrasi teknik, meliputi
administrasi tenaga kerja asing, administrasi kontrak (penanganan
klaim kontrak, amandemen kontrak, berita acara pembayaran) dan
pengendalian TKDN;
d. Mengelola persetujuan Master List dan kegiatan kepabeanan;
e. Mengelola pengendalian logistik dan administrasi monitoring terkait
dengan pekerjaan pembangunan;
f. Mengelola program Keselamatan Ketenagalistrikan;
g. Mengelola dan mengkoordinir Serah Terima Proyek dan Laporan
Proyek Selesai di lingkungan Unit Induk Pembangunan.
4. Bidang Keuangan& Sumber Daya Manusia
Bertanggung jawab dan memastikan terselenggaranya pengelolaan
keuangan dan sumber daya manusia untuk mendukung pelaksanaan
pekerjaan kegiatan Unit Induk Pembangunan dalam mencapai target kinerja
Unit Induk Pembangunan sesuai penetapan Direksi, dengan tugas pokok
meliputi:
a. Menyusun perencanaan realisasi alokasi pendanaan pembayaran yang
terkait dengan progres pembangunan;
b. Melaksanakan proses pembayaran sesuai dengan kewajiban dan
komitmen, serta proses pembayaran sesuai dengan ketentuan kontrak;
c. Mengelola pelaksanaan kegiatan akutansi, perpajakan, dan asuransi;
d. Merencanakan dan mengelola pengembangan kompetensi dan karir
5. Bidang Hukum, Komunikasi, dan Pertanahan
Bertanggung jawab atas seluruh proses hukum dan pertanahan dalam
pelaksanaan proyek konstruksi, serta atas seluruh proses komunikasi dengan
pihak eksternal proyek untuk menunjang keberhasilan proyek konstruksi
dengan tugas pokok:
a. Menyusun program penyelesaian masalah hukum dan melaksanakan
kegiatan hukum;
b. Melaksanakan konsultasi, penanganan, dan penyelesaian permasalahan
hukum;
c. Melaksanakan kegiatan komunikasi dan kehumasan, terkait dengan
pelaksanaan pembebasan lahan;
d. Menyusun basic communication intern dan ekstern dengan pihak ketiga
terkait;
e. Melaksanakan proses perijinan dan administrasi dokumen terkait dengan
sertifikasi tanah dan fasilitas proyek;
f. Merencanakan proses penyiapan dokumen dan persiapan pelaksanaan
pembebasan lahan;
g. Melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk pembebasan lahan;
h. Mengelola administrasi kesekretariatan dan umum;
i. Melaksanakan kegiatan pembebasan lahan;
j. Memonitor dan mengevaluasi serta menyelesaikan permasalahan yang
berkaitan dengan kegiatan pembebasan lahan;
k. Menyusun laporan hasil pembebasan lahan;
6. Unit Pelaksana Konstruksi
Bertanggung jawab dan memastikan terselenggaranya pengelolaan
pembangunan sesuai dengan kontrak dengan pihak supervisi konstruksi dan
supervisi desain sebagai bagian pencapaian target kinerja pembangunan
yang ditetapkan perusahaan, dengan tugas pokok meliputi:
a. Melaksanakan pengawasan, pengendalian teknik, dan administrasi
konstruksi;
b. Melaksanakan proses perijinan yang terkait dengan pelaksanaan
pekerjaannya;
c. Melaksanakan sosialisasi, inventarisasi, dan menyusun daftar nominatif
terkait kegiatan pembebasan tanah;
d. Melaksanakan pembayaran pembebasan tanah untuk luasan tertentu,
pengurusan pelepasan hak, dan serifikat;
e. Mendukung pelakasanaan survey di lapangan serta pelakasanaan analisa
dampak lingkungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
f. Melaksanakan pemantauan dan pengendalian kemajuan fisik
pembangunan secara berkala, melalui sinergi dengan pihak supervisi
konstruksi dan supervisi desain (jika ada), serta menyusun laporan
kemajuan pekerjaan pembangunan;
g. Mengelola logistik, tata usaha gudang serta administrasi dan umum.
E. Kinerja Terkini
Berdasarkan hasil evaluasi Tim RKAP, Satuan Pengendalian Kinerja
Korporat (SPKK) dan Koordinator Pengendalian Kinerja Direktorat (KPKD)
Konsolidasi, dengan ini Direktur Konstruksi dan Energi Terbarukan PT PLN
(Persero) dan General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Pembngunan II
menyepakati Key Performance Indicator (KPI) tahun 2014 sebagai berikut:
Tabel 1.1
Kinerja Terkini PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan II Medan Tahun 2014
NO KPI UNIT 2014 FORMULA SATUAN BOBOT TARGET
1 2 3 4 5 6
I Pelanggan 6
1 Kepuasan Pelanggan Nilai hasil survey kepuasan pelanggan % 6 90
II Efektifitas Produk dan Proses 48
1 Penyelesaian proyek transmisi Jumlah kms jaringan transmisi yang dapat beroperasi kms 10 1,932 2 Penyelesaian proyek GI (150kV) Jumlah MVA GI yang dapat beroperasi (150kV) MVA 10 910 3 Penyelesaian proyek GI (275kV) Jumlah unit GI yang dapat beroperasi (275kV) Unit 6 1 4 Realisasi program terkontrak Jumlah proyek terkontrak (diluar luncuran)x100 % % 7 100
5 Progres fisik Realisasi pembayaran x 100 % % 15 100
III Fokus Tenaga Kerja 14
1 Human Capital Readiness Maturity Level Assessment HCR skala 1-5 Level 2 3.6
2 Organization Capital Readiness Maturity Level Assessment OCR skala 1-5 Level 8 3.6
3 Produktifitas Pegawai Jumlah Pegawai Rp/Pegawai 3 1917
IV Keuangan dan Pasar 16
1 Biaya Administrasi Jumlah total biaya administrasi Juta Rp 4 41,580
2 Biaya Pemeliharaan Jumlah total biaya pemeliharaan Juta Rp 4 14,686
3 Biaya Kepegawaian Jumlah total biaya kepegawaian Juta Rp 4 34,286
4 Penyerapan Disburse APBN dan PHLN Persentase penyerapan disburse APBN dan PHLN % 4 50
V Kepemimpinan 16
1 Skor Malcom Baldrige Skor Hasil Assessment DA Malcom Baldrige Skor 5 389
2 ERM Hasil Assessment Risk Maturity Level Level 4 4
3 Implementasi PMO Progres Pengisian PMD % 5 100
4 PLN Bersih Hasil Pencapaian Index PLN Bersih Skor 2 4
5 Kepatuhan Jumlah Nilai Pengurang dari Unsur Kepatuhan max-10
TOTAL BOBOT 100
Sumber : PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan II Medan 2014.
