Carrying Capacity of Coral Reef Ecosystem for Marine Tourism in Biawak Island Waters and Its Surrounding Area, Indramayu District West Java Province

85 

Teks penuh

(1)

SUKENDI DARMASYAH

SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa Tesis Daya Dukung Ekosistem Terumbu Karang Untuk Wisata Bahari di Perairan Pulau Biawak dan Sekitarnya, Kabupaten Indramyu – Jawa Barat adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, September 2010

Sukendi Darmasyah

(3)

Marine Tourism in Biawak Island Waters and Its Surrounding Area, Indramayu District- West Java Province. Supervised and under direction of ARIO DAMAR and YUSLI WARDIATNO

Coastal and marine tourism has become a big business which is a significant part of the growing global tourist industry. Marine tourism activity, namely diving tourism is very important and is international tourism market. Increased activity of diving tourism if not managed in a sustainable manner will cause damage to coral reefs as its object. The main goals of this research are: 1) Identify the biophysical conditions of coral reef for marine tourism, 2). To analyze the coral reef’s carrying capacity for diving tourism development, 3) Formulating the strategic direction of diving tourism development based on the biophysical carrying capacity of coral reef. The survey was conducted at 5 sites with each site into 3 and 10 m depth, percentage of live coral cover using the Line Intercept Transect (LIT) method, shows that life cover coral is ranging from 22.73% to 45.72% of the sites. The composition of reef fishes community using the Underwater Visual Census (UVC) is 18 families with 85 species of reef fishes. All sites are suitable to be developed for diving tourism areas. The Carrying Capacity of area for diving tourism is ranging from 10 until 17 people per/day. From 30 images with Scenic Beauty Estimation (SBE) values are 17 types of high category, while 12 species are medium category and 1 species is low category. Residents and visitors alike have a positive view for the marine tourism development. They would like to see the conservation of the coral reef and economic benefits.

(4)

SUKENDI DARMASYAH, Daya Dukung Ekosistem Terumbu Karang untuk Wisata Bahari di Perairan Pulau Biawak dan Sekitarnya, Kabupaten Indramayu – Jawa Barat. Dibimbing oleh ARIO DAMAR dan YUSLI WARDIATNO

Terumbu karang memiliki berbagai manfaat yang sangat besar dan beragam, baik secara ekologi maupun ekonomi. Salah satu pemanfaatan tidak langsung dari ekosistem terumbu karang yang relatif lebih ramah lingkungan adalah kegiatan pariwisata, yaitu wisata bahari (khusunya wisata selam).

Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) mengetahui kondisi biofisik terumbu karang terkait sebagai daerah wisata selam, 2) menganalisis kesesuaian kawasan dan daya dukung biofisik terumbu karang untuk pengembangan wisata selam, dan 3) merumuskan arahan strategi pengembangan wisata selam berdasarkan daya dukung biofisik terumbu karang.

Kondisi terumbu karang pulau Biawak dan sekitarnya dengan menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT) diperoleh total persentase tutupan karang hidup berkisar antara 22.73% - 47.72% . Seluruh stasiun penelitian umumnya dalam kondisi “sedang” (25 – 49.9%), dan dua lokasi dalam kondisi “rusak” (0 – 24.9 %) yaitu di stasiun 3 (sebelah utara pulau Biawak) pada kedalaman 10 meter dan stasiun 5 (pulau Candikian) pada kedalaman 3 meter.

Analisis penilaian kesesuaian kawasan wisata bahari kategori selam memperlihatkan bahwa seluruh stasiun masuk dalam kategori sesuai (suitable) karena nilai IKW berada pada kisaran 50 - < 83%. Adapun total nilai skor tertinggi berada pada stasiun 1 dan 4 kedalaman 10 meter dengan nilai IKW 70.37%, terendah berada pada stasiun 4 kedalaman 3 meter dengan nilai IKW 50%. Nilai DDK wisata bahari kategori selam berkisar antara 10 orang/hektar sampai dengan 17 orang/hektar.

Hasil analisis Visual Objek wisata bahari dengan metode Scenic Beauty Estimation (SBE), kategori tinggi ada 17 jenis, sedang 12 jenis dan rendah 1 jenis.

Nilai SBE tertinggi dari jenis ikan karang Chepalopholis sp sebesar 109.67,

terendah dari jenis OT (Diadema sp) sebesar 0,00. Untuk jenis life-form karang tertinggi diduduki oleh ACB (Acropora sp) dengan nilai SBE 101.34.

Hasil analisis SWOT diperoleh arahan strategi pengelolaan kawasan wisata bahari sebagai berikut: 1) pemanfaatan dan pengelolaan terumbu karang sebagai kawasan wisata bahari kategori selam secara optimal, 2) pengelolaan kawasan wisata bahari dengan berbagai upaya pencegahan kerusakan ekosistem terumbu karang, 3) mengembangkan system informasi dan kelembagaan serta meningkatkan sarana dan prasarana pengelolaan wisata bahari, dan 4) menjalankan dan menegakkan hukum dan perundang-undangan yang berlaku

(5)

@ Hak Cipta milik IPB, tahun 2010 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya.

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah;

b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

(6)

Nama : Sukendi Darmasyah

NRP : C252080164

Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Ario Damar, M.Si Ketua

Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S

(7)
(8)
(9)

karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan penelitian

yang berjudul “Daya Dukung Ekosistem Terumbu Karang untuk Wisata Bahari

di Perairan Pulau Biawak dan Sekitarnya, Kabupaten Indramayu – Jawa Barat” yang disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan lautan Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Penulis sudah berusaha semaksimal mungkin dalam menyelesaikan penulisan laporan penelitian ini, namun tidak menutup kemungkinan masih banyak kekurangan yang membutuhkan masukan baik berupa kritik maupun saran yang bersifat membangun dari semua pihak.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: Bapak Dr. Ir. Ario Damar, M.Si. dan Bapak Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc. yang telah membimbing dan memberikan arahan dan saran dalam penelitian dan penulisan tesis ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA selaku Ketua Program Studi, Ibu Sri Kholiyasih, SE serta seluruh dosen dan staf SPL yang telah banyak memberikan kemudahan penulis dalam menyelesaikan pendidikan.

Penulis juga sampaikan terima kasih kepada Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Bapak Ir. H.A. Rosyid Hakim, Ka. BAPPEDA Bapak Ir. Apas Fahmi Permana, Anggota DPRD Bapak Syaifudin dan Bapak Letkol (purn) Drs. Didi Royandi, SH, Bapak Oni, S.hut, Bapak Engkos, Bapak Tashid, masyarakat desa Brondong dan Karang Song yang telah banyak membantu kelancaran penelitian.

Akhir kata penulis ucapkan terima kasih kepada Direktur COREMAP II Bapak. Ir. Agus Darmawan, M.Si, Sekretaris Eksekutif Bapak Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc, seluruh staf COREMAP II , rekan-rekan mahasiswa Sandwich COREMAP II World Bank Program Studi Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Bogor, September 2010

(10)

Penulis dilahirkan di Indramayu-Jawa Barat pada tanggal 3 Pebruari 1967 dari ayah Abandi Darmasyah dan ibu Kalimah, merupakan putera pertama dari dua bersaudara.

Tahun 1988 penulis lulus dari SMA Negeri Kandanghaur Kabupaten Indramayu dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk Universitas Riau melalui jalur Penulusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) Universitas Riau Program Studi Ilmu Kelautan.

(11)

Halaman

2.3 Konsep Daya Dukung Kawasan Pariwisata ………. 11

3 METODOLOGI ……… 15

3.5.5 Analisis nilai visual objek wisata bahari (SBE) ………… 25

3.5.6 Analisis SWOT untuk strategi pengelolaan ……….. 26

4 HASIL DAN PEMBAHASAN ………... 27

(12)

5 KESIMPULAN DAN SARAN ……… 52

5.1 Kesimpulan ……….. 53

5.2 Saran ….……..………... 53

DAFTAR PUSTAKA ………. 54

LAMPIRAN ………... 56

(13)

Halaman

1 Nilai ekonomi terumbu karang ………. 9

2 Jenis dan sumber data penelitian ... 17

3 Parameter lingkungan dan alat ukur ………. 18

4 Komponen dasar penyusun ekosistem terumbu karang berdasarkan

life-form dan kodenya ……… 19

5 Matrik kesesuaian wisata bahari kategori selam ……… 22

6 Potensi ekologis pengunjung (K) dan luas area kegiatan (Lt) ……… 24

7 Prediksi waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata ……. 25

8 Matrik perhitungan nilai SBE ……… 26

9 Parameter lingkungan perairan pada masing-masing stasiun ……… 33

10 Perhitungan nilai SBE ……… 37

11 Nilai SBE dari setiap jenis life-form/biota yang ada di terumbu

karang dan lokasi life-form/biota tersebut dijumpai ……….. 38

12 Bobot, rangking, dan skoring unsur internal kawasan wisata selam

di Perairan Pulau Biawak dan sekitarnya ……….. 44

13 Bobot, rangking, dan skoring unsur eksternal kawasan wisata

selam di Perairan Pulau Biawak dan sekitarnya ……… 45

14 Formulasi arahan strategi pengelolaan kawasan wisata bahari di

Perairan Pulau Biawak dan sekitarnya ……….. 46

15 Matrik hasil analisis SWOT ………../ 46

(14)

Halaman

1 Kerangka pemikiran penelitian: Daya dukung ekosistem

terumbu karang untuk wisata bahari kategori di perairan

Pulau Biawak dan sekitarnya ………. 5

2 Peta lokasi penelitian ………. 16

3 Metode LIT dan UVC ………. 20

4 Persentase tutupan karang tahun 2003 dan 2010 ………... 30

5 Persentase tutupan karang pada masing-masing stasiun penelitian ………... 31

6 Persentase sebaran kelompok ikan karang pada masing-masing stasiun pengamatan ………... 31

7 Kelimpahan ikan karang pada masing-masing stasiun pengamatan ………... 32

8 Analisis kesesuaian kawasan wisata bahari kategori selam ……….. 33

9 Nilai daya dukung kawasan untuk wisata bahari kategori selam pada masing-masing stasiun pengamatan ………... 36

(15)

