MINAT MAHASISWA TENTANG PENELITIANN DI BIDANG KOMUNIKASI
(Studi Dokumentasi Pada Judul Skripsi Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU Tahun Ajaran 2010/2011)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Departemen Ilmu Komunikasi
Diajukan Oleh: Rahel Fitriani Purba
080904063
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
MINAT MAHASISWA TENTANG PENELITIAN DI BIDANG KOMUNIKASI
(Studi Dokumentasi Pada Judul Skripsi Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU Tahun Ajaran 2010/2011)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Oleh :
RAHEL FITRIANI PURBA 080904063
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
MINAT MAHASISWA TENTANG PENELITIAN DI BIDANG KOMUNIKASI
(Studi Dokumentasi Pada Judul Skripsi Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU Tahun Ajaran 2010/2011)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Oleh :
RAHEL FITRIANI PURBA 080904063
STUDENT INTEREST ABOUT RESEARCH IN COMMUNICATION MAJORS
(Documentations Study of Thesis Tittle on Science Communication FISIP USU
Academic Years 2010/2011)
Thesis
Asked To Complete Tasks and Meets Requirements For Getting a Bachelor's Degree of Social and Political Sciences
by:
RAHEL FITRIANI PURBA 080904063
DEPARTMENT OF SCIENCE COMMUNICATION FACULTY OF SOCIAL AND POLITICAL SCIENCE
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI Lembar Persetujuan
Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh : Nama : Rahel Fitriani Purba
NIM : 080904063 Departemen : Ilmu Komunikasi
Judul : Minat Mahasiswa Tentang Penelitian Di Bidang Komunikasi (Studi Dokumentasi Pada Judul Skripsi Mahasiswa Ilmu
Komunikasi FISIP USU Tahun Ajaran 2010/2011)
Medan, Mei 2013
Dosen Pembimbing Ketua Departemen
Emilia Ramadhani, S.Sos,M.A. Dra. Fatma Wardy Lubis.M.A NIP. 19731021200642001 NIP.195102191987011001
Dekan FISIP USU
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
Dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Penulisan skripsi yang berjudul “Minat Mahasiswa Tentang Penelitian Di Bidang Komunikasi” ini bertujuan untuk memenuhi salah satu persyaratan yang harus dilengkapi dalam memperoleh gelar Sarjana Sosial pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, tentunya merupakan hasil pelajaran yang penulis terima selama mengikuti perkuliahan di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Dalam menyusun skripsi ini, penulis mendapat banyak saran, bimbingan dan arahan baik dari segi moril maupun materi serta dorongan semangat dari berbagai pihak yang sangat berguna bagi penulis.
Secara khusus penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtua penulis, ayahanda Edisyahman Purba dan ibunda Nelvi br Saragih yang senantiasa mendoakan, memberikan dukungan dan nasehat yang bijaksana bagi penulis. Untuk adik-adikku Manuel Hadinata Purba, Liyoni Orta Purba, Serin Christina Purba, Jodi Christian Purba yang senantiasa saya sayangi, selalu membantu peneliti dalam menggapai gelar sarjana. Ucapan terima kasih lainnya penulis ingin sampaikan kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, Msi selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dra. Fatma Wardi Lubis, MA dan Ibu Dra. Dayana, Msi selaku ketua dan juga sekretaris Departemen Ilmu Komunikas yang begitu baik atas segala bantuan serta dukungannya yang sangat berguna dan bermanfaat bagi penulis.
4. Selaku Penguji Utama yang telah memberikan masukan untuk perbaikan skripsi ini hingga akhirnya bisa menjadi lebih baik lagi.
5. Seluruh Dosen dan Staf pengajar yang telah mendidik dan membimbing mulai dari semester awal hingga penulis menyelesaikan perkuliahan di kampus.
6. Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Kak Yovita Sabarina Sitepu, SSos, MSi selaku ketua serta Kak Hanim dan Kak Puan yang telah membantu penulis sehingga penulis memperoleh banyak ilmu yang bermanfaat.
7. Staf Departemen Kak Maya, Kak Icut, Bang Ria serta seluruh staf perpustakaan, karyawan bagian FISIP USU yang telah membantu penulis dalam memperoleh informasi tentang perkuliahan.
8. Sahabat penulis semasa di SMA (Eka Sinaga, Iin Sembiring, Nina Sinulingga, dan Sartika Tarigan yang telah memberi persahabatan dan menjadi teman terbaik bagi penulis
9. IMAJINASI FISIP USU terutama pengurus periode 2010-2011, Kak Inda Sari selaku ketua dan teman-teman pengurus lainnya yang telah memberikan wadah bagi penulis dan teman-teman yang lainnya untuk berkreatifitas dan belajar untuk berorganisasi.
10.Kesayanganku SdS (Agitha Sembiring, Dewi Manik, Elda Mariany, Eva Aritonang, Irmina Sagala, Melisa Pangaribuan, Ratna Napitupulu, dan Sri Sembiring ) yang telah memberikan persahabatan, dukungan dan semangat kepada penulis selama masa perkuliahan dan mudah-mudahan akan berlangsung selamanya.
11.Teman-teman Ilmu Komunikasi berbagai stambuk terutama teman seperjuangan stambuk 2008 yang senantiasa menjadi teman terbaik bagi penulis.
13.Seluruh informan yang bersedia memberikan informasi yang dibutuhkan penulis untuk menyelesaikan skripsi ini serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas semua doa dan dukungan yang telah diberikan. Penulis menyadari bahwa penulisan ini jauh dari sempurna. Untuk itu saran dan kritik dibutuhkan penulis demi perbaikan skripsi ini. Akhirnya semoga tulisan yang sederhana ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, April 2013 Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN LEMBAR PENGESAHAN HALAMAN JUDUL
ABSTRAKSI ...i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
BAB I PENDAHULUAN ...1
1.1 Konteks Masalah ...1
1.2 Fokus Masalah ...8
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ...9
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 10
2.1 Perspektif/Paradigma Kajian ... 10
2.1.1 Paradigma Penelitian ... 10
2.1.2. Konstruktivisme ... 15
2.2 Kajian Pustaka ...17
2.2.1 Komunikasi ...18
2.2.1.1 Pengertian Komunikasi ...19
2.2.1.2 Proses Komunikasi ...22
2.2.1.3 Fungsi Komunikasi ...23
2.2.1.4 Tujuan Komunikasi ...24
2.2.1.5 Prinsip Komunikasi ...24
2.2.1.6 Ruang Lingkup Komunikasi ...26
2.2.2 Psikologi Komunikasi ...29
2.2.3 Teori S-O-R ... 32
2.2.4 Minat ... 37
2.3 Model Teoritik ... 40
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 42
3.1 Metode Penelitian ... 42
3.1.1 Metode Kualitatif ... 42
3.1.2 Studi Dokumentasi ... 45
3.2 Objek Penelitian ... 48
3.3 Subjek Penelitian ... 48
3.4 Kerangka Analisis ... 56
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 57
3.5.1 Wawancara Mendalam ... 57
3.5.2 Penelitian Dokumenter ... 59
3.5.3 Penelitian Kepustakaan ... 59
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 63
4.1 Deskripsi Subjek Penelitian ...63
4.1.1 Universitas Sumatera Utara ...63
4.1.1.1 Tentang Universitas Sumatera Utara ...63
4.1.1.2 Denah Universitas Sumatera Utara ...64
4.1.1.3 Visi, Misi dan Tujuan ...65
4.1.2Fakultas Ilmu Sosial dan Politik ...66
4.1.2.1 Visi dan Misi ...66
4.1.2.2 Pimpinan FISIP ...68
4.1.3 Ilmu Komunikasi ...68
4.1.3.1 Sejarah ...68
4.1.3.2 Visi dan Misi ...69
4.2 Deskripsi Subjek Penelitian ...69
4.3 Hasil ...71
4.4 Pembahasan ...81
BAB V PENUTUP ... 87
5.1. Kesimpulan ... 87
5.2. Saran ... 88
5.3. Implikasi ... 89
- Teoritis ... 89
- Praktis ... 89 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Halaman
2.1. Model S-R……… 33
2.2. Teori S-O-R………..……… 35
2.3 Model S-O-R Terhadap Penelitian……… 41
ABSTRAK
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Konteks Masalah
Setiap manusia tidak pernah lepas dari namanya pendidikan karena pendidikan itu merupakan langkah dasar bagi setiap orang untuk melangkah pada jenjang berikutnya. Pendidikan berfungsi sebagai sarana dalam perencanaan masa depan suatu bangsa sehingga dituntut adanya suatu generasi yang berkualitas misalnya pandai, cerdas, terampil, mandiri, dan mampu menjalani permasalahan hidup yang dihadapi. Pendidikan dikatakan sebagai indikator dalam menunjang sumber daya manusia yang berkualitas. Kesadaran akan pentingnya pendidikan dapat memberikan prestasi yang intelektual bagi manusia yang terlibat didalamnya.
Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini memang masih sangat rendah bila dibandingkan dengan kualitas pendidikan di negara-negara lain. Hal-hal yang menjadi penyebab utamanya yaitu efektifitas, efisiensi, dan standardisasi pendidikan yang masih sangat kurang dioptimalkan. Selain itu terdapat juga masalah-masalah lain yang menjadi penyebabnya yaitu mahalnya biaya pendidikan, rendahnya kualitas dan kesejahteraan pengajar, fasilitas yang masih kurang memadai, kurangnya pemerataan sistem pendidikan terutama di pedesaan, dan rendahnya prestasi siswa-siswa.
Belakangan ini kesadaran akan manfaat pentingnya pendidikan sebagai penunjang menciptakan sumber daya manusia dirasakan sudah tidak ada lagi. Ketika bukan lagi keutamaan dan keadilan yang ditanamkan dalam konsep pendidikan, melainkan mencari keuntungan materi dan kekuasan atau adanya komersialisasi di dunia pendidikan dan ini akan menjadi sebab utama terjadinya praktek pendidikan diskriminatif.
melandasi jenjang pendidikan menengah. Sebelum pada akhirnya anak akan disekolahkan ada baiknya para orangtua mengetahui jalur pendidikan dimana, mempunyai jenjang pendidikan yang jelas yang dimulai dari pendidikan dasar (usia 7-13tahun); pendidikan menengah baik pertama (usia 13-16ahun); dan atas (16-18tahun), sampai pendidikan tinggi (usia 18 tahun keatas).
Jika para orangtua sudah mengetahui jalur pendidikan, maka orangtua akan mencari sekolah yang mempunyai kualitas sekolah yang mempunyai akreditasi dan ekonomis. Pada saat ini, para orangtua tidak perlu khawatir dalam mencari sekolah baik Negeri dan Swasta karena ada banyak sekolah yang dapat dijumpai seperti berikut adapun jumlah pendidikan Sekolah Dasar (SD) yang ada di Indonesia berjumlah 143,252 siswa meliputi SD Negeri berjumlah 130,563 dan Sekolah Dasar Swasta 12,689. Sedangkan jumlah pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) berjumlah 11.898 meliputi SMP Negeri 5.684 dan SMP Swasta 6.214 . dan Sekolah Menengah Atas (SMA) berjumlah 11.306 siswa yang meliputi SMA Negeri 5322dan SMA Swasta diakses 16-3-2012 pukul 20.10)
Setelah melewati keseluruhan tahap pendidikan menengah atas, maka kita akan dibimbing untuk dapat mengikuti ke jenjang berikutnya yaitu perguruan tinggi. Perguruan tinggi menyelenggarakan pendidikan profesional dan akademik dalam ruang lingkup satu disiplin ilmu pengetahuan, teknologi atau kesenian. Ada 2 jenis perguruan tinggi yang ada di Indonesia yaitu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Jumlah dari keduanya berkisar 3,070 buah diantaranya 83 buah PTN dan 2,987 buah PTS.
Program Strata 1 (S1) merupakan jenjang pendidikan akademik yang mempunyai beban studi antara minimal 144 satuan kredit semester(sks) dan maksimal 160 sks dengan kurikulum 8 semester dan lama program antara 8 sampai 14 semester setelah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas. Jumlah mahasiswa yang kuliah pada S1 di Indonesia ±4juta orang dan yang sedang mengerjakan skripsi ± 900ribu orang.
Sumatera Utara khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Yayasan ini diurus oleh suatu Dewan Pimpinan yang diketuai langsung oleh Gubernur Sumatera Utara, dengan susunan sebagai berikut: Abdul Hakim (Ketua); Dr. T. Mansoer (Wakil Ketua); Dr. Soemarsono (Sekretaris/Bendahara); Ir. R. S. Danunagoro, Drh. Sahar, Drg. Oh Tjie Lien, Anwar Abubakar, Madong Lubis, Dr. Maas, J. Pohan, Drg. Barlan, dan Soetan Pane Paruhum (Anggota).
Sebenarnya hasrat untuk mendirikan perguruan tinggi di Medan telah mulai sejak sebelum Perang Dunia-II, tetapi tidak disetujui oleh pemerintah Belanda pada waktu itu. Pada zaman pendudukan Jepang, beberapa orang terkemuka di Medan termasuk Dr. Pirngadi dan Dr. T. Mansoer membuat rancangan perguruan tinggi Kedokteran. Setelah kemerdekaan Indonesia, pemerintah mengangkat Dr. Mohd. Djamil di Bukit Tinggi sebagai ketua panitia. Setelah pemulihan kedaulatan akibat clash pada tahun 1947, Gubernur Abdul Hakim mengambil inisiatif menganjurkan kepada rakyat di seluruh Sumatera Utara mengumpulkan uang untuk pendirian sebuah universitas di daerah ini.
Pada tanggal 31 Desember 1951 dibentuk panitia persiapan pendirian perguruan tinggi yang diketuai oleh Dr. Soemarsono yang anggotanya terdiri dari Dr. Ahmad Sofian, Ir. Danunagoro, dan sekretaris Mr. Djaidin Purba. Selain Dewan Pimpinan Yayasan, Organisasi USU pada awal berdirinya terdiri dari: Dewan Kurator, Presiden Universitas, Majelis Presiden dan Asesor, Senat Universitas, dan Dewan Fakultet.
Pada tahun 1959, dibuka Fakultas Teknik di Medan dan Fakultas Ekonomi di Kutaradja (Banda Aceh) yang diresmikan secara meriah oleh Presiden R.I. Kemudian disusul berdirinya Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (1960) di Banda Aceh. Sehingga pada waktu itu, USU terdiri dari lima fakultas di Medan dan dua fakultas di Banda Aceh. Selanjutnya menyusul berdirinya Fakultas Kedokteran Gigi (1961), Fakultas Sastra (1965), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (1965), Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu Politik (1982), Sekolah Pascasarjana (1992), Fakultas Kesehatan Masyarakat (1993), Fakultas Farmasi (2007), Fakultas Psikologi (2008), dan Fakultas Keperawatan (2009).
Pada tahun 2003, USU berubah status dari suatu perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi suatu perguruan tinggi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Perubahan status USU dari PTN menjadi BMHN merupakan yang kelima di Indonesia. Sebelumnya telah berubah status UI, UGM, ITB dan IPB pada tahun 2000. Setelah USU disusul perubahan status UPI (2004) dan UNAIR (2006).
Dalam perkembangannya, beberapa fakultas di lingkungan USU telah menjadi embrio berdirinya tiga perguruan tinggi negeri baru, yaitu Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh, yang embrionya adalah Fakultas Ekonomi dan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan USU di Banda Aceh. Kemudian disusul berdirinya Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Medan (1964), yang sekarang berubah menjadi Universitas Negeri Medan (UNIMED) yang embrionya adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan USU. Setelah itu, berdiri Politeknik Negeri Medan (1999), yang semula adalah Politeknik USU.
Lebih kurang dalam waktu satu tahun, keluar Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I Nomor 0535/0/83 tentang jenis dan jumlah jurusan pada fakultas-fakultas di lingkungan Universitas Sumatera Utara.Berdasarkan SK Mendikbut R.I itu, disebutkan FISIP USU mempunyai 6 (enam) jurusan dengan urutan berikut :
1. Jurusan Sosiologi
2. Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial 3. Jurusan Antropologi
4. Jurusan Politik
5. Jurusan Ilmu Administrasi 6. Jurusan Ilmu Komunikasi
Pembentukan jurusan di FISIP USU tidak berjalan sesuai dengan urutan berdasarkan Surat Keputusan Mendikbud R.I. Nomor : 0535 / 0 / 83 itu, karena pembukaan Jurusan pada tahap awal di lakukan pada Semester tujuh yang didasarkan pada pilihan mahasiswa. Selain itu juga bergantung pada ketersediaan staf pengajar.
Dewasa ini FISIP USU mempunyai 6 (enam) Departemen, satu Program Diploma III, dan Satu Program Pasca Sarjana yaitu sebagai berikut : Departemen Ilmu Administrasi yang dibagi ke dalam Program Studi Ilmu Administrasi Negara, dan Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis, Departemen Ilmu Komunikasi, Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosiologi, Departemen Antropologi, dan Departemen Ilmu politik.Program Studi Diploma III Administrasi, Perpajakkan , dan Pogram Studi S2 Megister Studi Pembangunan.
Departemen Ilmu Komunikasi pertama kali dibuka di FISIP USU pada tahun 1983 dengan nama Jurusan Ilmu Komunikasi. Dalam proses pengembangannya pada tahun 1994-1997 Jurusan Ilmu Komunikasi membuka 2 ( dua) program studi yaitu : Program Studi Public Relations (Humas) dan Program
Studi Jurnalistik (Komunikasi Massa).
Pada tahun ajaran 2001/2002, berdasarkan Surat Keputusan Rektor No. 2162/ J05/TU/2001 Departemen Ilmu Komunikasi membuka Program Ektensi Ilmu Komunikasi. Setelah berhasil membuka Program Ekstensi, pada tahun ajaran 2004/2005 Departemen Ilmu Komunikasi membuka Program Reguler Mandiri.