F. Rencana Kegiatan Institusi
Rencana Kegiatan PT PLN(Persero) Unit Induk Pembangunan II
Medan adalah sebagai berikut:
1. Pembangunan Transmisi 275 kV dan Gardu Induk;
2. Pembangunan Transmisi 150 kV dan Gardu Induk;
BAB III PEMBAHASAN
A. PENGADAAN ELEKTRONIK (E-PROCUREMENT)
E-procurement adalah proses pengadaan barang/jasa yang
pelaksanaannya dilakukan secara elektronik yang berbasis web/internet
dengan memanfaatkan fasilitas teknologi komunikasi dan informasi yang
meliputi pelelangan umum, pra-kualifikasi dan sourcing secara elektronik
dengan menggunakan modul berbasis website. Dukungan Teknologi Informasi
ini diharapkan dapat mencapai efektifitas dan efisiensi perusahaan.
Proses Pengadaan barang dan jasa yang dilakukan dengan menggunakan e-procurement secara signifikan akan meningkatkan kinerja,
efektifitas, efisiensi, transparansi, akuntabilitas transaksi yang dilakukan,
selain itu biaya operasional dapat dikurangi secara signifikan karena tidak
diperlukan lagi penyerahan dokumen fisik dan proses administrasi yang
memakan waktu dan biaya.
Ruang lingkup e-procurement PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan II Medan dibagi menjadi 3 (tiga) kebutuhan utama, antara lain:
Cataloging Information System, Supply Chain Management (SCM) System,
dan Portal e-procurement. Kebutuhan Cataloging Information merupakan
pemenuhan kebutuhan atas terbentuknya database katalog material
(sparepart, pembangkit, bahan bakar, dll); sharing informasi dari persediaan,
bursa, harga satuan, HPS, daftar pemasok, dan menyusun daftar rencana
Sistem SCM merupakan perwujudan dari pengadaan material melalui
bursa antar Unit PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan II Medan,
pengadaan barang/jasa melalui e-bidding dan e-auction. Adapun portal e-proc
PT PLN dengan menggunakan internet browser dengan alamat
link di situs PT PLN (Persero) dengan
alamat
Dalam Pengelolaan sistem e-procurement di Instansi Pemerintah berdasarkan:
1. Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi
Nasional Pengembangan e-Government di Indonesia;
2. Keppres No 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah, Keppres No 61 Tahun 2004, Perpres No 32
Tahun 2005, Perpres No 70 Tahun 2005, Perpres No 8 Tahun 2006,
Perpres No 79 Tahun 2006, Perpres No 85 Tahun 2006, Perpres No 95
Tahun 2007 tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Presiden No 80
Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah;
3. Undang – Undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik;
4. Peraturan Presiden No 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa
Pemerintah;
5. SK DIR PLN No 305.K/DIR/2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa
pada PT PLN (Persero);
6. Peraturan Presiden No 70 Tahun 2012 tentang Pengadaan Barang dan Jasa
A.1Kebutuhan Sistem E-Procurement
Dalam hal pengguna, sistem ini memerlukan adanya 4 jenis pengguna,
yaitu sebagai berikut:
1. Administrator Sistem
Administrator Sistem adalah peran yang tertinggi dalam struktur
user di website e-procurement. Administrator juga bertanggung jawab
terhadap seluruh aktivitas e-procurement. Baik aktivitas perangkat utama
seperti input pengumuman, penentuan panitia lelang, status
anggota/member website, maupun aktivitas pendukung seperti input
berita/informasi, status perusahaan hitam dan sebagainya. Administrator
juga mempunyai hak dalam meng-input, meng-edit, menghapus, serta
melihat detail dari seluruh aktivitas di web site e-procurement.
2. Panitia Lelang
Panitia lelang adalah peran yang mempunyai fungsi tertinggi dalam
pelaksanaan kegiatan e-procurement. Fungsi ini terbatas pada pelelangan
yang sedang diikuti. Panitia lelang dapat melakukan aktivitas utama dalam
pelaksanaan e-procurement seperti input dan edit pengumuman lelang,
upload dokumen, download dokumen penawaran, evaluasi dokumen,
penentuan pemenang dan sebagainya. Panitia lelang juga dapat mengakses
data-data peserta lelang, selama data-data tersebut berkaitan dengan
kegiatan pelelangan yang sedang diikuti. Tetapi fungsi ini hanya sebatas
pada melihat saja, tanpa melakukan fungsi input, edit, dan delete, serta
aktivitas lain yang dapat berpengaruh terhadap perubahan data-data yang
3. Peserta Lelang
Peserta lelang adalah peran yang mempunyai fungsi dalam
mengikuti kegiatan e-procurement. Fungsi ini terbatas pada pelelangan
yang sedang diikuti. Peserta lelang dapat melakukan aktivitas utama dalam
pelaksanaan e-procurement melihat detail pengumuman, pengambilan
dokumen lelang dokumen, pengiriman pesan sanggahan dan sebagainya.
Peserta lelang juga dapat mengakses area publik sebagai fasilitas tambahan
untuk mendukung informasi pelaksanaan e-procurement.
4. User
User adalah peran yang memiliki tingkatan paling rendah dalam
mengakses e-procurement, user hanya dapat mengakses informasi publik
dan aktivitas pendukung dari kegiatan e-procurement seperti pengumuman
lelang, pengumuman pemenang lelang, dan informasi-informasi yang
dapat dikonsumsi oleh publik tanpa melanggar ketentuan-ketentuan yang
berlaku.
A.2 Perangkat Sistem E-Procurement
a. Perangkat Utama Sistem E-Procurement
Perangkat utama sistem e-procurement adalah perangkat sistem yang
menggambarkan aktivitas utama dalam kegiatan pelelangan. Aktivitas ini
diadopsi dari kegiatan pelelangan secara manual sesuai dengan peraturan
yang berlaku. Seperti pendaftaran peserta lelang, pengambilan dokumen
lelang, pemasukan dokumen penawaran, dan sebagainya. Berikut ini adalah
aktivitas yang menjadi perangkat utama dalam sistem e-procurement yaitu
1. Pengumuman Lelang atau Pengumuman Pra-Kualifikasi
Proses pencarian informasi pengumuman pelelangan suatu proyek
pekerjaan dilakukan tanpa harus login terlebih dahulu, karena pengumuman
pelelangan merupakan informasi yang dapat diakses oleh publik tanpa ada
batasan status.
2. Pendaftaran Peserta Lelang atau Pendaftaran Pra-Kualifikasi
Penyedia jasa dapat melakukan pendaftaran untuk melakukan proses
lelang. Namun sebelum melakukan proses lelang, perusahaan penyedia jasa
harus melakukan registrasi/pendaftaran perusahaan dalam sistem atau sudah
terdaftar menjadi member dari sistem e-procurement. Hal ini dilakukan agar
perusahaan yang hendak mendaftar merupakan perusahaan yang sah secara
hukum, serta untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan selama
proses pelelangan.