Halaman

1 Data tutupan substrat dasar ………. 59

2 Karang batu yang ditemukan di stasiun penelitian berdasarkan bentuk pertumbuhan (life-form)... 60

3 Distribusi kehadiran kelompok ikan indikator pada stasiun pengamatan ………. 62

4 Distribusi kehadiran kelompok ikan target pada stasiun pengamatan ………. 63

5 Kelimpahan ikan ……… 65

6 Indeks kesesuaian wisata bahari kategori selam ……… 73

7 Perhitungan daya dukung kawasan ……… 74

8 Daftar rekapitulasi kuisioner SBE ……….. 75

9 Foto biota/life-form terumbu karang pada kuesioner SBE ………. 76

10 Perhitungan nilai SBE ………. 82

(16)

1.1. Latar Belakang

Terumbu karang merupakan salah satu komponen utama sumberdaya pesisir dan laut, disamping hutan mangrove dan padang lamun. Terumbu karang adalah struktur di dasar laut berupa deposit kalsium karbonat yang dihasilkan terutama oleh hewan karang. Sedangkan karang adalah hewan tak bertulang belakang yang

termasuk dalam Filum Coelenterata (hewan berongga) atau Cnidaria. Yang

disebut sebagai karang (coral) mencakup karang dari Ordo Scleractinia dan Sub

Kelas Octocoralia (kelas Anthozoa) maupun kelas Hydrozoa. Ekosistem terumbu

karang dan segala kehidupan yang ada di dalamnya merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Indonesia merupakan segitiga terumbu karang dunia (The Coral Triangle), tempat bagi sekitar 1/8 dari terumbu karang dunia dan merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman biota perairan dibanding dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Indonesia memiliki sekitar 18% terumbu karang dunia, dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia (dengan lebih dari 18% terumbu karang dunia, serta lebih dari 2500 jenis ikan, 590 jenis karang batu, 2500 jenis Moluska, dan 1500 jenis udang-udangan).

Ekosistem terumbu karang sangat produktif dan memiliki peranan penting bagi kelangsungan kehidupan baik di laut maupun di darat. Secara ekologi

terumbu karang menjadi tempat mencari makan (feeding grounds), tempat

berkembang biak (breeding grounds), daerah asuhan (nursery grounds), dan

tempat berlindung berbagai jenis ikan dan avertebrata laut lainnya (Wilkinson

1993; Sp.alding et al. 2001). Disisi lain terumbu karang juga merupakan

ekosistem yang sangat sensitif dan rentan terhadap perubahan kondisi lingkungan secara fisik, kimia, maupu n biologi.

(17)

yang terkandung di dalamnya. Sedangkan dalam pemanfaatan tidak langsung adalah seperti fungsi terumbu karang sebagai penahan abrasi pantai, keanekaragaman hayati dan lain sebagainya.

Besarnya manfaat dan potensi terumbu karang menjadi daya tarik dari berbagai pihak untuk memanfaatkannya. Berbagai industri atau perusahaan yang terkait dan terlibat dalam pemanfaatan terumbu seperti : industri perikanan, perhubungan, pertambangan, farmasi, pendidikan dan pariwisata. Secara ekonomi, luasan dan kondisi terumbu karang Indonesia dapat memberikan keuntungan

bersih yang cukup besar, yaitu US$ 14.035 juta/km2

Salah satu kegiatan pemanfaatan terumbu karang yang relatif lebih ramah lingkungan adalah kegiatan pariwisata, Wisata alam atau pariwisata ekologis adalah perjalanan ketempat-tempet alami yang relatif masih belum terganggu atau terkontaminasi (tercemar) dengan tujuan untuk mempelajari, mengagumi dan menikmati pemandangan, tumbuh-tumbuhan dan satwa liar, serta bentuk-bentuk manifestasi budaya masyarakat yang ada, baik dari masa lampau maupun masa kini (Hector Ceballos-Lascurain 1987). Ekowisata adalah perjalanan yang bertanggung jawab ketempat-tempat yang alami dengan menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahtraan penduduk setempat (TIES 1990).

(Cesar 1997 in Burke et al. 2004). Terumbu karang di Indonesia memberikan keuntungan pendapatan sebesar US$ 1.6 milyar/tahun. Nilai keseluruhan pelayanan dan sumber dayanya sendiri diperkirakan mencapai setidaknya US$ 61.9 milyar/tahun.

Aktivitas wisata ini terkait erat dengan keberadaan dan kondisi terumbu karang yang menjadi objek kegiatan wisata. Wisata selam memanfaatkan keindahan, keunikan, keanekaragaman dan kealamiahan terumbu karang sebagai daya tariknya (Davis dan Tisdell 1995a). Kegiatan wisata bahari memiliki nilai keuntungan ekonomi paling tinggi dalam pemanfaatan terumbu karang jika pemanfaatannya secara lestari dibanding sektor lain, yaitu US$ 23,100 - US$ 270,000 per km2

Davis dan Tisdell (1995a) menyatakan bahwa aktivitas selam merupakan aktivitas yang paling pesat pertumbuhannya sepanjang sejarah pariwisata. Hal ini disebabkan karena aktivitas tersebut merupakan gabungan antara olahraga, wisata

(18)

dan pendidikan, serta mudah dan sederhana dalam melakukannya. Aktivitas selam juga menjadi pundi-pundi ekonomi bagi para pengusaha pariwisata.

Wisata selam mendorong pertumbuhan sektor perikanan dan pertanian sebagai pensuplai bahan konsumsi wisatawan, begitu juga dengan sektor perdagangan dan perhubungan (penyedia kapal atau sampan) sebagai pendukung keberlanjutan pariwisata. Wisata selam membuka lapangan pekerjaan baru di berbagai sektor yang dapat menyerap banyak pekerja dan memegang peranan penting dalam pembangunan perekonomian wilayah (Davis dan Tisdell 1995b).

Banyaknya pihak atau sektor yang terlibat dalam pemanfaatan ekosistem terumbu karang menyebabkan seringkali terjadi konflik dalam pemanfaatan baik yang bersifat horizontal maupun vertikal. Pada akhirnya berdampak langsung dan tidak langsung mengancam keseimbangan dan keberlanjutan ekosistem terumbu karang tersebut (Kunzmann 2001). Hal ini terbukti dari hasil monitoring terumbu karang Asia Tenggara bahwa 85% kerusakan terumbu karang disebabkan oleh aktivitas manusia dan sisanya merupakan dampak alami (Burke et al. 2004). Oleh karena itu diperlukan suatu kegiatan pemanfaatan yang dapat mengintegrasikan berbagai pemanfaatan terumbu karang sehingga dapat menjamin kelestarian terumbu karang dan keberlanjutan pemanfaatannya (Hawkins et al. 2005).

Beberapa studi melaporkan bahwa wisata selam menyebabkan kerusakan terumbu karang secara fisik, bilogis dan kimia (kehancuran karang, pemutihan karang atau bleaching, tergores dan patahnya fragmen karang) (Hawkins dan

Robert 1992; Milazzo et al. 2002; Zakai dan Chadwaick-Furman 2002; Anthony

et al. 2004). Kerusakan tersebut akan mengakibatkan penurunan produktivitas, keanekaragaman dan kelimpahan biota penyusun ekosistem terumbu karang (Burke et al. 2004; Davis 1995; Kunzmann 2001).

Degradasi ekosistem terumbu karang cepat atau lambat akan mengancam keberlanjutan aktivitas wisata selam serta perekonomian kawasan pada umumnya

(Hawkins et al. 2005). Hal ini mendorong perlunya suatu strategi perencanaan

(19)

karang sebagai objek wisata. Daya dukung biofisik merupakan kemampuan ruang dan lingkungan suatu sumberdaya untuk menampung sejumlah aktivitas pemanfaatan tanpa mengurangi atau mengganggu keberlanjutan sumberdaya alam tersebut (WTO 1981 in Lim LC. 1998).

1.2. Kerangka Pemikiran

Kegiatan wisata selam dewasa ini berkembang cukup pesat dan merupakan sumber pundi-pundi ekonomi yang sangat besar. Akan tetapi apabila tidak dikelola dengan baik sesuai dengan daya dukung kawasan terutama daya dukung biofisik terumbu karang, maka secara langsung maupun tidak langsung akan menyebabkan degradsi atau kerusakan hingga kepunahan terumbu karang.

Potensi sumberdaya alam di Pulau Biawak dan sekitarnya terdiri dari komunitas terumbu karang, ikan karang, hutan bakau (mangrove), padang lamun, dan biota yang menjadi ciri khas Pulau Biawak yaitu biawak ((Varanus salvator ). Pulau Biawak dan sekitarnya, masuk kategori Kawasan Wisata Laut. Penetapan status kawasan dimaksud bertujuan untuk pelestarian alam (konservasi), peningkatan pendapatan masyarakat setempat dan peningkatan pendapatan daerah.

Pulau Biawak tersusun dari batu-batu karang dan hancuran batu karang, pasir putih/kersik lumpur dan humus terutama dijumpai di bagian Barat Laut dan

Utara dan merupakan hutan bakau dengan Bruguiera sp.. yang berakar jangkar

pendek. Formasi geologi wilayah pesisir pantai utara Indramayu tersusun atas batuan sedimen yang terdiri dari campuran hancuran bahan literit serta jenis batuan pliocene sedimentary facies serta aluvium.

Degradsi terumbu karang yang akan timbul di gugusan perairan Pulau Biawak dan sekitarnya apabila dijadikan kawasan wisata selam secara cepat atau lambat akan mempengaruhi aktivitas wisata selam itu sendiri maupun aktivitas perekonomian kawasan tersebut secara umum.

