• Tidak ada hasil yang ditemukan

TAJDID BAGI PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "TAJDID BAGI PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

50 7 - 21 SYAWAL 1431 H

TELAAH PENDIDIKAN

TAJDID BAGI PENDIDIKAN

MUHAMMADIYAH

DESVIAN BANDARSYAH

KADER MUHAMMADIYAH, DOSEN UHAMKA

M

uktamar Muhammadiyah ke-46 di Yogyakarta merupakan medium yang sakral bagi kemunculan gagasan strategis Muhammadiyah dalam memasuki gelombang kedua dari gerakan pembaruan yang diusungnya bagi segenap bangsa dan masyarakat Indonesia.

Salah satu bagian terpenting dari gagasan tajdid (pem-baruan) Muhammadiyah adalah penyelenggaraan pendi-dikan oleh Muhammadiyah yang diyakini sebagai sarana dalam menjembatani disparitas realitas sosial kebangsaan Indonesia dengan masyarakat utama yang dicita-citakan Muhammadiyah sejak berdirinya satu abad lampau.

Dalam konteks nasional gagasan mengenai cita-cita Muhammadiyah itu sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang dirumuskan ke dalam pernyataan luhur, “Membentuk manusia Indonesia yang sempurna, berakh-lak mulia, cerdas, kreatif, inovatif…” maka pada tataran filosofis pragmatisnya perlu dilakukan kajian yang merefleksikan kebutuhan dan sekaligus tantangan bagi pendidikan Muhammadiyah ke depan, sekaligus juga sebagai koreksi Muhammadiyah terhadap pendidikan nasional yang semakin menjauh dari cita-cita konstitusi. Bagaimana seharusnya pembaharuan pendidikan dijalankan Muhammadiyah ?

Secara umum dapat dipahami, kesadaran Muham-madiyah dalam memilih strategi dakwahnya mengambil jalan kultural mencerminkan keyakinannya bahwa masyarakat utama hanya dapat diwujudkan melalui kerja-kerja strategis berupa pembaharuan dan pemberdayaan dalam menyelenggarakan dan memajukan pendidikan di tengah-tengah masyarakat. Atas prinsip dan kesadaran se-macam itu, Muhammadiyah perlu memberikan penyegaran terhadap landasan operasional penyelenggaraan pendi-dikannya.

Kecenderungan Muhammadiyah yang selama ini diam dan melakukan kerja-kerja regular semata sebagai respon atas berbagai kebijakan pendidikan yang diputuskan pemerintah menyebabkan perkembangan pendidikan Muhammadiyah berada dalam posisi yang aman. Namun mengandung resiko berupa kehilangan watak pembaru-nya, yang dalam tataran ideologis dapat menghambat terselenggaranya pencapaian masyarakat utama yang

dicita-citakan. Kondisi ini dialami oleh pendidikan Muhammadiyah sebagai pantulan dari dominasi negara dalam mengelola kepentingan pendidikan. Muhamma-diyah perlu mengambil posisi yang berbeda dengan se-belumnya, melalui pemunculan gagasan baru berupa ce-tak biru pembaruan pendidikan sebagai bentuk tang-gungjawab ideologis dan sosiologis bagi umat, masya-rakat, bangsa dan negaranya.

Misi Pembaruan Pendidikan

Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah dalam salah satu ucapannya mengatakan, bahwa pengetahuan tentang kesatuan hidup merupakan pengetahuan yang besar meliputi bumi dan kemanusiaan, dan jika manusia mengabaikan prinsip kemanusiaan tersebut, maka manusia akan menjadi hancur dan menghancurkan (Mulkhan, 2010: 108). Pernyataan Ahmad Dahlan secara kontekstual menuntut Muhammadiyah untuk terus-menerus merevitalisasikan penyelenggaraan pendidikannya. Pengetahuan yang ditawarkan pendidikan Muhammadiyah harus berangkat dari tradisi besar dalam pendidikan, yaitu pengetahuan yang didasarkan pada penghormatan terhadap prinsip dan nilai humanitas kemanusiaan universal, sehingga pendidikan Muhammadiyah dapat menghasilkan individu-individu yang handal secara moralitas dan akhlakul karimah, cerdas, kreatif dan inovatif.