3. Pengambilan Dokumen Pra-Kualifikasi
Secara manual pengambilan dokumen lelang dilakukan ketika
perusahaan melakukan proses pendaftaran lelang, namun karena proses
validasi dari data-data perusahaan yang mendaftar tidak bisa dilakukan
dalam satu waktu seperti yang terjadi jika pelelangan dilakukan secara
manual, maka pengambilan dokumen baru dapat dilakukan setelah panitia
sah terdaftar sebagai peserta pra-kualifikasi.
4. Pemasukan Dokumen Pra-Kualifikasi
Peserta lelang yang telah terdaftar dan telah melakukan proses
pengambilan dokumen pra-kualifikasi kemudian melakukan pengisian
Proses ini dilakukan secara manual artinya diluar sistem e-procurement.
Dokumen pra-kualifikasi yang telah lengkap diisi oleh perusahaan peserta
lelang kemudian dikirimkan ke panitia lelang dengan melakukan upload
dokumen pra-kualifikasi pada halaman yang telah tersedia pada sistem
e-procurement.
5. Evaluasi Pra-Kualifikasi
Dokumen pra-kualifikasi yang telah masuk kemudian di-download
oleh panitia lelang untuk kemudian dilakukan proses evaluasi dokumen
pra-kualifikasi secara manual dengan melakukan pengecekan kelengkapan
dokumen pra-kualifikasi diluar sistem e-procurement. Hasil evaluasi
kemudian di-input kedalam formulir evaluasi dokumen pra-kualifikasi yang
telah tesedia pada sistem e-procurement untuk kemudian ditentukan lolos
tidaknya perusahaan peserta lelang dalam mengikuti tahapan lelang
selanjutnya.
6. Pengumuman Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi
Peserta lelang dapat melihat pengumuman hasil evaluasi dokumen
pra-kualifikasi yang terdapat pada sistem e-procurement.
7. Masa Sanggah Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi
Perusahaan peserta lelang yang tidak puas terhadap hasil evaluasi
pra-kualifikasi yang tercantum dalam pengumuman dapat mengirimkan
sanggahan dengan mengisi formulir isi pesan sanggahan yang ditujukan
kepada panitia lelang. Peserta lelang pun dapat melihat pesan sanggahan
yang telah dikirim oleh seluruh peserta pada halaman pengumuman
kemudian dapat dijawab oleh panitia lelang dengan mengisi form pesan
jawaban atas sanggahan dari peserta lelang. Panitia maupun peserta lelang
dapat melihat sanggahan dan jawaban sanggahan pada halaman sanggahan.
Jika ada perubahan terhadap sanggahan peserta lelang, maka panitia dapat
melakukan evaluasi ulang terhadap dokumen pra-kualifikasi untuk
kemudian ditentukan peserta lelang yang lolos tahap pra-kualifikasi.
8. Penetapan Peserta Lolos Tahap Pra-Kualifikasi dan Undangan Peserta Lelang
Peserta yang lolos tahap pra-kualifikasi akan memperoleh undangan
berupa pengumuman dari panitia maupun surat yang dikirimkan melalui
media internet (e-mail).
9. Pengambilan Dokumen Lelang
Perusahaan peserta lelang (perusahaan yang mendapat undangan dari
panitia) dapat mengambil dokumen lelang dengan men-download dokumen
lelang.
10. Aanwizing
Proses aanwizing untuk proyek pengadaan jasa konstruksi masih
dilakukan secara manual dengan mengadakan tatap muka secara langsung.
Proses ini belum bisa dilakukan secara online karena banyak hal-hal yang
belum bisa dilakukan secara online seperti peninjauan lokasi proyek,
penjelasan detail tentang spesifikasi, metode kerja, maupun hal-hal lain
yang belum dilakukan secara online. Namun, sistem e-procurement ini
dapat menampilkan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan
11. Pemasukan Dokumen Penawaran
Dokumen lelang yang telah dilengkapi oleh perusahaan peserta
lelang kemudian dikirim ke panitia lelang dengan melakukan upload
dokumen lelang pada halaman yang telah tersedia pada sistem
e-procurement.
12. Pembukaan Dokumen Penawaran
Tahap selanjutnya adalah panitia melakukan pembukaan penawaran
baik berupa dokumen kelengkapan administrasi dan teknis maupun
dokumen lain yang sesuai dengan ketentuan dokumen lelang. Pembukaan
ini dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati oleh panitia
lelang.
13. Evaluasi Dokumen Penawaran / Peringkat Teknis
Dokumen yang telah masuk kemudian dievaluasi baik dari
kelengkapan administrasi, evaluasi nilai teknis, maupun evaluasi
penawaran. Hasil evaluasi ini kemudian di-input kedalam halaman
evaluasi yang telah tersedia pada sistem e-procurement. Sehingga peserta
lelang dapat melihat pengumuman hasil evaluasi dokumen penawaran
pada halaman yang telah disediakan.
14. Masa Sanggah Hasil Evaluasi Peringkat Teknis
Perusahaan peserta lelang yang tidak puas terhadap hasil evaluasi
peringkat teknis yang tercantum dalam pengumuman dapat mengirimkan
sanggahan dengan mengisi form isi pesan sanggahan yang ditujukan
kepada panitia lelang. Peserta lelang pun dapat melihat pesan sanggahan
sanggahan evaluasi peringkat teknis. Pesan sanggahan yang telah terkirim
kemudian dijawab oleh panitia lelang dengan mengisi form jawaban
sanggahan dari peserta lelang. Panitia maupun peserta lelang dapat melihat
sanggahan dan jawaban sanggahan pada halaman sanggahan.
15. Evaluasi Nilai Penawaran
Panitia lelang kemudian melakukan evaluasi terhadap nilai
penawaran yang diajukan oleh peserta lelang. Panitia dan peserta dapat
melihat hasil evaluasi nilai penawaran.
16. Evaluasi Peringkat Pemenang Lelang
Dari hasil evaluasi teknis dan harga penawaran, panitia dapat
memutuskan peringkat pemenang. Penentuan pemenang diputuskan secara
manual melalui rapat panitia lelang untuk kemudian dapat ditentukan
peringkat pemenang. Hasil penetapan pemenang kemudian di-input pada
halaman evaluasi penetapan pemenang lelang. Peringkat pertama akan
ditetapkan sebagai pemenang, sedangkan peringkat kedua akan menjadi
pemenang cadangan. Panitia juga kemudian menentukan jadwal masa
sanggah penetapan pemenang pada form yang telah ditentukan.
