MANHAJ TARJIH MUHAMMADIYAH:
BEBERAPA ASPEK TAJDID
PENGAJIAN TARJIH MUHAMAMDIYAH KE 174
Rabu 15 Zulkaidah 1443 / 15 Juni 2022
Disampaikan oleh:
AL YASA` ABUBAKR, PROF. DR
Anggota Tarjih MTT PPM - PWM ACEH
PENGANTAR
• Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1330 H bertepatan 1912 M, di Yogyakarta untuk waktu yang tidak terbatas.
• Muhammadiyah (KH Ahmad Dahlan) sejak lahir sudah mengusung slogan:
Islam berkemadjoean
• Identitas Muhammadiyah: DAKWAH dan TAJDID
• Muhammadiyah telah melalui era KOLONIALISME, AWAL KEMERDEKAAN, ORDE LAMA, ORDE BARU, REFORMASI
Anggaran Dasar Muhammadiyah
•AD masa penjajahan
• 1. Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam di Indonesia;
• 2. Memajukan dan menggembirakan cara hidup sepanjang kemauan agama Islam kepada lid-lidnya (segala sekutunya) (hlm. 359);
• AD tahun 1946:
• Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (361).
Anggaran Dasar 2005 (Muktamar Malang)
• Identitas dan Asas
Pasal 4:
(1) Muhammadiyah adalah Gerakan Islam Amar Makruf Nahi
Munkar dan Tajdid, bersumber pada Al-qur’an dan As-Sunnah;
(2) Muhammadiyah berasas Islam.
• Maksud dan Tujuan
Pasal 6: Maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat
Islam yang sebenar-benarnya.
USAHA (Pasal 7)
(1) Untuk mencapai maksud dan tujuan, Muhammadiyah melaksanakan Dakwah Amar Makruf Nahi Munkar dan Tajdid yang diwujudkan dalam usaha di segala bidang kehidupan;
(2) Usaha Muhammadiyah diwujudlkan dalam bentuk amal usaha, program dan kegiatan, yang macam dan
penyelenggaraannya diatur dalam Anggaran Rumah Tangga;
(3) Penentu kebijakan dan penanggung jawab amal usaha,
program dan kegiatan adalah Pimpinan Muhammadiyah
• Anggaran Rumah Tangga, Pasal 3, USAHA
Usaha Muhammadiyah yang diwujudkan dalam bentuk amal usaha, program dan kegiatan meliputi (14 poin):
1. Menanamkan keyakinan, memperdalam dan memperluas
pemahaman, meningkatkan pengamalan, serta menyebarluaskan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan.
2. Memperdalam dan mengembangkan pengkajian
ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan untuk mendapatkan kemurnian dan kebenarannya.
3. Meningkatkan semangat ibadah, jihad, zakat, infak, wakaf, shadaqah, hibah dan amal shalih lainnya.
4. Membangun kualitas jamaah melalui gerakan pemakmuran masjid dan mushalla.
Lanjutan ……
5. Meningkatkan harkat, martabat, dan kualitas sumber daya manusia agar berkemampuan tinggi dan berakhlak mulia.
6. Memberdayakan kaum perempuan dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kesejahteraan sosial.
7. Memajukan dan memperbaharui pendidikan dan kebudayaan, mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta meningkatkan penelitian.
8. Memajukan perekonomian dan kewirausahaan kearah perbaikan hidup yang berkualitas.
9. Meningkatkan kualitas kesehatan, pertolongan krmanusiaan dan ksejahteraan masyarakat.
10. memelihara, mengembangkan dan mendayagunakan sumberdaya alam dan lingkungan untuk kesejahteraan.
11. Mengembangkan komunikasi, ukhuwah dan kerjasama dalam berbagai bidang dan kalangan masyarakat dalam dan luar
negeri.
12. Memelihara keutuhan bangsa serta berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
13. Membina dan meningkatkan kualitas serta kuantitas anggota sebagai pelaku gerakan.
14. Mengembangkan sarana, prasarana dan sumber dana untuk mensukseskan gerakan.
15. Mengupayakan penegakan hokum, keadilan, dan kebenarann serta meningkatkan pembelaan terhadap masyarakat.
16. Usaha-usaha lain yang sesuai dengan maksud dan tujuan
Muhammadiyah.
