GATHERING DAN KEAKRABAN
(
Studi Kolerasional Tentang Hubungan Gathering Perusahaan Gas
Negara Medan dengan Keakraban Karyawan di Divisi
Operasional)
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata 1 (S1) pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara MUHAMMAD YATTA KASOGI NASUTION
100922030
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI PROGRAM EKSTENSI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Gathering Perusahaan Gas Negara Medan dengan Keakraban Di Kalangan Para Karyawan Dalam Divisi Operasional.
Dalam penelitian ini karyawan divisi operasional menjadi populasi utamanya dan penelitian ini menggunakan totaly sampling yaitu seluruh populasi menjadi sampelnya. karena populasi tersebut hanya berjumlah 98 jiwa, maka dari itu semua populasi dijadikan sampel.
Penelitian ini menggunakan teori penetrasi sosial dan self disclousure yang menjadi acuan dalam melihat keakraban di karyawan di divisi operasional perusahaan gas negara medan
Hasil penelitian ini menggambarkan Kegiatan Gathering yang dilakukan oleh karyawan divisi operasional di Perusahaan Gas Negara Medan dalam mencipatakan Keakraban di Kalangan Para Karyawan Dalam Divisi Operasional secara keseluruhan sudah ada Kesetaraan, ada Kebersamaan, Motivasi yang tinggi, ada Loyalitas, mudah dalam Sosialisasi program kegiatan gathering.
Dari hasil analisa diperoleh gambaran nilai Korelasi antara Kegiatan Gathering dengan Keakraban Karyawan adalah signifikan (probabilitas 0,000 yang berada di bawah 0,05), yang berarti bahwa adanya hubungan yang benar-benar signifikan antara Kegiatan Gathering dengan Keakraban Karyawan. Angka korelasi (0,984) yang lebih tinggi dari 0,5 menunjukkan hubungan yang sangat Kuat antara kedua variabel tersebut.Kesimpulan dari penelitian ini adalah secara keseluruhan program kegiatan gathering sudah dapat dikatakan baik. Ada hubungan yang sangat kuat antara kegiatan Gathering terhadap Keakraban. Besar pengaruh variabel Pengaruh Gathering terhadap Keakraban pada PGN yaitu nilai r sebesar 0,984. Saran hendaknya kualitas kegiatan ini lebih ditingkatkan lagi baik dari segi kualitas acara dan frekuensi kegiatannya. Untuk kedepannya dalam kegiatan Gathering untuk mengajak keluarga dari setiap karyawan, dan jarak waktu pelaksanaannya harap agar sedikit dikurangi. Perlunya maksimalisasi beberapa pembenahan dalam memberikan sarana dan prasarana di kantor.
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan ridha-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan tepat waktu. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU).
Saya menyadari bahwa, skripsi ini tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan do’a, bantuan, bimbingan dan saran-saran dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada:
1. Terimakasih kepada kedua orangtuaku atas do’a, dukungan dan segala apa yang diberikan dalam memotivasi saya untuk dapat menyelesaikan skripsi dan menjadi seorang sarjana.
2. Bapak Prof. Badaruddin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara serta seluruh jajarannya.
3. Ibu Dra. Fatmawardy Lubis, M.A, selaku Ketua Departemen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Dra. Dayana, M. Si, selaku Sekretaris Departemen Program Studi Imu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Sekaligus sebagai dosen pembimbing saya, Terimakasih atas saran, kritik, bimbingan, wawasan, pengetahuan, waktu, tenaga, dan pikiran yang telah diberikan dengan sabar untuk mengarahkan saya dalam penyusunan skripsi ini.
5. Seluruh Dosen dan staf pengajar yang telah mendidik dan membimbing mulai dari semester awal hingga saya menyelesaikan perkuliahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
7. Karyawan Persusahaan Gas Negara medan khusunya divisi opersional yang kompeten dimana telah memberikan penjelasan dan data yang saya butuhkan untuk penelitian ini.
8. Untuk sahabat Heri, Steven, Akbar, Riska, Taufik, Dedy, Daniel, Fio, Tika, Gita, Ditta, Cya, Aprini, Hansen, Dian, Rotua, Tika, terimakasih untuk doanya, masukan, kritik dan pinjaman bukunya dan kesediaannya mendengarkan keluh kesah saya.
9. Kepada teman-teman seperjuangan di Departemen Ilmu Komunikasi Program Ekstensi angkatan 2010 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara terima kasih sudah mau menemani di saat saya membutuhkan, untuk semua jenis dukungan dan bantuannya dalam membagi ilmu dan informasi.
Semoga Allah SWT membalas dan melimpahkan rahmat serta karunia-Nya atas semua bantuan dan dukungan yang telah diberikan. Saya menyadari bahwa skripsi ini tidak lepas dari kekurangan dan ketidaksempurnaan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati saya mengharapkan segala masukan, imbauan, maupun kritik dan saran yang membangun dari semua pihak akan diterima dengan terbuka guna menyempurnakan skripsi ini.
Akhirnya, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan sumbangan pemikiran bagi para pembaca untuk lebih memahami mengenai kecemasannya saat menjalani tes wawancara kerja.
Medan,12 November 2012
DAFTAR ISI
ABSTRAK... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL... vi
DAFTAR GAMBAR... vii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah... 1
1.2 Perumusan Masalah... 4
1.3 Pembatasan Masalah... 4
1.4 Tujuan Penelitin... 5
1.5 Manfaat Penelitian... 5
BAB II URAIAN TEORITIS 2.1 Kerangka Teori... 6
2.2 Kerangka Konsep... 22
2.3 Variabel Penelitian... 23
2.4 Defenisi Operasional... 24
2.5 Hipotesa... 26
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Deskripsi Lokasi Penelian ... 27
3.2 Waktu dan Alamat Penelitian... 31
3.3 Metode Peneliatian... 31
3.4 Populasi dan Sampel ... 31
3.5 Tekhnik Pengumpulan Data ... 32
3.6 Tekhnik Analisis Data... 32
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian……….….…… 34
4.2 Karakteristik Responden………..……. 34
4.3 Gathering……….. 37
4.4 Keakraban……….. 48
4.5 Uji Korelasi……… 60
4.6 Pembahasan……… 64
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan .………. 78
5.3 Saran dalam kaitan akademis ……….... 79 5.4 Saran dalam kaitan praktis ……….... 79 DAFTAR PUSTAKA...………...
DAFTAR TABEL 4.7 : Saat acara makan bersama dalam kegiatan gathering 40 4.8 : Tingkat motivasi dalam mengikuti gathering 41 4.9 : kegiatan gathering dalam mempengaruhi tujuan 42 4.10 : Kesediaan dalam mengikuti kegiatan gathering 43 4.11 : Tingkat loyalitas terhadap perusahaan 44 4.12 : Kecintaan terhadap pekarjaan saat ini 45
4.13 : Pembagiaan Kelompok 46
4.14 : Tingkat sosialisasi antara sesame peserta gathering 47
4.15 : Suasana tempat kerja 48
4.16 : Keramahtamahan antara karyawan divisi operasional 49 4.17 : Kesediaan tegur sapa sesama karyawan divisi 50 4.18 : Interaksi dengan karyawan divisi operasional 51 4.19 : Tingkat kepercayaan antara sesame karyawan divisi
Operasional 52
4.26 : Tanggapan tentang kegiatan gathering 59 4.27 : Diadakannya gathering pada perusahaan 60
4.28 : Tabel korelasi 62
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Gathering Perusahaan Gas Negara Medan dengan Keakraban Di Kalangan Para Karyawan Dalam Divisi Operasional.
Dalam penelitian ini karyawan divisi operasional menjadi populasi utamanya dan penelitian ini menggunakan totaly sampling yaitu seluruh populasi menjadi sampelnya. karena populasi tersebut hanya berjumlah 98 jiwa, maka dari itu semua populasi dijadikan sampel.
Penelitian ini menggunakan teori penetrasi sosial dan self disclousure yang menjadi acuan dalam melihat keakraban di karyawan di divisi operasional perusahaan gas negara medan
Hasil penelitian ini menggambarkan Kegiatan Gathering yang dilakukan oleh karyawan divisi operasional di Perusahaan Gas Negara Medan dalam mencipatakan Keakraban di Kalangan Para Karyawan Dalam Divisi Operasional secara keseluruhan sudah ada Kesetaraan, ada Kebersamaan, Motivasi yang tinggi, ada Loyalitas, mudah dalam Sosialisasi program kegiatan gathering.
