ANALISIS KINERJA PORTOFOLIO REKSA DANA SAHAM
(Pengaruh Siklus Ekonomi, Tingkat Risiko, Kebijakan Alokasi Aset dan
Nilai Tukar Rupiah Terhadap Kinerja Reksa Dana Saham
)
Disusun Oleh:
Desie Dian Febriani
105081002563
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
PENGARUH PERUBAHAN KONDISI EKONOMI TERHADAP
KINERJA KEUANGAN DALAM BENTUK INTEGRASI RASIO
KEUANGAN MODEL ALTMAN (Suatu Studi Pada Sektor
Perbankan Periode 2004-2007)
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial
Untuk memenuhi Syarat-syarat untuk meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh: Siti Eros Rosidah Nim: 105081002494
Di Bawah Bimbingan
Pembimbing I Pembimbing II
Prof. Dr.Ahmad Rodoni,MM Indoyama Nasarudin,SE.,MAB
NIP.150 317 955 NIP. 150 317 593
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Hari ini Selasa Tanggal 9 Bulan Juni Tahun Dua Ribu Sembilan telah dilakukan Ujian Komprehensif atas nama Siti Eros Rosidah NIM: 105081002494 dengan
judul PENGARUH PERUBAHAN KONDISI EKONOMI TERHADAP
KINERJA KEUANGAN DALAM BENTUK INTEGRASI RASIO KEUANGAN MODEL ALTMAN Suatu Studi Pada Sektor Perbankan Periode 2004-2007. Memperhatikan penampilan mahasiswa tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 9 Juni 2009
Tim Penguji Ujian Komprehensif
Indoyama Nasarudin, SE.,MAB Arief Mufraini Lc, M.Si
Ketua Sekretaris
PENGARUH PERUBAHAN KONDISI EKONOMI TERHADAP
KINERJA KEUANGAN DALAM BENTUK INTEGRASI RASIO
KEUANGAN MODEL ALTMAN (Suatu Studi Pada Sektor
Perbankan Periode 2004-2007)
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial
Untuk memenuhi Syarat-syarat untuk meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh: Siti Eros Rosidah Nim: 105081002494
Di Bawah Bimbingan
Pembimbing I Pembimbing II
Prof. Dr.Ahmad Rodoni,MM Indoyama Nasarudin,SE.,MAB
NIP.150 317 955 NIP. 150 317 593
Prof. Dr.Abdul Hamid, MS Penguji Ahli
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Daftar Riwayat Hidup
Data Pribadi
Nama : Siti Eros Rosidah
Tempat, Tanggal Lahir : Sukabumi, 9 Juni 1986 Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Komp. PGA/MAN 4 Rt. 05/ 08 No.42 Pondok Pinang Kebayoran Lama Jakarta Selatan 12310 No.Telpon : (021) 27952044/ 085711197359
Email : [email protected]
Pendidikan
2005-2009 : UIN Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial, Jurusan Manajemen Keuangan.
2002-2005 : MAN 4 Model Jakarta
Abstract
The financial distress is the beginning of the financial bankruptcy. Many models of the this case (the financial distress) is the bankruptcy data. We can get it (the data) easy. This research is to see the financial performance of 76 emitens before and during the rule of Susilo Bambang Yudhoyono in the sector of conventional banking in Indonesia Stock Exchange.
The goal of this research are:1).To analyse the influence of fundamental condition of the emitens in financial performance, 2).To analyse all the variable of Altman’s models (WCTA,RETA,EBITTA,MVETL and STA) which can predict the financial distress, 3).To categorize the bank which had been the financial distress with the sample of 19 emitens (Ranking A&B). This research uses discriminant analysis.
The output of the research show that:1).There is the influence of fundamental condition in the emitens’s financial performance, 2).That the EBITTA model (Earning Before Interest and taxes/Total Assets) can predict the emitens’s bankruptcy, but the other variable in Altman model can not predict to financial distress. Like WCTA, RETA, MVETL and STA 3).There is the reduction of the emitens’s bankruptcy during the rule of Susilo Bambang Yudhoyono.
ABSTRAK
Kesulitan keuangan merupakan awal dari kebangkrutan. Banyak model kesulitan keuangan yang mengandalkan data kebangkrutan yang mudah untuk diperoleh. Penelitian ini melihat kinerja keuangan sebelum dan selama masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono pada sektor perbankan konvensional di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan 76 perusahaan.
Tujuan penelitian ini adalah:1).Menganalisis pengaruh perubahan kondisi ekonomi terhadp kinerja keuangan, 2).Menganalisis semua variabel model Altman (WCTA,RETA,EBITTA,MVETL dan STA) dapat memprediksi kesulitan keuangan, 3).Pengelompokan bank yang mengalami kondisi kesulitan keuangan dengan 19 sampel perusahaan perbankan baik yang berkategori A&B. Metode analisis data menggunakan analisis diskriminan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa:1).Terdapat pengaruh kondisi ekonomi terhadap kinerja keuangan, 2).Tidak semua variabel model Altman(WCTA,RETA,EBITTA,MVETL dan STA) dapat memprediksi kebangkrutan hanya EBITTA (Laba sebelum bunga dan pajak/Total Asset) saja yang dapat memprediksi kebangkrutan, 3).Terdapat pengurangan jumlah bank yang mengalami kebangkrutan selama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah Azza wajalla, Dzat yang kepadaNyalah kita serahkan semua harapan dan amal, segala puji milik Allah SWT yang telah mencurahkan karunia dan kasih sayangNya sehingga penyusun dapat menyelesaikan skripsi dengan judul: Pengaruh Perubahan Kondisi Ekonomi terhadap kinerja Keuangan model Altman suatu studi kasus pada sektor perbankan tahun 2004-2007.
Shlawat dan salam semoga selalu tercurah kepada tauladan terbaik Rasullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat serta para pengikutnya hingg akhir zaman.
Pada kesempatan ini saya sebagai penyususn ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besaranya kepada orang-orang yang telah membantu penyusunan dalam menyelesaikan skripsi ini baik secara langsung ataupun tidak langsung. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang lebih baik, terutama kepada:
1. Kedua orang tua tercinta Ayahanda Iim Ibrahim dan Ibu Nenden Hasanah serta Ibu Hj. Rostika, SPd.( Orang yang paling aq sayangi) serta Kakak dan adik-adiku yang telah memberi dukungan baik moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Prof. Dr.Abdul Hamid,MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial.
3. Bapak Prof.Dr.Ahmad Rodoni,MM selaku Pudek I bidang Akademik sekaligus sebagai Pembimbing I yang banyak memberikan saran, petunjuk, ilmu pengetahuan dan meluangkan waktunya sehingga terselesaikan skripsi ini.
5. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial baik Staff Akademik & Keuangan serta Staff Perpustakaan terima kasih atas segala bantuannya. 6. Teman-teman seperjuangan baik teman-teman yang komprehensif bareng,
maupun Uny, Shasa, Qq, Oca, Umy, K’ Iin dan Lutfah.
7. Untuk Teh Rizka, Teh Enggom, Bang Naspi Arsyad, Tina, Tamy dan tuk Hikma makasih banyak ya, da bantuin ngeditin skrisi aq.
8. Teman-teman Manajemen Khususnya Keuangan B dan A, Manajemen C (angkatan 2005) serta teman-teman Manajemen A,B,D dan E. Yang g bisa aq sebutin satu persatu, terimakasih bwat supportnya.
Akhir kata penulis menyadari masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan agar bisa lebih baik. Semoga skripsi ini bermanfaat khususnya bagi saya dan umumnya bagi semua pihak.