Pada tahun 2004 Badan Akreditas Nasional Perguruuan Tinggi kembali menyatakan bahwa Pogram Studi Sarjana Ilmu Komunikasi FISIP USU terakreditasi dengan peringkat Akreditas A (Baik Sekali), Sertifikasi akreditasi program studi sarjana ini berlaku 5 (lima) tahun sejak tanggal 7 Mei 2004 sampai 7 Mei 2009.
Salah satu syarat menjadi sarjana di departemen ilmu komunikasi adalah membuat suatu penelitian yang disebut dengan skripsi. Skripsi merupakan karangan ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis (KBBI), dikatakan berhasil tidak hanya dilihat dari nilai akhir yang diberikan dengan bobot 6 SKS. Skripsi dikatakan berhasil saat peneliti mengerti dan memahami tujuan dan manfaat dilakukannya penelitian. Skripsi dikerjakan bukan hanya untuk mendapatkan nilai A pada mata kuliah skripsi, dan bukan pula sekedar memenuhi syarat untuk memperoleh gelar sarjana. Tujuan penulisan skripsi yang sebenarnya agar mahasiswa dapat berpikir logis, analitis dan ilmiah dalam menguraikan dan membahas suatu permasalahan sehingga dapat menuangkan hasil pemikiran dan penelitian tersebut secara sistematis dan
terstruktu
Skripsi adalah bukti integritas mahasiswa, implementasi ilmu yang telah diperoleh selama di perguruan tinggi, karya tertinggi mahasiswa S1 yang melibatkan rasa dan karsa serta kemampuan intelijen dan emosional mahasiswa. Skripsi bermanfaat untuk memberikan dedikasi kepada masyarakat dengan seluruh ilmu yang diperoleh mahasiswa selama di perguruan tinggi. Manfaat ini juga tertera dalam tridarma perguruan tinggi yakni pengabdian kepada masyarakat.
benak mahasiswa. Yang dipikirkan mahasiswa hanyalah cara paling instan dan mulus untuk selesai sampai bab akhir.
Penulis melihat fenomena yang terjadi pada mahasiswa ilmu komunikasi FISIP USU, cenderung membuat judul skripsi yang mengarah pada media massa/komunikasi massa, mengenai periklanan, atau tentang CSR (Coorporate Social Responsibility). Padahal pada departemen ilmu komunikasi terdapat banyak mata kuliah yang melibatkan banyak bidang, bukan hanya bidang media massa ataupun iklan melainkan juga mengenai desain grafis, komunikasi pembangunan sosial, komunikasi penyuluhan, komunikasi pariwisata, komunikasi internasional, komunikasi lintas budaya dan lain sebagainya.
Penulis melihat sangat jarang menemukan judul skripsi mahasiswa ilmu komunikasi FISIP USU yang menyinggung mengenai desain grafis, komunikasi pembangunan sosial, komunikasi penyuluhan, komunikasi pariwisata, komunikasi internasional, komunikasi lintas budaya dan lain sebagainya. Kalaupun ada, jumlahnya pun sangat kontras dengan kebanyakan skripsi mahasiswa ilmu komunikasi FISIP USU.
Menurut hemat penulis, kondisi seperti ini dapat mengakibatkan kesenjangan mata kuliah ilmu komunikasi. Selain itu, bisa membuat orang lain berpikir bahwa ilmu komunikasi hanya identik dengan komunikasi massa, periklanan, atau tentang CSR. Penulis akan menganalisis fenomena kesenjangan pemilihan judul skripsi pada mahasiswa ilmu komunikasi dengan menggunakan studi dokumentasi. Menurut Burhan Bungin “Metode dokumenter atau yang disebut sebagai studi dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data yang digunakan dalam metodologi penelitian sosial untuk menelusuri data histories”. SedangkanSugiyono menyatakan bahwa Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu yang berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang”. pukul 21.15)
peneliti, bahwa banyak sekali data-data yang tersimpan dalam bentuk dokumen dan artefak. Sehingga penggalian sumber data lewat studi dokumen menjadi pelengkap bagi proses penelitian kualitatif. Penelitian dengan menggunakan metode studi dokumentasi bersifat kualitatif. Penulis berperan mendeskripsikan hasil penelitian apapun hasilnya. Pada penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah minat mahasiswa tentang judul skripsi mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU tahun ajaran 2010/2011.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai minat mahasiswa tentang penelitian di bidang komunikasi, Studi Dokumentasi Pada Judul Skripsi Mahasiswa Ilmu Komunikasi Tahun Ajaran 2010/2011
1.2. Fokus Masalah
Tujuan dari fokus masalah adalah untuk menghindari ruang lingkup penelitian yang terlalu luas sehingga dapat mengaburkan penelitian.
Adapun pembatasan masalah yang diteliti adalah : 1. Penelitian bersifat sebagai studi dokumentasi.
2. Objek yang akan di teliti adalah skripsi Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU tahun ajaran 2010/2011 dan beberapa orang dosen dan mahasiswa yang akan diwawancarai seputar bidang-bidang ilmu komunikasi yang mereka tekuni.
3. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang akan memaparkan faktor-faktor apa yang mempengaruhi minat mahasiswa terhadap penelitian di bidang komunikasi.
4. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Maret 2012 sampai selesai.
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah:
2. Untuk menganalisis ketertarikan mahasiswa ilmu komunikasi Ilmu Komunikasi FISIP USU Tahun Ajaran 2010/2011.
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Secara teoritis, penulis dapat menerapkan ilmu yang sudah diperoleh selama menjadi mahasiswa Departemen ilmu Komunikasi FISIP USU. 2. Secara akademis, penelitian ini dapat disumbangkan kepada Departemen
Ilmu Komunikasi FISIP USU, guna memperkaya bahan penelitian dan sumber bacaan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Perspektif/Paradigma Kajian 2.1.1 Paradigma Penelitian
Ilmu bukanlah suatu yang tunggal melainkan plural. Menurut Thomas Kunt, ilmuwan selalu bekerja dibawah satu payung paradigma asumsi ontologisme, metodologis, dan struktur nilai (Adian, 2002). Definisi paradigma yang ditawarkan oleh Kunt sendiri memiliki tiga rumusan yaitu :
1. Kerangka Konseptual untuk mengklarifikasikan dan menerangkan objek-objek fisikal alam.
2. Patokan untuk menspesifikasikan metode yang tepat, teknik-teknik, dan instrument dalam meneliti objek-objek dalam wilayah yang relevan. 3. Kesepakatan tentang tujuan-tujuan kognitif yang absah.
Paradigma menjadi kerangka konseptual dalam mempersepsi semesta. Artinya, tidak ada observasi yang netral. Semua pengalaman perseptual kita selalu dibentuk oleh kerangka konseptual yang kita gunakan. Misalnya, Aristoteles melihat gerak benda jatuh sebagai garis lurus. Sedang Newton mempersepsinya sebagai gerak pendulum. Hal ini menurut Khun disebabkan oleh perbedaan paradigm yang dianut keduanya. Aristoteles dan Newton mengadopsi asumsi ontologism yang berbeda semesta.
Tabel 2.1
Perbandingan Ontologis, Epistemologis dan Metodologis
Bidang Positivisme
Post-Positivisme
yang ersifat tentative dan probabilitas. sosial budaya) Metodolo gis Asumsi metodolo gis tentang bagaiman a peneliti mempero leh pengetah uan Eksperimental manipulatif, pembuktian atas hipotesis, kuantitatif Eksperimental yang dimodifikasi dan terbuka secara kritis pada keanekaragam an dan latar penelitian yang lebih alami Dialogis, transformativ e guna mengatasi kesadaran palsu. Hermeneutik dan dialektis, ilmu hasil konstruksi atau interaksi peneliti terhadap objek yang ditelit
Sumber: Ardianto, Elvinaro, 2007. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung. PT.Rosda Karya.
Pendekatan positivistik mengarah pada metode kuantitatif dengan teknik statistiknya yang mendominasi analisis penelitian sejak abad ke 18 hingga saat ini. Pendekatan ini bersumber dari wawasan filsafat positivisme Comte yang menolak metaphisik dan teologik; atau setidak-tidaknya mendudukkan metaphisik dan teologi primitif. Materialisme mekanistik-mekanistik sebagai perintis pengembangan metodologi ini mengemukakan bahwa hukum-hukum mekanik itu
inheren dalam benda itu sendiri; ilmu dapat menyajikan gambar dunia secara spekulasi filsofik.
kuantitatif, generalisasi dikonstruksikan dari rerata keragaman individual atau rerata frekuensi dengan memantau kesalahan yang mungkin. Menurut positivisme, ontologik realitas dapat dipecah-pecah, dipelajari independen, dieliminasikan dari objek lain, dan dapat dikontrol.