Dengan demikian mudah untuk dipahami, bahwa Muhammadiyah tidak boleh hanya sekedar membantu pe-merintah dalam mengelola dan mengembangkan pendi-dikan, karena sikap semacam ini akan membahayakan Mu-hammadiyah dan bangsa Indonesia. Pendidikan Muham-madiyah tidak boleh terjebak dalam quo vadis pendidikan Indonesia yang sekedar berorientasi pada hasil berupa nilai kelulusan Ujian Nasional siswa dengan angka 5,5 sebagai dampak dari semakin menguatnya pengaruh Cartesian dalam konteks pengetahuan dan pendidikan kita.

Pengaruh itu juga, secara sistemik dan kasat mata terlihat dari mekanisme pasar yang bergerak secara bebas dalam pendidikan di Indonesia yang mengabdi pada dunia industri. Tujuan pendidikan yang ideal, sebagaimana yang tertuang dalam cita-cita dan konstitusi kita “mencerdas-kan kehidupan bangsa, mewujud“mencerdas-kan manusia Indonesia

De

m

o (Vi

si

t ht

tp:

//www.pdfspl

itm

erge

r.c

om

(2)

51 SUARA MUHAMMADIYAH 18 / 95 | 16 - 30 SEPTEMBER 2010

TELAAH PENDIDIKAN

yang berakhlak mulia, cerdas, berbudi pekerti untuk menjadi insan paripurna” semakin menjauh untuk dicapai rasanya. Inilah langgam mekanistik-positivistik ala Cartesian yang diadopsi oleh kita dalam mengelola pendidikan.

Konsepsi filosofis Cartesian berangkat dari pola berpikir matematis, dalam konteks itu, baik ilmu alam maupun ilmu sosial berkembang ke arah mekanisasi ilmu yang bersifat rigid mekanistik-positivistik, yang menempatkan ilmu tidak lagi ditujukan untuk kemanusiaan yang menyejahterakan. Tetapi ilmu ditujukan bagi perkembangan ilmu dan teknologi semata. Dengan kata lain, di abad modern ini, ilmu mengabdi untuk industri. Maka tidak mengherankan, kita menyaksikan

betapa kehidupan semakin keras dirasakan oleh manusia yang hidup di dunia ini. Ruang kehidupan menjadi semakin kompetitif, brutal, kejam dan tanpa kemanusiaan.

Jika tidak ada terobosan yang mendasar dalam mengelola pendi-dikan dengan mengembangkan konsep filosofis-pragmatis dan paradigma baru yang lebih manu-siawi, maka Masyarakat Utama sebagai cita-cita Muhammadiyah sulit untuk diwujudkan. Di sini pen-tingnya Muhammadiyah melahir-kan gagasan pembaruan pendidimelahir-kan dalam upaya memperkokoh

dakwahnya pada gelombang pembaruan bagian kedua yang tidak lama lagi digelutinya.

Gagasan filosofis-pragmatis yang bersifat tajdid mendesak bagi agenda pembaruan pendidikan, bukan hanya sebagai jargon Muhammadiyah sebagai pembaru, tetapi lebih dari itu, sebagai landasan berpijak Muham-madiyah dalam membangun peradaban utama bangsa Indonesia yang dicita-citakannya. Pendidikan semacam itu merupakan persoalan dan tuntutan yang tengah diha-dapi bangsa Indonesia, sejalan dengan semakin merosot-nya kualitas kehidupan manusia dari sisi sosial humani-tasnya. Tentunya persoalan di atas perlu dicarikan solusi melalui refleksi dan perenungan yang mendalam menge-nai akar persoalan dan solusi apa yang dapat ditawarkan. Untuk membebaskan manusia dari segenap krisis yang sangat kompleks ini, amat mendesak kiranya Muhammadiyah membuka jalan dan mengkonstruksi solusi krisis yang tepat dan efektif. Solusi yang diajukan dan sangat potensial adalah melalui reinventing kemanu-siaan hakiki melalui jalur pendidikan. Sebuah optimisme yang diusung dalam melihat keberadaan pendidikan, untuk dapat membangkitkan kembali sesuatu yang hilang dalam arus deras peradaban modernitas, melalui gagasan pendidikan yang berkarakter, humanis dan kritis yang

merefleksikan nilai-nilai humanistik sebagai dasar pembentukan karakter dari kodrat manusia.

Keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan yang semakin meluas juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari persoalan kehidupan modern, dan telah menjadi fokus perhatian pemerintahan di seluruh dunia. Bukan hanya dampak eksternal, tetapi juga logika kebebasan perkembangan teknologi dan perkembangan ilmiah akan saling bertentangan jika bahaya serius dan tak tertahankan tak dapat dihindari. Humanisasi teknologi tampaknya telah menyebabkan semakin meningkatnya isu moral dalam relasi yang kini “sangat instrumental” antara manusia dengan lingkungan (Giddens, 1990: 170). Dengan demikian, kesadaran semacam ini perlu mendorong pendidikan Mu-hammadiyah untuk lebih memper-hatikan, bukan saja persoalan hu-manisasi terhadap teknologi dan ilmu-ilmu kealaman, tetapi juga per-lu mendorong proses humanisasi terhadap ilmu-ilmu sosial, dengan berlandaskan pada kesadaran bahwa pendidikan untuk menjadi-kan manusia yang cerdas, terampil, berakhlak mulia dan berbudi pekerti, singkatnya menjadi manusia yang “sempurna”. Seruan Amr ma’ruf nahi munkar (menyerukan kebaik-an dkebaik-an menolak kemunkarkebaik-an) seba-gai landasan dakwah Muhamma-diyah dengan demikian menemukan momentum dan ruang yang lapang untuk direalisasikan melalui pendidikan.

Itulah misi dan sekaligus tantangan utama pendidikan Muhammadiyah. Muhammadiyah perlu mengambil langkah strategis dalam menjalankan pendidikan yang dapat mengimbangi materialisme ilmu pengetahuan dan teknologi; pendidikan yang nilai-nilai moralnya bersifat absolut untuk mengimbangi relativisme Barat; pendidikan yang prosesi ritualnya berfungsi menghidupkan hati nurani manusia modern yang kering dari nilai-nilai spiritualitas dan humanitas; dan pendidikan yang bersifat rasional dan terhindar dari problema keterasingan jaman. Maka langkah utama yang perlu dilakukan Muham-madiyah adalah mendesain keilmuan melalui berbagai produk kebijakan pendidikan agar lebih menawarkan kemandirian, melalui pengembangan karakter, kesadaran dan nalar kritis peserta didiknya dengan memfungsikan kesadaran etis dan estetika yang dimilikinya. Nalar kritis akan memberikan perspektif keilmuan sekaligus juga pemahaman etis terhadap kehidupan sosial. Dengan demikian Muhammadiyah tidak hanya menghindari quo vadis pendidikan Indonesia, tapi sekaligus menjadi pelopor dari reorientasi pendidikan Indonesia yang dirasakan semakin mendesak.l

Foto: DIDIK SUJARWO

De

m

o (Vi

si

t ht

tp:

//www.pdfspl

itm

erge

r.c

om

Referensi

Dokumen terkait

Beasiswa Kader Unggulan Muhammadiyah merupakan cita-cita Muhammadiyah dalam bidang Pendidikan dengan tujuan menjadikan mahasiswa unggul serta berperan aktif dalam

1) Penguatan peran dan fungsi Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) PP Muhammadiyah sebagai institusi fasilitator, motivator, dan pengayom dalam pengembangan kapasitas

Menurut K.H. Ahmad Dahlan, pendidikan Islam hendaknya diarahkan pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, alim dalam agama, luas pandangan dan

pribadi dipadukan dengan cita-cita/gagasan personel lain dalam forum komunikasi yang intensif sehingga menghasilkan kristalisasi visi organisasi.Visi perlu dirumuskan dalam

1) Muhammadiyah adalah gerakan berasas Islam,bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, untuk melaksanakan fungsi dan misi manusia

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DALAM KONTEKS PENDIDIKAN NASIONAL UU RI 20/2003 “PENDIDIKAN NASIONAL BERFUNGSI MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN DAN MEMBENTUK WATAK SERTA PERADABAN BANGSA

Muhammadiyah menurut mayoritas ahli dari dalam negeri maupun luar negeri tidak hanya memurnikan agama dalam artian memurnikan ajaran Islam kembali kepada tauhid yang murni, melainkan

Model model Tajdid dalam Muhammadiyah digolongkan dalam tiga bidang diantaranya a bidang keagarmaan yaitu memurnikan kembali atau mengembalikan kepada aslinya, oleh karena itu dalam