Dari hasil analisa diperoleh gambaran nilai Korelasi antara Kegiatan Gathering dengan Keakraban Karyawan adalah signifikan (probabilitas 0,000 yang berada di bawah 0,05), yang berarti bahwa adanya hubungan yang benar-benar signifikan antara Kegiatan Gathering dengan Keakraban Karyawan. Angka korelasi (0,984) yang lebih tinggi dari 0,5 menunjukkan hubungan yang sangat Kuat antara kedua variabel tersebut.Kesimpulan dari penelitian ini adalah secara keseluruhan program kegiatan gathering sudah dapat dikatakan baik. Ada hubungan yang sangat kuat antara kegiatan Gathering terhadap Keakraban. Besar pengaruh variabel Pengaruh Gathering terhadap Keakraban pada PGN yaitu nilai r sebesar 0,984. Saran hendaknya kualitas kegiatan ini lebih ditingkatkan lagi baik dari segi kualitas acara dan frekuensi kegiatannya. Untuk kedepannya dalam kegiatan Gathering untuk mengajak keluarga dari setiap karyawan, dan jarak waktu pelaksanaannya harap agar sedikit dikurangi. Perlunya maksimalisasi beberapa pembenahan dalam memberikan sarana dan prasarana di kantor.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bagi suatu perusahaan, baik yang kecil maupun yang besar, hubungan dengan publik di dalam dan di luar perusahaan, merupakan suatu keharusan yang tidak dapat dihindarkan karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup menyendiri dan mempunyai sifat tolong menolong. Begitu pula suatu lembaga atau perusahaan tidak dapat hidup apabila hubungan dengan pihak di dalam perusahaan yang ada di sekitarnya belum tercipta dengan baik.
Di dalam usaha-usaha untuk menciptakan suasana yang harmonis dalam suatu instansi dan bagi keuntungan instansi tersebut, komunikasi yang bersifat two way communication penting sekali dan mutlak harus ada yaitu komunikasi antara pimpinan dengan bawahan dan antara bawahan dengan pimpinan, yang merupakan feedback yang berdasarkan pada “good human relations” sesuai dengan prinsip. Komunikasi yang dilaksanakan oleh pimpinan dan bawahan tidak akan banyak mengalami kesulitan, tetapi sebaliknya komunikasi yang berjalan dari bawah keatas besar kemungkinan karena faktor psikologis, sosiologis, pendidikan, dan lain-lainnya.
diharapkan, yang memerlukan penjelasan, perbaikan-perbaikan demi tercapainya keuntungan dan kepuasan bersama.
Perusahaan Gas Negara adalah sebuah perusahaan milik negara atau BUMN yang berdiri pada tahun 1958, perusahaan ini begerak dalam bidang distribusi gas bumi dan menyuplai gas bumi ke pembangkit listrik, industri, usaha komersial termasuk restoran, hotel dan rumah sakit, serta rumah tangga di wilayah-wilayah yang paling padat penduduknya di Indonesia. Perusahaan Gas Negara mendapatkan keuntungan dari penjualan gas kepada konsumen.
Sebagai perusahaan besar Perusahaan Gas Negara memiliki beberapa divisi, salah satunya adlah divisi operasional. Divisi ini memiliki tugas yang berhubungan dengan kegiatan teknis dan pemiliharaan. Divisi operasional bertugas diseluruh daerah distribusi di Sumatra, dan bekerja secara terpisah – pisah. Karena hal tersebut keakraban pada divisi ini sangat kurang.
Sehubungan dengan ini maka Perusahaan Gas Negara Medan mengambil langkah dengan mengadakan lembaga gathering sebagai motivator di dalam menumbuhkan keakraban dikalangan pegawai Perusahaan Gas Negara, “gathering adalah komunikasi dua arah antara organisasi dengan publik secara timbal balik dalam rangka mendukung fungsi dan tujuan manajemen dengan meningkatkan pembinaan kerja sama dan pemenuhan kepentingan bersama”. (Efendy, 1999: 36).
Internal gathering yang baik adalah yang memperlakukan tiap karyawannya dengan sikap yang sama tanpa membedakan tingkat, pendidikan dan lain-lain, tapi bertindak adil, tidak memihak suatu golongan sehingga para pegawai memiliki instansi (sense of belonging).
Salah satu usaha Internal gathering yang dapat menunjang perhatian terhadap kemajuan atau kepentingan pegawai, diantaranya memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengikuti pendidikan lainnya yang secara psikologis dapat menaikkan martabat mereka. Usaha-usaha untuk dapat lebih mengeratkan hubungan antara para pegawai agar dapat mengenal satu sama lainnya (termasuk keluarganya), maka kegiatan-kegiatan olah raga, darma wisata, anjang sana dan kegiatan-kegiatan lainnya dapat disediakan. (Oemi, 2001: 37)
Gathering sebagai fungsi manajemen yang khas yang mendukung dan memelihara jalur bersama bagi komunikasi timbal balik, melalui penataan komunikasi untuk melakukan hubungan-hubungan di antara pegawai secara teratur dan sistematis, di dalam aktifitasnya harus dapat memberikan dorongan-dorongan terhadap para karyawannya dalam tujuannya organisasi.
Dalam struktur organisasi, pada instansi atau lembaga terdapat suatu unit kerja gathering dengan status yang setara dengan bagian-bagian lain dan dipimpin seorang kepala bagian (KABAG) yang mempunyai fungsi untuk menunjang kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan organisasi, dengan membina hubungan yang harmonis antara organisasi dengan publik internal dan publik eksternal, menciptakan komunikasi dua arah dengan menyebarkan informasi dari organisasi kepada publik dan menasehati pimpinan organisasi demi kepentingan umum.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
”Bagaimana hubungan gathering Perusahaan Gas Negara Medan dalam menciptakan keakraban di kalangan para karyawan dalam divisi operasional?”
1.3. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari ruang lingkup penelitian yang terlalu luas sehingga dapat mengaburkan penelitian, maka peneliti membatasi masalah yang akan diteliti. Adapun pembatasan yang akan diteliti adalah sebagai berikut :
a. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan studi kolerasional sebagai metode riset peneliti.
b. Penelitian terbatas pada karyawan Perusahaan Gas Negara yang pernah mengikuti gathering minimal sekali.
c. Penelitian berlangsung sejak September 2012 sampai selesai.
1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui kegiatan gathering yang dilakukan oleh karyawan divisi operasional di Perusahaan Gas Negara Medan.
b. Untuk mengetahui tingkat keakraban karyawan divisi operasional di Perusahaan Gas Negara Medan.
c. Untuk mengetahui hubungan kegiatan gathering terhadap keakraban karyawan di Perusahaan Gas Negara Medan.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Secara akademis, penelitian ini diharapkan mampu memperluas dan memperkaya penelitian kuantitatif dalam bidang ilmu komunikasi b. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat melengkapi dan
memperkaya khasanah penelitian tentang komunikasi antarpribadi sebagai bagian dari ilmu komunikasi.
BAB II
URAIAN TEORITIS
2.1. Kerangka Teori
2.1.1 Komunikasi
Komunikasi adalah kebutuhan dasar untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia (Efendy, 2003:8). Ada banyak pengertian yang dapat menggambarkan mengenai komunikasi, berikut ini adalah beberapa diantaranya.
menggunakan lambang (bahasa) baik verbal maupun non verbal sebagai alat penyalurnya.
2.1.2. Public Relation
Pengertian public relation adalah: Interaksi dan menciptakan opini publik sebagai input yang menguntungkan untuk kedua belah pihak, dan merupakan profesi yang profesional dalam bidangnya karena merupakan faktor yang sangat penting dalam pencapaian tujuan organisasi dengan secara tepat dan dengan secara terus menerus karena public relation merupakan kelangsungan hidup organisasi yang bersangkutan (Maria, 2002, hal.7).
Menurut Coulsin Thomas defenisi public relation adalah usaha yang direncakan terus menerus dengan sengaja, guna membangun dan mempertahankan pengertian timbal balik antara organisasi dan masyarakatnya. Pendapat ini menunjukan bahwa public relation dianggap sebuah proses atau aktivitas yang bertujuan untuk menjalin komunikasi antara organisasi dan pihak luar.
Menurut Davis Tujuan utama dari public relation adalah mempengaruhi perilaku orang secara individu maupun kelompok saat saling berhubungan, melalui dialog dengan semua golongan, dimana persepsi, sikap dan opininya penting terhadap suatu kesuksesan sebuah perusahaan.
Menurut Rosady Ruslan (2001, Hal.246) tujuan public relation adalah sebagaiberikut:
a. Menumbuhkembangkan citra perusahaan yang positif untuk publik eksternal atau masyarakat dan konsumen.
c.Mengembangkan sinergi fungsi pemasaran dengan public relation.
d.Efektif dalam membangun pengenalan merek dan pengetahuan merek. e. Mendukung bauran pemasaran.
Menurut Maria (2002,Hal.31), “public relation merupakan satu bagian dari satu nafas yang sama dalam organisasi tersebut, dan harus memberi identitas organisasinya dengan tepat dan benar serta mampu mengkomunikasikannya sehingga publik menaruh kepercayaan dan mempunyai pengertian yang jelas dan benar terhadap organisasi tersebut”. Hal ini sekedar memberikan gambaran tentang fungsi public relation yaitu:
1. Kegiatan yang bertujuan memperoleh itikad baik, kepercayaan, saling adanya pengertian dan citra yang baik dari publik atau masyarakat pada umumnya.