17. Sanggahan Penetapan Pemenang Lelang
Dari hasil pengumuman penetapan pemenang, peserta dapat untuk
mengajukan sanggahan atas hasil penetapan pemenang dengan
mengirimkan pesan sanggahan kepada pantita lelang. Panitia kemudian
memberikan jawaban atas sanggahan dari peserta lelang dengan
mengirimkan pesan kepada peserta lelang. Panitia maupun peserta lelang
18. Pengumuman Pemenang Lelang
Jika ada perubahan penetapan pemenang lelang pada masa
sanggah, maka panitia dapat melakukan evaluasi ulang terhadap penetapan
pemenang. Namun, jika tidak ada maka peserta yang mendapatkan
peringkat pertama secara otomatis akan menjadi pemenang lelang.
19. Penunjukan Pemenang Lelang
Pemenang lelang akan mendapatkan surat penunjukan pemenang
lelang yang akan diumumkan kepada publik, maupun surat yang dikirim
melalui e-mail. Surat penunjukan ini sebagai bukti bahwa perusahaan
pemenang lelang dapat melakukan kontrak kerjasama dengan pemilik/
owner proyek.
b. Perangkat Pendukung Sistem E-procurement
Untuk mendukung sistem e-procurement disediakan fasilitas-fasilitas
yang dapat mendukung pelaksanaan sistem e-procurement seperti:
1. Berita / Informasi
Berita digunakan sebagai fasilitas bagi pengguna website baik
oleh administrator, panitia lelang, peserta lelang, ataupun user publik
untuk mensosialisasikan informasi baik berupa peraturan-peraturan,
maupun permasalahan-permasalahan dengan menggunakan sistem
e-procurement.
2. Pencarian Pengumuman Lelang
Pencarian pengumuman merupakan fasilitas bagi pengguna
sistem e-procurement untuk mempermudah dalam pencarian proyek
dilakukan pada sistem e-procurement cukup banyak sehingga pengguna
website dapat mudah mencari pengumuman sesuai dengan kriteria.
3. Registrasi Perusahaan
Perusahaan yang hendak mengikuti proses pelelangan melalui
sistem e-procurement harus melakukan registrasi/pendaftaran perusahaan
terlebih dahulu. Hal ini dilakukan karena proses pelelangan
e-procurement dilakukan pada area perusahaan, bukan area publik.
4. E-mail
E-mail digunakan sebagai sarana komunikasi antar pengguna
suatu sistem e-procurement. Dengan adanya e-mail ini, proses
komunikasi dan transfer informasi tidak harus dilakukan dengan proses
tatap muka, melainkan dapat dilakukan secara online dan lebih praktis.
5. Bantuan
Bantuan yang berupa flowchart dipergunakan bagi pengguna
sistem e-procurement terutama user publik dan peserta lelang, apabila
ingin mendapatkan petunjuk atau mekanisme dalam melakukan
pelelangan.
6. Lupa dan Ganti Password
Fasilitas lupa dan ganti password digunakan apabila pengguna
sistem e- procurement lupa atau ingin mengganti password. Password
merupakan variabel yang sangat penting terutama dalam mengakses
setiap kegiatan e-procurement. Password juga merupakan alat keamanan
yang harus dijaga secara hati-hati oleh pengguna sistem e-procurement.
yang merupakan pengguna sistem e-procurement yang paling tinggi dan
memegang kendali terhadap seluruh data website.
7. Profil Perusahaan
Profil perusahaan adalah fasilitas yang digunakan sebagai
identitas terhadap data-data perusahaan. Profil perusahaan juga sangat
berguna bagi pelaksanaan pelelangan terutama bagi panitia yang hendak
mengetahui data-data tentang perusahaan, baik itu track record,
sertifikasi, klasifikasi, kualifikasi, serta data-data perusahaan lainnya.
Perusahaan peserta lelang dapat melakukan proses editing terhadap
data-data perusahaan jika terjadi kesalahan input data maupun perubahan pada
data identitas perusahaan yang di-input tersebut.
8. Profil Panitia
Profil panitia ditujukan agar pengguna sistem e-procurement
dapat mengetahui profil struktur panitia lelang. Perusahaan peserta lelang
dapat melakukan proses editing terhadap data-data panitia jika terjadi
kesalahan input data maupun perubahan pada data identitas panitia
lelang.
9. Blacklist Perusahaan
Blacklist perusahaan disediakan sebagai sarana untuk
mensosialisasikan perusahaan yang diberikan daftar hitam oleh unit
pelelangan lainnya kepada pengguna sistem e-procurement. Sehingga
perusahaan yang diberikan daftar hitam tersebut tidak dapat mengikuti
proses pelelangan selama jangka waktu blacklist masih berlangsung dan
A.3 Manfaat dari e-procurement antara lain:
1. Mendapatkan harga pembelian barang yang terkontrol;
2. Mempercepat waktu proses pengadaan;
3. Proses pengadaan akan lebih transparan;
4. Mereduksi biaya pengadaan barang/jasa;
5. Menghemat sampai dengan 50% anggaran;
6. Memperlancar komunikasi buyer – supplier;
7. Pelayanan yang baik kepada supplier.
B. TATA CARA PENGADAAN BARANG/JASA PT PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN II MEDAN
B.1 Penetapan Pengadaan 1: Pengadaan Barang/Jasa Pemborongan
1. Pelelangan Umum/Terbatas untuk Pengadaan Barang/jasa lainnya yang dilaksanakan :
1. Kantor Pusat
a. Penetapan Penyedia Barang/Jasa untuk pekerjaan yang bernilai sampai
dengan Rp 25.000.000.000,00 (Dua puluh lima milyar rupiah), pejabat
yang berwenang adalah Direksi/Pejabat yang diberi kuasa;
b. Penetapan Penyedia Barang/Jasa untuk pekerjaan yang bernilai diatas
Rp 25.000.000.000,00 (Dua puluh lima milyar rupiah), pejabat yang
berwenang adalah Direksi.
2. Unit
a. Penetapan Penyedia Barang/Jasa untuk pekerjaan yang bernilai sampai
yang berwenang adalah GM/Pemimpin Unit/Pejabat yang diberi kuasa;
b. Penetapan Penyedia Barang/Jasa untuk pekerjaan yang bernilai diatas
Rp 25.000.000.000,00 (Dua puluh lima milyar rupiah), pejabat yang
berwenang adalah Direksi.
2. Pemilihan Langsung untuk Pengadaan Barang/Jasa Pemborongan/Jasa lainnya yang dilaksanakan :
1. Kantor Pusat
a. Penetapan Penyedia Barang/Jasa untuk pekerjaan yang bernilai sampai
dengan Rp 2.000.000.000,00 (Dua milyar rupiah), pejabat yang
berwenang adalah Direksi/Pejabat yang diberi kuasa;
b. Penetapan Penyedia Barang/Jasa untuk pekerjaan yang bernilai diatas
Rp 2.000.000.000,00 (Dua milyar mupiah), pejabat yang berwenang
adalah Direksi.