Jakarta, 17 Juli 2009
DAFTAR ISI
Halaman Judul Daftar Isi
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Perumusan Masalah ... 10
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori... 12
1. Lembaga Perbankan ... 12
a. Pengertian Perbankan... 12
b. Jenis-jenis perbankan ... 13
2. Laporan Keuangan ... 19
3. Analisis Laporan Keuangan ... 21
a. Pengertian Laporan Keuangan ... 21
b. Tujuan Laporan Keuangan... 21
c. Teknik Analisis ... 22
4. Kinerja Keuangan ... 26
a. Pengertian Kinerja Keuangan ... 26
b. Penilaian Kinerja... 28
5. Analisis Rasio ... 31
a. Pengertian Rasio Keuangan ... 31
b. Macam-macam Rasio Keuangan... 36
c. Formula z score ... 37
1) Rasio likuiditas... 37
2) Rasio profitabilitas ... 37
3) Rasio aktivitas ... 39
6. Kebangkrutan ... 40
a. Pengertian Kebangkrutan ... 40
b. Tahap- tahap berbagai indikator kebangkrutan. ... 43
c. Analisis Prediksi Kebangkrutan... 44
d. Masalah dalam kebangkrutan. ... 47
7. Analisis Diskriminan... 49
a. Pengertian Analisis diskriminan ... 49
b. Langkah-langkah dalam analisis diskriminan... 50
c. Tujuan dari analisis diskriminan ... 50
d. Asumsi penting yang harus dipenuhi dalan analisis diskriminan... 51
e. Analisis Z score... 52
B. Penelitian Sebelumnya ... 54
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Objek Penelitian ... 64
B. Teknik Pengumpulan Sampel ... 65
C. Teknik Pengumpulan Data ... 65
D. Metode Analisis Data mengikuti langkah-langkah dalam analisis diskriminan antara lain : a. Merumuskan masalah... 67
b. Mengestimasi koefisien fungsi diskriminan ... 68
c. Menentukan signifikansi fungsi diskriminan ... 68
d. Menginterpretasikan hasil ... 69
e. Mengukur validitas analisis diskriminan. ... 69
E. Operasional Variabel Pengukuran... 70
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian... 74
B. Kriteria Penentuan Kondisi Perusahaan ... 80
C. Hasil dan Pembahasan... 86
D. Interpretasi ... 97
BAB V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI A. Kesimpulan... 104
B. Implikasi ... 105
C. Keterbatasan Penelitian ... 106
D. Saran ... 106
DAFTAR TABEL
No. Keterangan Hal
2.1 Definisi Kebangkrutan/Kegagalan. ... 40
2.2 Alternatif perbaikan Kesulitan Keuangan... 47
2.3 Persamaan dan Perdedaan antara Analisis Varian (Anova), Analisis Regresi dan Diskriminan... 50
2.4 Kerangka Pemikiran... 62
4.1 Perkembangan Besaran Moneter. ... 77
4.2 Laba/Rugi dari Tahun 2004-2007. ... 81
4.3 Penentuan Kondisi Model Altman. ... 84
4.4 Test of Equityof group means. ... 86
4.5 Variables Entered/Removed (a,b,c,d) ... 87
4.6 Eigenuvalues. ... 88
4.7 Wilks Lambda ... 88
4.8 Function at groupCentroids... 89
4.9 Pengelompokan Bank yang bangkrut dan tidak bangkrut... 90
4.10 Clasification functio Coeffisient. ... 91
DAFTAR LAMPIRAN
No. Keterangan Hal
1. Analysis Cose Processing Summary... 109
2. Group Statistic... 109
3. Variable in the Analysis. ... 110
4. Variabel not in the Analysis... 110
5. Casewise Statistics ( Original). ... 111
6. Casewise Statistics (Cros Validated). ... 112
7. Test of Equity of group Means. ... 114
8. Variable Entered/Removed (a,b,c,d)... 114
9. Wilks’ Lamda... 115
10. Eigenvalues. ... 115
11. Standarized Cannonical Discriminant Funtion Coefficients... 115
12. Struktur Martrix. ... 115
13. Function at Group Centriods... 116
14. Prior Probabilityes for groups. ... 116
15. Calssification Function Coeffisient... 116
16. Working Capital to Total Assets (WCTA). ... 117
17. Retairned Earning to Total Assets (RETA). ... 120
18. Earning before Interst&Tax to Total Assets (EBITTA). ... 121
19. Market Value of Equity/book value of Total Liability (MVETL) ... . 122
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Laporan keuangan ditujukan untuk pihak eksternal perusahaan dalam
mengambil keputusan bisnis, terutama bagi investor dan kreditor menurut
Andriani Kusumaningrum (2003:68). Bagi pihak eksternal, informasi yang
terkandung dalam laporan keuangan digunakan untuk memenuhi berbagai
macam tujuan yang dapat diperoleh secara terbatas. Dikatakan terbatas karena
laporan keuangan ini tidak dapat mengungkap seluruh informasi yang
diinginkan pemakai sebab informasi keuangan merupakan barang ekonomis.
Semakin banyak jenis informasi yang dipandang bermanfaat, akan semakin
besar pula biaya untuk menyediakan informasi tersebut.
Menurut Mamduh dan Halim (2007:69) agar dapat dijadikan sebagai
salah satu alat pengambil keputusan yang andal dan bermanfaat, sebuah
laporan keuangan harus memiliki kandungan informasi yang bernilai bagi
investor. Informasi tersebut setidaknya memungkinkan mereka untuk
melakukan penilaian (valuation) saham yang mencerminkan hubungan antara
resiko dan hasil pengembalian yang sesuai dengan preferensi masing-masing
investor. Suatu laporan keuangan dikatakan memiliki kandungan informasi
apabila publikasi laporan keuangan tersebut menyebabkan reaksi pasar. Reaksi
pasar ini direfleksikan dengan adanya transaksi jual beli saham, yang berarti
perusahaan. Disamping itu, informasi yang terkandung dalam laporan
keuangan banyak memberikan manfaat bagi pengguna apabila laporan
tersebut dianalisis lebih lanjut sebelum dimanfaatkan sebagai alat bantu
pembuatan keputusan. Dari laporan keuangan perusahaan dapat diperoleh
informasi tentang kinerja (performance), aliran kas perusahaan, dan informasi
lain yang berkaitan dengan laporan keuangan. Satu hal yang sangat penting
untuk digarisbawahi adalah bahwa informasi yang diungkapkan dalam laporan
keuangan dapat menunjukkan seberapa besar nilai perusahaan (firm value).
Dalam penelitian ini nilai perusahaan direfleksikan dengan harga saham
dikalikan dengan jumlah saham yang beredar (atau disebut nilai pasar saham).
Perekonomian Indonesia saat ini mengalami perubahan yang sangat
signifikan, terutama pada saat munculnya krisis ekonomi. Seiring dengan
pergantian kekuasaan pemerintah, maka kebijakan-kebijakan barupun
dihasilkan, khususnya kebijakan dibidang ekonomi yang memberikan
pengaruh penting bagi perekonomian Indonesia. Salah satu contoh kelebihan
tersebut adalah kebijakan melikuidasi sejumlah bank yang kinerja
keuangannya dianggap kurang baik. Sedangkan menurut Ryan Ariafinanda
(2006:1) salah satu dampak dari krisis moneter adalah kolepsnya sejumlah
bank karena tidak mampu mempertahankan going concernya. Bank-bank
tersebut kemudian dilikuidasi oleh pemerintah. Ketidakmampuan atau
kegagalan bank-bank tersebut dapat disebabkan oleh dua hal, pertama
kegagalan ekonomi. Kedua kegagalan keuangan. Kegagalan ekonomi
Selain itu, kegagalan ekonomin juga bisa disebabkan oleh biaya modal
perusahaan yang lebih besar dari tingkat laba atas biaya historis investasi.
Permasalahan bank di Indonesia menurut Ryan Ariafinanda (2006:2)
sangat komplek antara lain disebabkan oleh depresiasi rupiah yang sangat
tajam, peningkatan suku bunga SBI sehingga menyebabkan suku bunga
perbankan tinggi yang pada akhirnya meningkatkan jumlah kredit yang
bermasalah. Lemahnya kondisi internal bank antara lain kualitas manajemen
yang tidak memadai, pemberian kredit pada group atau kelompok usaha
sendiri, dan rendahnya modal untuk menyerap berbagai resiko kerugian
merupakan masalah-masalah mendasar yang sering dihadapi oleh dunia
perbankan yang sangat komplek tersebut, beberapa bank dapat bertahan hidup
(tidak terlikuidasi) namun sebagian lagi tidak dapat menghindari dari
kebijakan likuidasi yang merupakan keputusan akhir dari pemerintah.
Perusahaan dikategorikan gagal keuangannya menurut Ryan
Ariafinanda (2006:2) jika perusahaan tersebut tidak mampu membayar
kewajibannya pada waktu jatuh tempo meskipun total aktiva melebihi total
kewajibanya. Jatuh bangunnya perusahaan merupakan hal yang biasa.
Pertanyaannya apakah kebangkrutan itu tidak bisa diramalkan sebelumnya?
Apakah kita tidak bisa memanfaatkan informasi laporan keuangan dalam
menguji sehat atau tidaknya usaha bisnis. Kondisi yang membuat para
investor dan kreditor merasa hawatir jika perusahaan mengalami kesulitan
Menurut Antara News (4 Desember 2007) Bank Indonesia menyatakan
kondisi perekonomian saat ini jauh lebih baik dari kondisi tahun 1997 saat
krisis ekonomi melanda Indonesia. Hal ini tercermin dari beberapa indikator
ekonomi seperti stabilitas makroekonomi yang terjaga, surplus transaksi
berjalan, cadangan devisa yang tinggi, sistem nilai tukar yang mengambang,
kondisi fiskal yang sehat dan kondisi perbankan yang relatif lebih baik.