• BAGAIMANA MUHAMMADIYAH menatap ke depan sebagai organisasi dengan identitas TAJDID?
• BAGAIMANA DENGAN HADIS NABI BAHWA UNTUK SETIAP
SERATUS TAHUN AKAN TERJADI PEMBAHARUAN, AKAN LAHIR PARA MUJADDID
• (
“ ’ala kulli ra’si kulli mi’ah sanah mujaddidun ”
).• BAGAIMANA MELAHIRKAN DAN MENYIKAPI TAJDID YANG
AKAN DAN HARUS BERGULIR DI INTERNAL MUHAMMADIYAH SENDIRI.
• Lebih KONSEPTUAL – lebih SISTEMATIS
• Bagaimana Muhammadiyah menyikapi Kaidah:
• AL MUHAFAZHAH `ALA-L QADIM ASH-SHALIH
(mempertahankan yang lama yang masih baik)
• WA-L AKHDZU BI-L JADID AL-ASHLAH
(mencari dan menggunakan yang baru yang lebih baik/maslahat).• BAGAIMANA KAIDAH DI ATAS DIIMPLEMENTASIKAN DALAM FAHAM DAN PEMIKIRAN KEAGAMAAN.
• Bagaimana Muhammadiyah menggunakan pengalaman satu abad untuk mengukir masa depan yang lebih baik?
IDENTITAS, MAKSUD, TUJUAN DA USAHA DI BIDANG PEMIKIRAN KEAGAMAAN
• Identitas:
• Muhammadiyah adalah Gerakan Islam Amar Makruf Nahi Munkar dan Tajdid, bersumber pada Al-qur’an dan As-Sunnah;
• Maksud dan tujuan:
• Maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar- benarnya.
• Usaha di bidang pemikiran keagamaan
• Memperdalam dan mengembangkan pengkajian ajaran
Islam dalam berbagai aspek kehidupan untuk mendapatkan kemurnian dan kebenarannya.
Tajdid Pemahaman Agama di Lingkungan Muhammadiyah :
• Pemikiran keagamaan di lingkungan Muhammadiyah
dirumuskan, dijalankan dan dikelola oleh Majelis Tarjih dan Tajdid.
• Dalam perjalanannya Muhammadiyah telah mengeluarkan beberapa dokumen mengenai faham keagamaan, misalnya Himpunan Putusan Tarjih jilid 1 dan 3 .
• Ada beberapa dokumen lain yang mestinya dianggap sebagai dokumen mengenai faham keagamaan (Manhaj Gerakan
Muhamamdiyah: Ideologi, Khittah dan Langkah, 2009)
TAJDID PADA METODE: USHUL FIQIH
• Muhamamdiyah (MTT) telah merumuskan beberapa metode yang bernuansa tajdid, tetapi boleh dianggap masih baru
dimulai, masih merupakan usaha untuk mencari bentuk.
• Pembaharuan masih bersifat parsial (juz’iyyah) dan sporadis, belum konseptual, dalam arti karena adanya tuntutan yang mendesak, bukan sebagai hasil pemikiran yang bulat dan runtut.
• Ketua MTT PPM, Bapak Prof. Dr. Syamsul Anwar, MA, telah
menulis sebuah buku saku (artikel) tentang MANHAJ TARJIH
MUHAMMADIYAH terbit, 2018, 36 halaman.
PUTUSAN PP TENTANG:
MANHAJ TARJIH DAN PENGEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM (Hasil MUNAS Padang 2003)
Pertama: Rumusan Manhaj Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Muhamadiyah perlu terus dikaji dan
dikembangkan seiring dengan perkembangan pemikiran dan permasalahan yang menuntut adanya suatu manhaj yang tepat.
Kedua: Kepada Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah ditugaskan untuk
melakukan kajian-kajian guna pengembangan manhaj lebih
lanjut sembari memasyarakatkan manhaj yang sudah ada.