2. Unit
a. Penetapan Penyedia Barang/Jasa untuk pekerjaan yang bernilai sampai
dengan Rp 2.000.000.000,00 (Dua milyar rupiah), pejabat yang
berwenang adalah GM/Pemimpin Unit/Pejabat yang diberi kuasa;
b. Penetapan Penyedia Barang/Jasa untuk pekerjaan yang bernilai diatas
Rp 2.000.000.000,00 (Dua milyar rupiah), pejabat yang berwenang
adalah Direksi.
3. Penunjukan Langsung untuk Pengadaan Barang/Jasa Pemborongan/Jasa lainnya yang dilaksanakan :
1. Kantor Pusat
dengan Rp 1.000.000.000,00 (Satu milyar rupiah), pejabat yang
berwenang adalah Direksi/Pejabat yang diberi kuasa;
b. Penetapan Penyedia Barang/Jasa untuk pekerjaan yang bernilai diatas
Rp 1.000.000.000,00 (Satu milyar rupiah), pejabat yang berwenang
adalah Direksi.
2. Unit
Pembelian langsung yang bernilai sampai dengan Rp 200.000.000,00 (Dua
ratus juta rupiah), pejabat yang berwenang adalah GM/Pemimpin
Unit/Pejabat yang diberi kuasa.
4. Swakelola dan Kewenangan untuk memutuskan pekerjaan swakelola adalah :
1. KantorPusat
a. Kewenangan untuk memutuskan pekerjaan swakelola sampai dengan
Rp 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah), pejabat yang berwenang
adalah Direksi/Pejabat yang diberi kuasa.
b. Kewenangan untuk memutuskan pekerjaan swakelola diatas Rp
500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah), pejabat yang berwenang
adalah Direksi.
2. Unit
a. Kewenangan untuk memutuskan pekerjaan swakelola sampai dengan
Rp 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah), pejabat yang berwenang
adalah GM/Pemimpin unit/Pejabat yang diberi kuasa;
b. Kewenangan untuk memutuskan pekerjaan swakelola diatas Rp
adalah Direksi, kecuali Pengguna Barang/Jasa telah mendapat Ijin
Prinsip dari Direksi.
B. 2 Penetapan Pengadaan 2 : Pengadaan Jasa Konsultansi
1. Seleksi Umum/Terbatas untuk Pengadaan Jasa Konsultansi dilaksanakan :
1. Kantor Pusat
a. Penetapan Penyedia jasa untuk pekerjaan yang bernilai sampai
dengan Rp 2.500.000.000,00 (Dua milyar lima ratus juta rupiah),
pejabat yang berwenang adalah Direksi/Pejabat yang diberi kuasa;
b. Penetapan Penyedia jasa untuk pekerjaan yang bernilai diatas Rp
2.500.000.000,00 (Dua milyar lima ratus juta rupiah), pejabat yang
berwenang adalah Direksi.
2. Unit
a. Penetapan Penyedia jasa untuk pekerjaan yang bernilai sampai
dengan Rp 2.500.000.000,00 (Dua milyar lima ratus juta rupiah),
pejabat yang berwenang adalah GM/Pemimpin Unit/Pejabat yang
diberi kuasa;
b. Penetapan Penyedia jasa untuk pekerjaan yang bernilai diatas Rp
2.500.000.000,00 (Dua milyar lima ratus juta rupiah), pejabat yang
berwenang adalah Direksi.
2. Seleksi Langsung untuk Pengadaan Jasa konsultansi yang dilaksanakan : 1. Kantor Pusat
dengan Rp 1.000.000.000,00 (Satu milyar rupiah), pejabat yang
berwenang adalah Direksi/Pejabat yang diberi kuasa;
b. Penetapan Penyedia jasa untuk pekerjaan yang bernilai diatas Rp
1.000.000.000,00 (Satu milyar rupiah), pejabat yang berwenang
adalah Direksi.
2. Unit
a. Penetapan Penyedia jasa untuk pekerjaan yang bernilai sampai
dengan Rp 1.000.000.000,00 (Satu milyar rupiah), pejabat yang
berwenang adalah GM/Pemimpin Unit/Pejabat yang diberi kuasa;
b. Penetapan Penyedia jasa untuk pekerjaan yang bernilai diatas Rp
1.000.000.000,00 (Satu milyar rupiah), pejabat yang berwenang
adalah Direksi, kecuali Pengguna Barang/Jasa telah mendapat Ijin
Prinsip dari Direksi.
3. Penunjukan Langsung untuk Pengadaan Jasa konsultansi di: 1. Kantor Pusat
a. Penetapan Penyedia jasa untuk pekerjaan yang bernilai sampai
dengan Rp 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah), pejabat yang
berwenang adalah Direksi/Pejabat yang diberi kuasa;
b. Penetapan Penyedia jasa untuk pekerjaan yang bernilai diatas Rp
500.000.000,00 juta (Lima ratus juta rupiah), pejabat yang
berwenang adalah Direksi.
2. Unit
a. Penetapan Penyedia jasa untuk pekerjaan yang bernilai sampai
berwenang adalah GM/Pemimpin unit/Pejabat yang diberi kuasa;
b. Penetapan Penyedia jasa untuk pekerjaan yang bernilai diatas Rp
500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah), pejabat yang berwenang
adalah Direksi, kecuali Pengguna Barang/Jasa telah mendapat Ijin
Prinsip dari Direksi.
B.3 Sistem Pengadaan Barang/Jasa Pemborongan/Jasa Lainnya
Pada dasarnya setiap pengadaan dilaksanakan melalui pelelangan
yang dilakukan secara terbuka, bersaing dan transparan.
1. Pelelangan Umum
Pelelangan umum dapat dilakukan dengan pra-kualifikasi untuk
pekerjaan kompleks dan pasca-kualifikasi untuk pekerjaan sederhana
(tidak kompleks), penilaian kualifikasi untuk melihat kompetensi dan
kemampuan usaha peserta pengadaan.
a. Pelelangan Umum dengan Pra-kualifikasi :
1. Dalam evaluasi pra-kualifikasi panitia pengadaan dapat melakukan
klarifikasi untuk hal-hal yang dianggap tidak jelas;
2. Calon peserta pengadaan yang lulus pra-kualifikasi minimal 3 (tiga)
peserta;
3. Apabila yang lulus pra-kualifikasi kurang dari 3 (tiga) calon peserta,
maka dilakukan proses pra-kualifikasi ulang;
4. Dalam hal setelah dilakukan pra-kualifikasi ulang, ternyata yang lulus
pra-kualifikasi kurang dari 3 (tiga) peserta dan sekurang-kurangnya 1
5. Pemasukan penawaran pada tahap pelelangan dilakukan dengan
mengundang peserta yang lulus pra-kualifikasi;
6. Pengadaan Barang/Jasa dinyatakan gagal apabila:
a. Tidak ada penawaran yang memenuhi syarat yang ditentukan dalam
dokumen pengadaan atau
b. Sanggahan dari peserta lelang ternyata benar atau
c Calon pemenang pengadaan nomor urutan 1, 2 dan 3 mengundurkan
diri.