2. Memiliki sasaran untuk menciptakan opini publik yang bisa diterima dan menguntungkan semua pihak.
3. Unsur penting dalam manajemen guna mencapai tujuan yang spesifik, sesuai harapan publik, tetapi merupakan kekhasan organisasi atau perusahaan. Sangat penting bagaimana organisasi memiliki warna, budaya, citra, suasana, yang kondusif dan menyenangkan, kinerja meningkat, dan produktivitas bisa dicapai secara optimal.
4. Usaha menciptakan hubungan yang harmonis antara organisasi atau perusahaan dengan publiknya, sekaligus menciptakan opini publik sebagai efeknya, yang sangat berguna sebagai input bagi organisasi atau perusahaan Yang bersangkutan.
konsumen. Tetapi jika fungsi public relation yang dilaksanakan dengan baik benar-benar merupakan alat yang ampuh untuk memperbaiki, mengembangkan peraturan, budaya organisasi, atau perusahaan, dan suasana kerja yang kondusif, serta peka terhadap karyawan, maka diperlukan pendekatan khusus dan motivasi.
2.1.3 Gathering
Special Event adalah suatu kegiatan khusus yang harus dapat menarik perhatian publik terhadap perusahaan. Kegiatan acara ini sangat penting untuk mempublikasikan perusahaan dan menciptakan image perusahaan yang positif. Salah satu dari kegiatan khusus ini adalah kegiatan gathering. Dalam kegiatan Gathering humas harus dapat menarik perhatian dari publik internal. Dengan diselenggarakannya event ini, perusahaan mengharapkan seluruh karyawan dapat terhibur dan menghilangkan stress dari rutinitas sehari-hari dikantor. Sehingga dapat meningkatkan kinerja karyawan.
Menurut Ruslan (1998) dalam buku Public Relations Praktis (2009, hal 103) mengemukakan, bahwa untuk menyelenggarakan acara atau kegiatan khusus (special event), Humas harus mampu menarik perhatian dari public terhadap perusahaan atau produk tertentu, yang ingin ditampilkan melalui aktivitas special event itu sendiri.
Dr J. Goldblatt (1997) mendefinisikan Special Event is a unique moment in time celebrated with ceremony and ritual to satisfy specific needs.
Definisi diatas dapat diartikan Special Event adalah sebuah momen yang unik dalam waktu dirayakan dengan upacara dan ritual untuk memenuhi kebutuhan spesifik.
Dari pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Special Event
relations, salah satu Special Event ini adalah kegiatan gathering yang merupakan salah satu kiat keberhasilan dalam menciptakan hubungan antara pimpinan dan karyawan, maupun antara karyawan itu sendiri.
Oemi (2001: 27), mengemukakan:
“Bahwa dalam public relation terdapat suatu usaha untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antara sesuatu badan dengan publiknya, usaha
menyenangkan sehingga akan timbul opini publik yang menguntungkan
bagi kelangsungan hidup badan itu.”
Kegiatan ini dilaksanakan oleh public relation dengan menunjukkan hal-hal dengan menunjukkan hal-hal-hal-hal yang positif yang telah dilaksanakan dan direncanakan. Memberikan keterangan-keterangan atau penjelasan-penjelasan kepada publik dengan jujur, sehingga publik merasa Well-informed dan diikutkan dalam usaha instansi itu. Selain dari pada itu sikap simpati yang ramah dan kata-kata yang sopan, yang menunjukkan perhatian publik, perhatian terhadap kritik-kritik dan saran-saran pegawai dengan bijaksana akan memberikan kepuasan pada usaha-usaha gathering tadi (Oemi, 2001: 27).
Kemudian Effendy, berpendapat : “ gathering adalah perantara antara pimpinan organisasi dengan publik, baik publik internal maupun publik eksternal. Publik mengetahui rencana kebijaksanaan, dan usaha-usaha pimpinan organisasi dari gathering” (1999: 31).
Lingkungan kerja yang kondusif dan harmonis adalah merupakan aspek penting bagi karyawan untuk memberikan hasil yang maksimal kepada perusahaan. Dan perusahaan harus memelihara keharmonisan dan kekondusifan lingkungan kerja tersebut demi produktifitas yang sinergi diantara karyawannya
Gathering merupakan salah satu media yang dapat digunakan untuk menjaga sinergi tersebut. kami akan memberikan program yang dapat membawa peserta kepada lingkungan yang berbeda dari yang ditemukannya sehari-hari. Tingkat stres dalam pekerjaan perlu di netralisasi dengan bersenda gurau bersama dapat menciptakan suasana menyenangkan bagi semua yang hadir. Setiap orang bisa membuka diri tanpa perlu bersikap dan berfungsi sesuai jabatannya.
Dalam hal ini gathering bersifat untuk kesenangan bukan berupa kegiatan membahas permasalahan perusahaan, kelompok atau yang lainnya. Seyogyanya kegiatan ini sebagai kegiatan penyegaran baik fisik maupun non fisik, sehingga diharamkan di dalam kegiatan gathering membahas permasalahan yang berkaitan kantor, perusahaan atau organisasi.
Tujuan gathering secara umum adalah meningkatkan kebersamaan, semangat, loyalitas, kesatuan dan persatuan sesama karyawan (espirit de corps). Sehingga diharapkan sekembalinya peserta gathering dari kegiatan tersebut peserta lebih segar dan jernih baik jasmani maupun rohaninya. Dan ini tentu baik bagi kemajuan suatu perusahaan.
Makanya kegiatan-kegiatan dalam suatu gathering biasanya diisi dengan kegiatan permainan-permainan yang menyenangkan dan menantang dalam aktifitas misalnya fun games, perlombaan, team building, outbond, outing, dll disamping itu ada kegiatan pembagian doorprize, bernyanyi, senam santai, dll.
lainnya. Biasanya panitia acara memilih karyawan-karyawan yang belum saling kenal atau karyawan yang jarang bersosialisasi.
Adapun langkah-langkah persiapan dan pelaksanaan media Gathering adalah sebagai berikut:
1. Membuat proposal atau rencana kegiatan yang mencakup tujuan, manfaat, tema, konsep dan susunan acara, ketua dan anggota tim kepanitiaan, waktu dan tempat, undangan serta anggaran yang dibutuhkan.
2. Pesan tempat yang sesuai dengan konsep acara
3. Memberitahukan kepada peserta Gathering dengan menyebutkan susunan acara dan contact person untuk kepastian kehadiran.
4. Siapkan logistic seperti catering, transportasi, audio visual, dan lain-lain.
5. Siapkan pidato pembukaan untuk pimpinan perusahaan yang akan membuka acara.
6. Pilih Moderator atau pemandu acara sedapat mungkin menarik dan dapat membawa suasana yang segar dan akrab.
7. Hiburan seperti permainan, musik, dan lagu sangat penting untuk menciptakan suasana yang cair.
8. Dokumentasikan acara dengan baik. Walaupun acara informal, disarankan tetap ada sesi foto bersama.
2.1.4 Keakraban
Seperti yang dikemukakan Fisher (1986:261-262), keakraban merupakan salah satu hal yang serta kaitannya dengan komunikasi self-disclosure. Apa yang diungkapkan itu bisa saja hal-hal yang sifatnya pribadi atau intim misalnya mengenai perasaan kita, tetapi bisa juga mengenai hal-hal yang sifatnya umum, seperti pandangan kita terhadap situasi politik mutakhir di tanah air atau bisa saja antara hal yang intim/pribadi dan hal yang impersonal publik.
Berkenaan dengan dimensi self-disclosure yang disebut terakhir, kita bisa mengacu pada apa yang dinamakan Struktur Kepribadian Pete yang dikembangkan Irwin Altman dan Dalmas Taylor dengan Teori Penetrasi Sosial-nya (lihat, Griffin, 2003:134). Dalam Struktur Kepribadian Pete ini, digambarkan kepribadian manusia itu seperti bawang, yang memiliki lapisan-lapisan. Setiap lapisan itu menunjukkan derajat keakraban orang yang menjalin relasi atau berkomunikasi. Dalam konteks ini berarti kita sudah mulai membicarakan soal kedalaman (depth) dan keluasan (breadth) self-disclosure. Sejauh mana kedalaman dalam self-disclosure itu akan ditentukan oleh derajat keakraban kita dengan lawan komunikasi.
