24 6 - 21 RAMADLAN 1431 H
KHAZANAH
P
ada masa Usman, Al-Qur’an telah dibukukan menjadi satu kitab yang dinamakan “Mushaf”. Pembukuan tersebut dilakukan karena adanya perbe-daan bacaan yang ditemukan di daerah-daerah di sekitar Jazirah Arabiyyah, se-hingga menimbulkan kekhawatiran akan munculnya perpecahan di kalangan umat Islam. Maka perlu diupayakan penyatuan bacaan agar umat Islam di masa yang akan datang tidak bercerai-berai.Al-Hamdu li Allah usaha dan perjuang-an Khalifah Usmperjuang-an berhasil dengperjuang-an baik dan dapat mengatasi kekhawatiran ter-sebut. Waktu terus berlalu, dan para ulama tetap menaruh perhatian terhadap Mushaf, baik yang lama maupun yang baru. Maka lahirlah kitab-kitab yang membahasnya, antara lain ialah:
1. Ikhtilaf masahif asy-Syam wa al-Hijaz wa al-’Iraq, susunan Ibnu ‘Amir (118 H.)
2. Ikhtilaf masahifi ahli al-Madinah wa ahli al-Kufah wa ahli al-Basrah, susunan al-Kisa’iy (189 H.)
3. Ikhtilaf ahli al-Kufah wa al-Basrah wa asy-Syam fi masahif, susunan al-Farra’ (207 H.)
4. Ikhtilaf al-masahif, susunan Khalaf Ibnu Hisyam (229 H.)
5. Ikhtilaf al-masahif wa jami’ al-Qira’at, susunan al-Mada’iniy (231 H.) 6. Ikhtilaf al-masahif, susunan Abi Hatim
Sahal ibnu Muhammad as-Sijistaniy (248H.)
7. Al-Masahif wa al-Hija’, susunan Muhammad ibnu Isa al-Asbahaniy (253 H.)
8. Al-Masahif, susunan Abi ‘Abdillah ibni Abi Dawud as-Sijistaniy (316 H.) 9. Al-Masahif, susunan Ibnu al-Ansariy
(327 H.)
10. Al-Masahif, susunan Ibnu Asytah al-Asbahaniy (360 H.)
Al-Ibyariy mengatakan bahwa
penam-pilan kitab-kitab tersebut, setelah diteliti de-ngan cermat, memberikan isyarat bahwa Mushaf al-Imam tidak menghapus semua mushaf secara tuntas, sebab mushaf-mu-shaf lainnya tetap eksis sekalipun berbeda dengan Mushaf Usmaniy.
Kitab yang pertama kali membahas mushaf, adalah kitab susunan Ibnu Amir yang wafat pada tahun 118 H, delapan puluh tiga tahun sesudah terbunuhnya ‘Usman (35 H.).
Adapun yang sampai kepada kita di antara kitab-kitab itu ialah, Kitab al-Masahif, susunan Abu Bakar as-Sijistaniy, kitab ter-sebut dapat menghimpun hampir semua pendapat ulama sebelumnya, karena ma-sa hidup Abu Bakar lebih akhir daripada masa hidup mereka. Namun demikian, sesudah Abu Bakar pun banyak kitab yang membahas perbedaan mushaf. (Ibrahim al-Ibyariy, 1965: 100).
Keberanian ulama salaf menyusun ki-tab tentang perbedaan mushaf, sebenar-nya sangat riskan, sebab akan menghi-dupkan kembali perbedaan pendapat yang telah dihapus oleh empat khalifah (Abu Bakr, Umar, Usman dan Aliy).
Usaha pertama telah diselesaikan oleh Abu Bakr dan Umar, usaha kedua telah diselesaikan oleh Usman dan seterusnya ditetapkan oleh Aliy. Sebagian besar sa-habat ikut serta memberikan kontribusi da-lam penghapusan perbedaan bacaan ter-sebut, sekalipun di antara mereka ada yang memiliki mushaf pribadi, seperti Ubai.
Kebijaksanaan Usman dalam hal ini sangat berperan, dia tidak tergesa-gesa bertindak sebelum khawatir akan terjadinya pertentangan. Ia tidak mau melaksanakan kehendaknya sebelum merasa tenang jiwanya, ia belum merasa tenang, sebelum dimusyawarahkan dan dibantu orang ba-nyak. Sesudah itu barulah ia menetapkan sikapnya yang mantap dan meyakinkan, kemudian memerintahkan kepada daerah-daerah supaya berpegang pada Mushaf
al-Imam dan membakar mushaf lainnya. Tujuan tindakan ini adalah untuk menutup jalan pertentangan, sebagaimana terjadi se-belumnya. Jika Usman tidak mempunyai tujuan kebaikan, niscaya tidak mungkin da-pat lahir suatu keputusan yang meyakin-kan. Mungkin kita masih ingat tindakan Marwan ketika membakar mushaf yang disimpan Hafsah yang menjadi salah satu sumber Mushaf Usman. Tujuan pemba-karan itu adalah agar manusia tidak kem-bali ke belakang, sehingga timbul di antara mereka pertentangan mengenai al-Kitab, sekalipun Allah telah menegaskan dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya, Kami-lah yang me-nurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami pula-lah yang memeliharanya”. (Al-Hijr [15]: 9).
Satu abad kemudian, setelah kaum muslimin hanya berpegang pada satu mushaf, yaitu Mushaf Usmaniy muncullah karya Ibnu Amir yang membahas perbedaan mushaf Syam, Hijaz dan Iraq. Dalam Tarikh Al-Qur’an, al-Ibyariy menjelaskan bahwa karya Ibnu ‘Amir yang membahas perbedaan mushaf itu hanya-lah membangkitkan khilafiyah yang seha-rusnya tidak perlu terjadi. Membangkitkan khilafiyah seperti itu bukanlah merupakan suatu ijtihad, melainkan hanya merupakan studi yang sia-sia yang tidak menggunakan metode ilmiah yang benar. Mempelajari perbedaan pendapat mengenai mushaf sesudah itu adalah suatu upaya yang sia-sia. Ia dengan tegas menyatakan: Seandai-nya saya memilikiSeandai-nya niscaya saya mus-nahkan buku itu sebagaimana dilakukan oleh Usman dan pembelanya, Aliy bin Abi Talib terhadap mushaf-mushaf selain Mushaf Usman. (Ibrahim al-Ibyariy, 1965: 102).l