Dari segi epistimologik, pendekatan ini menuntut pilahnya subjek peneliti dengan objek penelitian. Tujuannya agar diperoleh hasil yang objektif. Tujuan penelitian yang berlandaskan filsafat positivisme menyusun bangunan ilmu nomothetik, yaitu ilmu yang berupaya membuat hukum dari generalisasinya.
Dari segi aksiologi, positivisme menuntut agar penelitian itu bebas nilai (value free). Mereka mengejar objektivitas agar dapat ditampilkan prediksi atau hukum yang keberlakuannya bebas waktu dan tempat.
Pendekatan yang muncul setelah itu adalah pendekatan post-positivistik. Karakteristik utama positivistik adalah pencarian makna dibalik data. Awal dari post-positivistik adalah pemikiran Descartes yang menjadi eksponen pertama dari rasionalisme yang menyajikan model pembuktian berangkat dari aksioma yang membuktikan sendiri kebenarnnya. Bagi pendekatan positivistick, mencari makna adalah mencari signifikasi. Bagi rasionalisme mencari makna secara ontologik bergerak yang empirik sensual, logik dan yang etik. Secara epistimologi menggunakan berpikir reflektif, verstehen, menggunakan pola pikir divergensi, kreatif, inovatif untuk mendapatkan makna yang lebih jauh lagi dari sekedar signifikasi.
Kesimpulan penelitian yang menghentikan pemahamannya sampai kesimpulan statistik atau pun terhenti sampai penjabaran verbal dari kesimpulan statistik yang masih berada pada tahap pemaknaan penerjemahan. Pemaknaan berikut adalah kemampuan mencari arti dibalik yang tersurat. Yang tersurat mungkin empirik sensual, dicari makna logik atau etiknya. Yang tertangkap kejadian kasus, dengan ketajaman reflektif dan juga verstehen mungkin tertangkap makna universalnya.
morfogenetik, mampu secara lincah bergerak antara berpikir hierarki dan heteraki, mampu berpikir konstektual sekaligus antipatif, mampu membijakkan diri untuk bergerak dari yang sensual sampai yang etik, itulah modal dan cara kerja yang diharapkan untuk dapat memberi makna lebih dalam dan lebih jauh dari hasil suatu penelitian. Membangun konseptualisasi masa depan kehidupan kemanusiaan itulah yang perlu dicapai, bukan menyajikan fragmen-fragmen kehidupan tanpa menyadari integritas totalnya.
Pendekatan selanjutnya yang muncul setelah post-positivisme adalah pendekatan kritis yang banyak diilhami oleh ajaran-ajaran Marxisme. Patti Lather mengetengahkan bahwa pendekatan teori kritis termasuk pendekatan era post-positif yang mencari makna dibalik yang empiri, dan menolak value free. Pendekatan kritis mempunyai komitmen yang tinggi kepada tata sosial yang lebih adil. Dua asumsi dasar yang menjadi landasan, yaitu : pertama ilmu sosial bukan sekedar memahami ketidakadilan dalam distribusi kekuasaan dan distribusi resources, melainkan berupaya untuk membantu menciptakan kesamaan dan emansipasi dalam kehidupan; kedua, pendekatan teori kritis memiliki keterikatan moral untuk mengkritik status quo dan membangun masyarakat yang lebih adil.
Pendekatan yang terakhir adalah pendekatan konstruktivis. Pendekatan ini termasuk dalam post-positivisme interpretif, tetapi memiliki kekhususan. Konstruktivis sebagaimana interpretif menolak objektivitas. Objektivitas sebagaimana dianut oleh post positivist berpendapat bahwa yang ada adalah pemaknaan kita tentang di luar diri yang kita konstruk, empirical-constructed facts.
2.1.2 Konstruktivisme
Konstruktivisme berpendapat bahwa semesta secara epistimologi merupakan hasil konstruksi sosial. Pengetahuan manusia adalah konstruksi yang dibangun dari proses kognitif dengan interaksinya dengan dunia objek material. Pengalaman manusia terdiri dari interpretasi bermakna terhadap kenyataan dan bukan reproduksi kenyataan. Dengan demikian dunia muncul dalam pengalaman manusia secara terorganisir dan bermakna. Keberagaman pola konsep/kognitif merupakan hasil dari lingkungan historis, cultural, dan personal yang digali terus menerus.
Istilah konstruksi sosial sendiri menjadi terkenal sejak diperkenalkan oleh Peter L.Berger dan Thomas Luckman melalui bukunya yang berjudul “The Social Construction of reality, a treatise in the sociological of knowledge”. Mereka menggambarkan bahwa proses sosial melalui tindakan dan interaksinya, yang mana individu menciptakan secara terus menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subjektif. Menurut mereka, konstruktivisme merupakan penggabungan dari dua teori yaitu structural fungsionla dan interaksionisme simbolik.
Dalam aliran filsafat, gagasan konstruktisme telah muncul sejak Socrates menemukan jiwa dalam tubuh manusia dan sejak Plato menemukan akal budi dan ide. Gagasan tersebut lebih konkret lagi setelah Aristoteles mengenalkan istilah informasi, relasi, individu, substansi, materi, esensi, dan lain sebagainya. Ia mengatakan, manusia adalah makhluk sosial, setiap pernyataannya harus dibuktikan kebenarannya, bahwa kunci pengetahuan adalah logika, dan dasar pengetahuan adalah fakta. Descartes kemudia memperkenalkan ucapannya “cogito, ergo sum” atau “ saya berpikir karena saya ada”. Kata-kata Descartes yang terkenal itu menjadi perkembangan gagasan-gagasan paradigma konstruktivisme sampai saat ini. Di dalam ilmu-ilmu sosial, paradigm ini merupakan salah satu dari tiga paradigma yang ada. Dua paradigma lainnya adalah klasik dan kritis.
sebagai yang terberi dari objek adanya hubungan yang antara pikiran yang membentuk ilmu pengetahuan dengan objek atau eksistensi manusia. Dengan demikan paradigm konstruktivis mencoba menjembatani dualisme objektivisme-subjektivisme dengan mengafirmasi peran subjek dan objek dalam ilmu pengetahuan.
Positivisme meyakini bahwa pengetahuan harus merupakan representasi (gambaran atau ungkapan) dari kenyataan dunia yang terlepas dari pengamat (objektivisme). Pengetahuan dianggap sebagai kumpulan fakta. Sedangkan konstruktivisme menegaskan bahwa pengetahuan tidak lepas dari subjek yang sedang belajar mengerti. Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri.
Secara ringkas gagasan konstruktivisme mengenai pengetahuan dapat dirangkum sebagai berikut (Elvinaro & Bambang, 2007:155) :
1. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek. 2. Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang
perlu untuk pengetahuan.
3. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk pengetahuan bila konsepsi itu berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang.
Jadi intinya konstruktivisme dilihat sebagai sebuah kerja kognitif individu untuk menafsirkan dunia realitas yang ada, karena terjadi realsi sosial antara individu dengan lingkungan atau orang di sekitarnya. Kemudian individu membagun sendiri pengetahuan atas realitas yang dilihatnya itu berdasarkan pada struktur pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Konstruksi semacam ini yang oleh Berger dan Luckman disebut dengan konstruksi sosial.
dianggap sebagai kenyataan. Realitas simbolik adalah reaksi simbolis dari realitas-realitas objektif dalam berbagai bentuk. Sedangkan realitas subjektif adalah realitas yang terbentuk sebagai proses penyerapan kembali objektif dan simbolik ke dalam individu melalui proses internalisasi. Bagi Berger, realitas itu tidak dibentuk secara alamiah, tidak juga sesuatu yang diturunkan Tuhan. Tetapi sebaliknya, ia dibentuk dan dikonstruksi.
Dengan pemahaman semacam ini, realitas berwajah ganda/plural. Setiap orang bisa mempunyai pengalaman, profesi, pendidikan tertentu, dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu akan menafsirkan realitas sosial itu dengan konstruksinya masing-masing. Dalam melakukan pekerjaan, peneliti sebagai seorang konstruktivis akan melakukan konstruksi dan perlu meyakinni bahwa individu melakukan interpretasi dan bertindak sesuai dengan kategori konseptual dalam pemikirannya. Hal ini sesuai dengan asumsi bahwa individu memandang dunia melalui sistem konstruk personalnya. Konstruk personal adalah indikator adanya kompleksitas kognitif. Kompleksitas kognitif merupakan bangunan kognitif yang disesuaikan dengan realitasnya. Bangunan ini kemudian memberi perintah pada persepsi seseorang (Antonius, 2004:110). Subjek memiliki kemampuan kontrol terhadap maksud-maksud tertentu dalam setiap wacana. Komunikasi dipahami, diatur dan dihidupkan oleh pernyataan-pernyataan yang bertujuan. Setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan menciptakan makna, yakni tindakan pembentukan diri serta pengungkapan jati diri sang pembicara.