Dijelaskannya, berbagai indikator makro ekonomi saat ini lebih baik
dibanding masa krisis dahulu, seperti pertumbuhan ekonomi, laju inflasi yang
semakin rendah, transaksi berjalan yang surplus dan cadangan devisa yang
bertambah signifikan dari 20 Miliar dolar AS pada tahun 1997 menjadi 54
Miliar dolar AS pada Oktober 2007. Berbagai indikator perbankan juga
menunjukkan banyak kemajuan, seperti permodalan yang semakin mantap
dengan CAR yang mencapai 20,29 persen dibanding hanya 9 persen pada
tahun 1997. Kualitas kredit juga jauh lebih baik dengan rasio kredit
bermasalah yang lebih rendah. Selain itu pembangunan infrastruktur
perbankan menunjukkan banyak kemajuan seperti adanya jaring pengaman
sektor keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), sistem pembayaran
RTGS, dan Good Corporate Governance (GCG).
Analisis laporan keuangan menurut Bernstein yang dikutip oleh
Sofyan Syafari Harahap (2007:190) dalam bukunya Analisa Kritis Atas
Laporan Keuangan adalah: Analisis laporan keuangan mencakup penerapan
melihat dari laporan itu ukuran–ukuran dan hubungan tertentu yang sangat
berguna dalam proses pengambilan keputusan.
Krisis moneter berkepanjangan yang melanda Indonesia menurut Siti
Rodliyah (2003:2) sangat berpengaruh pada semua aspek kehidupan terutama
di bidang ekonomi. Keadaan ekonomi yang berfluktuasi tersebut membuat
keadaan perekonomian negara menjadi sangat memperihatinkan. Dari
mulainya krisis yaitu pertengahan bulan Juli 1997 sampai sekarang banyak
perusahaan yang mengalami kondisi ekonomi keuangan yang tidak stabil.
Melemahnya kinerja perusahaan pada saat ini disebabkan oleh banyaknya
faktor diantaranya produk-produk yang dihasilkan banyak menggunakan
bahan yang memiliki kandungan impor tinggi sehingga produk yang
dihasilkan harus dibiayai dengan dollar yang semakin menguat. Sementara
pasar, terutama pasar domestik sudah tidak mampu menyerap karena
melemahnya daya beli yang ada. Akibatnya, likuiditas perusahaan menjadi
terganggu. Penyebab melemahnya kinerja yang lain adalah sebagian besar
perusahaan mempunyai hutang luar negeri dalam bentuk valuta asing (valas).
Turunnya nilai mata uang rupiah yang diikuti dengan kenaikan suku bunga
telah melambungkan hutang perusahaan. Akibatnya solvabilitas perusahaan
terganggu karena besarnya hutang valas ketika dikurskan ke dalam rupiah.
Dengan keadaan seperti ini memungkinkan perusahaan-perusahaan tersebut
mengalami kondisi rawan terjadinya kebangkrutan perusahaan. Pada saat
kebangkrutan ada suatu pola perubahan profil finansial, meskipun
kebangkrutan tidak dapat diramalkan secara pasti.
Kebangkrutan merupakan masalah yang sangat esensial menurut Siti
Rodliyah (2003:2) yang harus diwaspadai oleh perusahaan. Karena jika
perusahaan sudah terkena bangkrut, maka perusahaan tersebut benar-benar
mengalami kegagalan usaha. Untuk itu perusahaan harus sedini mungkin
melakukan berbagai analisis terutama analisis yang menyangkut kebangkrutan
perusahaan. Dengan analisis ini maka sangat bermanfaat bagi perusahaan
untuk melakukan antisipasi yang diperlukan.
Menurut Mamduh dan Halim (2007:263) analisis kebangkrutan
dilakukan untuk memperoleh peringatan awal kebangkrutan (tanda-tanda
bangkrut). Semakin awal tanda-tanda kebangkrutan tersebut, semakin baik
bagi pihak manajemen karena pihak manajemen bisa melakukan
perbaikan-perbaikan, agar kebangkrutan tersebut benar-benar tidak terjadi pada
perusahaan dan perusahaan dapat mengantisipasi atau membuat strategi untuk
menghadapi jika kebangkrutan benar-benar menimpa perusahaan. Analisis
yang banyak digunakan untuk memprediksi awal kebangkrutan perusahaan
saat ini adalah analisis diskriminan model Altman. Analisis diskriminan
Altman menurut Silvia dan Sugiharto (2004:3) merupakan satu model statistik
yang dikembangkan oleh Altman yang kemudian berhasil merumuskan
rasio-rasio finansial terbaik dalam memprediksi terjadinya kebangkrutan
perusahaan. Dari rasio tersebut kemudian dirumuskan dalam Z skor
kebangkrutan atau menjauhi kebangkrutan. Analisis diskriminan ini mengacu
pada rasio-rasio keuangan perusahaan. Rasio menggambarkan suatu hubungan
atau perimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan
dengan menggunakan alat analisis berupa rasio ini akan dapat menjelaskan
atau memberi gambaran kepada analisis tentang baik buruknya keadaan atau
posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka rasio itu
dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang digunakan sebagai
standar, sedang yang digunakan dalam analisis yaitu laporan neraca dan
laporan rugi laba. Adapun alasan pengambilan model Altman sebagi prediksi
kebangkrutan menurut Sarwanih (2007:59) karena model ini memiliki tingkat
ketepatan yang relatif tinggi yaitu sebesar 82,7% dibandingkan dengan model
Shumway yang tidak mempunyai kemampuan prediksi yang baik bahkan
sangat buruk 0%. Atau dari hasil yang didapat model tersebut memiliki
kesalahan prediksi yang lebih besar dibandingkan dengan model Altman yaitu
sebesar 100%, sedangkan pada model Altman kesalahan dalam memprediksi
sebagai perusahaan tidak default hanya sebesar 26,7%.
Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data sekunder berupa
laporan keuangan dari masing-masing perusahaan perbankan konvensional
yang kemudian dihitung dengan menggunakan model Altman, yaitu Z-skor
yang merupakan gabungan dari 5 rasio, yaitu rasio modal kerja terhadap total
aktiva (X1), rasio laba ditahan terhadap total aktiva (X2), rasio laba sebelum
bunga dan pajak terhadap total aktiva (X3), rasio nilai pasar modal terhadap
Z lebih besar dari 0,031 maka perusahaan diindikasikan non financial distress,
sedangkan apabila nilai Z kurang dari 0,031 maka perusahaan diindikasikan
financial distress. Nilai 0,031 (Data diolah) dilihat dari perhitungan halaman
90 di bab 4.
Penentuan pedoman kondisi ekonomi (Tabel:4.3:84-86) financial
distress dan non financial distress pada perusahaan perbankan konvensional
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada penelitian ini adalah untuk
perusahaan yang finacial distress (tidak sehat) memiliki laba negatif selama 2
tahun berturut-turut diproyeksikan dengan kondisi 0 untuk Laba/Rugi dibawah
5 Triliyun sebelum dan sesudah terpilihnya Susilo Bambang Yodhoyono
(2004-2007), sedangkan untuk non financial distress (sehat) yang memiliki
laba positif selama 2 tahun berturut-turut memiliki proyeksi kondisi 1 untuk
Laba/Rugi diatas 5 Triliyun sebelum terpilihnya Susilo Bambang Yodhoyono
(2004) serta kondisi 2 untuk Laba/Rugi diatas 5 Triliyun sesudah terpilihnya
Susilo Bambang Yodhoyono (2005-2007).
Seiring dengan adanya perubahan situasi dan kondisi menurut Siti
Rodliyah (2003:2), mulai dari deregulasi di bidang perbankan sampai dengan
adanya krisis ekonomi telah membawa banyak perubahan dalam kondisi
perbankan Indonesia. Melemahnya nilai tukar rupiah telah menimbulkan
kesulitan yang besar pada dunia perbankan, khususnya bagi perusahaan
perbankan yang memiliki pinjaman dengan standar dollar. Besarnya kesulitan
likuiditas tersebut telah memicu terjadinya krisis pada perbankan nasional. Hal
program penyehatan perbankan lainnya. Di samping itu, menurut Eddie
Rinaldy (2008:1) sektor perbankan merupakan sektor yang paling banyak
diatur (heavy regulation), karena secara operasional menyentuh banyak aspek,
moneter, mobilisasi pendanaan, sektor riil, ketenaga kerjaan, teknologi
informasi, dan sejumlah aspek ekonomi lainnya. Pengaturan tersebut meliputi
segi yang berkaitan dengan kelembagaan, operasional dan kinerja
(performance). Sehubungan dengan hal itu, maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian dan menulis skripsi dengan judul: Pengaruh
perubahan kondisi ekonomi terhadap kinerja keuangan dalam bentuk
integrasi rasio keuangan model Altman (Studi kasus pada sektor
perbankan 2004-2007).