• DALAM FAHAM AGAMA (FIQIH), MUHAMMADIYAH MEMILIH UNTUK:
a. tidak terikat dengan mazhab;
b. menerima adanya perbedaan dan keragaman pendapat sekiranya semuanya sah dan memenuhi syarat secara metodologis (at-
tanawwu`, al-murunah, as-samahah).
• Dalam buku HPT (jilid 1), tarjih dilakukan untuk mengetahui dalil atau metode yang memenuhi syarat ketika dihadapkan (dibandingkan)
dengan dalil atau metode yang tidak memenuhi syarat, atau untuk membandingkan kelebihan dan kekurangan (kemaslahatan) dari
berbagai pendapat yang ada untuk dipilih yang paling kuat dari segi dalil atau yang lebih/paling maslahat dari segi pengamalan/manfaat;
• Jadi tarjih tidak digunakan untuk memilih yang lebih kuat dari dua dalil (pendapat), apabila kedua-duanya memenuhi syarat (Lihat HPT jilid pertama).
USHUL FIQIH
• Secara umum para ulama membagi isi ushul fiqh kepada empat macam:
1. Pembahasan tentang dalil (Al-qur’an dan hadis);
2. Pembahasan tentang metode yang digunakan untuk memahami dalil;
3. Persyaratan tentang orang-orang yang akan menjadi mujtahid; dan
4. Kategori dan istilah yang digunakan untuk menampung hasil penalaran tersebut
(hukum syar`i dan rukun-rukunnya).
HUKUM SYARA` DAN RUKUNNYA
• Ada empat istilah sebagai isi dari rukun hokum syara`:
1. Hukum syara` (al-hukm al-syar`i) itu sendiri;
2. Pembuat hukum (al-Hakim, Allah Swt) ;
3. Perbuatan yang akan dilekati oleh hukum (al- Mahkum Fih);
4. Orang yang melakukan perbuatan (al-Mahkum
`alayh).
Hukum syara` ( al-hukm al-syar`i )
• Dalam Ushul Fiqh sekarang ada dua macam hokum syara`: yaitu hukum taklifi dan hukum wadh`i;
• Hukum taklifi (iqtidha` dan takhyir, perintah, larangan dan kebolehan) berisi lima kategori, wajib, sunat, mubah, makruh dan haram.
• Hukum wadh`i (ketetapan Allah tentang perbuatan, keadaan perbuatan) berisi:
• sebab syarat, mani`, sah, batal dan fasad (disepakati);
• Azimah da rukhshah (diperselisihkan, cenderung diterima mayoritas);
• Ada’, i`adah dan qadha’ (diperselisihkan, diterima minoritas)
Hukum syara` (upaya pengembangan)
• Selama ini hokum syara` langsung diambil dari dalil,
• MTT PPM berusaha mengembangkan kategori hokum syara` menjadi tiga tingkat;
• Tingkatan pertama yang paling abstrak, berisi nilai (al-qiyam al-
asasiyyah), sebagai fondasi yang melandasi prinisp-prinsip atau asas- asas umum;
• Tingkatan kedua yang kurang abstrak berisi prinsip-prinsip (al-ushul al-kulliyyah), sebagai landasan bagi ketentuan konkret yang mendetil;
• Tingkatan ketiga yang paling konkret merupakan hokum syara`,
FIQIH DALAM PEMAHAMAN MAJELIS TARJIH
• Penggunaan tiga tingkatan norma di atas menjadikan definisi fiqih dalam perspektif Tarjih berubah, menjadi:
• Himpunan nilai-nilai dasar (al-qiyam al-asasiyyah), asas-
asas (al-ushul al-kulliyyah) di samping ketentuan-ketentuan detil agama yang mengatur kehidupan umat dan
hubungan-hubungan yang ada di dalamnya, baik
hubungan horizontal (sesama manusia dan dengan alam)
maupun hubungan vertikal (hubungan kepada Sang Khalik)
(al-ahkam al-far`iyyah).
• Muhammadiyah (MTT) melalui Musyawarah Nasional Tarjih dan telah ditanfidzkan oleh PP Muhammadiyah, telah melahirkan fiqih sebagai berikut:
• MUNAS TARJIH 27 (Malang, 2010):
• Fiqih Tata Kelola; Tuntunan Seni Budaya; Beberapa Masalah Ibadat dan Muamalat; Pedoman Hisab Muhammadiyah.