(20)

Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian: Daya dukung ekosistem terumbu karang untuk wisata bahari kategori selam di perairan Pulau Biawak dan sekitarnya.

Pendekatan Sosial Ekonomi Masyarakat

Barang Jasa

Potensi Ekonomi

Wisata Bahari Ketegori

Selam

Ekosistem Terumbu Karang

Peranan dan Fungsi Ekologi Permasalahan

1. Kondisi kekinian biofisik terumbu karang di perairan Pulau Biawak dan sekitarnya 2. Kesesuaian kawasan dan daya dukung

biofisik terumbu karang untuk kawasan wisata bahari kategori selam

3. Strategi pengembangan wisata selam berdasarkan daya dukung biofisik

Pendekatan Biofisik Terumbu Karang

Analisis Kesesuaian dan Daya Dukung Kawasan

(DDK)

Analisis Persepsi dan Nilai Visual Objek Wisata (SBE)

Rencana Pengelolaan Kawasan Wisata Bahari Kategori Selam

Strategi Pengembangan Wisata Bahari Kategori Selam yang berkelanjutan berdasarkan Daya

(21)

1.3. Rumusan Permasalahan

Wilayah Kabupaten Indramayu yang memiliki luas daratan + 204,000 hektar berhadapan langsung dengan garis pantai sepanjang 114 km, dari gambaran

tersebut Kabupaten Indramayu memiliki keanekargaman hayati (biodiversity)

yang tinggi sehingga mutlak untuk dilindungi, salah satunya sumberdaya alam yang terdapat di kabupaten Indramayu adalah sumberdaya alam di perairan Pulau Biawak dan sekitarnya. Upaya pengelolaan dan pengembangan kawasan Pulau Biawak dan sekitarnya harus dilakukan secara terpadu dan terkoordinasi dengan strategi kebijakan pembangunan daerah. Dengan mengarah pada kebijakan pembangunan berwawasan lingkungan maka perlu dilakukan upaya perencanaan

dan pengelolaan kawasan konservasi laut (marine protected area) Pulau Biawak

secara sistematis dan berkesinambungan.

Pulau Biawak saat ini menjadi salah satu tujuan wisata unggulan Kabupaten Indramayu dengan beberapa pertimbangan antara lain; pertama kondisi terumbu karangnya relatif masih baik dan serupa dengan strukutur terumbu karang Karimun Jawa di Jawa Tengah dan beberapa objek wisata alam lain seperti biawak, hutan mangrove dan mercusuar peninggalan penjajahan Belanda.

Kepulauan Biawak, itulah nama pulau karang yang banyak menyimpan potensi bahari. Kepulauan Biawak, merupakan satu dari tiga gugusan pulau yang ada di wilayah perairan pantai utara (Pantura) Kabupaten Indaramyu. Dua pulau lainnya, yaitu Pulau Candikian dan Pulau Gosong. Pulau itu memiliki pesona wisata yang unik, karena karangnya yang masih “perawan “ dan hidup, memiliki luas dataran karang sekitar 1560 hektar dan pantainya berpasir. Di antara ketiga pulau itu, hanya Pulau Biawak yang masih utuh dalam segalanya. Sedangkan dua pulau lainnya hanya berupa hamparan pulau karang semata.

(22)

melalui buklet yang disebar kepada agen-agen dan biro wisata di kota-kota besar. Bahkan, dalam setiap promosi selalu diperkenalkan objek-objek wisata yang menjadi andalan Kabupaten Indramayu. Sebagai tempat wisata konservasi, juga sudah menawarkan kepada Kementerian Pariwisata dan JICA. Daya tarik yang ada mendorong pihak Pemkab sudah melakukan penawaran kepada asosiasi olahraga selam yang ada di Jakarta untuk mendukung rencana pengembangan kawasan wisata bahari..

Dari kondisi tersebut, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang terkait dengan daya dukung ekologi (khususnya kondisi biofisik) sebagai kawasan wisata bahari, yang perlu dikaji dan dicari solusi pemecahannya, antara lain :

1) Kondisi kekinian biofisik terumbu karang di perairan Pulau Biawak dan

sekitarnya.

2) Kesesuaian kawasan dan daya dukung biofisik terumbu karang untuk kawasan

wisata bahari kategori selam.

3) Strategi pengembangan wisata selam ke depan berdasarkan daya dukung

biofisik dengan tetap menjaga kelestarian terumbu karang.

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk:

1) Mengetahui kondisi biofisik terumbu karang terkait sebagai daerah wisata

selam di perairan Pulau Biawak dan sekitarnya.

2) Menganalisis kesesuaian kawasan dan daya dukung biofisik terumbu karang

untuk pengembangan wisata selam di kawasan tersebut.

3) Merumuskan arahan strategi pengembangan wisata selam berdasarkan daya

dukung biofisik terumbu karang.

1.5. Manfaat Penelitian

(23)
(24)

2.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Terumbu Karang

Terumbu karang terbentuk dari endapan-endapan masif kalsium karbonat

(CaCO3

Terumbu karang Indonesia tergolong yang terkaya di dunia dengan kandungan hayati laut yang luar biasa. 51% terumbu karang di Asia Tenggara, dan 18% terumbu karang dunia berada di perairan Indonesia. Saat ini, lebih dari 480 jenis karang batu di dunia yang telah berhasil dideskripsikan (Hopley dan Suharsono 2000). Keanekaragaman tertinggi ikan karang di dunia ditemukan di Indonesia, dengan lebih dari 1650 jenis hanya untuk wilayah Indonesia bagian timur saja (Dahuri 2000 in Burke et al. 2004).

) yang dihasilkan oleh organisme karang pembentuk terumbu (hermatifik)

yang disebut polyp dari filum Cnidaria, ordo Scleractinia yang hidup

bersimbiosis dengan Zooxanthellae dan organism lain yang mengekskresikan

kalsium karbonat (Barnes et al. 1971).

Ekosistem terumbu karang juga dikenal dengan ekosistem yang paling sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan yang ada baik akibat manusia atau secara alami. Perubahan lingkungan akan mempengaruhi kondisi terumbu karang dan penyebarannya. Perubahan lingkungan dapat berupa fisik, kimia, dan biologi. Faktor fisik-kimia yang menjadi pembatas kehidupan terumbu karang adalah

cahaya matahari, terkait dengan kedalaman (0-30 meter), suhu (25-32 o

Ekosistem terumbu karang adalah ekosistem yang paling kompleks dan paling prduktif, serta ekosistem yang atraktif bila dibandingkan dengan ekosistem lain di dunia (Spurgeon 1992) . Berbagai organism hidup dan berasosiasi di terumbu karang; mikroorganisme, ikan, moluska, krustasea, ekinodermata, dan

berbagai jenis alga. Terumbu karang merupakan tempat mencari makan (feeding

grounds), berkembang biak (breeding grounds), mengasuh (nursery grounds), dan berlindung (protecting grounds) berbagai jenis ikan dan avertebrata lain (Stoddart 1969; Odum 1971).

(25)

Secara ekonomi terumbu karang memegang peranan penting dan sangat potensial terutama bagi sektor perikanan, pariwisata dan kesehatan karena diperkirakan lebih dari 12% perikanan dunia merupakan perikanan karang (Lim 1998; Hopley dan Suharsono 2000). Terumbu karang juga menjadi daya tarik utama dalam sektor pariwisata bahari terutama wisata selam. Karena dari berbagai studi melaporkan lebih dari 40% wisatawan dunia melakukan penyelaman (Davis dan Tisdell 1995a; Green et al. 2003). Cesar (1997) in Burke et al. (2004) nilai ekonomi terumbu karang seperti dalam Tabel 1.

Tabel 1. Nilai ekonomi terumbu karang Penggunaan Sumberdaya

Pariwisata dan rekreasi 100-1000 ind. 700 – 111,000

Nilai estetika dan keanekaragaman hayati

600-2000 ind. 2,400 – 8,000

Total (untuk perikanan dan perlindungan pantai) 20,000 – 151,000

Total (untuk potensi pariwisata dan estetika) 23,100 – 270,000

Sumber : Cesar (1997) in Burke et al. (2004).

2.2. Wisata Bahari Kategori Selam

Kegiatan wisata bahari, yaitu wisata selam sangat penting dan merupakan pasar wisata internasional. Tabata (1992) dan Dignam (1990) mengidentifikasi bahwa penyelaman merupakan olah raga yang paling cepat perkembangannya di dunia, bersamaan dengan itu juga semakin banyaknya pelayanan perjalanan untuk wisata penyelaman sebagai salah satu asp.ek olah raga. Data pertumbuhan ini

diambil dari data jumlah peserta pelatihan penyelaman di Professional

(26)

1967 sampai dengan Pebruari 1994 terdapat lebih dari 5,000,000 orang peserta yang bersertifikat.

Kecepatan pertumbuhan wisata selam karena selam merupakan kombinasi olahraga, wisata dan pengetahuan serta didukung oleh relatif murahnya harga perlengkapan selam (Davis dan Tisdell 1995b). Menurut Davis dan Tisdell (1995a), ada dua pertanyaan yang sangat penting untuk menilai meningkatnya permintaan (demand) akan wisata selam, yaitu :

a) Mengapa orang senang atau mau melakukan wisata selam?

b) Faktor penting apa sehingga orang memilih lokasi tertentu untuk melakukan

penyelaman?

Dari beberapa hasil studi juga dilaporkan bahwa faktor yang menyebabkan orang atau wisatawan senang melakukan wisata selam adalah :

a) Keinginan untuk berpetualangan di dunia liar perairan. b) Pada umumnya menyukai (interest) pada ekologi laut.

c) Secara umum melihat (image) bahwa olahraga ini beda dan sangat sp.esial. d) Karena faktor menyukai geologi laut, atau kehidupan laut.

e) Hobi fotografi bawah laut.

f) Sederhana atau mudah untuk melakukannya (terkait dengan perlengkapan).

g) Bisa mendapatkan penghargaan dengan adanya petualangan yang cukup

beresiko.