Penelitian ini memberikan pembatasan masalah, supaya penelitian ini
mempunyai ruang lingkup dan arah penelitian yang jelas :
1. Bank yang diteliti adalah bank konvensional yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia .
2. Dalam penelitian ini penulis menetapkan periode penelitian selama empat
tahun, yaitu dari tahun 2004-2007.
3. Bank yang diteliti adalah bank komersil.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka permasalahan yang
timbul dalam penelitian ini antara lain :
1. Bagaimana pengaruh perubahan kondisi ekonomi terhadap kinerja
2. Apakah rasio yang terdapat dalam model Altman dalam hal ini WCTA,
RETA dan STA dapat memprediksi kebangkrutan suatu bank.
3. Berapa banyak bank yang mengalami kesulitan keuangan dari perubahan
kondisi perekonomian tersebut.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan pada perumusan masalah di atas, maka yang menjadi
tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memberi bukti empiris pengaruh perubahan kondisi ekonomi terhadap
kinerja keuangan yang didasarkan pada rasio keuangan yang
diintegrasikan menurut model Altman dengan menggunakan diskriminan.
2. Memberi bukti empiris rasio model Altman seperti WCTA, RETA dan
STA dapat memprediksi financial distress suatu bank atau tidak.
3. Menunjukan berapa banyak bank yang mengalami kesulitan keuangan dari
perubahan kondisi tersebut dan bank-bank yang mana saja yang
mengalami kondisi kesulitan keuangan .
Sedangkan manfaat yang diharapkan penulis dari penyusunan
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan tentang perbankan, khususnya
pengetahuan tentang kinerja perbankan.
2. Bagi Perusahaan
Sebagai sumber informasi bagi perusahaan-perusahaan perbankan untuk
3. Bagi Investor
Sebagai bahan pertimbangan atau sumber informasi dalam mengambil
keputusan investasi, khususnya investasi di perusahaan perbankan.
4. Bagi Instansi
Sebagai kajian literature pelengkap bagi peneliti lain yang ingin
melakukan penelitian dibidang yang sama.
5. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini sebagai referensi dan bahan pemikiran untuk menindak-
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Lembaga perbankan
a. Pengertian Perbankan
Menurut Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 tentang
Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor
10 tahun 1998 pengertian bank dalam Pratama Raharja (2004:293)
adalah sebagai berikut: “Bank adalah badan usaha yang menghimpun
dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya
kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk
lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”.
Pengertian bank menurut PSAK Nomor 31 dalam Standar
Akuntansi Keuangan (2002: 31) adalah: “Bank adalah suatu lembaga
yang berperan sebagai perantara keuangan antara pihak-pihak yang
memiliki kelebihan dana dan pihak-pihak yang memerlukan dana, serta
sebagai lembaga yang berfungsi memperlancar lalu lintas
pembayaran”.
Berdasarkan SK Menteri Keuangan RI Nomor 792 tahun 1990
pengertian dalam T.Gilarso (2004:260): “Bank merupakan suatu badan
penyaluran dana kepada masyarakat terutama guna membiayai
investasi perusahaan”.
Menurut Ahmad Rodoni (2006:21) pengertian bank adalah badan
usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan
dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau
bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat
banyak.
Berdasarkan definisi-definisi di atas menurut Iskandar Putong
(2008:321) maka dapat disimpulkan bahwa bank adalah suatu perusahan
yang mengelola dana dari masyrakat (lembaga yang dipercaya masyarakat
untuk mengamankan uangnya) dengan memberikan imbalan berupa bagi
hasil ataupun bunga untuk setiap periode yang ditentukan. Akan tetapi
pada kenyataannya di zaman modern seperti sekarang ini bank ternyata
tidak hanya mengelola dana dari masyarakat saja, melainkan juga
melakukan aktivitas bisnis seperti sebagai lembaga transfer dana, pembuat
uang giral, jasa penitipan barang penting/uang dan lain sebagainya.
b. Jenis-jenis perbankan menurut Undang-undang No.10 tahun 1998
dalam Pratama Raharja (2004:293) dan Ahmad Rodoni (2005:22)
1) Bank Umum
Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan
usaha secara konvensional atau berdsarkan prinsip syariah, yang
dalam kegiatannya memberi jasa dalam lalu lintas pembayaran.
(a). Kegiatan usaha bank umum menurut Pratama Raharja
(2004:293) antara lain :
1. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan berupa giro, deposito berjangka, tabungan dan
atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.
2. Memberi kredit.
3. Menerbitkan surat pengakuan utang.
4. Membeli, menjual atau menjamin atas resiko sendiri
maupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya.
5. Kegiatan-kegiatan lain yang lazim dilakukan bank
sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang dan
peraturan yang berlaku.
(b). Kegiatan usaha yang tidak boleh dilakukan oleh bank umum
adalah :
1. Melakukan penyertaan modal, kecuali dalam hal tertentu
seperti yang diatur dalam undang-undang.
2. Melakukan usaha perasuransian.
2) Bank Perkreditan Rakyat menurut Pratama Raharja (2004:294)
dan Ahmad Rodoni (2005:55)
Bank perkreditan rakyat (BPR) adalah bank yang
melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau
berdasarkan prinsip syariah, yang dalam kegiatannya tidak
memberi jasa dalam lalu lintas pembayaran. Jadi BPR adalah bank
yang menerima simpanan dalam bentuk deposito berjangka,
tabungan dan atau bentuk lainnya yang dapat dipersamakan dengan
itu.
( a). Kegiatan-kegiatan usaha yang diperbolehkan dilakukan oleh
BPR menurut undang-undang adalah:
1. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan.
2. Memberikan kredit.
3. Menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan
prinsip bagi hasil.
4. Menempatkan dana yang dalam bentuk SBI, deposito dan
atau tabungan pada bank lain.
( b). Kegiatan usaha yang tidak diperkenankan dilakukan oleh BPR
diantaranya adalah:
1. Menerima simpanan dalam bentuk giro.
2. Melakukan penyertaan modal.
4. Melakukan usaha lain diluar usaha kegiatan tersebut.
c. Instrumen Pasar Keuangan
Instrument pasar keuangan dalam bank dan lembaga
keuangan lainnya (Ahmad Rodoni 2006: 6-7) dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu :
1. Instrumen pasar uang
Mengalami sedikit fluktuasi harga, sehingga resiko lebih kecil
dalam investasi. Termasuk dalam instrumen pasar uang adalah:
a. United Stated Treasury Bills: instrumen hutang jangka pendek
milik pemerintah United States yang diterbitkan dakam 3
bulan, 6 bulan, 9 bulan dan 12 bulan waktu maturitasnya
karena defisit keuangan pemerintah federal.
b. Negotiable Bank Certificates of Deposit (CD): merupakan
instumen hutang yang dikeluarkan oleh bank bagi penabung
(depositors) yang akan memperolah pembayaran bunga
tahunan dalam jumlah tertentu dan pada saat maturitas akan
menerima kembali harga pembelian aslinya (original).
c. Comercial Paper: instumen hutang jangka pendek yang
diterbitkan oleh bank besar dan perusahan terkenal, seperti
General Motor. AT&T, dan sebaginya.
d. Banker’s Acceptances: bank draft ( janji pembayaran hampir
e. Repurchase Agreements: efektifnya pinjaman jangka pendek
(biasanya maturitas kurang dari dua minggu) dimana Treasury
Bill (T-Bills) disiapkan sebagi collateral.
f. Eudollars: US dollars yang didepositkan di bank asing di luar
Amerika serikat atau cabang bank asing di US.