Makin akrab kita dengannya maka akan makin dalam self-disclosure-nya. Selain itu, akan makin luas juga cakupan bahasan yang kita komunikasikan melalui self-disclosure itu. Ini merupakan hal yang logis. Bagaimana kita mau berbincang-bincang mengenai lapisan terdalam dari diri kita apabila kita tidak merasa memiliki hubungan yang akrab dengan lawan komunikasi kita
Intimacy is a multifaceted concept with several different components (Prager
& Roberts,2004). Intimate relationships differ from more casual associations
in at least six specific ways: knowledge, caring, interdependence, mutuality,
trust, and commitment. First, intimate partners have extensive personal, often
confidential, knowledge about each other. They share information about their
histories, preferences, feelings, and desires that they do not reveal to most of
the other people they know. Intimate partners also care about each other,
feeling more affection for one another than they do for most others. Intimacy
increases when people believe that their partners know, understand, and
appreciate them (Reis & Gable, 2003)
Hubungan keakraban dibedakan dari pergaulan yang lebih sederhana dalam paling sedikit enam cara yang spesifik: pengetahuan, kepedulian, saling ketergantungan, saling membutuhkan, kepercayaan, dan komitmen. Pertama, teman akrab memiliki karakter yang luas, kerahasiaan, pengetahuan satu sama lain. Mereka saling menceritakan informasi tentang sejarah, pilihan, perasaan, dan keinginan mereka yang tidak mereka katakana pada kebanyakan orang yang mereka kenal. Teman akrab juga saling peduli, merasa lebih saling menyayangi dari pada terhadap orang lain. Keakraban meningkat ketika orang-orang percaya bahwa teman mereka tahu, mengerti, dan menghormati mereka.
Ketergantungan satu sama lain dalam keakraban muncul pada saat mereka sering saling membutuhkan dan saling mempengaruhi (mereka sering mempengaruhi satu sama lain), kuat (mereka memberikan pengaruh yang kuat satu dan lainnya), berbeda (mereka saling mempengaruhi dalam banyak cara yang berbeda), dan bertahan (mereka saling mempengaruhi dalam jangka waktu yang lama). Ketika hubungan itu saling tergantung satu sama lain, perilaku yang satu dapat mempengaruhi yang lainnya.
tinggi, yang berarti bahwa mereka mengetahui keseluruhan dari kehidupan mereka dan berpikir diri mereka sebagai “kita” menggantikan “saya” dan “dia”.
Sebuah kualitas yang membuat ikatan yang kuat ini dapat ditolerir adalah kepercayaan, yang merupakan harapan bahwa teman akrab akan memperlakuan mereka dengan tulus dan hormat. Orang-orang berharap tidak ada tindakan yang tidak semestinya dapat terjadi dalam suatu hubungan yang akrab, dan mereka berharap teman mereka dapat menjadi lebih responsive untuk kebutuhan mereka dan memperhatikan kesejahteraan hidup mereka.
Akhirnya, teman yang akrab biasanya berkomitmen dalam hubungan mereka. Itulah, mereka mengharapkan hubungang keakraban mereka dapat berlanjut tanpa batas, dan mereka menginvestasikan waktu, usaha, dan sumber lainnya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan mereka. Tanpa suatu komitmen, orang-orang yang sangat akrab dapat menjadi kurang saling tergantung dan memahami satu sama lain dengan berjalannya waktu
Keakraban merupakan konsep yang kompleks dan heterogen yang dihasilkan dari berbagai definisi. Definisi keakraban dari peneliti ilmu sosial dapat dibagi menjadi dua. Pertama, keakraban adalah berbagi keberadaan terdalam seseorang, atau esensi, seperti kekuatan dan kerentanan, kelemahan dan kompetensi dengan orang lain. Kedua, keakraban adalah pengalaman keutuhan lain, kesadaran akan karakter terdalam orang lain.
berikut ini akan dibahas mengenai masing - masing karakteristik tersebut ( verderber et al 2007 dalam teori komunikasi antar pribadi hal 157 -159 )
A. Keramahtamahan dan kasih sayang B. Kepercayaan
C. Pengungkapan diri D. Tanggung jawab.
Untuk meningkatkan komunikasi antar kalangan berikut ini lima pedoman dimana para karyawan dapat menggunakannya untuk meningkatkan komunikasi dan juga bagi setiap ornag yang memiliki hubungan akrab (verderber et al 2007 dalam teori komunikasi antar pribadi hal 173-180)
a. Membuka jalur komunikasi
b. Menghadapi pengaruh ketidak seimbangan kekuasaan c. Mengenali dan menyesuaikan kepada perubahan d. Menghormti kepentingan – kepentingan individual e. Mengelola konflik secara adil.
2.1.5 Penetrasi Sosial
Altman dan Taylor mengibaratkan manusia seperti bawang merah. Maksudnya adalah pada hakikatnya manusia memiliki beberapa layer atau lapisan kepribadian. Jika kita mengupas kulit terluar bawang, maka kita akan menemukan lapisan kulit yang lainnya. Begitu pula kepribadian manusia.
The social penetration theory menyatakan bahwa berkembangnya hubungan-hubungan itu, bergerak mulai dari tingkatan yang paling dangkal, mulai dari tingkatan yang bukan bersifat inti menuju ke tingkatan yang terdalam, atau ke tingkatan yang lebih bersifat pribadi. Dengan penjelasan ini, maka teori penetrasi sosial dapat diartikan juga sebagai sebuah model yang menunjukkan perkembangan hubungan, yaitu proses di mana orang saling mengenal satu sama lain melalui tahap pengungkapan informasi.
Perkembangan hubungan sebagaimana dimaksudkan tadi, oleh Irwin Altman dan Dalmas Taylor, berlangsung dalam empat tahap. Tahapan mana, perkembangan hubungan itu dianalogikannya dengan sebuah bawang merah yang memiliki lapisan-lapisan kulit. Dengan analogi tersebut, maka dijelaskan bagaimana orang melalui interaksi saling mengelupasi lapisan-lapisan informasi mengenai diri masing-masing. Ini pulalah apa yang dimaksudkan dengan penetrasi itu, yakni proses pengelupasan bagian-bagian informasi setiap individu dari suatu pasangan secara perlahan.
Pada lapisan pertama atau terluar kulit bawang (tahap pertama), maka informasinya bersifat superficial. Informasi yang demikian wujudnya antara lain seperti nama, alamat, umur, suku dan lain sejenisnya. Biasanya informasi demikian kerap mengalir saat kita berkomunikasi dengan orang yang baru kita kenal. Tahapan ini sendiri disebut dengan tahap orientasi.
menjajagi apa kesenangan masing-masing. Misalnya kesenangan dari segi makanan, musik, lagu, hobi, dan lain sejenisnya.
Tahapan berikutnya adalah tahap ketiga, yakni tahap pertukaran afektif. Pada tahap ini terjadi peningkatan informasi yang lebih bersifat pribadi, misalnya tentang informasi menyangkut pengalaman-pengalaman privacy masing-masing. Jadi, di sini masing-masing sudah mulai membuka diri dengan informasi diri yang sifatnya lebih pribadi, misalnya seperti kesediaan menceritakan tentang problem pribadi. Dengan kata lain, pada tahap ini sudah mulai berani “curhat”.
Tahap ke empat merupakan tahapan akhir atau lapisan inti, disebut juga dengan tahap pertukaran yang stabil. Pada tahap tersebut sifatnya sudah sangat intim dan memungkinkan pasangan tersebut untuk memprediksikan tindakan-tindakan dan respon mereka masing-masing dengan baik. Informasi yang dibicarakan sudah sangat dalam dan menjadi inti dari pribadi masing-masing pasangan, misalnya soal nilai, konsep diri, atau perasaan emosi terdalam.
Salah satu kekuatan dalam teori ini adalah fakta bahwa ia dapat digunakan untuk melihat wajah kedua untuk menghadapi interaksi interpersonal serta interaksi online antara individu. kekuatan lain melibatkan kegunaan dari teori ini dalam memandang dan menilai risiko dalam suatu hubungan interpersonal tergantung pada jenis hubungan serta tingkat saat pengungkapan diri dan keintiman di dalamnya.
2.1.6 Self Disclosure
Self disclosure atau penyingkapan diri merupakan sebuah proses membeberkan informasi tentang diri sendiri kepada orang lain. Penyingkapan diri merupakan suatu usaha untuk membiarkan keontentikan memasuki hubungan sosial kita, dan hal ini berkaitan dengan kesehatan mental dan pengembangan konsep diri.
Self disclosure merupakan salah satu teori komunikasi interpersonal yang membahas mengenai hubungan antar dua orang dalam berinteraksi. Banyak teori lain yang juga berlatar belakang masalah yang sama.
Joseph A. Devito ( 2001 )mendefenisikan self disclosure sebagai suatu bentuk komunikasi dimana informasi tentang diri yang biasanya disimpan atau disembunyikan dikomunikasikan kepada orang lain. Self disclosure merupakan perilaku komunikasi di mana pembicara secara sengaja menjadikan dirinya diketahui oleh pihak lain
Proses pengungkapan diri bisa dilakukan dengan secara tertutup, yaitu seseorang mengungkapkan informasi diri kepada orang lain dengan cara sembunyi-sembunyi melalui ungkapan dan tindakan, dimana ungkapan dan tindakan itu merupakan sebuah keterbukaan tentang apa yang terjadi pada diri seseorang. Namun cara pengungkapan diri tersebut jarang dipahami oleh orang lain, kecuali orang lain memiliki perhatian terhadap orang yang melakukan pengungkapan diri itu.