2.2 Kajian Pustaka
Pada suatu penelitian, peneliti harus memiliki landasan teori yang sesuai dengan masalah yang akan ditelitinya. Teori memberikan pemahaman dan penjelasan terhadap sesuatu yang sulit untuk dimengerti dimana teori adalah abstraksi dari realitas Teori memberikan dasar dalam suatu penelitan untuk memprediksi dan merumuskan pernyataan-pernyataan yang menyangkut pemahaman pemikiran (Severin & Tankard, 2008:12-13)
2008:6). Kerangka teori disusun berdasarkan tinjauan pustaka dan hasil penelitian yang relevan.
Selain itu, Kerlinger menyebutkan teori adalah himpunan konstruk (konsep), defenisi dan proposisi, yang mengemukakan pendapat sistematis tentang gejala yang menjabarkan relasi di antara variabel, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut (Rakhmat, 2004 : 6).
Setiap penelitian mempunyai titik tolak atau landasan berpikir dalam memecahkan atau menyoroti sebuah masalah. Untuk itu perlu disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok yang menggambarkan diri dari sudut mana masalah penelitian akan disoroti. Dalam penelitian ini, adapun teori-teori yang dianggap relevan dalam penelitian ini adalah:
2.2.1 Komunikasi
Bila ditinjau secara etimologi, dapat disebutkan bahwa istilah komunikasi dalam Bahasa Inggris yaitu communication berasal dari kata Latin communis,
artinya sama. Maksudnya bila seseorang mengadakan kegiatan komunikasi dengan sesuatu pihak, maka orang tersebut cenderung berusaha untuk mengatakan persamaan arti dengan pihak lain yang menjadi lawan komunikasinya atau menyamakan dirinya dengan yang diajaknya berkomunikasi (Suwardi, 2007:6-7).
2.2.1.1 Pengertian Komunikasi
Komunikasi adalah istilah yang populer dewasa ini. Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari bahasa latin communicatio
dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah sama makna. Jadi, kalau dua orang terlibat dalam komunikasi, misalnya dalam bentuk percakapan, maka komunikasi akan terjadi atau selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan. Kesamaan bahasa yang digunakan dalam percakapan itu belum tentu menimbulkan sama makna. Dengan kata lain, mengerti bahasanya saja belum tentu mengerti makna yang dibawakan oleh bahasa tersebut. Jelas bahwa percakapan kedua orang tadi dapat dikatakan
komunikatif apabila kedua-duanya selain mengerti bahasa yang dipergunakan, juga mengerti dari bahan yang dipercakapkan.
Pengertian komunikasi yang dipaparkan di atas sifatnya dasariah, dalam arti kata bahwa komunikasi itu minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Dikatakan minimal karena kegiatan komunikasi tidak hanya informatif, yakni agar orang lain mengerti dan tahu, tetapi juga
persuasif, yaitu agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, melakukan suatu perbuatan atau kegiatan, dan lain-lain.
Seperti yang dikatakan oleh Samovar dkk, bahwa komunikasi merupakan proses dinamis di mana orang berusaha untuk berbagi masalah internal mereka dengan orang lain melalui penggunaan simbol (Samovar, dkk, 2010: 18). Bagi Everett M. Rogers, komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka. Sedangkan menurut Joseph A. Devito, komunikasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau lebih, yakni kegiatan menyampaikan dan menerima pesan yang mendapat distorsi dari gangguan-gangguan dalam suatu konteks yang menimbulkan efek dan kesempatan untuk arus balik (Effendy, 2006: 5). Komunikasi menurut Everett M, Rogers seperti yang dikutip Onong Uchjana
tanpa harus memastikan terlebih dahulu bahwa kedua pihak yang berkomunikasi punya suatu sistem simbol yang sama (Mulyana, 2004: 3). Komunikasi adalah proses berbagi makna melalui perilaku verbal dan non verbal. Bagi Everett Rogers, komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.
Sedangkan menurut Carl I. Hovland, ilmu komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegar asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap (Uchjana, 2006: 10). Batasan lingkup komunikasi adalah berupa penyebaran informasi, ide-ide, sikap-sikap atau emosi dari seorang atau kelompok kepada yang lain (atau lain-lainnya) terutama melalui simbol-simbol (Nawawi 1995: 40). Simbol atau lambang adalah sesuatu yang mewakili sesuatu lainnya berdasarkan kesepakatan bersama (Mulyana, 2004:3).
Dari pengertian komunikasi yang telah dikemukakan, maka jelas bahwa komunikasi antarmanusia hanya bisa terjadi jika ada seseorang yang menyampaikan pesan kepada orang lain dengan tujuan tertentu, artinya komunikasi hanya bisa terjadi kalau didukung oleh adanya elemen komunikasi, yaitu sebagai berikut:
1. Sumber
Dalam komunikasi antarmanusia, sumber bisa terdiri dari satu orang tetapi bisa juga dalam bentuk kelompok misalnya organisasi atau lembaga. Sumber disebut juga sebagai pengirim atau komunikator. Dalam hal ini yang bertindak sebagai komunikator adalah Dosen Ilmu Komunikasi FISIP USU.
2. Pesan
Pesan dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara tatap muka atau melalui media komunikasi. Dalam hal ini, pesan yang disampaikan berupa komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal.
3. Media
media komunikasi sosial seperti balai desa, kesenian rakyat, dan pesta rakyat.
4. Penerima
Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber. Penerima bisa terdiri dari satu orang atau lebih. Penerima adalah elemen penting dalam proses komunikasi karena dialah yang menjadi sasaran komunikasi. Dalam hal ini, yang bertindak sebagai komunikan adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi Tahun Ajaran 2010/2011.
5. Efek
Efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Efek bisa juga diartikan sebagai perubahan pada pengetahuan, sikap, dan tindakan seseorang sebagai akibat penerimaan pesan (Cangara, 1998: 23-25). Efek yang akan terlihat berupa minat mahasiswa dalam memilih judul skripsi Tahun Ajaran 2010/2011.
6. Tanggapan Balik
Ada yang beranggapan bahwa umpan balik adalah salah satu bentuk daripada pengaruh yang berasal dari penerima. Akan tetapi sebenarnya umpan balik bias juga berasal dari unsur lain seperti pesan dan media, meski pesan belum sampai
7. Lingkungan
Lingkungan atau situasi adalah faktor-faktor tertentu yang dapat mempengaruhi jalannya komunikasi. Faktor ini dapat digolongkan atas empat macam, yakni lingkungan fisik, lingkungan sosial budaya, lingkungan psikologis dan dimensi waktu (Cangara, 2004:23-27).
2.2.1.2 Proses Komunikasi
kekhawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan dan sebagainya yang timbul dari lubuk hati. Yang menjadi permasalahan ialah bagaimana caranya agar “gambaran dalam benak” dan “isi kesadaran” pada komunikator itu dapat dimengerti, diterima dan bahkan dilakukan oleh komunikan (Effendy, 2005:11).
Wilbur Schramm (Effendy, 1992:32-33) dalam karyanya “How Communication Works” mengatakan the condition of success in communication
diringkas sebagai berikut:
a. Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian sasaran yang dimaksud.
b. Pesan harus menggunakan tanda-tanda yang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama dapat dimengerti.
c. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi pihak komunikan dan menyarankan suatu cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut.
d. Pesan harus menyarankan suatu cara untuk memperoleh kebutuhan yang layak bagi situasi kelompok tempat komunikan berada pada saat ia digerakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki.
Proses komunikasi pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu (Effendy,2000;11) :
1. Proses komunikasi secara primer, yaitu proses pencapaian pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang sebagai media. Lambang sebagai media dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran dan perasaan komunikator kepada komunikannya.
melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif jauh atau berjumlah banyak.
Komunikasi yang efektif adalah sejauhmana komunikator mampu berorientasi kepada komunikannya. Berorientasi maksudnya melihat dan memahami pesan yang disampaikan, terkait dengan bentuk pesan, makna pesan, cara penyajian pesan termasuk penentuan saluran yang ditentukan oleh Komunikator.
2.2.1.3 Fungsi Komunikasi
Fungsi komunikasi (Effendy, 2005:8), yaitu : 1. Menyampaikan informasi (to inform).
2. Mendidik (to educate).
3. Menghibur (to entertain).
4. Mempengaruhi (to influence).
2.2.1.4 Tujuan Komunikasi
Tujuan komunikasi (Effendy, 2005:8), yaitu : 1. Perubahan sikap (attitude change).
2. Perubahan pendapat (opinion change).
3. Perubahan perilaku (behavior change).
4. Perubahan sosial (social change).
2.2.1.5 Prinsip Komunikasi
Menurut Samovar, dkk, ada enam prinsip komunikasi, yaitu:
ketika individu berkomunikasi, namun selalu berganti dengan kata atau tindakan yang lain. Proses dinamis mengandung arti bahwa pengiriman dan penerimaan pesan melibatkan sejumlah variabel penting yang bekerja dalam waktu yang bersamaan. Kedua belah pihak yang terlibat sama-sama melihat, mendengar atau tersenyum dalam waktu yang sama. Konsep “proses” dalam kata dinamis juga berarti bahwa seseorang dengan orang lain merupakan bagian dari suatu proses dinamis komunikasi. Seseorang dipengaruhi oleh pesan orang lain dan sebagai akibatnya seseorang tersebut berubah; pesan seseorang itu juga mengubah orang lain. Dapat dikatakan bahwa seseorang mengalami perubahan fisik dan psikologis tiada akhir hingga ia mati.