2. Instrumen pasar modal menurut Ahmad Rodoni (2005:8)
Merupakan instrumen hutang dan ekuitas dengan maturitas
atau jatuh tempo lebih dari satu tahun. Investasi di pasar modal
lebih beresiko dibandingkan dengan di pasar uang. Termasuk
dalam instumen pasar modal adalah :
a) Saham adalah ekuitas yang merupakan tuntutan (claims)
terhadap pendapatan bersih dan asset perusahaan.
b) Mortages adalah pinjaman bagi individu atau perusahaan untuk
membeli rumah, tanah atau struktur riil lainnya, kemudian
dijadikan sebagai jaminan (collateral).
c) Corporate Bonds (Convertible Bonds) merupakan hutang
jangka panjang yang diterbitkan perusahaan dengan tingkatan
(rating) kredit yang baik.
d) US Goverment Securities merupakan instrumen hutang jangka
panjang yang diterbitkan oleh pembendaharaan pemerintah
Amerika Serikat (US) akibat defisit keuangan pemerintah
e) US Goverment Agent Securities merupakan hutang jangka
panjang yang diterbitkan oleh berbagi agen/perwakilan
pemerintah US.
f) State and Local Goverment Bonds dikatakan juga municipal
bonds merupakan instrumen hutang jangka panjang yang
diterbitkan oleh pemerintah pusat dan lokal untuk pengeluaran
keuangan bagi keperluan sekolah, pembuatan jembatan dan
program lainnya.
g) Consumer and bank Commercial Loans merupakan pinjaman
untuk consumer dan bisnis yang prinsip pelaksanannya
dilakukan oleh bank.
d. Peranan Lembaga Keuangan Dalam Proses Intermediasi dalam buku
bank dan lembaga keuangan lainnya Ahmad Rodoni (2005:4)
Perantara keuangan (financial intermediation) adalah proses
penyaluran dana yang surplus (lender-sever) dari unit ekonomi, yaitu
sektor rumah tangga, perusahaan, pemerintah dan orang asing untuk
disalurkan kepada yang defisit dana (borrower-spender) dari unit
ekonomi, yaitu sektor rumah tangga, perusahaan, pemerintah dan
orang asing. Proses intermediasi dilakukan oleh lembaga keuangan
dengan cara pembeli sekuritas primer (saham, obligasi, commercial
paper dan sebagainya) yang diterbitkan oleh unit defisit, dalam waktu
yang sama lembaga keuangan mengeluarkan sekuritas sekunder (giro,
Lembaga keuangan sebagi lembaga intermediasi dalam
Ahmad Rodoni(2006:4-5) memiliki peran yang sangat strategis,
antara lain:
1. Pengalihan asset (asset transmutation): bank dan lembaga
keuangan bukan bank akan memberikan pinjaman kepada pihak
yang membutuhkan dana dalam jangka tertentu yang telah
disepakati. Pengalihan asset dapat juga terjadi jika bank dan
lembaga keuangan bukan bank menerbitkan sekuritas sekunder
yang diterbitkan oleh unit defisit.
2. Likuiditas (liquidity): berhubungan dengan kemampuan
memperoleh uang tunai pada saat dibutuhkan.
3. Realokasi pendapatan (income reallocation): banyak individu
menyisihkan dana dan merealokasikan pendapatannya untuk
persiapan menghadapi waktu yang akan datang.
4. Transaksi (transaction): lembaga keuangan memberikan
kemudahan kepada pelaku ekonomi untuk melakukan transaksi
barang dan jasa.
5. Efisiensi (efficiency): lembaga keuangan dapat menurunkan biaya
transaksi dengan jangkauan pelayanaan dan juga memperlancar
serta mempertemukan pihak-pihak yang saling membutuhkan.
2. Laporan Keuangan
Menurut Mamduh dan Halim (2007:8) laporan keuangan yang
dari proses atau kegiatan-kegiatan akuntansi yang dilakukan perusahaan.
Laporan keuangn dibuat untuk mempertanggung jawabkan kegiatan
perusahaan terhadap pemilik dan memberikan informasi mengenai posisi
keuangan yang telah dicapai perusahaan terhadap pihak-pihak yang
berkepentingan. Maksud laporan keuangan di sini adalah suatu alat yang
mana informasi dikumpulkan dan diproses dalam akuntansi keuangan
yang akhirnya dimasukan dalam bentuk laporan yang dikomunikasikan
secara periodik kepada pemakainnya.
Menurut Harahap dalam Riyan Ariafinanda (2006:9) Ikatan
akuntansi Indonesia dalam Standar Akuntansi Keuangan tentang kerangka
dasar penyususnan dan penyajian laporan keuangan paragraph 7
mengemukakan pengertian sebagai berikut : laporan keuangan merupakan
bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap
biasanya meliputi neraca, laporan rugi laba, laporan perubahan posisi
keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya, selagi
laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta
materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Dalam bukunya Financial Statement Analysis, Myer dalam Ryan
Ariafinanda (2006:10) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan laporan
keuangan adalah: dua daftar yang disusun oleh akuntan pada akhir periode
untuk suatu perusahaan. Kedua daftar itu adalah neraca atau daftar posisi
akhir-akhir ini sudah menjadi kebiasaan bagi perseroan-perseroan untuk
menabah daftar ketiga yaitu daftar surplus atau daftar laba yang ditahan.
3. Analisis Laporan Keuangan.
a. Pengertian Laporan Keuangan.
Menurut Mamduh dan Halim (2007:5) analisa terhadap laporan
keuangan suatu perusahaan pada dasarnya ingin mengetahui tingkat
profitabilitas (keuntungan) dan tingkat sehat atau tingkat tidak sehat
suatu perusahaan.
b. Tujuan Laporan Keuangan.
Salah satu penting tugas setelah akhir tahun adalah
menganalisis laporan keuangan perusahaan. Analisis ini didasarkan
pada laporan keuangan yang sudah disusun. Tujuan laporan keuangan
menurut Bernstein dalam Harahap (2007:18) adalah sebagai berikut:
a. Screening
Analisis dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui situasi dan
kondisi perusahaan dari laporan keuangan tanpa pergi langsung ke
lapangan.
b. Understanding
Memahami perusahaan, kondisi keuangan, dan hasil usahanya.
c. Forcasting
Analisis digunakan untuk meramalkan kondisi keuangan
d. Diagnosis
Analisis dimaksudkan untuk melihat kemungkinan adanya
masalah-masalah yang terjadi baik dalam manajemen, operasi
keuangan atau masalah lain dalam perusahaan.
e. Evaluation
Analisis dilakukan untuk menilai prestasi manajemen dalam
mengelola perusahaan.
Disamping tujuan tersebut diatas analisis laporan keuangan juga
untuk menilai kewajaran laporan keuangan yang disajikan dalam
Harahap (2007 :18).
c. Teknik Laporan Keuangan.
Teknik analisis lapoaran keuangan dapat disebutkan sebagai berikut :
1. Perbandingan laporan keuangan perubahan tahun ke tahun.
2. Seri trend/ angka indeks.
3. Laporan keuangan common size (bentuk awam) analisis struktur
laporan keuangan.
4. Analisis rasio.
5. Analisis khusus antara lain :
a. Ramalan kas.
b. Analisis perubahan posisi keuangan.
c. Laporan variasi gross margin.
e. Analisis dupont.
Menurut Foster dalam Harahap (2007:215) dari sisi lain dia
mengemukakan beberapa teknik analisis sebagai berikut:
1. Cross Sectional Technique
1.1. Common Size Statement.
1.2. Analisis Rasio.
2. Time Series Technique
2.1. Trend Statement.
2.2. Analisis Rasio Keuangan.
2.3. Ukuran Variabilitas.
3. Gabungan laporan keuangan dan non keuangan:
3.1. Informasi pasar produk.
3.2. Informasi pasar modal.
Harahap (2007:222) mengemukakan teknik dalam analisis laporan
keuangan sebagai berikut: Model analisis prediksi atau rating, dalam
literatur akuntansi para akademis atau peneliti sering melakukan penelitian
dengan tujuan untuk memprediksi suatu keadaan dengan menggunakan
data historis biasanya laporan keuangan. Mereka mengamati laporan
keuangan beberapa tahun dan mencoba melihat fenomena khusus yang ada
didalamnya dan dari sana diambil suatu kesimpulan dalam bentuk
1. Bond Rating
Ini digunakan untuk menghitung peringkat obligasi yang dipasarkan di
pasar modal.
2. Banckrupty Model
Model ini memberikan rumus untuk menilai kapan perusahaan akan
bangkrut. Dengan menggunakan rumus yang diisi dengan rasio
keuangan maka akan diketahui angka tertentu yang akan menjadi
bahan untuk memprediksi kapan kemungkinan suatu perusahaan akan
bangkrut.
Laporan keuangan beserta pengungkapannya dibuat perusahaan
dengan tujuan memberikan informasi yang berguna untuk
pengambilan keputusan-keputusan investasi dan pendanaan, seperti
yang dinyatakan dalam SFAC No. 1 dalam Luciana Spica Amilan &
Emanuel dalam Rahman Muslim (2008:12) bahwa laporan keuangan
harus memberikan informasi : untuk keputusan informasi dan kredit,
mengenai aktiva dan kewajiban, mengenai kinerja perusahaan, serta
mengenai sumber dan penggunaan kas.