Proses keterbukaan diri (self disclosure) adalah proses pengungkapan informasi diri pribadi seseorang kepada orang lain atau sebaliknya. Pengungkapan tersebut biasanya disimpan atau disembunyikan dikomunikasikan kepada orang lain. Keterbukaan diri (self disclosure) telah menjadi salah satu topik penting dalam teori komunikasi sejak tahun 1960-an. Pengungkapan diri merupakan kebutuhan seseorang sebagai jalan keluar atas tekanan-tekanan yang terjadi pada dirinya.
dalam kuandran “terbuka”. Meskipun self disclosure mendorong adanya keterbukaan, namun keterbukaan itu sendiri ada batasnya. Artinya, perlu kita pertimbangkan kembali apakah menceritakan segala sesuatu tentang diri kita kepada orang lain akan menghasilkan efek positif bagi hubungan kita dengan orang terssebut. Beberapa penelitian menunjukkan, bahwa keterbukaan yang ekstrem akan memberikan efek negative terhadap hubungan (Littlejohn, 1939 : 161).
Proses pengungkapan diri bisa dilakukan dengan secara tertutup, yaitu seseorang mengungkapkan informasi diri kepada orang lain dengan cara sembunyi-sembunyi melalui ungkapan dan tindakan, dimana ungkapan dan tindakan itu merupakan sebuah keterbukaan tentang apa yang terjadi pada diri seseorang. Namun cara pengungkapan diri tersebut jarang dipahami oleh orang lain, kecuali orang lain memiliki perhatian terhadap orang yang melakukan pengungkapan diri itu.
Proses mengenal diri dapat dilakukan tidak hanya dengan mencoba mengamati dan mengerti diri sendiri namun dapat melalui interaksi yang dilakukan dengan orang lain. Asumsi ini membawa Joseph Luft dan Harry Ingham menciptakan suatu teori atau model sebagai salah satu cara untuk melihat dinamika self-awareness yang berkaitan dengan perilaku, perasaan, dan motif manusia. Model yang diciptakan tahun 1955 ini bernama Jendela Johari.
Jendela Johari terdiri dari sebuah persegi yang terbagi menjadi empat kuadran, yaitu Open, Blind, Hidden, dan Unknown. Uraiannya dijelaskan di bawah ini:
dapat dari interaksi. Ketika proses saling mengenal terus berlanjut, batas kuadran akan bergeser ke kanan dan ke bawah untuk memperbesar kuadran 1.
Kuadran 2 (Blind) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh orang lain, tetapi tidak diketahui oleh diri kita sendiri. Misalnya ketika orang lain menyatakan diri saya sebagai orang yang keras kepala dan saya tidak menyadarinya. Apa yang diketahui oleh teman-teman saya dan saya yang semula tidak sadar menjadi sadar membuat kuadran 2 saya mengecil sering dengan membesarnya kuadaran 1. Proses mengecilnya kuadran 2 bisa terhambat jika orang lain tidak mau memberi tahu apa yang ia ketahui mengenai hal yang saya tidak tahu. Misalnya ketika saya sedang berbicara dengan lawan bicara saya di depan umum, saya jarang melakukan kontak mata sehingga membuat lawan bicara saya terganggu. Mungkin lawan bicara saya tidak berkata apa-apa karena takut mempermalukan saya di depan orang lain. Namun dalam keadaan seperti ini, saya menjadi kesulitan untuk mendapat informasi dan mengenali diri saya.
Kuadran 3 (Hidden) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri, tetapi tidak diketahui oleh orang lain. Biasanya hal-hal yang disimpan di kuadran ini bersifat sangat pribadi atau memalukan. Misalnya saya seorang homoseksual dan tidak bilang kepada orang lain bahwa saya adalah seorang homoseksual. Ketika saya membuka diri saya dan menyatakan bahwa saya adalah seorang homoseksual, maka kuadran 3 akan mengecil seiring dengan membesarnya kuadran 1. Proses penyingkapan diri ini disebut self-disclosure. Selain self-disclosure, terdapat proses lain yaitu menerima umpan balik (feedback) dari orang lain. Contoh penerimaan umpan balik adalah saya meminta umpan balik kepada orang lain tentang kesan dan perasaannya setelah mendengar saya adalah seorang homoseksual lalu orang tersebut itu menyatakan perasaan kecewa dan tidak suka, maka area kuadran 2 saya akan mengecil. Saya menjadi tahu bahwa saya tidak disukai orang lain karena orientasi seksual saya.
personal seperti perilaku seksual, masalah kesehatan mental, atau kesalahan besar yang pernah dilakukan. ‘If you give people information about yourself, you give them power over you,’ menurutnya. Kegagalan dalam menemukan orang yang memberi reaksi yang tidak diharapkan membuat seseorang semakin menutup diri. Daerah yang tidak disadari membuat bagian kepribadian yang di-repress dalam ketidaksadaran yang tidak diketahui baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Namun demikian ketidaksadaran ini kemungkinan bisa muncul.
Kuadran 4 (Unknown) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang tidak diketahui, baik oleh diri kita sendiri ataupun oleh orang lain. Misalnya baik saya dan orang lain tidak tahu penyebab gangguan obsesif kompulsif cuci tangan yang saya alami. Disinilah peran ahli seperti psikolog untuk menyingkap kuadran 4. Misalnya kemungkinan munculnya gangguan obsesif kompulsif diakibatkan pemerkosaan yang pernah saya alami ketika kecil bisa terjadi dan ini membuat kuadran 4 saya mengecil sementara kuadran 1 saya membesar seiring dengan pengetahuan saya tentang penyebab gangguan obsesif kompulsif yang saya alami.
2.2. Kerangka Konsep
Burhan Bungin mengartikan konsep sebagai generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu yang dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama. (Bungin 2001:73)
Kerangka konsep memungkinkan peneliti untuk mengkomunikasikan hasil- hasil penelitiannya ( Suyanto, 2011 : 50 ). Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini adalah :
b. Varibel terikat (Y) yaitu variabel yang dihubungkan variabel lain yaitu variabel (X). Variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah keakraban. c. Variabel intervening (Z) yaitu variabel penyela antara varibel bebas dan
varibel terikat dalam penelitian ini variabel (Z) antaralain: umur, jenis kelamin, pendidikan, dan suku
Maka model teoritis dari kerangka konsep yang akan deteliti adalah:
Variabel (X) Variabel ( Y ) Gambar 1.1: Model teoritis
Kegiatan Gathering Keakraban
2.3 Variabel Penelitian
Berdasarkan kerangka konsep yang telah diuraikan di atas, maka dibuat variabel penelitian yang berfungsi untuk kesamaan dan kesesuaian dalam penelitian, yaitu:
Tabel 2.1 Variabel Penelitian
Konsep Teoritis Variabel Operasional
Gathering a. Kesetaraan
Keakraban a. Keramahtamahan b. Kepercayaan c. Pengungkapan diri d. Tanggung jawab
Karateristik responden a. Jenis kelamin b. Umur/Usia c. Pendidikan
2.4. Definisi Operasional
Defenisi operasional adalah petunjuk bagaimana sebuah variabel diukur ( Hamidi, 2011:142). Dalam penelitian lapangan konsep yang relevan dan berkedudukan sentral dalam penelitina terlebih dahulu harus dibuat operasional. Mungkin atau tidaknya membuat defenisi operasional bagi suatu konsep memang ditentukan oleh kenyataan. Defenisi operasional tidaklah mungkin ditetapkan jika konsep itu tidak merujuk sama sekali pada suatu realitas tertentu ( Suyanto, 2011: 50-51)
Gathering adalah kegiatan yang dilakukan dengan sengaja sebagai usah untuk menjalin hubungan antara individu dalam satu lingkungan organisasi
a. Kesetaraan adalah suatu tatanan dimana semua orang dalam kelompok atau organisasi memiliki status yang sama. dalam gathering jabatan dan status sosial ditiadakan agar terciptanya suasana yang akrab.
menghilakan sifat egoisnya masing- masing contoh kegiatannya : pada saat senam bersama, dan makan bersama.
c. Motivasi adalah daya upaya yang dilakukan seseorang agar tercapai tujuannya, motivasi juga berarti intesitas, arah ,dan tujuan dari seseorang, dalam hal ini kegiatan gathering diharapkan berperan untuk memotivasi setiap karyawan untuk mencapai tujuan baik untuk dirinya maupun perusahaannya.
d. Loyalitas adalah kesetiaaan pada sesuatu dengan rasa cinta, sehingga dengan rasa loyalitas yang tinggi sesorang merasa tidak perlu untuk mendapatkan imbalan dalam melakukan sesuatu untuk orang lain/ perusahaan tempat dia meletakan loyalitasnya.
e. Sosialisasi adalah proses interakasi antara individu dengan individu, kelompok atau masyarakat. dalam kegiatan gathering sosialisasi adalah proses pengenalan diri antar perserta kegiatan gathering tersebut.