b. Pelelangan Umum dengan Pasca-kualifikasi :
1. Jumlah yang memasukan penawaran minimal 3 (tiga) peserta;
2. Bila penawaran yang masuk kurang dari 3 (tiga) penawar, maka
pelelangan dinyatakan gagal dan dilakukan pelelangan ulang;
3. Dalam hal setelah dilakukan pelelangan ulang peserta yang lulus
evaluasi administrasi, teknis dan keuangan kurang dari 3 (tiga)
peserta dan sekurang-kurangnya 1 (satu) peserta, maka proses
pengadaan dapat dilanjutkan;
4. Pengadaan Barang/Jasa dinyatakan gagal apabila:
a. Tidak ada penawaran yang memenuhi syarat yang tertentu dalam
dokumen pengadaan;
b. Sanggahan dari peserta lelang ternyata benar atau;
c. Calon pemenang pengadaan urutan 1, 2 dan 3 mengundurkan diri;
d. Penawaran yang masuk kurang dari 3 (tiga) penawar;
e. Tidak ada peserta yang lulus evaluasi administrasi, teknis, dan
2. Pelelangan Terbatas
Proses pelelangan terbatas pada prinsipnya sama dengan proses
pelelangan umum sesuai butir 3.2.1., kecuali dalam pengumuman
dicantumkan kualifikasi dan kriteria Penyedia Barang/Jasa yang lebih
spesifik.
3. Pemilihan Langsung
Sistem pengadaan ini dapat dilakukan untuk keperluan
mendesak artinya apabila suatu pekerjaan atau Pengadaan Barang/Jasa
tersebut tidak segera dilakukan akan berakibat terganggunya
operasional PLN.
Proses pengadaan dengan sistem pemilihan langsung sebagai berikut:
1. Undangan pra-kualifikasi sekurang-kurangnya terhadap 3 (tiga)
peserta terpilih;
2. Apabila penyedia Barang/jasa yang lulus pra-kualifikasi kurang
dari 3 (tiga), maka dilakukan undangan ulang;
3. Apabila setelah undangan ulang, yang lulus pra-kualifikasi hanya 2
(dua) peserta dan sekurang-kurangnya 1 (satu) peserta, maka proses
pengadaan dapat dilanjutkan melalui penunjukan langsung;
4. Panitia/Pejabat Pengadaan meminta kepada penyedia barang/jasa
yang telah lulus pra-kualifikasi untuk memasukan penawaran;
5. Panitia/pejabat pengadaan melakukan evaluasi administrasi, teknis,
dan harga terhadap semua penawaran yang masuk serta menyusun
urutan penawaran berdasarkan harga terendah sebagai dasar untuk
6. Klarifikasi dan negosiasi dilaksanakan :
a. Kepada penawar yang lulus pra-kualifikasi untuk mendapatkan
Barang/Jasa yang sesuai dengan spesifikasi yang tercantum dalam
dokumen pengadaan ;
b. Terhadap harga satuan item-item pekerjaan yang harga satuan
penawarannya lebih tinggi dari harga satuan yang tercantum dalam
HPS;
c. Apabila tidak terjadi kesepakatan dengan urutan pertama, maka
klarifikasi dan negosiasi dilakukan kepada urutan penawar terendah
berikutnya sesuai butir 4 diatas, demikian seterusnya.
4. Penunjukan Langsung
Untuk sistem pengadaan dengan penunjukan langsung dapat
dilaksanakan dalam hal sebagai berikut:
1. Pekerjaan spesifik hanya dapat dilaksanakan dengan penggunaan seperti
teknologi khusus/pemegang hak patent dan/atau hanya ada satu penyedia
Barang/Jasa (agen tunggal) yang mampu mengaplikasikannya atau
pengadaan barang spesifik yang tak dapat digantikan oleh produk lain
atau tidak kompatibel (Relay, Cards, scada dll);
2. Pekerjaan dalam keadaan khusus/darurat/emergency yaitu pekerjaan yang
kebutuhannya sangat mendesak, seperti pengadaan barang spesifik yang
tak dapat digantikan oleh produk lain dan tidak dapat ditunda-tunda lagi
berhubung dengan telah terjadinya bencana alam/perang/kerusuhan, untuk
menghindarkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan yang dapat
besar serta untuk menjaga citra perusahaan;
3. Pekerjaan lanjutan yang dilaksanakan oleh Penyedia Barang/Jasa yang
sama dan secara teknis diharuskan adanya homogenitas, kontinuitas,
kompatibel dengan pekerjaan sebelumnya serta dengan mengacu kepada
harga satuan kontrak yang sudah ada;
4. Pekerjaan tambah yang tidak dapat dielakkan dalam rangka penyelesaian
pekerjaan, dengan ketentuan nilainya tidak lebih dari 10 % (sepuluh
persen) dari harga yang tercantum dalam Kontrak dan dihitung
berdasarkan harga satuan kontrak.
5. Pengadaan Langsung
Yang dimaksud dengan Pengadaan Langsung Barang/Jasa
adalah proses pengadaan Barang/Jasa yang bersifat rutin/operasional
dan/atau kegiatan mendesak dengan nilai maksimal Rp 200.000.000
(dua ratus juta rupiah) oleh Pejabat Pengadaan:
a. Untuk pengadaan barang yang bernilai sampai dengan Rp 50.000.000
(lima puluh juta rupiah) dilakukan tanpa Surat Perintah Kerja (SPK)/
Surat Pemesanan Barang (SPB)/Delivery Order (DO), sedangkan untuk
diatas Rp 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) dilakukan dengan SPK;
b. Untuk pekerjaan barang/jasa dilakukan dengan Surat Perintah Kerja
(SPK);
c. Untuk pengadaan langsung barang yang nilainya sampai dengan Rp
10.000.000, (sepuluh juta rupiah) dapat dilakukan dengan
cara pembelian/pembayaran langsung kepada pihak Penyedia
B.4 Sistem Pengadaan Jasa Konsultansi.
Pengadaan jasa konsultansi memerlukan penyedia jasa berupa Badan
Usaha atau Perorangan.
1. Seleksi Umum
Seleksi umum dilakukan dengan pra-kualifikasi dan pada
prinsipnya penilaian kualifikasi atas dasar kompetensi dan kemampuan
usaha dengan jumlah peserta antara 5 (lima) sampai dengan 7 (tujuh)
penyedia jasa konsultansi.