Pesatnya perkembangan wisata bahari khusus penyelaman memberikan kontribusi ekonomi yang cukup besar dalam sejarah pariwisata. Di Carribean setiap penyelaman dihasilkan US$ 2-3/orang. Tiap tahun diperkirakan total pemasukan US$ 1-2 juta (Green et al. 2003). Peningkatan aktivitas wisata selam jika tidak dikelola secara lestari akan menyebabkan kerusakan terumbu karang sebagai obyeknya. Beberapa studi melaporkan bahwa aktifitas penyelaman menyebabkan kerusakan, hancurnya fragmen terumbu karang (Hawkins dan

Roberts 1992; Milazzo et al. 2002; Zakai dan Chadwick-Furman 2002).

Hubungan signifikanantara itensitas penyelaman dengan tingkat

(27)

keanekaragaman sp.esies, menurunnya fisibilitas lokasi penyelaman dan lain sebagainya (Dixon et al. 1993).

Perubahan yang sangat dramatis terjadi pada ekosistem terumbu karang akibat aktivitas rekreasi ditambah dengan sistem manajemen yang kurang baik sehingga faktor perusak menjadi semakin terakumulasi. Manajemen untuk mengidentifikasi dan mengurangi penyebab kerusakan akan lebih efektif dibandingkan dengan pembatasan wilayah pemanfaatan sangat diperlukan

(Rouphael et al. 1997), yaitu suatu manajemen yang dapat memadukan antara

kebutuhan ekonomi dengan kelestarian ekologi dalam pengelolaan wisata selam, sehingga dapat menjamin keberlanjutannya.

Menurut Davis dan Tisdell (1995a), gambaran bersama mengenai ekonomi dengan ekologi wisata selam di kawasan konservasi ada beberapa pertimbangan yang muncul, antara lain :

a) Sumberdaya alam kawasan konservasi merupakan milik publik dan tidak

dapat diperjual belikan.

b) Lokasi penyelaman merupakan salah satu faktor penentu besarnya permintaan.

c) Batas kritis kemampuan kawasan konservasi ditandai dengan terjadinya

kerusakan ekologi, adanya resp.on wisatawan penyelam terhadap kelebihan jumlah penyelam (terlalu padat atau banyak) dan berkurangnya nilai kenyamanan.

d) Kemampuan konsumen untuk membayar tergantung dari lokasi penyelaman.

Hubungan antara batasan kritis dengan kemauan untuk membayar konsumen merupakan suatu pertanyaan bagaimana mengatur penyelaman agar mencapai efisiensi lokasi pemanfaatan sumberdaya (artinya memaksimalkan keuntungan sosial setiap lokasi yang digunakan untuk menyelam) (Davis dan Tisdell 1995b; Hawkins et al. 2005).

2.3. Konsep Daya Dukung Kawasan Pariwisata

Daya dukung suatu kawasan pariwisata adalah jumlah pengunjung (wisatawan) suatu kawasan yang dapat diakomodasikan dengan tingkat kepuasan

pengunjung yang tinggi dan berdampak minimal pada sumberdaya (WTO 1992 in

Lim 1998). Sedangkan Bengen et al. (2002) mengemukakan pengertian daya

(28)

a) Daya dukung: Tingkat pemanfaatan sumberdaya alam atau ekosistem secara berkesinambungan tanpa menimbulkan kerusakan sumberdaya dan lingkungan.

b) Daya dukung ekologis: Tingkat maksimum (baik jumlah maupun volume)

pemanfaatan suatu sumberdaya atau ekosistem yang dapat diakomodasikan oleh suatu kawasan atau zona sebelum terjadi penurunan kualitas ekologis.

c) Daya dukung fisik: Jumlah maksimum pemanfaatan suatu sumberdaya atau

ekosistem yang dapat diadopsi oleh suatu kawasan atau zona tanpa menyebabkan kerusakan atau penurunan kualitas fisik.

d) Daya dukung sosial: Tingkat kenyamanan dan apresiasi pengguna suatu

sumberdaya atau ekosistem terhadap suatu kawasan atau zona akibat adanya penggunaan lain dalam waktu bersamaan.

e) Daya dukung ekonomi: Tingkat skala usaha dalam pemanfaatan suatu

sumberdaya yang memberikan keuntungan ekonomi maksimum secara berkesinambungan.

Daya dukung untuk wisata alam merupakan konsep dasar yang dikembangkan untuk kegiatan pemanfaatan jasa sumberdaya alam dan lingkungan secara lestari berdasarkan kemampuan sumberdaya alam itu sendiri. Konsep ini dikembangkan dengan tujuan untuk mengurangi atau meminimalisir kerusakan sumberdaya alam dan lingkungannya sehingga dapat dicapai pengelolaan sumberdaya alam yang optimal secara kuantitatif maupun kualitatif dan berkelanjutan (Davis dan Tisdell 1995a; Hawkins et al. 2005).

Lim (1998), ada beberapa hal yang harus diperhitungkan dalam penentuan daya dukung biofisik terumbu karang untuk aktivitas wisata selam, antara lain :

a) Ukuran dan bentuk terumbu karang

Bentuk dan ukuran terumbu karang sangat mempengaruhi daya minat penyelam. Lokasi penyelaman yang cenderung heterogen bentuk dan ukuran terumbu karangnya akan menarik bagi wisatawan dan tingkat

kerentanannya lebih tinggi di banding lokasi yang homogen (Salim 1986 in

Lim 1998).

b) Komposisi komunitas karang

(29)

lebih rapuh dan mudah patah dibanding bentuk massive akibat penyelam, perenang ataupun kapal. Dampak aktivitas juga tergantung pada luasan penutupan karang terutama karang hidup, semakin luas tutupan karang hidup maka semakin besar dampak kerusakan yang akan ditimbulkan, sehingga nilai daya dukung semakin besar. Komunitas karang lunak lebih tahan terhadap kontak fisik dengan penyelam atau perenang karena bentuknya lebih fleksibel.

c) Kedalaman, arus dan kecerahan

Terumbu karang yang lokasinya cukup dalam dan atau arus air laut cukup kuat, maka diperlukan tingkat keahlian yang lebih tinggi. Kecerahan perairan (pandangan) sangat mempengaruhi kepuasan penyelam dalam menikmati terumbu karang dan juga peluang resiko kerusakan yang akan ditimbulkan akan lebih besar.

d) Tingkat keahlian atau pengalaman penyelam

Tingkat keahlian atau pengalaman penyelam sangat mempengaruhi daya dukung terumbu karang. Karena peluang kerusakan yang akan ditimbulkan oleh seorang pemula akan lebih besar dibandingkan penyelam yang sudah ahli. Sehingga perlu adanya pembagian lokasi penyelam yang sudah ahli berdasar tingkat kesulitan terkait dengan kualitas terumbu karang yang ada. e) Aksesibilitas

Aksesibilitas sangat ditentukan oleh jarak ke lokasi penyelaman, jika lokasi

penyelaman tidak ditandai tambatan (mourring bouys), maka pengetahuan

lokal atau penggunaan GPS sangat dibutuhkan.

f) Atraksi dan frekuensi penyelaman

Bentuk atraksi obyek penyelaman (obyek hiu, penyu, ubur-ubur, karang atau ikan dan lain-lain) sangat menentukan nilai resiko dan nilai ekonomi penyelaman. Semakin besar frekuensi kunjungan penyelaman maka semakin besar peluang kerusakan yang akan ditimbulkan.

Nilai daya dukung wisata selam juga ditentukan oleh kebutuhan ruang setiap wisatawan untuk dapat menikmati jasa terumbu karang tanpa menyebabkan kerusakan terhadap ekosistem tersebut. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebutuhan

standar ruang yang dibutuhkan oleh penyelam adalah 1000 m2 (10 m x 100 m)

(30)

3.

METODOLOGI

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di perairan laut pulau Biawak dan sekitarnya kabupaten Indramayu propinsi Jawa Barat (Gambar 2). Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan bahwa pada lokasi ini terdapat gugusan pulau yang memiliki ekosistem terumbu karang yang belum dimanfaatkan secara optimal. Lokasi penelitian terdiri dari 3 pulau karang dengan lima stasiun penelitian dimana pada masing-masing stasiun dilakukan pengambilan data pada dua kedalaman yaitu 3 dan 10 meter.

Penelitian dilaksanakan selama 2 (dua) bulan mulai akhir Juni sampai Juli 2010 dalam tiga tahapan : (1) survey awal, bertujuan untuk memperoleh data skunder dan pengambilan beberapa gambar karang dan spesies ikan untuk bahan kuesioner, (2) pengumpulan data primer, meliputi pengumpulan data kondisi terumbu karang, ikan karang, parameter lingkungan, (3) analisis data dan penulisan laporan.

3.2. Jenis dan Sumber Data

Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini berupa data primer dan data skunder (Tabel 2). Secara garis besar data yang diperlukan adalah :

- Data biofisik terumbu karang, antara lain luas tutupan, kondisi karang (rusak, patah, hancur atau tergores) dan jenis ikan karang, biota lain yang dapat menjadi daya tarik wisatawan, serta data parameter lingkungan yang meliput i kedalaman, salinitas, arus, dan kecerahan.