2. Komunikasi merupakan simbol. Simbol merupakan ekspresi yang mewakili atau menandakan sesuatu hal yang lain. Salah satu karakteristik simbol adalah bahwa simbol tidak mempunyai hubungan langsung dengan apa yang diwakilinya, sehingga dapat berubah-ubah. Manusia menggunakan simbol bukan hanya dalam berinteraksi. Gudykunst dan Kim (dalam Samovar, dkk, 2010 ) mengatakan bahwa suatu simbol menjadi simbol ketika sejumlah orang sepakat menjadikannya suatu simbol.
3. Komunikasi merupakan kontekstual. Komunikasi dikatakan kontekstual karena komunikasi terjadi pada situasi atau sistem tertentu yang mempengaruhi apa dan bagaimana kita berkomunikasi dan apa arti dari pesan yang kita bawa. Seperti yang dikemukakan oleh Littlejohn, “komunikasi selalu terjadi dalam konteks dan sifat komunikasi sangat bergantung pada konteks ini.” Hal ini berarti bahwa tempat dan lingkungan menolong seseorang untuk menentukan kata serta tindakan yang dia hasilkan dan mengartikan simbol yang dihasilkan orang lain. Pakaian, bahasa, perilaku menyentuh, dan lainnya diadaptasikan dalam konteks.
pesan tersebut (terjadi dalam waktu yang sama). Manusia adalah satu-satunya spesies yang dapat berada dalam posisi yang sama di waktu yang bersamaan pula. Ciri ini mengizinkan seseorang untuk memonitor tindakannya dan membuat beberapa penyesuaian penting ketika hal itu dibutuhkan.
5. Kita belajar untuk berkomunikasi. Kemampuan seseorang berkomunikasi merupakan hubungan yang saling mempengaruhi antara apa yang ada dalam dirinya dan apa yang ia pelajari tentang komunikasi selama hidup. Seseorang dapat menerima satu fakta secara bergantian dan otaknya menyimpan fakta tersebut. Seseorang itu mungkin punya masalah mengingat, tetapi sebenarnya informasi itu tetap ada disana. Tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama dan apa yang seseorang ketahui belum tentu diketahui orang lain.
6. Komunikasi memiliki konsekuensi. Inti dari prinsip ini adalah bahwa kegiatan mengirim dan menerima simbol mempengaruhi semua orang yang terlibat di dalamnya. Respons seseorang terhadap suatu pesan berbeda, baik dari segi cara maupun jenisnya. Hal ini mungkin membantu seseorang untuk mencoba menggambarkan respons potensial yang ia miliki dalam suatu rangkaian kesatuan. Di akhir setiap rangkaian ini terdapat respons terhadap pesan yang jelas dan mudah dimengerti. Salah satu implikasi penting dari prinsip ini adalah pengaruh potensial yang seseorang miliki atas orang lain. Apa yang seseorang katakan pasti berpengaruh pada orang lain: bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri, bagaimana mereka berpikir tentang diri mereka sendiri, dan bagaimana mereka berpikir tentang orang lain (Samovar, dkk, 2010: 18-25).
2.2.1.6 Ruang Lingkup Komunikasi
Adapun ruang lingkup komunikasi adalah (Effendy, 2005:7-9): 1. Berdasarkan bentuk komunikasi, diklasifikasikan sebagai berikut:
1.1 Komunikasi Personal(personal communication).
Komunikasi intra personal yaiut dengan diri sendiri, proses mengambil keputusan apakah menerima atau menolak suatu pesan yang disampaikan komunikator.
2) Komunikasi antarpersonal (interpersonal communication).
Komunikasi inter personal (antar pribadi), yaitu komunikasi antar manusia secara tatap muka dan umpan baliknya biasanya bersifat langsung.
1.2 Komunikasi Kelompok (group communication).
1.2.1 Komunikasi kelompok kecil (smallgroup communication).
1) Ceramah(lecture).
2) Diskusi panel (panel discussion). 3) Simposium(symposium).
4) Forum. 5) Seminar. 6) Curahsaran. 7) Dan lain-lain.
1.2.2 Komunikasi Kelompok Besar (large group communication).
1) Rhetorika. 2) Public Speaking. 3) Kampanye.
1.3 Komunikasi Massa(mass communication)
Komunikasi Massa, yaitu komunikasi yang menggunakan sarana media untuk meneruskan suatu pesan kepada para komunikan yang jauh lokasinya dan banyak jumlahnya atau keduanya, melalui media seperti :
1) Pers 2) Radio 3) Film 4) Televisi 5) Dan lain-lain.
1.4 Komunikasi Media (media communication).
2) Telepon. 3) Pamflet. 4) Poster. 5) Spanduk. 6) Lain-lain.
2. Berdasarkan sifat komunikasi, diklasifikasikan sebagai berikut: 2.1.1 Tatap muka(face toface).
2.1.2 Bermedia (mediated).
2.1.3 Komunikasi verbal (communication verbal).
1) Lisan (oral).
2) Tulisan/cetak (written/printed).
2.1.4 Komunikasi nonverbal (communication non-verbal). 1) Kial/isyarat badaniah (gestural).
2) Bergambar (pictorial).
3. Berdasarkan Metode Komunikasi, diklasifikasikan sebagai berikut: 3.1.1 Jurnalistik (journalism)
Jurnalistik yaitu, keterampilan atau kegiatan mengelola berita dari mulai peliputan sampai siap dikonsumsi khalayak. Jenis-jenis jurnalistik yaitu :
1) Jurnalistik cetak (printed journalism)
2) Jurnalistik elektronik (electronic journalism) 3) Jurnalistik radio (radio journalism)
4) Jurnalistik televisi (television journalism).
3.1.2 Hubungan Masyarakat (public relations).
Hubungan masyarakat, yaitu keseluruhan upaya yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara hubungan baik dan saling pengertian antara satu organisasi dengan khalayaknya.
3.1.3 Periklanan (advertising).
Periklanan, yaitu kegiatan merancang pesan persuasif yang paling tepat dan efektif terhadap suatu produk barang dan jasa
3.1.5 Publisitas (publicity).
3.1.6 Propaganda.
Propaganda, yaitu kegiatan mempengaruhi orang lain melalui cara bujukan.
3.1.7 Perang urat saraf (psychological warfare)
3.1.8 Penerangan.
4. Berdasarkan teknik komunikasi, adalah :
4.1.1 Komunikasi informatif (informative communication). 4.1.2 Komunikasi persuasif (persuasive communication).
4.1.3 Komunikasi instruktif/koersif (instructive/coersive communication). 4.1.4 Hubungan manusiawi (human relations).
5. Berdasarkan Model Komunikasi, diklasifikasikan sebagai berikut : 5.1.1 Komunikasi satu tahap (one step flow communication). 5.1.2 Komunikasi dua tahap (two step flow communication). 5.1.3 Komunikasi multi tahap (multistep flow communication). 6. Berdasarkan bidang komunikasi, meliputi:
6.1.1 Komunikasi sosial (social communication).
6.1.2 Komunikasi manajemen/organisasi (management/organizational communication).
6.1.3 Komunikasi perusahaan (bussines communication). 6.1.4 Komunikasi politik (political communication).
6.1.5 Komunikasi internasional (international communication).
6.1.6 Komunikasi antarbudaya (intercultural communication).
6.1.7 Komunikasi pembangunan (development communication)
6.1.8 Komunikasi lingkungan (environment communication). 6.1.9 Komunikasi tradisional (traditional communication).
2.2.2 Psikologi Komunikasi
interaksi lebih bermakna maupun bagaimana mengubah sikap dan perilaku seseorang.
George A. Miller 1974 (dalam Rakhmat 2007:9) membuat defenisi psikologi komunikasi, yakni “psychology is the science that attempts to describe predicr and control mental and behavioral events. Dengan demikian psikologi komunikasi adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan dan mengendalkan peristiwa mental dan behavioral dalam komunikasi.
Komunikasi sangat esensial untuk pertumbuhan kepribadian manusia. Kurangnya komunikasi akan menghambat perkembangan kepribadian. Komunikasi amat erat kaitannya dengan perilaku dan pengalaman kesadaran manusia. Dalam sejarah perkembangannya komunikasi memang dibesaran oleh para peneliti psikologi. Bapak Ilmu Komunikasi yang disebut Wilbur Schramm adalah sarjana psikologi. Kurt Lewin adalah ahli psikologi dinamika kelompok. Komunikasi bukan subdisiplin dari psikologi. Sebagai ilmu, komunikasi dipelajari bermacam-macam disiplin ilmu, antara lain sosiologi dan psikologi.