2. Seleksi Terbatas
Proses seleksi terbatas pada prinsipnya sama dengan proses seleksi
umum kecuali dalam pengumuman dicantumkan kriteria peserta dan
nama-nama penyedia jasa konsultansi.
3. Seleksi Langsung
Seleksi Langsung dapat juga dilaksanakan dalam hal-hal seperti:
1. Pekerjaan diperlukan dalam waktu yang cepat;
2. Seleksi umum dinilai tidak efisien dari segi biaya dan waktu;
3. Seleksi terbatas dinilai tidak efisien dari segi biaya dan waktu;
4. Seleksi Langsung dinilai lebih efektif dan efisien.
4. Penunjukan Langsung
Untuk sistem pengadaan dengan penunjukan langsung dapat
dilaksanakan dalam hal sebagai berikut :
1. Pekerjaan spesifik, hanya dapat dilaksanakan oleh satu penyedia Jasa
2. Pekerjaan dalam keadaan khusus/darurat/emergency yaitu pekerjaan
yang kebutuhannya sangat mendesak dan tidak dapat ditunda-tunda
lagi berhubung dengan telah terjadinya bencana
alam/perang/kerusuhan, untuk menghindarkan terjadinya hal-hal yang
tidak diinginkan yang dapat mengancam jiwa manusia dan
menghindarkan kerugian PLN yang lebih besar serta untuk menjaga
citra perusahaan;
3. Pekerjaan lanjutan yang dilaksanakan oleh Penyedia Jasa Konsultansi
yang sama dan secara teknis diharuskan adanya homogenitas,
kontinuitas, kompatibel dengan pekerjaan sebelumnya serta dengan
mengacu kepada harga satuan kontrak yang sudah ada;
4. Pekerjaan tambah yang tidak dapat dielakkan dalam rangka
penyelesaian pekerjaan pengadaan, dengan ketentuan nilainya tidak
lebih dari 10 % (sepuluh persen) dari harga yang tercantum dalam
Kontrak dan dihitung berdasarkan harga satuan kontrak;
5. Pekerjaan studi/pemrosesan data oleh Perguruan Tinggi Negeri;
6. Pekerjaan penelitian/studi/pemrosesan data oleh Lembaga Afilisiasi
Perguruan Tinggi Negeri.
B. 5 METODE PENYAMPAIAN DOKUMEN PENAWARAN 1. Metode Satu Sampul
Metode ini lebih tepat digunakan untuk pengadaan Barang/Jasa
dengan metode pelelangan umum maupun pemilihan langsung yang bersifat
sederhana dan spesifikasi teknisnya jelas atau pengadaan dengan standar harga
a. Cara penyampaian penawaran dengan metode satu sampul yaitu:
1. Penyedia Barang/Jasa mengajukan penawaran yang dimasukkan ke dalam
satu sampul, yang mencakup semua persyaratan;
2. Penawaran mencakup surat penawaran yang dilengkapi dengan persyaratan
administrasi, teknis, dan perhitungan harga yang ditandatangani oleh
Penyedia Barang/Jasa;
3. Pada sampul luar hanya dicantumkan alamat Pengguna Barang/Jasa yang
menyelenggarakan pengadaan Barang/Jasa (yang mencantumkan : jenis
pekerjaan, tempat, hari, tanggal, bulan, tahun, jam pemasukan penawaran);
4. Harga penawaran dicantumkan dengan jelas dalam angka dan huruf;
5. Penawaran bersifat rahasia dan dilarang dikirim kepada anggota
Panitia/Pejabat pengadaan atau perseorangan, melainkan kepada alamat
sebagaimana disebutkan pada nomor 3 diatas;
6. Jika disampaikan secara langsung, maka penawaran harus dimasukkan oleh
peserta yang bersangkutan ke dalam tempat yang telah disediakan oleh
Panitia/Pejabat pengadaan;
7. Apabila penawaran disampaikan melalui pos, sampul tersebut pada nomor
3 diatas dimasukkan ke dalam sampul luar yang hanya mencantumkan
alamat pengguna Barang/Jasa yang mengadakan pengadaan Barang/Jasa
serta tempat, hari, tanggal, bulan, tahun, dan jam pemasukan;
8. Jika dokumen penawaran disampaikan melalui pos, panitia/pejabat
pengadaan mencatat tanggal dan jam penerimaannya. Dokumen
penawaran yangditerima setelah batas waktu pemasukan penawaran tidak
b. Pembukaan penawaran adalah sebagai berikut :
1. Panitia/Pejabat pengadaan melakukan pembukaan sampul penawaran di
hadapan para peserta pengadaan pada waktu yang telah ditetapkan.
Pertama sampul yang bertuliskan “Pengunduran diri” dicatat, berikutnya
pembukaan sampul penawaran, dibacakan serta dicatat;
2. Panitia/Pejabat pengadaan memeriksa, menunjukkan dan membacakan di
hadapan para peserta pengadaan mengenai kelengkapan penawaran, yang
terdiri atas :
a. surat penawaran mencantumkan masa berlaku penawaran;
b. surat penawaran bermaterai cukup dan ditandatangani.
2. Metode Dua Sampul
Metode ini digunakan dalam hal diperlukan evaluasi teknis yang
lebih mendalam untuk menjaga agar evaluasi teknis jangan sampai
terpengaruh oleh besarnya harga penawaran. Metode ini dapat digunakan
untuk pelelangan umum yang bersifat kompleks, pelelangan terbatas,
pemilihan langsung serta pengadaan IPP.
a. Cara penyampaian penawaran dengan metode dua sampul adalah sebagai berikut:
1. Sampul pertama berisi kelengkapan data administrasi dan teknis yang
disyaratkan dan pada sampul tertulis “Data Administrasi dan Teknis“;
2. Sampul kedua berisi data perhitungan harga penawaran dan pada sampul
ditulis “Harga Penawaran”;
3. Sampul pertama dan kedua dimasukkan ke dalam satu sampul (disebut
4. Sampul penutup mencantumkan alamat Pengguna Barang/Jasa yang
mengadakan Pengadaan Barang/Jasa, jenis pekerjaan, tempat, hari, tanggal,
bulan, tahun, dan jam pemasukan penawaran;
5. Harga penawaran dalam penawaran dicantumkan dengan jelas dalam angka
dan huruf;
6. Penawaran bersifat rahasia. Oleh sebab itu, dilarang dikirim kepada anggota
panitia pengadaan atau perseorangan, melainkan dimasukkan oleh peserta
yang bersangkutan ke dalam tempat yang telah disediakan oleh
panitia/pejabat pengadaan;
7. Penawaran disampaikan pada waktu yang telah ditentukan;
8. Apabila penawaran disampaikan melalui pos, sampul penutup yang berisi
sampul pertama dan sampul kedua dimasukkan dalam satu sampul, disebut
sampul luar;
9. Sampul luar hanya mencantumkan alamat pengguna Barang/Jasa yang
mengadakan pengadaan Barang/Jasa serta tempat, hari, tanggal, bulan,
tahun, dan jam pemasukan penawaran;
10. Penawaran yang diterima melalui pos, pada sampul luarnya diberi catatan
tanggal dan jam penerimaan. Penawaran yang diterima setelah batas akhir
pemasukan, tidak diikutsertakan dan dapat diambil kembali.
b. Pembukaan penawaran dengan metode dua sampul adalah sebagai berikut:
1. Panitia/Pejabat pengadaan membuka kotak dan sampul I di hadapan
peserta pengadaan. Sampul I yang berisi data administrasi dan teknis
2. Sampul II berisi data harga tidak boleh dibuka, dan sampulnya diparaf
oleh 2 wakil peserta pengadaan dan disimpan oleh panitia.