(31)

-Gambar 2 Peta lokasi penelitian. Sta. 5

Sta. 4

Sta. 3

(32)

Tabel 2. Jenis dan sumber data penelitian

Data Jenis Data Sumber Data

Biofisik Primer Pengukuran langsung di lapangan

Jumlah wisatawan Sekunder Dinas Kebudayaan dan

Pariwisata Kab. Indramayu

Peta lokasi penelitian Primer Biotrop

Persepsi dan resp.on Primer Wisatawan dan pelaku usaha

wisata selam

3.3. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi peta dasar, peralatan selam, GPS, kapal motor, pita berskala (roll meter), patok besi, tali nylon, pelampung, palu, alat tulis bawah air, kamera bawah air, buku identifikasi karang (Suharsono 2004) dan buku identifikasi ikan karang (Allen 2000).

3.4.Pelaksanaan Penelitian 3.4.1. Tahapan penelitian

Tahapan penelitian secara umum meliputi 4 (empat) tahap yaitu : (1) Identifikasi potensi terumbu karang dan pelaku wisata selam, (2) Analisis kesesuaian kawasan dan daya dukung biofisik terumbu karang untuk wisata selam, (3) Evaluasi kondisi pemanfaatan terumbu karang sebagai obyek wisata selam berdasarkan kesesuaian kawasan, daya dukung biofisik, dan (4) Merumuskan arahan pengembangan wisata bahari kedepan berdasarkan daya dukung biofisik terumbu karang, dengan tujuan untuk mendapatkan skenario pemanfaatan yang berkelanjutan.

3.4.2. Pengambilan data

Penelitian terhadap kondisi biofisik dilakukan secara langsung di lapangan sehingga data yang diperoleh merupakan data primer yang dilakukan pada bulan Juni dan Juli 2010. Data biofisik meliputi terumbu karang, ikan karang dan parameter lingkungan di lakukan di pulau Biawak, pulau Gosong dan pulau

Candikian. Kondisi terumbu karang yaitu persentase tutupan dan jenis life-form

(33)

Data skunder meliputi: letak geografi, tofografi, morfologi, monografi, hidrologi, data perikanan, dan kondisi terumbu karang di peroleh dari instansi pemerintah seperti: Bappeda, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Kehutanan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta instansi terkait seperti: DPRD, Perguruan Tinggi, dan LSM.

- Parameter lingkungan

Kondisi lingkungan perairan seperti salinitas, kedalaman, kecepatan arus, dan kecerahan dilakukan pengukuran dan pengamatan pada tiap lokasi pengambilan data karang dan ikan karang. Data parameter lingkungan perairan dan alat ukur yang digunakan seperti tersaji pada Tabel 3.

Tabel 3 Parameter lingkungan perairan dan alat ukur

Parameter Satuan Alat dan Bahan Keterangan

Posisi stasiun

Pengambilan data bertujuan untuk mengetahui profil potensi biofisik terumbu karang sebagai obyek wisata selam. Pengambilan data dilakukan dengan

penyelaman (Scuba Dive) pada lokasi yang sudah ditentukan berdasarkan hasil

identifikasi lokasi penyelaman.

Metode pengambilan data biofisik terumbu karang untuk menentukan

komunitas bentik sesil di terumbu karang berdasarkan bentuk pertumbuhan (

life-form) dalam satuan persen, dan mencatat jumlah biota bentik yang ada sepanjang

garis transek menggunakan metode line intercept transect (LIT) mengikuti English

(34)

Identifikasi biota pengisi habitat dasar didasarkan pada bentuk

pertumbuhan (life-form) dengan kode identifikasi mengacu pada English et al.

(1997) dan Veron (2000) seperti tersaji pada Tabel 4.

Tabel 4 Komponen dasar penyusun ekosistem terumbu karang berdasarkan

life-form dan kodenya

Kategori Kode Keterangan

Dead Coral

Dead Coral with Algae

DC DCA

Baru mati, warna putih atau putih kotor Masih berdiri, struktur skeletal masih terlihat

Acropora

Minimal 2 cabang, memiliki axial dan radial oralit

Biasanya merupakan dasar dari bentuk

Acropora belum dewasa Tegak, bentuk seperti baji Bercabang tidak lebih dari 2 Bentuk seperti meja datar

Minimal 2 cabang, memiliki radial oralit

Sebagian besar terikat pada substrat (mengerak) paling tidak 2 percabangan

Terikat pada satu atau lebih titik, seperti daun, atau berupa piring

Seperti batu besar atau gundukan Berbentuk tiang kecil, kenop atau baji Soliter, hidup bebas dari genera Karang biru

Ascidians, anemone, gorgonian, dan lain-lain

Algae

Patahan karang yang berukuran kecil Pasir berlumpur

Air Batu Sumber: English et al. (1997).

- Ikan karang

Pengamatan terhadap ikan karang menggunakan metode Underwater Fish

(35)

bidang yang diamati per transek 5 m x 70 m = 350 m2

Persentase tutupan karang dengan metode LIT dan komunitas ikan karang dengan metode UVC seperti pada Gambar 3.

. Identifikasi jenis ikan karang mengacu kepada buku identifikasi ikan karang dari Allen (2000).

70 m 2,5 m

5 m

0 20 25 45 50 70

Belt transek ikan =

= Line transect tutupan karang

Gambar 3 Metode LIT dan UVC.

- Persepsi masyarakat

Metode penarikan contoh resp.onden terhadap persepsi atau pengunjung dalam aktifitas wisata bahari dan untuk mengetahui nilai visual suatu objek dari terumbu karang yang ada di pulau Biawak dan sekitarnya secara purposive sampling. Resp.onden yang diambil contoh tidak hanya yang tinggal di sekitar pulau Biawak, akan tetapi juga diambil dari daerah lain dalam hal ini dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Hal ini agar data yang diperoleh lebih obyektif. Pemilihan resp.onden untuk analisis SWOT dilakukan terhadap semua stakeholder dari seluruh lapisan masyarakat (pemerintah, DPRD, akademisi/ahli, swasta, LSM, masyarakat yang potensial untuk berwisata, tokoh masyarakat, dan nelayan).

3.5. Analisis Data

3.5.1. Persentase tutupan karang

Persentase tutupan karang berdasarkan pada kategori dan persentase

(36)

kondisi ekosistem terumbu karang semakin baik, dan semakin penting pula untuk dilindungi. Data persentase tutupan karang hidup yang diperoleh berdasarkan metode LIT mengacu English et al. (1997) yang dihitung berdasarkan persamaan:

Keterangan : C = Persentase tutupan karang

a = Panjang life-form/jenis ke-i A = Panjang total transek (70 m)

Data kondisi penutupan terumbu karang yang diperoleh dari persamaan di atas kemudian dikategorikan berdasarkan Gomez dan Yap (1988) yaitu:

a. 75 – 100% : Sangat baik

b. 50 – 74,9% : Baik

c. 25 – 49,9% : Sedang

d. 0 – 24,9% : Rusak

3.5.2. Kelimpahan ikan karang

Kelimpahan komunitas ikan karang adalah jumlah ikan karang yang dijumpai pada suatu lokasi pengamatan persatuan luas transek pengamatan. Kelimpahan ikan karang dapat dihitung dengan rumus yang diformulasikan dalam Odum (1971) sebagai berikut:

Keterangan : Xi = Kelimpahan ikan ke-i (ind/ha)

ni = Jumlah total ikan pd stasiun pengamatan ke-i A = Luas transek pengamatan

(37)

berbasis konservasi mencakup penyusunan matriks kesesuaian setiap kategori ekowisata bahari yang ada pada setiap stasiun pengamatan, pembobotan dan pengharkatan serta analisis indeks kesesuaian setiap kategori.

Kriteria, bobot dan skor ditentukan berdasarkan hasil kajian empiris dan

justifikasi para ahli (expert) dibidang ekowisata bahari. Langkah awal yang

dilakukan adalah membangun sebuah matrik kriteria kesesuaian pemnfaatan untuk mempermudah pembobotan (weighting) dan pengharkatan (scoring).

Analisis kesesuaian lokasi wisata bahari kategori wisata selam menggunakan pendekatan kualitas kondisi biofisik lokasi, antara lain : luas tutupan komunitas karang, jenis life-form, jumlah jenis ikan, kedalaman terumbu karang, kecerahan perairan dan kecepatan arus. Parameter-parameter tersebut diberi nilai berdasarkan matrik kesesuaian wisata selam seperti yang tertera pada Tabel 5.

Tabel 5 Matriks kesesuaian wisata bahari kategori wisata selam

No. Parameter Bobot Standar 2 Tutupan komunitas karang

(%) 3 Jumlah jenis life-form

karang 6 Kedalaman terumbu karang

(38)

Untuk menentukan indeks kesesuaian pemanfaatan wisata selam (Yulianda 2007), diformulasikan sebagai berikut :

IKW =

Dimana : IKW = Indeks kesesuaian wisata

Ni = Nilai parameter ke-i (bobot x skor)

Nmaks = Nilai maksimum dari suatu kategori wisata

Ketentuan untuk kelas kesesuaian aktivitas wisata selam (modifikasi dari Yulianda 2007) adalah sebagai berikut:

S1 = Sangat sesuai, dengan IKW 83 – 100% S2 = Sesuai, dengan IKW 50 – < 83% N = Tidak sesuai, dengan IKW < 50%

Berdasarkan parameter tersebut disusun matrik kesesuaian. Kelas-kelas kesesuaian pada matriks tersebut menggambarkan tingkat kecocokan dari suatu bidang untuk pemanfaatan tertentu. Dalam penelitian ini, kelas kesesuaian dibagi dalam 3 kelas yaitu:

1) Kelas S1: Sangat sesuai (highly suitable), yaitu kawasan ekosistem

terumbu karang tidak mempunyai pembatas yang berat untuk

dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari (diving) secara lestari,

atau hanya mempunyai faktor pembatas yang kurang berarti dan tidak terpengaruh secara nyata terhadap kondisi kawasan tersebut, serta tidak

menambah masukan (input) untuk dikembangkan sebagai objek wisata

bahari.