Keakraban adalah suatu tahap dimana sebuah perteman yang biasa berubah menjadi suatu hubungan yang intim
a. Keramah - tamahan adalah sifat ramah , baik hati dan bergaul dengan akrab, dapat dilihat dengan munculnya rasa kasih sayang dikalangan pegawai melalui cara mereka menikmati saat berkumpul, berbicara dan saat berkerja.
b.Kepercayaan adalah anggapan atau meyakini sesuatu atau seseorang sehingga hilangnya keraguan kepada seseorng tersebut dapat dilihat dengan adanya kemauan bertumpu pada orang lain yang diyakininya. c.Pengungkapan diri adalah suatu cara agar orang disekitar kita
mengetahui tentang diri kita, dalam hal ini pegawai diharapkan dapat berbagi perasaan agar mereka dapat mengerti satu sama lain.
dalam suatu keakraban antar pegawai dengan kata lain pegawai harus bisa menjaga keakraban tersebut.
Karakteristik responden
a. Usia adalah suatu ukuran yang mengukur jumlah kehidupan responden .
b. Jenis kelamin adalah kelas atau kelompok dalam suatu spesies dalam hal ini adalah jenis kelamin responden
c. Pendidikan adalah usaha sadar atau terencan dalam melakukan pembelajaran pada suatu individu dalam hal ini yaitu pendidikan responden.
2.5. Hipotesa
Dalam kegiatan suatu penelitian, kehadiran suatu hypotesa mutlak diperlukan. Hipotesa adalah anggapan sementara tentang sesuatu masalah yang sedang dihadapi. Diterima atau ditolaknya suatu hypotesa harus diuji berdasarkan penelitian di lapangan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi dalam membuat penelitian ini menggambarkan tentang bagaimana cara pengumpulan data yang diperlukan guna menjawab permasalahan yang ada dalam kegiatan ilmiah. Metodologi merupakan salah satu hal penting untuk menentukan secara teoritis teknik operasional yang dipakai sebagai pegangan dalam mengambil langkah-langkah penyeesaian dalam penelitian.
3.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau sering disebut PGN adalah sebuah perusahaan milik negara atau BUMN yang berdiri pada tahun 1958, perusahaan ini begerak dalam bidang distribusi gas bumi dan menyuplai gas bumi ke pembangkit listrik, industri, usaha komersial termasuk restoran, hotel dan rumah sakit, serta rumah tangga di wilayah-wilayah yang paling padat penduduknya di Indonesia.
Strategi perusahaan adalah menyelesaikan pembangunan infrastruktur jaringan pipa transmisi gas yang terpadu dengan jaringan distribusi yang diharapkan akan tumbuh peran serta pelaku bisnis disepanjang rantai bisnis gas bumi dari sektor hulu ke sektor hilir, dalam rangka mempersiapkan Unbundling dan Open Access. Tujuan perusahaan ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No. 37 tahun 1994 sebagai berikut:
PGN mendistribusikan produk gas bumi melalui jaringan pipa distribusi ke para pelanggan. Kegiatan usaha ini memberikan kontribusi sebesar 81% dari total pendapatan yang diperoleh pada tahun 2004. PGN merupakan pelaku utama dalam kegiatan usaha distribusi gas di Indonesia dengan pangsa pasar sebesar 94%. Jaringan layanan mencakup delapan kota utama di Indonesia yaitu Jakarta, Bogor, Cirebon, Palembang, Surabaya, Medan, Batam dan Pekanbaru yang didukung oleh jaringan pipa distribusi sepanjang 3.097 km dengan kapasitas sebesar 831 MMSCFD. Pasokan Gas dan Kontrak pembelian sebelum diberlakukan UU Migas No. 22/2001, PGN memperoleh pasokan gas bumi terutama dari Pertamina DOH Cirebon dan BP Muara Karang untuk memenuhi kebutuhan pasar gas bumi di wilayah distribusi Jawa Bagian Barat. Sedangkan untuk wilayah distribusi Jawa Bagian Timur memperoleh pasokan gas bumi dari EMP Kangean dan Lapindo Brantas, untuk wilayah distribusi Sumatera Bagian Utara memperoleh pasokan gas bumi dari Pertamina DOH Pangkalan Brandan. Setelah diberlakukan UU Migas No. 22/2001, PGN memperoleh pasokan gas bumi secara langsung dari produsen gas bumi antara lain Pertamina, BP Indonesia, Lapindo Brantas, ConocoPhillips dan Ellipse. Kontrak pembelian gas bersifat jangka panjang antara 10 tahun sampai dengan 20 tahun. Perjanjian pembelian gas bumi jangka panjang dimaksudkan untuk mendapatkan jaminan pasokan gas bumi secara lebih pasti agar kualitas pelayanan perusahaan kepada pelanggan dapat terpenuhi dengan lebih baik. Dalam rangka penetrasi pasar ke wilayah yang menjadi target perusahaan, maka daerah layanan pasar dibagi menjadi tiga wilayah distribusi, sebagai berikut:
1. SBU Distribusi Wilayah I, Jawa Bagian Barat yang terdiri dari Jakarta, Banten, Bekasi, Karawang, Bogor, Cirebon, Palembang dan Bandung.
2. SBU Distribusi Wilayah II, Jawa Bagian Timur yang terdiri dari Surabaya-Gresik, Sidoarjo-Mojokerto dan Pasuruan-Probolinggo serta Semarang dan Makasar.
Struktur Divisi Opersional
1. Kepala Divisi Operasional : Aldiansyah Idham 2. Kepala Seksi Operasional Sub Medan I : Nyoto Waluyo 3. Kepala Seksi Operasional Sub Medan II : Suwito
4. Staf Administrasi Wil Medan I : Aldi Azhari 5. Staf Administrasi Wil Medan II : Hamidah Armain 6. Staf Penangan Gangguan : Sugiarto
7. Staf Pemeliharaan : Yuliawan
8. Staf Pengawasan Jarigan Distribusi :Aditya Eka Wijaya 9. Staf Operasional Stasiun Paya Pasir : Sukarno
10.Staf Pengawasan Operasional : Gindo Edward N P
Bagan Divisi Operasional dapat dilihat pada lampiran dengan judul Gambar 3. 1 Sebagai penyedia utama gas bumi, PGN memiliki dua bidang usaha yaitu distribusi (penjualan) dan transmisi (transportasi) gas bumi melalui jaringan pipa yang tersebar di seluruh wilayah usaha. Usaha distribusi meliputi kegiatan pembelian gas bumi dari pemasok dan penjualan gas bumi melalui jaringan pipa distribusi ke pelanggan rumah tangga, komersial dan industri. Sedangkan usaha transmisi merupakan kegiatan pengangkutan (transportasi) gas bumi melalui jaringan pipa transmisi dari sumber-sumber gas ke pengguna industri.
Berikut ini adalah daftar divisi operasional Perusahaan Gas Negara Medan menurut lokasi kerja mereka:
Tabel 3.1 Daerah Pembagian Tugas
No Nama Lokasi Kerja Jumlah Tenaga Kerja Operasional
1 Sicanang 11
2 Simpang Kantor 6
3 Paya Pasir 8
4 Pasar VI 7
5 Pasar IX 10
6 Sei Semayang 9
7 KIM 1 12
8 Tualang 5
9 Helvetia 7
10 Glugur 7
11 Denai 7
12 Polonia 10
3.2 Waktu dan Alamat Penelitian
Waktu penelitian dimulai sejak bulan September 2012 sampai dengan selesai. Perusahaan Gas Negara Medan beralamat di Jalan KL Yos Sudarso Lr XII no 18 Glugur Medan.
3.3 Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan studi korelasional sebagai metode riset peneliti. Metode korelasional ini bertujuan untuk menunjukkan hubungan antara variable yang diteliti, atau dengan kata lain ingin meneliti sejauh mana variasi pada suatu variabel berkaitan dengan variasi pada variabel lain. Dalam hal ini sejauh mana variabel (X) yaitu kegiatan gathering yang berhubangan pada variabel (Y) yaitu keakraban antar pegawai.
3.4. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah kumpulan dari seluruh subjek penelitian. Populasi adalah suatu kumpulan dari semua subjek penelitian yang memiliki kemungkinan dari beberapa karakteristik (Arikunto, 2006: 130). Dari pernyataan diatas, populasi disajikan sebagai keseluruhan subjek yang memiliki kemungkinan untuk diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan divisi operasional Perusahaan Gas Negara Medan yang berjumlah 99 orang.
2. Sampel
(2007) jumlah populasi yang kurang dari 100 seluruh populasi dijadikan sampel penelitian semuanya.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Merupakan suatu tahap yang harus dilakukan karena tahap ini penting untuk menentukan state of the art juga untuk melihat dimana posisi teoritis yang akan dikembangkan. Selain itu tinjauan pustaka juga digunakan untuk menentukan teori yang akan digunakan, dan dari teori itu peneliti dapat menentukan hipotesis penelitian dan variabel-variabel penelitiannya (Bungin, 2011: 30).
2. Penelitian Lapangan (Field Research)
Dilakukan dengan cara mengumpulkan data di lapangan meeliputi kegiatan survey di lokasi penelitian, pengumpulan data dari responden melalui kuesioner, yaitu alat pengumpulan data dalam bentuk sejumlah pertanyaan tertulis yang harus dijawab secara tertulis pula oleh responden (Bungin, 2011: 30). Dalam hal ini peneliti akan menyebarkan kuesioner kepada karyawan divisi operasional Perusahaan Gas Negara.