Menurut Kasmir (2003:293-240) laporan keuangan bank
menunjukkan kondisi keuangan bank secara keseluruhan. Dari laporan
ini akan terbaca bagaimana kondisi bank yang sesungguhnya, termasuk
kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Laporan ini juga menunjukkan
tujuan pembuatan laporan keuangan suatu bank adalah sebagi berikut:
memberikan informasi keuangan tentang jumlah aktiva dan jenis-jenis
aktiva yang dimiliki, memberikan informasi tentang jumlah kewajiban
dan jenis-jenis kewajiban baik jangka pendek maupun jangka panjang,
memberikan informasi keuangan tentang jumlah modal dan jenis-jenis
modal pada bank tersebut, memberikan informasi keuangan tentang
hasil usaha yang tercermin dari jumlah pandapatan yang diperoleh dan
sumber-sumber pendapatan bank tersebut, memberikan informasi
tentang jumlah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam periode tersebut,
memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi
dalam aktiva, kewajiban dan modal satu bank serta memberikan
informasi tentang kinerja manajemen dalam suatu periode dari hasil
laporan keuangan yang disajikan.
Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan
menurut Kasmir (2003:241-242) antara lain :
a) Pemegang saham: berkepentingan untuk melihat kemajuan bank
yang dipimpin oleh manajemen selama satu periode. Kemajuan
yang dilihat adalah kemampuan dalam meciptakan laba dan
pengembangan asset yang dimiliki. Dari laporan ini juga pemilik
dapat menilai sampai sejauh mana pengembangan usaha bank
tersebut telah dijalankan pihak manajemen sekaligus menghitung
b) Pemerintah: mengetahui kemajuan bank yang bersangkutan,
berkepentingan terhadap kepatuhan bank dalam melaksanakan
kebijakan moneter yang telah ditetapkan. Serta menilai sampai
sejauh mana peranan perbankan dalam pengembangan
sektor-sektor tertentu.
c) Manajemen: menilai kinerja manajemen dalam mancapai
target-target yang telah ditetapkan, menilai kinerja sumber daya manusia
yang dimiliki
d) Karyawan: kondisi keuangan sebenarnya dapat memperbaiki/
meningkatkan kesejahteraan jika mengalami keuntungan
sebaliknya melakukan perbaikan jika mengalami kerugian.
e) Masyarakat luas: jaminan terhadap uang yang disimpan di bank
4. Kinerja Keuangan
a. Pengertian Kinerja Keuangan
Kinerja merupakan hal penting yang harus dicapai oleh setiap
perusahaan di manapun, karena kinerja merupakan cerminan dari
kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengalokasikan sumber
dayanya. Selain itu tujuan pokok penilaian kinerja adalah untuk
memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam
mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, agar
membuahkan tindakan dan hasil yang diharapkan. Standar perilaku
dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal yang
Pengertian kinerja keuangn menurut Indra Bastian dalam Dana
Siswar sebagai berikut (2003:233) : kinerja adalah gambaran mengenai
tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan dalam mewujudkan
sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam
perumusan skema strategis suatu organisasi.
Pernyataan tersebut juga didukung oleh Kasmir (2007:54) yang
menyatakan bahwa kinerja bank merupakan salah satu faktor utama
yang harus diperhatikan oleh manajemen bank karena mengindikasi
tingkat kesehatan bank yang dapat dilihat dari produktivitas asset.
Maksud dari pernyataan tersebut sehat atau tidaknya suatu bank dapat
diukur dari besarnya laba yang diperoleh bank tersebut. Tingkat
kesehatan bank dalam meningkatkan pendapatannya tentunya dengan
meningkatkan produktivitas asset. Semakin tinggi tingkat profit dari
bank yang menggambarkan tingkat kesehatan yang baik.
Tingkat kesehatan bank menggambarkan kondisi keuangan dan
seberapa baik bank tersebut melakukan manajemen yang dapat diukur
dari profit bank yang dapat dihitung dengan beberapa cara. Return on
Asset yang digunakan untuk mengukur kemampuan asset bank dalam
memperoleh keuntungan. Return on Equity yang digunakan untuk
mengukur kemampuan modal sendiri dalam memperoleh keuntungan
bersih. Tobin’s Q untuk mengukur nilai pasar sebagai peluang
Tobin’s Q dapat mengidentifikasikan tingkat kesehatan bank yang baik
dalam Staikouras (2007:13).
b. Penilaian Knierja
Dana Siswar (2003:233) memberikan pengertian penilaian
kinerja sebagai berikut : penilaian kinerja merupakan proses mencatat,
dan mengukur proses pencapaian pelaksanaan kegiatan dalam arah
pencapaian misi melalui hasil-hasil yang ditampilkan berupa produk
atau jasa.
Salah satu bentuk mengukur kinerja keuangan dengan
menggunakan integrasi rasio keuangan adalah model Altman. Oleh
Altman analisis tersebut ditransformasi menjadi bentuk yang sangat
sederhana, yaitu satu dimensi, fungsi diskriminan tersebut berbentuk :
dimana :
V1, V2……... Vn = Disciminant coefficient
X1, X2 ……Xn = Independent variables
Jadi dengan kata lain, rasio-rasio keuangan tersebut tidak dapat
berpengaruh sendiri-sendiri untuk mengukur kinerja keuangan secara
menyeluruh tidak dapat dijadikan indikator yang menyatakan
kepailitan perusahan.
Altman mengemukakan model kinerja keuangan dalam bentuk
rasio keuangan yang menggambarkan kinerja keuangan perusahaan
secara menyeluruh dan digunakan untuk memperediksi kepailitan
perusahaan sebagi berikut :
dimana:
X1 = Working capital to total asset.
X2 = Retained earning to total asset.
X3 = Earning before interest & taxes to total asset ( EBIT).
X4 = Market value of equity to book value of debt.
X5 = Sales to total asset ratio.
Working Capital/Total Asset (WC/TA) dalam Dana Siswar
(2003:231).
Altman memilih tiga rasio likuiditas yang akan dimasukan
dalam model persamaan diskriminannya untuk memprediksi
kebangkrutan yaitu working capital to asset ratio, current ratio,
dan quick ratio. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpukan
bahwa dari ketiga ratio tersebut Altman memilih working capital to
asset ratio. Sedangkan dua ratio likuiditas lainnya tidak
dimasukkan karena kurang membantu dalam memprediksi
kebangkrutan perusahaan. Semakin tinggi tingkat ratio ini artinya
perusahaan semakin mampu untuk membiayai operasi perusahaan
sehari-hari.
Retained Earning/ Total asset (RE/TA) dalam Dana Siswar
(2003:232).
Rasio ini digunakan untuk mengukur profitabilitas
perusahaan. Altman mengatakan rasio ini mengukur profitabilitas
kumulatif beberapa waktu dan merupakan suatu rasio yang baru.
Umur perusahaan secara implisit ikut dipertimbangkan dalam rasio
ini. Suatu peusahaan yang relatif lama yang kemungkinan tingkat
RE/TA rasio rendah tidak mempunyai waktu membentuk profit
kumulatifnya.
Earning Before Interest and Taxes/ Total Asset (EBIT/TA) dalam
Dana Siswar (2003:232).
Altman mengatakan rasio ini digunakan untuk mengukur
ketepatan produktivitas asset-asset perusahaan, yang bebas dari
pajak dan faktor leverage. Semakin tinggi tingkat rasio ini artinya
semakin produktif asset-asset perusahaan digunakan untuk
menghasilkan keuntungan.
Market Value of Equity/ Book Value of Total Liabilities ( MVE/TL)
dalam Dana Siswar (2003:232).
Rasio keempat yang digunakan adalah equity yang diukur
dengan dikombinasikannya nilai pasar dari semua lembar saham,
saham preferen dan saham biasa, juga semua yang termasuk dalam
Sales/Total Asset (S/TA) dalam Dana Siswar (2003:232).
Rasio ini disebut juga dengan capital turn over ratio. Rasio
ini merupakan rasio keuangan standar menggambarkan
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan penjualan dari
asset-asset yang digunakan oleh perusahaan. Rasio ini merupakan suatu
ukuran bagi kapasitas manajemen dalam menghadapi keadaan
persaingan.
5. Analisis Rasio
a. Pengertian Rasio Keuangan.
Laporan keuangan yang disajikan perusahaan baru dapat
memberikan arti dalam pengambilan keputusan oleh berbagai pihak,
jika laporan keuangan tersebut dianalisis sesuai dengan kepentingan
masing-masing pihak.
Foster dalam Dana Siswar (2003:230) memberikan analisis
laporan keuangan sebagai berikut: analisis laporan keuangan
merupakan studi hubungan antara sekelompok laporan keuangan pada
saat tertentu dan trend yang menghubungkan beberapa waktu.