2) Kelas S2: Sesuai (suitable), yaitu kawasan ekosistem terumbu karang

yang mempunyai pembatas agak berat untuk pemanfaatan sebagai kawasan wisata bahari secara lestari. Faktor pembatas tersebut akan mengurangi pemanfaatan kawasan tersebut, sehingga diperlukan upaya tindakan tertentu dalam membatasi pemanfaatan dan mengupayakan konservasi dan rehabilitasi.

3) Kelas N: Tidak sesuai (not suitable), yaitu kawasan ekosistem terumbu

(39)

Untuk itu sangat disarankan untuk dilakukan perbaikan dengan teknologi tinggi dengan tambahan biaya dan perlu waktu yang lama untuk memulihkannya melalui konservasi dan rehabilitasi kawasan tersebut.

3.5.4. Analisis daya dukung kawasan

Analisis daya dukung biofisik mengacu pada Bouillon (1985); Huttche et al.

(2002) yaitu Daya Dukung Kawasan (DDK) yang merupakan jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di kawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia. Secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut:

DDK =

K

x

x

Dimana : DDK = Daya dukung kawasan

K = Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area

Lp = Luas area atau panjang area yang dapat dimanfaatkan

Wt = Waktu yang disediakan oleh kawasan untuk kegiatan wisata

dalam satu hari

Lt = Unit area untuk kategori tertentu

Wp = Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk suatu

kegiatan tertentu

Potensi ekologis pengunjung ditentukan oleh kondisi sumberdaya dan jenis kegiatan yang akan dikembangkan (Yulianda 2007). Potensi ekologis pengunjung dan luas area kegiatan seperti pada Tabel 6.

Tabel 6 Potensi ekologis pengunjung (K) dan luas area kegiatan (Lt)

Jenis kegiatan  Pengunjung

(org)

Unit area (Lt)

Keterangan

Selam (Diving) 2 2000 m Setiap 2 orang dalam 200 m

x 10 m 2

Sumber : Yulianda (2007).

(40)

yang cukup luas untuk melakukan aktivitas seperti selam (diving) untuk menikmati keindahan pesona alam bawah laut, sehingga perlu adanya prediksi waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata seperti tersaji pada Tabel 7 berikut:

Tabel 7 Prediksi waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata

Jenis kegiatan Waktu yang dibutuhkan

WP-(jam)

Total waktu 1 hari WT-(jam)

Selam (Diving) 2 8

Sumber : Yulianda (2007).

3.5.5. Analisis nilai visual objek wisata bahari (SBE)

Nilai visual pengembangan wisata bahari menggunakan metode SBE. Tahapan yang dilakukan dalam menentukan nilai SBE diawali dengan penentuan titik pengamatan, pengambilan foto, seleksi foto, dan penilaian oleh resp.onden (Tabel 8). Perhitungan nilai visual dengan tabulasi data : frekuensi tiap skor (f), frekuensi komulatif (cf), dan cumulative probabilities (cp). Dengan menggunakan table z ditentukan nilai z untuk setiap nilai cp. Untuk nilai cp = 1.00 atau cp = (z=±∝) digunakan rumus perhitungan cp = 1/(2n). Rata-rata nilai z yang diperoleh untuk setiap foto kemudian dimasukkan dalam rumus SBE sebagai berikut :

SBEx = (Zx – Zo) x 100

Dimana : SBEx = nilai penduga nilai keindahan objek ke-i

Zx = nilai rata-rata z untuk objek ke-i

Zo = nilai rata-rata suatu objek tertentu sebgai standar

Klasifikasi sebaran menjadi 3 yaitu nilai SBE tinggi, sedang dan rendah

dengan menggunakan jenjang sederhana (simplified rating) menurut Hadi (2001);

diacu dalam Khakim (2009) dengan rumus:

Nilai Tertinggi – Nilai Terendah I =

(41)

Nilai SBE Kategori

……… - ……… ……… - ……… ……… - ………

Rendah Sedang Tinggi

Tabel 8 Matrik perhitungan nilai SBE

Objek/Foto ke- x

Skor F Cf Cp Z 1

2 3 4 5

dst…….

Z = ……….

Z = ………. SBE = (Zx – Zo) x 100 = ………..

3.5.6. Analisis SWOT untuk strategi pengelolaan

Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) adalah

(42)

4.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Kabupaten Indramayu adalah sebuah

Indramayu. Kabupaten ini berbatasan denga

terdiri atas Pusat pemerintahan di Kecamatan Indramayu dilintasi jalur pantura, yakni salah satu jalur terpadat di Pulau Jawa, terutama pada musim utara Pulau Jawa, dengan stasiun terbesar di km2

Apabila dilihat dari letak geografis Kabupaten Indramayu terletak pada 107° 52° - 108° 36° Bujur Timur dan 6° 15° - 6° 40° Lintang Selatan. Sedangkan berdasarkan topografinya sebagian besar merupakan dataran atau daerah landai dengan kemiringan tanahnya rata-rata 0-2 %. Keadaan ini berpengaruh terhadap drainase, bila curah hujan cukup tinggi, maka di daerah-daerah tertentu akan terjadi genangan air.

, Kabupaten Indramayu merupakan sebuah wilayah administratif yang luas.

Berdasarkan topografinya sebagian besar wilayah Kabupaten Indramayu merupakan dataran atau daerah landai dengan kemiringan tanah rata-rata 0-2%. Keadaan ini terpengaruh terhadap drainase, bila curah hujan tinggi maka daerah-daerah tertentu akan terjadi genangan air.

Secara garis besar morfologi wilayah Kabupaten Indramayu di bagi menjadi daerah perbukitan rendah bergelombang dan dataran rendah. Perbukitan rendah bergelombang menempati daerah sempit di bagian barat daya membentuk perbukitan yang memanjang dengan arah barat laut - tenggara sedangkan dataran rendah menempati bagian tengah sampai ke utara.

(43)

sebagainya. Permukaan tanah di Kabupaten Indramayu sebagian besar berupa daratan dengan kemiringan 0%-3% dengan luas 201,285 hektar (98.66%) jadi seluruh luas wilayah Kabupaten Indramayu.

Letak Kabupaten Indramayu yang membentang sepanjang posisi pantai utara pulau jawa membuat suhu udara di Kabupaten Indramayu cukup tinggi. Tipe iklim di Indramayu termasuk iklim tropis, menurut klasifikasi schmidl dan ferguson termasuk iklim tipe D (iklim sedang).

Pada akhir tahun 2009 berdasarkan hasil registrasi penduduk jumlah penduduk Kabupaten Indramayu tercatat sebanyak 1,757,739 jiwa sedangkan pada akhir Pebruari 2010 angka tersebut telah berubah menjadi 1,761,451 jiwa. Adapun komposisi jumlah penduduk Indramayu tahun 2010 sampai dengan Pebruari terdiri dari laki-laki 880,998 jiwa dan perempuan 880,453 jiwa, dengan

Sex Ratio 103.81.

Karakter iklim tersebut untuk Tahun 2008 adalah: (1) suhu udara harian berkisar antara 22,9 ºC-30 ºC, (2) kelembaban antara 7-80%, (3) curah hujan rata-rata tahunan 1587 mm pertahun dengan jumlah hari hujan 91 hari, (4) curah hujan tertinggi ± 2008 mm dengan hari hujan 84 hari sedangkan curah hujan terendah ± 1063 mm dengan hari hujan 68 hari, dan (5) angin barat dan angin timur tertiup secara bergantian setiap 5-6 bulan sekali.

Sebagai daerah yang berada di wilayah pesisir, kabupaten Indramayu berpotensi untuk kegiatan perikanan dan kelautan. Kegiatan tersebut meliputi kegiatan yang perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengelolaan hasil perikanan dan jasa perikanan lainnya. Pada tahun 2008 banyaknya nelayan di Kabupaten Indramayu sekitar 35,.407 orang, dimanan dalam menangkap ikan antara lain para nelayan menggunakan jenis alat pukat kantong, pukat pantai, purse saene cinci, gill nett, jaring klitik, pancing, sero dan lain-lain.

Produksi perikanan tahun 2008 tercatat 133,292.12 ton dan produksi perikanan tersebut dihasilkan dari tangkap produksi ikan di laut 80,685 ton, produksi tambak 35,390.75 ton, produksi kolam 15,182.53 ton, produksi sungai 1324 ton, dan produksi waduk / rawa 709.84 ton.

(44)

bandeng. Selain itu saat ini juga di Kecamatan Cantigi juga telah di kembangkan budi daya biota laut berupa budi daya rumput laut.

Keindahan Pulau Biawak dan sekitarnya yang dimaksud adalah keindahan pulau dan perairan laut sekitarnya sebagai satu kesatuan. Seperti diketahui bahwa Pulau Biawak dan sekitarnya hanya dihuni oleh beberapa orang penjaga mercusuar, sehingga aktivitas manusia relatif jarang dan karenanya keindahan lokasi tersebut nampak terlihat dengan adanya terumbu karang, pantai yang bersih serta mangrove dalam kondisi baik.

Pulau Biawak dan sekitarnya memiliki potensi sumberdaya yang dapat dikembangkan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan manusia. Keberadaan habitat bakau yang masih asli, terumbu karang beserta biota penghuni mempunyai potensi untuk pengembangan wisata, rekreasi, perikanan dan laboratorium alam untuk penelitian.

4.2. Kondisi Terumbu Karang

Hasil pengamatan yang dilakukan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan tahun 2003, kondisi terumbu karang di Pulau Biawak dan sekitarnya cukup baik. Rataan persen penutupan karang hidup sebesar 31.4% sedangkan karang mati sebesar 12.2 %. Pada kedalaman 7 meter rataan persen penutupan karang lebih rendah dari pada kedalaman 3 meter yaitu sebesar 14.5 % sedangkan karang mati 37.86%.