3.6 Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan dipresentasikan (Singarimbun, 1955: 263). Data yang diperoleh dari hasil penelitian akan dianalisis dan dianalisa dalam beberapa tahap analisa, yaitu
1. Analisi tabel tunggal
atas dasar frekuensi. Table tunggal merupakan langkah awal dalam penganalisa kolom-kolom yang merupakan sejumlah frekuensi dan presentasi untuk setiap kategori (Singarimbun, 1995: 226).
2. Analisis tabel silang
Analisis tabel silang merupakan salah satu teknik yang
digunakan untuk menganalisa dan mengetahui apakah variabel yang satu memiliki hubungan dengan variabel lainnya, sehingga dapat diketahui apakah hubungan variabel tersebut bernilai positif atau negatif (Singarimbun, 1995: 273).
3. Uji hipotesis
Uji hipotesis adalah pengujian data statistic untuk mengetahui data hipotesis yang diajukan dapat diterima atau ditolak. Untuk menguji hubungan di antara kedua variabel yang dikorelasikan maka peneliti menggunakan rumus koefisien tata jenjang oleh Spearman (Spearman’s Rho Rank – Order Correlation), yang bersumber dari aplikasi SPSS for windows 13.0. Di mana Spearman Rho Koefisien adalah metode untuk meenganalisis data dan untuk melihat hubungan antara variabel yang sebenarnya dengan skala ordinal.
Selanjutnya, untuk mengukur kekuatan derajat hubungan digunakan nilai koefisien korelasi skala Guilford sebagai berikut (Kriyantono, 2006: 168-169), yaitu:
< 0,20 : Hubungan rendah sekali, lemah sekali 0,20 – 0,40 : Hubungan rendah tapi pasti 0,41 – 0,70 : Hubungan yang cukup berarti 0,71 – 0,90 : Hubungan yang tinggi, kuat
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Karakteristik responden dalam penelitian ini peneliti bagi menjadi tiga karakter, yakni : berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan, Deskripsi mengenai karakteristik responden penelitian peneliti jabarkan pada subbab di bawah ini.
4.2. Karakterstik Responden
Kriteria responden berdasarkan jenis kelamin digunakan untuk membedakan responden laki-laki dan perempuan. Jumlah responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 4.1. di bawah ini.
1. Jenis kelamin
Tabel 4.1. Jenis Kelamin
No. Jenis kelamin Frekuensi Persentase
1. Laki-laki 94 95,9
2. Perempuan 4 4,1
Total 98 100,0
Sumber : FC 01
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa responden terbanyak adalah jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 94 orang atau 95,9%, sedangkan responden jenis kelamin perempuan berjumlah sedikit yaitu sebanyak 4 orang atau 4,1%.
2. Usia
Kriteria responden berdasarkan usia digunakan untuk membedakan responden dengan tiga kelompok usia yaitu 20-30 tahun, 31-40 tahun, dan 41-53 tahun. Jumlah responden berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 4.2. di bawah ini.
Tabel 4.2 Usia Responden
No. Usia Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. 20-30 tahun 13 13,3
2. 31-40 tahun 43 43,9
3. 41-53 tahun 42 42,9
Total 98 100,0
Sumber : FC 02
3. Pendidikan
Kriteria responden berdasarkan Pendidikan digunakan untuk membedakan responden yaitu SMA/SMK, D-3 dan S-1. Jumlah responden
Tabel 4.3. Pendidikan
No. Pendidikan Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. SMA/SMK 24 24,5
2. D3 11 11,2
3. S-1 63 64,3
Total 98 100,0
Sumber : FC 03
4.2. Gathering
4.2.1 Kesetaraan
1. Persamaan Hak dan kewajiban
Tabel 4.4. Rasa Persamaan Hak dan kewajiban
No. Rasa Persamaan Hak dan kewajiban Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. Tidak merasakan 5 5,1
2. Cukup merasakan 8 8,2
3. Merasakan 11 11,2
4. Sangat merasakan 74 75,5
Total 98 100,0
Sumber : P 01 / FC 04
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dalam hal merasakan Rasa persamaan hak dan kewajiban dalam kegiatan gatering, jawaban responden terbanyak yang memilih jawaban Sangat merasakan yaitu sebanyak 74 orang atau 75,5%, sedangkan responden yang memilih jawaban tidak merasakan yaitu 5 orang atau 5,1%,
2. Kesetaraan dalam Kegiatan Gatering
Tabel 4.5. Tingkat Kesetaraan dalam Kegiatan Gatering
No. Tingkat Kesetaraan dalam Kegiatan
Gatering
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. Rendah 6 6,1
2. Cukup Tinggi 12 12,2
3. Tinggi 58 59,2
4. Sangat Tinggi 22 22,4
Total 98 100,0
Sumber : P 02 / FC 05
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dalam hal Tingkat Kesetaraan dalam Kegiatan Gatering, jawaban responden terbanyak yang memilih jawaban
Tinggi yaitu sebanyak 58 orang atau 59,2%, sedangkan responden yang memilih jawaban rendah yaitu 6 orang atau 6,1%.
4.2.2 Kebersamaan
1. Permainan Dalam Kegiatan Gathering
Tabel 4.6 Permainan Dalam Kegiatan Gathering
No. Permainan Dalam Kegiatan Gathering Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. Tidak tertarik 3 3,1
2. Cukup tertarik 8 8,2
3. Tertarik 71 72,4
4. Sangat tertarik 16 16,3
Total 98 100,0
Sumber : P 03 / FC 06
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dalam hal Permainan Dalam Kegiatan Gathering, jawaban responden terbanyak yang memilih jawaban
tertarik yaitu sebanyak 71 orang atau 72,4%, sedangkan responden yang memilih jawaban Tidak tertarik yaitu 3 orang atau 3,1%.
2. Acara Makan Bersama
Tabel 4.7. Saat Acara Makan Bersama
No. Saat Acara Makan Bersama Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. Tidak Serentak 12 12,2
2. Cukup Serentak 58 59,2
3. Serentak 7 7,1
4. Sangat Serentak 21 21,4
Total 98 100,0
Sumber : P 04 / FC 07
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dalam hal Saat Acara Makan Bersama, jawaban responden terbanyak yang memilih jawaban Cukup Serentak yaitu sebanyak 58 orang atau 59,2%, sedangkan responden yang memilih jawaban
Serentak yaitu 7 orang atau 7,1%.
4.2.3. Motivasi
1. Motivasi Dalam Mengikuti Acara Gathering
Tabel 4.8. Tingkat Motivasi Dalam Mengikuti Acara Gathering
No. Tingkat Motivasi Dalam Mengikuti Acara
Gathering
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. Rendah 4 4,1
2. Cukup tinggi 15 15,3
3. Tinggi 59 60,2
4. Sangat Tinggi 20 20,4
Total 98 100,0
Sumber : P 05 / FC 08
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dalam hal Tingkat Motivasi Dalam Mengikuti Acara Gathering, jawaban responden terbanyak yang memilih jawaban Tinggi yaitu sebanyak 59 orang atau 60,2%, sedangkan responden yang memilih jawaban Rendah yaitu 4 orang atau 4,1%.
Karyawan divisi operasional antusias dalam mengikuti gathering ini dikarenakan mereka bekerja 12 jam per hari dengan menggunakan sistem kerja
2. Kegiataan Gathering Mempengaruhi Dalam Mencapai Tujuan
Tabel 4.9. Kegiataan Gathering Mempengaruhi Dalam Mencapai Tujuan
No. Kegiataan Gathering Mempengaruhi
Dalam Mencapai Tujuan
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. Tidak mampu 5 5,1
2. Cukup mampu 11 11,2
3. Mampu 65 66,3
4. Sangat Mampu 17 17,3
Total 98 100,0
Sumber : P 06 / FC 09
4.2.4 Loyalitas
1. KesediaanMengikuti Kegiatan Gathering
Tabel 4.10 KesediaanMengikuti Kegiatan Gathering
No. KesediaanMengikuti Kegiatan Gathering Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. Tidak bersedia 10 10,2
2. Cukp Bersedia 13 13,3
3. Bersedia 55 56,1
4. Sangat Bersedia 20 20,4
Total 98 100,0
Sumber : P 07 / FC 10
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dalam hal Kesediaan Mengikuti Kegiatan Gathering, jawaban responden terbanyak yang memilih jawaban bersedia yaitu sebanyak 55 orang atau 56,1%, sedangkan responden yang memilih jawaban Tidak Bersedia yaitu 10 orang atau 10%.
Jika dilihat dari tabel di atas hanya sebagaian kecil yang tidak bersedia tetapi sebagian besar lagi bersedia, karena kegiatan gathering tersebut dilaksanakan pada hari minggu dan hari minggu tersebut adalah hari libur, jadi kesimpulannya karyawan merelakan waktu liburnya untuk bersedia mengikuti kegiatan gathering ini.