Ruang Lingkup Psikologi Komunikasi Hovland, Janis, dan Kelly, semuanya psikolog, mendefinisikan komunikasi sebagai ”the process by which an individual (the communicator) transmits stimuli (usually verbal) to modify the behavior of other individuals (the audience). Dance mengartikan komunikasi dalam kerangka psikologi behaviorisme sebagai usaha “menimbulkan respon melalui lambang-lambang verbal”. Psikologi mencoba menganalisa seluruh komponen yang terlibat dalam proses komunikasi. Pada diri komunikasi, psikologi memberikan karakteristik manusia komunikan serta faktor-faktor internal maupun eksternal yang memengaruhi perilaku komunikasinya. (Rahmat, 2005). Psikologi juga tertarik pada komunikasi diantara individu : bagaimana pesan dari seorang individu menjadi stimulus yang menimbulkan respon pada individu lainnya. Komunikasi boleh ditujukan untuk memberikan informasi, menghibur, atau memengaruhi. Persuasif sendiri dapat didefinisikan sebagai proses mempengaruhi dan mengendalikan perilaku orang lain melalui pendekatan psikologis
Komunikasi telah ditelaah dari berbagai segi : antropologi, biologi, ekonomi, sosiologi, linguistik, psikologi, politik, matematik, enginereering, neurofisiologi, filsafat, dan sebagainya. Sosiologi mempelajari komunikasi dalam kontesks interkasi sosial, dalam mencapai tujuan-tujuan kelompok. Colon Cherry (1964) mendefinisikan komunikasi sebagai, ”usaha untuk membuat suatu satuan sosial dari individu dengan menggunakan bahasa atau tanda. Memiliki bersama serangkaian peraturan untuk berbagai kegiatan mencapai tujuan.” Psikologi uga meneliti kesadaran dan pengalaman manusia. Psikologi tertama mengarahkan perhatiannya pada perilaku manusia dan mencoba menyimpulkan proses kesadaran yang menyababkan terjadinya perilaku manusia itu. Bila sosiologi melihat komunikasi pada interaksi sosial, filsafat pada hubungan manusia dengan realitas lainnya, psikologi pada perilaku individu komunikan.
Fisher menyebut 4 ciri pendekatan psikologi pada komunikasi : 1. Penerimaan stimuli secara indrawi (sensory reception of stimuli)
2. Proses yang mengantarai stimuli dan respon (internal meditation of stimuli)
3. Prediksi respon (prediction of response) dan 4. Peneguhan respon (reinforcement of responses).
Psikologi komunikasi juga melihat bagaimana respon yang terjadi pada masa lalu dapat meramalkan respon yang terjadi pada masa yang akan datang. Tanda-tanda komunikasi efektif menimbulkan lima hal :
1. Pengertian : Penerimaan yang cermat dari isi stimuli seperti yang dimaksudkan oleh komunikator.
2. Kesenangan : Komunikasi fatis (phatic communication), dimaksudkan menimbulkan kesenangan. Komunikasi inilah yang menjadikan hubungan kita hangat, akrab, dan menyenangkan.
4. Hubungan sosial yang baik : manusia adalah makhluk sosial yang tidak tahan hidup sendiri. Kita ingin berhubungan dengan orang lain secara positif. Abraham Maslow menyebutnya dengan ”kebutuhan akan cinta” atau ”belongingness”. William Schutz merinci kebuthan dalam tiga hal : kebutuhan untuk menumbuhkan dan mempertahankan hubungan yang memuaskan dengar orang lain dalam hal interaksi dan asosiasi (inclusion), pengendalian dan kekuasaan (control), cinta serta rasa kasih sayang (affection).
5. Tindakan : Persuasi juga ditujukan untuk melahirkan tindakan yang dihendaki. Menimbukan tindakan nyata memang indikator efektivitas yang paling penting. Karena untuk menimbulkan tidakan, kita harus berhasil lebih dulu menanamkan pengertian, membentuk dan menguhan sikap, atau menumbukan hubungan yang baik.
Psikologi melihat komunikasi dimulai dengan dikenakannya berupa masukan kepada organ-organ penginderaan kita yang berupa data. Stimuli berbentuk pesan, suara, warna, segala hal yang mempengaruhi kita. Sapaan berupa hai, apa kabar merupakan satuan stimuli yang terdiri dari berbagai stimuli baik dari segi pemandangan, suara, penciuman dan sebagainya. Stimuli ini kemudian diolah dalam jiwa kita, dan kita akhirnya mengambil kesimpulan atas apa yang terjadi. Kita mengetahui jika seseorang tersenyum, tepuk tangan dan meloncat-loncat , pasti ia dalam keadaan gembira.
Bila individu-individu berinteraksi dan saling mempengaruhi maka terjadilah proses belajar yang meliputi aspek kognitif dan afektif (aspek berfikir dan merasa), proses penyampaian dan penerimaan lambang-lambang dan mekanisme penyesuaian diri seperti sosialisasi.
akan diteliti bagaimana suasana perasaan, motif atau cara individu mendefinisikan situasi yang dihadapinya.
2.2.3 Teori S-O-R
Teori S-O-R sebagai singkatan dari Stimulus-Organism-Response ini semula berasal dari bidang ilmu psikologi . Teori ini kemudian muncul menjadi bagian teori komunikasi, karena objek material dari psikologi dan ilmu komunikasi adalah sama yaitu manusia yang jiwanya meliputi komponen-komponen sikap, opini, perilaku, kognisi, afeksi dan konasi.
Menurut stimulus response ini, efek yang ditimbulkan adalah reaksi stimulus khusus, sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan (Effendy, 2007:254). Model ini dipengaruhi oleh disiplin psikologi, khususnya yang beraliran behavioristik (sikap).
Prof. Dr. Mar’at dalam bukunya “Sikap manusia, Perubahan serta Pengukurannya, mengutip pendapat Hovland, Janis, dan Kelley yang menyatakan bahwa dalam menelaah sikap yang baru ada tiga variabel penting (Effendy, 2007:255), yaitu:
1. Perhatian
2. Pengertian
2.1 Pengetahuan
2.2 Pemahaman
3. Penerimaan
Dalam proses perubahan sikap tampak bahwa sikap dapat berubah jika stimulus yang menerpa benar-benar melebihi semula. Stimulus atau pesan yang disampaikan kepada komunikan mungkin akan diterima atau mungkin akan ditolak. Komunikasi akan berlangsung jika ada perhatian dari komunikan. Proses berikutnya komunikan mengerti. Kemampuan komunikan inilah yang melanjutkan proses berikutnya. Setelah komunikan mengolahnya dan menerimanya, maka terjadilah kesediaan untuk mengubah sikap.
Stimulus-Organism-Response. Objek material dari psikologi dan ilmu komunikasi adalah sama yaitu manusia yang jiwanya meliputi komponen-komponen : sikap, opini, perilaku, kognisi afeksi dan konasi.
Model stimulus-respon (S-R) adalah model komunikasi paling dasar. Model dipengaruhi oleh disiplin psikologi, khususnya yang beraliran behavioristik. Model tersebut menggambarkan hubungan stimulus-respons.
Gambar 2.1 Model S-R
Stimulus Respon
Stimulus Respon Theory atau S-R Theory menunjukkan bahwa komunikasi merupakan proses aksi reaksi. Artinya model ini mengasumsikan bahwa kata-kata verbal, isyarat non verbal, simbol-simbol tertentu akan merangasang orang lain memberikan respon dengan cara tertentu. Pola S-R ini dapat berlangsung secara positif atau negatif, misal jika orang tersenyum akan dibalas tersenyumini merupakan reaksi positif, namun jika tersenyum dibalas dengan palingan muka maka ini merupakan reaksi negatif. Model nilah yang kemudian mempengaruhi suatu teori klasik komunikasi yaitu Hypodermic Needle atau teori jarum suntik. Asumsi dari teori ini pun tidak jauh berbeda dengan model S-O-R, yakni bahwa media secara langsung dan cepat memiliki efek yang kuat tehadap komunikan.
Menurut stimulus response ini, efek yang ditimbulkan adalah reaksi khusus terhadap stimulus khusus sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan. Jadi unsur-unsur dalam model ini adalah;
1. Pesan (stimulus, S)
Proses berikutnya komunikan mengerti. Kemampuan komunikan inilah yang melanjutkan proses berikutnya. Setelah komunikan mengolahnya dan menerimanya, maka terjadilah kesediaan untuk mengubah sikap atau opini.
2. Komunikan (organism, O)
yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU TA 2010/2011.
3. Efek (Response, R)
Yaitu terbentuknya perilaku mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU sebagai response yang ditujukan terhadap perangsang yang bersifat kontroversif. Asumsi stimulus respon mengacu kepada isi mata kuliah jurusan Ilmu Komunikasi FISIP USU sebagai stimulus yang diberikan kepada individu yang menghasilkan respon tertentu yang sesuai dengan
stimulus yang diberikan.