3. Metode Dua Tahap
Pada umumnya metode ini dilaksanakan untuk pengadaan
barang/jasa yang memerlukan keahlian khusus, berkaitan dengan
penggunaan teknologi tinggi, atau memiliki lingkup pekerjaan yang sangat
kompleks dan resiko tinggi, yang mempunyai beberapa alternatif
penggunaan sistem dan disain penerapan teknologi yang berbeda, sehingga
diperkirakan tidak banyak Penyedia Barang/Jasa atau Pabrikan yang
mempunyai kualifikasi dan pengalaman melaksanakan pekerjaan tersebut.
Terutama dalam pekerjaan yang memerlukan analisa harga yang sangat detail
dan kompleks serta memerlukan waktu yang cukup lama.
Tahap pertama I adalah memilih atau menilai peserta pengadaan
dengan jalan melakukan evaluasi teknis dan administrasi pada penawaran
pertama, sehingga didapat hasil yang cukup meyakinkan pihak Pengguna
Barang/Jasa bahwa peserta pengadaan yang lulus pada tahap I adalah peserta
yang “qualified”. Sedangkan pada tahap II faktor yang paling dominan adalah
harga penawaran.
1. Tahap Pertama (I)
a. Pemasukan penawaran :
1. Pada tahap pertama Penyedia Barang/Jasa mengajukan persyaratan
administrasi dan teknis sebagaimana disyaratkan dalam dokumen
2. Pada sampul tahap I hanya dicantumkan alamat Pengguna barang/jasa
yang mengadakan pengadaan barang/jasa dan kata-kata “dokumen
penawaran pengadaan barang/jasa tahap I (yang mencantumkan :
jenis, tempat, hari, tanggal, bulan, tahun, jam pemasukan)”;
3. Sampul luar hanya memuat alamat Pengguna Barang/jasa yang
mengadakan pengadaan barang/jasa serta tempat, hari, tanggal, bulan,
tahun, dan jam pemasukan;
4. Apabila penawaran disampaikan melalui pos, sampul pertama
dimasukkan dalam satu sampul, disebut sampul luar;
5. Dokumen penawaran yang diterima melalui pos, pada sampul luarnya
diberi catatan tanggal dan jam penerimaan;
6. Dokumen penawaran yang diterima setelah batas akhir pemasukan,
tidak diikutsertakan dan diberitahukan kepada peserta yang
bersangkutan untuk diambil kembali.
b. Pembukaan penawaran :
1. Pada tahap pertama, Panitia pengadaan melakukan pembukaan sampul
di hadapan peserta pengadaan, Sampul yang berisi data administrasi
dan teknis dibuka satu persatu, dibacakan serta dicatat dan dijadikan
lampiran berita acara pembukaan penawaran sampul I.
2. Panitia pengadaan memeriksa, menunjukkan dan membacakan di
hadapan para peserta pelelangan mengenai kelengkapan penawaran,
yang terdiri atas :
a. Surat penawaran yang di dalamnya tercantum masa berlaku
b. Jaminan penawaran asli;
c. Dokumen penawaran teknis dan dokumen pendukung lainnya yang
disyaratkan dalam dokumen pengadaan barang/jasa yang telah
ditentukan.
2. Tahap Kedua (II)
a. Pemasukan penawaran :
1. Calon Penyedia Barang/Jasa, yang telah dinyatakan lulus oleh panitia
pengadaan pada evaluasi tahap pertama, diminta memasukkan surat
penawaran harga yang dimasukan ke dalam sampul tertutup;
2. Surat penawaran harga tersebut dilampiri rincian analisis biaya dan
syarat lainnya yang telah disepakati pada tahap pertama;
3. Harga penawaran dalam surat penawaran dicantumkan dengan jelas
dalam angka dan huruf;
4. Penawaran bersifat rahasia dan hanya ditujukan kepada alamat yang
telah ditetapkan;
5. Penawaran disampaikan pada waktu yang telah ditentukan dan
dimasukkan ke dalam tempat tertutup;
6. Penawaran yang diterima setelah batas akhir pemasukan, tidak
diikutsertakan dan diberitahukan kepada peserta yang bersangkutan untuk
mengambil kembali dokumen penawarannya;
7. Apabila penawaran disampaikan melalui pos, sampul kedua
dimasukkan dalam satu sampul, disebut sampul luar. Sampul luar
hanya memuat alamat Pengguna Barang/Jasa, tempat, hari, tanggal,
b. Pembukaan penawaran :
Pada tahap kedua, peserta pengadaan yang telah dinyatakan
lulus persyaratan teknis dan administrasi diminta menyampaikan
penawaran harga. Pembukaan penawaran harga dibuka pada tempat
dan waktu yang sudah ditentukan dihadapan segenap penawar dan
panitia. Panitia/Pejabat Pengadaan menyiapkan catatan pembukaan
penawaran yang mencakup nama penawar, harga penawaran, diskon
(bila ada) dan penawaran alternatif bila ada. Wakil Penawar/Penyedia
Barang/Jasa yang hadir diminta untuk menandatangani bukti pencatatan
tersebut.
B.6 PENETAPAN PEMENANG PENGADAAN
a. Calon Penyedia Barang/Jasa dengan harga evaluasi terendah yang diusulkan
sebagai pemenang Pengadaan Barang/Jasa yang nilainya sampai dengan Rp
50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah), ditetapkan sebagai pemenang
pengadaan oleh General Manager/Kepala tanpa harus mendapatkan
persetujuan dari Direksi.
b. Calon Penyedia Barang/Jasa dengan harga evaluasi terendah yang diusulkan
sebagai pemenang Pengadaan Barang/Jasa yang nilainya diatas Rp
50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah), sebelum ditetapkan sebagai
pemenang pengadaan oleh General Manager/Kepala harus mendapatkan
persetujuan terlebih dahulu dari Direksi.
c. Dalam hal Direksi atau General Manager/Kepala tidak sependapat
dengan usulan Panitia Pengadaan, maka Direksi atau General