2.. Tingkat Loyalitas Terhadap Perusahaan
Tabel 4.11. Tingkat Loyalitas TerhadapPerusahaan
No. Tingkat Loyalitas TerhadapPerusahaan Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. Rendah 5 5,1
2. Cukup Tinggi 8 8,2
3. Tinggi 64 65,3
4. Sangat Tinggi 21 21,4
Total 98 100,0
Sumber : P 08 / FC 11
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dalam hal Tingkat Loyalitas Terhadap Perusahaan, jawaban responden terbanyak yang memilih jawaban
Tinggi yaitu sebanyak 64 orang atau 65,3%, sedangkan responden yang memilih jawaban Rendah yaitu 5 orang atau 5,1%.
3. Kecintaan Terhadap Pekerjaan Saat ini
Tabel 4.12. Kecintaan terhadap Pekerjaan Saat ini
No. Kecintaan terhadap Pekerjaan Saat ini Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. Tidak Cinta 3 3,1
2. Cukup Cinta 15 15,3
3. Cinta 7 7,1
4. Sangat Cinta 73 74,5
Total 98 100,0
Sumber : P 09 / FC 12
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dalam hal Kecintaan Terhadap Pekerjaan Saat ini, jawaban responden terbanyak yang memilih jawaban Sangat Cinta yaitu sebanyak 73 orang atau 74,5%, sedangkan responden yang memilih jawaban Tidak Cinta yaitu 3 orang atau 3,1%.
4.2.5 Sosialisasi
1. Pembagiaan Kelompok
Tabel 4.13. Pembagiaan Kelompok
No. Pembagiaan Kelompok Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. Tidak Bagus 5 5,1
2. Cukup Bagus 65 66,3
3. Bagus 14 14,3
4. Sangat Bagus 14 14,3
Total 98 100,0
Sumber : P 10 / FC 13
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dalam hal Pembagiaan Kelompok dalam Kegiatan Ghatering, jawaban responden terbanyak yang memilih jawaban Cukup Bagus yaitu sebanyak 65 orang atau 66,3%, sedangkan responden yang memilih jawaban Tidak Bagus yaitu 5 orang atau 5,1%. Pada saat pembagian kelompok pada saat gathering karyawan dipisah-pisahkan tidak hanya di divisi operasional namun di divisi lainya.
2. Sosialisasi Antar Sesama Peserta Dalam Gathering
Tabel 4.14. Tingkat Sosialisasi Antar Sesama Peserta Dalam
Gathering
No. Tingkat Sosialisasi Antar Sesama Peserta
Dalam Gathering
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. Sulit 9 9,2
2. Cukup Sulit 9 9,2
3. Mudah 59 59,2
4. Sangat Mudah 22 22,4
Total 98 100,0
Sumber : P 11 / FC 14
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dalam hal Tingkat Sosialisasi Antar Sesama Peserta Dalam Gathering, jawaban responden terbanyak yang memilih jawaban Mudah yaitu sebanyak 59 orang atau 59,2%, sedangkan responden yang memilih jawaban Sangat sulit dan sulit yaitu masing-masing 9 orang atau 9,2%.
4.3. Keakraban
4.3.1 Keramah - tamahan
1.Suasana Tempat Kerja
Tabel 4.15. Suasana Tempat Kerja
No. Suasana Tempat Kerja Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. Tidak Menyenangkan 18 18,4
2. Cukup Menyenangkan 9 9,2
3. Menyenangkan 13 13,3
4. Sangat Menyenangkan 58 59,2
Total 98 100,0
Sumber : P 12 / FC 15
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dalam hal Atas Suasana Tempat Kerja, jawaban responden terbanyak yang memilih jawaban Sangat Menyenangkan yaitu sebanyak 58 orang atau 58,2%, sedangkan responden yang memilih jawaban Cukup Menyenangkan yaitu 9 orang atau 9,2%.
2.Keramahtamahan Antara Karyawan Divisi Operasional
Tabel 4.16. Keramahtamahan Antara Karyawan Divisi Operasional
No. Keramahtamahan Antara Karyawan
Divisi Operasional
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. Tidak Ramah 16 16,3
2. Cukup Ramah 14 14,3
3. Ramah 10 10,2
4. Sangat Ramah 58 59,2
Total 98 100,0
Sumber : P 13 / FC 16
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dalam hal Keramahtamahan Antara Karyawan Divisi Operasional, jawaban responden terbanyak yang memilih jawaban Sangat Menyenangkan yaitu sebanyak 58 orang atau 58,2%, sedangkan responden yang memilih jawaban Cukup Ramah yaitu 16 orang atau 16,3%.
3. Tegur Sapa Sesama Karyawan Divisi Operasional
Tabel 4.17. KesediaanTegur Sapa Sesama Karyawan Divisi Operasional
No. Kesediaan Tegur Sapa Sesama Karyawan
Divisi Operasional
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. Tidak Bersedia 15 15,3
2. Cukup Bersedia 12 12,2
3. Bersedia 10 10,2
4. Sangat Bersedia 61 62,2
Total 98 100,0
Sumber : P 14 / FC 17
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dalam hal Kesediaan Tegur Sapa Sesama Karyawan Divisi Operasional, jawaban responden terbanyak yang memilih jawaban Sangat Bersedia yaitu sebanyak 61 orang atau 62,2%, sedangkan responden yang memilih jawaban Bersedia yaitu 10 orang atau 10,2%.
4. Interaksi Dengan Karyawan Divisi Operasional
Tabel 4.18. Interaksi Dengan Karyawan Divisi Operasional
No. Interaksi Dengan Karyawan Divisi
Operasional
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. Buruk 3 3,1
2. Cukup Baik 8 8,2
3. Baik 5 5,1
4. Sangat Baik 82 83,7
Total 98 100,0
Sumber : P 15 / FC 18
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dalam hal Interaksi Dengan Karyawan Divisi Operasional, jawaban responden terbanyak yang memilih jawaban Sangat Baik yaitu sebanyak 82 orang atau 83,7%, sedangkan responden yang memilih jawaban Buruk yaitu 3 orang atau 3,1%.
4.3.2.Kepercayaan
1. Kepercayaan Antara Sesama Karyawan Divisi Operasional
Tabel 4.19. Tingkat Kepercayaan Antara Sesama Karyawan Divisi
Operasional
No. Tingkat Kepercayaan Antara Sesama
Karyawan Divisi Operasional
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. Rendah 14 14,3
2. Cukup Tinggi 6 6,1
3. Tinggi 8 8,2
4. Sangat Tinggi 70 71,4
Total 98 100,0
Sumber : P 16 / FC 19
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dalam hal Tingkat Kepercayaan Antara Sesama Karyawan Divisi Operasional, jawaban responden terbanyak yang memilih jawaban Sangat Tinggi yaitu sebanyak 70 orang atau 71,4%, sedangkan responden yang memilih jawaban Cukup Tinggi yaitu 6 orang atau 6,1%.
2. Kepercayaan Antara Sesama Karyawan Divisi Operasional Dalam Hal
Meminjam Perlengkapan Kerja
Tabel 4.20. Kepercayaan Sesama Karyawan Divisi Operasional Dalam
Hal Meminjam Perlengkapan Kerja
No. Tingkat Kepercayaan Antara Sesama
Karyawan Divisi Operasional Dalam Hal
Meminjam Perlengkapan Kerja
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. Tidak Percaya 6 6,1
2. Cukup Percaya 68 69,4
3. Percaya 10 10,2
4. Sangat Percaya 14 14,3
Total 98 100,0
Sumber : P 17 / FC 20
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dalam hal Tingkat Kepercayaan Antara Sesama Karyawan Divisi Operasional Dalam Hal Meminjam Perlengkapan Kerja, jawaban responden terbanyak yang memilih jawaban Cukup Percaya yaitu sebanyak 68 orang atau 69,4%, sedangkan responden yang memilih jawaban Tidak Percaya yaitu 6 orang atau 6,1%.
3. Hubungan dengan Karyawan Divisi Operasional
Tabel 4.21 Hubungan dengan Karyawan Divisi Operasional
No. Hubungan dengan Karyawan Divisi
Operasional
Frekuensi
(f)
Persentase
(%)
1. Buruk 5 5,1
2. Biasa saja 2 2,0
3. Baik 9 9,2
4. Sangat Baik 82 83,7
Total 98 100,0
Sumber : P 18 / FC 21
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dalam hal Hubungan dengan Karyawan Divisi Operasional Setelah Mengikuti Acara Gathering, jawaban responden terbanyak yang memilih jawaban Sangat Baik yaitu sebanyak 82 orang atau 83,7 %, mereka merasa hubungan sangat baik karena menurut mereka tidak ada perselisihan antara divisi operasional, hal tersebut bisa kita lihat adanya penempatan mereka yang terpisah-pisah dan secara tidak langsung mempengaruhi interaksi mereka. sedangkan responden yang memilih jawaban Biasa Saja yaitu 2 orang atau 2,0%