Dalam proses perubahan sikap yang akan dialami oleh komunikan, sikapnya akan berubah jika stimulus yang menerpanya benar-benar melebihi apa yang pernah ia alami. Dalam mempelajari sikap yang baru tersebut ada tiga variabel yang harus diperhatikan, yaitu: perhatian, pengertian, dan penerimaan. Prosesnya adalah sebagai berikut:
STIMULUS
[image:47.595.129.499.514.726.2]Organism : - Perhatian - Pengertian - penerimaan
Gambar 2.2
Teori S-O-R (Effendy, 2002: 253)
Gambar di atas menunjukan bahwa perubahan sikap tergantung pada proses yang terjadi pada individu. Stimulus atau pesan yang disampaikan kepada komunikan mungkin tidak diterima atau ditolak. Komunikasi akan berlangsung jika ada perhatian dari komunikan. Proses berikutnya, komunikan mengerti, setelah komunikan mengolahnya dan menerimanya, maka terjadilah kesediaan untuk mengubah sikap.
Proses perubahan perilaku pada hakekatnya sama dengan proses belajar. Proses perubahan perilaku tersebut menggambarkan proses belajar pada individu yang terdiri dari :
1. Stimulus (rangsang) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak. Apabila stimulus tersebut tidak diterima atau ditolak berarti stimulus itu tidak efektif mempengaruhi perhatian individu dan berhenti disini. Bila stimulus diterima oleh organisme berarti ada perhatian dari individu dan stimulus tersebut efektif.
2. Apabila stimulus telah mendapat perhatian dari organism (diterima) maka ia mengerti stimulus ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya.
3. Setelah itu organisme mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan untuk bertindak demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap).
4. Akhirnya dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka stimulus tersebut mempunyai efek tindakan dari individu tersebut (perubahan perilaku).
Selanjutnya teori ini mengatakan bahwa perilaku dapat berubah apabila stimulus (rangsang) yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula. Stimulus yang dapat melebihi stimulus semula ini berarti stimulus yang diberikan harus dapa tmeyakinkan organisme. Dalam meyakinkan organism ini, faktor
Dalam proses perubahan sikap tampak bahwa sikap dapat berubah, jika stimulus yang menerpa benar-benar melebihi semula. Stimulus atau pesan yang disampaikan kepada komunikan mungkin diterima atau mungkin ditolak. Komunikasi akan berlangsung jika ada perhatian dari komunikan. Proses berikutnya komunikan mengerti. Kemampuan komunikan inilah yang melanjutkan proses berikutnya. Setelah komunikan mengolahnya dan menerimanya, maka terjadilah kesediaan untuk mengubah sikap.
1. Teori ini mendasarkan asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung kepada kualitas rangsang (stimulus) yang berkomunikasi dengan organisme. Artinya kualitas dari sumber komunikasi (sources)misalnya kredibilitas, kepemimpinan, gaya berbicara sangat menentukan keberhasilan perubahan perilaku seseorang, kelompok atau masyarakat.
Pendekatan teori S-O-R lebih mengutamakan cara-cara pemberian imbalan yang efektif agar komponen konasi dapat diarahkan pada sasaran yang dikehendaki. Sedangkan pemberian informasi penting untuk dapat berubahnya komponen kognisi. Komponen kognisi itu merupakan dasar untuk memahami dan mengambil keputusan agar dalam keputusan itu terjadi keseimbangan. Keseimbangan inilah yang merupakan system dalam menentukan arah dan tingkah laku seseorang. Dalam penentuan arah itu terbentuk pula motif yang mendorong terjadinya tingkah laku tersebut. Dinamika tingkah laku disebabkan pengaruh internal dan eksternal.
terhadap sikap. Untuk tercapainya ini perlu cara penyampaian yang efektif dan efisien.
2.2.4 Minat
Seorang komunikator akan dapat melakukan perubahan sikap dan tingkah laku komunikan apabila antara mereka merasa adanya persamaan. Oleh karena itu, seorang komunikator harus dapat membangkitkan perhatian komunikan sehingga diantara mereka timbul persamaan makna akan suatu hal yang akan menjadi langkah awal suksesnya komunikasi. Apabila perhatian telah dibangkitkan, maka selanjutnya diikuti dengan upaya menumbuhkna minat.
Menurut Hafied Cangara (2002 : 65) minat berarti perhatian, rasa suka/ senang, rasa tertarik atau hasrat terhada suatu keinginan. Effendi mengungkapkan minat adalah kelanjutan perhatian yang merupakan titik tolak kelanjutan timbulnya hasrat untuk melakukan kegiatan yang diharapkan (2005 : 10). Lebih lanjut Effendy mengemukakan bahwa minat muncul karena adanya stimulus motif yang menimbulkan motivasi.
Sedangkan menurut Hurlock (1978 : 115), minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang unutk melakukan apa yang mereka inginkan. Menurut Ryono Praktikno (1987 : 54), minat atau sikap yang membuat seseorang senang terhadap objek situasi dan ide tertentu. Istilah minat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah rasa ketertarikan terhadap sesuatu yang pernah diketahui sebelumnya, hal yang menimbulkan ketertarikan itu tidak hanya menyenangkan atau memberi kepuasan bagi seseorang tetapi juga menakutkan.
kata lain minat dapat menjadi sebab kegiatan dan sebab partisipasi dalam kegiatan itu.
Minat erat hubungannya dengan daya gerak yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau berurusan dengan orang, benda atau bisa juga sebagai pengalaman efektif yang dipengaruhi oleh kegiatan itu sendiri. Dengan kata lain minat dapat menjadi sebab kegiatan dan sebab partisipasi dalam kegiatan itu. Minat juga erat hubungannya dengan dorongan (drive), motif, dan reaksi emosional. Misalnya minat terhadap riset ilmiah, mekanika, atau mengajar bisa timbul dari tindakan atau dirangsang oleh keinginannya dalam memenuhi rasa ingin tahu seseorang terhadap kegiatan tersebut.
Minat sebagai motif yang menunjukkan arah perhatian individu terhadap obyek yang menarik atau menyenangkannya, maka ia cenderung akan berusaha aktif dengan obyek tersebut. Adapun tanda-tanda bahwa seseorang telah sampai ke taraf ini antara lain adalah: mau melakukan sesuatu atas prakarsa sendiri, melakukan sesuatu secara tekun, dengan ketelitian dan kedisiplinan yang tinggi. Melakukan sesuatu sesuai dengan keyakinannya itu dimana saja, kapan saja, dan atas inisiatif sendiri.
Minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih (Hurlock, 1995 : 144). Hurlock juga mengemukakan bahwa minat mrupakan hasil dari pengalaman belajar bukan dari bawaan lahir. Minat sangat penting untuk dihadirkan dalam diri seseorang karena menjadi motivasi kuat seseorang untuk belajar. Minat juga mempengaruhi bentuk dan intensitas aspirasi seseorang dan minat juga menambah kegembiraan pada setiap kegiatan yang ditekuni seseorang.
keinginan dan kemauan yang dapat berkembang menjadi motivasi. Minat terbagi menjadi 3 aspek,yaitu:
1. Aspek Kognitif
Berdasarkan atas pengalaman pribadi dan apa yang pernah dipelajari baik di rumah,sekolah dan masyarakat serta berbagai jenis media massa.
2. Aspek Afektif
Konsep yang membangun aspek kognitif, minat dinyatakan dalam sikap terhadap kegiatan yang ditimbulkan minat. Berkembang dari pengalaman pribadi dari sikap orang yang penting yaitu orang tua, guru dan teman sebaya terhadap kegiatan yang berkaitan dengan minat tersebut dan dari sikap yang dinyatakan atau tersirat dalam berbagai bentuk media massa terhadap kegiatan itu.
3. Aspek Psikomotor
Berjalan dengan lancar tanpa perlu pemikiran lagi, urutannya tepat.Namun kemajuan tetap memungkinkan sehingga keluwesan dan keunggulan meningkat meskipun ini semua berjalan lambat. Beberapa kondisi yang mempengaruhi minat seseorang yaitu :
3.1. Status ekonomi
Apabila status ekonomi membaik, orang cenderung memperluas minat mereka untuk mencakup hal yang semula belum mampu mereka laksanakan. Sebaliknya kalau status ekonomi mengalami kemunduran karena tanggung jawab keluarga atau usaha yang kurang maju, maka orang cenderung untuk mempersempit minat mereka.
3.2. Pendidikan
Semakin tinggi dan semakin formal tingkat pendidikanyang dimiliki seseorang maka semakin besar pula kegiatan yang bersifat intelek yang dilakukan.
3.3. Tempat Berdomisili
2.3 Model Teoritik
[image:53.595.115.504.267.400.2]Model ini bilamana dikaitkan dengan penelitian yang dilakukan, yakni tentang minat mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU Tahun Ajaran 2010/2011 tentang penelitian di bidang komunikasi dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.3 Model S-O-R
(Minat Mahasiswa Tentang Penelitian Di Bidang Komunikasi FISIP USU)
STIMULUS Mata kuliah jurusan Ilmu Komunikasi FISIP USU
ORGANISM Mahasiswa Ilmu
Komunikasi FISIP USU T.A 2010/2011