Lebih lanjut Gitman (2000:124) dalam Dana Siswar (2003:230)
mengatakan analisis keuangan adalah menghitung dan
menginterpretasikan rasio keuangan tersebut sehingga dapat diketahui
sampai dimana kinerja perusahaan. Pengelompokan rasio keuangan
menyajikan informasi kinerja keuangan untuk kepentingan
Menurut Ilya (2000:5) dalam Dana Siswar (2003:231) “kesulitan
dalam pengambilan keputusan dengan menggunakan rasio-rasio
keuangan adalah rasio-rasio tersebut cukup banyak dan bervariasi,
disamping hasil perhitungan yang dapat bersifat individu, dan tidak
dapat langsung digunakan untuk mengambil keputusan ekonomi”.
Analisis rasio keuangan ini banyak digunakan dalam berbagai
tunjuan penelitian khususnya dalam menilai kinerja perusahaan,
walaupun sebenarnya masih banyak kegunaan lain yang dapat diambil
dari analisis laporan keuangan.
Analisis rasio keuangan, yang menghubungkan unsur-unsur
neraca dan perhitungan laba-rugi satu dengan lainnya, dapat
memberikan gambaran tentang sejarah perusahaan dan penilaian
posisinya pada saat ini. Analisis rasio juga memungkinkan manajer
keuangan memperkirakan reaksi pasar kreditor dan investor
memberikan pandangan kedalam tentang bagiaman kira-kira dana
dapat diperoleh.
Analisis rasio keuangan tidak hanya menggunakan rumus
terhadap data keuangan untuk menghitung rasio tertentu, tetapi yang
lebih penting yaitu menginterpretasikan nilai rasio tersebut. Dalam
Ryan Ariafinanda (2006:18) membagi analisis rasio keuangan meliputi
1) Pebandingan internal.
Analisis dapat membandingkan rasio sekarang dengan yang
lalu dan yang akan datang untuk perusahaan yang sama. Jika rasio
keuangan disajikan dalam bentuk suatu daftar untuk periode
beberapa tahun, analisis dapat mempelajari komposisi
perubahan-perubahan dan menetapkan apakah telah terdapat suatu perbaikan
atau bahkan sebaiknya di dalam kondisi keuangan dan prestasi
perusahaan selama jangka waktu tersebut.
2) Perbandingan eksternal.
Metode perbandingan ini meliputi perbandingan rasio
perusahaan dengan perusahaan lainnya yang sejenis atau dengan
rata-rata pada satu titik yang sama.
Analisis rasio keuangan dalam Ryan Ariafinanda (2006:19)
juga dapat dibagi atas dua jenis berdasarkan variate yang
dugunakan dalam analisa yaitu :
1) Univariate ratio analysis.
Merupakan analisis rasio keuangan yang menggunakan
suatu variate dalam melakukan analisa. Contohnya seperti
profit margin ratio, return on assets (ROA), return on equity
2) Multivariate ratio analysis.
Merupakan analisis rasio keuangan yang menggunakan
lebih dari satu variate dalam melakukan analisa. contohnya
seperti Altman Z-score.
Analisis internal dilakukan melalui antara lain: analisis
strategi perusahaan dimana strategi ini memfokuskan pada
persaingan yang dihadapi perusahaan, struktur biaya relatif
terhadap pesaing kemampuan manajemen dalam
mengendalikan biaya, kualitas manajemen lainnya. Pada
umumnya analisis internal yang banyak digunakan adalah
analisis terhadap laporan keuangan perusahaan yaitu melalui
analisis trend untuk beberapa tahun buku/periode dan analisis
rasio finansial.
Dengan mempelajari trend beberapa periode dan
kegiatan-kegiatan usaha perusahaan untuk beberapa tahun
terakhir diharapkan ada gambaran perkembangan,
fluktuasi/kemunduran. Informasi berharga tersebut dapat
menyangkut posisi keuangan dan kegiatan operasional
perusahaan (laba/rugi) dari perusahaan yang bersangkutan.
Suatu perusahaan diramalkan menuju kebangkrutan bila hasil
analisis trend terhadap posisi keuangan menunjukkan
kecenderungan menurunnya posisi kas pada bank, modal kerja
Melakukan interpretasi serta analisis terhadap lapoaran
keuangan yang lazimnaya diterbitkan pada setiap periode
memiliki manfaat yang cukup penting bagi para analis untuk
mengetahui secara lebih mendalam mengenai keadaan dan
perkembangan suatu perusahaan.
Dalam menginterpretasikan dan menganalisis laporan
keuangan, seseorang analisis memerlukan adanya ukuran.
Ukuran yang sering digunakan dalam analisis keuangan adalah
rasio.
Menurut Munawir (1999:64) dalam Ryan Ariafinanda
(2006:17), rasio keuangan dapat didefinisikan sebagai berikut:
rasio keuangan menggambarkan suatu hubungan atau
perimbangan antara satu jumlah tertentu dengan jumlah yang
lain, dan dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini
akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada
penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi
keuangan suatu perusahaan.
Definisi diatas dapat diartikan bahwa melakukan
analisis hubungan dari berbagi pos dalam laporan keuangan
pada jumlah tertentu merupakan dasar agar dapat
menginterpertasikan kondisi keuangan dari hasil operasi suatu
b. Macam-macam Rasio Keuangan menurut Andriani Kusumaningrum
(2003:70). Jenis rasio keuangan yang biasa digunakan dibagi menjadi
2 yaitu :
1). Rasio neraca.
Yaitu rasio yang berisi tentang aspek kondisi keuangan
perusahaan. Terdiri dari aktiva lancar dikurangi dengan hutang
lancar. Aktiva lancar perusahaan perbankan terdiri dari Cash on
Hand and in Banks, Placemenent in other Banks, Notes and
securities dan Loands. Sedangkan kewajiban lancar perusahaan
perbankan terdiri dari Demand deposit, Time deposit dan
Saving deposit
2). Rasio laporan laba/rugi.
Yaitu rasio yang berisi tentang aspek kinerja perusahaan.
Terdiri dari pendapatan, yang termasuk dalam pendapatan ini
antara lain pendapatan bunga dan pendapatan opersional.
Laba/Rugi sebelum pajak penghasilan serta laba bersih
persahaan.
Laporan laba Rugi merupakan ringkasan dari empat jenis
kegiatan yaitu: menjual produk atau jasa, beban produksi atau
untuk mendapatkan barang atau jasa yang dijual, beban yang
timbul dari memasarkan dan mendistribusikan produk atau jasa
operasional serta beban keuangan dalam menjalankan bisnis dalam
Arthur J. Keown, David F. Scott et al (2001:80)
c. Analisis rasio keuangan bank akan digunakan dalam penelitian ini
adalah rasio-rasio yang terdapat dalam formula Z-score Altman
menurut Ryan Ariafinanda (2006:19-22), yaitu sebagai berikut :
1). Rasio likuiditas.
Rasio modal kerja dibandingakn dengan total aktiva
Rasio ini merupakan rasio yang mendeteksi likuiditas dari total
aktiva dan posisi modal kerja (neto). Dimana modal kerja diperoleh
dari selisih antara aktiva lancar dengan utang lancar. Indikator yang
dapat digunakan untuk mendeteksi adanya masalah pada tingkat
likuiditas perusahan adalah indikator-indikator internal seperti, ketidak
cukupan kas, utang dagang membengkak, utilisasi modal (harta
kekayaan) menurun, penambahan utang yang tak terkendali dan
beberapa indikator lainnya. Umumnya, bila perusahaan mengalami
kesulitan keuangan, modal kerja akan turun lebih cepat dari pada
modal aktiva yang menyebabkan rasio ini turun.
2). Rasio profitabilitas
Rasio prifitabilitas dalam model Altman Z-score ada dua yaitu :
X1 = Working capital
total assets
Rasio ini mengukur kemampuan laba kumulatif dari
perusahaan. Pada beberapa tingkat, rasio ini juga
mencerminkan umur perusahaan, karena semakin muda
perusahaan semakin sedikit waktu yang dimilikinya untuk
membangun laba kumulatif. Bias yang menguntungkan
perusahaan-perusahaan yang lebih berumur ini tidak
mengherankan, karena pemberian tingkat kegagalan yang
tinggi kepada perusahaan yang lebih muda merupakan hal
yang wajar. Bila perusahaan mulai merugi, tentu saja nilai
dari total laba ditahan mulai turun. Bagi banyk perusahaan,
nilai laba ditahan dan radio X2 akan menjadi negatif.
X2= retarned earning/ total assets.
(b). Rasio laba sebelum bunga dan pajak dibandingkan dengan
total aktiva
Rasio ini mengukur kemampuan laba, yaitu tingkat
pengembalian dari aktiva, yang dihitung dengan membagi
laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) tahunan perusahaan
dengan total aktiva pada neraca akhir tahun. Rasio ini juga
dapat digunakan sebagai ukuran seberapa besar produktivitas
penggunaan dana yang dipinjam. Bila rasio ini lebih besar
perusahaan menghasilkan uang yang lebih banyak daripada
bunga pinjaman.