Persen penutupan karang hidup di Pulau Candikian pada kedalaman 3 meter adalah 53.61 % sedangkan karang mati sebesar 29.29%. Pada kedalaman 7 meter rataan persen penutupan karang lebih rendah dari pada kedalaman 3 meter yaitu sebesar 53.73% sedangkan karang mati lebih besar yaitu 47.25%.

Di wilayah Pulau Gosong dan Pulau Candikian jarang ditemukan terumbu karang yang berukuran besar, akibat dari pengerukan dan penangkapan ikan dengan menggunaan bom serta sianida. Kebanyakan terumbu karang yang tumbuh berukuran 20-40 cm. Hal ini menunjukkan bahwa terumbu karang pada daerah tersebut sedang mengalami recovery.

(45)

karang pada 10 lokasi transek dari lima stasiun penelitian umumnya dalam kondisi “sedang” (25-49.9%), dua lokasi dalam kondisi “rusak” (0-24.9 %) yaitu di stasiun 3 (sebelah utara Pulau Biawak) pada kedalaman 10 meter dan stasiun 5 (pulau Candikian) pada kedalaman 3 meter .

Persentase live hard coral cover adalah persentase dari jumlah karang keras hidup di sebuah lokasi, dan ini diketahui dapat mempengaruhi minat berekreasi ke suatu lokasi penyelaman (Pendleton 1994; Williams dan Polunin 2000). Persentase karang keras mencakup juga informasi yang paling sering digunakan oleh para ilmuwan dan pengelola kawasan wisata untuk menilai kesehatan karang (Hill dan Wilkinson 2004).

Ada perbedaan kondisi terumbu karang pada tahun 2003 dan tahun 2010. Hal ini dimungkinkan karena lokasi atau stasiun pengamatan yang berbeda. Kondisi terumbu karang dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4 Persentase tutupan karang tahun 2003 dan 2010.

Data tahun 2010 (data hasil pengamat langsung) yaitu stasiun 1 (Pulau Biawak), Stasiun 4 (Pulau Gosong), dan stasiun 5 (Pulau Candikian).

Distribusi persentase tutupan karang pada tiap stasiun hasil penelitian dapat di lihat pada Gambar 5.

0

P. Biawak P. Candikian P. Gosong

(46)

Gambar 5 Persentase tutupan karang pada masing-masing stasiun penelitian

4.3. Kelimpahan Ikan Karang

Hasil pengamatan ikan karang dengan menggunakan metode “Underawater

Visual Census” di seluruh stasiun pengamatan diperoleh 18 famili dengan 85 sp..esies yang terdiri dari ikan mayor (kelompok ikan karang yang selalu dijumpai di terumbu karang dan berukuran kecil) 7 famili, ikan target (Kelompok ikan yang menjadi target, umumnya merupakan ikan pangan dan bernilai ekonomis ) 10 famili dan ikan indikator (kelompok ikan yang dijadikn senagai indicator kesehatan terumbu karang) 1 famili. Kelompok ikan mayor selalu hadir di setiap stasiun pengamatan dan mendominasi dari kelompok ikan lainnya. Persentase sebaran kelompok ikan karang berdasarkan stasiun pengamatan dapat dilihat pada Gambar 6.

(47)

Kelimpahan ikan karang tertinggi pada stasiun 5 yang berlokasi di pulau Candikian kedalaman 10 meter sebesar 12,422 individu/hektar dan terendah pada stasiun 3 bagian Utara Pulau Biawak kedalaman 3 meter sebesar 2133 individu/hektar. Kelimpahan ikan karang dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Kelimpahan ikan karang pada masing-masing stasiun pengamatan.

Ikan-ikan karang juga merupakan daya tarik bagi wisatawan untuk melakukan penyelaman. Semakin tinggi jumlah family dan sp..esies serta diversitas ikan yang ada pada suatu ekosistem terumbu karang, maka semakin tinggi pula daya tarik wisatawan untuk melakukan kegiatan wisata bahari baik kategori snorkeling maupun selam (diving).

4.4. Parameter Lingkungan Perairan

Kondisi lingkungan perairan di Pulau Biawak dan sekitarnya masih dalam kondisi yang sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang dan biota lain yang hidup di dalamnya. Salinitas berkisar antara 28–33 ‰, Suhu

antara 26–28 oC, kecepatan arus antara 0–0.17 m/det, dan kecerahan perairan

antara 80–95 %. Ekosistem terumbu karang dapat berkembang dengan baik apabila kondisi lingkungan perairan mendukung pertumbuhan karang. Hasil pengukuran parameter lingkungan tersaji pada Tabel 9.

(48)

-Tabel 9 Parameter lingkungan perairan pada masing-masing stasiun

Lokasi Salinitas Suhu Kecepatan Arus Kecerahan

(‰) (˚C) (m/det) (%)

4.5. Kesesuaian Kawasan Wisata Selam

Hasil analisis kesesuaian kawasan wisata bahari kategori wisata selam mempertimbangkan enam parameter dengan empat klasifikasi penilaian antara lain kecerahan perairan, tutupan komunitas karang (karang keras, karang lunak dan biota lain), jenis life form, jenis ikan karang, kecepatan arus, dan kedalaman terumbu karang. Hasil analisis kesesuaian wisata bahari kategori wisata selam dapat dilihat pada Gambar 8.

(49)

Dari data analisis penilaian kesesuaian kawasan wisata bahari kategori selam terlihat bahwa seluruh stasiun pengamatan masuk dalam kategori sesuai (suitable) karena nilai IKW berada pada kisaran 50 - < 83%. Adapun total nilai skor tertinggi berada pada stasiun 1 dan 4 ( Barat P. Biawak kedalaman 10 meter) dan stasiun 4 (P. Gosong kedalaman 10 meter) dengan nilai IKW 70.37%, terendah berada pada stasiun 4 (P. Gosong kedalaman 3 meter) dengan nilai IKW 50%.

Dari enam parameter yang dinilai untuk kesesuaian wisata selam pada seluruh stasiun pengamatan sesuai untuk dikembangkan sebagai wisata bahari kategori selam. Apabila dilihat dari parameter kesesuaian, seluruh stasiun mempunyai nilai indeks keseuaian yaitu 50.0 sampai 70.37, nilai ini masuk kategori sesuai/suitable (S2).

Secara umum kondisi lingkungan perairan Pulau Biawak masih dalam kondisi baik, begitu juga dengan jumlah ikan karang dan tutupan serta life-form

terumbu karang masih mempunyai potensi yang baik untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata karena fackor-faktor tersebut sangat penting untuk dapat memberikan kepuasan bagi wisatawan, hal ini sesuai dengan beberapa survey yang dilakukan para peneliti secara khusus terhadap wisatawan yang melakukan penyelaman dimana berbagai karakteristik biofisik dapat dilihat dalan satu lokasi snorkeling atau penyelaman, dan juga anatara satu lokasi dengan lokasi lainnya. Perbedaan karakteristik biofisik seperti itu memberikan peluang bagi wisatawan untuk mengunjungi suatu lokasi penyelaman pada berbagai kesempatan menyelam (Miller 2005).

Perairan Pulau Biawak dan sekitarnya memiliki terumbu karang yang beragam/heterogen, ini berarti bahwa lokasi tersebut mampu memberikan pengalaman dan sensasi tersendiri bagi wisatawan yang melakukan penyelaman.

(50)

karang kecil, juga semakin rendahnya tingkat kecerahan perairan sehingga visibilitasnya rendah. Tingkat spesialisasi penyelam merupakan faktor kunci untuk pengelolaan pariwisata menyelam (Dearden et al. 2006; Miller 2005).

Perlu juga diperhatikan kerentanan dari life-form pengisi substrat dasar kawasan yang akan dijadikan lokasi wisata selam, karena masing-masing life-form mampunyai daya tahan yang berbeda terhadap kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas selam, berdasarkan penelitian terdahulu mengindikasikan bahwa

karang bercabang (coral branching) paling sensitif terhadap dampak yang

ditimbulkan oleh kerusakan akibat trampling (menginjak) dibandingkan bentuk

pertumbuhan karang massive, digitate, submassive ataupun karang lunak

(Plathong et al. 2000; Schleyer dan Tomalin 2000; Walters dan Samway 2001;

Zakai dan Chadwick-Furman 2002; Hasler dan Ott 2008). Sedangkan karang

lunak kurang sensitif dibandingkan dengan jenis life-form lainnya (Rielg dan

Rielg 1996; Plathong et al. 2000; Schleyer dan Tomalin 2000; Tratalos dan Austin

2001), dan karang encrusting cenderung paling tidak sensitif (Rielg dan Rielg

1996; Schleyer dan Tomalin 2000).

4.6. Daya Dukung Kawasan

Daya dukung kawasan (DDK) ditujukan untuk menentukan jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di kawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia. Untuk menentukan daya dukung kawasan untuk wisata selam di perairan Pulau Biawak dan sekitar pada masing-masing stasiun dihitung luas area pemanfaatan berdasarkan kedalaman.

(51)

Gambar 9 Nilai daya dukung kawasan untuk wisata bahari kategori selam pada masing-masing stasiun pengamatan.

Sudut pandang ekologi, soial-ekonomi, dan estetika, daya dukung wisata bahari, dalam hal ini jumlah total penyelam yang dapat ditampung suatu kawasan berkaitan langsung dengan tersedianya lokasi selam yang berkualitas tinggi; kawasan yang keanekaragaman sp..esiesnya tinggi dan jumlah karang, ikan dan organisme lainnya yang banyak dengan sedikit dampak negatif dari manusia.

Daya dukung dimaksud adalah kemampuan kawasan secara fisik untuk menerima sejumlah wisatawan dengan intensitas maksimum terhadap sumberdaya alam yang berlangsung secara berkesinambunangan tanpa merusak lingkungan. Dengan demikian kebutuhan masyarakat lokal dan wisatawan yang datang pada suatu sumberdaya dapat berjalan secara seimbang.