• MUNAS TARJIH 28 (Palembang 2014):
• Fikih Air: Perspektif Muhammadiyah; Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah; Tuntunan Manasik Haji;
• MUNAS TARJIH 29 (Yogyakarta 2015):
• Tuntuna Salat Lima waktu; Fikih Kebencanaan;
MUHAMMADIYAH DAN FAHAM KEAGAMAANNYA
• Berusaha memahami Al-qur’an dan sunnah menurut cara atau model pemahaman tajdidiah (pembaharuan);
• memanfaatkan pengetahuan ilmiah,
• Mempertimbangkan budaya dan kearifan lokal;
• Tetap berakar pada khazanah pemikiran Islam yang dihasilkan para ulama sepanjang sejarah.
• Berusaha menjadikan warganya beraqidah, beramal ibadah dan beramal usaha, berdasarkan Al-qur’an dan sunnah
mengikuti semangat dan kemajuan zaman (modern, tajdid).
• Dalam masalah ibadah Muhammadiyah sudah merumuskan beberapa prinsip sebagai berikut:
1. Ibadah harus berdasar dalil yang sah (pada dasarnya tidak boleh beribadah kecuali ketika ada perintah atau izin untuk itu).
2. Mengakui dan menerima adanya keragaman pelaksanaan ibadah, sekiranya ada dalil yang memenuhi syarat.
3. Kewajiban untuk mengerjakan ibadah selalu dalam batas
kemampuan seseorang; kalau terlalu berat maka akan ada
keringanan sebagai jalan keluarnya.
4. Tanggung jawab pada ibadah bersifat individual;
- Ibadah mahdhah mesti dikerjakan sendiri-sendiri, tidak boleh dikerjakan atau digantikan oleh orang lain;
- dalam ibadah, niat, keikhlasan, kesungguhan dan kesadaran sangat penting dan sangat menentukan;
- ibadah yang tidka disuruh untuk dikerjakan secara
berjamaah (beramai-ramai) cenderung dianjurkan untuk dikerjakan secara sendiri-sendiri.
5. Menerima kemajuan pengetahuan ilmiah sekiranya diperlukan dan memenuhi syarat secara metodologi.
6. Sangat menekankan ibadah sunat yang dikerjakan secara
sendiri-sendiri, seperti shalat sunat rawatib, shalat malam,
sedekah, dsb.
CONTOH PEMBAHARUAN AMAL IBADAH DALAM MUHAMMADIYAH
• Menetapkan awal waktu shalat fardhu, awal bulan Ramadhan,
Syawal dan Zulhijjah berdasarkan pengetahuan ilmiah (ilmu falak).
• Memberi izin menyampaikan khutbah dalam Bahasa Indonesia, atau bahasa lain yang dipahami jamaah (tidak musti dalam Bahasa Arab);
• Memberi izin untuk membayar zakat fitrah dengan uang (seharga
makanan pokok), dan mewajibkan zakat atas semua penghasilan yang mencapai nisab, dan harta simpanan yang tidka dalam bentuk uang.
• Menghindari dan mencegah penghadiahan pahala ibadat dari seseorang kepada orang lain, baik yang hidup atau yang sudah meninggal;
• CONTOH PEMBAHARUAN AMAL USAHA DALAM MUHAMMADIYAH
• Muhammadiyah menganggap semua kegiatan keorganisasian dan kegiatan dalam amal usaha sebagai ibadah (ghayr mahdhah) dan amanah yang harus dijaga dan ditunaikan dengan baik.
• Mendirikan sekolah/madrasah mulai dari TK sampai perguruan tinggi;
• Mendirikan balai pengobatan, poliklinik, sampai rumah sakit;
• Menerima dan memanfaatkan berbagai sarana yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan untuk berdakwah;
• Memperkenalkan berbagai bentuk pertunjukan kesenian modern kepada umat Islam, seperti drama, film, penulisan buku sastra, penerbitan majalah, penggunaan televisi, dsb.