3). Rasio aktivitas
Rasio aktivitas yang digunakan dalam model Altaman ada dua
yaitu:
(a). Nilai pasar ekuitas dibandingkan dengan total hutang
Rasio ini sering juga digunakan dalam bentuk persamaan
net worth/total debt untuk perusahaan yang tidak terdaftar di
Burasa Efek Indonesia. Rasio ini mengukur kemampuan
perusahaan dalam memberikan jaminan kepada setiap utangnya
melalui modalnya sendiri. Rasio ini merupakan kebalikan dari
rasio utang permodal sendiri (DER). Nilai pasar ekuitas yang
dimaksud adalah nilai pasar modal sendiri, yaitu jumlah saham
perusahaan dikalikan dengan harga perlembar sahamnya.
Umumnya perusahaan-perusahaan yang gagal mengakumulasi
lebih banyak utang dibandingkan modal sendiri.
(b). Penjualan dibandingkan dengan total aktiva
Rasio ini disebut juga rasio perputaran total aktiva.
Rasio ini menunjukan efektivitas penggunaan seluruh harta
perusahaan dalam rangka menghasilkan atau
menggambarkan berapa rupiah penjualan bersih yang dapat X4= market value of equity/book value of debts
dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan dalam
bentuk harta perusahaan. Kalau perputarannya lambat, ini
menunjukkan bahwa aktiva yang dimiliki terlalu besar
dibandingkan dengan kemampuan perusahaan untuk
menjual.
6. Kebangkrutan.
a. Pengertian Kebangkrutan.
Menurut Mamduh dan Halim (2007:263) analisis
kebangangkrutan dilakukan untuk memperolah peringatan awal
kebangkrutan (tanda awal kebangkrutan). Semakin awal
tanda-tanda kebangkrutan tersebut, semakin baik bagi pihak manajemen
karena pihak manajemen bisa melakukan perbaikan-perbaikan. Pihak
kreditur dan juga pihak pemegang saham bisa melakukan
persiapan-persiapan untuk mengatasi berbagi kemungkinan yang buruk.
Tanda-tanda kebangkrutan tersebut dalam hal ini dapat dilihat dengan
menggunakan data-data akuntansi. Cara yang dapat ditempuh
manajemen untuk menganalisis kondisi keuangan perusahaan setelah
menangkap sinyal-sinyal kebangkrutan adalah analisis evaluasi
kebangkrutan baik melalui metode internal maupun eksternal. Analisis
eksternal dilakukan atas data yang bersumber dari luar perusahaan
seperti laporan perdagangan, statistik maupun indikator ekonomi yang
Dalam praktik, dan juga dalam penelitian empiris, kesulitan
keuangan sulit untuk didefinisikan. Kesulitan semacam itu bisa berarti
mulai dari kesulitan likuiditas (jangka pendek), yang merupakan
kesulitan yang paling berat
Kebangkrutan telah digunakan sebagi istilah umum menurut
Rahman Muslim (2008:35) adalah menerangkan keadaan perusahaan
yang mengalami kesulitan keuangan. Para peneliti telah menggunakan
istilah failure (kegagalan) dan bangkrupty (kebangkrutan) secara
bergantian :
Tabel : 2.1.
Definisi kebangkrutan / kegagalan.
Nama Istilah Definisi
Altman (1973)
Bangkrupty Perusahaan yang secara hukum bangkrut, baik ditempatkan dibawah perwalian/telah dijamin haknya untuk direorganisai dibawah National Bankrupty Act
Beaver (1967)
Failure Ketidakmampuan perusahaan untuk
membayar kewajiban keuangannya saat jatuh tempo/secara operasional diartikan sebagai perusahaan yang mengalami kebanhgkrutan, kegagalan membayar bunga dan pokok obligasi., saldo negatif perkiraan bank, deviden saham preperen yang tidak dibayar
Blum (1974)
Failure Kejadian-kejadian yang menunjukkan
ketidakmampuan untuk membayar utangnya saat jatuh tempo yang menggambrakan perusahan mengalami kebangkrutan/ menyebabkan terjadinya perjanjian eksplisit dengan kreditor untuk mengurangi hutang Deakin
(1972)
Failure Perusahaan yang mengalami kebangkrutan, insolvensi/likuidasi untuk kepentingan kreditor
Foster (1986)
Bangkrupty Suatu kejadian hukum yang sangat
Lanjutan Tabel : 2.1. Definisi kebangkrutan / kegagalan.
Nama Istilah Definisi
Kunt
Penghentian otonomi operasi yang diperintahkan oleh regulator
Sumber : Karel & prakash dalam Eni Listeyatai dalam Rahman Muslim (2008:35).
Kebangkrutan sebagai kegagalan perusahaan didefinisikan
dalam beberapa arti, menurut Muhammad Akhyar dan Eha Kurniasaih
(2000:137) dalam Rahman Muslim (2006:33) antara lain:
(1). Economic failure ( kegagalan ekonomi)
Kegagalan dalam arti ekonomi biasanya berarti bahwa
perusahaan kehilangan uang atau pendapatan perusahaan tidak
menutup biaya sendiri, ini berarti tingkat labanya lebih kecil dari
biaya modal/ nilai sekarang dari arus kas perusahaan lebih kecil
dari kewajibananya. Kegagalan terjadi bila arus kas sebenarnya
dari perusahaan tersebut jatuh dibawah arus kas yang diharapakan.
Bahkan kegagalan dapat juga berarti bahwa tingkat pendapatan
atas biaya historis dari investasinya lebih kecil dari biaya modal
(2). Financial failure ( kegagalan keuangan) dalam Rahman Muslim
(2008:33).
Insolvensi yang membedakan antara dasar arus kas dan
dasar saham insolvensi teknis dan insolvensi dalam pengertian
kebangkrutan. Insolvensi teknis adalah perusahaan dapat dianggap
gagal jika perusahaan tidak dapat memenuhi kewajibanya pada saat
jatuh tempo. Walaupun total aktiva melebihi total hutang atau
terjadi bila suatu perusahaan gagal memenuhi salah satu atau lebih
kondisi dalam ketentuan hutangnya seperti rasio aktiva lancar
terhadap hutang lancar yang telah ditetapkan atau rasio kekayaan
bersih terhadap total aktiva yang disyaratkan. Insolvensi juga
terjadi bila arus kas tidak cukup untuk memenuhi pembayaran
kembali pokok pada tanggal tertentu. Insolvensi dalam pengertian
kebangkrutan adalah kebangkrutan didefinisikan dalam ukuran
sebagai kekayaan bersih negatif dalam neraca konvensional atau
nilai sekarang dari arus kas yang diharapakan lebih kecil dari
kewajibannya.
b. Tahap- tahap berbagai indikator kebangkrutan
Kesulitan keuangan yang menuju kearah terjadinya
kebangkrutan dapat dianalisa dan dapat diidentifikasi melalui
tahap-tahap yang tercakup di dalam proses, perjalanan yang berakhir pada
(keadaan) kebangkrutan tersebut. Adapun tahap-tahap itu adalah
tahap dimana perusahaan mengalami kekurangan kas dan alat-alat
liquid lainnya atau tahap kesulitan likuiditas, (3) tahap dimana
perusahaan tidak solvabel dalam kegiatan komersial dan
keuangan,serta (4) bangkrut secara total.
c. Analisis Prediksi Kebangkrutan.
Analisis diskriminan menurut Supranto (2004:77) merupakan
teknik menganalisis data, kalau variabel tak bebas (disebut: criterion)
merupakan kategori (non metric, nominal atau ordinal, bersifat
kualitatif) sedangkan varibel bebas sebagai predictor merupakan
metrik (interval atau rasio, bersifat kuantitatif). Rasio-rasio keuangan
memberikan indikasi tentang kekuatan keuangan dari suatu
perusahaan. Keterbatasan analisis rasio timbul dari kenyataan bahwa
metodologinya pada dasarnya bersifat penyimpangan (univariate) yang
artinya setiap rasio di uji secara terpisah.Untuk mengatasi
kelemahan-kelemahan analisis tersebut, maka Altman telah mengkombinasikan
beberapa rasio menjadi model prediksi dan teknik statistik. Yaitu
analisis diskriminasi yang menghasilkan suatu indeks yang
memungkinkan klasifikasi dari suatu pengamatan menjadi satu dari
beberapa pengelompokan yang bersifat apriori.
Dalam penelitiannya Altman mengambil satu sampel yang
terdiri dari 66 perusahaan manufaktur setengah diantaranya mengalami
kebangkrutan. Altman memperoleh 22 rasio keuangan, dimana 5