Pemanfaatan Pulau Biawak dan sekitarnya sebagai lokasi wisata bahari hendaknya mengacu kepada daya dukung masing-masing lokasi penyelaman, karena degradasi terumbu karang yang disebabkan oleh kegiatan penyelaman telah dinilai dalam hal penurunan persentase life hard coral cover (Hawkin et al. 1999) atau meningkatnya kerusakan karang (Schleyer dan Tomalin 2000). Kerusakan terumbu karang akan menjadi minimal jika di suatu kawasan dikelola dengan pemanfaatan di bawah daya dukung, akan meningkatkan kerusakan terumbu karang (Chadwick-Furman 1997; Hawkin dan Roberts 1997).

(52)

4.7. Nilai SBE

Hasil dari penilaian kualitas visual oleh resp..onden merupakan skor untuk masing-masing foto. Rata-rata nilai yang diperoleh dari hasil penilaian resp..onden kemudian dimasukkan dalam rumus SBE Tabel 10. Keseluruhan nilai visual untuk masing-masing foto dapat dilihat pada Lampiran 9.

Tabel 10 Perhitungan nilai SBE

Foto 8 Foto 16 Foto 27

(53)

Dari sebaran apabila dibuat menjadi 3 klasifikasi yaitu nilai SBE tinggi, sedang dan rendah dengan menggunakan njenjang sederhana (simplified rating) menurut Sutrisno Hadi (2001) dalam Khakim 2009, dengan rumus:

Nilai Tertinggi – Nilai Terendah 109.67

Hasil pengklasifikasian menggunakan jenjang sederhana tersebut maka

masing-masing foto objek dengan nilai SBE yang menunjukkan life-form atau

biota yang ada pada terumbu karang dan lokasi dapat dibuat tabel seperti yang tersaji pada Tabel 11.

Tabel 11 Nilai SBE dari setiap jenis life-form/biota yang ada di terumbu karang dan lokasi life-form /biota tersebut dijumpai

Kelas SBE

Nilai

SBE Jenis Life-form Lokasi

Tinggi

109.67 Ikan karang (Chepalopholis sp..) Barat P. Biawak (6 m), Utara P. Biawak (10), P. Candikian (6 m), P. Gososng (6 m)

104.45 Ikan karang (Amphiprion ocellaris) Barat P. Biawak (6 dan 10 m), P. Gososng (10 m)

101.34 ACB (Acropora sp..) Seluruh stasiun

100.45 CS (Physogira sp..) Barat P. Biawak (6 m), Selatan P. Biawak (10 m), P. Gosong (6 m)

96.67 Ikan karang (Platax orbicularis) Utara P. Biawak (10 m)

94.23 Ikan karang (Ostracion cubicus) Utara P. Biawak (10 m)

92.89 ACB (Acropora sp..) Seluruh stasiun

92.23 Ikan karang (Pterois volitants) Barat P. Biawak (10 m)

91.67 CM (Goniopora sp..) P. Candikian (3 dan 6 m), P. Gosong (6 m), Utara P. Biawak (6 dan 10 m)

89.78 Ikan karang (Plectorinchus sp..) P. Candikian (3 m)

88.56 Ikan karang (Halichoeres leucurus) Seluruh stasiun di Pulau Biawak

(54)

84.12 CE (Montipora sp..) Barat P. Biawak (10 m), P. Candikian (6 m), P. Gosong

76,00 Ikan karang (Amphiprion clarkii) Barat P. Biawak (10 m), P. Candikian (6 m)

Tabel 11 (lanjutan)

Kelas SBE

Nilai

SBE Jenis Life-form Lokasi

Sedang 71.45 Ikan karang (Heniochus sp..) Utara P. Biawak (10 m)

(55)

17 jenis, sedang 12 jenis dan rendah 1 jenis. Nilai SBE tertinggi dari jenis ikan karang Chepalopholis sp.. sebesar 109.67, terendah dari jenis OT (Diadema sp..) sebesar 0.00. Jenis life-form karang tertinggi diduduki oleh ACB (Acropora sp..) dengan nilai SBE 101.34 (Gambar 10).

Berdasarkan nilai visual suatu objek atau biota ada kecenderungan terutama

bagi karang yang dapat terlihat polyp-nya dan karang lunak dengan berbagai

warna yang menarik juga ikan karang yang mendominasi nilai SBE tertinggi. Warna karang diketahui secara nyata dapat mempengaruhi kepuasan pengunjung yang berpengalaman (Shafer et al. 1998).

Popularitas atau status ikonik suatu organisme didorong oleh berbagai faktor, termasuk daya tarik fisik, dan/atau publisitas yang telah diterima dalam media publik (Reynolds dan Braithwaite 2001).

Gambar 10 Nilai SBE berdasarkan jenis life-form atau biota lain.

(56)

Dari 30 gambar orgainsme yang disurvey dalam penelitian ini ikan kerapu

karang (Chepalopholis sp..), ikan badut (Amphiprion ocellaris), dan karang

Acropora sp. yang dianggap khas karena memiliki warna yang indah dan popularitas atau status ikonik mereka. Jika organisme yang cukup dikenal dan familiar bagi penyelam, organisme tersebut memiliki kesempatan lebih besar untuk dilihat dan diidentifikasi lebih awal.

4.8. Arahan Strategi Pengelolaan Kawasan Ekowisata Bahari

Arahan strategi pengelolaan kawasan ekowisata bahari menggunakan metode analisis SWOT, dimana asp..ek biofisik, lingkungan, sosial dan ekonomi

dilakukan identifikasi sebagai faktor internal dan eksternal pengembangan

ekosistem terumbu karang. Faktor-faktor internal dan eksternal tersebut kemudian dilakukan pembobotan secara linear dengan kisaran nilai 0.0 sampai 1.0. Nilai 0.0 berarti tidak penting dan nilai 1.0 berarti sangat penting, kemudian diperhitungkan juga tingkat/rangking untuk masing-masing faktor antara 1 sampai 4 untuk unsur kekuatan dan peluang serta kelemahan dan ancaman. Selanjutnya antara bobot dan tingkat/rangking dikalikan untuk menghasilkan skor.

Proses-proses dari unsur SWOT (strength, weakness, opportunity, threats) tersebut secara lengkap disajikan pada Tabel 12 dan 13.

Tabel 12 Bobot, rangking, dan skoring unsur internal kawasan wisata selam di Perairan Pulau Biawak dan sekitarnya

Kode Unsur Internal Bobot Rangking Skor

S Kekuatan (Strength)

1 Kondisi perairan ekosistem terumbu karang

yang cukup baik 0.1 4 0.4

2 Kondisi karag dan ikan karang serta biota laut

lainnya 0.2 4 0.8

3 Keinginan dan partisipasi yang tinggi dari

masyarakat 0.2 4 0.8

W Kelemahan (Weakness)

1 Lemahnya pengawasan dan sulitnya penegakan

hukum 0.2 2 0.4

Figur

Gambar 1  Kerangka pemikiran penelitian: Daya dukung ekosistem terumbu
Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian Daya dukung ekosistem terumbu . View in document p.20
Gambar 2 Peta lokasi penelitian.
Gambar 2 Peta lokasi penelitian . View in document p.31
Tabel 2. Jenis dan sumber data penelitian
Tabel 2 Jenis dan sumber data penelitian . View in document p.32
Tabel 4 Komponen dasar penyusun ekosistem terumbu karang berdasarkan life-form dan kodenya
Tabel 4 Komponen dasar penyusun ekosistem terumbu karang berdasarkan life form dan kodenya . View in document p.34
Tabel 5 Matriks kesesuaian wisata bahari kategori wisata selam
Tabel 5 Matriks kesesuaian wisata bahari kategori wisata selam . View in document p.37
Tabel 8 Matrik perhitungan nilai SBE
Tabel 8 Matrik perhitungan nilai SBE . View in document p.41
Gambar 4 Persentase tutupan karang tahun 2003 dan 2010.
Gambar 4 Persentase tutupan karang tahun 2003 dan 2010 . View in document p.45
Gambar 5 Persentase tutupan karang pada masing-masing stasiun penelitian
Gambar 5 Persentase tutupan karang pada masing masing stasiun penelitian . View in document p.46
Gambar 7 Kelimpahan ikan karang pada masing-masing stasiun pengamatan.
Gambar 7 Kelimpahan ikan karang pada masing masing stasiun pengamatan . View in document p.47
Gambar 8  Analisis kesesuaian kawasan wisata bahari kategori selam.
Gambar 8 Analisis kesesuaian kawasan wisata bahari kategori selam . View in document p.48
Tabel 9 Parameter lingkungan perairan pada masing-masing stasiun
Tabel 9 Parameter lingkungan perairan pada masing masing stasiun . View in document p.48
Gambar 9   Nilai daya dukung kawasan untuk wisata bahari kategori selam pada
Gambar 9 Nilai daya dukung kawasan untuk wisata bahari kategori selam pada . View in document p.51
Tabel 10 Perhitungan nilai SBE
Tabel 10 Perhitungan nilai SBE . View in document p.52
Tabel 11  Nilai SBE dari setiap jenis life-form/biota yang ada di terumbu karang
Tabel 11 Nilai SBE dari setiap jenis life form biota yang ada di terumbu karang . View in document p.53
Tabel 11 (lanjutan)
Tabel 11 lanjutan . View in document p.54
Gambar 10 Nilai SBE berdasarkan jenis life-form atau biota lain.
Gambar 10 Nilai SBE berdasarkan jenis life form atau biota lain . View in document p.55
Tabel 12 Bobot, rangking, dan skoring unsur internal kawasan wisata selam di
Tabel 12 Bobot rangking dan skoring unsur internal kawasan wisata selam di . View in document p.56
Tabel 15 Matrik hasil analisis SWOT
Tabel 15 Matrik hasil analisis SWOT . View in document p.58

Referensi

Memperbarui...